14
Apr
10

Historia : Betawi Kuno, Keraton Kasepuhan, Bansus

Betawi Kuno ala Warung Besan

Dian Anditya Mutiara‘)Dian Anditya Mutiara‘)

Inilah sayur besan yang sudah langka itu. Kini makanan ini tersedia di Warung Besan, Jakarta Timur.
Jumat, 9 April 2010 | 15:29 WIB

KOMPAS.com – Seiring menjamurnya makanan siap saji di kota-kota besar seperti Jakarta, masakan tradisional khas daerah yang notabene masakan tuan rumah tidak serta merta tersingkir. Tak sedikit rumah makan atau warung yang mengusung konsep tradisional tetap diminati pengunjung. Apalagi masakan tradisional tak hanya berfungsi sebagai pengisi perut, melainkan juga simbol budaya.

Bagi masyarakat Betawi, masakan khas daerah tak hanya sebagai pelengkap menu makanan di dapur. Lebih dari itu, masakan betawi  berperan penting dan mengemban simbol tertentu dalam prosesi adat.

Sayur besan, misalnya, disajikan saat acara besanan dan melambangkan penghargaan tertinggi kepada orangtua mempelai. Sayang, menu tersebut mulai langka. Jarang ada warung yang menyediakan menu masakan betawi kuno seperti itu. Kalaupun ada, boleh jadi harganya cukup mahal.

Disebut sayur besan karena sayur ini merupakan menu istimewa atau menu wajib yang disajikan sewaktu orang Betawi melakukan pernikahan alias besanan. Sayur besan ini adalah masakan berkuah santan dengan isi terubuk, kentang, soun, pete dan ebi. Terubuk atau telur tebu merupakan tanaman musiman yang sudah langka.

Tekstur sayur Besan sangat lembut, harum dan renyah. Sayuran ini sangat digemari warga Betawi. Bahkan orang Betawi menjadikan sayur besan sebagai menu makanan saat acara besanan, lantaran rasanya yang lezat dan nikmat. Tapi karena keterbatasan bahan untuk membuatnya, saat ini sayur besan seolah menjadi masakan khas Betawi yang langka.

Namun tidak demikian di Warung Besan. Menu masakan khas Betawi kuno dapat dijumpai di sini, seperti halnya sayur gabus pucung, sayur besan hingga sayur babanci.

Warung yang berlokasi di Jalan Raya Kalimalang No 37, Pondokkelapa, Jakarta Timur, ini siap memanjakan tamu yang ingin mencicipi nikmatnya menu masakan khas Betawi, salah satunya sayur gabus pucung. Menu masakan gabus pucung di Warung Besan asli diolah dari resep bumbu warisan nenek moyang.

Sanawi, pemilik Warung Besan, mengatakan bahwa menu masakan yang ada di Warung Besan merupakan makanan khas daerah Betawi dan Sunda.  “Masakan Sunda dan Betawi lebih khas pada rasa yang manis atau pedas. Kita lebih menajamkan rasa pada setiap masakan. Ini yang tidak ditemui di warung makan khas daerah tertentu di Jakarta,” ujar Sanawi dengan nada bangga.

Rahasia gabus pucung

Sanawi membuka sedikit rahasianya dalam mengolah gabung pucung di warungnya. Membuat sayur pucung gabus memang sedikit ribet karena banyak bumbu yang digunakan. Rempah yang digunakan antara lain, bawang merah, bawang putih, kemiri, cabe merah, jahe, kunyit, dan daun salam. Bumbu-bumbu tersebut kemudian diulek dan ditumis sampai harum kemudian dimasukkan ke dalam air hingga menjadi kuah pucung.

Untuk membuat sayur agar tampak lebih hitam dan pekat, terlebih dulu biji kluwek atau pucung dihancurkan dan diambil isinya. Kemudian biji kluwek tersebut dicampur dengan bumbu masak yang sebelumnya telah ditumis. Kemudian dimasukkan ke dalam air dan direbus sampai mendidih dan menjadi kuah pucung.

Sementara itu potongan ikan gabus yang telah digoreng, dimasukkan ke dalam kuah pucung. Campuran ikan gabus bersama kuah pucung lalu dipanaskan hingga mendidih.  “Untuk mempertahankan keharumannya, biasanya diberikan daun salam utuh ke sayuran yang sedang direbus,” beber Sanawi.

Rasa pucung gabus memang terbilang unik. Perpaduan bumbu dapur membuat rasa masakan ini begitu kuat. Rasa yang gurih, sedikit asin dan pedas, menjadi ciri khas sayur ini sehingga sulit dilupakan oleh siapa pun yang memakannya. Aroma wangi yang keluar dari kuah pucung pun terasa menggugah kita untuk segera menyantapnya.

Gabus pucung akan lebih nikmat jika dimakan bersama lalapan seperti pete, mentimun, kacang panjang dan daun kangkung. Bagi penggemar pedas, sayur pucung gabus juga tak kalah mantapnya jika dihidangkan dengan sambal terasi atau sambal goreng.

Selain menu andalan berupa sayur besan, sayur gabus pucung, di warung ini juga tersedia menu andalan lain seperti, iga bakar super, babat goreng dan gurame terbang. Sebagai compliment, lalapan dan sambal selalu tersedia gratis. Sementara itu, sambal oncom, sambal mangga, sambal nanas adalah adalah sambal favorit pengunjung. Semua jenis masakan di Warung Makan Besan itu bisa dinikmati pengunjung hanya dengan cukup merogoh kocek antara Rp 25.000 – Rp 50.000 per porsi.

Bahan sayur babanci langka

Selain pucung gabus, lanjut Sanawi, masakan Betawi kuno yang sekarang sudah mulai hilang semacam sayur babanci, juga hadir di warung ini. “Kita tahu sayur babanci merupakan sayur kuno khas Betawi yang mulai sulit ditemui lantaran bumbunya yang mulai hilang di pasaran. Tapi kita akan menghadirkan sayur legenda itu di sini,” ungkapnya.

Kelangkaan sayur babanci ini disebabkan bahan-bahan untuk membuat sayur itu sudah sulit ditemukan di Jakarta, seperti temu mangga, kedaung, bangle, adas, dan lempuyang. Sementara untuk kelapa muda, daging kepala sapi, dan santan kelapa, masih bisa ditemukan dengan mudah. Lantaran sulitnya mencari sebagian bahan-bahan tersebut, kini warga Betawi hanya menyajikan sayur itu pada hari-hari besar keagamaan sebagai menu keluarga, seperti buka puasa, Hari Raya Idul Fitri, dan Hari Raya Idul Adha.

Menurut Sanawi, sayur babanci ini mirip gulai, tapi wujudnya sayur. Sebab, meski bersantan kental, namun tetap ada cita rasa berkuah segar seperti sayur. Lantaran ketidakjelasan masuk kategori sayur atau gulai, sayur ini disebut sayur banci, dan pada akhirnya disebut sayur babanci. “Nama babanci diambil dari kata kebanci-bancian. Karena memang tidak jelas rasa dan fisiknya masuk kelompok sayur apa gulai,” tutur Sanawi.

Untuk membuat sayur ini memang butuh keahlian khusus agar penyajiannya betul-betul sempurna. Selain harus memberikan ramuan bumbu yang pas, juga membutuhkan kesabaran dalam pembuatannya. Mulai dari meracik bumbu, memotong-motong daging kepala sapi, mengerok isi kelapa muda, hingga merebus daging kepala sapi itu sendiri.

“Untuk merebus daging kepala sapi saja butuh waktu sekitar empat jam. Soalnya, kalau cuma sebentar dagingnya tidak bisa empuk. Terus untuk mencampurkan isi kelapa muda harus pas, jangan sampai rasa kenyalnya ilang. Belum yang lain-lainnya, jadi butuh kesabaran,” jelasnya.

Warung Besan
Jalan Kalimalang No. 37
Pondok Kelapa
Jakarta Timur

Persahabatan di Keraton Kasepuhan

Dian Anditya Mutiara‘);Dian Anditya Mutiara‘);”Dian Anditya Mutiara‘)

Inilah kereta Singa Barong yang ada di Keraton Kasepuhan. Kereta itu melambangkan persahabatan Cirebon dengan India, China, dan Mesir.
Senin, 12 April 2010 | 17:16 WIB

KOMPAS.com – Salah satu situs bersejarah yang layak dikunjungi di Cirebon adalah dua istana bersaudara, yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Berdasarkan catatan sejarah, ketika Sunan Gunung Jati masih hidup, Cirebon hanya memiliki satu keraton. Namun, setelah ia wafat, keraton berhasil dipecah menjadi dua oleh Belanda.

Memasuki kawasan Keraton Kasepuhan, pengunjung akan disambut sebuah gerbang yang terbuat dari bata merah bertingkat. Bagian depan keraton ini biasanya dinamakan dengan Siti Inggil atau tanah tinggi, yang menghadap langsung ke arah lapangan tempat dulunya pasukan keraton berkumpul setelah melewati Siti Inggil yang berbentuk gerbang dan pagar panjang.

Di Siti Inggil ini ada lima bangunan tanpa dinding beratap sirap, yaitu Mande Pandawa Lima, yang bertiang lima dan melambangkan Rukun Islam, untuk duduk pegawai raja. Kemudian ada Mande Jajar dengan tiang tengah yang berukir sebanyak enam melambangkan Rukun Iman. Seluruhnya ada 20 tiang yang menggambarkan sifat ketuhanan. Digunakan untuk tempat duduk raja saat melihat alun-alun dan bila sedang mengadili terdakwa,

Bangunan lain adalah Mande Semar Tinandu yang bertiang dua, melambangkan Kalimat Syahadat. Berfungsi sebagai tempat duduk penasehat raja. Selanjutnya ada Mande Karesmen yang berfungsi untuk membunyikan Gamelan Sekaton pada tanggal 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah, terakhir adalah Mande Pengiring untuk tempat duduk prajurit pengiring raja dan tempat hakim menyidang terdakwa.

Kejayaan

Tanda-tanda  kejayaan keraton di zamannya bisa dilihat dari banyaknya keramik China dari Dinasti Ming yang ditempelkan pada dinding, mulai gerbang paling depan hingga bagian dalam keraton. “Keramik China melambangkan hubungan Keraton Cirebon dengan China dulunya sangat baik. Bahkan, salah satu istri Sunan Gunung Jati adalah putri China,” kata pemandu di Keraton Kasepuhan, Sugiman.

Ia menjelaskan, Keraton Kasepuhan dibangun 1529 sebagai perluasan dari keraton tertua di Cirebon, Pakungwati. Keraton itu dibangun oleh Pangeran Cakrabuana yang juga pendiri Cirebon pada 1445. Kejayaan keraton ini juga terlihat dari keberadaan sebuah bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang ada dalam kompleks Keraton Kasepuhan. Masjid itu dibangun 1549.

Teknologi

Di sebelah timur Taman Bunderan Dewan Daru berdiri bangunan untuk tempat penyimpanan kereta pusaka yang dinamai Kereta Singa Barong. Kereta ini dibuat pada tahun 1549 atas prakarsa Panembahan Pakungwati I.

Bentuknya, mengambil pola mahluk prabangsa. Kereta ini merupakan perwujudan dari tiga binatang menjadi satu, yaitu belalai gajah melambangkan persahabatan dengan India yang beragama Hindu;  kepala naga melambangkan persahabatan dengan China yang beragama Budha; sedangkan sayap dan badan mengambil dari buroq melambangkan persahabatan dengan Mesir  yang beragama Islam. “Dari ketiga kebudayaan itu digambarkan dengan Tri Sula yang berarti tajamnya alam pikiran manusia,” ujar Sugiman.

Kereta ini dahulunya digunakan untuk upacara kirab keliling Kota Cirebon setiap tanggap 1 Syura dengan ditarik oleh empat ekor kerbau bule. Tapi sejak 1942, kereta ini tidak dipergunakan lagi dan hanya dikeluarkan tiap 1 Syawal untuk dimandikan. “Kereta kencana Singa Barong ini telah memiliki teknologi yang menarik, seperti jari-jari roda dibuat melengkung ke dalam agar air dan kotoran tidak masuk ke dalam kereta,” jelasnya.
Warta Kota Dian Anditya M

Bansus, ‘Penghangat’ Kota Bogor

DA Mutiara DA Mutiara

Inilah bansus dari Kota Bogor, bandrek dan susu, itu bsia dihidangkan panas maupun dingin.
Selasa, 13 April 2010 | 09:56 WIB

KOMPAS.com – Dinginnya malam di Kota Bogor membuat perut minta diisi dengan minuman dan makanan yang hangat. Di tengah dingin malam, segelas bandrek susu hangat ditambah dengan bubur ayam cocok untuk mengganjal perut yang mulai keroncongan.

Selain Tugu Kujang dan angkotnya yang banyak, nama Air Mancur cukup tersohor di Kota Bogor. Sama halnya dengan Jalan Pajajaran dan Taman Kencana. Air Mancur yang terletak di Jalan Sudirman punya tempat yang menarik yang bisa dikunjungi khususnya tempat yang menjajakan aneka macam makanan.

Bisa dikatakan kawasan Air Mancur ini mirip dengan Bundaran HI di Jakarta. Yang membedakan, selain ukuran, Bundaran Air Mancur Bogor merupakan taman yang setiap hari digunakan ribuan warga Bogor, bahkan juga orang dari Jakarta untuk bersantai dari sore hingga larut malam. Umumnya kaum muda.

Suasana di Bundaran Air Mancur Bogor sangat hidup dan semarak karena tempat yang menjajakan makanan di lokasi tersebut buka hingga dini hari. Jumat malam dan Sabtu tempat tersebut menjadi lautan manusia dari berbagai kalangan. Ada kelompok motor, kelompok mobil, pencinta musik dan lainnya. Mereka berbaur melewatkan malam panjang.

Satu minuman yang paling khas di kawasan Air Mancur adalah bandrek susu (bansus). Bisa dikatakan belum pas dan puas jika ke tempat itu tanpa meneguk minuman penghangat yang dikenal sebagai bansus Air Mancur itu.

Bisa dibilang, bandrek masih satu keluarga dengan bajigur. Hal yang membedakan adalah bahan dasarnya. Bandrek berupa campuran minuman yang terbuat dari sari jahe dan rempah-rempah sehingga beraroma pedas dan hangat. Biasanya disajikan selagi panas. Penambahan susu pada bandrek menjadikan rasa pedas bandrek sedikit berkurang, diganti dengan gurihnya susu. Namun ada juga yang lebih suka ditambah es batu sehingga jadilah bansus dingin.

Sebagai pelengkap bansus, jajanan tenda di Air Mancur juga menyediakan aneka jenis panganan khas Bogor yang menggoda selera seperti lupis, ketan kukus, buras, dan aneka macam gorengan yang dilengkapi dengan sambal kacang. Aneka kue ini dijual dengan harga Rp 700 sedangkan untuk lupis dibanderol Rp 1.000.

Berhubung bentuknya warung tenda, dengan tempat duduk seadanya,  maka kalau pengunjung sedang ramai, mereka harus rela antre untuk mendapat giliran. Harus siap untuk duduk berdesak-desakan pula.

Suhemi (70), salah satu penjual aneka gorengan dan bansus, sudah berjualan di kawasan tersebut sejak 1967. Menurutnya, sejak dahulu almarhum Mang Ukar – suaminya –  berjualan di lokasi yang sama dengan berbagai gorengan, rokok, kopi, teh, bandrek.

“Dulu Bapak malah dagangnya dipikul dan keliling, dan terakhir dia mangkal di Air Mancur. Saya yang biasa menyiapkan kue-kuenya,” ujar nenek dari 10 cucu ini.

Sekarang, perempuan yang kerap disapa mamih bandrek ini hanya sesekali datang ke warung yang diteruskan oleh ketiga anaknya. Selain menu biasa, sekarang warung ini juga menambah menu sate kikil yang biasa disantap dengan buras. Untuk yang memasak seluruh makanan dilakukan keluarganya secara bergotong royong.

“Yang penting kita harus tekun dalam menjalankan usaha seperti ini. Meski hasilnya juga enggak seberapa. Alhamdulillah bisa menghidupi keluarga,” katanya sambil tersenyum.

Bubur ayam juga ada

Selain bansus, ada juga pedagang yang melengkapi warung dengan berjualan bubur ayam. Tidak sedikit warga Bogor , bahkan dari luar Bogor, yang  ‘kecanduan’ bubur ayam Abah Ujang. Seporsi bubur ayam hanya Rp 7.000. Dilengkapi pula dengan aneka sate, mulai dari sate ati ampela, usus, jantung, telur puyuh hingga kikil yang dijual seharga Rp 1.500 per tusuk.

Abah Ujang mengaku sudah berjualan di kawasan tersebut pada tahun 1978. Namun awalnya hanya berjualan jamu dan bansus saja. Kemudian baru pada tahun 1998 menambahkan dengan bubur ayam.

“Waktu itu pas krisis ekonomi, jadi jualan jamu saja tidak cukup. Akhirnya terpikirkan untuk membuat bubur ayam, lumayanlah untuk menambah penghasilan,” ujarnya.

Dibantu sang istri, setiap hari Ujang memasak lima liter beras untuk dijadikan bubur ayam. Tetapi pada akhir pekan bisa masak hingga 14 liter beras. Sedangkan sate jeroan ayam dan kikil dipersiapkan sejak pagi hari, karena untuk mendapatkan rasa yang empuk harus direbus dahulu kurang lebih satu jam.

Menurutnya, yang paling lama mengolah sate usus karena harus terlebih dahulu dibersihkan kotorannya.  “Untuk usus ini prosesnya memakan waktu 1,5 jam,” Ujang menjelaskan.

Sedangkan untuk bandrek, Abah Ujang mengaku meracik sendiri bubuknya. Bandrek ala Abah Ujang ini terdiri dari campuran jahe, kayu manis, gula merah, gula putih dan susu kental manis. Segelas bansus panas dijual seharga Rp 3.500, sedangkan bansus dingin Rp 4.000.

Rata-rata pedagang bansus itu mulai menggelar dagangan pukul 16.00 hingga pukul 04.00. Kehadiran mereka sangat menolong bagi mereka yang sedang bertugas di malam hari atau buat mereka yang doyan melek hingga dini hari dan mencari sesuatu untuk menghangatkan badan.

Martabak legit

Kawasan Air Mancur Bogor tak hanya menyediakan bansus dan  bubur ayam. Tak jauh dari kedua warung tenda tersebut di atas,  sekitar 40 langkah dari tenda Bubur Ayam Abah Ujang atau sekitar 15 meter dari tenda bansus, pengunjung bisa menikmati Martabak Air Mancur. Tidak seperti dua warung tenda tadi, warung martabak ini permanen. Pengunjung tidak perlu berdesak-desakan duduk di kursi kayu atau antre berdiri. Banyak tempat tersedia. Baik di luar maupun di dalam ruangan yang ber-AC.

Dengan nyaman pengunjung bisa memilih dari 12 rasa martabak. Martabak Air Mancur ini memang cukup terkenal, apalagi rasa keju, coklat dan kacang yang tebal dan legit. Banyak yang memborong untuk dibawa jadi oleh-oleh. Harga mulai Rp 25.000.

Warta Kota Dian Anditya M

About these ads

1 Response to “Historia : Betawi Kuno, Keraton Kasepuhan, Bansus”


  1. April 14, 2010 at 9:37 am

    Wah, mantap artikelnya…
    Thanks for share ya…

    Telkomsel (update april 2010) « http://z8.ro/tsel


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,252,001 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: