07
Nov
10

Bencana Alam : Gunung Merapi Semakin Berbahaya

Letusan Gunung Api

Minggu, 7 November 2010 09:16 WIB | Iptek | Sains |
Letusan Gunung Berapi Mengubah Pola Curah Hujan
Letusan Gunung Berapi Mengubah Pola Curah Hujan
Gunung Merapi. (ANTARA News/Anis Efizudin)

Jakarta (ANTARA News) – Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa ledakan besar gunung berapi bisa berdampak pada cuaca, lewat semburan partikel-partikel vulkanik yang menghalangi energi matahari dan mendinginkan udara.

Ada sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa musim dingin vulkanik akibat ledakan besar gunung berapi telah ikut memusnahkan dinosaurus dan manusia purba Neanderthal.

Pada musim panas pasca erupsi Gunung Tambora di Indonesia pada 1815, es telah merusakkan tanaman sampai sejauh New England, Amerika Serika, sementara ledakan Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991 telah menurunkan rata-rata temperatur global 0,7 derajat Fahrenheit sehingga cukup menahan dampak gas efek rumah kaca hasil ulah manusia selama setahun atau lebih.

Kini para ilmuwan berhasil memperlihatkan bahwa letusan gunung berapi juga berdampak pada curah hujan pada musim kemarau Asia, di mana badai musiman mengairi tanaman untuk makan hampir setengah penduduk Bumi.

Para peneliti lingkar pohon pada Observatorium Bumi Lamont-Doherty di Universitas Colombia memperlihatkan bahwa erupsi besar cenderung mengeringkan wilayah tengah Asia, namun menciptakan lebih banyak hujan di negara-negara Asia sebelah selatan, termasuk Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand dan Myanmar.

Penemuan baru ini bertentangan dengan prediksi kebanyakan model iklim.

Hasil penelitian mereka muncul dalam versi online jurnal Geophysical Research Letters.

Pertumbuhan lingkar sejumlah spesies pohon bisa dikaitkan dengan intensitas curah hujan.

Laboratorium Lingkar Pohon observatorium itu menggunakan lingkar pohon dari sekitar 300 tempat di seantero Asia untuk mengukur dampak 54 erupsi gunung berapi dalam kurun 800 tahun.

Data didapat dari peta lingkar pohon berumur 1000 tahun yang diteliti Observatorium Lamont, yang diketahui mencatat kekeringan panjang yang membinasakan.

Para peneliti juga telah menyelenggarakan pula penelitian terdahulu tentang pendinginan suhu di wilayah tropis.

“Kami mengira daratan bumi dan atmosfer itu dua hal berbeda, tetapi sungguh semua hal dalam sistem itu saling berkaitan. Gunung-gunung berapi menjadi pemain-pemain penting dalam iklim dari waktu ke waktu,” kata Kevin Anchukaitis yang menjadi kepala penelitian tersebut.

Erupsi-erupsi eksplosif yang dahsyat telah memuntahkan senyawa belerang yang berubah menjadi partikel-partikel sulfat kecil-kecil di atmosfer, lalu menangkis radiasi sinar matahari.

Pendinginan permukaan Bumi yang diakibatkannya bisa berlangsung bulanan atau bahkan tahunan.

Tapi tak semua erupsi akan berakibat seperti ini. Contohnya erupsi terus menerus Gunung Merapi yang telah menewaskan banyak orang. Letusan gunung berapi ini kemungkinan besar tak cukup mampu mengubah iklim dunia.

Dalam soal curah hujan, berdasarkan model yang paling sederhana, suhu yang turun bakal mengurangi penguapan air dari permukaan ke udara, sementara uap air yang sedikit berarti hujan juga bekurang.

Tapi keadaan itu menjadi demikian rumit karena ada faktor pola sirkulasi atmosferik, siklus perubahan suhu di samudera-samudera, dan bentuk massa tanah.

Sampai detik ini kebanyakan model iklim yang mempersatukan kekuatan-kekuatan seperti perubahan di matahari dan atmosfer, telah memprediksi bahwa ledakan vulkanik akan mengacaukan musim kemarau mengingat hujan menjadi lebih sedikit di Asia Tenggara. Namun penelitian terbaru justru menunjukkan hal sebaliknya.

Para ilmuwan meneliti erupsi-erupsi gunung berapi termasuk yang terjadi pada 1258 di sebuah tempat di daerah tropis dan dianggap yang terbesar dalam satu milenium (seribu tahun) terakhir, lalu erupsi Gunung Huaynaputina di Peru pada 1600-1601, Tambora pada 1815, Krakatau pada 1883, El Chichun di Meksiko pada 1982, dan Pinatubo di Filipina.

Lingkar-lingkar pohon menunjukkan bahwa petak-petak besar di China selatan, Mongolia dan wilayah-wilayah sekitarnya mengering secara konsisten dalam setahun atau dua tahun mengikuti letusan-letusan itu, sementara daratan Asia Tenggara malah mendapat hujan yang kian kerap.

Para peneliti mengatakan bahwa ada banyak faktor yang mungkin mempengaruhi hal itu, namun mereka mengatakan untuk saat ini akan spekulatif menyatakan secara persis mengapa peristiwa itu terjadi.

“Data terakhir ini terbuka untuk menguji model-model itu. Kini, tak diragukan lagi ada banyak hal yang mesti dilakukan guna memahami bagaimana kekuatan-kekuatan yang berbeda ini berinteraksi,” kata Rosanne D’Arrigo, salah seorang dari tim peneliti tersebut.

Misalnya, pada sejumlah peristiwa yang dirujuk penelitian ini, ada indikasi bahwa siklus kuat El Nino-Osilasi Selatan yang memicu perubahan cuaca di Samudera Pasifik dan Hindia serta diperkirakan amat mempengaruhi musim di Asia, mungkin telah menetralkan erupsi gunung berapi, memuat erupsi yang menetralkan, mengurangi dampak mengeringkan atau melembabkan dari erupsi vulkanik itu.

Tapi itu bisa saja terjadi lewat cara lain, kata Anchukaitis.

Dia melanjutkan, jika dinamika atmosferik dan erupsi vulkanik terjadi bersamaan dalam waktu yang tepat, maka keduanya bisa saling menguatkan, dan menciptakan akibat yang mengagetkan.

“Kemudian Anda menghadapi banjir atau kekeringan, dan keduanya buruk untuk orang-orang yang tinggal di daerah-daerah itu,” katanya.

Penelitian ini menyembulkan pertanyaan, apakah skema “teknik kebumian” untuk menetralkan perubahan iklim karena ulah manusia lewat pelepasan partikel-partikel vulkanisme buatan, akan memberikan konsekuensi-konsekuensi rumit yang tidak diharapkan.

Pada akhirnya, demikian Anchukaitis, penelitian-penelitian seperti ini seharusnya membantu ilmuwan menyempurnakan model bagaimana kekuatan alam dan kekuatan buatan manusia digunakan bersamaan di masa depan untuk mengubah pola cuaca. Inilah yang menggelayuti pikiran manusia sejagat. (*)

Science Daily/Jafar

COPYRIGHT © 2010

Intensitas Merapi

Minggu, 7 November 2010 11:16 WIB | Peristiwa | Umum |
Intensitas Gempa Vulkanik Merapi Meningkat
Intensitas Gempa Vulkanik Merapi Meningkat

Yogyakarta (ANTARA News) – Intensitas gempa vulkanik Gunung Merapi pada Minggu pukul 00.00-00.06 WIB kembali meningkat dibanding dua hari sebelumnya.

Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono, berdasarkan laporan hasil pemantauan aktivitas Gunung Merapi hingga pukul 06.00 WIB telah terjadi 31 kali gempa vulkanik.

“Intensitas gempa vulkanik tersebut meningkat cukup tinggi dibanding Jumat dan Sabtu. Pada Jumat (5/11) sama sekali tidak ada gempa vulkanik,” kata Surono di Yogyakarta, Minggu.

Selain meningkatnya intensitas gempa vulkanik, Gunung Merapi juga masih terus meluncurkan awan panas dan awan panas beruntun terjadi pada pukul 03.02 WIB yang meluncur ke Kali Gendol dan Kali Woro.

“Rentetan awan panas tersebut diawali dengan terjadinya gempa vulkanik,” katanya.

Sementara itu, suara gemuruh Gunung Merapi juga masih terdengar secara beruntun dari Kecamatan Kemalang dan Kecamatan Prambanan, Klaten Jawa Tengah, pada pukul 03.00-05.30 WIB.

Kolom asap letusan setinggi enam kilometer (km) berwarna kelabu condong ke arah barat yang terlihat dari Kecamatan Kemalang, Klaten dan kilat terlihat dari Yogyakarta.

PVMGB juga masih mengimbau kepada masyarakat untuk tetap mewaspadai ancaman banjir lahar karena intensitas hujan masih tetap tinggi, apalagi material erupsi juga terus bertambah.

Masyarakat juga tetap diminta untuk tidak beraktivitas di sepanjang alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi Merapi meliputi, Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Senowo, Kali Trising, dan Kali Apu.

Status Gunung Merapi masih tetap “awas” dan wilayah aman bagi pengungsi serta masyarakat adalah tetap di luar radius 20 kilometer (km).
(T.E013/P003)

COPYRIGHT © 2010

Minggu, 07/11/2010 12:02 WIB
Banjir Lahar Dingin Merapi Mencapai Kali Senowo Magelang, Warga Panik
Parwito – detikNews

Magelang – Lahar dingin akibat erupsi Gunung Merapi sudah mengarah ke Kali Senowo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Ratusan warga yang sempat naik ke atas untuk memberi makan ternak mereka akhirnya memilih untuk turun kembali.

“Saya kembali ke rumah sebentar mau mengambil gabah untuk digilingkan, sebagai tambahan makan untuk di pengungsian. Tapi karena kita lihat kali sudah dipenuhi lumpur, akhirnya kita turun kembali,” ujar Nora, warga Sawang, Magelang, Minggu (7/11/2010).

Nora juga mengatakan, lahar dingin yang mengalir di kali tersebut cukup deras. Terlihat batu-batu besar ikut tersapu oleh derasnya air.

“Ada juga batu besar, kandang kerbau, serta batang dan ranting pohon yang ikut tersapu, sampai jembatan yang ada di atas sungai juga terkena percikan lahar,” katanya.

Kali Senowo ini sendiri berada di radius 7 Km dari puncak Merapi. Meskipun sebelumnya letusan pada Jumat (5/11) lalu kembali terjadi, lahar dingin belum mencapai kali ini.

“Baru hari ini ada aliran lahar itu,” tambah Nora.

Petugas Satkorlak juga mengatakan, saat ini hujan deras tengah mengguyur puncak Merapi. Sehingga kemungkinan besar lahar dingin yang akan mengalir bertambah deras.

“Di atas lagi hujan deras, kemungkinan lahar dingin yang mengalir akan bertambah deras,” katanya.

Aliran lahar tersebut membuat warga yang sempat kembali ke rumahnya panik. Mereka terlihat berlari-lari meninggalkan kawasan Kali Senowo yang saat ini dalam keadaan gerimis.

Beberapa petugas Brimob yang berjaga disekitar desa tersebut sudah berusaha menghalau warga yang tetap bersikeras ingin melihat rumahnya. Namun dengan alasan hanya sebentar warga nekat berangkat.

Banjir lahar dingin merupakan ancaman paling berbahaya selain awan panas Merapi. Banjir lahar memiliki daya dobrak luar biasa yang mampu merusak infrastruktur seperti perumahan, jalan, dsb.

(lia/nrl)

Minggu, 07/11/2010 10:37 WIB
Tremor dan Awan Panas Merapi Terjadi Beruntun foto
Nurul Hidayati – detikNews


Yogyakarta – Aktivitas Merapi meningkat kembali sekitar pukul 03.02 WIB. Tremor dan awan panas yang sulit dihitung terjadi beruntun.

Demikian laporan berkala Badan Geologi di Yogyakarta hingga pemantauan pukul 06.00 WIB, Minggu (7/11/2010). Selain tremor dan awan panas, guguran juga terpantau terjadi beruntun.

Sedangkan laporan secara visual menunjukkan, “pada pukul 03:00-05:30 WIB, suara gemuruh terdengar beruntun dari Kecamatan Kemalang dan Kecamatan Prambanan. Kolom asap letusan setinggi 6 km berwarna kelabu, condong ke barat
terlihat dari Kecamatan Kemalang dan kilat terlihat dari Yogyakarta.”

Dilaporkan juga sejak pukul 03:02 terjadi awan panas beruntun mengalir ke arah Kali Gendol dan Kali Woro. “Gempa vulkanik mengawali terjadinya awanpanas, jumlahnya meningkat dari hari sebelumnya,” tulisnya.

Banjir lahar juga mengancam. “Semakin bertambahnya material erupsi di sepanjang alur sungai yang berhulu dari puncak Gunung Merapi dan tingginya intensitas hujan di sekitar Gunung Merapi, maka berpotensi terjadi banjir lahar,” demikian laporan Badan Geologi. (nrl/lrn)

Minggu, 7 November 2010 | 12:13 WIB
Nasional

Awan Panas 60 Km

Minggu, 7 November 2010 21:27 WIB | Peristiwa | Umum |
BPPTK : Awan Panas 60 Km Hanya Isu
Yogyakarta (ANTARA News) – Bali Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta menegaskan bahwa kabar mengenai akan terjadinya semburan awan panas dengan jangkaun 60 kilometer dari puncak Gunung Merapi, hanyalah isu. 

“Masyarakat diminta tetap tenang, jangan panik, karena dalam sejarah Merapi belum pernah terjadi luncuran awan panas sejauh itu,” kata Kepala BPPTK Yogyakarta Subandrio, Minggu, menanggapi isu yang beredar mengenai akan munculnya awan panas Merapi berjangkauan 60 km.

Ia meminta masyarakat diminta tetap tenang, dan mengikuti imbauan institusi yang berwenang seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, maupun Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK).

“Masyarakat tidak perlu terpengaruh adanya isu tersebut, dan luncuran awan panas tidak mungkin melampaui jarak hingga ke zona aman yang telah ditentukan yaitu 20 kilometer,” katanya.

Subandrio mengatakan awan panas memang masih terjadi, dan antara pukul 11.00 hingga pukul 12.00 WIB pada hari ini terdengar suara gemuruh cukup keras dari Gunung Merapi.

“Awan panas pada hari itu jarak luncurnya sejauh 1,5 kilometer hingga lima kilometer, dan dominan ke arah hulu Kali Gendol dan Woro,” katanya.

Menurut dia, dalam beberapa hari terakhir arah luncuran awan panas ke hulu Kali Gendol, Boyong, dan Kali Krasak. “Tetapi pada Minggu, dominan ke Kali Gendol dan Woro,” katanya.

Ia mengatakan Kali Gendol saat ini sudah dipenuhi endapan awan panas, karena awan panas terus-menerus terjadi sejak letusan pada 26 Oktober 2010.

“Kali Gendol sekarang sudah penuh dengan endapan awan panas, dan apabila masih terus bertambah dengan volume yang sama, maka jika terjadi awan panas yang menuju ke sungai itu jarak luncurnya bisa jauh,” katanya.

Meskipun luncuran awan panas bisa jauh, kata Subandrio tidak akan lebih dari 20 kilometer. “Namun, yang harus diwaspadai, awan panas Merapi saat ini terjadi terus menerus, dan setiap saat luncurannya bisa berubah arah,” katanya.

Sehingga, kata dia, jika ada warga masuk ke zona tidak aman, itu sangat berisiko. “Oleh karena itu, agar warga tidak sering menengok ternak sapinya yang masih berada di zona tidak aman, sebaiknya sapi itu dibawa turun atau dievakuasi, atau bagaimana caranya lebih baik dijual,” katanya.

(M008/B015/S026)

COPYRIGHT © 2010

Minggu, 07/11/2010 12:25 WIB
Jembatan Kali Kuning Dipenuhi Lahar Dingin
Hery Winarno – detikNews



Foto: Hery Winarno/detikcom

Sleman – Jembatan Kali Kuning, yang terletak antara Desa Umbulharjo dan Hargobinangun, Sleman, Yogyakarta, dipenuhi oleh material lahar dingin berupa pasir dan abu. Ketebalan lahar yang sudah mengering ini sekitar 5-10 cm.

Pasir dan abu yang menutupi jembatan itu diperkirakan berasal dari lahar dingin yang sempat meluap.

Pantauan detikcom, Minggu (7/11/2010), lahar dingin di jembatan yang berfungsi sebagai DAM ini hanya tinggal beberapa centimeter lagi akan meluap. Ini disebabkan karena dari 5 lobang aliran air, hanya berfungsi satu. Selebihnya, lobang tersumbat oleh material dan sampah pohon-pohon tumbang.

Jembatan Kali Kuning, yang terletak sekitar 13 km dari Merapi ini, adalah satu-satunya akses Desa Hargobinangun dan Umbulharjo dengan desa-desa lain seperti Kepuharjo dan Glagaharjo.

Jembatan masih bisa dilalui. Hanya saja jembatan masih licin karena material vulkanis tersebut. Sebagian kecil penduduk ada yang mencoba naik untuk sekadar membawa pakaian, lalu kembali turun.

(lrn/nrl)

Zona Bahaya Merapi Diperluas Menjadi 20 km
Ini merupakan perluasan kedua radius aman bagi Merapi.
Jum’at, 5 November 2010, 00:48 WIB

Ismoko Widjaya, Sandy Adam Mahaputra

VIVAnews - Aktivitas Gunung Merapi terus meningkat. Kini, radius atau zona aman bagi pengungsi dan warga sekitar diperluas tidak lagi pada titik maksimum 15 kilometer.

“Baru diputuskan radius diperpanjang menjadi 20 kilometer,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Penanganan Bencana dan Sosial, Andi Arief, dalam keterangan tertulis di akun twitter, Kamis 4 November 2010.

Ini merupakan perluasan kedua radius aman bagi Merapi. Awalnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM menetapkan area aman mencapai batas 10 kilometer. Selanjutnya diperluas lagi menjadi 15 kilometer karena letusan dan luncuran awan panas yang besar dibanding letusan pertama pada 26 Oktober lalu.

Peningkatan aktivitas Merapi terjadi menjelang tengah malam atau dini hari Jumat 5 November 2010. Peningkatan aktivitas Merapi ditandai dengan adanya suara gemuruh menggelegar yang tidak kunjung berhenti.

Suara gemuruh dan peningkatan aktivitas visual Merapi itu dibenarkan Harry Dharmawan warga Sinduhardjo, Ngaglik, Sleman, DIY, yang berada pada kilometer 7,8 Jalan Kaliurang, DIY.

“Suara gemuruh terdengar sejak beberapa menit sebelum tengah malam. Hingga kini suara gemuruh belum berhenti dan masih terdengar,” ujar Harry kepada VIVAnews.com. Menurut Harry, suara gemuruh itu terdengar beruntun setiap sekitar dua menit sekali.

• VIVAnews

Aktivitas Seismik

Minggu, 7 November 2010 16:37 WIB | Iptek | Sains |
Aktifitas Seismik Gunung Merapi Masih Tinggi
Aktivitas Seismik Gunung Merapi Masih Tinggi

Yogyakarta (ANTARA News) – Aktivitas seismik Gunung Merapi hingga Minggu, pukul 12.00 WIB, masih tinggi yang ditandai dengan gempa tremor, guguran, awan panas beruntun, dan 31 kali gempa vulkanik.

Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Minggu, aktivitas seismik Gunung Merapi hingga saat ini masih tinggi sehingga kalangan masyarakat diminta waspada dengan mematuhi jarak aman dalamradius 20 kilometer.

Laporan pengamatan Gunung Merapi dari Pos Ketep melaporkan pada Minggu, pukul 09.00 WIB, telah terjadi banjir lahar skala kecil di Kali Pabelan Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang diikuti hujan abu dan pasir dalam radius 10 km dari puncak Gunung Merapi.

Masyarakat di Ring Road Barat Daerah Istimewa Yogyakarta dan di Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, masih mendengar suara gemuruh dan menggelegar dari puncak gunung yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo mengatakan pihaknya telah memasang dua alat seismometer yang ditempatkan di Ketep dan Museum Gunung Merapi untuk melengkapi alat di Pos Plawangan.

Kedua alat tersebut digunakan untuk menggantikan tiga alat pemantauan yang telah rusak terkena letusan Gunung Merapi. “Kemungkinan besar masih akan ada lokasi baru, tetapi masih dikaji lokasi yang aman sekaligus mampu memancarkan sinyal yang baik ke BPPTK,” katanya.

Energi yang tersimpan di Gunung Merapi masih cukup besar sehingga Badan Geologi masih belum dapat memprediksi kapan letusan gunung api aktif tersebut akan berakhir.

“Sejak 3 November 2010 hingga kini Merapi telah empat hari meletus tanpa henti yang berarti bahwa energi yang tersimpan di gunung tersebut masih tetap tinggi,” kata Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R Sukhyar,
(U.E013/B015/P003)

COPYRIGHT © 2010

Energi Merapi

Minggu, 7 November 2010 16:21 WIB | Iptek | Sains |
Energi Merapi Masih Besar
Energi Merapi Masih Besar

Yogyakarta (ANTARA News) – Energi yang tersimpan di Gunung Merapi masih cukup besar sehingga Badan Geologi masih belum dapat memprediksi kapan letusan gunung api aktif tersebut akan berakhir.

“Sejak 3 November 2010 hingga kini Merapi telah empat hari meletus tanpa henti yang berarti bahwa energi yang tersimpan di gunung tersebut masih tetap tinggi,” kata Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), R. Sukhyar, di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, energi yang dikeluarkan Gunung Merapi sejak letusan 3 November hingga 7 November 2010 masih terus berlangsung hingga sekarang, bahkan lebih besar dibanding letusan pertama yang terjadi pada 26 Oktober 2010.

Ia mengatakan energi letusan Gunung Merapi pada 3-7 November 2010 tiga kali lebih besar dengan energi letusan pada 26 Oktober 2010.

“Kami tidak dapat memprediksi, kapan energi tersebut habis sehingga Gunung Merapi tidak lagi meletus. Sekarang, kita ikuti dulu saja apa yang dimaui Merapi,” katanya.

Meskipun energi yang dimiliki Gunung Merapi masih cukup tinggi, namun Sukhyar mengatakan bahwa untuk sementara ini radius aman masih ditetapkan pada jarak 20 kilometer dari puncak gunung.

Penetapan radius aman tersebut, lanjut Sukhyar, didasarkan pada data-data sejarah letusan Gunung Merapi, khususnya jarak luncur awan panas.

“Berdasarkan fakta sejarah, jarak luncur awan panas tidak pernah lebih dari 15 km, yaitu berkisar 12-13 km, sehingga radius 20 km tersebut belum akan diubah,” katanya.

Kawah berdiameter 400 meter yang telah terbentuk di puncak Merapi lebih terbuka ke selatan atau mengarah ke Kali Gendol, sehingga diharapkan awan panas yang diluncurkan Merapi akan mengarah ke kali tersebut.

Namun demikian, Sukhyar mengatakan bahwa sebanyak 12 sungai yang berhulu di Gunung Merapi harus tetap diwaspadai, khususnya untuk ancaman awan panas dan lahar.
(U.E013/M008/P003)

COPYRIGHT © 2010

PMI Kirim Hagglunds

Minggu, 7 November 2010 21:11 WIB | Peristiwa | Umum |
PMI Kirim Hagglunds untuk Evakuasi Korban Merapi
Jakarta (ANTARA News) – Palang Merah Indonesia (PMI) bakal menerjunkan dua unit Hagglunds atau kendaraan segala medan yang dapat bergerak di es, jalan terjal dan di daerah yang sulit dijangkau untuk mengevakuasi korban Merapi di Sleman, Yogyakarta. 

Ketua PMI Jusuf Kalla dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Minggu, mengatakan bahwa pihaknya memerintahkan tim relawan PMI untuk menerjunkan dua unit kendaraan Hagglunds untuk membantu proses evakuasi yang bekerjasama dengan Kopassus.

“Kami bekerjasama bersama Kopassus, karena Kopassus memiliki keahlian yang lebih dari pada tim-tim lain, sehingga dengan kendaraan Hagglunds yang kita miliki akan memperlancar proses itu,” katanya.

Ia menjelaskan, Hagglunds sendiri merupakan kendaraan segala medan yang dapat bergerak di es, jalan terjal dan di daerah yang sulit dijangkau dengan kendaraan biasa. Kendaraan ini menggunakan rantai bergerigi untuk berjalan sehingga mampu menembus area sulit.

“Dengan kendaraan ini diharapkan nantinya proses evakuasi untuk korban yang tidak dapat terjangkau dengan kendaraan biasa akan dapat tertolong, meskipun di tempat yang susah dijangkau. Kendaraan ini sebelumnya juga pernah digunakan untuk mengevakuasi korban korban bencana gempa di Padang,” ujarnya.

Sementara itu, Posko Watsan PMI yang ada di PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Jusuf Kalla meminta tim Watsan untuk selalu sigap dalam pemenuhan kebutuhan air, karena fungsi air hampir sama dengan darah.

“Tanpa air orang tidak akan dapat hidup dan beraktivitas lancar, dan untuk relawan PMI yang bertugas dilapangan dan posko-posko yang didirikan PMI, supaya mengenakan lambang atau identitas PMI, supaya terlihat oleh masyarakat dimana letak posko-posko bantuan PMI. Kebutuhan masyarakat saat ini cukup banyak, apabila stok kita memadahi maka bantu masyarakat yang membutuhkan dan apabila kurang request ke Daerah dan Pusat,” imbuhnya.

Hari ini PMI juga telah mendistribusikan telor asin ke 4 titik barak pengungsian, telor asin didistribusikan untuk mensupplai kebutuhan gizi pengungsi yang ada di tiap barak, dan apabila kondisi para pengungsi sehat, maka akan dapat bertahan, karena sudah ada laporan tentang korban yang mengalami gangguan kesehatan.

(ANT-135/J006/S026)

COPYRIGHT © 2010

Minggu, 07/11/2010 19:13 WIB
Gemuruh Merapi Sempat Terdengar Sampai Gunung Kidul
Didi Syafirdi – detikNews


Jakarta – Suara gemuruh akibat letusan Gunung Merapi masih terus terdengar. Bahkan di Dusun Sulur, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul, DIY, sekitar 75 km dari Merapi suara gemuruh terdengar pada Minggu 7 November pagi tadi.

“Tadi pagi pukul 04.00 WIB gemuruh Merapi juga terdengar menggelegar,” ujar Hartadi, salah seorang warga Gunung Kidul kepada detikcom melalui fasilitas info anda, Minggu (7/11/2010).

Suara gelegar dan gemuruh Gunung Merapi menurut Hartadi, pertama kali terdengar Jumat 5 November dinihari lalu, ketika Merapi kembali meletus dan menewaskan puluhan orang.

“Hal sama juga terjadi saat erupsi besar Jumat dinihari lalu. Bahkan dentumannya sangat menakutkan,” ungkapnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Arwan, salah seorang warga di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, DIY, yang berjarak 70 km dari Merapi. Gemuruh terdengar keras pada Kamis malam hingga Jumat dinihari (4-5 November) lalu.

“Suara gemuruh terdengar sampai Gunung Kidul,” kata Arwan.

Sugeng Rianto, melalui fasilitas yang sama mengatakan, kalau gemuruh Merapi juga terdengar di Pacitan Barat pada Kamis 4 November malam.

(did/nwk)

Minggu, 07/11/2010 18:03 WIB
Gemuruh Terdengar di Klaten, 40 Km dari Merapi foto
Lia Harahap – detikNews


Jakarta – Aktivitas Gunung Merapi belum menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti. Sampai malam ini bunyi gemuruh Merapi masih terus terdengar jelas di Klaten, Jateng.

“Sampai malam ini masih terus terdengar,” ujar Arief, warga Dusun Gadingwetan, Desa Belangwetan, Klaten Utara, kepada detikcom, Minggu (7/11/2010) pukul 17.15 WIB. Tempat tinggal Arief sekitar 40 km dari puncak Merapi.

Meski terus terdengar, lanjut Arief, suara gemuruh menjelang sore tadi sudah sedikit menurun intervalnya. Hal ini sedikit berbeda dengan hari Sabtu (6/11).

“Kalau waktu Sabtu sore dan Minggu dini hari hari itu gemuruh tidak henti-henti mulai dari pukul 03.00 WIB sampai pagi,” jelasnya.

Dusun Gadingwetan ini berjarak 40 km dari puncak Merapi. Dengan suara yang begitu jelas ini, Arief menyimpulkan, Merapi masih cukup membahayakan.

Suara gemuruh itu sempat membuat warga was-was. Apalagi dusun ini juga dijadikan tempat para warga asal Yogyakarta, Boyolali dan  beberapa desa lainnya untuk mengungsi.

“Apalagi waktu Sabtu itu gemuruhnya sampai menimbulkan getaran. Tapi kita berdoa saja, Insya Allah desa ini masih cukup aman,” katanya.

Sepanjang Minggu siang, Desa Gadingwetan sangat gelap. Sejak pagi hari, cahaya Matahari nyaris tidak terlihat.

“Dari pagi tadi gelap terus, tidak ada bedanya dengan malam. Padahal hujan abu sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

(lia/nrl)

Kamis, 04/11/2010 10:39 WIB
Kolom Djoko Suud
Politik Para Demit
Djoko Suud Sukahar – detikNews


Jakarta – Gunung Merapi masih terus memuntahkan isi perutnya. Prahara itu mengobrak-abrik Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Di tengah itu tampil Mbah Ponimin bilang ketemu Sultan Agung, muncul awan Petruk, dan Dr Surono ahli gunung mendapat ‘gelar’ baru Mbah Rono. Inilah politik para demit yang tidak enak dinalar tapi asyik didengar.

Mumpung gunung mistis itu masih bergolak, rasanya menarik untuk memasuki batin orang Jawa. Insan berperadaban lama, pengamal euphemisme, dan pemberi makna tiap kejadian dan benda. Pengayaan itu membuat banyak orang tidak paham. Padahal jika ranah ini dibawa ke Islam, maka mirip garis besar ‘Ihya Ulumuddin’ gagasan Al Ghazali. Syariat itu wadag. Ma’rifat itu jiwa.

Manusia Jawa itu hakekatnya adalah spiritualis sejati. Dia tidak hanya bicara kebaikan, tetapi sekaligus pelaku kebaikan. Syariat dijalani dengan kata dan sikap. Ma’rifatnya diendapkan sekaligus dilakukan. Itu latar idiom ing ngarso sung tulodho, ing madyo bangun karso, tut wuri handayani. Di depan memberi contoh. Di tengah menyemangati. Di belakang mendorong menuju kebaikan.

Almarhum Kuntowijoyo menyebut manusia Jawa itu introvert. Itu karena kebaikan dalam budaya Jawa disimbolisasikan padi. Padi yang berisi itu menunduk. Padi yang tegak itu gabuk. Tidak ada isinya. Ini sebagai metafora, bahwa orang yang berilmu, orang cerdas, orang yang memimpin dan sadar sebagai pemimpin itu adalah yang tidak pongah. Dalam darahnya lebih banyak dialiri unsur malaikat ketimbang setan.

Manusia yang punya budi pekerti luhur itu dituakan. Dia dijadikan tempat mengadu. Diposisikan sebagai embat-embate pitutur (pertimbangan) dalam segala persoalan. Dan orang yang sudah sama dalam kata dan tindakan itu dipanggil mbah, eyang, dan romo. Adakah Mbah Rono dan Mbah Ponimin memang sudah pada tahapan itu?

Ini penghargaan bernilai spiritual yang bersifat metafisis. Orang yang dituakan itu adalah orang yang mengamalkan filosofi budi. Dia tidak kebendaan. Apalagi pamrih jabatan. Jangan kaget jika berpuluh-puluh tahun lalu orang kaya di desa selalu dicurigai. Dituding mengkaryakan Tuyul atau Nyai Blorong, makhluk antah-berantah yang dipercaya mampu membuat kaya.

Sifat mengutamakan keluhuran itu sekarang memang semakin langka. Banyak yang bilang manusia Jawa kini sudah hilang ‘Jawanya’. Hilang etikanya. Hilang budi pekertinya. Hilang sifat spiritualitasnya, karena sudah menjadi pengamal filosofi materi. Jujur tapi miskin itu hina. Punya jabatan tinggi tidak korupsi itu naif. So, orang Jawa yang baik sekarang adalah perampok dan maling. Maling rakyat dan maling negara.

Budaya profan itu memang tuntutan. Tuntutan dari hedonisasi yang merambah seluruh sendi. Orang Jawa tak lagi menyisakan waktu nglalar lan nglulur (instrospeksi). Dan yang Islam menempatkan salat sekadar kewajiban. Wajib manembah mring Gusti Allah, tak peduli hanya dijalankan seperti check-lock absensi atau malah hanya tabik sambil berlari.

Profanisme itu yang merusak segalanya. Orang kaya hasil maling dipuja. Sogok dan suap demi lancarnya urusan dihalalkan. Cagar budaya, cagar alam, cagar-cagar yang lain dirusak untuk diduitkan. Dan ketika alam marah, maka reaksi logis adalah saling menyalahkan. Itu karena watak spiritualitasnya sudah hilang. Manusia tinggal punya mulut untuk berteriak dan punya akal untuk ngakali.

Manusia Jawa memang sinkretis. Tapi sinkretisme itu bukanlah penggabungan seluruh agama untuk dijadikan satu ugeman. Sinkretisme disini adalah suatu penghargaan terhadap kepercayaan orang lain yang berbeda. Asas harmonisasi tetap menjadi soko guru, karena perbedaan adalah radiks harmoni. Dengan begitu, maka pengakuan Mbah Ponimin bertemu Sultan Agung memang bukan berlatar ‘Islami’. Ini sama dengan penipuan mata melihat awan Petruk.

Wadagisme itu adalah politik para demit agar semuanya bubar. Jika manusia Jawa masih memegang roh spiritualitas nenek moyangnya, tentu tidak melihat setan sebagai lawan yang harus dilawan. Memang benar makhluk itu dicipta untuk menggoda. Menggoda kita agar jauh dari-Nya dan salah langkah. Tapi secara spiritual, kita harus berterimakasih pada Allah karena didampingi setan agar makin beriman dan kian dekat dengan-Nya.
Baca ‘Sajaratul Kaun’ yang mengkisahkan setan bertamu pada Nabi Muhammad SAW saat junjungan kita itu dikelilingi para sahabat. Umar Bin Khattab yang marah dan hendak membunuhnya dicegah oleh Nabi. Panutan yang dikenal jujur itu menyuruh menanyai yang baik dan buruk baginya agar manusia menjauhi yang diinginkan setan dan menjalankan yang tidak disukai setan.

Dan di tengah keprihatinan saudara-saudara kita yang terkena musibah, coba sedikit kita renungkan kata-kata James Own dalam ‘The Satanic Tragedy’. ‘Setan itu kasihan. Tobat pun masih akan masuk neraka. Tapi kalau kita mengasihani setan, itu sama artinya kita telah digoda setan.’ Subhanallah!

Politik setan memang halus dan menjebak. Adakah kita mengamalkan itu dengan saling menghujat perbedaan dan saling menyalahkan tragedi yang terjadi?

*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.

(vit/vit)

Baca Juga :

About these ads

0 Responses to “Bencana Alam : Gunung Merapi Semakin Berbahaya”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,192,090 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 121 other followers

%d bloggers like this: