05
Nov
11

Kepemimpinan : Hastha Brata, Delapan Sifat Utama Pemimpin

Kawruh Jowo, Selasa, 17 Februari 2009

Hastha Brata 8 Sifat Utama Seorang Pemimpin.

Masa reformasi ini kita menjadi sangat biasa mendengar kata pemilu. Di mana – mana dilakasanakan pemilu dari Pimilihan presiden, gubernur, walikota, bupati bahkan oleh karena pemilu sedang populer pemilu dilakukan sampai dengan tingkat RT dan RW. Satu tujuan pemilu adalah untuk memilih pemimpin. Dalam alam demokrasi diyakini bahwa melalui pemilihan umumlah akan diperoleh pemimpin yang baik karena prosesnya melibatkan unsur – unsur masyarakat yang akan dipimpinnya.

Untuk menjadi pemimpin yang baik, banyak orang berguru ke negeri orang sebab mereka dianggab lebih maju, lebih baik dan lebih pintar. Cara lain adalah mendatangkan orang asing untuk memberi seminar/pelatihan. Mengapa kita selalu melihat ke tempat yang jauh, negeri orang. Apakah di tanah air kita tidak ada nilai – nilai luhur yang bisa memandu seseorang untuk menjadi pemimpin yang baik? Banyak. Ada banyak sekali nilai – nilai luhur yang jika digali dan diaktualisasikan bisa memandu seseorang menjadi pemimpin yang hebat. Salah satu adalah ajaran Hastha Brata.

Ajaran Hasta Brata mengajarkan kepada setiap orang yang menjadi pemimpin hendaknya memiliki 8 watak/sifat keutamaan seturut alam. 8 watak/sifat tersebut adalah :
1. Mahambeg Mring KismoSebagai seorang pemimpin diharapkan memiliki sifat – sifat keutamaan seperti Bumi. Bumi itu sabar, memberi kepada sipapun, menumbuhkan, merubah busuk menjadi subur, tempat membuang segala hal baik ataupun buruk.
2. Mahambeg Mring Warih
Sebagai pemimpin diharapkan memiliki sifat – sifat keutamaan seperti air. Air memberi kesejukan, ketentraman, selalu turun/mengarah ke bawah.
3. Mahambeg Mring Samirana
Sebagai pemimpin diharapkan memiliki sifat – sifat keutamaan Angin. Angin selalu ada di mana – mana di setiap tempat, adil tidak membeda – bedakan, angin memberikan rasa nyaman/kesejukan.
4. Mahambeg Mring CandraSebagai pemimpin diharapkan memiliki sifat sifat keutamaan seperti Bulan. Bulan mampu mberikan penerangan secara lembut, memberi keindahan, adil bagi semua orang.
5. Mahambeg Mring Surya.
Sebagai pemimpin diharapkan memiliki sifat – sifat keutamaan seperti Matahari.Matahari Memberi penerangan, sinarnya menghidupkan, ada ketegasan dan adil.
6. Mahambeg Mring SamodraSebagai pemimpin diharapkan memiliki sifat – sifat keutamaan seperti Laut/Samudra. Laut/Samudraluas bak tak bertepi, demikian juga hati dan pikiran pemimpin. Laut menerima apapun yang dibuang manusia ada kesabaran dan kasih sayang yang tak terbatas.
7. Mahambeg Mring Wukir
Sebagai pemimpin diharapkan memiliki sifat – sifat keutamaan seperti Gunung. Gunung mempunyai sifat yang kuat, kukuh, konsisten, indah.
8. Mahambeg Mring Dahana.
Sebagai pemimpin diharapkan memiliki sifat – sifat keutamaan seperti Api. Api mampu membakar, tegas namun juga bisa hangat.

Diposkan oleh Fidirikus Trihatmoko di 20:56

PERAN KEPEMIMPINAN SEBAGAI MOTOR PENGGERAK PERUBAHAN DAN PERBAIKAN MASYARAKAT DAN BANGSA (TRANSFORMATION LEADERSHIP)

PERAN  KEPEMIMPINAN  SEBAGAI  MOTOR  PENGGERAK

PERUBAHAN  DAN  PERBAIKAN  MASYARAKAT  DAN  BANGSA

(TRANSFORMATION  LEADERSHIP)

Oleh

SOEPRAPTO — LPPKB

Pengantar

Kepemimpinan merupakan perkara yang menjadi kepedulian masyarakat, utamanya setelah suatu komunitas atau masyarakat menyadari eksistensinya, serta sadar akan tujuan yang hendak dicapai dengan eksistensinya tersebut. Tanpa  adanya pemimpin, komunitas akan sekedar suatu kumpulan manusia yang tidak jelas arah dan tujuan hidupnya, sehingga tiada ubahnya semacam sekelompok serigala yang ada dalam daerah tertentu. Dapat saja terjadi suatu komunitas yang seperti digambarkan oleh Thomas Hobbes laksana homo homini lupus, dan bellum omnium contra omnes.

Dalam sejarah ummat manusia dapat kita amati peran pemimpin dalam membawa masyarakat atau negara bangsanya. Maju mundur suatu masyarakat atau negara-bangsa sangat tergantung pemimpinnya. Kita kenal pemimpin dunia yang membawa nama besar negara-bangsanya seperti Napoleon Bonaparte, Adolf Hitler, Mussolini, J.F.Kennedy, Ghandi, Ir. Soekarno dan sebagainya. Namun bila pemimpin tersebut lupa diri akan perannya sebagai pembimbing dan penggembala pengikutnya, dapat saja menjerumuskan pengikutnya ke lembah kenestapaan.

Kepemimpinan telah menjadi komoditas kehidupan masyarakat sejak zaman Mesir kuno, zaman Yunani kuno yang berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun sebelum Masehi. Kepemimpinan merupakan fenomena kehidupan manusia universal. J.M.Burns mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan perkara yang paling menjadi kepedulian ummat manusia tetapi merupakan fenomena yang paling kurang difahami.[1]

Perlu dicatat bahwa The Oxford English Dictionary terbitan tahun 1933 menyatakan bahwa istilah leader atau pemimpin dalam bahasa Inggris baru dikenal sekitar tahun 1300-an. Pimpinan suatu komunitas yang dikenal sebelumnya adalah seperti raja, komandan, hulubalang dan sebagainya. Bahkan istilah leadership baru muncul sekitar pertengahan abad ke XIX.

Mengingat begitu besar peran pemimpin dalam membawa pengikutnya, seorang pemimpin yang bertanggung jawab perlu memahami kepemimpinan yang tepat yang dapat membawa kemajuan dan kesejahteraan pengikutnya,  masyarakat atau negara-bangsanya.

Makna Kepemimpinan

  1. Sifat Pemimpin

Begitu banyak pengertian kepemimpinan, sehingga makna kepemimpinan sangat tergantung dari waktu dan tempat serta kondisi yang dihadapi oleh pemimpin yang menerapkan kepemimpinannya. Pandangan masyarakat terhadap kepemimpinan dan persyaratan yang harus dipenuhi bagi pemimpin mengalami perbedaan sesuai kondisi, waktu dan tempat tersebut. Salah satu hal yang menjadi kepedulian masyarakat terhadap pemimpinnya adalah sifat yang dimiliki oleh pemimpinnya. Mereka beranggapan bahwa keberhasilan seorang pemimpin sangat tergantung pada sifat pemimpinnya.

Suatu contoh pada zaman Mesir kuno seorang pemimpin dinilai pada kualitas kekuasaan atau kewenangan, bersifat beda dengan rakyat pada umumnya, dan perilaku adil (the qualities of authority, discrimination, and just behavior). Sedangkan menurut pandangan masyarakat Yunani kuno pemimpin hendaknya bersifat adil, bijaksana, cerdik dan berani (justice and judgment – Agamemnon, wisdom and counsel – Nestor, shrewdness and cunning – Odysseus, valor and action – Achilles). [2] Sifat-sifat bagi seorang pemimpin, yang digambarkan oleh masyarakat Yunani kuno, diambil dari sifat-sifat tokoh yang dikaguminya.

Bagi ummat Islam sifat seorang pemimpin hendaknya seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. yakni fatonah, tabligh, amanah dan sidik. Fatonah bermakna cerdas, mampu memecahkan persoalan dengan tepat, baik dan benar, tabligh berarti jujur, tidak menambah dan mengurangi terhadap misi atau hal-ihwal yang harus disampaikan, amanah berarti baik hati dalam melayani, bersikap jujur dan obyektif,  dan sidik berkata dengan benar, dengan tepat membedakan yang benar dan yang salah.

Orang Jawa menyatakan bahwa seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti yang diperlihatkan oleh benda-benda alam semesta, seperti surya/matahari, candra/bulan, kartika/bintang, mega/awan, pawana/angin, dahana/api, bantala/bumi, samodra/laut. Surya bersifat memberikan kehidupan yang ada di sekitarnya; chandra memberikan suasana yang sejuk menenangkan dan menghanyutkan;  kartika  memberikan arah kehidupan, kemana masyarakat akan dibawanya; mega yang gelap bersifat menakutkan, namun bila telah berubah menjadi hujan memberikan kehidupan dan kesejukan; pawana bersifat merata tanpa pandang bulu; seperti halnya dahana bersifat adil, tegak lurus dan akan membakar apa saja tanpa pandang bulu; bantala bersifat kokoh, merupakan sumber kehidupan, dari bumilah diperoleh segala keperluan kehidupan manusia, sekaligus sebagai purifikasi terhadap kotoran yang diperbuat oleh manusia dan makhluk lain; serta samudra yang bersifat momot, mampu menampung apa saja tanpa pilih-pilih dan sekaligus sebagai pemurnian kembali limbah apapun jua. Pandangan ini yang disebut Asthabrata. Seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat tersebut.

Pandangan tersebut dapat disederhanakan, bahwa seorang pemimpin harus ngayomi atau melindungi rakyatnya, sehingga rakyat akan merasa aman,  dan tenteram, tidak ada rasa takut  dalam melaksanakan kegiatan apapun, ngayemi atau menimbulkan rasa senang dan damai, dan ngayani yakni memberikan kesejahteraan pada rakyatnya. Sehingga kebahagiaan rakyat  akan terwujud.

Pandangan orang Jawa yang lain terhadap sifat seorang pemimpin adalah ber budi bawalaksana[3], yang dalam garis besarnya bermakna, seorang pemimpin harus selalu memberi atau menyantuni rakyatnya, bukan untuk selalu meminta-minta kepada rakyatnya. Kata-katanya dapat dipercaya dan dipegang teguh. Biasa diungkapkan oleh ki dalang sebagai berikut: “Dene utamaning Nata ber budi bawalaksana; lire ber budi mangkana lila legawa ing driya, agung dennya paring dana, anggeganjar saben dina; lire kang bawalaksana anetepI pangandika.”

  1. Kompetensi Pemimpin

Pandangan lain menyatakan bahwa keberhasilan seorang pemimpin tergantung pada kompetensi yang dimilikinya. Seorang pemimpin dituntut memiliki konpetensi tertentu yang diperlukan untuk membawa orang-orang yang dipimpinnya. Berikut disampaikan beberapa pandangan tentang kepemimpinan yang mensyaratkan kompetensi tertentu yang harus dipenuhi bagi seorang pemimpin.

  1. Kemampuan mempengaruhi pihak lain

Pertama seorang pemimpin harus mampu mempengaruhi orang yang dipimpinnya. Berikut disampaikan beberapa pendapat yang menyatakan hal tersebut.

J.B.Nash menyarankan bahwa kepemimpinan hendaknya sebagai upaya mempengaruhi perubahan dalam menuntun rakyat. Leadership implies influencing change in the conduct of people.

Tead memberikan batasan kepemimpinan sebagai aktivitas mempengaruhi rakyat untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan yang dikehendaki bersama. Leadership as the activity of influencing people to cooperate toward some goal which they come to find desirable.

Stogdill memberikan batasan kepemimpinan sebagai suatu proses atau tindakan  mempe- ngaruhi  kegiatan suatu kelompok terorganisasi dalam usahanya dalam menyusun dan mencapai tujuan. Leadership as the process (act) of influencing the activities of an organized group in its effort toward goal setting and goal achievement.

Tannenbaum, Wechsler dan Massarik memberikan batasan kepemimpinan sebagai berikut: “Pengaruh interpersonal, yang diterapkan dalam situasi dan diarahkan melalui proses komunikasi, menuju pada pencapaian tujuan khusus.” Leadership as interpersonal influence, exercised in a situation and directed, through the communication process, toward the attainment of a specific goal or goals.[4]

Dari rumusan-rumusan tersebut di atas, nampak bahwa kepemimpinan adalah penerapan pengaruh yang dilakukan oleh si pemimpin kepada orang yang dipimpinnya untuk mencapai suatu tujuan. Penerapan pengaruh untuk merubah sikap dan perilaku orang memerlukan pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu jiwa. Cara atau metoda yang bagaimana untuk mempengaruhi orang.

Sekurang-kurangnya terdapat dua aliran pokok yang dapat dipergunakan dalam mempengaruhi orang untuk mengubah perilaku, yakni insight theory dan behavioristic theory. Insight theory berpandangan bahwa dalam mengubah perilaku seseorang harus disadari dengan sepenuhnya dan memahami alasan yang dapat diterima akal mengapa harus dilakukan perubahan. Cara ini dinilai lebih manusiawi, karena mendudukkan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya. Sedangkan behavioristic theory menerapkan pendekatan melepaskan ikatan antara stimulus dan respons yang ada, yang telah terbentuk pada seseorang, dengan membentuk ikatan stimulus dan respons yang baru. Dengan cara ini akan terbentuk pola sikap dan perilaku baru sesuai dengan yang dikehendaki. Dalam kenyataan kedua cara tersebut dapat saja terjadi silih berganti.

Bung Karno dalam pidato atau kuliahnya di hadapan para pimpinan partai dan elit bangsa pada tanggal 26 juni 1958 di Istana Negara menerangkan bahwa diperlukan tiga syarat bagi seorang pemimpin. Syarat tersebut adalah (a) mampu menyampaikan iming-iming, idaman terhadap hal ihwal yang ingin dicapai dengan kepemimpinannya, (b) menimbulkan rasa mampu pada yang dipimnpin untuk mencapai cita-cita tersebut, dan (c) membentuk kekuatan yang nyata untuk mencapai cita-cita imaksud.[5]

Dinyataikan secara jelas bahwa pemimpin dunia, bahkan para nabi sekalipun selalu menggambarkan sesuatu yang menjadi idaman para pengikutnya. Para nabi menggambarkan idaman atau iming-iming itu adalah kehidupan sorgawi, yang digambarkan penuh dengan kenikmatan yang luar biasa.  Bagi Adolf Hitler idaman tersebut adalah terwujudnya kerajaan ketiga, suatu kerajaan bagi ras Aria, ras yang paling mulia di dunia, dengan semboyannya Deutschland uber alles. Kaisar Tenno Haika ingin mewujudkan Asia Timur Raya, Bung Karno dan para founding fathers Indonesia mencita-citakan negara yang berkeadilan sosial dengan berdasar pada Pancasila. Cita-cita tersebut yang oleh Bung Karno disebut sebagai landasdan dinamis atau Leitstar [Leitstern] perjuangan. Dengan adanya hal ihwal yang menjadi idaman tersebut mendorong pengikut  berkeinginan untuk mencapainya.

Setelah rakyat memperoleh gambaran secara jelas idaman atau iming-iming yang ingin dicapai, kemampuan pemimpin yang kedua adalah bagaimana idaman tersebut dapat mengkristal menjadi kamauan rakyat untuk mewujudkan secara nyata. Gambaran mengenai idam-idaman tersebut menggumpal menjadi dorongan yang kuat untuk merealisasikan dalam kenyataan, dan harus digambarkan bahwa rakyat mampu melaksanakannya.

Kemampuan ketiga seorang pemimpin adalah mengupayakan  agar impian itu dapat diwujudkan secara nyata, dan rakyat memiliki  kemampuan nyata  untuk mencapainya. Dengan cara ini kepercayaan rakyat pada pemimpin  tumbuh dengan subur dan dipatuhi segala kehendaknya.

Berikut disampaikan pendapat Edgar F. Puryear Jr mengenai keberhasilan kepemimpinan dalam bidang militer: “There are many qualities that combine to make a leader successful. Among the most important are professional knowledge, decision, humanity, equity, courage, consideration, delegation, loyalty, selflessness, and character. From all my research, however, It is clear that there is absolutely nothing as important in successful leadership as character.”[6]

  1. 2.       Kemampuan manajerial

Pemimpin biasa dibedakan dengan seorang manajer atau administrator. Seorang manajer dituntut untuk mampu memberikan arah (direction), koordinasi (coordination), dan pengawasan  (control) terhadap tenaga yang dikelolanya. Seorang manajer diharapkan memiliki kemampuan menyusun perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengawasan (controlling), mengkoordinasi (coordinating), supervise (supervising), dan mamberi motivasi dan dorongan (motivating). Banyak pemimpin yang berhasil meski kurang memiliki kemampuan sebagai seorang manajer. Mereka lebih menitik beratkan pada kharisma yang dimiikinya. Namun bila seorang pemimpin memiliki kemampuan seorang manajer pasti akan lebih berhasil.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan manajerial  seorang pemimpin lebih dititik beratkan pada hal yang bersifat implementatif, di antaranya:

  • Defining objectives and maintaining goal direction, merumuskan tujuan dan mempertahankan arah tujuan.
  • Providing means for goal attainment, penyediaan sarana untuk mencapai tujuan.
  • Providing and maintaining group structure, penyediaan dan pemeliharaan struktur kelompok.
  • Facilitating group action and interaction, memfasilitasi kegiatan dan interaksi kelompok.
  • Maintaining group cohesiveness and member satisfaction, pemeliharaan keeratan kelompok dan kepuasaan anggota.
  • Facilitating group task performance, memfasilitasi penampilan tugas kelompok.[7]

Berikut disampaikan pendapat Edgar F. Puryear Jr mengenai keberhasilan kepemimpinan dalam bidang militer: “There are many qualities that combine to make a leader successful. Among the most important are professional knowledge, decision, humanity, equity, courage, consideration, delegation, loyalty, selflessness, and character. From all my research, however, It is clear that there is absolutrely nothing as important in successful leadership as character.”[8]

Puryear menekankan betapa penting kedudukan karakter bagi seorang pemimpin dalam melaksanakan tugasnya. Pengetahuan, kompetensi dan penguasaan manajerial merupakan dukungan terhadap keberhasilan kepemimpinan, yang berpusat pada karakter si pemimpin.

Dari uraian tersebut di atas,  seorang pemimpin perlu memenuhi berbagai syarat, baik mengenai karakter dan sifat-sifat yang harus dipenuhinya, dan beberapa kemampuan yang dituntut untuk dapat melaksanakan tugas kepemimpinannya. Karena seorang pemimpin hidup dalam era dan waktu tertentu maka persyaratan yang bersifat umum tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi dimaksud. Dengan demikian pemimpin bagi bangsa Indonesia diharapkan pula untuk memenuhi syarat yang bersifat umum namun juga memenuhi syarat khusus yang merupakan kondisi dan jatidiri bangsa Indonesia.

Kepemimpinan Bangsa Indonesia

Di depan telah dikemukakan bahwa seorang pemimpin adalah seorang yang mampu mempengaruhi pihak lain dalam mencapai suatu tujuan tertentu, yang dapat saja ditentukan oleh si pempimpin sendiri atau ditentukan bersama. Seorang pemimpin nasional adalah seseorang yang mampu mempengaruhi rakyat sehingga dapat digerakkan dan diarahkan untuk mencapai tujuan nasional. Dalam menerapkan pengaruh ini seorang pemimpin memerlukan suatu kekuasaan yang berakibat timbulnya kepatuhan atau ketaatan pada yang dipimpin dengan memanfaatkan potensi-potensi yang ada padanya.

Potensi tersebut dapat berupa kekuatan fisik, kemampuan dalam bidang olah materi, atau kemampuan dalam olah fikir atau ketiga-tiganya. Dengan memanfaatkan potensi-potensi tersebut  diharapkan seorang pemimpin akan memiliki wibawa yang berakibat timbulnya kesadaran dan keyakinan pada yang dipimpin bahwa ketaatan dan kepatuhan pada pemimpin adalah suatu perkara yang sah dan wajar. Sementara pihak ada yang berpendapat, untuk mengatasi krisis yang multi dimensional, yang dihadapi bangsa Indonesia, diperlukan seorang pemimpin nasional yang kuat, seorang national spiritual leader yang kuat, beragama kokoh, kharismatis, yang memiliki sifat sepi ing pamrih rame ing gawe, kalis dari tindak dan perbuatan tercela, mampu merangkum seluruh potensi bangsa, sehingga mampu menggoyang akar rumput.

Hadirnya seorang pemimpin melalui suatu proses; dengan potensi yang ia miliki seorang calon pemimpin mulai dikenal oleh masyarakat. Ujian pertama timbul pada calon pemimpin tersebut, masyarakat mulai mengadakan penilaian pada calon pemimpin ini. Apa yang menjadi motivasi si calon pemimpin dalam menampilkan diri? Apakah calon pemimpin ini memiliki kemampuan yang dipersyaratkan oleh masyarakat, yakni dapat menjamin terciptanya kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat luas, ataukah hanya untuk memenuhi ambisi pribadi atau golongan? Apakah calon pemimpin ini bersifat akomodatif terhadap aspirasi masyarakat, atau selalu memaksakan kehendaknya sendiri? Masih terdapat sederet pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat pada calon pemimpinnya. Apabila penilaian masyarakat sampai kepada suatu kesimpulan bahwa calon pemimpin ini bukan yang diharapkan, maka calon pemimpin ini telah gagal sejak awal.

Bila seorang calon pemimpin lulus pada ujian tahap  pertama, maka calon pemimpin ini memiliki kesempatan untuk melangkah lebih lanjut, yakni menjadi pemimpin yang disayang oleh masyarakat. Ujian kedua timbul setelah seorang pemimpin tampil dalam tampuk pimpinan. Kiprah seorang pemimpin akan dinilai oleh masyarakat berkaitan dengan kemampuan pemimpin dalam memecahkan persoalan yang dihadapi oleh masyarakatnya. Bagaimana cara seorang pemimpin dalam memecahkan masalah dilihat dari dua sisi yakni dari penguasaan terhadap substansi permasalahan dan tatacara untuk memecahkan persoalan dimaksud. Keluaran dari pemecahan permasalahan tidak hanya dilihat dari solusi yang dihasilkan tetapi bagaimana sampai pada solusi tersebut. Di sini nampak kualitas pemimpin yang sesungguhnya. Bila ia gagal maka akan menjadi bulan-bulanan masyarakat, tetapi bila sukses akan menjadi pemimpin yang disegani oleh masyarakatnya.

Ujian yang ketiga lahir setelah seorang pemimpin disanjung dan disegani oleh masyarakatnya. Apakah pemimpin ini menjadi lupa diri, sehingga mulai menyalah-gunakan kekuasaannya. Lord Acton sejak awal telah memperingatkan, bersikaplah arif dan bijaksana dalam bermain kekuasaan, karena kekuasaan itu memberikan peluang untuk bertindak korup. Power tends to corrupt, but absolute power corrupts absolutely. Bila hal ini terjadi maka seorang pemimpin berusaha untuk mempertahankan kepemimpinannya dengan segala cara dan upaya, bahkan dengan semboyan segala cara dihalalkan demi tercapainya tujuan. Situasi yang semacam ini melukiskan akan berakhirnya suatu era kepemimpinannya. Mulai timbul rasa takut pada masyarakat terhadap pemimpinnya yang bermuara lahirnya rasa benci dalam masyarakat. Inilah akhir dari seorang pemimpin. Hal ini dapat dihindari, apabila seorang pemimpin telah sampai pada tingkat disegani, harus lebih bersifat hati-hati, supaya tidak tergelincir pada situasi yang tidak diharapkan.

Pemimpin Bangsa Masa Depan

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi pemimpin bangsa Indonesia masa depan. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Memahami, meyakini serta mampu dan mau merealisasikan Pembukaan UUD 1945, yang di dalamnya terdapat dasar negara Pancasila dan tujuan yang ingin dicapai dengan berdirinya negara Indonesia. Maka seorang pemimpin bangsa Indonesia hendaknya:
  1. Memahami konstelasi masyarakat Indonesia yang berbhinneka tunggal ika. Memahami tujuan yang hendak dicapai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yakni menciptakan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, serta mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi bangsa dengan memperhitungkan dan sesuai dengan konstelasi bangsa tersebut.
  1. Mampu menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis, menegakkan hak asasi manusia, menjunjung tinggi supremasi hukum dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.
  1. Memiliki kemampuan manajerial, sehingga memahami permasalahan yang dihadapi oleh bangsanya, mampu mengambil keputusan dengan tepat, serta mampu merealisasikan keputusan tersebut dengan taat asas. Sebagai akibat maka seorang pemimpin bangsa Indonesia hendaknya:
  1. Memahami permasalahan  yang dihadapi bangsa, mampu memilah-milah permasalahan yang mendasar, yang penting, yang urgen, sehingga mampu menentukan prioritas dalam penanganan.

2.   Memahami tantangan yang dihadapi oleh bangsanya, baik tantangan internal maupun tantangan eksternal, serta memahami potensi berupa segala sumber daya dan kelemahan yang dimiliki bangsa yang dapat dimanfaatkan untuk menghadapi tantangan tersebut.

  1. Memiliki kemampuan untuk memberikan direction, coordination, control serta evaluation dalam menyelenggarakan pemerintahan, sehingga segala sumber daya dapat dikerahkan secara sinerjik dalam menjangkau cita-cita dan tujuan bangsa.
  1. Memiliki konsep futuralistik, bagaimana membawa masyarakat menuju masyarakat yang adil dan makmur menjangkau masa depan, khususnya dalam menghadapi era globalisasi.
  1. Memiliki sifat terpuji sehingga dapat menjadi contoh dan tauladan bagi masyarakat dan bangsanya. Sifat-sifat terpuji tersebut di antaranya:
  1. Ucapan dan kata-katanya selalu mengandung kebenaran, sehingga dapat dipercaya dalam menyampaikan misi yang diembannya, cerdas serta taat asas dalam pemikiran, ucapan dan tindakan, yang dilandasi oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  1. Ber budi bawa laksana, yakni seorang pemimpin hendaknya jangan menjadi peminta-minta pada rakyatnya, justru seorang pemimpin harus selalu memberikan kesejahteraan, dan ketenteraman batin, sehingga menjadi pengayom dan  pamong bagi rakyatnya. Segala ucapan dan kata-katanya dapat dipakai sebagai pegangan dalam bertindak sehingga tidak mencla-mencle, seperti ungkapan yang mengatakan : Esuk dele, sore tempe. Situasi demikian pasti akan membingungkan rakyatnya.
  1. Sepi ing pamrih, rame ing gawe. Ungkapan ini bukan bermakna bahwa seorang pemimpin tidak boleh memiliki kepentingan dan ambisi. Tanpa kepentingan dan ambisi seorang pemimpin  tidak akan memiliki gairah dalam  perjuangannya.  Yang dimaksud dengan ungkapan tersebut adalah bahwa seorang pemimpin hendaknya jangan mementingkan kepentingan pribadi atau kepentingan golongan. Ambisi seorang pemimpin nasional tiada lain adalah terciptanya kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat.
  1. Memiliki kharisma yang kuat, berwibawa, dapat menjadi anutan rakyatnya, sehingga dapat bertindak sebagai national spiritual leader.
  1. Seorang pemimpin bangsa hendaknya berbudi luhur dan kalis atau terbebas dari perbuatan tercela seperti KKN dan sebagainya.

Perubahan dan Perbaikan Masyarakat dan Bangsa

Perubahan adalah hakikat kehidupan di dunia. Tidak ada yang kekal dalam kehidupan di dunia, sampai-sampai seorang filsuf Yunani, Herakleitos menyatakan bahwa hakikat yang ada adalah perubahan, semuanya mengalir, panta rei.[9] Oleh karena itu yang ada (kekal) di dunia itu tidak ada, yang ada adalah perubahan, proses yang menghasilkan kejadian. Tak ada barang yang tetap seperti keadaan semula.

Oleh karena itu manusia harus arif dan bijaksana dalam mengantisipasi perubahan. Manusia harus mampu memberi makna perubahan dan manfaat bagi kehidupannya. Manusia harus mampu membawa diri dalam perubahan, tidak hancur dan lebur dalam perubahan tetapi, justru mampu memberikan makna perubahan dan memanfaatkan bagi kesejahteraan manusia.

Dalam mengantisipasi perubahan kita harus berpandangan jauh ke depan. Kita tidak hidup untuk masa lalu. Masa lalu kita manfaatkan sebagai acuan dalam menjangkau masa depan. Suatu panduan yang sangat tepat dalam mengantisipasi perubahan adalah change, continuity and sustainability, perubahan, berkelanjutan dan kelestarian.

Dalam kita mengantisipasi perubahan kita berpegang pada suatu prinsip bahwa perubahan yang terjadi pada dewasa ini dan di masa yang akan datang merupakan suatu rangkaian yang tidak putus-putus, suatu proses kontinuitas. Hal ihwal yang terjadi masa kini adalah sebagai akibat dari hal ihwal yang terjadi pada masa lalu, dan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang adalah akibat dari hal ihwal yang terjadi pada masa kini, yang sebagian besar merupakan hasil olah fikir dan perilaku manusia masa kini. Oleh karena itu bersikaplah arif dan bijaksana pada masa kini kalau kita menghendaki keselamatan dan kesejahteraan di masa yang akan datang.

Tuhan menciptakan alam semesta dalam keseimbangan dan keselarasan dalam rangka menjaga kelestarian ciptaanNya. Oleh karena itu dalam mengantisipasi perubahan, manusia juga harus berprinsip  sustainability, kelestarian lingkungan. Perilaku manusia yang mengarah pada perusakan lingkungan harus dihindari. Dalam mengimplementasikan prinsip ini manusia akan menghadapi situasi yang sangat radikal, yakni terjadinya globalisasi yang didukung oleh IT. Dengan melalui berbagai media, globalisasi dengan IT-nya menjajakan perilaku manusia yang sangat materialistik, konsumeristik dan hedonistik, yang mendorong manusia untuk mengingkari prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam mengantisipasi perubahan. Kita harus sadar akan situasi tersebut dan bersikap secara tepat dalam membawa diri dalam mengantisipasi perubahan.

Seorang pemimpin dituntut untuk dapat mempengaruhi rakyat yang dipimpinnya untuk memahami, menyadari untuk selanjutnya bersikap secara arif dan bijaksana dalam mengantisipasi perubahan dalam mencapai tujuan hidupnya. Cara memotivasi seorang pemimpin adalah dengan cara memberikan contoh dan tauladan secara nyata, untuk dijadikan panduan bagi rakyat yang dipimpinnya. Kalau kita tidak menghendaki kehidupan yang materialistik, individualistik, konsumeristik, dan hedonistik, mulailah dari para pemimpinnya lebih dahulu. Ki Hajar Dewantara memberikan petunjuk dengan rumusan: “Ing ngarso asung tulada,” yang artinya seorang pemimpin yang selalu berdiri di depan harus memberikan contoh dan tauladan, dengan berpegang pada adagium “selflessness.”

Cara yang lain dalam memotivasi orang yang dipimpin adalah dengan pendekatan yang disebut pendekatan psikologis, yakni dengan memberikan harapan mengenai kehidupan yang indah yang ingin dicapai dalam kegiatan. Seorang pemimpin harus mampu menyusun gambaran yang menggiurkan mengenai hal ihwal yang akan dicapai bersama, untuk selanjutnya  merealisasikan dalam perbuatan. Dengan cara-cara tersebut diharapkan seorang pemimpin bangsa Indonesia mampu memberikan dorongan para rakyatnya untuk mencapai tujuan negara-bangsa.

Penutup

 

Demikianlah garis besar upaya yang perlu dilakukan oleh seorang pemimpin dalam memberikan dorongan bagi yang dipimpin. Uraian ini perlu dilengkapi dengan petunjuk teknis yang merupakan penjabaran dari gagasan yang tersebut di atas.

Jakarta, 25 Mei 2011

[1] Stogdill’s, Handbook of Leadership, The Free Press London.

[2] Stogdill, op. cit.

[3] Ir. Suyamto, Ber budi bawalaksana, Effhar, Semarang.

[4] Stogdill, op. cit.

[5] H. Amin Arjoso, SH. ed., Tjamkan Panca Sila! Pancasila Dasar Falsafah Negara.

[6] Edgar F.Puryear, American Generalship.

[7] Stogdill, op. cit.

[8] Edgar F.Puryear, American Generalship.

[9]  Drs. Moh. Hatta, Alam Pikiran Yunani, Tintamas, Jakarta.

Pemimpin Menurut Islam

Setiap manusia yang terlahir dibumi dari yang pertama hingga yang terakhir adalah seorang pemimpin, setidaknya ia adalah seorang pemimpin bagi dirinya sendiri. Bagus tidaknya seorang pemimpin pasti berimbas kepada apa yang dipimpin olehnya. Karena itu menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dilaksanakan dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut,karena kelak Allah akan meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu.

Dalam Islam sudah ada aturan-aturan yang berkaitan tentang pemimpin yang baik diantaranya :

Beriman dan Beramal Shaleh
Ini sudah pasti tentunya. Kita harus memilih pemimpin orang yang beriman, bertaqwa, selalu menjalankan perintah Allah dan rasulnya. Karena ini merupakan jalan kebenaran yang membawa kepada kehidupan yang damai, tentram, dan bahagia dunia maupun akherat. Disamping itu juga harus yang mengamalkan keimanannya itu yaitu dalam bentuk amal soleh.

Niat yang Lurus
Hendaklah saat menerima suatu tanggung jawab, dilandasi dengan niat sesuai dengan apa yang telah Allah perintahkan.Karena suatu amalan itu bergantung pada niatnya, itu semua telah ditulis dalam H.R bukhari-muslim
Dari Amīr al-Mu’minīn, Abū Hafsh ‘Umar bin al-Khaththāb r.a, dia menjelaskan bahwa dia mendengar Rasulullah s.a.w bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut”

Karena itu hendaklah menjadi seorang pemimpin hanya karena mencari keridhoan ALLAH saja dan sesungguhnya kepemimpinan atau jabatan adalah tanggung jawab dan beban, bukan kesempatan dan kemuliaan.


Laki-Laki
Dalam Al-qur’an surat An nisaa’ (4) :34 telah diterangkan bahwa laki laki adalah pemimpin dari kaum wanita.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri (maksudnya tidak berlaku serong ataupun curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara “(mereka; maksudnya, Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik).

Ayat ini menegaskan tentang kaum lelaki adalah pemimpin atas kaum wanita. Menurut Imam Ibnu Katsir, lelaki itu adalah pemimpin wanita, hakim atasnya, dan pendidiknya. Karena lelaki itu lebih utama dan lebih baik, sehingga kenabian dikhususkan pada kaum lelaki, dan demikian pula kepemimpinan tertinggi. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada seorang wanita.”(Hadits Riwayat Al-Bukhari dari Hadits Abdur Rahman bin Abi Bakrah dari ayahnya).

Tidak Meminta Jabatan
Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu,”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin.Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Berpegang pada Hukum Allah.
Ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin.Allah berfirman,”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (al-Maaidah:49).

Memutuskan Perkara Dengan Adil
Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezhalimannya.” (Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).

Menasehati rakyat
Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).”

Tidak Menerima Hadiah
Seorang rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin pasti mempunyai maksud tersembunyi, entah ingin mendekati atau mengambil hati.Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian hadiah dari rakyatnya.Rasulullah bersabda,” Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat Thabrani).

Tegas
ini merupakan sikap seorang pemimpin yang selalu di idam-idamkan oleh rakyatnya. Tegas bukan berarti otoriter, tapi tegas maksudnya adalah yang benar katakan benar dan yang salah katakan salah serta melaksanakan aturan hukum yang sesuai dengan Allah, SWT dan rasulnya.

Lemah Lembut
Doa Rasullullah,’ Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yang mengurus satu perkara umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya.

Selain poin- poin yang ada di atas seorang pemimpin dapat dikatakan baik bila ia memiliki STAF. STAF disini bukanlah staf dari pemimpin, melainkan sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tersebut. STAF yang dimaksud di sini adalah Sidiq(jujur), Tablig(menyampaikan), amanah(dapat dipercaya), fatonah(cerdas)

Sidiq itu berarti jujur. Bila seorang pemimpin itu jujur maka tidak adalagi KPK karena tidak adalagi korupsi yang terjadi dan jujur itu membawa ketenangan, kitapun diperintahkan jujur walaupun itu menyakitkan.
Tablig adalah menyampaikan, menyampaikan disini dapat berupa informasi juga yang lain. Selain menyampaikan seorang pemimpin juga tidak boleh menutup diri saat diperlukan rakyatnya karena Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).
Amanah berarti dapat dipercaya. Rasulullah bersabda,” Jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-hakim). Karena itu seorang pemimpin harus ahli sehingga dapat dipercaya.
Fatonah ialah cerdas. Seorang pemimpin tidak hanya perlu jujur, dapat dipercaya, dan dapat menyampaikan tetapi juga cerdas. Karena jika seorang pemimpin tidak cerdas maka ia tidak dapat menyelesaikan masalah rakyatnya dan ia tidak dapat memajukan apa yang dipimpinnya.

Setelah kita mengetahui sebagian ciri- ciri pemimpin menurut islam. Marilah kita memilih dan membuat diri kita mendekati bahkan jika bisa menjadi seperti ciri- ciri pemimpin diatas karena kita merupakan Mahasiswa dan sebagai penerus bangsa.


0 Responses to “Kepemimpinan : Hastha Brata, Delapan Sifat Utama Pemimpin”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,308,548 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers

%d bloggers like this: