01
Nov
10

Bencana Alam : Renungan Pasca Oktober 2010

Minggu, 31/10/2010 19:07 WIB
Merenungi Bencana Sepanjang Oktober
Pendi Supendi – detikNews


Jakarta – Selama Bulan Oktober, bencana alam tampak tak henti menimpa negeri ini. Ketika semua mata tertuju kepada ratusan korban banjir bandang di Wasior, Papua Barat, kita terhenyak oleh kabar meletusnya Gunung Merapi di Sleman, Yogyakarta. Akibatnya puluhan orang tewas dan ribuan warga mengungsi. Sejumlah ternak dan tanaman pertanian pun musnah.

Pada saat bersamaan gelombang tsunami akibat gempa tektonik berkekuatan 7,2 SR telah meluluhlantakan pulau Mentawai. Ratusan orang dinyatakan tewas dan ratusan lainnya hilang terseret ombak tsunami. Sementara di salah satu kota terpadat di dunia, Jakarta, sebagian warga menderita akibat banjir besar tahunan.

Tentu saja rangkaian musibah demi musibah yang seakan tak henti menimpa negeri ini membuat kita semua prihatin. Sebagai bentuk solidaritas kepada para korban sudah selayaknya kita ikut membantu meringankan penderitaan para korban. Yang paling mudah adalah mendoakan agar semua korban yang selamat diberikan kesabaran dan bisa kembali hidup normal. Sementara bagi yang meninggal, kita berdoa semoga Allah menerima segala kebaikannya dan mengampuni segala dosanya.

Di samping itu tentu kita perlu melakukan perenungan. Merenungi apakah semua bencana yang terus menimpa negeri ini hanya sekedar fenomena alam biasa atau merupakan suatu adzab, peringatan  atau teguran dari sang pencipta alam (kholik) Allah SWT atas apa yang telah diperbuat oleh hambanya di negeri ini. Kita perlu merenunginya supaya hidup kita ke depan lebih hati-hati lagi dan tidak gegabah dalam berbuat. Dan lebih bijak dalam memperlakukan alam. Sebab kalau kita tidak melakukan perenungan atas semua musibah ini, maka semua kejadian itu hanya sekedar  fakta biasa dan tak berefek terhadap kehidupan kita. Walhasil semuanya lewat begitu saja dan hidup kita pun tak berubah menuju kehidupan menjadi lebih baik.

Sah-sah saja ketika sebagian orang berpendapat bahwa bencana alam seperti banjir, gunung meletus atau gelombang tsunami adalah fenomena alam biasa. Namun bila itu hanya dilihat sekadar fenomena alam biasa saja seperti anggapan kebanyakan orang saat ini maka bisa keliru. Kenapa? Karena ternyata ada beberapa bencana alam terjadi akibat ulah manusia sendiri secara langsung seperti banjir bandang di Wasior, Papua atau banjir di Jakarta. Banjir bandang di Wasior terjadi karena ulah sebagian manusia yang serakah dengan merusak kelestarian hutan di daerah tersebut. Sementara banjir di Jakarta salah satunya adalah akibat ulah sebagian warga Jakarta sendiri yang telah menyulap daerah resapan air di Puncak Bogor-Cianjur menjadi kawasan hiburan dengan membangun sejumlah villa.

Sementara letusan Gunung Merapi atau gempa tektonik yang mengakibatkan tsunami bisa jadi memang karena murni alami dan kehendak Allah. Namun kita harus tetap merenunginya bahwa itu bisa jadi merupakan teguran Allah  kepada hambanya agar mau mentaati segala aturan-Nya. Nah kalau sebagian besar penduduk negeri ini tidak melakukan perenungan dan hanya melihat bahwa itu fenomena alam biasa seperti selama ini maka lihatlah sikap mereka tidak banyak berubah. Mereka tidak mengambil hikmah dari bencana-bencana yang sudah terjadi.

Coba kita lihat selama ini orang yang biasa melakukan berbagai kejahatan tetap dengan kejahatannya seperti mencuri, merampok, membunuh, berzina, melakukan hubungan sesama jenis, meminum atau memakan hal yang diharamkan, menyebarkan kemaksiatan, merusak moral seperti membuat dan mengedarkan majalah atau film porno, menjual narkoba atau minuman keras dan bentuk seni yang mengumbar aurat dan syair-syair yang menyeru maksiat.

Demikian juga yang biasa melakukan pembangkangan terhadap aturan Allah tetap dengan pembangkangannya seperti yang dilakukan oleh penguasa atau wakil rakyat yang membuat dan menerapkan aturan jahiliyah (aturan buatan manusia) dalam mengurusi urusan masyarakat seperti mengurusi pendidikan, sosial, budaya, hukum, politik, ekonomi, pertahanan dan keamanan dan hubungan luar negeri. Tetap seperti itu. Semuanya tak berubah.

Bahkan kalau dilihat dari hari kehari pembangkangan mereka kepada Tuhan Sang Pencipta alam ini makin vulgar. Mereka secara nyata membangkang dan menentang aturan yang telah dibuat Allah seperti yang tercantum dalam Alquran atau hadist sohih dengan alasan yang naif yakni tidak sesuai dengan HAM (hak asasi manusia). Misalnya aturan tentang qishas bagi yang membunuh, rajam atau cambuk bagi yang berzina, atau potong tangan bagi yang mencuri. Bukan hanya itu mereka pun menuduh bahwa syariat Islam itu akan mengancam persatuan dan mengancam keragaman masyarakat. Malah para dai yang menyerukan tegaknya syariat Islam pun dituduh secara kejam seperti tuduhan teroris. Itulah yang terjadi di negeri ini.

Padahal kalau kita mau merenung lebih dalam dengan mempelajari sejarah umat terdahulu, maka kita bisa mengambil hikmah dari semua kejadian alam ini. Apa yang terjadi dengan negeri ini bisa jadi karena akibat ulah penghuninya yang memang sudah sedemikian jauh dari aturan Allah. Iya memang benar demikian adanya. Kita harus mengakui itu semua.

Coba saja perhatikan ketika penghuni negeri yang mayoritas muslim ini beberapa kali mendapat teguran dari Allah SWT mulai dari bencana tsunami di Aceh dan Sumatera, gempa di Yogyakarta, gempa di Padang, jebolnya Situ Gintung, sikap mereka tidak berubah. Bukannya bertobat dan makin dekat kepada Allah yang telah menciptakan alam ini malah sebaliknya mereka makin jauh. Adalah wajar barangkali jika sekarang Allah menegur dan menampar lagi penghuni negeri ini dengan lebih keras dan bisa jadi akan lebih keras lagi hingga suatu saat kita semua mau berubah dan tunduk pada aturan Allah.

Itu benar, sebab saat ini toh masih banyak di antara kita yang tetap cuek dan tetap berpaling dari aturan Allah. Contohnya meski musibah masih terus terjadi seperti banjir bandang di Papua, letusan gunung merapi di Yogykarta yang belum berhenti, bencana tsunami di Mentawai, dan malah ancaman gempa tektonik hebat seperti ramalan BMKG yang menyatakan akan terjadi gempa susulan dengan skala 8,8 SR di Sumatera, toh masih ada di antara penduduk negeri ini yang tidak mau merenung bahkan untuk empati saja tidak ada. Buktinya bisa dilihat dari beberapa acara di televisi yang masih tetap penuh dengan aneka acara yang menjurus kepada maksiat. Bahkan salah satu stasiun TV tetap menggelar acara ulang tahunnya dengan pesta musik yang penuh dengan glamour dan jauh dari rasa empati terhadap musibah yang terjadi belakangan ini.

Penulis kadang berpikir, apa kita semua mungkin akan mau berubah dan tunduk kepada aturan Allah kalau semua penghuni negeri ini diluluhlantakan oleh Allah dengan suatu bencana yang hebat. Atau paling minimal kalau kota Jakarta dihancurkan dengan gelombang tsunami atau musibah semacamnya. Na’udzubillah. Tentu kita tidak ingin itu semua terjadi. Karena itulah  marilah kita segera merenung dan mengambil hikmah dan pelajaran dari semua musibah yang menimpa negeri ini. Marilah kita mengikuti perintah Allah seperti yang tercantum dalam Alquran surat Al-Imran ayat 133, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”.

Ya Allah Ya Tuhan kami. Ampunilah kesalahan kami. Berikanlan petunjuk agar kami bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua musibah yang menimpa negeri ini. Sehingga kami mau tunduk kepada aturan-Mu. Amin. Wallahu a’lamu.

(vit/vit)

Tsunami 8000 Tahun

VIVAnews

By Hadi SupraptoSabtu, 30 Oktober
Tsunami Sudah Ada Sejak 8.000 Tahun Lalu
Suasana kota Talcahuano, Cile, usai gempa bumi dan tsunami

VIVAnews – Gempa berkekuatan 7,2SR yang mengguncang Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Senin 25 Oktober 2010, menimbulkan serangan gelombang maut, tsunami. Seluruh pemukiman yang berada di pantai barat gugusan kepulauan itu diterjang tsunami sehingga menewaskan lebih dari 400 orang.

Indonesia tidak lagi asing dengan bencana itu. Pada Desember 2004, tsunami besar terjadi di Aceh. Lalu tiga bulan berikutnya terjadi di Nias. Setahun lagi, tepatnya 17 Juli 2006, tsunami juga terjadi di Pangandaran, Jawa Barat.

Rekam jejak tunami ternyata sudah terjadi sejak tahun 6.000 Sebelum Masehi. Laman media ilmiah Livescience.com mencatat daftar tsunami maha dahsyat yang pernah terjadi di bumi.

6.000 SM

Gugusan salju besar di Sisilia longsor dan jatuh ke laut. Longsor yang terjadi pada 8 ribu tahun lalu ini memicu bencana tsunami tersebar di Laut Mediterrania. Tidak ada catatan sejarah bencana ini. Hanya para ilmuwan geologi memperkirakan tsunami dengan kecepatan 320 kilometer per jam ini mencapai ketinggian gedung 10 lantai.

1 November 1755

Setelah gempa yang menghancurkan Lisbon, Portugal, dan mengguncang sebagian besar Eropa. Orang-orang banyak yang berlindung di perahu. Namun, tsunami justru terjadi. Tak pelak bencana ini menewaskan lebih dari 60 ribu orang.

27 Agustus 1883

Letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda, memicu tsunami yang menenggelamkan pesisir Sumatera, Jawa bagian utara, dan Kepulauan Seribu. Kekuatan gelombang bisa menyeret karang seberat 600 ton ke pantai. 36 ribu orang meninggal sia-sia.

15 Juni 1896

Gelombang setinggi 30 meter muncul sesaat setelah terjadi gempa di Jepang. Seluruh pantai timur disapu tsunami itu. 27 ribu orang meninggal.

1 April 1946

Gempa besar di Alaska menimbulkan gelombang besar di Hawaii. Bencana yang sering disebut sebagai misteri “April Fools Tsunami” itu menewaskan 159 orang.

9 Juli 1958

Gempa berkekuatan 8,3 SR di Alaska menyebabkan gelombang besar hingga 576 meter di Teluk Lituya, Alaska. Ini merupakan tsunami terbesar yang tercatat di zaman modern.

Untung saja, tsunami terjadi di tempat terisolir, sehingga tidak menimbulkan banyak korban. Tsunami ini hanya menyebabkan dua nelayan meninggal dunia, karena kapalnya  karam diterjang ombak.

22 Mei 1960

Gempa bumi terbesar yang pernah tercatat sebesar 8,6 SR di Chile. Gempa ini menciptakan tsunami yang menghantam Pantai Chile dalam waktu 15 menit. Gelombang tinggi terjadi hingga 25 meter. Tsunami ini menewaskan 1.500 orang di Chile dan Hawaii.

27 Maret 1964

Gempa Alaska “Good Friday” berkekuatan 8,4 SR, menimbulkan gelombang 67 meter di kawasan Valdez Inlet, Alaska. Gelombang dengan kecepatan 640 kilometer per jam ini menewaskan lebih dari 120 orang. Sepuluh orang di antaranya dari Crescent City, California, yang juga mendapat kiriman ombak setinggi 6,3 meter.

23 Agustus 1976

Tsunami di Filipina barat daya menewaskan 8 ribu orang. Gelombang besar ini juga dipicu gempa bumi di sekitar pantai.

17 Juli 1998

Gempa dengan kekuatan 7,1 SR menghasilkan tsunami di Papua Nugini. Gelombang besa dengan cepat membunuh 2.200 orang.

26 Desember 2004

Gempa maha dahsyat dengan kekuatan 9,3 SR mengguncang di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh. Gempa paling besar sepanjang 40 tahun terakhir ini menimbulkan gelombang tinggi di Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.

Setidaknya 320 ribu orang dari delapan negara meninggal dunia. Bencana ini merupakan kematian terbesar sepanjang sejarah.

28 Maret 2005

Tiga bulan kemudian tsunami juga terjadi di Sumatera. Gempa di lepas pantai Nias yang berkekuatan 8,7 SR itu memicu tsunami besar yang menewaskan 1.300 orang di Pulau Nias, Sumatera Barat.

Minggu, 31/10/2010 16:55 WIB
Amien: Bencana itu Teguran dari Tuhan
Ramadhian Fadillah – detikNews


Yogyakarta – Berbagai bencana silih berganti mengguncang Indonesia. Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (MPP PAN) Amien Rais menilai seluruh bencana ini adalah teguran dari Tuhan agar manusia memperbaiki diri.

“Ini teguran dari Tuhan. Harus diambil hikmahnya,” ujar Amien usai pelantikan DPW PAN Yogyakarta di Wisma Haji, Yogyakarta, Minggu (31/10/2010).

Amien menjelaskan hal ini bukan saja merupakan teologi Muslim, tetapi juga Kristen dan Yahudi. Dalam sejarah disebutkan Tuhan memberikan azabnya bagi kaum yang membangkang agar kembali ke jalan yang benar.

“Seperti pada umat Nabi Luth. Tapi kita tidak separah itu. Kita tetap ambil hikmahnya untuk mengkoreksi diri,” terang Amien.

Amien menilai wajar Tuhan memberikan teguran, saat ini tidak ada keadilan di Indonesia. Korupsi merajalela dan kesenjangan sosial begitu tinggi.

“Hukum hanya berlaku untuk orang kecil,” kritik Amien.

Usai pelantikan, Amien sempat meninjau Posko Bantuan PAN bagi Korban Merapi. Di Posko yang terletak di Jl Kaliurang ini Amien memberikan bantuan secara simbolis berupa selimut, makanan, pakaian serta berbagai kebutuhan para pengungsi.

(rdf/fay)

Minggu, 31/10/2010 13:30 WIB
Ternyata, Tsunami Mentawai Sudah Diprediksi 9 Bulan Lalu foto
Fitraya Ramadhanny – detikNews


Foto: Andi (detikcom)

Jakarta – Gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan Mentawai sungguh mengejutkan banyak pihak. Namun ternyata, gempa dan tsunami dahsyat di Mentawai, sudah diprediksi oleh tim ilmuwan Irlandia 9 bulan sebelumnya. Bahkan tim itu pun sudah meminta pemerintah Indonesia waspada.

Prediksi itu dibuat ilmuwan terkemuka John McCloskey, profesor di Institut Riset Sains Lingkungan Hidup di Universitas Ulster, Irlandia Utara. McCloskey terkenal sejak prediksi gempa Sumatera yang cukup akurat di tahun 2005.

Peringatan ini dituangkan dalam surat untuk jurnal Nature Geoscience dan pernah dilansir kantor berita AFP, Senin 18 Januari 2010 silam. McCloskey sudah khawatir akan terjadi gempa di Mentawai.

“Ancaman gempa penyebab tsunami yang dahsyat dengan skala kekuatan lebih dari 8,5 di tambalan Mentawai tidak berkurang. Ada potensi timbulnya korban jiwa sebesar tsunami Samudera Hindia tahun 2004,” demikian peringatan tersebut.

Dikatakan tim itu, bahaya tersebut berasal dari dari penumpukan tekanan yang terus-menerus dalam dua abad terakhir di belahan lempeng Sunda (Sunda Trench), salah satu zona gempa paling mengerikan di dunia, yang berlangsung paralel ke pantai Sumatera bagian barat.

Tidak disebutkan kapan waktu kejadian tersebut. Namun dengan jelas diingatkan bahaya untuk Padang, kota dengan 850 ribu jiwa penduduk yang terletak di wilayah yang berisiko tersebut.

“Ancaman untuk peristiwa itu adalah jelas dan kebutuhan untuk aksi mendesak sangatlah tinggi,” demikian peringatan para ahli seismologi tersebut.

Peringatan ini adalah hasil riset tim McCloskey setelah menganalisa gempa Padang, 30 September 2009 lalu. Bahkan, mereka meminta pemerintah Indonesia bersiap-siap khusus untuk kawasan Mentawai dan Padang.

“Penting sekali bahwa pemerintah Indonesia dengan bantuan komunitas internasional dan organisasi-organisasi nonpemerintah, memastikan bahwa mereka menuntaskan upaya bantuan dan pembangunan tahan gempa usai gempa bumi ini, dan bekerja sama dengan rakyat Padang untuk membantu mereka menyiapkan diri untuk gempa berikutnya,” pungkas mereka.

Gempa dan tsunami pun akhirnya benar-benar terjadi pada Senin 25 Oktober kemarin dengan kekuatan 7,2 Skala Richter (SR), tidak sampai 8,5 SR seperti prediksi McCloskey. Daerah Padang siap dengan pemantau gempa dan tsunami. Namun tidak demikian dengan Mentawai, karena tidak dipasangi pemantau tsunami oleh pemerintah.

Tsunami yang menerjang Mentawai luput dari perhatian dan baru diketahui keesokan harinya. Hingga Minggu (31/10/2010) korban jiwa di Mentawai mencapai 449 orang, 96 orang hilang, 270 orang luka berat, 142 orang luka ringan dan 14.983 orang terpaksa mengungsi.

(fay/vit)

Alam Indonesia Tolak Obama, Apa Jadi Datang? 

lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]

Senin, 01/11/2010 | 17:40 WIB

Alam Indonesia Tolak Obama, Apa Jadi Datang?
Oleh: Tubagus Januar Soemawinata (Unas)

WASIOR, Papua Barat tiba-tiba longosr dan banjir bandang. Ratusan orang meninggal dan ribuan lainnya kehilangan harta benda. Juga rumah dan ternak.Sekarang yang tersisa di Wasior tinggal bekas-bekas keganasan alam. Setelah Wasior tsunami menerjang Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar).Kembali ratuasn orang tewas, dan ratusan lainnya dinyatakan hilang disapu gelombang pasang maha dasyat.Akibat kjejadian ini, Pantai Mentawai yang konon terindah didunia menjadi pantai mati.Tak ada tanda-tanda bahwa disitu dulu didiami manusia. Semuanya seolah musnah dalam sekejap.

Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah (Jateng) yang jinak-jinak merpati tiba-tiba mengamuk. Dia memuntahkan lahar dan awan panas yang mebawa tumbal nyawa. Ribuan orang jadi pengungsi.Rakyat di kedua provinsi di Jawa panic.Mereka bingung, karana alam tiba-tiba murka. Mereka bertanya-tanya mengapa jadi begini? Alam yang ditanya sama bingtungnya. Karena dia sendiri sedang meriang.Sakit panas dingin mirip demam berdarah. Untuk itu saya mencoba merenung, membasuh diri dengan harap badan dan raga menjadi suci dan mampu berpikir jernih.

Dari mata batin dan penerawangan saya . nyata alam sangat murka.Karena manusia Indonesia sudah berjalan di luar rel.Apa yang dipantang ditabrak.Apa yang dipantang dinggap takhayul. Apa yang selama ini dianggap budaya dan telah menjadi kearifan lokal dianggap ketinggalan jaman.Orang jawa telah kehilangan jawanya. Sebab orang Jawa merasa lebih malu kalau tidak mampu bicara cas-cis-cus-ces-cos ketimbang bisa Bahasa Jawa. Dan kita menganggap bangsa asing, orang kafir lebih mulia dari kita.Orang Amerika dianggap lebih pintar,lebih hebat, lebih bisa dari kita. Sehingga apa yang dinyatakan orang asing selalu dipandang lebih benar.

Ini semua sebenernya telah membuat mual perut bumi. Ini semuanya sebenarnya telah membuat alam jadi mabok kepayahan. Maka muntahlah dia. Maka tumpahlah segala isi perut alam yang berubah menjjadi bencana. Mengapa? Karena kita telah menganggap Presiden AS Barack Husein Obama seolah Tuhan. Seolah Dewa yang dapat mendatangkan kemakmuran bagi bangsa dan negara. Lihat saja untuk menyambutnya disamping pengamanan dilakukan super ketat. Sebelumnya aparat telah menyapu orang-orang yang dianggap teroris, yang dipandang bisa membahayakan Obama. Mereka ditembak mati tanpa melalui peradilan.Padahal negera kita adalah negara hukum. Kita punya polisi jaksa dan hakim. Namun ternyata kita lebih memilih penyelesaian secara cepat. Yakni melalui eksekusi langsung tanpa basa-basi.

Semua itu jelas telah menjadi catatan alam. Semua itu jelas telah membuat Sang Pencipta geleng-geleng kepala. Karena heran dan tidak mengerti, mengapa manusia kejam, beringas dan telengas hanya pengin disanjung orang asing? Karena alam tidak mau pusing dan alam telah membenci perilaku kita. Maka mereka berikan tanda-tanda alam. Tsunami, banjir bandang, gempa bumi, angin putting beliug, dan sebagainaya. Dengan harapan manusia Indonesia sadar dan mau kembali menengok ke belakang. Yakni perlukah kita menyambut Obama berlebihan? Dan apakah Obama kita harapkan supaya datang? Padahal alam telah protes dan unjuk rasa secara keras dan nyata! (*)

Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana

Ada Kelalaian Peringatan Tsunami Mentawai
Sabtu, 30 Oktober 2010 | 12:18

[JAKARTA] Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief mengakui, 12 jam pertama sejak terjadinya tsunami di Mentawai ada kelalaian. Sebab, selain sudah diprediksi tapi tidak menyangka tsunami datang lebih cepat.

“Ada kelalaian. Karena info saat itu masih simpang-siur,” katanya, saat diskusi bertajuk “Bencana dan Duka Indonesia,” di Jakarta, Sabtu (30/10).

Andi mengakui, harus diakui banyak tim reaksi cepat yang sebenarnya bisa digerakkan beberapa saat terjadinya bencana di Mentawai. “Namun mereka berfungsi setelah informasinya benar,” katanya. [W-12]

Kamis, 28/10/2010 11:06 WIB
Dr Eko Teguh: Akumulasi Energi Membuat Erupsi Merapi Besar dan Cepat
Nurvita Indarini – detikNews


Jakarta – Dibandingkan pada 2006 lalu, erupsi Gunung Merapi kali ini lebih besar dan lebih cepat. Hal ini dikarenakan akumulasi energi yang lebih besar yang dikandung salah satu gunung paling aktif di dunia tersebut. Selain itu di Merapi bagian selatan terdapat bukaan kawah yang jarak ke Kali Adem yang dekat dengan pemukiman penduduk sekitar 4 km.

Demikian disampaikan vulkanolog dari Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta, Dr Eko Teguh Paripurno. Berikut ini wawancara detikcom dengan penulis desertasi Karakter Lahar Gunung Api Merapi sebagai Respons Perbedaan Jenis Erupsi Sejak Holosen, Kamis (28/10/2010):

Sekarang ini Gunung Merapi yang relatif tenang karena sedang mengumpulkan energi. Artinya letusan selanjutnya tinggal menunggu waktu?

Sebelumnya ada guguran mulai kecil sampai besar sehingga memunculkan getaran/tremor. Kalau pada saat tenang memang pilihannya ada dua. Pilihan pertama, memang karena tidak ada energi atau stabil. Sedangkan pilihan kedua, ada pengumpulan energi.

Kalau dinyatakan sedang mengumpulkan energi, artinya lebih memilih pada pilihan kedua untuk mengurangi risiko. Karena kalau mengambil pilihan pertama, bilang aman, padahal energi belum keluar, maka akan habis. Ini prinsip kehati-hatian.

Deformasi puncak yang hingga 21 Oktober hanya 10,5 cm per hari menjadi 42 cm per hari. Ini menunjukkan magma semakin mendekati puncak?

Ketika ada deformasi ada getaran. Kalau getaran semakin dangkal berarti massa magma bergerak semakin ke atas. Gerak magma ditandai oleh perubahan letak pusat getaran. Jadi pusat tremor di mana, maka di situ pergerakan magma.

Secara awam aktivitas yang meningkat itu salah satunya ditengarai dengan bau belerang yang kuat tercium. Tapi kan indera kita juga terbatas. Tetap butuh alat pantau.

Disampaikan deformasi terfokus pada kubah lava erupsi 1911, rapuh karena usianya sudah lebih dari 100 tahun. Apakah akan terbentuk kubah baru di situ?

Yang naik ke atas adalah magma. Kalau naik ke atas dan energinya cukup maka akan dilontarkan. Kalau energinya terbatas maka disisipkan menjadi kubah. Sedangkan kalau lemah maka dilelehkan. Sebenarnya erupsi itu kan bukan hanya meletus, tapi itu bisa juga menyusup dan mengalir.

Wah Mbak, ada gempa sekarang ini (sekitar pukul 09.00 WIB). Ini sekitar 4 SR. Kalau kondisi Merapi sedang masak maka bisa memicu erupsi, tapi kalau sedang mengumpulkan energi maka tidak terjadi erupsi. Tapi dilihat dulu ini (gempa) asalnya (sumber) dari mana.

Biasanya Merapi memang membentuk kubah lava, tapi karena nggak stabil lalu longsor. Itu memang karakter umum Merapi. Tipe umumnya vulcano. Tapi ada kekhasan, yakni ada kubah lava di atas, dan itu menjadi tipe erupsi Merapi.

Ketika ada guguran kubah lava maka akan membentuk awan panas. Nah awan panas karena guguran ini arahnya sesuai dengan ketidakseimbangan pada kubah lava. Kalau sekarang tidak terjadi kubah lava, sehingga yang terjadi adalah erupsi umum (letusan), bukan kubah lava seperti misalnya tahun 2006 dan tahun beberapa tahun sebelumnya.

Ada kemungkinan Merapi bisa meletus lebih besar lagi?

Kalau terjadi pemekaran bibir kawah, puncak semakin merekah maka ini mengarah ke tidak stabil. Di banding dulu (2006), energi yang terkumpul lebih besar dari sebelumnya, atau proses cepat dan volume banyak. Kalau tadinya 3-4 km (jarak guguran lava) sekarang puluhan kilometer. Dan kita nggak tahu sudah selesai atau belum (pengeluaran energi). Jadi kita tunggu dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Merapi akan semakin stabil atau aman jika perkembangannya semakin nggak ada. Misalnya saja tremornya semakin nggak ada, guguran semakin nggak ada, sulfur turun. Kalau sudah begini biasanya akan ada penurunan status.

Dibanding gempa, erupsi gunung memang relatif mudah diprediksi. Makanya ada penetapan status seperti aktif normal, siaga dan awas. Tapi kalau sekarang kita nggak bisa menebak akankah segera meletus. Ini seperti belajar statistik. Harus diamati benar-benar datanya.

Jadi kecenderungannya saat ini Merapi akan eksplosif?

Sekarang kecenderungannya eksplosif. Ini karena kekentalan lava dan energi yang terkandung. Lava itu ada yang kental hingga sangat kental. Kekentalan ini berubah-ubah terkandung pada cairan dan gas. Lalu erupsi itu tergantung apa? Ada yang tergantung gasnya atau kedalaman kantung magma terakhir.

Sekarang masih ada luncuran lava. Tapi informasi menyebutkan yang meluncur bukanlah lava pijar. Apa artinya?

Kalau ada lava pijar artinya yang muncul lava baru. Kalau yang meluncur bukan lava pijar, itu karena belum ada pembentukan lava baru. Jadi yang tua yang meluncur, dan itu luncuran batu biasa.

Kondisinya tidak stabil karena ada penambahan kubah dari dalam. Kalau ada penambahan baru lagi akan bergeser, longsor lagi, stabil lagi. Itu siklus yang lazim pada gunung api dengan energi sedang yang modelnya menyusup.

Namun sekarang ini Merapi lebih eksplosif sehingga membentuk letusan. Dulu (2006) perubahan kegiatan Merapi berubah dalam bulan atau minggu, tapi sekarang kan hari. Jadi sekarang kita tunggu dulu, kita lihat data bagaimana Merapi sehingga bisa segera diinformasikan status selanjutnya.

Apa perbedaan erupsi sekarang dengan erupsi Merapi 2006?

Ada perbedaan akumulasi energi. Bentuk puncak juga berbeda karena itu erupsinya lebih besar dan lebih cepat, juga risiko lebih besar. Apalagi sekarang ada bukaan ke selatan, yang dulu nggak ada. Jarak penduduk di barat hingga ke puncak itu sekitar 8 km, sedangkan sekarang jarak di selatan ke Kali Adem adalah 4 km, dengan begitu risikonya lebih tinggi. Yang di sebelah selatan harus lebih waspada karena lebih dapat luncuran.

Erupsi Merapi saat ini sepertinya vulcano murni, cenderung vertikal dan pola letusannya menyembur ke berbagai arah. (vit/nrl)

Bencana Alam AsPac

VIVAnews

By Renne R.A KawilarangKamis, 28 Oktober
PBB : Asia Pasifik Paling Rentan Bencana Alam
Suasana di suatu desa di lereng Merapi pasca semburan awan panas

VIVAnews – Negara-negara di Asia-Pasifik empat kali lebih rentan dihantam bencana alam ketimbang di Afrika, bahkan 25 kali lebih rentan ketimbang di Eropa dan Amerika Utara.

Demikian menurut laporan dari Perserikatan Bangsa-bangsa.

Laporan “The Asia Pacific Disaster Report 2010″ disusun oleh Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk kawasan Asia dan Pasifik (ESCAP) dan Badan PBB Urusan Strategi Internasional untuk Penanggulangan Bencana (UNISDR). Dipublikasikan Selasa, 26 Oktober 2010, ini merupakan kali pertama PBB menyusun laporan khusus mengenai bencana alam di Asia-Pasifik.

“Bencana alam telah menimbulkan dampak yang tidak sepadan bagi pembangunan manusia di kawasan ini,” demikian menurut laporan itu, seperti yang dimuat di laman ESCAP.

Laporan ESCAP-UNISDR juga menyorot kurangnya kapasitas studi bencana alam yang komprehensif di Asia-Pasifik. Maka pemerintah-pemerintah di kawasan ini harus meningkatkan kerjasama terpadu untuk menyusun rencana penanggulangan bencana.

Bencana alam menunjukkan ironi bagi Asia-Pasifik. Kawasan ini mampu menyumbang seperempat dari total pertumbuhan ekonomi global berdasarkan tingkat produk domestik bruto (GDP). Namun, bencana alam di Asia-Pasifik menghasilkan 85 persen dari total korban tewas di penjuru dunia dan 42 persen dari kerugian ekonomi global.

Laporan itu juga menilai bahwa kerugian akibat bencana alam diperparah oleh kemiskinan. Tingkat kerentanan lebih besar diderita warga miskin dan ini berasal dari ketimpangan sosial-ekonomi dan lingkungan alam.

“Sepanjang ketimpangan itu tidak diatasi, mereka yang terus-menerus berisiko dihantam bencana alam akan tetap miskin dan kian rentan pula diterpa bencana. Situasi ini menciptakan lingkaran setan sehingga sulit untuk keluar,” kata Noeleen Heyzer, Sekretaris Eksekutif ESCAP, dalam pernyataan bersama dengan Magaretha Wahlstrom, Utusan Khusus PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana.  (umi)

Sabtu, 30/10/2010 17:37 WIB
Kolma
Bapak Bangsa, Elite Bencana
Eddi Santosa – detikNews


Woluwe Saint Pier – Ketika diketahui ada 61 warga Belanda tewas dalam kecelakaan pesawat Airbus A330 Afriqiyah Airways, Mei lalu, para anggota parlemen dan petinggi pemerintah Belanda segera membatalkan liburan privat mereka dan langsung kembali ke negaranya untuk ikut berkabung bersama keluarga para korban dan rakyat Belanda. Peduli, solidaritas, simpati, tenggang rasa, tanggung jawab pemimpin terhadap rakyatnya. ‘Cuma’ 61 nyawa…

Sebaliknya para anggota DPR RI di saat bencana menimpa rakyatnya malah ngotot pergi ‘studi banding’ dengan justifikasi masing-masing. Berapa korban tsunami Mentawai? Update termutakhir: 413 orang tewas, 303 lainnya hilang, 412 luka berat dan ringan, ratusan rumah, ternak, harta benda dan gedung-gedung sekolah luluh lantak, binasa. Korban Merapi 33 orang tewas, ratusan rumah hancur. Ribuan warga lainnya mengungsi. Sebelumnya banjir Wasior juga telah menelan 161 orang tewas.

Kepemimpinan dan keteladanan macam apakah ini? Soal jalan-jalan ke luarnegeri dengan alasan studi banding demi penyusunan RUU, untuk keseribu kali perlu diulang di sini: itu stupidity! Rakyat yang masih punya hati nurani mari saya ajak untuk mencermati kembali teks préambule konstitusi negara kita. Para Bapak Bangsa kita, tanpa studi banding, tapi dengan akal budi dan kecerdasannya, mampu memformulasikan teks hebat yang substansinya sejajar dengan Piagam PBB dan tetap relevan dengan isu-isu dunia sekarang. Di Jakarta para Bapak Bangsa berhasil melahirkan rumusan hak kemerdekaan/kebebasan, demokrasi, kemanusiaan, kemakmuran, dan perdamaian dunia. Pada saat hampir bersamaan di atas geladak kapal USS Augusta di perairan Samudera Atlantik, Winston Churchill dan F.D. Roosevelt mencapai apa yang selanjutnya dikenal sebagai Atlantic Charter (Piagam Atlantik), yang kemudian menjadi dasar berdirinya PBB.

Substansi keduanya mirip. Bayangkan, waktu perumusan hampir bersamaan. Belum ada internet, teknologi telekomunikasi saat itu masih sederhana, lamban dan sangat terbatas. Bahkan proses perumusan dalam sidang-sidang BPUPKI selanjutnya PPKI (rentang 29/5/1945 sampai 18/8/1945), telah lebih dulu daripada pertemuan di geladak USS Augusta (14/8/1945). Sekali lagi tanpa studi banding, tanpa contek-menyontek. Tapi dengan akal budi, kecerdasan dan daya kreasi, serta semangat pengabdian yang dimiliki para Bapak Bangsa itu lahirlah mahakarya grand design peletak dasar negara Indonesia, termasuk rumusan bentuk negara, wilayah negara, kewarganegaraan, rancangan Undang-Undang Dasar, ekonomi dan keuangan, pembelaan negara, pendidikan dan pengajaran. Dirancang sendiri, digali sendiri, sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia.

Masihkah orang-orang DPR itu tebal muka mengarang 1000 justifikasi untuk terus-terusan studi banding? Bahkan di tengah bergelimpangannya mayat-mayat rakyat yang tengah dilanda bencana? Kalau iya, mungkin ini memang elite biang bencana, yang membuat negeri ini jauh dari berkah. Faktanya gerudak-geruduk studi banding dengan rombongan besar itu sampah. Hampir semua negara di planet bumi ini distudi-banding, tapi hasilnya ngga nggenah. Kelas menengah Indonesia pembayar pajak terbesar harus menjadi agen perlawanan untuk membuang mereka. Berilah pendidikan politik bagi keluarga dan masyrakat sekitar untuk tidak lagi percaya, termasuk kepada partainya.

Keterangan penulis:
Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja

(es/es)

Baca Juga :

Bencana Beruntun Karena SBY Zalim? 

lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]

Minggu, 31/10/2010 | 20:52 WIB Bencana Beruntun Karena SBY Zalim?Jakarta –Mantan Koemanda Marinir Letjen TNI (Purn) Soeharto menganggap, berbagai bencana yang terjadi di sejumlah wilayah tanah air belakangan ini disebabkan perlakuan zalim pemerintah SBY terhadap rakyatnya. Kezaliman pertama itu, jelasnya, karena pemerintahan SBY tidak memiliki konsep dan cenderung mengedepankan pencitraan diri.

“SBY juga hanya menggunakan masterplan orang asing. Maka bila dibandingkan rezim Orde Baru ternyata masih baik ketimbang rezim SBY. Mantan Presiden Soeharto memiliki konsep sehingga bencana bangsa yang terjadi jauh lebih sedikit dibandingkan masa kepemimpinan SBY,” tandas jenderal marinir purnawirawan ini.

Hal ini disampaikan Letjen TNI (Purn) Soeharto dalam diskusi bedah buku “Bencana Bersama SBY” karya Ridwan Saidi yang digelar Petisi 28 di Doekoen Coffee, Jl,. Pasar Minggu, Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (31/10), seperti dilansir RM Online.

Ia menambahkan, kezaliman lain yang sudah dilakukan SBY adalah membiarkan penggantian demokrasi Pancasila dengan nilai-nilai demokrasi Barat. Demokrasi kerakyatan oleh hikmat dirubah dengan demokrasi one man one vote alias demokrasi uang. “Kepemimpinannya (SBY) sudah menghancurkan rumah rakyat (MPR). MPR dijadikan banci. MPR sudah dilumpuhkan dengan amandemen-amandemen,” tandasnya.

Jika ingin terbebas dari bencana, pemerintah harus menghentikan perlakuan zalim yang telah dilakukannya kepada rakyat. “Tanpa itu dilakukan bangsa ini tetap akan terkena bencana,” pungkas mantan Komandan Marinir ini.

SBY ‘Lelet’ Mirip Perempuan
Pengamat politik senior Ridwan Saidi yang juga mantan Ketua Umum PB HMI menilai, sebenarnya ada yang salah pada sosok Persiden SBY sehingga bencana datang beruntun selama kepemimpinannya mulai dari Tsunami Aceh, banjir di berbagai daerah hingga yang terakhir ini tsunami Mentawai dan letusan Gunung Merapi.

“Saya kira karena dia (SBY) selalu bicara tidak konsisten dan tidak relevan,” papar Ridwan Saidi di sela-sela diskusi bedah buku karyanya berjudul “Bencana Bersama SBY” yang digelar Petisi 28 di Doekoen Coffee, Jl. Pasar Minggu, Pancoran, Jakarta, Minggu (31/10/2010).

Secara metafisika, menurut Ridwan, pernyataan SBY yang ternyata inkonsistensi setelah dilantik pada 2004 lalu berakibat fatal. SBY waktu itu mengatakan mau tinggal di Istana Negara tapi kenyataannya dia malah tetap memilih tinggal di Cikeas, Bogor.

Ridwan pun menilai tak aneh apabila Presiden SBY selalu terlambat dalam menangani korban bencana, bahkan terkesan kurang responsif. Sebab dalam pengamatannya, gestur tubuh yang dimiliki SBY bukanlah gestur presiden yang baik seperti dikehendaki alam. “Geometri tubuhnya tidak sesuai dengan geometri alam. Masak (maaf -red) teteknya besar dan pantatnya gede,” celetuknya.

Tapi kenapa SBY selalu menang di pemilu, bukankah itu kehendak alam? “Saya kira bukan. Dia menang karena uang, bukan karena kehendak alam,” jawab Ridwan Saidi yang juga budayawan Betawi ini. (*/RM/ARI)

Bencana Bertubi-tubi: Sudah Waktunya Kita Bertobat 

lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]

Kamis, 28/10/2010 | 08:08 WIB Bencana Alam Bertubi-tubi: Sudah Waktunya Kita Bertobat Kepada-Nya
Oleh: Bakaruddin Is *)

MENJELANG Peringatan Hari Soempah Pemoeda 28 Oktober, Allah menunjukkan lagi bukti betapa Maha Kuasanya Dia. Tanggal 26 Oktober, terjadi hujan abu dan pasir panas dari perut Gunung Merapi di daerah Magelang dan Boyolali, Jawa Tengah dan Kaliurang Yogyakarta, bahkan abunya sampai ke Ciamis Jawa Barat. Sampai Rabu malam 27 Oktober, telah 30 orang meninggal dunia, termasuk seorang wartawan Viva News, Yuniawan dan “juru kunci” Gunung Merapi, Mbah Maridjan, yang terkenal sebagai orang “kuat” iklan sebuah minuman itu. Lebih 40 ribu orang mengungsi, dan lebih 50 korban dirawat di RS.

Walaupun Gunung Merapi ini sudah mengeluarkan awan panas dan menimbulkan hujan debu sampai ke Ciamis, status gunung berapi yang teraktif di dunia itu masih sangat mungkin untuk meletus dengan memuntahkan lahar panas, dan kalau itu terjadi, maka para korban kemungkinan besar akan jauh lebih banyak dan dahsyat. Kita hanya berdoa agar hal ini tidak terjadi.

Bencana Alam Bertubi-tubi
Sehari sebelumnya, 25 Oktober, nun jauh di sana bagian Barat Indonesia, di Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, terjadi gempa tektonik berkekuatan di atas 7,2 skala Richter (SR), bahkan menurut stasiun pengamat gempa Amerika Serikat, kekuatan gempa itu mencapai 7,7 SR. yang menyebabkan badai Tsunami, yang sampai Rabu malam telah merenggut lebih 311 jiwa, lebih 400 orang hilang dan lebih 4.000 orang mengungsi.

Seingat penulis, belum pernah terjadi dua bencana alam besar, gempa tektonik dan gelombang Tsunami dan letusan gunung berapi, yang terjadi dalam waktu yang bersamaan di Indonesia atau mungkin di satu negara di dunia, sehingga perhatian dan bantuan Pemerintah dan masyarakat menjadi terpecah dua. Bukan itu saja, dana bantuan untuk membantu para korban pasti jauh lebih besar.

Padahal belum satu bulan berlalu, 5 Oktober, banjir bandang Wasior, di Papua Barat telah meluluh-lantakkan kota itu, Lebih 150 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya dinyatakan hilang. Lebih lima ribu orang mengungsi ke berbagai kota di Indonesia Timur, Manokawari, Kendari dan Makassar.

Korupsi dan Perbuatan Maksiat Masih Marak
Walaupun begitu seringnya Negara kita ditimpa bencana demi bencana yang seakan tak habis-habisnya, sebgian dari kita masih tidak sadar-sadar juga akan peringatan dari Allah tersebut.

Korupsi jalan terus, dan semakin meningkat dua kali lipat dibanding tahun lalu.Pemberantasan korupsi hanya sekedar wacana dan basa-basi. Penyelesaian kasus besar dugaan korupsi di Bank Century semakin tidak jelas. Sidang korupsi Gayus Tambunan, yang menggelapkan ratusan miliar, belum menunjukkan titik terang. Para penegak hukum seperti KPK, Kejaksaan maupun Kepolisian seperti bermain pimpong, saling melempar tanggung jawab. Aliran dana Bank Century tetaplah misteri.

Sementara itu, kejahatn lain seperti penyelundupan, pembuatan dan peredaran narkoba semkin menjadi-jadi. Peredaran miras (minuman keras) semakin tidak terkendali yang merenggut ribuan nyawa manusia secar sia-sia. Pembuatan dan peredaran uang palsu, pembobolan uang nasabah melalui ATM, penipuan berkedok investasi yang mengakibatkan kerugian warga ratusan juta masih sering terjadi. Perampokan Bank oleh terrorist semakin ganas tanpa peduli dengan nyawa manusia.

Pertengakaran, tawuran, saling menghancurkan bahkan saling membunuah di antara warga karena masalah-maslah sepele seperti pertandingan sepak bola atau karena menonton musik atau tak puas hasil Pemilukada sangat sering terjadi. Banyak nyawa melayang, dan banyak rumah yang terbakar. Sungguh menyedihkan, peringatan-peringtan dari Allah tidak dihiraukan.

Para Pemimpin Sibuk Jalan-jalan, Berdebat dan Bertengkar
Saat Gempa dan Tsunami di Mentawai Suamtera Barat, dan hujan abu panas di Gunung Merapi, Presiden SBY dan rombongan dengan pesawat khusus, sedang dalam perjalanan di China dan Vietnam, walaupun akhirnya presiden memutuskan mempercepat kunjungannya di Vietnam, dan terbang langsung ke Padang, untuk meninjau ke Mentawai Kamis 28 Oktober. Saat artikel ini dibuat, SBY sudah berada dan menginap di Padang. Sebelumnya, Wapres Boediono sudah mengunjungi korban di Mentawai. Kita sedikit gembira, ada kemajuan terhadap musibah yang menimpa rakyat, disbanding saat bencana banjir bandeng di Wasior awal Oktober yang lalu.

Sementara itu, rombongan Badan Kehormatan DPR yang tidak terhormat sedang bertamasya ke Yunani dengan menghabiskan uang rakyat lebih dari Rp2 miliar, tanpa peduli dengan kritik dari berbagai pihak. Padahal uang Rp2 miliar itu, akan jauh lebih bermanfaat bila digunakan untuk membantu korban bencana alam. Bahkan sesungguhnya total anggaran DPR untuk berwisata ke luar negeri dengan alasan study banding ini adalah sebesar Rp170 miliar, lebih besar dari rencana Pemerintah untuk minta tambahan dana bencana alam sebesar Rp150 miliar.

Sementara itu para pemimpin negeri ini masih sibuk berdebat dan bertengkar. Di antara rakyat di berbagai daerah, sering terjadi keributan dan kerusuhan karena tidak puas dengan hasil Pemilukada (pemilihan kepala daerah) yang dianggap tidak fair, penuh kecurangan oleh calon yang kalah. Sementara demo-demo anarkis terjadi setiap hari di berbagai kota di seluruh Indonesia, sebagai tanda ketidak-puasan terhadap Pemerintahan SBY.

Setiap partai hanya sibuk membangun partai dan golongannya sendiri. Kita saksikan bagaimana para pemimpin Partai Demokrat sibuk membela diri, mempertahankan semua kebijakan Pemerintah yang banyak dikritik oleh berbagai pihak, meng-claim bahwa baynyak prestasi yang telah dicapai oleh Pemerintah, padahal rakyat merasakan sebaliknya, hidup semakin sulit dan sengsara.

Sementara partai Orde Baru, Golkar, sibuk membangun citra dengan iklan di TV dengan menyatakan bahwa “Suara Golkar adalah suara rakyat”, dan mengkampanyekan agar mantan Presiden Seharto diangkat menjadi pahlawan Nasional.

Sungguh para pemimpin dan para politikus negeri ini tidak punya hati melihat penderitaan dan kesengsaraan rakyat, yang semakin terpuruk dengan banyaknya bencana alam ini. Mereka sibuk dengan diri mereka sendiri. Sungguh sangat menyebalkan dan menyakitkan hati kita.

Bencana Tsunami dan Gunung Merapi Masih Bisa Terjadi
Tanpa bermaksud mendahului ketentuan dan takdir Allah, gempa tektonik di Kepulauan Mentawai masih bisa terjadi dengan kekuatan yang lebih besar yang dapat mengakibatakan badai Tsunami lebih besar. Berdasarkan cacatatan yang ada, sejak gempa tgl 25 Oktober lalu, sudah terjadi 15 kali gempa tektonik susulan dengan kekuatan yang lebih kecil.

Begitu juga dengan Gunung Merapi. Walaupun tidak seoarangpun di antara kita yang menghendakinya, Gunung Merapi masih besar kemungkinan untuk meletus dengan lebih dahsyat, dengan memuntahkan lava dan hawa panas yang dapat mencapai 800 derajat C, yang dapat menghanguskan dan menghancurkan apa saja di sekitar Gunung Merapi.

Korban akan jauh lebih banyak apabila letusan itu terjadi di siang hari, karena banyak para pengungsi yang kembali ke rumahnya di siang hari untuk melihat keadaan rumah dan harta benda mereka, lalu kembali ke tempat pengungsian di malam hari.

Apakah Ini Azab atau Peringatan dari Allah?
Begitu banyak bencana alam yang telah kita alami di negeri ini, yang merenggut nyawa dan harta begitu banyak, dalam waktu yang begitu singkat, bahkan saat ini dua bencana alam sekaligus di pulau yang berbeda.

Apakah ini hukuman dan azab atau hanya sekedar peringatan dari Allah, kepada kita bangsa Indonesia atas segala dosa-dosa kita? Apakah Tuhan telah marah kepada kita, karena kita adalah orang-orang yang tidak pandai bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah karuniakan kepada kita?

Akankah kita tetap ingkar dan berbuat maksiat? Akankah kita tetap tidak mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya? Akankah kita tetap merusak hutan dan alam kita?

Mari Kita Kembali Kepada-Nya
Hanya Allah Yang tahu, apakah semua bencana ini merupakan hukuman atau hanya peringatan dari Allah, agar kita kembali kepada-Nya. Kembali menyembah-Nya. Kembali menuruti segala perintah-Nya dan manjauhi segala larangann-Nya.

Betapa lemah dan tidak berdayanya manusia. Bagaimana dalam waktu hitungan menit begitu banyak korban meninggal tersapu badai Tsunami. Bagaimana dalam waktu yang singkat seluruh kampung di Gunung Merapi musnah terbakar, tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali karena hawa panas. Bagaimana Kota Wasior hancur lebur tersapu banjir bandeng hanya dalam hitungan jam.

Manusia memang lemah. Tiada daya melainkan hanya Allah SWT. La haula wala quata illa billah. Astagfirullah. Mari kita kembali kepada-Nya, rukuk, sujud dan menyembah-Nya. Mohon ampun atas segala dosa dan kesalahan kita.

Ya Allah ampunilah segala kesalahn dan dosa-dosa kami. Janganlah Engkau timpakan bencana-bencana lagi yang bertubi-tubi ke negeri ini. Jangnlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang kami tidak kuat memikulnya. Kasihanilah dan sayangilah kami. Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan. Perkenankanlah doa kami. Amin ya Rabbal A’lamin. (Diambil dari situs Kompasiana)
*) Pensiunan PNS di Departemen Pertanian, pendidikan terakhir Faculty of Agriculture and Forestry, Univesity of Melbourne, Australia. Saat ini giat dalam kegiatan Dakwah dan Tabligh serta menjalankan bisnis Air Oxy dan dan kalung/ gelang biomagnet. Situs web  http://www.my-oxy.com/?id=rudinis dan http://www.biomagwolrd.com.

Tujuh Wilayah di Indonesia,Rentan Bencana
Sabtu, 30 Oktober 2010 | 12:00

Suara Pembaruan

[JAKARTA] Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief menyatakan, tujuh wilayah di Indonesia rentan bencana. Tujuh wilayah tersebut yakni, Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Jakarta, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Jawa Barat.

“Berdasarkan peta Hazard Kegempaan yang diperbarui pada Juli lalu, tujuh wilayah tersebut ada peningkatan potensi bencana,” katanya, saat diskusi bertajuk “Bencana dan Duka Indonesia,” di Jakarta, Sabtu (30/10).

Andi menyatakan, saat pertemuan di Bukittingi, Sumbar, beberapa waktu lalu, pembahasan mengenai potensi bencana tersebut sudah didiskusikan. “Adanya peningkatan potensi itu akan menjadi perhatian utama pemerintah,” ujarnya.

Pengamat politik Hermawan Sulistiyo mengatakan,manajerial kebencanaan sangat buruk. “Di tingkat aturan sudah sangat bagus. Sayangnya,di tingkat lapangan koordinasinya sangat buruk,” katanya. [W-12]

Alarm Tsunami

Senin, 1 November 2010 08:49 WIB | Iptek | Sains |
Jerman Ribut Gara-gara Alarm Tsunami Mentawai
Jerman Ribut Gara-gara Alarm Tsunami Mentawai
Pelampung peringatan tsunami (der speigel)

Jakarta (ANTARA News) – Pekan kemarin Jerman gaduh oleh kritik tidak berfungsinya sistem peringatan dini tsunami buatan negeri itu yang dipasang di Indonesia, khususnya Mentawai.

“Senin, ratusan orang Indonesia tewas oleh gelombang tsunami karena peringatan dini tidak sampai ke warga,” lapor der Spiegel (29/10).

Media Jerman itu melanjutkan, menyusul tsunami tersebut, muncul pertanyaan di Indonesia mengenai keampuhan sistem peringatan dini yang sepenuhnya dirancang para insinyur Jerman.

Ratusan nyawa melayang gara-gara tsunami yang tinggi gelombangnya bisa sampai delapan meter, sedangkan 25 ribu rumah hancur.

“Kini pada para ilmuwan lokal (Indonesia) mempertanyakan sistem alarm tsunami yang dibangun Jerman di kawasan itu,” kupas der Spiegel.

Berlin membenamkan dana 62,2 juta dolar AS (Rp553 miliar) untuk membangun sistem peringatan dini tsunami segera setelah gelombang dahsyat tsunami menewaskan 210 orang di Asia Tenggara pada 2004.

Namun Senin pekan lalu, pelampung-pelampung peringatan dini yang memberi isyarat bakal ada gelombang mendekat itu tetap tidak bereaksi, demikian seorang pakar oseanografi Indonesia seperti dikutip BBC.

Alat bernilai 300 ribu euro itu dilaporkan tak berfungsi, sementara warga Mentawai menyebut sirene peringatan tsunami tak berbunyi, dan gelombang tsunami datang amat mengejutkan.

Kritik itu mungkin keliru, setidaknya sejumlah dokumen pihak otoritas Indonesia menunjukkan justru manusialah yang menjadi penyebabnya, lapor Spiegel Online.

Menurut data itu, sistem peringatan dini tsunami berfungsi baik. Pada 9.47 malam, hanya lima menit setelah alat pencatat gempa menyebutkan ada gempa, sistem peringatan dini yang berbasis di Jakarta itu mengirimkan peringatan bahaya tsunami.

Masalahnya, peringatan itu keluar 39 menit setelah gempa, atau hanya beberapa saat setelah gelombang tsunami menghantam Kepulauan Mentawai.

“Gelombang itu hanya setinggi 23 centimeter di dekat kota Padang,” kata Jorn Latuerjung dari Pusat Penelitian Geosains Jerman (GFZ) di Postdam, dekat Berlin.

Sensor gempa dan sistem peringatan dini dipasang selama lima tahun terakhir di Indonesia di bawah tanggung jawab ilmuwan Jerman ini.

Sistem peringatan ini tidak begitu efektif karena episentrum gempa terlalu dekat ke pantai. Tsunami menerjang Mentawai hanya beberapa menit setelah menyentuh pelampung peringatan dini.

“Peringatan tidak bisa dikomunikasikan secepat itu,” kata Peter Koltermann, staf pada divisi tsunami di kantor UNESCO.

Tapi, mengapa sirene tanda bahaya semalaman itu tidak berbunyi?

Penduduk setempat yang menggantungkan diri pada peringatan dini itu –biasa disebut “kilometer terakhir” — menilai alat itu ditempatkan di titik lemah.

Para teknisi Jerman telah berupaya keras memitigasi masalah-masalah kilometer terakhir ini di sepanjang tiga wilayah pantai. Mereka mengeluhkan ada kesenjangan standard pemasangan alat antara teknisi Indonesia dengan teknisi Jerman.

Misalnya, kabel-kabel malah direntangkan diantara pohon-pohon kelapa, bukan ditanam di tanah seperti diinstruksikan buka manualnya.

Harald Spahn dari GTZ, mengungkapkan dibutuhkan waktu tahunan untuk membuat sistem peringatan dini ini berfungsi lagi di seluruh daerah.

Tetap saja para ahli dinilai gagal karena tsunami datang begitu mengejutkan warga, apalagi gempa sudah terlebih dahulu mengguncang pantai di mana mereka tinggal.

“Mungkin pelatihan tsunami lebih maju diperlukan untuk membuat warga tahu sekali bahaya (tsunami),” kata Koltermann.

Warga Mentawai mengaku tidak menyadari ada gempa karena saat itu hujan lebat turun. Namun saat gelombang tsunami pertama tiba, banyak orang yang berhasil mencapai tempat lebih tinggi.

Seorang pakar dari PBB menegaskan bahwa setidaknya ada satu pelampung peringatan dekat situs bencana yang rusak, tapi itu sudah diketahui lama.

Kebanyakan pelampung peringatan tsunami di Samudera Hindia sudah tidak laik pakai. Salah satu pelampung buatan Jerman rusak karena ditumbuhi ganggang laut, sedangkan yang lainnya pecah dilabrak kapal penangkap ikan.

Suatu waktu, lima dari enam pelampung peringatan tsunami ini hilang dicuri perampok. Mereka mempereteli alat ini sebelum kemudian dijual ke pasar.

Sebenarnya pelampung peringatan tsunami ini tidak begitu penting, karena hanya untuk mencek cuaca bawah laut setelah terjadi gempa yang dapat memicu tsunami.

Tapi setelah guncangan gempa dahsyat seperti terjadi Senin pekan lalu, alarm otomatis selalu berbunyi. “Dalam kasus seperti ini, Anda tak perlu data pelampung,” kata Koltermann.

Yang menjadi soal, warga perlu tahu bahwa ada gempa kuat di dasar samudera, dan tetap tak bisa dijelaskan mengapa warga Mentawai tak memperoleh data ini Senin itu.

Para pakar gempa memperingatkan bahaya tsunami berikutnya.

Penelitian-penelitian yang ditempuh pakar gempa Kerry Sieh pada Obervatorium Bumi di Singapura menunjukkan bahwa gempa di tepi barat pulau Sumatera itu menciptakan efek domino (reaksi berantai).

Satu gempa akan memicu gempa lainnya. Sieh mengatakan gempa yang lebih kuat dari gempa Senin lalu akan terjadi lagi segera.

Para ilmuwan yakin bahwa wilayah dekat Pulau Siberut, Sumatera, terancam terkena gempa besar berkekuatan 8,8 Skala Richter, yang akan memicu tsunami amat dahsyat. demikian der Spiegel. (*)

disadur Jafar Sidik

COPYRIGHT © 2010

Baca Juga

Merapi & Mentawai

Kamis, 28 Oktober 2010 07:35 WIB | Iptek | Sains |
Letusan Merapi dan Tsunami Mentawai Berkaitan ?
Letusan Merapi dan Tsunami Mentawai Berkaitan?
Asap solfatara disertai guguran material Gunung Merapi terlihat dari Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Selasa (26/10). (ANTARA/ Wahyu Putro A)

Jakarta (ANTARA News) – Gelombang tsunami di Mentawai dan meletusnya Gunung Merapi kemungkinan berkaitan satu sama lain, tulis Richard A. Lovett dari National Geographic News, mengutip sejumlah ilmuwan, Kamis.

Gelombang tsunami itu dipicu oleh gempa bumi berkekuatan 7,7 Skala Richter yang terjadi pada Senin pukul 9.42 WIB, di pulau paling barat Sumatera. Tsunami dan gempa tersebut menewaskan lebih dari 300 orang.

Beberapa jam kemudian gunung berapi Merapi setinggi 3.000 meter di Yogyakarta, memuntahkan abu panas ke angkasa dan menewaskan setidaknya 30 orang yang tinggal di kaki gunung itu.

Gunung api teraktif di Indonesia, demikian Richard Lovett, meningkat aktivitas energinya dalam beberapa hari terakhir.

Namun waktu letusan utamanya muntah hanya beberapa jam setelah gempa bumi Mentawai membangkitkan pertanyaan apakah guncangan di perut bumi telah memicu letusan, kendati episentrum gempa berada 1.300 km dari Merapi.

“Bisa saja terjadi letusan gunung berapi berkaitan dengan perubahan tekanan akibat gempa bumi atau dipicu oleh gelombang seismik. Namun dokumentasi mengenai hal ini belum pasti,” kata Chris Goldfinger, pakar geologi laut dari Universitas Oregon State, dalam emailnya.

Contoh-contoh yang telah diketahui, katanya, termasuk perubahan dalam aktivitas geotermal di Taman Nasional Yellowstone pada 2002 menyusul gempa bumi 7,9 SR di Alaska, dan letusan gunung Andes pada 1960 setelah dipicu gempa bumi berkekuatan 9,5 SR di Chile.

Sementara itu para pakar memperkirakan dua bencana yang terjadi bersahutan itu memang berkoinsiden di dalam negara yang memiliki kegempaan paling di dunia itu.

Indonesia, sebut National Geographic, berada di Cincin Api Pasifik, dan 17.500 pulau-pulaunya hidup dalam ancaman (guncangan) tektonik.

Misalnya, di pulau Merapi berada, yaitu Pulau Jawa, lebih dari 30 gunung berapi mengancam lebih dari 120 juta orang penduduknya.

Gempa lambat?

Sementara itu, para pakar mencatat bahwa gelombang tsunami yang terjadi pekan ini di luar dugaan karena tergolong besar untuk ukuran gempa yang menyertainya.

Gempa 7,7 SR yang memicu tsunami Mentawai itu terjadi di zona patahan yang sama dengan gempa 9,0 SR yang memicu tsunami dahsyat di Samudera India (termasuk Aceh) pada 2004.

Kendati gempa Senin itu tidak sekuat gempa 2004, namun tsunami yang diakibatkannya dapat menciptakan gelombang setinggi tiga meter dan melabrak pulau-pulau terdekat ke pusat gempa, bahkan di beberapa tempat tinggi gelombang tsunami bisa mencapai 6 meter.

Costas Synolakis, Direktur Pusat Riset Tsunami pada Universitas Southern California, menyebut peristiwa ini sebagai gempa bumi tsunami. Synolakis mengutip ini dari penaksiran ahli geofisika Emile Okal dari Universitas Northwestern.

Kendati banyak jenis gempa bisa memicu tsunami, gempa bumi tsunami adalah kasus yang unik.

Pada tipe gempa seperti ini, pergeseran lempeng tektonik biasanya berlangsung lambat, terjadi pada periode yang lebih panjang dari yang diperkirakan, didasarkan pada intensitas geseran seismik, kata Synolakis dalam emailnya.

“Alasan mengapa gempa tsunami berjalan lambat, tidak jelas,” kata Synolakis.

“Hipotesisnya adalah itu terjadi karena bebatuan yang patah atau bergerigi yang memperlambat peretakan. Kami tidak tahu, tapi kami tahu bahwa batuan itu memicu tsunami yang lebih besar,” imbuhnya.

Gempa tsunami Senin itu adalah tsunami pertama yang diakibatkan gempa bumi rendah yang tercatat oleh tsunamograf yang bisa memberikan data berharga untuk menjelaskan misteri gempa bumi tsunami. (*)

national geographic news/jafar

COPYRIGHT © 2010

Gempa Mentawai

Rabu, 27 Oktober 2010 17:05 WIB | Iptek | Sains |
LIPI : Gempa Mentawai Proses Pemulihan Gempa 2007
LIPI: Gempa Mentawai Proses Pemulihan Gempa 2007

Jakarta (ANTARA News) – Pakar geologi gempa Lembaga Ilmpu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaja, mengatakan bahwa gempa berskala 7,7 Skala Richter (SR) yang terjadi di Mentawai, Senin (25/10), merupakan bagian dari proses pemulihan pasca-gempa berskala 8,4 SR pada 2007.

“Gempa 7,7 SR kemarin jelas merupakan bagian dari `healing process` setelah terjadi gempa 8,4 SR tahun 2007,” kata Danny dalam keterangan tertulisnya yang diterima ANTARA News, di Jakarta, Rabu.

Namun, dia belum dapat memastikan apakah gempa itu merupakan bagian dari proses yang menuju ke akan pecahnya sumber gempa 8,8 SR dari megathrust Sunda yang masih tersisa di bagian utara.

Pada Senin (25/10), terjadi gempa berkekuatan 7,7 SR di baratdaya Pulau Pagai Selatan, Kabupaten Mentawai, Sumatra Barat. Menurut dia, gempa itu bisa disebut sebagai gempa susulan dari gempa besar 8,4 SR yang terjadi pada 12 September 2007.

Dari analisis Survei Geologi di Amerika Serikat/AS (USGS) dan juga Badan Meteorologi dKlimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa itu disebabkan oleh pergerakan patahan pada Sunda Megathrust, yaitu pada bidang batas tumbukan Lempeng Hindia-Australia terhadap Lempeng Sunda.

Episenter gempa 7,7 SR itu terletak di sebelah barat dari bagian utara sumber gempa September 2007, dan sekaligus juga di ujung utara dari sumber gempa bawah laut yang menurut prediksi para ahli masih berpotensi untuk mengeluarkan gempa besar sampai 8,8 SR dalam waktu mendatang.

Sebelumnya, gempa utama 8,4 SR tahun 2007 sudah diikuti oleh rentetan beberapa gempa susulan besar, termasuk gempa 7,9 SR yang terjadi 12 jam setelahnya, gempa 7,0 SR yang terjadi tiga jam kemudian, dan gempa 7,0 SR yang terjadi lima bulan setelah itu.

Semua gempa susulan tersebut, termasuk yang terjadi Senin (25/10), terjadi di sekitar wilayah patahan gempa 8,4 SR tahun 2007 tersebut.

Di wilayah itu terdapat jaringan stasiun GPS kontinyu SuGAR (Sumatran GPS Array) yang dioperasikan bersama oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Earth Observatory of Singapore (EOS) – Nanyang Technological University.

Sejak tahun 2002, SuGAR secara berkelanjutan memonitor pergerakan tektonik di sepanjang pantai barat Sumatra dan Kepulauan Mentawai.

“Dalam beberapa bulan ke depan, tim EOS-LIPI akan menganalisis data dari jejaring alat GPS ini untuk lebih mengerti tentang mekanisme gempa kemarin,” kata Kerry Sieh, Direktur EOS.

Beberapa segmen dari Sunda Megathrust sudah pecah secara beruntun selama 10 tahun terakhir dan menghasilkan rentetan gempa besar di sepanjang pantai barat Sumatra.

Berdasarkan pola siklus gempa besar selama 700 tahun terakhir di Mentawai, para ahli percaya bahwa rentetan gempa besar itu sedang menuju puncak, yaitu terjadinya gempa yang jauh lebih besar, mendekati kekuatan gempa yang menyebabkan tsunami Aceh-Andaman tahun 2004.

Namun, waktu persisnya hal itu akan terjadi tetap masih merupakan misteri alam.

“Gempa besar dari megathrust di bawah Pulau Siberut-Sipora-Pagai Utara tersebut bisa terjadi dalam 30 menit lagi atau 30 tahun lagi,” kata Danny.

Namun, lanjut dia, gempa yang baru terjadi itu sama sekali tidak mengurangi potensi gempa besar Mentawai yang diprediksi mempunyai akumulasi tekanan bumi sampai 8,8 SR tersebut.
(T.G003/S018/P003)

COPYRIGHT © 2010

Mbah Maridjan dan SBY 

lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]

Senin, 01/11/2010 | 19:02 WIB Mbah Maridjan dan SBY
Oleh: Tubagus Januar Soemawinata (Unas)

SEMUA orang pasti mengakui bahwa Mbah Maridjan adalah seorang yang setia kepada tugas sampai akhir hayatnya. Dia pasti tahu bahwa awan panas Merapi yang biasa disebut wedus gembel sewaktu-waktu bisa mencabut nyawanya. Dia juga tahu jika ingin selamat segera turun dari tempat tinggalnya. Namun Mbah Maridjan terlanjur berjanji. Dan janji bagi seorang ksatrya sejati adalah sumpah yang tidak boleh dilanggar. Bahkan jika perku dengan taruhan nyawa sekalipun.

Mbah Maridjan ingat betul ajaran dan filosofi yang terkandung dalam huruf dan abjad Jawa. Demi memegang amanat yang dipercayakan kepadanya. Matipun bukan halangan. Bagaimana dengan SBY? Dia adalah Presiden kita. Dia adalah orang nomor satu di Indonesia. Kedua tokoh ini pernah dan kabarnya beberapa kali ketemu. Yang membedakan antara keduanya adalah yang satu (Mbah Maridjan) adalah abdi yang setia dalam mengemban amanat. Yang lain adalah orang nomor wahid di Indonesia yang dapat memerintah siapa pun.

Jika antara yang diperintah dan yang memerintah nyambung. Kita yakin bangsa Indoensa akan menjadi bangsa yang hebat. Murah sandang, murah pangan. Tidak akan ada orang yang kelaparan. Tidak akan ada pengemis yang berjibun. Tidak akan ada antrian panjang untuk memebeli beras miskin (raskin). Anak-anak dan bayi tidak akan dibuang oleh orang tuanya gara-gara factor ekonomi. Tidak akan ada yang bunuh diri karena tidak sanggup lagi menatap hari esuk.

Sayang, kita belum sampai ke arah itu. Padahal bumi kita diberi rahmatan lil alamin. Laut kita laksana kolam susu. Segala macam organ laut bisa hidup di Nusantara. Karena itu sering dipakai untuk nyanyian dan puja-puji doa. Namun sekali lagi sayang. SBY adalah Presiden kita yang cepat tanggap. Setiap ada masalah, kecil sekali pun pasti direspon. Sampai ada yang curiga jika sikapnya tersebut sengaja untuk mencitrakan dirinya. Hanya masalahnya, selama ini yang kita lihat SBY hanya bisa komentar. Tapi pelaksanaannya tidak pernah tuntas!

Contoh soal bail out Bank Century, SBY komentar agar dituntaskan. Namun seperti yang kita lihat masalah tersebut belum tuntas juga. Waktu namanya disebut oleh seorang perempuan yang diduga bernama Ong Yuliana dalam rekaman yang diperdengarkan KPK di Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa waktu lalu. SBY juga meminta agar masalah tersebut diusut tuntas. Sampai sekarang kita juga belum mendengar ada dimana gerangan Ong Yuliana tersebut. Juga kita tidak mendengar lagi SBY minta masalah tersebut diclearkan. Karena itu timbul pertanyaan, yang badung anak buahnya, atau SBY yang memang tidak serius?

Jika saja SBY adalah Mbah Maridjan, yang rela mati demi kesetiaan pada tugas dan tanggungjawab. Kita yakin bangsa Indonesia tidak bakalan jadi bangsa pengemis. Kalau saja SBY ikuti jejak Mbah Maridjan, pasti semua persoalan di negeri ini cepat terselesaikan. Maka sekali lagi dan sangat disayangkan, SBY memang bukan Mbah Maridjan, dan Mbah Maridjan bukanlah SBY. (*)

Selasa, 02/11/2010 12:45 WIB
Prof Heru Nugroho: Mitos Merapi Sengaja Dipelihara
Nurvita Indarini – detikNews


Jakarta – Gunung Merapi selalu dikait-kaitkan dengan sejumlah mitos. Ada mitos tentang Kiai Sapujagad yang dipercaya bersemayam di Merapi, mitos Mbah Petruk yang dipercaya sebagai sesepuh penunggu Merapi, dan mitos-mitos lainnya. 

Gunung Merapi pun dipercaya sebagai keraton makhluk halus. Karena itu ada sejumlah tempat di Gunung Merapi yang dikenal angker atau sakral karena ditunggui oleh makhluk halus. Menurut sosiolog Prof Heru Nugroho, mitos-mitos itu ada yang muncul karena pengetahuan tradisional masyarakat, namun ada juga yang sengaja dimunculkan dan dipelihara demi keberlangsungan kekuasaan sang penguasa.

Berikut ini wawancara detikcom dengan staf pengajar di jurusan Sosiologi UGM ini, Selasa (2/11/2010):

Mengapa mitos begitu lekat dengan masyarakat yang tinggal di sekitar Merapi?

Ada pengetahuan tradisional penduduk lokal yang tinggal di sekitar Merapi. Mereka memercayai bahwa Merapi memiliki nyawa sebagai penunggu sehingga untuk menghindari kemarahan penunggunya (warga) perlu mengadakan ritual dan juga memberikan sesaji. Nah, yang bisa berhubungan dan mengetahui kehendak penunggu hanya orang-orang tertentu, sedang rakyat hanya percaya dan mengikuti kehendak elite-elite spiritual.

Karena itu, para elite spiritual lokal kemudian memiliki previlege (hak istimewa) dalam komunitasnya. Mitologi Merapi juga direproduksi Keraton Mataram, sengaja dipelihara demi tegaknya kekuasaan kerajaan. Dari sini ditegaskan, penunggu Merapi adalah Kiai Sapu Jagad dan penguasa Laut Selatan adalah Kanjeng Ratu Kidul.

Demi keberlangsungan kekuasaan Mataram, maka raja Mataram harus berkolaborasi dengan dengan para penguasa lainnya. Yakni dengan menjadikan Kiai Sapu Jagad sebagai mitra politik dan Kanjeng Ratu Kidul sebagai permaisuri. Ada ritual yang kemudian dilakukan masyarakat baik di Merapi maupun di Laut Selatan agar para penguasa tidak marah.

Selain mengetahui Merapi dari mitos, ada pula pengetahuan modern yang direproduksi oleh orang-orang universitas dan digunakan pemerintah untuk menjadi landasan kebijakannya. Jadi dasarnya adalah science, yang dalam hal ini adalah ilmu tentang kegunungapian. Science ini dapat mendeskripsikan, menjelaskan, dan memprediksi perilaku Merapi.

Mengapa Merapi sering kali dikaitkan dengan hal-hal gaib?

Itu karena dulu semua dijelaskan dengan mistis. Meskipun sekarang ada juga yang begitu. Itu kembali lagi pada kepercayaan tradisional masyarakat. Ada sebagian orang yang pemahamannya terbuai dengan cerita mistis yang didengarnya.

Cerita-cerita rakyat yang turun temurun diceritakan juga membantu kepercayaan akan hal-hal yang mistis itu ada, sehingga sebagian ada yang masih tetap percaya. Di antropologi kan juga ada yang meneliti masyarakat bahwa ada yang memiliki kepercayaan terhadap Gunung Merapi.

Jadi mitologi sengaja dipelihara?

Ini berkaitan dengan sistem kepemimpinan tradisional di Yogyakarta. Buktinya setelah Mbah Maridjan tidak ada lantas ada kabar telah ditunjuk orang baru untuk menjadi juru kunci Merapi. Itu melestarikan mitologi Jawa yang berkaitan dengan Keraton, Gunung Merapi dan Laut Selatan.

Lalu karena dilestarikan, maka jadi kepercayaan beberapa orang, dan secara tradisional membuat sebagian dari mereka merasa sangat hormat kepada Keraton. Bahkan mereka masih melakukan ritual-ritual sebagai bagian dari kepercayaan itu.

Ini menjadi basis kekuasaan, legitimasi melalui klenik dan mitos yang dibangun. Misalnya mitos bahwa Merapi diberi sesaji setiap tahun, juga sesaji di Laut Selatan. Ini semua agar selaras dan mendukung kekuasaan kerajaan.

Apakah kepercayaan ini mendarah daging hingga ke generasi muda?

Pengetahuan adalah kekuasaan. Siapa yang lebih pandai, lebih pintar, lebih bisa memberi penjelasan akan memegang kekuasaan. Soal mitos ini, tidak semuanya terpengaruh.

Banyak juga kalangan orang tua yang tidak memahami mendalam. Ini merupakan mobilisasi politik bagi keistimewaan DIY. Tidak semuanya menerima mitologi ini. Kalau misalnya semua tampak menerima, itu lebih karena ada kebiasaan yang ewuh pakewuh di Yogya. Ada yang menentang tapi tidak mau bersuara karena sungkan, tidak enak, dan itu bagian dari kultur.

Meskipun banyak yang berpendidikan menengah ke atas tapi tetap saja heboh dengan penampakan awan berbentuk petruk?

Awan bisa berbentuk apa saja. Tapi karena ada mitologi, yang mana dulu ada mitologi untuk menyelamatkan orang. Agar merasa pasti, lalu misalnya diberikan sesaji. Dulu banyak yang memberikan sesaji untuk menolak bala.

Itu lebih kepada keyakinan saja. Nah apakah persembahan itu diterima atau ditolak lalu ditafsirkan dengan melihat awan. Dan ini masih muncul hingga kini, dan banyak yang mengait-ngaitkan fenomena alam dengan sesuatu.

Bagaimana Anda melihat kematian Mbah Maridjan yang dalam posisi sujud menghadap selatan yang juga menjadi perbincangan?

Itu semiotiknya macam-macam. Banyak silang pendapat dan penafsirannya tidak terhingga Tapi menurut saya itu bisa dijelaskan secara rasional. Begini, jika ada serangan awan panas, maka agar tidak langsung terkena, kita harus memposisikan tubuh menjadi lebih rendah, itu bisa dengan jongkok, duduk, atau sujud. Itu menurut saya karena saya lebih melihat posisi itu adalah mekanisme perlindungan tubuh.

Lain lagi dengan kawan saya yang menyatakan Mbah Maridjan mau lari tapi keburu jatuh, dan jatuhnya dalam posisi sujud.

Dengan tetap memelihara mitologi, masyarakat akan semakin sulit untuk diajak berpikir rasional?

Mbah Maridjan dan beberapa warga sekitarnya enggan meninggalkan rumahnya karena percaya Merapi tidak akan apa-apa. Ini karena kepercayaan mistis juga dan juga karena keterikatan mereka dengan ekonomi sehingga membuat mereka sulit meninggalkan rumahnya. Karena mereka punya tanah, punya ternak, dan sebagainya.

Seharusnya bukan alam yang memahami kita, tapi kita yang memahami alam. Saatnya kita hidup berdemokrasi dengan alam. Karena itu memang sebaiknya kita menjaga jarak, dengan tinggal tidak terlalu dekat dengan puncak gunung. Padahal gunung itu punya hak untuk mengalirkan lahar. Sebelum ada banyak manusia, lahar sudah mengalir lebih dulu.Ini harus dipahami secara rasional.

Ini seharusnya menjadi kebijakan pemerintah juga. Pemerintah harus bijak merelokasi penduduk dari daerah berbahaya. Jangan kemudian menjadikan ini sebagai ajang partai politik untuk nyumbang, DPR datang ramai-ramai. Yang lebih penting dari itu adalah bagaimana warga terselamatkan. Kalau saja Merapi bisa bicara, pasti dia bilang saya nggak bermaksud membuat korban karena bukankah saya punya hak untuk muntah.

(vit/fay)

Baca Juga :

Selasa, 02/11/2010 12:36 WIB
Mitos Merapi
Ponimin: Mbah Petruk Mengincar Yogyakarta
Hery Winarno – detikNews


Jakarta – Jika ilmuwan vulkanologi menyatakan awan mirip Petruk tidak berarti apa-apa, Ponimin (50) yang disebut-sebut “sakti” seperti Mbah Maridjan, punya penafsiran sendiri. Menurutnya, hidung Petruk yang menghadap Yogyakarta mengandung arti Merapi mengincar Yogyakarta.

“Memang sebenarnya yang di arah Yogyakarta, sasaran Merapi Yogya,” kata Ponimin saat ditemui wartawan di Kaliadem, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat (29/10/2010).

Kenapa Yogyakarta yang diincar? Ponimin punya alasan sendiri, dia yakin itu karena tabiat orang-orang di sana.

“Di Yogya ini banyak orang-orang tidak baik, mereka yang diincar Merapi. Para penunggunya sudah marah dengan kondisi masyarakat,” jelas Ponimin yang saat ditemui tengah “diantre” para jurnalis asing.

Ponimin menjelaskan, untuk menanggulanginya diperlukan pertobatan. Masyarakat bisa meningkatkan amalan. “Kalau tidak ingin Yogya jadi sasaran kemarahan penghuni Merapi, kata istri saya, kita harus banyak mengaji,” terangnya.

Ponimin bersama 7 anggota keluarganya selamat dari awan panas Merapi. Dia dan keluarganya berlindung di bawah mukena yang biasa dipakai istrinya salat. Rumah Ponimin hanya berjarak 200 meter dari rumah Mbah Maridjan.

Ponimin dikenal warga lereng Merapi sebagai orang nomor dua setelah Mbah Maridjan. Dia biasa dimintai tolong warga untuk menangkal hujan atau menggelar selamatam.

Ponimin menyatakan bahwa sosok mirip Petruk itu merupakan salah satu penunggu Merapi. “Memang di puncak Merapi ada sosok Mbah Petruk, saya pernah bertemu. Sosoknya kaya mbah-mbah. Tapi di sana banyak jin dan para sesepuh, seperti Kiai Sidik Purnomo, Empu Permadi, Empu Romo, Empu Branjang Wesi, dan ada Eyang Guntur Geni,” jelasnya.

Suswanto (40), warga Srumbung, Magelang, mengabadikan awan yang berbentuk Petruk dengan bidikan kamera ponselnya pada Senin 25 Oktober selepas subuh. Sebagian sesepuh di desa tersebut mengartikan itu sebagai tanda bahwa akan ada letusan Merapi yang besar. Kepala Mbah Petruk yang menghadap ke selatan artinya musibah akan terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya.

Sekadar diketahui, status Siaga Merapi diterapkan mulai 25 Oktober pukul 06.00 WIB. Merapi meletus esok harinya pukul 17.02 hingga menjelang 19.00 WIB dan merupakan letusan terdahsyat hingga sepekan ini.

Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandriyo menilai asap berbentuk Petruk itu tidak ada arti apa-apa. “Asap seperti itu bisa berbentuk apa saja. Kalau ada yang mengatakan itu pertanda akan ada letusan yang lebih besar saya rasa itu hanya mitos saja,” ujar Subandriyo.

Subandriyo menuturkan, bentuk-bentuk seperti itu (mirip Petruk) memang bisa terjadi akibat adanya kombinasi bayangan. Seperti pada letusan Merapi pada tahun lalu, asap letusan juga pernah menyerupai patung manusia. (ndr/nrl)

Baca Juga :

 

Selasa, 2 November 2010
BURAS
Gempa, Tsunami, Gunung Meletus, Picu ‘Kiamat 2012′!

“KIAMAT 2012 versi Hollywood berlatar mitologi suku Maya, dipicu oleh gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api—seperti urutan bencana yang baru terjadi di Indonesia!” ujar Umar. “Gempa di Brasil pemicu tsunami awalnya cuma 8,4 SR—lebih kecil dari tsunami Aceh 9 SR! Tapi penyebabnya, pergeseran lempeng bumi 23 derajat, menyulut meletusnya kaldera Supervolcano Yellowstone di AS memicu tsunami dahsyat di seantero bumi!”

“Kecuali China yang membangun tujuh ‘bahtera baja super’ mirip perahu Nuh buat para pemimpin negara-negara sedunia, cendekiawan dan flora-fauna terpilih, serta keluarga orang terkaya dunia yang membiayai pembuatan bahtera dengan 1 miliar dolar AS per seat, semua pemerintah di dunia gagal mengatasi bencana di negerinya!” sambut Amir. “Presiden AS tak ikut Airforce One terbang ke China bergabung ‘bahtera Nuh’ di pegunungan Himalaya! Ia memilih seperti nakhoda, tenggelam bersama negeri dan rakyatnya ditelan tsunami!”

“Begitulah cerita film Kiamat 2012 yang diputar berulang-ulang televisi HBO pekan ini, relevan dengan ‘Pray for Indonesia’ warga dunia buat bencana akhir Oktober 2010!” timpal Umar. “Di film itu, semua bahtera made in China selamat! Pada hari ke 27 bulan 1 tahun 0001—almanak baru pascakiamat—cuaca kembali cerah dengan perubahan peta bumi, benua Afrika jadi lebih tinggi! Ke Tanjung Harapan itulah umat manusia memulai kehidupan baru!”

“Dari situ bisa ditarik pelajaran buat Indonesia yang hidup di tepi lempeng bumi Eurasia dalam interaksinya dengan lempeng Indoaustralia, lempeng Pasifik, serta dalam cincin api terbesar dunia tempat 13,3% gunung api di bumi berada, hingga jadi langganan gempa, tsunami, dan letusan gunung!” tegas Amir. “Indonesia juga punya Supervolcano Toba, yang saat meletus antara 69.000-77.000 tahun lalu (Wikipedia) bumi bukan hanya gelap 27 hari seperti letusan Supervolcano Yellowstone dalam Kiamat 2012, tapi setahun lebih hingga flora-fauna di muka bumi punah!”

“Inti pelajaran itu, jika selama ini pergeseran akibat benturan lempeng Eurasia-Indoaustralia hanya 0,00 sekian derajat saja sudah menyulut gempa dan tsunami Aceh-Nias, Pandanaran, dan Mentawai, layak dipelajari dan ‘wajib’ hukumnya untuk menghitung persiapan menghadapi jika benturan lempeng menggeser permukaan bumi sampai derajat berdigit!” timpal Umar. “Artinya, kita punya kesiapan tanggap bencana efektif yang tangguh, tak cuma retorika mirip Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang berakibat, tsunami Mentawai jadi bencana kebijakan!”

H. Bambang Eka Wijaya

About these ads

1 Response to “Bencana Alam : Renungan Pasca Oktober 2010”


  1. January 14, 2013 at 8:56 pm

    I am really enjoying the theme/design of your blog.
    Do you ever run into any web browser compatibility issues?
    A few of my blog readers have complained about my site not working
    correctly in Explorer but looks great in Chrome.
    Do you have any suggestions to help fix this problem?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,263,260 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 125 other followers

%d bloggers like this: