10
Oct
11

Perbatasan : Mengenaskan, Perbatasan RI-Timor Leste

Senin, 03/10/2011 15:52 WIB

Merasa Satu Saudara

M. Rizal – detikNews
 Masih Merasa Satu Saudara, Melenggang Bebas Saja 


Belu – “Avrigado..avrigado.. Silakan masuk dan duduk,” ajak polisi Timor Leste. Polisi berseragam loreng abu-abu biru itu tampak ramah. Mereka menyalami semua rombongan dari Indonesia yang datang ke Pos Keamanan Perbatasan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL).

Pos ditandai dengan papan nama. Di papan nama itu tertulis berbahasa Portugis atau Puorto “Bemvindo Para Posto de Unidade de Policia Fronteira em Has Naruk de Cowa-Balibo-Bobonaro.” Artinya, “Selamat datang di Pos UPF Has Naruk, Cowa, Balibo, Bobonaro.”

Para tamu yang datang adalah rombongan wartawan media massa Indonesia termasuk detik+. Rombongan diantar 4 anggota TNI yang tergabung dalam Satgas Pamtas RI-Republik Demokratik Timor Leste yang bertugas di Pos Solare, Desa Tulakadi, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Polisi Timor Leste lalu mempersilakan rombongan untuk duduk di sebuah gubuk tradisional khas Timor Leste yang terbuat dari kayu dan ditutupi atap daun lontar. Gubuk ini merupakan tempat pertemuan tradisional masyarakat di Pulau Timor.

Di samping gubuk itu berdiri bangunan baru berukuran sekitar 10 x 10 meter yang dijadikan Pos Penjaga Keamanan. Di depan bangunan berkibar-kibar bendera negara Timor Leste, yang diadopsi dari bendera pergerakan Frente Revolucionare de Timor Leste Independente (Fretilin). 20 Meter di depannya berdiri Pos Tinjau setinggi 10-15 meter. Dari pos tinjau ini terlihat jelas Pos Solare, Satgas Pamtas RI-RDTL, Yonif 743/PYS.

Polisi Timor Leste awalnya nampak kaku dan curiga menerima para tamu yang datang. Namun setelah diajak bicara anggota TNI, mereka mulai ramah dan mau diajak mengobrol dengan santai. Bahkan, kedua polisi ini pun menyuguhi ‘tamu tak diundang’ ini dengan teh manis dan pisang goreng serta buah pisang yang baru dipetik di belakang halaman posnya.

“Silakan diminum, cuma ini yang kita punya. Karena di sini jauh ke mana-mana,” ucap Kopral Kepala Pasteur dengan bahasa Indonesia.

Secangkir teh hangat dan pisang, ternyata cepat menghilangkan lelah dan pegal setelah menembus belasan kilometer hutan dan perbukitan dengan pepohonan kering. Apalagi di kedua pasukan penjaga perbatasan itu dan sejumlah wartawan mulai terlihat obrolan santai. Suasana menjadi cair.

“Kita memang sering datang ke sini, atau mereka datang ke pos kita. Apalagi kalau mereka ini kekurangan logistik, baru mereka datang ke pos meminta bantuan untuk membelikan makanan di pasar di Dusun Solare,” kata Komandan Pos Salore Sersan Satu (Sertu) Putu Sukayadnya kepada detik+.

Setiap harinya, TNI menerjunkan satu regu atau antara 10-15 personel di Pos Perbatasan Timor Leste dengan sistem rolling satu tahun. Sementara, pos jaga Timor Leste setiap hari hanya dijaga 5 orang petugas dengan sistem rolling 15 hari diganti.

“Tapi nggak tahu kok mereka kadang hanya 2-3 yang terlihat berjaga. Kadang mereka suka susah diajak patroli bersama. Kalau sudah begitu, kita yang maksa jemput mereka untuk patroli bareng,” ujar Putu sambil tertawa.

Sersan Bizzaro, anggota polisi Timor Leste di Pos Has Naruk, menjelaskan penjaga hanya dua personel karena ada pergantian waktu dengan rekannya yang lain. Sementara komandannya memang tidak berada di pos ini, tapi di markasnya di Cowa.

“Kita selalu rolling. Kita selalu jaga sama TNI di perbatasan sini. Ya kita juga suka ke sana. Memang di sini ada pasar baru, tapi tidak tahu, tidak pernah ditempati,” katanya.

Bizzaro mengaku, keakraban rekan-rekannya dengan anggota TNI tidak aneh, apalagi dengan masyarakat NTT yang ada di perbatasan. Mereka merasa tetap bersaudara dengan Indonesia meskipun sudah berpisah sebagai negara.

“Kita ini satu daratan, daratan Timor. Kita cuma dipisahkan karena persoalan politik, toh. Jadi apalagi, ya minum teh dan makan pisang ini saja bareng-bareng,” ujar Bizzaro ditimpali tawa semua orang yang hadir di situ.

Setelah sekitar satu jam lebih ngobrol, serta bernarsis ria alias berfoto dengan kedua polisi Timor Leste dan anggota TNI, rombongan pun kembali ke Pos Solare. “Selamat bertugas kawan, sampai berjumpa lagi. Maaf kalau hidangan tak bagus,” ucap Bizzaro dan Pasteur kepada rombongan.

Ia lantas melambaikan tangan dan mengantar ke tapal batas, sebuah sungai yang membatasi kedua wiilayah di tengah hutan itu.

Tidak hanya pasukan TNI yang bisa dengan gampang mendatangi pos polisi perbatasan Timor Leste. Di Pos Pintu Lintas Batas (PLB) Motaain, Kabupate Belu pun, beberapa anggota polisi Timor Leste terlihat begitu bebas masuk wilayah Indonesia. Misalnya seperti yang dilakukan Da Silva.

Dengan kendaraan motor trail merek Honsyung, Da Silva masuk dari arah Timor Leste mendekati pos penjagaan Satgas Pamtas RI-RDTL. Ia terlibat pembicaraan dengan anggota TNI yang sedang berjaga. Tidak lama kemudian seorang warga Motaain datang membawa tentengan tas plastik warna hitam yang berisi makanan dan minuman.

Da Silva sendiri hanya berdiri di atas motornya tepat di atas garis berwarna kuning di atas jembatan yang tidak jauh di pos penjagaan Motaain. Sebelum membalikan motornya, Da Silva sempat memberikan hormat kepada anggota TNI.

“Saya habis membeli makanan di sini. Di sana tidak ada, sudah habis. Ke sini lebih dekat,” ujarnya ketika sejumlah wartawan Indonesia menanyakan kenapa dirinya begitu bebas keluar masuk perbatasan ini.

Setelah memberikan salam komando kepada sejumlah wartawan ia pun kembali bergegas dengan motor trailnya itu ke poskonya yang berjarak sekitar 200-300 meter itu.

Sementara itu Komandan Pos Pamtas RI-RDTL di PLB Motaain, Letnan Satu Inf Agus Kurniawan memaklumi tingkah Da Silva dan polisi Timor Leste lainnya. Polisi Timor Leste lebih memilih membeli makanan di wilayah Indonesia karena di negaranya makanan mahal dan jumlahnya pun terbatas.

“Di sana juga mereka kondisi ekonominya susah. Mereka memang menggunakan uang dollar, barang-barang di sana mahal, tapi tidak punya barang apapun. Ya di sini kan serba ada dan murah,” terang Agus.

Hingga saat ini memang belum ada konflik menonjol antar petugas keamanan kedua negara dan warganya. Hal ini salah satunya disebabkan masyarakat Pulau Timor atau Soe memiliki kekerabatan dan persaudaraan yang tinggi. Sejauh ini konflik yang terjadi bukan konflik yang besar. Konflik yang ada antara lain akibat persoalan keluarga, kasus sengketa hewan ternak yang melintas ke batas negara tetangga.

“Kalau sudah soal ini biasanya suka terjadi konflik atau pembunuhan. Nah, kalau sudah begini biasanya diselesaikan secara adat,” jelas Agus.

Penyelesaian adat yakni dengan cara bayar ‘belis’, semacam ganti rugi, baik berupa sebidang tanah, hewan ternak ataupun sope (minuman arak tradisional Timor). Kebanyakan warga di perbatasan merasa mereka hanya dipisahkan secara historis oleh persoalan politik semata, sehingga di antara mereka masih menilai warga di NTT dan Timor Leste masih satu saudara.

“Tapi ini sekarang juga menimbulkan masalah, ya itu soal pelintas batas, karena mereka kadang tidak tahu soal ini,” pungkas Agus.

(zal/iy)

Senin, 03/10/2011 15:34 WIB

Kopral Jadi Hakim

M. Rizal – detikNews


Belu – Bertugas di perbatasan Timor Leste, personel TNI harus siap sewaktu-waktu menjadi apa saja. Mereka tidak hanya bertugas menjadi penjaga perbatasan, tapi juga harus bisa menjadi penyuluh pertanian, guru bahkan juga menjadi seorang hakim.

Masyarakat di sepanjang wilayah perbatasan RI-Timor Leste sering terlibat perkelahian atau konflik. Bila tidak diselesaikan bisa-bisa konflik ini berujung menjadi persoalan nasional atau bahkan internasional.

Hanya saja, banyak persoalan-persoalan konflik baik menyangkut persoalan keluarga, antar warga kampung yang harus diselesaikan melalui hukum adat. Tak jarang, penduduk meminta petugas penjaga perbatasan seperti pasukan TNI untuk menjadi penengahnya. Warga memilih mendatangi pos-pos TNI karena sangat jauh bila harus kantor kelurahan, kantor polisi apalagi pengadilan.

“Bayangkan saja, Mas. Di pos kita yang pangkatnya Kopral selain harus menjaga garis batas, mengamankan patok perbatasan, ya harus mampu menyelesaikan persoalan yang terjadi di sana. Bahkan, harus menjadi seorang hakim, menengahi persengketaan yang timbul di antara warga itu,” ungkap Perwira Operasi Satgas Pamtas RI-RDTL Letnan Satu Infanteri Ferry Perbawa kepada detik+.

Biasanya kalau ada konflik, anggota TNI yang diminta menyelesaikan persoalan, juga meminta para tokoh kampung dan kepala desa serta keluarga yang bersengketa berkumpul bersama. Konflik biasanya mulai dari hal sepele seperti soal utang piutang, hewan ternak yang menyeberang ke pekarangan tetangga dan persoalan anak.

Sidang disaksikan Ketua Adat Kampung, Kepala Desa, dan dua kelompok yang sengketa. Personel TNI yang bertugas sebagai ‘hakim’ lantas menanyakan apa persoalannya. Lalu menerangkan mana yang salah mana yang benar. Kalau sudah paham lalu ada saling pengertian dan kadang juga ada yang harus bayar denda atau sebagainya.

Sesuai adat di wilayah NTT termasuk di wilayah perbatasan, denda adat yang harus dibayarkan tergantung kesalahannya, apakah berat, sedang atau ringan. Biasanya denda berupa beberapa hewan ternak seperti sapi, kerbau atau sapi, sejumlah uang dan juga sopi (minuman khas NTT).

“Nah, kadang kita sendiri yang pendatang bingung dengan adat masyarakat di sini. Mereka mengumpulkan harta itu ya untuk urusan adat, bukan berupaya mencerdaskan anak-cucunya dengan pendidikan atau pengembangan usaha,” terang Ferry sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala.

Memang tidak sedikit kaum pendatang melihat adat istiadat justru membuat warga perbatasan menjadi miskin. Warga sebenarnya memiliki kekayaan yang berupa hewan peliharaan. Tapi hewan peliharaan ini biasanya habis bukan untuk biaya pendidikan ataupun modal usaha. Sering kali semua habis untuk kepentingan adat istiadat seperti pernikahan, prosesi upacara bila ada sanak keluarga yang meninggal dunia, dan termasuk berjudi.

Untuk pernikahan, misalnya, masyarakat sekitar Pulau Timor yang mendapatkan pasangan wanita asal Rote (Pulau Rote yang berhadapan dengan Kupang), harus membayar ‘belis’ semacam mahar atau ganti rugi. Belisnya sangat besar.

“Tujuh sapi, uang Rp 7 juta, 7 babi, 7 krat Sopi (semacam minuman keras tradisional setempat), itu yang harus dibayar,” jelas Jessy.

Oleh karena itu, kehadiran Satgas Pamtas RI-RDTL selain menjaga keamanan wilayah, juga tugasnya memberikan sosialisasi banyak hal kepada masyarakat. Sosialisasi mulai dari mengajarkan lagu-lagu perjuangan, memberi tahu penyelundupan itu melanggar hukum juga sampai mengajari mereka bercocok tanam yang baik.

Komandan Kompi III Satgas Pamtas, Letnan Satu Infanteri SM Rori menuturkan, sejak tahun 1975 ketika Timor Timur menjadi wilayah Indonesia, sampai mereka pisah tahun 1999, lalu sampai sekarang, di wilayah perbatasan tidak pernah dilakukan upacara HUT RI setiap tanggal 17 Agustusan. “Baru tahun 2011 kemarin saja sekolah-sekolah kita beri tahu dan melaksanakan perayaan HUT RI dan mengibarkan Merah Putih,” terang Rori.

Rori mengatakan, biasanya setiap tanggal 17 Agustus hanya perwakilan-perwakilan kepala kampung atau adat saja yang diajak berkumpul di kantor kecamatan untuk merayakannya. Alexander Turi, warga Silawan juga mengakui hal itu, karena persoalan begitu jauhnya untuk mencapai kantor kecamatan jarang yang mengikutinya juga.

“Kenapa selama ini sejak tahun 1975 sampai kemarin (2010) kita tidak merayakan HUT RI setiap 17 Agustus, penduduk selalu bilang, ‘Ya yang merdeka itu kan hanya Jawa saja’. Tapi baru kemarin kita adakan peringatan HUT RI dengan upacara, perlombaan-perlombaan mulai dari sepakbola sampai permainan lainnya. Hampir semua warga mengikuti upacara ini,” terang Alexander, yang menjadi penjaga SD Katolik Nanaeklot, Silawan, Kabupaten Belu ini.

Dari pantuan detik+, kebanyakan anak-anak sekolah di wilayah perbatasan bahkan tidak begitu mengerti tentang lagu-lagu perjuangan. Bahkan seorang prajurit TNI yang menjadi relawan mengajar di sejumlah sekolah sampai-sampai geleng-geleng kepala.

“Lagu Indonesia Raya saja mereka tidak hapal. Makanya kita pelan-pelan ajari mereka. Ini saudara kita semua. Sekarang alhamdulillah sudah bisa semua, walau kadang sering lupa juga,” kata Sersan Chandra, seorang bintara komunikasi di Kompi III Satgas Pamtas, Yonif 743/PYS ini.

(zal/fay)

Baca Juga
About these ads

0 Responses to “Perbatasan : Mengenaskan, Perbatasan RI-Timor Leste”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 1,998,877 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers

%d bloggers like this: