17
Oct
11

Perbatasan : Pantai Camar Bulan

Camar Bulan

Selasa, 11 Oktober 2011 12:29 WIB |

Mengambil lagi Camar Bulan dari Malaysia

Teguh Imam Wibowo

Pontianak (ANTARA News) – “Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah harga mati, jangan sampai satu jengkal pun tanah Kalimantan Barat diambil negara lain”.

Kalimat keras ini dilontarkan oleh Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis dalam serangkaian pertemuan dengan sejumlah masyarakat, tokoh adat, agama, bupati dan wali kota beberapa waktu terakhir ini.

Cornelis tidak asal bicara. Wilayah pemerintahannya yang berbatasan dengan Sarawak, Malaysia Timur, memang dihadapkan pada banyak soal pelik seperti terbatasnya prasarana dan sistem pelayanan publik meliputi listrik, air bersih, pendidikan dan kesehatan.  Belum lagi, masalah kurangnya anggaran dan sumber daya manusia.

Dibandingkan dengan warga Sarawak, kehidupan warga Indonesia di perbatasan Kalimantan Barat, bagai bumi dan langit.

Warga Sarawak menikmati akses transportasi yang mulus, cahaya listrik yang terang sepanjang waktu, air bersih yang mengalir berlimpah, ditambah layanan pendidikan dan kesehatan yang sangat memadai.

Sungguh, tak ada seorang pun warga Kalimantan Barat di perbatasan yang tidak kepincut dengan kelebihan Sarawak itu, apalagi warga kedua negara di perbatasan itu memang berkerabat karena berasal dari rumpun yang sama.

Tak apa kepincut pada kelebihmakmuran orang lain, tapi jika wilayah sendiri dicaplok itu sama sekali tak bisa ditoleransi.

“Orang dapat pindah, tetapi daratan, lautan, dan udara, jangan sampai ikut pindah,” kata Cornelis sengit.

Cornelis kaget mendapati kenyataan bahwa Dusun Camar Bulan, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, seluas 1.499 hektare yang masuk wilayah provinsi keadministrasinnya, kini menjadi wilayah administratif Pemerintah Diraja Malaysia.

Dengan tegas Cornelis menyatakan, Camar Bulan adalah wilayah Indonesia yang sah berdasarkan Traktat London tahun 1824.

“Sebagai seorang gubernur, tak sejengkal tanah pun akan saya serahkan kepada pemerintah Malaysia. Tanah itu akan tetap saya pertahankan,” tegasnya  Kamis akhir September lalu.

Traktat London

Cornelis lalu menunjuk Traktat London, yakni kesepakatan bersama Kerajaan Inggris dan Belanda mengenai pembagian wilayah administrasi tanah jajahan kedua negara.

Traktat London ditandatangani 17 Maret 1824 dengan tujuan mengatasi konflik yang muncul beriringan dengan Perjanjian Britania – Belanda pada 1814.

Traktat ini salah satunya menyebutkan, batas negara antara Indonesia dan Malaysia di Kalimantan didasarkan pada watershed (mata air).  Artinya, batas kedua negara ditentukan oleh batas alam, yaitu aliran sungai atau gunung, deretan gunung, dan punggung pegunungan.

Kondisi geografis Dusun Camar Bulan sendiri datar, tanpa pegunungan, tanpa sungai, sehingga tidak memenuhi syarat sebagai watershead.

“Jadi, kenapa wilayah itu harus masuk ke peta Malaysia?” kata Cornelis.

Cornelis juga meminta hasil pertemuan pemerintah Indonesia dan Malaysia di Kinabalu, pada 1976, dan hasil pertemuan kedua negara di Semarang, Jawa Tengah, tahun 1978, dibatalkan.

Kedua pertemuan itu menyebutkan Camar Bulan masuk wilayah Malaysia.  Padahal itu sangat bertentangan dengan Traktat London, peta Belanda, dan peta Inggris.

Gubernur mengaku mendapatkan informasi bahwa Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional sudah memasukkan Camar Bulan ke wilayah Malaysia.

Dia tegas meminta kesepakatan-kesepakatan itu tidak ditandatangani karena sangat merugikan Indonesia, khususnya Kalimantan Barat.

Cornelis akan memprotes pemerintah pusat kalau wilayah Camar Bulan dinyatakan bukan milik Kalimantan Barat.

Cek ulang

Dia pun meminta Bupati Sambas Juliarti D. Alwi untuk mengecek ulang patok batas di perbatasan dengan Sarawak.

“Tidak hanya di Sambas, seluruh kepala daerah yang wilayahnya berbatasan dengan Sarawak, harus mencek ulang patok batas daerahnya masing-masing,” tegasnya.

Dia menganggap acuan Traktat London adalah solusi terbaik bagi konflik perbatasan ini, di antaranya dengan melihat patok batas 104 buatan Belanda.

Patok-patok itu  sudah diuji laboratorium. Hasilnya, persis sama dengan material patok batas yang ada di Tanjung Datuk, Kabupaten Sambas.

Ia menantang untuk membandingkankanya dengan patok batas 104 yang baru dibuat dan ditancap jauh sampai 1.499 hektare ke dalam wilayah Kalimantan Barat.

Warga Desa Temajuk sendiri menjalani kehidupan relatif sulit.  Tanpa jalan yang layak, mereka harus tergantung kepada kebaikan alam.

Pemerintah daerah sendiri mengaku sudah berupaya meningkatkan taraf hidup masyarakat di wilayah perbatasan, misalnya dengan membangun jalan dari ibu kota kabupaten ke perbatasan, atau melengkapi sarana pendidikan, kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya.

Kini tengah dibangun jalan Liku (ibukota Kecamatan Paloh) – Temajuk yang jaraknya 45 kilometer.

Tak hanya soal perbatasan, provinsi ini juga menghadapi persoalan-persoalan pelik lainnya seperti rencana pembangunan pelabuhan kilang gas dari Natuna dan terancamnya habitat penyu langka.

T011/Z002

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2011

http://www.suarapembaruan.com/home/warga-camar-bulan-temukan-patok-tapal-batas-yang-diduga-dihancurkan-malaysia/12397

Warga Camar Bulan Temukan Patok Tapal Batas yang Diduga Dihancurkan Malaysia
Kamis, 13 Oktober 2011 | 17:26

Ilustrasi: Batas RI-MalaysiaIlustrasi: Batas RI-Malaysia

[SAMBAS] Kementerian Pertahanan RI kemarin menyatakan, tidak ada wilayah Indonesia yang dicaplok Malaysia di perbatasan kedua negara. Namun kenyataannya di lapangan berbeda. Warga Dusun Camar Bulan, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat,  justru menemukan bongkahan semen yang mirip patok tapal batas kedua negara Indonesia – Malaysia yang sudah hancur.

“Kalau bongkahan semen ukuran satu meter kali satu meter ini memang benar patok tapal batas yang diduga A104 yang dihancurkan oleh pihak Malaysia maka benar Indonesia telah kehilangan kawasan Camar Bulan sekitar 1.499 hektare wilayahnya yang kini masuk wilayah Malaysia,” kata Rus salah seorang warga Camar Bulan, Kamis (13/10).

Ia menduga, patok tapal batas itu sengaja dihancurkan oleh pihak Malaysia agar dengan mudah menggeser patok tapal batas lainnya sehingga kini Indonesia telah kehilangan wilayah Camar Bulan di Kecamatan Paloh, seluas 1.499 hektare.

Menurut dia, patok tapal batas negara tersebut ditemukan secara tidak sengaja pada saat maraknya penebangan hutan secara liar di kawasan Temajuk. Temuan tersebut sudah dilaporkan ke pihak TNI dan pemerintah tetapi tidak ditanggapi hingga sekarang.

Dari pantauan ANTARA di lapangan, untuk mencapai bongkahan semen itu membutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan atau berjarak tiga kilometer lebih masuk ke hutan belantara kawasan Camar Bulan, tepatnya di bukit Samunsam. Sehingga banyak warga yang tidak mengetahui keberadaan temuan bongkahan semen yang diduga patok tapal batas negara tersebut.

“Menurut keterangan warga yang menemukannya, pada saat ditemukan bongkahan semen itu sudah tidak utuh lagi, dan tertancap besi cor yang diduga sebagai pengikat semen tersebut,” ujar Rus lagi.

Bongkahan semen itu berada tepat di “watershed” atau salah satu isi perjanjian batas negara antara Indonesia dan Malaysia di Kalimantan. Berdasarkan pada watershed (mata air), artinya, pemisahan aliran sungai atau gunung, deretan gunung, batas alam dalam bentuk punggung pegunungan sebagai tanda pemisah.

“Kami inginkan temuan ini ditindaklanjuti untuk membuka tabir yang selama ini menjadi perdebatan kedua negara terkait kesepakatan penetapan patok tapal batas kedua negara,” ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Kalbar, Cornelis menyatakan sebenarnya pihak Malaysia tidak mencaplok kawasan Camar Bulan, namun wilayah seluas 1.499 hektare yang kini masuk Sarawak, Malaysia, diserahkan oleh tim batas Indonesia sewaktu berunding tahun 1976 dan 1978 ke negara jiran tersebut.

“Mereka (Malaysia) diberi oleh tim batas Indonesia yang berunding waktu itu. Itu karena mereka tidak teliti asal usul kita (Kalbar),” kata Cornelis menegaskan.

Ia mengaku tetap akan menuntut kalau wilayah 1.499 hektare tersebut tetap masuk Sarawak.

Gubernur Cornelis menegaskan siap mengajukan “international class action” kalau pemerintah pusat tidak mampu menangani permasalahan Camar Bulan.

“Tetapi kita lihat dahulu, asal pemerintah mau berunding dengan baik, mau memundurkan, kita serahkan ke pusat (penyelesaiannya),” katanya.

Ia melanjutkan, secara umum dia tidak bermaksud ingin meributkan tentang hal itu. “Sebaiknya rundingkan kembali, mumpung masih ada waktu karena hasil pertemuan tahun 1978 belum final,” katanya.

Ia sebelumnya menyatakan secara tegas bahwa Camar Bulan masuk dalam wilayah Indonesia sesuai Traktat London tahun 1824. Traktat London yakni kesepakatan bersama Kerajaan Belanda dan Inggris terkait pembagian wilayah administrasi tanah jajahan masing-masing.

Traktat London bertujuan untuk menghindari konflik yang bermunculan seiring perjanjian sebelumnya, Britania – Belanda tahun 1814. [Ant/L-9]

Warga Camar Bulan

RepublikaRepublika


Wah ! Di Camar Bulan, Warga pun Menggunakan Operator Ponsel dari Malaysia

Konten Terkait

  • Seorang warga memegang patok tapal batas di Dusun Camar Bulan, Desa Temajok, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalbar. Patok semen tipe D nomor A104 itu merupakan hasil kesepakatan Indonesia-Malaysia 1978.Perbesar FotoSeorang warga memegang patok tapal batas di Dusun Camar Bulan, Desa Temajok, Kecamatan …

REPUBLIKA.CO.ID, SAMBAS — Kepala Desa Temajuk, Camar Bulan, Mulyadi, mengakui warga di wilayahnya sangat tergantung dengan Pasar Malanau, Serawak, Malaysia. Pendapat itu dikuatkan para warga kepada Republika, akhir pekan lalu, yang berkunjung ke Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, yang menyatakan, ketergantungan pasokan makanan warga dari negeri jiran cukup tinggi.

Dikatakan Mulyadi, beras yang dimakan warga, sekitar 80 persen dibeli dari Pasar Malanau. Telur, tepung, gula, minyak goreng, dan beragam bumbu dapur, serta kebutuhan sembako lainnya 100 persen tergantung pada Malaysia.

Sinyal komunikasi warga Temajuk dapat dari operator perusahaan Malaysia, serta hasil tangkapan laut warga dijual ke Malaysia. Karena jika dijual ke Kecamatan Paloh atau Sambas, harga jualnya tidak seberapa dan menghabiskan biaya transportasi sangat besar.

Pihaknya khawatir persoalan kabar pencaplokan wilayah di Dusun Tanjung Duta dan Camar Bulan oleh Malaysia, mengganggu distribusi pasokan makanan warga. Karena itu, ia berharap kasus itu tak lagi dibesar-besarkan sebab warga Temajuk yang dirugikan.

Pasalnya akses ke Malaysia semakin diperketat dan jika membeli barang dibatasi. “Intinya tidak sebebas dulu,” kata Mulyadi.

Transaksi Ringgit

RepublikaRepublika
Warga Perbatasan Transaksi Pakai Ringgit

Konten Terkait

  • Seorang warga memegang patok tapal batas di Dusun Camar Bulan, Desa Temajok, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalbar. Patok semen tipe D nomor A104 itu merupakan hasil kesepakatan Indonesia-Malaysia 1978.Perbesar FotoSeorang warga memegang patok tapal batas di Dusun Camar Bulan, Desa Temajok, Kecamatan …

REPUBLIKA.CO.ID,SAMBAS – Warga Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, yang menjadi garda terdepan dan penghuni kawasan perbatasan dengan Malaysia banyak menyimpan mata uang ringgit Malaysia. Mereka mengaku lebih mudah bertransaksi dengan ringgit daripada rupiah.

Rusmin, salah satu warga Temajuk, mengakui warga di tempatnya yang bekerja sebagai pedagang lebih menyimpan mata uang ringgit. Hal itu lantaran lebih sering berbelanja ke Pasar Malanau, Serawak, daripada ke Sambas, apalagi ke Pontianak.

Ia pun membandingkan. Untuk ke Malanau, warga hanya butuh perjalanan sejam menggunakan speedboat bermesin. Adapun ketika menggunakan perahu biasa, perjalanan bisa bertambah 30 menit melewati garis pantai Laut Natuna.

Jika memilih bertransaksi ke Sambas, warga harus menyusuri garis pantai yang menjadi akses menuju Kecamatan Paloh sepanjang 40 kilometer. Jarak itu ditempuh dengan waktu hampir dua jam kendaraan. Setelah itu, warga harus menyeberangi Sungai Ceremai selebar satu kilometer menggunakan perahu kayu.

Ketika sampai di Kecamatan Paloh, mereka masih menyeberangi sungai menuju Tanjung Harapan menggunakan kapal fery. Kemudian, mereka butuh perjalanan 45 menit menuju pusat administrasi Kabupaten Sambas dengan jalan sebagian rusak dan separuhnya beraspal.

“Inilah mengapa warga lebih senang bertransaksi di Pasar Malanau,” ungkap Rusmi.

Ia menyebut sebagian besar pasokan bahan kebutuhan pokok warga didapat dari negeri tetangga. Beras, telur, gula, minyak goreng, daging ayam, bawang, dan berbabagi macam bumbu dapur lainnya didapat dari Pasar Malanau.

Hanya ikan yang bisa dipenuhi warga sendiri dari hasil menangkap ikan di laut. Karena itu, mudah dijumpai di desa warga menyimpan dan bertransaksi tidak dengan rupiah. “Warga pakai ringgit sebab ongkos tak besar, tidak ada resiko perjalanan beli ke Malaysia. Kalau ke Sambas, jauh dan jalanannya banyak hambatan,” katanya.

“Mencaplok”

TEMPOinteraktifTempo – Sel, 18 Okt 2011
Ternyata Justru Indonesia yang “Mencaplok” Wilayah Malaysia

TEMPO Interaktif, Jakarta – Ketua Tim Panitia Kerja Perbatasan Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi pemerintahan dalam negeri, Hakam Naja, membantah adanya pergeseran patok batas wilayah Indonesia-Malaysia. Berdasarkan penelusuran tim di Camar Bulan, Sambas, Kalimantan Barat, akhir pekan lalu, memang ditemukan bongkahan patok A-104 yang rusak berada 3 kilometer di wilayah Malaysia.

Namun, sesuai dengan GPS (Global Positioning System), patok tetap berada di koordinat yang sama dengan peta 1978. “Artinya, justru kita yang mencaplok wilayah Malaysia,” kata Hakam kemarin. Sebelumnya, Komisi I Dewan mengatakan telah menerima informasi intelijen ihwal terjadinya pergeseran patok batas wilayah Indonesia-Malaysia sejauh 3 kilometer di Camar Bulan. Indonesia pun berpotensi kehilangan wilayah sebesar 1.500 hektare. Menurut dia, sejumlah anggota Polisi Diraja Malaysia dikabarkan berpatroli di wilayah ini.

Selain itu, di Tanjung Datu, Malaysia telah membangun pusat konservasi penyu. Mereka juga membangun taman nasional yang dijadikan tujuan wisata. Malaysia juga dikabarkan telah membangun dua mercusuar di wilayah ini. Pencaplokan ini diduga sudah terjadi sejak lima tahun lalu.

Senada dengan Hakam, Menteri Pertahanan Malaysia, Dato Seri Ahmad Zahid Hamidi, memastikan tidak ada perubahan tapal batas. Menurut dia, selama ini dalam menjaga perbatasan Malaysia di Indonesia, Malaysia menggunakan kesepakatan yang sama, yaitu memorandum of understanding (MoU) tahun 1978. Dari 1.600 kilometer panjang wilayah perbatasan yang ada di Kalimantan, Malaysia terus melakukan pengawasan gabungan. “Kami juga berpatroli bersama tentara Indonesia,” kata Ahmad Zahid di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, kemarin

Setiap tahun, kata Dato Seri Ahmad Zahid, Malaysia selalu aktif dalam pertemuan Joint Border Committee yang membahas perbatasan. Nota kesepahaman itu selalu dikuatkan melalui pertemuan di antara kedua negara. “Saya tidak mau menegakkan benang basah. Kita harus menciptakan kembali keheningan antara Indonesia dan Malaysia,” katanya.

Selain itu, ia meminta agar urusan perbatasan tidak dipolitisasi oleh siapa saja. “Ini urusan profesional,” katanya. Ia menghendaki hubungan Indonesia-Malaysia diprioritaskan dan tidak dicampur dengan kepartaian. “Saya tidak mau mengurusi politik,” ujarnya.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa sebelumnya mengatakan soal perbatasan mengacu pada konvensi antara Belanda dan Inggris. Konvensi ini dilakukan tiga kali, yakni pada 1891, 1915, dan 1928. Ketiga persetujuan inilah yang mengatur soal perbatasan setelah kemerdekaan. Hasil tiga kali konvensi inilah yang kemudian dijadikan rujukan MoU tahun 1978. Jadi, delimitasi tidak ada masalah. “Dari dulu tidak ada permasalahan perbatasan di wilayah Camar Bulan ini,” kata dia.

FEBRIYAN | IRA GUSLINA | SUNUDYANTORO


0 Responses to “Perbatasan : Pantai Camar Bulan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,310,759 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers

%d bloggers like this: