26
Feb
11

IpTek : Planet Mirip Bumi dan Tulisan Alien

Planet Mirip Bumi

Minggu, 20 Februari 2011 15:59 WIB |

Planet Mirip Bumi Sangat Mungkin Ada

Jakarta (ANTARA News) – Ditemukannya sekumpulan planet seukuran atau dapat ditinggali kehidupan seperti Bumi adalah kabar menggembirakan untuk mereka yang berharap suatu saat nanti bisa menemukan E.T. (Extraterrestrial atau mahkluk hidup/kehidupan selain di Bumi).

Teleskop Ruang Angkasa Kepler milik NASA telah menemukan 1.235 calon planet di luar sistem tata surya kita, demikian sebuah pengumuman pada Rabu 2 Februari lalu.

68 planet diantaranya diperkirakan seukuran Bumi, sedangkan 54 lainnya memiliki jarak ke bintang di mana seharusnya air likuid ada (seperti di Planet Bumi).

Kendati begitu, tak satu pun dari planet-planet itu dapat benar-benar dipastikan ada karena kebanyakan hanya disebut planet-planet potensial yang masih memerlukan verifikasi lebih jauh lagi.

Lebih dari itu, tidak satu pun dari planet-planet tersebut  dijamin bisa ditempati kehidupan (habitable). Para ilmuwan hanya bilang ada peluang bahwa planet seperti itu ada, berdasarkan gambar yang kita tahu sebelumnya.

Tetapi para ilmuwan berharap Teleskop Kepler yang diluncurkan Maret 2009 untuk memburu planet lain di luar tata surya itu tetap berusaha mendapatkan informasi mengenai dunia lain yang bisa ditempati makhluk hidup.

Dan kerja dua tahun teleskop itu menjanjikan impian itu.

“Saya kira penemuan itu membesarkan hati, dalam arti kita memiliki keyakinan kuat bahwa itu bakal menjadi kenyataan,” kata Seth Shostak, astronom senior pada Institut SETI (Search for Extraterrestrial Intelligence) di Mountain View, California.

Meksipun demikian, harapan itu masih memerlukan data yang lebih banyak lagi sebelum manusia beralasan untuk mengatakan telah ditemukan kehidupan lain.

“Yang Anda perlukan bukan 50 calon planet, Anda butuh lebih dari itu.  Namun faktanya planet-planet itu memang ada, dan lebih banyak.  Dunia-dunia lain mirip Bumi ini akan menjadi sama biasanya dengan (ketika kita melihat) semut-semut sewaktu piknik,” kata Shostak kepada SPACE.com.

Namun, planet asing mirip Bumi yang sudah terverifikasi pun tidak bisa menjamin adanya kehidupan seperti di Bumi.

“Mungkin banyak sekali dunia seperti Bumi namun hanya sedikit yang memiliki kehidupan.  Atau mungkin banyak kehidupan namun sangat sedikit yang cerdas yang bisa mengirimkan transmisi radio (seperti manusia),” kata Shostak.

Shostak menyebutkan penemuan Kepler ini telah berdampak pada pencarian tetangga-tetangga kosmos kita.

Para ilmuwan SETI telah melatih Allen Telescope Array, yakni jejaring radio berbasis di California Utara, mengenai sejumlah calon planet potensial jejakan Kepler, termasuk beberapa yang diumumkan pekan ini.

Penjejakan yang dilakukan Kepler ini membantu ilmuwan menyempurnakan beberapa parameter kunci mereka yang digunakan dalam Persamaan Drake, yaitu formula SETI untuk memprediksi kemungkinan komunikasi dengan alien-alien cerdas.

Persamaan Drake didasarkan pada tujuh faktor, yaitu tingkat formasi bintang dalam galaksi, fraksi bintang yang memiliki planet, fraksi planet yang memiliki kehidupan, persentase planet yang benar-benar dihuni kehidupan, persentase planet yang memiliki kehidupan cerdas, fraksi peradaban yang memiliki kebudayaan sehingga dapat mengabarkan keberadaannya ke luar angkasa, dan panjang waktu dari sinyal-sinyal terkirim.

Penemuan-penemuan terbaru SETI dapat langsung mempengaruhi penghitungan dua dari ketujuh parameter itu, yaitu fraksi bintang dalam planet dan fraksi planet yang kemungkinan bisa ditempati kehidupan, kata Shostak. (*)

Sumber: space.com

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © 2011

Tulisan “Alien”

Senin, 14 Februari 2011 16:58 WIB |

Tulisan “Alien” di Manuskrip Voynich

Manuskrip Voynich (science daily/Beinecke Rare Book and Manuscript Library, Yale University)

Manuskrip ini adalah teka-teki yang tak seorangpun mampu menerkanya”

Berita Terkait
Video

Jakarta (ANTARA News) – Para peneliti dari Universitas Arizona. Amerika Serikat, telah memecahkan salah satu teka-teki yang terdapat pada apa yang dikenal dengan “manuskrip paling mesterius di dunia,” Manuskrip Voynich.

Manuskrip ini adalah sebuah kitab berisi gambar dan tulisan yang tidak pernah bisa dimengerti manusia hingga sekarang.

Dengan menggunakan penelusuran radiokarbon, satu tim dipimpin Greg Hodgins dari Jurusan Fisika Universitas Arizona, telah menemukan halaman-halaman perkamen yang kemungkinan dibuat pada abad ke-15 atau seabad lebih tua dari taksiran para pakar sebelumnya.

Buku tebal ini membuat “DaVinci Code” benar-benar tidak menarik. Deretan teks cakar ayam tertulis di atas perkamen yang jelas terlihat kuno, aliran ilustrasi gambar ruwet yang melukiskan tanaman, bagan-bagan astronomis, dan gambar manusia mandi di usia dini.

Kesan pertama, Manuskrip Voynich tidak seperti karya tulis dan gambar antik pada umumnya. Kesan berikutnya, ketika diteliti lebih jauh, maka Anda mendapati manuskrip itu benar-benar tidak bisa dipahami.

Karakter-karakter asing di mana beberapa diantaranya memuat huruf Latin namun di beberapa bagian malah memuat bahasa yang sama sekali tidak dikenal manusia, disusun menjadi seumpama kata dan kalimat, tetapi tidak satu pun menyerupai tulisan atau bacaaan apapun yang selama ini digunakan manusia.

Hodgins, seorang asisten peneliti dan asisten profesor pada Jurusan Fisika, Universitas Arizon, yang bekerjasama dengan Fakultas Antropologi universitas sama, terpesona oleh manuskrip itu.

“Apakah ini kode atau sandi untuk sesuatu hal? Orang memakai analisis statistik huruf dan kata, yaitu analisis yang digunakan guna memecahkan kode-kode. Tapi semua itu tak bisa memecahkan yang satu ini.”

Sebagai seorang ilmuwan kimia dan arkeologi lapangan, Hodgins bekerja untuk Laboratorium NSF Arizona Accelerator Mass Spectrometry atau AMS, yang menggabungkan analisis fisika dan ilmu bumi. Timnya berhasil memecahkan waktu pembuatan Manuskrip Voynich.

Kini dimiliki Beinecke Rare Book and Manuscript Library, Universitas Yale, manuskrip ini ditemukan di Villa Mondragone dekat Roma pada 1912 oleh dealer barang antik Wilfrid Voynich. Manuskrip ini pernah disarankan Society of Jesus untuk dijual.

Voynich mendedikasikan sisa hidupnya untuk mengungkap misteri asal usul manuskrip tersebut, sekaligus mengartikannya. Dia meninggal 18 tahun kemudian tanpa pernah bisa mengungkap sedikit pun rahasia dalam manuskrip itu.

Melompat ke tahun 2009: Di lantai dasar Gedung Ilmu Fisika dan Atmosferik Universitas Arizona, Hodgins dan sejumlah ilmuwan, insinyur dan teknisi memelototi sebuah monitor komputer yang menampilkan grafik dan garis. Dengung suara mesin memenuhi ruangan dan menjadi latar belakang untuk desis berirama dari pompa turbin-turbin uap.

Pipa baja antikarat, bergantian dengan ruang vakum berbobot besar, menembus dinding.

Itu adalah jantung dari Laboratorim NSF-Arizona AMS, yaitu spektrometer akselarator massa yang mampu melacak jejak atom Carbon-14 yang berada dalam satu sampel dan memberi ilmuwan penunjuk umur untuk sampel-sampel itu.

Analisis Radiokarbon

Carbon-14 adalah bentuk tidak padat dari karbon yang biasa disebut radioisotop, yang secara alamiah terbentuk di lingkungan Bumi. Dalam lingkungan alami, hanya ada satu atom Carbon-14  per trilun isotop karbon nonradioaktif yang sebagian besar adalah Carbon-12 dengan sejumlah kecil Carbon-13. Carbon-14 ditemukan di atmosfer dalam gas karbondioksida.

Tumbuhan menghasilkan jaringan selnya sendiri dengan menangkap karbondioksida dari atmosfer dan mengamulasi Carbon-14 selama hidupnya. Lalu, giliran binatang mengakumulasi Carbon-14 dalam jaringan selnya dengan memakan tumbuhan atau organisma lain yang memakan tumbuhan.

Ketika tanaman atau binatang mati, kadar Carbon-14 di dalamnya menurun dalam tingkat tertakar sehingga bisa dimanfaatkan untuk mengukur waktu yang dilalui sejak tanaman atau hewan itu mati.

Apa yang berlaku pada tumbuhan dan binatang, akan berlaku pula pada apa-apa yang dihasilkan keduanya. Mengingat halaman perkamen dari Manuskrip Voynich dibuat dari kulit binatang, maka manuskrip itu ditaksir umurnya lewat analisis radiokarbon itu.

Dengan memokuskan pada ujung atas spekrometer massa, Hodgins menjelaskan prinsip di balik ini.

Satu sampel tipis dari carbon yang diesktrasi dari manuskrip tersebut dimasukkan ke “sumber ion” pada spektrometer massa.

“Ini menyebabkan atom-atom dalam sampel terionisasi, Artinya, atom-atom itu kini memiliki energi listrik dan dapat didorong oleh medan listrik dan magnet.”

Setelah dilontarkan dari sumber ion, ion-ion karbon itu menjadi sinar yang ditembakkan ke instrumen dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Dengan fokus pada sinar dalam lensa dan filter magnetis, spektrometer massa ini kemudian menyebar menjadi beberapa sinar yang masing-masing mengandung satu isotop spesies dengan massa tertentu.

“Carbon-14 lebih berat dibandingkan isotop karbon lainnya. Dengan cara ini, kita bisa mengukur isotop tersebut dan menentukan berapa banyak kandungannya dalam sampel. Dari  situ, kita bisa menghitung umur sampel.”

Guna mendapatkan sampel manuskrip itu, Hodgins mengunjungi Universitas Yale dimana sebelumnya para konservator telah mengidentifikasi halaman-halaman manuskrip yang tak bisa diotak-atik itu dan menjadi sampel yang tercocok untuk diteliti.

“Saya duduk menghadap Manuskrip Voynich, dengan hati-hati menyayat satu bagian perkamen mulai dari ujung halaman dengan pisau bedah,” kata Hodgins.

Dia memotong empat sampel dari empat halaman yang masing-masing berukuran sekitar 1 sampai 6 milimeter, lalu dibawanya ke laboratorim di Tucson di mana keempatnya dibersihkan.

“Karena kami mengambil sampel dari tengah halaman, kami perkirakan ada banyak tinta diserap,” jelas Hodgins. “Plus, jika manuskrip itu berubah di setiap sudut, maka titik sampling pada halaman-halaman ini kemungkinan tak berada di ujung namun di belakang. Ini berarti titik-titik itu mudah melekat.”

“Metode modern yang kami gunakan untuk menaksir umur material itu begitu sensitif,” katanya.

Sangat menakjubkan

Berikutnya, sampel dibakar untuk melepas materi dari senyawa-senyawa yang tak diinginkan sehingga hanya menyisakan konten karbon seperti debu grafit kecil di dasar botol.

“Pada penaksiran umur radiokarbon, sistem keseluruhan kebanyakan orang bekerja di tingkat ini. Dan untuk mendapatkan waktu yang tepat, dituntut banyak keahlian,” katanya.

“Dari awal sampai akhir, analisis ini membutuhkan keahlian arkeologis, pengalaman biokimia dan kimiawi, kami butuh pakar-pakar fisika, insinyur dan ahli statistik. Ini adalah satu kenikmatan berkarya di mana kami semua bekerjasama mencapai tujuan bersama.”

Tim Universitas Arizona berhasil menghasilkan taksiran umur Manuskrip Voynich yang ternyata lebih tua 100 tahun.  Taksiran ini sekaligus membunuh hipotesis-hipotesis sebelumnya mengenai asal dan sejarah manuskrip tersebut.

Di tempat lain, para pakar menganalisis tinta dan lukisan yang membentuk tulisan dan gambar asing dalam manuskrip itu.

“Akan baik sekali jika kami secara langsung dapat mengukur radiokarbon dari tinta itu, namun pekerjaan ini luar biasa sulit. Pertama, karbon-karbon itu berada di permukaan dalam jumlah yang bisa ditaksir,” kata Hodgins. “Konten karbon biasanya sangat rendah. Lagi pula, tinta sampling membebaskan karbon dari perkamen jauh di luar kemampuan kami untuk mengetahuinya.

Akhirnya diketahui beberapa tinta tak berbasis karbon, namun berasal dari mineral tanah. Mineral-mineral ini inorganik sehingga tidak mengandung karbon apapun.”

“Diketahui bahwa warna-warnanya konsisten dengan palet era Renaisans yang mendominasi zaman itu. Namun ini tak menjelaskan apapun kepada kami.”

Hodgins menjelaskan bahwa di luar aspek penanggalan adalah bukan keahliannya.  Dia hanya mengakui sebagai orang yang terpesona oleh manuskrip kuno itu, seperti semua orang yang pernah berusaha menguak sejarah dan makna manuskrip itu.

“Teks itu menunjukkan karakteristik aneh seperti penggunaan kata yang berulang atau pertukaran huruf dalam satu sekuens. Keanehan-keanehan seperti itu membuat manuskrip ini sulit sekali dipahami artinya,” paparnya.

“Ada berbagai tipe kode yang memuat arti tersembunyi dalam kekosongan (makna). Jadi mungkin kode ini kebanyakan tidak berarti apa-apa. Ada kode tua di mana Anda memiliki selembar kertas dengan lubang-lubang yang secara strategis berada di dalamnya. Dan manakala lubang-lubang ini mengapung di atas tulisan, maka Anda membaca huruf pada lubang-lubang itu.”

“Siapa yang tahu tulisan apa dalam manuskrip itu, namun tampaknya ini berkaitan dengan rangkaian topik yang agaknya berhubungan dengan kimia. Kerahasiaan kadangkala dihubungkan dengan kimia, sehingga akan konsisten dengan kebiasaan itu jika ilmu pengetahuan yang termuat dalam manuskrip itu terpecahkan.

Tapi yang kami punya adalah gambar-gambar. Lihat gambar-gambar itu, Apa semua berkaitan dengan tumbuhan? Organisme laut? Astrologis? Tak ada yang tahu.”

“Saya melihat manuskrip itu begitu menakjubkan, bagaikan jendela menuju pemikiran yang amat menarik. Manuskrip ini adalah teka-teki yang tak seorangpun mampu menerkanya, dan siapa sih yang tidak suka teka teki?”  (*)

disadur Jafar Sidik dari “Mysterious Voynich Manuscript Dates Back to Early 15th Century” dalam Science Daily, 10 Februari 2011

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © 2011

About these ads

0 Responses to “IpTek : Planet Mirip Bumi dan Tulisan Alien”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,261,682 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: