23
Aug
11

Kepemimpinan : Pemimpin Berkarakter

Pemimpin Berkarakter

I.   Umum

      1.   Teori Keunggulan

Seorang Pemimpin hendaknya memiliki keunggulan dalam 3 bidang :

a.   Mental     1). Moral:  -   Taqwa dan mengamalkan agamanya dengan benar dan baik

-   Jujur amanah dan rendah hati

-   Empati terhadap sesame

-   Mampu menginternalisasi keagamaan dan nilai-nilai luhur Pancasila

-   Iman, taqwa, bermoral kemanusiaan dan menghargai HAM

-   Memiliki nurani kebersamaan

-   Memiliki Moral kerakyatan

-   Memiliki nurani keadilan

-   Kerelaan berkorban untuk kepentingan bangsa dan Negara

2). Moril:   -   Memiliki semangat yang tinggi

-   Tabah, ulet, pantang menyerah

-   berani menghadapi resiko

-   Penuh rasa tanggung jawab

-   memiliki seni kepemimpinan

-   Komunikatif, informatif, asfiratif dan akomodatif

-   Disiplin, konsisten dan konsekwen terhadap komitmennya

-   Dan lain-lain.

b.   Phisik

-    Daya tahan tubuh yang tinggi

-    Sehat Jasmani (relatif)

c.   Intelek

-    Cerdas, bijak dan professional

-    Memahami visi dan misi organisasi

-    Pada tingkat nasional :

-   Mampu memahami kompleksitas permasalahan bangsa dan siap dengan alternatif solusi pemecahannya.

-   Mampu bersikap sebagai negarawan yang visioner.

-   Mampu mengantisipasi dan menyikapi perkembangan lingkungan strategi global, regional dan nasional.

-   Bersedia mendengar, menerima dan menghargai pendapat orang lain serta mampu membuat keputusan yang terbaik.

-   Dan lain-lain.

2. Kepemimpinan

-    Seorang pemimpin dalam melaksanakan misi yang diembannya guna mewujudkan visi organisasi yang dipimpinnya senantiasa mengetrapkan “Kepemimpinan” yaitu suatu ilmu dan seni untuk mempengaruhi orang lain, agar orang lain tersebut mau melaksanakan pekerjaan sesuai dengan kehendak si pemimpin tadi (dengan ikhlas).

-    Untuk meningkatkan efektifitas kepemimpinannya, seorang pemimpin membutuhkan pedoman baik berupa prinsip-prinsip, dasar-dasar, azas-azas ataupun norma-norma kepemimpinan, yang pengetrapannya sesuai dengan masalah dan situasi yang dihadapi.

3.   Pemimpin Yang Berkarakter

Seorang pemimpin yang berkarakter adalah seorang pemimpin yang mengedapankan penggunaan hati nurani melandasi pemikiran, sikap dan perilakunya, serta memiliki daya dorong dan daya juang yang tinggi/sangat tinggi untuk mewujudkan kebajikan yang diyakininya. Oleh karena itu seorang pemimpin yang berkarakter senantiasa menempa dirinya untuk memelihara dan meningkatkan keunggulan yang ada pada dirinya (sesuai teori keunggulan), serta konsisten dan konsekwen mengamalkan prinsip-prinsip, norma-norma kepemimpinan yang menjadi pedomannya.

Dalam keadaan yang kritislah pemimpin yang berkarakter akan menonjol sikap kepemimpinannya dilihat dari keberaniannya untuk mengambil resiko yang sudah dipertimbangkannya, maupun kerelaannya untuk berkorban demi kepentingan yang lebih besar.

II. Prinsip-prinsip Kepemimpinan

 

      1.   Hasta Brata

Kisah dibawah ini diambil dari “Episode Ramayana” dalam ceritera Pewayangan, dimana terjadi dialog antara R.Ramawijaya (seorang kesatria titisan Dewa Wisnu, Sang Pemelihara Alam Semesta) dengan adiknya yaitu R. Bharata.

Ramawijaya : “Adikku Barata, kita ini hanyalah melakoni takdir yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa”, “Disamping itu sebagai satria utama kita wajib menjalani Dharmanya hidup dengan penuh keikhlasan, antara lain berbakti dan membahagiakan orang tua kita. Aku jalani masa pembuangan ini agar ayahanda kita berbahagia dapat memenuhi sumpah dan janjinya kepada Ibunda Dewi Kekayi, karena tabu dan aib bagi seorang pemimpin mengingkari janji yang telah diucapkannya. Sedangkan engkau adikku, lakukan tugasmu dengan sebaik-baiknya memegang tampuk pimpinan kerajaan Ayodya guna membahagiakan Ibunda Dewi Kekayi sesuai dengan cita-cita beliau”.

           R. Barata : Baiklah kanda, perintah kanda akan saya laksanakan, namun dinda hanya sekedar mewakili selama kanda pergi. Disamping itu, berikanlah kepadaku bekal ilmu agar dinda dapat memimpin rakyat Ayodya dengan sebaik-baiknya.


 

           Ramawijaya : Memimpin itu sukar bagi yang tidak menguasai kunci-kunci kepemimpinan, tapi akan sangat mudah bagi yang sudah menguasainya.

           R. Barata : “Apa tanda-tanda orang yang sudah menguasai kunci-kunci kepemimpinan itu kanda?”.

           Ramawijaya : “Yaitu orang yang sudah dapat mempersatukan sifat dan wataknya dengan delapan anasir alam”.

           R. Barata : “Saya masih belum paham kanda, tolong jelaskan”

           Ramawijaya : “Adikku Barata, dengarkanlah.

                 Pertama: Seorang pemimpin hendaklah berwatak “Bumi” artinya, seorang pemimpin harus:

                 -    Tegar, kokoh, tidak mudah goyah, memiliki prinsip dan memegang teguh pendirian.

-    Bersikap dermawan dan memberikan kehidupan bagi rakyatnya, serta berusaha membebaskan rakyatnya dari kemiskinan.

-    Tahan terhadap kritikan maupun hujatan, dan tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi rakyatnya.

Kedua: Seorang pemimpin hendaknya berwatak “Air” artinya:

                 -    Air yang identik dengan kehidupan menggambarkan bahwa seorang pemimpin harus berusaha secara maksimal untuk memberikan kehidupan yang layak bagi rakyatnya.

-    Seorang pemimpin harus peduli dengan masyarakat bawah, rakyat kecil dan berusaha mengangkat martabatnya, sesuai sifat air yang selalu mengalir ke bawah.

-    Seorang pemimpin harus selalu berlapang dada, sabar dan ikhlas menampung berbagai macam persoalan rakyatnya walaupun problem pribadinya sendiri sudah bertumpuk-tumpuk. Ini sesuai dengan sifat air yang ada di samudera, yang harus menerima berbagai limbah yang berasal dari sungai-sungai.

-    Seorang pemimpin harus mampu menciptakan keamanan, ketentraman dan kesejukan, sebagaimana sifat air yang mendinginkan dan menyejukkan.

-    Sifat air yang selalu berusaha agar tinggi permukaannya sama (rata-rata air) melambangkan bahwa seorang pemimpin harus bersikap adil dan senantiasa menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan.

Ketiga: Seorang pemimpin hendaknya berwatak”Udara/Angin” artinya:

                 -    Udara/Angin yang mampu menyusup ke semua tempat di samping memasok oksigen untuk keperluan kehidupan melambangkan seorang pemimpin harus memberikan perhatian kepada segenap lapisan masyarakat secara merata serta memberikan kesejahteraan yang merata pula kepada rakyatnya.

-    Angin yang mampu menyapu dan membersihkan segala yang dilewatinya melambangkan bahwa hadirnya seorang pemimpin hendaknya mampu mengatasi berbagai kesulitan dan keruwetan hidup rakyatnya.

Keempat: Seorang pemimpin hendaknya berwatak “Api” artinya:

                 -    Mampu membasmi tindak kejahatan dan berani menghukum siapapun yang salah tanpa pandang bulu sebagaimana api yang mampu membakar apa saja, tanpa pilih-pilih.

-    Sifat api yang dapat merubah yang mentah menjadi matang melambangkan bahwa seorang pemimpin harus dapat membawa perubahan ke arah perbaikan bagi rakyatnya.

Kelima: Seorang pemimpin hendaknya berwatak “Matahari” artinya:

                 -    Mampu menjamin kepastian hukum, menepati janji, membangkitkan semangat hidup serta kehadirannya selalu diharapkan oleh banyak orang sebagaimana matahari yang pasti terbit setiap pagi, kemunculannya sangat dinanti para petani serta memberikan harapan dalam kehidupan.

-    Mampu menerangi dan memberikan penerangan sehingga kehadiran seorang pemimpin dapat memberikan pencerahan bagi rakyatnya.

Keenam: Seorang pemimpin hendaknya berwatak “Bulan” artinya:

                 -    Mampu memberi pencerahan, sehingga berbagai persoalan yang masih gelap menjadi terang.

-    Sinar bulan yang tidak menyengat dan menyilaukan melambangkan bahwa seorang pemimpin harus bersikap ramah, santun, tidak sombong sehingga menimbulkan rasa sayang dan simpati bagi siapapun yang berhubungan dengannya.

Ketujuh: Seorang pemimpin hendaknya berwatak “Bintang” artinya:

-      Mampu menjadi panutan dan kiblat ketauladanan bagi rakyatnya, sebagaimana fungsi bintang yang menjadi pedoman dan petunjuk arah dalam ilmu pelayaran.

                 Kedelapan: Seorang pemimpin hendaknya berwatak “Angkasa” artinya:

-    Seorang pemimpin harus mempunyai wawasan yang luas, pandangan jauh ke depan sebagaimana sifat angkasa yang luasnya tidak terbatas.

-    Dalam angkasa terdapat mega yang selalu meneduhi, maka seorang pemimpin harus senantiasa melindungi dan mengayomi rakyatnya.

-    Menyatunya sifat dan watak seorang pemimpin dengan delapan anasir alam merupakan ilmu bagi setiap pemimpin dengan delapan prinsip kepemimpinan yang dinamakan Hasta Brata.

           -    Semoga “Hasta Brata” ini’ dihayati dan diamalkan dengan sungguh-sungguh oleh elite pimpinan kita pada tingkat manapun, sebagai warisan budaya yang adhi luhung dari para leluhur kita. Insya Allah segenap rakyat akan menikmatinya, karena para elite pimpinan memenuhi kewajibannya terhadap rakyat, yaitu: Ngayomi, Ngayani dan Ngayemi (melindungi, mensejahterakan dan membahagiakan).

      2.   Ajaran Adhi Luhung yang kedua yang akan saya sampaikan pada kesempatan ini adalah Petuah dari Panembahan Senopati kepada para kesatria dan para elite kerajaan yang berupa empat laku utama, yaitu :

a. Mangasah Mingising Budi, artinya : Senantiasa menempa diri untuk meningkatkan keluhuran budi maupun kemulyaan akhlaknya.

b.   Memasuh Malaning Bumi, artinya : Berani bertindak tegas untuk membasmi berbagai tindak kejahatan yang mengancam keselamatan tanah air bangsa dan negara apapun resikonya.

c.   Memayu Hayuning Bawana, artinya : Senantiasa menjaga dan memelihara agar terciptanya keadaan: Aman, tentram, tertib dan sejahtera. (Tata tentrem kerto raharjo, gemah ripah loh jinawi)

d.   Karya Nak Tyasing Sasama, artinya : Senantiasa menjaga prilakunya untuk selalu menyenangkan, menggembirakan dan membahagiakan orang lain.

III. Problem Kepemimpinan

      Kwalitas seorang pemimpin akan teruji pada saat dia hams mengambil suatu keputusan sebagai suatu pilihan, dari berbagai alternatif pilihan, yang masing-masing alternatif pilihan mengandung resiko yang sama besar atau hamper sama besarnya (problem kepemimpinan). Dua kisah dari dunia Pewayangan dibawah ini mudah-mudahan dapat menjadi contoh dari Problem Kepemimpinan.

1.   Komitmen Seorang Pemimpin

Alkisah tersebutlah seorang raja yang sangat arif dan bijaksana. Baginda sangat dicintai oleh seluruh rakyatnya karena kepemimpinannya yang penuh kelembutan, keadilan dan rasa kasih sayang terhadap rakyatnya.

Tidak heran kalau negara mencapai keadaan : “tata tentrem kerta raharja, gemah ripah loh jinawi, subur kang sarwo tinandur, murah kang sarwo tinuku” (keadaan aman tentram, makmur dan sejahtera, segenap tanaman tumbuh dengan subur dan rakyat memiliki kemampuan daya beli yang tinggi).

Secara periodik sang raja didampingi oleh permaisurinya, mengadakan pertemuan dengan para pejabat kerajaan di tingkat pusat maupun pimpinan-pimpinan daerah untuk mendapatkan laporan-laporan dari bawahannya serta menentukan langkah-langkah kebijakan untuk mengatasi berbagai persoalan yang ada. Segenap perhatian raja terutama ditujukan untuk kepentingan rakyatnya.

Pada suatu hari, ketika sang raja sedang mengadakan pertemuan agung dengan para pejabat kerajaan, tiba-tiba datanglah seekor merpati yang jatuh di hadapan sang raja, sambil menggelepar-gelepar kesakitan karena tubuhnya terluka parah dan berdarah-darah, sayapnya pun patah sehingga tidak dapat terbang lagi.

Dengan tersengal-sengal merpati tadi berkata pada sang raja.

Merpati: Wahai baginda, saya mohon pertolongan dan perlindungan. Saya tinggal di sebuah hutan yang termasuk dalam wilayah kerajaan paduka.

           Jadi saya adalah rakyat paduka sehingga saya berusaha datang kemari menghadap paduka sebagai pemimpin saya untuk memohon pertolongan dan perlindungan.

Raja : Baiklah merpati, saya akan menolong dan melindungimu karena memang sudah menjadi kewajiban seorang pemimpin untuk selalu menolong dan melindungi bawahannya. Coba jelaskan apa yang terjadi.

           Merpati: Begini baginda, tadi ketika saya sedang terbang untuk mencari makan bagi anak-anak saya yang menunggu di sarang, tiba-tiba saya diserang dan diterkam oleh seekor rajawali yang akan memangsa diri saya. Untunglah saya masih dapat melepaskan diri dari cengkramannya, namun saya sudah tidak berdaya lagi baginda karena sayap saya sudah patah. Saya mohon perlindungan baginda.

           Raja : Baiklah merpati, saya berjanji akan menolong dan melindungimu. Selama saya masih ada, tidak akan saya biarkan siapapun mengganggumu apalagi mencelakaimu. Masuklah ke dalam agar luka-lukamu dapat diobati.

           Merpati: Terima kasih baginda.

           Merpati masuk ke dalam untuk mendapat perawatan sebagaimana mestinya, tiba-tiba datanglah seekor rajawali ke hadapan raja.

           Rajawali: Wahai baginda, saya tinggal di hutan yang termasuk dalam wilayah kerajaan paduka. Terimalah sembah bakti saya sebagai seorang rakyat kepada paduka baginda raja.

           Raja : Terima kasih rajawali. Apakah ada keperluan penting engkau menghadap kepadaku.

           Rajawali: Benar baginda, saya ingin menanyakan pada paduka apakah paduka melihat buruan saya yaitu seekor merpati. Saya lihat tadi dia menuju kemari.

           Raja : Iya, bahkan saat ini dia sedang dalam perawatan untuk me-nyembuhkan luka-lukanya.

           Rajawali: Mohon maaf baginda, tolong serahkan merpati pada saya karena memang dia adalah milik saya. Hal ini sesuai peraturan di antara para pemburu bahwa kalau binatang buruan telah dilukai oleh sang pemburu, maka dia menjadi milik pemburu. Kami hidup dalam rimba dan sesuai hukum rimba yang kuat memakan yang lemah. Merpati tadi adalah milik saya, karena telah saya tandai dengan melukainya. Oleh karena itu baginda saya mohon sekali lagi serahkan merpati tadi pada saya untuk saya makan.

           Raja : Maaf rajawali, saya tidak dapat menyerahkan merpati tadi kepadamu karena sebagai pemimpin saya harus melindungi dia, terlebih-lebih saya sudah berjanji untuk melindunginya. Janji yang diucapkan oleh seorang pemimpin hams ditepati apapun resikonya. Rajawali: Kalau begitu kabar yang saya dengar selama ini tentang paduka salah. Orang-orang bilang bahwa paduka adalah seorang raja yang adil, arif dan bijaksana. Ternyata paduka seorang raja yang tega merampas nafkah rakyatnya. Merpati itu milik saya dan juga nafkah saya. Apakah karena mentang-mentang paduka seorang raja boleh semena-mena begitu saja merampas nafkah saya hanya karena saya seorang rakyat kecil?

           Raja : Bukan begitu maksud saya rajawali. Saya tidak akan mengurangi nafkahmu, namun saya juga tetap akan melindungi merpati sesuai dengan janji saya. Ambilah sepotong daging dari tubuh saya untuk kamu makan. Dengan demikian saya adil terhadap merpati dan juga terhadapmu.

           Rajawali: Maaf baginda, itu tetap masih belum adil karena daging manusia tidak seenak daging merpati. Hanya ada satu bagian daging manusia yang enaknya sama dengan daging merpati yaitu jantung manusia. Kalau memang paduka ingin benar-benar menegakkan keadilan, berikanlah jantung paduka untuk saya makan.

           Hampir saja sang raja akan mengiyakan permintaan rajawali demi memenuhi komitmennya, tiba-tiba permaisuri dan para pejabat kerajaan yang sejak tadi diam saja dan mendengarkan percakapan antara sang raja dengan kedua binatang tadi menginterupsi dan menyampaikan protes.

           Permaisuri: Tunggu dulu baginda, kalau Paduka serahkan jantung paduka, maka paduka pasti wafat, berarti paduka akan meninggalkan kami semua, baik keluarga maupun rakyat yang masih sangat mendambakan kehadiran dan kepemimpinan paduka. Paduka adil pada rajawali dan merpati, tapi tidak adil pada keluarga dan rakyat. Mohon dipertimbangkan.

           Sang raja tersentak dan menyadari bahwa di dunia memang tidak ada keadilan mutlak, yang ada adalah keadilan relatif. Adil bagi merpati, tidak adil bagi rajawali. Adil pada rajawali, tidak adil pada merpati. Adil pada keduanya, tidak adil pada keluarga dan rakyatnya. Adil pada keluarga dan rakyatnya, tidak adil pada rajawali atau merpati. Menghadapi keadaan yang demikian, sang raja bersabda:

           Raja : Wahai kalian semuanya. Menghadapi keadaan ini, berilah saya kesempatan untuk memohon petunjuk Sang Maha Pencipta, keputusan apa yang harus saya lakukan.

           Saat sang raja berjalan menuju ke sanggar pemujaan, tiba-tiba merpati dan rajawali tadi berubah wujud menjadi Dewa Bayu dan Dewa Indra. Dengan tergopoh-gopoh sang Raja menghaturkan sembah kepada kedua dewa tadi.

           Dewa : Wahai cucuku. Kedatangan kami kemari hanya ingin menguji kepemimpinanmu. Ternyata kamu seorang pemimpin yang arif dan bijaksana, konsisten dan konsekwen dengan komitmen yang telah kamu janjikan serta rela berkorban untuk kepentingan rakyatmu. Semoga selalu jaya negaramu dan dengan kepemimpinanmu, engkau menjadi kiblat ketauladanan bagi rakyatmu.

 

2.   Keadilan Sang Yudistira

Alkisah pasca perang besar Bharata Yudha, Parikesit putra Abimanyu dilantik menjadi raja Hastinapura. Para Pandawa yang merasa tugas melaksanakan dharmanya hidup ini sudah paripurna, bertekad untuk menyempurnakan kehidupannya di dunia ini guna meraih kesempurnaan menuju nirwana bersama raganya dengan naik gunung Himalaya. Para ksatria Pandawa disertai dengan Drupadi (istri Yudistira) dan seekor anjing kesayangan Yudistira berangkat meninggalkan kraton Hastinapura menuju gunung Himalaya. Dalam perjalanan pendakian tersebut, satu persatu anggota rombongan gugur sebelum mencapai puncak. Berturut-turut mereka berguguran mulai dari Dewi Drupadi, Sadewa, Nakula, Arjuna bahkan Bima yang memiliki tubuh yang sangat perkasa pun gugur pula.

Kini tinggalah Yudistira diiringi anjing kesayangannya melanjutkan perjalanan pendakiannya yang semakin lama semakin berat tersebut. Akhirnya sampailah keduanya pada suatu gapura yang bernama Selo Penangkep yang merupakan pintu masuk ke khayangan. Gapura tersebut dijaga oleh seorang dewa yang dengan sikap yang sangat ramah menyambut kedatangan Yudistira.

“Selamat datang Yudistira, sudah kami duga bahwa kamulah satu-satunya titah yang mampu mencapai tempat ini beserta dengan ragamu. Kesucian hatimu, keluhuran budi pekertimu, kemulyaan akhlakmu yang senantiasa mendasari perilakumu dalam menjalani dharma hidupmu, itulah cucuku yang memberikan kekuatan dan kemampuan kepadamu mencapai tempat ini bersama dengan ragamu. Masuklah Yudistira, para dewa telah menunggumu.” Kata dewa penjaga gapura.

“Terima kasih Eyang Pukulan” jawab Yudistira langsung memasuki gapura sambil menuntun anjing kesayangannya. “Tunggu dulu Yu-distira” kata penjaga gapura setengah membentak. “Hanya manusia yang boleh masuk, sedang anjing tidak diperkenankan” tambahnya. “Wahai Dewa mengapa anjing ini tidak diijinkan masuk? Apakah dia bukan makhluk ciptaan Sang Maha Pencipta?” jawab Yudistira. “Benar” kata sang penjaga, “tapi ini adalah peraturan yang dibuat para dewa, bahwa hanya manusia yang diperbolehkan masuk.”

“Maafkan hamba Eyang, para dewa membuat peraturan ini untuk apa? Mestinya setiap peraturan itu dibuat untuk menjamin tegaknya ketertiban dan keadilan, bukan justru mencederai rasa keadilan itu sendiri” kata Yudistira walaupun dengan nada keras namun tetap sopan. “Yudistira, tugasku hanya untuk menjaga agar peraturan ini tetap ditegakkan, tanpa memasalahkan peraturan itu adil atau tidak.” Kata Sang Penjaga Gapura.

“Maaf Eyang, tadi Eyang katakan bahwa kesucian hati, keluhuran budi kemulian akhlak yang selalu mendasari perilaku seseorang dalam melaksanakan dharma hidupnya itulah yang memberikan kekuatan dan kemampuan seseorang mencapai tempat ini bersama raganya. Anjing ini walaupun dianggap makhluk yang hina dina, kenyataannya sanggup mencapai tempat ini bersama dengan raganya. Artinya dia memenuhi syarat untuk masuk khayangan berikut badan jasmaninya. Sedangkan adik-adik saya, para satria besar pada jamannya saja tidak sanggup mencapai tempat ini sebagaimana anjing yang hina ini Eyang” sanggah Yudistira semakin keras.

“Yudistira kalau kamu mau masuk, masuklah tanpa anjingmu, kalau tidak, kembalilah bersama anjingmu.” Kata si penjaga yang sudah hilang kesabarannya. “Biarlah Eyang, saya memilih kembali bersama anjing saya. Hati nurani saya tidak tega untuk menikmati kemulyaan yang didapatkan melalui ketentuan yang mencederai keadilan. Saya tidak sanggup Eyang, menyakiti hati anjing yang dianggap hina dina ini, hanya sekedar mengejar kenikmatan dan kemulyaan diri sendiri, sedangkan dia telah setya menemani saya sampai kesini,” kata Yudistira.

Baru tiga langkah Yudistira dengan menuntun anjingnya meninggalkan gapura, tiba-tiba hilang lenyap anjing tadi dan berubah menjadi Dewa Dharma, yaitu Dewa Keadilan. “Anakku Yudistira, sungguh mulya hatimu. Marilah aku antarkan kamu memasuki nirwana yang memang menjadi hakmu.” Sabda Dewa Dharma sambil menggandeng tangan Yudistira memasuki gapura.

IV. Penutup

      Demikianlah makalah singkat ini disampaikan, guna menyambut dan memaknai Hardiknas, Harkitnas dan Harlah Pancasila.

Melengkapi tulisan ini, perkenankan saya menyampaikan suatu kearifan lokal, berupa wejangan dua orang bijak (pada zaman Majapahit) yaitu: Arya Tadah dan Ki Tanabaya kepada murid-muridnya.

1.   Wejangan Arya Tadah Kepada Gajah Mada dan Adityawarman

 

           Wahai anak-anak ku

           Memang sukar mempersatukan suku-suku yang beraneka warna

           Padahal tidak akan ada kekuatan tanpa persatuan

           Namun ingat bukan persatuan yang dipaksakan

           Tapi persatuan yang disadari

           Demi kedaulatan negara.

 

           Apabila tuli telingamu karena gemerincingnya emas dan perak

           Apabila silau pandanganmu karena gemerlapnya intan dan berlian

           Sehingga kamu tidak da pat melihat dan mendengar

           Jerit tangis rakyat banyak, yang tinggal dalam gubug-gubug

           Maka putuslah tetalian km mat antara kamu dengan rakyat

           Dan antara rakyat dengan gusti

           Karena kamu.

 

           Aku bukan mengajarkan hukum serba sama dalam hidup ini

           Lihatlah ajaran guru alam

           Air sungai mengalir, karena ada perbedaan tinggi dan dasar sungai tadi

           Tapi kalau perbedaan itu terlalu besar

           Dia akan berubah…. Gemuruh…. menjadi air terjun

           Perbedaan yang melampaui batas

           Membahayakan kehidupan itu sendiri.

 

      Sudah sejak lama para leluhur kita menyadari bahwa kita, bangsa yang mendiami kepulauan nusantara ini secara alami kodrati mengandung potensi kerawanan terjadinya perpecahan karena begitu lebar spectrum keaneka ragamannya.

-    Kalau bangsa yang derajat keaneka ragamannya begitu tinggi ini dipersatukan dengan kekuatan senjata/kekerasan, maka persatuan yang terwujud nantinya adalah persatuan yang semu, yang dengan sebab sepele saja akan mudah terjadi perpecahan.

-    Empu Tantular dengan kitab, “Sota Sama” Nya mengajarkan kepada kita sesanti. “Bhineka Tunggal Ika, Tan Nana Dharma Mangroa” Walaupun berbeda beda tapi satu, dan tidak ada kebenaran yang “Mangro Tingal (Baca : Mendua).

-    Sesanti ini pada hakekatnya sebagai sarana pemersatu bagi suku-suku bangsa yang mendiami kepulauan nusantara ini, agar persatuan dan kesatuan menjadi “roh dan napas” bagi bangsa Indonesia yang derajat kebhinekaannya teramat tinggi ini dengan penuh kesadaran.

-    Oleh karena itu bagi bangsa Indonesia tidak ada sikap lain kecuali harus selalu menjaga dan mempertahankan keutuhan NKRI dan persatuan bangsa dengan senantiasa mengapresiasi kebhinekaan yang kita miliki sebagai anugrah Tuhan YME.

Kalau para elite negara sudah asyik berlomba-lomba mehumpuk-numpuk kekayaan pribadi, sehingga lupa kewajibannya terhadap rakyatnya yaitu :

Ngayomi (Melindungi)

      Ngayemi (Membahagiakan, Menggembirakan)

      Ngayani (Mensejahterkan)

      Maka sesungguhnya negara sudah berada diambang kehancurannya.

Hal ini disebabkan karena sudah tidak ada lagi hubungan batin antara si pemimpin dengan yang dipimpin (rakyatnya). Akibatnya tidak ada lagi kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya, sehingga efektifitas kepemimpinannya sangat diragukan atau bahkan sudah tidak ada lagi.

Hukum keadilan adalah universal. Tanpa keadilan/keseimbangan maka tidak mungkin ada stabilitas. Keadilan harus ditegakkan disegenap aspek kehidupan apabila terjadi kesenjangan yang merusak sendi-sendi rasa keadilan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, pasti akan diikuti oleh gejolak sosial bahkan revolusi sosial yang dapat memporak porandakan berbagai kemapanan yang telah berhasil kita bangun.

Oleh karena itu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara janganlah pernah terpikir untuk mencederai rasa keadilan masyarakat, sebab fatal akibatnya.

Sungguh cerdas dan bijak para pendiri bangsa ini yang menentukan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” sebagai impian dan cita-cita bangsa.

2.   Wejangan Ki Tanabaya Kepada Gajah Mada

Ki Tanabaya: “Lihatlah Mada, bimbingan alam guru abadi. Embun pagi bermandi sinar menghias rumput hijau merayu. Sanggup lebur tiada bekas, dalam mengabdi tuntutan dharma, menjadi sebab tumbuh subur tetanaman di pangkuan pertiwi. Lihat pula pekerti cepaka bunga penghias tepian hutan, meskipun disanjung dan dimanjakan oleh Murai dan Sang Surya, memilih layu menjadi debu dalam mengabdi dharma, dengan sesanti: “Menyebar harum, menabur mewangi”.

           Bila datang waktunya Mada, bagi dirimu mengayun langkah, terjun dalam gelora hidup, turut menggubah jalan sejarah:

Gajah Mada: Eyang sesembahan. Apa gunanya hamba bersusah payah, memeras otak menyiksa badan. Kemana air akan lari, akhirnya akan ke laut. Biarpun burung terbang tinggi di langit, di tanah juga dia akan jatuh terlena. Apa guna hamba berusaha, sedangkan nasib sudah ditentukan pasti oleh Hyang lagat Pratingkah. Nasib manusia pasti tidak berbeda dengan air terhadap arusnya.

           Ki Tanabaya: renungkan Mada, bila semua mutlak menyerah pada garis keputusan nasib, tanpa menguji apa kehendak nasib, maka tiada air terjun ke sungai, tiada angin berhembus ke lembah, tiada gelombang memecah pantai. Ini berarti tiada gerak didalam hidup, padahal hidup itu berarti gerak.

           Gajah Mada: Eyang, hamba siap menerima wejangan, bimbingan tuntunan hidup.

           Ki Tanabaya: Mada engkau muda ditimang masa remaja. Jangan dangkal menghadapi hidup. Engkau bagaikan ranting mati yang menyerah mutlak pada laut, menjadi permainan gelombang belaka. Jadilah badai diatas lautan, menentukan gerak setiap gelombang, me-ngaduk, mengguncang isi samu-dera, menderu menjelajah seluruh angkasa dalam menguji “apa kehendak nasib”.

           Mada engkau bukan matahari menjelang senja, tapi engkau adalah surya yang sedang menanjak, yang masih dalam kandungan sang fajar. Kenali dan tanggapi makna agung dan keramat dari hidup ini. Hirup tenaga maha sakti dan kekuatan maha dahsyat yang tersembunyi di dalam hidup ini.

Gaja Mada: Eyang kata orang yang mengaku arif dan mengenal ghaibnya hidup, bahwa akhir hidup hanyalah kematian. Apa guna mengejar harta, derajat, kekuasaan, keramat ilmu dan pujian, kalau akhirnya manusia hanya membutuhkan segumpal tanah atau liang tempat tulang-tulangnya.

           Ki Tanabaya: Mada, manusia de-ngan pandangan hidup yang demikian dangkal dan sempit seperti itu, sesungguhnya sejak detik dia lanir, dia hanya siap untuk mati. Jiwanya yang kerdil tidak mampu menangkap makna agung hidup ini. Jiwanya selalu kuncup, menjadikan dirinya tidak lebih dari “budak” patinya.

           Pandangan hidup yang demikian mestinya, menjadi dimatikannya setiap niat dan dibunuhnya setiap kehendak. Seluruh pakarti jiwanya tidak lain hanyalah berjongkok di tepi bayangan calon kuburnya.

Mada, sadarilah. Apabila tidak ada keberanian air gunung meninggalkan sumbernya, surya meninggalkan pertiwi, maka tiada rumput tumbuh menghijau, tiada sinar menerangi jagad. Manusia bukanlah wayang yang mati, yang bergerak kalau digerakkan, sehingga bebas dari tanggung jawab. Manusia mempunyai hak kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri, apa yang hendak dilakukan atau yang tidak ingin dilakukan. Oleh karenanya dia bertanggung jawab penuh atas semua gerak pilihannya sendiri. Manusia adalah penggubah nasibnya sendiri.

Mada, engkau berhutang budi terhadap orang tuamu dan raja, terhadap bumi Majapahit dan masyarakat sekelilingmu. Terhadap orang tuamu karena kelahiranmu, didikan, asuhan curahan cinta kasih sayang serta seluruh kemampuan orang tuamu demi keselamatan dan pengembangan dirimu. Terhadap raja karena beliaulah yang memberi pengayoman kepadamu. Terhadap bumi Majapahit, tanah airmu, tempat engkau dilahirkan, dibesarkan dan menghirup udara kehidupan ini dengan bebas dan berjumpa de-ngan sinar sang surya. Terhadap masyarakat sekelilingmu yang telah memberikan kepadamu kemungkinan menikmati kebahagiaan.

Gajah Mada: Maaf Eyang, bukankah curahan kasih sayang orang tua terhadap anak, tidak lebih dari dharma kewajiban orang tua terhadap anak? Apa alasannya anak hams merasa berhutang budi pada orang tuanya.

           Ki Tanabaya: Mada, cucuku. Sungguh tinggi kecerdasan akalmu, tapi sayang agak rendah budi susilamu. Camkan benar-benar Mada, salah orang tua yang menganggap bahwa dia telah berbuat “jasa” terhadap anak keturunannya, tetapi juga sangat tercela anak yang tidak menghargai jasa pengabdian orang tuanya. Tidak terpuji orang tua yang berpendirian bahwa dia telah berkorban demi untuk anaknya, tapi juga sangat tidak pantas anak yang tidak menghargai “pengorbanan” orang tuanya.

           Tercela orang tua yang berkeyakinan bahwa anaknya “berhutang budi” kepadanya, tapi terkutuk anak yang tidak merasa berhutang budi kepada orang tuanya.

Bila keselamatan dan kebahagiaan anak menjadi dharma kewajiban orang tua, maka menyembah dan me-ngagungkan orang tua adalah dharma kewajiban sang anak. Orang tua adalah tetap sesembahan bagi si anak. Camkan itu Mada dan catat pada dinding lubuk hatimu, cucuku.

Gajah Mada: “Eyang, mohon penjelasan me-ngapa hamba berhutang budi kepada bumi kerajaan Majapahit”.

           Ki Tanabaya: Mada, mudah-mudahan jiwamu mampu merasakan adanya tetalian keramat antara dirimu dengan bumi Majapahit, yang memberikan kesempatan kepadamu:

           Menghirup udara kehidupan sesuka hatimu meneguk air kesegaran dari perut ibu pertiwi menikmati sinar sang surya bergerak bebas dan leluasa sebagai manusia yang dipertuan bukan sebagai hamba sahaya bangsa, negara atau kerajaan lain.

Mada, semoga jiwamu yang muda dapat menyelami nilai dan arti “kebebasan” dan “kemerdekaan” yang merupakan hak milik manusia yang azasi, pa-ling tinggi dan paling kramat, yang telah diberikan oleh bumi kerajaan Majapahit kepadamu. Atas dasar “kebebasan” dan “kemerdekaan” tadi Mada, menjadi sumber dari hak dan kesanggupan jiwamu, untuk berdiri tegak berwibawa, penuh kesadaran akan harga diri sebagai manusia yang dipertuan, berhadapan dengan kawula kerajaan dari negara manapun. Sadarilah Mada, bahwa kebebasan gerak jiwamu dan keleluasan krida pikiranmu, bersumber dari “kebebasan dan kemerdekaan” tersebut. Itulah dasar dan alasan yang hakiki engkau berhutang budi tanggung jawab terhadap bumi kerajaan Majapahit. Sadarilah tetalian kramat itu cucuku.

Gajah Mada: Eyang sesembahan, hamba akan berangkat melaksanakan dharma bhakti hamba terhadap ibu dan gusti, masyarakat serta bumi Majapahit. Dengan wejangan Eyang, sebagai pembangun watak dan keyakinan serta obor petunjuk jalan, dengan kasih sayang ibu sebagai sumber kekuatan, guna mempersembahkan dharma bhakti, dibawah duli paduka gusti dan di haribaan bumi kerajaan Majapahit. Hamba mohon pamit dan mohon doa restu Eyang.

      -     Generasi muda yang merupakan tunas harapan bangsa, haruslah menempa diri baik lahir maupun batin.

      -     Berbakti kepada kedua orang tua yang telah melahirkan kita merupakan sumber kekuatan dan landasan moral da/am memberikan pengabdian lebih lanjut pada bangsa dan negara.

      -     Begitu pula menghormati guru yang telah mengajarkan kebenaran dan ilmu pengetahuan sebagai bekal hidup kita, harus dapat kita tampilkan sebagai wujud dari sikap “tabu membalas budi”. Semoga bangsa Indonesia terutama generasi mudanya memiliki sifat “Satria Utama”, dimana loyalitas dan pengabdiannya hanya ditujukan kepada: Tuhan, Bangsa dan Negaranya.

 

 

 

 

Daftar Pustaka.

-      Jagad Pewayangan, Hasta Brata oleh Pak Wede

-      Kearifan, Wejangan dan Keheningan

oleh Ki FX Kamari

-      Kisah Maha Barata

-      Kisah Ramayana

About these ads

1 Response to “Kepemimpinan : Pemimpin Berkarakter”


  1. August 23, 2011 at 4:39 pm

    seseorang DISEBUT PEMIMPIN…ketika dia menjadi PANUTAN KARENA BISA MENGONTROL DIRI-NYA SENDIRI AGAR SEHAT BIOPSIKOSOSIOSPIRITUAL-NYA dan dia juga BISA MEMOTIVASI YANG DIPIMPINNYA UNTUK MELAKUKAN DAN MELAKSANAKAN HAL-HAL YANG SUDAH DIGARISKAN DAN DISETUJUI BERSAMA…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 1,999,767 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers

%d bloggers like this: