09
May
11

Pariwisata : Jakarta Tempo Doeloe

Senin, 09/05/2011 11:15 WIB

Kampung Betawi

Mengunjungi Kampung Betawi dan Berkuda di Puncak

Oleh: Citra Rahman
detik_RumahBetawijpgjpg-

Rumah Betawi tempo dulu

Foto selengkapnya

DKI JAKARTA – Berkeliling Jakarta, menikmati suasana tempo dulu di Kota Tua dan Rumah Si Pitung di Cilincing, rasanya belum afdhol jika tidak melihat perkampungan Betawi Setu Babakan di Kelurahan Srengseng Sawah. Sebuah danau yang mulai mengering menghiasi kampung ini dengan pohon-pohon rindang di pinggirnya.

Di pinggir danau ini, sudah menanti para penjual jajanan khas Betawi. Seperti Kerak Telor, Toge Goreng, Soto Betawi, Soto Mie dan Roti Buaya. Tapi sayangnya saat kami di sana, hanya ada penjual Toge Goreng dan penjual soto mie. Mungkin karena bukan hari libur makanya tidak banyak yang berjualan.

Toge Goreng, cara memasak makanan ini ternyata tidak sesuai dengan namanya. Bukannya digoreng, tapi direndam dalam air panas, dicampur dengan ketupat/lontong lalu disiram kuah kacang di atasnya. Rasanya enak seperti gado-gado tapi sayurnya hanya dengan toge saja.

Selain menu jajanannya yang berbagai jenis, bangunan di Setu Babakan juga berarsitektur asli Betawi. Juga ada pementasan budaya Betawi setiap hari Sabtu dan Minggu. Karena kami berkunjungnya hari selasa (12/10) kami hanya melihat ibu-ibu yang sedang arisan.

Selesai makan toge goreng dan menyaksikan para nelayan yang sedang menjala ikan di tengah danau, kami melanjutkan perjalanan ke Puncak. Kami akan mengunjungi pabrik teh Gunung Mas memproduksi Teh Walini. Tapi sayang sekali tour ke dalam pabrik sudah ditutup karena kami tibanya sudah pukul tiga sore. Ingin melihat pemetik teh di atas bukit juga tidak bisa karena mereka sudah pulang.

Terakhir kami singgah di cafe yang letaknya bersebelahan dengan pabrik teh. Di situ kami membeli beberapa produk teh. Dari ibu-ibu penjualnya kami baru tahu kalau teh Walini ini adalah produk yang diekspor ke Jepang, Taiwan dan negara-negara di Eropa. Jadi teh ini tidak dijual bebas di Indonesia, hanya dijual di cafe pabrik ini.

Sekitar dua ratus meter dari kompleks pabrik, ada istal mini yang menambatkan beberapa ekor kuda. Ternyata kuda-kuda ini untuk ditunggangi. Tarifnya Rp. 30.000,- per orang. Masing-masing kuda yang kita tunggangi akan dituntun oleh bapak-bapak yang penjaga di istal. Menaiki kuda ini, saya baru mengerti kenapa berkuda menjadi salah satu olahraga. Ternyata menungganginya selama lima menit saja sudah membuat keringat mengalir.

Pak Ahmad, si pemilik kuda mengajarkan saya beberapa teknik dasar menunggangi kuda. Seperti cara memegang tali kekang, cara duduk yang benar di atas pelana dan perintah-perintah sederhana untuk berhenti, berjalan dan berlari. Untuk menyuruh kuda berlari, cukup dengan menghentakkan kaki ke perut kuda dan kendurkan tali kekang. Jika ingin berhenti, tarik kekang ke belakang. Sederhana sekali tapi melakukannya di atas kuda butuh keseimbangan ekstra karena badan berguncang dan terlonjak ke atas setiap kali kuda berlari.

Pengalaman seru berkuda sore itu mengantarkan kami ke penginapan dengan perasaan senang dan tiba-tiba ingin punya kuda sendiri.

Kamis, 14/04/2011 11:05 WIB

Marathon Batavia

Marathon Batavia Tempo Doeloe

Oleh: Jeine Kambey
detik_museumkeramikjpg-

Museum Keramik

Foto selengkapnya

DKI JAKARTA – Setelah seminggu di kepulauan seribu akhirnya tiba saatnya mengeksplore jakarta, tak sabar rasanya ingin mengenal ibukota negara Insonesia lebih dekat. Dari pelabuhan Muara Angke kami langsung pergi ke hotel Batavia, tempat kami menginap dua hari kedepan. Holtel Batavia adalah hotel bernuansa Jakarta tempo dulu, dengan bangunan yang masih mengunakan arsitektur jaman Belanda.

Hotel tempat kami menginap ini adalah tempat yang sangat strategis jika anda memang berniat menjelajahi sisa-sisa kejayaan Belanda. Dimana bangunan-bangunan tua masih tegak berdiri, walaupun ada beberapa bangunan yang sudah terlihat rapuh dan tidak layak huni. Melihat bangunan-bangunan itu membuat saya merasa kembali ke masa lalu, bagai mesin waktu yang menyedot saya jauh ke masa itu.

Sungguh takjub, selama ini hanya bisa membayangkan bagaimana keadaan kota Batavia jaman dulu. Hanya bisa membaca sejarahnya di buku-buku pelajaran sekolah, tapi sekarang sangat nyata di depan mata. Kebanyakan bangunan-bangunan disana sudah dijadikan museum, contohnya museum Fatahillah, Museum Keramik, Museum Wayang dan Museum Bahari.

Satu kompleks di Kota tua itu biasa dijadikan tempat mengumpulnya anak-anak muda. sekedar jalan-jalan, duduk-duduk bersama teman, atau bahkan hunting foto-foto. Memang lokasi kota tua di Jakarta ini menjadi salah satu spot pemotretan favorit bagi beberapa photografer. Selain itu disini pun terdapat berbagai pilihan kuliner dari makanan ringan sampai makanan berat khas Ibukota.

Jika ingin benar-benar merasakan sensasi kembali kemasa lalu, cobalah untuk menyewa sepeda. Tak perlu khawatir kehabisan, disana tersedia cukup banyak sepeda-sepeda tua lengkap dengan topi-topi lebarnya. Dengan berakhirnya hari ini maka berakhir juga petulangan kami di Kota Tua, sampai ketemu besok. :)

(Jeine Kambey / gst)

About these ads

0 Responses to “Pariwisata : Jakarta Tempo Doeloe”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,250,956 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: