03
Feb
11

Politik : Gejolak Mesir Mengeras

Rabu, 02/02/2011 11:19 WIB

fotoNews

Tahrir Square, Kairo

Fotografer – Pool
Warga Mesir Tumplek di Tahrir Square
 

GB
Tahrir Square dipadati para pendemo. (Photo by Peter Macdiarmid/Getty Images).
icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_off

Foto Lain

  • Slide #1
  • Slide #2
  • Slide #3
  • Slide #4

Warga Mesir tumplek di Tahrir Square, Kairo, Mesir. Mereka menuntut agar Presiden Mesir Hosni Mubarok turun dari jabatannya.

Lapangan Tahrir

Kamis, 03 Februari 2011 16:43 WIB

Mengenal Lapangan Tahrir

Ekspresi seorang demonstran di yang tergabung dalam demonstrasi anti pemerintah yang dilakukan di Lapangan Tahrir, Kairo (30/1) (ANTARA/REUTERS/Yannis Behraki ) 

Berita Terkait

Jakarta (ANTARA News) – Seperti Lapangan Monas di Jakarta, Trafalgar Square di London, Lapangan Merah di Moskow dan tempat-tempat monumental lainnya di dunia, Lapangan Tahrir atau Lapangan Pembebasan dalam Bahasa Indonesia –belakangan Aljazeera menyebutnya Liberation Square demi menginternasionalikan krisis Mesir dan menarik perhatian dunia– adalah juga tempat bersejarah dan menjadi pusat gerakan sosial politik terpenting di Mesir.

Lapangan Tahrir sudah lama menjadi episentrum gerakan-gerakan pembaruan dan sosial di Mesir sejak dibangun pada abad 19 lalu.

Lapangan yang dulu disebut Midan Ismaila sebelum para perwira revolusioner Arab pimpinan Letnan Kolonel Gamal Abdul Nasser mengubahnya pada 1952 menjadi Lapangan Tahrir atau Liberation Square dalam Bahasa Inggris, adalah titik pusat dari aksi rusuh 1977.

Saat itu, Presiden Anwar Saddat mengambil langkah kontroversial, yakni mengakhiri subsidi bahan makanan pokok rakyat Mesir, terutama roti dan minyak goreng.

Lapangan itu juga menjadi situs demonstrasi besar menggugat kekuasasan Muhammad Tawfik Pasha, pewaris terakhir dinasti Muhammad Ali pada 1881.

Lapangan Pembebasan juga menjadi situs paling penting dalam gerakan perlawanan terhadap kolonialisme Inggris pada 1919.

“Yang membuat tempat ini istimewa adalah luasnya dan kedekatannya ke lembaga-lembaga penting Mesir dan kedutaan-kedutaan besar asing,” kata Obada Kohela, profesor sejarah pada Universitas Kairo.  “Di sinilah perlawanan terhadap seorang penguasa Mesir bermula,” sambungnya.

Sementara demonstrasi besar yang terjadi sejak 25 Januari lalu telah menelan 100 nyawa, sekaligus menimbulkan keguncangan di pasar modal, pasar uang, dan pasar minyak dunia.

Para investor mengkhawatirkan gejolak di Mesir bakal menyebar ke seantero Arab dan bisa memicu ditutupnya Terusan Suez. Demonstrasi besar di Mesir juga dikhawatirkan menyeberangi Laut Merah menuju nebara-negara Teluk kaya minyak.

Negara tetangga Saudi Arabia yang terletak di ujung selajan Jazirah Arab, Yaman, juga tengah diguncang demonstrasi antipemerintah.

Mesir, berdasarkan klaim Kongres AS, adalah penerima bantuan luar negeri AS terbesar setelah Israel.

Posisi Mubarak juga vital bagi AS dan Israel, karena dia selalu menjadi penyokong utama kampanye pengakuan Arab atas negara Israel, penentang serius ambisi nuklir Iran, dan tokoh yang berperan besar dalam mengisolasi Hamas, kelompok perlawanan Israel paling fanatik dari kubu Palestina.

Raja Tutankhamun

Karima el-Hefnawy, seorang ahli farmasi yang turut dalam demonstrasi besar sejak pekan lalu di Lapangan Tahrir, mengatakan bahwa dia dan ribuan lain sewaktu mahasiswa dulu pernah ditahan menyusul demonstrasi mendukung perang melawan Israel pada 1972.

Dia berkata, waktu itu pun para demonstran memusatkan pergerakannnya di Lapangan Tahrir. Para demonstran ini juga menyerukan pembesan dia dan ribuan rekan lainnya yang ditahan rezim.

“Malam itu di bawah ketiadaan komunikasi (yang layak seperti sekarang), semua orang Mesir menuju ke Lapangan Tahrir dan ironisnya kami dibebaskan seminggu kemudian,” kenangnya.

Pada 2003, Lapangan Tahrir yang berada di depan bekas kampus utama Universitas Amerika di Kairo dan Mogama, yaitu pusat adiministrasi pemerintahan di Mesir, menjadi tempat utama demonstrasi menentang perang di Irak.

Kini, sejak 25 Januari 2011, Lapangan Tahrir kembali menjadi pusat gerakan, kali ini ribuan orang menyerukan diakhirinya kekuasaaan Hosni Mubarak.

“Demonstrasi di Lapangan Tahrir adalah sakit di tubuh bagian belakang pejabat-pejabat pemerintah,” kata Mervat Helal, pegawai pajak real-estate.

Demonstrasi ini membatasi pergerakan para pegawai dan pejabat pemerintah karena demonstran menguasai pusat kota Kairo itu, sambungnya.

Menjadi salah satu jalur pertemuan lalu lintas di ibukota Mesir itu, Lapangan Tahrir menawarkan sebuah pusat kawasan hijau yang dikeliling jalan-jalan lebar.

Di dekat lapangan itu juga terdapat Museum Mesir, persis Museum Nasional di Jakarta yang menghadap Tugu Monas di Lapangan Monas.

Museum Mesir ini adalah tempat berkumpulnya benda-benda paling bersejarah, bukan hanya Mesir tapi juga dunia, termasuk topeng kematian Raja Tutankhamun yang termasyur itu.

Museun ini ada di sebelah utara Lapangan Tahrir.  Di era kolonial dulu, museum tersebut menjadi barak tentara Inggris. (*)

jafar sidik dari berbagai sumber

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © 2011

AS Desak Presiden Mubarak Segera Mundur 

lokasi: Home / Berita / Analisa / [sumber: Jakartapress.com]

Kamis, 03/02/2011 | 02:32 WIB AS Desak Presiden Mubarak Segera Mundur

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Barack Husein Obama mengatakan masa transisi politik di Mesir harus dilakukan sekarang dan akan membawa sistem pemilihan umum yang bebas dan adil. Demikian dilansir oleh BBC, Rabu (2/2/2011).

Pernyataannya ini keluar setelah Presiden Mesir Hosni Mubarak mengumumkan kalau dia akan mundur setelah pemilu berlangsung September nanti. Sebelumnya, AS juga meminta kepada Mubarak untuk tidak ikut dalam pemiliu atau memajukan anak lelakinya Gamal Mubarak sebagai penggantinya.

Pesan pemerintahan Obama yang dibawa ke Kairo oleh mantan Duta Besar AS untuk Mesir Frank Wisner ini bisa menjadi tanda kalau Amerika Serikat menginginkan agar Mubarak mundur. Bagaimanapun Gedung Putih mengatakan Obama tidak akan turut campur dalam suksesi kepemimpinan Mesir.

Pernyataan AS tentang nasib Mesir ditangan rakyatnya sendiri ini juga memberi kesan kalau AS tidak ingin terlihat ikut campur urusan dalam negeri negara lain. Selama ini kebijakan luar negeri AS yang terlihat mencampuri urusan negara lain selalu menjadi bahan kritikan.

Di masa sekarang AS jelas mengkhawatirkan kekosongan dan kekacauan, karena tensi yang terus meningkat. Sementara dalam jangka panjang Washington juga menginginkan sebuah pemerintahan di Mesir yang berteman dengan AS.

Reaksi penolakan
Sementara itu warga Mesir memberikan reaksi beragam setelah Mubarak dalam pidatonya mengatakan tidak akan ikut pemilu yang akan diselenggarakan bulan September mendatang.

Adham Bakry seorang warga di Kairo mengatakan pernyataan itu tidak cukup. ”Saya akan tetap membawa kantong tidur saya dan meminta semua orang untuk tetap berkemah, berdemo hingga Mubarak turun,”

”Saya lahir tahun 1982 jadi sepanjang hidup saya berada di bawah kekuasaan Mubarak. Saya lelah dengan undang-undang keadaan darurat, saya lelah dengan gaji yang kecil, saya lelah dengan semuanya. Bagaimana mungkin kita hidup di sebuah negara yang internetnya diputus?”

”Akan ada kekacauan setelah dia turun, tetapi masyarakat harus bersiap untuk ini. Ini adalah revolusi.” Seorang warga lainnya mengatakan pernyataan Mubarak untuk bertahan hingga pemilu September adalah sebuah upaya agar masyarakat bisa tenang dan mundur dari aksi demonstrasi.

”Ini tidak akan terjadi. Kami tidak akan kembali ke kehidupan sehari-hari. Kami tidak menginginkan itu. ‘Mubarak bukan hanya seorang lelaki, tetapi dia juga simbol yang harus kita singkirkan.”

Sedangkan Amna El-Tawill seorang bloger menyebutkan kalau dia sudah memperkirakan Mubarak akan menyampaikan pernyataan tersebut saat tampil di televisi. ”Saya bisa saja senang dengan kata-katanya. Tetapi setiap melihatnya di televisi saya menjadi marah. Dia tidak mendengarkan apa yang kami inginkan, dia tidak mendengar atau memahami kami.”

”Dia harus turun secepatnya. Saya khawatir situasi akan berubah semakin berdarah-darah jika dia tetap bertahan”. Seorang warga lainnya mengatakan tidak percaya dengan ucapan Mubarak ”Dia mengatakan dia akan mundur saat pemilu nanti, tetapi apakah benar seperti itu?”

Bentrok Pecah di Ibukota Mesir
Bentrokan pecah di lapangan utama kota Kairo antar massa pendukung dan penentang Presiden Mubarak. Massa demonstran dari kedua kubu terlibat dalam bentrok dengan lemparan batu dan botol, dan pukulan tongkat kayu dan tangan kosong.

Ribuan orang pro-Mubarak merangsek ke Lapangan Tahrir, dan kemudian membongkar barikade yang didirikan oleh demonstran oposisi. Kawanan pria yang menunggang kuda dan unta menyerbu ke Lapangan Tahrir di pusat Kairo bersama massa pro-Mubarak.

Bentrokan meluber ke jalan-jalan di sekitar lapangan. Beberapa orang dilaporkan terluka. Massa dua kubu bentrok fisik di Lapangan Tahrir, Kairo. Presiden Mubarak Selasa malam menyatakan tidak akan mencalonkan diri dalam pemilihan mendatang.

Sekitar 2.000 orang demonstran anti-Mubarak bermalam di Lapangan Tahrir, fokus utama unjuk rasa anti-pemerintah. Mereka menyatakan janji presiden dalam pidatonya tidak cukup dan meneriakkan yel-yel: ”Kami tidak akan pergi!”

Aparat militer, yang sebelumnya telah menyeru demonstran agar pulang, tidak menunjukkan tanda-tanda turun tangan. Tentara dituding kubu anti-Mubarak membiarkan massa pro-Mubarak merangsek masuk ke Lapangan Tahrir. Bentrokan dilaporkan juga pecah di kota kedua Mesir, Iskandariyah.

Dalam perkembangan terpisah, kantor berita resmi Mesir melaporkan parlemen dibekukan sementara hingga hasil pemilihan yang berlangsung menjelang akhir tahun lalu direvisi. Sebagian demonstran penentang Presiden Mubarak menuntut parlemen dibubarkan, sebab anggotanya terpilih secara tidak syah.

Televisi pemerintah Mesir juga melaporkan ketua parlemen menghendaki reformasi konstitusional yang dijanjikan oleh Presiden Mubarak dirampungkan dalam waktu kurang dari 2,5 bulan. (BBC)

Obama ttg Krisis Mesir

Kamis, 03 Februari 2011 12:33 WIB

Obama Sudah Lama Diingatkan Soal Krisis Mesir

Obama dan Mubarak (ANTARA News/istimewa) 

Ujian sesungguhnya bagi strategi pemerintahan Obama adalah terletak pada hasil yang mereka capai di lapangan

Berita Terkait
Video Terkait

Washington/London (ANTARA News) – Ketika demonstrasi massa menjungkalkan pemimpin Tunisia setelah dua dekade berkuasa, para penguasa dan analis intelijen AS seketika membayangkan apa artinya itu bagi Mesir, negara Arab berpenduduk terbanyak dan sekutu utama Amerika.

Sesunggunya, setidaknya tahun lalu, para pembantu senior Presiden Barack Obama sudah mendapat peringatan dari analis luar bahwa cengkeraman kekuasaan Presiden Mesir Hosni Mubarak telah melemah.

Para analis ini menyarankan pemerintahan Obama untuk mencoba tidak langsung terlibat dalam gejolak ini.

Namun, begitu krisis di Mesir meledak di pekan lalu, pemerintahan Obama berjuang untuk tetap mengikuti perkembangan politik yang demikian cepat di Mesir itu, masalah yang akan mempengaruhi masa depan Mesir dan kawasan yang lebih luas lagi.

“Hal terbaik yang ada adalah mereka akan memiliki tujuan-tujuan proaktif yang lebih jelas bagi kawasan ini,” kata Brian Katulis, peneliti senior pada lembaga pemikir Center for American Progress, yang adalah salah seorang dari para pakar yang bertemu dengan pemerintah Obama tahun lalu dan mengingatkan potensi instabilitas di Mesir.

“Namun pada tingkat ini, khususnya ketika perkembangan situasi berlangsung sangat cepat dan kekerasan meluas, semua itu menjadi lebih sulit bagi mereka untuk keluar dari pola reaktif yang taktis ini.”

Masalah-masalah rumit untuk pemerintahan Obama adalah memisahkan keprihatinan mengenai keandalan data intelijen yang digunakan penguasa dalam membantu memformulasikan tanggapan mereka terhadap peristiwa tersebut.

Dua pejabat yang mengetahui laporan intelijen AS mengenai demonstrasi di Tunisia dan Mesir mengatakan bahwa pandangan sejumlah pejabat Kongres dan pemerintah AS mengenai kualitas intelijen AS mengenai kriri itu tidak akurat dan tidak telalu bermanfaat.

Komisi Kongres mulai mempertanyakan keandalan laporan dan analisis intelijen AS mengenai keguncangan dan kemungkinan instabilitas di masa depan di Afrika Utara dan Timur Tengah, demikian sumber-sumber Capitol Hill.

Tetap saja, para pejabat pemerintahan AS mengaku terus mengikut perubahan politik di Mesir dan potensi bahwa demonstran akan berkumpul telah dikenali sejak awal.

“Apakah ada orang di dunia ini yang tahu krisis di Tunisia menyulut satu revolusi? Tidak,” kata Tommy Vietor, juru bicara Dewan Keamanan Nasional (NSC). Tapi Vietor mengatakan bahwa para diplomat dan pejabat intelijen telah melaporkan bibit kerusuhan di kawasan itu bertahun-tahun lalu.

“Kerapuhan beberapa rezim ini adalah hal yang sudah dicatat dan dibicarakan presiden sejak lama,” kata seorang pejabat Gedung Putih. Pejabat ini juga mengatakan bahwa selama briefing pertama yang diadakan Obama mengenai krisis Tunisia, dia telah menanyai para penasihatnya mengenai analisis kemana saja krisis ini bakal menyebar.

Sejumlah analis mengatakan bahwa pemerintahan Obama sedapat mungkin berupaya menghindari terlibat dalam gejolak di Mesir dan lebih memilih bersikap hati-hati.

“Adalah berbahaya mendahului menilai, terutama saat Anda membicaakan sebuah negara yang menjalin hubungan sangat penting dengan Anda dan di mana pemimpinnya membuat banyak pengorbanan untuk Amerika Serikat,” kata Jon Alterman, seorang pakar Timur Tengah pada lembaga pemikir Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Katulis mengatakan pemerintahan Obama terlihat sedikit terkesima dengan cepatnya bergesernya pendapat publik mengenai krisis Mesir namun dia percaya pemerintahan ini berusaha mencermatinya sampai akhir pekan ini.

Said Vietor mengatakan pemerintahan Obama ingin memastikan rakyat Mesir keluar dari gelanggang.

Retorika berubah

Ketika Obama menyampaikan pidato tahunannya di hadapan Kongres AS delapan hari lalu, dia tidak langsung menyebut Mesir namun menyingung krisis itu dengan menunjuk Tunisia.

Pada hari itu pula, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton berbicara kepada publik mengenai isu itu dengan menunjukan dukungannya kepada hak berbicara dari para demonstran di tengah tindakan polisi yang menyemprotkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan demonstrasi.

Clinton juga menggambarkan pemerintah Mesir sebagai “stabil”, yang dua hari kemudian diikuti oleh jawaban ‘tidak’ dari Wakil Presiden Joe Biden saat ditanyai apakah Mubarak harus mundur.

Para aktivis di Mesir, termasuk tokoh oposisi utama Mohamed ElBaradei, dan beberapa kritikus di AS memandang komentar tersebut menegaskan solidaritas pemerintahan Obama terhadap Mubarak.

Sejumlah orang mengatakan bahwa pemerintahan Obama telah mengambil risiko untuk berada di sisi sejarah yang salah.

“Mereka sungguh reaktif,” kata Daniella Pletka, pakar pada American Enterprise Institute. “Anda tidak bisa menilai pemerintahan ini memiliki visi mengenai hasil yang ditempuh ke depan.”

Namun Katulis dan Alterman menawarkan taksiran yang lebih menguntungkan, khususunya tindakan di belakang layar dari pemerintahan Obama.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa pesan rahasia kepada para penguasa Mesir jauh lebih tumpul dibandingkan pesan langsung ke publik.

Katulis mengatakan para pejabat pemerintahan Obama mendengarkan dengan sangat cermat semua yang diungkapkan rekanannya.

Di depan publik, pergeseran retorika mulai terjadi pada akhir pekan lalu.

Dalam wawancara YouTube, Obama memuji peran Mesir sebagai sekutu AS dalam banyak isu kritis, namun mendesak pemerintah Mesir untuk menggelar reformasi.

Obama kembali mendesakkan pesan reformasi di hadapan wartawan Gedung Putih setelah berbicara via telepon dengan Mubarak.

Minggunya, Clinton menyerukan “transisi damai” di Mesir. Dua hari kemudian, Selasa, Obama menekankan hal itu harus segera dilakukan.

Presiden AS menyampaikan pernyataannya setelah melihat Mubarak berpidato kepada rakyat Mesir dalam pesan video di Ruang Situasi Gedung Putih, bahwa Mubarak tidak akan mencalonkan diri lagi dalam pemilu yang dijadwalkan September.

Pesan Mubarak ini disampaikan di tengah protes massa di negaranya dan setelah bertemu dnegan mantan Dubesa AS untuk Kairo Frank Wisner, yang membawa pandangan Obama mengenai pentingnya sebuah transisi kekuasaan di Mesir.

Katulis dan para analis lainnyanya memuji keptusan mengirimkan Wisner, yang mempunyai hubungan dekat dengan Mubarak, namun apakah pemimpin Mesir yang sedang digoyang itu akan memenuhi pesan AS itu masih menjadi pertanyaan.

“Ujian sesungguhnya bagi strategi pemerintahan Obama adalah terletak pada hasil yang mereka capai di lapangan, dan reaksi macam apa yang mereka dapatkan dar mitra dan sekutunya di kawasan itu,” kata Katulis. (*)

Sumber: Reuters

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © 2011

Rabu, 02/02/2011 21:15 WIB
Bentrok pecah di ibukota Mesir
BBCIndonesia.com – detikNews

Massa dua kubu bentrok di Lapangan Tahrir

Massa dua kubu bentrok fisik di Lapangan Tahrir, Kairo

Bentrokan pecah di lapangan utama kota Kairo antar massa pendukung dan penentang Presiden Mubarak.

Massa demonstran dari kedua kubu terlibat dalam bentrok dengan lemparan batu, dan pukulan kayu dan tangan kosong.

Ribuan orang pro-Mubarak merangsek ke Lapangan Tahrir, dan kemudian membongkar barikade yang didirikan oleh demonstran oposisi.

Kawanan pria yang menunggang kuda dan unta menyerbu ke Lapangan Tahrir di pusat Kairo bersama massa pro-Mubarak.

Bentrokan meluber ke jalan-jalan di sekitar lapangan.

Beberapa orang dilaporkan terluka.

Parlemen dibekukan

Hari Selasa, ratusan ribu demonstran dari seluruh Mesir menuntut Mubarak lengser. Aksi itu menjadi puncak gelombang protes selama lebih dari satu minggu yang menurut taksiran PBB menelan 300 korban jiwa.

Presiden Mubarak Selasa malam menyatakan tidak akan mencalonkan diri dalam pemilihan mendatang.

Aparat militer, yang sebelum telah menyeru demonstran agar pulang, tidak menunjukkan tanda-tanda turun tangan.

Tentara dituding kubu anti-Mubarak membiarkan massa pro-Mubarak merangsek masuk ke Lapangan Tahrir.

Bentrokan dilaporkan juga pecah di kota kedua Mesir, Iskandariyah.

Dalam perkembangan terpisah, kantor berita resmi Mesir melaporkan parlemen dibekukan sementara hingga hasil pemilihan yang berlangsung menjelang akhir tahun lalu direvisi.

Sebagian demonstran penentang Presiden Mubarak menuntut parlemen dibubarkan, sebab anggotanya terpilih secara tidak syah.

Televisi pemerintah Mesir juga melaporkan ketua parlemen menghendaki reformasi konstitusional yang dijanjikan oleh Presiden Mubarak dirampungkan dalam waktu kurang dari 2,5 bulan.

(bbc/bbc)

Rabu, 02/02/2011 10:52 WIB
AS desak masa transisi di Mesir
BBCIndonesia.com – detikNews

Hosni Mubarak

Pernyataan Mubarak tetap mendapat penolakan dari masyarakat

Presiden AS Barack Obama mengatakan masa transisi politik di Mesir harus dilakukan sekarang dan akan membawa sistem pemilihan umum yang bebas dan adil.

Pernyataannya ini keluar setelah Presiden Mesir Hosni Mubarak mengumumkan kalau dia akan mundur setelah pemilu berlangsung September nanti.

Sebelumnya, AS juga meminta kepada Mubarak untuk tidak ikut dalam pemiliu atau memajukan anak lelakinya Gamal Mubarak sebagai penggantinya.

Pesan pemerintahan Obama yang dibawa ke Kairo oleh mantan Duta Besar AS untuk Mesir Frank Wisner ini bisa menjadi tanda kalau Amerika Serikat menginginkan agar Mubarak mundur.

Bagaimanapun Gedung Putih mengatakan Obama tidak akan turut campur dalam suksesi kepemimpinan Mesir.

Pernyataan AS tentang nasib Mesir ditangan rakyatnya sendiri ini juga memberi kesan kalau AS tidak ingin terlihat ikut campur urusan dalam negeri negara lain. Selama ini kebijakan luar negeri AS yang terlihat mencampuri urusan negara lain selalu menjadi bahan kritikan.

Di masa sekarang AS jelas mengkhawatirkan kekosongan dan kekacauan, karena tensi yang terus meningkat. Sementara dalam jangka panjang Washington juga menginginkan sebuah pemerintahan di Mesir yang berteman dengan AS.

Reaksi penolakan

Sementara itu warga Mesir memberikan reaksi beragam setelah Mubarak dalam pidatonya mengatakan tidak akan ikut pemilu yang akan diselenggarakan bulan September mendatang.

Adham Bakry seorang warga di Kairo mengatakan pernyataan itu tidak cukup.

Saya akan tetap membawa kantong tidur saya dan meminta semua orang untuk tetap berkemah, berdemo hingga Mubarak turun,

Saya lahir tahun 1982 jadi sepanjang hidup saya berada di bawah kekuasaan Mubarak. Saya lelah dengan undang-undang keadaan darurat, saya lelah dengan gaji yang kecil, saya lelah dengan semuanya. Bagaimana mungkin kita hidup di sebuah negara yang internetnya diputus ? .

Tahir Square Massa akan tetap bertahan karena keputusan Mubarak tidak memuaskan

Akan ada kekacauan setelah dia turun, tetapi masyarakat harus bersiap untuk ini. Ini adalah revolusi.

Seorang warga lainnya mengatakan pernyataan Mubarak untuk bertahan hingga pemilu September adalah sebuah upaya agar masyarakat bisa tenang dan mundur dari aksi demonstrasi. Ini tidak akan terjadi. Kami tidak akan kembali ke kehidupan sehari-hari. Kami tidak menginginkan itu,

Mubarak bukan hanya seorang lelaki, tetapi dia juga simbol yang harus kita singkirkan.

Sedangkan Amna El-Tawill seorang bloger menyebutkan kalau dia sudah memperkirakan Mubarak akan menyampaikan pernyataan tersebut saat tampil di televisi.

Saya bisa saja senang dengan kata-katanya. Tetapi setiap melihatnya di televisi saya menjadi marah. Dia tidak mendengarkan apa yang kami inginkan, dia tidak mendengar atau memahami kami.

Dia harus turun secepatnya. Saya khawatir situasi akan berubah semakin berdarah-darah jika dia tetap bertahan.

Seorang warga lainnya mengatakan tidak percaya dengan ucapan Mubarak Dia mengatakan dia akan mundur saat pemilu nanti, tetapi apakah benar seperti itu ?.

(bbc/bbc)

Rabu, 02/02/2011 04:27 WIB
Mubarak mundur setelah pemilu
BBCIndonesia.com – detikNews

Hosni Mubarak Hosni Mubarak memutuskan untuk mundur setelah pemilu

Presiden Mesir Hosni Mubarak mengatakan tidak akan ikut pemilu yang akan diselenggarakan bulan September mendatang.

Dia mengatakan: “Dengan setulus hati, tanpa pengaruh dari situasi sekarang, saya memang tidak pernah berniat mencalonkan diri kembali untuk menjadi presiden.”

Dalam pidato di televisi milik pemerintah yang tampaknya bertujuan mengatasi aksi demonstrasi massal menuntut pengunduran dirinya presiden Mubarak mengatakan dia akan menghabiskan masa jabatannya agar terjadi penyerahan kekuasaan secara damai.

“Saya menyelesaikan masa jabatan saya untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar terjadi penyerahan kekuasaan secara damai.” ujarnya dengan menjanjikan perubahan Undang-Undang Dasar yang akan membatasi masa jabatan presiden.

Warga Mesir sangat sabar, ujarnya, dan bisa menunggu beberapa bulan sebelum dia mundur.

Pengumuman ini dikeluarkan ketika puluhan ribu warga turun berdemonstrasi di pusat kota Kairo untuk menuntut dia segera turun dari jabatan presiden.

Ini adalah aksi demonstrasi terbesar sejak aksi protes dimulai munggu lalu.

Warga yang berkumpul di Lapangan Tahrir, Kairo, bersorak gembira setelah mendengar pidato presiden itu.

Presiden Mubarak juga mengkritik aksi protes dengan mengatakan aksi yang dimulai secara damai berubah menjadi peristiwa penuh kekerasan dengan kendali pihak-pihak tertentu.

Dia mengatakan telah menawarkan diri untuk bertemu dengan semua partai politik namun ada kekuatan politik tertentu yang menolak dialog.

(bbc/bbc)

Selasa, 01/02/2011 18:45 WIB
Pengunjuk rasa di Mesir kembali turun ke jalan
BBCIndonesia.com – detikNews

Militer Mesir

Pernyataan militer tampaknya menambah semangat pengunjuk rasa untuk meningkatkan tekanan atas Presiden Mubarak

Para pengunjuk rasa Mesir kembali berkumpul untuk menggelar pawai besar di Kairo sebagai upaya meningkatkan tekanan untuk mendongkel Presiden Hosni Mubarak dari kursi kekuasaan.

Pihak pengelola unjuk rasa berharap sekitar satu juta orang akan turun ke jalan-jalan, yang akan menjadi unjuk rasa terbesar sejauh ini. Pawai serupa juga direncanakan di Iskandariah.

Sementara itu militer Mesir berjanji tidak akan menggunakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa.

Dan Wakil Presiden Omar Suleiman sudah menyatakanakan akan menggelar pertemuan lintas partai untuk membahas reformasi konstitusional.

Wartawan BBC, Lyse Doucet, di Lapangan Tahrir, Kairo mengatakan massa yang hadir lebih besar dari hari-hari sebelumnya.

Pernyatan militer menjadi pukulan besar bagi Presiden Mubarak dan tampaknya membuat para pengunjuk rasa tetap semangat dan berdatangan ke pusat ibukota Kairo.

“Kami di sini untuk menyampaikan sebuah pernyataan. Kami tidak akan pergi sampai Mubarak mundur,” kata Tarek Shalabi, seorang pengujuk rasa, kepada BBC.

Sejumlah pengunjuk rasa bermalam di Lapangan Tahrir sejak Senin dengan mengatakan akan tetap berada di sana sampai Mubarak mundur.

Suasana karnaval

Memasuki tengah hari waktu setempat (18.00 WIB), pengunjuk rasa yang berkumpul di Lapangan Tahrir sudah mencapai 100.000 lebih orang, termasuk pria, perempuan, dan anak-anak dari berbagai lapisan masyarakat di Mesir.

Wartawan BBC melaporkan suasananya seperti karnaval. Para pengunjuk rasa bernyanyi dan berteriak, sementara sebagian lagi memajang plakat dan spanduk berisi pesan anti-Mubarak.

Ada juga yang menggantungkan boneka Presiden Hosni Mubarak di lampu lalu lintas di Lapangan Tahrir, diikuti sorak sorai dari pengunjuk rasa.

Di kota terbesar kedua, Iskandariah, ribuan orang sudah berkumpul di dekat stasiun kereta api dengan harapan bisa bergabung dengan unjuk rasa utama di Kairo.

Namun karena terbatasnya layanan bis, kereta api, dan penerbangan dalam negeri, sejumlah unjuk rasa juga berlangsung di beberapa tempat di luar Kairo.

Hari ini, Selasa 1 Februari, seorang pejabat keamanan yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan semua jalan raya dan transport umum ke Kairo ditutup.

Inspirasi dari Tunisia

Mantan presiden Tunisia, Ben Ali Unjuk rasa di Tunisia berhasil menggulingkan Presiden Ben Ali.

Presiden Hosni Mubarak sudah menempuh perombakan kabinet untuk menenangkan pengunjuk rasa dan mengganti Menteri Dalam Negeri, Habib al-Adly, yang tidak disukai pengunjuk rasa.

Sedikitnya 100 orang tewas di seluruh negeri sejak unjuk rasa dimulai sepekan lalu menyusul kampanye di internet, yang diinspirasi dari jatuhnya Presiden Zine al-Abidine Ben Ali di Tunisia bulan lalu.

Pihak berwenang Mesir sudah memutus hubungan internet, sementara layanan SMS dihambat.

Namun Google mengumumkan Senin (31/01) bahwa mereka mengoperasikan layanan khusus agawa warga Mesir bisa mengirim pesan ke Twitter dengan memutar nomor telepon dan meninggalkan pesan suara.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat sudah mengirimkan utusan khusus ke Kairo, yaitu mantan duta besar untuk Mesir, Frank Wisner.

Keprihatinan juga muncul atas perekonomian negara itu, bersamaan dengan naiknya harga minyak ke tingkat US$ 100 per barel akibat kekhawatiran atas unjuk rasa yang terus berlanjut ini.

(bbc/bbc)

FOTO SEBELUMNYA

Rabu 02/02/2011 22:12

fotoNews

Massa Bentrok, Kairo Rusuh

Rabu 02/02/2011 19:24

fotoNews

Massa Pro Mubarak Turun ke Jalan

Rabu, 02/02/2011 16:56 WIB
Dari Tunis Hingga Jakarta
Ali Mustofa – detikNews


Jakarta – Setelah Tunisia, kini Mesir yang bergejolak. Rakyat di sana sudah muak dengan pemerintahan sekuler yang menyengsarakan rakyat. Dari revolusi Tunisia tampaknya
menjalar cepat ke sejumlah negara Arab. Sebagaimana diberitakan, beberapa negara
bagian Arab dilaporkan mulai diguncang aksi unjuk rasa menentang pemerintahan sah
negaranya masing-masing. Misalnya di ibukota Yordania. Dan yang paling panas saat
ini adalah Mesir, rakyat Mesir menuntut rezim Mubarak turun.

Ada dua kubu dalam krisis di negara-negara yang penduduknya Muslim itu, pertama
adalah kubu rezim yang di dukung oleh polisi dan militer. Seperti amanat konstitusi, pihak militer memang harus mengabdi pada rezim yang sedang berkuasa. Meskipun tidak menutup kemungkinan dalam hati kecil mereka juga tidak menginginkan adanya peristiwa berdarah itu. Itulah kenapa militer seringkali di posisikan sebagai pihak korban instruksi atau korban dari sistem. Sementara itu kubu yang kedua adalah rakyat yang  menginginkan tergulingnya rezim. Diberitakan pula akhirnya militer berbalik arah mendukung rakyat.

Dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor utama terjadinya perubahan adalah umat. Sedangkan dalam sejarahnya apabila sebuah negara itu ingin benar-benar berubah adalah dengan jalan perubahan yang bersifat revolusioner. Tidak cukup hanya berganti orang yang berkuasa, namun juga harus berganti sistem.

Sejarah revolusi dan perubahan revolusioner Islam sendiri telah mencontohkan ada dua model perubahan, yakni perubahan secara Parsial (islahiyah), ini dilakukan bila sistem Islam masih diterapkan dan kerusakan hanya pada cabang-cabangnya saja. Yang kedua perubahan secara revolusioner (inqilabiyah), yang ini jika keadaan sudah rusak dari akarnya.

Pertanyaanya mau dibawa kemana Tunisia dan Mesir pasca revolusi maupun reformasi?,
sebagai negara yang berpenduduk mayoritas Muslim tentunya tidak ada pilihan lain kecuali berubah dari Negara sekuler ke negara Islam, negara yang menerapkan syariah
Islam secara kaffah dalam bingkai negara khilafah. Karena hal itu merupakan tuntutan keimanan mereka, di samping itu dapat membuat negara yang berbatasan dengan Aljazair tersebut menjadi negara yang maju dan sejahtera. Namun tentu jika ingin menuju ke sistem Islam, haruslah ada dukungan umat, termasuk militer setempat. Di sisi lain, Amerika telah berancang-ancang untuk meyodorkan solusi tersendiri untuk negara-negara itu.

Tunisia, Mesir Indonesia

Dari sisi taraf ekonomi masyarakat, sejatinya kondisi di Tunisia bisa dikatakan tidak jauh beda dengan apa yang dialami oleh Indonesia yang notabene juga sama-sama
berpenduduk mayoritas Muslim ini. Sama-sama menerapkan sistem sekularisme, sama-sama juga sedang terpuruk kondisi negaranya.

Guna menuju kesana, maka harus ada dua faktor penting, pertama, mayoritas masyarakat menginginkan tegaknya ideologi Islam, atau minimal mereka tidak menentangnya. Kedua, pihak-pihak yang memiliki kekuatan riil (militer, tokoh umat, dll) di tengah-tengah umat juga mau untuk menjadi pendukung tegaknya hukum-hukum Allah tersebut.

Kondisi Masyarakat Indonesia

Kondisi saat ini, menurut hemat penulis, ada tiga kelompok yang berada di tengah-tengah masyarakat. Di antaranya: 1. Kelompok pejuang dan pendukung tegaknya ideologi Islam. 2. Kelompok masyarakat netral. 3. Kelompok penentang ideologi Islam.

Kelompok pertama ialah para aktivis dakwah yang berjuang untuk mewujudkan cita-cita
mulianya itu. Mereka terdiri dari individu maupun kelompok Islam (partai/ormas) baik yang konsisten dalam perjuangan maupun tidak. Ditambah masyarakat yang telah memahami bahwa Islam harus ditegakkan dan mereka mendukung perjuangan.

Sementara kelompok kedua merupakan sebagian masyarakat di pedesaan maupun perkotaan. Kelompok ini tidak begitu peduli dengan pertarungan ideologi yang ada disebabkan sebagian besar diantara mereka belum begitu paham, jika Islam merupakan sebuah ideologi, dan jika perjuangan penegakkan syariah dan khilafah merupakan konsekuensi akidah mereka.

Sedangkan kelompok ketiga, mereka di antaranya aktivis liberal, pengemban kapitalisme, pejuang sosialisme, dll. Sejatinya jumlah mereka sangat sedikit, namun seolah-olah berjumlah banyak sebab mereka sering “nyanyi” di media. Dalam kasus ini sering dilakukan oleh kelompok liberal.

Teruntuk kelompok pejuang sosialisme, mereka sering mengklaim punya massa banyak,
yakni kaum buruh, padahal mereka cuma menungganginya dalam rangka para buruh yang ingin memperoleh hak-haknya. Mayoritas kaum buruh adalah masuk kelompok kedua.

Kultur Islam

Kultur masyarakat Indonesia adalah kultur Islam. Tentunya hal ini sangat kondusif untuk tegaknya Ideologi Islam di Negri ini. Dalam hati kecil mereka begitu mencintai Islam, entah seperti apapun tingkat keimanan mereka. Ada kejadian menarik yang pernah di alami oleh penulis, saat salah seorang preman mengatakan pada penulis, “Mas, saya itu orangnya begini, tapi saya akan marah jika Islam dihina dan dilecehkan” (dalam bahasa Jawa).

Pada kasus lain, di orang yang tidak sama, saat menceritakan peristiwa gempa di Bengkulu dan orangnya kebetulan waktu itu berada di sana, mengatakan: “Mas, aku dulu takut sekali saat gempa, yang ada dipikiranku, bahwa aku belum salat Mas”.

Itulah contoh-contoh yang menunjukkan jika sejatinya kultur masyarakat Indonesia adalah kultur Islam. Orang-orang yang seperti ini juga merupakan objek dakwah yang berhak mendapatkan pesan dakwah Islam, karena mereka juga merupakan korban dari
sistem sekulerisme yang telah melahirkan banyak generasi yang jauh dari ajarannya. Mereka bagian dari kelompok kedua.

Sebagian masyarakat Indonesia mungkin belum paham betul tentang Ideologi Islam, namun jika dikatakan bahwa Ideologi Islam itu adalah hukum-hukumnya Allah, dari Allah SWT, maka akan sulit bagi mereka untuk menolak penerapannya. Apalagi bila disampaikan bahwa hukum Allah niscaya membuat Indonesia menjadi maju dan sejahtera.

Potensi Indonesia

Indonesia memiliki potensi yang cukup bagus bilamana khilafah tegak mulai dari negeri ini. Setidaknya hal ini di dasarkan dari beberapa pertimbangan:

1. Secara geo-politik dan geografis, Indonesia memiliki wilayah yang luas, jumlah penduduknya sangat banyak, tentaranya juga banyak. Tentu hal ini akan membuat Indonesia dengan pertolongan Allah menjadi Negara yang kuat ketika tegak ideologi Islam.

Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil antara Samudra Hindia dan Samudra
Pasifik. Apabila perairan antara pulau-pulau itu digabungkan, maka luas Indonesia menjadi 1,9 juta mil persegi. Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa.

2. Secara geo-ekonomi, Indonesia merupakan Negara ‘zamrud katulistiwa’ yang kaya akan kekayaan alam, tanahnya subur, hutannya luas. Hal ini tentunya menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang strategis untuk tegaknya khilafah Islam. Dalam catatan Dr. Fahmi Amhar (Praktisi Bakosurtanal) bahwa nilai potensi lestari laut Indonesia baik hayati, non hayati, maupun wisata adalah sekitar US$ 82 miliar atau Rp 738 triliun.

Kekayaan emas Freeport di Papua, cadangan emas dan perak juga terdapat di Delta
Kapuas, Kepulauan Riau, Pantai Sukabumi. Sektor Migas, dan masih banyak lagi kekayaan alam yang di anugerahkan oleh Allah SWT kepada Indonesia. Namun sayangnya sekarang ini banyak dikuasai oleh segelintir orang, terutama asing karena sistem kapitalisme yang dianut.

Syariah Islam Semakin Diterima

Seiring waktu berjalan, syariah Islam semakin mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Ada sebuah poling yang cukup mengejutkan dilakukan oleh sebuah lembaga survei yang di monitoring universitas Mariland AS pada tahun 2007, meskipun agak ditutup-tutupi, di antaranya dilakukan di Indonesia dan hasilnya: kebanyakan responden sepakat terhadap penegakkan syariah dan khilafah dengan persentase 53%, lebih rendah dibandingkan persentase negeri-negeri Islam lain (Mesir 71%, Pakistan 79%, Maroko 76%).

Hari demi hari syariah Islam Alhamdulillah semakin diterima, tanda-tanda kebangkitan Islam pun sudah tampak di depan mata. Tak heran jika Nationa  Intelelligence Council’s (NIC) pernah merilis sebuah laporan yang berjudul Mapping the Global Future. Dalam laporannya itu diprediksikan bahwa akan ada empat skenario besar dunia di tahun 2020, salah satu yang disebutkan adalah A New Chaliphate atau berdirinya kembali khilafah Islam, sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global.

Demikian juga cukup menarik isi dari sebuah buku karya Mr Michael Buriyev (Wakil Ketua Parlemen Rusia) yang menyatakan: dunia sedang menuju menjadi 5 negara besar yakni: Rusia, Cina, Khilafah Islam, Konfederasi Dua Amerika, dan India jika India bisa bebas dari cengkraman Islam yang mengurungnya (Pakistan, Bangladesh, Kasmir, Afganistan).

Selamatkan dengan Syariah

Indonesia, Tunisia, dan negeri-negeri lain harus diselamatkan dengan Islam. Sistem ini telah menjadikan Raksasa Islam tertidur lelap, dijajah, dan dihinakan oleh musuh-musuh Islam.

Karena itu, pembinaan pada umat dengan pemikiran Islam yang Ideologis harus terus digelorakan. Melakukan counter pemikiran atas apa yang disuarakan oleh kaum liberal yang biasa mengatakan syariah Islam adalah ancaman bagi Indonesia, namun sebaliknya, Islam akan menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan. Kapitalismelah ancaman yang sebenarnya.

Mesti dijelaskan kepada umat secara keseluruhan, termasuk di antaranya jajaran militer, tokoh masyarakat, juga para intelektual, atas kepalsuan ide-ide selain Islam seperti kapitalisme, sosialisme, sekulerisme, pluralisme, liberalisme, dst. Sekeras apa pun mereka niscaya akan luluh juga jika dihadapkan dengan akidah Islam, sebagai contoh adalah sahabat Umar Bin Khatab. Serta harus dilakukan dakwah yang bersifat politis dengan mengajak umat untuk menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Karena semua ini adalah konsekuensi keimanannya sebagai Muslim.

Revolusi di Tunisia paling tidak menunjukkan bahwa kekuatan umat merupakan faktor penting terjadinya perubahan. Mari selamatkan Indonesia dengan syariah, untuk Indonesia yang lebih baik. Ingatlah bahwa pertolongan Allah itu amat dekat. Wallahu
a’lam bi ash-shawab.

*) Ali Mustofa adalah Direktur Rise Media Surakarta. Penulis tinggal di Gang Nusa Indah, Ngruki, Cemani, Grogol, Sukoharjo.

(vit/vit)

Kamis, 03/02/2011 16:00 WIB
Mesir Bergolak
Tak Ada WNI Tewas, Ini Dia Update Posko Siaga di Mesir
Eddi Santosa – detikNews


Kairo – Kami semua, termasuk masyarakat Indonesia di Mesir alhamdulillah sehat aman. Tidak ada warga negara Indonesia yang tewas.

Hal itu disampaikan Konselor Pensosbud KBRI Kairo Iwan Wijaya M saat dihubungi detikcom, Kamis (3/2/2011) pagi waktu setempat.

Mengenai nama Imanda Amalia juga tidak ada dalam daftar staf United Nations Relief and Works Agency (UNRWA) Kairo.

“Kami sudah mengontak UNRWA Kairo, ternyata mereka hanya terdiri dari 3 staf, 1 orang Yordania dan 2 orang Mesir. Menurut mereka tidak ada staf UNRWA bernama Imanda Amalia,” papar Iwan.

Di samping itu pihak KBRI juga sudah berusaha memverifikasi, tapi tidak ditemukan data penduduk WNI di Mesir bernama Imanda Amalia.

Iwan mengatakan bahwa sejak dini KBRI Kairo telah melakukan koordinasi dan komunikasi intensif dengan masyarakat WNI demi langkah-langkah perlindungan, sehingga hal-hal tidak diinginkan bisa dihindari.

“Bahkan ketika semua jaringan komunikasi di Mesir lumpuh total, komunikasi KBRI dengan masyarakat terus dipertahankan dengan cara pesan berantai, agar pesan-pesan Dubes sampai ke WNI seluas mungkin,” demikian Iwan.

Update Posko Siaga WNI

Untuk meredam kecemasan orangtua, handai taulan dan kawan-kawan dari WNI yang masih bertahan di Mesir, KBRI Kairo mengeluarkan update daftar nomor telepon Posko Siaga yang dapat dihubungi langsung.

Selengkapnya:

KBRI Kairo +20227947200, +20227947209
Kantor Konsuler +20224715561
Sekolah Indonesia Kairo +20337488634
Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) +20106158928, +20165796356
Wihdah PPMI +20103701566, +20161423613
Keluarga Mahasiswa Medan +20100135953
Keluarga Mahasiswa Madura +20107802802, +20224707821
Keluarga Mahasiswa Jawa Timur +20103129844, +20224719084
Keluarga Mahasiswa Sumatera Selatan +20104134542, +20224113144
Keluarga Mahasiswa Sulawesi +20164089511
Keluarga Mahasiswa Aceh +20110847308
Keluarga Mahasiswa Banten +20119324641, +20109184814
Keluarga Mahasiswa Jambi +20102928892, +20224037037
Keluarga Mahasiswa Kalimantan +20161207358, +20224743891
Keluarga Mahasiswa Lampung +20111348930
Keluarga Mahasiswa Minang +20161533685, +20222478245
Keluarga Mahasiswa NTB +20168375033
Keluarga Pelajar Jakarta +20100957654
Keluarga Mahasiswa Jawa Barat +20110246890
Keluarga Mahasiswa Tapanuli Selatan +20109377198, +20106536332
Keluarga Mahasiswa Riau +20109122713
Keluarga Mahasiswa Jawa Tengah +20100272509, +20224729113 (es/es)

Pro-Demokrasi Kritis

Kamis, 03 Februari 2011 14:51 WIB

Ratusan Demonstran Pro-Demokrasi Kritis

Polisi dan demonstran terlibat dalam pertempuran berjalan pada jalan-jalan di Kairo pada hari Jumat lalu. (FOTO.ANTARA/REUTERS / Amr Abdallah Dalsh) 

Ikhwanul Muslimin akan terus melancarkan demonstrasi hingga Presiden Mubarak tumbang,

Berita Terkait
Video Terkait

Kairo (ANTARA News) – Ratusan pengunjukrasa yang terperangkap di Lapangan Tahrir dalam kondisi kritis akibat tidak ada pasokan makanan sejak bentrok dahsyat  Rabu petang hingga Kamis pagi.

Mengutip jaringan televisi saluran-1 Mesir, ANTARA melaporkan, sejumlah pengunjukrasa mengatakan bahwa mereka dalam kondisi lemah tanpa makanan dan dikepung pendukung pemerintah di Tahrir.

Televisi tersebut menyediakan telepon khusus untuk menerima keluhan dari masyarakat setempat dalam menghadapi kesulitan akibat demonstrasi yang memasuki hari kesepuluh.

“Banyak orang di sini sudah jatuh pingsan dan lemah akibat tidak bisa keluar dari Tahrir,” kata seorang penelepon.

Para demonstran yang menginap di Lapangan Tahrir, sebagian di antaranya datang dari luar ibukota Kairo yang dimobilisasi oposisi sejak unjuk rasa akbar Jumat pekan lalu (28/1).

“Bila ada musuh datang, kami hanya pasrah tak bisa melawan lagi,” kata seorang lainnya yang mengaku telah tiga malam menginap di pusat kota Kairo itu.

Sebelum bentrok, para demonstran di Tahrir mendapat pasokan makanan dan minuman dari kelompok oposisi.

Bentrokan tidak terelakkan setelah aparat keamanan tidak berbuat apa-apa, sementara tentara yang mengerahkan tank-tank tempur di Tahrir juga tidak berbuat apa-apa.

Padahal tentara mengambilalih keamanan dari polisi. Sejak Jumat pekan lalu, polisi menghilang terkalahkan demonstran.

Sejumlah pos dan kendaraan polisi dibakar massa dalam demonstrasi besar Jumat lalu karena polisi menindak tegas pengunjukrasa.

Bentrok antar pendukung terjadi pada Rabu petang hingga Kamis saat ribuan pengunjukrasa pendukung Presiden Hosni Mubarak mengepung Tahrir.

Sedikitnya enam tewas tertembak peluru tajam dan ribuan orang dari kedua pihak cedera terkena lemparan batu dan bom molotov.

Belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang mengenai jumlah korban, namun Menteri Kesehatan Ahmed Sameh, Rabu malam, hanya menyebut satu orang tewas dan ratusan cedera akibat bentrokan tersebut.

Sementara itu, oposisi menganjurkan pendukung mereka untuk meneruskan unjuk rasa hingga Presiden Mubarak tumbang.

“Ikhwanul Muslimin akan terus melancarkan demonstrasi hingga Presiden Mubarak tumbang,” kata Essam Aryan, tokoh Ikhwanul Muslimin.

Oposisi utama Mesir itu juga menolak berdialog dengan pemerintah untuk memecahkan persoalan saat ini, sementara Wakil Presiden Mesir Omar Suleiman sendiri Rabu malam juga menyatakan pemerintah tidak akan berdialog dengan oposisi selama aksi anti Presiden Mubarak tidak berhenti. (*)

M043/M016

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © 2011

Pro Mubarak Brutal

Kamis, 03 Februari 2011 12:07 WIB

Pendukung Mubarak Bertindak Brutal

Ekspresi seorang demonstran di yang tergabung dalam demonstrasi anti pemerintah yang dilakukan di Tahrir Square, Kairo (30/1) (ANTARA/REUTERS/Yannis Behraki ) 

Tempat ini akan segera berubah jadi rumah jagal jika tentara tidak campur tangan

Berita Terkait

Kairo (ANTARA News/Reuters) – Para pendukung Presiden Hosni Mubarak melepaskan tembakan ke arah para pengunjukrasa anti Mubarak yang berada di Bundaran Tahrir, Kairo, sehingga sedikitnya tujuh orang menderita cedera, kata sejumlah saksi mata.

Seorang dokter, seperti dikutip Televisi Al Arabiya, mengatakan seorang pemerotes tewas terkena tembakan sekitar pukul 4.00 waktu setempat (pukul 9.00 WIB).

Saksi mata lain menyebutkan 15 orang menderita luka-luka akibat peristiwa itu.

Seorang wanita berusia 33 tahun, seperti dikutip televisi Al Jazeera, mengatakan para pengunjukrasa yang menentang Presiden Mubarak tidak akan menyerah.  “Kami tak akan mundur,” ujarnya.

Selasa lalu, Mubarak yang telah berkuasa 30 tahun berjanji akan menyerahkan kekuasaan September nanti.  Dia marah kepada pengunjukrasa yang menginginkannya segera mundur dari kursi kepresidenan dan terhadap anjuran Amerika Serikat yang menyatakan perubahan “harus mulai sekarang”.

Sehari kemudian, Angkatan Darat Mesir menyeru kubu reformis pulang, lalu tiba-tiba pendukung Mubarak yang menunggang kuda dan unta melemparkan bom-bom bensin dan menyerang pengunjukrasa di Tahrir.

Banyak orang berpendapat aksi itu dilakukan oleh kelompok yang didukung pemerintah.

“Mereka melemparkan bom-bom bensin ke arah kami dari jembatan di bagian utara Bunderan Tahrir,” ujar seorang saksi mata.

Para demonstran anti Mubarak membalas dengan lemparan batu dan menyatakan para penyerang adalah personel polisi berpakaian preman.

Kementerian Dalam Negeri Mesir membantah tuduhan tersebut dan pemerintah menolak seruan dunia guna mengakhiri kekerasan dan memulai pengalihan kekuasaan.

Rabu malam, para pengunjukrasa masih berkumpul di Tahrir yang menjadi pusat demontrasi massal di hari kesepuluh unjuk rasa itu.

Sejauh ini sedikitnya 145 orang tewas, sementara demonstrasi terus terjadi di berbagai wilayah negara Arab itu. Kepala Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa Navi Pillay menyebutkan 300 orang diperkirakan tewas.

Hentikan

Wakil Presiden Mesir Omar Suleiman sebelumnya mendesak 2.000 demonstran di Tahrir untuk meninggalkan kawasan itu dan mematuhi jam malam yang diberlakukan untuk memulihkan ketertiban.

Ia mengatakan dialog dengan kubu reformis dan oposisi bergantung pada diakhirnya protes jalanan, namun pengunjukrasa membuat penghalang di Tahrir untuk mencegah pendukung Mubarak masuk.

“Tempat ini akan segera berubah jadi rumah jagal jika tentara tidak campur tangan,” kata Ahmed Maher, yang melihat pendukung Mubarak bersenjata pedang dan pisau, kepada Reuters.

Para pejabat mengatakan tiga orang tewas dalam kekerasan, sedangkan seorang dokter di tempat kejadian menyebutkan angka 1.500 untuk orang yang cedera.

Tokoh opisisi Mohamed ElBaradai, peraih Hadiah Nobel Perdamaian, menyerukan Angkatan Darat turun tangan menghentikan kekerasan.

Pasukan AD yang mendesak pengunjukrasa meningalkan jalan-jalan, telah menyeru para demonstran bahwa  tuntutan mereka telah didengar pemerintah. Namun masih banyak yang bertahan menduduki Tahrir sampai Mubarak mundur dari jabatannya.

Khalil, pria yang berusia sekitar 60 tahun dan bersenjata pentungan, menyalahkan pendukung Mubarak dan personil keamanan menyulut bentrokan. “Kami tidak akan pergi,” katanya kepada Reuters. “Setiap orang siaga.”

“Saya terinspirasi oleh kejadian-kejadian hari ini, darah dan kekerasan terlihat, dan saya akan bersama saudara-saudari saya di Tahrir sampai mati atau Mubarak enyah dari negeri ini,” kata Shaaban Metwalli, mahasiswa kedokteran, dini hari tadi.

SYS/M016

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © 2011

Pro vs Anti Mubarak

Kamis, 03 Februari 2011 12:14 WIB

Pro dan Anti Mubarak Bentrok, Enam Orang Tewas

Massa melakukan unjuk rasa di Lapangan Tahrir di Kairo, Minggu (30/1). Pemimpin oposisi Mesir Mohamed ElBaradei mengatakan pada ribuan pengunjuk rasa di pusat Kairo pada hari Minggu bahwa pemberontakan atas pemerintahan Hosni Mubarak (FOTO ANTARA/REUTERS/Asmaa Waguih/djo/11) 

Berita Terkait

Kairo (ANTARA News) – Enam orang tewas akibat tembakan di Lapangan Tahrir di pusat kota Kairo, tempat pengunjukrasa pro dan anti-Presiden Mubarak berkumpul pada Rabu hingga Kamis dini hari.

Koresponden ANTARA Munawar Saman Makyanie melaporkan Kamis pagi, mengutip sumber di sebuah Rumah Sakit Hussein dan beberapa saksi mata,  korban menderita luka tembakan senjata api.

Selain itu, lebih dari 1.500 orang menderita cedera akibat lemparan batu dan bom molotov.

Jaringan televisi Al Jazeera memperlihatkan dua mayat ditarik oleh pengunjuk rasa ke pinggir jalan.

Para wartawan dilarang mendekati Bundaran Tahrir dan diancam akan ditangkap karena dianggap melanggar jam malam yang berlaku mulai pukul 15.00 hingga 8.00 waktu setempat.

Tembakan sporadis tersebut menghentikan perang batu dan bom molotov antara kedua pihak yang berseberangan tersebut.

Berbagai media memantau situasi aksi unjuk rasa yang memasuki hari kesepuluh melalui para saksi mata dan sumber rumah sakit untuk mengetahui korban meninggal atau luka-luka.

Tembakan sporadis terdengar di seputar Lapangan Tahrir sejak pukul 3.30 waktu setempat 8.30 WIB.

Para pengunjuk rasa pendukung dan anti-Mubarak terlibat baku hantam dahsyat di Tahrir selama beberapa jam,  mulai Rabu petang hingga Kamis pagi.

Oposisi anti-Mubarak menguasai Lapangan Tahrir sejak Jumat pekan lalu (28/1).  Banyak pengunjukrasa anti Mubarak berasal dari luar Kairo dan menginap di Lapangan Tahrir.

Oposisi menuntut reformasi politik dan mendesak Presiden Mubarak mundur dari kursi kepresidenan dan segera menyelenggarakan pemilihan umum baru.

Presiden Mubarak menolak mundur dan berjanji tidak akan mencalonkan diri lagi dalam pemilihan presiden pada September mendatang.

Mubarak juga telah membuka pintu dialog dan memerintahkan Wakil Presiden Omar Suleiman untuk berdialog dengan oposisi guna membahas perubahan konstitusi dan beberapa tuntutan oposisi lainnya.

Namun, Wapres Suleiman Rabu malam mengatakan dialog tidak akan dilakukan selama demonstrasi antipemerintah masih berlangsung.

M043/M016

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © 2011

Jika Mubarak Jatuh

Rabu, 02 Februari 2011 15:16 WIB

Jika Mubarak Jatuh, Israel Bakal Membom Iran

Seorang wanita berteriak slogan anti-Mubarak selama unjuk rasa yang diselenggarakan oleh Asosiasi Mesir untuk Perubahan di AS (EAC-USA) di depan Gedung Putih di Washington, (28/1). (FOTO.ANTARA/REUTERS/Hyungwon Kang) 

Berita Terkait

Jakarta (ANTARA News) – Mantan duta besar AS untuk PBB John Bolton, mengatakan bahwa jika Presiden Mesir Hosni Mubarak terpental dari kekuasaan, maka itu akan mempercepat serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

“Apakah menurut Anda Israel harus melakukan serangan?” tanya presenter FOX News yang orang Republik, Sean Hannity, kepada John Bolton pada sebuah program radio, Senin atau Selasa WIB dini hari tadi.

“Seperti Anda tuduhkan, (Mohammad) El Baradei bekerja terselubung untuk Iran selama bertahun-tahun ketika dia di IAEA (badan energi atom internasional). Dan saya kira Israel tidak perlu menunggu lebih lama lagi…mereka harus beraksi dalam masa yang sangat dekat ini,” sambung Hannity.

“Saya kira itu benar. Saya tidak menganggap masih ada banyak waktu (untuk menyerang Iran). Dan saya pikir kejatuhan pemerintahan Mesir yang mematuhi kesepakatan perdamaian hampi pasti mempercepat jangka waktu serangan (terhadap fasilitas nuklir Iran),” jawab Bolton.

Bolton mengatakan, masalahnya bukan terletak pada demokrasi ala (Thomas) Jefferson versus rezim Mubarak, tetapi antara Ikhwanul Muslimin dengan rezim Mubarak.  “Dan itu memiliki implikasi yang serius terhadap AS, Israel, dan sekutu-sekutu kita yang lain di kawasan itu.”

Bolton dipromosikan menjadi dubes AS untuk PBB oleh Presiden George W. Bush pada 2005 setelah ditentang habis-habisan oleh kubu Demokrat.  Dia kemudian mengundurkan diri pada Desember 2006 setelah Senat menolak menyetujui pengangkatannya.

Bolton yang merupakan tokoh neokonservatif memiliki catatan panjang sebagai orang yang paling getol menyerukan serangan terhadap Iran. (*)

sumber: rawstory.com

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © 2011

Situasi Seram di Mesir

Kamis, 03 Februari 2011 16:12 WIB

Cerita WNI Mengenai Situasi Menyeramkan di Mesir

Asap mengepul dari sebuah kebakaran di kantor pemadam kebakaran Suez saat terjadi bentrokan antara pengunjuk rasa anti pemerintah dan polisi di kota pelabuhan Suez, 134km timur Kairo, Kamis (27/1). (FOTO ANTARA/REUTERS/Mohamed Abd El-Ghany/djo/11) 

Mereka itu penjahat kelas wahid yang bisa menghancurkan sendi-sendi sosial kota di Mesir

Berita Terkait

Jakarta (ANTARA News) – Seorang mahasiswi asal Pati, Jawa Tengah, Nurlaila Khadila, yang tengah menyelesaikan studinya di Fakultas Usuluddin, Universitas Al Azhar, menyebutkan situasi Mesir, termasuk kota Kairo, semakin tidak pasti.

Nurlaila yang kini sudah kembali ke Tanah Air dan sementara berada di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, melukiskan situasi menyeramkan di Nasr City di mana dia tinggal.

Di wilayah itu, kata Nurlaila, tentara semakin banyak dan banyak tahanan lepas.

Diperkirakan narapidana yang lepas sebanyak 2.900 orang dan yang ditangkap kembali sekitar 326 orang.

“Mereka itu penjahat kelas wahid yang bisa menghancurkan sendi-sendi sosial kota di Mesir,” kata Nurlaila.

Nasr City sendiri berada sekitar satu jam perjalanan dari Lapangan Tahrir.

Mahasiswi semester terakhir di Universitas Alazhar ini mengatakan warga negara asing, termasuk dirinya, merasa beruntung karena penduduk kota itu memberi perlindungan kepada mereka, dengan cara mengelar ronda.

Warga setempat juga berkumpul di masjid-masjid, menghimpun kekuatan untuk mengamankan keamanan di kampung-kampung.

Keadaan ini persis terjadi 13 tahun silam di Indonesia, menyusul Kerusuhan Mei meledak yang menjadi prolog bagi tumbangnya Presiden Soeharto oleh gerakan reformasi.

Sementara itu, Kepala Satuan Tugas Pemulangan WNI dari Mesir, Hasan Wirayudha menyebutkan krisis Mesir sudah mengarah menjadi konflik horizontal dari sebelumnya antara rakyat melawan pemerintah.

Belakangan ini kelompok antipemerintahan mendapat perlawanan dari kelompok pendukung Mubarak dan jika ini terus berlanjut, maka rasa aman makin hilang di negeri itu, kata Hasan.

Konflik di negeri itu juga sudah menelan korban I Manda Amalia yang bekerja pada badan kemanusiaan PBB di Kairo, kata Hasan kepada pers di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Kamis sore.

Mantan Menteri Luar Negeri itu berharap proses pemulangan bagi WNI, termasuk para mahasiswa yang tengah belajar di negeri itu, sebisa mungkin dapat kembali ke Tanah Air. (*)

E001/A041

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © 2011

 

Avatar Redaksi Indonesia
Kairo, Mesir
Kairo, Mesir

Obama ttg Mubarak

Diterbitkan : 2 Februari 2011 – 10:38am | Oleh Redaksi Indonesia (Foto: © ANP)

Obama : Mubarak Serahkan Kekuasaan Secepatnya

Presiden Amerika Serikat Barack Obama berpendapat, penyerahan kekuasaan di Mesir harus “dimulai sekarang.” Tanggapan Amerika tersebut keluar selepas pernyataan presiden Mubarak bahwa ia baru akan mundur September mendatang.

Obama berbicara selama setengah jam dengan Mubarak setelah presiden Mesir itu mengumumkan pendiriannya dalam sebuah pidato. “Semuanya jelas, dan itu juga yang saya katakan kepada presiden Mubarak, bahwa penyerahan kekuasaan harus bermakna, harus terjadi dengan damai, dan dilakukan sekarang,” terang presiden Obama pasca pertemuan. Namun Gedung Putih tidak menjelaskan kapan penyerahan kekuasaan persisnya akan berlangsung.

Selasa (01/02) malam Mubarak mengumumkan dalam pidato di televisi bahwa ia tidak akan bisa dipilih lagi sebagai presiden pada pemilu September mendatang. Beberapa hari terakhir rakyat Mesir mengadakan unjuk rasa besar-besaran untuk melawan rezimnya. Mubarak sudah memimpin Mesir sejak 1981.

Kacau
Dalam pidatonya, Mubarak menyatakan, tidak pernah berencana kembali mencalonkan diri untuk termin selanjutnya. Pada pemilu mendatang, kekuasaan akan diserahkan secara tertib. Mubarak mengatakan, rakyat Mesir bisa memilih antara penyerahan kekuasaan secara damai atau dengan “kekacauan yang menghempas negara seperti beberapa hari terakhir ini.” Presiden menyalahkan gerakan-gerakan politik yang menurutnya memanipulasi demonstrasi.

Pidato ini disusul unjuk rasa massal. Hanya di ibukota Kairo saja diperkirakan ada sejuta orang yang berunjuk rasa. Selama pidato Mubarak, para demonstran di lapangan Tahrir di Kairo dan di kota pelabuhan Iskandarsyah berteriak-teriak bahwa Mubarak harus pergi. Mereka berpegang teguh bahwa tuntutan ini harus dipenuhi Jumat (04/02) mendatang.

Pengaruh
Para pengunjuk rasa masih bertahan, tapi tidak jelas apa tanggapan rakyat di seluruh Mesir terhadap pidato Mubarak. Pengamat menyimpulkan, blok kekuasaan di seputar presiden ingin mengulur waktu selama mungkin untuk tetap berkuasa.

Semua mata sekarang terarah pada tentara. Tentara masih merupakan pendukung Mubarak, tapi selama demo terjadi, tentara tidak memihak. Tentara malah mengatakan tidak akan menggunakan kekerasan terhadap para demonstran. Para pengamat menilai, tentara tidak bisa menunggu terlalu lama, karena masa transisi yang terlalu lama bisa membawa ketegangan luar biasa. Ini bisa menghancurkan ekonomi yang sekarang sebenarnya sudah mandeg.

Bangga
Dalam pidatonya Mubarak dengan tegas mengatakan, ia tidak berencana melarikan diri atas desakan para pendemo. “Saya akan tetap menghembuskan napas terakhir di Mesir,” kata presiden. Ia menyinggung presiden Tunisia Ben Ali, yang lari ke luar negeri bulan lalu setelah protes panjang. Mubarak mengatakan, ia banga terhadap prestasinya selama memerintah.

Selasa (01/02)malam televisi negara untuk pertama kalinya memperlihatkan demonstrasi pendukung Mubarak yang jumlahnya relatif sedikit.

*Kolom IBRAHIM ISA*

*Kemis, 03 Januari 2011*

*——————————-*

*RAKYAT BANGKIT – MESIR BERGOLAK – MUBARAK NGOTOT TAK TAHU DIRI*

*<Wawancara Dengan Radio Nederland>*

Kemarin pagi tilpun rumahku berdering!

Suara di tilpun: Pak Isa, tak mengganggu ya ? Kukenal! Suara itu suara Julia dari Radio Nederland. Ia bermaksud mau mewawancarai aku mengenai MESIR yang sedang bangkit bergolak. Aku tanya: Kapan mau wawancara?
Kalau bisa sekarang, tegasnya. Kuminta waktu 10 menit untuk siap-siap.
Sepuluh menit kemudian Julia menilpun lagi. Sebelum disampaikan di bawah ini transkrip mengenai wawancara tentang Mesir kemarin pagi, coba kita lihat bagaimana perkembangan terakhir di Mesir.

*SITUASI PERKEMBANGAN ‘REVOLUSI MESIR’ HARI INI*

Dua hari yl, Mubarak muncul di muka TV nasional Mesir. Ia menyatakan bahwa ia ‘tak akan melepaskan tanggung jawab’. Ia akan melaksanakan
tanggungjawabnya sampai pemilu yad, September. Di saat itu, ia tidak akan mencalonkan diri lagi sebagai presiden. Ia mengumbar janji akan
mengadakan perubahan. Dalam pada itu menekankan perlunya kestabilan negeri dsb. Jelas, ia tak mau mundur sekarang ini, dengan pelbagai
dalih. |Dalam pada itu melakukan tindakan kekerasan terhadap massa rakyat yang berdemo, melalui intel dan kekuatan polisi.

BBC dalam siarannya hari ini mengomentari bahwa ‘The Egyptian elite is fighting back’. Elite Mesir mengadakan serangan balas. Menghadapi
kebangkitan massa yang dengan cara damai menuntut rezim Mubarak gulung tikar, mereka mulai menggunakan kekerasan. Tokoh oposisi Al Baraday menuntut bahwa Mubarak turun sekarang juga. ‘This is a criminal act’.
Ini adalah tindakan kriminil, kata Al Baraday menanggapi tindakan yang dilakukan Mubarak. ‘This is a criminal regime’, kata Al Baraday.

Massa luas rakyat Mesir, yang sudah 10 hari dengan damai dan teratur berdemo besar-besaran mengadakan unjuk rasa bergadang di pusat ibukota Cairo, di Lapangan Al Tahrir, berreaksi marah dan geram. Menegaskan kembali tuntutan mereka agar *Mubarak turun sekarang juga!*

Setelah pidato Mubarak, tiba-tiba muncul gerombolan demi gerombolan pro-Mubarak di tengah kota. Pendemo pro-Mubarak ini sengaja mencari
konfrontasi dan clash dengan masa rakyat luas yang dengan damai menuntut turunnya Mubarak. Tidak sulit mendeteksi bahwa yang mengadakan demo ‘pro-Mubarak’ itu sebagian besar adalah diorganisir oleh badan intel rezim Mubarak. Taktik Mubarak untuk bercokol terus, adalah menggerakkan demo ‘pro-Mubarak’, memancing bentrokan dengan massa ‘anti-Mubarak’ sehingga terjadi kekerasan dan kekacauan. Dan memang inilah yang terjadi sejak kemarin. Denga dalih memulihkan ketertiban dan keamanan lebih lanjut melakukan tindakan kekerasan terhadap massa rakyat yang bangkit.

Dengan dalih memulihkan ketenteraman dan kestabilan negeri, Mubarak menggunakan tangan besi untuk meredam oposisi massa yang semakin luas. Inilah cara Mubarak mempertahankan kekuasaanya, sampai ia rampung mempersiapkan gantinya, Gamal, puteranya sendiri.

* * *

Berikut ini adalah transrip wawancara dengan Julia dari Radio Nederland:

Julia (Radio Nederland – Ranesi): Ini Pak Isa?

I.Isa.: Ya betul. Ini Julia yang di Eindhoven ya.

Julia: Pak Isa, apakabar nih?

I.Isa.: Baik, baik. Julia baik? Kapan bayinya (lahir)?

Julia: Bayinya lahir 12 Juni Pak.

I.Isa.: Wah, 12 Juni. Sayang tidak 6 Juni ya? 06 Juni itu kan hari
lahirnya Presiden Sukarno?

Julia: Sebentar, saya test suara dulu, ya?

Hallo! Pak Isa bisa dengar saya?

I.Isa.: Ya!

Julia: Tadi saya tilpun pagi-pagi karena takut bapak keburu pergi. Ke bibliotheek, atau kemana, gitu.

I.Isa.: Ya, maksudnya begitu, Tetapi nanti jam sepuluhan.

Julia: Untunglah, nilpun bapak pagi-pagi. Kalau tidak bapak keburu keluar.

Julia: Kita mulai, ya pak. Lima menit saja acaranya.

Saya ingin tahu Pak. Bapak mengikuti perkembangan yang terjadi di Mesir, Egypt?

*KEBANGKITA RAKYAT MESIR ADALAH KEWAJARAN SEJARAH*

I.Isa: Saya kan, orang Mesir juga. Lima tahun saya disana.

Julia: Terus bagaimana pendapat bapak mengenai gejolak di Mesir. Bapak kan pernah tinggal di Mesir. Tahun berapa Pak tinggalnya di Mesir?

I.Isa.: Mulai tahun 1960 sampai tahun 1965. Mewakili gerakan Asia-Afrika di sana.

Julia: Melihat yang terjadi sekarang nih, Pak. Bagaimana gejolak yang terjadi ini.

I.Isa.: Gejolak ini, adalah wajar secara historis. Begitu lama rakyat Mesir menderita dari segi politik. Dari segi ekonomi, karena situasi ekonomi memburuk. Di bidang politik rakyat ditindas. Penindasan terhadap hak-hak demokrtis itu sangat keras. Pemilihan umum yang baru saja itu,
kaum oposisi, diperlakukan demikian rupa. Sehingga samasekali tidak bisa bergerak. Lalu mereka menarik diri. Memboikot permilu itu. Dengan
sendirinya pemilu itu dimenangkan oleh partainya Mubarak. partai seperti Golkar begitu, ya!

*PERBEDAAN PEMERINTAH PRESIDEN NASSER DAN MUBARAK*

Julia: Kalau bisa dibandingkan dengan masa dulu, ketika masa Naser. Bapak kan di sana, ya, pak. Kalau bisa dibandingkan, dengan perubahan
politik yang ada di sana sekarang. Mana yang lebih baik, pak. Waktu dulu, atau sekarang pada pemerintahan Mubarak.

I.Isa.: Peranan Mesir ketika itu (di bawah Nasser) sebagai negara penting di kalangan negeri-negeri Arab, peranannya lebih positif bagi gerakan kemerdekaan di Afrika dan juga pengaruhnya di Asia. Jadi, dibawah pemerintahan Naser di Mesir, meskipun itu adalah suatu
pemerintahan yang otoriter, tetapi Mesir punya semangat solidaritas terhadap Afrika. Afrika kan ketika itu, 60 % masih di bawah jajahan
kolonialisme Inggris, Perancis, Portugal, Spanyol. Juga Afrika Selatan masih di bawah rezim ‘apartheid’.

Dibandingkan dari sikapnya terhadap gerakan kemerdekaan, maka pemerintahan Presiden Nasser sangat positif.

Kemudian di bawah Mubarak sekarang ini, dia samasekali tidak ada peranan. Menurut apa yang bisa diikuti, Mesir sepenuhnya sekutu Amerika
Serikat. Terutama di masa presiden-presiden yang lalu. Terutama Bush. Jadi bila dilihat dari segi itu, demikian keadaannya.

Beberapa tahun yang lalu saya kesana lagi. Saya lihat kemiskinan itu . Celah antara yang kaya dan yang miskin isemakin besar. Ketidak-puasan
itu nyata sekali. Kalau kita bicara dengan rakyat di pinggir jalan atau dengan guide yang mengantar kita (bangsa Mesir): Mereka bilang, Mubarak
ini mau jadi presiden seumur hidup. Sekarang ini dia sudah membimbing anaknya, Gamal. Untuk menggantikan dia nanti. Jadi, Mubarak samasekali tidak punya fikiran bahwa Mesir seharusnya diperintah oleh pilihan rakyat Mesir sendiri.

Begitulah!

Julia: Jadi bisa dibilang hampir mirip dengan Suharto, ya Pak.

I.Isa.: Ya, cuma bedanya, Suharto itu kuasa dengan membunuh sedemikian banyak rakyat yang tidak bersalah. Hampir tiga juta banyaknya. Sedangkan Mubarak, dia itu, menjadi presiden menggantikan Anwar Sadat, melalui dikalangan mereka sendiri. Dia berkuasa tidak melalui pertumpahan darah. Tetapi selama berkuasa dia bertindak sangat keras terhadap oposisi.

*PERANAN IKHWANUL MUSLIMIN*

Terutama memang terhadap Ikhwanul Muslimin, yang ketika itu melakukanaksi-aksi teror. Maka ia selalu disokong oleh Barat. Terutama oleh
Amerika Serikat. Karena Mubarak ini, betapapun ia sekuler, ya. Dia tidak memberikan kesempatan kepada gerakan Islam, gerakan kaum Muslimin yang konservatif, yang radikal, untuk naik dipanggung politik. Dia tidak mau Mesir menjadi suatu negara Islam.

Dari segi ini boleh dibilang Mubarak positif.

Julia: Tadi bapak sebut tentang Ikhwanul Muslimin. Kemungkinannya bila Mubarak sudah tumbang, sudah lengser, apakah Ikhwanul Muslimin, bisa bangkit tidak di Mesir.

I.Isa.: Pasti! Mereka tidak pernah hancur. Tidak pernah hancur. Mereka bergerak di bawah tanah. Ketika pemilu empat tahun yang lalu, mereka itu dapat kursi. Kursi di parlemen. Kemudian (oleh pemerintah) dibikin sedemikian rupa, mereka kehilangan kursi itu.

Ikhwanul Muslimin selalu bergerak di bawah tanah. Mereka ditindas karena melakukan gerakan-gerakan teror. Tetapi mereka aktif di bidang sosial, di bidang pengajaran.; Seperti Hamas di Gaza. Bila ada pemilihan di Mesir, tidak akan seperti di Gaza. Tidak akan berdominan. Tetapi mereka pasti akan mendapat kepercayaan dari sebagian rakyat yang mereka organisir itu.

Julia: Tapi Amerika, presiden Obama semalam kan mengatakan dalam pidatonya menyatakan perlu adanya perubahan, adanya transisi di Mesir.
Jadi akan ada perubahan juga kan, karena ada sikap demikian dari sekutunya Mesir (AS).

I.Isa.:Pasti ada perubahan. Tetapi tidak seperti yang dituntut oleh massa yang berdemonstrasi. Oleh karena tuntutan massa itu: Sekarang,
sekarang juga Mubarak harus turun. Tetapi Mubarak sendiri bilang, nanti September (dalam pemilu) yad saya tidak akan mencalonkan diri lagi.

Janji Mubarak itu sulit dipercaya. Karena selama 30 tahun Mubarak tidak pernah memenuhi janjinya berkenaan dengan demokrasi dan masalah
kehidupan rakyat.

Jadi, sulit dipercaya. Kalau kita lihat siaran-siaran langsung oleh CNN, BBC dan Aljazeera, tuntutan rakyat itu keras sekali: Tidak nanti, sekarang Mubarak harus turun. Memang Amerika sangat khawatir bila terjadi vacum dan sekutunya Mubarak akan hancur. AS tidak menghendaki perkembangan seperti itu.

Jadi Obama bilang, harus ada transisi, perubahan yang ‘meaningful’, ‘orderly’ dan ‘peaceful’. Tetapi perubahan itu harus sekarang ini.

Julia: OK pak Isa. Sudah cukup. Wawancara ini sudah lebih dari lima menit.

Singkat saja acaranya. Untuk disiarkan nanti sore.

I.Isa.: Ooh begitu! Mengharapkan babynya Julia lancar, ya?

Julia: Terima kasih.

I.Isa.: Salam untuk teman-teman dari Radio Nederland!

Julia: OK saya sampaikan. Salam dari Pak Bari tadi!

* * *

About these ads

0 Responses to “Politik : Gejolak Mesir Mengeras”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,264,389 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 125 other followers

%d bloggers like this: