Sabtu, 30/07/2011 23:35 WIB
NATO serang parabola TV Libia
BBCIndonesia.com – detikNews

NATO melakukan serangan terhadap Libia selama berbulan-bulan
NATO melumpuhkan tiga parabola transmisi satelit televisi pemerintah Libia di ibu kota Tripoli lewat serangan udara dengan “ketepatan tinggi”.
Operasi tersebut bertujuan menghentikan “siaran menghasut” rezim Kolonel Muammar Gaddafi.
NATO menyatakan saat ini sedang mengkaji pengaruh serangan.
TV pemerintah Libia tetap siaran setelah NATO mengeluarkan pernyataan tentang serangan.
Pasukan koalisi mulai beroperasi di Libia pada bulan Maret lewat mandat PBB yang mengizinkan serangan militer untuk melindungi warga sipil.
Pemberontak Libia mulai menentang Kolonel Gaddafi pada bulan Februari. Meskipun NATO telah beroperasi, organisasi tersebut tetap sulit mengatasi kebuntuan.
Presisi tinggi
Pernyataan NATO menyatakan serangan “dilakukan pesawat tempur NATO yang menggunakan peledak terarah dengan ketepatan tinggi yang canggih” dan telah dilakukan “pertimbangan matang dan rencana rinci untuk memperkecil korban”.
“Operasi perlu kami lakukan karena TV merupakan bagian dari perangkat rezim yang dirancang untuk secara sistimatis menekan dan mengancam warga sipil serta memicu serangan terhadap mereka.”
Serangan tersebut dikatakan dapat “mengurangi kemampuan rezim dalam menekan warga sipil” tetapi tetap “mempertahankan infrastruktur siaran TV yang diperlukan setelah konflik”.
Sejumlah laporan dari Tripoli menyebutkan serangkaian ledakan keras terdengar di pusat kota Jumat malam.
TV pemerintah Libia mengatakan warga sipil menjadi korban tetapi laporan ini tidak bisa dipastikan.
Ibu kota Libia adalah seringkali menjadi sasaran serangan udara NATO dalam beberapa minggu terakhir.
(bbc/bbc)
Sabtu, 30/07/2011 19:34 WIB
Gaddafi ejek Inggris soal kematian pemimpin pemberontak
BBCIndonesia.com – detikNews

Juru bicara rezim Gaddafi mengejek Inggris atas kematian pemimpin militer kelompok pemberontak Libia.
Rezim Libia pimpinan Kol Gaddafi mengejek pemerintah Inggris menyusul kematian panglima militer pemberontak Abdel Fattah Younes.
Juru bicara pemerintah Libia, Moussa Ibrahim, menyebut kematian Younes merupakan “tamparan buat Inggris” karena mendukung pemberontak yang tidak mampu melindungi pemimpin militernya.
Hari Rabu (27/7) lalu, Menteri Luar Negeri Inggris William Den Haag mengatakan Inggris secara resmi mengakui Dewan Transisi Nasional Libia sebagai “otoritas pemerintahan tunggal”.
Dalam waktu bersamaan, Inggris ini juga mengusir diplomat yang menjadi bagian dari rezim Gaddafi.
Sikap Inggris ini mengikuti langkah AS dan Perancis yang sejak awal mengakui keberadaan kelompok pemberontak Libia.
Bagaimanapun, kematian Jenderal Younes masih menyisakan tanda-tanya besar siapa pembunuhnya, setelah dia dan dua ajudannya ditembak pada pekan ini.
Diarak peti matinya
Jenderal Younes, yang ikut memperkuat rezim Gaddafi sejak kudeta tahun 1969, adalah Menteri Dalam Negeri Libia hingga pemberontakan rakyat pecah bulan Februari lalu.
Dia kemudian membelot ke kubu pemberontak.
Rezim Gaddafi bersikukuh, Younes dibunuh kelompok Al-Qaidah, namun keterangan ini masih disangsikan.
Keterangan lain menyebutkan kemungkinan dia dibunuh oleh rezim Gaddafi atau pihak-pihak di dalam tubuh para pemberontak sendiri.
Hari Jumat lalu, ratusan orang di Benghazi, mengelu-elukan dan mengarak peti mati yang berisi Jenderal Younes ke pusat kota, sebelum akhirnya dimakamkan
(bbc/bbc)
Sabtu, 30/07/2011 01:11 WIB
Kematian jenderal pemberontak Libia masih misteri
BBCIndonesia.com – detikNews

Abdel Fattah Younes termasuk salah seorang bekas tokoh penting di rezim Gaddafi
Kematian panglima militer pemberontak Libia Abdel Fattah Younes masih menyisakan banyak tanda tanya besar dua hari setelah dia dan dua ajudannya ditembak mati.
Pimpinan dewan pemberontak Libia, Mustafa Abdul-Jalil mengatakan Jenderal Younes dibunuh oleh kawanan bersenjata setelah dia ditarik dari fron pertempuran untuk diinterogasi seputar kecurigaan bahwa keluarganya masih memiliki hubungan dengan pemerintah Kolonel Muammar Gaddafi.
Dalam pengumuman hari Kamis larut malam (28/7), Jalil mengumumkan pimpinan kelompok orang yang membunuh dia telah ditangkap.
Belum diumumkan
Pasukan pemberontak belum mengumumkan jati diri dan motif kelompok bersenjata yang dikatakan membunuh Younes.
Meski mayat Jenderal Younes dan kedua bawahannya belum ditemukan, Jalil mengumumkan masa tiga hari berkabung untuk menghormati mereka.
Juga belum ada keterangan mengenai tempat sang jenderal diserang dan tempat jasad para korban berada.
Jenderal Younes yang ikut memperkuat rezim Gaddafi sejak kudeta tahun 1969, adalah menteri dalam negeri Libia hingga pemberontakan rakyat pecah bulan Februari.
Dia kemudian membelot ke kubu pemberontak.
Wartawan BBC Ian Pannell di Misrata yang dikuasai pemberontak mengatakan bergabungnya sang jenderal dipandang sebagai keberhasilan bagi kubu oposisi, tapi ada desas-desus bahwa dia masih menjalin hubungan dengan para pemimpin rezim Gaddafi.
(bbc/bbc)
Jumat, 29/07/2011 15:28 WIB
Komandan militer pemberontak Libia tewas
BBCIndonesia.com – detikNews
Jenderal Abdel Fattah Younes bergabung dengan pemberontak sejak Februari lalu.
Komandan militer pemberontak Libia yang selama ini melawan Kolonel Muammar Gaddafi dilaporkan tewas.
Pemimpin Badan Transisi Nasional Pemberontak NTC Mustafa Abdul-Jalil mengatakan Jenderal Abdel Fattah Younes dibunuh oleh penyerang, dan pemimpin kelompok yang bertanggung jawab atas peristiwa itu telah ditangkap.
Dia mengatakan Jenderal Younes akan dimintai keterangan tentang operasi militer, tetapi kemudian tidak muncul dalam pertemuan.
Menurut jalil, dua ajudan Jenderal Younes, Kolonel Muhammad Khamis dan Nasir al-Madhkur, juga tewas dalam serangan tersebut.
Dia menambahkan peringatan untuk mengenang jasa Komandan Militer akan dilakukan selama tiga hari.
Laporan menyebutkan penyerang Jenderal Younes diduga memiliki hubungan dengan pasukan pro-Gaddafi.
Tidak diketahui secara pasti bagaimana petistiwa penyerangan terjadi, dan Jalil tidak mengatakan secara langsung jika kelompok penyerang memiliki hubungan dengan Kolonel Gaddafi.
Jenderal Younes merupakan mantan Menteri Dalam Negeri Libia yang bergabung dengan pemberontak sejka Februari lalu.
Dia juga merupakan bagian dari kelompok yang membantu Kolonel Gaddafi mendapatkan kekuasaannya pada 1969.
Sejumlah laporan yang tidak dapat dikonfirmasi mengatakan Jenderal Younes dan dua ajudannya sebelumnya ditangkap pada Kamis di wilayah Timur Libia.
Sesaat setelah pengumuman tewasnya Jenderal Younes, pasukan bersenjata memasuki hotel di bagian Timur kota Benghazi, tempat Jalil menyampaikan keterangan, dan menembakan sejumlah peluru ke udara sebelum meninggalkan ruangan.
Pasukan pemberontak menguasai sebagian besar wilayah Libia timur dari basis mereka di Benghazi dan Kota Pelabuhan Misrata, sementara wilayah Barat dikuasai oleh pasukan Kolonel Gaddafi termasuk ibukota Tripoli.
Kamis malam, Kantor Berita AFP melaporkan terjadinya ledakan di pusat kota Tripoli dan stasiun televisi memberitakan adanya pesawat yang terbang diatas ibukota Libia.
Nato, yang melaksanakan mandat PBB dalam melakukan aksi militer untuk melindungi masyarakat sipil, melancarkan serangan udara secara rutin di wilayah Tripoli.
Bagaimanapun, Duta Besar Afrika Selatan untuk PBB, Baso Sangqu, memperingatkan pendukung pemberontak terancam sanksi PBB.
Pernyataan itu dikeluarkan setelah Inggris akan memberikan bantuan sebesar Pound 91 juta atau $149 juta kepada pemberontak.
(bbc/bbc)
Milisi Bubar ?
Minggu, 31 Juli 2011 06:15 WIB |
Pemberontak Libya Perintahkan Milisi Bubar
- (FOTO ANTARA/REUTERS)
Berita Terkait
Video
Benghazi, Libya (ANTARA News/AFP) – Oposisi Libya pada Sabtu memerintahkan semua milisi untuk bubar dan masuk dalam kendali mereka setelah tewasnya komandan utama militer dalam pemberontakan terhadap Muamar Gaddafi.
“Waktunya telah tiba untuk membubarkan brigade-brigade itu. Siapa saja yang menolak untuk mengambil bagian dalam surat keputusan ini akan diadili dengan tindakan hukum penuh,” kata Mustafa Abdel Jalil, kepala Dewan Transisi Nasional (TNC), bagin politik pemberontak.
Para petempur dari kelompok-kelompok itu akan diserap oleh kementerian dalam negeri, kata Abdel Jalil pada konferensi pers di markas besar pemberontak Benghazi di Libya timur.
Tindakan itu terjadi tiga hari setelah NTC mengumumkan pembunuhan Jendral Abdel Fatah Yunis, yang adalah orang tangan kanan kepercayaan Gaddafi sebelum membelot ke pemberontak yang telah berperang untuk menjatuhkan pemimpin Libya itu sejak Februari lalu.
Yunis ditembak mati oleh sebuah kelompok bersenjata setelah ia dipanggil dari garis depan pertempuran oleh Dewan Transisi Nasional “untuk ditanyai mengenai masalah militer”, kata Jalil pada Kamis malam.
Pembunuhan itu telah memanaskan rumor yang meluaas dan belum pasti kebenarannya mengenai identitas dan motif penyerangnya.
Anggota lain TNC, Ali Tarhuni, mengatakan, Sabtu bahwa orang-orang yang membunuh Yunis saat ia dalam perjalanan untuk ditanyai oleh TNC adalah anggota brigade Jarah Ibn al-Obeidi.
Tarhuni mengatakan pada waktu itu bahwa milisi-milisi di Benghazi memiliki tiga pilihan — bergabung dengan pasukan bersenjata pemberontak, bergabung dengan dinas keamanan di kota itu atau meletakkan senjata mereka.
Pemberontak sebelumnya mengatakan bahwa sejumlah gerilyawan pemberontak merasa tak nyaman dengan Abdul Fatah Yunis yang merupakan sekutu dekat dalam waktu lama Gaddafi. Sementara itu Gaddafi justru menuduh Al Qaida di belakang pembunuhan Yunis, yang membuktikan bahwa pemberontakan itu telah disusupi oleh kelompok militan.(*)
(Uu.s008)
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2011
Jenderal Libya Tewas
Jumat, 29 Juli 2011 10:20 WIB |
Jenderal Komandan Pemberontak Libya Tewas di Tengah Keberhasilan
Kepala pejuang pemberontak Abdel Fattah Younes menghadiri konferensi pers di Benghazi dalam foto arsip yang diambil pada 5 April 2011 lalu. Younes ditembak mati oleh penyerang, Kamis (28/7) menurut pemimpin pejuang pemberontak Libya Mustafa Abdel Jalil. Younes dibunuh oleh para penyerang saat ia dipanggil untuk menghadap komite yudisial yang memeriksa operasi militer. (FOTO ANTARA/REUTERS/Esam al-Fetori/Files/ox/11.)
Berita Terkait
Video
Benghazi, Libya (ANTARA News) – Jenderal Abdel Fatah Younes, seorang mantan pejabat senior rezim Moamer Gaddafi yang membelot untuk memimpin pasukan pemberontak, tewas, kata Dewan Transisi Nasional Kamis di tengah keberhasilan baru pemberontak.
“Dengan segala kesedihan, saya memberitahu anda berkaitan dengan meninggalnya Abdel Fatah Younes, komandan tertinggi pasukan pemberontak kami,” kata ketua NTC Mustafa Abdel Jalil saat ledakan baru menggetarkan pusat ibukota Tripoli.
“Orang yang melakukan pembunuhan ditangkap,” kata Abdel Jalil tanpa memerinci.
Younes ditembak mati oleh sekelompok orang bersenjata ketika dia dalam perjalanan ke Benghazi setelah dia ditarik kembali dari garis depan untuk menjawab pertanyaan tentang situasi militer, kata Abdel Jalil.
Dia mengatakan, tiga hari berduka ditetapkan untuk menghormati Younes.
Rumor yang beredar di Benghazi sepanjang Kamis bahwa Younes, yang dikenal sebagai orang nomor dua rezim Gaddafi sebelum pembelotannya pada awal pemberontakan Libya, ditangkap dan dibunuh para pemberontak namun hal tersebut tidak dapat dipastikan oleh AFP.
“Saya meminta anda agar menahan diri untuk tidak memperhatikan rumor bahwa pasukan Gaddafi sedang mencoba untuk menyebar di dalam bawahan kami,” kata Abdel Jalil kepada para wartawan sesudah pertemuan tertutup yang berlangsung lama dengan para anggota NTC.
Beberapa saat sesudah pengumuman tersebut, dua kendaraan yang mengangkut senjata antipesawat terbang dan paling tidak selusin orang bersenjata menembak ke udara di hotel Tibesti, tempat pengumuman dilakukan.
Seorang saksi mata mengatakan bahwa mereka kemudian berhasil masuk ke hotel membawa senjata mereka namun pasukan keamanan menenangkan mereka dan meyakinkan mereka agar pergi.
“Mereka mengatakan ‘Kamu membunuhnya,’” menunjuk NTC, tambahnya.
Paling sedikit tiga ledakan keras menggetarkan pusat kota Tripoli Kamis malam, ketika televisi Libya melaporkan bahwa pesawat beterbangan di atas ibukota Libya itu, yang menjadi target serangan udara NATO.
Televisi Al-Jamahiriya melaporkan bahwa sejumlah “lokasi sipil” telah dibom oleh NATO Kamis.
Para pemberontak Libya merebut dua lokasi dekat perbatasan Tunisia sebelumnya hari itu sebagai bagian dari serangan praRamadhan yang dimaksudkan untuk mendongkel Gaddafi, kata seorang koresponden AFP.
Pertama adalah kota Al-Ghazaya, 12 kilometer dari garis depan dan kedua adalah Umm Al-Far, dusun kecil yang dihuni beberatus orang 10 kilometer ke arah timur laut.
Serangan terhadap al-Ghazaya mulai sekitar pukul 8:00 pagi (0600 GMT) dalam dua cabang serangan dari timur dan barat yang nampaknya telah mengusir kaum loyalis, karena kota itu telah ditinggalkan ketika mereka masuk.
Namun, amunisi ditemukan disimpan di sebuah sekolahan dan bangunan-bangunan umum lain di kota itu.
Para pemberontak kemudian bergerak maju ke Umm Al-Far dan membombardirnya, meledakkan sebuah gudang mesiu. Dusun kecil tersebut jatuh sekitar pukul 5:00 petang, dan para pemberontak, kebanyakan berjalan kaki, maju melintasi jalan-jalan untuk menyelamatkan mereka setengah jam kemudian.
Perebutan Al-Ghazaya, yang digunakan sebagai basis pasukan Gaddafi untuk menembakkan roket ke sasaran pasukan pemberontak di kota Nalut di dekatnya, menyusul pidato menantang oleh pemimpin Libya bahwa dia siap untuk “berkorban” guna memastikan kemenangan dalam perang saudara.
Serangan fajar dari seputar pegunungan merupakan bagian dari ofensif pemberontak yang dimaksudkan untuk menaklukkan Tripoli dan menggulingkan Gaddafi.
Serangan-serangan awal telah dimulai Rabu, sebuah sumber militer mengatakan kepada koresponden AFP di Zintan, di kawasan Nalut bagian barat Libya.
Sebelum pemberontak merebut kota itu, seorang koresponden AFP melihat lusinan kendaraan angkatan darat ditarik ke luar menghindari tembakan altileri pemberontak dari ketinggian Al-Ghazaya.
Pegunungan Nasufa telah menjadi tempat sejumlah pertempuran paling sengit antara pasukan yang setia dan pemberontak.
Kedua belah pihak telah bertarung namun menemui jalan buntu lima bulan sesudah pemberontakan rakyat yang dengan cepat berubah menjadi perang saudara.
Pemimpin Libya menguasai sebagian besar barat dan kubu Tripolinya, sementara oposisi menguasai timur dari kubu pertahanannya di Benghazi.
Gaddafi yang sangat marah mengatakan Rabu malam dia siap “berkorban” untuk mengalahkan para pemberontak sesudah mereka memperingatkan batas waktu baginya untuk lengser dan tinggal di Libya sudah lewat.
“Kami tidak takut. Kami akan mengalahkan mereka,” kata Gadaffi dalam pesan suaranya, menunjuk pada sekutu NATO dan para pemberontak.
“Kami akan membayar dengan nyawa kami, wanita dan anak-anak kami. Kami siap mengorbankan (diri kami sendiri) untuk mengalahkan musuh,” tambahnya dalam pesannya kepada kaum loyalis di kota Zaltan, juga dekat dengan perbatasan Tunisia.
Pesan Gaddafi muncul sesudah ketua NTC mengatakan di Benghazi bahwa sebuah tawaran yang mereka ajukan melalui PBB bahwa akan mengizinkan orang kuat itu tetap tinggal di Libya jika dia lengser sudah lewat.
Sementara, Inggris memberi dorongan besar kepada para pemberontak dengan mengundang mereka untuk mengambilalih kedubes Libya di London, yang dikecam rezim Gaddafi, sementara Washington mengatakan pihaknya sedang memeriksa sebuah permintaan oleh para pemberontak agar mengakui mereka. (ANT/K004)
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011
Recent Comments