Menjadi Investor Sejati
Senin, 26 September 2011 | 10:09

Jatuhnya harga saham, berapa pun dalamnya, tidak menggusarkan hati investor sejati. Mereka tahu persis filosofi berinvestasi: membeli pada saat harga turun, menjual pada waktu harga menanjak, dan berhatihati pada saat harga mencapai puncak.
Akan tiba saatnya harga saham yang menurun kembali naik mengikuti kinerja fundamental. Betapapun besarnya pengaruh teknikal, pada akhirnya harga saham bergerak mengikuti kinerja fundamental. Cepat atau lambat, harga saham akan mencerminkan kinerja fundamental.
Membeli saham pada musim bearish market seperti sekarang ini tidak boleh sekaligus. Kita tidak pernah tahu kapan penurunan harga saham mencapai floor price. “Setiap hari kok ‘time to buy’, padahal harga saham masih saja turun,” begitulah gerutu banyak orang. Terhadap pertanyaan klasik itu, ada pula jawaban klasik yang jarang diterapkan pemodal.
Mereka yang sudah makan asam dan garam di pasar modal mengajarkan pentingnya investor menerapkan “dollar cost average”, yakni membeli sedikit demi sedikit pada saat harga saham turun. Jika Anda memiliki dana Rp 200 juta untuk investasi di pasar saham, lakukan pembelian bertahap, entah Rp 5 juta atau Rp 10 juta sehari, ataupun angka lain yang dinilai mantap.
Dengan menerapkan dollar cost average, investor tidak kehilangan peluang untuk terus mengoleksi saham-saham yang terus mengalami penurunan harga. Menjelang titik balik, biasanya ada sinyal tertentu yang bisa dirasakan oleh investor sejati. Pada saat menjelang bottom price, pembelian saham bisa lebih banyak.
Dengan strategi ini, investor sejati bakal meraup keuntungan besar pada saat harga kembali meningkat. Sejarah pasar modal dunia menunjukkan, rekor indeks baru selalu diukir setelah harga saham ambruk. Sebelum harga saham rontok tahun 2008, indeks harga saham gabungan (IHSG) mencapai level tertinggi 2.830 pada 9 Januari 2008. Krisis menghempaskan IHSG ke level 1.111, pada 28 Oktober tahun yang sama. Namun, indeks kemudian terus meningkat dan sempat menyentuh 4.193, 1 Agustus 2011. Jauh melampaui rekor sebelum krisis.
Pasar modal dunia saat ini memang sedang dilanda bearish market akibat krisis keuangan di AS dan Eropa. Jika krisis ekonomi tahun 2008 dipicu oleh kebangkrutan perusahaan swasta, krisis saat ini disebabkan oleh kesulitan pemerintah AS dan negara-negara Eropa dalam menjalankan bujet akibat belitan utang. Jepang juga masuk jajaran negara maju yang dibelit utang. Hanya bedanya, masyarakat Jepang memiliki tabungan yang sangat kuat dan utang pemerintah umumnya kepada rakyat Negeri Matahari Terbit itu.
Tingkat utang negara maju saat ini sudah dinilai gawat oleh lembaga rating dan pelaku pasar. Pemerintah negara maju dikhawatirkan tidak mampu membayar bunga dan cicilan utang. Dalam pada itu, pada saat yang sama, pemerintah negara-negara maju harus menambah belanja untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menurunkan angka pengangguran.
Ibarat makan buah simalakama. Pemerintah AS dan sejumlah negara Eropa harus menentukan dua pilihan yang sama sulitnya. Tidak menambah utang baru sama halnya dengan tidak memberikan stimulus ekonomi. Namun, bila menerbitkan utang baru, pemerintah berhadapan dengan bahaya default atau gagal bayar. Paling tidak, pasar dengan dukungan lembaga rating akan merespons negatif, bahwa negara maju kemungkinan bangkrut akibat ketidakmampuan membayar utang.
Dalam situasi seperti ini, kita yakin, kebangkrutan tidak mungkin terjadi kendati ada tambahan utang baru. Negara yang didera utang akan meningkatkan utang dengan terukur. Yang agak rumit adalah negara-negera Eropa. Karena negara yang tidak mengalami masalah bujet seperti Jerman harus mendukung sejumlah negara bermasalah yang biasa disebut PIIGS (Portugal, Italia, Irlandia, Yunani, dan Spanyol). Tapi, untuk mencegah dampak yang lebih buruk, negara- negara itu akan mendukung penyelamatan negara anggota Masyarakat Eropa guna mencegah efek berantai.
Karena itu, pemulihan harga saham hanya soal waktu. Ekomomi yang dilanda krisis akan kembali berjalan normal. Penurunan harga saham akan mencapai titik balik. Mereka yang saat ini mulai “shopping” saham dengan menerapkan dollar cost average akan meraup untung dalam waktu kurang dari setahun.
Pemodal yang belum berani membeli saham, reksa dana saham bisa menjadi alternatif. Dengan membeli reksa dana saham –apalagi unit penyertaan yang portofolionya terdiri atas bluechips—, peluang gain akan sangat besar. Saham-saham bluechips akan kembali bergerak naik sesuai kinerja fundamentalnya.
Dalam situasi seperti sekarang, belajarlah dari Warren Buffett, si superinvestor. Ia membeli saham berfundamental kuat dan berprospek cerah untuk jangka panjang. Penurunan harga saham seperti saat ini bukanlah periode menakutkan, melainkan peluang emas untuk mengoleksi saham bluechips, saham berfundamental bagus dan saham yang berprospek cerah. Investor sejati tidak risau dengan rontoknya harga saham. (*)

0 Responses to “Keuangan : Menjadi Investor Sejati”