20
Jun
11

Hukum : Inilah Dasar Hukum Pancung di Arab Saudi

Senin, 20/06/2011 06:31 WIB
Inilah Dasar Hukum Pancung di Arab Saudi 
Andi Saputra – detikNews
Jakarta – Tenaga Kerja Wanita (TKW) Ruyati di hukum pancung oleh Pemerintah Arab Saudi karena membunuh majikannya. Dari berbagai negara Islam, Arab Saudi yang paling ketat menerapkan hukuman mati (qisas) tersebut.

“Karena Arab Saudi menerapkan langsung ayat Al Quran, Surat Al-Baqarah ayat 178,” kata pengajar Hukum Pidana Islam, Universitas Islam Negeri(UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Nurul Irfan saat berbincang dengan detikcom, Senin, (20/6/2011).

Dalam ayat tersebut disebutkan kewajiban hukum qisas pada orang­-orang yang terbunuh, orang merdeka dengan orang merdeka , dan hamba sahaya dengan hamba sahaya dan perempuan dengan perempuan. Akan tetapi barangsiapa yang diampunkan untuknya dari saudaranya seba­gian, maka hendaklah mengikuti dengan yang baik, dan tunaikan kepadanya dengan cara yang baik.

“Dari ayat ini, ada perkecualian hukum qisas yaitu apabila keluarga korban memaafkan. Sebagai pemaaf tersebut, pembunuh mengganti denda dengan 100 ekor unta, 40 diantaranya unta yang sedang hamil. Kalau dirupiahkan mencapai Rp 4,7 miliar,” tambah doktor pidana Islam ini.

Adapun sebab-sebab turunnya ayat ini yaitu untuk memotong budaya jahiliah yang berkembang sebelum datangnya Islam. Pada waktu itu, jika ada satu orang dibunuh, maka akan membunuh balik sang pembunuh hingga ke keluarga pembunuh. Sehingga turunlan ayat ini yang menekankan asas keseimbangan, yaitu satu nyawa di balas satu nyawa. Bukan satu nyawa di balas satu keluarga.

“Jaman sebelum Islam, apabila ada anak dibunuh, maka akan dibunuh balik si pembunuh, orang tua dan seluruh kerabat pembunuh. Inilah mengapa ayat ini turun,” tambah Irfan.

Selain itu, ada hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Hiban dan Imam Al Baihaki yang menyebutkan Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa harus diberikan pemaaf apabila yang membunuhnya karena lupa, terpaksa dan bersalah. “Namun hadist ini tidak dilakukan. Mereka merujuk Al-Quran kedudukannya lebih tinggi,” terang Irfan.

Namun, pemberlakuan hukum qisas bukannya tanpa kritik. Menurut Irfan, hingga saat ini tidak ada hukum acara bagaimana cara pembuktian di peradilan. Selain itu juga sistem peradilan tidak terbuka yang dapat diikuti oleh setiap orang. “Mereka juga diskriminatif, kalau orang non Arab Saudi langsung diterapkan hukum qisas. Tapi kalau orang Arab sendiri tidak, tapi dimaafkan,” jelas Irfan.

Apakah ini karena cara mereka memahami Islam yang salah ?

“Tidak. Tapi karena karakter bangsa, model kepemimpinanm struktur pemerintahan dan sebagainya. Di sana, Raja menguasai ulama. Ulama yang tidak sesuai dengan keyakinan Raja, disingkirkan,” tuntas Irfan.

(asp/her)

Senin, 20/06/2011 03:09 WIB
Kultur dan Aturan Hukum Arab Saudi Lemahkan TKW 
Hery Winarno – detikNews

Kultur dan Aturan Hukum Arab Saudi Lemahkan TKW

Jakarta – Sering kali kita mendengar kekerasan yang menimpa Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Arab Saudi. Tak hanya itu, beberapa TKW pun dihukum pancung di negara kaya minyak itu. Lalu apa yang menyebabkan begitu seringnya TKW kita mengalami nasib buruk di sana?.

“Kultur dan peraturan hukum di Arab Saudi memang melemahkan posisi TKW, jadi kalau terjadi sesuatu di rumah majikannya, mereka tidak bisa apa-apa. Itu salah satu faktornya,” ujar pengamat Timur Tengah dari LIPI, Hamdan Basyar saat berbincang dengan detikcom, Minggu (19/6/2011) malam.

Menurut Hamdan, kultur masyarakat Arab Saudi menempatkan pembantu rumah tangga masuk dalam lingkup keluarga. Di sisi lain, pemerintah setempat tidak memiliki otoritas penuh untuk masuk dalam hukum keluarga.

“Peraturan di sana juga tidak bisa macam-macam kalau terkait masalah keluarga atau rumah tangga. Ini yang semakin sulit bagi TKW kita,” terangnya.

Terlebih lagi, pembantu rumah tangga di Arab Saudi adalah pekerja informal sehingga perlindungan hukum juga semakin lemah. Hal ini berbeda dengan pekerja formal lainnya yang memiliki aspek perlindungan hukum lebih baik.

“Makanya sebaiknya hentikan pengiriman TKI ke Arab bila hanya jadi PRT. Sebaiknya kita kirim tenaga formal seperti perawat yang mempunyai perlindungan hukum lebih baik,” pintanya.

Pemerintah harus mampu menyiapkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan memadai. Pekerja formal akan lebih dihargai dan mempunyai perlindungan hukum yang lebih baik dibanding pekerja informal. Sehingga kasus yang menimpa Ruyati tidak akan kembali terulang.

“Hentikan pengiriman tenaga kerja informal, tarik bertahap TKI yang sudah ada di sana dan kirim saja pekerja yang memiliki skill,” imbuhnya.

(her/asp)

Senin, 20/06/2011 03:49 WIB
KBRI untuk Arab Saudi Kecam Pelaksanaan Eksekusi Mati Ruyati 
Hery Winarno – detikNews

KBRI untuk Arab Saudi Kecam Pelaksanaan Eksekusi Mati Ruyati

Jakarta – Kedutaan Besar RI (KBRI) untuk Arab Saudi di Riyadh mengecam pelaksanaan eksekusi mati kepada TKW asal Indonesia, Ruyati pada hari Sabtu, 18 Juni 2011 lalu. Pelaksanaan eksekusi tersebut dinilai tidak memperhatikan praktek internasional yang berlaku yang berkaitan dengan perlindungan kekonsuleran.

“Tanpa mengabaikan sistem yang berlaku di Arab Saudi, kami menyesalkan kejadian tersebut dan mengecam pelaksanaan eksekusi Ruyati tersebut tidak memperhatikan praktek internasional yang berlaku, terutama berkaitan dengan perlindungan kekonsuleran,” ujar Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Gatot Abdullah Mansyur lewat rilis yang dikirimkan kepada detikcom, Senin (20/6/2011).

Gatot mengaku jajarannya sudah memberikan bantuan hukum sebagaimana mestinya dalam kasus Ruyati. Perwakilan RI di Arab Saudi telah mengirim dua Nota Diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, masing-masing No 1948 tertanggal 19 Mei 2010 dan No 2986 tertanggal 14 Agustus 2010, yang intinya meminta agar Perwakilan RI diberikan akses kekonsuleran seluas-luasnya sebagaimana lazimnya termasuk informasi tentang jadwal persidangan, pendampingan dan pembelaan dalam sidang-sidang berikutnya, serta untuk mendapatkan salinan putusan hukum terhadap almarhumah Ruyati.

“Namun demikian, hingga pelaksanaan hukuman mati almarhum Ruyati, kami tidak menerima pemberitahuan tentang pelakasanaan eksekusi hukuman mati tersebut,” tandas Gatot.

KBRI juga sudah meminta agar jenazah Ruyati bisa segera dibawa pulang ke tanah air. Pihak keluarga dan ahli berharap, Ruyati bisa dikebumikan di kampung halamannya.

“Di samping itu, kami juga telah melayangkan nota diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri Arab Saudi yang berisikan permintaan agar jenazah almarhumah Ruyati dapat dimakamkan di Indonesia,” imbuh Gatot.

Almarhumah Ruyati binti Satubi dihukum qisas pancung atas tuduhan pembunuhan terhadap ibu majikannya yang bernama Khairiyah Hamid yang berusia 64 tahun dengan pisau jagal dan kemudian dilanjutkan dengan menusuk leher korban dengan pisau dapur.

Motif pembunuhan adalah karena rasa kesal akibat sering dimarahi oleh ibu majikannya karena gaji yang tidak dibayarkan selama 3 bulan (sebesar total SR 2400) dan tidak mau memulangkannya meskipun sering diminta.

Kasus pembunuhan ini telah ditangani oleh kepolisian Sektor Al Mansur Makkah Al Mukkarramah dan penangannya sejak awal kejadian tergolong cepat mengingat beratnya kasus dan bukti-bukti yang kuat yang ditemukan di tempat kejadian perkara .

Persidangan Ruyati binti Satubi telah dilaksanakan sebanyak dua kali yakni tanggal 3 Mei dan 10 Mei 2010. Selama persidangan, Ruyati didampingi oleh dua orang penerjemah Mahkamah berkebangsaan Indonesia dan Arab Saudi, dan juga dihadiri oleh dua orang staf dari KJRI Jeddah. Demikian halnya juga dalam proses investigasi oleh Badan Investigasi Makkah dan reka ulang (rekonstruksi) di tempat kejadian perkara, Ruyati selalu didampingi oleh penerjemah dan staf KJRI Jeddah.

Menurut ketentuan hukum di Arab Saudi, eksekusi hukuman mati bisa dibatalkan jika keluarga korban memaafkan pelaku pembunuhan. Akan tetapi, dalam kasus Ruyati, keluarga korban tidak bersedia memaafkan dan eksekusi mati akhirnya tetap dijalankan.

“Pemerintah Arab Saudi sebenarnya telah melakukan sejumlah upaya untuk meringankan hukuman Ruyati, diantaranya mendapatkan status ta’zir dengan meminta keluarga korban untuk memaafkan Ruyati, tetapi upaya tersebut tidak membuahkan hasil,” imbuh Gatot.

(her/asp)

Senin, 20/06/2011 01:48 WIB
Mengintip Hukum Qisas di Arab Saudi 
M. Rizal – detikNews
 

Jakarta – Praktek hukuman mati bagi pelaku kejahatan dihampir semua negara sudah banyak yang ditinggalkan. Hanya tinggal beberapa saja yang masih memberlakukan hukuman mati untuk kasus-kasus kejahatan yang dianggap sebagai pelanggaran berat.

Cina misalnya masih memberlakukan hukuman mati dengan menembak para koruptor. Karena koruptor dianggap kejahatan berat yang telah merugikan negara dan rakyat. Di Amerika Serikat juga melakukan hal yang sama untuk kejahatan yang tak diampuni, walau dengan cara suntik mati, tidak lagi dengan listrik.

Praktek hukum mati di Indonesia sendiri belum ditinggalkan sepenuhnya. Misalnya hukuman mati dengan cara ditembak seperti yang dialami tiga serangkai teroris, Amrozi, Ali Gufron dan Imam Samudera. Tibo pelaku kerusuhan di Palu dan Sumiarti, pelaku pembunuhan keluarga anggota TNI AL di Surabaya. Dan, dalam beberapa persidangan dalam kasus tertentu,
jaksa masih kerap memberlakukan tuntutan maksimal sampai hukuman mati.

Mungkin Kerajaan Arab Saudi yang masih memberlakukan hukuman mati dengan cara memengal atau memancung kepala. Inilah dirasakan kurang ‘manusiawi’ dengan cara hukuman mati dengan cara ditembak, distrum listrik atau disuntik. Apalagi kebanyakan yang dihukum mati bukan warga Arab Saudi, tapi lebih banyak para imigran atau tenaga kerja
asing, seperti dari Indonesia seperti yang dialami TKW asal Bekasi, Jawa Barat, Ruyati (54) yang dihukum pancung, Sabtu (18/6/2011) waktu Arab Saudi.

Hukum mati di Arab Saudi diberlakukan dengan dalih menjalankan syriat Islam. Bahwa setiap pembunuh harus dihukum dengan dibunuh pula atau Qisas. “Makanya di sini hukum pancung lebih dikenal dengan hukum qisas,” kata Muhamad Tio, warga negara Indonesia yang tinggal di Makkah al Mukaramah kepada detikcom, Minggu (19/6/2011).

Pasca pemancungan terhadap Ruyati sendiri menurut Tio, menjadi perbincangan dari mulut ke mulut di antara sesama TKI. “Di sini takut membicarakannya, karena takut fitnah juga, karena di sini sangat serius juga bagi pelaku fitnah,” jelas Tio yang sudah 10 tahun tinggal dan bekerja di kota Makkah ini.

Tio sendiri mengaku selama di tinggal di Arab Saudi sudah menyaksikan langsung proses hukuman pancung. “Saya pernah lihat orang dipancung dua kali dengan mata kepala sendiri. Saat itu di Jeddah, saat ada tiga orang yang dipancung,” ucapnya sambil mengatakan bahwa orang yang kurang kuat melihatnya bisa langsung pingsan, menjerit histeris sampai muntah-muntah.

Biasanya qisas sendiri dilaksanakan setiap hari Jum’at, khususnya sesuai sholat Jum’at. Setiap pelaksanaan dilakukan dengan begitu ketat penjagaan ratusan tentara dan polisi.

“Orang yang akan dihukum diberdirikan di atas panggung yang dibuat setinggi setengah meter. Sebelum dipancung akan dibacakan dakwaan, asal kota dan negaranya. Setelah itu dibacakan do’a dan dipenggal dengan pedang khusus yang sangat tajam agar cepat prosesnya,” ungkap Tio.

Usai pelaksanaan di tempat itu juga disiapkan mobil pemadam kebakaran. “Ya itu untuk menyemprotkan air agar ceceran darah cepat bersih dan memang seperti tidak ada apa-apa, kayak tidak ada hukuman qisas,” terangnya.

Tio juga menjelasan hampir di semua kota besar di Arab Saudi memberlakukan hukum qisas untuk kasus pembunuhan dan bandar narkoba.

“Kalau pemakai narkoba tidak di qisas, kecuali pengedarnya saja. Ini diberlakukan di kota Makkah, Madinah, Jeddah, Damam, Thaif dan kota lainnya,” ujarnya.

Di Jeddah sendiri biasa disiapkan tempat qisas di sebuah lapangan di sekitar daerah Al Balad. Di Al Balad sendiri merupakan kawasan komersial dan perdagangan yang tak jauh dari pantai.

“Kalau dulu di Makkah, Qishos akan dilaksanakn tak jauh dari Masjidil Haram, sekarang tidak tahu lagi. Kalau kata orang di wilayah Tan’im. Saya dengar ibu Ruyati juga dihukum di Makkah, tapi saya nggak tahu di mana persisnya,” katanya.

Tio dan sejumlah mukimin lainnya menyatakan, justru dengan hukum qisas yang diberlakukan di Arab Saudi membuat rasa aman penduduknya, termasuk para pendatang. Karena hampir sebagian besar aman dari pelaku kejahatan, walau tidak dipungkiri masih ada kasus kriminal kecil lainnya.

“Ya dalam beberapa hal kita sepakat qisas ini untuk membuat efek jera yang efektif. Saya setuju hukuman mati seperti di Cina yang diberlakukan terhadap koruptor. Kalo di Indonesia membunuh itu seperti membunuh ayam. Hampir tiap hari ada pembunuhan tapi pelakunya tidak jera, karena hukum kurang tegas. Apalagi kasus korupsi,” terangnya

Tio mengajak semua orang, khususnya di Indonesia untuk memperhatikan kembali soal pengiriman TKW ke Arab, apalagi soal ajaran yang menyebutkan larangan perempuan berpergian jauh dari rumah.

“Tentunya ini bukan persoalan larangan perempuan bekerja atau pesoalan gender. Tapi alangkah baiknya ini diperhatikan lagi, kalau tidak mau menimbulkan musibah yang lebih besar. Karena resiko wanita lebih besar. Lah TKI yang laki-laki saja berbahaya, bahkan ada yang disandera kaya di Somalia. Tapi setidaknya itu resiko seorang lelaki, seorang kepala rumah tangga yang kewajibannya mencari nafkah,” pungkasnya.

(zal/her)

About these ads

2 Responses to “Hukum : Inilah Dasar Hukum Pancung di Arab Saudi”


  1. June 30, 2011 at 12:09 pm

    Mengenai hukum pancung di Arab Saudi: saya sebagai orang yg awam akan agama islam dan ingin menyampaikan komentar mengenai hal ini..bahwa arab saudi tdk memperhatikan hukum internasional dan saudi masih menggunakan cara hukuman yg masih digunakan pada jaman jahiliah atau beratus-ratus abad yg lalu, dimana manusia masih buta akan Hak Asasi Manusia dan manusia masih baru dilahirkan di muka bumi ini. Hukum islam yg satu ini saya sgt tdk menyetujuinya sebagai manusia yg dilahirkan di era modern saat ini. Kalau hukum saling bunuh membunuh masih berlaku, kenapa tidak bunuh dan pancung saja warga negara Arab Saudi yg ada di Indonesia.

  2. August 14, 2011 at 12:21 am

    Al-Qur’an dan Sunnah akan selalu sesuai untuk setiap Jaman. Hanya orang-orang yang jahil saja yang akan menganggapnya tidak sesuai.jadi Mari kita Mengkaji Keislaman Kita. Belajar yuk Belajar……


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,261,664 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: