REVOLUSI PANCASILA
Ungkapan REVOLUSI PANCASILA dikemukakan secara terbuka pada acara peringatan 110 tahun hari kelahiran Bung Karno tanggal 6 Juni 2011 oleh Benteng Penegak Pancasila (BPP) bertempat di Gedung DHN45, Jalan Menteng Raya 31, Jakarta Pusat 10340. Sebenarnya ungkapan tersebut diserukan demi berbagai upaya2 perkuatan internalisasi atau pembudayaan paham Pancasila di segenap lapisan masyarakat Indonesia pasca Pidato-pidato Kebangsaan tanggal 1 Juni 2011 di Gedung Nusantara IV, MPR RI. Sehingga oleh karenanya patutlah serta merta distrukturkan menjadi semisal Badan Pembudayaan Pancasila (BPP) merujuk seperti model yang telah dikembangkan oleh Badan Pembudayaan Kejuangan 45 (organisasi induk DHN45) yang berpedoman kerja pada Jiwa Semangat Nilai2 45 (JSN45). Pembudayaan disini dapat dijabarkan dalam beberapa wacana, cara atau program, yang secara terserak sebetulnya telah dilakukan oleh beberapa satuan kegiatan masyarakat peduli Pancasila. Dan penyatuan gerak antar berbagai satuan itulah yang dapat kemudian dikerucutkan jadi lingkup kerja Badan Pembudayaan Pancasila dimaksud demi penegakan SUPREMASI PANCASILA.
Ragam pembudayaan Pancasila dapat dikomunikasikan dari cara yang sederhana seperti (1) wacana Lima Jari [Hans SB, Jala Sutra, Juni 2010] tentang Lima Sila gapai sejahtera batiniah yaitu Jari Tengah yaitu Jari Tertinggi sebagai symbol sila ke-1 “Ketuhanan Yang Maha Esa”, Ibu Jari atau Jempol adalah Jari untuk tanda penghargaan sebagai symbol sila ke-2 “Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab”, Jari Telunjuk, Jari beragam fungsi, tanda mengingat, menunjuk, mengarahkan dan symbol angka 1 yakni sila ke-3 “Persatuan Indonesia”, Jari Kelingking, Jari terkecil yang bermakna rakyat kecil merujuk sila ke-4 “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Jari Manis, Jari yang dimanjakan dengan hiasan, symbol status social seseorang dan symbol kesejahteraan sebagaimana sila ke-5 “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, sampai dengan (2) cara lebih serius melalui misalnya Penghayatan Ketuhanan Yang Maha Esa mengingat bahwa pemahaman sila ke-1 itu memberikan dampak penjiwaan berperilaku kepada sila2 yang lain [Majelis KAUMAN]. (3) Beberapa satuan kerja masyarakat bahkan berprakarsa menerbitkan beragam judul buku tentang jabaran paham Pancasila ini, dan secara sistematik telah menguraikan kajian sedemikian dalamnya sehingga mempermudah pembacanya dapat memperoleh kedalaman makna daripada Pancasila, dlsb.
Keserentakan itulah yang patut diakomodasikan dalam satu gerakan bersama bernama Badan Pembudayaan Pancasila sehingga dapat menjadi satu kekuatan berskala nasional demi kepentingan pemenuhan amanat Pembukaan UUD 1945.
Bagaimanapun, dari catatan sejarah, semangat REVOLUSI PANCASILA antara lain telah menggerakkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dalam rangka perbaikan/pelurusan situasi dan kondisi liberalisasi politik ketika itu yang lalu menghadirkan Politik Demokrasi Terpimpin. Dalam konteks kekinian, maka seharusnya upaya serupa tapi tidak sama semisal perbaikan/pelurusan situasi dan kondisi liberalisasi ekonomi adalah guna menuju kehadiran Politik Ekonomi Terpimpin bagi pencapaian amanat sila ke-5 Pancasila.
Pada intinya bahwa wacana REVOLUSI PANCASILA itu adalah ditujukan demi penegakan SUPREMASI PANCASILA melalui upaya kebersamaan berstruktur BADAN PEMBUDAYAAN PANCASILA.
Jakarta, 29 Juni 2011
Pandji R Hadinoto, Komite Nasionalis Pancasila, eMail : komnaspan45@yahoo.com
fotoNews
‘Dekrit Rakyat’



Jakarta – Sejumlah orang dari kelompok anti pemerintah, Gerakan Oposisi Nasional (Gonas) berencana mengeluarkan ‘dekrit rakyat’. Isi dekrit tersebut meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meletakan jabatannya. Sebab, Presiden SBY dianggap tidak mampu meneruskan kepemimpinan nasional. “Besok tepat tanggal 1 Juli, kita akan keluarkan Dekrit Rakyat yang meminta Presiden meletakan jabatannya. Presiden sudah tidak bisa lagi mengemban amanah konstitusi. Skandal dan kasus tidak pernah selesai terungkap, bahkan terus bertambah,” kata Koordinator Gonas, Effendi Salman dalam mimbar bebas di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jl Cikini Raya, Kamis (30/6/2011) malam. Pernyataan Effendi tersebut diutarakan di depan ratusan simpatisan Gonas dari kalangan buruh, pemuda dan mahasiswa. Menurut Effendi, massa aksi yang meminta SBY mundur mencapai ribuan. Dia menjamin, penerbitan dekrit rakyat yang disertai aksi massa ke depan Istana Negara akan berlangsung damai. Pemilihan tanggal 1 Juli bertepatan dengan dekrit presiden Soekarno 1 Juli 1959 lampau yang isinya antara lain membubarkan Dewan Konstituante. “Ada lebih dari 1600 yang sudah menyatakan siap dari kalangan buruh, mahasiswa dan pemuda. Kita akan melakuakn aksi damai meminta presiden mundur. Aparat keamanan tidak perlu khawatir, ini aksi tidak anarkis,” imbuh Effendi Salman. Mimbar bebas di TIM telah berjalan 4 bulan dan dilaksanakan tiap Selasa dan Jumat. Nantinya, usai menerbitkan dekrit rakyat, massa Gonas menyatakan akan melakukan mimbar bebas setiap hari selama satu pekan berturut-turut. Ajakan untuk menggelar aksi ini juga ramai di Facebook. Hingga pukul 22.30 WIB, tercatat ada 1.000 orang yang memberikan simpati. (Ari/mad)
fotoNews
PendemoLongMarch


Jumat, 01/07/2011 13:33 WIB
Ratusan Pendemo Long March ke Istana, Jl Cikini Macet Parah
Ari Saputra – detikNews
” Ratusan Pendemo Long March ke Istana, Jl Cikini Macet Parah”(Ari Saputra/detikcom)
Jakarta – Ratusan orang yang tergabung dalam Gerakan Oposisi Nasional (Gonas) long march dari TIM menuju Istana Negara. Akibatnya Jalan Cikini Raya dan Jalan Menteng Raya macet parah.
Pantauan detikcom, Jumat (1/7/2011), pukul 13.15 WIB, kemacetan dikarenakan pendemo memenuhi badan jalan dan hanya menyisakan satu lajur untuk pengendara melintas. Pendemo juga berjalan melawan arus di Jalan Cikini Raya menuju Gambir.
Pendemo membawa spanduk, bendera maupun poster anti-pemerintah. Salah satu satunya berbunyi ‘Presiden Gagal, Negara Kaya, Rakyat Miskin, Ganti Rezim, dan Ganti Sistem’.
Puluhan polisi mengawal ribuan pendemo yang bergerak long march ke Istana. Para pengendara diimbau mencari jalur lain menghindari jalan Cikini, Menteng, dan Gambir.
Pendemo berencana akan mengeluarkan dekrit rakyat untuk meminta Presiden SBY mundur. Hal ini karena SBY dinilai tidak bisa menjalankan amanat konstitusi.
(nik/vta)
fotoNews
Mahasiswa UBK
fotoNews
Tambang Emas Newmont


Panel diskusi sepakat bahwa Asia akan tetap menjadi kekuatan besar di dunia Kemakmuran tidak harus diawali dengan demokrasi ala-Barat tetapi kemakmuran bisa menjadi pendorong demokrasi, kata panel diskusi. Diskusi panel, yang diadakan BBC World Service dalam rangka liputan khusus Kekuatan Asia, menyebutkan bahwa kemakmuran di beberapa negara Asia, Korea Selatan dan Taiwan, tercipta sedangkan demokrasi tumbuh sebagai proses. “Hal yang terpenting adalah ekonomi suatu negara harus maju terlebih dulu, baru kemudian diikuti perubahan struktur politik,” kata Profesor Athar Hussain, Direktur Pusat Riset Asia, London School of Economics, Rabu (29/6). Pendapat senada juga diungkapkan oleh Dr Intan Syah Ichsan dari Universitas Exeter. Dia mencontohkan kasus Indonesia. Setelah puluhan tahun terkungkung dalam kerangka demokrasi semu dan puncaknya terjadi kerusuhan besar pada 1998, stabilitas di Indonesia berangsur-angsur pulih setelah masa tersebut bersamaan dengan perubahan sistem politik. “Demokrasi merupakan suatu proses yang harus dilalui dan untuk mencapai itu perlu tercipta stabilitas dulu,” kata ekonom asal Indonesia ini.
Prasyarat
Pandangan dua panelis tersebut jelas bertolak belakang dengan keyakinan beberapa aktivis Birma yang juga hadir dalam acara di Bursa London, London Stock Exchange ini. Menurut mereka, demokrasi khususnya model ala-Barat merupakan prasyarat terciptanya kemakmuran di negara mereka. Panelis juga sepakat bahwa kebebasan ala-Barat tidak bisa diadopsi apa adanya ke dalam sistem politik Asia, sebab setiap negara mempunyai karakteristik berbeda-beda. “Di tingkat mikro, kebebasan di Cina sekarang jauh lebih besar. Rakyat bisa berbicara mengenai apa saja di jalan-jalan. Tetapi mereka tetap memegang rasa hormat kepada pemimpin mereka,” kata Profesor Guy Liu dari Universitas Brunel, London. Jadi, lanjutnya, elit politik Cina tidak akan pernah mengklaim diri mereka lebih baik dari pemimpin yang ada karena mereka menghormati atasan dan menjaga kesantunan dan praktik tersebut hingga kini tetap bertahan di tengah kemajuan ekonomi.
Di mana kekuatan Asia?
Asia diperkirakan akan semakin berpengaruh di kancah politik dan ekonomi dunia, walaupun kekuatan Asia di bidang ekonomi dan politik ini tidak bisa disebut sebagai satu kesatuan kekuatan. “Sebab terjadi persaingan antara satu negara Asia dengan negara Asia lain dan persaingan ini akan semakin terasa di masa depan,” kata Profesor Athar.
Dyah Widiastuti, mahasiswi asal Indonesia, menuturkan pengalamannya di bawah pemerintahan Orde Lama Selain itu, di internal setiap negara pun mengalami ketimpangan pembangunan dan kecenderungan ini masih akan terjadi. Sebagai contoh, gaung pembangunan ekonomi di Indonesia, India dan Cina jauh lebih terasa dibanding pembangunan di tingkat pedesaan. Hasilnya, kemakmuran baru dirasakan oleh masyarakat perkotaan, demikian salah satu kesimpulan diskusi. Diskusi BBC World Service diikuti oleh sekitar 100 peserta dari kalangan akademis dan masyarakat Asia di London. (bbc/bbc)
SHUTTERSTOCKPosisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai 100 miliar dollar AS dinilai cukup kuat untuk mengatasi goncangan. Cadangan itu diperlukan untuk menopang rupiah agar tidak jatuh terlalu dalam jika terjadi arus modal keluar dalam jumlah besar.
Laporan Khusus
- Kamis, 30/06/2011 10:29 WIB DPD Ngidam Gedung Mewah (4) Saling Sewot Legislator & Senator
- Kamis, 30/06/2011 10:05 WIB DPD Ngidam Gedung Mewah(3) Berdalih Amanat UU, Gedung Mewah DPD Takkan Dibatalkan
- Kamis, 30/06/2011 09:38 WIB DPD Ngidam Gedung Mewah(2) Yang Aneh dari Gedung Mewah Senator
- Kamis, 30/06/2011 09:11 WIB DPD Ngidam Gedung Mewah(1) Ini Dia Rancangan Gedung Rp 823 M DPD









0 Responses to “Kenegarawanan : Revolusi Pancasila Demi Supremasi Pancasila”