Archive for November, 2011

30
Nov
11

Bangunan : Menara Eiffel Jadi Pohon Terbesar Dunia

Rabu, 30/11/2011 18:10 WIB

Menara Eiffel

Novi Christiastuti Adiputri – detikNews
Wow ! Menara Eiffel Akan Disulap Jadi Pohon Terbesar di Dunia


Ilustrasi (AFP) Paris – Menara Eiffel yang menjadi ciri khas kota Paris, Prancis akan ‘dirombak’ menjadi pohon raksasa. Tak lama lagi, menara setinggi 327 meter ini akan ditutupi dengan tanaman dari atas hingga bawah.

Seperti diberitakan surat kabar Prancis, Le Figaro dan dilansir kantor berita AFP, Rabu (30/11/2011), program tersebut telah direncanakan sejak 2 tahun lalu dan dilaksanakan oleh kelompok insinyur bernama ‘Ginger’ yang ahli dalam arsitektur hijau.

Dalam proyek senilai 72 juta Euro atau setara dengan Rp 873,6 miliar tersebut, Menara Eiffel akan ditempeli sekitar 600 ribu tanaman.

Para arsitek dan insinyur yang terlibat telah membangun sebuah prototipe dengan tinggi beberapa meter untuk menilai dampak berat tanaman sebesar 378 ton yang akan ditempelkan pada menara tersebut. Hasil pengujian ini akan diketahui pada Desember mendatang.

Bibit tanaman yang akan ditempelkan akan mulai dibudidayakan hingga Juni 2012. Kemudian tanaman tersebut akan ditempelkan ke menara satu persatu hingga Januari 2013. Lalu, tanaman tersebut akan dibiarkan tumbuh hingga Januari 2014 dan dibiarkan hingga dibersihkan pada Juli 2016.

Tanaman-tanaman tersebut nantinya akan ditanamkan pada kantong tanah yang digantung dengan tali di setiap struktur baja Menara Eiffel. Pipa karet seberat 12 ton akan dipasang juga untuk mengairi tanaman tersebut.

Meskipun akan dipasangi tanaman, lampu-lampu yang selama ini menghiasi Menara Eiffel sejak tahun 2002 tidak akan dilepaskan. Lampu-lampu tersebut akan tetap bersinar, namun melalui dedaunan hijau.

(nvc/anw)

30
Nov
11

Prasarana : Dicari Penyebab Jembatan KuKar Ambruk

Rabu, 30/11/2011 17:18 WIB

Jembatan Kukar

Kusmayadi – detikNews
Cari Penyebab Ambruknya Jembatan Kukar, Kementerian PU Butuh Sebulan


(Foto: Robert/detikcom) Sumbawa – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tidak ingin tim investigasi yang kini tengah meneliti penyebab ambruknya jembatan Kutai Kartanegara bekerja terburu-buru. Mempertimbangkan teknis dan kesulitan lapangan, setidaknya tim investigasi butuh waktu satu bulan.

“Kalau melihat situasi seperti ini, ini pasti akan sulit. Ada yang mengatakan cukup waktu seminggu. Jadi, jangan sampai tim investigasi didorong cepat-cepat buat kesimpulan. Berbahaya nanti,” kata Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PU, Djoko Murjanto, di sela penyerahan hibah empat jembatan dari Pemerintah Jepang, Rabu (30/11/2011) di Sumbawa Barat.

Ia memastikan tim investigasi saat ini terus bekerja, sedang melihat, mengambil sampel di lapangan. Memang sudah ada sampel yang dites di laboratorium. Tapi hasilnya, kata Djoko, belum diketahui.

“Lebih baik kita lepas saja tim investigasi bekerja. Cepat tidaknya tergantung data yang masuk. Suhu (ahli) teknik sipil di Indonesia saja sudah memberi estimasi butuh waktu sebulan. Bahkan mungkin lebih. Ya sudah memang butuh waktu sebulan,” imbuh Djoko.

Terkait spekulasi bahwa ambruknya jembatan akibat kesalahan manusia atau juga karena proyek terkait kasus korupsi, Djoko mengaku tak ingin berspekulasi.

“Saya selalu katakan belum. Saya tidak katakan itu salah. Tapi saya belum tahu. Salahnya siapa, human eror-kah, saya katakan belum ada,” katanya.

Jembatan Kukar ambruk 26 November 2011. Jembatan itu sedang dalam perawatan dan ambruk dalam waktu 30 detik. Musibah ambruknya jembatan memakan korban jiwa. Sudah 19 orang ditemukan tewas.

(nwk/nwk)

30
Nov
11

Khazanah : Des Alwi dekat dengan keluarga Soekarno dan Soeharto

Rabu, 30/11/2011 17:21 WIB

Des Alwi

Gunawan Mashar – detikNews
Prabowo : Des Alwi Dekat dengan Keluarga Soekarno & Soeharto


Jakarta – Prabowo Subianto memberi sambutan dalam peluncuran 2 buku mengenang tokoh nasional dan diplomat ulung, (alm) Des Alwi. Ia mengatakan Des Alwi adalah sosok yang nyaris tidak punya musuh. Karakter seperti ini dinilainya sebagai hal yang langka.

“Des Alwi adalah tokoh yang nyaris tidak punya musuh. Ia dekat dengan semua pihak. Hal yang sangat jarang dewasa ini, biasanya kalau seorang tokoh dengan tokoh tertentu, maka kelompok lain tidak suka,” kata Prabowo, yang memberi sambutan memwakili sahabat dekat Des Alwi.

Hal ini dikatakan Prabowo dalam acara ‘Peluncuran 2 Buku Mengenang Des Alwi’ di Perpustakaan Nasional, Jl Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (30/11/2011).

Prabowo lalu mencontohkan, pada era Orde Baru (Orba) dulu, tokoh yang dekat dengan keluarga Soeharto, biasanya akan dijauhi oleh keluarga Presiden Soekarno. Namun hal ini tidak terjadi pada Des Alwi. Ia dekat dengan Soeharto, tapi juga dekat dengan keluarga Soekarno seperti Megawati dan Sukmawati.

“Biasanya kalau dekat dengan keluarga Cendana, tidak dekat dengan keluarga Soekarno. Tapi Des Alwi sangat dekat dengan keluarga Cendana, dan dengan Megawati ia dekat pula, bahkan dipanggil Om Des,” terang Prabowo.

Prabowo juga mengenang Des Alwi sebagai sosok yang humoris dan punya cerita-cerita yang lucu. Prabowo mengaku masih mengingat sejumlah joke-joke yang pernah dilontarkan Des Alwi.

Dalam acara peluncuran buku ini, selain Prabowo, Emil Salim juga naik ke panggung memberi sambutan sebagai sahabat dekat. Wakil Presiden Boediono yang turut hadir tidak memberi sambutan, dan hanya hadir sebagai peserta.

Sejumlah tokoh-tokoh nasional yang datang yakni Meutia Hatta, Jimly Asshiddiqie, Ali Muchtar Ngabalin, Fadli Zon, dan sejumlah pakar sejarah.

Dua buku yang diluncurkan yakni Pertempuran Surabaya November 1945 dan Des Alwi dari Banda Naira Menjadi Indonesia. Buku yang pertama disebut adalah buku yang ditulis langsung Des Alwi saat masih hidup, sementara buku kedua adalah kumpulan testimoni sejumlah tokoh tentang kesan mereka pada anak angkat mantan Wakil Presiden M Hatta ini.

(gun/lrn)

30
Nov
11

Legislasi : 10 Hal Revisi UU KPK

Rabu, 30/11/2011 19:01 WIB

Revisi UU KPK

Didi Syafirdi – detikNews
Ini Dia 10 Hal yang Direvisi di UU KPK

Jakarta – Revisi UU KPK sudah di tangan DPR. Sejumlah kewenangan yang dimiliki KPK akan diubah. Salah satu yang kontroversial, KPK akan mempunyai kewenangan bisa menghentikan penyidikan kasus atau SP3.

Dalam diskusi di JMC, Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (30/11/2011) praktisi hukum Juniver Girsang menyebut ada 10 hal yang akan direvisi di UU No 33 tahun 2002. Kewenangan yang diubah itu yakni:

1. KPK berwenang merekrut penyidik dan penuntut

2. KPK fokus pada pencegahan dari pada kewenangan lain seperti supervisi dan penindakan.

3. Proses penyadapan diubah

4. Sanksi terhadap pejabat yang tak melaporkan harta kekayaan

5. Mengeledah harus izin ketua pengadilan

6. Perlu diberikan kewenangan SP3

7. Peninjauan prinsip kolektif kolegial

8. Perlu diatur apakah fokus pada pencegahan dan penindakan

9. KPK hanya menindak kasus besar

10 KPK fokus untuk menyelamatkan uang negara

“Dari 10 point ini saya terus terang aja, kita harus memperkuat KPK, tapi harus juga KPK-nya jangan terjadi abuse of power,” jelas Juniver.

Khusus untuk SP3 ini sebenarnya KPK akan mempunyai kewenangan seperti kepolisian dan kejaksaan yakni menghentikan penyidikan. “KPK harus kita dorong profesional dan independen,” terangnya.

(ndr/anw)

 

30
Nov
11

Ekonomi : Maskapai Besar Amerika Bangkrut

Rabu, 30/11/2011 12:18 WIB
10 Maskapai Besar AS yang Bangkrut 
Nurul Qomariyah – detikFinance


Foto: AFP

Texas – American Airlines dan induk perusahaannya AMR Corp mendaftarkan perlindungan kebangkrutan. Pendaftaran kebangkrutan maskapai penerbangan terbesar ketiga AS ini akan menjadi yang terbesar setelah kebangkrutan UAL Corp pada Desember 2002 silam.

Pada Selasa (29/11/2011), American Airlines akhirnya mengumumkan pendaftaran perlindungan kebangkrutan agar bisa melakukan restrukturisasi menyusul tingginya biaya bahan bakar dan turunnya permintaan. Pengumuman kebangkrutan itu sekaligus berbarengan dengan pengumuman pergantian chairman dan chief executive dari Gerard Arpel ke Thomas Horton.

“Ini adalah sebuah keputusan yang sulit, namun ini penting dan merupakan jalur yang tepat bagi kami untuk bangkit menjadi maskapai yang lebih efisien, kuat secara finansial dan kompetitif,” jelas Thomas Horton seperti dikutip dari AFP, Rabu (30/11/2011).

Spekulasi tentang kebangkrutan American Airlines memang sudah berlangsung selama berbulan-bulan sehingga menyebabkan harga sahamnya terus merosot dan menyisakan nilai pasar US$ 105 juta.

Pengumuman pendaftaran kebangkrutan tersebut juga menyebabkan saham AMR Corp pada perdagangan Selasa kemarin sangat aktif diperdagangkan meski sudah dihentikan hingga 28 kali sepanjang perdagangan kemarin. Saham AMR merosot 84% menjadi 26 sen setelah pengumuman tersebut.

Berikut 10 kebangkrutan maskapai penerbangan AS terbesar sejak tahun 1989 dan nilai asetnya, seperti dikutip dari Reuters:

  1. UAL Corp, Desember 2002, US$ 25,197 miliar
  2. AMR Corp, November 2011, US$ 25,088 miliar
  3. Delta Air Lines, September 2005, US$ 21,801 miliar
  4. Northwest Airlines, September 2005, US$ 14,042 miliar
  5. US Airways Group, September 2004, US$ 8,349 miliar
  6. US Airways Group, Austus 2002, US$ 8,025 miliar
  7. Continental Airlines, Desember 1990, US$ 7,656 miliar
  8. Eastern Air Lines, Maret 1989, US$ 4,037 miliar
  9. Trans World Airlines, Januari 1992, US$ 2,865 miliar
  10. Trans World Airlines, Juni 1995, US$ 2,495 miliar.

Selain rekor kebangkrutan maskapai terbesar, kebangkrutan AMR ini juga akan mencatat yang terbesar dari sisi jumlah karyawan. Berikut kebangkrutan terbesar dalam sejarah AS dari sisi jumlah pekerja:

  1. Kmart Corp, bangkrut tahun 2002: 252.000 karyawan
  2. General Motors Corp, bangkrut tahun 2009: US$ 243.000
  3. Delphi Corp, bangkrut tahun 2005: 185.200
  4. Allied Stores Corp, bangkrut tahun 1990: 101.000
  5. Flagstar Companies Inc, bangkrut tahun 1997: 93.000
  6. Winn-Dixie Stores Inc, bangkrut tahun 2005: 89.000
  7. AMR Corp, bangkrut 2011: 88.000.
  8. UAL Corp, bangkrut tahun 2002: 84.000
  9. Sun HealthCare Group, bangkrut 1999: 80.720
  10. Lear Corp, bangkrut tahun 2009: 80.000.

Berikut beberapa fakta tentang American Airlines dan induknya:

  • Kantor Pusat: Fort Worth, Texas
  • Pendapatan: US$ 22 miliar di tahun 2010
  • Jumlah karyawan: 88.550 orang
  • Jumlah pesawat: American Airlines 619 pesawat, American Eagle 281 pesawat.

