28
Mar
11

Politik : Perang Ideotik (ideologi ekonomi politik) Libya

Senin, 28/03/2011 08:31 WIB
Perang Ideotik Libya
Jusman Dalle – detikNews

Perang Ideotik Libya

Jakarta – Badai demokrasi benar-benar telah melanda sekaligus mengubah wajah dunia Arab. Dari artikuasi di mimbar-mimbar demonstrasi, hingga bermetamorfosa menjadi bahasa moncong-moncong senjata. Pun kini Libya yang tak jua berhenti bergolak. Setelah diamuk pemberontak pro demokrasi dari rakyatnya sendiri, Muammar Khadafi harus menghadapi kolaborasi Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Inggris dan NATO.

Bukan tanpa alasan negara-negara barat tersebut turun tagan. Tapi aksi Khadafi yang secara sporadis menyerang warganya, para pemrotes pro demokrasi hingga menghilangkan 6.000 jiwa. Pemimpin despotik yang telah berkuasa selama empat dekade itu, menganggap pemberontak sebagai kelompok Al Qaeda yang harus ditumpas.

Perang saudara pecah, antara yang pro dan anti Khadafi. Melihat banyaknya korban rakyat sipil, Jumat (18/3), Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi untuk menegakkan zona larangan terbang dan menempuh semua langkah-langkah yang memungkinkan penyelamatan nyawa rakyat sipil dari serangan pasukan Khadafi . Penegakan zona lapangan terbang ini dimaksudkan untuk mencegah serangan udara oleh pasukan Khadafi.

Berbekal resolusi PBB yang diikuti oleh restu dari 22 pemimpin negara dari AS, Uni Eropa dan Arab tersebut, Amerika Serikat, Prancis, Inggris, dan Jerman yang kemudian di iikuti oleh Nato, menyerang markas-markas militer Khadafi. Satu tujuan, melumpuhkan kekuatan militer yang sebelumnya membabibuta, menyerang rakyat sipil anti Khadafi.

Melalui elaborasi serangan udara dan laut, aksi militer secara perdana oleh Prancis berlangsung pada Sabtu (19/3) malam. Dengan 12 jet tempur selama dua jam, tak kurang dari 110 rudal anti baja dihujankan kearah markas-markas milter Libya.

Dalam logika perang, yang pasti bahwa akan ada korban baik harta maupun nyawa, terlebih lagi masa depan bangsa yang menjadi arena perang tersebut. Lima hari pasca serangan, tercatat korban berjatuhan, baik oleh agresor AS Cs, terlebih lagi bagi Libya. Dari pihak agresor, satu pesawat Prancis dan satu Pesawat AS diberitakan ditembak jatuh oleh pasukan Khadafi di wilayah Njela, Tripoli dan Sirte 600 kilometer sebelah timur Tripoli.

http://www.detiknews.com memberitakan bahwa hingga Jumat (25/3) korban yang banyak jatuh justru dari masyarakat sipil. Tercatat lebih 100 warga Libya menjadi korban serangan pasukan kolaisi sejak 6 hari melancarkan serangan, seperti disampaikan juru bicara pemerintah Libya, Moussa Ibrahim.

Walau mendapat kecaman dari berbagai negara, di antaranya dari Rusia, Cina, Iran dan anggota Organisasi Konferensi Islam, serangan angkatan perang koalisi ke negeri Muammar Khadafi tersebut, tak jua dihentikan. Bagai angin lalu. Bahwa telah ada legitimasi dari Dewan Keamanan PBB atas serangan tersebut. Perang, menjadi bahasa pergaulan Barat pada mereka yang tak patuh dengan titah Paman Sam.

Akhirnya, rakyat Libya yang ingin kebebebasan berdemokrasi, harus menyaksikan tanahnya bersimbah darah dan malamnya diwarnai desingan peluru. Ongkos demokrasi memang mahal. Dan hasilnya tak selalu indah seperti yang melayang di dalam angan.

Kepentingan Ekonomi

Masih lekang di ingatan kita, dan bahkan jejak bayangan serta wujud aslinya kini masih ada di Irak dan Afganistan. Dua negara itu terus bergolak dan terpuruk. Afganistan yang diduduki oleh Agresor dibawah komando NATO, hampir setiap hari meminta tumbal nyawa dari rakyat sipil.

Sejak di duduki angkatan militer Barat pada dekade awal tahun 2.000, kehidupan bangsa itu pun kian buram, tak tentu arah dan masa depan. Setali tiga uang, Irak hingga kini masih terus bergolak. Pasca tumbangnya rezim Saddam Husein yang di tuding menyimpan senjata pemusnah massal –walau dikemudian hari, terang-terangan tudingan itu tidak terbukti-, negeri kayak minyak itu dilanda perang saudara, perang antar suku.

Bahwa mengobarkan perang, mencipta konflik, dengan dalih demokrasi dan membela hak-hak sipil sudah merupakan strategi AS untuk mengangkangi kekayaan alam di suatu negara. Sederhana saja, “biarkan mereka terus berperang, fasilitasi dengan senjata dan susupkan intel untuk melakukan provokasi, memperpanjag durasi perang dan kesibukan mereka. Pada akhirnya kita bebas menjarah dengan datang sebagai pahlawan”. Logika sederhana yang menjadi grand strategi pengusaan suatu wilayah oleh AS.

Kita bisa menyaksikan buktinya. Di Irak, setelah jatuhnya Saddam, dibuka tender bagi ladang-ladang minyak. Tercatat 120 perusahaan berpartisipasi dalam tender. Hasilnya 1/3 dari total perusahaan tersebut, yaitu sekitar 35 perusahaan asing yang lolos. Bisa ditebak, bahwa raksasa minyak global yang menyumbang pajak bagi kas Barat, khususnya AS dan sekutunya mendominasi. Di antaranya, BP PLC, Chevron Corp., Exxon Mobil Corp., Royal DutschShell PLC, Lukolil Holdings, Edison International SpA, dan lain-lain.

Negara-negara yang mbalelo dari titah Paman Sam, yang tidak bisa ditelikung, hanya memiliki satu opsi, yaitu perang. Perang yang dilakukan tentu melalui legitimasi lembaga Internasional semacam PBB yang disetting untuk kepentingan mereka.

Beberapa negara Timur Tengah yang pemerintahnya despotik, diktator dan jauh dari nilai-nilai demokrasi, namun tunduk pada keinginan Paman Sam, tetap saja dibiarkan. Misalnya Arab Saudi, Bahrain, Yaman, Suriah, Kuwait, Mesir (era Mubarak), dan Tunisia (era Ben Ali). Perlakuan berbeda terjadi dengan Irak (era Saddam Husein), Iran dan Libya serta negara-negara yang tak mudah ditelikung.

Menarik apa yang dikatakan oleh ketua MPR Taufik Kiemas, bahwa kedatangan angakatan perang AS Cs ke Libya murni dilatar belakangi oleh emas hitam (baca: minyak). Dicontohkan, bahwa saat ini masih banyak negara lain yang tidak demokratis dan terus dilanda konflik sosial, namun luput dari perhatian AS Cs, karena negara-negara tersebut merupakan negara miskin. Seperti Zimbabwe, Somalia, dan Rwanda.

Kita ketahui, bahwa Libya merupakan salah satu negara pengekspor dan pemiliki cadangan emas hitam (baca : minyak) terbesar di Afrika. Dengan kapasitas produksi 1,7 juta barel per hari, Libya masih memiliki cadangan minyak sebesar 44 miliar barel.

Tanpa maksud untuk menggeneralisir, namun fakta telah terpampang. Di depan mata dunia, AS Cs melakon ganda. Berkawan dengan yang manut dan murka pada yang dianggap membangkang. Apatah lagi, pasca rontoknya ekonomi AS dan barat secara umum oleh krisis 2008 yang lalu, mereka butuh dana segar untuk proses akselerasi ekonomi ditengah kebangkitan ekonomi Cina (negara komunis) yang awal tahun ini menjadi Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah AS. China sukses mengerser Jepang yang selama ini merupakan sektu AS.

Kepentingan Ideologi

Di sisi lain, kepentingan ideologi juga menjadi hantu bagi AS. Bahwa Negara-negara yang kini bergerak menguasai ekonomi global, adalah mereka yang anti kapitalis. Atau paling tidak, mandiri secara ideologi. Misalnya Cina dengan ideology komunis, atau Indonesia yang menjadi Negara dengan pertumbuhan ekonomi terpesat ke 3 setelah Cina dan India, yang mayoritas masyarakatnya adalah Islam. Seperti juga Libya yang kaya minyak, namun dipimpin oleh penganut sosialisme yang anti kapitalis.

Selama ini, kebutuhan energy AS banyak dipasok oleh negara berkembang, yang kini perlahan menjadi negara maju. Artinya bahwa AS akan kehabisan pasokan energi untuk menjalankan laju industrinya, jika tidak segera mencari ladang-ladang segar dan baru. Kekhawatiran AS pastinya menjadi stimulus atas berbagi jalan untuk melanggengkan hegemoni. Maka perang atas nama demokrasi telah dibajak oleh kepentingan ideologi, ekonomi dan politik (ideotik).

Gold and glory. Karena memang, selayaknya demokrasi menihilkan perang. Bukankah demokrasi harus dicapai secara humanis dengan tetap menghargai hak-hak hidup manusia lain?

*) Jusman Dalle adalah Humas Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Makassar 2009/2011 dan Analis Society Research And Humanity Developmnet (SERUM) Institute. Penulis tinggal di Makassar. E-mail: jusmandalle@rocketmail.com

(vit/vit)

Senin, 28/03/2011 11:23 WIB
Koalisi serang kampung halaman Gaddafi
BBCIndonesia.com – detikNews

Nato strikes Serangan udara diarahkan ke kampung halaman Muammar Gaddafi

Sirte, Kampung halaman Gaddafi digempur pasukan koalisi melalui serangan udara.

Wartawan BBC di Libia melaporkan kalau sejumlah ledakan keras terdengar di Sirte saat pesawat tempur melayang diudara.

seorang juru bicara pemberontak di Benghazi mengklaim kalau Sirte sekarang telah jatuh ke tangan pasukan pemberontak, tetapi belum ada konfirmasi resmi atas pernyataan tersebut.

Sementara itu juru bicara pemerintah Libya Moussa Ibrahim mengatakan tiga pemuda Libia tewas akibat seranga udara di tempat pemancingan dekat Sirte.

Padahal tidak ada pangkalan militer disana, katanya.

Pejabat Libia menyatakan dalam seminggu serangan, lebih dari 100 orang warga sipil tewas.

Serangan udara yang dilakukan pasukan koalisi yang dipimpin Nato ini ditujukan untuk mencegah pasukan Kolonel Gaddafi untuk menyerang warga sipil menyusul peningkatan suhu penolakan pemerintahannya.

Serangan ini juga membantu pasukan pemberontak untuk lebih maju dari basis mereka di kawasan Benghazi.

Dalam 24 jam terakhir, pasukan pemberontak telah mendorong maju ratusan kilometer ke kawasan barat. Tujuan kota besar sasaran mereka ada Sirte, yang selama ini dikenal sebagai kampung halaman Gaddafi dan satu dari sejumlah tempat yang belum tersentuh semangan pembangkangan.

Dalam dua hari terakhir sejumlah daerah pantai dan instalasi minyak termasuk Ras Lanuf, Brega, Uqayla dan Bin Jawad, jatuh ke tangan pemberontak sejak mereka menguasai Ajdabiya.

Sirte berada sekitar Tripoli dan Benghazi. Wartawan di Libia melaporkan Minggu kemarin kota itu di penuhi oleh tentara.

Tapi hal ini menyebabkan dilema, jika pemberontak berhasil masuk dan warga Sirte tidak melawan, baik karena loyal kepada Gadafi atau karena terlalu takut untuk bertindak, apa yang akan dilakukan oleh sekutu ?. jika warga sipul merasa tidak terancam, maka mereka tidak memiliki mandan untuk melakukan aksi dan itu akan menghambat pergerakan pemerontak dan itu akan membuat mereka menjadi rentan untuk diserang..

Jika koalisi melancarkan serangan kepada pasukan Gaddafi yang melemah, itu akan meyakinkan kalau ini memang terkait dengan perubahan rezim dan itu bisa menyebabkan perpecahan diantara sekutu.

Perkembangan pemberontakan mungkin akan menyenangkan bagi London, Paris dan Washington, tapi juga bisa membawa masalah bagi koalisi.

(bbc/bbc)

Senin, 28/03/2011 04:43 WIB

NATO mengambil alih operasi di Libia
BBCIndonesia.com – detikNews

Sekjen NATO Anders Fogh Rasmussen

Pemberontak Libia sudah menguasai dua kota pelabuhan minyak, Brega dan Ras Lanuf.

Pakta pertahanan Atlantik Utara, NATO, sepakat mengambil alih semua operasi internasional di Libia.

Berbicara setelah pertemuan dengan para duta besar NATO, sekjennya Anders Fogh Rasmussen mengatakan NATO akan mengimplementasikan semua aspek resolusi yang dikeluarkan PBB.

“Tidak lebih dan tidak kurang,” tegas Rasmussen.

NATO sendiri sudah memberlakukan embargo senjata dan larangan terbang di atas wilayah Libia.

Dengan keputusan ini, sekarang NATO bertanggung jawab atas operasi yang bertujuan melindungi warga sipil di daerah-daerah berpenduduk.

Namun begitu, keputusan ini baru akan berlaku dalam beberapa hari lagi.

Pemberontak semakin maju

Sementara itu pasukan pemberontak di Libia dengan cepat memasuki wilayah Barat melawan pasukan pro pemerintah, dibantu oleh serangan udara internasional yang berhasil menghancurkan sebagian besar tank-tank dan artileri milik pemeritnah Kolonel Gaddafi.

Televisi pemerintah mengatakan kota kelahiran Gaddafi, Sirte, untuk pertama kalinya menjadi sasaran serangan udara. Ledakan dan tembakan antipesawat terdengar di ibu kota, Tripoli.

Seorang jurubicara di kota Misrata mengatakan kepada BBC bahwa pertempuran sengit masih berlanjut untuk memperebutkan jalan utama yang membelah kota.

Sebelumnya, pasukan oposisi merebut dua kota pelabuhan minyak yaitu Ras Lanuf dan Brega, di Libia timur.

Pemberontak jual minyak

Pemberontak Libia mengatakan mereka bisa mulai mengekspor minyak dalam waktu kurang dari seminggu lagi.

Jurubicara kelompok pemberontak, Ali Tarhouni, mengatakan ladang-ladang minyak di wilayah-wilayah yang dikuasai oposisi sudah menghasilkan minyak mentah lebih dari seratus ribu barel per hari.

Selanjutnya dia menambahkan, Qatar sudah setuju memasarkan minyak yang diproduksi itu.

(bbc/bbc)

Lebih Banyak Lagi dari BBC Indonesia:

Senin, 28/03/2011 15:14 WIB
RI Minta Serangan Sekutu ke Libya Disudahi
Laurencius Simanjuntak – detikNews

RI Minta Serangan Sekutu ke Libya Disudahi

Jakarta – Pemerintah Indonesia akhirnya bersikap tegas dalam menyikapi serangan sekutu ke Libya. Pemerintah mengatakan cukup terhadap serangan sekutu di Libya dan serangan harus segera disudahi.

Menteri Luar Negeri (Menlu), Marty Natalegawa mengatakan, pada kenyataannya serangan sekutu telah menambah korban dari warga sipil yang seharusnya dilindungi.

Dia mengatakan, apakah korban sipil bertambah karena serangan koalisi, atau karena serangan pemberontak yang diberikan harapan lebih oleh kedatangan sekutu, atau karena pemerintahan Muammar Khadafi yang semakin membabi buta, pada faktanya korban sipil terus meningkat.

“Oleh karenanya kita segera mengatakan, enough it’s enough, cukup! Karena kenyataannya Resolusi 1973 tidak dilaksanakan secara menyeluruh, hanya aspek No Fly Zone-nya saja,” kata Marty dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (28/3/2011).

Marty mengatakan, apa yang dilakukan sekutu dalam pelaksanaan Resolusi 1973 hanyalah aspek zona larangan terbang dan aspek penggunaan kekuatan militer saja. Padahal, resolusi juga mengcakup aspek gencatan senjata, tidak boleh ada penjajahan, dan proses politik lewat dialog dengan pihak-pihak terkait.

Oleh karena itu, lanjut Marty, delegasi Indonesia di Markas PBB di New York bersama sejumlah negara telah mengirimkan surat ke Presiden Dewan Keamanan PBB. Intinya, meminta agar PBB segera melakukan gencatan senjata.

“Kita tidak semata retorika,” ucapnya.

Marty menambahkan, ‘evolusi’ sikap pemerintah Indonesia dalam menyikapi resolusi 1973 ini bukanlah sikap plin-plan.

“Kita justru melihat Resolusi 1973. Jika diterapkan secara utuh dan tepat, akan berpotensi memberikan perlindungan warga sipil. Kita nggak bilang (resolusi) 1973 top, kita laksanakan. Tidak! Kita ada catatannya. Kalau dilakukan secara tepat, utuh, sesuai piagam PBB dan hukum internasional, itu berpotensi memberikan perlindungan warga sipil,” jelasnya.

(lrn/gun)

Baca Juga :

Senin, 28/03/2011 10:40 WIB
Libya Tuding NATO Meneror dan Membunuh Warga Sipil foto
Rita Uli Hutapea – detikNews

Libya Tuding NATO Meneror dan Membunuh Warga Sipil
Muammar Khadafi (Press TV)

Tripoli – Pemerintah Libya menuding NATO meneror dan membunuhi rakyatnya sebagai bagian dari plot global untuk melemahkan negara Afrika Utara itu. Menurut pemerintah Libya, serangan-serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dkk telah menewaskan lebih dari 100 warga sipil.

Namun hal itu dibantah pihak koalisi. Ditegaskan bahwa koalisi hanya ingin melindungi warga sipil dari pasukan pro pemerintah Libya Muammar Khadafi dan hanya menargetkan lokai-lokasi militer untuk menerapkan zona larangan terbang.

“Teror yang dialami rakyat, ketakutan, ketegangan, ada di mana-mana. Dan warga sipil inilah yang diteror setiap hari,” cetus Mussa Ibrahim, juru bicara pemerintah Libya seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (28/3/2011).

“Kami yakin berlanjutnya serangan-serangan udara yang tidak perlu ini merupakan rencana untuk membuat pemerintah Libya dalam posisi lemah untuk bernegosiasi,” tutur Ibrahim.

“NATO siap untuk membunuh rakyat, menghancurkan kamp-kamp pelatihan militer dan pos-pos pemeriksaan militer serta lokasi-lokasi lainnya,” tandas juru bicara tersebut.

Menurut Ibrahim, AS dan sekutu tidak berupaya melindungi warga sipil.

“Mereka (koalisi) ingin membuat Libya berlutut, memohon ampun. Itu rencana yang sangat mudah. Kita bisa melihatnya terjadi di depan mata kita. Mereka tidak mencoba melindungi warga sipil,” cetus Ibrahim.

(ita/fay)

Pemberontak : Kota Kelahiran Qadafi Direbut

REPUBLIKA.CO.ID,BENGHAZI – Seorang juru bicara pemberontak Libya mengatakan kota kelahiran pemimpin Libya Muamar qadafi, Sirte, telah direbut oleh pemberontak pada Senin (28/3). Tidak ada verifikasi pihak independen atas pernyataan pemberontak itu yang segera bisa didapat.

Stasiun televisi negara Libya, Ahad (27/3), menyiarkan tayangan langsung mengenai Qaddafi, yang berada di mobilnya di kompleksnya di Tripoli. Tempat di mana ratusan pendukung mengibarkan bendera hijau dan meneriakkan slogan.

Qadafi tak bisa dilihat di dalam mobil warna putih tersebut. Tapi, stasiun televisi tersebut menyatakan pemimpin Libya itu berada di dalamnya. Tayangan singkat tersebut memperlihatkan beberapa pengawal mendorong pendukung agar mereka tidak terlalu dekat dengan mobil itu.

Qadafi belum memperlihatkan diri di televisi sejak ia berpidato pada Selasa (22/3). Pasukan pemrotes di Libya, Ahad, mendesak ke arah barat untuk merebut kembali sejumlah kota kecil dari pasukan pro-Qadafi saat mereka mundur akibat tekanan dari serangan udara Barat. Pemrotes Libya mendesak ke arah barat menuju Tripoli setelah mereka mendapat peluang pada Ahad.

Gerakan mereka ke arah Sirte kian kuat. Sementara, kota kelahiran Qadafi digempur oleh serangan udara koalisi.

Redaktur: Didi Purwadi
Sumber: ANTARA/Reuters/RIA Novosti

‘Serangan Militer ke Libya tak Mengancam Kepentingan AS’

Senin, 28 Maret 2011, 10:42 WIB
'Serangan Militer ke Libya tak Mengancam Kepentingan AS'

REPUBLIKA.CO.ID, Banyak pihak bertanya-tanya apakah serangan militer yang dikomandoi Amerika Serikat (AS), sebelum diambil alih NATO, akan membahayakan kepentingan negara tersebut. Pernyataan itu terkait aksi militer AS terhadap beberapa…

NATO Bakal Lakukan Serangan Darat ke Libya

Senin, 28 Maret 2011, 10:06 WIB
NATO Bakal Lakukan Serangan Darat ke Libya

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSEL – Pasca-pengambilalihan tongkat komando terkait operasi militer ke Libya dari Amerika Serikat (AS), Perancis dan Inggris, NATO ancang-ancang bakal melakukan serangan darat.Serangan darat ke negara kaya minyak…

Inggris Bantah Rencana Sekutu Mempersenjatai Pemberontak Libya

Senin, 28 Maret 2011, 07:38 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,Koalisi pasukan internasional yang melakukan aksi militer di Libya tidak akan mempersenjatai pemberontak yang memerangi pasukan Muamar Gaddafi, Menteri Pertahanan Inggris Liam Fox menyatakan, Ahad.Memasok senjata pada kelompok pemberontak…

LIbya: NATO Membunuh dan Meneror Rakyat

Senin, 28 Maret 2011, 07:28 WIB
LIbya: NATO Membunuh dan Meneror Rakyat

REPUBLIKA.CO.ID,TRIPOLI–Libya, Ahad (27/3), menuduh NATO meneror dan membunuhi warganya sebagai bagian dari rencana untuk menghina dan membuat lemah negara Afrika Utara itu.Pemerintah di Tripoli menyatakan serangan udara pimpinan Barat…

Tolak Serang Qadafi, Italia-Jerman Ajukan Rancangan Gencatan Senjata di Libya

Minggu, 27 Maret 2011, 18:49 WIB
Tolak Serang Qadafi, Italia-Jerman Ajukan Rancangan Gencatan Senjata di Libya

REPUBLIKA.CO.ID, ROMA– Italia akan mengajukan kepada Jerman rencana bersama atas Libya mengenai gencatan senjata, batasan kemanusiaan dan pengasingan bagi pemimpin Libya Muamar Gaddafi, kata Menteri Luar Negeri Franco Frattini. Frattini…

Agresi AS ke Libya Lebih Buruk dari Pemberontakan yang Terjadi

Minggu, 27 Maret 2011, 17:20 WIB
Agresi AS ke Libya Lebih Buruk dari Pemberontakan yang Terjadi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sekertaris Jenderal (Sekjen) International Conference of Islamic Scholars (ICIS), KH Hasyim Muzadi, meminta umat Islam di Indonesia harus objektif terhadap kondisi yang terjadi di Libya saat…

PBNU: AS Selalu Ajari Demokrasi, Kok Serang Libya?

Minggu, 27 Maret 2011, 16:35 WIB
PBNU: AS Selalu Ajari Demokrasi, Kok Serang Libya?

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — PBNU mengutuk serangan yang dilakukan negara-negara Barat, AS dan sekutunya di Eropa terhadap pemerintah sah Libya, yang dipimpin Presiden Moammar al-Qadhafi.”Selama ini AS selalu mengajarkan demokrasi,…

Obama: AS tidak akan Tempatkan Pasukan Darat

Sabtu, 26 Maret 2011, 20:55 WIB
Obama: AS tidak akan Tempatkan Pasukan Darat

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Presiden Barack Obama mengumumkan, Sabtu (26/3) bahwa Amerika Serikat tidak akan menurunkan pasukan darat di Libya. “Sebagaimana yang saya janjikan dari awal, peran pasukan AS terbatas….

Senin Depan, Obama akan Jelaskan Posisinya Soal Libya

Sabtu, 26 Maret 2011, 11:44 WIB
Senin Depan, Obama akan Jelaskan Posisinya Soal Libya

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Untuk memberi keterangan pada rakyatnya dan jawaban bagi Kongres, Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada hari Senin akan memberikan penjelasan yang paling luas tentang peran AS…

Kapal Senjata Iran

Senin, 28 Maret 2011 03:58 WIB |

Qatar Sergap 2 Kapal Pengangkut Senjata Iran

Kota Kuwait (ANTARA News) – Qatar, yang berbatasan laut dengan Bahrain dan Iran, menahan dua kapal Iran yang membawa senjata di perairan Teluk, demikian dilaporkan sebuah surat kabar elektronik Kuwait, Minggu.

Kapal-kapal itu disergap di lepas pantai Al-Zubara, sebelah timurlaut Qatar dan dekat dengan wilayah perairan negara itu dengan Bahrain, kata Al-Aan mengutip beberapa sumber yang tidak diidentifikasi, demikian AFP melaporkan.

Sumber-sumber itu tidak memberikan penjelasan terinci mengenai awak kapal tersebut, tanggal operasi atau tujuan kapal-kapal itu.

Tidak ada konfirmasi mengenai laporan itu dari pihak-pihak berwenang di Qatar, Bahrain serta Iran.

Bahrain yang diperintah Sunni, dimana protes Syiah meletus pada 14 Februari, menuduh Iran yang dipimpin Syiah campur tangan dalam urusan dalam negerinya dan unsur-unsur oposisi Bahrain memiliki hubungan dengan negara asing.

(*)Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011

Rakyat Tripoli

Senin, 28 Maret 2011 08:46 WIB |

Rakyat Tripoli Makin Sengsara

Seorang warga Libya membawa poster Muammar Gaddafi di sebuah fasilitas angkatan laut yang rusak akibat serangan udara koalisi di bagian timur Tripoli, Selasa (22/3). (FOTO ANTARA/REUTERS/Zohra Bensemra) 

Situasi bertambah buruk dan parah. Saya orang yang sederhana. Saya tak tahu mengapa

Berita Terkait

Jakarta (ANTARA News) – Di luar gedung kokoh yang tak mudah ditembus di kompleks Muamar Gadafi, kekurangan bahan bakar dan antrian tanpa ujung menambah suram keadaan di kota yang sudah berpekan-pekan dirongrong konflik.

Pasukan pemberontak bergerak maju dengan cepat ke arah kubu terbesar Gaddafi, dan rakyat biasa di ibukota Libya, Tripoli, tak peduli apa pun pandangan politik mereka, khawatir terhadap apa yang bakal terjadi.

Warga Tripoli hidup di tengah dentuman suara ledakan dan tembakan senjata antipesawat saat serangan udara Barat berlanjut, dan kenyataan baru telah membuat sebagian warga berani menyampaikan kekecewaan mereka secara terbuka.

“Situasi bertambah buruk dan parah. Saya orang yang sederhana. Saya tak tahu mengapa,” kata Radwan, pria yang berusia 40-an tahun, saat ia mengantri untuk membeli bahan bakar di satu stasiun pompa bensin di Tripoli tengah.

Di satu stasiun pengisian bahan bakar di Tripoli, ratusan kendaraan membentuk antrian lebih dari satu kilometer pada Ahad (27/3). Pengendara yang sudah kelelahan menunggu selama berjam-jam untuk mengisi tangki kendaraan mereka.

Satu tanda sementara di stasiun pompa bensin lain bertuliskan, “Tak ada bensin hari ini. Cuma Tuhan yang tahu kapan (ada lagi).”

Kebanyakan orang menunggu dengan sabar, sementara mesin kendaraan mereka dimatikan. Sebagian duduk di bawah bayang-bayang pohon besar, sambil merokok. Satu mobil kehabisan bahan bakar di tengah jalan raya pantai, dan sekelompok pejalan kaki membantu pengemudi mendorong kendaraan itu.

Pemandangan serupa di beberapa bagian lain Tripoli dan kota kecil yang berdekatan. Jaringan pasokan kebutuhan pokok telah terganggu oleh berpekan-pekan pertempuran Arus pengungsi ke luar Libya hampir berarti bahwa toko roti tak memiliki tenaga kerja untuk membuat cukup banyak roti.

Libya adalah salah satu pengekspor minyak OPEC dan memiliki pengolahan atau pengilangan sendiri, tapi sektor itu telah sangat terganggu oleh konflik. Banyak prasarana kilang minyaknya telah rusak, dan produksi minyak telah merosot tajam.

Stasiun TV negara telah menjamin rakyat bahwa cadangan bahan bakar mencukupi, tapi seorang pejabat bidang energi mengakui kepada Reuters pekan lalu bahwa Libya perlu mengimpor lebih banyak pasokan untuk mengatasi kekurangan tersebut.

Pasukan pemberontak, yang berusaha menggulingkan Gaddafi dan berbesar hati oleh serangan udara Barat, telah mendesak dengan cepat ke arah Libya barat dalam beberapa hari belakangan. Mereka merebut kembali wilayah yang ditinggalkan oleh militer Gaddafi.

Kemarahan
Tripoli, yang berada di pantai Laut Tengah dan tempat tinggal sebanyak dua juta orang, adalah kota yang dibentengi paling kuat di Libya. Di sana ketidakpuasan tak ditoleransi oleh anggota milisi Gaddafi yang ditakuti.

Meskipun begitu, sebagian warganya sangat jelas kelihatan marah ketika didekati oleh wartawan pada Ahad (27/3).

“Stasiun televisi menyatakan Inggris dan Prancis ingin membawa pergi minyak kami, tapi saya berdiri di sini, saya tak bisa membeli bahan bakar buat mobil saya,” kata seorang pria yang antri untuk membeli bensin.

“Mana minyak itu? Minyak apa yang mereka bicarakan?” ia mempertanyakan, sebagaimana dilaporkan wartawan Reuters, Maria Golovnina, yang dipantau ANTARA di Jakarta, Senin.

Seorang pria lain, Sufiyah, sambil menggosok matanya yang berwarna merah setelah tidak tidur semalaman untuk antri di satu stasiun pompa bensin, menambahkan, “Saya telah menunggu sejak pukul 4 pagi. Tidak ada bensin. Saya sangat capek. Dan ya, saya marah. Banyak orang juga marah.”

Kerusuhan juga telah mengganggu pasokan pangan di negara gurun tersebut, yang bergantung atas impor guna menutupi kebutuhan pangan rakyatnya.

Seorang perempuan, Fatima, yang berbaris untuk menerima jatah roti di satu permukiman, mengatakan sangat sulit untuk membeli minyak goreng, gula dan produk olahan lain. Fatima berusia 20-an tahun.

“Sebelum ini, keadaan normal tapi sekarang terjadi kekurangan. Itu dimulai dengan krisis satu bulan lalu, dan akan terus bertambah parah,” kata Fatima. Ia mengatakan, menurut dia, harga bahan makanan penting seperti beras dan tepung telah melonjak setidaknya tiga kali lipat.

Ia menyatakan ia cuma diperkenankan membeli satu tas roti buat keluarganya setiap kali ia datang. Toko di Tripoli tampaknya memiliki simpanan yang mencukupi tapi banyak toko sudah tutup.

Harga roti sendiri telah sedikit berubah, kata orang. Kekurangan roti terutama terjadi karena terjadi pengungsian besar-besaran pekerja pendatang.

“Sebelumnya, roti berlimpah, sekarang tak ada. Kami tak punya pekerja sekarang, jadi sulit untuk membuat cukup banyak roti,” kata Adil Mohammed Ali, pria muda yang bekerja di pabrik roti.

Ali Salim, pengemudi taksi yang masih muda, mengatakan ia tidak tahu apa yang mesti dharapkan tapi menuduh negara asing sebagai penyebab semua kesulitan itu.

“Saya telah menunggu selama empat jam. Saya harus melakukan ini setiap hari. Saya pengemudi taksi,” katanya. “Tak seorang pun mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Besok itu semua dapat berubah. Itu semua disebabkan oleh negara asing yang ikut campur.”
(C003/A011)Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2011

About these ads

0 Responses to “Politik : Perang Ideotik (ideologi ekonomi politik) Libya”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,264,389 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 125 other followers

%d bloggers like this: