03
Feb
11

Politik : Krisis Mesir

Rabu, 02/02/2011 12:14 WIB
Krisis Politik Mesir (1)
Mubarak, Rezim Zalim Pasti Terguling
Iin Yumiyanti – detikNews


Jakarta – Ini hari kesembilan dari hari-hari kemarahan yang membara di Mesir. Setelah lebih 150 orang tewas, satu juta warga Mesir, tadi malam, berdemo. Tuntutan mereka makin keras Hosni Mubarak harus turun dari kursi presiden. Namun Sang Firaun itu bergeming. Ia masih ngeyel tidak mau mundur. Ia masih mencoba melakukan tawar menawar politik untuk menyelamatkan kepentingannya.

Ketika malam semakin malam, jumlah demonstran tidak berkurang. Jam malam tidak digubris. Demonstran di Kairo dan Alexandria semakin bertambah. Mubarak muncul berpidato di televisi. Dalam siaran langsung itu, sang presiden yang sudah mencengkeram Mesir selama 30 tahun itu tidak mau menyerah pada tuntutan sejuta demonstran.

Mubarak mengatakan, dirinya ingin mengakhiri jabatannya sebagai Presiden Mesir dalam suasana damia, tanpa kekerasan. “Saya menginginkan suasana damai dalam transisi kepemimpinan di Mesir,” ujarnya.

Pria yang memerintah Mesir sejak 14 Oktober 1981 itu hanya menuruti permintaan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama untuk tidak akan mencalonkan diri dalam pemilu Mesir pada September 2011 nanti. “Langkah ini saya lakukan setelah sekian tahun saya memimpin Mesir. Ini demi rakyat yang saya cintai,” kata Mubarak.

Kengeyelan Mubarak tentu saja tidak menerbitkan simpati pada rakyat Mesir yang sedang memuncak kemarahannya itu. Mereka mencemooh sang presiden. Omongan sang presiden tak ubahnya hanya lelucon aneh saja. Bagaimana mungkin seorang diktator yang sudah begitu kejam selama pemerintahannya bisa menjamin terjadinya kedamaian?

Hingga dini hari massa tidak menyusut dan terus meneriakkan yel-yel yang menuntut Mubarak turun. Warga Mesir tidak sudi satu hari pun lagi dipimpin Mubarak. Mereka sudah muak dengan kemiskinan, pengangguran dan kekejaman rezim Mubarak. Kesenjangan kemiskinan di Mesir memang benar-benar mencolok mata. Angkutan publik begitu reot, sementara di jalanan yang sama melaju mobil pejabat yang begitu mewahnya.

Kemiskinan dan pengangguran di Arab termasuk Mesir memang sudah begitu akut. Data resmi menyebut pengangguran di dunia Arab mencapai 15 persen. Namun data sebuah kerjasama studi oleh Liga Arab dan Organisasi Pembangunan PBB (UNDP) menyatakan jumlah angka pengangguran anak muda di Arab mencapai 50 persen. Ini merupakan angka tertinggi di dunia. Menurut Managing Director IMF Dominique Strauss-Kahn, angka kemiskinan di Mesir pada Oktober hingga kuartal Desember mencapai 18 persen dari 80 juta penduduknya.

Kemiskinan, pengangguran dan otoriterisme sesungguhnya tidak beranjak dari Mesir sejak 30 tahun lalu. Hari-hari kemarahan yang kini membara di Mesir sesungguhnya sudah pernah terjadi pada masa Mesir diperintah Anwar Sadat. Pada zaman presiden yang menjadi superstar itu, juga 160 warga Mesir tewas karena berdemo memprotes pengurangan subsidi. Pada 30 tahun lalu itu rakyat  Mesir juga muak pada korupsi dan kesenjangan kemiskinan yang begitu tinggi.

Ternyata Hosni Mubarak tidak belajar pada Sadat. Sungguh sangat disayangkan bila Mubarak berakhir tragis seperti pendahulunya yang ditembak mati tersebut. Padahal pada awal pemerintahannya menggantikan Sadat, Mubarak menuai banyak pujian. Mubarak saat itu adalah harapan besar Mesir. Pada Oktober 1981 itu, ia dikenal sebagai orang yang hidup sederhana, bersih dan tidak korup. Dia memenuhi harapan banyak orang bahwa korupsi di Mesir akan hilang.

Saat berbicara pada parlemen, 8 November 1981, dengan suara tegas Mubarak menjanjikan membasmi korupsi tingkat atas. Pria kelahiran Kafr-El Meselha, Al Monufiyah, 4 Mei 1928 itu menyatakan dia akan berusaha mengubah praktek tidak baik dalam aparat pemerintah.

Tidak hanya berbicara, Mubarak juga melakukan tindakan untuk memperbaiki demokrasi Mesir. Di masa awal pemerintahannya, ia membebaskan 31 tahanan politik yang ditahan Sadat. Para tahanan politik itu, termasuk Mohamed Heikal, bahkan dijamunya ke Istana Presiden. Heikal, bekas redaktur Al Ahram yang menulis buku tentang Anwar Sadat berjudul Kemarau Kemarahan itu pun memuji Mubarak. “Ini suatu hal besar,” kata Heikal saat itu.

Tapi lihatlah sekarang. Mubarak yang dulu dipuja-puja itu tidak ada bedanya dengan Sadat. Mubarak juga menjadi bukti betapa lidah tidak bertulang, apalagi lidah yang telah mencecap nikmatnya kekuasaan. Pria yang awalnya antikorupsi itu sekarang menjadi pelaku korupsi. Selama 30 tahun berkuasa, orang yang awalnya dikenal bersih itu tidak membuat rakyat Mesir sejahtera. Al Infitah, politik pintu terbuka, warisan Sadat yang diteruskan Mubarak untuk menggalakkan investasi modal Mesir hanya membuat makmur presiden, keluarga, dan para jenderal yang menjadi anteknya.

Menurut harian Alkhabar, jumlah kekayaan Mubarak dan keluarganya mencapai sekitar US$ 40 miliar atau sekitar Rp 360 triliun. Sementara rakyat Mesir menderita dan sengsara. Tidak hanya menganggur, kebebasan mereka pun diberangus. Bila Sadat menahan 1.500 orang, Organisasi HAM mesir  menuding Mubarak menahan sekitar 4.000 orang tanpa ada proses peradilan.

Dalam ‘Kemarau Kemarahan’, Heikal menulis, tragedi pembunuhan Sadat membuktikan bahwa orang Mesir, sebagaimana begitu sering terbukti pada masa lalu mampu mengambil alih dalam keadaan darurat. Pernyataan Heikal terbukti, zaman Mubarak pun, rakyat Mesir kembali mengambil alih keadaan darurat itu. Heikal benar, bahwa di dalam lubuk kesadaran setiap orang kecil bahwa bencana terbesar yang dapat dialami negara adalah rusaknya tatanan aturan.

Maka awal Januari 2011, meniru Tunisia yang sukses dengan Revolusi Melati, aktivis menyerukan rakyat Mesir untuk melakukan gerakan bersama melawan kemiskinan, pengangguran, korupsi pemerintah, dan kekuasaan  Mubarak. 17 Januari, seorang pria membakar diri di luar gedung parlemen. 25 Januri, rakyat mulai turun ke jalan dalam jumlah besar. Mereka menyebut hari itu sebagai “The Day of Anger’, hari kemarahan.

Dan ini hari kesembilan hari kemarahan. Satu juta lebih rakyat Mesir makin keras ingin menggulingkan Mubarak. Kemarahan rakyat Mesir merupakan peringatan bahwa rakyat akan selalu menggulingkan penguasa yang zalim, penguasa yang memperkaya diri tapi tidak mampu mensejahterakan rakyatnya.
(iy/diks)

Rabu, 02/02/2011 14:12 WIB
Krisis Politik Mesir (2)
Kemarau Kemarahan Memuncak di Mesir
Deden Gunawan – detikNews


reuters

Jakarta – Sejumlah pria bersenjata tajam kini menjadi pemandangan umum di tiap-tiap perkampungan di beberapa daerah di Mesir, terutama Kairo, ibukota Mesir. Mereka berjaga-jaga dari aksi pengrusakan dan penjarahan.

Pasca demonstrasi besar-besaran di Mesir memang membuat kondisi di negeri piramid tersebut mencekam. Sejumlah jalan di Kairo, Iskandaria, dan Suez dipenuhi ribuan pengunjuk rasa.

Sejumlah gedung milik pemerintah dan beberapa pusat perbelanjaan tidak luput dari amuk massa dan penjarahan. Bahkan empat penjara di negeri tersebut berhasil dijebol oleh ribuan orang bersenjata. Akibatnya, ribuan narapidana berhasil melenggang dari penjara.

Kaburnya ribuan napi dari penjara itulah yang dikhawatirkan warga. Sehingga banyak warga yang berjaga-jaga dengan golok dan pedang lantaran khawatir para napi lari ke wilayah mereka.

“Warga takut ada penjarahan. Tapi terhadap orang asing mereka tetap ramah. Jadi kami tidak merasa khawatir,” jelas Ardika, mahasiswa asal Indonesia yang tinggal di Nasser City, Kairo, Mesir, kepada detikcom.

Mahasiswa S2 jurusan ilmu hadis di Universitas Al-Azhar, Kairo, ini menjelaskan, saat ini kondisi para mahasiswa yang tinggal di Nasser City baik-baik saja. Sekalipun sempat mengalami isolasi dengan dunia luar selama beberapa hari.

Ardika mengatakan, WNI di Mesir baru bisa berkomunikasi lewat telepon sejak 2 hari lalu. Karena sambungannya diputus oleh otoritas setempat sejak pekan lalu. Sementara internet sampai saat ini belum tersambung. Begitu juga dengan siaran televisi luar negeri seperti CNN dan Al Jazeera belum bisa disaksikan masyarakat Mesir. Hanya siaran TV lokal yang bisa disaksikan warga Mesir.

Soal aksi demo besar-besaran dan kerusuhan yang terjadi di Mesir, salah satunya disebabkan kekecewaan masyarakat terhadap pemerintahan otoriter yang dijalankan Presiden Hosni Mubarak. “Kondisi pemerintahan Hosni Mubarok mirip-mirip dengan pemerintah Soeharto di Indonesia. Bedanya kalau di Mesir posisi militer netral tidak berpolitik seperti zaman Pak Harto dulu,” ujarnya.

Selain otoriter, kesenjangan yang sangat dalam antara masyarakat miskin dan kaya juga jadi penyebab. Kesenjangan tersebut bisa terlihat dengan buruknya angkutan umum di Mesir, seperti taksi dan angkutan umum lainnya yang sudah reot. Sementara  orang-orang kaya di sana banyak menggunakan mobil mewah. “Itu keluhan yang sering saya dengar dari sejumlah warga di sini,” ungkapnya.

Nah, kondisi inilah yang jadi salah satu pemicu kekesalan warga Mesir terhadap pemerintah. Terinspirasi Revolusi Melati yang sukses di Tunisia, aktivis Mesir menyerukan perlawan atas Mubarak. Pada 17 Januari, meniru Mohamed Bou’aziz, seorang anak muda Tunisia yang membakar dirinya sendiri, pada 17 Januari, seorang pria membakar diri di luar gedung parlemen Mesir.

Pada 24 Januari, Mohamed ElBaradei, peraih Nobel Perdamaian dari Mesir, menyerukan bahwa Mesir harus bisa melakukan apa yang telah dilakukan rakyat di Tunisia. Maka pada 25 Januri, rakyat mulai turun ke jalan. Mereka menyebut hari itu sebagai “The Day of Anger’, hari kemarahan. Kemudian kemarahan rakyat Mesir tidak terbendung. Bila Mohamed Heikal menulis buku ‘Kemarau Kemarahan’, saat ini kemarau kemarahan di Mesir tengah panas-panasnya. Hari-hari berganti dengan demo dan bentrokan warga dengan polisi.

Pada 26 Januari, di Kairo seorang pengunjuk rasa dan seorang polisi tewas dalam bentrokan. Di Suez, 55 demonstran dan 15 polisi cedera. 27 Januari, ratusan pengunjuk rasa bentrok dengan polisi di Suez dan Ismailiya, seorang pemuda ditembak mati oleh polisi di kota Sinai Syekh Zuwayed.

28 Januari, ElBaradei bergabung dalam demo ribuan orang setelah salat Jumat di Kairo. Ia mengatakan siap untuk memimpin transisi. Sementara Mubarak makin keras, ia memberlakukan jam malam dan meminta tentara untuk membantu polisi. Keesokan harinya, 29 Januari, jam malam dicueki, puluhan ribu demonstran tetap turun ke jalan. Bentrokan kembali terjadi. Data korban tewas dinyatakan 51 orang. El Baradei memuntut Mubarak segera angkat kaki dari Mesir. Yusuf al-Qaradawi, ulama berpengaruh, mendesak Mubarak untuk mundur demi kebaikan negara.

Menghadapi situasi yang kian berbahaya, Mubarak lantas berusaha menarik simpati dengan melantik Kepala Intelijen Mesir Omar Suleiman sebagai wakil presiden. Pengangkatan Wapres ini merupakan pertama kalinya dalam kepresidenan Mubarak selama 30 tahun.

30 Januari, ribuan narapidana keluar dari penjara dan sedikitnya 125 orang dilaporkan tewas. 1 Februari, sejuta rakyat Mesir berdemo menuntut Mubarak mundur. Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM) Navi Pillay menyatakan sedikitnya 300 orang tewas dalam aksi anti Mubarak tersebut.Mubarak menyatakan tidak mau mengundurkan diri. Dia hanya tidak mencalonkan diri lagi pada Pemilu yang akan digelar pada September 2011.

2 Februari, massa terus berdemo dan tidak menggubris tawaran Mubarak. Tuntutan mereka hanya satu, Mubarak harus segera mundur dari jabatannya, paling lambatl 4 Februari. Hari itu disebut-sebut akan menjadi “Jumat keberangkatan” bagi Mubarak. Para demonstran berencana akan berkumpul di istana kepresidenan pada Jumat, 4 Februari sore waktu setempat untuk memaksa Mubarak mundur.

Inilah hari-hari terakhir dari rezim Mubarak. Ia hanya tinggal menghitung hari saja untuk jatuh. Meski sekarang ia masih menolak mundur, sejatinya itu hanyalah taktik untuk mengulur waktu bagi Mubarak untuk menyelamatkan kepentingannya. Pada dasarnya Mubarak sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Militer yang menjadi sandarannya kini telah berpihak pada rakyat dengan tidak melakukan kekerasan dalam aksi sejuta umat itu.

“Mubarak sudah tidak lagi memiliki kekuatan. Sekarang permasalahannya adalah siapa yang akan menggantikan Mubarak. Ini yang masih menjadi negosiasi kalangan elit di sana,” kata pengamat Timur Tengah Universitas Indonesia Hamdan Basyar.

Namun taktik tarik ulur Mubarak bisa menjadi bumerang. Mubarak bisa bernasib tragis seperti Anwar Sadat, presiden sebelumnya yang ditembak mati saat menghadiri parade militer. “Kalau masih ngeyel keterlaluan juga. Dia bisa kayak Anwar Sadat ditembak mati,” kata Hamdan. (ddg/iy)

Rabu, 02/02/2011 15:35 WIB
Krisis Politik Mesir (3)
Derita Mesir Dari Naser Hingga Mubarak
Deden Gunawan – detikNews


BBC

Jakarta – Perjalanan kekuasaan di Mesir selalu diwarnai aksi penggulingan. Sejak merdeka secara terbatas dari jajahan Inggris 1922,  belum pernah suksesi pimpinan Mesir dilakukan secara wajar alias melalui pemilihan yang damai.

Saat Mesir masih berbentuk kerajaan konstitusional di bawah Imperium Osmani, Raja Farouq, yang berasal dari dinasti Ali Pasha digulingkan pada 23 Juli 1952. Penggulingan Farouq dilakukan Gamal Abdel Naser, Anwar Sadat dan Mohammad Naguib. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Revolusi 23 Juli, yang akhirnya dijadikan Hari Nasional Mesir.

Sejak itu Mesir berubah menjadi republik setahun kemudian, 18 Juli 1953, dengan Jenderal Mohammad Naguib sebagai Presiden. Tapi pemerintahan Naguib tidak berjalan lama. Pasalnya, belum genap setahun, 25 Februari 1954, Jenderal Mohammad Naguib digulingkan oleh koleganya, Gamal Abdel Naser.

Naser yang merupakan mantan pimpinan Angkatan Bersenjata Mesir menjalankan pemerintahan dengan sangat otoriter. Semua lawan-lawan politiknya tidak bisa berkutik dibuatnya. Jangan heran kalau dua tahun kemudian ketika digelar pemilihan presiden, Naser dengan mudah bisa melenggang. Hal ini disebabkan hanya dia satu-satunya calon yang ada alias calon tunggal.

Begitu berkuasa secara penuh Naser berupaya membangkitkan Nasionalisme Arab dan Pan Arabisme, menasionalisasi terusan Suez yang mengakibatkan krisis Suez yang membuat Mesir berhadapan dengan Perancis, Inggris dan Israel yang memiliki kepentingan terhadap terusan itu.

Krisis ini berakhir dengan dikuasainya terusan Suez oleh Mesir berdasarkan keputusan internasional. Setelah itu, Naser gencar membangun proyek infrastruktur besar-besaran, dengan bantuan pemerintah Uni Soviet (kini Rusia).

Setelah 17 tahun memimpin, Naser sebenarnya sudah berniat mengundurkan diri dari dunia politik. Terutama pasca kekalahan Mesir dalam Perang Enam Hari dengan Israel pada tahun 1967. Namun para pendukungnya tetap ngotot meminta Naser untuk
tetap maju. Naser pun maju sebagai calon tunggal dan terpilih kembali sebagai presiden.

Naser akhirnya berhenti dari jabatannya sebagai peresiden pada 1970, ketika dia meninggal akibat penyakit jantung yang dideritanya. Akhirnya estafet kekuasaan Mesir jatuh ke tangan Anwar Jenderal Besar Mohammed Anwar Al Sadat, yang saat
itu menjabat sebagai Wakil Presiden Mesir.

Sejak resmi memimpin Mesir 15 Oktober 1970, sistem pemerintahan yang militeristik juga dijalankan Sadat. Begitu juga dengan sikap pemerintahan Mesir terhadap Israel. Sadat dikenal sangat berani dalam menghadapi pasukan zionis yang didukung Inggris dan Prancis. Peperangan dengan Israel itu akhirnya dilakukan Sadat pada 1973, yang dikenal dengan Perang Yom Kippur.

Dalam peperangan tersebut Mesir berhasil merebut kembali semenanjung Sinai, yang dicaplok Israel ketika krisis Terusan Suez 1956 dan Perang Enam Hari. Kemenangan itu kemudian membuat pihak barat dan Israel mau diajak berunding dalam Perjanjian Camp David, yang digagas Jimmy Carter dan Henry Kissinger.

Namun sekalipun berhasil merebut kembali bukit Sinai dan Jerusalem Timur, hasil perjanjian Camp David ditentang kaum fundamentalis dan pergerakan Islam, baik di negara-negara Arab maupun di dalam negeri Mesir. Sebab Sadat dinilai telah mencederai masyarakat Arab karena mau berunding dengan Israel. Apalagi setelah itu sikap Sadat terlihat toleran dengan Israel dengan berkunjung ke negara zionis tersebut pada 1977.

Kekecewaan ini sempat menimbulkan gejolak di dalam negeri Mesir. Organisasi pergerakan Islam di Mesir mulai sering mengkritisi kepemimpinan Sadat. Tapi kritikan para aktivis Islam itu ditanggapi dengan sikap represif oleh Sadat.

Banyak anggota pergerakan Islam, yang dimotori kalangan pelajar dan mahasiswa ditangkapi. Penangkapan dan penahanan itu menyebabkan Sadat dikecam di seluruh dunia atas pelanggaran HAM yang dilakukannya.

Tapi penangkapan dan penahanan yang dilakukan Sadat tidak membuat para penentangnya surut. Pada 6 Oktober 1981, dalam sebuah parade militer Anwar Sadat akhirnya ditembak mati oleh peserta parade militer. Pelakunya merupakan anggota Jihad Islam, organisasi muslim Mesir berhaluan keras yang menentang perjanjian damai Mesir dengan Israel.

Anwar Sadat kemudian digantikan oleh Wakil Presiden Hosni Mubarak. Pria kelahiran Kafr-El Meselha, Al Monufiyah, 4 Mei 1928, resmi jadi Presiden Mesir 14 Oktober 1981. Mantan Komandan Angkatan Udara Mesir itu saat memerintah juga dikenal sangat otoriter.

Di bawah Konstitusi Mesir 1981, Presiden Mubarak memiliki kuasa yang luas atas Mesir. Konstitusi Mesir 1981 merupakan keadaan darurat yang diberlakukan sejak kelompok Islam garis keras membunuh Presiden Anwar Sadat pada 1981.

Sejak Mubarak jadi presiden banyak anggota organisasi Islam garis keras yang ditangkapi dan ditahan. Mereka umumnya selalu memprotes sikap Mubarak yang berusaha netral terhadap konflik Israel-Palestina.

Setahun terakhir bahkan Mubarak juga menangkapi sejumlah aktivis yang menyerukan reformasi di pemerintahan Mesir. Mereka bukan berasal dari organisasi Islam berhaluan keras namun Mubarak tetap menggunakan konstitusi 1981 sebagai dalil penangkapan para aktivis tersebut.

Teranyar Mubarak juga melakukan tindakan refresif dalam menyikapi aksi demo besar-besaran terhadap dirinya. Tidak kurang 100 pengunjuk rasa tewas dalam aksi demo yang berlangsung sejak awal Januari 2011. Sementara ratusan orang lainnya luka-luka akibat ditembak dan dipukuli aparat keamanan Mesir.

Pergantian pemimpin Mesir nyaris tidak memperngaruhi kehidupan rakyatnya. Selama pemerintahan Naser, Sadat dan Mubarak, rakyat Mesir hidup dalam kekuasaan yang otoriter. “Ketiganya dari militer. Ketiganya otoriter dengan gayanya masing-masing,” kata pengamat politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI) Hamdan Basyar.

Kini nasib Hosni Mubarak sedang di ujung tanduk. Mubarak dipastikan tidak akan lagi memimpin Mesir pada pemerintahan mendatang. Apakah penggantinya nanti juga berasal dari kalangan militer? Dan apakah presiden Mesir mendatang tetap akan
berlaku represif terhadap pengritiknya? Kita tunggu saja. (ddg/iy)

Rabu, 02/02/2011 18:27 WIB
Krisis Politik Mesir (4)
Siapa El Baradei, Siapa Omar Suleiman?
M. Rizal,Iin Yumiyanti – detikNews


El Baradei (reuters)

Jakarta – El Baradei pernah bercanda ia tengah mencari pekerjaan. Saat itu, 27 April 2010, mantan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) PBB itu tengah berbicara di Harvard Kennedy School of Government. Ia kemudian berkata akan berusaha menjadi agen perubahan dan advokasi untuk demokrasi dalam politik Mesir.

Pada April tahun lalu itu, meskipun meraih Nobel nama El Baradei tidak banyak dikenal rakyat Mesir. Time.com pada 20 Februari 2010 menulis warga Mesir tidak peduli dengan El Baradei. Mohamed Abbas (25) , seorang sopir taksi di Mesir mengaku tidak kenal El Baradei. Bagi Abbas, El Baradei hanyalah seorang calon presiden seperti halnya Muhamad Gamal Mubarak, anak Hosni Mubarak dan Ketua Liga Arab Amr Musa. “Kebanyakan dari mereka, bagaimana pun, adalah penjahat,” kata Mohamed Abbas.

Tapi kini siapa yang tidak kenal El Baradei? Pria kelahiran 17 Juni 1942 itu telah menemukan pekerjaanya, ia benar-benar menjadi agen perubahan. Ia memimpin oposisi melawan Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun. Pada 28 Januari, El Baradei bergabung dengan 2 ribu orang yang menuntut Mubarak segera mengakhiri kekuasaannya.

Dalam demo usai salat Jumat di alun-alun dekat masjid di daerah Giza itu, para demonstran melemparkan sepatu pada poster Mubarak. Ini merupakan tindakan yang terbilang langka di Mesir. “Pergilah! Pergilah (ke luar negeri), Mubarak! Pesawat sedang menunggumu!” teriak demonstran. Demo itu berakhir bentrok antara massa dengan polisi. El Baradei dikabarkan ditangkap.

Mohamed El Baradei yang lebih banyak hidup di luar negeri pulang ke Mesir pada Februari 2010. Ia sebelumnya bergabung dengan Badan Tenaga Atom Internasional PBB (IAEA) tahun 1984. Ia menjabat selama tiga masa jabatan di markas IAEA di Wina setelah Amerika akhirnya mendukungnya menjadi kepala IAEA, walaupun hubungan antara Washington dan IAEA sering mengalami ketegangan dalam beberapa tahun terakhir.

El Baradei sepakat dengan pemerintahan mantan Presiden AS George W Bush mengenai sejumlah masalah terkait senjata nuklir, tetapi dia tidak segan berbeda pandangan. Dia sering mengecam sikap mendua sejumlah negara yang memiliki senjata nuklir, tetapi mencegah negara lain membangun senjata nuklir. Mantan diplomat karir itu memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2005 atas upayanya mencegah proliferasi senjata nuklir.

Ia mengakhiri tugasnya dari IAEA pada November 2009. Setelah pensiun dari IAEA, El Baradei menyatakan akan ikut pemilihan presiden Mesir 2011, namun akan tergantung pada jaminan sebuah pemilu yang adil.Selanjutnya lulusan Universitas Kairo dan New York University School of Law itu makin lantang mengkritik pemerintahan Mubarak. Pada Juni 2010, pendukung El Baradei berunjuk rasa di Fayoum, sebelah selatan Kairo mengikuti seruan peraih Nobel itu untuk mengampanyekan perubahan konstitusi Mesir. Pada September 2010, El Baradei menyerukan untuk memboikot pemilihan anggota parlemen dan mengatakan kepemimpinan Mesir akan berubah tahun depan.

Kini langkah El Baradei untuk menduduki orang nomor satu di Mesir kian tidak terbendung. Namun ia harus terlebih dulu berhadapan dengan Omar Suleiman. Dialah orang yang tiba-tiba diangkat menjadi wakil presiden. Selama 30 tahun berkuasa, Mubarak tidak mau mendapat saingan sehingga tidak mengangkat satu pun wapres. Namun pada 29 Januari 2011 untuk membujuk rakyat Mesir yang sedang marah, ia tiba-tiba menunjuk Suleiman sebagai Wapresnya. Padahal sebelumnya Mubarak dikabarkan tengah mempersiapkan Gamal, putranya untuk menggantikan dirinya.

Suleiman yang berusia 74 tahun itu sebelumnya adalah Kepala Intelijen Mesir. Ia orang kepercayaan Mubarak karena ia pernah menyelamatkan sang presiden dari percobaan pembunuhan di Addis Ababa, ibukota Ethiopia, saat keduanya akan menghadiri KTT Afrika pada bulan Juni 1995.

Suleiman menghabiskan karirnya di bidang militer. Ia masuk Akademi Militer Kairo pada 1954 dan ikut perang melawan Israel pada 1967 dan 1973. Sejak tahun 1980-an, Suleiman yang sebelumnya sibuk di infanteri beralih ke intelijen militer. Pada tahun 1993, Suleiman menjadi kepala badan intelijen Mesir atau Egyptian General Intelligence Services (EGIS).

Nama Suleiman mulai diperbincangkan dunia internasional pada tahun 2000 saat ia tampil menengahi antara faksi-faksi Palestina dan Israel. Suleiman menjadi mediator menyusul pecahnya intifada kedua. Dia sukses menegosiasikan gencatan senjata singkat pada bulan Juni 2003. Pada 2009, Foreign Policy Magazine menobatkan Suleiman sebagai salah satu dari lima agen rahasia paling kuat dari Timur Tengah.

Kini, El Baradei dan Suleiman tampil sebagai kandidat kuat yang akan menggantikan Mubarak. Siapa yang akan dipilih rakyat Mesir dan mendapat dukungan internasional?

Pengamat politik Timur Tengah Hamdan Basyar menyatakan, kemungkinan besar Suleiman akan menggantikan Mubarak untuk sementara. Ia yang kini menjadi wapres, otomatis akan menjadi presiden bila Mubarak mundur. Maka Suleiman akan memimpin pemerintahan Mesir transisi hingga digelar pemilu. Dalam pemilu itulah akan terjadi pertarungan sesungguhnya antara Suleiman dan El Baradei.

Baik El Baradei maupun Suleiman sebenarnya memiliki bebannya tersendiri untuk memimpin Mesir. El Baradei akan menghadapi masalah akar rumput. Sementara Suleiman akan mendapat beban sebagai anteknya Mubarak. Selama ini hidup El Baradei lebih banyak di luar negeri. El Baradei pulang kampung dengan memanfaatkan situasi untuk memainkan politik di negaranya itu. Dengan posisi El Baradei seperti itu, bisa diartikan dia sangat kurang memperoleh dukungan dari akar rumput.

“Kalau dia berkuasa dia harus banyak negosiasi dengan pendukungnya. Dia tidak bisa melakukan hal-hal yang keras pada pendukungnya peseperti kelompok Ikhwanul Muslimin yang sekarang mendukung dia,” kata Hamdan.

Menurut Hamdan, El Baradei mungkin akan lebih demokratis dibanding Suleiman, tapi mungkin kurang tegas. Sementara soal Suleiman, Hamdan yakin ia tidak akan mampu berkuasa lama di Mesir karena dinilai sebagai antek Mubarak. “Kecuali bila militer melakukan kudeta dan menyatakan darurat militer, maka itu pemerintahan akan lain,” prediksi Hamdan.

Hamdan memunculkan Amru Musa sebagai tokoh lain yang layak diperhitungkan. Amru Musa yang kini menjadi Ketua Liga Arab merupakan orang di tengah-tengah antara El Baradei yang kurang mengakar dan Suleiman yang akrab dengan rezim Mubarak. Musa yang pernah menjadi Menlu Mesir itu mempunyai dukungan yang baik di dunia internasional.

“Dia itu cukup berhasil dalam kepemimpinan di Liga Arab. Secara regional, dia lebih dikenal dibandingkan Suleiman, di dunia barat juga dikenal. Jadi dia itu di antara Suleiman dan El Baradei. Dia di tengah-tengah. Tapi munculnya dia tergantung negosiasi yang sekarang tampaknya masih dilakukan kalangan elit Mesir,” demikian Hamdan.

(zal/iy)

Rabu, 02/02/2011 18:41 WIB
Krisis Politik Mesir (5)
Hamdan Basyar: Ngeyel, Hosni Mubarak Bisa Ditembak Mati
Iin Yumiyanti – detikNews


Mubarak (AFP)

Jakarta – Krisis yang melanda Mesir menjadi peringatan bagi para penguasa agar bila berkuasa ingat rakyatnya. Hosni Mubarak yang sudah 30 tahun berkuasa dipaksa turun oleh rakyatnya karena memperkaya diri sendiri sementara rakyatnya sengsara.

Mubarak hingga kini masih ngotot tidak mau mundur meski satu juta lebih rakyat Mesir memaksanya turun. Rakyat Mesir sudah memberikan ultimatum hingga 4 Februari mendatang. Bila ‘Sang Firaun’ itu tidak kunjung mau mundur, istana akan dikepung. Bagaimana nasib Mubarak?

“Kalau masih ngeyel keterlaluan juga. Ya dia bisa saja kayak Anwar Sadat ditembak mati,” prediksi pengamat politik Timur Tengah Hamdan Basyar.

Berikut wawancara detikcom dengan Hamdan Basyar:

Menyimak perkembangan Mesir akhir-akhir ini, sejuta orang berdemo minta Hosni Mubarak mundur, militer menyatakan tidak akan menembaki demonstran. Posisi Hosni Mubarak seperti apa? Apakah ia masih cukup kuat untuk bertahan?

Kalau melihat perkembangan akhir-akhir ini, kelihatannya Hosni Mubarak akhirnya akan mundur. Kekuatannya ada di militer. Kalau militer tidak mendukung dia lagi, militer lebih berpihak pada masyarakat banyak, artinya Mubarak sudah tidak lagi
memiliki kekuatan.

Sekarang permasalahannya adalah siapa yang akan menggantikan Mubarak. Ini yang masih menjadi negosiasi kalangan elit di sana. Siapa yang akan menggantikan Mubarak, apakah penggantinya wapres baru, Omar Suleiman, atau dari kalangan oposisi El Baradei atau Sekjen Liga Arab Amru Musa ini kelihatannya masih menjadi negosisiasi.

Apakah ada faktor ekternal yang ikut memperalot negosiasi tersebut?

Ada faktor eksternal juga. Dari ekternal, bagaimanapun AS punya kepentingan di Timur Tengah. Mubarak itu kan sahabat AS dan Israel. Kalau penggantinya itu orang yang jauh dari kepentingan Barat dan Israel akan berisiko. Mesir itu kan sementara ini jadi jembatan Israel dengan dunia Arab (Palestina), kalau penggantinya dari Ikhwanul Muslimin yang merupakan kelompok keras, Israel akan kesulitan untuk melakukan diplomasi dengan Palestina.

Kalau melihat sikap militer sekarang, apakah itu artinya mereka sudah tidak lagi mendukung Mubarak?

Kelihatannya militer mengurangi dukungan karena posisinya dilematis bagi militer. Kalau mendukung Mubarak, untuk membubarkan banyak orang pastinya harus dengan kekerasan, sulit membubarkan massa begitu banyak tanpa timbul kekerasan. Sementara dunia kan mengecam kekerasan, AS, Eropa sudah mengatakan jangan gunakan kekerasan. Pimpinan dari kalangan militer sepertinya masih melihat negosiasi siapa gantinya Mubarak.

Soal pengganti Mubarak, antara Suleiman dan El Baradei siapa yang lebih kuat menggantikan Mubarak?

Kalau melihat posisi sekarang, Suleiman kan wapres, secara formal begitu Mubarak turun ia otomatis akan menggantikan Mubarak.

Kalau El Baradei yang sekarang jadi jembatan oposisi, dia kan orang yang sudah lama di luar dan sekarang pulang dan ikut memanfaatkan situasi. Aneh juga kalau dia langsung menjadi presiden. Peluangnya bila Mubarak mundur, akan dibentuk pemerintah transisi yang dipimpin Suleiman, baru kemudian akan digelar pemilu mungkin sekitar 6 bulan, di sini baru pertarungan yang sebenarnya antara Suleiman dan El Baradei terjadi untuk menjadi presiden Mesir.

Atau mungkin dicarikan tokoh lain seperti Ketua Liga Arab Amru Musa, dia dua bulan lagi selesai dari jabatan Liga Arab.

Jadi seperti itu, kecuali terjadi revolusi mungkin akan muncul El Baradei memimpin kekuasaan.

Peluang terjadinya revolusi seperti apa?

Ini tergantung pimpinan militer. Kalau aksi massa ini dibiarkan terus menerus, tak dicegah kemungkinan akan terjadi itu revolusi. Kalau dicegah, dilakukan tarik ulur sambil menyiapkan siapa yang akan memimpin pemerintahan sementara akan sulit terjadi revolusi. Misalnya dicapai kesepakatan Mubarak mundur dan meninggalkan negaranya, kemudian Suleiman memimpin pemerintahan sementara. Lantas pemerintahan sementara dibuat dengan memasukkan semua kalangan termasuk oposisi dengan merangkul El Baradei, mungkin akan sedikit meredam terjadinya revoluasi. Baru setelah pemerintahan sementara pertarungan berikutnya ketika Pemilu.

Mubarak sendiri kalau tetap bertahan tidak mau mundur akan seperti apa nasibnya? Apa akan seperti Anwar Sadat?

Kemungkinan si semakin kurang kekuatannya, kalau masih ngeyel keterlaauan juga. Ya dia bisa saja kayak Anwar Sadat ditembak mati. Tapi ini agak berbeda dengan Anwar Sadat, kalau Anwar Sadat dulu kan istana sampai dikepung, ini kan belum. Lapangan At Thahrir untuk demo itu mungkin seperti HI nya kita.

Bagaimana perbandingan pemerintahan Gamal Abdul Naser, Anwar Sadat dan Hosni MUbarak yang sama-sama otoriter?

Tiga-tiganya sama dari militer. Naser itu pernah menjadi kebanggaan Arab karena dia bisa mempersatukan Arab. Naser itu dekat dengan timur kebalikan dengan Sadat. Ketiganya otoriter dengan gayanya masing-masing.

Naser dan kawan-kawan menggulingkan Raja Farouq pada 1952 dan setelah menggantikan Mohammad Naguib, ia menjadi otoriter.
Kemudian sejak Sadat, kekuasaan ditata lebih demokratis dalam tanda kutip. Ketika Mubarak ini malah lebih otoriter lagi. Ia tidak mau disaingi, ia tidak mau mengangkat wapres, baru akhir-akhir ini saja dia mengangkat wapres. Dia tidak mau ada saingan, dia kan wapres saat Sadat presidennya, kemudian dia menggantikan Sadat.

Soal kebebasan pers, zaman Naser pers ditekan. Saat Sadat kebebasan pers dibuka tapi diawasi terus menerus hampir sama dengan Mubarak sekarang, pers bebas tapi dalam pengawasan, kalau ada yang bertentangan dengan pemerintah diberangus, mirip zaman Soeharto dululah.

Demokrasi seperti kebebasan mengeluarkan pendapat hampir tidak ada. Hanya sekarang sudah terlanjur karena mencontoh Tunisia.

Melihat profil para demonstran ini, apakah aksi ini murni dari rakyat Mesir?

Ya memang ada tudingan dunia barat ikut dalam aksi menurunkan Mubarak ini. Kalau melihat para demonstran ini adalah kalangan muda yang memang lahir di zaman Mubarak, orang-orang yang lahir di bawah kekuasaan Mubarak. Kalau penentang Mubarak sebelumnya kalangan ideologis dari Ikhwanul Muslimin, sekarang ini mereka kaum perkotaan yang tidak puas dengan adanya kemiskinan di mana-mana.

Adanya tudingan dunia luar ikut mempengaruhi aksi ini maka pemerintah berusaha menutup saluran (internet) untuk mencegah melebarnya aksi ini. Betul ada tidaknya kalangan luar saya tidak bisa memastikan, tapi bukan mustahil mereka ikut terlibat. Tapi permasalahannya sekarang luar terlibat karena punya kepentingan siapa yang menggantikan Mubarak. Setelah Mubarak turun, bila yang berkuasa kalangan ideologis, pasti dunia barat akan menghadapi masalah di Mesir terutama Israel.

Bagaimana kalau pengganti Mubarak adalah Suleiman?

Suleiman tak bisa lama berkuasa. Paling dia akan memimpin pemerintahan transisi. Saya tidak yakin dia bisa terus berkuasa walaupun dia dari kalangan intelijen. Dalam pemerintahan transisi, Suleiman tidak bisa berkuasa sendirian, ia harus mengikutsertakan kelompok lain. Kecuali bila militer melakukan kudeta dan menyatakab darurat militer, maka itu pemerintahan akan lain.

Bagaimana bila El Baradei yang menggantikan Mubarak?

Kan sebenarnya El Baradei itu orang yang pulang, dia lebih banyak hidup di luar negeri lalu pulang dan memanfaatkan situasi untuk main politik. Artinya akar rumputnya kurang. Kalau dia berkuasa dia harus banyak negosiasi dengan pendukungnya. Dia tidak bisa melakukan hal-hal yang keras pada pendukungnya seperti kelompok Ikhwanul Muslimin yang sekarang mendukung dia.

El Baradei mungkin akan lebih demokratis dibanding Suleiman, tapi mungkin kurang tegas.

Bagaimana kalau Amru Musa?

Amru Musa itu pernah menjadi menlu di Mesir, dia itu di dunia arab banyak dukungan cukup berhasil dalam kepemimpinan di Liga Arab. Secara regional, dia lebih dikenal dibandingkan Suleiman, di dunia barat juga dikenal. Jadi dia itu di antara Suleiman dan El Baradei. Dia di tengah-tengah.

Tapi munculnya dia tergantung negosiasi yang sekarang tampaknya masih dilakukan kalangan elit Mesir.

Apakah gejolak Mesir ini juga akan menular di negara timur tengah lainnya?

Semoga si tidak. Kasihan masyakatnya. Semoga para pemimpin itu sadar ada tuntutan masyarakat dunia agar mereka jangan berkuasa sewenang-wenang, agar mereka tahu diri. Ini pesan agar penguasa kalau berkuasa harus ingat rakyat. Kalau tidak bisa mensejahterakan rakyat ya akan digulingkan oleh rakyat. (iy/diks)

Rabu, 02/02/2011 09:12 WIB
Fahmi Salsabila: Jika Mubarak Bertahan, Kerusuhan Bisa Membesar di Mesir
Nurvita Indarini – detikNews


Jakarta – Sekian lama sejumlah negara di Timur Tengah berada dalam status quo. Namun pada 2011 ini, perubahan besar terjadi. Menyusul demonstrasi besar menyerukan reformasi total di Tusinia, penduduk Mesir melakukan hal serupa. Mereka ingin Hosni Mubarak yang telah berkuasa 30 tahun segera turun.

Menghadapi demonstrasi besar-besaran, Mubarak menunjuk Omar Suleiman sebagai wakil presiden. Hal ini pertama kali dilakukan Mubarak selama 3 dekade dia berkuasa. Mubarak pun melakukan perombakan kabinet, namun gelombang demonstrasi tidak juga reda.

Rupanya yang diinginkan masyarakat Mesir bukan sekadar reformasi namun revolusi. Mereka menginginkan Mubarak turun dan pergi meninggalkan Mesir. Hingga hari kedelapan demonstrasi, Mubarak masih belum mau meninggalkan kursi presidennya. Jika mengabaikan permintaan rakyat, dikhawatirkan kerusuhan besar akan terjadi di Mesir.

“Kalau dia kukuh mau bertahan, bisa-bisa ya dijatuhkan secara paksa, kerusuhan massa yang sangat besar bisa terjadi, sehingga banyak korban yang akan jatuh. Sebaiknya Mubarak mendengarkan kemauan rakyat, kecuali dia ingin menghabisi rakyatnya sepeti China di Tiananmen. Kalau demikian, ini bencana yang sangat buruk,” kata pengamat Timur Tengah dari Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) Fahmi Salsabila.

Seperti diketahui, pada 4 Juni 1989 puluhan ribu mahasiswa menuntut demokratisasi di lapangan Tiananmen. Mereka ditindak secara represif, di mana beberapa tank Pasukan Tentara Merah dengan tega menggilasnya. Alhasil ribuan mahasiswa tewas berlumuran darah. Tidak hanya itu, ribuan mahasiswa ditangkap dan dipenjara. Beberapa mahasiswa bahkan dinyatakan hilang.

Berikut ini wawancara detikcom dengan staf pengajar di Universitas Al-Azhar, Jakarta ini, Selasa (1/2/2011):

Apa yang paling melatarbelakangi demonstrasi antipemerintah ini?

Momentumnya karena Tunisia dan juga karena kekecewaan dan ketidakpuasan rakyat yang sedemikian lama terhadap pemerintah. Hal ini juga didukung oposisi terbesar di Mesir yakni Ikhwanul Muslimin.

Jadi momentumnya adalah apa yang terjadi di Tunisia, di samping di dalam negeri ada pengangguran yang tinggi, inflasi tinggi, korupsi, makanya rakyat tidak lagi menginginkan Hosni Mubarak.

Mereka berpikir, sudah cukup Mubarak berkuasa. Sudah 30 tahun. Dulunya rakyat Mesir takut dengan represi Hosni Mubarak yang terkenal anti kebebasan berekspresi. Saat ini momennya dianggap tepat sehingga mereka tidak takut lagi. Mereka berani melawan sehingga korban tewas mencapai lebih dari 100 orang.

Akibat hal ini, warisan budaya di Mesir bisa saja rusak. Politik dan ekonomi otomatis terjadi perubahan. Dikhawatirkan, negara-negara Arab yang memiliki pola yang masih seperti ini, seperti Yaman, Aljazair, Yordania akan melakukan hal yang sama.

Waktu ini sepertinya sudah ditunggu-tunggu?

Jika selama ini hidup dalam represi, tentu mereka menunggu waktu yang tepat untuk bebas. Ini menjadi ditunggu-tunggu.

Dalam kasus Mesir, lagi-lagi Amerika Serikat menunjukkan standar gandanya. AS selama ini mengkampanyekan demokrasi lantaran menggembar-gemborkan diri sebagai punggawa demokrasi, bapak demokrasi, kampanye penegakan HAM, tapi di Mesir apa yang dilakukan malah bertolak belakang.

AS malah mendukung Hosni Mubarak yang memerintah selama 30 tahun. Negara lain harus menegakkan demokrasi, tapi yang represif malah didukung. Ini menunjukkan betapa bermuka duanya AS. Ini menunjukkan juga kalau selama ini AS menginginkan status quo di dunia Arab.

Tentara sudah memihak aksi rakyat. Mundurnya Mubarak tinggal menunggu waktu?

Memang tinggal menunggu waktu. Kalau militer dukung Hosni malah lebih parah lagi kekacauannya. Situasi ini mengingatkan pada zaman turunnya Soeharto di Indonesia. Militer bisa saja melakukan kudeta, tapi posisinya harus di tengah-tengah. Karena militer bisa menjadi peredam kemarahan rakyat.

Mengapa tawaran reformasi yang disampaikan Mubarak tidak direspons positif?

Mereka menginginkan revolusi total, bahkan rakyat Mesir minta dia turun dan pergi dari Mesir. Anak dan istrinya sudah pergi, rakyat pun menginginkan Hosni untuk angkat kaki. Sebelumnya, Hosni sudah menyiapkan anaknya, Gamal Mubarak, untuk menjadi penggantinya. Proses regenerasi semacam ini seperti membuat kerajaan bagi dinasti Mubarak di Mesir, dan ini tidak diinginkan oleh rakyat. Mereka berpikir bapak dan anak tidak jauh berbeda, mereka menginginkan perubahan.

Apa konsekuensi jika Mubarak tetap bertahan?

Kalau dia kukuh mau bertahan, bisa-bisa ya dijatuhkan secara paksa, kerusuhan massa yang sangat besar bisa terjadi, sehingga banyak korban yang akan jatuh. Sebaiknya Mubarak mendengarkan kemauan rakyat, kecuali dia ingin menghabisi rakyatnya seperti China di Tiananmen. Kalau demikian, ini bencana yang sangat buruk.

Saya rasa sekarang ini Hosni sedang berpikir sangat keras. Apa yang dilakukan dia sudah terlambat. Setelah 30 tahun berkuasa baru menunjuk wapres. Dia kemudian merombak menteri sebagai upaya reformasi, tapi sudah terlambat.

Omar Suleiman yang dipilih sebagai wapres, yang merupakan mantan kepala intelijen, dinilai sebagai antek Amerika sehingga tidak bisa merangkul rakyat. Seharusnya Hosni Mubarak lebih merangkul tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh oposisi. Saya rasa seharusnya Hosni lengser keprabon saja dengan elegan.

Menurut Anda, siapa pemimpin transisi yang tepat bagi Mesir?

Saya rasa Suleiman tidak bisa karena tidak cukup mampu merangkul rakyat. Menurut saya yang paling tepat sekarang ini adalah penerima nobel perdamaian dan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Mohamed ElBaradei.

ElBaradei cukup kuat bila berhadapan dengan AS. Dia pernah mengatakan, Mesir menginginkan kemandirian. Dia tidak ingin Amerika mengatur Mesir. Kalangan Ikhwanul Muslimin juga bisa menerima ElBaradei. Dan bagi AS sendiri, mungkin lebih baik menerima ElBaradei daripada kalangan Ikhwanul Muslimin yang naik. Kalau Ikhwanul Muslimin yang naik akan semakin membahayakan kepentingan AS di Timur Tengah dan Israel pun khawatir.

Jika Mubarak mundur, apa konsekuensi bagi Timur Tengah?

Tentunya akan membuat konstelasi politik berubah total. Mesir adalah sekutu AS paling penting di Timur Tengah. Mesir merupakan negara Arab pertama yang menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada 1979 di Camp David, AS. Waktu itu Mesir masih di bawah Presiden Anwar Sadat.

Sebelumnya Israel dan Mesir pernah terlibat perang, misalnya pada 1948, 1956, 1967, dan 1973. Dengan perjanjian damai itu, setidaknya Israel bisa sedikit tenang. Bagi Israel, Mesir memegang posisi penting dalam menjaga dialog dengan dunia Arab, terkait dengan adanya kelompok Hamas di Jalur Gaza.

Selain itu, Mesir kuat karena mendapat dukungan dari AS. Jika Mubarak turun dan digantikan oleh sosok yang tidak pro-AS maka Mesir akan lepas dari pengaruh AS. Ada perubahan geopolitik besar di sana. Hal ini tentunya bisa mengubah perimbangan kekuatan di Timur Tengah. Ikhwanul Muslimin yang merupakan kelompok anti-Israel tentunya akan mengalami kebangkitan. Status quo di Timur Tengah yang diam-diam dinikmati AS tentunya akan hilang karena ini berimbas ke negara-negara lainnya.

Ke depannya, memang lebih baik kalau ada perubahan. Pastinya memang akan terjadi perubahan drastis di bidang ekonomi lantaran AS tidak akan lagi mengucurkan bantuannya yang demikian besar untuk Mesir. Krisis ekonomi mungkin akan terjadi, namun mungkin Ikhwanul Muslimin akan membantu mengatasi ini. AS mungkin saja menekan Mesir dengan embargo, seperti yang dilakukan pada Iran dan Irak karena dianggap anti-Amerika. Perubahan di Mesir ini bisa membahayakan dan melemahkan Israel.

(vit/nrl)

About these ads

0 Responses to “Politik : Krisis Mesir”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,194,147 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 121 other followers

%d bloggers like this: