26
Aug
11

Kepemimpinan : QS Lingkungan Hidup

QS Lingkungan Hidup

Peduli Memakmurkan Bumi (Mamuyu Hayuning Bawono)

QS (11) : 61

Dia menciptakan kami dari tanah dan menjadikan kamu memakmurkannya

QS (26) : 183

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan

QS (7) : 56

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memper-baikinya

Peduli Kebumian

QS (41) : 9-10,

Katakanlah : “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adalah sekutu2 bagi-Nya ? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam” Dan dia menciptakan di bumi itu gunung2 yang kokoh diatasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan2 (penghuni2) nya dalam empat masa sesuai bagi segala yang memerlukannya.

QS (78) : 6-7,

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan ? Dan gunung2 sebagai pasak ?

QS (31) : 10,

Dan Dia meletakkan gunung2 di permukaan bumi supaya bumi itu tidak menggoncangkan kamu

QS (79) : 29-30,

Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya

QS (27) : 88

Dan kamu lihat gunung2 itu, kamu sangka dia tetap ditempatnya, padahal dia (gunung2 itu) berjalan seperti jalannya mendung.

Peduli Tata Air Bumi

QS (24) : 43,

Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian Ia menggabungkan diantara awan2 itu, kemudian Ia menjadikannya ber-tumpuk2, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah2-nya, dan Allah juga menurunkan (butiran2) es dari langit, yaitu dari gumpalan2 awan seperti gunung2, maka ditimpakan-Nya (butir2-an) es itu kepada siapa yang dikehendakiNya dan dipalingkan dari siapa yang dikehendakiNya. Kilauan kilat awan itu hampir2 menghilangkan penglihatanmu.

QS (39) : 21,

Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah menurunkan air dari langit, kemudian dimasukkan-Nya di sumber2 dalam bumi kemudian ditumbuhkanNya dengan air tanaman yang ber-macam2 warnyanya

QS (56) : 68-69,

Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya ?

QS (25) : 53,

Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir berdampingan, yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.

QS (55) :19-20,

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing2

QS (35) : 12,

Dan tiada sama dua lautan. Yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dari masing2 lautan itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu pakai, dan pada masing2-nya kamu lihat kapal2 berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur

QS (42) : 32

Dan di antara tanda2 kekuasaan-Nya ialah kapal2 yang berlayar di laut seperti gunung2

Peduli Atmosfeer Bumi

QS (6) : 125

Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, se-olah2 ia sedang mendaki langit

QS (21) : 32

Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda2 (kekuasaan) Allah yang terdapat padanya

QS (22) : 65

Dan Ia menahan benda2 langit agar tidak menimpa bumi kecuali dengan izin-Nya

QS (56) : 4-6

Apabila bumi digoncangkan se-dahsyat2-nya dan gunung2 dihancurkan selumat-nya, maka jadilah ia dengan yang beterbangan

QS (14) : 48

Pada hari itu bumi diganti dengan yang lain, begitu pula langit; dan mereka semua menghadapi Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa

QS (69) : 13-16

Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan bumi serta gunung2 diangkat lalu dibenturkan mereka sekali bentur. Maka datanglah kejadian yang dahsyat, dan terbelahlah langit karena pada hari itu langit menjadi lemah

QS (82) : 1-5

Apabila langit terbelah dan apabila komet2 berjatuhan, dan apabila samudera menjadi meluap, dan apabila yang terpendam terbongkar ke luar, maka tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah didahulukannya dan apa yang dilalaikannya

QS (99) : 1-3

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat) dan bumi mengeluarkan bebannya yang berat dikandungnya) dan manusia bertanya : Mengapa bumi (jadi begini) ?

QS (75) : 6-12

Ia bertanya : Bilakah hari kiamat itu ? Maka apabila mata terbelalak (ketakutan) dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata : Kemana tempat lari. Se-kali2 tidak ! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.

QS (39) : 68-69

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang berada di langit dan di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba2 bangkitlah mereka menunggu (putusan masing2). Dan terang benderanglah bumi dengan cahaya Tuhannya, dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing2) dan didatangkanlah para Nabi dan saksi2, dan diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan

Peduli Tanah

QS (23) : 18

Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran tertentu

QS (13) : 4

Dan di bumi terdapat bidang2 tanah yang berlainan meskipun berdampingan, dan ada kebun2 anggur, dan ladang2 yang ditebari biji2 dan pohon palma yang tumbuh dari akar tunggang atau berlainan, diairi dengan air yang sama tetapi sebagian Kami jadikan lebih untuk dimakan dari yang lain

Jakarta Selatan, 25 Agustus 2011

Pustaka Majelis KAUMAN

Pandji R Hadinoto / HP : 0817 983 4545

Browse posts similar to yours:

Bab 7
Ayat-ayat al-Qur’an tentang Kelestarian Lingkungan

A. Surat Ar Rum [30] ayat 41-42 tentang Larangan Membuat Kerusakan di Muka Bumi

Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah : Adakanlah perjalanandimuka bumi dan perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS Ar Rum : 41-42)
Isi kandungan
Selain untuk beribadah kepada Allah, manusia juga diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi. Sebagai khalifah, manusia memiliki tugas untuk memanfaatkan, mengelola dan memelihara alam semesta. Allah telah menciptakan alam semesta untuk kepentingan dan kesejahteraan semua makhluk-Nya, khususnya manusia.
Keserakahan dan perlakuan buruk sebagian manusia terhadap alam dapat menyengsarakan manusia itu sendiri. Tanah longsor, banjir, kekeringan, tata ruang daerah yang tidak karuan dan udara serta air yang tercemar adalah buah kelakuan manusia yang justru merugikan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Islam mengajarkan agar umat manusia senantiasa menjaga lingkungan. Hal ini seringkali tercermin dalam beberapa pelaksanaan ibadah, seperti ketika menunaikan ibadah haji. Dalam haji, umat Islam dilarang menebang pohon-pohon dan membunuh binatang. Apabila larangan itu dilanggar maka ia berdosa dan diharuskan membayar denda (dam). Lebih dari itu Allah SWT melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi
Tentang memelihara dan melestarikan lingkungan hidup, banyak upaya yang bisa dilakukan, misalnya rehabilitasi SDA berupa hutan, tanah dan air yang rusak perlu ditingkatkan lagi. Dalam lingkungan ini program penyelamatan hutan, tanah dan air perlu dilanjutkan dan disempurnakan. Pendayagunaan daerah pantai, wilayah laut dan kawasan udara perlu dilanjutkan dan makin ditingkatkan tanpa merusak mutu dan kelestarian lingkungan hidup.
B. Surah Al A’raf [7] Ayat 56-58 tentang Peduli Lingkungan

Artinya : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahma Nya (hujan) hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu. Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami)bagi orang-orang yang bersyukur.” (QS Al A’raf : 56-58)
Isi Kandungan
Bumi sebagai tempat tinggal dan tempat hidup manusia dan makhluk Allah lainnya sudah dijadikan Allah dengan penuh rahmat-Nya. Gunung-gunung, lembah-lembah, sungai-sungai, lautan, daratan dan lain-lain semua itu diciptakan Allah untuk diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh manusia, bukan sebaliknya dirusak dan dibinasakan
Hanya saja ada sebagian kaum yang berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka tidak hanya merusak sesuatu yang berupa materi atau benda, melainkan juga berupa sikap, perbuatan tercela atau maksiat serta perbuatan jahiliyah lainnya. Akan tetapi, untuk menutupi keburukan tersebut sering kali mereka menganggap diri mereka sebagai kaum yang melakukan perbaikan di muka bumi, padahal justru merekalah yang berbuat kerusakan di muka bumi
Allah SWT melarang umat manusia berbuat kerusakan dimuka bumi karena Dia telah menjadikan manusia sebagai khalifahnya. Larangan berbuat kerusakan ini mencakup semua bidang, termasuk dalam hal muamalah, seperti mengganggu penghidupan dan sumber-sumber penghidupan orang lain (lihat QS Al Qasas : 4).
Allah menegasakan bahwa salah satu karunia besar yang dilimpahkan kepada hamba-Nya ialah Dia menggerakkan angin sebagai tanda kedatangan rahmat-Nya. Angin yang membawa awan tebal, dihalau ke negeri yang kering dan telah rusak tanamannya karena tidak ada air, sumur yang menjadi kering karena tidak ada hujan, dan kepada penduduk yang menderita lapar dan haus. Lalu Dia menurunkan hujan yang lebat di negeri itu sehingga negeri yang hampir mati tersebut menjadi subur kembali dan penuh berisi air. Dengan demikian, Dia telah menghidupkan penduduk tersebut dengan penuh kecukupan dan hasil tanaman-tanaman yang berlimpah ruah.

C. Surat Sad [38] Ayat 27 tentang Perbedaan Amalan Orang Beriman dengan Orang Kafir

Artinya : “Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS Sad : 27 )
Isi kandungan
Allah SWT menjelaskan bahwa dia menjadikan langit, bumi dan makhluk apa saja yang berada diantaranya tidak sia-sia. Langit dengan segala bintang yang menghiasi, matahari yang memancarkan sinarnya di waktu siang, dan bulan yang menampakkan bentuknya yang berubah-ubah dari malam kemalam serta bumi tempat tinggal manusia, baik yang tampak dipermukaannya maupun yang tersimpan didalamnya, sangat besar artinya bagi kehidupan manusia. Kesemuanya itu diciptakan Allah atas kekuasaan dan kehendak-Nya sebagai rahmat yang tak ternilai harganya.
Allah memberikan pertanyaan pada manusia. Apakah sama orang yang beriman dan beramal saleh dengan orang yang berbuat kerusakan di muka bumi dan juga apakah sama antara orang yang bertakwa dengan orang yang berbuat maksiat? Allah SWT menjelaskan bahwa diantara kebijakan Allah ialah tidak akan menganggap sama para hamba-Nya yang melakukan kebaikan dengan orang-orang yang terjerumus di lembah kenistaan. Allah SWT menjelaskan bahwa tidak patutlah bagi zat-Nya dengan segala keagungan-Nya, menganggap sama antara hamba-hamba-Nya yang beriman dan melakukan kebaikan dengan orang-orang yang mengingkari keesaan-Nya lagi memperturutkan hawa nafsu.
Mereka ini tidak mau mengikuti keesaan Allah, kebenaran wahyu, terjadinya hari kebangkitan dan hari pembalasan. Oleh karena itu, mereka jauh dari rahmat Allah sebagai akibat dari melanggar larangan-larangan-Nya. Mereka tidak meyakini bahwa mereka akan dibangkitkan kembali dari dalam kuburnya dan akan dihimpun dipadang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sehingga mereka berani zalim terhadap lingkungannya.
Allah menciptakan langit dan bumi dengan sebenar-benarnya hanya untuk kepentingan manusia. Manusia diciptakan-Nya untuk menjadi khalifah di muka bumi ini sehingga wajib untuk menjaga apa yang telah dikaruniakan Allah SWT.

Al-Quran dan As-Sunnah Tentang Lingkungan Hidup

September 19, 2006

Written by dkmfahutan

21 Comments

Pendahuluan
Pendidikan yang baru dan termasuk paling penting pada masa sekarang ialah pendidikan lingkungan. Pendidikan tersebut berkaitan dengan pengetahuan lingkungan di sekitar manusia dan menjaga berbagai unsurnya yang dapat mendatangkan ancaman kehancuran, pencemaran, atau perusakan.

Pendidikan lingkungan telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Abu Darda’ ra. pernah menjelaskan bahwa di tempat belajar yang diasuh oleh Rasulullah SAW telah diajarkan tentang pentingnya bercocok tanam dan menanam pepohonan serta pentingnya usaha mengubah tanah yang tandus menjadi kebun yang subur. Perbuatan tersebut akan mendatangkan pahala yang besar di sisi Allah SWT dan bekerja untuk memakmurkan bumi adalah termasuk ibadah kepada Allah SWT.[1]

Pendidikan lingkungan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW berdasarkan wahyu, sehingga banyak kita jumpai ayat-ayat ilmiah Al-Qur’an dan As Sunnah yang membahas tentang lingkungan. Pesan-pesan Al-Qur’an mengenai lingkungan sangat jelas dan prospektif. Ada beberapa tentang lingkungan dalam Al-Qur’an, antara lain : lingkungan sebagai suatu sistem, tanggung jawab manusia untuk memelihara lingkungan hidup, larangan merusak lingkungan, sumber daya vital dan problematikanya, peringatan mengenai kerusakan lingkungan hidup yang terjadi karena ulah tangan manusia dan pengelolaan yang mengabaikan petunjuk Allah serta solusi pengelolaan lingkungan[2].

Adapun As-Sunnah lebih banyak menjelaskan lingkungan hidup secara rinci dan detail. Karena Al-Qur’an hanya meletakkan dasar dan prinsipnya secara global, sedangkan As-Sunnah berfungsi menerangkan dan menjelaskannya dalam bentuk hukum-hukum, pengarahan pada hal-hal tertentu dan berbagai penjelasan yang lebih rinci.

1. Lingkungan Sebagai Suatu Sistem
Suatu sistem terdiri atas komponen-komponen yang bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan. Atau seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. [3] Lingkungan terdiri atas unsur biotik (manusia, hewan, dan tumbuhan) dan abiotik (udara, air, tanah, iklim dan lainnya). Allah SWT berfirman :

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakannya pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.” (QS. 15 : 19-20)

Hal ini senada dengan pengertian lingkungan hidup, yaitu sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menentukan perikehidupan serta kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya.[4] Atau bisa juga dikatakan sebagai suatu sistem kehidupan dimana terdapat campur tangan manusia terhadap tatanan ekosistem.

2.Pembangunan Lingkungan Hidup
Lingkungan hidup sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan manusia guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Allah SWT berfirman :

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. 67 : 15)

Akan tetapi, lingkungan hidup sebagai sumber daya mempunyai regenerasi dan asimilasi yang terbatas. Selama eksploitasi atau penggunaannya di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi, maka sumber daya terbaharui dapat digunakan secara lestari. Akan tetapi apabila batas itu dilampaui, sumber daya akan mengalami kerusakan dan fungsinya sebagai faktor produksi dan konsumsi atau sarana pelayanan akan mengalami gangguan.[5]

Oleh karena itu, pembangunan lingkungan hidup pada hakekatnya untuk pengubahan lingkungan hidup, yakni mengurangi resiko lingkungan dan atau memperbesar manfaat lingkungan. Sehingga manusia mempunyai tanggung jawab untuk memelihara dan memakmurkan alam sekitarnya. Allah SWT berfirman :

“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata : “Hai kaumku, sembalah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) dan lagi memperkenankan (do’a hamba-Nya).” (QS. 11 : 61)

Upaya memelihara dan memakmurkan tersebut bertujuan untuk melestarikan daya dukung lingkungan yang dapat menopang secara berkelanjutan pertumbuhan dan perkembangan yang kita usahakan dalam pembangunan. Walaupun lingkungan berubah, kita usahakan agar tetap pada kondisi yang mampu untuk menopang secara terus-menerus pertumbuhan dan perkembangan, sehingga kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita dapat terjamin pada tingkat mutu hidup yang makin baik. Konsep pembangunan ini lebih terkenal dengan pembangunan lingkungan berkelanjutan.[6]

Tujuan tersebut dapat dicapai apabila manusia tidak membuat kerusakan di bumi, sebagaimana firman Allah SWT :
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya Allah amat dekat kepada orang yang berbuat baik.” (QS. 7 : 56)

Berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita tentang beberapa hal, diantaranya agar melakukan penghijauan, melestarikan kekayaan hewani dan hayati, dan lain sebagainya.
“Barangsiapa yang memotong pohon Sidrah maka Allah akan meluruskan kepalanya tepat ke dalam neraka.” (HR. Abu Daud dalam Sunannya)
“Barangsiapa di anatara orang Islam yang menanam tanaman maka hasil tanamannya yang dimakan akan menjadi sedekahnya, dan hasil tanaman yang dicuri akan menjadi sedekah. Dan barangsiapa yang merusak tanamannya, maka akan menjadi sedekahnya sampai hari Kiamat.” (HR. Muslim)

 ”Setiap orang yang membunuh burung pipit atau binatang yang lebih besar dari burung pipit tanpa ada kepentingan yang jelas, dia akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.” Ditanyakan kepada Nabi :  “Wahai Rasulullah, apa kepentingan itu ?” Rasulullah menjawab : “Apabila burung itu disembelih untuk dimakan, dan tidak memotong kepalanya kemudian dilempar begitu saja.”[7]

3. Sumber Daya Vital dan Problematikanya
Manusia telah sedikit banyak berhasil mengatur kehidupannya sendiri (birth control maupun death control) dan sekarang dituntut untuk mengupayakan berlangsungnya proses pengaturan yang normal dari alam dan lingkungan agar selalu dalam keseimbangan. Khususnya yang menyangkut lahan (tanah), air dan udara, karena ketiga unsur tersebut merupakan sumber daya yang sangat penting bagi manusia.

Sumber Daya Lahan atau Tanah
Manusia berasal dari tanah dan hidup dari dan di atas tanah. Hubungan antara manusia dan tanah sangat erat. Kelangsungan hidup manusia diantaranya tergantung dari tanah dan sebaliknya, tanahpun memerlukan perlindungan manusia untuk eksistensinya sebagai tanah yang memiliki fungsi.[8] Allah SWT berfirman :

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuhan-tumbuhan yang baik? Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. Dan kebanyakan mereka tidak Beriman.” (QS. 26 : 7-8)

Dengan lahan itu manusia bisa membuat tempat tinggal, bercocok tanam, dan melakukan aktivitas lainnya.

Namun, pemandangan ironis di Indonesia terlihat cukup mencolok diantaranya penebangan hutan untuk ekspor (tanpa diikuti upaya peremajaan yang memadai) dan perluasan kota yang melebar, mencaplok tanah-tanah subur pedesaan. Polis berkembang menjadi metropolis untuk kemudian membengkak menjadi megapolis (beberapa kota besar luluh jadi satu) dan Ecumenopolis (negara kota). Akhirnya salah satu nanti akan menjadi Necropolis (kota mayat).[9]

Penebangan hutan tanpa diikuti peremajaan kembali menyebabkan rusaknya tanah perbukitan sehingga terjadi bencana tanah longsor. Apalagi adanya kebakaran hutan di Indonesia semakin menyebabkan rusaknya ekologi hutan. Padahal keberadaan hutan sangat berguna bagi keseimbangan hidrologik dan klimatologik, termasuk sebagai tempat berlindungannya binatang.[10]

Adanya pembangunan tata ruang yang kurang baik, seperti pembangunan kota dan perumahan, menyebabkan semakin sempitnya lahan pertanian yang subur. Selain itu, juga terjadi kerusakan tingkat kesuburan tanah yang disebabkan pemakaian teknologi kimiawi yang over dosis. Dan bahkan pemakaian pupuk kimiawi tersebut merusak ekosistem pertanian, diantaranya semakin resistensi dan resurjensinya hama dan penyakit tanaman. Sehingga hasil produksi pertanian pun menurun yang akhirnya berdampak pada kehidupan sosial-ekonomi penduduk.

Melihat kenyataan tersebut, mestinya perkara konservasi tanah dan lahan sudah merupakan suatu keharusan, condition sine qua non, demi berlangsungnya kehidupan manusia. Usaha yang dapat dilakukan antara lain reboisasi, perencanaan tata ruang yang baik (lahan subur untuk pertanian dan lahan tandus untuk industri atau bangunan), dan penerapan sistem pertanian yang ramah lingkungan (pertanian organik atau lestari).

Sumber Daya Air
Selain lahan atau tanah, yang tak kalah pentingnya adalah air. “Everything originated in the water. Everything is sustained by water”. Manusia membutuhkan air untuk hidupnya, karena dua pertiga tubuh manusia terdiri dari air. Allah SWT berfirman : “Dan Kami beri minum kamu dengan air tawar ?” (QS. 77 : 27). Dan bahkan tanpa air seluruh gerak kehidupan akan terhenti.

Yang ironis adalah bahwa kekeringan datang silih berganti dengan banjir. Pada suatu saat kita kekurangan air, tapi pada saat yang lain justru kelebihan air. Mestinya manusia bisa mengatur sedemikian hingga sepanjang waktu bisa cukupan air (tidak kurang dan tidak lebih). Hal itu sebenarnya telah ditunjukkan oleh alam dalam bentuk siklus hidrologis dari air yang berlangsung terus menerus, volume air yang dikandungnya tetap, hanya bentuknya yang berubah. Allah SWT berfirman : “Demi langit yang mengandung hujan (raj’i)” (QS. 86 : 11). Kata Raj’i berarti “kembali”. Hujan dinamakan raj’i dalam ayat ini, karena hujan itu berasal dari uap air yang naik dari bumi (baik dari air laut, danau, sungai dan lainnya) ke udara, kemudian turun ke bumi sebagai hujan, kemudian kembali ke atas, dan dari atas kembali ke bumi dan begitulah seterusnya. Atau terkenal dengan siklus hidrologik.

Kisah perjalanan air yang urut dan runtut itu telah memberikan kontribusi yang sangat vital pada daur kehidupan dan pembaharuan sumber daya alam. Namun manusia melakukan sesuatu yang menyebabkan terhambatnya siklus hidrologi tersebut. Manusia membuat saluran drainase dengan lapisan semen yang kedap air dan mengecor jalan dengan semen, sehingga air mengalir cepat ke laut dan mengingkari fungsinya sebagai pemberi kehidupan (life giving role). Dan menipislah persediaan air tanah.
Sungai-sungai yang dulu sebagai organisme yang mampu memamah biak benda-benda yang dibuang kedalamnya dan memberikan pasokan air bersih yang memadai untuk kehidupan. Sekarang sungai-sungai tersebut lebih berwujud berupa tempat pembuangan sampah yang terbuka, dijejali dengan limbah industri dan buangan rumah tangga yang tidak mungkin lagi atau tidak mudah dicerna guna menghasilkan air yang sedikit bersih sekalipun.

Kerusakan lingkungan pada ekosistem pantai yakni rusaknya hutan bakau (mangrove) di tepi pantai, seperti di Cilacap, dan rusaknya terumbu karang. Padahal hutan bakau dan terumbu karang sangat berfungsi bagi keseimbangan dan keberlangsungan ekosistem pesisir dan lautan, rantai makanan, melindungi abrasi laut dan keberlanjutan sumber daya lautan.[11]

Sumber Daya Udara
Selain kedua sumber daya tersebut di atas, ciptaan Allah SWT yang tidak kalah penting tetapi sering terlupakan atau disepelekan adalah udara. Padahal tanpa udara takkan pernah ada kehidupan. Tanpa udara bersih takkan diperoleh kehidupan sehat. Setiap hari rata-rata manusia menarik napas 26.000 kali berkisar antara 18 sampai 22 kali setiap menitnya.
Pentingnya udara sering diabaikan terutama karena sampai kini kita masih bisa memperolehnya tanpa harus mengeluarkan biaya. Padahal di Tokyo saat ini mulai dijual udara bersih (oksigen) dalam tabung. Suatu kejutan pertama yang menyadarkan manusia akan bahaya udara kotor terjadi di Inggris pada tahun 1952 yang dikenal dengan “The Great London Smog” yang menyebabkan sekitar 4000 jiwa melayang dan sejumlah besar penduduk menderita penyakit bronkitis, jantung dan berbagai penyakit pernapasan lainnya. Bahkan bangunan, lukisan, patung atau monumenpun hancur, karena asap dan gas mobil.

Polusi udara juga terjadi di Yogyakarta akibat konsumsi bahan bakar yang terus meningkat. Konsumsi tertinggi dari kendaraan bermotor (konsumsi bahan bakar solar dan bensin mencapai 170.000 liter pada tahun 1990-1991) dan kedua bahan bakar rumah tangga (rata-rata 84.000 liter). Hal itu menyebabkan CO2 dan timbal (Pb) melewati ambang batas yang diperkenankan. Ambang batas timbal (Pb) yang diperkenankan hanya 0,03 ug/l, kini rata-rata diatas 0,09 ug/l di beberapa tempat, seperti Kantor Pos Besar, Bunderan, Jl. Jend. Sudirman, dan Gedungkuning.[12] Begitu juga di Jakarta, dari kendaraan umum, 765.000 atau 60 % mengeluarkan gas buang diatas ambang batas baku mutu. Artinya setiap menit selalu keluar kandungan racun dari knalpot mobil itu, sulfur oksida, nitrogen oksida, dan timbal (Pb). Konsentrasi timbal di udara mencapai 1,7-3,5 mirogram per meterkubik dan pada 2005 mencapai 1,8-3,6 mikrogram per meterkubik. Padahal jumlah kendaraan roda empat di Jakarta mencapai 9,1 juta (1.274.000 berstatus kendaraan umum).[13]

Upaya yang bisa di tempuh antara lain : memperluas kawasan hijau (hutan kota), pemakaian bahan bakar akrab lingkungan (BBL), knalpot dipasang filter, dan mengurangi pemakaian kendaraan pribadi.

4.      Kerusakan Lingkungan
Manusia telah diperingatkan Allah SWT dan Rasul-Nya agar jangan melakukan kerusakan di bumi, akan tetapi manusia mengingkarinya. Allah SWT berfirman : “Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS. 2 : 11). Keingkaran mereka disebabkan karena keserakahan mereka dan mereka mengingkari petunjuk Allah SWT dalam mengelola bumi ini. Sehingga terjadilah bencana alam dan kerusakan di bumi karena ulah tangan manusia. Allah SWT berfirman :

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Katakanlah : “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. 30 : 41-42).

Di samping adanya problematika ketiga sumber daya vital di atas, Otto Soemarwoto membagi kerusakan lingkungan yang mengancam kehidupan bumi menjadi dua, yaitu kerusakan yang bersifat regional (seperti hujan asam) dan yang bersifat global (seperti pemanasan global, kepunahan jenis, dan kerusakan lapisan ozon di stratosfer).

Hujan asam disebabkan oleh pencemaran udara yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, yaitu gas bumi, minyak bumi dan batu bara. Pembakaran itu menghasilkan gas oksida belerang dan oksida nitrogen. Kedua jenis itu dalam udara mengalami reaksi kimia dan berubah menjadi asam (berturut-turut menjadi asam sulfat dan asam nitrat). Asam yang langsung mengenai bumi disebut deposisi kering dan asam yang terbawa hujan yang turun ke bumi disebut desposisi basah. Keduanya disebut hujan asam. Hujan asam menyebabkan kematian organisme air sungai dan danau serta kerusakan hutan dan bangunan.

Pemanasan global (global warning) adalah peristiwa naiknya intensitas efek rumah kaca (ERK) yang terjadi karena adanya gas dalam atmosfer yang menyerap sinar panas (sinar inframerah) yang dipancarkan bumi. Gas itu disebut gas rumah kaca (GRK). Dengan penyerapan itu sinar panas terperangkap sehingga naiklah suhu permukaan bumi.

Seandainya tidak ada GRK dan karena itu tidak ada ERK, suhu permukaan bumi rata-rata hanya -18oC saja, terlalu dingin bagi kehidupan makhluk. Dengan adanya ERK suhu bumi adalah rata-rata 15oC, sehingga ERK sangat berguna bagi kehidupan di bumi. Akan tetapi, akhir-akhir ini semakin naiknya kadar GRK dalam atmosfer, yaitu CO2 dan beberapa gas lain (seperti CO2, CH4, dan N2O) menyebabkan naiknya intensitas ERK, sehingga suhu permukaan bumi akan naik pula. Inilah yang disebut global warning.
Berbagai dampak negatif pemanasan global, yaitu menyebabkan perubahan iklim sedunia (perubahan curah hujan), naiknya frekuensi maupun intensitas badai (seperti di Banglades dan Filipina semakin menderita), dan bertambahnya volume air laut dan melelehnya es abadi di pegunungan dan kutub. Hal itu juga menyebabkan keringnya tanah dan kekeringan yang berdampak negatif terhadap pertanian dan perikanan.
Bertambahnya volume air laut, maka permukaan laut akan naik. Dengan laju kenaikan kadar GRK seperti sekarang diperkirakan pada sekitar 2030 suhu akan naik 1,5-4,5oC. Kenaikan suhu ini menyebabkan naiknya permukaan laut 25-140 cm. Dampak naiknya permukaan laut yakni tergenangnya daerah pantai, tambak, sawah dan kota yang rendah seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang serta beberapa pulau di Indonesia. Kenaikan permukaan laut juga menyebabkan laju erosi pantai. Untuk kenaikan permukaan laut 1 cm, garis pantai akan mundur 1m, sehingga kenaikan permukaan laut 25-140 cm, garis pantai mundur 25-140 m.

Kepunahan jenis berarti hilangnya sumber daya gen yang mengurangi kemampuan kita dalam pembangunan pertanian, perikanan, peternakan, dan kehutanan. Penyebabnya antara lain karena adanya hujan asam dan penyusutan luas hutan, serta penggunaan sistem monokultur atau varietas unggul sehingga varietas lokal hilang, seperti varietas padi lokal yang hampir sirna.

Ozon ialah senyawa kimia yang terdiri atas tiga atom oksigen. Di lapisan atmosfer yang rendah ia mengganggu kesehatan dan di lapisan atas atmosfer ia melindungi makhluk hidup dari sinar ultraviolet yang dipancarkan matahari. Apabila kadar ozon di stratosfer berkurang, kadar sinar ultraviolet yang sampai ke bumi bertambah. Maka resiko untuk mengidap penyakit kanker kulit, katarak dan menurunnya kekebalan tubuh akan meningkat. Penurunan kadar ozon disebabkan karena rusaknya ozon oleh segolongan zat kimia yang disebut clorofuorokarbon yang banyak digunakan dalam industri dan kehidupan kita, seperti gas freon (pendingin AC dan almari es), gas pendorong dalam aerosal (parfum, hairspray, dan zat racun hama) dan lainnya.

Bila kita tetap saja berkeras kepala menjejalkan gas rumah kaca ke atmosfer, sebelum akhir abad mendatang pasti akan terjadi perubahan iklim yang tak terduga, banyak angin ribut dan angin topan, air laut meredam pulau-pulau berdataran rendah, disamping munculnya padang pasir baru karena bumi yang makin panas.

Upaya nyata yang perlu dilakukan untuk menghindari bencana itu antara lain dengan menggunakan energi secara efisien, mengembangkan sumber energi baru dan aman, mencegah terjadinya kebakaran dan penggundulan hutan atau penebangan pohon secara besar-besaran, menanam pepohonan baru, menggalakan penggunaan transportasi umum. Atau kampanye besar-besaran untuk mengurangi penggunaan traktor, diesel, lemari es, kaleng semprot, AC dan lain-lain. Langkah ini mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan. Namun hal itu tetap harus dilakukan, seperti yang dicetuskan oleh Gurmit Singh : “Global warning on global warming demands global action”. Peringatan global terhadap pemanasan global menuntut adanya tindakan global.

5. Solusi Pengelolaan Lingkungan
Proses kerusakan lingkungan berjalan secara progresif dan membuat lingkungan tidak nyaman bagi manusia, bahkan jika terus berjalan akan dapat membuatnya tidak sesuai lagi untuk kehidupan kita. Itu semua karena ulah tangan manusia sendiri, sehingga bencananya juga akan menimpa manusia itu sendiri QS. 30 : 41-42.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pendekatan yang dapat kita lakukan diantaranya dengan pengembangan Sumber Daya Manusia yang handal, pembangunan lingkungan berkelanjutan, dan kembali kepada petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya dalam pengelolaan lingkungan hidup. Adapun syarat SDM handal antara lain SDM sadar akan lingkungan dan berpandangan holistis, sadar hukum, dan mempunyai komitmen terhadap lingkungan.

Kita diajarkan untuk hidup serasi dengan alam sekitar kita, dengan sesama manusia dan dengan Allah SWT. Allah berfirman : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmatan lil’alamiin” (QS. 21 : 107). Pandangan hidup ini mencerminkan pandangan yang holistis terhadap kehidupan kita, yaitu bahwa manusia adalah bagian dari lingkungan tempat hidupnya. Dalam pandangan ini sistem sosial manusia bersama dengan sistem biogeofisik membentuk satu kesatuan yang disebut ekosistem sosiobiogeofisik, sehingga manusia merupakan bagian dari ekosistem tempat hidupnya dan bukannya hidup diluarnya. Oleh karenanya, keselamatan dan kesejahteraan manusia tergantung dari keutuhan ekosistem tempat hidupnya. Jika terjadi kerusakan pada ekosistemnya, manusia akan menderita. Karena itu walaupun biogeofisik merupakan sumberdaya bagi manusia, namun pemanfaatannya untuk kebutuhan hidupnya dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi kerusakan pada ekosistem. Dengan begitu manusia akan sadar terhadap hukum yang mengatur lingkungan hidup dari Allah SWT dan komitmen terhadap masalah-masalah lingkungan hidup.

Pandangan holistik juga berarti bahwa semua permasalahan kerusakan dan pengelolaan lingkungan hidup harus menjadi tanggung jawab oleh semua pihak (pemerintah, LSM, masyarakat, maupun orang perorang) dan semua wilayah (baik lokal, regional, nasional, maupun internasional). Atau dalam konsep Partai Keadilan, lingkungan hidup harus dikelola secara integral, global dan universal menuju prosperity dan sustainability.[14]

Kesimpulan, bahwa ini adalah alasan yang mungkin mengapa Allah menyebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an tentang petingnya lingkungan hidup dan cara-cara Islami dalam mengelola dunia ini. Kualitas lingkungan hidup sebagai indikator pembangunan dan ajaran Islam sebagai teknologi untuk mengelola dunia jelas merupakan pesan strategis dari Allah SWT untuk diwujudkan dengan sungguh-sungguh oleh setiap muslim.


[1] Yusuf Al Qaradlawi, Dr. 1997. Fiqih Peradaban : Sunnah Sebagai Paradigma Ilmu Pengetahuan. Surabaya. Dunia Ilmu. Hal.183

[2] Abdul Majid bin Aziz Al-Qur’an Zindani (et. Al-Qur’an.). 1997. Mujizat Al-Qur’an dan As-Sunnah Tentang IPTEK. Jakarta. Gema Insani Press. Hal. 194.

[3] Depdikbud. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka. Hal. 849.

[4] Undang-Undang No. 4 Tahun 1982.

[5] Otto Soemarwoto. 1997. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta. Djambatan. Hal. 59.

[6] Bruce Mitchell, dkk. 2000. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.

[7] Imam Ahmad, al-Nasa’i, al-Darami, dan Imam al-Hakim meriwayatkan dan al-Hakim menganggap sahih hadits tersebut dari Abdullah bin Amr Ra.

[8] Moh. Soerjani, dkk. 1987. Lingkungan : Sumberdaya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. Jakarta. UI-Press. Hal. 39.

[9] Eko Budihardjo, Prof. Ir. MSc. 1997. Lingkungan Binaan dan Tata Ruang Kota. Yogyakarta. Andi Offset. Hal. 26-27

[10] Lihat Kompas, 18 Januari 2001. Hal. 8, 18.

[11] Widi Agus Pratikno, dkk. 1997. Perencanaan Fasilitas Pantai dan Laut. Yogyakarta. BPFE. Hal. 10-12.

[12] Kedaulatan Rakyat. Minggu, 16 April 2000. Tahun LV Nomor 197. Hal. 8.

[13] Republika. Minggu, 23 April 2000. Nomor 103 Tahun Ke-8. Hal. 1.

[14] ______. 1999. Visi Pembangunan IPTEK dan Lingkungan Hidup Partai Keadilan : Kesejahteraan, Kemandirian dan Kesinambungan. Jakarta. Departemen IPTEK-Lingkungan Hidup. Hal. 23.

Posted by: syaunarahman | January 4, 2011

Stndar Kompetensi : Memahami Ayat-ayat Al Qur’an tentang Perintah Menjaga Lingkungan Hidup. (Modul PAI Kelas XI Semester 4) Kelas : PM1 & 2, MM, dan TP 4

Menjaga Kelestarian Lingkungan

clip_image001

Allah swt mengangkat manusia sebagai khalifah di bumi yang diberi tugas untuk memelihara dan melestarikan alam ini, sehingga akan tercapai kemakmuran dan kebahagiaan bagi umat manusia itu sendiri. Manusia dilarang merusak alam dan lingkungannya karena akan berakibat merugikan bagi umat manusia serta alam dan lingkungannya.

Ajaran agama hendaknya dilaksanakan dan diamalkan dengan sebaik-baiknya. Jika ajaran agama diamalkan oleh setiap pribadi muslim, tidak akan terjadi kerusakan alam dimana-mana yang dapat merusak ekosistem sebagaimana dapat kita lihat dan kita rasakan pada akhir-akhir ini. Terjadinya bencana alam dimana-mana, panas bumi yang meningkat, musim yang tidak beraturan, dan masih banyak peristiwa lain yang menimpa dan merugikan penghuni bumi ini.

A. AL-QUR’AN SURAH AR-RUM AYAT 41-42

1. Membaca

Bacalah Q.S. Ar-Rum ayat 41-42 berikut dengan bacaan yang benar!

image

Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Q.S. Ar Rum (30) : 41-42

2. Tulislah lafal terjemahan kata dari :

: telah nampak, telah timbul                             : ulah tangan, manusia

: kerusakan                                                        : agar mereka merasakan

: di darat                                                            : sebagian yang

: dan di laut                                                       : perbuatan mereka

: dengan sebab apa                                            : agar, supaya mereka

: yang telah dilakukan                                        : kembali

: berjalanlah kamu sekalian                                : yang telah lalu

: perhatikanlah oleh kalian                                  : kebanyakan mereka

: akibat, kesudahan

3. Penerapan ilmu tajwid Q.S. Ar-Rum ayat 41-42

No Lafal Keterangan
1.2.3.4.5.

6.

               imageimageimageimageimage

image

dinamakan bacaan izhar qamariyah (“Al” qamariyah) sebab alif lam ( ال ) berhadapan dengan huruf qamariyah, yaitu fa’ (ف )dibaca mad asli atau mad tabi’i sebab ada huruf alif (ا ) terletak sesudah fathahdibaca idgam syamsiyah (“AL” syamsiyah) sebab huruf alif lam ( ال ) berhadapan dengan salah satu huruf syamsiyah, yaitu huruf nun( ن )mad tabi’i disebabkan ada huruf ya’ mati ( ﻱْ ) terletak sesudah harakat kasrah. Panjang bacaan 2 hurufhukum bacaannya ialah mad ‘arid lis sukun, sebab ada satu huruf terletak sesudah mad tabi’i dan dibaca waqaf (berhenti). Panjang bacaan 2 harakat

dibaca ikhfa’ haqiqi, sebab ada nun sukun ( ﻥْ ) bertemu dengan salah satu huruf ikhfa’ yaitu qaf ( ق ). Cara membacanya samar-samar

4. Kandungan Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41-42

Kerusakan di bumi ini terjadi hanyalah karena tangan-tangan jahil manusia, sehingga terjadi banyak musibah dan bencana dimana-mana. Misalnya: banjir, angin tornado, gempa bumi, tsunami dan sebagainya, yang banyak menelan korban. Oleh karena kebanyakan manusia tidak mengindahkan ayat-ayat Allah swt.

Kerusakan yang terjadi dapat dikelompokkan menjadi lima bidang, yaitu:

a. Kerusakan dalam bidang akidah atau keimanan. (Q.S. Al-Baqarah : 8 dan Q.S. Al-Hujurat : 14-15.

b. Kerusakan di bidang mental dan kecerdasan manusia (intelektual) (Q.S. Al-Hajj : 8-10).

Manusia yang terganggu mentalnya dengan ciri-ciri :

· Berbuat zalim dan bodoh (Q.S. An Naml : 14)

· Tidak mendengar petunjuk ( Q.S. Al Qashash : 56)

· Tindakannya ragu-ragu (Q.S. 11)

· Tidak kritis, selalu pasrah dan selalu menerima (Q.S. Al Maidah : 104)

· Terpengaruh dengan ilmu atau budaya lain yang merusak (Q.S. Al An’aam : 116)

Sedangkan anusia yang terganggu intelektualnya dengan ciri-ciri :

· Suka kepada dongeng atau hal-hal yang berbau mistik (Q.S. Al An’aam : 25)

· Tidak pernah mengkaji Al Qur’an (Q.S. Yunus : 39)

· Tidak menerima Al Qur’an sebagai pedoman (Q.S. Al Maidah : 48-50)

· Mudah terpengaruh lingkungan (Q.S. Al Furqaan : 27 dan 30)

· Tidak mau melihat fakta (Q.S. Yunus : 29)

c. Kerusakan di bidang pembinaan dalam kehidupan keluarga.(Q.S. An-Nur : 58-60).

d. Kerusakan harkat dan martabat manusia.( Q.S. Al-Baqarah : 195)

e. Kerusakan dalam bidang material dan sumber daya alam.( Q.S. Al-Qashash : 77).

Beberapa contoh lain mengenai penyalahgunaan sumber-sumber alam dapat disebutkan sebagai berikut ;

a. Perusakan tanah pertanian dan lautan

b. Pencemaran udara dan sumber-sumber air

c. Pengurasan hasil-hasil tambang

d. Penggundulan dan pembakaran hutan-hutan

e. Tidak adanya perlindungan terhadap binatang-binatang

f. Pembangunan kota dan pemukiman tidak pada tempatnya.

Di antara isi pokok kandungan yang lain dari pemahaman ayat tersebut :

a. Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di muka bumi memiliki kewajiban mengelola, memelihara dan memanfaatkan alam yang telah Allah ciptakan untuk kepentingan dan kesejahteraan seluruh makhluk Allah.

b. Ketidak pedulian terhadap sumber daya alam mengakibatkan kerusakan lingkungan yang memperihatinkan manusia itu sendiri

c. Kerusakan alam baik di darat maupun di laut adalah akibat ulah tangan manusia itu sendiri

d. Islam melalui pemahaman ayat Al Qur’an pengerusakan lingkungan, karena untuk menjamin kesejahteraan hidup manusia membutuhkan keserasian ekosistem

5. Sikap dan perilaku yang mencerminkan Q.S. Ar-Rum ayat 41-42

a. Cinta lingkungan alam sekitar

b. Selalu menjaga dan memelihara kelestraian alam

c. Tidak merusak habitat alam

d. Tidak melakukan pencemaran lingkungan hidup

e. Cinta kebersihan lingkungan

f. Bumi serta isinya merupakan ciptaan Allah yang diperuntukkan bagi kesejahteraan manusia tugas manusia adalah menjaga alam semesta agar tetap dalam keadaan baik dan lestari.

g. Sumber alam yang ada merupakan anugrah yang datangnya dari Allah swt, ada yang tidak dapat diperbaharui, seperti barang tambang, dan ada pula yang dapat diperbaharui. Bila manusia tidak memiliki kepedulian pada sumber alam tersebut, semuanya akan punah seperti banyak fakta yang sudah diungkapkan para ilmuwan.

h. Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Allah swt telah memberi peringatan dengan beragam kisah manusia yang sudah berbuat ker usakan dan dampaknya dapat dibuktikan.

i. Peduli dan menjaga kelestarian lingkungan mulai yang terkecil (rumah tangga, sekolah) sampai yang lebih luas (RT, RW, kampong, desa, dan seterusnya).

j. Senantiasa memelihara tatanan non fisik, misalnya ajaran agama, norma dan adat istiadat setempat sehingga tercapai kebahagiaan hakiki (jasmani dan rohani).

B. AL-QUR’AN SURAH AL-ARAF’ AYAT 56-58

1. Membaca

Bacalah Q.S. Al-A’raf ayat 56-58 berikut dengan bacaan yang benar!

image

Artinya : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerh yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya yang tumbuh merana. Demikianlah kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. Al-A’raf (7) : 56-58)

2. Tulislah lafal terjemahan kata dari :

                          : dan janganlah                                       : mendung, tebal, berat

: kamu berbuat kerusakan                      : Kami halau dia

: memperbaikinya                                   : untuk berbagai daerah/tanah/negara

: dan berdoalah kepada-Nya                    : mati, tandus

: perasaan takut                                      : kami keluarkan dengai air hujan

: penuh pengharapan                              : buah-buahan

: dekat                                                    : kamu mengambil pelajaran

: orang-orang yang berbuat baik            : yang baik

: mengutus, mengirim, meniupkan                           : tanaman-tanamannya

: angin                                                                      : tidak baik, buruk

: pembawa berita yang menggembirakan                   : kerdil/merana

: sebelum kedatatangan, di hadapan                         : Kami jelasakan

: membawa                                                                : bersyukur

: awan

3. Penerapan ilmu tajwid dalam Surah Al-A’raf ayat 56-58, isilah lafalnya.

No Lafal Nama Bacaan Cara Membaca Sebab/Karena
1.2.3.4.5.

6.

Mad tabi’iQalqalah sugraIdgam bigunahIdgam bigunahIqlab

Mad ‘arid lis sukun

Panjang 2 harakatMemantul ringanMasuk/melebur dengan mendengungMasuk/melebur dengan mendengungMembaca membalik atau mengubah bunyi dari n ke m = “ranba” menjadi ramba

Membaca panjang 2- 6 harakat dan berhenti/wakaf

Ada wawu sukun( )Ada huruf qalqalah berharakat sukun asli ( )Ada tanwin ( ) bertemu dengan huruf idgam bigunah yaitu wawu( )Ada tanwin ( ) bertemu huruf idgam bigunah yaitu mim( )Ada tanwin ( ) bertemu huruf iqlab yaitu ba’ ( )

Ada satu huruf sesudah mad tabi’i dan dibaca waqaf

4. Kandungan Q.S. Al-A’raf ayat 56-58

a. Allah swt menjelaskan bahwa Dialah Sang Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya, sekaligus pula yang memelihara dan mengaturnya.

b. Allah-lah yang memberikan rezeki kepada semua makhluk-Nya di bumi ini. Dialah pemberi kehidupan dan yang menghidupkan kembali di akhirat kelak. (Q.S. Muhammad :15-16).

c. Allah menciptakan bumi ini dalam keadaan baik dan sempurna. Adapun kerusakan-kerusakan yang terjadi yang berakibat petaka, musibah, serta bencana alam dan sebagainya hanyalah karena ulah tangan manusia itu sendiri.

d. Allah swt menerangkan bahwa Dia yang mengirimkan angin kesegala penjuru, memberi kabar gembira akan datangnya musin penghujan dengan turunnya hujan, tumbuh-tumbuhan yang telah layu, kering, tandus bahkan hamper mati, akan kembali subur kemudian akan menghasilkan bemacam-macam buah-buhan yang sangat berguna bagi manusia.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari dan Muslim, dan Nasai dari Abu Musa Al Asy’ary. Dia berkata: Rasulullah SAW bersabda : Perumpamaan ilmu dan petunjuk yang akan aku diutus untuk menyampaikannya adalah seperti hujan lebat yang menimpa bumi. Maka ada di antara tanah itu yang bersih (subur) dan dapat menerima hujan itu, lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput yang banyak. Tetapi, ada pula di antaranya tanah yang lekang (keras) yang tidak meresapi air hujan itu dan tidak menumbuhkan sesuatu apa pun. Tanah itu dapat menahan air (mengumpulkannya) sehingga manusia dapat mengambil manfaat dari air itu, maka dapat minum, mengairi, bercocok tanam. Tanah-tanah yang beraneka ragam itu adalah perumpamaan bagi orang yang dapat memahami agama Allah. Lalu ia mendapat manfaat dari petunjuk-petunjuk itu dan mengajarkannya kepada manusia, dan perumpamaan pula bagi orang-orang yang tidak memedulikannya dan tidak mau menerima petunjuk itu. Nabi Muhammad SAW memberikan predikat (julukan) Al Hadi (orang yang memberi manfaat untuk dirinya, orang yang dapat memahami agama Allah untuk dirinya dan mengamalkannya) dan Al Muhtadi (orang yang dapat manfaat untuk dirinya dengan memahami agama Allah dan memberikan manfaat kepada orang lain), dan memberikan predikat Al Jahid kepada golongan ketiga yang tiada manfaat untuk dirinya dengan tidak mau memahami agama Allah dan tidak dapat memberikan manfaat untuk orang lain.

Kesimpulan Q.S. Al A’raaf : 56-58 :

1. Larangan berbuat kerusakan di muka bumi karena bumi sudah diciptakan baik untuk manusia

2. Perintah berdo’a kepada Allah dengan rasa takut (tidak diterima) dan penuh harap (agar diterima)

3. Allah SWT telah memberikan rahmat berupa angin yang membawa awan menjadi hujan

4. Dengan air hujan Allah menumbuhkan beraneka ragam tumbuhan

5. Allah Maha Kuasa dalam menciptakan tanah yang subur dan yang tandus

5. Sikap dan perilaku yang mencerminkan Q.S. Al-A’raf ayat 56-58

a. Tidak suka berbuat kerusakan

b. Rajin berdoa kepada Allah

c. Gemar berbuat kebaikan

d. Selalu mengambil pelajaran (i’tibar) dari peristiwa alam

e. Selalu bersyukur kepada Allah

f. Manusia memperoleh kebutuhan hidupnya di bumi. Manusia sebagai khalifah-Nya diharapkan dapat menjaga dengan baik supaya bumi tidak rusak yang merugikan manusia itu sendiri.

g. Peduli terhadap kelestarian alam, berbuat sesuatu disertai rasa tanggung jawab, serta banyak berdoa kepada Allah swt dengan rasa takut (khawatir tidak diterima) dan berharap (agar doanya dikabulkan), sehingga terhindar dari perbuatan yang tidak baik apalagi merugikan pihak lain.

h. Senantiasa berhati-hati dalam kehidupan di bumi, karena sekecil apapun yang dibuat, kelak akan diminta tanggung jawabnya di akhirat.

i. Berupaya meningkatkan pemahaman agama Allah yang benar agar mampu memberi manfaat kepada orang lain seperti contoh tanam-tanam tumbuh subur dan berbuah yang memberi manfaat.

C. AL-QUR’AN SURAH SAD AYAT 27

1. Membaca

Bacalah Q.S. Sad ayat 27 berikut dengan bacaan yang benar!

image

Artinya : ”Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka”. (Q.S. Sad (38):27)

2. Tulislah lafal terjemahan kata dari :

: dan tidak

: kami ciptakan

: dan apa-apa daiantara keduanya

: sia-sia, tanpa hikmah

: sangkaan

: bagi orang-orang yang

: dari azab neraka

: pantaskah kami jadikan

: seperti orang-orang yang membuat kerusakan

: seperti orang-orang yang berdosa

3. Penerapan ilmu tajwid dalam Q.S. Sad ayat 27, isilah lafalnya.

No Lafal Nama Bacaan Cara Membaca Sebab/Karena
1.2.3.4.5. Mad wajib muttasilMad layinTanda waqaf aulaMad layinMad ‘arid lis sukun Panjang 5-6 harakatMembaca lunak (… ai)lebih baik waqaf (berhenti)Membaca lunak (… ai)panjang 4-6 harakat Ada hamzah sesudah mad tabi’iAda ya’sukun (mati)sesudah fathah-Ada ya’ sukun (mati) sesudah fathah

Mad tabi’i bertemu satu huruf dibaca waqaf

4. Kandungan Q.S. Sad ayat 27

a. Alam semesta diciptakan oleh Allah swt sangat banyak manfaatnya bagi umat manusia. Sesuai Q.S. Al-Baqarah ayat 164. Seluruh kebutuhan manusia telah disediakan oleh Allah swt dan bagaimana manusia dapat memanfaatkan sebesar-besarnya untuk manusia itu sendiri di muka bumi ini.

b. Manusia diciptakan Allah hanya untuk menyembah dan mengabdi kepada-Nya, melestarikan lingkungan dengan cara menjaga, merawat, tidak merusaknya merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada Allah swt.

c. Orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt tidak akan diperlakukan oleh Allah sama dengan orang-orang yang durhaka dan kafir terhadap-Nya.

5. Sikap dan perilaku yang mencerminkan Q.S. Sad ayat 27

a. Dapat mengambil hikmah dari penciptaan alam semesta

b. Selalu beriman kepada Allah

c. Suka beramal soleh

d. Tidak berbuat kerusakan

e. Orang yang beriman akan menjaga lingkungan

f. Seseorang akan bertambah kuat imannya apabila mau berpikir dan merenung tentang keberadaan alam semesta ini serta segala isinya termasuk dirinya. Sesuai Q.S. Ali-Imran ayat 190 dan 191.

g. Orang yang beriman akan memanfaatkan seluruh isi alam ini dengan sebaik-baiknya dan berusaha untuk memelihara, melestarikan, serta menjaga dari kerusakan. Sesuai Q.S. Fatir ayat 27-28.

h. Orang yang beriman kepada Allah swt akan tumbuh kesadaran untuk selalu berbuat baik dan beramal tanpa ada rasa terpaksa. Sesuai Q.S. Fatir ayat 19-22.

D. Penerapan Sikap dan Perilaku

Beberapa perilaku yang dapat diterapkan berkaitan dengan menjaga kelestarian lingkungan hidup, antara lain sebagai berikut :

1. Tidak membuang sampah sembarangan

2. Memilah dan memilih sampah yang dapat didaur ulang dengan yang tidak

3. Menanam pohon agar lingkungan menjadi hijau dan segar

4. Tidak suka membunuh hewan sembarangan karena bisa merusak ekosistem

5. Berhemat dalam memakai peralatan dan bahan baker

6. Tidak membuat polusi terhadap udara

7. Hemat dalam menggunakan listrik dan air bersih

8. Mulai melakukan pola sehat dan dimulai dari diri sendiri

9. Gemar mencari cara yang hemat dan tepat guna serta memberitahukan kepada lingkungan sekitar

10. Sering mencari informasi mengenai cara menjaga lingkungan yang baik, khususnya pada lembaga yang berkompeten

11. Menyadari bahwa melestarikan lingkungan adalah tanggung jawab kita semua sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam.

TUGAS KEGIATAN BELAJAR 1

Diskusikan bersama teman sekelompok belajarmu, kemudian hasilnya kamu tulis pada selembar kertas!

1. Apakah yang pernah dilakukan jika melihat orang membuang sampah di sungai atau di parit?

2. Apa yang kamu lakukan, jika kamu melihat orang memotong tanaman perindang untuk memberi makan hewan ternak piaraannya?

TES FORMATIF 1

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan benar!

1. Sebutkan nama hukum bacaan sesuai kaidah ilmu tajwid serta berikan alasan apa sebabnya pada lafal yang bergaris bawah dalam ayat berikut!

image

Jawab: …………………………………………………………………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

2. Apa nama tanda-tanda waqaf berikut!

a.b.c.d. e.f.g.h.

Jawab: …………………………………………………………………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

3. Apakah yang menyebabkan manusia sering membuat kerusakan di bumi maupun di laut ?

4. Tulislah dari ayat-ayat di atas pada hukum bacaan :

a. Ikhfa Syafawi

b. Idzhar Syafawi

c. Qalqalah Shugra

d. Mad Iwadl

e. Tafkhim

f. Iqlab

g. Mad Jaiz Munfashil

h. Idgham Bighunnah

i. Mad Wajib Muttashil

j. Mad Shilah Qashiroh

Be the first to like this post.

Posted in Uncategorized

PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BERBASIS TEKNO-RELIGIUS
Written by Administrator
Saturday, 01 January 2011 03:48
Pemanfaatan dan pemeliharaan lingkungan hidup merupakan pembicaraan pokok di dalam ajaran islam. Ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi membicarakan hal tersebut dari berbagai aspek mulai dari penciptaan bumi sebagai lingkungan hidup, tujuan pen-ciptaannya, cara pengelolaan dan pemeliharaannya, isyarat mengenai bekal yang diperlukan dalam melakukan pemanfaatan dan hal-hal lain yang terkait.

Bumi Sebagai Lingkungan Hidup

Wawasan tentang lingkungan hidup di dalam Islam me-nunjukkan banyak persamaan dengan wawasan lingkungan dalam bahasan sains dan tekhnologi. Hal ini dapat dilihat dari subtansi lingkungan hidup sendiri dalam dua kajian tersebut. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia lingkungan didefenisikan dengan semua yang memengaruhi pertumbuhan manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan (Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, 1995: 596). Hal ini senada dengan makna kata ardh, yang digunakan di dalam al-Qur’an. Ibrahim Anis (1972:14) menyatakan bahwa al-ardh artinya bumi dan bagian-bagian yang ada di dalamnya. Kemudian sejumlah kata kunci yang kerap diketemukan sebagai isu utama dalam pembahasan lingkungan seperti lapisan ozon, flora, fauna, dan lain-lain juga ditemukan padanannya di dalam al-Qur’an seperti “al-sama” (langit), a-dabbah atau al-an’am (binatang), dan al-nabatat (tumbuh-tumbuhan). Sejumlah kata kunci tersebut dan kata kunci lainnya merupakan gerbang masuk untuk menelusuri ajaran islam tentang lingkungan hidup.

Penjelasan mengenai lingkungan di dalam al-Qur’an tidak me-letakkan bagian-bagian bumi itu sebagai unsur yang terpisah satu sama lain. Al-Qur’an justru meletakkannya sebagai unsur yang saling berinteraksi dan saling memengaruhi. Meskipun dalam kontek interaksi tersebut, manusia tampak dominan dan tampil sebagai subyek namun pada hakekatnya manusia hanyalah satu unsur yang menempati posisi yang sama dengan unsur lainnya.  Karena itu, tidak menutup kemungkinan mereka mendapatkan feed back yang buruk bahkan akan menjadi korban manakala mela-kukan hal yang tidak bersahabat dalam berinteraksi dengan alam. Pandangn demikian juga ditegaskan oleh penganut teori lingkungan ecocentris, “segala sesuatu di bumi ini berpusat pada lingkungan dan berdasarkan atas hukum alam”. Teori ini menempatkan ma-nusia sebagai salah satu komponen alam yang sama dan sederajat dengan komponen alam lainnya. Selain aliran tersebut kita juga mengenal aliran tekhnocentris, yakni satu kelompok yang ber-pandangan bahwa manusialah pusat dari alam sehingga seharusnya alam melayani kebutuhan manusia. Alam adalah barang netral, untuk mengambil tujuan dan manfaat maka diperlukan aplikasi dari rasionalitas dan niali-nilai kebebasan, tekhnik ilmiah dan manajerial serta profesionalitas dalam memperlakukan alam (Arimbi: Makalah). Terlepas dari kebenaran dua aliran di atas, pesan al-Qur’an mengenai lingkungan seperti yang akan kita jelaskan kemudian, akan tetap aktual, pesan untuk berinteraksi dengan alam secara etis.

Ajaran al-Qur’an mengenai lingkungan hidup juga selaras dengan kebijakan pemerintah. Pasal 1 Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup tidak melihat lingkungan hidup sebagai entitas yang terpisah-pisah, tetapi mengesankan hubungan harmonis bahkan kesatuan semua unsur demi terciptanya kesejahteraan. Undang-undang yang dimaksud mendefenisikan lingkungan hidup sebagai berikut:

“kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, yang mempengaruhi kelangsungan prikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain (Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997) .”

Al-Qur’an menekankan bahwa bumi (lingkungan hidup) diciptakan untuk manusia. Fungsinya antara lain sebagai tempat menetap dan sumber penghidupan. Kedua fungsi tersebut disebut-kan dengan jelas pada Q.S. al-A‘râf, 7:10 dan 24. Ayat pada Q.S. al-A‘râf, 7: 24 menyebutkan fungsi bumi sebagai lingkungan hidup bagi manusia. Hal ini dapat dipahami dari kata mustaqarran yang secara harfiah berarti tempat tingal. Tidak ada perbedaan pendapat ulama dalam hal ini. Berdasarkan ayat ini, kita memahami bahwa pada hakekatnya semua manusia mempunyai hak yang sama untuk berdiam di bumi. Bukan hanya itu, ayat yang sama juga menyebutkan fungsi lain dari bumi, yakni sebagai mata’. Kata ini lazim diterjemahkan dengan “perhiasan”, namun demikian nuansa yang dikandungnya tidak terbatas pada perhiasan dalam arti asesoris. Kata mata’ juga berarti sesuatu yang dapat memberi keindahan atau  manfaat yang dapat dinikmati dalam waktu tertentu. Quraish Shihab (2000: 157) mengartikan kata mata‘ dengan kesenangan hidup yang bersifat sementara.

Kemudian, QS. 7:10 menjelaskan bahwa Allah menjadikan bumi itu sebagai sumber kehidupan (maâyisy) bagi manusia. Menurut al-Maraghi (1963: 108) maâyisy artinya segala yang me-nunjang kehidupan jasmani dan rohani berupa makanan, minuman, pakaian dan selainnya, baik yang dapat dikomsumsi secara langsung (instant) maupun yang membutuhkan usaha atau proses seperlunya.

Al-Qur’an tidak membatasi fungsi bumi pada generasi ter-tentu. Kedua ayat di atas menjelaskan tujuan penciptaan bumi untuk manusia dengan menggunakan ungkapan plural (untuk kalian). Bagian ini menegaskan bahwa setiap manusia dari generasi ke generasi mempunyai hak yang sama untuk menempati bumi dan memanfaatkan fasilitas di dalamnya. Dalam menafsirkan ini, Abd. Muin Salim (1990: 33) menyatakan, bahwa Adam dan anak cucunya diberi hak asasi untuk mendiami bumi dan kewenangan untuk memanfaatkan fasilitas yang disediakan Allah. Lanjutan ayat me-negaskan sebagai tempat tinggal manusia “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan” (Q.S. al-A‘râf, 7: 25). Penekanan yang demikian kita temukan pada konvensi internasional tentang konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yakni  “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengganggu kebutuhan generasi yang akan datang”. Konsep ini mulai dikembangkan pada tahun 1987 dan mencapai kematangan pada pertemuan internasional di Rio de Jeneiro – Brazil tahun 1992 (Arimbi:Makalah).

Pengalaman sehari-hari, nampaknya tidak selalu selaras dengan apa yang diungkapkan al-Qur’an tentang fungsi bumi dan segala isinya, juga dengan kebijakan nasional dan internasional. Ini dapat dicontohkan dengan air sebagai pendukung utama kehidupan (QS. 2: 164; 6: 99; 16: 5-8). Pentingnya air tentu tidak terbantahkan karena pada kenyataannya semua makhluk hidup tidak akan mampu bertahan tanpa dengan air. Karenanya, sepanjang per-nyataan al-Qur’an, air selalu disebutkan sebagai nikmat kecuali dalam kisah Nabi Nuh as. dan para pengikutnya. Pertanyaannya, jika demikian mengapa air kerap menjadi bencana bagi manusia?

Terhadap pertanyaan ini al-Qur’an menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi karena ulah manusia sendiri, yakni tidak menu-naikan amanah untuk mengelola bumi dengan baik. Jawaban yang diberikan oleh para pakar lingkungan menegaskan hal itu lewat uraian tentang kerusakan lingkungan dimana-mana yang berujung pada ketidakseimbangan alam karena pembangunan yang dilakukan tidak didasarkan atas analisis dampak lingkungan dengan baik. Di kota besar, pembangunan gedung dilakukan tanpa peduli akan keseimbangan antara area tangkap dan area serap. Area parkir dilapisi aspal, taman yang kelihatan hijau pun dilapisi dengan beton, saluran air (kanal) dibuat seminimal mungkin. Akibatnya, hujan yang menurut al-Qur’an diturunkan dengan kadar sesuai dengan kebutuhan, tidak dapat terserap dengan baik sehingga meluap ke mana-mana. Kemudian di pedesaan, kita melihat praktek penebangan hutan secara liar, tanpa diimbangi dengan upaya penghijauan. Akibatnya, tanah longsor pada musim hujan, dan kesulitan air bersih pada musim kemarau.

Tugas Memakmurkan Bumi

Al-Qur’an menyatakan bahwa bumi diciptakan untuk meme-nuhi kebutuhan manusia. Pernyataan ini sangat selaras dengan kenyataan yang kita saksikan mengenai pemanfaatan kekayaan alam oleh manusia. Tumbuhan-tumbuhan dimanfaatkan untuk me-menuhi kebutuhan akan pangan, papan, sandang dan pakan untuk ternak (QS. 79: 31-33; 80: 24-32; 32: 27; 20: 53-54.), disamping sebagai unsur utama dari keindahan alam yang memenuhi kebutuhan manusia akan pemandangan dan lingkungan yang sehat (QS. 22: 5; 27: 60; 50: 7). Demikian pula binatang, selain sebagai bahan pangan, dan sandang (QS. 6: 142; 40: 79, 6: 66), juga digunakan sebagai kendaraan (QS. 16: 7-8; 23: 22). Untuk semua itu, Allah mengisyaratkan kewajiban manusia merefleksikan keka-guman terhadap sang pencipta sekaligus mensyukurinya “Tuhan kami, tiada yang sia-sia dari segala apa yang Engkau ciptakan”(QS. 3:191).

Perhatian manusia seharusnya tidak berhenti pada fungsi dan upaya pemanfaatan bumi untuk dirinya. Bumi sebagai nikmat tidak hanya ditujukan kepada generasi tertentu, melainkan untuk semua manusia dari generasi ke generasi. Karenanya, di samping berhak memanfaatkannya, manusia mempunyai kewajiban untuk melakukan pemeliharaan agar tetap lestari untuk diwariskan ke-pada generasi berikutnya. Dalam kontek ini, manusia menempati posisi khalifah yang mengemban amanah untuk memakmurkan bumi. Mereka harus memikirkan cara pemanfaatan lingkungan se-kaligus pelestariannya “memenuhi kebutuhan sekarang dengan mengeksploitasi alam tanpa mengganggu hak generasi mendatang”.

Posisi manusia sebagai khalifah dengan tugas memak-murkan bumi terungkap pada QS. 2: 30; 38: 26; 11: 61. Berda-sarkan ayat-ayat dimaksud, para ulama menjelaskan tugas manusia dengan konsep istikhlaaf dan isti’maar. Kedua konsep ini saling terkait, yang pertama merujuk pada subyek yang melaksanakan tugas, sedangkan yang kedua merujuk pada pekerjaan (tugas) yang harus dijalankan. Gabungan keduanya dapat kita rangkai dalam kalimat pendek “manusia adalah wakil Tuhan untuk memakmurkan bumi”.

Khalifah artinya pihak yang mewakili pemberi wewenang untuk melaksanakan tugasnya. Dalam kontek pembicaraan ini, khalifah berarti pihak yang menerima amanah dari Allah untuk mewakili diri-Nya untuk mengurus bumi. Secara eksplisit kedua ayat di atas menyebutkan dua figur khalifah, yakni Adam as. dan Nabi Shaleh as. Meski demikian, tugas sebagai khalifah tidak terbatas pada manusia pilihan yang disebutkan namanya secara langsung. Manusia tanpa terkecuali adalah khalifah. Hal ini dikuatkan oleh ayat kedua yang menyatakan semua manusia mengemban tugas untuk memakmurkan bumi. Ayat yang dimaksud menggunakan redaksi umum, karena itu para ulama sepakat bahwa pihak yang mendapatkan tugas untuk memakmurkan bumi adalah manusia secara keseluruhan.

Kata ista’mara berarti memakmurkan, artinya mengolah bumi sehingga beralih menjadi suatu tempat dan kondisi yang me-mungkinkan manfaatnya dapat dipetik seperti membangun pemu-kiman untuk dihuni, mesjid untuk tempat ibadah, tanah untuk pertanian, taman untuk dipetik buahnya dan rekreasi. Kata ini muncul empat kali di dalam al-Qur’an, semuanya merujuk pada manusia sebagai subyeknya. Perbedaannya hanya terletak pada obyeknya, dua diantaranya meletakkan bumi sebagai obyek, dan dua yang lainnya dalam kontek memakmurkan masjid. Hal ini menarik, sebab di dalam satu ayat, Allah justru menyebutkan bahwa semua bagian bumi ini adalah tempat bersujud bagi manusia. Ini semakin menegaskan bahwa upaya memakmurkan bumi tidak terbatas pada aspek material semata, tetapi juga memer-hatikan aspek spiritual secara simultan.

Kaitannya dengan tugas untuk memakmurkan bumi, Allah mengisyaratkan potensi penyimpangan yang dapat dilakukan oleh manusia. Pada rangkaian ayat yang menyebut Nabi Adam as. sebagai khalifah, hal itu terungkap lewat sanggahan malaikat bahwa manusia yang terpilih menjadi khalifah, berpotensi melakukan pertumpahan darah, sementara pada ayat yang menyebutkan Nabi Shaleh as. sebagai khalifah, isyarat itu terliha pada perintah untuk memohon ampun dan bertobat. Pada QS. Shad, 38: 26 dinyatakan bahwa penyimpangan itu karena adanya godaan sehingga manusia mengikuti hawa nafsunya. Potensi penyimpangan ini terbuka untuk berkembang menjadi aktual karena bumi sebagai obyeknya adalah passif dan bebas nilai (Kadir Gassing).

Untuk itu, Allah membekali manusia dengan akal disamping keberadaan wahyu. Wujudnya adalah mengelola lingkungan dengan bekal iman dan tekhnologi. Meski tidak secara eksplisit, namun keharusan integrasi keduanya secara seimbang dalam pengelolaan lingkungan dapat dipahami dari isyarat-isyarat implisit yang disebutkan di dalam ayat. Menarik untuk dikaji bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang menyebutkan bumi sebagai nikmat secara konsisten menekankan aspek spritual. Pada awal Surah al-Fatihah, misalnya, Allah swt. merangkai kepantasan segala rasa terima kasih pada-Nya dengan eksistensi-Nya sebagai pencipta sekaligus pemelihara alam semesta. Kemudian, ayat yang mengenalkan bumi sebagai ham-paran ditutup dengan sebuah larangan agar manusia tidak menjadikan sesuatu apapun sebagai tandingan bagi-Nya. Ayat yang menegaskan bumi sebagai penghidupan ditutup dengan keharusan untuk bersyukur. Ayat-ayat seperti ini dapat dipahami bahwa pada hakekatnya nilai-nilai spritual harus diintegrasikan dalam mengelola alam. Intinya adalah menciptakan interaksi dengan lingkungan dalam bentuk hubungan mutualisme, mengambil sekaligus memberi manfaat dari dan kepada lingkungan.

Urgensi integrasi nilai-nilai spritualitas dalam mengelola lingkungan hidup disampaikan Allah lewat pemaparan kisah-kisah umat masa lampau seperti kisah umat Nabi Nuh, Hud, Luth dan Shaleh. Penuturan al-Qur’an mengenai hal ini semuanya meng-gambarkan pengingkaran mereka terhadap spritualitas yang disampaikan oleh Rasul yang diutus kepada mereka. Karenanya, dalam interaksi mereka dengan lingkungan kering dari nilai-nilai spiritual. Akibatnya mereka semua hancur oleh alam itu sendiri. Umat Nabi Nuh hancur karena banjir, umat Nabi Daud binasa karena angin kencang, umat Nabi Shaleh hancur karena suara petir dan halilintar yang mematikan.

Kemudian pesan pentingnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam mengelola lingkungan muncul pada kontek penciptaan Adam sebagai khalifah. Al-Qur’an menggambarkan bahwa Nabi Adam as. Yang dilantik sebagai khalifah memiliki seperangkat ilmu tentang nama-nama seluruh benda. Hal ini dengan tegas diungkapkan pada redaksi wa ‘allama Adama al-asmâ’a kullahâ. Pesan ini dapat dipahami secara kontekstual bahwa untuk menjadi khalifah yang baik, manusia harus membekali dirinya dengan pengetahuan, mengikuti perkembangan sain dan tekhnologi yang begitu dinamis.

3. Pemanfaatan Lingkungan Hidup               

Hukum asal memanfaatkan bumi adalah mubah (boleh). Cara dan tujuan pemanfaatan yang dilakukan oleh manusia kemudian memungkinkan hukum asal tersebut berubah menjadi wajib atau haram. Pemanfatan dan pengelolaan bumi yang berdampak pada kerusakan, pencemaran, atau merugikan pihak lain mengalihkan status hukum dari mubâh menjadi terlarang (haram). Sebaliknya, bila eksploitasi sumberdaya alam dilakukan untuk memenuhi suatu kewajiban seperti untuk memberi nafkah keluarga dengan tetap menjaga kelestarian serta dampak negatifnya, maka hukum yang asalnya mubah, dapat berubah menjadi wajib.

Pengelolaan lingkungan hidup harus didasarkan pada ketauhidan, yakni keyakinan bahwa Allah swt. adalah Pencipta, Pemelihara, dan Pendidik alam semesta (rabb al-alamîn). Kong-kritnya, dalam pengelolaan lingkungan harus selaras dengan pesan-pesan ilahiah. Kondisi bumi dan segala isinya yang passif dan siap-olah, bukan alasan bagi manusia untuk melakukan pengelolaan lingkungan semaunya. Manusia harus selalu menyadari bahwa apapun yang ia lakukan tidak ada yang luput dari pengetahuan Allah, dan kerusakan sekecil apapun yang dilakukan harus dipertanggungjawabkan di kelak kemudian hari.

Pengelolaan lingkungan hidup di dalam ajaran Islam tergambar pada dua pesan kunci, yakni perintah untuk melakukan perbaikan (al-islah) dan larangan untuk melakukan kerusakan (al-ifsad). Kedua pesan ini berlaku untuk semua jenis spesies yang ada di bumi (hewan, tumbuh-tumbuhan, dan materi lainnya). Perbaikan (ishlah) artinya kegiatan yang melestarikan kondisi bumi, dan meningkatkan manfaatnya bagi manusia dan makhluk lainnya. Sementara kerusakan (al-ifsad) adalah segala bentuk kegiatan yang mengancam kelestarian lingkungan dan atau meyebabkan berku-rangnya fungsi alam terhadap kehidupan makhluk hidup di dunia.

Secara praktis, pesan-pesan tersebut terwujud dalam kehi-dupan Nabi dan para sahabatnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa nabi menetapkan area yang disebut dengan naqi dan hima sebagai kawasan konservasi, sama dengan cagar alam saat ini. Ibn Wahhab berpendapat bahwa yang dikatakan naqî‘ dalam bahasa Arab adalah tempat yang menjadi sumber air. Imam al-Syaukani menjelaskan bahwa naqî‘ yang berada di luar kota Madinah disebut demikian karena di sana terdapat sumber (genangan) air dan pa-dang rumput yang dilindungi oleh Nabi dan digunakan sebagai tempat menggembalakan hewan ternak (Rusli, 1999: 196).

Perintah untuk menyiapkan padang gembala menunjukkan kesadaran Rasulullah atas pentingnya konservasi tumbuh-tumbuhan. Hal ini dikuatkan sejumlah sabdanya yang berisi anjuran untuk menanam pohon sekaligus janji  pahala bagi pela-kunya. Kemudian dalam bentuk larangan Rasulullah menyatakan bahwa merusak tumbuh-tumbuhan adalah pekerjaan orang-orang munafiq.

Dewasa ini, kelestarian lingkungan harus menjadi perhatian semua pihak. Temuan tekhnologi dalam bentuk alat, bahan, dan cara tentu saja abash untuk digunakan dan diterapkan, namun dengan catatan selama tidak mengancam kelestarian lingkungan itu sendiri. Hal ini harus ditekankan karena dalam waktu yang relatif lama, pengelolaan lingkungan oleh masyarakat industri dengan menggunakan bahan, alat, dan tekhnologi yang canggih tidak melihat sesuatu kecuali pengaruh tekhnologi itu terhadap kemu-dahan melakukan eksplorasi/eksploitasi dengan tingkat produk-tifitas yang tinggi. Padahal di satu sisi melahirkan dampak negatif yang luar biasa, yakni mengancam kehidupan ummat manusia. Penggunaan DDT misalnya di satu sisi meningkatkan produksi pertanian, namun di sisi lain menyebabkan hilangnya spesies-spesies tertentu yang tentu saja mempunyai kontribusi tersendiri dalam kontek keseimbangan ekologi dan ekosistem (Carson: 1962). Kesadaran seperti inilah kemudian yang melahirkan upaya serius dalam penanganan lingkungan sejak dekade 1960 – 1970-an, yang tertuang dalam berbagai kebijakan-kebijakan internasional. Di antara kebijakan – kebijakan internasional tersebut, yang juga telah diratifikasi oleh pemerintah RI adalah Deklarasi Rio de Jeneiro dan agenda 21, Konvensi Keanekaragaman Hayati/Undang-undang No. 5 Tahun 1994, Konvensi Perubahan Iklim/Undang-undang No. 6 Tahun 1994, Konvensi PBB tentang kelautan/Undang-undang No. 17 Tahun 1985, Konvensi Perdagangan Internasional tentang spesies langka/Kepres No. 43 Tahun 1978, Konvensi Perlindungan Lahan Basah/Kepres No 48 tahun 1991, dan Konvensi lapisan Ozon/ Kepres No 23 tahun 1992.

Kesimpulan

Pemeliharaan lingkungan hidup merupakan prioritas di dalam ajaran islam. Penelusuran terhadap al-Qur’an dan hadis bahkan menunjukkan bahwa islam mempunyai konsep yang komprehensif mengenai hal tersebut melalui penjelasan tentang fungsi bumi dan segala isinya bagi manusia, tugas manusia sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi, urgensi iman dan teknologi (tekhnorelegius) dalam mengelola bumi serta sejumlah perintah untuk melakukan ishlah sekaligus larangan melakukan ifsad. Bahkan, pengelolaan lingkungan telah dipraktekkan oleh Nabi dan para sahabatnya dengan menetapkan kawasan-kawasan tertentu sebagai cagar alam.

 

Last Updated on Saturday, 01 January 2011 08:23

Pentingnya Pengetahuan dan Pendidikan Menurut al-Qur’an

Selasa, 01 Februari 2011 13:50 |||

Pendidikan memiliki peran penting pada era sekarang ini. Karena tanpa melalui pendidikan proses transformasi dan aktualisasi pengetahuan moderen sulit untuk diwujudkan. Demikian halnya dengan sains sebagai bentuk pengetahuan ilmiah dalam pencapaiannya harus melalui proses pendidikan yang ilmiah pula. Yaitu melalui metodologi dan kerangka keilmuan yang teruji. Karena tanpa melalui proses ini pengetahuan yang didapat tidak dapat dikatakan ilmiah.

Dalam Islam pendidikan tidak hanya dilaksanakan dalam batasan waktu tertentu saja, melainkan dilakukan sepanjang usia (long life education). Islam memotivasi pemeluknya untuk selalu meningkatkan kualitas keilmuan dan pengetahuan. Tua atau muda, pria atau wanita, miskin atau kaya mendapatkan porsi sama dalam pandangan Islam dalam kewajiban untuk menuntut ilmu (pendidikan). Bukan hanya pengetahuan yang terkait urusan ukhrowi saja yang ditekankan oleh Islam, melainkan pengetahuan yang terkait dengan urusan duniawi juga. Karena tidak mungkin manusia mencapai kebahagiaan hari kelak tanpa melalui jalan kehidupan dunia ini.

Islam juga menekankan akan pentingnya membaca, menelaah, meneliti segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini. Membaca, menelaah, meneliti hanya bisa dilakukan oleh manusia, karena hanya manusia makhluk yang memiliki akal dan hati. Selanjutnya dengan kelebihan akal dan hati, manusia mampu memahami fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya, termasuk pengetahuan. Dan sebagai implikasinya kelestarian dan keseimbangan alam harus dijaga sebagai bentuk pengejawantahan tugas manusia sebagai khalifah fil ardh.

Dalam makalah ini akan dipaparkan pandangan Islam tentang pendidikan, pemerolehan pengetahuan (pendidikan), dan arah tujuan pemanfaatan pendidikan.

Pendidikan Menurut al-Qur’an

al-Qur’an telah berkali-kali menjelaskan akan pentingnya pengetahuan. Tanpa pengetahuan niscaya kehidupan manusia akan menjadi sengsara. Tidak hanya itu, al-Qur’an bahkan memposisikan manusia yang memiliki pengetahuan pada derajat yang tinggi. al-Qur’an surat al-Mujadalah ayat 11 menyebutkan:

…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”.

al-Qur’an juga telah memperingatkan manusia agar mencari ilmu pengetahuan, sebagaimana dalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 122 disebutkan:

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.

Dari sini dapat dipahami bahwa betapa pentingnya pengetahuan bagi kelangsungan hidup manusia. Karena dengan pengetahuan manusia akan mengetahui apa yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang membawa manfaat dan yang membawa madharat.

Dalam sebuah sabda Nabi saw. dijelaskan:

Mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa Islam mewajibkan kepada seluruh pemeluknya untuk mendapatkan pengetahuan. Yaitu, kewajiban bagi mereka untuk menuntut ilmu pengetahuan.

Islam menekankan akan pentingnya pengetahuan dalam kehidupan manusia. Karena tanpa pengetahuan niscaya manusia akan berjalan mengarungi kehidupan ini bagaikan orang tersesat, yang implikasinya akan membuat manusia semakin terlunta-lunta kelak di hari akhirat.

Imam Syafi’i pernah menyatakan:

Barangsiapa menginginkan dunia, maka harus dengan ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, maka harus dengan ilmu. Dan barangsiapa menginginkan keduanya, maka harus dengan ilmu”.

Dari sini, sudah seyogyanya manusia selalu berusaha untuk menambah kualitas ilmu pengetahuan dengan terus berusaha mencarinya hingga akhir hayat.

Dalam al-Qur’an surat Thahaa ayat 114 disebutkan:

Katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan’.”

Pemerolehan Pengetahuan dan Objeknya (Proses Pendidikan)

Pendidikan Islam memiliki karakteristik yang berkenaan dengan cara memperoleh dan mengembangkan pengetahuan serta pengalaman. Anggapan dasarnya ialah setiap manusia dilahirkan dengan membawa fitrah serta dibekali dengan berbagai potensi dan kemampuan yang berbeda dari manusia lainnya. Dengan bekal itu kemudian dia belajar: mula-mula melalui hal yang dapat diindra dengan menggunakan panca indranya sebagai jendela pengetahuan; selanjutnya bertahap dari hal-hal yang dapat diindra kepada yang abstrak, dan dari yang dapat dilihat kepada yang dapat difahami. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam teori empirisme dan positivisme dalam filsafat. Dalam firman Allah Q.s. an-Nahl ayat 78 disebutkan:

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”.[1]

Dengan pendengaran, penglihatan dan hati, manusia dapat memahami dan mengerti pengetahuan yang disampaikan kepadanya, bahkan manusia mampu menaklukkan semua makhluk sesuai dengan kehendak dan kekuasaannya. Dalam al-Qur’an surat al-Jatsiyah ayat 13 disebutkan:

Dan dia menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”.

Namun, pada dasarnya proses pemerolehan pengetahuan adalah dimulai dengan membaca, sebagaimana dalam al-Qur’an surat al-‘Alaq ayat 1-5:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan (1), Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2). Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah (3), Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (4), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5)”.

Dalam pandangan Quraish Shihab kata Iqra’ terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks tertulis maupun tidak.

Wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena al-Qur’an menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak. Alhasil, objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.[2]

Sebagaimana dalam al-Qur’an surat Yunus ayat 101 disebutkan:

Katakanlah: ‘Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi”.

Al-Qur’an membimbing manusia agar selalu memperhatikan dan menelaah alam sekitarnya. Karena dari lingkungan ini manusia juga bisa belajar dan memperoleh pengetahuan.

Dalam al-Qur’an surat asy-Syu’ara ayat 7 juga disebutkan:

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?”.

Demikianlah, al-Qur’an secara dini menggarisbawahi pentingnya “membaca” dan keharusan adanya keikhlasan serta kepandaian memilih bahan bacaan yang tepat.[3]

Namun, pengetahuan tidak hanya terbatas pada apa yang dapat diindra saja. Pengetahuan juga meliputi berbagai hal yang tidak dapat diindra. Sebagaimana tertuang dalam al-Qur’an surat Al-Haqqah ayat 38-39:

Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat (38). Dan dengan apa yang tidak kamu lihat (39)”.

Dengan demikian, objek ilmu meliputi materi dan nonmateri, fenomena dan nonfenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui oleh manusia pun tidak. Dalam al-Qur’an surat Al-Nahl ayat 8 disebutkan:

Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya”.[4]

Sebagaimana telah dipaparkan di atas, dalam pengetahuan manusia tidak hanya sebatas apa yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia, namun juga semua pengetahuan yang dapat menyelamatkannya di akhirat kelak.

Islam mengehendaki pengetahuan yang benar-benar dapat membantu mencapai kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia. Yaitu pengetahuan terkait urusan duniawi dan ukhrowi, yang dapat menjamin kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia di dunia dan di akhirat.

Pengetahuan duniawi adalah berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan urusan kehidupan manusia di dunia ini. Baik pengetahuan moderen maupun pengetahuan klasik. Atau lumrahnya disebut dengan pengetahuan umum. Sedangkan pengetahuan ukhrowi adalah berbagai pengetahuan yang mendukung terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia kelak di akhirat. Pengetahuan ini meliputi berbagai pengetahuan tentang perbaikan pola perilaku manusia, yang meliputi pola interaksi manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Atau biasa disebut dengan pengetahuan agama.

Pengetahuan umum (duniawi) tidak dapat diabaikan begitu saja, karena sulit bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hari kelak tanpa melalui kehidupan dunia ini yang mana dalam menjalani kehidupan dunia ini pun harus mengetahui ilmunya. Demikian halnya dengan pengetahuan agama (ukhrowi), manusia tanpa pengetahuan agama niscaya kehidupannya akan menjadi hampa tanpa tujuan. Karena kebahagiaan di dunia akan menjadi sia-sia ketika kelak di akhirat menjadi nista.

Islam selalu mengajarkan agar manusia menjaga keseimbangan, baik keseimbangan dhohir maupun batin, keseimbangan dunia dan akhirat. Dalam Qs. Al-Mulk ayat 3 disebutkan:

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang! Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”.

Dalam al-Qur’an surat ar-Ra’d ayat 8 juga disebutkan:

Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ukuran”.

Dari sini dapat dipahami bahwa Allah selalu menciptakan segala sesuatu dalam keadaan seimbang, tidak berat sebelah. Demikian halnya dalam penciptaan manusia. Manusia juga tercipta dalam keadaan seimbang. Dari keseimbangan penciptaannya, manusia diharapkan mampu menciptakan keseimbangan diri, lingkungan dan alam semesta. Karena hanya manusia yang mampu melakukannya sebagai bentuk dari kekhalifahan manusia di muka bumi.

Dalam al-Qur’an surat al-Qashash ayat 77 disebutkan:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Manusia tidak dianjurkan oleh Islam hanya mencari pengetahuan yang hanya berorientasi pada urusan akhirat saja. Akan tetapi, manusia diharapkan tidak melupakan pengetahuan tentang urusan dunia. Meskipun kehidupan dunia ini hanyalah sebuah permainan dan senda gurau belaka, atau hanyalah sebuah sandiwara raksasa yang diciptakan oleh Tuhan semesta alam. Namun, pada dasarnya manusia diharapkan mampu menjaga keseimbangan dirinya dalam menjalani realita kehidupan ini, termasuk dalam mencari pengetahuan.

Al-Qur’an surat al-An’aam ayat 32 menyebutkan:

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”.

Islam menghendaki agar pemeluknya mempelajari pengetahuan yang dipandang perlu bagi kelangsungan hidupnya di dunia dan di akhirat kelak. Dalam al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 201 disebutkan:

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Kebaikan (hasanah) dalam bentuk apapun tanpa didasari ilmu, niscaya tidak akan terwujud. Baik berupa kebaikan duniawi yang berupa kesejahteraan, ketenteraman, kemakmuran dan lain sebagainya. Apalagi kebaikan di akhirat tidak akan tercapai tanpa adanya pengetahuan yang memadai. Karena segala bentuk keinginan dan cita-cita tidak akan terwujud tanpa adanya usaha dan pengetahuan untuk mencapai keinginan dan cita-cita itu sendiri.

Pemanfaatan Pengetahuan (Orientasi Pendidikan)

Manusia memiliki potensi untuk mengetahui, memahami apa yang ada di alam semesta ini. Serta mampu mengkorelasikan antara fenomena yang satu dan fenomena yang lainnya. Karena hanya manusia yang disamping diberi kelebihan indera, manusia juga diberi kelebihan akal. Yang dengan inderanya dia mampu memahami apa yang tampak dan dengan hatinya dia mampu memahami apa yang tidak nampak. Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 31 disebutkan:

Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya”.

Yang dimaksud nama-nama pada ayat tersebut adalah sifat, ciri, dan hukum sesuatu. Ini berarti manusia berpotensi mengetahui rahasia alam raya.

Adanya potensi itu, dan tersedianya lahan yang diciptakan Allah, serta ketidakmampuan alam raya membangkang terhadap perintah dan hukum-hukum Tuhan, menjadikan ilmuwan dapat memperoleh kepastian mengenai hukum-hukum alam. Karenanya, semua itu mengantarkan manusia berpotensi untuk memanfaatkan alam yang telah ditundukkan Tuhan.[5]

Namun, di sisi lain manusia juga memiliki nafsu yang cenderung mendorong manusia untuk menuruti keinginannya. Nafsu jika tidak terkontrol maka yang terjadi adalah keinginan yang tiada akhirnya. Nafsu juga tidak jarang menjerumuskan manusia dalam lembah kenistaan. Dalam al-Qur’an surat Yusuf ayat 53 disebutkan:

Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”.

al-Qur’an menandaskan bahwa umat Islam adalah umat terbaik, yang mampu menciptakan lingkungan yang baik, kondusif, yang bermanfaat bagi seluruh alam. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Dalam al-Qur’an surat Ali Imron ayat 110 disebutkan:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”.

Sabda Nabi saw.:

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat”.

Pisau akan sangat berguna ketika digunakan oleh orang yang berpikiran positif dan ahli dalam menggunakan pisau. Sebaliknya, ketika pisau digunakan oleh orang yang berpikiran negatif, niscaya bukan kemanfaatan dan kemaslahatan yang akan dihasilkan dari pisau itu, melainkan kemadharatan.

Demikian halnya dengan pengetahuan, ketika penggunaannya bertujuan untuk mencapai kemanfaatan niscaya pengetahuan itu pun akan bermanfaat. Namun sebaliknya, ketika pengunaan pengetahuan digunakan untuk kemadharatan, maka kemadharatan itulah yang akan didapat.

Ilmu pengetahuan adalah sebuah hubungan antara pancaindera, akal dan wahyu. Dengan pancaindera dan akal (hati), manusia bisa menilai sebuah kebenaran (etika) dan keindahan (estetika). Karena dua hal ini adalah piranti utama bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan. Namun, disamping memiliki kelebihan, kedua piranti ini memiliki kekurangan. Sehingga keduanya masih membutuhkan penolong untuk menunjukkan tentang hakikat suatu kebenaran, yaitu wahyu. Dan dengan wahyu manusia dapat memahami posisinya sebagai khalifah fil ardh.[6]

Wahyu yang diturunkan kepada manusia tidak hanya berisikan perintah dan larangan saja, akan tetapi lebih dari itu al-Qur’an juga membahas tentang bagaimana seharusnya hidup dan menghargai kehidupan. Dan tidak terlepas juga di dalam al-Qur’an dikaji tentang sains dan teknologi sehingga tidaklah berlebihan jika kita menyebutnya sebagai kitab sains dan medis[7].

Namun, berbagai bentuk kemajuan sains dan teknologi serta ilmu pengetahuan tanpa didasari tujuan yang benar, niscaya hanya akan menjadi sebuah bumerang yang menghancurkan kehidupan manusia. Karena tidak jarang saat ini manusia malah mengalami kejenuhan, kehampaan jiwa, hedonisme, materialisme bahkan dekadensi moral yang tidak jarang pula implikasinya merugikan diri mereka sendiri bahkan lingkungan sekitar. Padahal dengan adanya kemajuan sains dan teknologi kehidupan manusia diharapkan menjadi lebih mudah, efisien, instan, yang bukan malah menimbulkan tekanan jiwa dan kerusakan lingkungan.

Dalam Islam telah digariskan aturan-aturan moral penggunaan pengetahuan. Apapun pengetahuan itu, baik kesyariatan maupun lainnya, teoritis maupun praktis, ibarat pisau bermata dua yang dapat digunakan pemiliknya untuk berlaku munafik dan berkuasa atau berbuat kebaikan dan mengabdi kepada kepentingan umat manusia. Pengetahuan tentang atom umpamanya, dapat digunakan untuk tujuan-tujuan perdamaian dan kemanusiaan, tapi dapat pula digunakan untuk menghancurkan kebudayaan manusia melalui senjata-senjata nuklir.[8]

Al-Qur’an juga telah menegaskan bahwa kerusakan di muka bumi adalah akibat dari ulah manusia sendiri. Dalam al-Qur’an surat ar-Rum ayat 41 disebutkan:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia”.

Manusia adalah makhluk yang memiliki tanggung jawab, yaitu tanggung jawab menjadi khalifah fil ardh. Kekhalifahan manusia adalah salah satu bentuk dari ta’abbud-nya kepada sang Khalik. Sedangkan ta’abbud adalah tugas pokok dari penciptaan manusia, sekaligus menggali, mengatur, menjaga dan memelihara alam semesta ini. Sebagaimana telah dijelaskan dalam al-Qur’an surat adz-Dzariyat ayat 56:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Dalam al-Qur’an surat al-A’raf ayat 85 disebutkan:

Sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman“.

Pemanfaatan pengetahuan harus ditujukan untuk mendapatkan kemanfaatan dari pengetahuan itu sendiri, menjaga keseimbangan alam semesta ini dengan melestari-kan kehidupan manusia dan alam sekitarnya, yang sekaligus sebuah aplikasi dari tugas kekhalifahan manusia di muka bumi. Dan pemanfaatan pengetahuan adalah bertujuan untuk ta’abbud kepada Allah swt., Tuhan semesta alam. Wallahu a’lam.

Kesimpulan

Dari deskripsi singkat di atas, dapat dipahami bahwa al-Qur’an telah memberikan rambu-rambu yang jelas kepada kita tentang konsep pendidikan yang komperehensif. Yaitu pendidikan yang tidak hanya berorientasi untuk kepentingan hidup di dunia saja, akan tetapi juga berorientasi untuk keberhasilan hidup di akhirat kelak. Karena kehidupan dunia ini adalah jembatan untuk menuju kehidupan sebenarnya, yaitu kehidupan di akhirat.

Manusia sebagai insan kamil dilengkapi dua piranti penting untuk memperoleh pengetahuan, yaitu akal dan hati. Yang dengan dua piranti ini manusia mampu memahami “bacaan” yang ada di sekitarnya. Fenomena maupun nomena yang mampu untuk ditelaahnya. Karena hanya manusia makhluk yang diberi kelebihan ini.

Pengetahuan yang telah didapat manusia sudah seyogyanya diorientasikan untuk kepentingan seluruh umat manusia. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia seluruhnya. Namun, tidak boleh dilupakan bahwa manusia juga hidup berdampingan dengan lingkungan, sehingga tidak bisa serta merta kemajuan pengetahuan pengetahuan dan teknologi malah menghancurkan dan merusak keseimbangan alam. Karena sudah menjadi tugas manusia untuk melestarikan alam ini sebagai pengejawantahan kekhalifahan manusia sekaligus bentuk ta’abbudnya kepada Allah swt. (HSR Blog)

Daftar Pustaka

Ahmad, al-Hajj, Yusuf. al-Qur’an Kitab Sains dan Medis. Terj. Kamran Asad Irsyadi. Grafindo Khazanah Ilmu. Jakarta. 2003.

al-Qardawi, Yusuf. Sunnah, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban. Terj. Abad Badruzzaman. PT. Tiara Wacana. Yogyakarta. 2001.

Aly, Noer, Hery & Suparta, Munzier. Pendidikan Islam Kini dan Mendatang. CV. Triasco. Jakarta. 2003.

Habib, Zainal. Islamisasi Sains. UIN-Malang Press. Malang. 2007.

Shihab, Quraish, M. Membumikan al-Qur’an. Mizan. Bandung. 2004.

_______________. Wawasan al-Qur’an. Mizan. Bandung. 2001.

Zainuddin, M. Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam. Lintas Pustaka. Jakarta. 2006.


[1]Hery Noer Aly & Munzier Suparta, Pendidikan Islam Kini dan Mendatang, (Jakarta: CV. Triasco, 2003), h. 109.

[2]M. Qusraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2001), h. 433.

[3]________________, Membumikan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2004), h. 168.

[4]M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2001), h. 436.

[5]Ibid, h. 442.

[6]Lihat Yusuf al-Qardawi, Sunnah, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, terj. Abad Badruzzaman, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 2001), h. 117-121.

[7]Lihat Yusuf al-Hajj Ahmad, al-Qur’an Kitab Sains dan Medis, terj. Kamran Asad Irsyadi, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2003), cet.II.

[8]Hery Noer Aly & Munzier Suparta, op.cit., h. 109-110. Bandingkan dengan Zainal Habib, Islamisasi Sains, (Malang: UIN-Malang Press, 2007), h. 14-18.

Al Qur’an Kitab Suci

OPINI | 13 October 2010 | 10:07 830 13 Nihil


Al Qur’an Memang Kitab Suci

Al Qur’anul Karim adalah Firman Allah SWT yang diturunkan melalui Malaikat Jibril as kepada Nabi Muhammad SAW , merupakan Kitab Suci Umat Islam, wahyu pertama pada QS Al Alaq ayat 1-5 dan sampai dengan QS Al Maidah ayat 3, sebagai ayat yang terakhir . Ayat pertama QS Al Alaq turun pada bulan Ramadhan saat Nabi Muhammad berusia 40 tahun atau pada 611 M. Al Qur’an diturunkan dalam waktu 12 tahun, terbagi 10 tahun di Madinah dan 2 tahun di Mekkah . Ayat terakhir QS Al Maidah ayat 3 turun pada hari Jum’at saat Rasullullah melaksanakan Haji Wada’ (haji terakhir). Keseluruhan Al Qur’an terdiri dari 30 Juz dan 114 Surat. Sampai detik ini pengucapan ayat per ayat (baca huruf per huruf) tidak berbeda dan dibaca persis sama seperti di sampaikan Malaikat Jibril kepada Baginda Nabi Muhammad dan selanjutnya dituturkan Nabi Muhammad kepada para shahabat pada waktu itu,semua Ayat Al Qur’an itu merupakan Wahyu Allah dan terjamin kemurniannya. Allah sendiri berfirman di dalamnya pada Surat Al Baqarah “Dzaalikal kitaabu laa raiba fiih hudallil muttaqiin” artinya “kitab Al Qur’an ini tidak ada keraguan pada isinya petunjuk bagi orang yang takwa” . Di lain Surat yaitu pada Surat Al Hijr 9 “ Innaa nahnu nazzalnadz dzikra wa inna lahuu lahaafizhuun” artinya “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an, dan Kami pulalah yang memeliharanya”.

Saudara-saudaraku, seiman dan seakidah, tidak bisa dipungkiri bahwa Al Qur’an adalah kitab Suci, yang sudah teruji selama lebih 1400 tahun, dan akan teruji sepanjang masa, atas Janji Allah SWT sendiri sebagai pencipta Al Qur’an dan seluruh alam semesta. Kita perhatikan, tidak ada kitab satupun di seluruh muka bumi ini yang dihafal oleh puluhan ribu umat, bahkan jutaan kecuali Kitab Suci Al Qur’an. Umat Islam yang menjadi panji-panji keaslian dan kemurnian Al Qur’an.Terbukti dibacakannya Al Qur’an pada shalat berjamaah di Masjidil Haram, baik pada waktu shalat fardhlu/wajib atau sunnah Tharawih lengkap 30 Juz, didengar dan disimak oleh seluruh umat Islam di dunia. Tidak akan sanggup siapapun memalsukannya, dengan cara apapun pasti akan ketahuan oleh Umat Islam yang mengamalkan sebagai bacaan pedoman hidup sepanjang masa. Secara tegas dimengerti bahwa tidak ada kitab suci lain yang dihafal oleh manusia kecuali Al Qur’anul Karim.

Al Qur’an dibaca dan dipahami maknanya di setiap surau, musholla, masjid, pesantren, Madrasah/sekolah, di rumah umat muslim di seluruh permukaan bumi, ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan tempat ibadah selalu mengumandangkan Al Qur’an yang penuh berkah di dalamnya. Ini tidak lain adalah bukti bahwa Al Qur’an masih eksis dan terus eksis di seluruh penjuru dunia.

Berikut penulis ingin menyampaikan tinjauan Al Qur’an dari berbagai aspek Ilmu Pengetahuan (Sciences) , bahkan Hukum dan Sosial Kemasyarakatan. Sejarah telah dan yang akan membuktikan bahwa Al Qur’an adalah benar-benar Wahyu Allah SWT, bukan karangan siapapun, Nabi Muhammad adalah sebagai penyampai atau perantara agar wahyu ini sampai kepada umat manusia di seluruh muka bumi.

Al Qur’an ditinjau dari sisi Hukum.

Hukum dalam ajaran Agama Islam dikenal dengan istilah Syariat, yang berarti peraturan atau hukum-hukum yang diturunkan Allah, melalui RasulNya yang mulia,untuk umat manusia, agar manusia keluar dari kegelapan menuju jalan terang, dan mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus. Jika Syariat yang dimaksud ditujukan bagi Umat Islam ini menunjuk kepada peraturan atau hukum-hukum yang diturunkan Allah, melalui Rasul Muhammad SAW, baik berupa Al Qur’an maupun Sunnah Nabi yang berupa perkataan, perbuatan, ketetapan Nabi Muhammad SAW. Jadi jelas bahwa Al Qur’an memuat aspek-aspek hukum bagi ketentraman kehidupan makhluk Allah terutama manusia. Bahkan 90 % dari ayat-ayat Al Qur’an adalah yang berkaitan atau mengatur interaksi antara manusia dengan sesamanya dan mahkluk lainnya, sedangkan 10 % saja yang berkaitan antara manusia dengan Allah SWT.

Sisi hukum merupakan aspek yang fundamental bagi keabsahan suatu panduan dalam kehidupan makhluk yang bernama manusia. Jika suatu produk hukum itu gagal dipertanggung jawabkan keabsahannya, maka segala pembahasan maupun perwujudan pelaksanaannya menjadi tidah sah pula. Al Qur’an sebagai Kitab Suci yang mengandung Produk hukum dari Allah bersifat mutlak kebenarannya, adapun hukum manusia, secara substansial tidak boleh berseberangan nilai kebenarannya terhadap nilai kebenaran pada hukum Allah, Sang Pemilik Hukum itu sendiri.

Sedangkan Hukum Islam/ Syariat Islam sekaligus hukum Allah dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

1. Ilmu Tauhid : yaitu peraturan atau hukum-hukum yang berkaitan dengan keimanan, yang tidak boleh diragukan oleh umat Islam, karena merupakan rukun Iman itu sendiri; antara lain : Iman kepada Allah SWT, iman kepada Rasul-rasul Allah, Iman kepada Malaikat Allah, Iman kepada Kitab-kitab Allah (Zabul,Taurat dan Injil), Iman kepada hari Akhir, Iman kepada Qadha dan Qadar. Jumlah ayat Al Qur’an yang memuat dan menjelaskannya sekitar 10% dan kebanyakan turun di Mekkah, dikenal dengan ayat Makkiyah.

2. Ilmu Akhlak/Budi pekerti yang luhur : peraturan atau hukum-hukum yang berhubungan dengan pendidikan dan penyempurnaan budi pekerti itu sendiri; bagaimana memenuhi janji, tugas dan tanggung jawab, moral, etika,dan seterusnya, kebanyakan turun di Madinah, dikenal dengan ayat Madinniyah.

3. Ilmu Fiqih : yaitu ilmu yang mengatur hubungan manusia dengan Allah sebagai Pencipta, manusia dengan sesama manusia. Untuk yang mengatur hubungan manusia dengan Allah disebut Ibadah, sedang manusia dengan sesama disebut muamalah (berdagang, bertetangga, pergaulan suami istri, berkeluarga, dan seterusnya), kebanyakan turun di Madinah.

Banyak Ayat di Al Qur’an yang membicarakan tentang aspek Hukum bagi kehidupan umat manusia , seperti : kedudukan manusia sebagai makhluk Allah , hak waris dan martabat wanita, pencatatan hutang piutang, prinsip /tata cara aturan berdagang, kewajiban seorang Kepala rumah tangga , tanggung jawab pemimpin, aturan kesusilaan /kemasyarakatan dan seterusnya. Tentu saja Al Qur’an tidak menjabarkan semua hal Hukum menjadi mendetail atau terperinci di dalamnya apalagi ke hal yang bersifat teknis hukum. Mengapa demikian karena Al Qur’an bukan hanya membahas tentang hukum saja. Bahkan Al Qur’an sendiri mengandung mengajarkan pemahaman filsafat hukum itu sendiri.

Di dalam Al Qur’an juga termuat aturan/hukum yang berhubungan dengan makhluk selain manusia, yaitu hewan bahkan lingkungan. Issue lingkungan menjadi masalah mengemuka dan menimbulkan aspek hukum yang baru pada tatanan berbangsa di muka bumi. Kita lihat seperti Protokol Tokyo, Ratifikasi tentang penanggulangan pemanasan global (Global Warming) di Belgia pada Mei 2010 ini dan seterusnya. Al Qur’an sangat layak menjadi acuan substansi hukum bagi umat manusia, karena Al Qur’an bersifat universal dan nilai-nilai kebenarannya bersifat pasti atau absolute.

Menurut disiplin Ilmu hukum, Ilmu hukum itu sendiri dibedakan menjadi ilmu tentang

1. Norma (normwissenschafii),

2. Pengertian hukum (begriffenwissenschafii) dan

3. Kenyataan hukum (tatsach enwissenschaft).

Ilmu tentang norma antara lain membahas tentang perumusan norma hukum, apa yang dimaksud dengan norma hukum abstract dan konkrit, isi dan sifat norma hukum, essensialia norma hukum, tugas dan kegunaan norma hukum, pernyataan dan tanda pernyataan norma hukum, penyimpangan terhadap norma hukum,dan keberlakuan norma hukum.

Selajutnya ilmu pengertian hukum antara lain membahas tentang apa yang dimaksud masyarakat hukum, subyek hukum, object hukum, hak dan kewajiban, peristiwa hukum, dan hubungan hukum. Kedua jenis ilmu ini disebut dengan ilmu tentang dogmatic hukum. Ciri dogmatic hukum tersebut adalah teoritis rasional dengan menggunakan logika deduktif.

Sedang ilmu tentang kenyataan hukum antara lain : Sosiologi Hukum, Anthropologi Hukum, Psikologi Hukum, Perbandingan Hukum dan Sejarah Hukum. Sosiologi Hukum mempelajari secara empiris dan analitis hubungan timbal balik antara hukum sebagai gejala dengan gejala-gejala sosial lainnya.

Para pemikir Ilmu hukum Islam mendasarkan pemikirannya pada Agama Islam, yang bermuara pada Wahyu Allah, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, dan juga berdasarkan hadits NabiMuhammad SAW. Sumber Hukum Islam mulai dari Al Qur’an, Hadits Nabi, Ijma’ (kesepakatan-kesepakatan yang disetujui para ulama) dan Qiyas (persamaan atau analogi) . Sebagai pemikir , Imam Syafii telah mengolah hukum –hukum Islam secara sistematis yang kemudian dikenal sebagai Mazhab Syafii. Hukum Islam meliputi seluruh aspek kehidupan dan merupakan hukum yang ideal bagi pemeluknya. Hukum positif boleh dibuat dan diterapkan selama senafas dengan hukum Allah, karena pada dasarnya semua hokum positif yang secara substansial mengandung kebenaran maka akan relevan dengan hukum Allah / Syariat Islam.

Berikut sebagian dari banyak Surat atau Ayat-ayat Al Qur’an yang bermuatan hukum, baik norma, pengertian, kenyataan hukum.

QS Alfatihah ayat 1-7:

1. Bismillaahir Rahmaanir Rahiim (Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang).

2. Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin (segala puji kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam).

3. Arrahmaanir Rahiim (Yang Maha Pengasih dan Penyayang).

4. Maaliki yaumiddiin (Yang menguasai Hari Pembalasan).

5. Iyyaaka na’ budu wa iyyaaka nasta’iin (Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan kepada Engkau pulalah kami memohon pertolongan).

6. Ihdinashshiraathal mustaqiim (Pimpinlah kami kepada jalan yang lurus).

7. Shirathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladhdhaalliin (Yaitu ke jalan mereka , yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula ke jalan orang yang sesat

Pembahasan atas Surat Al Fatihah tersebut :

Ayat 1 : Norma hukum terkandung dalam kata “Dengan Nama Allah” dengan gelar/atribut sang “Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, gelar yang diberikan sebagai Pemilik hukum itu sendiri atas semua ciptaanNya yaitu alam dan seisinya, termasuk manusia. Bahwa Pencipta tak sama kedudukannya dengan ciptaan. Ciptaan harus tunduk akan hukum dari Pencipta. Allah memiliki nama-nama yang indah yang bersesuaian Sifat-sifat Dzat Allah sebagai Rab (Penguasa Alam Semesta) yang dikenal dengan Asma’ul Husna.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, menjelaskan bahwa Allah dengan segala kuasanya dan dengan sifat Rahman RahimNya akan mengurus segenap alam semesta dan seisinya .

Ayat 2 : Segala Puji kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam.

Makna Pengertian Hukum disini adalah Tuhan sebagai Pemilik hukum , kewajiban mentaati hukum ada pada manusia. Penegasan posisi masing-masing, antara Pencipta dan makhluk yang diciptakan.

Ayat 3 : Maha Pengasih dan Penyayang.

Sebagai Sifat sang Pencipta yang memiliki hukum itu sendiri.

Ayat 4 : Yang Menguasai Hari Pembalasan.

Sebagai Maha Hakim, Hakim di atas segalanya, yang berhak menjalankan/pemilik otoritas hukum atas ciptaannya, umat manusia dan segenap alam semesta.

Ayat 5 : Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan kepada Engkau pulalah kami memohon pertolongan.

Kembali menjelaskan posisi Allah sebagai pemilik hukum dan manusia sebagai pelaksana hukum, sang pelaku kehidupan, dan harus menyembah/ beribadah serta dengan berhajat memohon pertolongan kepada Allah, karena manusia adalah makhluk yang lemah yang selalu bergantung kepadaNya.

Ayat 6. Pimpinlah kami kepada jalan yang lurus.

Permohonan manusia agar mendapat jalan yang tidak melanggar hukum, disini manusia mengakui bahwa makhluk harus mempunyai pengertian terhadap hukum yang harus ditaati, berada di jalan yang lurus atau kebenaran di dalam menjalankan kehidupan yang sesuai hukum Allah.

Ayat 7. Yaitu ke jalan mereka, yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan-jalan orang yang Engkau murkai, dan bukan pula ke jalan orang yang sesat.

Menjelaskan manusia yang mengetahui kegunaan norma hukum, sehingga memilih jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, dan bukan jalan orang yang sesat.

QS Al Maidah ayat 3 ;

Al yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matii wa radhiitu lakumul islaama diinaa. (Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat Ku dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agamamu)

Pembahasan : Ayat ini merupakan jaminan dari Allah akan kesempurnaan Agama Islam (baca Hukum Islam), dan sebagai wahyu terakhir kepada junjungan Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT. Dengan demikian hukum Islam yang sempurna akan menjadi nikmat bagi hidup dan perikehidupan manusia. Sehingga kehidupan manusia (bac a umat Islam) akan selalu diridhai Allah karena bisa menjalankan syariat Islam dengan sempurna.

Surat Al Baqarah 180 ;

Kutiba ‘alaikum idzaa hadhara ahadakumul mautu in taraka khairanil washiyyatu liwaalidaini wal aqrabiina bil ma’ruufi haqqan ‘alal muttaqiin

( Diwajibkan kepadamu, jika seseorang diantaramu telah mendekati kematian, itupun jika diduga meninggalkan harta yang banyak, supaya berwasiat untuk ibu bapaknya dan kerabatnya menurut yang sepantasnya sesuai dengan peraturan agama . Ini adalah kewajiban atas orang-orang bertaqwa).

QS Al Maidah 106 ;

Yaa ayyuhalladziina aamanuu syahaadatu bainikum idzaa hadhara ahadakumul mautu hiinal washiyyatits naani dzawaa ‘adlim minkum au aakharaani min ghairikum in antum dharabtum fil ardhi fa ashaabatkum mushibatul maut, tahbisuunahumaa mim ba’dishshalaati fayuqsimaanii billaahi inir tabtum laa nasytarii bihii tsamanawwa lau kaana dzaa qurbaa wa laa naktumu syahaadatallaahi innaa idzallaminal aatsimiin

( Hai orang-orang yang beriman ! Bila salah seorang diantara kamu merasa telah dekat kematian, adakanlah persaksian pada waktu berwasiat. Saksi menurut syariat, ialah dua orang yang jujur dari kalanganmu atau dua orang lain di luar kalanganmu, jika kamu dalam perjalanan, dimana kamu telah dekat menghadapi kematian. Namun tangguhkanlah kesaksian keduanya sampai selesai shalat. Andaikata kamu ragukan kejujuran keduanya, hendaklah keduanya bersumpah dengan nama Allah : Demi Allah, kami tidak akan mengambil keuntungan apa-apa dengan sumpah ini, walaupun dia keluarga

Pembahasan : Ke dua ayat di atas ini (QS Al Baqarah 180 dan Al Maidah 106) menandakan betapa pentingnya aspek hukum bagi suatu wasiat atau pesan atas hak waris, dan harus disertai 2 orang saksi yang bisa dipercaya dan dibawah sumpah. Persyaratan saksi yang benar-benar bisa dipercaya ini digunakan dalam pelaksanaan hukum positif di seluruh dunia.

-QS An Nisaa’ ; Wa’budullaaha wa laa tusyrikuu bihii syaiawwa bil waalidaini ihsaanaw wa bidzil qurbaa wal yataama wal masaakiini wal jaaril dzil qurbaa wal jaaril junubi washshabihii bil jambi wab nissabiili wa maa malakat aimaanakum. Innallaaha laa yuhibbu man kaana mukhtaalan fakhuuraa.

(Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan apapun juga. Dan berbaktilah kepada kedua orang ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang miskin, tetangga yang dekat dan yang jauh, teman sejawat, orang-orang yang dalam perjalanan, dan hamba sahaya yang berada dalam kekuasaanmu. Sesungguhnya Allah tidak menyenangi orang-orang yang sombong dalam gerak-geriknya lagi sombong dalam ucapannya.)

Ayat tersebut mencakup semua hubungan baik manusia dengan Allah, manusia dengan sesama yaitu orang tua (sebagai urutan pertama dan utama) di dalam strata sosial masyarakat yang akan selalu sejalan dengan nafas hubungan yang sangat istemewa antara anak dan orang tua. Disamping kewajiban untuk berbuat baik kepada saudara, kerabat bahkan kepada pegawai atau hamba sahaya sampai pada masyarakat luas.

QS Al Baqarah 179 ;

Wa lakum fil qishaashi hayaatuy yaa ulil albaabi la’allakum tattaquun

(bagimu hukum qishash itu, berarti ketentraman hidup, renungkanlah hai orang-orang yang mengerti. Semoga kamu menjadi orang-orang yang takwa).

Hukum Qishash; yaitu membunuh dihukum dengan dibunuh pula, nyawa dibayar dengan nyawa, disini terlihat akan adanya jaminan ketentraman bagi umat manusia, karena orang tidak akan dengan mudah menghilangkan nyawa orang lain karena balasannya adalah hukuman mati.

QS Al Baqarah 183 ;

Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikummushshiyaamu kamaa kutiba ‘alalladziina min qablikum la’allakum tattaquun

( Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atasmu berpuasa , sebagaimana puasa itu telah diwajibkan juga atas orang-orang sebelummu semoga kamu menjadi orang yang takwa).

Pembahasan : Ayat ini sangat jelas agar umat Islam mencapai derajat yang paling tinggi di sisi sang Pencipta, yaitu muttaqiin, takwa, setelah manusia bisa menjalankan syariat Islam dengan sempurna, menuju kepada mengalahkan super ego yaitu hawa nafsu, karena hawa nafsu yang tak terkendali merupan lawan dari fitrah /naluri manusia yang suci.

QS Al Hujurat 13,

Yaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min dzakariw wa unstaa wa ja’alnaakum syu’uubaw wa qaabaa ila lita’aarafuu, inna akramakum ‘indallaahi atqaakum, innal laaha ‘aliimun khabiir

(hai manusia ! Kami menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Yang teramat mulia di antara kamu di sisi Allah, ialah orang yang lebih bertaqwa. Sesungguhya Allah Maha Mengetahui dan Mengenal.

Pembahasan : Ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa manusia berasal dari satu Ayah dan Ibu, dan Allah tidak membeda-bedakan diantara mereka (bangsa yang satu dengan lainnya), kecuali ada satu patokan yang dipakai untuk menilai yaitu hukum Allah. Takwa disini merupakan perwujudan dari sikap, tingkah laku manusia yang sejalan dengan hukum Allah sendiri. Landasan keadilan dijunjung tinggi atas status yang sama dimata hukum.

QS Yasiin Ayat 78

Wa dharaba laanaa matsalaw wa nasiya khalqah, qaala may yuhyil ‘izhaama wa hiya ramiim.

( Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami sambil melupakan penciptaannya semula. Ia bertanya : “Siapa pulakah yang dapat menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur ?”

QS Yasiin Ayat 79

Qul yuhyii halladzii an sya ahaa awwala marrah, wa huwa bikulli khalqin ‘aliim.

Jawablah : “Yang dapat menghidupkannya kembali, ialah Tuhan yang telah menciptakannya dahulu untuk yang pertama kalinya, Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.

Pembahasan : QS Yasiin ayat 78 dan 79 ini merupakan jawaban atas pertanyaan kaum kafirin , yang menunjukkan bahwa Allah sanggup menciptakan dari setetes air mani/sperma dan menjadikan manusia yang sempurna sebagai ciptaan atas sanggahan dari kaum kafirin, bahwa Allah tidak ada yang mampu membangkitkan manusia yang sudah hancur lebur, tulangnya berserakan menjadi manusia utuh lagi. Jawaban Allah dalam ayat ini menggunakan hukum logika bahwa jika Allah bisa menciptakan pada awalnya, maka Allah bisa menciptakan kembali pada akhirnya.

QS Al Maidah 106 ;

Yaa ayyuhalladziina aamanuu syahaadatu bainikum idzaa hadhara ahadakumul mautu hiinal washiyyatits naani dzawaa ‘adlim minkum au aakharaani min ghairikum in antum dharabtum fil ardhi fa ashaabatkum mushibatul maut, tahbisuunahumaa mim ba’dishshalaati fayuqsimaanii billaahi inir tabtum laa nasytarii bihii tsamanawwa lau kaana dzaa qurbaa wa laa naktumu syahaadatallaahi innaa idzallaminal aatsimiin

( Hai orang-orang yang beriman ! Bila salah seorang diantara kamu merasa telah dekat kematian, adakanlah persaksian pada waktu berwasiat. Saksi menurut syariat, ialah dua orang yang jujur dari kalanganmu atau dua orang lain di luar kalanganmu, jika kamu dalam perjalanan, dimana kamu telah dekat menghadapi kematian. Namun tangguhkanlah kesaksian keduanya sampai selesai shalat. Andaikata kamu ragukan kejujuran keduanya, hendaklah keduanya bersumpah dengan nama Allah : Demi Allah, kami tidak akan mengambil keuntungan apa-apa dengan sumpah ini, walaupun dia keluarga kami yang terdekat. Dan kamipun tidak akan menyembunyikan kesaksian yang telah diwajibkan Allah. Bila kami memaksakan, tentulah kami terbilang orang yang berdosa).

Pembahasan : Ayat tersebut di atas menekankan aspek kejujuran merupakan aspek yang fundamental bagi penegakan hukum di muka bumi. Tanpa ada kejujuran mustahil akan ada keadilan, dan segala upaya penegakan hukum akan menjadi mandul atau sia-sia.

Kiranya demikianlah sekelumit penjelasan yang berkaitan dengan aspek hukum dari Kitab Suci Al Qur’an, dan sangat mungkin terlalu jauh dari memadai dari nilai-nilai aspek hukum yang terkandung pada Al Qur’anul Karim yang begitu sempurna. Semoga Allah mengampuni akan segala kekurangan saya sebagai penulis yang sangat terbatas pengetahuannya. Semoga bermanfaat.

Salam,

Hario Adji Pamungkas

About these ads

1 Response to “Kepemimpinan : QS Lingkungan Hidup”


  1. 1 mawar
    April 16, 2012 at 3:35 pm

    wow, lengkap banget informasinya, yang saya butuhin semuanya udah ada disitu..
    keren banget, makasih ya atas informasinya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,251,496 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: