Archive for May, 2011

31
May
11

Politik : SMS Warfare

Selasa, 31/05/2011 08:32 WIB
Sewot SMS Bodong
Djoko Suud Sukahar – detikNews

Sewot SMS Bodong

Jakarta – SMS bodong menyulut kemarahan SBY. Sang pengirim ditantang tampil. Disebut sebagai pengecut yang tidak ksatria. Dan pastinya tidak ada yang mengacungkan telunjuk. Mengaku sebagai pengirimnya.

Kalau membaca SMS itu sudah kelihatan tipu-tipunya. Sebab sang pengirim yang mengaku M Nazaruddin itu seperti anak kecil yang marah pada temannya. Mau membongkar kejelekan orang-orang penting Partai Demokrat (PD). Memfitnah sang Ketua Dewan Pembina secara keji. Dan hampir semua orang paham, itu semua tidak betul.

Bagi rakyat, SMS ini tak beda dengan penipuan yang meminta pulsa. Pelacur yang dagang diri via SMS nyasar. Atau kabar baik yang menyakitkan, pemberitahuan dapat hadiah agar tergiur menyetor sejumlah dana untuk ditipu. Ini rutin. Hampir tiap bulan mampir ke HP kita. Dan itu semua memang amat menjengkelkan.

Sebagai rakyat, kita sudah terbiasa dengan SMS macam itu. Harapan yang hanya bisa diharap, kejadian itu ditindaklanjuti. Diberangus. Aparat keamanan mampu memberi kenyamanan. Melek teknologi. Dan dengan kemelekan itu keresahan itu bisa ditangani.

Rakyat sudah lama jengkel dan marah dengan tindak orang tak bertanggungjawab itu. Tapi mau bilang apa? Mau lapor ke siapa? Kita hanya bisa pasrah terhadap ulah itu. Toh belum ada yang mampu menelisik. Paling-paling sebagai tindakan preventif, saban mendapat kabar bahagia dapat undian, benar atau tidak benar anggap saja tidak benar.

Nah SMS yang biasa mengganggu kenyamanan rakyat itu kali ini menjadikan SBY sebagai obyeknya. Isi SMS itu mengadopsi kisruh suap dalam negeri dan kisruh politik di negeri tetangga. Itu memang amat menyakitkan. Yang membuat dan menyebarkan SMS itu juga amat barbar. Tidak hanya menyakiti SBY secara pribadi, tapi juga merendahkan bangsa ini. Sebab SBY adalah presiden RI.

Sebagai petinggi negeri yang jarang menerima SMS keji, SBY langsung bereaksi keras. Menyebut pengirimnya pengecut, tidak ksatria, tidak berani berhadapan, dan tentu saja semua cap yang dilontarkan SBY itu benar. Sebab jika tidak benar tentulah sang pelaku sudah meringkuk di penjara. Atau dalam penjara tetap usil, seperti kebanyakan bandar narkoba yang bisnisnya tetap jalan di luar atau dalam bui?

Ketika membaca kiriman SMS ngawur itu terus terang siapa saja ikut mengumpat dan mencaci pengirimnya, termasuk saya. Tapi saat melihat reaksi Bapak Presiden yang marah dan serius marah, kita tiba-tiba menjadi tertawa. Apalagi isi SMS yang nyata-nyata tidak benar itu juga dibantah pula.

Sebagai Presiden dan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, kemarahan itu seperti instruksi. Bantahan demi bantahan mengalir. Kecaman demi kecaman menggelinding. Maka hari-hari ini entah sampai kapan, koor bantahan dan kecaman itu belum ketahuan akan berakhir. Memang, siapa saja yang menerima SMS fitnah seperti itu akan geram. Siapa saja juga tahu, pengirimnya pastilah negator. Tidak suka dengan Partai Demokrat atau ‘salah satu faksi’ di partai yang mulai tidak solid ini. Atau bisa pula pihak lain yang merasa dirugikan dengan kebijakan-kebijakan SBY.

Namun sebagai presiden dan Ketua Dewan Pembina partai politik, harusnya SBY tidak reaktif seperti itu. Ini tidak baik untuk SBY, dan tidak menguntungkan bagi Partai Demokrat. Sebab lawan jadi tahu letak kelemahan SBY plus partainya, dan itu sama dengan memberi senjata pada lawan maupun calon lawan-lawannya.

Politik memang kotor. Kekotoran itu ada yang tampil telanjang, kendati terbanyak ditutupi. Politikus sempurna itu mblebes. Tidak terbakar dibakar dan tidak basah disiram air. Jika SBY dan orang-orang Demokrat gampang basah dan terbakar, selalu memperruncing persoalan internal yang digunjingkan, maka eksistensi partai ini ke depan layak dipertanyakan.

Adakah itu pertanda Partai Demokrat belum dewasa secara politik? Atau ada yang salah dalam kaderisasi? Machiavelli bilang, politik itu merebut kekuasaan. Bukan untuk yang lain. Adakah SMS fitnah itu implementasi dari ini?

Kalau diindikasikan ya, maka rasanya kita perlu menyikapinya dengan cara sama, berpura-pura tidak terganggu dan tidak sewot karena memang sedang dikerjai orang-orang yang ingin merebut kekuasaan.

*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati sosial budaya, tinggal di Jakarta.

(vit/vit)

Selasa, 31/05/2011 07:48 WIB
Tanggapi Isu Dirinya, SBY Harus Hentikan Bersikap Reaktif 
Novi Christiastuti Adiputri – detikNews

Tanggapi Isu Dirinya, SBY Harus Hentikan Bersikap Reaktif

Jakarta – Tanggapan langsung yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terhadap isu SMS fitnah dari pengirim yang mengaku M Nazaruddin justru akan mengurangi kredibilitasnya sebagai seorang pemimpin. SBY harus segera berhenti bersikap reaktif seperti ini.

“Kalau ditanggapi dengan gusar seperti itu, kredibilitas dia akan semakin lemah. Seharusnya dia memilih apa yang akan dikomentari,” ujar Pengamat Komunikasi dari Universitas Indonesia (UI), Ade Armando saat dihubungi detikcom, Senin (30/5/2011) malam.

Selama ini SBY memang dianggap terlalu reaktif dalam menghadapi isu-isu yang dirasa mendiskreditkan dan merusak reputasinya sendiri. Seperti dalam isu SMS fitnah ini, dimana SBY malah menantang si pembuat SMS tersebut untuk menampakkan diri dan berhadapan dengannya secara langsung.

“Kalau dengan cara semacam ini, dia berusaha menyerang balik mereka yang merusak reputasi dengan reaktif, emosional, dan egosentris, justru pencitraan malah akan hancur dengan sendirinya,” tutur Ade.

Ade melihat, keberadaan teknologi modern memang membuat segala hal, termasuk isu-isu tak bertanggung jawab, menjadi cepat tersebar. Dan SBY seharusnya sadar bahwa hal ini merupakan konsekuensi dari adanya kebebasan informasi di masyarakat.

“Dia harus berhenti bersikap reaktif, berhenti tersinggung, berhenti bersikap seperti ini,” tandasnya.

Sebelumnya SBY menggelar jumpa pers mengenai SMS fitnah yang beredar di BBM dan social media. SBY menantang yang membuat SMS tersebut untuk menampakkan diri.

“Muncullah secara ksatria! Mari kita berhadapan!” tantang SBY dalam keterangan pers di Base Ops Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Senin (30/5/2011).

“Fitnah yang dilemparkan seseorang dari hati yang gelap, itu sungguh keterlaluan,” ujar SBY yang berusaha tetap tenang.

“Bukannya teknologi informasi, media online dipakai untuk menyebarkan fitnah, pembunuhan karakter, caci maki, bukan cuma saya tapi siapa pun yang menjadi korban teknologi informasi dewasa ini,” ujarnya.

(nvc/mok)

Selasa, 31/05/2011 04:40 WIB
Kasus Nazaruddin
SBY Diminta Jangan Campur Aduk Urusan Negara & Partai 
Novi Christiastuti Adiputri – detikNews

SBY Diminta Jangan Campur Aduk Urusan Negara & Partai

Jakarta – Dalam memburu M Nazaruddin yang kini diketahui berada di Singapura, pemerintah akan mengerahkan Kapolri, Menlu dan Kepala BIN. Hal ini dianggap tidak pantas karena seperti mencampuradukkan urusan negara dengan urusan partai.

“Di aspek yang lain ada upaya mencampuradukkan urusan negara sama urusan partai. Untuk Nazaruddin melibatkan Menko Polhukam, karena Demokrat atau karena Presiden?” ujar aktivis ICW, Emerson Yuntho saat dihubungi detikcom, Senin (30/5/2011) malam.

Hal ini sangat bertolak belakang perkara yang menjerat Nunun Nurbaeti, istri mantan Wakapolri Adang Daradjatun. Nunun sejak lama diketahui berada di Singapura dan kini telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap pemilihan Dewan Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia.

Namun, tidak ada upaya dari pemerintah untuk ‘memburu’ dan memulangkan Nunun ke Indonesia. Hal ini sangat bertolak belakang dengan perlakuan pemerintah terhadap Nazaruddin.

Menurut Emerson, Presiden SBY harus menjelaskan ‘perbedaan perlakuan’ terhadap Nazaruddin dan Nunun ini kepada publik.

“Presiden harus menjelaskan kenapa ini ada perbedaan perlakukan. Itu yang kita pertanyakan, ini kan urusan internal, urusan Demokrat, tidak perlu bawa-bawa Menko Polhukam atau Kepala BIN segala,” tuturnya.

Dikatakan Emerson, presiden SBY juga harus bisa memisahkan urusan partai dengan urusan negara. Jika berkaitan dengan urusan Partai Demokrat, SBY harusnya tidak melibatkan aparatur negara dan tidak menggunakan fasilitas negara.

“Harus dipertegas, kalau urusan Demokrat jangan menggunakan aparatur negara. Kalau urusan Demokrat, jangan menggunakan fasilitas negara, kan konferensi pers tentang isu SMS Nazaruddin di Halim Perdanakusumah, jangan menggunakan fasilitas negara. Bisa di kantor PD atau di Cikeas,” tegas Emerson.

Sekali lagi Emerson meminta agar SBY tidak mencampuradukkan urusan partai dengan urusan negara. Jika Nazaruddin diburu oleh pemerintah, seharusnya Nunun juga diperlakukan sama.

“Jangan campuradukkan urusan partai sama urusan negara. Ketika Nunun tersangka, tidak pernah dia memerintahkan Kepala BIN atau Menko Polhukam,” tandasnya.

Sebelumnya, Menko Polhukam, Djoko Suyanto menyatakan pihaknya telah meminta Kapolri, Menlu, Kepala BIN melalui upaya di institusinya, untuk bisa segera menghadirkan Nazaruddin ke Indonesia, apabila KPK memanggil yang bersangkutan. Djoko pun menyebut keselamatan Nazaruddin harus dijaga, karena dia merupakan kunci penting untuk membongkar kasus suap di Kemenpora.

(nvc/mok)

Selasa, 31/05/2011 15:02 WIB
Nazaruddin Ancam Lawan-lawannya Lewat Nazaruddin78.blogspot.com 
Elvan Dany Sutrisno – detikNews
Jakarta – Dari Singapura, mantan Bendahara Partai Demokrat (PD) M Nazaruddin benar-benar melakukan perlawanan. Dia terang-terangan akan membuka semua hal melalui blognya Nazaruddin78.blogspot.com.

“Saya akan ceritakan semuanya di situ,” ancam Nazaruddin saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (31/5/2011).

Nazaruddin menjelaskan, segala hal akan dia beberkan dalam blognya. Mulai dari pihak-pihak yang sering berhubungan dengan dia sampai yang melakukan ancaman kepadanya.

“Saya akan ceritakan perjalanan sampai permasalahan ini ada, saya dipanggil siapa, diancam siapa,” terang Nazaruddin.

Blog itu dibuat pada Mei 2011, dan hanya ada satu postingan pada 30 Mei 2011. Isi tulisan posting itu berjudul ‘Bertepuk Tanganlah Partai Lain (Testimoni 1)’. Isinya adalah melawan tudingan kepada yang dinilainya sebagai pembusukan karakter.

Nazaruddin berada di Singapura sejak 23 Mei 2011. Dia pergi satu hari sebelum keluar surat pencegahan dari Ditjen Imigrasi Kemenkum HAM yang diminta KPK pada 24 Mei. Nazaruddin namanya santer dikait-kaitkan dengan kasus dugaan suap Kemepora dan pemberian uang 120 ribu dollar Singapura kepada Sekjen MK Janedjri.

(ndr/nrl)

Rabu, 01/06/2011 08:27 WIB
Dewan Kehormatan PD Pantau Blog Nazaruddin 
Elvan Dany Sutrisno – detikNews

Dewan Kehormatan PD Pantau Blog Nazaruddin
foto: detikcom

Jakarta – Dewan Kehormatan Partai Demokrat sudah memantau blog milik mantan bendahara umum PD, Muhammad Nazaruddin. Dewan Kehormatan PD mengimbau Nazaruddin tak melempar bola panas lewat blognya.

Blog yang dipantau adalah nazaruddin78.blogspot.com. Melalui blog ini Nazaruddin menulis testimoni terkait banyak hal yang dianggapnya sebagai rekayasa untuk menjatuhkannya dari posisi bendahara umum PD.

“Ya saya sudah membacanya. Isi testimoni ini tidak persis sama dengan yang diberikan kepada Dewan Kehormatan PD. Isi testimoni yang diberikan oleh Nazaruddin kepada Dewan Kehormatan tidak boleh dipublikasikan,” ujar Sekretaris Dewan Kehormatan PD, Amir Syamsuddin, kepada detikcom, Rabu (1/6/2011).

Testimoni yang disampaikan Nazaruddin dalam blog tersebut, menurut Amir, menimbulkan multitafsir. Kalau Nazaruddin merasa orang paling benar, menurut Amir, harusnya Nazaruddin tidak menebar ancaman melalui blognya dari luar negeri.

“Kalau testimoni dia bilang itu paling benar, dia yakin paling tepat, ketidakberadaannya di Jakarta membuat orang berpikir macam-macam,” tuturnya.

Karena itu, menurut Amir lebih baik Nazaruddin pulang ke Indonesia. Membuat testimoni melalui blog justru mengesankan Nazaruddin benar-benar bermasalah dan memilih ke luar negeri.

“Yang paling elegan adalah dia saat ini berada di tanah air dan jangan membuat blog itu di luar, seperti dia sengaja menghindar,”tandasnya.

Nazaruddin membenarkan blog nazaruddin78.blogspot.com adalah miliknya. Nazaruddin mengaku akan melakukan ‘perlawanan’ lewat blog.

“Iya itu blog saya,” kata Nazaruddin saat dikonfirmasi detikcom lewat telepon, Selasa (31/5/2011).

Nazaruddin menjelaskan, melalui blognya itu dia akan menceritakan semua hal yang dia ketahui, termasuk kehidupan pribadi, partai, dan kasus hukumnya.

“Saya akan ceritakan banyak hal, mulai perjalanan pribadi saya, perjalanan di partai, perjalanan sampai permasalahan ini ada,” jelasnya.

(van/gah)

31
May
11

Lingkungan : Emisi Gas CO2 Buka Rekor Baru

Selasa, 31/05/2011 07:48 WIB
Emisi gas CO2 buka rekor baru 
BBCIndonesia.com – detikNews

Kegiatan industri di Cina dan India memuntahkan banyak CO2 ke atmosfir bumi Kegiatan industri di Cina dan India memuntahkan banyak CO2 ke atmosfir bumi

Emisi karbon dioksida (CO2) dunia mencapai rekor baru tahun lalu, kata Badan Energi Internasional (IAE).

IAE mengatakan, emisi meningkat lagi setelah penurunan akibat krisis keuangan pada tahun 2009, dan emisi akhirnya 5 persen lebih tinggi dari catatan pada tahun 2008.

Cina dan India menjadi sebagian besar sumber kenaikan, meski emisi juga naik di negara-negara maju.

Kenaikan ini memperbesar keraguan apakah rencana untuk menekan emisi gas rumah kaca akan tercapai, kata IAE.

Dalam pertemuan tahun lalu di Cancun, Meksiko, para pemimpin dunia sepakat bahwa pengurangan tajam diperlukan untuk membatasi kenaikan suhu bumi ke 2 derajat Celsius di atas tingkat pra-industrial.

Namun, menurut estimasi IAE, emisi CO2 mencapai 30,6 juta ton atau mencatat tingkat rekor baru pada tahun 2010.

Fatih Birol dari IEA mengatakan temuan itu panggilan lain untuk bangun.

Dunia secara luar biasa mendekati tingkat emisi yang semestinya baru akan dicapai pada tahun 2010 jika target 2C dikehendaki untuk dicapai, kata Birol.

Kecuali keputusan yang berani dan menentukan diambil segera, berhasil mencapai target global yang disepakati di Cancun ini luar biasa menantang, ujarnya.

(bbc/bbc)

31
May
11

Politik : Kekuasaan Gaddafi Dihajar NATO

Kekuasaan Gaddafi

Senin, 30 Mei 2011 16:28 WIB |

NATO : Kekuasaan Gaddafi Akan Berakhir

Varna, Bulgaria (ANTARA News/Reuters) – Operasi militer Pakta Pertahanan Atlantik Urata (NATO) di Libya mendekati sasaran dan pemerintahan Muammar Gaddafi akan segera berakhir, kata Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Senin.

“Operasi kami di Libya telah mencapai tujuan … Kita membuat kemampuan Gaddafi tergerus serius untuk membunuhi warganya sendiri”, kata Rasmussen pada sebuah forum NATO di Varna.

“Pemerintahan teror Gaddafi akan datang berakhir. Dia kini semakin terisolasi di dalam dan di luar negeri. Bahkan orang-orang terdekatnya pun sudah berangkat, lari, atau meninggalkannya,” kata petinggi NATO itu.

Sementara itu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Konferensi Islam (OKI), Liga Arab dan Uni Afrika (AU) dijadwalkan bertemu di Kairo, Mesir, pada Senin (30/5), untuk mencari penyelesaian krisis Libya.

“Pertemuan badan-badan dunia itu akan memfokuskan pembahasan mengenai Libya,” kata Sekretaris Jenderal Liga Arab, Amr Moussa, kepada suratkabar Al Hayat, Sabtu.

Amr Moussa saat ini masih menjabat sebagai Sekjen Liga Arab kendati sekjen baru organisasi regional beranggotakan 22 negara Arab itu telah terpilih, yaitu Menteri Luar Negeri Mesir Nabil Al Arabi dalam pertemuan tingkat Menlu Liga Arab di Kairo belum lama ini.

Sekjen baru Liga Arab akan resmi menjabat setelah mendapat pengesahan dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab yang belum ditentukan.

Di sisi lain, Sekjen Moussa mendesak pemerintah Tripoli dan gerilyawan yang bermarkas di Benghazi untuk melakukan gencatan senjata.

“Penyelesaian tidak bakal terwujud bila pertempuran terus berlangsung,” katanya.

Sementara itu, pesawat-pesawat tempur NATO terus membombardir posisi-posisi strategis pasukan yang loyal kepada Presiden Muammar Gaddafi.

Jaringan televisi pan Arab, Al Jazeera, melaporkan bahwa terdengar ledakan dahsyat di Bab Al Aziziya, Tripoli, yang berdekatan dengan kediaman Gaddafi pada Sabtu pagi.

Pasukan NATO dilaporkan telah beberapa kali menargetkan serangannya di wilayah tersebut dalam sepekan terakhir.

Tekanan internasional semakin kuat setelah Presiden Rusia Dmitry Medvedev pada Jumat (27/5) mendesak pemimpin flamboyan Libya itu untuk mengundurkan diri. (H-AK/A023)(*)

Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © 2011

  • Video Aktivis Perlihatkan Demonstrasi Besar Anti-Gaddafi di Tripoli Selasa, 31 Mei 2011 07:08 WIB

    Sebuah video yang disiarkan di Internet Senin memperlihatkan ratusan orang berkabung yang marah, menyanyikan slogan-slogan anti-pemimpin Libya Muamar Gaddafi, dalam kejadian yang para aktivis katakan sebagai bukti protes meningkat di ibu kota..

  • 100 Lebih Anggota Militer Libya Membelot Selasa, 31 Mei 2011 05:46 WIB

    Delapan perwira militer berpangkat tinggi Libya tampil di Roma, Senin, mengatakan mereka adalah bagian dari satu kelompok sebanyak 120 perwira dan prajurit militer yang telah membelot dari pihak Muamar Gaddafi dalam beberapa hari belakangan ini..

29
May
11

Hikmah : Hakikat Takut Kepada Allah

Hakikat Takut pd Allah

Sabtu, 28 Mei 2011 11:53 WIB

Oleh: Imron Baehaqi Lc

Kalau dinasihati untuk jangan melakukan kejahatan, karena semua perbuatan dicatat malaikat, tetap saja kejahatan demi kejahatan dilakukan. Akan tetapi kalau ada tanda peringatan bahwa kamera CCTV memantau Anda, barulah  takut untuk berbuat salah.

Masih banyaknya manusia yang melakukan kejahatan dan kemaksiatan adalah disebabkan oleh tingkatan imannya  yang masih rendah dan belum mencapai kepada tahap keyakinan total kepada perkara-perkara yang gaib. Seseorang lebih takut kepada CCTV yang memantaunya secara temporer dan kondisional daripada takut kepada malaikat pencatat amal yang memantaunya setiap saat, tanpa batas waktu, dan tempat; malaikat.

Orang lebih menjaga dari perilaku kejahatan atau perbuatan dosa yang apabila diketahui oleh publik akan menimbulkan efek yang tidak menguntungkan bagi pelakunya. Seseorang akan merasa lebih takut apabila dosa dan kejahatannya itu diketahui oleh orang lain, daripada takut diketahui oleh Allah.

Namun, adanya rasa malu pada jiwa seseorang disebabkan perbuatan dosanya diketahui oleh orang lain masih lebih baik daripada melakukan dosa atau kejahatan secara terang-terangan, tanpa rasa malu. Karena perasaan malu mengindikasikan adanya keimanan pada diri orang tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Malu itu adalah cabang daripada iman.” (HR Bukhari).

Hakikatnya, iman yang kuat akan mendorong seseorang untuk lebih bertaqwa atau takut kepada Allah, sehingga segala godaan untuk melakukan laranganNya dan godaan untuk meninggalkan perintahNya dapat dikalahkan.  Sebaliknya iman yang lemah akan menjadikan seseorang lebih liar, dan bahkan rasa takutnya kepada Allah dapat dilumpuhkan oleh selainNya, sehingga segala rayuan Syaitan yang datang kepadanya tidak dapat dihindarkan. Perintah agama diabaikan sedangkan larangannya dikerjakan.

Semua kenyataan ini kembali kepada kata kunci atau muaranya, yaitu kualitas iman dan takwa kepada Allah SWT.

Orang-orang yang takut kepada Allah ialah golongan yang selamat dari keinginan untuk melakukan aksi jahat dan berbuat maksiat.  Alquran sudah menegaskan, bahwa orang yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya tidak lain adalah orang-orang yang berilmu. (QSFathir:28)

Diriwayatkan dari Abu Hayyan At-Taimy, bahwa dia berkata, “Orang-orang yang berilmu terdiri dari tiga golongan: Pertama, orang yang mengetahui Allah namun tidak mengenal perintah Allah. Kedua, orang yang mengetahui perintah Allah namun tidak mengenal Allah. Ketiga, orang yang mengetahui Allah dan juga mengetahui perintah Allah.”  (Kitabul Iman, Imam Ibn Taimiyah).

Sedangkan Imam Ibn Taimiyah menegaskan, “Selagi seseorang melakukan sesuatu, sementara dia juga mengetahui bahwa sesuatu itu mendatangkan mudharat kepadanya, maka orang seperti ini layaknya orang yang tidak berakal. Sebab, ketakutan kepada Allah mengharuskan ilmu tentang Allah, maka ilmu tentang Allah juga mengharuskan ketakutan kepadaNya. Dan takut kepada Allah harus melahirkan ketaatan kepadaNya. Orang-orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang mengerjakan perintah-perintahNya serta menghindari segala bentuk larangan-Nya.” Wallahu’alam bisshowab.

*Penulis adalah Ketua Bidang Dakwah & Tarjih Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Kuala Lumpur

29
May
11

Lingkungan : Sungai Yangtze Mengering, Tiongkok Terancam Kelaparan

Musim Kemarau Berkepanjangan

Sungai Yangtze Mengering, Tiongkok Terancam Kelaparan
Sabtu, 28 Mei 2011 | 11:56

Sungai Yangtze Sungai Yangtze

[BEIJING] Pemerintah Tiongkok mengatakan, musim kemarau membuat sungai Yangtze mengalami pendangkalan dan mengakibatkan usaha sektor pertanian dan peternakan terancam gagal total. Menteri Hubungan Masyarakat mengatakan, lebih dari 4,23 juta orang akan menghadapi kesulitan suplai air minum, sementara lebih dari lima juta orang membutuhkan bantuan untuk melewati musim kemarau ini.

“Bencana kekeringan ini akan berlangsung dalam waktu yang lama dan air minum untuk masyarakat dan pertanian akan mengalami dampak yang serius,” katanya.

Tingkat curah hujan dari bulan Januari hingga April di daerah aliran Sungai Yangtze, sungai terpanjang dan sangat penting bagi perekonomian Tiongkok berkurang sebanyak 60 persen dari rata-rata curah hujan dalam 50 tahun terakhir.

“Sebagian besar area lahan pertanian yang kekeringan mengeras, dan retak, yang membuatnya mustahil untuk ditanam padi,” kata Menteri tersebut.

Dampak di sektor pertanian ini akan berdampak pada kenaikan harga barang, termasuk beras yang telah meningkat di pasar global dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut China Daily, tingkat air di danau dan waduk yang kebanyakan berada di provinsi Jiangsu, Anhui, Jiangxi, Hubei, dan Hunan mengancam usaha bidang perikanan. Autoritas Banjir nasional dan kekeringan telah memerintahkan petugas Bendungan Three Gorges, proyek hidrolik terbesar di dunia, untuk meningkatkan pengurangan air yang digunakan untuk mengairi wilayar hilir.

Seorang petugas di bendungan mengatakan, jika kekeringan ini terus berlanjut dan tidak ada hujan sebelum 10 Juni, Bendungan akan kehilangan kapasitasnya untuk membantu mengatasi kekeringan.

Sementara Lembaga Meteorologi setempat memrediksi bahwa tidak akan ada hujan hingga 2 Juni di region tersebut. Tiongkok bagian utara telah mengalami kekurangan hujan hampir 15 tahun terakhir, sebagian besar akibat dari global warming. [AFP/FFS/A-21]

29
May
11

Politik : Visi Obama Soal Palestina

Visi Soal Palestina

Minggu, 29 Mei 2011 02:32 WIB |

Obama Tegaskan Konsisten Dengan Visinya Soal Palestina

Kairo (ANTARA News) – Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam pertemuannya dengan Sekretaris Jenderal Liga Arab Amr Moussa di sela Konferensi Tingkat Tinggi G8 di Deauville, Prancis, Jumat menyatakan, ia akan konsisten dengan visinya menyangkut Palestina kendati Israel menolaknya.

“Presiden Obama kepada saya menegaskan bahwa ia akan tetap mempertahankan sikapnya untuk mengusahakan kemerdekaan Palestina dengan perbatasan 1967,” kata Sekjen Moussa seperti dikutip suratkabar Al Hayat, Sabtu.

Dalam pidatonya di Washington mengenai Timur Tengah pada Kamis (19/5) silam, Obama untuk pertama kalinya mengatakan perbatasan antara Israel dan negara mendatang Palestina harus berdasarkan atas garis perbatasan 1967, merujuk pada Perang 1967 saat semua wilayah Palestina diduduki oleh Israel.

Pidato Obama itu disambut hangat oleh Palestina dan dunia Arab, sebaliknya Israel mengecam keras sikap Kepala Negara Paman Sam tersebut.

Netanyahu yang bertemu dengan Obama di Gedung Putih tak lama setelah pidato Obama itu secara tegas menyatakan menolak sikap Obama karena hal itu akan merugikan Israel.

“Israel memberikan sebagian tanah kepada Palestina, namun tidak semuanya berdasarkan perbatasan 1967,” kata Netanyahu, dan menegaskan bahwa “sikap Obama itu bertolak belakang dengan pendahulunya, Presiden George W Bush yang mendukung posisi Israel.”

Di samping dunia Arab, visi Obama juga didukung oleh Kuartet — kelompok pemrakarsa proses perdamaian Palestina-Israel beranggotakan PBB, Uni Eropa, AS, dan Rusia.

Sementara itu dalam pidatonya di KTT G8, Amr Moussa –yang diyakini calon kuat presiden Mesir itu– meminta para pemimpin negara-negara berpengaruh itu untuk berpikir ulang dalam mendorong terbentuknya negara Palestina merdeka. (M043/Z002/K004)

Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011

29
May
11

Kepemimpinan : Ekonomi Berbudaya dan Percepatan Pembangunan Ekonomi

Ekonomi Berbudaya

Salah satu begawan ekonomi yang calon salah satu pejabat tertinggi negara itu dahulu bertanya kepadaku, “Apa yang saya bisa bicarakan, Dik, tentang kebudayaan?” Wajahnya menyimpan penegasan, bidang kerjanya tak berkait sama sekali dengan hal yang pada saat itu harus ia bincangkan. Aku tersenyum, menyentuh lengannya yang berkain batik sederhana, dan menukas, “Justru ekonomi tanpa kebudayaan takkan berarti apa-apa.”

Pernyataan itu secara spesifik lebih bermakna dalam konteks negeri ini, Indonesia. Ia berangkat dari realitas historis-kultural, di mana rakyat negeri ini, rakyat yang nelayan (maritim) juga sebagian agraris, menjalankan tugas ekonomisnya sebagai kebutuhan yang alamiah dan dasariah sebagai manusia. Dan tugas itu, baik yang paling dasar (memenuhi kebutuhan hidup) maupun yang lanjutan (meningkatkan taraf kesejahteraan), tidak dapat dilepaskan dari realitas alamiah dari lingkungan yang ada di sekitarnya.

Artinya, irama kerja tugas itu tidak akan melawan atau berlawanan dengan irama hidup alam di mana ia mendapatkan semua sumber penghidupannya, sumber semua kebutuhan spesiesnya untuk survive, berkembang, dan beregenerasi. Maka, darinya akan tercipta sebuah simbiosis yang mutualistik di antara keduanya, sehingga tak terjadi dominasi atau subordinasi, terlebih hubungan yang penuh eksploitasi.

Manusia tradisi Indonesia akan memperhatikan batas di mana ia dapat memanfaatkan dan mendayagunakan alam, mengambil secukupnya, mengembalikan yang berlebih, atau mengganti apa yang telah ia habiskan sebagai pemenuhan konsumsi. Irama kerjanya pun akan mengikuti irama hidup alam. Ada saatnya ia bekerja keras, ada saatnya ia menuai, dan ada saatnya ia diam tak melakukan apa-apa. Seperti tanaman yang tumbuh, berbuah, kemudian diam, untuk memulai siklus hidup berikutnya.

Di titik akhir itulah, manusia pekerja Indonesia berada dalam situasi vacant, kosong dalam arti sepi dari kerja. Lalu ia memanfaatkannya untuk berpesta, bepergian, bersilaturahmi, ber-vacantie. Berlibur. Liburan manusia tradisi kita adalah masa di mana lingkungan tempat kita bekerja juga libur, entah itu peternak, peladang, petani, nelayan, dan seterusnya. Di titik ini, produktivitas luar biasa bisa kita dapatkan, karena manusia dan alam saling mendukung kerja demi hasil atau produksi terbaik.

Persoalan akan muncul ketika hari libur itu ditetapkan berdasarkan alasan kultural yang sama sekali berbeda. Seperti menetapkan hari libur Minggu dan Sabtu yang notabene berbasis kultural-historis Eropa dengan adab daratan atau kontinentalnya.

Dapat dibayangkan, bila masyarakat yang agraris dan maritim dipaksa menjalankan libur adab daratan yang industrialistik. Mereka, tentu saja, akan kehilangan irama kerja, irama hidupnya. Irama di mana alam –biasanya– ikut menari bersama. Di sini relasi environmental, sosial, hingga kultural antara manusia dan alam sebagai sumber hidupnya pun menjadi retak. Tercipta situasi yang saling mengasingkan pada awalnya, dominatif dan eksploitatif di giliran berikutnya. Simbiosis itu tak lagi mutualistik, tapi parasitik, imperialistik.

Bagaimana kita mengharapkan produksi hebat dari relasi semacam itu? Bagaimana seorang manusia pekerja dapat diharapkan kreatif dan produktif? Tak mengherankan jika dalam ekonomi kapitalistik kita, budaya industri itu tak segera tumbuh, karena ia melawan dasar dari disiplin tubuh tradisional kita. Tak mengherankan bila kita tak kunjung berswasembada, bahkan pada produk-produk agrikultural andalan kita, ketika mayoritas pekerja yang masih berkultur agraris dan maritim mesti mengikuti pola dan gaya hidup masyarakat industri (urban) yang tak sampai 30% jumlahnya.

Mungkin jumlah penduduk kota kita telah mencapai angka 50%, sebanding dengan masyarakat rural. Tapi tidak berarti tradisi hari libur kerja oksidental dapat diterapkan begitu saja. Terlebih penerapan “harpitnas” yang sembrono. Sebab bukan saja petani dan nelayan yang bekerja sepanjang minggu, melainkan juga tukang bakso, toko kelontong, tukang ojek, warung tegal, dan semua usaha mikro dan kecil tetap bekerja ketika para buruh dan karyawan berleha membelanjakan penghasilannya.

Apalagi ketika kita mafhum, penetapan libur kerja itu tidak lain merupakan adopsi dari keyakinan religius masyarakat Eropa. Minggu untuk ibadah Kristiani dan Sabtu untuk ibadah Yahudi, hari di mana –konon– Tuhan beristirahat atau tidak bekerja. Jumat yang merupakan hari ibadah agama mayoritas negeri ini malah tidak disertakan.

Tradisi bangsa kita memiliki perhitungan spiritual sendiri untuk kerja-kerja ekonomis yang mesti kita lakukan. Tapi biarlah kertas lain menjawab hal itu kemudian. Yang penting jernih sudah, mengapa produktivitas kita tak bisa maksimal dan pertumbuhan ekonomi kita tak sepesat Cina –walau sesungguhnya mudah melampauinya. Sebab ternyata proses kita berekonomi telah begitu lama meninggalkan dasar kebudayaannya.

Radhar Panca Dahana
Pekerja seni dan pemerhati budaya
[Perspektif, Gatra Nomor 28 Beredar Kamis, 19 Mei 2011]

Sabtu, 28 Mei 2011
BURAS

Percepatan Pembangunan Ekonomi!

H. Bambang Eka Wijaya

“JUMAT kemarin, Indonesia masuk tahapan baru: Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi 2011-2025,” ujar Umar. “Itu ditandai dengan peresmian empat proyek oleh Presiden SBY, salah satunya di Koridor Sumatera pabrik sawit modern bernilai Rp2,5 triliun di PTPN 3 Sei Mangke, Sumut!”

“Empat proyek itu bagian dari 17 proyek tahap pertama program percepatan yang bernilai Rp186 triliun!” timpal Amir. “Total nilai proyek untuk program percepatan itu Rp1.998 triliun dengan jumlah proyek 881.”

“Ironisnya, kalau pada level nasional program percepatan dicanangkan lewat proyek nyaris Rp2.000 triliun, pertumbuhan ekonomi Lampung triwulan I 2011 menurut data BI justru melambat sekitar 0,5% dibanding triwulan IV 2010!” tukas Umar. “Bahkan, BI memperkirakan pelambatan pada triwulan II 2011 akan lebih signifikan lagi!”

“Lebih ironis, pelambatan pertumbuhan ekonomi Lampung itu layak diduga terjadi akibat kebijakan pusat!” timpal Amir. “Salah satunya, kebijakan pembatasan impor sapi bakalan yang ditetapkan akhir 2010, efektif dirasakan dampaknya pada PDRB awal 2011. Lampung pusat penggemukan sapi skala nasional, penyuplai daging ke Jakarta dan kota-kota di Sumatera sampai Medan!”

“Tapi tujuan pembatasan impor sapi bakalan itu baik, untuk mendorong pengembangan sapi lokal, terutama di Jawa dan Nusa Tenggara!” sambut Umar. “Selama ini daging sapi lokal kalah bersaing karena lebih mahal, timbang hidup Rp26 ribu/kg, sedang sapi eks bakalan impor Rp20 ribu/kg!”

“Itulah, berarti konsumen dipaksa membayar lebih mahal!” tegas Amir. “Padahal, penggemukan sapi bakalan itu di Lampung separuhnya dilakukan rakyat, peternak plasma! Akibat kebijakan itu yang dirugikan rakyat plasma, karena inti jadi lebih memprioritaskan penggemukan di kandangnya sendiri! Selain itu, peternak sapi lokal kita tak dididik bersaing global, mengefisienkan usaha menekan biaya produksi! Efisiensi yang terbukti bisa dilakukan peternak plasma itu sebaiknya yang ditularkan ke peternak sapi lokal! Bukan keunggulan peternak plasma malah dibabat habis!”

“Begitulah ekses ‘kabinet politisi’! Dengan usaha menambah pemilih partainya lewat kebijakan yang ‘populer’, tak peduli berakibat negatif merusak sisi lain perekonomian yang justru sudah berjalan baik!” timpal Umar. “Jangan-jangan begitu juga pada tambak AWS yang selama ini diisolasi sebagai urusan pusat, plasma dicecar janji ada investor baru memberi belanja bulanan Rp3 juta! Produksi yang meningkat 10 kali lipat sejak revitalisasi pun, jadi macet dan absen di PDRB triwulan I 2011.” ***

29
May
11

Kenegarawanan : Tahun Vivere Pericoloso 17 Agustus 1964 [Bung Karno]

CUKILAN  DARI  PIDATO  BUNG  KARNO 17 AGUSTUS 1964 YANG BERJUDUL TAHUN  “VIVERE  PERICOLOSO”  ( T A V I V  )

Pelajaran Pancasila Dihapus? Ini Jawaban Anggota DPR

KUTIPAN:

“Rasa romantic-perdjoangan adalah sumber kekuatan daripada Perdjoangan. Oerkracht daripada  perdjoangan !  Kalau tidak ada rasa romantik-perdjoangan itu, sudah lama kita remuk-redam, sudah lama kita seperti tjatjing-mati diindjak-indjak orang. Apa jang tidak kita alami sudah, sekali lagi : apa jang tidak kita alami sudah, – en toh kita masih berdiri tegak, en toh kita masih belalak mata, bahkan kita makin kuat, makin sentausa, makin hebat derap-langkah kita menggetarkan bumi? Aksi militer Belanda kesatu?, aksi militer Belanda kedua?, pengchianatan PRRI?, pengchianatan Permesta?; penjelewengan-penjelewengan jang disengadja untuk mendjatuhkan demokrasi terpimpin?; sabotase internasional oleh kaum imperialis?; subversi dan intervensi jang litjin tapi bertubi-tubi?; kepungan terang-terangan oleh basis-basis militer imperialis?; sabotase ekonomis jang amat lihay sekali? ; pemasangan benteng imperialis jang bernama “Malaysia”dengan antek imperialis jang bernama Tengku Abdul Rachman? ; – hehe semua itu kita anggap sebagai bagian sadja daripada iramanja Revolusi, semua itu kita terima dengan rasa romantiknja Revolusi, – semua itu kita ganjang habis-habisan dengan romantiknja Revolusi!.

Karena romantic inilah, kita tidak remuk; karena romantic inilah, kita makin kuat, karena romantic inilah, kita malahan berderap terus. Ja Romantik Perdjoangan, – oerkracht (sumber abadi) dari kekuatan Perdjoangan, oerkracht dari ketahanan Perdjoangan, oerkracht dari kekuatan idiil, oerkracht dari kekuatan batin! Oerkracht jang memberikan ketjintaan kepada semua kepahlawanan, oerkracht jang membangkitkan kepertjaan kepada diri sendiri, oerkracht jang memberikan pengertian kepada perlunja  dinamik dan dialektik daripada Revolusi.  Oerkracht jang memberikan kepertjaan bahwa Revolusi bergerak-terus itu melalui djalan pukul dan dipukul, gempur dan digempur, djalan pasang dan djalan surut, djalan sorak dan djalan djerit, djalan lurus dan djalan liku, djalan turun kemudian naik, turun, tetapi kemudian naik, naik, naik ! Djalan jang hebat tetapi tidak lurus-litjin sebagai Bouleard Champs Elysees dikota Paris, atau Newsky Prospect dikota Leningrad. Pengertian dan kepertjaan dus : bahwa Revolusi adalah satu proces pandjang jang dinamis (artinja:  bergerak), dengan segala pukul dan dipukulnja, tetapi turun naik, (inilah dialektika), satu proces pandjang jang harus didjalankan terus-menerus dengan ulet dan tekad  ëvervonward, no retreat”.

Saja tandaskan sekarang sekali lagi : dus : Revolusi minta tiga sjarat mutlak romantik, dinamik, dialektik. Romantik, dinamik, dan dialektik jang bukan sadja bersarang didada pemimpin, tetapi romantik, dinamik, dialektik jang menggelora diseluruh hatinja Rakjat, – romantik, dinamik dan dialektik jang mengelektrisir sekudjur badannja Rakjat dari Sabang sampai Merauke. Tanpa romantik jang mengelektrisir seluruh Rakjat itu, Revolusi ta’akan tahan. Tetapi dinamik jang laksana mengkrandjingkan seluruh Rakjat itu, Revolusi akan mandek ditengah djalan. Tetapi dialektik jang bersambung kepada angan-angan seluruh Rakjat itu, Rakjat ta’akan bersatu dengan rising demandsnja Revolusi, dan Revolusi akan pelan-pelan ambles dalam padang-pasirnja kemasa bodohan, seperti kadang-kadang ada sungai ambles-hilang dalam gurun-gurun-pasir sebelum ia mentjapai samudera lautan.

Karena itu maka kita harus memasukkan romantik, dinamik dan dialektik Revolusi itu dalam dada kita semua, kita pertumbuhkan, kita gerakkan, kita  gemblengkan dalam dada kita semua, sampai kepuntjak-puntjaknja kemampuan kita, agar Revolusi kita dan Revolusi Ummat Manusia dapat bergerak terus, menghantam dan membangun terus, mendobrak segala rintangan jang direntjanakan oleh fihak imperialis dan kolonialis.

Adakah revolusi tanpa tiga sjarat-mutlak itu tadi ? Ada ! Tetapi revolusi jang tanpa romantic, tanpa dinamik, tanpa dialektik massal, revolusi jang hanja didorong oleh impuls perseorangan, ambisi pribadi dari seorang-orang , atau rasa-sakit-hati-pribadi sebagai dinamik dari kekuatan, – revolusi jang demikian itu hanjalah merupakan sekadar “revolusi istana” sadja, – satu “palace-revolution”, jang sekarang muntjul, besok sudah hilang kembali. Revolusi jang demikian itulah jang sering ditunggangi oleh kaum imperialis ! Revolusi jang demikian itulah jang sering dibuat oleh kaum imperialis, dengan mengadakan “coup”, pembunuhan pemimpin, dan lain sebagainja. Djuga di Indonesia kaum imperialis  kadang-kadang mentjoba hendak mengadakan revolusi jang demikian itu, dengan maksud hendak mematikan Revolusi kita ! Tetapi kita selalu waspada ! Rakjat Indonesia alhamdulillah selalu waspada ! Rakjat Indonesia telah mengganjang berkali-kali pertjobaan-pertjobaan imperialis itu !

Dan sekarang, Revolusi Indonesia jang ta’ dapat mereka ganjang itu, telah mendjadilah stu realitas  bagi mereka, satu kenjataan jang ta’dapat mereka pungkiri atau mereka hapus. Revolusi Indonesia telah mendjadi satu fait accompli bagi lawan dan bagi kawan, satu fait accompli bagi dunia, satu gunung-karang-sarang-petir ditengah-tengah samudera-perdjoangan Ummat Manusia untuk mendirikan satu Dunia Baru tanpa “exploitation de l’homme par l’homme” dan tanpa “exploitation de nation par nation”.

Apa sebabnja? Karena sekarang Revolusi Indonesia sedjak 1959 telah kembali mendjadi satu Revolusi Rakjat jang berromantik, berdinamik, berdialektik. Itulah sebabnja Revolusi Indonesia sekarang mendjadi “gungung-karang-sarang-petir” bagi perdjoangan ummat Indonesia dan ummat manusia diseluruh muka bumi.

Ja, pernah kita melepaskan romantik itu,. Pernah kita melepaskan dinamik itu. Pernah kita melepaskan dialektika itu.  Waktu ialah sebelum tahun 1959. Pada waktu itu pemimpin-pemimpin kita banjak jang kena tjekokan liberal. Pada waktu itu banjak pemimpin-pemimpin kita njeleweng. Pada waktu itu banjak partai-partai kita pada gila-gilaan. Pada waktu itu banjak pemuka-pemuka kita jang keblinger dengan ilmu-ilmu a’ la Rotterdam atau a’ la Harvard. Pada waktu itu banjak berkelujuran zg. “pemimpin-pemimpin” ,  jang dalam tubuhnja tidak ada satu tetes darahpun revolusioner . Pada waktu itu terdjadilah pemberontakan-pemberontakan jang mendurhakai Revolusi. Pada waktu itu Romantiknja Revolusi, Dinamiknja Revolusi, Dialektiknja Revolusi seperti dikentuti oleh “pemimpin-pemimpin”sematjam itu. Djadinja? Revolusi Indonesia mendjadi satu revolusi jang oleh seorang Belanda dinamakan “revolusi op drift”, artinja revolusi jang kintir kekanan dan kekiri”.

Saja pada waktu  itu tjemas sekali. Tjemas sekali ! Tetapi Alhamdulillah, sebelum kasip, kita “banting setir”,   kearah djalan Revolusi jang asli. Stop kegila-gilaan ! Stop penjelewengan ! Kembali ke Undang-undang Dasar ’45 ! Kembali kermantika, dinamika, dialektiaka Revolusi ! Kembali kepada Amanat Penderitaan Rakjat ! Kembali ! Kembali ! Ini Manipol ! , obor perdjalananmu !  Ini USDEK ! , tunggak ingatanmu !

Bajangkanlah kalau umpama tidak lekas-lekas kita banting-setir ! Bajangkan kalau tidak lekas-lekas kita kembalikan Rakjat kepada romantic, dinamik, dialektiknja Revolusi ! Bentjana tentu ta’ akan ada batasnja ! Kehantjuran Revolusi diambang pintu ! Saja pada waktu itu berkata dalam pidato 17 Agustus tahun jang lalu : “Barangkali kita akan makin lama makin tanpa arah, bahkan makin lama makin masuk lagi dalam lumpurnja muara “exploitation de l ‘homme par l ‘homme” dan  exploitation de nation par nation”. Dan Sedjarah akan menulis ; disana, antara benua Asia dan benua Australia, antara Lautan Teduh dan Lautan Indonesia, adalah hidup satu bangsa, jang mula-mula mentjoba untuk hidup kembali sebagai Bangsa, achirnja kembali mendjadi satu kuli diantarqa bangsa-bangsa, – kembali mendjadi  “een natie van koelies, en een koeli onder de naties”. Sungguh Maha Besarlah Tuhan, jang membuat kita sedar kembali, sebelum kasip”.

Demikianlah kataku pada 17 Agustus tahun jang lalu.

Ja, memang benar sebelum tahun 1959 Revolusi kita pernah “op drift”. Pernah klejar-klejor. Pernah kintir tanpa arah. Pernah keblinger puter-puter.

Dan itu karena apa? Karena banjak pemimpin kita, -  malah terutama sekali pemimpin-pemimpin jang memakai tiel mr, atau dr, atau ir lho ! tidak mengarti arti daripada Revolusi Modern dalam bagian  kedua dari abad ke-XX, jaitu zamannja imperialisme modern dan kapitalisme monopoli.  Mereka, pemimpin-pemimpin itu, mengira bahwa revolusi hanjalah: merebut kemerdekaan, menjusun Pemerintah Nasional, mengganti pegawai asing dengan pegawai bangsa sendiri, dan seterusnja ; menjusun segala sesuatunja menurut tjontoh-tjontoh Barat jang tertulis dalam merekapunja texooks. Malah kita ditjekoki oleh pemimpin-pemimpin sematjam , bahwa “revolusi sudah selesai”, dan bahwa “kolonialisme-imperialisme sudah mati” !

“Revolusi sudah selesai”, kata mereka itu ! Dengan itu, maka romantiknja Revolusi hendak dimatikan. Dinamiknja Revolusi hendak dimatikan. Pada hal kita harus berkata : Kobar-kobarkanlah terus romantiknja Revolusi, sampai Amanat Penderitaan Rakjat terlaksana ! Gempa-gempakanlah terus dinamiknya Revolusi sampai sampai Amanat Penderitaan Rakjat terlaksana ! Tarikan keatas terus, ledakkan keatas terus, lebih tinggi lagi, lebih tinggi lagi, dialektiknja Revolusi, sampai terlaksana Amanat Penderitaan Rakjat seluruh dunia, sampai dengan tuntutan zaman ! Marilah kita semua sadar, bahwa Revolusi kita adalah saru “Revolution of Rising Demands”!

Revolusi kita bukan sekadar mengusir Pemerintahan Belanda dari Indonesia. Revolusi kita menudju lebih djauh lagi daripada itu. Revolusi Indonesia menudju tiga kerangka jang sudah terkenal . Revolusi Indonesia menudju kepada Sosialisme ! Revolusi Indonesia menudju kepada Dunia Baru  tanpa exploitation de l ‘homme par l ‘hommedan exploitation de nation par nation ! Bagaimana Revolusi jang demikian ini mau dimandekkan dengan kata bahwa “revolusi sudah selesai”? Bagaiman Revolusi demikian ini dapat didjalankan terus tanpa romantic, tanpa dinamik, tanpa dialektik ?

Nah, apa jang saja tjeritakan diatas ini adalah pengalaman  beberapa tahun jang lalu; hampir-hampir sadja kita keblinger sama sekali, hampir-hampir sadja kita “op drift” samasekali, hampir-hampir sadja kita mati-kutu samasekali, -   kalau kita tidak lekas-lekas banting setir  kedjalan-benar kembali – , dan dengan itu memberi kembali kepada Revolusi Indonesia iapunja Romatik, iapunja Romantik, iapunja Dinamik, iapunja Dialektik.

Dengan korreksi banting-setir itu, kita kembali lagi kepada Revolusi Indonesia iapunja djurusan, iapunja arah, iapunja Direction.

Karena itulah maka pada permulaan pidato ini saja bitjara tentang pengalaman dimasa jang lampau dan djurusan untukmasa jang akan datang. Sebagai Pemimpin Besar Revolusi, saja pergunakanlah Podium 17 Agustus ini sebagai Podium jang utama.

Saudara-saudara ! Tahun ini adalah tahun 1964. Hari ini adalah 17 Agustus 1964. Menangkapkah saudara simbolik dari 17 Agustus 1964 ini ?  Menangkapkah saudara-saudara?

Ingat 17 Agustus 1959 saja mempidatokan Manipol !   Dus 17 Agustus 1964 adalah genap lima tahun umurnja Manipol !   17 Agustus sekarang ini adalah Pantja Warsanja Manipol !

Pantja Warsa ! Selama lima tahun ini Manipol itu digembleng oleh hantaman-hantamannja palugodam sedjarah. Dan oleh karena badja Manipol itu bukan badja sembarang badja, maka djauh daripada patah, djauh daripada hantjur. Manipol itu malahan terbukti tahan-udji setahan-tahannja, – ja, Manipol terbukti badja gemblengan dari kwalitet jang setinggi-tingginja !

Aku masih ingat dengan sedjelas-djelasnja akan situasi gawat tanah air kita ketika Manipol lahir. Ja, “lahir” aku katakan, karena sesungguhnja, seperti halnja Pantjasila itu bukan tjipataanku pribadi – melainkan aku sekedar menggalinja dari bumi Ibu Pertiwi – ,   demikianpun Manipol itu bukan tjiptaanku pribadi ;   Manipol lahir dari kandungannja Ibu Sedjarah. Sedjarahlah ibunja, Manipol djabangbajinja, sedangkan Rakjat Indonesia jang progressif revolusioner adalah bidannja. Adapun Sukarno ? Sukarno paling-paling bidan kepala, paling-paling “hoofdverpleger”, dan sekalipun kelahiran itu kelahiran jang susah pajah, sekalipun kelahiran itu melalui tangverlossing, tetapi sjukur alhamdulillah kelahiran itu selamat dan bajinja segar-bugar sehat-walafiat.

Ja, aku masih ingat dengan sedjelas-djelasnja situasi pada waktu ëxpulsion stage”nja Manipol itu. Djiwa Bangsa Indonesia ketika itu, kataku tempohari, seperti terkojak-kojak, terbelah-belah, terobek-robek. Aku katakan didalam “Penemuan kembali Revolusi kita” – jang kemudian diterima oleh segenap bangsa Indonesia , oleh partai-partai politiknja, oleh organisasi-organisasi-massanja, oleh Angkatan Bersendjatanja, oleh aparat Negara seluruhnja, oleh tokoh-tokoh dan putera-puteranja jang terkemuka, ja, oleh segenap Bangsa Indonesia, sebagai Manipo/Garis Besar Haluan Negara/Program Umum Revolusi Indonesia – aku katakan : “segala kegagalan-kegagalan, segala keseretan-keseretan, segala kematjetan-kematjetan dalam usaha-usaha kita jang kita alami dalam periode survival dan investment itu, tidak semata-mata disebabkan oleh kekurangan-kekurangan atau ketololan-ketololan jang inhaerent melekat kepada bangsa Indonesia, tidak disebabkan oleh karena bangsa Indonesia memang bangsa jang tolol, atau bangsa jang bodoh, atau bangsa jang tidak mampu apa-apa – tidak ! – segala kegagalan, keseretan, kematjetan itu pada pokoknja adalah disebabkan oleh karena kita, sengadja atau tidak sengadja, sedar atau tidak sedar, telah menjeleweng dari Djiwa, dari Dasar, dari Tudjuan Revolusi !”

(DIKUTIP DARI BUKU BAHAN- BAHAN POKOK INDOKTRINASI  HAL. 1334 – 1340)

Salam,

Awind

28
May
11

Lingkungan : Terumbu Karang, Limbah Batu Bara dll

Terumbu Karang

Sabtu, 28 Mei 2011 21:08 WIB |

40% Terumbu Karang Pesisir Selatan Hancur

Padang (ANTARA News) – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), memperkirakan sekira 40% terumbu karang yang ada di laut wilayah mereka sudah hancur akibat penangkapan ikan menggunakan jaring pukat harimau dan peledak.

Kepala DKP Sumbar, Pessel Edwil Noer, di Padang, saat berkunjung ke Kantor ANTARA Biro Sumbar, Sabtu, menyatakan luas terumbu karang di perairan Pessel tersebut adalah 1.300 hektare lebih tersebar di laut yang masuk kedalam zona perairan kabupaten ini.

Dari 1.300 hektare (ha) terumbu karang yang terdapat di laut Pessel tersebut, terumbu karang yang masih bagus diperkirakan hanya tinggal 14% lagi, ujarnya.

Dengan demikian, ia mengemukakan, sebanyak 86% terumbu karang yang ada telah mengalami kerusakan, baik kerusakan ringan, sedang, parah, dan juga hancur atau tidak dapat diperbaiki lagi.

Kerusakan dan kehancuran terumbu karang yang terjadi di wialayah laut Passel tersebut, menurut dia, kebanyakan disebabkan oleh penangkapan ikan oleh para nelayan yang melanggar peraturan.

Pelanggaran yang dilakukan nelayan dalam penangkapan ikan dan hasil laut lainya, dan menyebabkan kerusakan serta kehancuran terumbu karang tersebut antara lain adalah penggunaan putas, pukat harimau, serta alat tangkap lainya, yang terus menerus oleh para penangkap hasil laut tersebut, katanya.

Sehubungan dengan itu, ia mengemukakan, saat ini razia di perairan laut tersebut ditingkatkan olah DKP maupun kepolisian perairan (Pol Air), agar tidak ada lagi nelayan yang melakukan penangkapan dengan menggunakan alat yang dapat merusak biota laut seperti terumbu karang.

“Untuk wilayah yang terumbu karangnya sudah habis ada di sekitar pulau Karang Laweh, Karang Pati,” kata Edwil.

Ia menambahkan, degradasi kondisi terumbu karang yang ada tersebut disikapi oleh DKP dengan melakukan transplantasi karang serta juga membuat terumbu karang buatan.
(T.KR-IWY/M027)

Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © 2011

Limbah Batu Bara

Kamis, 26 Mei 2011 10:33 WIB |

Limbah Batu Bara Rusak Ekosistem Sungai Bengkulu

Bengkulu (ANTARA News) – Limbah batu bara yang dibuang ke Sungai Air Bengkulu  menghancurkan ekosistem sungai karena pencemarannya sudah melebihi ambang batas.

“Yang paling mengkhawatirkan adalah air sungai itu masih menjadi sumber air baku PDAM Kota Bengkulu, sehingga masyarakat juga turut mengonsumsi air limbah,” kata Direktur Ulayat Oka Adriansyah di Bengkulu, Kamis.

Ia mengatakan, pembuangan limbah batu bara dari aktivitas pertambangan di hulu sungai itu juga diperparah dengan limbah pabrik karet yang juga dibuang ke sungai itu.

Hasil penelitian Ulayat pada 2010, tingkat kekeruhan air sudah berada di ambang batas, yakni sebesar 5000 NTU lebih besar dari 5 NTU yang ditetapkan dalam Permenkes 907 tahun 2002 tentang pengawasan kualiatas air.

Selain tingkat kekeruhan, ia mengatakan, perubahan warna yang ditolerir sebesar 15 PTCO sudah berada pada angka 267 PTCO.

Kandungan besi berada pada angka 0,76 mg per liter dari angka yang di tolerir 0,30 mg per liter.

“Dari kondisi ini sebenarnya Ulayat sudah merekomendasikan agar PDAM menghentikan pengambilan air dari Sungai Bengkulu dan mengalihkan seluruh sumber air minum dari Sungai Air Nelas,” tambahnya.

Sementara itu, Gerakan Masyarakat Peduli Daerah Aliran Sungai (Gemapedas), gabungan dari unsur masyarakat, mahasiswa dan lembaga non-pemerintah, menuntut Pemerintah Provinsi Bengkulu mencabut izin Kuasa Pertambangan (KP) delapan perusahan yang beraktivitas di hulu Sungai Bengkulu.

“Kami menuntut pencabutan izin delapan perusahaan tambang yang ada di hulu Sungai Air Bengkulu karena jelas limbah batu bara sudah mencemari sungai dan ekosistimnya hancur,” kata aktivis Gemapedas Deff Tri Hamdi.

Deff mengatakan, dampak pembuangan limbah batu bara ke Sungai Bengkulu selain menghancurkan ekosistem sungai, juga mencemari sumber air minum bagi warga Kota Bengkulu.

Ia mengatakan, solusi terbaik adalah mencabut izin tambang yang ada di hulu sungai tersebut yang menjadi sumber pencemaran.
(KR-RNI/F002)

Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2011

28
May
11

Hukum : UUD 1945 Jamin Hukum Adat

Jamin Hukum Adat

Sabtu, 28 Mei 2011 20:53 WIB |

UUD 1945 Jamin Hukum Adat

Palangka Raya (ANTARA News) – Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), M. Akil Mochtar, menegaskan bahwa masyarakat adat di Indonesia sudah mendapat jaminan dari Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pada Pasal 18B untuk menjaga dan melestarikan adat istiadat yang ada.

“Negara sudah mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat adat beserta hak tradisional sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat. Pada prinsipnya UUD telah menjamin,” kata Akil Mochtar, di Palangka Raya, Sabtu.

Menurut dia, selain mendapat jaminan UUD, masyarakat adat juga mendapat perubahan keempat dari UUD 1945 yang juga memberikan jaminan konstitusional terhadap kebudayaan Indonesia, termuat dalam Pasal 32 UUD 1945.

“Tentang hak negara bisa memajukan Kebudayaan Nasional Indonesia di tengah-tengah peradaban dunia dengan berlandaskan kebebasan masyarakat adat, dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan,” ujarnya.

Dia mengatakan, negara sangat menghormati dan memelihara bahasa daerah, sebagai kekayaan budaya di Indonesia yang sangat beragam. Seperti diketahui hampir di setiap aliran sungai bahasa maupun kebudayaan pasti ada perbedaan.

“Dengan demikian masyarakat hukum adat memiliki basis konstitusional untuk mempertahankan hak-haknya sebagai dimuat dalam pasal-pasal tersebut. Walaupun beberapa kalangan justru melihatnya sebagai pembatasan hak masyarakat adat,” kata dia lagi.

Menurut Akil, untuk melindungi hak masyarakat adat ditempuh dengan sistem ketatanegaraan di Indonesia, melalui pengujian perundang-undangan terhadap UUD 1945 untuk membuktikan penguatan di lapangan.

“Bila ditinjau dari perspektif perjalanan sejarah perkembangan hak asasi manusia, baik di level internasional maupun nasional, pengakuan dan penghormatan terhadap masyarakat hukum adat semakin menguat,” katanya menegaskan.

Kemudian, sambung dia, secara formal mulai dari tingkat konversi internasional konstitusi, undang-Undang hingga peraturan daerah (Perda) sampai sekarang persatuan masyarakat adat semakin kuat dan dihormati.

“Terlepas masih adanya catatan dalam perlindungan dan pemenuhan hak-hak masyarakat hukum adat, namun upaya untuk mencapai hal tersebut, masih perlu mendapat apresiasi positif dari kita semua,” katanya
(T.KR-GR/N005)

Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © 2011




Blog Stats

  • 1,089,549 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.