Jumat, 27/08/2010 | 13:17 WIB 
Tanda-tanda Kejatuhan SBY Mulai Tercium
Banyak intelektual yang menilai bahwa keadaan politik saat ini mirip pada saat Gus Dur dulu dilengserkan. Ada juga yang melihat fenomena sosial dan politik yang terjadi hampir mirip dengan detik-detik menjelang reformasi 1998. Apakah ini memang pertanda bahwa SBY tidak akan sampai 2014?
Lily Wahid, adik kanding Gusdur yang mengenal betul bagaimana situasi politik saat Gusdur mau dilengserkan, adalah salah satu orang yang mencium aroma tersebut. “Saya melihat bau busuk itu sudah tercium. Keadaannya sama seperti Gusdur dulu mau dilengserkan,” ujarnya saat diskusi di Gedung MPR (26/08/2010).
Lebih jauh ia menjelaskan bahwa aroma tersebut misalnya tercium dari kepemimpinan saat ini yang mulai rusak, orang-orang lingkaran presiden sangat memproteksi diri dan presidennya sehingga sulit bertemu dengan presiden, sementara ekonomi semakin tidak menentu. Tetapi lebih dari itu, Lily Wahid mencium aroma politik lain yang bau busuk sehingga kemungkinan SBY juga nanti akan dilengserkan.
Lalu bagaimana SBY dilengserkan? Lily Wahid mengakui bahwa itu memang ada dua cara. Secara konstitusi lewat hak menyatakan pendapat atau juga bisa dari gejolak sosial. Tetapi ia menilai kalau lewat konstitusi memang agak sulit mengingat partai penguasa dominan di DPR. Sebab itu menurutnya perlu perencanaan yang matang dalam soal itu.
Sementara itu, aktivis 77/78 M. Hatta Taliwang menilai kondisi saat ini seperti saat detik-detik reformasi 1998 dulu ketika Soeharto dilensgerkan. “Kondisi saat ini seperti detik-detik mau reformasi dulu,” ujarnya kepada Jakartapress.com.
Ia mengungkapkan hal tersebut berdaasrkan pada gejolak sosial dan fenomena yang saat ini terjadi di masyarakat. Dimana berbagai elemen masyarakat dari mahasiswa sampai intelektual menyatakan kekecewaannya terhadap presiden. Dimana-mana, di tempat dan dengan topik yang berbeda, banyak kalangan mengkritik SBY. Sementara itu, harga-harga bahan pokok mulai melambung.
Saat ini memang banyak pihak yang kecewa dengan kepemimpinan SBY. Berbegaia intelektual seperti Ahmad Syafii Maarif, Din Syamsudin, Yudi Latif dan para aktivis seperti Ray Rangkuti melihat kepemimpinan SBY mengecewakan.
Terakhir, Purnawirawan TNI dan Polri yang tergabung dalam Forum Komunikasi Purnawirawan TNI dan Polri atau Foko menyampaikan keprihatinannya pada Ketua MPR Taufik Kiemas, Rabu (25/8/2010). Merekapun menyatakan kekecewaannya terhadap kepemimpinan saat ini. Mereka menyampaikan berbagai masukan termasuk soal kemungkinan impeacment presiden. Bisa jadi semua itu memang tanda-tanda kejatuhan SBY. (Boy M)
Jumat, 27/08/2010 | 13:06 WIB
SBY Praktikkan “Tiga Ngo” atau Emang Lelet Soal Malaysia
OLEH: ARIEF TURATNO
DALAM filosofir Jawa yang mengambil dari falsafah huruf Jawa yang biasa disebut ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya ada kata “nga”. Istilah tersebut menjadi semacam karakteristik orang Jawa. Nga itu dapat diartikan kepada tiga hal, yakni “nga” berarti ngalah (mengalah), “nga” berarti ngalih (menyingkir) dan “nga” ketiga berarti ngamuk (marah, meradang, dan mengamuk). Artinya, kalau ada permasalahan yang berkaitan dengan diri orang Jawa, mereka selalu berusaha atau mencoba mengalah terhadap siapa pun dan dalam keadaan apapun. Nah, kalau sudah mengalah masih tetap didesak atau terus dipojokan. Orang Jawa biasanya lebih suka ngalih atau menyingkir, menjauh dari masalah tersebut agar tidak direcoki terus. Namun kalau pun it uterus masih diganggu, dipaksa dan sebagainya. Maka orang Jawa akan mengambil alternative terakhir, yakni ngamuk alias marah besar. Dan kalau sudah marah semacam itu biasanya sulit sekali dipadamkan.
Di masa penjajahan Belanda di Indonesia, Pangeran Diponegoro bersikap semacam itu. Dia yang melihat kesewenang-wenangan Belanda awalnya mendiamkan alias ngalah. Namun setelah ngalah ternyata Belanda masih berbuat macam-macam. Maka Pangeran Diponegoro lebih suka ngalih atau menyingkir, menghindar agar hatinya tidak tambah panas melihat kelaukan penjajah yang sewenang-wenang. Namun, ternyata penjajah Belanda masih belum puas mengusik Pangeran Dipongeoro. Terakhir Belanda dengan telengasnya meratakan makam leluhur Pangeran Dipongoro atau Pangeran Ontowiryo. Maka saat itulah Pangeran yang berpembawaan kalem dan tenang itu marah besar., Dia mengamuk dengan melakukan pemberontakan terhadap Belanda. Dan Perang Diponegoro ini termasuk perang yang cukup lama dengan mengorban banyak pasukan Belanda. Dan saking dasyatnya amuk Pangeran Diponegoro, sampai semua pasukan Belanda dikirim ke kawasan Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Dalam catatan sejarah disebutkan, akibat Perang Diponegoro yang berlangsung cukup lama, sehingga Belanda sempat menghentikan perang Padri dengan Imam Bonjol di Sumatera (Padang). Karena seluruh pasukan Belanda focus perhatiannya ke Jawa. Bahkan perang ini disebut-sebut menelan biaya paling besar. Nah, itu semua gambaran dari filosofi tiga “nga” orang Jawa tadi. Pertanyaan dan persoalannya adalah apakah benar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mempraktekan filosofi orang Jawa atau tidak, terutama dalam kaitan dengan Malaysia belakangan ini? Untuk pertanyaan ini kita sulit menjawabnya. Karena bisa jadi SBY—karena dia juga orang Jawa—memang menjalani tata laku semacam itu. Namun juga bisa jadi karena sifatnya yang dianggap sebagian masyarakat lelet. Nah, kita akan semakin sulit untuk membedakan sifat lelet dan filosofi tiga “nga” tadi. Sebab Pangeran Diponegoro bukanlah SBY, dan Presiden juga bukan Pangeran Ontowiryo.
Dan barangkali, jika Pangeran Diponegoro benar-benar hatinya untuk orang kecil. Dimana dia menyatakan tidak tahan lagi melihat penderitaan orang kecil akibat kesewenang-wenangan Belanda. Untuk SBY saya tidak tahu, apakah hati dia untuk orang kecil atau tidak. Juga adakah rasa ketersinggungan sebagai bangsa atau tidak terhadap perilaku dan tindakan Malaysia. Dalam hal ini kita akui, bahwa demonstran kita pun sudah sangat keterlaluan. Misalnya, mereka kabarnya telah melempar kotoran manusia ke Kedutaan Besar (Kedubes) Malaysia. Dan mestinya kejadian semacam itu harus kita cegah, kalau memang ingin mencegahnya. Faktanya, itu sudah terjadi dan menjadi berita berbagai macam media. Sehingga terkesan, seolah pemerintah membiarkan hal itu terjadi. Dan dengan sikap diam atau “leletnya” pemerintah. Juga memberi kesan bahwa pemerintah mau lepas tangan dalam persoalan tersebut. Inilah yang saya sayangkan!
Negara ini sampai saat ini masih ada yang memerintah. Negara Indonesia sampai detik ini masih memiliki Presiden yang sah. Nah, mestinya, Presiden dan pemerintah yang sah segera mengambil inisiatif dan jangan biarkan rakyat menjadi liar karena marah negaranya dihina. Kenyataannya? Kita terlihat hanya diam. Hanya menonton. Dan sekaligus membiarkan rakyat atau masyarakat berimprovisasi dalam meyikapi persoalan yang ada. Dan hal ini bukan tanpa diketahui pihak Malaysia. Negeri Jiran yang mengetahui persis anatomi pemerintah kita sepertinya langsung mengambil kendali. Bukan kita lagi yang berang dan marah. Saat ini justeru Malaysia lah yang mulai marah. Mereka bahkan dengan lantang mengatakan sudah sulit mengekang rakyatnya yang sudah marah. Mereka mengatakan, sulit lagi menahan diri. Indonesia bagaimana? (*)
Kamis, 26/08/2010 | 21:17 WIB
Ancaman Impeach dan Bargaining Politik
OLEH: ARIEF TURATNO
UNTUK kesekian kalinya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali mendapat ancaman akan di-impeach. Ancaman impeach (pemakzulan) kali ini dilancarkan Forum Komunikasi TNI dan Polri (Foko) yang diketuai Jenderal (Purn) Try Soetrisno. Para Jenderal sepuh ini mengancam impeach tersebut karena melihat kondisi negara dan bangsa yang semakin tidak jelas arahnya. Kemiskinan semakin meningkat, sementara keadilan hukum tidak jelas kemana arahnya. Pertanyaan dan persoalannya adalah apakah benar karena alasan-alasan semacam itu Presiden bisa di-impeach?
Sebelum Foko yang diketuai mantan Wakil Presiden (Wapres) Try Soetrisno menyampaikan ancaman tersebut. Sebenarnya, masalah impeach terhadap SBY sudah seringkali dikemukakan. Namun, dari awal sampai sekarang, impeach itu baru sekedar ancaman. Bahkan menurut saya sekadar wacana belaka. Karena para prakteknya, belum pernah ada organisasi massa, organisasi politik atau lembaga swadaya masyarakat yang benar-benar membuktikan ancamannya tersebut.
Lihat saja Partai Golkar yang sebelumnya menggebu-gebu akan membawa kasus bail out Bank Century senilai Rp6,7 triliun sampai kepada impeach. Pada kenyataannya, di tengah jalan gerakan partai tersebut melempem. Apalagi, setelah Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) diberi mainan baru yang bernama Ketua Harian Sekretariat Gabungan (Setgab) Partai Politik Koalisi Pemerintah. Sccara praktis, partai beringin tersebut hanya pandai berkoar-koar tanpa bukti nyata.
Hal yang hampir sama dengan PDIP. Partai ini pun pada awalnya begitu gigih ingin mengungkap tuntas kasus bail out Bank Century. Namun, begitu Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDIP H Taufik Kiemas (TK) dibantu SBY dan Partai Demokrat menjadi Ketua MPR RI. Sekarang gerakan PDIP pun terlihat semakin melempem. Dan bahkan meskipun Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri sampai bersuara serak mengingatkan pemerintah agar lebih pro rakyat. Di sisi lain para anak buahnya di Senayan, lebih banyak duduk manis.
Tidak terkecuali dengan Partai Gerindra yang didirikan mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad Letjen (Pur) Prabowo Subianto. Pada awalnya partai ini bersama dengan PDIP, dan Partai Hanura seperti menjadi tulang punggung bagi penyeimbang kekuasaan yang sekarang berada di tangan Partai Demokrat. Banyak masyarakat atau rakyat berharap banyak dari partai tersebut. Namun, seperti halnya partai lain, begitu Gerindra diserang dengan kasus pembunuhan Munier. Partai ini pun seolah-olah tidak lagi punya daya dobrak seperti sebelumnya. Dengan alasan dan asumsi itulah, sehingga banyak orang meragukan kesungguhan Foko untuk mengimpeach Presiden SBY.
Pada dasarnya rakyat mungkin mendukung impeach tersebut. Namun, yang jadi persoalan dan menjadikan rakyat kecewa adalah sikap para politisi kita sendiri. Impeach kerap dijadikan barang dagangan untuk melakukan bargaining politik. Pertanyaannya adalah apakah ancaman impeach kali ini juga sama saja dengan sebelumnya, yakni akan dijadikan semacam bargaining politik? Entahlah. Yang jelas masyarakat dalam hal ini pasti tengah menunggu. Ya, menanti pembuktian dari ancaman tersebut. Sebab apa yang dijadikan alasan Foko melakukan ancaman tersebut sebagian diakui kebenarannya oleh rakyat.
Misalnya, rakyat jelas semakin miskin.Indikasinya, banyak orang bunuh diri, karena sudah tidak sanggup lagi menghadapi kemiskinan yang menderanya. Lihat saja berita hari ini, Kamis (26/8). Seorang ibu di kawasan Pademangan, Jakarta Utara (Jakut) tega menghabisi anak kandungnya sendiri yang baru berusia 15 bulan. Dan sebagaimana pengakuan pelaku dan para tetangganya. Ibu yang tega menghabisi bayi tersebut memang tengah dirundung kemiskinan. Hal atau kejadian yang sama sebelumnya terjadi di Yogyakarta.
Di Yogyakarta tersebut, ibu dan kedua anaknya terpaksa mengakhiri hidupnya, karena sudah tidak tahan lagi terhadap kemiskinan yang melilitnya. Sedangkan dari sisi keadilan hukum, kita lihat saja. Pendiri dan pemimpin Pesentren Al Mukkim, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah (Jateng) Ustadz Abubakar Ba’asyir kembali ditangkap polisi dan dijebloskan dalam tahanan karena dituduh mendanai pelatihan militer para teroris di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Di lain pihak, meskipun masyarakat mengecam habis-habisan soal pemberian grasi dan remisi terhadap para narapidana korupsi. Namun dengan santai dan tenangnya, Presiden dan pemerintah memberikan grasi dan remisi. Sehingga banyak gembong koruptor yang mestinya harus mendekam di penjara lebih lama. Dengan cepatnya mereka sudah dapat menghirup udara segara. Mereka lebih cepat bebas atas nama grasi dan remisi. Sehingga menimbulkan cemoohan di masyarakat, keadilan hukum macam mana? (*)
Kamis, 26/08/2010 | 21:27 WIB 
Jakarta – Diplomasi lebay yang dipraktekkan oleh pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono dinilai menghilangkan harkat dan martabat bangsa Indonesia. Hal ini berbeda dengan zaman Soekarno dimana Indonesia sangat disegani oleh negara lain.
“Walau dulu pada zaman Soekarno bangsa Indonesia masih miskin tetapi kita begitu sangat dihargai oleh negara lain. Tetapi saat ini, dalam diplomasi yang lembek, negara lain sepertinya tidak menghargai Indonesia. Hal tersebut disebabkan tiadanya leadership di pemerintahan Indonesia,” ujarnya saat diskusi Memaknai Kedaulatan dan Kemandirian Bangsa, Kamis (26/08/2010).
Di tempat yang sama, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin melayangkan kritik keras kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden dinilai tak responsif terhadap persoalan kedaulatan yang sangat sensitif. Padahal dalam beberapa kesempatan SBY mengomentari kasus video porno.
“SBY mesti bertanggungjawab soal hubungan Indonesia dan Malaysia yang akhir-akhir ini sedang hangat. Ia mesti repsonsif. Selama ini ia respon terhadap isu kecil. Video mesum ditanggapi. Tapi untuk isu kedaulatan ini, kenapa tidak merespon dan mengambil langkah. Ini bukan kepemimpinan yang baik,” kata Din.
Lebih jauh Din menyatakan bahwa sikap Presiden yang justru menyalahkan para menterinya dalam merespons perselisihan dengan Malaysia tak seharusnya dilakukan. Hal itu bukan sifat dari seorang pemimpin.
“kasus dengan Malaysia berada ditangan presiden. Seharusnya dia tidak menyalahkan pembantunya. Saya prihatin dengan pola kepemimpinan seperti ini. Sebagai top leader, dia sendiri tidak mengambil langkah,” imbuhnya.
Dialog nasional dengan tema ‘Memaknai Kedaulatan dan Kemandirian Bangsa: Antara Harapan dan Realita‘ ini digelar di ruang GBHN Gedung MPR RI. (boy)
Rabu, 25/08/2010 | 18:41 WIB 
Jakarta – Ketua Dewan Direktur Sabang-Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan, menilai kabinet pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengalami ‘lumpuh kepekaan’ dalam menghadapi persoalan terkait kesejahteraan rakyat, kemartaban bangsa, serta kedaulatan negara.
Demikian disampaikan Syahganda di Jakarta, Rabu (25/8) menanggapi banyaknya agenda penyelamatan bangsa, negara, dan rakyat yang lamban dikelola para menteri Presiden SBY.
Dikatakan, berbagai kasus yang dihadapi rakyat maupun bangsa, di antaranya kesulitan hidup ataupun ketidakberdayaan ekonomi, keresahan dan konflik sosial, penderitaan anak bangsa di luar negeri, termasuk adanya pelecehan kedaulatan hukum wilayah negara Indonesia, bukan saja lamban untuk diatasi namun juga cenderung tidak mampu menyelesaikannya.
“Jadi, sejauh ini memang ada semacam lumpuh kepekaan pada Kabinet SBY terhadap berbagai permasalahan strategis dan utama bangsa, bahkan jika ini terus terjadi pemerintahan SBY akan gagal menangani soal-soal yang serius dan penting di tengah masyarakat luas, yang hingga kini masih kelihatan sulit terselesaikan,” jelas Syahganda, juga kandidat doktor ilmu kesejahteraan sosial dari Universitas Indonesia.
Menurut mantan Ketua Umum Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) ini, lumpuh kepekaan pada kabinet SBY utamanya tampak jelas pada kinerja Menteri Luar Negeri, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Perdagangan, Menteri Agama, serta Menteri Pertanian.
“Para menteri kabinet SBY tersebut kinerjanya lemah, tidak produktif, dan tidak peka alias lumpuh kepekaannya berhadapan dengan masalah rakyat maupun bangsa, apalagi untuk Menakertrans dan Menlu, yang ternyata tidak berhasil mengatasi problem TKI dengan pihak luar negeri di samping ketidakberdayaan negara kita terhadap Malaysia,” ujar mantan aktivis demonstrans ITB ini.
Syahganda mengatakan, lumpuhnya kepekaan kabinet SBY itu disebabkan tidak adanya cara berpikir terobosan maupun langkah kreatif para menterinya, untuk menciptakan perbaikan ataupun peningkatan harkat kehidupan rakyat, juga kurangnya keberanian menegakkan kebanggaan nasional sekaligus lemahnya kehendak memartabatkan bangsa sendiri.
“Para menteri SBY itu secara umum tidak memiliki visi dan orientasi kerkayatan, tidak punya keberanian dan langkah-langkah yang hebat untuk rakyat dan juga untuk kemuliaan bangsa di mata negara-negara lain. Karena itu wajar jika kabinet SBY kemudian mengalami lumpuh kepekaan, akibat ketidakmampun memberikan solusi yang baik untuk rakyat,” kata mantan Direktur Eksekutif Center for Information and Development Studies (CIDES) itu panjang lebar.
Syahganda kuatir, lumpuh kepekaan pada kabinet SBY akan segara mengarah pada keadaan ‘lumpuh fungsi’, sehingga membuat Presiden SBY tidak pernah berhasil memberi kebaikan pada bangsa di akhir periodenya. (ira)
Kamis, 26/08/2010 | 21:17 WIB
Ancaman Impeach dan Bargaining Politik
OLEH: ARIEF TURATNO
UNTUK kesekian kalinya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali mendapat ancaman akan di-impeach. Ancaman impeach (pemakzulan) kali ini dilancarkan Forum Komunikasi TNI dan Polri (Foko) yang diketuai Jenderal (Purn) Try Soetrisno. Para Jenderal sepuh ini mengancam impeach tersebut karena melihat kondisi negara dan bangsa yang semakin tidak jelas arahnya. Kemiskinan semakin meningkat, sementara keadilan hukum tidak jelas kemana arahnya. Pertanyaan dan persoalannya adalah apakah benar karena alasan-alasan semacam itu Presiden bisa di-impeach?
Sebelum Foko yang diketuai mantan Wakil Presiden (Wapres) Try Soetrisno menyampaikan ancaman tersebut. Sebenarnya, masalah impeach terhadap SBY sudah seringkali dikemukakan. Namun, dari awal sampai sekarang, impeach itu baru sekedar ancaman. Bahkan menurut saya sekadar wacana belaka. Karena para prakteknya, belum pernah ada organisasi massa, organisasi politik atau lembaga swadaya masyarakat yang benar-benar membuktikan ancamannya tersebut.
Lihat saja Partai Golkar yang sebelumnya menggebu-gebu akan membawa kasus bail out Bank Century senilai Rp6,7 triliun sampai kepada impeach. Pada kenyataannya, di tengah jalan gerakan partai tersebut melempem. Apalagi, setelah Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) diberi mainan baru yang bernama Ketua Harian Sekretariat Gabungan (Setgab) Partai Politik Koalisi Pemerintah. Sccara praktis, partai beringin tersebut hanya pandai berkoar-koar tanpa bukti nyata.
Hal yang hampir sama dengan PDIP. Partai ini pun pada awalnya begitu gigih ingin mengungkap tuntas kasus bail out Bank Century. Namun, begitu Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDIP H Taufik Kiemas (TK) dibantu SBY dan Partai Demokrat menjadi Ketua MPR RI. Sekarang gerakan PDIP pun terlihat semakin melempem. Dan bahkan meskipun Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri sampai bersuara serak mengingatkan pemerintah agar lebih pro rakyat. Di sisi lain para anak buahnya di Senayan, lebih banyak duduk manis.
Tidak terkecuali dengan Partai Gerindra yang didirikan mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad Letjen (Pur) Prabowo Subianto. Pada awalnya partai ini bersama dengan PDIP, dan Partai Hanura seperti menjadi tulang punggung bagi penyeimbang kekuasaan yang sekarang berada di tangan Partai Demokrat. Banyak masyarakat atau rakyat berharap banyak dari partai tersebut. Namun, seperti halnya partai lain, begitu Gerindra diserang dengan kasus pembunuhan Munier. Partai ini pun seolah-olah tidak lagi punya daya dobrak seperti sebelumnya. Dengan alasan dan asumsi itulah, sehingga banyak orang meragukan kesungguhan Foko untuk mengimpeach Presiden SBY.
Pada dasarnya rakyat mungkin mendukung impeach tersebut. Namun, yang jadi persoalan dan menjadikan rakyat kecewa adalah sikap para politisi kita sendiri. Impeach kerap dijadikan barang dagangan untuk melakukan bargaining politik. Pertanyaannya adalah apakah ancaman impeach kali ini juga sama saja dengan sebelumnya, yakni akan dijadikan semacam bargaining politik? Entahlah. Yang jelas masyarakat dalam hal ini pasti tengah menunggu. Ya, menanti pembuktian dari ancaman tersebut. Sebab apa yang dijadikan alasan Foko melakukan ancaman tersebut sebagian diakui kebenarannya oleh rakyat.
Misalnya, rakyat jelas semakin miskin.Indikasinya, banyak orang bunuh diri, karena sudah tidak sanggup lagi menghadapi kemiskinan yang menderanya. Lihat saja berita hari ini, Kamis (26/8). Seorang ibu di kawasan Pademangan, Jakarta Utara (Jakut) tega menghabisi anak kandungnya sendiri yang baru berusia 15 bulan. Dan sebagaimana pengakuan pelaku dan para tetangganya. Ibu yang tega menghabisi bayi tersebut memang tengah dirundung kemiskinan. Hal atau kejadian yang sama sebelumnya terjadi di Yogyakarta.
Di Yogyakarta tersebut, ibu dan kedua anaknya terpaksa mengakhiri hidupnya, karena sudah tidak tahan lagi terhadap kemiskinan yang melilitnya. Sedangkan dari sisi keadilan hukum, kita lihat saja. Pendiri dan pemimpin Pesentren Al Mukkim, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah (Jateng) Ustadz Abubakar Ba’asyir kembali ditangkap polisi dan dijebloskan dalam tahanan karena dituduh mendanai pelatihan militer para teroris di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Di lain pihak, meskipun masyarakat mengecam habis-habisan soal pemberian grasi dan remisi terhadap para narapidana korupsi. Namun dengan santai dan tenangnya, Presiden dan pemerintah memberikan grasi dan remisi. Sehingga banyak gembong koruptor yang mestinya harus mendekam di penjara lebih lama. Dengan cepatnya mereka sudah dapat menghirup udara segara. Mereka lebih cepat bebas atas nama grasi dan remisi. Sehingga menimbulkan cemoohan di masyarakat, keadilan hukum macam mana? (*)
Kamis, 26/08/2010 | 13:07 WIB 
Saatnya Pemerintah Jujur Pada Rakyatnya
Apa yang terjadi di kalangan elite politik dan di belakang kebijakan pemerintah seringkali tidak diketahui publik. Pemerintah seringkali menyatakan hal yang baik tetapi fakta yang sebenarnya tidaklah demikian. Dalam soal hubungan Indonesia dan Malaysia misalnya, terjadi pernyataan yang simpang siur antara Kementerian Perikanan dan Kementrian Luar Negeri. Hal ini tentu menjadi pertanda bahwa apa yang terjadi di belakang layar seringkali disembunyikan.
Pembebasan 7 warga Malaysia beberapa waktu lalu misalnya diduga publik sebagai barter politik yang lemah dari pemerintah Indonesia. Barter dengan para ‘pahlawan’ warga Indonesia yang ditahan oleh Malaysia. Sebab itu publik melihat pembebasan 7 warga Malaysia yang sebelumnya ditahan adalah barter maling dengan pahlawan.
Dalam soal hubungan diplomatik dengan Malaysia tersebut, Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana mendesak pemerintah agar berkata jujur dan tidak boleh merekayasa kasus tersebut. Hal tersebut penting untuk diketahui oleh publik Indonesia sehingga mereka tahu siapa yang salah dan siapa yang benar.
Apabila pemerintah masih sembunyi-sembunyi atau bahkan membuat rekayasa hal tersebut akan berpengaruh pada gejolak sosial yang luas seperti yang akhir-akhir terjadi, misalnya pelemparan kotoran ke Kedubes Malaysia di Jakarta.
“Pemerintah tidak boleh merekayasa informasi dan wajib menjelaskan kepada publik sejujur dan apa adanya,” ujar Hikmahanto Juwana, dalam pernyataan tertulis kepada Jakartapress.com, Kamis (26/8/2010).
Diplomasi lembek yang dibangun oleh pemerintah dalam menyikapi soal Malaysia memang memunculkan kemarahan publik. Kemarin, giliran anggota DPR RI Komisi I yang meluapkan meluapkan kekesalan serta kemarahan. Sebagian besar anggota Komisi I mendesak pemerintahan di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar berani bertindak tegas.
Komisi I menginginkan Pemerintah Indonesia bertindak lebih jauh ketimbang sekadar mengirimkan nota diplomatik berisi protes keras. Komisi I mendesak Pemerintah Indonesia menuntut Malaysia memberikan pernyataan minta maaf.
”Jika Malaysia menolak minta maaf, tarik saja duta besar kita dari sana. Kita sebetulnya sangat mau berhubungan baik. Akan tetapi, kalau kita menghadapi perlakuan buruk, untuk apa ’berbaik-baik’?” ujar Wakil Ketua Komisi I dari Fraksi PDI-P TB Hasanuddin dalam rapat dengar pendapat antara Komisi I DPR dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan jajarannya (25/8).
Apa yang diungkapkan oleh Hikmahanto Juwana di atas merupakan teguran keras kepada pemerintah. Bukan saja soal dengan Malaysia tapi juga tentang berbagai persoalan yang terjadi di bangsa ini. Pemerintah Indonesia mesti jujur dengan apa yang terjadi di balik layar. Kalau tidak, sepintar apapun orang menyimpan bangkai pasti akan tercium juga. Hal tersebut akan membuat gejolak sosial di masyarakat. (Boy M)






























Jakarta – Meskipun pemerintah berencana mengurangi jumlah utang, namun ternyata jumlah utang Indonesia akan meningkat hingga Rp 119,2 triliun di tahun 2011. Utang pemerintah di tahun 2011 diproyeksikan bisa mencapai Rp 1.807,5 triliun, naik Rp 119,2 triliun dari proyeksi utang pemerintah di akhir 2010.




Recent Comments