(qom/ang)

Baca Juga :

 

Jumat, 02/12/2011 07:39 WIB
American Airlines Bangkrut, Milyuner Malaysia Rugi Rp 772 Miliar 
Nurul Qomariyah – detikFinance


Quek Leng Chan (Foto: Forbes)

Kuala Lumpur – Milyuner Malaysia, Tan Sri Quek Leng Chan menjadi ‘korban’ dari kebangkrutan American Airlines. Quek bisa kehilangan investasinya hingga Rp 772 miliar gara-gara kebangkrutan American Airlines itu.

Quek yang menguasai Hong Leong dan Guoco Grup diketahui membeli 7,3% saham AMR Corp, induk American Airlines 3 bulan silam. American Airlines dan induknya AMR Corp mendaftarkan kebangkrutan pada Selasa, 29 November lalu.

Menurut berita yang dilansir The Star, Jumat (2/12/2011), Quek membeli 24,4 juta lembar saham AMR melalui perusahaan yang tercatat di Hong Kong Guoco Group Ltd dan perusahaan terkait lainnya.

Melalui situsnya, Guoco Group mengatakan investasi itu meliputi pasar saham global dibuat untuk meningkatkan nilai modal yang sejalan visi perusahaan untuk mendapatkan imbal hasil superior dalam jangka panjang bagi pemegang saham.

Memang belum jelas diketahui berapa tepatnya nilai saham yang dibeli Quek tersebut. Namun berdasarkan harga penutupan pada 15 Agustus, nilainya diperkirakan mencapai US$ 92,2 juta atau sekitar US$ 3,78 per lembar.

Nah, pada Selasa lalu, saham AMR tercatat merosot menjadi 26 sen per lembar setelah mengumumkan perlindungan kebangkrutannya. Saham AMR tercatat anjlok hingga 93,12% sejak 15 Agustus, atau setelah pembelian oleh Quek tersebut.

Dengan demikian, Quek berpotensi mengalami kerugian hingga US$ 85,88 juta atau sekitar Rp 772 miliar.

American Airlines, yang merupakan maskapai penerbangan terbesar ketiga AS mendaftarkan perlindungan kebangkrutan pada Selasa, 29 November lalu setelah gagal mencetak laba sejak tahun 2007. American Airlines tercatat memiliki aset hingga US$ 24,7 miliar dan utang US$ 29,6 miliar, dengan karyawan sekitar 88.500 orang.

Pemegang saham besar American Airlines lainnya adalah Primecap Management Co, sebuah perusahaan investasi berbasis di Pasadena, California yang menguasai 12,30% saham. Juga ICC Capital Management dari Orlando, Florida sebesar 7,49% serta Capital World Investor sebesar 7,40%.

Quek, kelahiran Singapura tahun 1941, didapuk sebagai orang terkaya Malaysia oleh majalah Forbes. Dengan kekayaan sekitar US$ 4,8 miliar, Quek berada di posisi ke-5. Selain dari Hong Leong Group di Malaysia, kekayaan terbesar Quek berasal dari Guoco Group.

(qom/qom)

 

28
Nov
11

Khazanah : Koin Kasultanan Majapahit

tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah,

Napoleon Bonaparte memandang sejarah sebagai kebohongan-kebohongan yang disepakati. Anggapan ini yang berdampak pada kemalasan berpikir dan memikirkan tentang realitas obyektif masa lalu  yang  sangat berguna bagi kehidupan kekinian dan masa depan. Anggapan kebenaran atas suatu keyakinan (termasuk sejarah) terjadi karena berbagai faktor, antara lain politisasi teks sejarah.

Berbicara kebenaran sejarah menurut Taufik Abdullah dilihat dari sisi pemihakan mengkristal dalam dua sisi. Pertama, sejarah mengabdi pada kebenaran stabilitas negara. Kedua, sejarah mengabdi pada kebenaran akademik pada tataran sejarah mengabdi kebenaran stabilitas negara, apapun temuan-temuan sejarah yang bertentangan dengan versi penguasa, maka dianggap mengancam stabilitas nasional. Oleh karena itu, atas nama stabilitas nasional “Kebenaran Sejarah” harus disembunyikan bahkan kalau perlu dibuang.

Sejarah dalam konteks demikian berfungsi membangun peradaban/kekuasaan. Sementara tataran sejarah mengabdi pada kebenaran akademik, temuan hanya berlaku dalam lingkup kampus. Artinya penyampaian koreksi sejarah dibenarkan selama masih dalam aktivitas pengajaran. Jika penyampaian koreksi sejarah dilakukan di luar aktivitas pengajaran, maka penguasa berhak menahan mereka dengan alasan mengancam stabilitas nasional. Dengan demikian kebenaran sejarah terletak pada siapa yang berkuasa.

Berbagai kepentingan dapat saja memboncengi pengungkapan masa lalu itu, seperti untuk kepentingan politik dalam menjaga legitimasi suatu golongan dalam masyarakat, mungkin untuk tujuan mengukuhkan keberadaan suatu ideologi atau kepercayaan tertentu ataupun sekedar memperoleh kenikmatan kenangan masa lalu. Pengungkapan sejarah masa lalu (historiografi) dari suatu masyarakat sangat ditentukan oleh kesadaran sejarah yang mereka miliki, karena, baik bentuk ataupun cara pengungkapannya, akan selalu merupakan ekspressi kultural dan pantulan keprihatinan sosial masyarakat yang menghasilkan sejarah itu sendiri (Taufik Abdullah,1985:XX ; Sartono, 1982:16).

Sebagai sebuah contoh, ciri dari historiografi nasional yang dibentuk selama masa Orde Baru adalah sentralitas negara yang diejawantahkan oleh militer. Sejarah nasional disamakan dengan militer dan produksi sejarah dikendalikan oleh negara dan militer. Beberapa dampaknya cerita tentang revolusi nasional akhirnya memfokuskan pada peran menentukan dari militer dengan menyingkirkan pelaku sejarah yang lain. Menurut versi ini, sepanjang periode tahun 1950-an militerlah yang menyelamatkan bangsa ini dari disintegrasi dengan mengabaikan fakta bahwa militer memainkan peran penting dalam pemberontakan-pemberontakan di daerah. Sejarah versi militer seputar pemberontakan 1965 menjadi legitimasi dan alasan kuat naik dan bertahannya Orde Baru di bawah topangan militer selama 32 tahun.

Hingga sekarang, karya-karya sejarah Indonesia masih saja dihantui oleh kontradiksi-kontradiksi yang memicu ketegangan antara sejarah dengan masa lalu. Sepertinya, kontradiksi tersebut masih belumlah usai. Setidaknya, seperti diakui Prof. Dr. Taufik Abdullah –Ketua Tim Penulisan Sejarah Nasional Indonesia– yang secara terbuka menyatakan bahwa buku sejarah tidak dimaksudkan untuk meluruskan sejarah.

Suasana ini sebenarnya telah secara terbuka dikritik dalam “Seminar Nasional Sejarah” tahun 1954 yang mengeluarkan beberapa resolusi penting dalam penulisan sejarah, seperti diperkenalkannya prinsip-prinsip keilmiahan sejarah untuk mengikis pandangan-pandangan romantis, dan dekolonisasi historiografi sebagai antitesis dari kolonial-sentris dan istana-sentris dalam historiografi. Sesungguhnya, resolusi tersebut memiliki konsekuensi metodologis yang cukup kompleks, namun tidak banyak yang memahaminya.

Alhasil, seperti dirangkum oleh Henk Schulte Nordholt dari KITLV Leiden dalam sebuah simposium mengenai penulisan sejarah Indonesia tahun 2004 lalu, sejarah –tepatnya historiografi– Indonesia belum mengalami fase yang disebut dengan “dekolonisasi”. Historiografi Indonesia masih cenderung berada dalam atmosfer kolonial dan istana sentris dengan konsekuensi terciptanya “sejarah tanpa rakyat” (history without people) yang memunculkan keadaan rakyat yang seolah tidak memiliki basis sejarah (people without history). (lihat)

“Tugas sejarawan Indonesia adalah menulis sejarah Indonesia se-Indonesia mungkin” sebuah pernyataan sejarawan muda Kang Bimo yang patut diacungi jempol atas spirit untuk terus menggali fakta-fakta sejarah Indonesia, menurut beliau sudut pandang indonesiasentris sudah seharusnya menjadikan rakyat sebagai pelaku sejarah. Kausalitas yang berangkat dari dinamika internal rakyat, baik atau jahat, pintar atau bodoh patutlah ditulis. Pemikiran yang harus dibangun adalah menjadikan rakyat Indonesia sebagai pelaku sejarah dan yang tidak kalah penting adalah menjadikan rakyat Indonesia sebagai manusia biasa. Manusia yang tidak selalu salah dan tidak selalu benar, manusia yang punya kehendak atas dirinya sendiri.

Kontroversi Batak

Kontroversi Batak kembali merebak, kabut tanah Bakara  bukan hanya menyelimuti hal ihwal seputar Sisingamangaraja XII, tapi berkenaan dengan Batak sebagai identitas etnik. Adalah sejarahwan Unversitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari yang membuat kesimpulan yang mengguncangkan bahwa nama Batak sebagai identitas etnik ternyata tidak berasal dari orang Batak sendiri, tapi diciptakan atau dikonstruksi para musafir barat. Hal ini kemudian dikukuhkan misionaris Jerman yang datang ke tanah Batak sejak tahun 1860-an.

Di Jerman, sejarahwan bergelar doktor ini memeriksa arsip-arsip yang ada di Wuppertal, Jerman. Dalam sumber-sumber lisan dan tertulis, terutama di dalam pustaha, atau tulisan tangan asli Batak, tidak ditemukan kata Batak untuk menyebut diri sebagai orang atau etnik Batak. Jadi dengan demikian nama Batak tidak asli berasal dari dalam kebudayaan Batak, tetapi diciptakan dan diberikan dari luar.

“Kata Batak awalnya diambil para musafir yang menjelajah ke wilayah Pulau Sumatera dari para penduduk pesisir untuk menyebut kelompok etnik yang berada di pegunungan dengan nama bata. Tapi nama yang diberikan penduduk pesisir ini berkonotasi negatif bahkan cenderung menghina untuk menyebut penduduk pegunungan itu sebagai kurang beradab, liar, dan tinggal di hutan,” kata Ichwan Azhari di Medan. (detiknews).

Penelitian Ichwan Azhari sepertinya menegaskan apa yang telah diteliti oleh Dr.Perret dari Paris, Daniel Perret menjelaskan bahwa istilah itu bukan berasal orang-orang Toba, Simalungun, Fak-Fak Bharat, Karo atau Mandailing/Sipirok. Label itu datang dari luar khasanah budaya mereka. Daniel mencatat dari beberapa dokumen bahwa sebutan Batak tidak terdapat dalam sastra pra-kolonial. Bahkan dalam Hikayat Deli (1825) istilah Batak hanya sekali digunakan, sedang dalam Syair Putri Hijau (1924) sama sekali tidak menyinggung Batak atau Melayu. Baik dalam Pustaka Kembaren (1927) maupun Pustaka Ginting (1930) tidak dijumpai kata-kata Batak. Selain itu BS. Simanjuntak mencacat bahwa kata-kata Batak tidak dijumpai dalam Pustaha Toba. Memang dalam stempel Singamangaraja, yang tertera hanya kalimat ”Ahu Raja Toba”, bukan ”Ahu Raja Batak.” Demikianlah pemerintah Belanda menggunakan label Batak untuk mempersatukan seluruh suku-suku non-Melayu sebagai sebuah identitas etnik. Pemerintah Belanda terus menerus memompakan label Batak dengan penguatan sosio-geografis tertentu, nilai-nilai adat budaya dan kemudian agama Kristen. Sehingga keterpisahan kawasan Batak dengan Melayu menjadi lebih nyata dan kontras, tidak dalam pengertian budaya (civilized and uncivilized). Tetapi dalam pengertian kelompok etnik Melayu versus Batak. (Baca juga buku Kolonia li sme dan Etnisitas: Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut, Penulis: Daniel Perret, Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, Cetakan: April 2010)

Sikap lapang dada dalam mengsikapi temuan Ichwan Azhari di serukan oleh Pak Shohibul Anshor Siregar, Koordinator Umum ‘nBASIS, menurut beliau ,  Ichwan Azhari bahkan sebelumnya sejarawan Mohammad Said, maupun Naqib Suminto dan Uli Kozok adalah intelektual yang memberi sesuatu yang berbeda kepada masyarakat di tengah kesadaran besarnya distorsi (penyimpangan) tentang sejarah dan pemahaman tentang jati diri sebagai bangsa bekas jajahan.

Sportifitas dan kejujuran kaum intelektual wajib diperlukan guna mengeliminasi distorsi yang berbuah kontroversi, sebagaimana ditunjukan oleh Pak Shohibul Anshor Siregar dalam tulisannya yang dimuat di medanposonline :

” Namun saya sebagai orang Batak sangat berkeinginan untuk secara dewasa menerimanya, dan satu-satunya jalan untuk “melawan” Ichwan Azhari hanyalah data. Hanya saja Ichwan Azhari dalam menginterpretasi data-data tersedia harus secara cermat membedakan kepentingan data intelijen dan data ilmiah para akademisi. Itu amat penting bagi ilmuan di negara-negara bekas jajahan.”

Dalam komponen akademisi saja masih perlu dipilah antara yang mengabdi kepada kepentingan penguasa dan yang mengabdi untuk kepentingan ilmiah semata. Ilmu sosial telah mencatat keajegan pengabdian “pelacuran” terhadap penguasa betapa pun zalimnya, dan begitu penguasa zalim itu runtuh secepat kilat pula ilmuan sosial tertentu membentengi diri antara lain dengan mencerca penguasa yang baru diruntuhkan.

Tetapi saya yakin Ichwan Azhari berjalan dalam koridor ilmiah yang objektif. Juga saya yakin bahwa sebagai ilmuan sosial tentu ia pun akan amat terbuka dengan sanggahan, karena itu menjadi bagian dari integritas seorang ilmuan.”

Kontroversi Majapahit

Adalah Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta , setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakta-data arkeologis, sosiologis dan antropolis, maka Tim kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku awal yang mencengangkan berjudul ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi’. Buku ini hingga saat ini masih diterbitkan terbatas, terutama menyongsong Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Buku ini menyimpulkan bahwa Kerajaan Majapahit adalah Kerajaan Islam bukan Kerajaan Hindu sebagaimana sejarah menulis yang berkembang sekarang.

Apa yang diungkapkan oleh buku ini tentu memiliki bukti berupa fakta dan data yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Beberapa fakta dan data yang menguatkan keyakinan bahwa kerajaan Majapahit sesungguhnya adalah kerajaan Islam atau Kesultanan Majapahit yang disarikan dari buku ” Herman Sinung Janutama,  ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Yang Tersembunyi’, LJKP Pangurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta. Edisi Terbatas Muktamar Satu Abad Muhammadiyah Yogyakarta Juli 2010  oleh Pahrudin HM, MA adalah sebagai berikut:

  1. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Koin semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid.
  2. Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam.
  3. Pada lambang Majapahit yang berupa delapan  sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini. Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam.
  4. Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan  lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu. Bahasa Sanskerta  di masa lalu lazim digunakan untuk memberi penghormatan yang tinggi kepada seseorang, apalagi seorang raja. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Paku Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo. Di samping itu, Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, penulisan Gajah Mada yang benar adalah Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’. Pada nisan makam Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan  ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.
  5. Jika fakta-fakta di atas masih berkaitan dengan internal Majapahit, maka fakta-fakta berikut berhubungan dengan sejarah dunia secara global. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad yang dikatakan sebagai pembalasan terhadap sikap para penguasa Abbasiyah yang seringkali menghina dan menistakan keturunan Rasulullah. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak menentu. Dampak selanjutnya adalah terjadinya eksodus besar-besaran kaum muslim dari Timur Tengah, terutama para keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan ‘Allawiyah. Kelompok ini sebagian besar menuju kawasan Nuswantara (Nusantara) yang memang dikenal memiliki tempat-tempat yang eksotis dan kaya dengan sumberdaya alam dan kemudian menetap dan beranakpinak di tempat ini. Dari keturunan pada pendatang inilah sebagian besar penguasa beragam kerajaan Nusantara berasal, tanpa terkecuali Majapahit.

Tentunya apa yang ditemukan oleh Pak Ichwan Azhari tentang Batak dan Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta tentang “Kesultanan Majapahit” keluar dari pakem pandangan sejarah sebelumnya, yang sangat wajar menuai pro dan kontra bukan saja dikalangan sejarawan tetapi bagi bangsa Indonesia pada umumnya.

Ada dua penyebab distorsi yang menyimpangkan pemahaman sejarah , yaitu penyebab intern dan penyebab ekstern. Penyebab intern, berkaitan dengan visi dan kemampuan penulis sejarah memahami kondisi sosial yang melingkupi peristiwa sejarah itu. Ini tergambar dalam penulisan DR. Akbar S. Ahmad yang berjudul Kearah Antropologi Islam. Selain itu penyebab ekstern. Drs. Uka Tjandra Sasmita, dosen UI dan IAIN Jakarta, menyebut ada beberapa poin yang mendukung faktor ini, antara lain: tekanan pihak penguasa sebagai sponsor penulisan sejarah, tekanan masyarakat dalam mengubah arah sejarah, peran para orientalis merekayasa sejarah, dan peran para ‘orientalis pribumi’ yang turut menyimpangkan arah sejarah. Selanjutnya, akhir dari sebab-sebab itu akan timbul apa yang disebut ‘amnesia sejarah’ yaitu penyakit budaya yang membuat orang kehilangan kesadaran akan sejarah.

Ketika sejarah mendapat ‘tafsir baru’ sesuai pesanan. Ia tak lagi menjadi barang berharga, tetapi menjadi racun yang bisa menghancurkan ummat. Akibatnya tidak hanya penyelewengan fakta dan data saja, tatapi ‘frame’ berfikir yang salah pun akhirnya terbentuk.

Betapapun, menegakkan kebenaran dalam sejarah bangsa kita adalah urusan kita semua. Dan bagi para intelektual, kontroversi apapun maka sebaiknya DILAWAN DENGAN DATA…

28
Nov
11

Hikmah : Allah sebagai Pelindung

Allah sbg Pelindung

Sabtu, 26 November 2011 06:07 WIB
Cukup Allah sebagai Pelindung : Kisah Hamka di Penjara Sukabumi

Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas

Setelah Pemilihan Umum Pertama (1955), Hamka terpilih menjadi anggota Dewan Konstituante dari Masyumi mewakili Jawa Tengah. Setelah Konstituante dan Masyumi dibubarkan, Hamka memusatkan kegiatannya pada dakwah Islamiah dan memimpin jamaah Masjid Agung Al-Azhar, di samping tetap aktif di Muhammadiyah. Dari ceramah-ceramah di Masjid Agung itu lah lahir sebagian dari karya monumental Hamka, Tafsir Al-Azhar.

Zaman demokrasi terpimpin, Hamka pernah ditahan dengan tuduhan melanggar Penpres Anti-Subversif. Dia berada di tahanan Orde Lama itu selama dua tahun (1964-1966). Dalam tahanan itulah Hamka menyelesaikan penulisan Tafsir Al-Azhar.

Waktu menulis Tafsir Al-Azhar, Hamka memasukkan beberapa pengalamannya saat berada di tahanan. Salah satunya berhubungan de ngan ayat 36 Surah az-Zumar, “Bukan kah Allah cukup sebagai Pelindung hamba-Nya…”. Pangkal ayat ini menjadi perisai bagi hamba Allah yang beriman dan Allah jadi pelindung sejati.

Sehubungan dengan maksud ayat di atas, Hamka menceritakan pengalaman beliau dalam tahanan di Sukabumi, akhir Maret 1964. Berikut kutipan lengkapnya. “Inspektur polisi yang memeriksa sambil memaksa agar saya mengakui suatu kesalahan yang difitnahkan ke atas diri, padahal saya tidak pernah berbuatnya. Inspektur itu masuk kembali ke dalam bilik tahanan saya membawa sebuah bungkusan, yang saya pandang sepintas lalu saya menyangka bahwa itu adalah sebuah tape recorder buat menyadap pengakuan saya.”

“Dia masuk dengan muka garang sebagai kebiasaan selama ini. Dan, saya menunggu dengan penuh tawakal kepada Tuhan dan memohon kekuatan kepada-Nya semata-mata. Setelah mata yang garang itu melihat saya dan saya sambut dengan sikap tenang pula, tiba-tiba kegarangan itu mulai menurun.”

“Setelah menanyakan apakah saya sudah makan malam, apakah saya sudah sembahyang, dan pertanyaan lain tentang penyelenggaraan makan minum saya, tiba-tiba dilihatnya arlojinya dan dia berkata, Biar besok saja dilanjutkan pertanyaan. Saudara istirahatlah dahulu malam ini, ujarnya dan dia pun keluar membawa bungkusan itu kembali.

Setelah dia agak jauh, masuklah polisi muda (agen polisi) yang ditugaskan menjaga saya, yang usianya baru kira-kira 25 tahun. Dia melihat terlebih dahulu kiri kanan. Setelah jelas tidak ada orang yang melihat, dia bersalam dengan saya sambil menangis, diciumnya tangan saya, lalu dia berkata, Alhamdulillah bapak selamat! Alhamdulillah! Mengapa, tanya saya. Bungkusan yang dibawa oleh Inspektur M itu adalah setrum. Kalau dikontakkan ke badan bapak, bapak bisa pingsan dan kalau sampai maksimum bisa mati.

Demikian jawaban polisi muda yang ditugaskan menjaga saya itu dengan berlinang air mata. Bapak sangka tape recorder, jawabku sedikit tersirap, tetapi saya bertambah ingat kepada Tuhan. Moga-moga Allah memelihara diri Bapak. Ah! Bapak orang baik, kata anak itu.

Dalam menghadapi paksaan, hinaan, dan hardikan di dalam tahanan, Hamka selalu berserah diri kepada Allah SWT. Termasuk ketika Inspektur M datang membawa bungkusan malam itu, Hamka tetap dengan pendirian. Bukankah Allah cukup sebagai pelindung hamba-Nya.

Redaktur: Siwi Tri Puji B
27
Nov
11

IpTek : Neraka dari Manajemen Musyrik

Manufacturing Hope

Minggu, 27 November 2011 18:33 WIB |

Manufacturing Hope (2) : Neraka dari “Manajemen Musyrik”

Dahlan Iskan*

Jakarta (ANTARA News) – Manufacturing hope tentu juga harus dilakukan untuk bandara-bandara kita. Di samping mencarikan jalan keluar untuk hotel-hotel yang ada di Bali, selama mengikuti KTT ASEAN saya juga berkunjung ke pelabuhan perikanan Benoa, melihat aset-aset BUMN yang tidak produktif di Bali dan diajak melihat proyek Bandara Ngurah Rai yang baru.

Tanpa dilakukan survei  pun,  semua orang sudah tahu betapa tidak memuaskannya Bandara Ngurah Rai ini. Semua orang ngomel, mencela, dan mencaci-maki sesaknya, ruwetnya, dan buruknya. Bandara ini memang tidak mampu menanggung beban yang sudah 4 kali lebih besar dari kapasitasnya. Memang PT Angkasapura I, BUMN yang mengelola bandara ini sudah mulai membangun terminal yang baru. Namun,  terminal baru itu baru akan selesai paling cepat 2 tahun lagi.

Berarti selama 2 tahun ke depan keluhan dari publik masih akan sangat nyaringnya. Bahkan, keluhan itu akan bertambah-tambah karena di lokasi yang sama akan banyak kesibukan proyek. Bongkar sana bongkar sini. Pindah sana pindah sini. Membangun terminal baru di lokasi terminal yang masih dipakai tentu sangat repot. Lebih enak membangun terminal baru di lokasi yang baru sama sekali.

Menghadapi persoalan yang begitu stress hanya hope-lah yang bisa di-manufacture! Karena itu memajang maket bandara baru itu besar-besar di ruang tunggu atau di tempat-tempat strategis lainnya menjadi penting. Saya berharap penumpang yang ngomel-ngomel itu bisa melihat gambar bandara baru yang lebih lapang dan lebih indah. Perhatian penumpang harus dicuri agar jangan lagi selalu merasakan sumpeknya keadaan sekarang, melainkan diajak merasakan mimpi masa depan baru yang segera datang itu.

Pun PT Angkasapura II yang mengelola Bandara Soekarno-Hatta juga harus membantu manufacturing hope itu. Caranya ikut membantu memasangkan maket bandara baru Ngurah Rai di lokasi Bandara Soekarno-Hatta. Bahkan, maket baru bandara Cengkareng sendiri juga harus lebih banyak ditampilkan secara atraktif di Soekarno-Hatta.

Tentu, sambil menunggu yang baru itu, bandara yang ada harus tetap diperhatikan. Mungkin memang tidak perlu buang uang terlalu banyak untuk sesuatu yang dalam dua tahun ke depan akan dibongkar. Namun, tanpa membuat bandara yang ada ini lebih baik, orang pun akan kehilangan harapan bahwa bandara yang baru kelak akan mengalami nasib tak terurus yang sama. Itulah sebabnya, khusus Soekarno-Hatta, manajemen Angkasapura II akan melakukan survei persepsi publik yang akan dilakukan oleh lembaga survei yang kredibel dan independen.

Manufacturing hope kelihatannya juga harus lebih banyak diproduksi untuk industri  rekayasa. Dirgantara Indonesia (pembuatan pesawat), PT PAL Surabaya (pembuatan kapal), PT Bharata Surabaya (mesin-mesin), PT Boma Bisma Indra Surabaya-Pasuruan (mesin-mesin), PT INKA (pembuatan kereta api), dan banyak lagi industri jenis itu sangat memerlukannya. Semua BUMN di bidang ini sulitnya bukan main. Kesulitan yang sudah berlangsung begitu lama.

Di barisan ini, termasuk dok perkapalan IKI Makassar, Dok Perkapalan Koja Bahari Jakarta, dan industri sejenis  yang menjadi anak perusahaan BUMN, seperti jasa produksi milik PLN dan perbengkelan di lingkungan BUMN lainnya. Beberapa di antaranya bahkan sangat-sangat parahnya. PT PAL, misalnya, sudah terlalu lama merah dalam skala kerugian yang triliunan rupiah.

Perseroan Terbatas (PT) IKI Makassar idem dito. Sudah dua tahun perusahaan galangan kapal terbesar di Indonesia timur ini tidak mampu membayar gaji karyawan. Perusahaan ini terjerumus ketika menerima order pembuatan kapal penangkap ikan modern sebanyak 40 buah tapi dibatalkan pemerintah di tengah jalan. Kini, 14 kapal ikan yang sudah terlanjur jadi itu mengapung mubazir begitu saja. Sudah lebih 10 tahun kapal-kapal modern itu berjajar menganggur. Bahan-bahan kapal yang belum jadi pun sudah menjadi besi tua dan berserakan memenuhi seluruh kawasan galangan kapal itu. Peralatan produksinya juga sudah menganggur bertahun-tahun. Salah satunya bisa membuat ngiler siapa pun: crane 150 ton! Dok Perkapalan Surabaya yang ordernya begitu banyak dan sibuk saja hanya punya crane terbesar 50 ton!

Dulu, sekitar 15 tahun yang lalu, saya pernah mengkritik pemerintah di bidang ini. Saya menulis di media, mengapa industri rekayasa kita begitu jelek nasibnya. Mengapa kita impor permesinan bertriliun-triliun rupiah setiap tahun, tapi industri rekayasa di dalam negeri terlantar berat. Bahkan tokoh sekaliber B.J. Habibie pun tidak berhasil mengatasinya. Waktu itu pun saya sudah membayangkan alangkah hebatnya Indonesia kalau semua potensi itu disatukan dalam satu koordinasi yang utuh. Kalau saja ada kesatuan di dalamnya, kita bisa memproduksi pabrik apa pun, alat apa pun, dan kendaraan apa pun. Pembangkit listrik, pabrik gula, pabrik kelapa sawit, pesawat, kapal, kereta, motor, mobil, apalagi sepeda, semuanya bisa dibuat di dalam negeri.

Sebagai orang yang kala itu sering mengunjungi pabrik-pabrik sejenis di Tiongkok, saya selalu mengeluh: alangkah lebih modernnya peralatan yang dimiliki pabrik-pabrik kita dibanding pabrik-pabrik yang saya kunjungi itu. Peralatan yang dimiliki  PT Bharata, misalnya, jauh lebih modern dari yang saya lihat di Tiongkok saat itu. Ahli pesawat dari Eropa mengagumi modernnya peralatan di PT Dirgantara Indonesia.

Kini, dalam posisi saya yang baru ini, saya tidak bisa lagi hanya mengkritik. Tanggung jawab itu kini ditumpukkan di pundak saya. Saya tidak boleh lupa bahwa saya pernah mengkritik pemerintah. Saya tidak boleh mencari kambing hitam untuk menghindarkan diri dari tanggung jawab. Tentu saya juga menyadari bahwa saya bukanlah seorang yang genius seperti Pak Habibie. Saya hanya mengandalkan hasil dari manufacturing hope.

Tidak mudah perusahaan yang sudah mengalami kemerosotan yang panjang bisa bangkit kembali. Karena itu saya harus menghargai dan memuji upaya yang dilakukan manajemen Dirgantara Indonesia (DI) belakangan ini. Rasanya, untuk bidang ini, DI akan bangkit yang pertama. Many thanks to kesungguhan Presiden SBY yang telah menginstruksikan agar pengadaan seluruh keperluan militer dilakukan di dalam negeri, kecuali peralatan sekelas tank Leopard, helikopter Apache, atau kapal selam yang memang belum bisa dibuat sendiri. Pesawat tempur sekelas blok 52 pun, tekad Presiden SBY tegas: harus diproduksi di dalam negeri meski harus bekerja sama dengan pihak luar.  Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro juga sangat serius dalam mengontrol pelaksanaan instruksi presiden itu.

Maka DI kelihatannya segera mentas. Kegiatan jangka pendek, menengah, dan panjangnya sudah tertata. Dalam waktu pendek ini, sampai dua tahun ke depan, pekerjaannya sudah sangat banyak: membuat pesawat militer CN 295 dalam jumlah yang besar. Order ini akan berkelanjutan menjadi program jangka menengah karena PT DI juga sekaligus diberi hak keagenan untuk Asia Pasifik. Jangka panjangnya PT DI sampai memproduksi pesawat tempur setara blok 52 bekerja sama dengan Korea Selatan.

Adanya kebijakan yang tegas dari Presiden SBY, komitmen pembinaan yang kuat dari Kementerian Pertahanan, kapabilitas personel DI yang unggul (terbukti satu bagian dari sayap pesawat Airbus 380 yang gagah dan menarik itu ternyata selalu diproduksi di PT DI), dan fokus manajemen dalam melayani keperluan Kementerian Pertahanan adalah kunci awal bangkitnya industri pesawat PT DI.

Instruksi Presiden SBY itu juga berlaku untuk PT Pindad. Maka kebangkitan serupa juga akan terjadi untuk PT Pindad. Semoga juga di PT Dahana. Maka tidak ada jalan lain bagi PT PAL untuk mengikuti jejak PT DI. Kalau saja PT PAL fokus melayani keperluan pembuatan dan perawatan kapal-kapal militer nasibnya akan lebih baik. Apalagi anggaran untuk peralatan militer kini semakin besar. Menyerap semaksimal mungkin anggaran militer itu saja sudah akan bisa menghidupi. Dengan syarat pelayanan kepada keperluan militer itu sangat memuaskan: mutunya dan waktu penyelesaiannya.

Lupakan dulu menggarap kapal niaga yang ternyata merugikan PAL begitu besar. Lupakan menggarap bisnis-bisnis lain, apalagi sampai menjadi kontraktor EPC seperti yang dilakukan selama ini. Semua itu hanya menganggu kefokusan manajemen dan merusak suasana kebatinan jajaran PAL sendiri. Memang ada alasan ilmiah untuk mengerjakan banyak hal itu. Misalnya untuk memanfaatkan idle capacity. Tapi godaan memanfaatkan idle capacity itu bisa membuat orang tidak fokus. Dalam bahasa agama “tidak fokus” berarti “tidak meng-esakan”. “Tidak meng-esakan” berarti “tidak bertauhid”. “Tidak bertauhid” berarti “musyrik”. Memanfaatkan idle capacity di satu pihak sangat ilmiah, di pihak lain bisa juga berarti godaan terhadap fokus. Saya sering mengistilahkannya “godaan untuk berbuat musyrik”. Padahal orang musyrik itu masuk neraka. Nerakanya perusahaan adalah negative cash flow, rugi dan akhirnya bangkrut.

Kalau pun PT PAL kelak sudah fokus menekuni keperluan militer tapi masih juga rugi, negara tidak akan terlalu menyesal. Tapi kerugian PAL karena  menggarap kapal niaga asing  sangatlah menyakitkan. Apalagi kalau kerugian itu menjadi beban negara. Rugi untuk memperkuat militer kita masih bisa dianggap sebagai pengabdian kepada negara. Tapi rugi karena menggarap kapal niaga asing dan kemudian minta uang kepada negara sama sekali tidak bisa dimengerti.

Hanya kepada orang-orang yang bisa fokuslah, saya banyak berharap. Hanya di tangan pimpinan-pimpinan yang fokuslah, BUMN bisa bangkit.

*Menteri Negara BUMN

Editor: Kliwon

COPYRIGHT © 2011

Manufacturing Hope !

Minggu, 20 November 2011 20:36 WIB |

Langkah Pertama : Manufacturing Hope !

Dahlan Iskan (*)

Jakarta (ANTARA News) – Industri apakah yang harus pertama-tama dibangun di BUMN? Setelah sebulan menduduki jabatan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kemudian mengunjungi lebih dari 30 unit usaha milik publik ini, saya bertekad untuk lebih dahulu membangun industri yang satu ini: manufacturing hope! Industrialisasi harapan.

Itu bisa saya lakukan setelah saya berketetapan hati untuk lebih memerankan diri sebagai seorang chairman/CEO daripada seorang menteri. Kepada jajaran kementerian BUMN saya sering bergurau, “Lebih baik saya seperti chairman saja dan biarlah Wakil Menteri BUMN yang akan memerankan diri sebagai menteri yang sebenarnya.”

Sebagai chairman/CEO kementerian BUMN, saya akan lebih fleksibel, tidak terlalu kaku dan tidak terlalu dibatasi oleh tembok-tembok birokrasi. Dengan memerankan diri sebagai chairman/CEO, saya akan mempunyai daya paksa kepada jajaran korporasi di lingkungan BUMN. Meski begitu saya akan tetap ingat batas-batas: seorang chairman/CEO bukanlah seorang president director/CEO. Ia bisa mempunyai daya paksa tapi tidak akan ikut melaksanakannya. Tetaplah penanggung jawab pelaksanaannya adalah president director/CEO di masing-masing korporasi BUMN.

Dengan peran sebagai chairman/CEO, saya tidak akan sungkan dan tidak akan segan-segan ikut mencarikan terobosan korporasi. Ini sesuai dengan arahan Presiden SBY bahwa menteri yang sekarang harus bisa berlari kencang. Dengan memerankan diri sebagai chairman/CEO, saya akan bisa memenuhi harapan itu.

Tengoklah misalnya bagaimana kita harus menghadapi persoalan hotel-hotel BUMN kita yang ada di Bali. Semuanya sudah berpredikat yang paling buruk. Inna Kuta Hotel sudah menjadi yang terjelek di kawasan pantai Kuta. Inna Sanur (Bali Beach) sudah menjadi yang terjelek di kawasan pantai Sanur. Inna Nusa Dua (Putri Bali) sudah pasti menjadi yang terjelek di kawasan Nusa Dua yang gemerlapan itu. Bukan hanya yang terjelek, tapi juga sudah mau ambruk. Padahal pada zaman dulu, hotel-hotel itu tergolong yang terbaik di kelasnya. Kini, di arena bisnis perhotelan di Bali, hotel-hotel BUMN telah menjadi lambang kemunduran, keruwetan, dan kekumuhan.

Memang pernah ada upaya untuk bangkit. Direksi kelompok hotel ini (Grup PT Hotel Indonesia Natour) pernah diperbaharui. Bahkan tidak tanggung-tanggung. Jajaran direksinya diambilkan dari para profesional dari luar BUMN. Dengan semangat profesionalisme, grup ini ingin mulai merombak dua hotelnya: di Padang dan di Kuta. Tapi dua-duanya mengalami kesulitan. Yang di Padang over investasi. Yang di Kuta sudah enam bulan mengalami slow down. Yang di Padang itu bisa disebut over investasi karena jumlah kamarnya jauh lebih besar dari pasarnya. Ini akan sangat sulit mengembalikan investasinya. Sementara itu yang di Kuta ada persoalan desain yang cukup serius.

Mengapa yang di Padang itu bisa terjadi over investasi? Ini tak lain karena kultur BUMN yang belum bisa menghindar dari intervensi. Begitu ada perintah untuk membangun hotel dengan skala yang sangat besar, direksinya tidak mampu meyakinkan bahwa skala itu kebesaran, terutama dilihat dari kemampuan perusahaan. Yang di Kuta masalahnya lebih rumit lagi karena ketambahan masalah birokrasi.

Dua proyek itu kemudian menjadi isu yang ruwet. Ujung-ujungnya direktur utama yang didatangkan dari luar BUMN itu tidak tahan lagi dan mengundurkan diri. Dalam suasana ruwet seperti itu tidak mungkin perusahaan bisa maju. Bahkan moral manajemen dan karyawannya pun bisa rusak, down, dan lalu putus harapan.

Maka dalam kesempatan tiga hari menghadiri KTT ASEAN di Bali pekan lalu, saya manfaatkan waktu untuk manufacturing hope. Selama di Bali saya tidak tidur di hotel bintang lima di komplek KTT berlangsung, tapi memilih tidur di Inna Hotel Kuta yang katanya terjelek itu. Saya ingin ikut merasakan kesulitan manajemen dan karyawan di hotel ini. Saya ingin mendalami persoalan yang menghadang mereka. Pagi-pagi saya turun naik di proyek setengah jadi ini. Menjelang senja kembali turun naik lagi entah sampai berapa kali. Saya ingin, kalau bisa, menerobos hambatannya. Setidaknya saya ingin agar mereka tidak merasa sendirian dalam kesulitannya. Bahkan pada malam kedua, saya tidur di kamar mock-up di tengah-tengah proyek yang lagi slow-down itu. Saya melakukan ini tidak lain untuk manufacturing hope.

Hasilnya insya Allah cukup baik. Pada hari kedua semua persoalan bisa teruraikan. Proyek hotel yang sangat grand ini bisa dan harus berjalan kembali. Bahkan tahun depan harus sudah jadi. Diputuskanlah hari itu: Sebuah hotel baru, dengan nama baru (Grand Inna Kuta) akan lahir dan menjadi sangat iconic. Apalagi letaknya hanya di seberang Hard Rock hotel dengan posisi yang jauh lebih baik karena langsung punya akses ke pantai Kuta.

Pun, selesai upacara pembukaan KTT ASEAN (selesai melihat cantiknya Perdana Menteri Thailand yang baru, Yingluck Sinawatra) saya copot jas, ganti sepatu ket, dan langsung meninjau luar dalam hotel Inna Putri Bali. Lokasinya tidak jauh dari gedung megah untuk KTT ASEAN di Nusa Dua itu. Saya perhatikan mulai dari dapurnya, ruang cucinya, kamarnya, kebunnya, pantainya, dan cottage-cottage-nya. Ternyata benar. Bukan hanya telah menjadi yang terjelek di Nusa Dua, tapi juga sudah mau ambruk. Di sini, saya juga harus manufacturing hope. Tahun depan hotel yang sangat luas ini harus sudah mulai dibangun ulang.

Usai membuat keputusan soal Nusa Dua, malam ketiga saya memilih tidur di Sanur. Hotel seluas (duile!) 41 hektare ini juga perlu dibangkitkan. Inilah hotel berbintang yang pertama di Bali. Inilah warisan Bung Karno. Kondisinya sudah kalah dengan tetangga-tetangganya. Hotel ini memiliki garis pantai matahari terbit sejauh 1 km! Alangkah hebatnya. Mestinya. Saya tentu menginginkan tahun depan hotel besar ini juga ikut bangkit. Mengapa? Karena tiga-tiganya berada di Bali. Sebuah kawasan wisata yang pertumbuhannya sangat tinggi. Memang grup Inna Hotel masih punya puluhan hotel lainnya di seluruh Indonesia (dan umumnya juga dalam keadaan termehek-mehek) namun sebaiknya fokus dulu di tiga hotel itu. Dari sinilah kelak hope akan ditularkan ke seluruh Indonesia.

Tiga hotel besar inilah yang lebih dulu akan jadi titik tolak kebangkitan entah berapa banyak hotel-hotel BUMN ke depan. Saya sebut “entah berapa banyak” karena banyak BUMN yang kini juga memiliki hotel. Grup Inna punya banyak hotel. Garuda Indonesia punya banyak hotel. Pertamina punya banyak hotel. Kontraktor seperti Perusahaan Perumahan punya banyak hotel. Bahkan Jasa Marga konon juga lagi menyiapkan banyak hotel. Karena itu keberhasilan tiga pioner di Bali tadi akan besar artinya bagi BUMN.

Memang sebulan pertama ini baru hope yang bisa dibangun. Tapi kalau sebuah hope bisa membuat hidup kita lebih bergairah, mengapa kita tidak manufacturing hope. Bahan bakunya gampang didapat: niat baik, ikhlas, kreativitas, tekad, dan totalitas. Semuanya bisa diperoleh secara gratis!

* Menteri Negara BUMN

Editor: Kliwon

COPYRIGHT © 2011

 

27
Nov
11

PAKTA (Pejuang Anti Korupsi Tanpa Akhir)

PAKTA INDONESIA

Maraknya Tindak Pidana Korupsi yang merupakan bentuk Kejahatan Luarbiasa termasuk pembiaran dan peringanan melalui remisi, mendorong kreatifitas pembentukan satu kebijakan publik luar biasa guna sistim penangkalan dini niatan, sikap dan tindakan Ingkar Janji Konstitusional, Koruptif terhadap Pancasila dan UUD45, Korupsi terhadap APBN/APBD, Keuangan BUMN/BUMD dan Pajak, Seperti diketahui, Pakta Integritas yang berdimensi personal sebagai perangkat anti korupsi bagi kalangan birokrat yang digagas tahun 2007, ternyata kini terbukti diakui tidak ampuh menekan niatan, sikap dan tindakan super jahat koruptor, sehingga saatnya perlu diganti dengan perangkat lain berdimensi kebijakan publik semisal Politik Anti Korupsi Tanah Air Indonesia (PAKTA Indonesia) demi mempertimbangkan percepatan akan pembangunan Indonesia Mulia, dan memperhatikan kebutuhan aktualisasi 7 (tujuh) pilar Strategi Ketahanan Bangsa yaitu (1) Kehidupan bidang agama tidak rawan, (2) Kehidupan bidang ideologi tidak retak, (3) Kehidupan bidang politik tidak resah, (4) Kehidupan bidang ekonomi tidak ganas, (5) Kehidupan bidang budaya tidak pudar, (6) Kehidupan bidang hankam tidak lengah, (7) Kehidupan bidang lingkungan tidak gersang.

Promosi tentang PAKTA Indonesia sebagai ‘save haven’ ini dikedepankan adalah yang berdasarkan pada Jiwa, Semangat, dan Nilai-nilai 45 (JSN45) yang telah diakui terbukti membangun Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, yakni (1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) Jiwa dan Semangat Merdeka, (3) Nasionalisme, (4) Patriotisme, (5) Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka, (6) Pantang mundur dan tidak kenal menyerah, (7) Persatuan dan Kesatuan, (8) Anti Penjajah dan Penjajahan, (9) Percaya kepada diri sendiri dan atau percaya kepada kekuatan dan kemampuan sendiri, (10) Percaya kepada hari depan yang gemilang dari bangsanya, (11) Idealisme kejuangan yang tinggi, (12) Berani, rela dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan Negara, (13) Kepahlawanan, (14) Sepi ing pamrih rame ing gawe, (15) Kesetiakawanan, senasib sepenanggungan dan kebersamaan, (16) Disiplin yang tinggi, (17) Ulet dan tabah menghadapi segala macam ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan.

Bersyukur sejarah mencatat, Pasca Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 diikuti 2 (dua) Rapat Raksasa yang penting sebagai pernyataan dukungan rakyat yaitu Rapat Raksasa Tambak Sari 17 September 1945 di Surabaya yang diprakarsai oleh PRI (Pemuda Republik Indonesia) dan Rapat Raksasa IKADA 19 September 1945 di Jakarta yang diprakarsai oleh Committee van Actie dari Jalan Menteng 31 (sekarang Jalan Menteng Raya 31). Rapat Raksasa 17 September 1945 sebetulnya didahului oleh peristiwa heroik penurunan bendera Jepang (Hinomaru) digantikan dengan penaikan bendera Indonesia (Merah Putih) di kantor Gubernur pada tanggal 1 September 1945 oleh antara lain Barlan Setiadidjaja, Sulistio, Patah (ketiganya mahasiswa Kedokteran Gigi di  Surabaya) dan Abdoel Sjoekoer (yang kemudian adalah Ketua GASEMA Gabungan Sekolah Menengah dan Ketua IPI Ikatan Pelajar Indonesia di Jawa Timur). Dan di Tambak Sari itu Abdoel Sjoekoer turut pula berorasi sebagai wakil Pelajar Pejoang bersama Lukitaningsih dari Pemuda Wanita, yang kemudian berlanjut dengan peristiwa penurunan bendera Belanda (Merah Putih Biru) pada tanggal 19 September 1945 di Hotel Yamato eks Hotel Oranye lalu bereskalasi menjadi pertempuran asimetrik antara agressor Sekutu dilawan oleh rakyat Surabaya dalam 3 (tiga) tahap yaitu (1) Pertempuran Kota Pertama 28-30 Oktober 1945 sd tewasnya Jenderal AWS Mallaby, komandan Brigade 49 Sekutu, (2) Pertempuran Kota Kedua 10 Nopember 1945 selama lebih daripada 3 (tiga) minggu, (3) berlanjut Pertempuran Luar Kota a.l. di front Mojokerto dan front Malang.

Kepada rekan2 Generasi Penerus 45, mari kita sambut tanggal 17 dan 19 September 2011 ini dengan bersyukur dan memohon ke hadlirat Tuhan Yang Maha Kuasa, guna lebih memantapkan JSN45 terutama bagi energi perlawanan agar dapat merdeka dari Politik Koruptor.

Jakarta, 17 September 2011

Pandji R Hadinoto / Paguyuban Keluarga Pejoang 45 (PKP45) / DHD45 Jakarta

www.jakarta45.wordpress.com , indopkp45@yahoo.com , pakta45@yahoo.com

Said Aqil

Jumat, 25 November 2011 21:00 WIB
Said Aqil : Revolusi Perilaku Korupsi Melalui Semangat Hijriyah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemimpin dan masyarakat Indonesia seharusnya dapat menjadikan momentum tahun baru hijriah sebagai usaha untuk melakukan perbaikan. Perilaku korupsi yang sudah melekat dengan pejabat dan birokrat di negeri ini harus dapat direvolusi secara moral melalui semangat dalam menyambut 1 Muharam 1433 H.

Demikian pendapat Ketua Pengurus Besar Nadhatul Ulama (NU), Said Aqil Siradj. ”Kita umat Islam yang pernah punya sejarah gemilang, seharusnya bisa mengembalikan lagi semangat tamadun yang pernah dibangun oleh Rasulullah,” kata Said Aqil.

Kang Said, demikian sapaan Said Aqiil, datangnya tahun baru Hijriah seharusnya bisa dijadikan momentum oleh umat Islam untuk bisa memperbaiki diri. ”Kalau masih ada pejabat atau pemimpin Muslim masih korupsi maka hal itu sama saja mencoreng martabat umat Islam secara keseluruhan,” ujarnya.

Ia mengajak para pemimpin di negeri ini untuk melakukan intropeksi diri terhadap segala perilaku korupsi. Namun demikian, ia juga menyerukan agar pemimpin dan umat Islam tetap optimis menatap masa depan Indonesia yang lebih baik.

Lebih lanjut Kang Said mengatakan, hikmah lain yang terkandung dalam hijrah Rasulullah ke kota Yastrib adalah beliau membangun peradaban, budaya, moral serta kebersamaan. Selain itu Rasul menata tatanan kehidupan di tempat baru itu dengan menjunjung hukum di atas segalanya. ”Jadi marilah kita berbenah diri,” katanya.

Redaktur: Johar Arif
Reporter: M Akbar

Hijrah ke Tdk Korupsi

Jumat, 25 November 2011 19:16 WIB
Hijrah dari Suasana Korupsi ke Tidak Korupsi

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Tahun baru Islam ditandai dengan peristiwa luar biasa, yakni hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah. Hal ini menjadikan Islam berkembang ke seluruh dunia.

“Ini merupakan makna secara fisik, sementara makna hakikinya yakni dari kegelapan ke terang atau ke sinar petunjuk Allah,” kata Sekretaris Majelis Ulama Indonesia DIY, KRT Ahmad Muhsin Kamaludiningrat, kepada Republika, Jum’at (25/11).

Ia mengatakan makna yang harus diperbarui dalam situasi bangsa Indonesia sekarang ini adalah harus dilakukan hijrah dari hal yang tidak baik ke yang baik, dari suana korupsi ke tidak korupsi, dari pornografi ke bukan pornografi, dan dari kehidupan yang tidak baik ke kehidupan yang baik.

“Kalau dalam pewayangan, hijrah Nabi Muhammad saw itu diadopsi sebagai sebelum goro-goro dan setelah goro-goro. Pendawa Lima itu sebelum goro-goro difitnah, dicacimaki, dihujat. Namun setelah goro-goro dipuji-puji. Sebagaimana Nabi Muhammad, ketika di Makkah dimaki-maki, difitnah, tetapi setelah di Madinah mendapat perlakukan yang baik,” jelas Muhsin.

Redaktur: Johar Arif
Reporter: Neni Ridarineni
Indonesia Harus Segera Hijrah dari Budaya Korupsi

Korupsi yang dilakukan aparat hukum dinilai memiliki dampak lebih berbahaya, ilustrasi

Hijrah Budaya Korupsi

Senin, 28 November 2011 00:10 WIB

Indonesia Harus Segera Hijrah dari Budaya Korupsi

REPUBLIKA, BOGOR–Bangsa Indonesia perlu segera hijrah dari budaya korupsi yang menggurita dan selalu menggerogoti kehidupan berbangsa, kata Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bogor, Zainullah, Ahad.

Menurut dia, peristiwa hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW 1433 tahun silam adalah bukan semata dalam arti pindah secara fisik dengan meninggalkan Kota Makkah menuju Madinah. Namun hijrah untuk merubah  masyarakat jahilillah atau bodoh menuju masyarakat yang  berakhlak dan beradab.

Menurut Zainullah, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini tidak ada tantangan yang lebih besar selain memerangi budaya korupsi. “Korupsi merupakan persoalan terbesar   bangsa ini. Korupsi telah menjadi budaya akut yang mengakar kuat. Karena itu harus diperangi dengan semua energi agar budaya ini bisa dikikis,” ujarnya.

Zainullah meyakini, bila budaya korupsi bisa dikikis, bangsa Indonesia akan mengalami lompatan kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan.

“Dalam berbagai indeks dan ranking skala global posisi Indonesia selalu berada di urutan bawah. Korupsi memberikan pengaruh besar atas sitausi yang dihadapi. Bila korupsi bisa diatasi, bangsa ini akan mengalami kemajuan yang lebih pesat,” ungkapnya.

“Kita harus segera hijrah dari budaya korupsi dengan melakukan perang dan pencegahan sejak dini, yang dimulai dari hal terkecil,” demikian Zainullah

Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: Antara

GenerasiKhairaUmmah

Jumat, 25 November 2011 19:42 WIB
Sambut Tahun Baru Islam, Unissula Bentuk Pendidikan Karakter Menuju Generasi Khaira Ummah

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG – Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1433 Hijriyah, Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang berkomitmen membentuk karakter mahasiswanya melalui pendidikan karakter. Adanya pendidikan karakter dipandang perlu untuk memajukan pendidikan.

Kompetensi saja dinilai tidaklah cukup untuk mendorong sebuah universitas menjadi terkemuka. Pasalnya hampir setiap perguruan tinggi di dunia memiliki karakternya masing-masing. Untuk itu, Unissula menggelar “Halaqah Ulama untuk Pembangunaan Karakter Bangsa Melalui Pendidikan” yang akan digelar Selasa (29/11).

Rektor Unissula, Profesor Laode M Kamaluddin, mengatakan pendidikan karakter ini diharapkan mampu melahirkan generasi khaira ummah (generasi terbaik). “Generasi terbaik adalah generasi yang menyerhakan seluruh kegiatannya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT,” ujarnya saat ditemui Republika di Kantor Rektorat Unissula, Jumat (25/11).

Khaira ummah selalu mempunyai inovasi-inovasi baru dengan melakukan seuatu yang produktif serta  menghindarkan diri dari semua perbuatan yang tidak produktif. Menjadi terbaik tidak hanya berhenti di dunia, tetapi juga harus menjadi bentuk pengabdian kepada Allah SWT.

“Jadi kalau kita mema’rufkan dunia dan menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak produktif , ini merupakan bagian dari amal sholeh,” kata Laode. Inilah yang sebetulnya menjadi ciri generasi khaira ummah, sesuai dengan motto Unissula “Bismillah Membangun Generasi Khaira Ummah.”

Pendidikan karakter ini akan dimulai dari merumuskan berbagai ulama mengenai definisi dari karakter itu sendiri. Untuk itu, dalam kegiatan halqah tersebut diundang para ulama Salaf dan ulama Indonesia dari berbagai pesantren modern yang mempunyai otoritas dan berhasil membuktikan karakter pada pesantren yang dikelolanya.

Nantinya para ulama ini akan memberikan pencerahan dan perumusan mengenai pendidikan karakter. Diantaranya yang hadir yakni KH Syukron Makmun dari Jakarta, KH Haris Shodaqoh dari Semarang, KH Dimyati Rois dari Kendal, H.A. Muhith dari Jakarta dan KH Maimun Zubair dari Rembang. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhammad Nuh, juga akan hadir dalam acara ini sebagai pembicara.

Redaktur: Johar Arif
Reporter: Qommarria Rostanti
Republika/Imam Budi Utomo

Tahun Baru Islam Momentum Perbaiki Diri dan Bangsa

Sejumlah santri korban penyalagunaan narkotika dan kenakalan remaja berzikir dalam rangka memperbaiki diri.

Tahun Baru Islam

Jumat, 25 November 2011 19:34 WIB
Tahun Baru Islam Momentum Perbaiki Diri dan Bangsa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Syamsul Hadi Abdan, menyatakan tahun baru Islam perlu dimaknai sebagai momentum memperbaiki akhlak. Saat ini Umat Islam sudah tersebar di seluruh penjuru dunia, namun akhlak mereka belum tentu bersifat ‘mahmudah’.

“Mari sama-sama kita tingkatkan kualitas akhlak kita,” jelasnya, saat dihubungi, Jumat (25/11). Dia mengatakan akhlak Umat Islam haruslah mencontoh Rasulullah, karena beliau diciptakan dan dikirim ke muka bumi sebagai suri tauladan atau uswatun hasanah bagi alam raya.

Menurutnya, seseorang perlu memaknai hijrah sebagai momentum untuk mengevaluasi apa yang pernah dilakukannya. Jika seluruh muslim melakukan ini, jelasnya, maka dipastikannya tidak ada kejahatan yang merugikan negara. “Ini momentum memperbaiki diri, sekaligus bangsa,” jelasnya.

Ia mengatakan inilah momentum untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang universal, diagungkan di dunia dan akhirat. Perayaan tahun baru Islam disarankannya dijadikan momentum untuk berzikir mengagungkan keesaan Tuhan.

Redaktur: Johar Arif
Reporter: Erdy Nasrul

Tahun Baru Islam

Jumat, 25 November 2011 19:23 WIB
Masyarakat Kurang Sadari Pentingnya Tahun Baru Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Masyarakat Indonesia dinilai kurang menyadari pentingnya tahun baru Islam. Hari raya yang jatuh pada awal Muharram itu seharusnya disadari betul manfaatnya sebagai momentum evaluasi diri dan evaluasi kebangsaan agar dapat bangkit dari keterpurukan dan menjadi lebih baik.

“Saat ini masyarakat, terutama umat Islam, masih harus dipompa semangatnya agar menjadi lebih baik,” jelas Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Marwan Ja’far, saat dihubungi, Jumat (25/11).

Dia mengatakan ada beberapa gejala bahwa masyarakat kurang memperhatikan pentingnya perayaan tahun baru Islam. Pertama, kurang semaraknya aktifitas kerohanian untuk evaluasi diri untuk menghadapi tahun baru. Padahal, hal ini penting untuk mengamalkan pesan Rasulullah bahwa masyarakat harus berbuat lebih baik dari hari sebelumnya. Kegiatan ini dianggap tidak menarik dan kalah pamor dengan kegiatan-kegiatan keduniaan yang bersifat hedonistik, seperti berpesta, hura-hura, dan lainnya.

Kedua, umat Islam terlalu egois memikirkan dirinya sendiri. Kalaupun bersosialisasi, mereka berkelompok dan sektoral sehingga mengabaikan kelompok lainnya. Dia mengatakan sikap sektoral perlu dihilangkan agar masyarakat dapat membaur tanpa membedakan ras dan agama. “Semuanya harus menyatu untuk menunjukkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.”

Ia menghimbau masyarakat untuk memanfaatkan momentum tahun baru Islam untuk memikirkan apa yang sudah disumbangkan untuk pembangunan bangsa. Umat Islam harus mampu bersinergi dengan siapa pun untuk dapat berkontribusi melalui wirausaha atau dengan gagasan kreatif yang tidak dimiliki negara lain dalam bidang pembangunan.

Redaktur: Johar Arif
Reporter: Erdy Nasrul

Oleh : Usup Supriadi (Mahasiswa, Blogger dan Penulis. Tinggal di Bogor)

Tahun Baru Momentum Pembaruan Peradaban yang Beradab

Semalam (24/11) saya menyaksikan sebuah siaran ulang diskusi tentang pendidikan dan penyiaran di sebuah stasiun televisi lokal, salah satu hal yang diperbincangkan ialah soal karakter bangsa. Ya, pendidikan karakter saat ini memang tengah gencar-gencarnya diusung oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dan salah satu masalah yang mencuat ialah soal apa itu karakter bangsa? Hampir kesemua narasumber memiliki cara pandangnya sendiri, namun kemudian sepakat kepada satu patron normatif bahwa karakter bangsa itu harus merujuk kepada tujuan berdirinya Indonesia sebagaimana ada pada pembukaan undang-undang dasar tahun 1945.

Setidaknya hal tersebut menjadi jalan tengah sejauh ini. Sebab bicara karakter bangsa maka karakter dari manusia Indonesia yang manakah? Saya rasa jawabannya tidak sulit jika saja kita bisa memiliki pola pikir yang sehat terhadap sejarah di negeri ini. Alhamdulillah, saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada pemegang blog Serba Sejarah yang tetap teguh dalam upayanya memberikan terang atau cela agar kita mau berpikir dan berzikir.

Saya kira, menjelang tahun baru Islam, ini adalah momentum bagi umat Islam untuk melakukan pembaruan atas segala hal yang terjadi, khususnya pada dirinya sendiri, terlebih terhadap umat dan tempat dimana umat berada saat ini: Indonesia. Sebab, Allah berfirman: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)“. (QS. Ali Imran: 140).

Salah satu faktor penyebab digilirkannya sebuah peradaban ialah tingkah laku para penduduk suatu negeri, misalnya sikap boros, hidup bermewah-mewah di tengah berlimpahnya rakyat jelata yang tak sejahtera, penguasa yang tidak adil pada rakyat, dan sebagainya. Dan itu semua, tidak serta-merta ulah satu dua individu saja, tapi lebih kepada efek domino sikap latah bangsa ini terhadap patron-patron asing yang kebanyakan menyesatkan.

Apakah ini karakter manusia Indonesia, mudah silau atau latah terhadap sesuatu yang ada di pihak asing, mereka merah kita merah, mereka ambil langkah kiri, kita ambil langkah kiri, jangan-jangan, mereka jatuh, pasti kalau kita menjadi pembebek sudah pasti akan jatuh juga, hanya masalah waktu saja. Untuk itu sudah saatnyalah, kita sebagai manusia Indonesia berbenah diri, melakukan hijrah ke arah yang lebih baik, menghasilkan sebuah peradaban yang beradab. Sebab yang lebih penting dari sebuah karakter ialah dirinya harus beradab! Tentu saja, tidak semua apa yang ada di pihak asing itu buruk. Hanya saja, budaya menelan mentah-mentah itu janganlah dibiasakan!

Kita sebagai umat Islam patut berbangga dan seharusnya jangan malah minder, kita memiliki banyak teladan yang baik dan beradab, meskipun banyak di antara mereka sejarahnya masih diliputi kabut buatan. Dan, Api Sejarah, sebuah buku yang telah berupaya sedikit banyak menyingkap kabut tersebut. Nyatalah bahwa sejarah kita ya sejarah Islam. Hanya saja, karena doktrin sejarah palsu yang sudah terlanjur mengakar dan sampai saat ini masih dipertahankan, banyak dari orang-orang yang memang tidak sehat akalnya, malah menyudutkan Islam, saya sempat baca sebuah pemeo, kok semua pahlawan dianggap Islam. Itu adalah salah satu risiko.

Bagaimana pun kebenaran harus diungkap, walaupun ada yang bilang bahwa fakta tak harus semuanya menjadi konsumsi publik. Memang benar, contohnya tawuran yang kerap terjadi antar mahasiswa itu fakta tapi lebih baik janganlah terus ditayangkan berulang-ulang! Atau demo rusuh, janganlah hanya rusuhnya saja yang disorot, sedangkan substansi dari demo itu tidak terungkap.

Semua memang membutuhkan perjuangan yang tidak singkat, semuanya butuh tahap, dan memang Rasulullah sendiri, tidaklah serta merta dalam mendirikan sebuah negara kota, yakni Madinah yang memiliki peradaban yang beradab, tapi dengan beberapa tahap, termasuk upaya menggandeng kaum Yahudi dan Nasrani pada saat itu yang memang sudah ada di Yastrib.

Janganlah kita sebagai umat Islam malah fobia terhadap Islamisasi, sungguh terkesannya “isasi” itu selalu terkesan memaksa, sebenarnya fakta sejarah menyatakan berbedanya antara Islamisasi dan Westernisasi. Contoh kasus, Islamisasi Spanyol, menghasilkan peradaban yang luhur, tanpa upaya mengambil apa yang ada di Spanyol ke pusat kerajaan Islam pada saat itu, malah justru memakmurkan Spanyol, namun orang-orang yang buta mata hatinya karena motif agama dan politik malah menyerang pihak yang memberikan kemakmuran tersebut.

Berbeda dengan Westernisasi, contoh paling kentara misalnya, Belanda, mereka benar-benar “isasi” yang menjajah, dan selalu ada udang di balik batu! Atau Amerika Serikat, misalnya. Dan, adalah aneh, jika Indonesia yang punya berlimpah sumber daya alam ini, bisa dikatakan lebih miskin dibandingkan dengan Singapura. Ini semua karena sumber daya manusia di negeri ini malah ngikut para tukang pukul ekonomi dari bank dunia, dan lembaga keuangan internasional lainnya, seolah-olah kalau kita ikut mereka, negera kita akan makmur. mana buktinya. Kita adalah pemilik sah republik ini, kita jelas tahu yang terbaik, hanya saja beranikah kita melawan arus gelombang tua?

Mulailah dengan semangat tahun baru kita melihat diri-diri kita, dan langkah agar terlahirnya sebuah peradaban yang beradab lagi berkarakter ialah dengan kembalinya kita kepada tradisi ilmu pengetahuan Islam yang gemilang. Jika pun ada sesuatu dari Barat, maka dengan ilmu yang ada kita takar, apakah baik atau tidak bagi bangsa ini.

Selamat berhijrah, selamat berhaji, hijrah dan haji dua hal yang baru dikatakan berhasil apabila ada perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Dan Allah tentu tidak akan menyia-nyiakan upaya berpahala setiap hamba-Nya yang bertakwa, malah jika penduduk suatu negeri bertakwa berkah akan berlimpah. Selamat menjadi pembaru bagi diri-diri kita. Dengan memohon rida Allah, semogalah akan ada perbaikan pada diri kita serta bangsa Indonesia ini.

*********

~ Hatur tararengkyu buat kang Usup Supriadi ;) yang telah berpartisipasi dalam proyek ” Yuuk! Menulis Sejarah dan Muharram“.

* Gambar “mutilasi karakter bangsa” dari politikana.com

Oleh : Irma Zain (Mahasiswi Keperawatan Universitas Padjadjaran)

Goes to 1 Muharram 1433 H

Tahun Baru Hijriyah mengingatkan semua memori kita pada lembar peristiwa sejarah bertinta emas akan perjalanan Rasulullah dan para sahabat dalam melalui pintu gerbang hijrah serta menggugah pendengaran, penglihatan, dan qolbu semua mukmin untuk mendengar, melihat, dan merasakan betapa seriusnya Ummat pada masa lalu dalam melepaskan-mencampakkan-membuang jauh-jauh daki-daki kegelapan jahiliyah.

Hijrah Rasulullah dan para sahabat memiliki dua makna. Secara makani (fisik) artinya hijrah secara fisik, berpindah dari suatu tempat yang kurang baik menuju yang lebih baik, dari negeri kafir menuju negeri Islam. Adapun secara maknawi artinya berpindah dari nilai yang kurang baik menuju nilai yang lebih baik, dari kebatilan menuju kebenaran, dari kekufuran menuju keislaman; dari kegelapan tanpa cahaya petunjuk kepada cahaya tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Makna terakhir ini, oleh Ibnu Qayyim bahkan dinyatakan sebagai al-hijrah al-haqiqiyah (hijrah sejati). Alasannya, hijrah fisik adalah refleksi dari hijrah maknawi itu sendiri. Secara makani (fisik), faktanya Hijrah Rasulullah saw dan para sahabat berjalan dari Mekah ke Madinah menempuh padang pasir sejauh kurang lebih 450 km sedangkan secara maknawi jelas mereka hijrah demi terjaganya kesucian misi Islam.

Al-Qathani menyatakan bahwa hijrah sebagai urusan yang besar. Hijrah berhubungan erat dengan al-wala’ wal-bara’ (loyalitas dan berlepas diri). Bal hiya min ahammi takaalifahaa, bahkan ia termasuk manifestasi (muwalah) yang paling penting. Penting, karena menyangkut komitmen dan sikap seorang muslim dalam memberikan kesetiaan dan pembelaan pada Diennya. Juga menyangkut komitmen dan sikap seorang muslim dalam menampakkan penolakan dan permusuhan kepada yang patut dimusuhi.

Peristiwa Hijrah dijadikan penanda peralihan tahun dalam kalender Islam. Kali ke- seribu-empatratus-tigapuluhtiga umat Islam melewati masa yang terus berganti; detik, menit, hari, bulan, tahun ke tahun dengan berbagai kondisinya, menyadarkan bahwa pergantian masa merupakan alat ukur untuk mengevaluasi kemajuan diri kita. Karena memang kita diajarkan untuk itu, seperti tercermin dalam firman Allah SWT dalam QS. Al-‘Ashr : 1-3. Rasulullah SAW sendiri bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya” (HR. Ahmad).

Genggam waktu dan raih prestasi !

Secara syariat, siang dan malam itu terdiri dari 24 jam. Seberapa besar seorang mukmin muslim mampu mengggunakan waktu yang telah disediakan Allah tersebut? Jauh 1400an tahun lalu, para sahabat Nabi Muhammad SAW yang menjadi balatentara Islam ketika itu mampu menaklukkan dua imperium adidaya, Romawi  dan Persia, yang balatentaranya amat kuat dan perkasa. Resepnya ternyata tersimpul dari pengakuan penuh kekaguman dari seorang anggota dinas intelijen Romawi setelah melakukan kegiatan mata-mata di Madinah. Kepada Kaisar Romawi ia mengutarakan kesannya tentang watak kaum Muslimin, “Ruhbananun bil-laili, firsaanun bin-nahar! Bila malam mereka tak ubahnya seperti rahib, sedangkan di siang hari sungguh bagaikan singa!”. Siangnya habis-habisan memaksimalkan potensi untuk berkarya, bekerja dengan jiwa yang kuat demi menggapai Ridha Rabbul ‘Izzati, malamnya bersimpuh memohon ampunan serta bimbingan Sang Penggenggam Hidup & Kehidupan untuk merencanakan dan melewati hari esok yang lebih baik, menampakkan betapa kotor dan lemahnya setiap jiwa dan langkah tanpa PetunjukNya.

Para sahabat diberikan waktu 24 jam sehari, begitupun dengan kita! Jika diibaratkan dalam sebuah lomba balap sepeda, ketika pistol diletuskan tampaknya orang yang menjadi juara dalam balap sepeda tersebut adalah orang yang dalam detik yang sama bisa mengayuh sepedanya lebih cepat daripada yang dilakukan oleh orang lain, sehingga calon pemenang akan melesat melalui pembalap yang lain karena energi yang dipergunakan dan ketepatan gerakannya lebih baik daripada detik yang sama yang dilakukan lawan-lawannya. Artinya, keunggulan itu sangat dekat dengan orang yang paling smart dalam memanfaatkan waktunya.

Islam adalah Dien yang paling dominan mengingatkan kita kepada waktu. Allah berkali-kali bersumpah dalam Al-Quran berkaitan dengan waktu. “Wal’ashri” (demi masa/waktu), “Wadhdhuha” (demi waktu dhuha), “Wallaili” (demi waktu malam), “Wannahaari” (demi waktu siang), “demi waktu fajar dan malam sepuluh”… Allah pun mendisiplinkan kita agar ingat terhadap waktu minimal lima kali sehari semalam; maghrib, isya, subuh, dzuhur dan ashar. Belum lagi tahajjud pada sepertiga malam dan shalat dhuha ketika matahari sepenggalahan naik. Apakah 24 jam yang dititipkan sementara pada kita sudah kita gunakan sebagaimana mestinya semampu diri kita sesuai dengan prosedurNya? apakah 24 jam yang dititipkan sementara pada kita sudah kita isi dengan perbaikan-perbaikan sehingga semakin meningkatkan kualitas iman terus-menerus seiring berjalannya muharram ke muharram? Sejauh mana kita sudah berhijrah, menuju sedekat-dekatnya jalan yang haq, meninggalkan sejauh-jauhnya jalan yang bathil.

Genggam waktu dan raih prestasi. Perubahan merupakan sebuah prestasi. Tentu saja perubahan ke arah yang lebih baik. Kita berpacu dengan waktu. Satu desah nafas adalah satu langkah menuju maut. Rugi bahkan celaka jika kita hanya banyak angan dan impian namun tidak bersegera beramal. Bermimpi masuk surga dan sejahtera kehidupannya namun tidak bersegera berubah memperbaiki diri. Muslim meriwayatkan sabda Rasulullah SAW dari Abu Hurairah yang cukup menyentil betapa perjalanan hidup ini penuh terurai lalai dan dosa “Segeralah kamu beramal, sebelum timbul fitnah (kekacauan, kebinasaan) seperti sepotong malam yang gelap gulita, dimana seseorang diwaktu pagi masih beriman sedangkan diwaktu sore telah menjadi kafir. Atau diwaktu sore masih beriman sedang diwaktu pagi telah menjadi kafir. Dijualnya Diennya karena mengharapkan sedikit keuntungan duniawi.

Matahari berubah, bergeser dari timur ke barat setiap hari. Kalender yang tergantung di dinding terus berubah, bergeser dari tahun satu ke tahun berikutnya. Nasi yang senantiasa kita makan pun berubah, dari tanaman padi kecil yang hijau menjadi menguning, menjadi beras, nasi, dan bisa jadi basi. Bahkan setiap sel darah merah berubah, mengikat oksigen-oksigen baru yang kita hirup untuk nantinya oksigen juga berubah, membakar sel-sel mati di setiap divisi dalam tubuh kita yang berkepentingan untuk diciptakan kembali sel yang baru lagi. Hidup akan terus berlangsung jika ada perubahan. Berubah menjadi sebuah syarat mutlak diri yang hidup. Hidup dalam arti yang sebenarnya, dalam rangka meningkatkan kualitas iman di hadapan Penguasa-Pengatur-Pencipta alam semesta beserta isinya. Wallaahu a’lam bish Shawab.

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan bersiap-siaplah untuk pertunjukkan yang agung (hari kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kalian barang satu pun” (Umar al-Faruq r.a)

*Referensi penunjang:

Catatan : Sebasejarah akan memposting secara bertahap kiriman tulisan dalam acara : Yuuk! Menulis Sejarah dan Muharram, yang tentunya hasil dari seleksi kelayakan menurut penilaian kami…. Hatur tararengkyu atas segala partisipasinya.

Petisi45 : Sumpah Pemuda GASAKNAS 2009

Dalam rangka turut serta membangun Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPKI) agar supaya berada pada peringkat papan atas skala dunia, maka berdasarkan amanat Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 tentang Kedaulatan Rakyat dan Semangat Bela Negara Pasal-30 Undang Undang Dasar 1945 [Lembaran Negara Republik Indonesia No. 75, 1959, yang belum bernah dinyatakan tidak berlaku] serta Strategi 7 Ketahanan Bangsa, kami dibawah ini, yang peduli wawasan Indonesia Mulia dan Bermartabat melalui Gerakan Anti Suap Anti Korupsi Nasional (GASAKNAS), bersama ini, mengajak segenap komponen anak bangsa, sosialisasikan :

Pembudayaan BIJAK (Bina Jiwa Anti Korupsi)

yakni yang mencakupi antara lain (1) 9 Pusaka Bangsa Indonesia, (2) 123 Tatanilai Kearifan Lokal, (3) Kebangkitan Jiwa Benteng Pancasila, (4) Pekik MERDEKA (MERaih DEmokrasi Kerakyatan yang Amanah), (5) Sikap BUNG (Berjoang Untuk NeGara), (6) Tekad PETA (PEjoang Tanpa Akhir), (7) Semangat Perang Rakyat Semesta, (8) 7 Resolusi Sumpah Pemuda 2008, (9) Seruan Gasak Koruptor, Gasak Khi MunaJat (Khianat, Munafik, Jahat), demi terciptanya peta jalan penguatan daya tangkal nuraniah niatan Suap dan Korupsi atau anti moral hazard, sekaligus penguatan pro sistim Pemerintahan Bersih di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jakarta, 12 Oktober 2009

FRONT DAULAT RAKYAT MERDEKA,

(1).Pandji R Hadinoto, GASAKNAS 2005, BarPETA, GAPI, (2).Hadori Yunus, KelBes Marhaenis, (3).Johanes Judiono, (4).Igbal Daut, GASAKNAS 2005, (5).Sri Rosalinda, GAPI, LST, (6).Romo Doesjanto, GAPI, (7).Awaluddin Ardiwijaya, Koran Integritas, (8).Jhon Huda, GAPI, (9).Bilung, GAPI, (10).Johanes Sandjaja Darmawan, HPPEL, (11).Juliaman Saragih, KelBes Marhaenis, (12).Mahyudin Nawawi, GIM, (13).Suwandi Mislah, GJL, (14).Irwan Lubis, LKBH45, MasBETA, (15).M.Zulfi Azwan, KMS, (16).Ery Monarfa, GAPI, (17).Ignatius Tricahyo, MBP, (18).Permadi, (19).Pribadio, (20).Sumardi Asmara, FRPI, (21).Verry Lioe N.L, Koran Integritas (22).Rafeldi, Garda PETA, (23).M Irenes F Kotambonan, GAPI, IPSBI, (24).Uyung, KPPP, (25).Sapto W Samudro, MBP (26).DP Yoedha, BENDERA, (27).Gus Nuril, (28).H. Arnauly Aminullah, BIP45, (29).Gigih Guntoro, FKPI, (30).Tita Wandana, GAPI, (31).Alson, ATN973, Info Publik (32).Lili Wahid, (33).Empu Pitrang Susilo, CedSos, (34).Muslim Arbi, GERRAM (35).Ucok Syafti Hidayat, BENDERA, (36).Decy Widhiyanti, IPSBI, (37).Siti Nurul, IPSBI, (38).Aina Sumantri, IPSBI, (39).Bertania Kristiono, GAPI, (40).Muldawar Bonar Harahap, PPM, BarPETA (41).Ading Sutisna, LKPPI, (42).Sulistio Pambudi Utomo, FRJ, (43).H Jailani, GASAKNAS 2005, (44).Surya Hadjar, FBN, (45).Titi Laksanawati, GASAKNAS 2005.

Sekretariat :

Blok UA22, Plaza Pondok Indah I, Jakarta Selatan 12310, eMail : gasaknas@yahoo.com

Korupsi & Utang Euro

Kamis, 1 Desember 2011 23:16 WIB |

Korupsi Perburuk Krisis Utang Euro

Bayangan seorang pria terlihat di papan elektronik yang menunjukkan indeks saham di sebuah bank di pusat kota Milan, Italia, yang memiliki ekonomi terbesar ketiga di zona euro namun masalah utangnya menjadi ancaman besar bagi krisis mata uang tunggal benua tersebut. (REUTERS/Paolo Bona)

“Ada hubungan kuat antara kinerja yang buruk dalam hal persepsi korupsi dan masalah yang lebih luas di sekitar tata kelola ekonomi.”

Berita Terkait
Video

Berlin (ANTARA News/AFP) – Korupsi menghambat upaya untuk mengatasi krisis utang zona euro, sebuah badan pengawas anti-korupsi terkemuka Kamis mengatakan, ketika Yunani dan Italia membuat skor lebih buruk dalam daftar negara-negara yang dipandang paling sarat pekerjaan buruk, demikian laporan Transparency International (TI).

Drama ekonomi di kawasan euro berkembang “sebagian karena kegagalan otoritas publik mengatasi penyuapan dan penggelapan pajak yang merupakan pendorong utama krisis utang,” catat lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berkantor pusat di Berlin, Jerman, itu.

Pada skala nol (dianggap sangat korup) sampai 10 (dianggap memiliki sedikit korupsi), Italia dan Yunani mencetak skor 3,9 dan Yunani 3,4, masing-masing peringkat 69 dan 80 dalam daftar 182 negara.

Robin Hodess, direktur riset TI, mengatakan bahwa krisis zona euro “mencerminkan manajemen keuangan yang buruk, kurangnya transparansi dan salah urus dana publik.”

“Ada hubungan kuat antara kinerja yang buruk dalam hal persepsi korupsi dan masalah yang lebih luas di sekitar tata kelola ekonomi,” ujar Hodess kepada AFP.

Ketika korupsi menyebar luas, “orang merasa cubitan di semua tingkatan,” katanya, menyerukan Roma dan Athena untuk berbuat “jauh lebih banyak” dalam memerangi korupsi.

Pemerintah “perlu fokus pada bagaimana dana publik dikelola dalam negara,” tambah Hodess, mengatakan bahwa baik korupsi skala besar maupun skala kecil harus diperangi.

Secara global, Somalia dan Korea Utara yang dicabik perang, bersama berada dalam daftar paling bawah, dianggap negara-negara yang paling korup di dunia dengan skor 1,0.

Irak naik beberapa tempat dalam daftar, tetapi masih dekat ke bawah pada 175 dan Afghanistan tetap berakar di 180 meskipun berupaya untuk mengekang suap dan korupsi di sana. Libya berada di posisi 168.

Sebagian besar negara-negara “Arab Spring” berperingkat di setengah bagian bawah indeks, mencetak skor empat.

TI mengatakan, pihaknya telah memperingatkan sebelum revolusi di wilayah yang “nepotisme, penyuapan dan patronase begitu mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari bahwa sekalipun ada undang-undang anti-korupsi memiliki pengaruh yang kecil.”

Di bagian lain, yang lebih bajik, akhir dari skala, Selandia Baru menduduki peringkat teratas dengan skor 9,5 poin, datang persis di depan Denmark, Finlandia, Swedia dan Singapura.

Hampir dua pertiga dari negara yang tercantum memiliki skor kurang dari lima, menunjukkan, menurut TI bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dalam memerangi korupsi.

“Tahun ini, kita telah melihat korupsi pada spanduk demonstran mereka yang kaya atau miskin,” kata Kepala TI, Huguette Labelle.

“Apakah di Eropa yang dilanda krisis utang atau dunia Arab yang memulai era politik baru, para pemimpin harus mengindahkan tuntutan untuk pemerintahan yang lebih baik,” ujarnya.

Prancis dan Jerman, yang banyak mencari solusi untuk krisis zona euro, mencetak skor relatif baik, masing-masing datang di peringkat 25 dan 14.

Amerika Serikat (AS) adalah satu tempat di atas Prancis, sementara rekan lokomotif global China menempati urutan ke-75. Rusia salah satu negara terburuk dalam daftar, berada di posisi 143 dengan skor 2,4 poin.

Survei “menggunakan data dari 17 survei yang melihat faktor-faktor seperti penegakan hukum anti-korupsi, akses terhadap informasi dan benturan kepentingan. Korupsi terus mengganggu terlalu banyak negara di seluruh dunia,” demikian catatan TI.
(Uu.A026/A023)Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © 2011

 

26
Nov
11

Ekonomi : Jepang dan China Lokomotif Ekonomi Dasa Warsa Kedua Abad 21

Jepang dan China

Sabtu, 26 November 2011 18:27 WIB |

Jepang dan China, Lokomotif Ekonomi Dasa Warsa Kedua Abad 21

Oleh Bob Widyahartono MA *)

Jakarta (ANTARA News) – Jepang dan China sejak awal abad 21 tampaknya berebut pengaruh sebagai “pemimpin” di Asia Timur termasuk ASEAN. Di balik persaingan tersebut perekonomian Jepang-China terkait erat dan saling membutuhkan dengan peranan  konstruktif meningkatkan perdamaian dan kesejhateraan Asia Timur, termasuk ASEAN.

Kedua negara tersebut sangat menyadari bahwa mulai awal abad 21 menjadi makin jelas dan transparannya peta geopolitik ekonomi Asia, terutama Asia Timur, yang menuntut Jepang dan Cina untuk bersama mengambil kepemimpinan pertumbuhan ekonomi intra-Asia, dalam arti pemeran mesin pertumbuhan (engine of growth) kegiatan ekonomi intra-regional Asia .

Diplomasi politik dan ekonomi antar-keduanya menunjukkan upaya yang rumit karena secara tidak langsung berimbas terhadap hubungan dengan negara lain di Asia.

Pihak Jepang menyatakan bahwa persahabatan adalah penting, namun hanya dengan persahabatan saja tidaklah mencukupi. Relasi yang saling memberi makna didasarkan terhadap kepentingan bersama (mutual benefits) merupakan hubungan yang merekatkan hubungan satu sama lainnya.

Hubungan perdagangan Jepang dengan China dalam lima tahun terakhir telah dua kali lipat, dan bahkan telah mengambil alih (overtake) peranan Amerika Serikat (AS) dalam hubungan dengan China. Sekira 35.000 perusahaan dari yang skala menengah sampai besar telah memasuki pasaran China. Investasi Jepang membuka peluang 10 juta lapangan kerja di China. Sejak Shintaro Abe, Perdana Jepang, ia menyatakan bahwa hubungan ekonomi Jepang dan China telah mantap (firmly cemented)

Dari luar benua Asia sudah lama juga Jepang acapkali harus mengalah pada AS dalam politik dan keamanan. Tidak cukup tekanan politik keamanan, tetapi ada pula tekanan impor berbagai produk Jepang. Jepang mengagumkan untuk tidak mengalah terus menerus.

Masa depan jangka panjang prospek ekonomi China tentunya tidak tanpa resiko. Sukses atau kegagalan dalam meningkatkan produktivitas pertanian dan reformasi perusahaan negara sebagai dicanangkan oleh Zhu Rongji semasa menjadi perdana menteri (1992-2003). Ia sejak awal terkenal dengan “melakukan pemecahan problema defisit perusahaan negara skala besar dan menengah dalam tiga tahunan”.

Zhu merancang hal tersebut setelah melakukan inspeksi ke provinsi Liaoning, karena ia menemukan fakta sejumlah besar perusahaan negara mengalami kerugian.

Reformasi dalam sistem perubahan dan keamanan sosial (social security) terkait dengan  gerakan yang dicanangkan Zhu Rongji dilanjutkan oleh  Hu Jintao/Wen Jiabao sejak 2003. China makin berani pula berkata “tidak” pada tekanan untuk merevaluasi nilai tukar mata uang Renminbinya.

Dari sisi  ekonomi, China juga makin terbuka peluangnya bagi investor asing sebagai dampak diversifikasi geografis dan transformasi kegiatan industrial. Kini, peluang-peluang itu tidak hanya terbatas pada kawasan pantai (coastal regions).  Yang makin berkembang adalah  Lembah Yangtze (Yangtze Valley) dari provinsi Sichuan ke Pudong di Shanghai, dan tiga provinsi di Timur laut (Northern Provinces).

Kegiatan investasi dari luar China diizinkan memasuki sektor perdagangan eceran (retail business), asuransi dan perbankan, pembangunan infrastruktur , telekomunikasi dan penerbangan sipil (civil aviation). Mengapa demikian? Kegiatan ekonomi ini sangat membuka peluang untuk profitabilitas  dan sekaligus menciptakan kesempatan kerja yang lebih produktif dibandingkan dalam perusahaan negara yang terus merugi.

Dengan makin matangnya perekonomian China, maka pertumbuhan ekonominya yang lebih banyak digerakkan oleh  masukan investasi (input-driven), sudah tampak suatu pergeseran ke arah masukan teknologis (technology driven) sekalipun masih dalam tahapan  embrio.

Dalam banyak kasus dan kondisi, banyak pengamat barat, terutama AS jarang sekali memahami pola pikir kepemimpinan China. Bagi China stabilitas politik adalah sangat krusial untuk kelanjutan reformasi dan pertumbuhan ekonomi. Nilai-nilai demokrasi Barat dan pengalaman Barat dalam demokratisasi, terutama paham “free trade  tidak mudah diterapkan di China secara dadakan. Bagi China fokusnya adalah reformasi administratif dan sosial ekonomi yang sudah berlangsung sejak awalnya Deng Xiaoping (1980) yang dijuluki sebagai Bapak   Modernisasi China.

Bagaimana peranan Jepang dan China di Asia masa mendatang? Perekonomian Jepang berubah cukup dinamis sejak tampilnya kepemimpinan Junichiro Koizumi (awal 2001) yang dikenal sebagai pendekar reformasi dan berkelanjutan. Kebijakan Jepang dalam politik dan ekonomi makin lebih terfokus pada Asia. Peranan Jepang awalnya kurang menggigit. Namun, sejak 2005 kedua negara tersebut tampil makin meyakinkan dalam memotivasi perkembangan ekonomi Asia.

Makin jelas berbagai negara tetangga Asia mendambakan dan mendukung kepemimpinan Jepang bersama China yang mampu memberi pengaruh karena kemakmuran sekaligus kekuatan ekonomi secara tepat dan kredibel.

Arus modal Jepang sejak dasa warsa 1970an ke Asia dengan berbagai implikasinya positif maupun negatif. Secara positif masuknya modal Jepang ikut menstimulasi pembangunan ekonomi negara tuan rumah secara signifikan.  Kebanyakan investasi Jepang itu adalah dalam industri yang padat karya, dan tidak terlalu menyentuh proses alih teknologi yang menyeluruh.

Kalau dalam perjalanannya ada investor ke Indonesia menunjukkan kelambanan (slow down) setelah kalkulasi internalnya dalam arti keterkaitan ke belakang maupun ke depan (forward and backward linkages) dengan acuan mengejar keuntungan, potensi pasar, lingkungan keamanan dan kepastian hukum, maka jangan terkejut kalau sampai melakukan relokasi. Inilah sikap “business” yang perlu kita pahami dan cegah.

Elit bisnis maupun pemerintahan di Indonesia makin dituntut berkompetensi profesional etis dan tumbuh makin dewasa dalam menyikapi arah gejala Asia Timur, termasuk kawasan Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dalam memasuki dasa warsa kedua abad 21 yang makin dnamis. (*)

*) Bob Widyahartono MA (bobwidya@cbn.net.id) adalah pengamat ekonomi/bisnis Asia, dan Lektor Kepala di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara (FE Untar).

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © 2011




Blog Stats

  • 1,675,263 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 68 other followers