02
May
11

Kejahatan Perbankan Mewabah

Kejahatan Bank

REPUBLIKA, 02 May 2011
Kejahatan Bank Meresahkan

Sefti Oktarlanlsa

Pembobolan bank ini biasanya melibatkan karyawan bank.

JAKARTA – Masyarakat resah meli-hatjcasus pembobolan dana nasabah di bank yang intensitasnya meningkat sejak awal 2011 ini. Kasus-kasus yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan ini pun berdampak pada makin kurangnya kepercayaan publik terhadap perbankan.

Dengan begitu, pengamat perbankan Mirza Adityaswara mengatakan, masyarakat akan lebih berhati-hati menggunakan layanan perbankan setelah mencuatnya kasus-kasus yang terjadi. “Masyarakat yang semula kurang awas, akan lebih waspada,” katanya, Ahad (2/5).

Mirza berpendapat sistem perbankan yang ada saat ini memang belum sempurna. Ini, jelas dia, bukan hanya terlihat dari sisi pegawai bank, melainkan juga nasabah. “Jangan tergoda melakukan penyelewengan,” katanya.

Tony Prasetyantono, pengamat perbankan, mengatakan berkurangnya kepercayaan publik pasti akan terjadi menyusul berbagai kasus tersebut. Namun, nasabah belum sampai pada satu tindakan menarik uangnya besar-besaran. Karena, jelas Tony, nasabah tidak memiliki pilihan lain yang lebih baik untuk menempatkan uangnya.

Sejauh ini, ujar Tony, bank masih dinilai sebagai tempat terbaik menyimpan aset. “Apalagi yang bersifat likuid, seperti rekening giro dan tabungan,” katanya. “Namun, nasabah akan lebih se-lektif memilih bank.”

Nasabah, lanjut dia, juga akan lebih memantau rekeningnya agar luput dari pembobolan. Tony menilai, kejahatan perbankan yang terjadi belakangan lebih mengarah pada kesalahan kolektif. Penyebabnya, ia menjelaskan, muncul dari sisi perbankan, nasabah, Bank Indonesia, maupun aturan hukumnya.

Tony mencontohkan, bank kerap menyembunyikan penyimpangan karena takut reputasinya rusak, sedangkan nasabah tidak aktif memantau rekening miliknya. Sementara, BI memiliki keterbatasan dalam memantau banyaknya perbankan yang ada di Tanah Air. “Hukuman terhadap pelaku fra ud juga ku-rang maksimal sehingga kurang menimbulkan efek jera,” jelasnya.

Saat ini. Direktorat Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Metro Jaya sedang menangani sembilan kasus perbankan sejak Januari 2011. Bulan lalu, dana deposito milik PT Elnusa Rp 111 miliar di Bank Mega dicairkan tanpa seizin manajemen perusahaan tersebut dengan pelaku melibatkan orang dalam bank. Sebelumnya, simpanan nasabah prioritas Citibank dibobol oleh karyawan bank asing tersebut yang bernama Inong Malinda alias Malinda Dee.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar mengatakan, kasus pembobolan bank tak ha-nya terjadi di bank swasta. Menurutnya, akhir pekan lalu, bank milik negara pun tak luput dari jarahan oknum pegawainya yang nakal. Dari sembilan kasus perbankan itu, polisi berhasil menangkap 30 tersangkanya.

Kasat Fiskal, Moneter, dan Devisa Ditkrimsus Polda Metro Jaya AKBP Arismunandar menambahkan, kasus pembobolan dana perbankan biasanya melibatkan orang dalam bank. Sementara itu, Corporate Secretary BSB, Evi Yulia Kurniawati, mengatakan pihaknya menjalankan tata tertib sesuai standar dan memperketat kontrol internal agar terhindar dari kejahatan perbankan. cO8 d budi rahaijo

Senin, 02/05/2011 18:03 WIB
Kejahatan Perbankan Terjadi karena Lemahnya Sistem Data Pelanggaran Bank 
Ari Saputra – detikNews

Kejahatan Perbankan Terjadi karena Lemahnya Sistem Data Pelanggaran Bank
Foto: Jos Luhukai (Ari S/detikcom)

Jakarta – Skandal Melinda Dee dan Bank Mega-Elnusa seharusnya menjadi bahan pelajaran bagi dunia perbankan untuk memperbaiki diri. Salah satunya dengan perbaikan data pelanggaran perbankan yang masih lemah. Selain itu juga diperkuat dengan ‘biro kredit’ yang akan berbagi informasi profil nasabah kepada perbankan.

Hal itu mengemuka dalam diskusi ‘Kejahatan Perbankan’di Graha Niaga, Jl Jenderal Sudirman, Senin (2/5/2011). Hadir sebagai pembicara, pengamat perbankan Jos Luhukay dan pendiri Strategic Indonesia Christovito Wiloto.

“Dunia perbankan tidak berhenti dirongrong oleh tindak kejahatan. Apalagi kalau sudah terjadi kolusi antara frauder atau broker, nasabah dan orang dalam bank. Itu sudah menjadi segitiga yang sulit bagi bank menutup diri (dari serangan kejahatan). (Kalau itu terjadi), Itu sudah susah banget mendeteksi dan mengatasi,” kata Jos Luhukay.

“Tetapi bukan berarti tanpa solusi. Ada mekanisme ‘automatic control audit’ seperti memperbaiki data pelanggaran. Ini sangat teknis namun efektif. Itu seperti seseorang yang biasa naik pesawat kelas ekonomi, tiba-tiba naik first class. Sistem akan curiga dan memastikan, apakah benar Anda yang akan naik atau kartu Anda dipakai oleh orang lain,” imbuh mantan Presdir Lippo Bank tersebut.

Jos menambahkan, dengan memperkuat data pelanggaran yang berbasis komputer, kejahatan dapat diminialisir. Sebab, dengan jumlah transaksi harian mencapai 10 juta transaksi diseluruh perbankan, sulit mendeteksi kalau hanya mengandalkan pola konvensional.

“Perharinya sekarang mencapai 10 juta transaksi. Ada satu saja kejahatan, sulit dideteksi kalau hanya mengandalkan model yang sekarang. Dari ribuan bank (di Indonesia) hanya beberapa yang sudah menerapkan. Itu pun belum secara menyeluruh,” imbuhnya.

“Jadi kalau biasa melakukan transaksi Rp 20 juta tetapi tiba-tiba transaksi Rp 2 miliar, sistem akan me-lock. Akan mengunci otomatis. Karena diluar kebiasaan,” tandas Jos.

Saat ini, untuk memantau aktivitas transaksi yang disesuaikan dengan profil nasabah dipegang oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Juga otoritas pengawas perbankan yakni Bank Indonesia.

Sejumlah kasus korupsi dan kejahatan perbankan menunjukan bank seakan menutup mata dengan membiarkan transaksi di luar profil nasabah. Seperti anak terpidana korupsi Bahasyim Assifie yang masih mahasiswa tetapi dapat memiliki lalu-lintas rekening hingga ratusan miliar rupiah. Juga Gayus Tambunan yang hanya pegawai negeri golongan III A tetapi mempunyai rekening puluhan miliar.

“Itu seharusnya menjadi pelajaran bagi bank supaya tidak terantuk batu yang sama. Negara kecil sepeti Nepal, Bhutan dan Mongolia sudah mempunyai (sistem) itu. Juga biro kredit yang menyediakan informasi lengkap tentang nasabah, informasi yang asimetris,” tandas Jos yang berkali-kali menyesalkan kasus kasus perbankan seperti Melinda Dee dan Elnusa tersebut.

(Ari/anw)

Pasal sapu jagat bagi tindak pidana perbankan
Oleh Sutan Remy Sjahdeini

undefined


BISNIS INDONESIA, Published On: 02 May 2011

Berita tentang tindak pidana perbankan makin ramai. Modusnya makin beragam dan banyak. Hal tersebut terjadi karena makin beragamnya produk perbankan.

Makin beragamnya produk perbankan antara lain sebagai akibat penggunaan teknologi komputer di industri perbankan. Sulit sekali untuk memperkirakan apa saja modus tindak pidana perbankan yang telah, apalagi yang akan, dilakukan oleh pelakunya.

Apalagi bila tindak pidana itu dipadukan pula dengan produkproduk keuangan lain, seperti asuransi dan pasar modal. Berkembangnya perbankan syariah, yang menciptakan produkproduk perbankan yang baru berdasarkan Prinsip Syariah, juga berpotensi terjadinya tindak pidana perbankan di Indonesia.
Pada saat ini memang belum terdengar berita mengenai hal itu.

Undang-Undang Perbankan ternyata hanya mengatur dan mengancam pidana personel bank, yaitu anggota Dewan Komisaris, Direksi atau pegawai bank. Tidak terdapat ketentuan pidana dalam UU Perbankan yang mengancam pidana nasabah bank dan konsultan yang digunakan oleh bank atau oleh nasabah untuk kepentingan bank.

Dengan demikian, UU Perbankan tidak secara khusus dapat memidana, misalnya, nasabah yang dengan sengaja menyalahgunakan kredit. Tidak pula dapat memidana orang luar yang mencuri dana simpanan nasabah atau memalsukan bank garansi. Tidak pula terdapat ketentuan yang dapat memidana konsultan yang digunakan oleh bank atau yang digunakan oleh nasabah untuk kepentingan bank yang merekayasa hasil pekerjaannya.

Misalnya, konsultan yang membuat studi kelayakan kredit yang datanya direkayasa sehingga nasabah yang seharusnya tidak layak memperoleh kredit menjadi layak diberi kredit. Demikian pula rekayasa yang dilakukan oleh konsul tan hukum yang melakukan legal due diligence, kantor akuntan publik yang melakukan audit terhadap laporan keuangan nasabah, dan perusahaan penilai yang melakukan penilaian terhadap nilai agunan kredit.

Dalam UU Perbankan terdapat Pasal 49 ayat (2) huruf b yang saya sebut sebagai pasal sapu jagat. Pasal tersebut disebut demikian karena dapat digunakan untuk menjerat perilaku apa saja dari anggota dewan komisaris, direksi atau pegawai bank yang dengan sengaja tidak melaksanakan langkahlangkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank terhadap ketentuan dalam UU Perbankan dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku bagi bank.

Pasal tersebut dapat digunakan sepanjang belum ditentukan secara khusus dalam suatu pasal sendiri dalam UU Perbankan sebagai tindak pidana.

Seperti halnya dalam berbagai ketentuan UUP yang lain, Pasal 49 Ayat (2) juga hanya dapat dipakai untuk menjerat personel bank. Belum diatur untuk dapat menjerat selain personel bank sebagaimana dikemukakan di atas.

UUP baru mengadopsi orang perseorangan, yaitu personel bank, sebagai pelaku tindak pidana.
Belum diadopsi korporasi sebagai pelaku tindak pidana.

Dengan demikian, bukan saja orang perseorangan yang bukan personel bank tidak dapat dipidana berdasarkan UUP, tetapi juga tidak dapat mempidana bank dan korporasi lainnya.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ketentuan pidana dalam UUP Perbankan belum lengkap. Masih banyak perilaku yang menggunakan produk bank dan merugikan bank atau perbankan nasional yang tidak dapat dipidana sebagai tindak pidana perbankan berdasarkan UU Perbankan.

Bila terdapat perilaku seperti itu, maka perbuatan tersebut dicarikan pemidanaannya berdasarkan undang-undang selain UU Perbankan, misalnya UU Tipikor, UU Pencucian Uang, atau pasal dalam KUHP.

Dipertanyakan oleh masyarakat, apakah dalam perbuatan Malinda Dee (MD) terhadap dana simpanan nasabah Citibank dan perbuatan Santun Nainggolan (SN) terhadap dana simpanan PT Elnusa di Bank Mega dapat dipidana berdasarkan UU Perbankan? Karena MD adalah pegawai Citibank, dia dapat dipidana berdasarkan UUP. Paling sedikit dia dapat dipidana berdasarkan pasal sapujagat, yaitu Pasal 49 Ayat (2) huruf b UU Perbankan. Dia dapat pula dijerat berdasarkan UU Pencucian Uang.

Apakah Citibank dapat pula dipidana? Oleh karena UU Perbankan tidak mengadopsi korporasi sebagai pelaku tindak pidana, maka Citibank tidak dapat dipidana ber dasarkan UU Perbankan.
Tetapi tidak mustahil Citibank dapat dipidana berdasarkan UU Pencucian Uang oleh karena undang-undang tersebut mengadopsi konsep pertanggungjawaban pidana korporasi.

Menurut UU Pencucian Uang, syarat-syarat bagi suatu korporasi dapat dibebani pertanggungjawaban pidana adalah apabila tindak pidana pencucian uang: a. dilakukan atau diperintahkan oleh Personil Pengendali Korporasi; b. dilakukan dalam rangka pemenuhan maksud dan tujuan Korporasi; c. dilakukan sesuai dengan tugas dan fungsi pelaku atau pemberi perintah; dan d. dilakukan dengan maksud memberikan manfaat bagi Korporasi. Salah satu syarat yang harus dipenuhi agar perbuatan MD dapat pula dibebankan pertanggungjawaban pidananya kepada Citibank adalah apabila perbuatan MD tersebut dilakukan dengan maksud memberi manfaat kepada Citibank.

Manfaat tersebut tidak perlu finansial bentuknya, tetapi dapat pula non-finansial. Misalnya, apabila perbuatan MD tersebut dapat membuat Citibank menjadi bank yang menarik bagi para pencuci uang, misalnya para nasabah yang memperoleh dananya dari hasil korupsi.

Selain harus dapat dibuktikan bahwa perbuatan MD memberikan manfaat bagi Citibank, perbuatan tersebut harus pula diperintahkan, disetujui, atau diketahui (tetapi dibiarkan) oleh directing mind dari Citibank Jakarta. Apakah ada atasan MD yang merupakan directing mind Citibank Jakarta yang ikut terlibat dalam perbuatan MD?

Bagaimana akibat pidananya terhadap Bank Mega berkenaan dengan kasus PT Elnusa. Perbuatan tersebut bukan dilakukan oleh personil Bank Mega, tetapi oleh personil PT Elnusa.
Dengan demikian Bank Mega tidak dapat dikatakan sebagai pelaku. Bank Mega justru merupakan korban suatu tindak pidana.

Namun Bank Mega dapat dijerat dengan tindak pidana apabila perbuatan SN tersebut diperintahkan atau diketahui atau dibiarkan oleh directing mind dari Bank Mega.

Perlu pula dipastikan bahwa untuk menjerat Bank Mega harus ada manfaat yang diperoleh oleh Bank Mega dari perbuatan SN tersebut. Bila manfaat bagi Bank Mega memang dapat dibuktikan, maka perbuatan SN tersebut dapat dibebankan pertanggungjawaban pidananya kepada Bank Mega.

Namun, masih tergantung pula apakah undang-undang yang digunakan sebagai dasar pemidanaan SN. *Guru besar hukum perbankan

About these ads

1 Response to “Kejahatan Perbankan Mewabah”


  1. 1 Silvi Anggraini
    May 3, 2011 at 6:48 am

    NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://uangtebal.wordpress.com/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,006,319 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers

%d bloggers like this: