14
May
10

Hikmah : Manfaat Wudhu, Syarat Pejabat, Khusnul Khatimah, Kerajaan, Berbuat Baik

Kamis, 13 Mei 2010, 16:50 WIB

Manfaat Luar Biasa dari Wudhu

Pandega/Republika

Manfaat Luar Biasa dari Wudhu

Wudhu

Oleh Prof Dr H Nasaruddin Umar

Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater dan sekaligus neurology berkebangsaan Austria, menemukan sesuatu yang menakjubkan terhadap wudlu. Ia mengemukakan bahwa pusat-pusat syaraf yang paling peka yaitu sebelah dahi, tangan, dan kaki. Pusat-pusat syaraf tersebut sangat sensitif terhadap air segar. Dari sini ia menghubungkan hikmah wudlu yang membasuh pusat-pusat syaraf tersebut. Ia bahkan merekomendasikan agar wudlu bukan hanya milik dan kebiasaan umat Islam, tetapi untuk umat manusia secara keseluruhan.

Dengan senantiasa membasuh air segar pada pusat-pusat syaraf tersebut, maka berarti orang akan memelihara kesehatan dan keselarasan pusat sarafnya. Pada akhirnya Leopold memeluk agama Islam dan mengganti nama menjadi Baron Omar Rolf Ehrenfels.

Ulama Fikih juga menjelaskan hikmah wudlu sebagai bagian dari upaya untuk memelihara kebersihan fisik dan rohani. Daerah yang dibasuh dalam air wudlu, seperti tangan, daerah muka termasuk mulut, dan kaki memang paling banyak bersentuhan dengan benda-benda asing termasuk kotoran. Karena itu, wajar kalau daerah itu yang harus dibasuh.

Ulama tasawuf menjelaskan hikmah wudlu dengan menjelaskan bahwa daerah-daerah yang dibasuh air wudlu memang daerah yang paling sering berdosa. Kita tidak tahu apa yang pernah diraba, dipegang, dan dilakukan tangan kita. Banyak pancaindera tersimpul di bagian muka.

Berapa orang yang jadi korban setiap hari dari mulut kita, berapa kali berbohong, memaki, dan membicarakan aib orang lain. Apa saja yang dimakan dan diminum. Apa saja yang baru diintip mata ini, apa yang didengar oleh kuping ini, dan apa saja yang baru dicium hidung ini? Ke mana saja kaki ini gentayangan setiap hari? Tegasnya, anggota badan yang dibasuh dalam wudlu ialah daerah yang paling riskan untuk melakukan dosa.

Organ tubuh yang menjadi anggota wudlu disebutkan dalam QS al-Maidah [5]:6, adalah wajah, tangan sampai siku, dan kaki sampai mata kaki. Dalam hadis riwayat Muslim juga dijelaskan bahwa, air wudlu mampu mengalirkan dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh mata, penciuman, pendengaran, tangan, dan kakinya, sehingga yang bersangkutan bersih dari dosa.

Kalangan ulama melarang mengeringkan air wudlu dengan kain karena dalam redaksi hadis itu dikatakan bahwa proses pembersihan itu sampai tetesan terakhir dari air wudlu itu (ma’a akhir qathr al-ma’).

Wudlu dalam Islam masuk di dalam Bab al-Thaharah (penyucian rohani), seperti halnya tayammum, syarth, dan mandi junub. Tidak disebutkan Bab al-Nadhafah (pembersihan secara fisik). Rasulullah SAW selalu berusaha mempertahankan keabsahan wudlunya.

Yang paling penting dari wudlu ialah kekuatan simboliknya, yakni memberikan rasa percaya diri sebagai orang yang ‘bersih’ dan sewaktu-waktu dapat menjalankan ketaatannya kepada Tuhan, seperti mendirikan shalat, menyentuh atau membaca mushaf Alquran. Wudlu sendiri akan memproteksi diri untuk menghindari apa yang secara spiritual merusak citra wudlu. Dosa dan kemaksiatan berkontradiksi dengan wudlu.

Red: irf

Selasa, 11 Mei 2010, 06:41 WIB

Tiga Syarat Menjadi Pejabat

Pandega/Republika

Tiga Syarat Menjadi Pejabat

ilustrasi

Oleh Abdullah Hakam Shah MA

Ketika baru dibaiat sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz meminta masukan dan nasihat dari sejumlah tabiin terkemuka. Satu per satu menyampaikan masukannya. Umar bin Abdul Aziz pun mendengarkannya dengan saksama. Sampai tiba giliran Thawus bin Kaisan, ia hanya berkata singkat, ”Jika Anda ingin membangun tata kelola pemerintahan yang baik, pilihlah orang-orang baik sebagai pejabat.”

Masukan Thawus tersebut barangkali tidak sementereng teori-teori pemberantasan korupsi yang ramai dikemukakan dewasa ini. Namun, ketika teori yang mentereng itu tak jua berhasil, bahkan iming-iming remunerasi pun berujung pada semakin maraknya praktik penilapan uang rakyat. Kini, apa yang disampaikan Thawus menjadi menarik untuk direnungkan kembali.

Dari teladan Rasulullah SAW dan khulafaurrasyidin RA, paling tidak ada tiga kriteria orang baik yang membuatnya layak diamanahi suatu jabatan. Pertama, ia tidak terlalu berambisi merengkuh jabatan itu, apalagi sampai menghalalkan segala cara.

Dalam sebuah hadis sahih dari Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah SAW bersabda, ”Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan suatu jabatan kepada orang yang memintanya atau berambisi mendapatkannya.” (HR Muslim).

Sebab, ketika seseorang sampai menghalalkan segala cara untuk memperoleh suatu jabatan, bisa dipastikan ia akan sulit berlaku amanah. Alih-alih diharapkan berkorban untuk kesejahteraan rakyat, ia justru akan sibuk mengembalikan modal yang pernah dikeluarkannya, memperkaya diri, dan mencari prestise lewat jabatan yang diemban.

Kedua, ia taat beribadah dan memiliki relasi sosial yang baik. Ketika Umar bin Khattab RA mengangkat Nafi’ bin al-Harits sebagai gubernur Makkah, Nafi’ memilih Ibnu Abza untuk mengepalai masyarakat yang tinggal di daerah lembah dekat Makkah.

Padahal, Ibnu Abza hanyalah bekas budak di komunitas tersebut. Saat Umar bin Khattab mengonfirmasi hal itu, Nafi’ menjawab, ”Ia memang bekas budak, tetapi ia hafal Alquran, paham masalah faraidl (waris), dan sering memutuskan persoalan masyarakat dengan adil.” (HR Ahmad). Maka, Umar pun memuji pilihan Nafi’ karena melihat kapabilitas dan tingkat akseptabilitas Ibnu Abza.

Ketiga, ia adalah pribadi yang sederhana dalam kesehariannya. Sebab, hanya pejabat dengan gaya hidup yang sederhanalah yang bisa imun (tahan) dari godaan kemewahan dunia. Sebaliknya, gaya hidup mewah sangat potensial menjerumuskan seorang pejabat untuk melakukan korupsi walaupun telah dimanjakan dengan gaji dan remunerasi yang lebih dari cukup. Padahal, Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa pejabat yang curang dan korup tidak akan pernah mencium wangi surga (HR Bukhari dan Muslim). Allahumma qad ballaghtu. Wa Allahu A’lam.

Red: irf

Senin, 10 Mei 2010, 13:18 WIB

Jalan Menuju Khusnul Khatimah

Yogi Ardhi/Republika

Jalan Menuju Khusnul Khatimah

ilustrasi

Oleh Emmy Hamidiyah, Sekretaris Umum Baznas

Dalam keseharian, kita kerap jumpai nilai-nilai kepedulian jauh membumi di kalangan masyarakat biasa. Bahkan, dari mereka banyak yang secara ekonomi kurang mampu. Tapi lihatlah cara hidupnya, saling berbagi satu dengan lainnya. Dua liter beras, kadang dibagi dengan tetangganya. Bahkan, ada yang diam-diam menunaikan zakat dan sedekah ke sebuah lembaga tanpa mau disebut namanya.

Pada suatu kesempatan, saya bertanya pada orang-orang itu. Apa sebab nuraninya begitu hidup. Mereka mengatakan, kami tahu rasanya lapar, kerasnya bertahan hidup, dan lemahnya jadi orang tidak berdaya. Maka, saat ada kelebihan, tak mungkin kami tega melihat mereka merasakan apa yang juga kami rasakan.

Tapi, Allah SWT telah menghitung dengan adil. Mereka yang mengiklaskan miliknya untuk berbagi dan sedekah, tak akan mengurangi harta miliknya. Orang-orang yang beruntung itu, tampak hidupnya berkah dan selalu cukup. Dalam sejarah Islam, kita kenal Fatimah Az-Zahra RA yang ikhlas bersedekah seuntai kalung warisan. Kalung itu ia sedekahkan kepada musafir yang tiga hari tidak makan karena kehabisan bekal. Kalung itu, kemudian dijual si musafir kepada Abdurrahman bin Auf ra.

Setelah cukup bekal, musafir melanjutkan perjalannya lagi. Tapi, setelah mengetahui keikhlasan Fatimah dalam bersedekah, Abdurrahman segera menghadiahkan kalung tadi kepada Nabi SAW, ayahanda Fatimah, sebagai pemilik awalnya. Pada kenyataannya, setelah melewati tiga orang kalung itu kembali ke Fatimah kembali.

Semua itu karena keikhlasan Fatimah menyedekahkan kalungnya. Ia memetik amalan sedekah secara tunai. Allah menjanjikan jalan yang mudah bagi orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan mendapat balasan berlipat ganda.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [Al Baqarah 261]

Bahkan di antara rahasia dan keutamaan orang yang rajin bersedekah, yaitu sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis: “Orang yang pemurah itu dekat dari Allah, dekat dari manusia, dekat dari surga dan jauh dari neraka. Adapun orang yang kikir, maka jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat kepada neraka (siksaan Allah). ” (HR Tirmidzi dan Baihaqi) “Sesungguhnya shadaqah itu dapat memadamkan murka Allah dan dapat menolak cara mati yang buruk.” (H.R. Tirmidzi, lbnu Hibban, lbnu ‘Adi, dan Baihaqi). Semua kita, tentu berdoa mati dalam keadaan husnul khotimah bukan? Sedekah bisa menjadi jalannya.

Red: irf

Republika, Sabtu, 08 Mei 2010, 10:05 WIB

Kerajaan dalam Diri Manusia

Kerajaan dalam Diri Manusia

ilustrasi

Oleh Abdul Barri Afandi

Sesungguhnya unsur terpenting dalam diri manusia adalah hati. Hati diibaratkan seperti raja dan seluruh anggota badan adalah para pengawal dan prajuritnya. Sebagai seorang raja yang senantiasa dilayani oleh para pelayannya dan memerintah dengan segala kehendak hatinya, serta mengatur kebijakan untuk kesejahteraan rakyatnya, maka demikian pula fungsi hati yang sesungguhnya.

Hati adalah raja bagi seluruh anggota badan manusia. Satu manusia adalah satu kerajaan. Semakin banyak manusia, semakin banyak pula kerajaan. Dan tentu saja, setiap kerajaan itu berbeda dengan lainnya, bergantung pada kualitas raja atau hatinya masing-masing.

Sebagai seorang raja yang harus memimpin kerajaan dengan arif dan bijaksana, hati membutuhkan kekuatan fisik. Dalam hal ini, hati bergantung pada kekuatan anggota badannya. Jika badannya sehat, hati (Insya Allah) juga sehat. Namun, bila badannya sakit dan tidak berdaya, maka hati juga ikut tidak berdaya.

Untuk mencegah hal ini terjadi, Allah menciptakan nafsu dan sifat marah dalam diri manusia, dengan tujuan menjadi penyeimbang. Nafsu makan bertujuan untuk menguatkan badan. Seandainya nafsu itu hilang dari dalam diri manusia, maka tentu manusia akan kehilangan kekuatannya. Dan hati juga yang terkena imbasnya.

Sedangkan sifat marah diciptakan dengan tujuan agar dapat mencegah sesuatu hal buruk yang mungkin akan menimpanya. Marah itu bertujuan untuk membela diri, menangkal musuh dan rintangan yang menghalanginya.

Begitulah diciptakannya manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Kehadirannya tidak lain hanya dituntut untuk beribadah dan beribadah. Seperti dalam firman Allah, ”Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Ad Dzaariyat: 56).

Adapun perbuatan dan aktivitas keseharian lainnya hanyalah sebatas untuk menenangkan diri dari kesibukan kita beribadah. Bekerja mencari nafkah, tidur, dan berinteraksi sosial, tidaklah patut untuk dijadikan prioritas. Bekerja juga termasuk bagian ibadah, bila pekerjaan kita niatkan untuk menjaga keberlangsungan hidup.

Untuk memiliki kekuatan besar, strategi yang tepat dalam kehidupan, dan kerajaan yang ada dalam tubuh itu semakin jaya, kuncinya adalah dengan ilmu. Sebab, dengan ilmulah manusia bisa selamat dari segala fitnah dan rayuan syetan yang terkutuk. Dan dengan ilmu manusia bisa menjadi kerajaan yang jaya, sebab dalam dirinya terdapat seorang Raja yang arif dan bijaksana. Dengan keilmuannya yang tinggi sehingga tidak hanya meninggikan derajatnya di hadapan makhluk tetapi juga meninggikan derajat di mata Allah. Wa Allahu a’lam.

Red: irf

Menghias Diri dengan Berbuat Baik

Sabtu, 15 Mei 2010, 08:08 WIB

Nunu/Republika

Menghias Diri dengan Berbuat Baik

ilustrasi

Oleh Prof Dr Imam Suprayogo

Semua orang merasa bahagia jika disebut sebagai penyandang nama yang baik. Oleh sebab itu, ada imbauan untuk menjaga nama baik. Bahkan, akhir-akhir ini orang menyebutnya dengan istilah menjaga citra atau pencitraan. Karena dianggap begitu penting, pemerintah atau sebuah instansi merasa perlu membangun citra diri itu.

Dunia diciptakan oleh Allah berpasang-pasangan. Ada keindahan, ada keburukan; ada tinggi ada rendah. Demikian pula, ada orang yang ketika namanya disebut, melahirkan suasana batin menyejukkan. Sebaliknya, ada nama orang yang jika disebut, menjadikan suasana hati para pendengarnya merasa kurang enak, sedih, jengkel, bahkan sakit. Nama itu dianggap kurang baik, karena pemiliknya pernah melakukan kejahatan dan merugikan orang.

Ketika mendengar nama sekaligus sifat Tuhan, al-asma’ al-husna, hati siapa pun merasa sejuk dan damai. Misalnya, mendengar sebutan Allah, ar-Rahman, ar-Rahim, al-Malik, al-Quddus, as-Salam, al-Mu’min, al-Muhaimin, al-Aziz, al-Jabbar, dan seterusnya.

Kita dianjurkan menyeru Tuhan dengan nama-nama indah itu. Siapa pun yang berzikir dengannya, pikiran dan hatinya akan terpengaruh olehnya. Lebih daripada itu, Islam menganjurkan agar kita selalu berzikir atau menyebut nama-nama indah dan mulia itu secara terus-menerus, sepanjang waktu, agar hati kita terhiasi dengannya.

Nama lain yang jika disebut juga mendatangkan suasana batin menyenangkan adalah nama para nabi dan rasul. Misalnya Adam, Idris, Nuh, Hud, Saleh, Ibrahim, dan seterusnya. Hal itu terjadi, karena para penyandangnya memiliki keteladanan tinggi. Mereka itulah para kekasih Allah.

Selanjutnya, sekalipun tidak semulia nama yang disebut di atas, dalam sejarah bangsa Indonesia telah lahir nama-nama besar, seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Umar, Bung Tomo, Mohammad Roem, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Ir Soekarno, Mohammad Hatta, dan masih banyak lagi lainnya. Mereka dipandang besar karena meninggalkan sesuatu untuk generasi penerus dengan karya-karya besarnya.

Sebaliknya, ada pula nama-nama yang jika disebut saja, sudah melahirkan suasana hati kurang menyenangkan. Misalnya, Fir’aun, Abu Jahal, Abu Lahab, dan yang serupa itu. Bahkan, jika terdapat orang yang dianggap berwatak buruk, maka orang itu disebut sebagai keturunan Abu Lahab atau Abu Jahal.

Akhir-akhir ini, semakin sering ditemukan penyimpangan uang negara yang dilakukan oleh para koruptor. Maka, muncul nama orang-orang yang jika disebut, para pendengarnya menjadi merasa kurang senang dan bahkan jengkel. Nama-nama para pelaku yang sering dikutip oleh surat kabar itu, karena mereka melakukan banyak perbuatan yang merugikan orang banyak.

Islam menganjurkan umatnya menghiasi diri dengan iman, amal saleh, dan akhlak mulia. Selain itu, Rasulullah juga menganjurkan umatnya untuk berzikir, menyebut nama Allah dalam setiap kesempatan. Tujuannya agar dia menghiasi hati dan namanya dengan keindahan dan kemuliaan. Wa Allahu a’lam.

Red: irf

About these ads

0 Responses to “Hikmah : Manfaat Wudhu, Syarat Pejabat, Khusnul Khatimah, Kerajaan, Berbuat Baik”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,155,358 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 118 other followers

%d bloggers like this: