08
Nov
11

Warisan Adiluhung : Manunggaling Kawula Lan Gusti

Sabtu, 01 Januari 2011

MANUNGGALING KAWULA LAN GUSTI

Oleh: Kiai Ganjel
Masuk surga itu baik, tapi bukan yang terbaik.
Masuk Surga adalah sama saja menginginkan harta Tuhan.
Yang terbaik adalah Manunggaling Kawula Lan Gusti, itulah cita-cita Jawa. Kemanunggalan adalah Pusat segala-galanya, karena sudah Manunggal dengan Allah yang merupakan segala-galanya.
Dalam tahap kemanunggalan dengan Allah, peranan utama pada manusia dalam hal ini pengorbanan untuk Allah adalah Kemerdekaan Kita
Manunggal bukan berarti hilang atau lenyap
- karena Roh adalah pribadi yang bebas, cerminnya dapat dilihat dari Kemauan dengan pantulan Perasaan.
- Roh itu diciptakan abadi
Manunggal dalam beberapa hal:
1. Manunggal Karsa adalah kemauan / kehendak
2. Manunggal Karya adalah kerja / proses / aktivitas
3. Manunggal Rasa adalah Perasaan
Dalam hal yang lebih sederhana adalah kemanunggalan dapat dicapai jika kita Melaksanakan sesuai dengan panggilan kita.
Tujuan Kemanunggalan adalah
Agar kita mencapai atau menjadi jati diri yang Sejati / yang sebenarnya.
Cara untuk cepat Manunggal dengan Allah
1. Sendiko: selalu meng”Iya”kan dan setia. Tidak diikuti dengan kata “TAPI”
2. Nyuwun dawuh : Mohon perintah
Kedua sikap ini bisa kita capai kalau kita Pasrah / Sumeleh pada Allah.
Sikap yang terbaik menurut cara pandang Kristen, didalam Injil Markus 12:30 ; “Kasihlah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, jiwa ragamu, akal budimu, kekuatanmu”.
Itulah Sumeleh yang benar.
Rumusan dari Kemanunggalan itu adalah Jawa itu sendiri yaitu yang berkesatuan ukuran dan keserasihan.
Dengan mengerti dan melaksanakan Jawa itu sendiri, maka akan terjadi kemanunggalan.
Didalam Gantharwa, Kemanunggalan adalah jika kita menjadi Gantharwa yang sebenarnya adalah Siap menolong orang lain yang bercita-cita untuk manunggal dengan Allah.
Secara Injil, kemanunggalan adalah : “Mencintai Allah dengan melaksanakan perintah-perintahNYA, maka Allah akan datang dan tinggal didalam kita.
MEMAHAMI : “MANUNGGALING KAWULA GUSTI” May 27, ’07 9:36 PM
untuk semuanya
Kategori: Lainnya
Bahan-bahan:
Berikut saya nukilkan sebagian dari artikel Kejawen yang berjudul : Menggapai Wahyu Dyatmiko karya Ki Sondang Mandaliuntuk menambah pengetahuan kita.Dalam ajaran Kejawen ada istilah “Manunggaling Kawula Gusti”. Hal ini sering diartikan bahwa menyatunya manusia (kawula) dengan Tuhan (Gusti). Anggapan bahwa Gusti sebagai personifikasi Tuhan kurang tepat. Gusti (Pangeran, Ingsun) yang dimaksud adalah personifikasi dari Dzat Urip (Kesejatian Hidup), derivate (emanasi, pancaran, tajali) Tuhan.Hal ini bisa dilihat dari “Wirid 8 Pangkat Kejawen”:Wejangan panetepan santosaning pangandel, yaiku bubuka-ning kawruh manunggaling kawula-gusti sing amangsit pikukuh anngone bisa angandel (yakin) menawa urip pribadi kayektene rinasuk dening dzate Pangeran (Dzat Urip, Sejating Urip). Pangeran iku ya jumenenge urip kita pribadi sing sejati. Roroning atunggal, sing sinebut ya sing anebut. Dene pangertene utusan iku cahya kita pribadi, karana cahya kita iku dadi panengeraning Pageran. Dununge mangkene : “Sayekti temen kabeh tumeka marang sira utusaning Pangeran metu saka awakira, mungguh utusan iku nyembadani barang saciptanira, yen angandel yekti antuk sih pangapuraning Pangeran”. Menawa bisa nampa pituduh sing mangkene diarah awas ing panggalih, ya urip kita pribadi iki jumenenging nugraha lan kanugrahan. Nugraha iku gusti, kanugrahan iku kawula. Tunggaal tanpa wangenan ana ing badan kita pribadi.Terjemahannya :Ajaran pemantapan keyakinan, yaitu pembukanya kawruh (ilmu) “Manunggaling Kawula Gusti” yang memberikan wangsit (petunjuk) keteguhan untuk bisa yakin bahwa hidup kita pribadi sesungguhnya dirasuki Dzatnya Pangeran Pangeran (Dzat Urip, Sejatining Urip). Pangeran itu bertahtanya pada hidup kita yang sejati. Dwitunggal (roroning atunggal) yang disebut dan yang menyebut. Sedangkan pengertian utusan itu cahaya hidup kita pribadi, karena cahaya hidup kita itu menjadi pertanda adanya Pangeran. Maksudnya : “Sesungguhnya nyata semua datang kepada kamu utusan Pangeran (memancar) keluar dari dirimu sendiri. Sebenarnya utusan itu mencukupi semua yang kamu inginkan, kalau percaya pasti mendapatkan pengampunan dari Pangeran”. Bila bias menerima petunjuk yang seperti ini supaya awas dan hati-hati, ya hidup kita ini bertahtanya nugraha dan anugrah. Nugraha itu gusti (tuan) sedang anugrah itu kawula (abdi). Bersatu tanpa batas pemisah dalam badan kita sendiri.******Jadi menurut pemahaman saya pribadi, bahwa yang dimaksud dengan kawula itu adalah jiwa kita dan yang dimaksud dengan Gusti itu adalah Ruh kita. Mengenai pengertian jiwa dan ruh bisa dibaca pada artikel yang saya posting sebelumnya yaitu : Definisi Jiwa dan RuhLalu bagaimana jiwa dan ruh bisa menyatu? Hal ini perlu pemahaman yang mendalam. Karena sewaktu meninggal Ruh langsung kembali kepada Allah, sedangkan jiwa mempertanggung jawabkan perbuatannya.Petunjuk
Irdy – Bontang

Sebelumnya: Definisi Jiwa dan Ruh
Selanjutnya : Hal-hal Yang Menghalangi Ma’rifatullah

Kamis, 27 Desember 2007

Manunggaling Kawula Lan GUSTI, Sebuah Ajaran Ataukah Keyakinan….. ?

Perjalanan Empat Tahap Menuju Manusia Sempurna oleh Bima

Tulisan ini saya ringkas dari beberapa buku, yang paling banyak bersumber dari cerita tentang sosok salah satu Tokoh Pandawa Lima, yang berjudul Bima dan Dewaruci dalam buku (Serat Dewa Ruci).

Karena sosok Bima alias Wrekudoro atau Bratoseno ketika mencari tirta pawitra dalam cerita Dewaruci secara filosofis melambangkan bagaimana manusia harus menjalani perjalanan batin guna menemukan identitas dirinya atau pencarian sangkan paraning dumadi “asal dan tujuan hidup manusia“ atau manunggaling kawula Gusti.

Dan pada cerita atau kisah ini termuat tentang sebuah Konsepsi manusia disebutkan bahwa ia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Konsepsi Tuhan disebutkan bahwa Ia Yang Awal dan Yang Akhir, Hidup dan Yang Menghidupkan, Mahatahu, dan Mahabesar. Yang disebutkan bahwa Tuhan itu Ia tan kena kinaya ngapa atau tidak dapat dikatakan dengan apa pun. Dan Jalan menuju Tuhan yang ditempuh oleh Bima dalam menuju manusia sempurna disebutkan melalui empat tahap, yaitu: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. (dalam bahasa Jawa sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa).

Kisah tokoh utama Bima dalam menuju manusia sempurna dalam teks wayang Dewaruci secara filosofis melambangkan bagaimana manusia harus mengalami perjalanan batin untuk menemukan identitas dirinya. Peursen (1976:68) menamakan proses ini sebagai “identifikasi diri”, sedangkan Frans Dahler dan Julius Chandra menyebutnya dengan proses “individuasi” (1984:128).

Proses pencarian untuk menemukan identitas diri ini sesuai dengan hadis nabi yang berbunyi Man ‘arafa nafsahu faqad rabbahu. Barang siapa mengenal dirinya niscaya dia akan mengenal Tuhannya. Hal ini dalam cerita Dewaruci terdapat pada Pupuh V Dhandhanggula di-bait ke-49 yang berbunyi Telas wulangnya Sang Dewaruci, Wrekudara ing tyas datan kewran, wus wruh mring gamane dhewe, … dan Habis wejangan dari Sang Dewaruci. Maka Wrekudara dalam hatinya tidak ragu dan sudah tahu terhadap jalan dirinya …(Marsono, 1976:107).

Nilai Filosofis Perjalanan Empat Tahap Menuju Manusia Sempurna oleh Bima

Kisah tokoh Wrekudara dalam menuju manusia sempurna pada cerita Dewaruci dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat Dalam bahasa Jawa disebut: laku raga, laku budi, laku manah, dan laku rasa. (Mangoewidjaja, 1928:44; Ciptoprawiro, 1986:71).

Atau menurut ajaran Mangkunegara IV seperti disebutkan dalam Wedhatama (1979:19-23), empat tahap laku ini disebut: sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa.

Tahap Pertama; Nilai Filosofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Syariat

Syariat dalam bahasa Jawa disebut sarengat atau laku raga, sembah raga adalah tahap laku perjalanan menuju manusia sempurna yang paling rendah, yaitu dengan mengerjakan amalan-amalan badaniah atau lahiriah dari segela hukum agama. Amalan-amalan itu menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya.

Di samping amalan-amalan seperti itu, dalam kaitan hubungan manusia dengan manusia, orang yang menjalani syariat, di antaranya kepada orang tua, guru, pimpinan, dan raja, ia hormat serta taat. Segala perintahnya dilaksanakaannya. Dalam pergaulan ia bersikap jujur, lemah lembut, sabar, kasih-mengasihi, dan beramal saleh.

Bagian-bagian cerita Dewaruci yang secara filosofis berkaitan dengan tahap syariat adalah sebagai berikut.

Nilai Filosofis Bima Taat kepada Guru; Tokoh Bima dalam cerita Dewaruci diamanatkan bahwa sebagai murid ia demikian taat. Sewaktu ia dicegah oleh saudara-saudaranya agar tidak menjalankan perintah gurunya, Pendeta Durna, ia tidak menghiraukan. Ia segera pergi meninggalkan saudara-saudaranya di kerajaan guna mencari tirta pawitra. Taat menjalankan perintah guru secara filosofis adalah sebagai realisasi salah satu tahap syariat.

Nilai Filosofis Bima Hormat kepada Guru; Selain taat tokoh Bima juga sangat hormat kepada gurunya. Ia selalu bersembah bakti kepada gurunya. Dalam berkomunikasi dengan kedua gurunya, Pendeta Durna dan Dewaruci, ia selalu menggunakan ragam Krama. Pernyataan rasa hormat dengan bersembah bakti dan penggunaaan ragam Krama kepada gurunya ini secara filosofis merupakan realisasi sebagian laku syariat.

Tahap Kedua Nilai Filosofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Tarekat

Tarekat dalam bahasa Jawa laku budi, sembah cipta adalah tahap perjalanan menuju manusia sempurna yang lebih maju. Dalam tahap ini kesadaran hakikat tingkah laku dan amalan-amalan badaniah pada tahap pertama diinsyafi lebih dalam dan ditingkatkan. (Mulder, 1983:24). Amalan yang dilakukan pada tahap ini lebih banyak menyangkut hubungan dengan Tuhan daripada hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Pada tingkatan ini penempuh hidup menuju manusia sempurna akan menyesali terhadap segala dosa yang dilakukan, melepaskan segala pekerjaan yang maksiat, dan bertobat. Kepada gurunya ia berserah diri sebagai mayat dan menyimpan ajarannya terhadap orang lain. Dalam melakukan salat, tidak hanya salat wajib saja yang dilakukan. Ia menambah lebih banyak salat sunat, lebih banyak berdoa, berdikir, dan menetapkan ingatannya hanya kepada Tuhan. Dalam menjalankan puasa, tidak hanya puasa wajib yang dilakukan. Ia lebih banyak mengurangi makan, lebih banyak berjaga malam, lebih banyak diam, hidup menyendiri dalam persepian, dan melakukan khalwat. Ia berpakaian sederhana dan hidup mengembara sebagai fakir.

Bagian-bagian cerita Dewaruci yang menyatakan sebagian tahap tarekat di antaranya terdapat pada pupuh II Pangkur bait 29-30. Diamanatkan dalam teks ini bahwa Bima kepada gurunya berserah diri sebagai mayat. Sehabis berperang melawan Raksasa Rukmuka dan Rukmakala di Gunung Candramuka Hutan Tikbrasara, Bima kembali kepada Pendeta Durna. Air suci tidak didapat. Ia menanyakan di mana tempat tirta pawitra yang sesungguhnya. Pendeta Durna menjawab, “Tempatnya berada di tengah samudra”. Mendengar jawaban itu Bima tidak putus asa dan tidak gentar. Ia menjawab, “Jangankan di tengah samudra, di atas surga atau di dasar bumi sampai lapis tujuh pun ia tidak akan takut menjalankan perintah Sang Pendeta”. Ia segera berangkat ke tengah samudra. Semua kerabat Pandawa menangis mencegah tetapi tidak dihiraukan. Keadaan Bima yeng berserah diri jiwa raga secara penuh kepada guru ini secara filosofis merupakan realisasi sebagian tahap laku tarekat.

Tahap Ketiga Nilai Filosofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Hakikat

Hakikat (Jawa laku manah, sembah jiwa) adalah tahap perjalanan yang sempurna. Pencapaian tahap ini diperoleh dengan mengenal Tuhan lewat dirinya, di antaranya dengan salat, berdoa, berdikir, atau menyebut nama Tuhan secara terus-menerus (bdk. Zahri, 1984:88). Amalan yang dilakukan pada tahap ini semata-mata menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan. Hidupnya yang lahir ditinggalkan dan melaksanakan hidupnya yang batin (Muder, 1983:24). Dengan cara demikian maka tirai yang merintangi hamba dengan Tuhan akan tersingkap. Tirai yang memisahkan hamba dengan Tuhan adalah hawa nafsu kebendaan. Setelah tirai tersingkap, hamba akan merasakan bahwa diri hamba dan alam itu tidak ada, yang ada hanyalah “Yang Ada”, Yang Awal tidak ada permulaan dan Yang Akhir tidak berkesudahan.

Dalam keadaan demikian, hamba menjadi betul-betul dekat dengan Tuhan. Hamba dapat mengenal Tuhan dan melihat-Nya dengan mata hatinya. Rohani mencapai kesempurnaan. Jasmani takluk kepada rohani. Karena jasmani takluk kepada rohani maka tidak ada rasa sakit, tidak ada susah, tidak ada miskin, dan juga maut tidak ada. Nyaman sakit, senang susah, kaya miskin, semua ini merupakan wujud ciptaan Tuhan yang berasal dari Tuhan.

Segala sesuatu milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya, manusia hanya mendaku saja. Maut merupakan perpindahan rohani dari sangkar kecil kepada kebebasan yang luas, mencari Tuhan, kekasihnya. Mati atau maut adalah alamat cinta yang sejati (Aceh, 1987:67).

Tahap ini biasa disebut keadaan mati dalam hidup dan hidup dalam kematian. Saat tercapainya tingkatan hakikat terjadi dalam suasana yang terang benderng gemerlapan dalam rasa lupa-lupa ingat, antara sadar dan tidak sadar. Dalam keadaan seperti ini muncul Nyala Sejati atau Nur Ilahi (Mulyono, 1978:126).

Sebagian tahap hakikat yang dilakukan atau dialami oleh tokoh Bima, di antaranya ialah: mengenal Tuhan lewat dirinya, mengalami dan melihat dalam suasana alam kosong, dan melihat berbagai macam cahaya (pancamaya, empat warna cahaya, sinar tunggal berwarna delapan, dan benda bagaikan boneka gading yang bersinar).

Nilai Filosofis Bima Mulai Melihat Dirinya

Setelah Bima menjalankan banyak laku maka hatinya menjadi bersih. Dengan hati yang bersih ini ia kemudian dapat melihat Tuhannya lewat dirinya. Penglihatan atas diri Bima ini dilambangkan dengan masuknya tokoh utama ini ke dalam badan Dewaruci.

Bima masuk ke dalam badan Dewaruci melalui “telinga kiri”. Menurut hadis, di antaranya Al-Buchari, telinga mengandung unsur Ketuhanan. Bisikan Ilahi, wahyu, dan ilham pada umumnya diterima melalui “telinga kanan”. Dari telinga ini terus ke hati sanubari. Secara filosofis dalam masyarakat Jawa, “kiri” berarti ‘buruk, jelek, jahat, tidak jujur’, dan “kanan” berarti ‘baik (dalam arti yang luas)’. Masuk melalui “telinga kiri” berarti bahwa sebelum mencapai kesempurnaan Bima hatinya belum bersih (bdk. Seno-Sastroamidjojo, 1967:45-46).

Setelah Bima masuk dalam badan Dewaruci, ia kemudian melihat berhadapan dengan dewa kerdil yang bentuk dan rupanya sama dengan Bima sewaktu kecil. Dewa kerdil yang bentuk dan rupanya sama dengan Bima waktu muda itu adalah Dewaruci; penjelmaan Yang Mahakuasa sendiri (bdk. Magnis-Suseno, 1984:115). Bima berhadapan dengan Dewaruci yang juga merupakan dirinya dalam bentuk dewa kerdil. Kisah Bima masuk dalam badan Dewaruci ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima mulai berusaha untuk mengenali dirinya sendiri. Dengan memandang Tuhannya di alam kehidupan yang kekal, Bima telah mulai memperoleh kebahagiaan (bdk. Mulyono, 1982:133). Pengenalan diri lewat simbol yang demikian secara filosofis sebagai realisasi bahwa Bima telah mencapai tahap hakikat.

Nilai Filosofis Bima Mengalami dan Melihat dalam Suasasa Alam Kosong

Bima setelah masuk dalam badan dewaruci melihat dan merasakan bahwa dirinya tidak melihat apa-apa. Yang ia lihat hanyalah kekosongan pandangan yang jauh tidak terhingga. Ke mana pun ia berjalan yang ia lihat hanya angkasa kosong, dan samudra yang luas yang tidak bertepi. Keadaan yang tidak bersisi, tiada lagi kanan kiri, tiada lagi muka belakang, tiada lagi atas bawah, pada ruang yang tidak terbatas dan bertepi menyiratkan bahwa Bima telah memperoleh perasaan batiniahnya. Dia telah lenyap sama sekali dari dirinya, dalam keadaan kebakaan Allah semata. Segalanya telah hancur lebur kecuali wujud yang mutlak. Dalam keadaan seperti ini manusia menjadi fana ke dalam Tuhan (Simuh, 1983:312). Segala yang Ilahi dan yang alami walaupun kecil jasmaninya telah terhimpun menjadi satu, manunggal (Daudy, 1983:188). Zat Tuhan telah berada pada diri hambabnya (Simuh, 1983:311), Bima telah sampai pada tataran hakikat. Disebutkan bahwa Bima karena merasakan tidak melihat apa-apa, ia sangat bingung. Tiba-tiba ia melihat dengan jelas

Dewaruci bersinar kelihatan cahayanya. Lalu ia melihat dan merasakan arah mata angin, utara, selatan, timur, barat, atas dan bawah, serta melihat matahari. Keadaan mengetahui arah mata angin ini menyiratkan bahwa ia telah kembali dalam keadaan sadar. Sebelumnya ia dalam keadaan tidak sadar karena tidak merasakan dan tidak melihat arah mata angin. Merasakan dalam keadaan sadar dan tidak sadar dalam rasa lupa-lupa ingat menyiratkan bahwa Bima secara filosofis telah sampai pada tataran hakikat.

Setelah mengalami suasana alam kosong antara sadar dan tidak sadar, ia melihat berbagai macam cahaya. Cahaya yang dilihatnya itu ialah: pancamaya, sinar tunggal berwarna delapan, empat warna cahaya, dan benda bagaikan boneka gading yang bersinar. Hal melihat berbagai macam cahaya seperti itu secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah sampai pada tataran hakikat. Ia telah menemukan Tuhannya

Nilai Filosofis Bima Melihat Pancamaya

Tokoh utama Bima disebutkan melihat pancamaya. Pancamaya adalah cahaya yang melambangkan hati yang sejati, inti badan. Ia menuntun kepada sifat utama. Itulah sesungguhnya sifat. Oleh Dewaruci, Bima disuruh memperlihatkan dan merenungkan cahaya itu dalam hati, agar supaya ia tidak tersesat hidupnya. Hal-hal yang menyesatkan hidup dilambangkan dengan tiga macam warna cahaya, yaitu: merah, hitam, dan kuning.

Nilai Filosofis Bima Melihat Empat Warna Cahaya

Bima disebutkan melihat empat warna cahaya, yaitu: hitam, merah, kuning, dan putih. Isi dunia sarat dengan tiga warna yang pertama. Ketiga warna yang pertama itu pengurung laku, penghalang cipta karsa menuju keselamatan, musuhnya dengan bertapa. Barang siapa tidak terjerat oleh ketiga hal itu, ia akan selamat, bisa manunggal, akan bertemu dengan Tuhannya. Oleh karena itu, perangai terhadap masing-masing warna itu hendaklah perlu diketahui.

Yang hitam lebih perkasa, perbuatannya marah, mengumbar hawa nafsu, menghalangi dan menutup kepada hal yang tidak baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang tidak baik, iri hati dan dengki keluar dari sini. Hal ini menutup (membuat buntu) kepada hati yang selalu ingat dan waspada. Yang kuning pekerjaannya menghalangi kepada semua cipta yang mengarah menuju kebaikan dan keselamatan. Oleh Sri Mulyono (1982:39) nafsu yang muncul dari warna hitam disebut aluamah, yang dari warna merah disebut amarah, dan yang muncul dari warna kuning disebut sufiah. Nafsu aluamah amarah, dan sufiah merupakan selubung atau penghalang untuk bertemu dengan Tuhannya.

Hanya yang putih yang nyata. Hati tenang tidak macam-macam, hanya satu yaitu menuju keutamaan dan keselamatan. Namun, yang putih ini hanya sendiri, tiada berteman sehingga selalu kalah. Jika bisa menguasai yang tiga hal, yaitu yang merah, hitam, dan kuning, manunggalnya hamba dengan Tuhan terjadi dengan sendirinya; sempurna hidupnya.

Nilai Filosofis Bima Melihat Sinar Tunggal Berwarna Delapan

Bima dalam badan Dewaruci selain melihat pancamaya melihat urub siji wolu kang warni ‘sinar tunggal berwarna delapan’. Disebutkan bahwa sinar tunggal berwarna delapan adalah “Sesungguhnya Warna”, itulah Yang Tunggal. Seluiruh warna juga berada pada Bima. Demikian pula seluruh isi bumi tergambar pada badan Bima. Dunia kecil, mikrokosmos, dan dunia besar, makrokosmos, isinya tidak ada bedanya. Jika warna-warna yang ada di dunia itu hilang, maka seluruh warna akan menjadi tidak ada, kosong, terkumpul kembali kepada warna yang sejati, Yang Tunggal.

Nilai Filosofis Bima Melihat Benda bagaikan Boneka Gading yang Bersinar

Bima dalam badan Dewaruci di samping melihat pancamaya, empat warna cahaya, sinar tunggal berwarna delapan, ia melihat benda bagaikan boneka hading yang bersinar. Itu adalah Pramana, secara filosofis melambangkan Roh. Pramana ‘Roh’ kedudukannya dibabtasi oleh jasad. Dalam teks diumpamakan bagaikan lebah tabuhan. Di dalamnya terdapat anak lebah yang menggantung menghadap ke bawah. Akibatnya mereka tidak tahu terhadap kenyataan yang ada di atasnya (Hadiwijono, 1983:40).
Tahap Ke-empat Nilai Filisofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Makrifat

Makrifat dalam bahasa Jawa laku rasa, sembah rasa adalah perjalanan menuju manusia sempurna yang paling tinggi. Secara harfiah makrifat berarti pengetahuan atau mengetahui sesuatu dengan seyakin-yakinnya (Aceh, 1987:67). Dalam tasawuf, makrifat berarti mengenal langsung atau mengetahui langsung tentang Tuhan dengan sebenar-benarnya atas wahyu atau petunjuk-Nya (Nicholson, 1975:71), yang meliputi zat dan sifatnya. Pencapaian tataran ini diperoleh lewat tataran tarekat, yaitu ditandai dengan mulai tersingkapnya tirai yang menutup hati yang merintangi manusia dengan Tuhannya. Setelah tirai tersingkap maka manusia akan merasakan bahwa diri manusia dan alam tidak ada, yang ada hanya Yang Ada. Dalam hal seperti ini zat Tuhan telah masuk menjadi satu pada manusia. Manusia telah merealisasikan kesatuannya dengan Yang Ilahi. Keadaan ini tidak dapat diterangkan (Nicholson, 1975:148) (Jawa tan kena kinaya ngapa) (Mulyono, 1982:47), yang dirasakan hanyalah indah (Zahri, 1984:89). Dan disinilah pada masyarakat Jawa hal ini disebut dengan istilah manunggaling kawula Gusti, pamoring kawula Gusti, jumbuhing kawula Gusti, warangka manjing curiga curiga manjing warangka.

Pada titik ini manusia tidak akan diombang-ambingkan oleh suka duka dunia. Ia akan berseri bagaikan bulan purnama menyinari bumi, membuat dunia menjadi indah. Di dunia ia menjadi wakil Tuhan (wakiling Gusti), menjalankan kewajiban-kewajiban-Nya dan memberi inspirasi kepada manusia yang lain (de Jong, 1976:69; Mulder, 1983:25). Ia mampu mendengar, merasa, dan melihat apa yang tidak dapat dikerjakan oleh manusia yang masih diselubingi oleh kebendaan, syahwat, dan segala kesibukan dunia yang fana ini (Aceh, 1987:70). Tindakan diri manusia semata-mata menjadi laku karena Tuhan (Subagya, 1976:85).

Keadaan yang dialami oleh Bima yang mencerminkan bahwa dirinya telah mencapai tahap makrifat, di antaranya ia merasakan: keadaan dirinya dengan Tuhannya bagaikan air dengan ombak, nikmat dan bermanfaat, segala yang dimaksud olehnya tercapai, hidup dan mati tidak ada bedanya, serta berseri bagaikan sinar bulan purnama menyinari bumi.

Nilai Filosofis Hamba (Bima) dengan Tuhan bagaikan Air dengan Ombak

Wujud “Yang Sesungguhnya”, yang meliputi segala yang ada di dunia, yang hidup tidak ada yang menghidupi, yang tidak terikat oleh waktu, yaitu Yang Ada telah berada pada Bima, telah menunggal menjadi satu. Jika telah manunggal penglihatan dan pendengaran Bima menjadi penglihatan dan pendengaran-Nya (bdk. Nicholson, 1975:100-1001). Badan lahir dan badan batin Suksma telah ada pada Bima, hamba dengan Tuhan bagaikan api dengan asapnya, bagaikan air dengan ombak, bagaikan minyak di atas air susu. Namun, bagaimana pun juga hamba dengan zat Tuhannya tetap berbeda (Nicholson, 1975:158-159). Yang mendekati kesamaan hanyalah dalam sifatnya. Dalam keadaan manunggal manusia memiliki sifat-sifat Ilahi (Hadiwijono, 1983:94).

Perumpamaan manusia dalam keadaan yang sempurna dengan Tuhannya, bagaikan air dengan ombak ada kesamaannya dengan yang terdapat dalam kepercayaan agama Siwa. Dalam agama Siwa kesatuan antara hamba dengan dewa Siwa disebutkan seperti kesatuan air dengan laut, sehingga keduanya tidak dapat dibedakan lagi. Tubuh Sang Yogin yang telah mencapai kalepasan segera akan berubah menjadi tubuh dewa Siwa. Ia akan mendapatkan sifat-sifat yang sama dengan sifat dewa Siwa (Hadiwijono, 1983:45).

Nilai Filosofis Bima Merasakan Nikmat dan Bermanfaat

Bima setelah manunggal dengan Tuhannya tidak merasakan rasa khawatir, tidak berniat makan dan tidur, tidak merasakan lapar dan mengantuk, tidak merasakan kesulitan, hanya nikmat yang memberi berkah karena segala yang dimaksud dapat tercapai. Hal ini menyebabkan Bima ingin manunggal terus. Ia telah memperoleh kebahagiaan nikmat rahmat yang terkandung pada kejadian dunia dan akhirat. Sinar Ilahi yang melahirkan kenikmatan jasmani dan kebahagian rohani telah ada pada Bima. Oleh kaum filsafat, itulah yang disebut surga (Hamka, 1984:139). Keadaan ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tahap makrifat.

Nilai Filosofis Segala yang Dimaksud oleh Bima Tercapai

Segala yang menjadi niat hatinya terkabul, apa yang dimaksud tercapai, dan apa yang dicipta akan datang, jika hamba telah bisa manunggal dengan Tuhannya. Segala yang dimaksud oleh Bima telah tercapai. Keadaan ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tataran makrifat.

Segala yang diniatkan oleh hamba yang tercapai ini kadang-kadang bertentangan dengan hukum alam sehingga menjadi suatu keajaiban. Keajaiban itu dapat terjadi sewaktu hamba dalam kendali Ilahi (Nicholson, 1975:132). Ada dua macam keajaiban, yang pertama yang dilakukan oleh para wali disebut keramat dan yang kedua keajaiban yang dilakukan oleh para nabi disebut mukjizat (Nicholson, 1975:129).

Nilai Filosofis Bima Merasakan Bahwa Hidup dan Mati Tidak Ada Bedanya

Hidup dan mati tidak ada bedanya karena dalam hidup di dunia hendaklah manusia dapat mengendalikan atau mematikan nafsu yang tidak baik dalam dalam kematian manusia akan kembnali menjadi satu dengan Tuhannya. Mati merupakan perpindahan rohani dari sangkar kecil menuju kepada kebebasan yang luas, kembali kepada-Nya. Dalam kematian raga nafsu yang tidak sempurna dan yang menutupi kesempurnaan akan rusak. Yang tinggal hanyalah Suksma. Ia kemudian bebas merdeka sesuai kehendaknya kembali manunggal kepada Yang Kekal (Marsono, 1997:799). Keadaan bahwa hidup dan mati tidak ada bedanya secara filosofis melambangkan bahwa tokoh Bima telah mencapai tahap makrifat.

Nilai Filosofis Hati Bima Terang bagaikan Bunga yang Sedang Mekar

Bima setelah mengetahui, menghayati, dan mengalami manunggal sempurna dengan Tuhannya karena mendapatkan wejangan dari Dewaruci, ia hatinga terang bagaikan kuncup bunga yang sedang mekar. Dewaruci kemudian musnah. Bima kembali kepada alam dunia semula. Ia naik ke darat kembali ke Ngamarta. Keadaan hati yang terang benderang bagaikan kuncup bunga yang sedang mekar secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tahap makrifat.


Kesimpulan

Dari uraian dan pemaparan ketiga tulisan diatas adalah menuju manusia sempurna itu melalui empat tahap perilaku yaitu memahami, mengerti dan menjiwai akan syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat (dalam bahasa Jawa sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa).

Ke-empat tahap perilaku tersebut digambarkan oleh tokoh wayang bernama Bima alias Wrekurdara alias Brotoseno dalan pencarian jatidiri dan upaya penyatuan dirinya dengan Tuhan-nya dalam serat Dewa Ruci. Untuk bisa menjadi manusia yang sempurna haruslah bisa meliwati tahap Syariat (dengan mengerjakan amalan-amalan badaniah atau lahiriah dari segela hukum agama.) setelah mampu dan bisa melakukan itu semua maka akan menuju tahapan ke-dua yaitu Tarekat (kesadaran hakikat tingkah laku dan amalan-amalan badaniah pada tahap pertama diinsyafi lebih dalam dan ditingkatkan); maka selanjutnya akan berada pada tahap ke-tiga dimana manusia berupaya untuk bisa menggapai Hakikat yaitu (dengan mengenal Tuhan lewat dirinya, di antaranya dengan salat, berdoa, berdikir, atau menyebut nama Tuhan secara terus-menerus) dan pada akhirnya akan sempurnalah sebagai manusia jika sudah pada tataran Makrifat dimana (mengenal langsung atau mengetahui langsung tentang Tuhan dengan sebenar-benarnya atas wahyu atau petunjuk-Nya); pada tataran ini ditandai dengan dengan mulai tersingkapnya tirai yang menutup hati yang merintangi manusia dengan Tuhannya. Setelah tirai tersingkap maka manusia akan merasakan bahwa diri manusia dan alam tidak ada, yang ada hanya Yang Ada. Dalam hal seperti ini zat Tuhan telah masuk menjadi satu pada manusia. Dan disinilah pada masyarakat Jawa hal ini disebut dengan istilah manunggaling kawula Gusti, pamoring kawula Gusti, jumbuhing kawula Gusti, warangka manjing curiga curiga manjing warangka.

Sebuah bentuk dan perilaku secara total dalam penyerahan diri seorang hamba pada Pecinta-Nya, yang ada hanya melayani Tuhannya, dengan terus bertafakur, beribadah dan berdoa serta mengagungkannya dan meninggalkan keduniawian.

Badan lahir dan badan batin Suksma telah ada pada Bima, hamba dengan Tuhan bagaikan api dengan asapnya, bagaikan air dengan ombak, bagaikan minyak di atas air susu. Namun, bagaimana pun juga hamba dengan zat Tuhannya tetap berbeda (Nicholson, 1975:158-159). Yang mendekati kesamaan hanyalah dalam sifatnya. Dalam keadaan manunggal manusia memiliki sifat-sifat Ilahi (Hadiwijono, 1983:94).

Demikian tulisan yang sederhana ini semoga bermanfaat dan terima kasih. Adanya komentar dan tambahan akan menjadikan tulisan ini makin sempurna.

Manunggaling

Posted by Agama Saturday, July 24th, 2010   1,977 views Print Artikel Ini Print Artikel Ini

Manunggaling Kawula lan Gusti

Dalam literature dan khasanah jawa cukup dikenal seorang tokoh Islam yaitu Syekh Siti Djenar, yang sangat kontroversi dengan pahamnya Wihdatul Wujud atau Manunggaling Kawula lan Gusti.

Suatu pemahaman yang saat itu telah melampaui batas pemahaman yang berlaku, wujud dari pemahaman yang perlu dikaji hingga saat ini.

Banyak pihak yang mengkaitkan pemahaman ini dengan pemahaman sebelumnya yang dinyatakan oleh Al-Halaj jauh sebelumnya

Sangat menarik untuk ditelusuri kembali sehingga tercapai suatu pemahaman yang sesungguhnya/holistik/konfrehensif.

Manunggaling kawula lan Gusti adalah bentuk pemahaman dimanusia bersatu dengan TUHAN-nya.

Kembali kita ingat bahwasannya manusia adalah “Herritage/Turunan” dari Allah Aja Wajalla.

Salah satu dasarnya adalah ayat yang mengatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan mengikuti fitrah-NYA. Seperti apa fitrah Allah maka seperti itu pulalah fitrah manusia yang melekat semenjak dia diciptakan /dilahir di dunia ini.

Qs Ar-Ruum (30) ayat 30:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama, fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Paham yang sungguh-sungguh sulit untuk dimengerti saat itu dan mungkin juga saat ini.

Kebersatuan antara manusia dengan TUHAN-nya, suatu paham yang memang benar-benar gila atau paham yang memang benar-benar apa adanya.

Kita semua tahu bahwa Allah adalah pencipta sedang manusia adalah manusia ciptaannya yang karena telah ditiupkan RUH-NYA sehingga manusia itu HIDUP..

Dalam Al-Quran dijelaskan secara gamblang bahwa TUHAN:

- Berbeda dari seluruh makhluk yang ada di semesta alam

- Tidak melahirkan dan dilahirkan

- Tidak makan dan tidak tidur

- Mengetahui segala sesuatu baik dihati, digunung, laut dan sebagainya

Dari dasar keterangan diatas cukup jelas bahwa TUHAN berbeda dengan ciptaan, sehingga paham manunggaling kawula lan gusti cukup membuat banyak persepsi yang terbentuk.

Kita coba belajar untuk bisa sampai pada kajian yang mendekati pemahaman yang sesungguhnya tanpa menimbulkan perdebatan yang berkelanjutan.

Untuk bisa memahaminya mungkin penjelasan yang bisa mendekati dengan perumpamaan yang bisa diterima akal/pikiran kita

Semisal kita ambil satu cangkir air hangat dengan satu sendok gula pasir.

Kita meng-andaikan air putih itu Allah sedangkan gula adalah manusia, dalam satu sendok gula terdapat unsur air yang terkandung didalamnya.

Jika satu sendok gula dicampurkan dengan satu cangkir air, kemudian kita aduk sehingga gula benar-benar terlarut dalam satu cangkir air, dapatkah kita memisahkan gula itu dari air.

Mungkin itulah gambaran dari paham Manunggaling Kawula lan gusti.

Jika perumpamaan ini masih juga sulit untuk dimengerti, mungkin gambaran berikut bisa lebih menggambarkan secara terperinci.

Pernahkan anda sedih yang sesedih-sedihnya, pernahkah anda gembira segembira-gembiranya, pernahkah anda marah semarah-marahnya adakah suatu kalimat yang yang tepat/sesuai/pas yang bisa anda ungkapkan dalam bahasa yang anda gunakan …??

Mungkin tiada satupun kalimat yang mampu untuk menggambarkan perasaan anda tersebut.

Toh… ujung-ujung-nya badan anda yang merasakan dan berinteraksi dengan mengeluarkan air mata.

Apakah orang lain tahu disaat anda menitikkan air mata…. karena bahagia..??, sedih..??, atau marah….??

Itulah kedekatan yang coba dilukiskan oleh seorang Syekh Siti Djenar tentang rasa dan apa yang dialami tentang bagaimana perasaan dekat dengan TUHAN-nya.

Karena TUHAN itu dekat sehingga tak salah dalam Al-Quran di sebutkan bagaimana dekatnya TUHAN dengan Manusia:

Qs. Al-Baqarah (2) 186:

Dan apabila hamba-hambaKU bertanya kepadamu tentang AKU, maka (jawablah) bahwasannya AKU dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang do’a apabila ia memohon kepadaKU, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) KU dan hendaklah mereka beriman kepadaKU agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Makna dekat adalah makna kedekatan seorang Manusia kepada TUHAN-nya dalam kadar kedekatan secara kualitas…. Bukan dzat.

Ada 5 jenis kedekatan yang dituliskan dalam Al-Quran, sehingga kita dapat memahaminya.

1.  Meliputi

Dalam banyak ayat Allah mengatakan bahwa Dzat, Ilmu, Rahmat dan Kekuasaannyameliputi segala sesuatu dan menunjuk kepada eksistensi Tunggal.

Ketika Allah mengatakan salah satu sifatNya meliputi makhlukNya, maka sebenarnya seluruh sifat-sifat yang lain juga meliputi makhlukNya.

Jadi makna meliputi memberikan persepsi sebagai kedekatan makhluk Tuhannya atau sebaliknya, tetapi kedekatan yang bersifat UNIVERSAL

2. Bersama

Kata dekat yang memiliki makna lebih khusus adalah “BERSAMA”, Kata yang digunakan adalah ma’ash shabiriin(bersama orang-orang yang sabar), ma’akum, ma’ana, ma’ahum (bersamamu, bersamaKu, bersama mereka) dan sebagainya.

Lebih khusus dibandingkan dengan meliputi.

Karena itu penggunaan kata “bersama” ini langsung dikaitkan dengan objeknya

Ada semacam perhatian khusus ketika Allah mengatakan

“ AKU bersama orang-orang yang sabar”

Seakan-akan DIA ingin menegaskan bahwa Allah akan memberikan pembelaan dan melindungi orang-orang yang sabar.

Qs. Al-Baqarah (2) ayat 153:

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) Shalat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar

3. Dekat ( QARIB )

Tingkat berikutnya lagi adalah “dekat” alias Qarib.

Ini adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan kedekatan secara lebih emosiona

Dibanyak ayat Allah menggambarkan kedekatanNYA dengan kata “Qarib”

Qs. Al-Baqarah (2) ayat 186:

Dan apabila hamba-hambaKU bertanya kepadamu tentang AKU, maka (jawablah) bahwasannya AKU dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang do’a apabila ia memohon kepadaKU, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) KU dan hendaklah mereka beriman kepadaKU agar mereka selalu berada dalam kebenaran

Qs Al-A’raf (7) ayat 56:

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).

Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

4. Disisinya

Istilah lain untuk menggambarkan kedekatan makhluk dengan Allah adalah “indallah”.

Indallah dikaitkan dengan kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya, biasanya menggambarkan posisi yang tinggi

Qs. Ali-Imran (3) ayat 169:

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki

Diantara hamba-hamba yang didekatkan disisi Allah itu adalah para pejuang yang mati syahid, yang mengorbankan hidupnya untuk mengabdi dijalan Allah. Melakukan syiar agama untuk kemajuan umat.

Ada beberapa tingkat kualitas seiring dengan kualitas pengabdian dan amalannya. Sehingga Allah mengatakan bahwa kedudukan mereka itu bertingkat-tingkat disisi Allah.

Allah mengampuni dosa dan kesalahan mereka, dan mereka memperoleh balasan yang baik disisinya. Mereka diberi derajat yang tinggi disisiNya.

Qs. Ali-Imran (3) ayat 163:

(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat disisi Allah, dan Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan

Qs Shaad (38) ayat 25:

Maka kami ampuni baginya kesalahannya itu, dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi kami dan tempat kembali yang baik

5. Berserah diri

Dan tingkatan kedekatan yang paling tinggi adalah berserah diri kepada Allah (Muslimuun).

Inilah suatu tingkatan dimana ego seseorang sudah sedemikian rendahnya, dan yang muncul hanya ego Allah saja.

Dirinya telah lebur kedalam Diri Allah, Sifat-sifatnya juga telah lebur dalam sifat Allah, kehendaknya telah luluh kedalam kehendak Allah

Itulah yang didalam hadis Qudsi dikatakan bahwa orang-orang yang demikian itu “ Melihat dengan pengelihatan Allah, mendengar dengan pendengaran Allah, dan seluruh langkah perbuatannya dilambari oleh ilmu-ilmu Allah

Dari keterangan-keterangan tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa paham Manunggaling kawula lan gusti ada ujud dari rasa kedekatan Syekh Siti Djenar secara kualitas yang tertinggi dimana pada saat itu segala ucap, laku, pikirnya bukan didasarkan lagi pada ego dirinya melainkan atas dasar dari  sang pemilik yaitu Allah SWT.

Suatu ungkapan rasa yang indah namun jika salah menafsirkan dapat membuat suatu pertentangan atau mungkin juga kesesatan.

Ini adalah bentuk rangsangan kepada tiap-tiap diri untuk selalu berusaha mendekat secara kualitas kepada TUHAN-nya

« Awal Adalah Akhir | Depan | Sangkan Paraning Dumadi »

Manunggaling Kawula Gusti

Aku ini adalah diriMu
Jiwa ini adalah jiwaMu

Rindu ini adalah rinduMu
Darah ini adalah darahMu

itu katanya syair Dewa

Coba kita kembali ke Layer 0

Bagian manakah dari dirimu yang bukan dariNya?

Tapi jangan kotori Nur Ilahi dengan bejatnya nafsumu

Karna itu sucikanlah,
dan tegapkan langkah,
untuk menuju status,
Manunggaling Kawula Gusti

Ditulis oleh Aryo Sanjaya pada September 8, 2005 7:00 PM

Manunggaling Kawula lan Gusti PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Komaruddin Hidayat
Jumat, 08 Januari 2010 17:59
DALAM dunia tasawuf dikenal istilah manunggaling kawula lan gusti. Istilah ini berarti suasana batin seorang hamba yang merasa sangat cinta dan dekat dengan Tuhan sehingga dia merasa lebur dan menyatu dengan Tuhan.Ibarat leburnya gula dan air, menyatunya api dan besi, yang di antara keduanya bisa dibedakan, tetapi tidak bisa lagi dipisahkan.Ketika besi telah menjadi merah karena dibakar api, besi dan api telah menyatu. Siapa menyentuh api, akan terkena besi dan siapa yang memegang besi akan tersentuh api. Logika itu juga dikenal dalam teori kepemimpinan Jawa bahwa pemerintahan akan menjadi baik, tenteram, dan makmur kalau hati penguasa dan rakyat telah menyatu, berada dalam gelombang sama. Di pihak lain, rakyat mesti mampu menyelami apa yang menjadi kehendak raja atau gusti, lalu sepenuh hati menuruti titah sang raja.Ketika aspirasi rakyat sama dengan kehendak pemimpin,terjadilah kesatuan hati,kesatuan langkah. Dalam era demokrasi, formula yang lebih tepat adalah manunggaling gusti lan kawula,bukannya kawula lan gusti.Di sini yang lebih aktif adalah pihak penguasa dengan mampu menyelami dan memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan rakyatnya.Popularitas dan wibawa seorang pemimpin akan bertahan selama mampu menyelami, memahami, dan menampung aspirasi rakyatnya.Seorang penguasa akan efektif memimpin selama dicintai rakyatnya dan cinta akan tumbuh dari prestasi sang pemimpin yang disertai ketulusan dalam memajukan masyarakatnya.Fenomena sosial yang muncul akhir-akhir ini mengindikasikan keadaansebaliknya. Banyakpemimpin politik awalnya bersusah payah membangun citra agar populer di mata rakyat.Berbagai upaya dilakukan, sejak dari memasang iklan dirinyaditelevisi, fotonya terpampangdi baliho,rajin bersilaturahmi sampai memberi bantuan agar berhasil menduduki jabatan politik dalam birokrasi negara,parpol atau ormas. Namun, setelah berhasil, para kawula atau rakyat yang menjadi pilar pendukung dan penyangganya lalu ditinggalkan sehingga terputus hubungan kasih sayang, kepercayaan, komunikasi gagasan, dan kerja sama antara penguasa dan rakyat,antara gusti lan kawula, antara pemimpin dan konstituennya.Pemimpin model ini pasti tidak akan tahan lama. Dia adalah pemimpin kontraktual yang potensial merusak iklim dan kultur politik. Orang bisa jadi tidak akan percaya kepada parpol atau pemerintah gara-gara kecewa terhadap oknum atau pribadi pemimpinnya. Pasang surut dan timbul tenggelamnya parpol dalam panggung politik sebagian disebabkan oleh kekecewaan rakyat pada perilaku pimpinannya.Namun di balik kebisingan politik dan kekecewaan rakyat,di sana terdapat proses pembelajaran dan pendewasaan rakyat yang sangat signifikan,yaitu bagaimana rakyat merespons isu politik dan menilai aktor-aktornya.Akhir-akhir ini, masyarakat tidak mudah diprovokasi untuk melakukan demonstrasi mengecam dan melawan pemerintah tanpa alasan dan bukti yang meyakinkan karena rakyat semakin kritis.Siapa kelompok demonstran yang rasional, emosional, dan mungkin bayaran,rakyat memiliki cara pandang mandiri. Begitu pun dengan banyaknya panggung televisi, berbagai pikiran masyarakat akan tersalur dan terwakili melalui berbagai program dan figur yang tampil.Situasi ini juga merupakan pendidikan politik yang sangat signifikan bagi masyarakat dan mampu meredam kemarahan karena pikiran dan perasaannya telah terwakili.Salah satu kelemahan dari komunikasi visual dalam masyarakat modern adalah kita cenderung menyandarkan pada media massa untuk mengenal pribadi para tokoh, sementara para tokoh sangat sadar bagaimana membangun citranya melalui pemberitaan media massa. Oleh karena itu, seorang selebritas adakalanya naik daun dan menjadi populer berkat dukungan media massa dan suatu saat mendadak turundrastispamornya jugaolehpemberitaan media massa.Dengan kata lain, di situ tidak tercapai kondisi manunggaling gusti lan kawula.Dalam masyarakat modern yang relasi antarwarganya cenderung impersonal dan atomik, ditambah lagi peran media massa sering membuat sensasi, sering kali kita dibuat ragu bahkan bingung untuk menilai seseorang dan isu yang tengah hangat karena memang tidak memiliki data yang akurat. Jadi, ada benarnya rumusan nasihat benefit of the doubt, berilah ruang keraguan untuk menilai sesuatu atau seseorang agar tidak terjadi penyesalan.Ada untungnya bersikap ragu dan menunda penilaian terhadap hal-hal yang kita tidak tahu persis.(*)

0 Responses to “Warisan Adiluhung : Manunggaling Kawula Lan Gusti”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,156,883 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 118 other followers

%d bloggers like this: