06
Apr
10

Properti : Balik Nama Sertifikat dan PBB

Balik Nama Sertifikat dan PBB, Harus Itu!

Mengubah sertifikat menjadi atas nama Anda mudah, asalkan AJB sebagai syarat mutlaknya telah Anda daftarkan di PPAT.
Rabu, 1/4/2009 | 09:43 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Keabsahan jual beli antara pemilik lama dan penjual bisa saja hanya berupa Akta Jual Beli (AJB), sementara sertifikat kepemilikan tanah dan bukti pembayaran pajaknya masih atas nama pemilik lama. Apa yang harus Anda lakukan jika menghadapi persoalan ini?

Sebagai sebuah prosedur jual beli tanah dan bangunan, hal itu mestinya tidak boleh terjadi. Sudah seharusnya, sebelum terjadi proses jual beli dengan Anda, si penjual yang telah menandatangani AJB dengan pemilik lama “wajib” membuat balik nama sertifikat atas namanya.
Bukan itu saja. Setelah itu, AJB kepada Anda harus dibaliknamakan atas nama Anda, sebab sertifikat AJB harus diteruskan dengan proses balik nama sertifikat. Itulah prosedurnya, meskipun buat seorang penjual hal itu cenderung lebih mahal.

Toh, nyatanya, kasus AJB dengan sertifikat kepemilikan tanah dan bukti pembayaran pajak yang masih atas nama pemilik lama cukup sering terjadi pada mereka yang berpengalaman membeli tanah kaveling berikut bangunan di atasnya di sebuah perumahan lama.

Itu pun bisa saja terjadi pada Anda. Karena cara memiliki rumah semacam itu tergolong menarik. Harganya lebih murah meskipun risikonya bisa jadi lebih tinggi dari perkiraan semula.

Melihat kasus pasca jual beli yang ditandai dengan AJB itu, Anda memang akan mendapatkan semua surat tanah dan pajak yang masih atas nama pemilik lama. Di saat itu, biasanya Anda pun akan bersibuk-sibuk mengurus balik nama atas sertifikat kepemilikan tanah di notaris atau Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).

Adakah efek negatif terhadap proses jual beli semacam itu? Jika Anda sudah mengubah nama pada sertifikat kepemilikan, haruskah Anda pun mengganti nama si pemilik pada surat Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)? Risiko apa yang harus Anda tanggung jika tidak mengubah nama di surat PBB? Haruskah nama di surat PBB sama dengan nama yang tertera di sertifikat tanah?

Banyaknya pertanyaan itu tidak perlu membingungkan Anda. Bukan tak mungkin, kelak hal itu pun akan keluar dari mulut Anda sendiri.

Ya, sampai sejauh ini, semua sifat perbuatan hukum dalam jual beli tanah di Indonesia tergolong tuntas dan tunai. Dengan kata lain, setelah ditandatanganinya Akta Jual Beli (AJB) di depan PPAT, di saat itu pula hak sudah beralih dari penjual kepada Anda sebagai pembeli. Kerepotan Anda, yang saat itu tengah mengurus balik nama atas sertifikat kepemilikan di notaris, pun sudah tepat.

Selain itu, Anda harus teguhkan di hati, bahwa sudah semestinya seorang penjual tahu betul ihwal syarat serta prosedur pendaftaran tanah. Untuk mendukung keteguhan itu, tanda bukti yang kuat harus Anda miliki. Yaitu, Anda harus segera melakukan pengubahan sertifikat menjadi atas nama Anda. Itu mudah dilakukan, karena AJB sebagai syarat mutlak telah Anda daftarkan di notaris atau PPAT.

Tentunya, supaya di kemudian hari Anda pun tidak menghadapi persoalan hukum, ada baiknya surat PBB juga dibaliknamakan atas nama Anda. Itu penting sekali, selain tidak sulit biayanya pun murah. Anda cukup membawa lampiran sertifikat dan AJB yang telah dibaliknamakan untuk mengajukan permohonan balik nama tersebut di Kantor Pelayanan Pajak terdekat.

Nah, selamat punya kaveling baru!

PROSEDUR, DATA YANG DIPERLUKAN dan SYARAT-SYARATNYA

Dalam melaksanakan pekerjaan saya sehari-hari, beberapa kali saya ditanya oleh klien-klien yang awam, yang menyatakan bahwa mereka akan melakukan balik nama sertifikat berdasarkan kwitansi lunas dari Penjual atas pembelian tanah dan/atau bangunan. Beberapa orang menganggap hanya dengan menggunakan kwitansi lunas tersebut mereka sudah dapat melakukan balik nama sertifikat tanah yang mereka beli.
Pada kenyataannya tidak semudah itu. Yang menjadi persoalan adalah jika si penjual sudah tidak bisa ditemui lagi atau sudah meninggal dunia, maka pembeli tersebut akan mengalami kesulitan dalam melakukan peralihan hak atas tanah dan bangunan dimaksud.
Pada prakteknya, untuk dapat melakukan balik nama (dalam hal ini peralihan hak) atas tanah dan/atau bangunan, harus dilakukan dengan cara tertentu, yaitu jual beli, hibah, tukar menukar, atau inbreng (pemasukan ke dalam suatu perusahaan). Pada kesempatan ini akan saya bahas mengenai peralihan hak dengan cara jual beli.

Jual beli merupakan proses peralihan hak yang sudah ada sejak jaman dahulu, dan biasanya diatur dalam hukum Adat, dengan prinsip: Terang dan Tunai. Terang artinya di lakukan di hadapan Pejabat Umum yang berwenang, dan Tunai artinya di bayarkan secara tunai. Jadi, apabila harga belum lunas, maka belum dapat dilakukan proses jual beli dimaksud. Dewasa ini, yang diberi wewenang untuk melaksanakan jual beli adalah Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang terdiri dari:
1.PPAT sementara –> adalah Camat yang diangkat sebagai PPAT untuk daerah –daerah terpencil
2.PPAT –> Notaris yang diangkat berdasarkan SK Kepala BPN untuk wilayah kerja tertentu

Data-data apa saja yang harus dilengkapi untuk proses Jual Beli & balik nama tersebut?
Dalam transaksi jual beli tanah dan/atau bangunan tersebut, biasanya PPAT yang bersangkutan akan meminta data-data standar, yang meliputi:
I. Data tanah, meliputi:
a.asli PBB 5 tahun terakhir berikut Surat Tanda Terima Setoran
(bukti bayarnya)
b.Asli sertifikat tanah (untuk pengecekan dan balik nama)
c.asli IMB (bila ada, dan untuk diserahkan pada Pembeli setelah
selesai proses AJB)
d.bukti pembayaran rekening listrik, telpon, air (bila ada)
e. Jika masih dibebani Hak Tanggungan (Hipotik), harus ada Surat
Roya dari Bank yang bersangkutan

Catatan: point a & b mutlak harus ada, tapi yang selanjutnya optional

II. Data Penjual & Pembeli (masing-masing) dengan kriteria
sebagai berikut:
a.Perorangan:
a.1. Copy KTP suami isteri
a.2. Copy Kartu keluarga dan Akta Nikah
a.3. Copy Keterangan WNI atau ganti nama (bila ada, untuk
WNI keturunan)
b.Perusahaan:
b.1. Copy KTP Direksi & komisaris yang mewakili
b.2. Copy Anggaran dasar lengkap berikut pengesahannya dari
Menteri kehakiman dan HAM RI
b.3. Rapat Umum Pemegang Saham PT untuk menjual atau Surat
Pernyataan Sebagian kecil asset

c.Dalam hal Suami/isteri atau kedua-duanya yang namanya
tercantum dalam sertifikat sudah meninggal dunia, maka yang
melakukan jual beli tersebut adalah Ahli Warisnya. Jadi, data-
data yang diperlukan adalah:

c.1. Surat Keterangan Waris
-Untuk pribumi: Surat Keterangan waris yang disaksikan dan
dibenarkan oleh Lurah yang dikuatkan oleh Camat
-Untuk WNI keturunan: Surat keterangan Waris dari Notaris
c.2. Copy KTP seluruh ahli waris
c.3. Copy Kartu keluarga dan Akta Nikah
c.4. Seluruh ahli waris harus hadir untuk tanda-tangan AJB, atau
Surat Persetujuan dan kuasa dari seluruh ahli waris kepada
salah seorang di antara mereka yang dilegalisir oleh Notaris
(dalam hal tidak bisa hadir)
c.5. bukti pembayaran BPHTB Waris (Pajak Ahli Waris), dimana
besarnya adalah 50% dari BPHTB jual beli setelah dikurangi
dengan Nilai tidak kena pajaknya.

Nilai tidak kena pajaknya tergantung dari lokasi tanah yang bersangkutan.
Contoh Perhitungannya:
-NJOP Tanah sebesar Rp. 300juta, berlokasi di wilayah bekasi:
Nilai tidak kena pajaknya wilayah bekasi adalah sebesar Rp. 250jt. Jadi pajak yang harus di bayar =
{(Rp. 300jt – Rp. 250jt) X 5%} X 50%.
Jadi, apabila NJOP tanah tersebut di bawah Rp. 250jt, maka penerima waris tidak dikenakan BPHTB Waris (Pajak Waris)

Sebelum dilaksanakan jual beli, harus dilakukan:
1. Pengecekan keaslian dan keabsahan sertifikat tanah pada kantor
pertanahan yang berwenang
2. Para pihak harus melunasi pajak jual beli atas tanah dan
bangunan tersebut.
Dimana penghitungan pajaknya adalah sebagai berikut:
-Pajak Penjual (Pph) = NJOP/harga jual X 5 %
-Pajak Pembeli (BPHTB) =
{NJOP/harga jual – nilai tidak kena pajak} X 5%

Minggu, 28 Juni 2009

PROSES BALIK NAMA SERTIFIKAT DENGAN ADANYA PEWARISAN

Pada artikel sebelumnya sudah disinggung mengenai istilah Balik Nama dalam hubungannya dengan transaksi Jual Beli tanah. Dalah hal jual beli tersebut hanya menyangkut Jual Beli dari pihak penjual kepada pihak pembeli dengan kondisi si penjual masih hidup, maka proses yang terjadi cukup dalam satu tahapan saja, yaitu proses balik nama dari penjual dan ke pembeli.

Bagaimana halnya apabila nama pemilik yang tertera di dalam sertifikat tersebut sudah meninggal dunia ?

Untuk hal ini memerlukan suatu tahapan lagi sebelum dilakukannya balik nama. Dengan meninggalnya si pemilik sedangkan tanah tersebut hendak di jual oleh para ahli warisnya, maka harus dilengkapi dengan Surat Keterangan Waris. Surat Keterangan Waris ini bisa kita urus di Kelurahan/Kecamatan setempat dengan melampirkan surat kematian dari almarhum.

Selanjutnya dilakukan proses Balik Nama Waris oleh Kantor Pertanahan setempat, yaitu balik nama yang dilakukan dari nama almarhum kepada nama para ahli waris yang ada yaitu isteri beserta anak-anaknya. Sehingga nantinya akan tercantum nama para ahli waris tersebut di dalam sertifikat. Setelah adanya Balik Nama ke para ahli waris tersebut barulah di proses balik namanya kepada Pembeli. Pada akhirnya nama Pembeli akan dicantumkan pada sertifikat dengan mencoret nama para ahli waris yang ada sebelumnya.

Ada kewajiban tambahan bagi Pihak Penjual (selain pembayaran Pajak Penghasilan) dalam hal ini yaitu pembayaran Pajak Waris. Hal ini diatur dalam PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2000 TENTANG PENGENAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN KARENA WARIS DAN HIBAH WASIAT .

Pasal 2 dari Peraturan Pemerintah ini menyatakan :

‘Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang atas perolehan hak karena waris dan hibah wasiat adalah sebesar 50% (lima puluh persen) dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang seharusnya terutang.’

Jadi sebelum semuanya diproses lebih lanjut maka Penjual juga diwajibkan untuk membayar Pajak berdasarkan perolehan hak yang diperolehnya karena kewarisan.

PROSES BALIK NAMA SERTIFIKAT DENGAN ADANYA PEWARISAN
Written by not-erd
Pada artikel sebelumnya sudah disinggung mengenai istilah Balik Nama dalam hubungannya dengan transaksi Jual Beli tanah.  Dalah hal jual beli tersebut hanya menyangkut Jual Beli  dari pihak penjual kepada pihak pembeli dengan kondisi si penjual masih hidup, maka proses yang terjadi cukup dalam satu tahapan saja, yaitu proses balik nama dari penjual dan ke pembeli.Bagaimana halnya apabila nama pemilik yang tertera di dalam sertifikat tersebut sudah meninggal dunia ?

Untuk hal ini memerlukan suatu tahapan lagi sebelum dilakukannya balik nama. Dengan meninggalnya si pemilik sedangkan tanah tersebut hendak di jual oleh para ahli warisnya, maka harus dilengkapi dengan  Surat Keterangan Waris.  Surat Keterangan Waris ini bisa kita urus di Kelurahan/Kecamatan  setempat dengan melampirkan surat kematian dari almarhum.

Selanjutnya dilakukan proses Balik Nama Waris oleh Kantor Pertanahan setempat, yaitu balik nama yang dilakukan dari nama almarhum kepada nama para ahli waris yang ada yaitu  isteri beserta anak-anaknya. Sehingga nantinya akan tercantum nama para ahli waris tersebut di dalam sertifikat.  Setelah adanya Balik Nama ke para ahli waris tersebut barulah di proses balik namanya kepada Pembeli. Pada akhirnya  nama Pembeli akan dicantumkan pada sertifikat dengan mencoret nama para ahli waris yang ada sebelumnya.

Ada kewajiban  tambahan bagi  Pihak Penjual (selain pembayaran Pajak Penghasilan) dalam hal ini yaitu  pembayaran  Pajak Waris. Hal ini diatur dalam  PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA  NOMOR 111 TAHUN 2000  TENTANG  PENGENAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN  KARENA WARIS DAN HIBAH WASIAT .  Pasal 2 dari Peraturan Pemerintah ini menyatakan :

‘Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang atas perolehan hak karena waris dan hibah wasiat adalah sebesar 50% (lima puluh persen) dari Bea Perolehan  Hak   atas Tanah dan Bangunan yang seharusnya terutang.’

Jadi sebelum semuanya diproses lebih lanjut maka Penjual juga diwajibkan untuk membayar Pajak berdasarkan perolehan hak yang diperolehnya karena kewarisan.

About these ads

3 Responses to “Properti : Balik Nama Sertifikat dan PBB”


  1. April 29, 2010 at 5:30 pm

    Harga Tanah Jakarta 2010
    DAFTAR HARGA TANAH DI Jakarta 2010

    DAFTAR PERKIRAAN HARGA-HARGA TANAH DI JAKARTA PER.APRIL 2010

    ( harga disusun berdasarkan hasil pemantauan permintaan jual dan beli yang terjadi di pasar )

    CATATAN :

    Harga tanah sangat bervariasi oleh :

    – Surat Hak ( Hak Milik, HGB , HPL , Hak Sewa/pakai, dll )

    – Bentuk Kavling ( Kotak dan tidak huk biasanya lebih mahal )

    – Ukuran Ideal ( lebar dibanding panjang min. 1 : 2, max. 1 : 3 )

    – Posisi kavling ( di pojok belakang biasanya lebih murah drpd di depan atau tengah )

    – Lebar Jalan

    – Letak kavling terhadap jalan ( tusuk sate biasanya susah terjual dan harganya murah )

    – Hadap ( arah mata angin , tergantung kecocokan fengshui masing2 orang beda )

    – Tanah yang sudah dibangun dinilai plus 5 – 10%

    Jakarta Utara

    – Kelapa Gading

    Janur Elok Rp.5.000.000 – 6.500.000

    Janur Indah Rp. 6.000.000 – 8.000.000

    Janur Kuning Rp. 4.500.000 – 5.000.000

    Janur Hijau Rp. 4.000.000 – 4.500.000

    Kelapa Molek / Kelapa Hijau / Sumaagung Rp. 3.000.000 – 4.000.000

    Bukit Gading Villa Rp.15.000.000 – 20.000.000

    Bukit Gading Mediterania Rp. 10.000.000 – 12.000.000

    Villa Gading Indah Rp.5.500.000 – 7.500.000

    Villa Artha Gading Rp.11.000.000 – 15.000.000

    Gading Kirana Rp.7.500.000 – 9.000.000

    Kelapa Nias Rp. 4.000.000 – 5.000.000

    Janur Asri / Kelapa Hibrida Rp.3.500.000 – 4.000.000

    Kelapa Lilin / Gading Indah Rp.6.000.000 – 6.500.000

    Villa Permata Gading Rp. 6.000.000 – 7.000.000

    Grand Orchard / Royal Orchard Rp. 8.000.000 – 10.000.000

    – Pantai Indah Kapuk

    Gold Coast Rp 9.500.000 – 11.000.000

    Garden House Rp.7.500.000 – 8.500.000

    Bukit Golf Mediterania Rp.5..500.000 – 7.500.000

    Layar Rp. 4.500.000 – 5.000.000

    Mediterania PIK Rp.7.000.000 – 8.000.000

    Mayang Rp. 5.000.000 – 6.500.000

    Katamaran Rp.5.000.000 – 6.500.000

    Florence Rp. 6.000.000 – 7.000.000

    Taman Golf Rp. 6.500.000 – 8.000.000

    Grisenda Rp.4.500.000 – 5.000.000

    Camar Rp.4.500.000 – 5.000.000

    Elang Laut Rp. 4.200.000 – 5.000.000

    Manyar Rp.4.500.000 – 5.500.000

    Crown Golf Rp. 8.000.000 – 9.000.000

    -Pluit

    Pantai Mutiara Rp.4.500.000 – 7.000.000

    Pluit Karang Rp.3.800.000 – 4.500.000

    Pluit Murni Rp. 4.500.000 – 5.500.000

    Pluit Indah Rp.6.000.000 – 7.000.000

    Pluit Sakti Rp. 4.500.000 – 5.000.000

    Pluit Barat Rp.4.000.000 – 4.500.000

    Pluit Putri Rp.4.000.000 – 5.000.000

    Pluit Permai Rp.4.200.000 – 6.000.000

    Pluit Timur Rp. 4.000.000 – 4.500.000

    Pluit Raya Rp.5.500.000 – 7.500.000

    Pluit Samudra Rp.4.000.000 – 5.000.000

    Muara Karang Rp. 4.000.000 – 4.500.000

    – Ancol

    Pangandaran Rp.4.000.000 – 4.500.000

    Parangtritis Rp.4.000.000 – 5.000.000

    Karangbolong Rp.4.000.000 – 4.500.000

    The Green Rp.7.000.000 – 7.500.000

    The Forest Rp.7.500.000 – 8.000.000

    The Bukit Rp.7.000.000 – 7.500.000

    Pantai Kuta Rp. 4.500.000 – 5.000.000

    Pantai Sanur Rp.4.500.000 – 5.000.000

    Pasir Putih Rp.4.500.000 – 5.500.000

    Puri Jimbaran Rp.6.000.000 – 6.500.000

    – Sunter

    Agung Utara Rp.4.000.000 – 4.500.000

    Sunter STS Rp.3.500.000 – 4.000.000

    Paradise 1 Rp.4.000.000 – 4.200.000

    Paradise 2 Rp. 4.000.000 – 5.000.000

    Paradise 3 Rp.5.000.000 – 7.000.000

    Sunter garden Rp.5.000.000 – 6.000.000

    Sunter Metro Rp.5.000.000 – 6.500.000

    Agung Perkasa Rp.4.000.000 – 5.000.000

    Danau Agung Rp.5.000.000 – 5.700.000

    Agung Tengah / Agung Indah Rp.4.000.000 – 5.500.000

    Danau Indah Rp.4.500.000 – 5.500.000

    Sunter Indah / Danau Asri Rp.4.000.000 – 4.500.000

    Sunter Hijau Rp.3.500.000 – 4.500.000

    Sunter Jaya Rp.3.500.000 – 4.000.000

    Sunter Bisma Rp.4.000.000 – 5.500.000

    Jakarta Pusat

    – Griya Inti Sentosa Rp.6.000.000 – 8.000.000

    – Angkasa Rp.4.000.000 – 5.000.000

    – Kepu Dalam Rp.3.000.000 – 3.500.000

    – Tamansari Rp.4.000.000 – 5.000.000

    – Gajah Mada Rp.5.000.000 – 8.000.000

    – Pademangan Rp. 3.000.000 – 4.000.000

    – Gunung Sahari Rp.5.000.000 – 8.000.000

    – Tanah Abang Rp. 7.000.000 – 15.000.000

    – Fakhrudin Rp.12.000.000 – 25.000.000

    – Kebon Kacang Rp.5.000.000 – 7.000.000

    – Cideng Rp.4.500.000 – 6.000.000

    – Menteng Rp.7.000.000 – 15.000.000

    – Teuku Umar Rp 10.000.000 – 12.000.000

    – HOS Cokroaminoto Rp. 8.000.000 – 12.000.000

    – Imam Bonjol Rp.12.000.000 – 14.000.000

    – Teuku Umar Rp.9.000.000 – 14.000.000

    – Jalan Suwiryo Rp. 7.000.000 – 9.000.000

    – Jalan Jambu Rp. 6.000.000 – 7.000.000

    – Jalan Syamsurizal Rp. 7.000.000 – 10.000.000

    – Jalan Jeruk Rp.6.000.000 – 7.000.000

    – Jalan Surabaya Rp.7.500.000 – 10.000.000

    – Jalan Diponegoro Rp.12.000.000 – 15.000.000

    – Cikini Raya Rp.7.000.000 – 10.000.000

    – Jalan Gereja Theresia Rp. 10.000.000 – 12.000.000

    – Jalan MH.Thamrin Rp.13.000.000 – 18.000.000

    – Jalan Jendral Sudirman Rp. 15.000.000 – 25.000.000

    – Jatinegara Rp.3.000.000 – 6.000.000

    Jakarta Barat

    – Puri Indah Rp.6.000.000 – 8.500.000

    – Kebon Jeruk Rp.4.000.000 – 5.000.000

    – Meruya Rp.3.000.000 – 4.500.000

    – Puri Kencana Rp.5.500.000 – 6.500.000

    – Sunrise Garden Rp.4.000.000 – 5.000.000

    – Green Garden Rp.4.000.000 – 5.000.000

    – Puri Botanical Rp.4.500.000 – 5.500.000

    – Tomang Rp.3.500.000 – 6.000.000

    – Citra Garden Rp.2.500.000 – 3.500.000

    – Taman Palem Rp.3.000.000 – 4.500.000

    – Daan Mogot Rp. 3.000.000 – 4.500.000

    – Cengkareng Timur Rp. 2.000.000 – 3.500.000

    – Tubagus Angke Rp.4.000.000 – 6.500.000

    – Casa Jardine Rp.4.500.000 – 6.500.000

    – Green Mansion Rp. 5.000.000 – 6.000.000

    – Jalan Panjang Rp. 4.000.000 – 7.000.000

    – Kemanggisan Rp.4.000.000 – 5.500.000

    – Permata Buana Rp. 5.000.000 – 6.500.000

    – Teluk Gong Rp.3.000.000 – 4.000.000

    – Green Ville Rp. 3.500.000 – 4.000.000

    – Taman Surya Rp.3.000.000 – 3.500.000

    – Jelambar Rp.2.500.000 – 3.000.000

    Jakarta Selatan

    – Pondok Indah

    Padang Golf Rp.12.000.000 – 16.000.000

    Metro Pondok Indah Rp.8.000.000 – 12.000.000

    Metro Kencana Rp.10.000.000 – 12.000.000

    Gedung Hijau Rp.7.000.000 – 10.000.000

    Sekolah Duta Rp. 8.000.000 – 11.000.000

    Kartika Utama Rp. 9.000.000 – 12.000.000

    Alam Segar Rp.12.000.000 – 13.000.000

    Arteri Pondok Indah Rp.8.500.000 – 12.000.000

    – Kemang

    Jalan Bangka Rp.3.000.000 – 5.000.000

    Kamang Raya Rp.3.000.000 – 4.000.000

    Kemang Utara Rp. 4.000.000 – 5.000.000

    – Pejaten Barat Rp. 2.500.000 – 3.000.000

    – Pejaten raya Rp. 2.500.000 – 3.500.000

    – Kalibata Rp.2.500.000 – 3.500.000

    – Kebayoran baru Rp. 7.000.000 – 8.000.000

    – Kebayoran lama Rp. 6.000.000 – 10.000.000

    – Kuningan Rp.10.000.000 – 15.000.000

    – Tebet Rp.4.000.000 – 5.000.000

    – Pancoran Rp.4.000.000 – 5.000.000

    Jakarta Timur

    – Kayu Putih Rp.3.000.000 – 4.000.000

    – Rawamangun Rp.4.500.000 – 5.000.000

    – Pulo Mas Rp.3.500.000 – 5.500.000

    – Pahlawan Revolusi Rp.4.000.000 – 6.000.000

    – Duren Sawit Rp.3.000.000 – 4.500.000

    – Jalan Pemuda Rp.4.000.000 – 5.000.000

    – Jalan Pramuka Rp.5000.000 – 7.500.000

    – Cipinang Rp.2.700.000 – 3.500.000

    – Matraman Raya Rp.4.000.000 – 6.000.000

    – Klender Rp.3.000.000 – 4.000.000

    – Utan Kayu Rp. 4.000.000 – 4.500.000

    Lain -lain

    – Alam Sutera Rp. 2.500.000 – 3.000.000

    – BSD Rp. 2.000.000 – 4.000.000

    – Sumarecon Serpong Rp.3.000.000 – 3.500.000

    – Cibubur Rp. 1.500.000 – 2.500.000

    – Sentul City Rp. 1.200.000 – 2.500.000

    – Villa Kota Bunga Puncak Rp. 1.500.000 – 2.500.000

    – Villa Green Apple Rp. 1.200.000 – 2.200.000

    – Villa Puncak resort Rp.1.000.000 – 1.200.000

    – Raya Cipanas Rp. 2.000.000 – 2.500.000

    – Depok Rp.1.500.000 – 2.500.000

    – Lippo Karawaci ( non Golf ) Rp. 2.000.000 – 2.500.000

    – Lippo Karawaci ( golf ) Rp. 3.000.000 – 3.500.000

  2. 2 Nuno
    October 8, 2010 at 11:53 am

    Jika pajak waris nihil, berapakah biaya administrasi balik nama dr almarhum k ahli waris?

  3. June 6, 2011 at 2:47 pm

    Nama: Wayan Sariada
    Alamat : Jl. Gunung Andaka, Gang Anggerk 7, Denpasar Bali 80117
    Tlp: 081 338 733 268 E-mail:
    Email: wayansariada@ymail.com

    Dengan hormat,

    Perkenalkan nama saya Wayan Sariada , saya memohon kepada Bapak, sudi kiranya Bapak memberikan petunjuk-petunjuk /nasihat-nasihat perihal permasalahan saya sbb:
    Keluarga besar kami (dari Kakek & Nenek kami yang sudah almarhum) mempunyai warisan berupa sebidang tanah sawah yang belum bersertifikat, akan tetapi tanah tersebut di daftar wajib pajak /daftar catatan di kantor Agraria , Singaraja, Bali atas nama ayah kandung saya (almarhum), kami adalah 3 saudara kandung laki-laki.
    Kemudian , beberapa tahun yang lalu , atas kesepakan keluarga besar kami, tanah warisan tsb telah berikan secara “pedum pamong” kepada saudara misan saya tsb /dibagikan oleh pihak keluarga besar (para orang tua) atas kesepakatan biasa saja/kekeluargaan, tanpa ada saksi dari aparat pemerintah/desa”.
    Saat ini, saudara misan saya itu, hendak menjual tanah tsb. Nah karena kami bertiga sebagai anak kandung almarhum tak mau dicap menjual tanah warisan tsb, sebab kami bukan yang menjualnya, melainkan saudara misan kami, maka kami menyuruh saudara misan kami tsb untuk membalik nama kepemilikan di Kantor Agraria yang sebelumnya atas nama ayah saya agar menjadi atas nama saudara misan/sepupu kami tsb, dan kami tak berniat menghalanginya tujuannya menjual tanah tsb asal niatnya/tujuannya tsb atas dasar tujuan/untuk hal –hal mulia.
    Pertanyaan saya: apabila saudara misan/sepupu saya tsb ingin merubah status kepemilikan /mendaftarkan untuk membuat sertifikat atas namanya sendiri, maka saya dan adik-adik saya sebagai anak kandung ayah saya(yang tercatat di kantor agraris tsb) apa saja yang harus kami lakukan untuk mendukung terbitnya sertikat tanah atas nama saudara misan saya tsb, atau seandainya kami sebagai saksi atau membuat persetujuan (katakanlah menghibahkan tanah tsb atau apalah namanya) apakah kami harus mempunyai KTP asli sama dengan alamat di mana lokasi tanah tsb berada ? Perlu Bapak ketahui alamat dinas kami bertiga dengan KTP di Kota/kabupaten lain (Kota Denpasar) sementara lokasi tanah itu ada di desa /kampung saya (kabupaten berbeda, yaitu Kabupaten Buleleng-Singaraja , Bali), sekali lagi : apakah kami bertiga harus mempunyai KTP di mana lokasi tanah tsb berada ? ataukah kami bisa memakai/melampirkan copy KTP Kota Denpasar , yang penting kami membuat kesepakatan setuju atas hibah/ balik nama kepemilikan tanah tsb? Ataukah ada cara lain, sebab kami tak ingin ruwet hal itu harus pindah domisisli dulu dari Kota Denpasar daftar kembali masuk administrasi di desa saya, kemudian pindah lagi admisitrasi ke Denpasar, dst Ini sangat birokratis dan melelahkan dan memakan biaya serta waktu. Perlua saya informasikan bhawa saya dianjurkan membuat KTP ganda/KTP palsu dengan alamat di Desa saya tsb (status saya di desa itu masih anggota banjar/desa,/anggota adat yang resmi, Cuma anggota administrasi dinas
    Terima kasih sebelumnya atas budi baik Bapak dalam memberi petunjuk dan tuntunan.

    Hormat saya ,
    Wayan Sariada


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,247,521 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: