09
Nov
11

Kenegarawanan : Pahlawan Nasional

Selasa, 08/11/2011 12:37 WIB

Pahlawan Nasional

Anwar Khumaini – detikNews
Sjafruddin Prawiranegara & Buya Hamka Jadi Pahlawan Nasional

Jakarta - Pemerintah menetapkan 7 pahlawan nasional baru. Pemberian gelar dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada ahli waris para pahlawan nasional tersebut.

Berikut 7 nama pahlawan nasional yang ditetapkan di Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2011).1. Mr Sjafruddin Prawiranegara
2. Idam Chalid
3. Buya Hamka
4. Ki Sarmidi Mangunsarkoro
5. I Gusti Ketut Pudja
6. Sri Susuhunan Pakubuwono X
7. Ignatius Joseph Kasimo.Penentuan pahlawan ini sudah sesuai dengan proses yang diatur dalam perundang-undangan. Pihak Istana menjelaskan proses untuk mendapatkan gelar tanda jasa dan kehormatan tersebut telah diatur secara detil dalam UU nomor 20 Tahun 2009, juga Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2010.(rdf/gah)

Rabu, 09/11/2011 12:00 WIB

Sjafruddin Presiden RI

Laurencius Simanjuntak – detikNews
Perlu Kesepakatan Nasional Jadikan Sjafruddin Mantan Presiden RI


Sjafruddin Prawiranegara/wikipediaJakarta - Penganugerahan pahlawan nasional kepada MR Sjafruddin Prawiranegara menguatkan dukungan agar ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) itu diakui sebagai mantan Presiden RI. Namun, perlu kesepakatan nasional untuk mewujudkan itu.

“Perlu kesepakatan nasional dan kesepakatan politik untuk itu,” kata mantan Wakil Ketua MPR, AM Fatwa, saat berbincang dengan detikcom, Rabu (9/11/2011).

Fatwa sendiri menilai Sjafruddin telah berperan sebagai Presiden RI saat memimpin PDRI pada 1948 hingga 14 Juli 1949. Saat itu, Agresi Militer Belanda II berhasil melumpuhkan ibukota Yogyakarta dan menawan Presiden Soekarno dan Wapres Mohammad Hatta.

“Orang yang sedang ditawan tidak mempunyai hak hukum untuk menjalankan pemerintahan,” kata Fatwa mengutip sejumlah pendapat pakar hukum tata negara.

Jasa Sjafruddin, kata Fatwa, juga tidak kecil bagi kelanjutan perjuangan revolusi kemerdekaan saat itu. Sejarah mencatat, perjuangan Sjafruddin dengan PDRI telah memaksa Belanda berunding dan akhirnya melepaskan Soekarno-Hatta dari pengasingan.

Lewat Radio Rimba Raya, kata Fatwa, perjuangan PDRI akhirnya didengar badan dunia PBB dan dunia internasional. Alhasil, PBB tetap mengakui Republik Indonesia dan memaksa Belanda maju ke meja perundingan.

“Tidak hanya itu, Sjafruddin juga memimpin perang gerilya dari hutan ke hutan di Bukit Tinggi,” kata Fatwa yang bersama Sjafruddin menandatangani Petisi 50 ini.

Fatwa menjelaskan, kepemimpinan Sjafruddin di PDRI juga atas kesadaran sendiri. Sebab, ketika Yogyakarta porak poranda, mandat pembentukan PDRI itu tidak sampai kepadanya yang sedang bertugas sebagai Menteri Kemakmuran di Bukti Tinggi.

“Sesungguhnya itu kesadaran Pak Sjaruddin sebagai satu-satunya anggota kabinet yang berada di luar Jawa,” kata Fatwa.

Karena perjuangannya itulah, kata Fatwa, Sjafruddin layak dianggap pernah menjabat Presiden RI. Fatwa lebih sepakat dengan istilah ‘mantan presiden’ bagi tokoh yang pernah menjabat presiden, ketimbang urutan presiden. Sebab, urutan presiden berdasarkan waktu memerintah tidak hanya akan menjadikan Soekarno presiden pertama.

“Karena Soekarno kan memerintah kembali setelah ditawan,” ujarnya.

(lrn/fay)

Baca Juga
Selasa, 08/11/2011 19:17 WIB

Pahlawan Nasional

Hery Winarno – detikNews
Gus Solah : Dua Pendiri NU Juga Layak Jadi Pahlawan Nasional

Jakarta - Sholahuddin Wahid atau Gus Solah menilai pemerintah seharusnya juga memberi gelar pahlawan nasional kepada dua pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Kedua pendiri NU yang dimaksud Gus Solah ini adalah KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Ahmad Shiddiq.

Menurut adik kandung Gus Dur ini, KH Abdul Wahab merupakan salah satu pendiri NU, sedangkan KH Ahmad Shiddiq merupakan tokoh di belakang NU yang berperan besar yang menerima ideologi Pancasila ke dalam NU.

“Ada dari NU yang lebih berhak, pertama KH Abdul Wahab Hasbullah yang mendirikan NU. Yang kedua KH Ahmad Shiddiq, orang di belakang NU yang menerima Pancasila,” ujar Gus Solah kepada wartawan di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (8/11/2011).

Terkait dua pendiri NU tersebut, Gus Solah akan meminta dukungan agar keduanya bisa menjadi pahlawan nasional. Gus Solah akan menggalang dukungan di basis-basis NU.

“Makanya itu saya mengajak kawan-kawan di Jawa Timur, ya tentunya satu persatu ya melakukan langkah agar diakui sebagai pahlawan Nasional. Karena keduanya sangat layak,” terangnya.

Seperti diketahui, pemerintah menetapkan 7 pahlawan nasional baru. Pemberian gelar dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada ahli waris para pahlawan nasional tersebut.

Berikut 7 nama pahlawan nasional yang ditetapkan di Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2011).

1. Mr Sjafruddin Prawiranegara
2. Idam Chalid
3. Buya Hamka
4. Ki Sarmidi Mangunsarkoro
5. I Gusti Ketut Pudja
6. Sri Susuhunan Pakubuwono X
7. Ignatius Joseph Kasimo.

(her/rdf)

Selasa, 08/11/2011 13:56 WIB

Presiden ke-2 RI

Laurencius Simanjuntak – detikNews
Jadi Pahlawan, Sjafrudin Prawiranegara Layak Disebut Presiden ke-2 RI


Sjafruddin Prawiranegara/wikipediaJakarta - Setelah ditunggu sekian lama, gelar pahlawan nasional akhirnya disematkan kepada MR Sjafruddin Prawiranegara. Momen penganugerahan gelar pahlawan ini hendaknya diikuti pelurusan sejarah dan pembenahan nomenklatur urutan Presiden RI.

Sejarawan Asvi Warman Adam kembali menegaskan, Sjafruddin adalah Presiden ke-2 RI. Alasannya, pria kelahiran Banten 28 Februari 1911 itu pernah menjabat Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), yang dibentuk ketika Presiden Soekarno dan Wapres Mohammad Hatta ditangkap Belanda pada Agresi Militer II 1948.

“Meski memakai nama ‘ketua’ bukan ‘presiden’, beliau telah menjalankan fungsi kepresidenan,” kata Asvi saat dihubungi detikcom, Selasa (8/11/2011).

Sejarah mencatat, atas usaha PDRI yang dipimpin Sjafruddin itu, Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia dan membebaskan kembali Soekarno-Hatta dari pengasingan ke Yogyakarta, ibukota RI saat itu.

Selain Sjafruddin, menurut Asvi, Presiden yang ‘hilang’ dalam sejarah republik ini adalah M Assat. Dia adalah Presiden RI ketika Indonesia berubah bentuk menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS). Wilayah RI saat RIS adalah Yogyakarta.

“Bagaimana pun Assat pernah menjabat ‘Presiden RI’, dan Soekarno adalah Presiden RIS saat itu,” kata Asvi.

Jika diurutkan, papar Asvi, Presiden ke-1 RI adalah Soekarno, Presiden ke-2 RI Sjafruddin Prawiranegara, Presiden ke-3 RI M Assat, Presiden ke-4 RI Suharto, Presiden ke-5 RI BJ Habibie, Presiden ke-6 RI KH Abdurrahman Wahid, Presiden ke-7 RI Megawati Soekarnoputri dan Presiden ke-8 RI Susilo Bambang Yudhoyono.

“Harusnya foto presiden di Istana Negara ditambahi dua foto, Sjafruddin dan Assat,” cetus ilmuwan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ini.

(lrn/lrn)

Selasa, 08/11/2011 13:53 WIB

7 Pahlawan Nasional

Ramadhian Fadillah – detikNews
Ini Kiprah 7 Pahlawan Nasional Baru Untuk Indonesia

Sjafruddin Prawiranegara/wikipediaJakarta - Pemerintah menetapkan 7 pahlawan nasional baru. Mereka datang dari berbagai latar belakang dengan aneka jasa dan sumbangsih bagi bumi pertiwi. Mulai dari tokoh kunci pergerakan nasional, ulama, pionir pendidikan, sampai sultan.Berikut kiprah para pahlawan ini yang dihimpun detikcom dari berbagai sumber, Selasa (8/11/2011):1. Sjafruddin Prawiranegara (28 Februari 1911-15 Februari 1989)
Peran Sjafruddin Prawiranegara sangat besar pada saat Indonesia dilanda agresi militer Belanda II. Saat itu Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda, Soekarno-Hatta ditawan Belanda. Sjafruddin-lah yang ditugasi membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 22 Desember 1948 di Sumatera. Selama 6 bulan, Sjafruddin menjalankan pemerintahan RI dari dalam belantara hutan. Mereka terus mempropagandakan pemerintahan Indonesia masih ada. Aksi Sjafruddin berhasil, dunia internasional akhirnya memaksa Belanda menghentikan agresi militer mereka. Tanpa PDRI, belum tentu Belanda mau maju ke meja perundingan. Sjafruddin menyelamatkan republik, tapi selama puluhan tahun jasanya seolah terlupakan.

2. Idham Chalid (27 Agustus 1921-11 Juli 2010)
Idham Chalid merupakan salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Idham menjabat Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama dari tahun 1956 hingga 1984. Dia pernah menjabat menteri saat Orde Lama dan Orde Baru. Pada saat Kabinet Ali Sastroamidjojo II, Idham menjabat sebagai wakil Perdana Menteri. Saat Orde Baru, Idham pernah menjadi Ketua DPR (1968-1977), serta Ketua MPR (1971-1977). Idham sering dijuluki guru politik orang NU.

3. Buya Hamka (17 Februari 1908-24 Juli 1981)
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau disingkat Hamka. Sedangkan buya, adalah panggilan kehormatan dalam bahasa Minangkabau yang berarti ayah. Buya Hamka dikenal sebagai penulis besar Indonesia lewat karya-karyanya seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan Di Bawah Lindungan Ka’bah. Tapi Hamka bukan hanya seorang penulis, dia juga politisi dan pejuang. Kiprahnya di dunia politik dimulai tahun 1925 saat menjadi anggota Sarikat Islam kemudian bergabung dengan Masyumi. Presiden Soekarno akhirnya membubarkan Masyumi dan memenjarakan Hamka.

4. Ki Sarmidi Mangunsarkoro (23 Mei 1904-8 Juni 1957)
Ki Sarmidi Mangunsarkoro adalah salah satu tokoh pendidikan nasional. Dia mendirikan Perguruan Tamansiswa di Jakarta, atas restu Ki Hajar Dewantara. Tidak hanya itu, dia juga ditugasi memodernisasi Taman Siswa dan menyusun kurikulum Taman Siswa. Mangunsarkoro juga berpolitik menentang kolonialisme. Pada Kongres Sumpah pemuda tahun 1928, dia ikut berpidato menekankan pentingnya pendidikan nasional. Dia menentang politik kompromi dengan Belanda saat perjanjian Renville dan Linggarjati. Dia juga beberapa kali menjabat sebagai menteri pendidikan era Soekarno. Jasanya yang lain adalah turut membidani berdirinya Universitas Gajah Mada.

5. I Gusti Ketut Pudja (19 Mei 1908-4 Mei 1977)
I Gusti Ketut Pudja merupakan salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dia mewakili Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara). Pudja ikut hadir di Rumah Laksamana Maeda 16 Agustus 1945 saat persiapan kemerdekaan RI. Kemudian dia diangkat Soekarno menjadi Gubernur Sunda Kecil. Saat itu walau Jepang sudah menyerah, tetap saja mereka masih berkuasa di sejumlah daerah di Bali. Pudja sempat ditangkap tentara Jepang saat para pemuda gagal melucuti senjata Jepang akhir tahun 1945. Pudja juga ditugasi Soekarno menjadi pejabat di Departemen Dalam Negeri.

6. Sri Susuhunan Pakubuwono X (29 November 1866-1 Februari 1939)
Sri Susuhunan Pakubuwono X bernama asli Raden Mas Malikul Kusno. Malikul Kusno naik takhta sebagai Pakubuwono X pada tanggal 30 Maret 1893 menggantikan ayahnya. Kepemimpinannya merupakan penanda babak baru bagi Kasunanan Surakarta dari kerajaan tradisional menuju era modern. Pakubuwono X cukup memiliki arti penting bagi pergerakan nasional. Dia mendukung organisasi Sarekat Islam cabang Solo.

7. Ignatius Joseph Kasimo (1900-1 Agustus 1986)
Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono adalah pendiri Partai Politik Katolik Indonesia (PPKI). Dia juga merupakan salah satu pelopor kemerdekaan Indonesia. Kasimo anggota Volksraad antara tahun 1931-1942. Ia ikut menandatangani petisi Soetardjo yang menginginkan kemerdekaan Hindia-Belanda. Pada masa kemerdekaan awal, PPKI yang dilarang oleh Jepang dihidupkan kembali atas gagasan Kasimo dan berubah nama menjadi Partai Katolik Republik Indonesia. Antara tahun 1947-1949 ia duduk sebagai Menteri Muda Kemakmuran dalam Kabinet Amir Sjarifuddin, Menteri Persediaan Makanan Rakyat dalam Kabinet Hatta I dan Hatta II. Dalam kabinet peralihan atau Kabinet Soesanto Tirtoprodjo ia juga menjabat sebagai menteri. Kasimo pun juga pernah ikut menjadi anggota Delegasi Perundingan Republik Indonesia. Di masa orde baru, Kasimo sempat menjadi Ketua DPA.

(rdf/fay)

07.11.2011 14:39

Kasimo

Pahlawan Nasional

Penulis : Aju

Kasimo (foto:dok/ist)

Jakarta –  Kementerian Sosial pada tahun 2011 ini tidak mengusulkan nama Soeharto (mantan presiden) sebagai pahlawan nasional, karena sebelumnya, tahun 2010 Soeharto sudah diusulkan untuk mendapat gelar pahlawan nasional meskipun tidak disetujui.

Total nama yang diusulkan menerima gelar pahlawan nasional sebanyak 12 orang. Namun hingga berita ini diturunkan, kepastian nama yang akhirnya terpilih masih menunggu dari Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan. Penganugerahan akan diberikan Selasa (8/11) esok.

Demikian penjelasan Direktur Keperintisan Kepahlawanan dan Kesetiakawanan Sosial, Kementerian Sosial, Hartati Solehah, kepada SH, Senin (7/11). Ia belum bersedia menyebutkan 12 nama itu, dengan alasan Kemensos hanya mengajukan usulan kepada presiden yang kemudian dibahas oleh Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan.

Sementara menurut informasi yang diterima SH, Ignatius Joseph (IJ) Kasimo Hendrowahyono termasuk yang terpilih sebagai pahlawan nasional. Selain itu, ada nama Buya Hamka dan Syarifudin Prawira. Namun tidak terdapat nama mantan Presiden Abdurrahman Wahid.

Penghargaan kepada IJ Kasimo diberikan mengingat jada Kasimo bagi Indonesia, termasuk ketika ikut berjuang merebut Irian Barat. Bahkan Senin (7/11) siang ini keluarga Kasimo sedang mengikuti gladi bersih di Istana Kepresidenan dalam rangka penerimaan gelar pahlawan nasional tersebut pada Selasa (8/11) esok.

Hermawi Taslim, tim sosialisasi IJ Kasimo menjadi pahlawan nasional, menjelaskan hal itu kepada SH, setelah ia mendapat kabar tersebut dari Sekretariat Negara. “IJ Kasimo memang layak jadi pahlawan nasional karena komitmen nasionalismenya tak diragukan dan berada di barisan terdepan ketika melawan PKI pada saat Indonesia berada di masa sulit menjelang tahun 1965,” ungkapnya.

Kasimo adalah salah seorang pelopor kemerdekaan Indonesia dan merupakan salah seorang pendiri Partai Katolik Indonesia. Selain itu, ia pernah menjadi beberapa menteri setelah Indonesia merdeka.

Kasimo juga memberi teladan bahwa berpolitik itu adalah pengorbanan tanpa pamrih dan memakai  prinsip yang harus dipegang teguh.

Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa Kasimo merupakan salah satu pendiri Partai Katholiek Djawi yang lalu berubah nama menjadi Perkoempoelan Politiek Katholiek di Djawa, lalu menjadi Partai Politik Katolik Indonesia (PPKI). Pada tahun 1949 Kasimo menjadi Ketua Umum PPKI. Ia juga ikut menandatangani petisi Soetardjo yang menginginkan kemerdekaan Hindia-Belanda.

Pada masa kemerdekaan awal, PPKI yang dilarang oleh Jepang dihidupkan kembali atas gagasan Kasimo dan berubah nama menjadi Partai Katolik Republik Indonesia. Antara tahun 1947-1949 ia menjadi Menteri Muda Kemakmuran dalam Kabinet Amir Sjarifuddin, Menteri Persediaan Makanan Rakyat dalam Kabinet Hatta I dan Hatta II.

Kemudian dalam kabinet peralihan atau Kabinet Soesanto Tirtoprodjo ia menjabat sebagai menteri. Kasimo pun pernah menjadi anggota Delegasi Perundingan Republik Indonesia.

Pada masa Agresi Militer II (Politionele Actie) ia bersama menteri lainnya yang tidak dikurung Belanda, bergerilya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lalu ketika kembali ke Yogyakarta Kasimo memprakarsai kerja sama seluruh partai Katolik Indonesia untuk bersatu menjadi Partai Katolik.

Selain ikut berjuang merebut Irian Barat, Kasimo juga menyatakan pendiriannya untuk menolak gagasan Nasakom yang ditawarkan Bung Karno.

Kasimo pun menolak Kabinet yang diprakarsai Soekarno yang terdiri dari empat partai pemenang pemilu 1955 yaitu PNI, Masyumi, NU dan PKI. Kala itu Masyumi dan Partai Katolik Indonesia menolak bekerja sama dengan PKI di kabinet. Kemudian pada masa Orde Baru, Kasimo diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung.

Kasimo lahir di Yogyakarta tahun 1900 dan meninggal 1 Agustus 1986, dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Merupakan anak kedua dari sebelas bersaudara. Orangtuanya adalah prajurit Keraton Yogyakarta dan tokoh yang memperjuangkan hak-hak anak jajahan, sehingga Kasimo dididik sesuai dengan tradisi keraton. (Wahyu Dramastuti)

BERITA TERKAIT




About these ads

1 Response to “Kenegarawanan : Pahlawan Nasional”


  1. November 11, 2011 at 3:41 pm

    wah semoga yang jadi pahlawan indonesia merupakan orang2 yang bener2 memberikan pengorbanan untuk negeri ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,339,501 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 132 other followers

%d bloggers like this: