08
Nov
10

Bencana Alam : Amuk Gunung Merapi

Senin, 08/11/2010 16:03 WIB
Amuk Merapi Kapan Berhenti? (6)
Dr Andang Bachtiar: Merapi Ada Faktor Penunjaman Lempeng Samudera
M. Rizal – detikNews


dok pribadi

Jakarta – Sejak Selasa (26/11/2010) Gunung Merapi meletus. Letusan gunung teraktif di dunia, kali ini dianggap lebih besar dari tahun 2006, bahkan tahun 1930-an. Walau letusannya mungkin tak sehebat letusan pada tahun 1006 silam, yang dilaporkan sempat mengubur Kerajaan Mataram Kuno dan Candi Borobudur, letusan kali ini telah memporakprandakan kawasan hutan, kebun dan pemukiman dalam radius 20 km. Tapi hingga dua pekan berlalu, letusan Merapi juga belum berhenti.

Ketua Dewan Penasehat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Dr Andang Bachtiar MSc menjelaskan, kapan mulai dan berakhirnya suatu letusan gunung api memang sulit dipredikasi. Sebab, kadang letusan ini memiliki derajat ketidakpastian yang berbanding terbalik dengan pengetahuan. Untuk mengetahuinya perlu banyak data statistik dan pengalaman.

Berikut petikan wawancara detikcom dengan Andang Bachtiar, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Geology Department Colorado School of Mines, Golden, Colorado, USA ini di Jakarta, Minggu (7/11/2010).

Sampai kapan gunung Merepai akan terus bergolak? Bisakan diperkirakan dan dipastikan?

Seperti jawaban atas pertanyaan tentang proses berdimensi besar geologi lainnya yang menyebabkan bencana, misalnya rangkaian gempa dan tsunami, perkiraan tentang kapan mulai dan kapan berakhirnya sulit diprediksinya. Suatu periode proses mempunyai derajat ketidakpastian, yang bisa saja berbanding terbalik dengan pengetahuan kita akan proses tersebut. Seberapa lengkap atau seberapa banyak jumlah data statistik empiris akan menunjang suatu prediksi.

Pengetahuan kita tentang tipe letusan Merapi yang non wedhus gembel, yaitu letusan eksplosif membentuk kolom vertikal, yang seperti kita lihat sekarang agak terbatas, karena selama ini yang berulang hampir 5 tahunan adalah letusan tipe nue ardentee atau wedhus gembel itu. Secara teoritis kegiatan letusan akan berkurang dan berhenti saat kandungan gas dalam magma berkurang dan atau
energinya melemah, yang akan didahului dengan keluarnya lava leleran atau sumbat lava .

Kalau kita lihat aktivitas Merapi sampai Minggu (7/11/2010) kamarin, belum ada tanda-tanda penurunan. Jadi, masih belum dapat dipastikan berapa hari, minggu atau bulan lagi aktivitas Merapi di periode ini akan berakhir.

Pengamatan visual atas leleran lava di puncak dan juga monitoring trend gempa akan sangat membantu. Cek terus dengan kawan-kawan di Pusat Vulkonologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dan di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta.

Faktor-faktor apa yang menyebabkan Merapai bergolak dan berhenti? Hitung-hitungannya bagaimana?

Selain yang sudah saya jelaskan tadi, mungkin ada faktor tambahan, yaitu adanya penunjaman lempeng Samudera di Selatan Jawa yang menyusup di bawah lempeng benua Asia yang bagian pinggiran atasnya menjadi tempat kita hidup di Sumatra-Jawa-Kalimantan. Penyusupan pertemuan lempeng di arah tersebut sudah dimulai dan berlangsung sejak 32 juta tahun lalu atau zaman Oligocene. Ini menyebabkan dinamika pembentukan jalur gunung berapi pada jarak 150 kilometer dari titik penujaman tersebut, yaitu dalam hal ini Merapi termasuk di dalam jalur tersebut.

Gunung Merapi paling aktif bergolak antara 4 sampai 5 tahun sekali. Kemungkinan ini karena posisinya pada Blok Jawa Tengah, yang selain disusupi dari Selatan, juga ditekan dari Utara. Coba lihat kelurusan pantai-pantai di sepanjang Jawa Tengah, yang menjorok masuk ke dalam, baik di Utara maupun di Selatan. Sementara pantai-pantai di Jawa Barat dan Jawa Timur lebih sempit dari luasan kedua daerah itu, itu sebagai ekspresi penekanan tersebut.

Letusan Gunung Merapi kali ini disebut-sebut letusan yang lebih besar daru tahun-tahun sebelumnya, kenapa?

Iya, menurut data dalam 70 tahun terakhir, memang letusan kali ini yang terbesar. Tapi, pernah juga dicatat letusan pada tahun 1930-an, yang hujan kerikilnya sampai ke Pulau Madura. Dan kemungkinan juga letusan di tahun 1006, seperti yang ditulis oleh Van Bemmelen dalam bukunya ‘Geology of Indonesia’ tahun 1949, disebutkan letusan Gunung Merapi pada tahun itu telah menghancurkan Kerajaan Mataram Kuno (purba), bahkan sampai mengubur Candi Borobudur dan sebagainya.

Benarkah letusan kali ini menciptakan alur baru lahar? Alur baru itu nantinya di wilayah mana saja?

Mungkin lebih tepatnya adalah aktifasi ataau pengaktifan kembali alur-alur lahar lama. Karena, sebenarnya semua alur sungai di daerah radius seputar Gunung Merapi, yang tersusun dari aliran lahar memang merupakan alur-alur lahar sejak dahulu kala. Hanya saja, dalam periode tertentu arahnya lebih ke Barat, Selatan atau Timur dan sebagainnya. Nah saat ini, alur-alur lama kembali terisi efek endapan-endapan lahar, maupun wedhus gembel dari Merapi.

Kalau begitu, bisa diartikan juga radius wilayah atau daerah yang rawan lebih meluas dan banyak kawasan desa yang harus dikosongkan?

Radius daerah rawan bencana yang diperluas dari 15 km menjadi 20 km, seperti Jumat (5/11/2010) kemarin, menurut saya tidak berhubungan langsung dengan alur-alur baru atau lama. Tetapi itu dengan kekuatan energi luncuran dan jumlah material yang diluncurkan oleh proses awan panas atau wedhus gembel itu, yang lebih besar dari sebelum-sebelumnya. Karena lebih besar, maka radius jangkauannya menjadi lebih luas, bukan karena alur-alurnya baru.

Bagaimana dengan perhitungan mistik? Sering cocokkah, tidak tepatkah, termasuk soal mitos asap Mbah Petruk?

Saya tidak begitu mendalami soal hitung-hitungan mistis seperti itu. Tapi, kalau soal mitos Mbah Petruk, saya cukup kenal ceritanya dari almarhum mertua saya yang asli Ampel Boyolali. Diceritakan bahwa Mbah Petruk itu merupakan kerabat moyangnya penduduk yang mendiami daerah lereng Gunung Merapi dan Merbabu. Dia memang sangat sakti dan tidak pernah mandi. Namun suatu saat menghilang saat terjerumus atau dijerumuskan di suatu pusaran air atau kedung di sebuah sungai di sana.

Setelah peristiwa itu, menurut kepercayaan masyarakat sekitar, Mbah Petruk sering muncul dalam penampakan. Penampakan ini terjadi bila akan ada hal-hal besar di sekitar daerah itu. Penampakannya untuk mengingatkan para kerabat dan turunannya. Itu saja yang saya tahu, dan memang kita sedang mengalami bencana besar saat ini kan?

Kalau diperkirakan, kapan Merapi akan meletus lagi? Kalau periodenya jelas bagaimana melindungi masyarakat sekitarnya?

Kita tahu dari data empiris statistik bahwa periode aktivitas letusan Gunung Merapi itu pendek, yaitu setiap 5 tahunan. Makannya dia disebut sebagai gunung api teraktif di dunia saat ini. Ini menjadi satu kerutinan, yang juga telah disadari oleh pemerintah, khususnya jajaran Badan Geologi Kementerian ESDM.

Melihat rutinitas letusan Gunung Merapi itu, dalam level kesadaran ini, harusnya juga diterapkan di Badan Nasional Penanggulangan Becana (BNPB) dalam rangka memitigasinya mengurangi resiko bencana bagi penduduk. Nampaknya, setelah periode letusan Gunung Merapi ini, BNPB harus konsentrasi full mitigasinya. Mungkin dengan menata ulang memetakan daerah bahaya dan tata ruang secara keseluruhan. Dan ini tentinya harus dilakukan secara lintas sektoral juga.

Selain merupakan musibah, letusan Merapi juga membawa berkah, berupa kesuburan tanah dan pasir sebagai bahan bagunan?

Iya betul. Debu vulkanik yang dihasilkan dari letusan gunung menganding zat yang bisa menyuburkan tanah. Kesuburan tanah akibat letusan gunung ini terutama yang berada di daerah tropis seperti Indonesia. Soal penjelasan ilmiahnya bukan kompetensi saya untuk menjelaskannya. Mudah-mudahan kawan-kawan dari Kementerian Pertanian yang bisa memberikan pencerahan soal ini.

Tentang pasir, materi ini akan terkonsentrasi di alur-alur lahar, yaitu di sungai-sungai yang berhulu di Merapi. Sebab, lahar itu sendiri merupakan bagian dari produk letusan gunung api tersebut. Berdasarkan informasi BPPTK dan PVMBG bahwa material yang sudah dimuntahkan Gunung Merapi ini mencapai 100 juta meter kubik. Maka, diperkirakan pasir-pasir yang akan menjadi rezeki di alur-alur sungai tersebut pastinya tidak akan melebihi jumlah atau volume itu. Karena, mereka hanya sebagian kecil saja proporsinya dari keseluruhan material vulkanik yang diluncurkan Merapi.

(zal/diks)

Senin, 08/11/2010 15:26 WIB
Amuk Merapi Kapan Berhenti? (5)
Pupuk dan Pasir Merapi Jadi Berkah
M. Rizal – detikNews


Jakarta – Sejak dahulu kala, Pulau Jawa dikenal sebagai pulau paling subur. Kesuburan ini tidak lepas dari keaktifan gunung-gunung berapi yang menghuninya. Setiap kali letusan terjadi, jutaan kubik material vulkanik dalam bentuk debu, pasir, dan kerikil, menambah kesuburan tanah. Abu vulkanis yang menyebar luas, bagaikan pupuk penyubur pada kawasan tersebut. Inilah berkah lain, dari sebuah musibah.

“Kalau dilihat dari segi pertanahan, meletusnya gunung justru semakin memperkaya, baik untuk kesuburan atau pembaharuan tanah,” tutur Peneliti Pertanahan dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Rahman Djuansah. Tentunya, kesuburan lahan yang terkena dampak langsung meletusnya gunung tak seketika itu, tapi melalui proses yang panjang.

Kesuburan itu tergantung pada ketebalan material vulkanik itu sendiri. “Kalau terlalu tebal
makan waktu lama. Perlu menghilangkan unsur sulfur atau belerang. Ini semua bisa hilang bersamaan dengan penyiraman air hujan. Jadi ini perlu waktu antara 3 sampai 10 tahun, terhitung sejak meletusnya gunung itu sendiri, termasuk Merapi,” jelasnya lagi.

Kesuburan di wilayah pegunungan Merapi hampir sama dengan kesuburan pegunungan lainnya di Indonesia pada umumnya. Sebab, material yang baru dimuntahkan dari gunung yang baru meletus biasanya memiliki bahan yang mudah lapuk dan mudah dihisap tanaman. “Jawa itu masih kaya akan hara, karena memang gunungnya muda semua. Beda dengan gunung di Kalimantan yang terlalu tua, sehingga tingkat kesuburannya kurang,” tandasnya.

Tak hanya kesuburan bagi pertanian, material vulkanik juga bisa menjadi bahan dasar bangunan, seperti dituturkan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Anita Firmanti kepada detikcom. “Sulfur yang terkandung dalam material vulkanik memang tidak baik untuk bangunan, tetapi air hujan bisa menghilangkan zat tersebut. Dalam satu atau dua bulan, zat sulfur mungkin menghilang,” ujarnya.

Bahan bangunan yang bisa dihasilkan dari material gunung, di antaranya batu bata, genteng beton, paving blok, konblok, dinding, ubin serta bisa untuk membuat jalan lingkungan. Menurut Anita, pemerintah bisa memberikan bantuan alat untuk modal usaha pembuatan bahan bangunan itu. Misalnya
alat untuk membuat batako satu set seharga Rp 3,5 juta, alat untuk membuat paving blok sekitar Rp 15 juta, alat untuk membuat genteng beton sekitar Rp 24 juta. “Ini bisa jadi pekerjaan alternatif,” ungkapnya.

Materi vulkanik lain yang bisa dimanfaatkan untuk bangunan adalah pasir. Menurut Anita, pasir yang dimuntahkan Gunung Galunggung, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 1984 saja hingga kini masih produktif. “Bayangkan sampai sekarang sampai sekarang Galunggung masih bisa mengirimkan pasir, malah lebih bagus dibandingkan Cimalaka (Sumedang),” tutur Anita.

Salah satu bukti pemanfaatan terbesar dari material Gunung Galunggung adalah berdirinya Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang. “Bayangkan itu jumlah yang sangat besar, untuk menguruk lahan bandara sampai pembangunannya menggunakan pasir Galunggung. Sampai sekarang terus ditambang. Nah soal berapa volume pasir yang dihasilkan Merapi, kita belum tahu lagi,” pungkasnya.

Dari letusan-letusan sebelumnya, hingga kini tercatat sejumlah tempat di kawawan Merapi yang menjadi penambangan pasir. Di antaranya di Desa Kemiren, Desa Ngablak, Desa Tegalrandu, Desa Keningar dan Desa Kaliurang Barat, semuanya di Kecamatan Srumbung. Lalu di Desa Hargomulyo, Desa Ngargosuko, Desa Krinjing dan Desa Mangunsuko yang masuk wilayah Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Di Sleman sendiri, penambangan pasir terdapat di Cangkringan. Begitu juga di Desa Balarante, Desa Sidorejo, Desa Tlogowatu, Desa Tegalmulyo, Desa Kendal Sari dan Desa Talun di Kecamatan Kemalang, Klaten.

(zal/fay)

Senin, 08/11/2010 23:19 WIB
Merapi Meletus
Hujan Abu Guyur Muntilan, Jarak Pandang 10 Meter
Muhammad Taufiqqurahman – detikNews


Jakarta – Gunung Merapi kembali menyemburkan awan panas di berbagai derah sekitarnya, termasuk Muntilan, Jawa Tengah. Hujan abu yang turun sejak sore hari membuat jarak pandang hanya menjadi 10 meter.

“Hujan debu turun sejak sore hari tadi di sepanjang jalan di daerah muntilan dan sekitarnya,” ujar salah warga Muntilan, Tonny, kepada detikcom, Senin (8/11/2010).

Akibat hujan tersebut, jalan-jalan yang biasanya dilalui kendaraan tertutpi oleh debu setebal 5 centimeter.

“Bahkan jarak pandang kendaraan bisa hanya 10 meter ke depan dan kendaraan harus pelan-pelan untuk bergerak,” kata Tonny.

Selain itu, hampir sebagian besar daerah Muntilan mengalami pemadaman listrik. Pemadaman listrik tersebut membuat warga hanya mengunakan bantuan penerangan lain semisal lilin, genset, dan lampu minyak.

“Mati lampu sampai dengan ke arah utara merapi. kondisi di jalan saat ini relatif sepi,” terang Tonny.

Seperti diberitakan sebelumnya, hujan abu tipis sempat terjadi pada pukul 10.53 WIB tadi pagi. Menyusul kemudian hujan di puncak Merapi sekitar pukul 11.00 WIB. Hal itu mengakibatkan adanya aliran di Kali Senowo, Kali Apu, Kali Lamat dan Kali Trising.

Pada pukul 11.00 – 12.00 WIB, aliran lahar telah terlihat di Kali Apu, Kali Trising, Kali Senowo, Kali Lamat dan Kali Putih. Meski demian, patut diawasi aliran lahar di kali-kali lainnya. (fiq/irw)

 

Senin, 08/11/2010 17:23 WIB
Abu Vulkanik
Nurvita Indarini – detikNews

Prof Bambang : Abu Vulkanik Sumbat Mulut Daun Sebabkan Tanaman Layu

Jakarta – Gunung Merapi memuntahkan abu vulkanik saat bererupsi. Abu yang sangat halus ini bukan sembarang abu karena bisa membuat mesin pesawat tak berfungsi, merobohkan rumah dan pohon, serta membuat tanaman layu.

Bila Anda memiliki tanaman yang terpapar abu vulkanik, rajin-rajinlah menyiram tanaman itu, bila tidak tanaman kesayangan Anda bisa layu dan mati. Petani pun bisa gagal panen bila abu tersebut mengendap di daun tanaman. Sebab abu itu akan menyumbat mulut daun atau stomata sehingga fotosintesis akan terganggu.

Hal itu disampaikan dosen ilmu fisika tanah UGM, Prof Dr Ir Bambang Djatmo Kertonegoro MSc dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (8/11/2010):

Di Purworejo dan Magelang, Jawa Tengah, banyak pohon yang layu akibat tertabur abu vulkanik. Seberapa berbahaya abu ini bagi tanaman?

Kalau kita lihat, sejarah atau riwayat dari abu vulkanik ini adalah magma yang membeku. Tadinya magma itu merah seperti cairan besi. Lalu ketika terlontar ada kontak dengan atmosfer lalu membeku. Lontaran yang sangat kuat ini karena dari dalam Merapi ada tekanan gas yang sangat kuat, sehingga meledak terlempar ke atas. Ketika meledak,
pecahannya juga bermacam-macam.

Pecahannya ada bongkahan batu besar, kerikil, dan ada juga partikel yang halus. Yang berat jatuh di sekitar puncak Merapi, sedangkan pasir jatuhnya agak jauh. Lalu yang debu agak jauh lagi.

Partikel itu kalau menempel di daun bisa menyebabkan mulut daun tertutup. Kalau sudah begitu maka nggak bisa menyedot oksigen. Selanjutanya proses forosintesis terganggu. Makanya kalau tertutup lama, tanaman akan menjadi layu. Petani bisa gagal panen.

Untuk menghindari gagal panen, petani harus segera menyiram tanamannya?

Iya. Bisa dibantu juga kalau hujan deras datang. Tapi kalau hujannya cuma gerimis, itu malah semakin membuat abu yang menempel di daun menjadi pekat kayak lumpur yang menempel dan nggak mau jatuh.

Kalau hujannya cuma rintik, daun-daun akan membawa beban yang semakin berat. Akibatnya banyak dahan yang tumbang. Ada kebun salak yang pelepah daunnya pada patah karena nggak kuat menahan. Ada juga daun kelapa yang patah, terkulai ke bawah karena berat.

Gagal panen di dekat lereng Merapi terjadi karena tanaman terkena batu bercampur kerikil dan debu yang suhunya masih panas. Jadinya daun-daun terbakar.

Apa dampak lain dari abu vulkanik bagi tanaman?

Sebetulnya abu vulkanik kalau dilihat riwayatnya mengandung banyak unsur. Ada kalium, kalsium, magnesium, besi, silika. Itu sebagian besar diperlukan tanaman. Abu vulkanik bagi tanah bisa menyuburkan.

Ada dampak negatifnya?

Waktu gunung meletus, ada gas sulfatara atau belerang yang ikut keluar. Sebenarnya belerang dalam skala yang pas diperlukan tanaman juga. Kalau (sulfatara) banyak lalu menjadi hujan. Akan jadi hujan asam. Kalau hujan asam, tanahnya jadi asam.

Tanaman yang tumbuh di tanah yang pH (derajat keasamannya)-nya sekitar 3 atau 4 bisa membuat tanaman tidak tumbuh dengan baik. Tanaman akan keracunan, juga bisa tumbuh kerdil. Tapi kalau tanahnya basa, kena hujan asam bisa mendekati netral. Tanah netral itu mengarah ke pH 7, itu tanah yang bagus.

Kalau tanah pH-nya rendah maka unsur aluminium dan besi mudah larut sehingga tanaman akan keracunan atau kerdil. Sebaliknya di tanah yang basa, tanaman juga tidak bisa tumbuh baik karena unsur-unsurnya tidak mudah diserap tanaman.

Setelah hujan abu perlu diukur keasaman tanahnya?

Saya rasa itu perlu, untuk menghindari hasil panen yang tidak bagus. Untuk mengukurnya ada alatnya yaitu pH Meter. Caranya, tanah dilarutkan ke akuades, lalu dicelupi elektrode, nanti tinggal dibaca.

Atau bisa juga dengan kertas pH, seperti test pack untuk mengetes kehamilan. Jadi larutan tanah dicelupi kertas pH, dan hasilnya bisa dibaca. Kertas ini beli di toko bahan kimia.

Endapan abu vulkanik ada yang memiliki ketebalan hingga 4-5 cm. Bila tanah diselimuti endapan abu setebal itu apa dampaknya?

Kalau tanah pertanian, bisa kita cangkul sehingga akan tercampur dengan tanah biasa. Tapi kalau di hutan, tidak dicangkul, maka endapan abu akan tetap di atas tanah. Baru nanti kalau ada hujan ada sebagian partikel yang masuk ke dalam tanah seperti kalium dan kalsium.

Bagaimana dengan tanaman pertanian yang dikonsumsi daunnya?

Harus segera disiram dan harus tuntas, supaya mulut daun terbuka kembali. Kalau sayur-sayuran dicuci berulang kali. Asal partikel bisa lepas, saya rasa itu sudah aman.

Silikat itu sangat dominan dalam abu vulkanik. Silika itu sangat keras dan ada sekitar 40-60 persen kandungannya dalam abu. Meski sangat halus, tetapi juga sangat keras, kalau masuk ke paru-paru dan terakumulasi bisa berbahaya. Ini juga kalau kena air sedikit berbeda dengan lumpur biasa. Lumpur biasa itu benar-benar licin, kalau ini agak kasar karena kandungan silikanya. Kalau menempel di kulit langsung kita gosok juga bisa membuat kulit luka.

(vit/fay)

Senin, 08/11/2010 08:39 WIB
Hujan Abu Merapi Turun Lagi di Magelang Hingga Batang
Andi Saputra – detikNews


Jakarta – Hujan abu Gunung Merapi masih terasa di berbagi daerah di Jawa Tengah. Seperti di Magelang, setelah tidak diguyur hujan abu sejak kemarin siang, abu Merapi pagi mulai kembali memutihkan Magelang

“Kira-kira mulai turun sejak pukul 07.45 WIB,” kata warga Desa Sinda, Kecamatan Pancuran Mas, Magelang, Ibrahim Umar, kepada detikcom lewat fasilitas Info Anda, Senin (8/11/2010).

Menurut Ibrahim, hujan abu kali ini lebih tebal dibanding kemarin pagi. Daun memutih, genteng rumah tertutup abu dan mata air dan sumur masih terus ditutup menggunakan seng.

“Pagi ini mau jemur pakaian, tapi diangkat lagi karena hujan abu. Untuk cuaca saat ini cerah. Malah tadi pagi puncak Merapi kelihatan,” tambah Ibrahim. Menurutnya, pakaian itu harus segera diangkat karena kalau dibiarkan akan bau belereang.

Hal serupa juga terlihat di kawasan Pantai Utara (Pantura) Batang. Di desa Bawang, Kecamatan Bawang, pagi ini daun-daun memutih dan aspal jalan sedikit bercak putih. Meski demikian, untuk pengendara sepeda motor dan kendaraan umum masih belum terganggu.

“Semalam hujan, jadi tidak terlihat. Tahunya pagi ini dan masih terus hujan abu. Tapi tipis dan tidak terlalu terasa,” ungkap seorang warga, Heri.

(asp/nrl)

Senin, 08/11/2010 08:10 WIB
Kolom Djoko Suud
Titah Gaib dari Gunung
Djoko Suud Sukahar – detikNews


Jakarta – Mitos gunung tidak hanya di Jawa. Di banyak daerah Indonesia semua gunung mendapat atribut sama. Dia dianalogikan sebagai pusat pemerintahan gaib, dan pesannya sebagai sinyal agar manusia berjaga-jaga. Itu terjadi pada Gunung Mutis di Pulau Timor, Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Gunung Gamalama di Pulau Ternate, Gunung Karangetang di Pulau Halmahera dan gunung-gunung lain yang tersebar di Nusantara.

Di Gunung Rinjani, jika purnama tiba, maka laki perempuan dan anak-anak berduyun-duyun mendaki gunung ini. Mereka tidak mengambil rute gampang di Sembalun Lawang, tetapi melewati rute bahaya di Senaru. Rute ini hanya delapan jam dengan medan berat sampai di puncak Sangkareang.

Dari puncak ini mereka bergelayut di batu-batu cadas. Menurun menuju Segara Anak. Sebuah danau yang di tengahnya tersembul Gunung Baru yang merupakan anak Gunung Rinjani. Gunung dengan mitos Dewi Anjani, putri rupawan berilmu tinggi seperti tersurat dalam lontar Rengganis ini terus diuri-uri. Dan saat purnama tiba, ritus tabur mas itu tetap lestari.

Di Gunung Gamalama Ternate apresiasi terhadap gunung juga tak beda. Gunung yang memecah pulau Ternate yang luasnya hanya 12 kilometer ini punya danau yang dipercaya dihuni buaya putih. Buaya itu dianggap sebagai penjaga kedamaian alam setempat. Mereka yakin jika buaya diusik dan terusik, maka lahar Gamalama akan berubah arah tidak seperti biasanya. Lahar itu akan semburat seperti Merapi sekarang yang menebar ke mana-mana.

Di Gunung Karangetang Pulau Halmahera mistisisme itu kian lekat lagi. Suku Tugutil yang berdiam di seputaran gunung ini sehari-hari menjalani hidup yang kental tradisi. Itu dari kelahiran, dewasa sampai kematian. Malah jika ada warga yang meninggal, untuk mengusir roh buruk yang disebut Gomanga, mereka melakukan ritus unik untuk pengusiran sebelum mengantar si mati ke tengah hutan. Sambil mabuk mereka membabat apa saja yang dijumpa.

Dan di Pulau Timor yang dikangkangi Gunung Mutis samalah posisinya. Gunung ini juga diperlakukan sebagai area titah. Perubahan yang terjadi diasumsikan sebagai bagian dari pesan gaib untuk manusia. Berkat itu alam tetap lestari, terjaga, karena saling ‘menghormat’ antara alam dan manusia.

Di Bukit Dirun, lereng Gunung Mutis, misalnya, sesaji tak sulit ditemukan. Area ini dipercaya sebagai pemakaman kuno. Makam yang terbentuk sebelum zaman es, dan jauh pra kawasan ini timbul dari dasar laut untuk menjadi daratan. Dan itu logis jika dilihat kontur dan stuktur tanah bukit ini yang berkarang-karang.

Malah kalau kita menyusuri Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) tak tersadari mengamini buku The Atlantis karangan Arysio Santos serta Eden The East karya Stephen Oppenheimer, bahwa Indonesia merupakan benua yang hilang, dan membuka kemungkinan Nabi Nuh berasal dari Indonesia. Sebab di daerah ini terdapat bukit yang disebut Fatu Kopa (Batu Kapal). Rakyat setempat pun meyakini, bahwa batu itu adalah kapal Nabi Nuh!

Mitos-mitos iku kian mendekati realitas tatkala dirujuk pada masa lalu Pulau Seram. Di pulau ini terdapat Suku Naulu dan Suku Alifuru. Dalam Son of The Sun disebutkan, suku ini merupakan manusia awal dari sebuah peradaban yang hilang. Namanya pun menyuratkan itu. Alif adalah pertama. Dan uru adalah manusia. Dengan begitu Alifuru adalah manusia pertama.

Mitos-mitos itu memang perlu disingkap misterinya. Itu agar tidak berubah menjadi dongeng yang kelak nglenik. Para sejarawan Indonesia dituntut untuk menguak segala mitos itu agar sejarah negeri ini tidak seperti sekarang, sejarah dongeng. Raja-raja yang pernah memerintah dianggap mokswa (hilang secara gaib) dan hanya serat serta babad yang bisa dijadikan rujukan untuk mengungkap sebuah awal.

Pengalaman di lapangan menunjukkan, ilmuwan kita tak banyak turba. Entah karena malas atau takut berbagai sebab di antaranya sengsara. Sebab saat saya mendatangi Suku Boti (Pulau Timor) yang dikultuskan penerjemah saya acap dihantui ‘takut kualat’, memasuki Yot Tomat (Kepulauan Kei) diliputi rasa mencekam, mengunjungi Suku Naulu (Pulau Seram) takut dibunuh karena jika baileo (rumah adat) mereka rusak memang mewajibkan tumbal manusia, dan ketika memasuki perkampungan Suku Tugutil (Pulau Halmahera) memang terkesan menyeramkan.

Malah untuk menguak Islam Wetu Telu di Pulau Lombok pun dibutuhkan tenaga ekstra. Itu karena terpencar di Bayan (ritus keturunan Sunan Giri Prapen), di Mataram (Pura Lingsar), Sade dan Rambitan (tradisi dan masjid kuno), serta di Rambanbiak (Dasan Baru, Lombok Timur) pusat mistik Suku Sasak yang sekaligus tinggal intelektual sekte ini.

Namun di balik kekurangan-kekurangan itu mitos mempunyai peran penting bagi lestarinya budaya bangsa. Tabu dan mistik memberi pengamanan terhadap terjaganya alam dan benda yang disakralkan. Tanpa itu, rasanya hampir bisa ditebak kekayaan ini akan musnah ditransaksikan.

Maka, lepas kita suka atau tidak suka dengan tradisi dan budaya yang ada, tapi itulah diri kita, kekayaan kita, yang terasa indah jika kita menggaulinya dengan mesra. Dan itu salah satu sebab berbagai bangsa datang dan kagum dengan Indonesia.

*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.

(vit/vit)

Senin, 08/11/2010 07:35 WIB
Tekanan Gas Merapi Timbulkan Gemuruh, Elektrostatik Munculkan Petir foto
Nograhany Widhi K – detikNews


(Foto: dok detikcom)

Jakarta – Beberapa warga Yogyakarta dan sekitarnya mengeluhkan adanya gemuruh di Gunung Merapi. Bahkan ada warga yang melihat petir. Gemuruh itu disebabkan tekanan gas Merapi. Petir karena ada loncatan listrik statis.

“Suara gemuruh Merapi sampai kota Purworejo yang berjarak kurang lebih 62 km dari Yogyakarta. Terlihat kilatan petir dari arah selatan dan timur kota  Purworejo,” ujar Adi, pembaca detikcom melalui fasilitas Info Anda, Minggu (7/11/2010) malam.

Gemuruh Gunung Merapi juga dikhawatirkan beberapa warga, seperti Nugroho Widyantoro yang tinggal di Surobayan, Jatianom, Klaten, Jawa Tengah.

“Malam ini pukul 00.00 WIB saya terbangun dan mendengar gemuruh Merapi. Suara Merapi terdengar lebih keras dari biasanya, semakin malam serasa semakin mencekam saja. Jarak rumah saya ke puncak Merapi sekitar 25 km,” tulis Nugroho di Info Anda.

Keluhan serupa dikeluarkan Triyono (warga Karanganom, Mudal), Arief KHS (warga Klaten), dan Aries yang juga warga Klaten.

Menurut Kepala Badan Penyelidikan dan Penelitian Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Subandriyo, gemuruh dan petir itu merupakan fenomena alam yang menyertai erupsi gunung berapi.

“Tekanan dalam magma masih sangat besar, terutama gasnya yang sangat kuat timbulkan suara gemuruh,” ujar Subandriyo ketika dikonfirmasi detikcom, Senin (8/11/2010).

Sedangkan fenomena petir, karena ada lompatan api yang bisa menimbulkan listrik statis yang menghasilkan petir.

“Iya karena itu terjadi hembusan kolom asap hampir sepanjang hari tanpa henti biasanya memang timbul petir karena elektrostatik, setiap gunung meletus timbul loncatan api,” tuturnya menjelaskan asal usul petir.

Dia mengimbau agar masyarakat tak gampang panik dan termakan isu. “Khususnya untuk masyarakat sekitar Merapi jangan terpancing dengan isu letusan sampai 60 km, ada gas beracun dan sebagainya, sampai sekarang nggak terbukti,” pesan dia.
(nwk/nrl)

Baca Juga :

Aliran Awan Panas

Senin, 8 November 2010 08:30 WIB | Peristiwa | Umum |
Aliran Awan Panas ke Kali Gendol
Aliran Awan Panas ke Kali Gendol

Yogyakarta (ANTARA News) – Aliran awan panas yang masih terus diluncurkan Gunung Merapi berdasarkan pengamatan pada Senin pukul 00.00-00.06 WIB mengalir ke Kali Gendol dan Kali Woro.

Menurut laporan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono, aktivitas Gunung Merapi pada Senin dini hari hingga pagi masih cukup tinggi meskipun sudah tidak disertai dengan adanya gempa vulkanik.

Gempa vulkanik pada Minggu (7/11) tercatat terjadi sebanyak 31 kali, namun pada Senin hingga pukul 00.06 WIB tidak terjadi satu pun gempa vulkanik.

Meskipun demikian, sejumlah pos pengamatan Gunung Merapi masih terus mendengar suara gemuruh dan juga letusan seperti yang dilaporkan petugas pengamat di Klaten, Jawa Tengah.

Pascaletusan keras dini hari tersebut, kemudian terlihat kolom asap setinggi tiga hingga empat kilometer berwarna abu-abu yang condong ke arah barat daya.

Di Pos Pengamatan Ketep terjadi hujan abu dengan arah angin ke barat serta barat laut.

Mengingat masih tingginya aktivitas seismik Gunung Merapi tersebut ditambah kondisi sejumlah sungai yang berhulu di Gunung Merapi seperti Kali Gendol yang sudah penuh dengan endapan awan panas, maka status gunung masih ditetapkan “awas” atau level 4.

Masyarakat tetap diminta berada di luar radius 20 kilometer (km) dari puncak agar tidak terkena awan panas.

PVMBG belum mengubah radius aman dan meminta masyarakat agar tidak mempercayai isu-isu yang beredar yang mengatakan bahwa awan panas dapat mencapai jarak luncur sejauh 60 km.

Selain awan panas, ancaman lain dari erupsi Gunung Merapi adalah lahar sehingga masyarakat diminta tidak beraktivitas di sekitar alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
(ANT/A024)

COPYRIGHT © 2010

Baca Juga

Senin, 08/11/2010 15:59 WIB
Jarak Luncur Awan Panas Merapi 4 Km, Lahar Mengalir ke 5 Sungai foto
Nurvita Indarini – detikNews


Sleman – Aktivitas GUnung Merapi masih berfluktuasi. Awan panas masih diluncurkan Gunung Merapi. Jarak luncur maksimum awan panas tersebut 4 km. Hingga tengah hari, 5 sungai yang berhulu di Merapi telah dialiri lahar.

Demikian data yang dirilis Kementerian ESDM, pada Senin (8/11/2010) hingga pukul 12.00 WIB.

Data Kementerian ESDM menyebut, pada 6 November 2010 tercatat ada 6 gempa vulkanik, tremor beruntun, guguran 12 kali, awan panas 5 kali, dan gempa tektonik 1 kali. Sedangkan pada 7 November 2010, tercatat 31 kali gempa vulkanik, tremor, guguran dan awan panas terjadi secara beruntun, serta gempa tektonik sekali.

Pada Senin ini hingga pukul 12.00 WIB, data menyebutkan 9 kali gempa vulkanik, tremor dan guguran terjadi beruntun, awan panas 2 kali serta belum terdeteksi adanya gempa tektonik.

Pos pengamatan darurat di Ketep melaporkan masih sering terdengar suara gemuruh
dengan intensitas sedang sampai kuat. Kabut menyebabkan sosok Merapi sulit diamati secara visual. Kepulan awan panas di Kali Gendol sesekali terlihat dan angin yang
bertiup cenderung ke arah Barat.

Hujan abu tipis sempat terjadi pada pukul 10.53 WIB. Menyusul kemudian hujan di
puncak Merapi sekitar pukul 11.00 WIB. Hal itu mengakibatkan adanya aliran di Kali Senowo, Kali Apu, Kali Lamat dan Kali Trising.

Pengamat di sektor Timur (Klaten) melaporkan suara gemuruh terdengar keras dari Deles. Beberapa kali kepulan awan panas terlihat mengarah ke barat. Kecepatan awan panas  cukup tinggi, yakni dengan jarak luncur maksimum 4 km.

Endapan material hasil erupsi di sepanjang alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi
semakin besar. Endapan tersebut berpotensi menjadi lahar bila terjadi hujan dengan
intensitas tinggi. Pada pukul 11.00 – 12.00 WIB, aliran lahar telah terlihat di Kali Apu, Kali Trising, Kali Senowo, Kali Lamat dan Kali Putih. Meski demian, patut diawasi aliran lahar di kali-kali lainnya.

Karena kondisi itulah, status bahaya Merapi masih dalam level 4 alias Awas. Ancamannya masih berupa awan panas dan lahar.Wilayah aman bagi para warga masih tetap di luar radius 20 km.

Kementerian ESDM mengimbau agar pihak bandara atau maskapai penerbangan melakukan penyelidikan abu gunungapi yang dapat berpotensi mengganggu jalur penerbangan dari dan ke Bandara Internasional Adisutjipto di Yogyakarta.

Kementerian ESDM juga mengingatkan agar tidak ada aktivitas penduduk di daerah rawan bencana III, khususnya yang bermukim di sekitar alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi sektor tenggara, selatan, barat daya, barat dan barat laut dalam jarak 20 km dari puncak. Hal ini untuk menghindari ancaman bahaya awan panas dan lahar yang akan mengalir ke Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali
Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Senowo, Kali Trising dan Kali Apu.

(vit/nrl)

Senin, 08/11/2010 15:44 WIB
Vulkanolog AS Akan Bantu RI Atasi Merapi foto
Meylan Fredi Ismawan – detikNews


Yogyakarta – Amerika Serikat akan mengirimkan tim ahli dalam bidang vulkanologi dan geologi. Tim ini akan datang untuk membantu Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memantau aktivitas Merapi. Sebab, hingga hari ini aktivitas Merapi belum bisa diprediksi.

“Akan ada pengiriman tenaga ahli dari Amerika Serikat yaitu ahli vulkanologi dan geologi. Mereka akan membantu pekerjaan PVMBG,” ujar Menko Kesra Agung Laksono dalam keterangan pers di Media Center Tanggap Darurat Bencana Merapi di Gedung Pusat Informasi dan Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B), Jl Kenari No 14, Yogyakarta, Senin (8/11/2010).

Agung mengatakan, tim yang akan datang itu dipastikan berpengalaman dalam menangani gunung berapi. Saat ini tim tersebut lanjut Agung, sudah tiba di Jakarta. “Mereka sudah tiba di Jakarta dan akan segera meluncur ke sini (Yogyakarta),” lanjut politisi Partai Golkar ini.

Agung memastikan bahwa kedatangan tim ini bukan atas permintaan pemerintah Indonesia. Namun, Agung mengaku belum mengetahui berapa orang yang tergabung dalam tim tersebut.

“Mereka datang dengan suka rela, namun berapa orang jumlahnya belum tahu,” imbuh Agung yang mengenakan safari abu-abu.

Agung juga menjelaskan saat ini pendistribusian bantuan untuk pengungsi Merapi berjalan dengan baik dan lancar.   “Distribusi bantuan untuk Merapi, telah berlangsung dengan baik dan lancar, termasuk bantuan genset dari PLN, air bersih dan MCK dari Kemen PU, obat-obatan dari Kemenkes, dan logistik lainnya,” katanya.

Bencana Merapi ini cukup banyak menyita perhatian dunia. Agung mengatakan sebenarnya saat ini cukup banyak pihak asing yang menawarkan bantuan. Hanya saja untuk masa tanggap darurat ini, pemerintah Indonesia memilih untuk bekerja sendiri.

“Tawaran bantuan asing sudah banyak, namun kami fokuskan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi saja. Sebab untuk masa tanggap darurat pemerintah akan menangani sendiri bersama masyarakat. Kalau ada yang kurang, itu soal waktu saja dan kami tidak pernah meminta-minta, tapi mereka yang datang sendiri,” tegas pria berkacamata ini.

(lia/fay)

Senin, 08/11/2010 14:53 WIB
Mbah Rono: Aktivitas Merapi Masih Tinggi, Letusan Mendominasi
Indra Subagja – detikNews

Jakarta – Aktivitas Merapi masih tinggi. Hingga kini letusan masih belum berhenti. Warga pun diminta tetap berhat-hati dan berada di zona aman.

“Aktivitas masih tinggi, sekarang didominasi letusan,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM Dr Surono saat dihubungi detikcom, Senin (8/11/2010) pukul 14.00 WIB.

Karena kondisi ini, Surono mempertahankan status Awas untuk Merapi. Dia juga meminta agar zona aman 20 km dipatuhi, untuk menghindari korban.

“Kecenderungan aktivitas Merapi masih tinggi, banyaknya gempa itu dimunculkan dalam sinyal letusan,” ujar pria yang disapa Presiden SBY dengan Mbah Rono ini.

Mbah Rono enggan memprediksi sampai kapan kondisi ini bertahan. Yang bisa dilakukan hanya memantau sampai aksi Merapi mereda.

“Prediksi itu kalau salah bagaimana? Kalau pun benar itu kebetulan, kita tunggu saja,” ujar Mbah Rono.
(ndr/nrl)

Senin, 08/11/2010 17:40 WIB
Antara Kerbau, Wedhus Gembel dan Sapi Merapi
Rohmat Hidayatuloh – detikNews


Jakarta – Masih teringat dalam benak kita, sekitar 10 bulan yang lalu tepatnya pada tanggal 9 Desember 2009 di mana terjadi demonstrasi besar-besaran dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi Dunia. Pada ceremony itu terjadilah suatu kejadian yang mungkin di masa yang akan datang masuk dalam pena sejarah.

Kejadian di mana demonstran membawa seekor kerbau, yang diberi tulisan SiBuYa dan ditempeli gambar wajah orang paling penting di negeri ini, RI 1. Kejadian ini menyita perhatian dari seluruh masyarakat dan menjadi buah bibir selama berbulan-bulan atau bahkan sampai hari ini.

Konon kerbau itu menjadi simbol atas kepemimpinan yang ada pada diri presiden, dilambangkan dengan badan besar dan lamban. Pro dan kontra bermunculan di mana-mana, bahkan sampailah muncul larangan demonstrasi membawa binatang. Padahal selama ini juga koruptor sering digambarkan dengan binatang, yaitu tikus dan aksi-aksi terkait korupsi pasti membawa tikus atau menyertakan simbol-simbol tikus.

Seolah menjadi sebuah cap oleh sebagian kelompok atau bahkan mayoritas, ketika sang presiden menyampaikan gagasan ataupun pidatonya yang selama ini terkesan sangat normatif itu lantas menjadikan cap itu semakin kuat, yaitu lambat. Kita bisa melihatnya di bagian komentar pembaca pada berita-berita di detik.com atau media online lainnya, saat ada pemberitaan terkait presiden hampir dipastikan selalu saja komentarnya miring dan menghujatnya dengan SiBuYa. Tapi itulah konsekuansi logis menjadi pemimpin, terlalu banyak ekspektasi.

Dan itulah salah satu buah demokrasi, bisa dirasakan pahit atau manisnya tergantung siapa yang memakan buah itu. Demokrasi yang menjadikan setiap individu bebas berbicara karena dilindungi oleh undang-undang. Dan kini, entah bagaimana nasib kerbau tersebut, tidak ada yang tahu. Apakah kerbau itu masih hidup ataukah dibeli pemerintah?

Sepuluh bulan semenjak kejadian itu ternyata ada binatang lain yang menjadi buah bibir di seantero negeri kita. Bak artis yang naik daun, binatang itu menjadi headline di mana-mana. Binatang yang menjadi momok menakutkan bagi para penduduk di lereng Gunung Merapi, binatang yang tak seorangpun ingin menjumpainya, atau sekadar mengajaknya untuk ikut serta demonstrasi mengolok-olok pemerintah. Binatang itu adalah wedhus gembel. Nama yang sangat populer dan keren dan bisa jadi akan ada orang yang menamakan anaknya dengan nama wedhus gembel, sebagai bagian dari mengenang sejarah.

Wedhus gembel inilah yeng merupakan simbol dari eksistensi Merapi sebagai gunung aktif. Wedhus gembel merupakan nama yang cukup melegenda. Korban dari wedhus gembel ini tidak main-main, untuk letusan Merapi bulan ini saja sudah tercatat 88 orang tewas, ratusan orang luka dan puluhan ribu orang diungsikan. Untung saja si wedhus ini tidak membawa kawan-kawannya yang lain seperti kerbau gembel, sapi gembel dan lainnya.

Si wedhus ini bahkan sangat kejam kepada saudara-saudaranya, yaitu hewan-hewan ternak. Kedatangan wedhus gembel ini telah membunuh banyak sekali hewan ternak mulai dari sapi, kerbau, ayam dan bahkan kambing sekalipun, yang artinya sama juga dengan wedhus. Saat suasana genting di mana korban terus berjatuhan, ternyata ada saja warga lereng Gunung Merapi yang nekat untuk naik ke gunung kembali untuk memberi makan ternaknya. Padahal konon, pemerintah ini berjanji mau membeli sapi-sapi milik warga yang merupakan korban letusan merapi.

Namun, tetap saja warga ragu-ragu bahwa sapi-sapinya, sapi-sapi Merapi yang telah terlapisi oleh abu vulkanik ini akan mendapatkan ganti rugi. Warga merasa ragu dengan janji-janji pemerintah selama ini dan ketidakyakinan itu sangat kuat sehingga pada saat mereka dilarang untuk naik gunung mereka memutuskan untuk naik. Saat itulah letusan Merapi kedua terjadi di malam hari, saat mereka terlelap dan mengambil banyak korban sebanyak 55 orang meningal dunia, ratusan orang luka-luka berat, ribuan warga diungsikan, serta ratusan sapi Merapi telah mati.

Semoga pemerintah konsisten memenuhi janjinya untuk membeli seluruh sapi-sapi korban Merapi. Jangan ada pengingkaran lagi, jangan ada penyelewengan lagi, sebab jika tidak maka wedhus gembel akan kembali merajalela dan kerbau-kerbau yang bertuliskan SiBuya akan ada dimana-mana, di seluruh kota untuk menuntut keadilan.

*)Rohmat Hidayatuloh adalah mantan Ketua BEM Fakultas MIPA UNDIP.

(vit/vit)

About these ads

1 Response to “Bencana Alam : Amuk Gunung Merapi”



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,157,092 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 118 other followers

%d bloggers like this: