10
Jan
11

Kebudayaan : Tradisi Budaya Sekaten Yogyakarta

Tradisi Sekaten

Senin, 10 Januari 2011 06:12 WIB | Artikel | Pumpunan |
Menjaga Tradisi Keistimewaan Budaya Melalui Sekaten

Eka Arifa Rusqiyati

Menjaga Tradisi Keistimewaan Budaya Melalui Sekaten
Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X keluar berjalan untuk melakukan ritual Njejak Bata di sebuah pintu sebelah selatan Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. (ANTARA/ Wahyu Putro A)

Yogyakarta (ANTARA News) – Upacara Sekaten menjadi satu tradisi yang masih terus dilestarikan oleh masyarakat Yogyakarta karena memiliki akar sejarah yang kuat.

Sekaten sejatinya berasal dari kata “syahadatain” atau dua kalimat syahadat yang menjadi strategi para wali dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, sehingga dapat dikatakan bahwa akar sejarah dari tradisi tersebut telah berlangsung cukup lama.

Upacara sekaten telah melalui berbagai transformasi, namun tradisi tersebut telah menjadi peristiwa budaya yang turut menentukan keistimewaan Yogyakarta.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X bahkan mengatakan sekaten layak menjadi salah satu catatan dalam keistimewaan Yogyakarta.

Tema besar dalam perayaan Sekaten 2011 yaitu “Harmoni budaya, ekonomi dan religi”, lanjut Sri Sultan Hamengku Buwono X bisa menjadi pengingat akan jati diri bangsa untuk membangun Indonesia agar lebih baik.

Sekaten 2011 telah digelar sejak Jumat (7/1) dan akan berakhir pada 16 Februari yang dipusatkan di Alun-Alun Utara Yogyakarta.

Ketiga aspek tersebut, menjadi faktor yang saling melengkapi dalam perayaan sekaten dari tahun ke tahun, namun.

Peristiwa budaya yang dapat disaksikan secara langsung dalam perayaan Sekaten akan dimulai dengan prosesi “miyos gangsa” yaitu keluarnya gamelan milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang bernama Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Naga Wilaga pada tanggal 5 bulan Maulud atau 9-15 Februari.

Gamelan tersebut akan diarak dari Bangsal Pancaniti ke Masjid Gedhe untuk kemudian ditabuh selama tujuh hari.

Untuk lebih menyemarakkan tradisi Sekaten, kumandang gamelan yang ditabuh tersebut akan disiarkan hingga sepanjang Malioboro sehingga akan semakin menambah nuansa budaya pada atmosfir Kota Yogyakarta pada waktu-waktu tertentu.

Puncak acara Sekaten ditandai dengan keluarnya sejumlah gunungan yang disebut sebagai Gerebeg Maulud yang pada dasarnya adalah menggambarkan sedekah raja kepada rakyatnya dan menyimbolkan kesejahteraan.

Rangkaian kegiatan budaya sekaligus akhir dari Sekaten kemudian ditandai dengan acara Bedhol Songsong atau pentas wayang kulit semalam suntuk di Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pemaknaan peristiwa budaya dalam Sekaten juga coba ditampilkan melalui pendirian panggung kesenian yang menggelar beragam festival seni tradisi dan religi.

Sementara itu, rangkaian kegiatan ekonomi diwujudkan dalam bentuk pasar rakyat atau disebut pasar malam perayaan sekaten (PMPS) yang digelar selama 40 hari.

Pemerintah Kota Yogyakarta yang mengampu tugas sebagai penyelenggara Sekaten berusaha melakukan penataan agar pasar rakyat tersebut berlangsung dengan baik dan memiliki nilai jual tinggi.

Stand pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang tersebar di seluruh wilayah Kota Yogyakarta akan menjadi fasad utama di PMPS.

Pengunjung yang masuk ke arena PMPS akan langsung disuguhi beragam potensi kerajinan unggulan dari seluruh wilayah di Kota Yogyakarta.

“Ini merupakan waktu yang baik bagi seluruh pelaku UMKM di Kota Yogyakarta untuk memperkenalkan produk mereka agar dikenal masyarakat dan mendapat pasar,” kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Heru Pria Warjaka.

Sedangkan untuk meneguhkan kegiatan religi dalam sekaten, digelar melalui kegiatan tabligh akbar pada awal Februari yang akan menampilkan seorang ulama dari Surakarta Jawa Tengah.

“Saat diselenggarakan tabligh akbar, akan ada perlakuan khusus untuk peserta tabligh saat akan memasuki arena PMPS,” kata Ketua Panitia PMPS 2011 Yulia Rustiyaningsih.

Ingatkan jati diri 

Gubernur DIY yang juga Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X memberikan apresiasi yang baik kepada Pemerintah Kota Yogyakarta karena telah mengangkat tema “harmoni budaya, ekonomi dan religi” dalam pelaksanaan Sekaten tersebut.

“Harmoni dari ketiga aspek itu juga tercermin dalam kehidupan masyarakat dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat,” katanya.

Segi tiga yang terbentuk antara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pusat budaya, Masjid Agung sebagai pusat religi dan Pasar Beringharjo sebagai pusat ekonomi menyiratkan simbol mendalam bagaimana harmoni kehidupan masyarakat tersebut berlangsung.

“Tema itu mengingatkan masyarakat akan jati diri bangsa, untuk modal membangun bangsa yang lebih baik di masa yang akan datang,” kata Sultan Hamengku Buwono X.

Ia pun berharap, seluruh pihak yang telah lupa akan sejarah dan jati diri bangsa dapat kembali diingatkan untuk berjalan di jalur yang lurus. (E013/K004)

COPYRIGHT © 2011

Pemerintahan Bantul

Minggu, 9 Januari 2011 20:15 WIB | Peristiwa | Politik/Hankam |
PemKab dan DPRD Bantul Temui DPR
Bantul (ANTARA News) – Pemerintah Kabupaten Bantul bersama DPRD Bantul berencana menemui pimpinan DPR untuk menyampaikan aspirasi masyarakat di wilayah ini, terkait mekanisme pengisian jabatan gubernur dan wakil gubernur dalam Rancangan Undang Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. 

“Kami akan serahkan hasil sidang paripurna DPRD Kabupaten Bantul beberapa waktu lalu, terkait aspirasi masyarakat Bantul yang menghendaki mekanisme penetapan dalam pengisian jabatan gubernur dan wakil gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY),” kata Kepala Humas dan Informasi Pemerintah Kabupaten Bantul Bambang Legowo, Minggu.

Pada sidang paripurna istimewa yang digelar DPRD Bantul beberapa waktu lalu, enam fraksi menyatakan sepakat pengisian jabatan gubernur dan wakil gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui mekanisme penetapan, sedangkan satu fraksi yaitu Fraksi Demokrat tidak bersikap.

Menurut dia, Pemerintah Kabupaten Bantul bersama DPRD Bantul akan menemui Ketua DPR untuk audiensi terkait dengan aspirasi masyarakat Bantul.

“Pemkab Bantul dan DPRD Kabupaten Bantul dijanjikan akan bertemu dengan pimpinan DPR pada Selasa (11/1), sehingga jajaran eksekutif dan legislatif akan berangkat dari Bantul pada Senin (10/1),” ujarnya.

Ia mengatakan, untuk jajaran eksekutif yang berangkat di antaranya Wakil Bupati Bantul Sumarno serta beberapa pimpinan SKPD.

Diharapkan penyerahan hasil sidang paripurna menjadi masukan DPR tentang pembahasan RUUK DIY agar mampu mengakomodasi aspirasi rakyat, khususnya dari Bantul.

“Dalam peryataan sikap DPRD Bantul tersebut, terkandung tekad untuk mempertahankan DIY sebagai daerah istimewa dalam bingkai dan sistem pemerintahan NKRI dan mengusulkan pengisian jabatan gubernur dan wakil gubernur melalui mekanisme penetapan,” paparnya.

Ketua Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Bantul Agus Subagyo mengemukakan, penyampaian hasil rapat paripurna dengan agenda mekanisme pengisian jabatan gubernur dan wakil gubernur DIY kepada pimpinan DPR sudah menjadi agenda dan keputusan pimpinan DPRD Kabupaten Bantul.

“Kami harapkan aspirasi masyarakat Bantul ini menjadi pertimbangan Komisi II DPR dalam membahas RUUK DIY,” katanya, berharap.(*)

(U.V001/C004/R009)

COPYRIGHT © 2011

Baca Juga

 

Keraton Yogyakarta

Kamis, 9 Desember 2010 18:09 WIB | Artikel | Pumpunan |
Ketika Keraton Yogyakarta Menggugat

F.x. Lilik Dwi Mardjianto

Ketika Keraton Yogyakarta Menggugat
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) didampingi Wapres Boediono dan sejumlah menteri KIB memberikan penjelasan soal proses dan substansi RUU Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Istana Negara, Jakarta, Kamis (2/12). Presiden SBY mengatakan RUU Keistimewaan DIY yang saat ini sedang dibahas dengan DPR akan memberikan kepastian dan mewadahi keistimewaan Yogyakarta secara utuh dan menyeluruh di dalam Undang-Undang, yang bukan hanya mengatur masalah kedudukan, kekuasaan, masa jabatan, dan cara pengangkatan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY tapi juga sisi pemerintah dan posisi yang pas untuk kesultanan dan Paku Alam serta soal pengelolaan tanah, tata ruang, dan pelestarian dan warisan sejarah DIY. (ANTARA/Widodo S. Jusuf)

Jakarta (ANTARA News) – Sultan Agung berang. Raja Kerajaan Mataram itu mengirimkan sedikitnya sepuluh ribu pasukan ke Batavia, sebuah tempat yang sebelumnya bernama Jayakarta.

Tujuan Sultan Agung hanya satu, menggempur kekuatan Belanda serta serikat dagangnya, VOC. Sang Sultan merasa perlu menghardik VOC yang dia anggap mengangkangi Mataram, kerajaan yang dia anggap sebagai pemilik sah tanah Jawa.

Perangpun pecah pada pertengahan 1628. Ribuan pasukan Mataram merangsek ke Batavia di bawah komando sejumlah tumenggung dan adipati kepercayaan sultan.

Pertumpahan darah terjadi di Batavia. Bukan darah pasukan Belanda, melainkan darah ribuan pasukan Mataram yang membasahi tanah.

Kekurangan perbekalan menjadi alasan kekalahan para pengikut Sultan Agung.

Namun, sultan merasa sudah terlanjur kehilangan harga diri akibat ulah VOC. Dia kemudian melakukan serangan kedua, dengan strategi yang lebih matang dan bala tentara yang lebih banyak.

Dia membangun sejumlah lumbung pangan di sekitar Karawang dan Cirebon. Apa daya, VOC lebih cerdik. Serikat dagang bersenjata itu membakar lumbung-lumbung pasukan Mataram, sehingga nasib buruk lagi-lagi membayangi kerajaan itu.

Duka cita Mataram tidak selamanya bermakna kekalahan. Sejumlah literatur mengungkapkan, ribuan pasukan Mataram telah berhasil mengacak-acak sistem sanitasi, irigasi, dan transportasi Belanda yang berhulu di Sungai Ciliwung.

Alhasil, sungai itu tercemar dan wabah kolera melanda Batavia. Gubernus Jenderal saat itu, JP Coen, dan sejumlah petinggi militer Belanda meninggal akibat wabah tersebut.

“Konflik baru”

Hampir 400 tahun setelah konfrontasi Mataram-Batavia, ketegangan baru muncul di penghujung 2010 meski bukan dalam bentuk kontak fisik. Poros Yogyakarta-Jakarta kembali memanas setelah pemerintah pusat berniat mengatur keistimewaan Yogyakarta. Pengaturan ini, menurut sejumlah pihak, akan mengurangi wibawa Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ketegangan era baru ini muncul dalam bentuk sejumlah aksi unjuk rasa ribuan rakyat Yogyakarta. Mereka menolak usul pemerintah pusat tentang pemilihan gubernur melalui pemilu.

Rakyat Yogyakarta merasa keistimewaan daerah itu terletak pada mekanisme penetapan Sultan dan penggantinya secara otomatis sebagai gubernur DIY.

Akhir-akhir ini, perlawanan bukan hanya muncul dikalangan rakyat. Keraton juga mulai menggugat.

Gusti Bendoro Pangeran Haryo Prabukusumo adik Sri Sultan Hamengkubuwono X, secara resmi menyatakan mengundurkan diri dari jabatan Ketua DPD Partai Demokrat Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus keluar dari keanggotaan partai tersebut.

“Alasan pengunduran diri saya ini karena ada perbedaan pemahaman tentang Rancangan Undang-undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, antara sikap politik saya dengan kebijakan DPP Partai Demokrat,” kata Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo.

Prabukusumo merasa partai yang selama ini dia bela telah mengusik harga diri dan martabat garis keturunan raja Yogyakarta. Ayahnya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, telah merelakan diri untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penguasa republik saat itu, menyetujui keistimewaan Yogyakarta yang salah satunya ditandai dengan penetapan Sultan sebagai gubernur.

“Saya harus menjaga harga diri almarhum ayahanda dan Sri Paduka Paku Alam VIII, sebagaimana yang tertuang dalam Amanat 5 September 1945,” katanya.

Menurut dia, pernyataan ayahnya untuk bergabung dengan NKRI dengan jabatan gubernur adalah bentuk pengorbanan yang luar biasa. Ayahnya yang sebelumnya adalah raja sebuah negara merdeka bernama Ngayogyakarta Hadiningrat, mau merendahkan diri, bergabung, dan membela kedaulatan republik.

“Dengan jadi gubernur dan wakil gubernur, yang tadinya kekuasaan penuh menjadi terbatas, karena harus taat pada UUD 1945, Kepres dan undang-undang lainnya. Ini merupakan pengorbanan harga diri, apa iya sekarang masih mau dipotong lagi,” katanya.

Prabukusumo juga menyatakan sakit hati atas pernyataan seorang kader Partai Demokrat ketika menyinggung keistimewaan Yogyakarta dan kerabat keraton.

“Perebutan wilayah”

Kembali ke tahun 1682. Pemerhati kebudayaan dan sejarah Jawa dari Monash University, M.C. Ricklefs menyatakan, konfrontasi Mataram-Batavia berawal dari kemarahan Sultan Agung yang menganggap VOC berbuat lancang.

Sultan Agung menganggap VOC melanggar peringatan dengan mengganggu ketenteraman Pulau Jawa melalui sebuah aksi pencaplokan Batavia.

Sang Sultan sebenarnya sudah menawarkan kerjasama dengan VOC, terutama untuk menjadikan Surabaya sebagai musuh bersama. Namun, VOC menolak.

Watak keras dan politik ekspansi berwajah peperangan yang menjadi ciri khas Sultan Agung kembali muncul. Dia menyatakan perang terhadap Batavia.

Berbicara soal wilayah kekuasaan akan menyingung soal tanah dan pengelolaannya. Hal itu pula yang dinyatakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato menyikapi polemik keistimewaan Yogyakarta.

Saat itu, kepala negara menyinggung masalah pengelolaan tanah sebagai salah satu unsur keistimewaan yang akan diatur dalam Rancangan Undang-undang Keisimewaan.

“Tentang hak ekslusif pengelolaan tanah di Yogyakarta, baik yang menjadi otoritas Kesultanan maupun Pakualaman dan tata ruang khusus pula bagi Daerah Istimewa Yogyakarta,” kata presiden.

Selama ini, Kasultanan Yogyakarta telah menerapkan sistem pengelolaan tanah keraton secara mandiri.

Tanah keraton yang dikenal dengan “Sultan Ground” itu merupakan tanah adat peninggalan leluhur yang dimiliki oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Tanah keraton kini dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat dalam bentuk areal pertanian, penghijauan, konservasi tanaman langka, dan pusat budaya.

Salah satu pemanfaatan tanah keraton adalah untuk tempat tinggal rakyat Yogyakarta dengan status “magersari”. Rakyat boleh memanfaatkan tanah, dengan kesadaran penuh bahwa status tanah itu adalah milik keraton.

Penduduk setempat yang menempati tanah itu tidak memiliki sertifikat. Mereka hanya berbekal “Serat Kekancingan” atau surat yang dikeluarkan Keraton tentang penggunaan tanah.

Keraton menugaskan sejumlah abdi dalem yang tergabung dalam satuan khusus pengelolaan tanah bernama “Paniti Kismo”. Satuan khusus ini memiliki struktur organisasi yang tertata apik hingga tingkat desa.

“Paniti Kismo” memiliki otoritas mengelola pemanfaatan tanah keraton untuk berbagai kepentingan dan kesejahteraan rakyat Yogyakarta.

Menurut Pusat Dokumentasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, rakyat yang berbekal “Serat Kekancingan” tidak dibebani pembayaran pajak kepada “Paniti Kismo” dan keraton.

Bahkan, rakyat juga tidak perlu menyerahkan “Glondhong Pengarem-arem” atau uang yang diberikan oleh rakyat Yogyakarta kepada keraton sebagai ucapan terima kasih karena boleh menggunakan tanah keraton.

Singkat kata, tanah milik keraton itu digunakan secara gratis oleh rakyat Yogyakarta. Rakyat bisa menempati tanah itu secara turun temurun tanpa beban pajak.

Sampai saat ini, keraton melalui Prabukusumo baru menggugat soal niat pemerintah mengubah mekanisme penetapan Sultan sebagai gubernur DIY.

Keraton belum menggugat kemungkinan berkurangnya lahan pertanian, hunian, pusat budaya, dan konservasi tanaman langka karena menjelma menjadi kawasan bisnis akibat perubahan mekanisme pengelolaan tanah.

Kawasan bisnis itu tentu akan menjadi pusat kekuasaan modal baru yang mendatangkan keuntungan bagi pihak tertentu.

Kasultanan Yogyakarta juga belum menggugat kemungkinan hilangnya martabat keraton karena tak mampu lagi berbagi rasa dengan rakyatnya melalui sistem penataan tanah yang tidak saling membebani.(F008/K004)

COPYRIGHT © 2010

About these ads

1 Response to “Kebudayaan : Tradisi Budaya Sekaten Yogyakarta”


  1. 1 Ibu Karmila
    March 10, 2011 at 12:32 pm

    Atika Sunarya dan TV ONE adalah wartawan dan media televisi tolol dan dan bodoh dan harusnya diadili di PN pagi ini karena telah melakukan trial by the press. Atika Sunarya di TV ONE mengatakan bahwa Abu Bakar Ba’asyir “terlibat” aktivitas terorisme dan pendanaan terorisisme di Aceh. Atika Sunarya dan TV ONE tidak mengatakan “diduga/dituduh” terlibat …. Harusnya Atika Sunarya dan TV ONE yang diadlidi di PN.
    Tak ada wartawan dan media di dunia ini yang berani melakukan trial by the press kecuali Atika Sunaray dan TV ONE. Bagaimana mereka tahu Abu Bakar Ba’asyir adalah teroris? Bagaimana Atika Sunarya dan TV ONE serampangan dan berani main tuduh dan mendakwa? Inilah sebuah bangsa yang sakit akibat media di negara ini sendiri yang tidak akurat dan terbawa misi pemfitnahan keji terhadap anak bangsa sendiri, tanpa bukti dan hanya berangkat dari opini yang sengaja dibuat untuk kepentingan tertentu. Adalah sembrono dan ketololan TV ONE. Media-media TV Barat yang sangat berani tidak pernah melakukan trial by the press dan selalu mengatakan “diduga” maupun disebut-sebut. Dan bila kita membaca di sebuah sumber penting, misalnya, di Wikipedia saja, tak ada yang berani mengatakan seperti Atika Sunarya dan TV ONE. Wikipedia menulis misalnya bahwa: “Abu Bakar Ba’asyir bin Abu Bakar Abud, biasa juga dipanggil Ustadz Abu dan Abdus Somad (lahir di Jombang, Jawa Timur, 17 Agustus 1938; umur 72 tahun), merupakan seorang tokoh Islam di Indonesia keturunan Arab. Ba’asyir juga merupakan pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) serta salah seorang pendiri Pondok Pesantren Islam Al Mu’min. Berbagai badan intelijen menuduh Ba’asyir sebagai kepala spiritual Jemaah Islamiyah (JI), sebuah grup separatis militan Islam yang mempunyai kaitan dengan al-Qaeda.” Abu Bakar Ba’asyir membantah karena dia memang bukan teroris. Dia hanya kiyai biasa, punya pesantren, untuk memberikan ilmu agama dan mencari nafkah keluarga dan saudara-saudaranya. Kami adalah wartawan-wartawan investigatif. TV ONE adalah sebuah penyebar kebohongan. Kita harus hati-hati dengan media-media buruk total seperti ini. Atika Sunarya dan TV ONE ternyata adalah wartawan pelanggar kode etik jurnalistik (universal) yang berlaku di seluruh dunia. Negara ini makin hancur karena ulah media-media lokal seperti ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,307,579 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers

%d bloggers like this: