29
Apr
11

Kejahatan : Perompakan Kapal Laut MV Sinar Kudus

Komunitas Bicara

Di Laut, Kita (Ternyata) Tak Jaya

Djoened

Jumat, 29 April 2011

Sial betul nasib para awak kapal MV Sinar Kudus. Sejak dibajak para perompak Somalia, pada 16 Maret silam (baca: sudah satu setengah bulan!), hingga kini tak ada yang tahu persis seperti apa keberadaan mereka.

Alkisah, kapal milik PT Samudera Indonesia yang mengangkut bijih nikel senilai Rp 1,5 triliun itu, dan diawaki 20 pelaut Indonesia, sedang meluncur dari Pomalaa, Sulawesi Tenggara, menuju Rotterdam, Belanda. Lalu, di perairan dekat Pulau Socotra, Semenanjung Arab, Afrika, para perompak Somalia (kabarnya sekitar 50 orang) mendadak menyerbu: Hap!

Perompak awalnya meminta tebusan 2,6 juta dolar AS, dan sempat naik jadi 3,5 juta dolar AS, sebelum akhirnya kembali turun ke 3 juta dollar AS. (“Sementara pihak perusahaan hanya kuat membayar 1,070 dolar AS,” ujar Yunita, istri Masbukhin, awak MV SinarKudus asal Kediri, Jawa Timur.) Nah lho!

Bagi Pemerintah Indonesia sendiri, yang berprinsip menolak berkompromi dengan berbagai tindak terorisme dan kejahatan terhadap kemanusiaan, permintaan tebusan tersebut memang bak buah simalakama: dikabulkan jadi “aib”, tak dikabulkan muka pun tercoreng. Maka, jalan tengah diambil. Lewat pemilik kapal, Pemerintah mencoba melakukan dialog dan meluncurkan misi penyelamatan.

Namun, upaya tersebut, konon, justru membuat para bajak laut kian berang. Lha, iyalah. Dialog doang kan kagak ada duitnya!

TNI sudah pula mengirim 401 personel gabungan Marinir dan Kopassus dengan dua kapal fregat. Toh, operasi militer tetap tak bisa kunjung dilakukan karena kondisi setempat dianggap tidak memungkinkan.

Nah, tarik-ulur penyelesaian kasus ini, pada akhirnya memicu banyak orang (kembali) beranggapan Pemerintah Indonesia (baca: Presiden SBY) sebagai kian peragu, tak ajeg, bahkan tak peduli pada nasib 20 rakyatnya yang terkatung-katung di bawah ancaman pedang perompak.

Tuduhan-tuduhan tersebut terasa kian memojokkan karena, sejauh ini, bukan cuma kapal berkebangsaan Indonesia yang pernah disandera bajak laut Somalia yang, konon, sudah jadi “legenda” di dunia hitam. Mereka ini sekumpulan manusia berbahaya (totalnya sampai 2000 orang lebih!) yang, karena tekanan kondisi negara mereka yang berantakan, siap melakukan apa pun, bahkan tak melulu karena uang. Mereka juga secara cepat bisa menjalin kontak dengan para penjahat lainnya, penyedia dana global, hingga kaum fanatik.

Menurut catatan koran The Business Times, aksi perompakan di lepas pantai Somalia telah “membajak” perdagangan dan perekonomian dunia, sedikitnya 12 miliar dolar AS (Rp 103 triliun) per tahun. Sementara Biro Maritim Internasional melaporkan, sepanjang 2010, terjadi aksi perompakan atas 53 kapal dagang, dan penyerangan terhadap lebih dari 392 kapal lain di lepas pantai Somalia. Sebanyak 1.181 pelaut dari berbagai negara disandera (ini jumlah penculikan terbesar di laut!), dan sedikitnya delapan pelaut tewas.

Tahun ini saja (Januari s/d April 2011) bahkan sudah terjadi 97 serangan perompak, termasuk terhadap MV Sinar Kudus itu. Angka ini, artinya, naik tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Kawasan Laut Arab di seputar Somalia memang sudah sejak lama menjadi salah satu lintasan terpadat di dunia. Sekitar 30.000 kapal dagang selalu mondar-mandir di sana setiap pekannya. Angkutan mereka pun beragam, dan rata-rata bernilai tinggi.

PBB, sejak 2008, pernah mengeluarkan resolusi berkaitan dengan aksi perompak Somalia tersebut. Resolusi ditindaklanjuti dengan operasi militer gabungan yang digelar Uni Eropa pada Desember 2008, operasi laut gabungan per Januari 2009, sampai aksi gabungan oleh NATO pada Agustus 2009.

Hasilnya? Aksi perompakan terus saja meningkat. Sebelum Indonesia, kapal-kapal milik Arab Saudi, Jerman, Yunani, Singapura, dan Korea Selatan sudah lebih dulu dijarah. Dan, para pemimpin negara tersebut, akhirnya, memilih jalan damai untuk menyelamatkan setiap awak kapal mereka dengan memberikan uang tebusan. Tercatat, sepanjang 2010, tebusan yang dibayarkan kepada para bajak laut mencapai 238 juta dolar AS (Rp 2,04 triliun).

Pertanyaannya kemudian: Apa solusi pamungkas yang akan diambil Pemerintah Indonesia? Ikut berdamai seperti negara-negara lainnya, atau tetap bersikeras melancarkan operasi militer?

“Hanya 20 persen operasi militer yang berhasil mencapai kesuksesan. Sisanya, biasanya sandera dan pasukan militer meninggal hingga kapal dikaramkan,” ujar Saut Gurning, seorang pengamat industri maritim.

Dengan kata lain, menurut Saut, keputusan untuk membebaskan awak MV Sinar Kudus dengan cara negosiasi adalah keputusan terbaik. Opsi militer justru seringkali tak berhasil.

Perompak Somalia

Jumat, 29 April 2011 01:31 WIB |

Perompak Somalia Bebaskan Kapal Berbendera Panama

Mogadishu (ANTARA News) – Perompak Somalia membebaskan kapal berbendera Panama MV Renuar dan 24 orang awaknya yang berkebangsaan Filipina setelah ditahan empat bulan, kata satuan tugas anti-perompakan Uni Eropa EU Navfor, Kamis.

“Kapal itu kini berlayar ke sebuah pelabuhan yang aman,” kata EU Navfor dalam sebuah pernyataan singkat.

Perompak yang menembakkan granat roket menahan MV Renuar pada 11 Desember ketika kapal dengan berat 17.156 ton itu sedang menuju Uni Emirat Arab dari Mauritius.

EU Navfor tidak menyebutkan apakah uang tebusan dibayar bagi pembebasan kapal tersebut.

Pada pertengahan April, perompak Somalia membebaskan sebuah kapal pengangkut aspal yang juga berbendera Panama setelah menerima uang tebusan namun tetap menahan beberapa orang awaknya.

Kapal MT Asphalt Venture dengan berat mati 3.884 ton itu ditahan perompak pada 29 September tahun lalu ketika sedang menuju kota pelabuhan Durban, Afrika Selatan, dari Mombasa, Kenya, dan membawa 15 orang awak, seluruhnya warga negara India.

Perompak mengatakan, mereka membebaskan kapal itu setelah menerima uang tebusan 3,6 juta dolar, namun hal ini tidak bisa dikonfirmasi secara independen.

Perompakan meraja-lela di lepas pantai Somalia, yang mengacaukan jalur pelayaran antara Eropa dan Asia, membuat awak dan kapal terancam bahaya serta mendorong beaya asuransi bagi perusahaan perkapalan.

PBB memperingatkan, perompak Somalia menjadi semakin berani dan tetap mendahului pasukan angkatan laut internasional yang berusaha mengakhiri pembajakan di kawasan perairan itu.

Pada 2009, perompak Somalia menyerang lebih dari 130 kapal dagang di lepas pantai Somalia, naik lebih dari 200 persen dari tahun 2007, menurut Pusat Pelaporan Perompakan Biro Maritim Internasional di Kuala Lumpur.

Perompak yang beroperasi di lepas pantai Somalia meningkatkan serangan pembajakan terhadap kapal-kapal di Lautan India dan Teluk Aden meski angkatan laut asing digelar di lepas pantai negara Tanduk Afrika itu sejak 2008.

Kapal-kapal perang asing berhasil menggagalkan sejumlah pembajakan dan menangkap puluhan perompak, namun serangan masih terus berlangsung.

Perairan di lepas pantai Somalia merupakan tempat paling rawan pembajakan di dunia, dan Biro Maritim Internasional melaporkan 24 serangan di kawasan itu antara April dan Juni tahun 2008 saja.

Angka tidak resmi menunjukkan 2009 sebagai tahun paling banyak perompakan di Somalia, dengan lebih dari 200 serangan — termasuk 68 pembajakan yang berhasil — dan uang tebusan diyakini melampaui 50 juta dolar.

Kelompok-kelompok bajak laut Somalia, yang beroperasi di jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Asia dan Eropa, memperoleh uang tebusan jutaan dolar dari pembajakan kapal-kapal di Lautan India dan Teluk Aden.

Patroli angkatan laut multinasional di jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Eropa dengan Asia melalui Teluk Aden yang ramai tampaknya hanya membuat geng-geng perompak memperluas operasi serangan mereka semakin jauh ke Lautan India.

Dewan Keamanan PBB telah menyetujui operasi penyerbuan di wilayah perairan Somalia untuk memerangi perompakan, namun kapal-kapal perang yang berpatroli di daerah itu tidak berbuat banyak, menurut Menteri Perikanan Puntland Ahmed Saed Ali Nur.

Pemerintah transisi lemah Somalia, yang saat ini menghadapi pemberontakan berdarah, tidak mampu menghentikan aksi perompak yang membajak kapal-kapal dan menuntut uang tebusan bagi pembebasan kapal-kapal itu dan awak mereka.

Perompak, yang bersenjatakan granat roket dan senapan otomatis, menggunakan kapal-kapal cepat untuk memburu sasaran mereka.

Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Selain perompakan, penculikan dan kekerasan mematikan juga melanda negara tersebut, demikian Reuters melaporkan. (M014/K004)

Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011


0 Responses to “Kejahatan : Perompakan Kapal Laut MV Sinar Kudus”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 1,138,662 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers