04
May
11

Peradilan : Misteri Antasari Bakal Terbongkar ?

http://www.edisinews.com , 29 April 2011

Misteri Antasari Bakal Terbongkar?

Oleh: Tb. Januar Soemawinata (Universitas Nasional)

LEPAS dari kekurangannya, harus diakui bahwa Antasari Azhar saat itu adalah Ketua Komisi Pemerantasan Korupsi (KPK) yang paling berani  mengambil resiko dibanding figur ketua KPK yang pernah ada lainnya. Antasari tanpa pandang buluh melibas korupsi, hantam sana sini, seret sana sini, koruptor kelas kakap maupun pejabat penting yang didduga terseret kasus korupsi, bukan cuma korupotor kelas teri ataupun kelas mujair. Saat menjadi Ketua KPK, Antasari berani menyeret Gubernur Bank Indonesia (BI) saat itu Burhanuddin Abdullah ke penjara, dan bahkan menyeret besan Presiden SBY, Deputi Senior Gubernur BI Aulia Pohan ke hotel prodeo pula.

Sayangnya tiba-tiba Antasari Azhar dituduh terlibat dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran, Nasruddin Zulkarnaen. Ada dugaan, bahwa hal ini merupakan rekayasa kriminalisasi terhadap pimpinan KPK tersebut yang dianggap super berani menyeret korupsi dari kalangan dekat elit penguasa dan jaringan Istana. Yang aneh, sehari sebelum Antasari ditangkap banyak berseliweran SMS ke HP wartawan yang menyatakan bahwa polisi akan menangkap pejabat tinggi negara di bidang hukum. Entah siapa yang mengedarkan SMS, namun pesan yang dimaksud jelas adalah Ketua KPK Antasari Azhar saat itu. Bahkan, Antasari diisukan “bercinta”dengan  Rani Juliani. Yang konon sebagai istri siri Nasruddin Zulkarnaen.

Hakim yang diharapkan sebagai ujung tombak pelaksana pengadilan, diduga ternyata justeru memanipulasi hukum, seperti hakim Asnun ketika membebaskan Gayus Tambunan setelah menerima sejumlah uang. Jaksa Cirus yang menjadi tersangka memalsukan rencana tuntutan atau memanipulasi dakwaan. Oknum petinggi Polri pun tak hanya diduga terlibat rekening gendut, ternyata juga “bermain” sebagai penyidik. Kombes Williardi Wizard yang mengaku dipaksa petinggi Polri menandatangani BAP rekayasa terhadap kasus Antasari. Apabila proses hukum dan keadilan kasus Antasari tidak kunjung diselesaikan, maka resim sekarang ini akan dinilai tidak memiliki kepekaan hukum, menjauhkan keadilan dari rakyat, hukum hanya tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas, dan semakin terbukti penegakan hukum dilakukan tebang pilih.

Mestinya, rezim penguasa dan kalangan penegak hukum harus disadarkan akan dosa-dosa yang telah dilakukannya, disumpah pocong agar tidak merekayasa hukum, dan perilakunya harus meniru hakim konstitusi Anwar Usman. Anggota Mahkamah Konstitusi (MK) yang baru dilantik ini berjanji menjunjung tinggi kode etik hakim. Secara tegas dan bersumpah, dia menyatakan tidak segan-segan menindak keluarganya sendiri apabila melanggar kode etik. Bahkan, dia berjanji memotong tangan anaknya jika ketahuan melakukan pencurian atau korupsi. “Saya akan mengikuti sunah Rasul. Jadi, Nabi pernah didatangi oleh pemimpin kaum Quraisy untuk meminta perlakuan khusus kepada salah satu kerabat bangsawan Quraisy dan meminta kepada Rasul. Lalu beliau menjawab, bahwa andalkan Fatimah anakku mencuri maka akan kupotong tangannya. Ya, mungkin bisa diterjemahkan seperti itu,” tegasnya di Gedung MK, beberapa waktu lalu.

Akibat dugaan perilaku hakim yang sontoloyo, kini Komisi Yudisial (KY) mengoreksi dan mengevaluasi moral hakim terkait putusan terhadap Antasari. Banyaknya fakta ganjil dalam perkara pembunuhan berencana terhadap Nasrudin Zulkarnaen yang diabaikan hakim membuat banyak pihak sulit untuk tidak menyebut ada rekayasa dalam kasus tersebut.  Keganjilan itu antara lain pesan pendek berisi ancaman Antasari terhadap Nasrudin, yang dijadikan bahan dakwaan, ternyata dalam persidangan tidak terbukti berasal dari Antasari.  Keterangan ahli terkait dengan senjata pun menegaskan adanya keganjilan. Dalam sidang pengadilan dikatakan senjata itu rusak dan macet sehingga tidak mungkin bisa digunakan untuk menembak. Ahli forensik juga meneguhkan bahwa kepala korban ditembus peluru berkaliber 9 milimeter, bukan 0,38 milimeter seperti dakwaan yang dikatakan jaksa Cirus Sinaga.

Bukti-bukti Diabaikan

Apabila dugaan rekayasa kriminalisasi terhadap Antasari benar maka adalah wajar. Sebab, Antasari dikenal tanpa komrpomi berani menyeret kalangan pejabat termasuk besar Presiden. Ini sebuah resiko yang harus dipikul Antasari yang akhirnya bernasib menjadi  “pesakitan”. Banyak penilaian bahwa sidang Antasari penuh rekayasa. Bukti-bukti tidak cukup membuktikan, bahkan menimbulkan kecurigaan. Selama persidangan banyak bukti yang mencurigakan. Misalnya, mengapa Rani Juliani ke hotel untuk bertemu dengan Antasari diantar Nasruddin? Mengapa pembicaraan Antasari dengan Rani dan juga dengan Sigid harus direkam?

Belum lagi misteri tentang keterlibatan tim bayangan,ketidakcocokan antara pistol dan peluru serta SMS ancaman oleh Antasari kepada Nasrunddin yang tetap saja menjadi teka-teki. Ada perbedaan antara keterangan saksi ahli forensik Munim Idris dengan fakta persidangan. Hasil pemeriksaan terhadap peluru yang berada di tubuh korban, berasal dari senjata yang bagus. Namun di persidangan, senjata yang ditunjukkan macet. Soal kaliber peluru, menurut Munim, yang di tubuh korban itu kelibernya 9 mm. Senjata yang dijadikan barang bukti adalah revolver 038 spesial. Menurut ahli senjata, peluru 9 mm tidak mungkin pakai revoslver. Kotradiksi ini tidak dipertimbangkan hakim. Aneh?!

Mengenai penyitaan barang bukti pun, yang peranh disita hanya anak peluru dan celana jeans Nasrudin dan serpihan peluru di mobil. Tapi, mobil yang digunakan tidak dilakukan pemeriksaan forensik. Selain itu, baju korban jugatidka diketahui keberadaannya karena tidak dijadikan barang bukti. Mejslis hakim yang menangani kasus Antasari (pembunuhan Nasrudiin) dinilai tidak profesional, mengabaikan bukti-bukti yangt elah disampaikan saksi ahli (forensik). Kejanggalan dirasakan mislanya keternagan saksi ahli forensik dari UI Munim Idrsis mengenai senjata atau peluru yang ada ditubuh korban. Juga ada pesan SMS dari Antasari yang tidak dapat dibuktikan, baju korban yang tidak ditunjukkan, penyerahan jenazah korban kepada Dr Munim yang sudah dipoles, keterangan Rani Juliani yang disebut sebagai saksi tetapi tidka mau diserahkan penyidik ke perlindungan LPSK.

Dalam kesaksiannya di PN Jaksel, ahli forensik RSCM, Dr Mun’im Idris, mengatakan mayat Nasrudin sudah dimanipulasi saat ia terima untuk diperiksa. “Karena jasadnya sudah berpindah dari rumah sakit ke rumah sakit. Saya menerima kondisinya sudah dijahit,” kata Mun’im dalam sidang dengan terdakwa Antasari Azhar, 10 Desember 2009. Selain itu, kata dia, kepala Nasrudin pun sudah dicukur. “Akibatnya (manipulasi mayat) ini akan berkaitan dengan alibi tersangka nantinya,” ungkapnya. Saat memeriksa jasad Nasrudin, Mun’im mengaku masih menemukan dua peluru di kepala Nasrudin, yakni di sebelah kanan dekat telinga dan di batang tengkorak. “Meski peluru masih di dalam, tapi sudah dijahit (lukanya),” kata dia. Kedua peluru, jelasnya, mengenai jaringan otak. “Sehingga menyebabkan kematian meski tidak langsung.”

Mun’im Idris yang didengar keteranganya sebagai saksi mengungkapkan, mayat Nasrudin yang divisumnya sudah tidak asli atau telah “dimanipulasi” oleh dokter lain. Dari sifat luka, penembakan dilakukan dari jarak jauh. “Mayat sudah dimanipulasi, ini karena korban sebagian besar rambutnya sudah dicukur, lukanya sudah dijahit dan posisi sudah telanjang saat akan saya visum,” ujar Mun’im dalam persidangan pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen dengan terdakwa Antasari Azhar di PN Jaksel. Menurut Mun’im, peluru di bagian tubuh sudah penyok namun bisa dikenali tipenya. Sedangkan penembakan terjadi dalam jarak jauh.

Selain itu saat dirinya membuat berita acara hasil pemeriksaan tersebut, petugas Puslabfor Mabes Polri pernah menghubungi dan meminta ucapannya tentang manipulasi mayat dihilangkan dan “babe” (sebutan dokter ini) dinilainya terlalu berani. Namun, karena ini masih menjadi kewenangannya, dirinya tidak mau mengubahnya. “Saya nggak mau mengubahnya dan peluru yang digunakan untuk menembak korban diukur besarnya 9 mm,” tegasnya sambil menyatakan korban ditembak bukan dari jarak dekat.

Mun’im mengakui dirinya tidak pernah memeriksa korban di tempat kejadian perkara atau TKP. Menurut dia, kalau korban ditembak jarak dekat sekitar 50 hingga 60 Cm, butir mesiunya akan menempel di baju korban. “Saya saat memeriksa jasad korban tak melihat adanya butir-butir mesiu yang menempel di bajunya,” jelasnya. Dilanjutkan oleh Mun’im, biasanya pihaknya yang menggunting baju mayat. “Jadi mayatnya sudah tidak asli, sudah ada tangan-tangan yang menangani sebelumnya,” jelasnya. Akibat mayat korban sudah diutak-atik, menurut ahli forensik ini, dirinya tidak bisa menentukan kapan terjadinya kematian dan yang paling penting berkaitan dengan alibi tersangkanya.

Ahli forensik RSCM ini pun mengungkap kejanggalan putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) terkait perkara Antasari Azhar. Kejanggalan ini bisa dipakai sebagai bukti baru dalam peninjauan kembali (PK) Antasari Azhar. Menurut Mun’im, keterangannya sebagai ahli yang diberikannya di persidangan tidak digunakan oleh hakim agung MA dalam putusan kasasinya. “Saya menulis dalam keterangan saya sebagai ahli forensik, jenis peluru yang bersarang di Nasrudin (Nasrudin Zulkarnaen) adalah diameter 9 mm kaliber O,38 tipe SNW tapi diminta dihapus oleh polisi,” kata Mun’im Idris dalam konfrensi pers di RSCM, Jakarta Pusat pada 5 Januari 2010.

Keterangan otopsi tertulis ini disampaikan oleh Mun’im Idris dalam surat otopsi. Namun, pihak Kepolisian meminta keterangan tersebut dihapus. “Yang saya tulis ya yang saya temukan. Yang meminta dihapus langsung saya lupa yang datang ke sini. Lantas Wadir Serse Polda Metro Jaya menelepon saya minta untuk dihapus. Lalu saya bilang ini kewenangan saya,” tambah Mun’im. Selain itu, dia juga menyatakan menerima mayat Nasrudin tidak dalam utuh atau tersegel. Kondisi mayat seharusnya masih berbalut baju ketika mayat meninggal. “Tapi saya sudah menerima tanpa label, tanpa baju dan kondisi luka kepala sudah terjahit. Seharusnya masih utuh apa adanya,” terang Mun’im.

Sebelumnya saksi ahli balistik A Simanjuntak menyebutkan bahwa peluru yang digunakan menembak Nasrudin tidak cocok dengan jenis pistol yang diperlihatkan JPU. Peluru tersebut merupakan 9 mm, sedangkan pistol SNW berjenis revolver kalibernya 38. Dokter ahli forensik Muním Idris harus dilindungi, kita semua rakyat yang pro kebenaran dan keadilan harus ikut melindungi dr Munim dan melakukan pengawasan tersu emnerus terhadap pengadilan kasus Antasari. Jangan sampai Dr Munim dibunuh oleh pihak berkepntingan yang ketakutan apabila kasus Antasari terbongkar.
Ada Kejanggalan dan Kriminalisasi Antasari
Memang nasib Antasari sangat tragis menghadapi fitnah yang kejam. Dia diisukan bermain cinta segitiga dnegna Rani Juliani sampai dituduh sebagai terlibat pembunuhan berencana terhadap  Nasrudin. Mulalah Antasari merasa berjuang sendirian dan tidak ada satu orang pun yang perduli dengannya. Kini, publik baru membelalak matanya bahwa ada indikasi rekayasa kriminalisasi terhadap Antasari karena kelewat berani menumpas korupsi saat menjadi Ketua KPK sehingga harus berhadapan dengan penguasa dan kroninya. Maklum, di jaman edan sekarang ini orang lebih mengejar kepentingan uang dan materi serta cari selamat sendiri, termasuk kalangan kelas menengah yang diharapkan bisa melakukan perubahan dalam keadaan yang bedebah sekarang ini.

Putusan kasasi perkara, Mahkamah Agung yang terdiri dari Hakim Agung Artidjo Alkostar (Ketua Majelis),  Moegihardjo dan Surya Jaya,  menghukum Antasari dengan hukuman 18 tahun penjara, meski putusan tidak diambil secara bulat, karena Hakim Agung Surya Jaya menyatakan pendapat berbeda dan menurut dia maka Antasari diputus bebas dari segala dakwaan.

Pengacara Antasari, Maqdir Ismail menyebut ada 10 kejanggalan/kejanggalan dalam perkara Antasari. Pertama, berhubungan dengan penyitaan anak peluru dan celana jeans, almarhum Nasrudin Zulkarnaen, tanpa menyita baju korban, serta pemeriksaan Forensik hanya terhadap anak peluru, tetapi tidak ada pemeriksaan terhadap mobil korban.

Kedua, tentang luka tembak. Berdasarkan visum  peluru pertama masuk dari arah belakang sisi kepala sebelah kiri dan peluru yang kedua masuk dari arah depan sisi kepala sebelah kiri  diameter kedua anak peluru tersebut 9 (sembilan ) milimeter dengan ulir ke kanan. Hal ini menjadi ganjil kalau dihubungkan dengan fakta bahwa bekas peluru ada pada kaca segita mobil almarhum yang hampir sejajar dan tidak ada bekas peluru yang dari belakang. Dalam kesaksianSuparmin, almarhum roboh ke kanan.

Ketiga, tentang sejata api barang bukti. Keterangan  Abdul Munim Idries, peluru pada kepala korban 9 mm dan berasal dari senjata yang baik; Sedangkan menurut keterangan ahli senjata Roy Harianto, bukti yang ditunjukkan adalah revolver 038. spesial  dan rusak salah satu silendernya macet. Menembak dengan satu tangan dari kendaraan dan sasaran bergerak terlalu sulit untuk amatir, yang bisa lakukan penembakan seperti ini setelah  latihan dengan 3000-4000 peluru. Keterangan terdakwa penjual senjata Teguh Minarto dalam perkaranya di PN Depok, senjata diperoleh di Aceh sesudah Tsunami dibawah gardu PLN terapung dekat asarama polri; pertanyaan penyidik kepada Andreas Balthazar alias Andreas ketika melakukan konfirmasi kebenaran senjata dan peluru yang menjadi barang bukti di PN. Depok adalah peluru 38 Spc.

Keempat, bukti SMS. Tidak jelasnya kepentingan dan hubungan saksi Jeffrey Lumampouw dan Etza Imelda Fitri dalam bersaksi mengenai SMS ancaman kepada almarhum Nasrudin Zulkarnaen, yang katanya tertulis nama Antasari. Keterangan kedua saksi ini  adalah rekaan dan pendapat hasil pemikiran. Ada 2005 SMS ke HP almarhum Nasrudin Zulkarnaen yang tidak jelas pengirimnya. Dan ada 35 SMS ke HP AA yang tidak jelas sumbernya, ada 1 (satu) SMS yang dikirim dan diterima oleh HP  Antasari dan 5 (lima) SMS yang diterima dan dikirim ke HP Sigid Haryo Wibisono. Ahli IT  Agung Harsoyo menduga pengiriman SMS ini  dilakukan melalui web server. Dia juga menyebut  tidak ada SMS dari HP  Antasari kepada almarhum Nasrudin Zulkarnaen, chip HP almarhum Nasrudin Zulkarnaen, yang berisi SMS ancaman rusak tidak bisa dibuka.

Kelima, dalam Keputusan di PN Tangerang dan di PN Jakarta Selatan ada perbedaan  kwalifikasi para terpidana, karena dalam pertimbangan PN Tangerang Eduardus Noe Ndopo Mbete alias Edo dan Hendrikus hanya sebagai penganjur, sedangkan dalam pertimbangan PN Jaksel Antasari, Sigid Haryo Wibisono dan Wiliardi Wizar, mereka adalah sebagai pelaku dan penganjur.

Keenam, dalam pertimbangan Majelis Hakim perkara Antasari (halaman 175), ada pertimbangan yang tidak jelas asalnya atau saksi yang menerangkannya, diduga dari pertimbangan perkara lain. Dalam pertimbangannya, Majelis menyatakan, “Menimbang bahwa Hendrikus mengikuti korban dalam waktu cukup lama, sampai akhirnya, sebagaimana keterangan saksi Parmin dipersidangan.

Ketujuh, ada penyitaan bukti dari kamar kerja Antasari Azhar di KPK yang tidak berkaitan dengan perkara dan penyitaan tersebut tidak dilakukan atau dikonfirmasi kepada Terdakwa Antasari Azhar. Bukti yang disita ini dikembalikan kepada Chesna F Anwar.

Kedelapan, ada penjagaan yang berlebihan oleh penyidik terhadap Rani Juliani sejak dimintai keterangan sebagai saksi dalam penyidikan hingga memberi keterangan sebagai saksi dipersidangan. Hakim dalam mempertimbangkan keterangan Rani Juliani Hakim mengabaikan Pasal 185 ayat 6 huruf d yaitu cara hidup dan kesusilaan saksi.

Kesembilan, adanya pengakuan Eduardus Noe Ndopo Mbete alias Edo diperiksa dengan cara dianiaya di luar lingkungan Polda Metro Jaya. Sedangkan Rani Juliani mengaku diperiksa di Hotel, restoran dan Apartment.

Kesepuluh, hakim mengizinkan pemeriksaan penyidik di persidangan, yang serta merta dilakukan sesudah Wiliardi Wizar mencabut pengakuan adanya keterlibatan Antasari Azhar dalam perkara pembunuhan almarhum Nasrudin Zulkarnaen. “Cara yang paling mudah untuk membuka adanya “rekayasa” terhadap perkara Antasari Azhar ini, adalah dengan menunguak pengirim SMS ancaman terhadap almarhum Nasrudin dan mencari pengirim sms serta penelpon ancaman dan cerita tidak benar terhadap keluarga Antasari Azhar” tegas Maqdir.

Kalau memang benar ada skenario atas kasus Antasari, wahai penguasa dan pernagkatnya! Segera bertaubatlah dan jangan terus menerus merekayasa hukum, memfitnah lawan-lawan politik kepentingannya, melakukan pembunuhan karakter terhadap pihak yang mengkritiknya, Jangan anggap kekuasaan segala-galanya. Jangan lakukan kebobrokan moral dan kebohongan publik. Laksanakan janji-janji kampanye, jangan hanya lip service dan hanya pencitraan belaka.

WikiLeaks pun akan mengungkap dokumen mengenai kasus Antasari Azhar. Kabarnya, Julian Assange sedang mencari-cari media di negara mana yang akan diajaknya bekerja sama mengungkap dokumen tentang kasus Antasari itu. Di tengah pergunjingan itu, publik dalam negeri disuguhi temuan KY mengenai ketidaklaziman persidangan Antasari. Setelah menelaah dokumen pengaduan Antasari dan dokumen investigasi,KY mengumumkan telah menemukan indikasi pelanggaran profesionalitas hakim yang menangani persidangan Antasari. Para hakim dinilai mengabaikan bukti-bukti kuat serta mengabaikan keterangan ahli senjata, ahli balistik, dan keterangan ahli teknologi informasi (TI).

KY juga menilai para hakim mengabaikan bukti baju korban (Nasruddin Zulkarnain) yang tidak pernah dihadirkan di persidangan. Sebagai tindak lanjutnya, KY akan meminta keterangan dari pelapor, para saksi, ahli senjata, ahli balistik,dan ahli TI. Antasari sendiri sudah divonis 18 tahun penjara di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Menurut majelis hakim yang mengadili perkaranya, Antasari terbukti melakukan pembunuhan berencana dan dijerat dengan Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 55 ayat (1) ke- 2 KUHP Pasal 340 dengan ancaman maksimal hukuman mati. Di pengadilan tinggi,permohonan banding Antasari ditolak.Apa yang diumumkan KY ibarat materi yang bisa memperkuat keyakinan sementara orang bahwa Antasari menjadi korban dari sebuah kasus yang direkayasa. Korban pengadilan sesat.

Kebenaran Akan Terkuak

Kasus hukum yang direkayasa memang tidak akan bisa melahirkan hakikat kebenaran dan hakikat kesalahan. Rekayasa hanya menyembunyikan hakikat kebenaran dan kesalahan itu sendiri.Tapi,berapa lama kebenaran dan kesalahan itu bisa terus ditutup- tutupi? Proses penampakan kebenaran dan kesalahan dalam kasus Antasari sudah dimulai sejak persidangan kasusnya masih berlangsung hingga hari ini.

Bisa dipastikan bahwa tahap paling menentukan dari proses penampakan itu tidak masuk dalam skenario banding yang disusun Antasari dan para penasihat hukumnya. Bahkan mungkin tak pernah diperhitungkan Antasari sendiri. Tahap yang paling menentukan itu adalah terbongkarnya ketidaklaziman persidangan dan vonis kasus Gayus Halomoan Tambunan dalam kasus penggelapan pajak di Pengadilan Negeri Tangerang. Antasari mungkin tidak pernah memperhitungkan bahwa kasus Gayus menjadi bagian dari proses penampakan kebenaran dan kesalahan atas kasus yang dituduhkan kepadanya. Sebab, kasus Gayus ternyata menyeret Cirus Sinaga, jaksa senior yang menjadi ketua tim penuntut umum dalam perkaranya.

Awalnya, Cirus tak mau menyerah begitu saja. Pada saat Cirus bertahan itulah,kesalahan dan kebenaran dalam kasus Antasari mulai menampakkan wujudnya. Beredar cerita di kalangan jaksa dan wartawan bahwa jika Cirus merasa tidak dilindungi koleganya dalam kasus pembocoran rencana penuntutan (rentut) kasus Gayus, dia mengancam akan mengungkap rekayasa kasus Antasari.

Sebagai isu atau cerita, ancaman Cirus itu kemudian beredar di ruang publik dan terus dipergunjingkan.Ketika publik melihat keanehan karena Cirus mendapat perlakuan istimewa kendati terindikasi melakukan jual-beli rentut,publik semakin yakin bahwa posisi jaksa yang satu ini memang kuat di antara rekan-rekannya sesama jaksa maupun di antara sesama penegak hukum. Banyak orang semakin percaya bahwa dia memang memegang kartu Antasari.

Di luar dugaan kita semua, pernyataan Gayus Tambunan, terpidana kasus penggelapan pajak, menambah bobot terhadap kebenaran ancaman Cirus itu.Kecewa karena divonis tujuh tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Gayus langsung curhat dan buka-bukaan.Gayus mengatakan, Cirus terlibat dalam rekayasa kasus Antasari. Gayus juga mengaku bahwa Satgas Pemberantasan Mafia Hukum pernah mengungkapkan, kasus jaksa Cirus Sinaga tidak ditindaklanjuti karena khawatir Cirus akan membongkar perkara Antasari. Tidak berhenti pada pernyataan Gayus, adik kandung almarhum Nasruddin Zulkarnain, Andi Syamsuddin, juga mengemukakan hal yang sama dengan Gayus walau dengan acuan yang sedikit berbeda. Andi, yang awalnya jelas-jelas berseberangan dengan Antasari, kini berada dalam satu barisan dengan mantan Ketua KPK itu.

Merespons temuan KY, Andi mengatakan, ada rekayasadalam kasus pembunuhan Nasruddin untuk menjerat Antasari. Namun, yang patut digarisbawahi dari semua pernyataan Andiadalahkecemasandiridan keluarga besarnya. Dia mau saja mengungkap rekayasa kasus kematian kakaknya jika mendapat perlindungan dari negara.Sebab, begitu dia membeberkan rekayasa itu, Andi yakin betul banyak tokoh penting akan merasa dirugikan. Namun,Andi tidak yakin akan mendapat perlindungan maksimal. Dia menilai, tidak ada lembaga yang kredibel yang bisa memberi perlindungan.

Perlahan tapi pasti, persepsi publik terhadap peran Antasari dalam pembunuhan almarhum Nasruddin kini mulai berbalik.Antasari mulai dilihat sebagai korban rekayasa kasus hukum.Sebagian publik kita pun mulai yakin bahwa hanya kekuatan besar di negara ini yang mampu memerangkap Antasari. Pertanyaan usil berikutnya adalah mengapa Ketua KPK itu sampai tidak bisa menghindar dari jebakan itu? Jawabannya, ada orang kuat di negara ini yang sangat marah kepada Antasari. “Dosa” Antasari, katanya,sulit dimaafkan. Itulah selembar potret hukum di negara ini. Sama sekali tidak meyakinkan karena lebih memperlihatkan tirani kekuatan. Hukum dipraktikkan dan dijalankan seturut kehendak pihak terkuat.

Bukan hanya bisa dilihat dari potret kasus Antasari, tapi juga tampak jelas pada potret megaskandal Bank Century, potret kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior BI tahun 2004 hingga penanganan mafia pajak. Juga karena kehendak pihak terkuat, keanehan dalam penjualan saham PT Krakatau Steel pun tidak direspons sebagaimana mestinya. Tak banyak lagi alasan untuk mengharapkan yang indahindah dari cita-cita penegakan hukum di negara ini.Kekuatan dan kewenangan diabdikan pada kegiatan rekayasa menyembunyikan kebenaran dan kesalahan. Entah itu pada kasus Antasari, kasus Century atau kasus Misbakhun.

Komisi Yudisial (KY) sebelumnya telah didesak serius untuk membuka dugaan ‘kecurangan’ di persidangan Antasari Azhar. KY bisa meminta keterangan mantan jaksa kasus Antasari, Cirus Sinaga dan juga mantan Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji. “KY bisa memanggil Cirus dan Susno sebagai saksi,” kata Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Netta S Pane di Jakarta, Selasa (19/4/2011). Netta menjelaskan, dari temuan KY dalam memeriksa persidangan kasus Antasari, terdapat temuan adanya pengabaian bukti, antara lain mengenai keterangan ahli terkait senjata dan peluru yang digunakan. Juga soal teknologi informasi, dalam hal ini pengiriman SMS dari Antasari. “Dugaan apakah benar ada rekayasa di kasus Antasari harus diungkap,” jelasnya.

Rakyat sedang menunggu pengadilan Antasari digelar kembali. Dan Rakyat ingin melihat Cirus Sinaga cepat masuk bui. Rakyat telah menanti keadilan hukum yang sejati. Yang benar harus menjadi yg menang. yang salah harus menjadi yg kalah. Rakyat sedang mendambakan Hakim yang adil. Jaksa yang jujur tidak pernah menghianti keadilan. Selama ini rakyat sering kali menjadi orang yg tertindas, karena keadilan di negeri ini masih berwarna abu-abu. Antasari sang pahlawan bangsa, pembasmi hama2 uang negara, toh juga merasa ketidak adilan di negeri ini. Sekian tahun kita telah merdeka dari penjajahan kolonial, tapi sampai kini rakyat masih merasakan penjajahan dari kebiadapan pejabat2 yg telah memperkosa hak2 rakyatnya. Indonesia negeri kita yang kaya raya, telah menjadi negara berhukum rimba. Sekarang rakyat harus bergerak, revolusi sudah menjadi pilihan, Rakyat wajib merubah nasib ini, untuk menggapai negeri yang penuh rahmat dan ridlo Ilahi.

Dugaan adanya rekayasa dalam kasus pembunuhan Direktur PT Rajawali Putra banjaran Nasruddin Zulkarnaen, semakin menguat. Komisi Yudisial (KY) didesak untuk menyelidiki kemungkinan adanya intervensi kekuasaan terhadap hakim dalam persidangan yang telah memerkarakan mantan Ketua KPK Antasari Azhar tersebut. Ada indikasi kuat para hakim ikut merekayasa dalam perkara yang telah memenjarakan Antasari itu. Hal itu bisa dilihat dari cara mereka mengabaikan bukti-bukti kuat, serta mengabaikan keterangan ahli senjata, ahli balistik dan keterangan ahli IT, serta mengabaikan bukti baju korban (Nazarudin Zulkarnain) yang tidak pernah dihadirkan dalam persidangan.

Indikasi intervensi persidangan Antasari terbaca dari pernyataan Gayus Tambunan, terpidana kasus penggelapan pajak. Setelah divonis tujuh tahun penjara di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Gayus Bicara blak-blakan. Dia antara lain mengatakan bahwa Jaksa Cirus Sinaga terlibat dalam rekayasa kasus Antasari. Hal ini semua, menimbulkan kesimpulan bahwa sejak penyusunan dakwaan terhadap Antasari sudah ada indikasi rekayasa. Perekayasa, kata Bambang, pasti mengawalnya hingga ke persidangan perkara mantan Ketua KPK itu. Dan dalam persepsi banyak orang, rekayasa berarti intervensi. Ada kekuatan di luar pengadilan yang mampu memaksa para hakim perkara Antasari mengabaikan bukti-bukti kuat yang meringankan terdakwa. Karena itu, KY sebaiknya tidak berhenti pada temuan tentang ketidaklaziman perilaku para hakim. Sangat penting jika KY mau menanyakan kepada para hakim mengapa mereka mengabaikan bukti-bukti, dan untuk alasan apa atau demi kepentingan siapa pengabaian tersebut.

Rekayasa Brengsek?

Komisi Yudisial (KY) menemukan indikasi pelanggaran profesionalitas hakim yang menangani persidangan mantan Ketua KPK Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. KY mensinyalir ada sejumlah bukti-bukti penting yang justru tidak dihadirkan hakim. “Kesimpulan sementaranya adalah ada potensi pelanggaran perilaku hakim, terutama dalam hal profesionalitas karena mengabaikan bukti-bukti kuat yang ada di persidangan,” kata juru bicara KY, Asep Rahmat Fajar, di Jakarta, Rabu (13/4).

KY telah menelaah dokumen pengaduan yang dilaporkan pihak Antasari. KY juga menelaah dokumen yang diperoleh dari hasil investigasi. “Oleh karena itu sekarang KY melangkah ke tahap berikutnya, yaitu akan meminta keterangan dari para pihak, dimulai dari pelapor, saksi dan ahli, seperti ahli balistik, IT dan lain-lain,” terangnya.

Asep merinci, sejumlah bukti yang tidak disentuh hakim dan cenderung diabaikan yakni terkait bukti dan keterangan ahli terkait senjata dan peluru yang digunakan. “Juga terkait teknologi informasi, dalam hal ini pengiriman SMS dari Antasari,” imbuhnya. Ketua KY, Eman Suparman, menambahkan, dengan temuan ini, maka kakim di tingkat pertama hingga kasasi yang terlibat akan segera diperiksa.

Antasari divonis 18 tahun penjara di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Antasari didakwa melakukan pembunuhan berencana dan dijerat dengan Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP pasal 340 dengan ancaman hukuman maksimal hukuman mati. Dakwaan tersebut juga berisi bagaimana Antasari berbuat tidak senonoh dengan Rhani Juliani, istri siri Nasrudin. Antasari dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan perbuatan membujuk orang lain melakukan pembunuhan berencana terhadap Nasrudin. Pada tingkat banding di Pengadilan Tinggi, permohonan Antasari Azhar ditolak. Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memperkuat hukuman Antasari Azhar selama 18 tahun penjara.

Istri Antasari, Ida Laksmiwati mengaku mengetahui dalang yang mengkriminalkan suaminya, Antasari Azhar, dalam kasus pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen. Antasari divonis 18 tahun penjara dalam kasus ini. “Memang Bapak (Antasari) benar-benar dibuat harus tidak dapat dibebaskan. Saya tidak diberi tahu ini titipan siapa, tapi keluarga saya yang tua-tua sudah diberi tahu,” ujar Ida kepada Metro TV beberapa nwaktu lalu. Ida mengaku, mendapat informasi itu dari tim investigasi yang dibentuk keluarga Antasari. Dia yakin kasus yang dihadapi suaminya adalah kasus yang sengaja dibuat untuk menjatuhkan Antasari dari kedudukannya sebagai pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Buktinya, bahkan sejak ditangkap 4 Mei 2009, Bapak ditangkap dengan empat dakwaan sekaligus tanpa sebelumnya diberitahukan bukti-buktinya. Bapak langsung ditetapkan sebagai terdakwa,” ujar perempuan yang sudah 27 tahun mendampingi Antasari ini.

Ida makin yakin bahwa kasus yang dihadapi suaminya adalah kasus ‘titipan’ setelah melihat penyidik yang seakan bekerja sama dengan hakim. “Informasi yang saya peroleh dari saudara di kepolisian dan di angkatan darat, penyidik masuk ke ruang hakim. Bahkan saat vonis dijatuhkan, penyidik mengangkat jempolnya kepada hakim seraya mengatakan ‘yes’,” papar Ida. Menurut Ida, skenario yang dilakukan adalah saksi-saksi yang kompak memberikan informasi yang telah ditentukan sehingga akhirnya terkumpul menjadi suatu rangkuman cerita yang harus menjatuhkan suaminya.

Perekayasa kasus Antasari Dicurigai Mengawal Hingga Persidangan. Setelah meminta keterangan dari pelapor, para saksi, ahli senjata, ahli balistik dan ahli teknologi informasi (IT), Komisi Yudisial juga diharapkan tetap fokus menyelidiki kemungkinan ada intervensi kekuasaan terhadap hakim dan persidangan perkara mantan Ketua KPK, Antasari Azhar.  Sebagai indikasi, diketahui para hakim perkara ini dinilai KY mengabaikan bukti-bukti kuat, serta mengabaikan keterangan ahli senjata, ahli balistik dan keterangan ahli IT, serta bukti baju korban, Nazarudin Zulkarnain, yang tidak pernah dihadirkan dalam persidangan.

Indikasi intervensi kekuasaan terhadap persidangan Antasari terbaca dari pernyataan Gayus Tambunan, terpidana kasus penggelapan pajak. Setelah divonis tujuh tahun penjara di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Gayus bicara blak-blakan, diantaranya mengatakan bahwa Jaksa Cirus Sinaga terlibat dalam rekayasa kasus Antasari. Hal ini bisa disimpulkan bahwa sejak penyusunan dakwaan terhadap Antasari, sudah ada indikasi rekayasa.  Perekayasa pasti mengawalnya hingga ke persidangan perkara mantan Ketua KPK itu. Menurut politisi Golkar ini, dalam persepsi banyak orang, rekayasa berarti intervensi. Karena itu, KY sebaiknya tidak berhenti pada temuan tentang ketidaklaziman perilaku para hakim.

Pada 3 Januari 2011, Antasari Azhar sudah bersumpah dengan mengawali membaca Basmallah dan berucap “Demi Allah SWT Saya Bersumpah!”. Dalam sumpahnya, Antasari mengatakan: “Sampai saat ini saya menilai sejak penyidikan, penuntutan sampai dengan persidangan, hakim telah dihadapkan kepada Fakta/BAP yang telah membelokan proses teknis yuridis.” Adapun dugaan kejanggalan/pembelokkan fakta dimaksud antara lain: (1) pengiriman SMS mengancam tidak jelas, fakta sidang bukan terdakwa, barang bukti HP tidak pernah dibuka apalagi di Rollback untuk melihat siapa pengirim (IMEI) yang menggunakan nomor saya, atau SMS rekayasa; (2) baju korban tidak pernah dijadikan barang bukti; (3) senjata yang dijadikan barang bukti dengan Proyektil/ Peluru yang mengakibatkan korban meninggal, tidak cocok (Revolver 38, Proyektil diameter 99 mm) dan lain-lain kejanggalan.

Aktivis Petisi 28 Haris Rusli menilai rezim penguasa melakukan rekayasa kriminalisasi terhadap Antasari Azhar akibat getol menumpas korupsi. “Saya tidak yakin bahwa orang seperti Antasari bermain perempuan sedemikian rupa sehingga sampai membunuh seorang Nasrudin. Sepertinya ini hanyalah rekayasa politik semata,” papar mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini. Menurutnya, dalam penegakan hukum SBY sepertinya tebang pilih. SBY diduga mengamankan kawan-kawan dekat Istana yang diduga terlibat dalam soal korupsi, sementara disisi lain menghajar lawan politik dengan isu korupsi dan lain-lain. Apa yang dilakukan oleh dalam penegakan hukum dinilai tebang pilih karena juga hanya berlaku pada orang-orang yang katakanlah sudah tidak punya kekuasanan lagi. Penegakan hukum SBY hanya terjadi pada orang-orang yang sudah berada di luar kekuasaan.

Hal tersebut dapat menimbulkan dugaan bahwa politik yang dikembangkan oleh SBY selama ini adalah politik balas dendam semata. Ia menyingkirkan dengan cara-cara yang tidak etis orang-orang yang tidak lagi berada dipusat kekuasaan dan merugikan kepentingannya. Hal ini diduga akan terus berlanjut dalam politik Indonesia mendatang. Ketika SBY tidak berkuasa lagi, bisa jadi politik balas dedam tersebut akan menimpa dirinya.

Kesaksian Williardi Wizard sungguh berani dalam sidang kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen. Ia memutuskan mencabut keterangannya di BAP karena apa yang ia katakan telah dibuat oleh penyidik, dan ia tinggal tanda tangan. Alasan lain, pihak penyidik tidak memenuhi janjinya untuk tidak menahannya jika menurut pada penyidik. Menurut Williardi, para petinggi polri memintanya membuat BAP yang harus menjerat Antasari sebagai pelaku utama pembunuhan Nasrudin. “Waktu itu dikondisikan sasaran kita cuman Antasari. (Lalu BAP saya) disamakan dengan BAP Sigid (Haryo Wibisono), dibacakan kepada saya,” ujar Williardi tanpa wajah takut.

Setelah memberikan kesaksian, Williardi Wizard membuat pernyataan minta maaf yang dilengkapi dengan tanda tangan kepada terdakwa Antasari Azhar. Langkah mantan Kapolres Jaksel itu dilakukan setelah ia mencabut BAP-nya yang memojokkan Antasari. BAP itu diakui Williardi sebagai hasil arahan para penyidik. “Tadi dia (Williardi) sempat membuat tanda tangan. (Ia) merasa berdosa, khususnya kepada Pak Antasari, karena apa yang ditandatangani (dalam BAP) tidak benar,” kata Juniver Girsang, pengacara Antasari, seusai sidang di PN Jaksel, Selasa (10/11). Dalam sidang ini Antasari duduk sebagai terdakwa. Pada awal kesaksiannya, Williardi mencabut lima BAP yang ditandatanganinya. Ia hanya mengakui BAP yang dibuatnya pada tanggal 29 April 2009 dan 30 April 2009.

Dendam Terhadap Antasari

Nampaknya, di negeri bedebah atau jahiliyah, hukum milik rezim penguasa dan para elit yang punya kedudukan. Hukum hanya tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Kelas bawah dan rakyat jelata sulit mendapat keadilan. Penguasa selalu berupaya mempolitisai hukum. Yang benar disalahkan dan bahkan difitnah, tetapi yang salah bisa direkayasa untuk dibenarkan asalkan loyal kepada penguasa.

Bagaimana dengan nasib mantan Ketua KPK Antasari Azhar? Lepas dari kekuarangnya, Antasari Azhar sebenarnya sudah terlihat berani membabat oknum-oknum pejabat yang koruptor. Ia pun saat menjadi Ketua KPK nekat untuk memenjarakan Aulia Pohan (besan SBY). Antasari juga berani menyeret para jaksa “nakal” seperti jaksa Urip Tri Gunawan yang disuap Artalyta Suryani (Ayin). Untuk itulah, diduga ada konspirasi seperti pergolakan “Cicak vs Buaya” dan juga rekayasa kriminalisasi pimpinan KPK.

Maka, tak heran apabila Antasari dituntut hukuman mati sebagai shock teraphy bagi para pemberantas korupsi KPK agar tidak menyeret para penguasa di negeri ini. Ingat! KPK dibentuk saat Megawati jadi Presiden. Tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) untuk Antasari dihukum mati diduga ada pesanan dari “bos” atasan jaksa, dengan mengabaikan pendapat para pakar hukum. Keputusan JPU yang menuntut hukuman mati terhadap Antasari sebagai salah satu terdakwa kasus pembunuhan Narsuddin Zulkarnain, merupakan tuntutan sepihak dan dilematis serta berbau nuansa politis terkait skenario besar yang diduga berujung kepada rekayasa pelemahan KPK.

Maklum, KPK yang dianggap sebagai institusi super body dapat membahayakan para pelaku korupsi kelas kakap termasuk para penyelenggara negara yang terlibat dugaan korupsi. Bahkan, diduga ada dendam dari pihak penguasa terhadap Antasari yang sudah berani dan “lancang” menangkap para pejabat, menyeret dan menghantam sana-sini tanpa rasa takut demi penegakan hukum. Kasus besar pun diproses oleh Antasari, sehingga para penguasa diduga kuat mempengaruhi proses hukum yang sedang berjalan sekarang ini menyeret Antasari dengan tuntutan hukuman mati.

Terkadang pengaruh penguasa di balik layar sangat kuat dalam menekan proses keputusan hukum yang sebenarnya. Akhirnya berujung kepada iming-iming jabatan yang lebih tinggi pun sebagai bargaining politik dapat menjadi taruhan apabila hukuman mati bagi Antasari dapat dijalankan. Apakah dalam sanubari aparat hukum di negeri ini masih mengandalkan hati nurani? Pasalnya, tuntutan hukuman mati bagi Antasari hanya didasari bukti yang sumir. Bahkan sebelumnya, pengacara Antasari telah membeberkan segudang bukti bahwa kasus Antasari adalah rekayasa.

Nampaknya, apa yang terjadi selama ini dituduhkan kepada Antasari Azhar sebetulnya bukanlah kasus yang sebenarnya, tetapi hanya sebuah ujung dari konspirasi besar yang memang bertujuan mengkriminalisasi institusi KPK. Bisa jadi, dengan cara terlebih dahulu mengkriminalisasi pimpinan, kemudian menggantinya sesuai dengan orang-orang yang sudah dipilih oleh “sang sutradara”, akibatnya, meskipun nanti lembaga ini masih ada namun tetap akan dimandulkan.

Kabarnya, sikap Ketua KPK Antasari yang dulu berani menahan besan SBY, sebetulnya membuat SBY sangat marah kala itu. Hanya, waktu itu ia harus menahan diri, karena dia harus menjaga citra, apalagi moment penahanan besannya mendekati Pemilu, dimana dia akan mencalonkan lagi. SBY juga dinasehati oleh orang-orang dekatnya agar moment itu nantinya dapat dipakai untuk bahan kampanye, bahwa seorang SBY tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi. Konon, SBY terus mendendam apalagi, setiap ketemu menantunya, Anisa Pohan, suka menangis sambil menanyakan nasib ayahnya.

Saat masih menjabat Ketua KPK, Antasari tidak hanya akan membongkar skandal Bank Century, tetapi dia juga mengancam akan membongkar proyek IT di KPU, dimana dalam tendernya dimenangkan oleh perusahaannya Hartati Murdaya (Bendahara Demokrat). Antasari sudah menjadi bola liar, ia membahayakan bukan hanya SBY tetapi juga Kepolisian, Kejaksaan, dan para konglomerat , serta para innercycle SBY. Antasari pun pernah berpesan wanti-wanti agar apabila terjadi apa-apa pada dirinya, maka penelusuran Bank Century dan IT KPU harus diteruskan. Itulah sebabnya KPK terus akan menyelidiki Bank Century, dengan terus melakukan penyadapan-penyadapan. Satu catatan, diduga Anggoro dan Anggodo, termasuk penyumbang Pemilu yang paling besar bagi kemenangan SBY. Jadi mana mungkin Polisi atau Jaksa, bahkan Presiden SBY sekalipun berani menangkap Anggoro dan menghukum berat Anggodo meski sudah ditahan?

Akhirnya, sang penegak hukum “sejati” Antasari Azhar harus meratapi nasibnya. Tidak hanya diputarbalikkan niat baiknya untuk bertekad membongkar korupsi menjadi si pembunuh Nasruddin Zulkarnaen, tetapi diduga juga “difitnah” melakukan kencan atau berselingkuh dengan Rhani Juliani. Sudah saatnya, penegakan hukum di negeri kita ini harus benar-benar dijalankan dengan terbuka dan transparan, tidak boleh ada yang ditutup-tutupi sehingga “bangkai busuk” yang disembunyikan bisa ketahuan jelas. Juga bagi pihak yang merasa sudah berbuat fitnah dan penyesatan hukum, diimbau hendaknya segera sadar, berhenti dan tobat! (*/Dirangkum dari berbagai sumber)

About these ads

0 Responses to “Peradilan : Misteri Antasari Bakal Terbongkar ?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,252,209 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: