30
Nov
10

Kepemimpinan : Kontroversi RUU Keistimewaan Yogyakarta

Kontroversi RUU Keistimewaan Yogyakarta

  • Selasa, 30/11/2010 18:55 WIB – www.detiknews.com
  • yogyareferendumluar.jpg

    Referendum Yogya Bukan Makar & Jadi Alternatif TerakhirAda pihak yang menganggap seruan referendum di Yogyakarta merupakan aksi makar. Anggapan ini tidak tepat, karena referendum hanya terbatas dalam konteks pengisian jabatan Gubernur DIY. “Referendum yang diwacanakan HB X adalah dalam konteks pengisian jabatan Gubernur DIY.

    Selasa, 30/11/2010 18:51 WIB – www.detiknews.com

  • SULTAN-DLM.jpg

    Golkar Tetap Perjuangkan Jabatan Gubernur untuk SultanTidak perlu ada perubahan, meski diakui perlu ada aturan soal keistimewaan Yogyakarta tersebut. “Kita tunggu saja nanti kalau sudah di DPR. Sekarang kan masih di pemerintah,” tutupnya.

    Selasa, 30/11/2010 18:43 WIB – www.detiknews.com

  • yogyareferendumluar.jpg

    KIPER Siap Kawal Referendum di YogyakartaDilatarbelakangi keprihatinan atas berlarut-larutnya proses penggodokan RUU Keistimewaan DIY, warga masyarakat di sekitar Alun-alun Utara Yogyakarta mendeklarasikan terbentuknya Komite Independen Pengawal Referendum (KIPER) pada 5 Oktober 2010. “Awalnya kami (warga di sekitar Alun-alun Utara) ngobrol-ngobrol terkait RUU Keistimewaan yang sudah lama ngambang. Akhirnya kami bersepakat membentuk KIPER,” tegas Ketua KIPER, Inung Nurzani, saat berbincang dengan detikcom di Posko Relawan Referendum, Jl Pekapalan Timur, Kompleks Alun-alun Utara, Yogyakarta, Selasa (30/11/2010).

    Selasa, 30/11/2010 18:38 WIB – www.detiknews.com

  • Roy Suryo Galang Dukungan di Parlemen untuk RUU DIYRangkaian kegiatan pembahasan RUU Keistimewaan DI Yogyakarta merupakan kewenangan Komisi II DPR. Meski demikian Roy Suryo yang merupakan anggota Komisi I DPR berniat akan ikut ambil bagian di dalam proses tersebut. “Saya akan desak 2 anggota Komisi II DPR asal Yogya, Agus Purnomo dari PKS dan Eddy Mihati dari PDIP, untuk memperhatikan aspirasi rakyat dalam finalisasi RUU itu,” ujar Roy, Selasa (30/11/2010).Selasa, 30/11/2010 18:27 WIB – www.detiknews.com
  • mahfuddalam.jpg

    Ketua MK: Daerah Istimewa Karena Faktor SejarahPolemik pemberian status istimewa bagi Yogyakarta terus bergulir. Menurut Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, banyak hal yang menyebabkan suatu wilayah mendapat status tertentu. “MK sudah menyatakan bahwa daerah istimewa dan daerah khusus itu berbeda.

    Selasa, 30/11/2010 18:14 WIB – www.detiknews.com

  • Keratonluar.jpeg

    Eks Rektor UGM: Akar Masalah Keistimewaan DIY dari UU PemdaDalam UUD 1945, diakui adanya daerah istimewa yakni untuk menyebut Aceh, Yogyakarta Hadiningrat dan Ibukota Jakarta. Namun dalam UU Pemda, di bawah negara hanya ada provinsi, walikota, kabupaten tanpa menyebut adanya daerah istimewa. “Ini akar masalahnya, padahal dalam UUD 1945, daerah istimewa itu diakui keberadaannya.

    Selasa, 30/11/2010 17:39 WIB – www.detiknews.com

Rabu, 01/12/2010 07:06 WIB
SBY & Demokrat Dinilai Ingin Kuasai Yogya
Ramadhian Fadillah – detikNews

Jakarta – Ada aroma politik yang kental dalam isu sistem pemilihan gubernur dan monarki di Yogyakarta. Pemilu Kepala Daerah dinilai akan lebih menguntungkan Parpol.

“Secara elektoral, Demokrat mempunyai hasrat yang kuat untuk menguasai Yogya,” ujar peneliti politik Charta Politika, Arya Fernandes kepada detikcom, Selasa (1/12/2010).

Selain itu, Arya menduga SBY ingin merebut pengaruh Sultan di provinsi tersebut. Sultan adalah simbol pemimpin Jawa, dan SBY serta Demokrat ingin mengambil representasi dan legitimasi ini.

“Sebagai pemimpin pasti ingin meninggalkan warisan politik. Ingin dikenang. Dia tidak ingin tokoh lain yang dikenang,” jelas dia.

Namun Arya menilai SBY sebaiknya hati-hati melempar isu soal Sultan. SBY harus ingat bagaimana berartinya Sultan dan keraton bagi masyarakat Yogyakarta.

“Jika masyarakat merasa SBY mengganggu eksistensi Sultan dan Keraton, maka masyarakat akan bereaksi. Hal ini justru tidak baik untuk pencitraan SBY sendiri,” tegas Arya.

(rdf/Ari)

Baca Juga :

Rabu, 01/12/2010 04:35 WIB
Demokrasi Bukan Berarti Memaksakan Kehendak di Yogya
Ramadhian Fadillah – detikNews

Jakarta – Pemerintah dinilai ahistoris soal sistem monarki dan sistem pemilihan Gubernur di Yogya. Pemerintah seharusnya membiarkan kearifan lokal terus berjalan dan tidak memaksakan sesuatu yang belum tentu cocok di suatu daerah.

“SBY sudah ahistoris dia tidak melihat persoalan-persoalan bangsa dari kacamata sejarah,” ujar Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya), Joe Marbun kepada detikcom, Selasa (30/11/2010).

Joe menilai tidak ada masalah dalam tata pemerintahan di Yogyakarta. Dia menjelaskan, demokrasi bukanlah memaksakan kehendak dengan membuat pemilihan gubernur dan wakil gubernur berjalan seperti di daerah lain.

“Ini kan pemaksaan kehendak. Apakah itu yang dimaksud demokrasi. Ini malah menunjukan ketidaknegarawan,” kritik Joe.

Selama Sultan dan penduduk Yogya setia pada NKRI, Joe menilai tidak ada alasan pemerintah mengungkit-ungkit masalah ini. Dia pun meminta pemerintah membiarkan Yogya tetap dengan segala keistimewaannya, seperti daerah lain pun dengan keistimewaannya masing-masing.

“Hargailah budaya dan kearifan lokal. Inilah keunikan Yogya, tidak perlu semuanya harus seragam,” tambah dia.

(rdf/Ari)


0 Responses to “Kepemimpinan : Kontroversi RUU Keistimewaan Yogyakarta”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 1,269,499 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers