20
Mar
11

Ketuhanan Yang Maha Esa : 16 Paguyuban Kejawen, Jogja

Pamomong

19 Maret 2011 | 13:42 wib

16 Paguyuban Kepercayaan Kejawen Masih Eksis di Yogya

DIY memiliki banyak paguyuban kebatinan. Sedikitnya diketahui 16 paguyuban penghayatan kejawen di Yogyakarta yang masih menjalankan nilai-nilai kejawen seperti mengucapkan mantra, semedi, larungan, sesaji. Salah satu di antaranya adalah paguyuban Sumarah Purbo, Paguyuban Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, Paguyuban Tris Soka, Paguyuban Sumarah Purbo, dan Paguyuban Sapta Darma.

Berdarakan hasil penelitian, beberapa alasan para pengikut kepercayaan kejawem masih mempertahankan keyakinannya karena ingin mengaktualisasikan budi luhur dan budi pekerti untuk menjadi manusia utama guna mencapai ketenteraman hidup.

Langkah yang ditempuh dengan cara membangun ruang dan suasana hidup kebatinan Jawa, meyakini dan mempertahankan pandangan hidup kejawen sebagai pedoman aktualisasi budi luhur.

“Budi lulur dipahami sebagai budaya ideal dan budi pekerti sebagai pedoman pekerti yang dipertahankan dan dikreasi menjadi doktrin,” kata Drs Suwardi MHum dalam ujian promosi untuk memperoleh gelar doktor di Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Suwardi yang kini menjadi staf pengajar pendidikan Bahasa Jawa UNY itu mengatakan, sebagian para pengikut kejawen tersebut mempertahankan budi luhur dan budi pekerti meski mereka telah memeluk agama tertentu.

Namun ada juga para penghayat kejawen yang tetap enggan memeluk agama. “Mereka merasa damai, nyaman dan tidak gelisah mengikuti kepercayaan kejawen ini,” ungkap pria kelahiran Kulonprogo, Yogyakarta 1964 itu.

Dalam paguyuban kejawen, budi luhur dianggap lebih sakti untuk melawan kegelisahan batin, melawan agamaisasi dan menjanjikan keselamatan kosmologis hingga kelak dapat meraih manunggaling kawula-Gusti. Bahkan dalam hidup bermasyarakat diaktualisasikan dengan sikap toleransi, ”tepa selira”, ikhlas dan mengedepankan watak moral ”sepi ing pamrih.”

Suwardi menyampaikan, gerakan penghayat kepercayaan memang bukan aliran sesat melainkan sebuah tradisi budaya yang luhur yang dapat dijadikan tauladan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Ini adalah gerakan budaya spiritual, mau dinamakan agama atau bukan, itu terserah yang memberikan atribut. Yang jelas, mereka bukan atheis, tidak menyembah kayu dan ”watu”, melainkan menyembah Tuhan,” katanya. (P12)

(Bambang Unjianto/CN26)

Makam Bung Karno

RepublikaRepublika – Sab, 19 Mar 2011 15.43 WIB

Wah…Banyak Wisman yang “Nyekar” ke Makam Bung Karno

REPUBLIKA.CO.ID, BLITAR –  Juru kunci Makam Bung Karno, Suwanto mengatakan, para pelancong asal Negeri Belanda termasuk yang terbanyak di antara peziarah luar negeri yang datang ke lokasi Taman Makam Bung Karno di Blitar, Provinsi Jawa Timur.

Kepada Antara, di sela-sela menerima kunjungan putri Bung Karno, Megawati Soekarnoputri bersama rombongan, Sabtu, Suwanto mengatakan, hampir setiap hari ada saja peziarah asing yang datang ke Makam Bung Karno.

“Hampir tiap hari ada saja ‘wong Londo’ (orang asing) datang ke sini, juga dari Thailand, Jepang. Yang dari Malaysia tiap hari juga banyak,” ungkapnya.

Dikatakannya, total jumlah kunjungan peziarah ke Makam Bung Karno per hari terus meningkat dari tahun ke tahun. “Aku baru tujuh tahun jadi juru kunci. Tiap hari biasa dulu hanya kurang dari 300-an. Sekarang di atas itu,” katanya.

Malah kalau hari libur, menurutnya, subuh sudah parkir 15-an bus pariwisata dari berbagai tempat. “Untuk hari libur mencapai 10.000-an peziarah, paling kecil 5.000-an,” tambah Suwanto yang sehari-harinya dibantu oleh seorang pembantu juru kunci.
Megawati Soekarnoputri sendiri datang berziarah didampingi putra keduanya, Prananda Prabowo, yang disebut-sebut sebagai “pewaris utama penerus” perjuangan Keluarga Bung Karno untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara.

Sementara Puan Maharani (putri Megawati dengan Taufik Kiemas) yang juga salah satu Ketua DPP PDI Perjuangan, tidak ikut serta dalam kegiatan “nyekar” tersebut.

Kunjungan ke Makam Bung Karno tersebut merupakan bagian dari rangkaian perjalanan Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum DPP PDI Perjuangan dalam rangka memantapkan eksistensi ‘tiga pilar’ kader pelopor dan pencanangan Cabang Pelopor di Jateng, DIY serta Jatim.

Kedatangan Megawati yang merupakan putri pertama Bung Karno itu mendapat sambutan spontan dari ribuan peziarah yang tak menyangka bisa bertemu di Makam Bung Karno itu. Didampingi Sekjen DPP PDI Perjuangan, Tjahjo Kumolo, Walikota Blitar, Samanhudi dan beberapa anggota DPR RI, Bupati/Walikota dan Bupati/Walikota se-Indonesia, Megawati memanjatkan doa di depan pusara ayahandanya selama sekitar 15 menit.

About these ads

0 Responses to “Ketuhanan Yang Maha Esa : 16 Paguyuban Kejawen, Jogja”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,136,615 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 116 other followers

%d bloggers like this: