07
Jul
11

Lingkungan : Pohon Trembesi Rakus CO2

JAKARTA GREAT SALE GO GREEN

Tanam Trembesi

MINGGU, 26 JUNI 2011 | 12:12 WIB

68 Mal Tanam Trembesi Ramai-ramai

  Berita terkait

TEMPO InteraktifJakarta – Sebanyak 68 mal anggota Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia menanam pohon trembesi di area halamannya masing-masing, Minggu, 26 Juni 2011. Kegiatan ini adalah bagian dari Festival Jakarta Great Sale tahun ini yang digelar dengan tema “Go Green, Go Healthy, Go International”.

“Jadi kami sebagai pengelola mal tidak hanya jualan saja,” kata Ketua Panitia Festival Jakarta Great Sale 2011 Handaka Santosa di Senayan City, Jakarta Pusat.

Handaka yang juga ketua asosiasi menyatakan bahwa penanaman jumlah pohon di tiap mal bisa berbeda-beda. Di Senayan City sendiri penanaman dihadiri oleh Asisten Perekonomian DKI Jakarta Hasan Basri Saleh yang mewakili Gubernur Fauzi Bowo.

Sebanyak lima pohon trembesi ditanam di sepanjang jalan bagian selatan Senayan City. “Bibitnya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,” kata Hasan.

Hadir pula Jaya Suprana dari Museum Rekor Indonesia yang menganugerahkan “Rekor Dunia Penanaman Trembesi di 68 Mall”. Dalam sambutannya, Jaya Suprana menyatakan bahwa kegiatan ini sebenarnya diusulkan untuk menjadi Rekor Indonesia, tapi setelah berdiskusi dengan timnya, ia memutuskan untuk memberikan Rekor Dunia.

“Soalnya belum pernah ada di Tokyo, London, New York, atau di dunia manapun ada 68 mal menanam pohon trembesi bersama-sama, cuma Jakarta yang punya,” ujarnya disambut tawa hadirin.

PINGIT ARIA

Sepakat Kurangi Gas Rumah Kaca

86148_menteri_perekonomian_belanda__maria_van_der_hoeven__tengah__300_225

Menteri Perekonomian Belanda, Maria Van Der Hoeven (Tengah)

Indonesia dan Belanda berkomitmen untuk menekan jumlah emisi gas rumah kaca demi mengurangi bahaya perubahan iklim. Kedua negara juga akan menjalin kerja sama mereka secara intensif di bidang pengelolaan air terutama di daerah delta (termasuk daerah tanah gambut) dan energi yang berkelanjutan.
Demikian hasil pembicaraan antara Menteri Perekonomian Belanda Maria van der Hoeven dan Deputi Menteri Bidang Pendanaan Pembangunan/Bappenas Lukita Diarsyah Tuwo di Jakarta. Van der Hoeven sejak Kamis 4 Maret 2010 melakukan kunjungan selama dua hari ke Indonesia.
Bagi Van der Hoeven, kerjasama di bidang lingkungan hidup ini bersifat saling menguntungkan win-win. “Berkat proyek-proyek di Indonesia, Belanda bisa mewujudkan setengah dari jumlah tujuan pengurangan emisinya,” kata Van der Hoeven.
“Sebaliknya Indonesia mendapatkan bantuan untuk pengembangan kapasitas nasional serta proyek-proyek yang mendukung pembangunan yang berkelanjutan,” lanjut Van der Hoeven dalam pernyataan tertulis dari Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, Jumat 5 Maret 2010.
Baik Indonesia maupun Belanda telah berkomitmen pada Perjanjian Kopenhagen. Indonesia akan mengurangi pembuangan CO2 paling tidak sebesar 26% pada 2020. Dengan bantuan luar negeri, Indonesia bahkan meningkatkan ambisinya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca pada 2010 sebesar 41%.
Di bidang pengelolaan air, Belanda mempunyai banyak tenaga ahli yang disambut baik oleh Indonesia. Dataran rendah Sumatra dan Papua dan bekas daerah Mega Rice Project di Kalimantan dalam hal ini menjadi tujuan utama kerja sama ini.
Pengurangan emisi gas rumah kaca di daerah tanah gambut di Indonesia bisa mewujudkan setengah dari jumlah tujuan pengurangan emisi oleh Indonesia.
Pada 2008 sebuah program khusus sebesar 46 juta Euro telah dimulai. Program ini, yang berakhir pada 2012, menyediakan tenaga ahli Belanda dan memberikan bantuan finansial dalam skala kecil untuk instalasi tenaga air dan biogas untuk mempercepat investasi di sektor ini.
Di samping itu, bantuan juga diberikan untuk mengembangkan proyek-proyek baru yang bertujuan untuk mengurangi jumlah emisi, seperti sektor tenaga panas bumi (geotermal) yang banyak menawarkan kemungkinan.
Secara kontraktual, Belanda berhasil menyerahkan 1-2 juta ton CO2 lewat partisipasi dalam empat proyek Clean Development Mechanism (tiga proyek gas pembuangan sampah dan satu proyek geothermal).
Hasil dari pembuangan CO2 ini akan dapat dilihat setelah instalasi sudah berjalan. Menurut perkiraan, hasil pertama akan diserahkan pada akhir tahun ini.

Sumber: http://vivanews.com/

greenhouse_effecterk2

Kontribusi Gas Rumah Kaca pada Pemanasan Global

Gas rumah kaca disebut sebagai pemicu pemanasan global. Apa itu sesungguhnya gas rumah kaca? Mengapa kaca punya kontribusi dalam hal ini? Lantas apa hubungannya dengan gas CO2? Tidak ada kata terlambat untuk menyadari proses pemanasan global dan bahayanya.

Sesungguhnya kaca merupakan sebuah penemuan yang luar biasa. Sanggup memisahkan suasana nyaman di dalam dari hawa yang kejam di luar, sekaligus membuat orang bisa melihat pemandangan luar rumah. Bayangkan seandainya kaca belum ditemukan, dan penutup jendela masih dari kayu atau lempengan logam. Namun demikian di samping jasanya itu, ada lagi sifat kaca yang berhubungan dengan gelombang lain.

Keluarga Besar

Cahaya tampak, yang memungkinkan kita menikmati tamasya warna, hanyalah salah satu anggota dari keluarga besar gelombang elektromagnetik. Saudara-saudara dalam keluarga besar ini dibedakan atas panjang gelombangnya. Terhitung sulung adalah gelombang radio, yang panjang gelombangnya beberapa meter hingga lebih dari ratusan meter. Cahaya tampak menjadi salah satu adiknya, dengan panjang gelombang kurang dari 0,7 mikrometer (1 mikrometer = 0,001 mm). Saudara dekat cahaya tampak bernama infra merah, yang bersebelahan dengan warna merah dari cahaya tampak.

Setiap anggota keluarga mempunyai sifat dan kemampuannya sendiri. Gelombang radio menyampaikan siaran berita dan musik, pancaran infra merah menyampaikan panas. Gelombang radio berasal dari antena pemancar, infra merah bersumber pada benda panas.Lalu sedikitnya ada dua perbedaan antara pancaran infra merah dan cahaya tampak. Pertama, infra merah bersifat tidak terlihat.Kedua, infra merah tidak mampu menembus kaca.

Dengan demikian hanya terang cahaya matahari yang dapat memasuki ruang depan rumah dengan menerobos kaca jendela. Energi yang dibawa cahaya akan mengenai lantai, kursi, meja, dan perabot lain. Lama kelamaan oleh energi tersebut, benda-benda menjadi panas, dan pada gilirannya mengeluarkan infra merah. Tetapi pancaran infra merah akan dibendung oleh kaca, gagal untuk keluar, menjadikan ruangan semakin panas.

Gejala ini dimanfaatkan di negara dingin ketika udara yang beku tidak membolehkan tumbuhnya sayuran yang sangat dibutuhkan. Dibuatlah bangunan yang seluruh dinding dan atapnya dari kaca. Maka gejala yang menghinggapi ruang depan rumah tadi terulang di sini. Hawa di dalam menjadi cukup hangat bagi tanaman seperti tomat, ketimun, meskipun mungkin salju bertebaran di luar. Bangunan ini dikenal sebagai “rumah kaca”.

Di pihak lain, di daerah panas seperti Jakarta, bangunan yang banyak menggunakan kaca merupakan sarana yang ampuh untuk menyiksa manusia di dalamnya atau memboroskan energi penyejuk udara.

Selimut

Pernahkah berada di sebelah nyala lampu pijar 100 watt? Hangat? Panas? Di siang hari Indonesia, energi dari matahari yang jatuh pada tiap meter persegi tanah bisa mencapai enam kali harga itu. Tentu sudah akrab kita dengan rasa teriknya. Lalu apakah dengan demikian bumi menjadi semakin panas?

Jangan kuatir. Jika penghuni rumah merasa beruntung dengan penemuan kaca, penghuni dunia patut berterima kasih karena gas nitrogen dan gas oksigen dalam atmosfir kita bersifat transparan, baik untuk cahaya tampak maupun untuk pancaran infra merah.

Dengan demikian ketika bumi dan segala benda di permukaannya dipanaskan oleh matahari, infra merah yang terbit dari benda-benda dapat bebas terbang ke angkasa. Pergi membawa serta panas yang membuat gerah. Suhu permukaan bumi pun tidak bakal naik secara drastis, keseimbangan tercapai, dan kehidupan berlangsung nyaman.

Tetapi sayang, ada jenis-jenis gas yang menghambat infra merah. Yang populer ialah karbon dioksida (CO2), keluar antara lain sebagai sisa pembakaran dari mesin mobil dan cerobong pabrik. Tatkala industri dan jumlah mobil meningkat, bertambah pula gas penghambat infra merah dalam atmosfir. Terbentuklah semacam selimut, yang membuat naiknya suhu permukaan bumi. Orang menyebutnya “efek rumah kaca”, mengacu pada gejala dalam bangunan kaca seperti dijelaskan sebelumnya. Contoh gas rumah kaca yang lain ialah metan (CH4) dan dinitro oksida (N2O).

Betapa nyaman sebenarnya bumi hasil rancangan yang asli, dapat diketahui dengan menengok dua planet tetangga, Venus dan Mars. Di samping lebih dekat ke matahari, Venus mempunyai atmosfir dengan CO2 yang jauh lebih banyak dari pada bumi. Akibatnya permukaan planet bersuhu di sekitar 462°C, lebih panas dari pada oven di dapur. Mars lebih jauh dari matahari dibandingkan bumi, dan jumlah (massa) CO2 disana sangat rendah. Ini membuat suhu permukaan Mars rata-rata 53°C di bawah nol.

Bukan hanya gerahnya udara bumi yang dikuatirkan. Naiknya suhu berarti mencairnya banyak es di daerah kutub. Dan karena dengan berat yang sama, volume air lebih besar dari pada volume es, melelehnya banyak es berarti meningkatnya permukaan laut. Tidak masalah jika kenaikan muka laut hanya belasan sentimeter. Tetapi jika sudah belasan meter atau lebih, akan banyak kota pantai yang terhapus dari peta dunia.

Sementara itu yang namanya cuaca rumitnya bukan main, segudang faktor bermain di situ, seperti jumlah pancaran matahari, kandungan uap air di udara, luas hutan maupun permukaan air, dan lain sebagainya. Musim berlangsung mulus jika tercapai keserasian di antara berbagai faktor tadi. Sebaliknya, kenaikan suhu karena CO2 pasti akan mengganggu keseimbangan, dan dapat melahirkan cuaca yang berkarakter aneh. Hujan terus menerus di musim kering, misalnya. Apabila cuaca yang abnormal berlangsung terus, akibatnya sungguh serius. Tidak saja kemungkinan badai atau banjir, tetapi juga gagal panen, berjangkitnya hama akibat gangguan pada siklus kehidupan binatang penyebabnya, kekeringan luar biasa yang menyurutkan cadangan air tawar, dan sebagainya.

Dewasa ini pemerintah sejumlah negara, badan internasional, para ilmuwan, LSM, mencurahkan pikiran dan perhatian untuk mencegah terjadinya bencana yang dikenal sebagai pemanasan global. Salah satu usaha yang dilakukan ialah mengurangi emisi CO2 ke udara, antara lain lewat kesepakatan yang disebut Protokol Kyoto. Dikerahkan juga akal untuk mencari proses industri, cara pembangkitan energi, produksi kendaraan dan mesin yang kurang mengeluarkan karbon dioksida.

Tentu khalayak ramai diharapkan semakin menyadari persoalan yang ada, dan beramai-ramai ikut berupaya menyelamatkan bumi.

Sumber: http://netsains.com/

rumah-kaca2

Efek Rumah Kaca

Efek rumah kaca, yang pertama kali diusulkan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit) yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya.

MarsVenus, dan benda langit beratmosfer lainnya (seperti satelit alami SaturnusTitan) memiliki efek rumah kaca, tapi artikel ini hanya membahas pengaruh di Bumi. Efek rumah kaca untuk masing-masing benda langit tadi akan dibahas di masing-masing artikel.

Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia (lihat juga pemanasan global). Yang belakang diterima oleh semua; yang pertama diterima kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat.

Penyebab

Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.

Energi yang masuk ke bumi mengalami : 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer 25% diserap awan 45% diadsorpsi permukaan bumi 5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi

Energi yang diadsoprsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar infra merah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.

Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah sulfur dioksida , nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan khloro fluoro karbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.

Akibat

Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistemlainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.

Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5 °C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkansuhu permukaan bumi menjadi meningkat.

Sumber: http://id.wikipedia.org/

About these ads

0 Responses to “Lingkungan : Pohon Trembesi Rakus CO2”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,338,583 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 132 other followers

%d bloggers like this: