Archive for April, 2010

26
Apr
10

PEPORA : 9 Butir Inteligensia Ganda

Konsep ‘Multiple Intelligences’ menyediakan kesempatan pada anak untuk mengembangkan bakat emasnya sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Mari pahami konsepnya!

Kalau ada banyak jalan menuju Roma, begitu juga jalan menuju kecerdasan. Ada banyak cara untuk menjadi cerdas. Kalau ada banyak cara, berarti ada banyak tanda pula untuk melihat kecerdasan anak. Tanda itu bukan hanya dapat dilihat dari prestasi akademiknya di sekolah, atau mengikutkan anak kedalam tes intelejensia.

Anak-anak dapat memperlihatkan kecerdasannya lewat banyak cara. Cara itu misalnya melalui kata-kata, angka, musik, gambar, kegiatan fisk (kemampuan motorik) atau lewat cara sosial-emosional. Itu karena, menurut Thomas Armstrong, Ph.D, periset kecerdasan anak dan penulis buku ‘In Their Own Way : Discovering and Encouraging Your Child’s Multiple Intelligences’, semua anak terlahir cerdas dan berbakat. Kalaupun ada yang tampak tak menonjol, itu karena beberapa anak menunjukkan bakatnya lebih lambat dibanding anak lain.

Karenanya, banyak hasil-hasil riset kecerdasan anak menyarankan para orangtua untuk memberi banyak pengalaman dan stimulasi kepada anak. Stimulasi dan sensasi pengalaman yang intens itu berguna untuk segera membangkitkan kecerdasan anak. Jadi tak ada lagi istilah ‘anak menunjukkan bakat lebih lambat’. Fakta-fakta riset itulah yang kemudian oleh Prof. Howard Gardner, seorang psikolog dan pakar ilmu saraf dari Universitas Harvard, AS tahun 1983 dikristalkan ke dalam konsep teori kecerdasan yang disebutnya ‘Multiple Intelligences’ atau Kecerdasan Majemuk/Ganda.

Tidak Satu Parameter

Menurut Gardner, manusia itu, siapa saja–kecuali cacat atau punya kelainan otak—sedikitnya memiliki 9 kecerdasan. Kecerdasan manusia, saat ini tak hanya dapat diukur dari kepandaiannya menguasai matematika atau menggunakan bahasa. Ada banyak kecerdasan yang dapat diidentifikasi di dalam diri manusia. Coba bagaimana Mam & Pap menentukan siapa yang cerdas dalam pertanyaan berikut : “Siapa yang paling cerdas di lapangan sepakbola, apakah David Beckham atau Albert Einstein?” Juga, “Siapa yang cerdas di panggung musik, apakah Krisdayanti atau Susi Susanti?”. Mereka cerdas di bidangnya masing-masing. Kita tak bisa menggunakan satu parameter untuk membandingkan kecerdasan mereka.

Dalam buku terbarunya, ‘Intelligence Reframed : Multiple Intelligence for The 21st Century’ (1999), Howard Gardner, menjelaskan 9 kecerdasan yang tersimpan dalam otak manusia. Konsep kecerdasan ganda ini, bila dipahami dengan baik, akan membuat semua orangtua memandang potensi anak lebih positif. Terlebih lagi, para orangtua (guru) pun dapat menyiapkan sebuah lingkungan yang menyenangkan dan memberdayakan di rumah (di sekolah).

Bahan Sederhana

‘Ruang kelas’ terbesar untuk belajar sebenarnya sudah tersedia. Ya, dunia adalah ruang belajar itu. Untuk mengembangkan kecerdasan unik anak-anak lewat konsep ini, yang dibutuhkan sebenarnya sudah tersedia di lingkungan sekitar. Di sekolah, anak bisa diajak keluar kelas untuk mengamati setiap fenomena yang terjadi di dunia nyata. Sementara di rumah, anak bisa memanfaatkan benda-benda dan materi di sekitar rumah. Mam & Pap tak perlu membelikan alat belajar maupun mainan yang mahal.

Konsep Multiple Intelligences juga mengajarkan kepada anak bahwa mereka bisa belajar apapun yang mereka ingin ketahui. Apapun yang ingin diktehauinya itu dapat ditemui di dalam kehidupan nyata yang dapat mereka alami sendiri. Sementara, bagi orangtua maupun guru, yang dibutuhkan hanya kreatifitas dan kepekaan untuk mengasah kemampuan anak. Baik Mam & Pap maupun guru juga harus mau berpikir terbuka, keluar dari paradigma tradisional.

Soal manfaat lingkungan untuk membantu proses belajar ini, sudah diteliti lho oleh beberapa orang peneliti kegiatan belajar. Ada Vernon A. Magnesen tahun 1983 dan sekelompok peneliti seperti Bobbi DePorter; Mark Reardon, dan Sarah tahun 2000. Mereka menjelaskan bahwa kita sebenarnya mendapat pengetahuan dari apa yang kita baca (10%), dari apa yang kita dengar (20%), dari apa yang kita lihat (30%), dari apa yang kita lihat dan dengar (50%), dari apa yang kita katakan (70%) dan dari apa yang kita katakan dan lakukan (90%).

Nah dari situ terlihat bukan, dari aktivitas seperti apa kita lebih banyak mendapatkan pengetahuan? Ya, dari yang kita lihat dan dengar serta dari paraktik yang kita lakukan. Belajar dengan menggunakan teori kecerdasan ganda bukan cuma menegaskan “it’s how smart they are” tapi “It’s how they are smart!” Bukan ‘seberapa pintar anak’ tapi ‘bagaimana mereka bisa menjadi pintar’. n

9 Kecerdasan Ganda yang Dimiliki Anak

1. VISUAL/SPATIAL (Cerdas Gambar/Picture Smart)

Anak belajar secara visual dan mengumpulkan ide-ide. Mereka lebih berpikir secara konsep (holistik) untuk memahami sesuatu. Kemampuan untuk melihat ‘sesuatu’ di dalam kepalanya itu mampu membuat dirinya pandai memecahkan masalah atau berkreasi.

2. VERBAL/LINGUISTIC (Cerdas Kata/Word Smart)

Anak belajar lewat kata-kata yang terucap atau tertulis. Kecerdasan ini selalu mendapat tempat (unggul) dalam lingkungan belajar di kelas dan tes-tes gaya lama.

3. MATHEMATICAL/LOGICAL (CerdasLogika-Mateamatik/Logic Smart)

Anak senang belajar melalui cara argumentasi dan penyelesaian masalah. Kecerdasan ini juga pas ditampilkan di dalam kelas.

4. BODILY/KINESTHETIC (Cerdas Tubuh/Body Smart)

Anak belajar melalui interaksi dengan satu lingkungan tertentu. Kecerdasan ini tak sepenuhnya bisa dianggap sebagai cerminan dari anak yang terlihat ‘sangat aktif’. Kecerdasan ini lebih senang berada di lingkungan dimana ia bisa memahamisesuatu lewat pengalaman nyata.

5. MUSICAL/RHYTHMIC (Cerdas Musik/Music Smart)

Anak senang dengan pola-pola, ritmik, dan tentunya musik. Termasuk, bukan hanya pola belajar auditori tapi juga mempelajari sesuatu lewat indetifikasi menggunakan panca indera.

6. INTRAPERSONAL (Cerdas Diri/Self Smart)

Anak belajar melalui perasaan, nilai-nilai dan sikap.
7. INTERPERSONAL (Cerdas Bergaul/People Smart)

Anak belajar lewat interaksi dengan orang lain. Kecerdasan ini mengutamakan kolaborasi dan kerjasama dengan orang lain.

8. NATURALIST (Cerdas Alam/Nature Smart)Anak senang belajar dengan cara pengklasifikasian, pengkategorian, dan urutan. Bukan hanya menyenangi sesuatu yang natural, tapi juga senang menyenangi hal-hal yang rumit.

9. EXISTENTIAL (Cerdas Makna/Existence Smart)

Anak belajar sesuatu dengan melihat ‘gambaran besar’, “Mengapa kita di sini?” “Untuk apa kita di sini?” “Bagaimana posisiku dalam keluarga, sekolah dan kawan-kawan?”. Kecerdasan ini selalu mencari koneksi-koneksi antar dunia dengan kebutuhan untuk belajar.

Multiple Intelligence
Oleh: Charlotte Priatna, SPd

Tidak ada anak bodoh, temukan kecerdasannya!

Apakah Kecerdasan Itu?

  • Kecerdasan bukanlah sesuatu yang bersifat tetap
  • Ia bagaikan kumpulan kemampuan atau ketrampilan yang dapat ditumbuhkan dan dikembangkan
  • Kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan suatu masalah; kemampuan untuk menciptakan masalah baru untuk dipecahkan; kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan suatu pelayanan yang berharga dalam suatu kebudayaan masyarakat (Howard Gardner)
Tidak ada anak yang bodoh atau pintar, yang ada adalah anak yang menonjol dalam salah satu atau beberapa jenis kecerdasan.

Multiple Intelligences
Melalui pengenalan akan Multiple Intelligences, kita dapat mempelajari kekuatan / kelemahan anak dan memberikan mereka peluang untuk belajar melalui kelebihan-kelebihannya.

Tujuan: anak memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi dunia, bekerja dengan ketrampilan sendiri dan mengembangkan kemampuannya sendiri.

Kecerdasan Linguistik

  • Mampu membaca, mengerti apa yang dibaca.
  • Mampu mendengar dengan baik dan memberikan respons dalam suatu komunikasi verbal.
  • Mampu menirukan suara, mempelajari bahasa asing, mampu membaca karya orang lain.
  • Mampu menulis dan berbicara secara efektif.
  • Tertarik pada karya jurnalism, berdebat, pandai menyampaikan cerita atau melakukan perbaikan pada karya tulis.
  • Mampu belajar melalui pendengaran, bahan bacaan, tulisan dan melalui diskusi, ataupun debat.
  • Peka terhadap arti kata, urutan, ritme dan intonasi kata yang diucapkan.
  • Memiliki perbendaharaan kata yang luas, suka puisi, dan permainan kata.

Profesi: pustakawan, editor, penerjemah, jurnalis, tenaga bantuan hukum, pengacara, sekretaris, guru bahasa, orator, pembawa acara di radio / TV, dan sebagainya.

Kecerdasan Logika – Matematika

  • Mengenal dan mengerti konsep jumlah, waktu dan prinsip sebab-akibat.
  • Mampu mengamati objek dan mengerti fungsi dari objek tersebut.
  • Pandai dalam pemecahan masalah yang menuntut pemikiran logis.
  • Menikmati pekerjaan yang berhubungan dengan kalkulus, pemograman komputer, metode riset.
  • Berpikir secara matematis dengan mengumpulkan bukti-bukti, membuat hipotesis, merumuskan dan membangun argumentasi kuat.
  • Tertarik dengan karir di bidang teknologi, mesin, teknik, akuntansi, dan hukum.
  • Menggunakan simbol-simbol abstrak untuk menjelaskan konsep dan objek yang konkret.

Profesi: auditor, akuntan, ilmuwan, ahli statistik, analisis / programer komputer, ahli ekonomi, teknisi, guru IPA / Fisika, dan sebagainya.

Kecerdasan Intrapersonal

  • Mengenal emosi diri sendiri dan orang lain, serta mampu menyalurkan pikiran dan perasaan.
  • Termotivasi dalam mengejar tujuan hidup.
  • Mampu bekerja mandiri, mengembangkan kemampuan belajar yang berkelanjutan dan mau meningkatkan diri.
  • Mengembangkan konsep diri dengan baik.
  • Tertarik sebagai konselor, pelatih, filsuf, psikolog atau di jalur spiritual.
  • Tertarik pada arti hidup, tujuan hidup dan relevansinya dengan keadaaan saat ini.
  • Mampu menyelami / mengerti kerumitan dan kondisi manusia.

Profesi: ahli psikologi, ulama, ahli terapi, konselor, ahli teknologi, perencana program, pengusaha, dan sebagainya.

Kecerdasan Interpersonal

  • Memiliki interaksi yang baik dengan orang lain, pandai menjalin hubungan sosial.
  • Mampu merasakan perasaan, pikiran, tingkah laku, dan harapan orang lain.
  • Memiliki kemampuan untuk memahami orang lain dan berkomunikasi dengan efektif, baik secara verbal maupun non-verbal.
  • Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kelompok yang berbeda, mampu menerima umpan balik yang disampaikan orang lain, dan mampu bekerja sama dengan orang lain.
  • Mampu berempati dan mau mengerti orang lain.
  • Mau melihat sudut pandang orang lain.
  • Menciptakan dan mempertahankan sinergi.

Profesi: administrator, manager, kepala sekolah, pekerja bagian personalia / humas, penengah, ahli sosiologi, ahli antropologi, ahli psikologi, tenaga penjualan, direktur sosial, CEO, dan sebagainya.

Kecerdasan Musikal

  • Menyukai banyak jenis alat musik dan selalu tertarik untuk memainkan alat musik.
  • Mudah mengingat lirik lagu dan peka terhadap suara-suara.
  • Mengerti nuansa dan emosi yang terkandung dalam sebuah lagu.
  • Senang mengumpulkan lagu, baik CD, kaset, atau lirik lagu.
  • Mampu menciptakan komposisi musik.
  • Senang improvisasi dan bermain dengan suara.
  • Menyukai dan mampu bernyanyi.
  • Tertarik untuk terjun dan menekuni musik, baik sebagai penyanyi atau pemusik.
  • Mampu menganalisis / mengkritik suatu musik.

Profesi: DJ, musikus, pembuat instrumen, tukang stem piano, ahli terapi musik, penulis lagu, insinyur studio musik, dirigen orkestra, penyanyi, guru musik, penulis lirik lagu, dan sebagainya.

Kecerdasan Visual – Spasial

  • Senang mencoret-coret, menggambar, melukis dan membuat patung.
  • Senang belajar dengan grafik, peta, diagram, atau alat bantu visual lainnya.
  • Kaya akan khayalan, imaginasi dan kreatif.
  • Menyukai poster, gambar, film dan presentasi visual lainnya.
  • Pandai main puzzle, mazes dan tugas-lugas lain yang berkaitan dengan manipulasi.
  • Belajar dengan mengamati, melihat, mengenali wajah, objek, bentuk, dan warna.
  • Menggunakan bantuan gambar untuk membantu proses mengingat.

Profesi: insinyur, surveyor, arsitek, perencana kota, seniman grafis, desainer interior, fotografer, guru kesenian, pilot, pematung, dan sebagainya.

Kecerdasan Kinestetik – Jasmani

  • Merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan dalam menggunakan tubuh kita secara trampil untuk mengungkapkan ide, pemikiran, perasaan, dan mampu bekerja dengan baik dalam menangani objek.
  • Memiliki kontrol pada gerakan keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak.
  • Menyukai pengalaman belajar yang nyata seperti field trip, role play, permainan yang menggunakan fisik.
  • Senang menari, olahraga dan mengerti hidup sehat.
  • Suka menyentuh, memegang atau bermain dengan apa yang sedang dipelajari.
  • Suka belajar dengan terlibat secara langsung, ingatannya kuat terhadap apa yang dialami atau dilihat.

Profesi: ahli terapi fisik, ahli bedah, penari, aktor, model, ahli mekanik / montir, tukang bangunan, pengrajin, penjahit, penata tari, atlet profesional, dan sebagainya.

Kecerdasan Naturalis

  • Suka mengamati, mengenali, berinteraksi, dan peduli dengan objek alam, tanaman atau hewan.
  • Antusias akan lingkungan alam dan lingkungan manusia.
  • Mampu mengenali pola di antara spesies.
  • Senang berkarir di bidang biologi, ekologi, kimia, atau botani.
  • Senang memelihara tanaman, hewan.
  • Suka menggunakan teleskop, komputer, binocular, mikroskop untuk mempelajari suatu organisme.
  • Senang mempelajari siklus kehidupan flora dan fauna.
  • Senang melakukan aktivitas outdoor, seperti: mendaki gunung, scuba diving (menyelam).

Profesi: dokter hewan, ahli botani, ahli biologi, pendaki gunung, pengurus organisasi lingkungan hidup, kolektor fauna / flora, penjaga museum zoologi / botani dan kebun binatang, dan sebagainya.

Kita semua berbeda karena kita semua memiliki kombinasi kepandaian yang berbeda. Bila kita mampu mengenalinya, saya kira kita akan mempunyai setidaknya sebuah kesempatan yang bagus untuk mengatasi berbagai masalah yang kita hadapi di dunia. – Howard Gardner


Lembar Test:
Test Multiple Intelligence
Observasi Multiple Intelligence

26
Apr
10

Perbankan : Skandal Century di Tangan Parlemen Jalanan

Skandal Century di Tangan Parlemen Jalanan

lokasi: Home / Berita / Analisa / [sumber: Jakartapress.com]

Kamis, 22/04/2010 | 12:32 WIB Skandal Century di Tangan Parlemen Jalanan

Skandal Century di Tangan Parlemen Jalanan

PARLEMEN Jalanan yang terdiri dari elemen mahasiswa, LSM, media dan masyarakat lainnya sangat berperan penting dalam menggolkan proses penyelidikan skandal Century di DPR beberapa waktu lalu. Bahkan sangat berperan penting dalam memenangkan pertarungan yang memenangkan opci C di rapat paripurna DPR soal Century. Tetapi, sayangnya rekomendasi DPR tersebut kini mandul. KPK, Kepolisian dan mayoritas anggota DPR juga terlihat diam seribu bahasa.

Sementara itu perhatian publik terpecah belah. Ada kasus mafia pajak Gayus Tambunan, Susno Duadji yang mengungkap makelar kasus di tubuh kepolisian, dan juga kasus L/C bodong Misbakhun. Berbagai isu yang menghebohkan publik tersebut memecah belah konsentrasi publik. Isu Century yang dulu menjadi raja di media masa kini sedikit tenggelam.

Tetapi parlemen jalanan tidak pernah pesimis. Berbagai gerakan demonstrasi terus-menerus menghiasi jalanan, entah di depan KPK atau di gedung DPR. Mereka berteriak memaki, mencaci dan berseru “Tuntaskan Century Gate”, “Turunkan Sri Mulyani dan Boediono”.

Para aktivis, anggota parlemen dan pengamat menyatakan gerakan parlemen jalanan tersebut bisa terus mencuat menuntut penyelesaian kasus Centurygate. Kejahatan terencana itu, yang melibatkan Boediono (kini wapres) dan Sri Mulyani (menkeu)  sudah sangat menyesakkan dada rakyat dan membuat marah banyak orang.

Gerakan parlemen jalanan tersebut dalam sebuah diskusi di Jakarta beberapa waktu yang lalu mendapat dukungan besar dari para nasabah Century yang sampai saat ini belum jelas nasibnya. Dalam sebuah diskusi di Jakarta Media Center, Minggu (17/4/2010), para nasabah Century dengan semangat mendukung penuntasan Century Gate ini, bahkan untuk sebuah revolusi. “Jika perlu, gunakanlah uang kami yang ada di Bank Century untuk biaya revolusi. Kami lebih rela daripada dirampok seperti ini,” ujar H.A. Rachman, salah satu nasabah Bank Century.

Hari ini pun mereka kembali turun ke jalan. Dalam undangan yang diterima dari Petisi 28 dan Satgas Pandawa tertulis “Deklarasi Menghukum KPK Atas Lumpuhnya Penuntasan Skandal Century”. Seperti aksi-aksi yang lainnya, mereka menuntut agar KPK segera menuntaskan skandal yang telah direkomendasikan oleh DPR.

Kini perhatian publik terhadap isu Century memang tidak seperti dulu. Aksi elemen masyarakat sipil pun terpecah belah, apalagi media. Tetapi ada saat, ada momen, dimana aksi elemen jalanan ini akan menguap ke udara. Karena ia adalah kunci penuntasan Centurygate. Apalagi, Tim Pengawas Century dari DPR dua kali gagal dibentuk akibat fraksi (sengaja) tidak siap setor nama untuk menjadi anggota Tim Pengawas tersebut.

Elemen parlemen jalanan ini penting. Sehingga beberapa kali Maruarar Sirait meminta semua pihak turut mengawal tim pengawas Bank Century secara lebih ketat agar penyelesaian skandal tersebut semakin menemukan titik terang. “Awasi kami. Awasi pergerakan-pergerakan fraksi. Sadap kami. Kontrak apa pun siap,” ujar Ara Sirait. Ungkapan itu isyarat betapa parlemen jalanan adalah kunci keberhasilan penuntasan skandal Century. Hal itu terasa masuk akal karena anggota parlemen yang di gedung DPR seringkali bermain mata dengan kekuasaan. (Boy M)

Rekomendasi Century Tak Jalan, Salah Siapa?

lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]

Sabtu, 24/04/2010 | 19:29 WIB

Rekomendasi Century Tak Jalan, Salah Siapa?
OLEH: ARIEF TURATNO

BEBERAPA pengamat, termasuk sejumlah anggota DPR RI menilai bahwa rekomendasi dewan menyusul kesimpulan akhir Hak Angket DPR soal Bank Century dianggap tidak jalan. Karena itu muncul usulan supaya DPR menggunakan hak menyatakan pendapat. Dan draf usulan itu sedang dinegosiasikan kepada para anggota dewan. Jika yang bertandatangan atau mendukung hak menyatakan pendapat memenuhi syarat, kemungkinan besar dewan segera menggelar rapat dewan dengan agenda hak menyatakan pendapat tersebut. Pertanyaan dan persoalannya adalah apakah hak menyatakan pendapat itu akan jadi terlaksana atau tidak?

Kalau boleh saya memberikan penilaian, sebenarnya usulan hak menyatakan pendapat sudah agak terlambat. Mengapa? Karena momentum itu sebenarnya sudah ada, yakni ketika dewan dalam paripurnanya menyatakan setuju mengambil opsi C. Yakni opsi yang menyatakan bahwa dalam kasus bail out Bank Century senilai  Rp6,7 trilun telah terjadi pelanggaran, atau penyalahgunaan kewenangan. Dengan alasan itu sebenarnya dewan bisa langsung mengusulkan hak menyatakan pendapat. Pertanyaannya adalah mengapa hal itu tidak dilakukan, dan hanya merekomendasikan agar masalah tersebut dibawa ke ranah hukum?

Ketika rekomendasi itu diputuskan, yakni membawa masalah tersebut ke ranah hokum. Saya sebenarnya senang, namun juga bertanya-tanya, kepada siapa amanah itu nantinya dipercayakan? Saya menanyakan hal itu karena terus terang ada keraguan di diri saya bahwa aparat hokum yang ada dapat menjalankan amanah yang sangat berat tersebut. Dan keraguan saya semakin menjadi, ketika mantan Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Susno Duadji mengungkapkan praktek markus di Polri, termasuk Kejaksaan Agung. Dilanjutkan saat ini,kasus yang melibatkan pimpinan KPK, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah dibuka kembali. Ini akibat gugatan praperadilan Anggodo Widjaya sol SKP2 dikabulkan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

Semua itu membuat saya ragu bahwa amanat rekomendasi dewan dapat berjalan sebagaimana diinginkan masyarakat. Mengapa? Karena para pihak yang diharapkan menyelesaikan kasus tersebut, sekarang sedang menghadapi masalah sendiri. Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin mereka dapat focus menyelesaikan persoalan, jika masalah yang mereka hadapi cukup kompleks dan menyita waktu serta perhatian?Karena itulah saya mempertanyakan, mengapa dewan tidak memikirkan kemungkinan semacam ini? Juga mengapa dewan memberikan rekomendasi dan menyerahkan amanat kepada institusi yang kena masalah? Jadi salah siapa?

Sulit untuk menjawabnya, karena banyak kepentingan dan masalah yang bermain-main di sekitar kasus Bank Century. Anggota DPR yang terlibat di dalam Pansus mungkin saja sangat berharap agar masalah itu dibuat tuntas, selain dibawa ke ranah hukum. Juga supaya diajukan hak menyatakan pendapat. Itu keinginan mereka, tetapi bagaimana dengan keinginan elite partai, para pimpinan mereka yang sebagian diantaranya telah dan sedang menikmati kemewahan kekuasaan? Mereka pasti tidak setuju, pasti menentang, sebab kalau itu terjadi berarti ancaman bagi kekuasaan yang sekarang dinikmatinya. Inilah sebenarnya masalah di balik berita mengapa Dewan terkesan ragu-ragu dalam membuat rekomendasi soal kasus bail out Bank Century. Jadi siapa yang salah? (*)

Berbagai Upaya Sistemis untuk Bungkam Century?

lokasi: Home / Berita / Analisa / [sumber: Jakartapress.com]

Rabu, 21/04/2010 | 14:22 WIB Berbagai Upaya Sistemis untuk Bungkam Century?

Berbagai Upaya Sistemis untuk Bungkam Century?

SKANDAL Bank Century yang telah diputuskan oleh DPR pada bulan Maret yang lalu kini memasuki babak baru. KPK mulai berani mengusut dan memanggil orang-orang yang bertanggungjawab atas bailout Century yang mencurigakan tersebut. Bahkan rencananya KPK akan segera memanggil Boediono dan Sri Mulyani. DPR juga mulai gerah. Berbagai upaya untuk menyelesaikan kasus ini ditempuh. Mulai dari upaya menggalang hak menyatakan pendapat sampai membentuk tim pengawas pelaksanaan rekomendasi DPR soal Century.

Tetapi nampaknya usaha untuk menyelesaikan skandal bailout Century yang diduga melibatkan pejabat penting di kekuasaan SBY ini tidak mudah. Banyak pengamat, aktivis dan anggota DPR menduga adanya berbagai upaya sistemis untuk membungkam skandal tersebut. Apakah upaya-upaya tersebut?

Pertama, kemenangan Anggodo dalam sidang pra pradilan. Hanya butuh waktu satu minggu untuk mengetahui kesaktian Anggodo Widjojo. Dalam sidang pra peradilan, pengacara Anggodo, Bonaran Situmeang berhasil meyakinkan hakim untuk menerima permohonan Anggodo yaitu mengadili Bibit-Chandra.

Kemenangan Anggodo tersebut diduga oleh berbagai aktivis sebagai upaya pelemahan KPK. Aktivis Kompak Fadjroel Rachman misalnya melihat bahwa kemenangan Anggodo tersebut diduga terkait dengan upaya pembungkaman KPK atas kasus Century gate. Ia bertanya mengapa Bibit dan Chandra akan ditahan saat KPK akan memanggil Boediono dan Sri Mulyani.

Sementara itu, anggota Indonesia Corruption Watch (ICW) Febri Diansyah menduga sedari awal surat ketetapan penghentian penuntutan (SKPP) yang dikeluarkan Kejaksaan memang didesain lemah sehingga mudah digugat. “Putusan tersebut tidak bisa dipisahkan dari dugaan SKPP yang didesain lemah dari awal. SKPP tersebut memang sudah diperkirakan dapat menyandera KPK sehingga sewaktu-waktu bisa ‘diancam’ oleh siapa pun,” ujarnya.

Kedua adanya dugaan upaya sistemis di DPR untuk menenggelamkan Century dengan menunda pengesahan tim pengawas rekomendasi Century di rapat Paripurna. Tim pengawas yang akan bekerja memantau tindaklanjut aparat penegak hukum terhadap kasus Century sedianya akan disahkan kemarin, Selasa (20/4). Hal ini berdasarkan hasil rapat Badan Musyawarah DPR Kamis ( 15/4/2010 ). Namun demikian, menurut ketua DPR Marzuki Alie, rapat ditunda karena fraksi belum setor nama.

Sekjen Fraksi Hanura Syarifuddin Suding misalnya menduga Ketua DPR Marzuki Alie sengaja menunda pengesahan tim pengawas tersebut dengan alasan politis tertentu. “Selaku pimpinan, Marzuki Alie seharusnya pro aktif, boleh jadi ada kesengajaan Pak Marzuki Alie tidak melakukan paripurna hari ini,” ujarnya ( 20/4/2010 ).

Ketiga, upaya untuk melemahkan para vokalis Century. Dalam hal ini berbagai anggota partai yang kritis dalam mengungkap skandal Century “dilemahkan” dengan memeriksan berbagai anggota yang terkait dugaan suap atau korupsi. Kasu suap Miranda Goeltom misalnya gencar diperiksan KPK. Banyak pengamat menilai pemeriksaan tersebut sebagai upaya pelemahan PDIP yang vocal dalam mengungkap Century Gate.

Saat ini yang paling hangat adalah kasus Misbakhun. Hari ini politisi PKS tersebut berangkat ke Mabes Polri untuk menjalani pemeriksaan atas kasus L/C bodong. Para koleganya menilai telah terjadi arogansi kekuasaan terhadap Misbakhun dan pengalihan dari isu Century.

Politisi Hanura Akbar Faisal menyatakan kasus Misbakhun ini adalah bentuk dari arogansi kekuasaan dan pengalihan isu Century. Ia pun mendampingi Misbakhun ke Mabes Polri sebagai upaya support dukungan psikologis. “Ada upaya pengalihan isu Century. Caranya dengan memunculkan kembali kasus Bibit-Chandra dan sekarang pemeriksaan Misbakhun,“ujarnya.

Dan lalu keempat kasus skandal mafia hukum dan pajak dengan aktor Susno Dujadi. Mantan Kabareskrim tersebut kini menjadi sosok fenomenal. Ia berani mengungkap mafia kasus di tubuh Kepolisian yang diduga melibatkan sejumlah jendral. Masyarakat pun memuji dan mendukung sikap Susno tersebut sebagai langkah untuk mereformasi Polri dan Ditjen Pajak.

Tetapi di balik heroisme Susno Duadji tersebut, ada sedikit kejanggalan yang mesti ditelusuri lebih lanjut. Beberapa aktivis dan anggota DPR yang konsern dalam soal Century misalnya mempertanyakan skenario di balik peran Susno yang menggemparkan publik tersebut. Anggota DPR dari Golkar Bambang Soesatyo misalnya mempertanyakan motif dan skenario di balik Susno Duadji tersebut. Dalam rapat dengar pendapat Komisi III DPR dengan Susno Duadji beberapa waktu lalu ia bertanya kepada Susno, “Apakah peran ini sebagai upaya menenggelamlam skandal Century, dengan iming-iming Kapolri?”

Semuanya memang perlu dicermati dan diselidiki lebih jauh. Yang mengetahui kebenarannya tentu hanya pemain skenario yang asli. Tetapi dunia politis adalah dunia yang bisa dibaca, dianalisa dan dinilai berdasarkan fakta-fakta yang ada. Mengutip intelektual Ahmad Syafii Maarif, Indonesia tercinta ini sedang diaktori oleh tipe manusia yang mahir ”menanam tebu di bibir, manis di luar busuk di dalam.” (Boy M)

Aneh bila Boediono Diperiksa di Istana

lokasi: Home / Berita / Nasional / [sumber: Jakartapress.com]

Sabtu, 24/04/2010 | 22:49 WIB Aneh bila Boediono Diperiksa di Istana

Jakarta – Petisi 28, gabungan organisasi massa di Jakarta, mencurigai sikap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menunjukkan gejala takut untuk memeriksa Wakil Presiden Boediono terkait skandal Bank Century.

Menurut salah seorang juru bicara Petisi 28, Masinton Pasaribu, Sabtu (24/4/2010), gejala takut itu terlihat dari pernyataan juru bicara KPK, Johan Budi, yang menyebut KPK tidak akan memeriksa Boediono, tetapi meminta keterangan.

“Apalagi, ini rencananya KPK akan menyambangi kantor Wapres. Ada apa ini? Kami mulai pesimistis dengan cara-cara KPK dalam menuntaskan skandal Bank Century ini,” kata Masinton.

Ia menganggap, KPK seakan makin kehilangan independensinya. Indikasinya, cara mereka mengungkap skandal Bank Century berbeda dengan kasus korupsi lain. “Kalau kasus korupsi lain, KPK sangat bergerak dengan cepat, seakan menjadi superbodi,” ungkap Masinton.

Sebelumnya, Johan Budi menyatakan bahwa KPK akan segera meminta keterangan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Wakil Presiden Boediono terkait kebijakannya menyelamatkan Bank Century. Namun, waktu dan lokasi belum ditentukan. “Kalau dipanggil, berarti harus datang ke KPK. Tapi, kalau diminta keterangan, bisa di mana saja,” kata Johan.

Seharusnya, kata Masinton, KPK langsung memanggil Boediono dan Sri Mulyani untuk dimintai keterangan di kantor KPK, bukan di Istana Wapres. Alasannya, Boediono tidak sedang sakit atau menjalani perawatan di rumah sakit.

“Sikap KPK ini, kalau jadi dilakukan, mirip dengan cara Kejaksaan Agung tahun 1999 saat memeriksa bekas penguasa Orde Baru, Soeharto, di Cendana,” tandas Masinton seperti dilansir Kompas.

KPK Siapkan Tiga Opsi Panggil Boediono
KPK sedang mempertimbangkan tiga opsi untuk meminta keterangan terhadap Wakil Presiden Boediono. Namun, seharusnya tidak perlu lagi ada pembahasan mekanisme pemanggilan, Boediono selayaknya harus mendatangi gedung KPK ketika diperiksa nantinya.

Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM Zainal Arifin Mochtar mengatakan bahwa sejatinya KPK tidak perlu lagi melakukan pertimbangan, apalagi pembahasan terkait mekanisme pemanggilan Boediono. “Harusnya itu otomatis saja, kalau mau diperiksa harus datang ke gedung KPK, tidak perlu ada mekanisme lainnya,” ungkap Zainal, Sabtu (24/4).

KPK saat ini sedang mempertimbangkan tiga opsi mekanisme pemeriksaan terhadap Boediono. Pertama dihadirkan di Gedung KPK, seperti pada umumnya warga negara lainnya. Kedua KPK akan mendatangi kantor Wakil Presiden untuk melakukan pemeriksaan dan ketiga melalui mekanisme surat-menyurat.

Dikatakannya, jika warga negara lainnya ketika diperiksa KPK harus mendatangi kantor KPK, maka Boediono juga sebagai warga negara juga bersikap sama. “Meskipun wakil Presiden, tetapi Boediono kan warga negara indonesia. Dalam konstitusi jelas, setiap warga negara berhak mendapat perlakuan sama di mata hukum,” tukasnya.

Ia menjelaskan, sebenarnya yang perlu dibicarakan yakni persoalan jadwal. KPK, lanjut Zainal, tinggal mengirimkan surat untuk pemriksaan, sehingga bisa dicocokkan jadwalnya. “Memang bisa dimaklumi sebagai wapres mungkin waktunya terbatas. Namun, tetapi tidak lantas mendapatkan perlakuan berbeda,” tegas Zainal.

Bahkan, lanjut Zainal, sepengetahuannya di luar negeri, semua pejabat negara mendapatkan perlakuan sama dengan warga negara lainnya. Jika referensinya pemriksaan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton, kala itu diperiksa di gedung putihj, kasusnya bukan pidana, melainkan persoalan etika. “Kalau yang terkait Boediono kan adanya dugaan pidana korupsi. Ini sudah cukup hebat kasusnya,” lanjut Zainal seperti dilansir MediaIndonesia.

Sementara itu, Anggota Komisi Hukum DPR Nasir Jamil mengatakan harusnya Boediono memberikan contoh sebagai pemimpin negara kepada rakyat. “Kalau sampai ada perlakuan berbeda, pasti akan menimbulkan kecurigaan terhadap KPK. Bahkan, bisa saja independensi KPK dipertanyakan,” tegas politisi PKS ini.

Disamping itu, lanjut Nasir, transparansi terhadap hasil pemeriksaan Boediono oleh KPK bisa dipertanyakan publik. “Kita juga tidak ingin KPK dicap sebagai lembaga yang patuh pada kekuasaan. Karena KPK merupakan lembaga penegak hukum independen yang berada diluar eksekutif dan legislatif,” tegasnya.

Nasir menyampaikan, jika realisasi mekanisme pemeriksaan terhadap Boediono tidak sama dengan warga negara lainnya tentu akan menyakiti rasa keadilan masyarakat. Bahkan, seharusnya Boediono memberikan contoh bahwa tidak ada paradigma pembedaan status hukum diantara sesama warga negara, sebagaimana tercantum dalam UUD 1945. (*/kcm/MIOL)

Fraksi Hanura Bulat Teken Hak Menyatakan Pendapat

lokasi: Home / Berita / Legislatif / [sumber: Jakartapress.com]

Kamis, 22/04/2010 | 13:03 WIB Fraksi Hanura Bulat Teken Hak Menyatakan Pendapat

Jakarta – Fraksi Partai Hanura DPR RI konsisten mendukung penggunaan hak menyatakan pendapat DPR atas kasus Bank Century. Semua anggota Fraksi Hanura yang berjumlah 17 orang itu sudah menandatangani usulan penggunaan hak menyatakan pendapat. “Iya, sudah. Hanura akan tetap konsisten,” tegas Ketua DPP Partai Hanura, Akbar Faisal, Kamis (22/4/2010).

Dengan demikian anggota DPR pendukung penggunaan hak menyatakan pendapat terus bertambah. Hingga hari ini, Kamis (22/4), anggota yang telah menandatangani hak menyatakan pendapat mendekati angka 100 orang.

“Sekarang anggota FPDIP sudah tandatangan 69 anggota, ditambah 16 anggota Hanura selain Akbar. Jadi kami optimis Minggu ini menembus angka 100,” kata salah satu inisiator penandatangan usulan penggunaan hak menyatakan pendapat dari FPDIP Maruarar Sirait.

Ara menilai menggunakan hak menyatakan pendapat adalah konsekuensi logis bagi anggota DPR yang memilih opsi C dalam kesimpulan akhir Pansus Century. Ara yakin semua anggota fraksi yang memilih opsi C akan memilih menggunakan hak menyatakan pendapat. “Karena itu sesuai dengan pandangan akhir fraksi kami menyatakan, walaupun tidak terakomodir dalam opsi C,” terang Ara.

Ara berharap, semua fraksi konsisten dengan pilihan dan sikapnya sebagaimana dalam paripurna Century beberapa waktu lalu. “Seharusnya kalau mau konsisten ada 382 kalau anggota DPR tetap menyatakan pendapat. Enam fraksi ikut mendukung hak menyatakan pendapat,” tandasnya. (*/dtc/jpc)

5 Anggota Tim Pengawas Century DPR dari PDIP

lokasi: Home / Berita / Legislatif / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 20/04/2010 | 21:15 WIB 5 Anggota Tim Pengawas Century DPR dari PDIP

Jakarta – Fraksi PDIP DPR RI resmi mengajukan lima nama anggota tim pengawas rekomendasi DPR atas kasus Century. Tiga anggota adalah mantan anggota Pansus Century, dua lainnya tokoh senior PDIP.

“Kami sudah putuskan lima nama anggota tim pengawas. Yaitu Sidharto Danusubroto, Gayus Lumbuun, Trimedya Panjaitan, Ganjar Pranowo dan Hendrawan Supratikno,” kata Ketua Fraksi PDIP DPR Tjahjo Kumolo dalam jumpa pers di Gedung DPR, Senayan, Selasa (20/4/2010).

Tiga nama yang menjadi anggota tim pengawas yakni Hendrawan Supratikno, Ganjar Pranowo, dan Gayus Lumbuun adalah mantan Anggota Pansus Angket Century. Gayus bahkan sempat menjabat menjadi wakil ketua Pansus Century.

Tjahjo tidak menjelaskan alasan tidak masuknya dua mantan Anggota Pansus Century lainnya, Maruarar Sirait dan Eva Kusuma sundari dalam tim pengawas. Tjahjo memandang dua tokoh senior yang dijagokan lebih memahami permasalahan penegakan hukum. “Kenapa Trimedya, karena fokusnya kejaksaan dan KPK, kenapa Sidharto, karena dia polisi,” terang Tjahjo.

Tjahjo berharap segera dilakukan rapat Paripurna DPR untuk mengesahkan tim pengawas Century. Tjahjo berharap tim pengawas dapat segera bekerja mengawasi pelaksanaan rekomendasi DPR atas kasus Century yang sudah dilimpahkan ke penegak hukum. “Saya kira harus cepat dibentuk timnya,” tandas Sekjen DPP PDIP ini. (*/dtc/red)

26
Apr
10

Historia : Masakan Jawa, Buitenzorg, KA Parahyangan, Nasi Lengko Cirebon

Nostalgia Masakan Jawa Plus Mainan Tempo Dulu

Lilis SetyaningsihLilis Setyaningsih

Jajanan tempo dulu dalam kaleng khas yang juga dari masa dulu bisa ditemui di Restoran Goela Djawa.
Senin, 26 April 2010 | 12:33 WIB

KOMPAS.com — Panas akibat teriknya sinar matahari siang pada Sabtu (10/4) langsung sirna ketika memasuki Restoran Goela Djawa. Bukan hanya karena pendingin udara atau kipas angin, tapi lebih karena mata dan lidah jadi terasa ‘sejuk’ berkat hidangan yang ada di sana. Ketika pintu restoran yang berada di Jalan RS Fatmawati Raya No 19 & 69 Jakarta Selatan itu dibuka, sajian makanan Jawa bisa langsung terlihat secara prasmanan di meja. Sekitar 30 menu, termasuk nasi kucing, langsung terlihat mata.

Belum sempat duduk,  mata kembali melihat deretan penganan serta mainan tempo doeloe yang membuat ingatan kembali ke masa belasan atau puluhan tahun silam, saat masih kanak-kanak. Ada permen payung, cokelat cap ayam jago, permen Davos, permen susu gambar sapi berwarna oranye, kue kancing, dan masih banyak lagi penganan tempo doeloe yang membuat tergiur untuk mencicipinya lagi. Terlebih dikemas dalam toples warna-warni berbentuk seperti tempat kerupuk.

Harga bervariasi. Pengunjung bisa melihat harga yang tertera dalam kemasannya. Jika dibandingkan zaman dulu, harga sekarang memang lebih mahal, namun sebanding dengan ‘nilai nostalgia’ untuk mencicipi lagi penganan yang sudah ‘nyaris’ punah itu.
Tidak ketinggalan aneka permainan untuk anak kecil zaman dulu. Ada bekel dengan bijinya yang terbuat dari besi (sekarang bijinya sudah diganti plastik), congklak dari kayu dengan biji yang terbuat dari kerang (sekarang biji congklaknya kebanyakan terbuat dari plastik), perahu kelotok, kuda lumping, halma. Dan tak lupa teko lurik serta termos warna merah yang legendaris itu. Semua bisa dibeli.

Masih belum cukup, ada pedagang keliling es puding, cendol, atau kue apem yang sekarang tidak mudah dicari. Itu semua merupakan pengalaman kuliner yang coba disajikan di Restoran Goela Djawa.

Pemilik Goela Djawa, Velia Febrianti (25), memang masih pemain baru dalam dunia kuliner. Namun kesukaannya kepada makanan Indonesia membuat hati serta insting bisnisnya tergerak untuk menyajikan makanan tradisional di wilayah Fatmawati.

“Kebetulan saya tinggal di sekitar sini. Usaha laundry juga ada di sini. Kayaknya sudah sampai bosan makan di sekitar sini, karena sudah dicoba semua. Nah, kita lihat ada peluang untuk menyajikan makanan tradisional, khususnya Jawa,” kata Velia yang bersama temannya Jerry (27) berpatungan membuka Restoran Goela Djawa.

Alasan Velia memilih makanan Jawa, karena ia sendiri berasal dari  Kebumen, Jawa Tengah, sehingga sudah paham mengenai cita rasa  makanan dari Jawa. Walaupun tidak turun langsung menangani dapur, sarjana ekonomi dari  Universitas Parahyangan, Bandung, ini menyeleksi sendiri koki di restorannya dan mencicipi hasil kreasi sang koki. Kesukaannya menyambangi restoran dan kegemarannya makan membuat lidahnya terbiasa merasakan makanan lezat.

Kreasi sendiri
Menu yang disajikanpun biasanya unik dan sudah pasti njawani. Ada juga yang hasil kreasi sendiri. Misalnya nasi rawon bakar. Nasi yang sudah dibumbu rawon dibungkus seperti nasi timbel lalu dibakar, harganya Rp 17.500. Ada juga nasi gandul dari Pati, nasi lengko dari Cirebon, nasi liwet dari Solo, kupat tahu dari Semarang, dan bakmi jawa (rebus, goreng, nyemek) yang harganya rata-rata Rp 17.000. Selain itu juga ada brongkos, asem-asem, oseng buncis, soun goreng.

Tak ketinggalan nasi kucing. Seporsi nasi kucing (lauknya bisa pilih tempe, tahu, kepala ayam goreng bacem, ceker ayam, atau sate usus) dihargai Rp 3.000. Harga ini tidak terlalu mahal ketimbang di pinggir jalan yang harganya berkisar Rp 2.000.

Selama sebulan masa promosi, hingga 10 Mei 2010, pengunjung akan mendapatkan potongan harga 20 persen. Pengunjung tetap bisa mendapat potongan harga 10 persen jika membawa 5 buah buku yang akan disumbangkan ke organisasi nirlaba Vidya Sanggraha.

“Kita tidak ingin hanya komersial saja, tapi juga ada nilai sosialnya di Goela Djawa,” kata Velia. Ia sengaja memilih nama Goela Djawa karena identik dengan Jawa dan manis, walaupun letak restorannya berada di pelataran SPBU Petronas yang identik dengan negara tetangga.
“Ini hanya sekedar memilih lokasi. Saya tidak ingin restoran ini di ruko sehingga menyulitkan ibu-ibu naik tangga. Kebetulan dapat lokasinya di sini,” tukas mantan karyawan Astra yang memilih menjadi wirausaha ini.  Hmmm …
Warta Kota Lilis Setyaningsih

Van Kleine Boom Naar Buitenzorg Via Meester Cornelis
Senin, 26 April 2010 | 09:45 WIB

KOMPAS.com — Pembangunan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg dimulai pada 15 Oktober 1869. Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, P Myers, hadir dalam upacara dimulainya pembangunan jalur tersebut. Perusahaan yang membangun jalur itu, tak lain adalah Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), yang dinilai berhasil setelah membangun jalur kereta api pertama Semarang-Tanggung pada 1864-1867. Sebagai pemimpin pembangunan rel kereta api tak lain adalah JP Bordes.

Seperti telah ditulis pada artikel sebelum ini, sebetulnya pembangunan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg sudah diusulkan jauh sebelum akhirnya jalur Samarang-Tangoeng dibangun. Dalam buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia jilid I disebutkan, Gubernur Jenderal Rochussen sudah mengusulkan agar pemerintah membangun jalur tersebut. Usul itu disampaikan kepada pemerintah Kerajaan Belanda pada 1846. Rochussen mempertimbangkan pentingnya jalur Batavia-Buitenzorg yang merupakan jalur pengangkut hasil kopi dan teh selain juga sebagai pusat pemerintahan kolonial.

Namun karena keuangan negara belum kuat, maka usul tadi ditolak. Pemerintah Belanda memutuskan pembangunan dikerjakan swasta. Dari hasil penelitian tim Kerajaan Belanda, jalur Batavia-Buitenzorg terbilang rawan, khususnya rawan terhadap perlawanan dari para tuan tanah.

Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya NISM mendapat konsesi pemasangan rel di jalur antar-wilayah di Batavia Lama dan Baru, serta Batavia-Buitenzorg pada 1864. Tapi baru bisa mulai dikerjakan pada 1869 dan memerlukan waktu selama empat tahun untuk menyelesaikan jalur sepanjang 58.506 m (sekitar 59 km). Jalur itu terdiri dari, jalur Batavia-Buitenzorg sepanjang sekitar 56 km, sekitar satu kilometer jalur simpangan ke Meester Cornelis (Jatinegara), sekitar dua kilometer jalur simpangan ke Kleine Boom (kini Pasar Ikan).

Pembangunan jalur ini mengalami kendala karena masalah keuangan NISM. Tahun 1870 proyek ini sempat macet, yaitu pada pengerjaan gelombang pertama. Pekerjaan ini dimulai 15 Oktober 1869 – Februari 1870 di mana selama kurun waktu itu jalur sepanjang 7.590 m untuk bagian Kleine Boom,  Meester Cornelis sejauh 13.087 m, dan jalur sepanjang 18.730 m untuk bagian Bogor selesai dikerjakan.

Pekerjaan kedua baru bisa dilaksanakan pada Juni 1870 sampai juni 1871, yaitu jalur di Bogor sepanjang sekitar 9.270 m. Selanjutnya, pada Juni 1871 hingga Januari 1873 barulah seluruh proyek pembangunan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg selesai, termasuk jalur Weltevreden-Meester Cornelis Passer (Stasiun Bukit duri)-Buitenzorg.

Dalam beberapa buku tentang perkeretaapin Indonesia yang kebanyakan bersumber dari buku-buku berbahasa Belanda seperti Spoorwegstationsweg Op Java karangan Michiel van Ballegoijen de Jong, De Stroomactie Op Java en Sumatera karya JJG Oegema, Het Indische Spoor In Oorlogstijd bikinan Jan de Bruin, secara terpisah-pisah disebutkan perjalanan sejarah kereta api di Batavia hingga ke seluruh Pulau Jawa.

Di sepanjang lintasan Batavia-Buitenzorg yang membentang sepanjang hampir 60 km itu berdiri 15 stasiun. Stasiun paling ujung di Batavia Lama adalah Stasiun Kleine Boom (Pasar Ikan), kemudian kereta akan berhenti di Stasiun Batavia (Batavia Hoofdstastion) yang dulu lokasinya di sebelah Museum Seni Rupa dan Keramik sekarang ini. Stasiun selanjutnya adalah Sawah Besar, Noordwijk (Pintu Air), Weltevreden (Gambir), Pegangsaan, Meester Cornelis Passer, Pasar Minggu, Lenteng Agung, Pondok Tjina, Depok, Citajam, Bojong Gedeh, Tjilebut, dan Buitenzorg (Bogor).

Moda transportasi kereta api di Batavia dan sekitarnya makin berkembang setelah jalur Batavia – Buitenzorg resmi dibuka pada 1873. Jumlah penduduk bertambah, kepertluan akan jalur untuk mengangkut barang pun bertambah, khususnya di dekat pelabuhan. Stasiun Kleine Boom, temasuk pelabuhannya, makin lama makin tak layak untuk bongkar muat. Maka pelabuhan di Pasar Ikan, Pelabuhan Sunda Kelapa, itu pun dipindah ke Tanjungpriuk.

Sejalan dengan pembangunan pelabuhan baru, maka jalur kereta api ke Tanjungpriuk pun ikut dibangun, yaitu pada 1877. Kali ini pelaksanannya adalah Staatsspoorwegen (SS) milik pemerintah Belanda.

Adalah Bataviasche Ooster-Spoorweg Maatschappij (BOS) yang kemudian tertarik menanamkan modal pada bisnis pengembangan jalur kereta api di Batavia, khususnya bagian timur Batavia yaitu Batavia-Krawang. Pada tahun 1887 jalur Batavia-Bekasi sepanjang 27 km selesai dibangun. Jalur ini melewati Stasiun Kemayoran, Pasar Senen, Jati, Meester Cornelis, Klender, dan Bekasi.

Tiga tahun berikutnya, jalur Bekasi-Cikarang kelar dan Cikarang-Kedungede selesai pada 1891. Seperti kisah NISM, BOS pun terengah-engah soal dana. Akhirnya pemerintah Belanda memberi bantuan dana pada BOS untuk menyelesaikan jalur hingga Krawang, tapi setelah itu, pengelolaannya diserahkan kepada SS. Jalur Batavia-Krawang baru bisa selasai secara total pada 1898.

Staatsspoorwegen (SS) pun makin bersemangat membangun jalur kereta api baru di lingkaran Batavia dan kawasan sekitarnya. Pemerintah Belanda memberi konsesi pada SS untuk membuat jalur kereta api di barat Batavia (tepatnya dari Kampung Bandan) yaitu Batavia-Anjer Kidoel  bercabang di Doeri-Tangerang. Seperti pada pembangunan jalur kereta api sebelumnya, pengadaan jalur Batavia—Anjer dikerjakan bertahap.

Tahap Kampung Bandan – Doeri – Tangerang kelar pada 2 Januari 1899. Tahap kedua dari Doeri – Rangkasbetoeng terpenuhi pada 1 Oktober 1899, Rangkasbetoeng-Serang terhubung pada 1 Juli 1900 dan Serang-Anjer Kidoel selesai pada 20 Desember 1900. Jalur Tjilegon-Merak baru ada pada 1914, sebelum itu, lintas Rangkasbetoeng-Laboehan pun dibangun, sementara lintas Krawang-Tjikampek-Poerwakarta-Padalarang sudah beroperasi pada 1906.

Dari jalur lintas kereta api antarkota, Belanda juga mengembangkan jalur trem di Batavia dan kota-kota lain di Jawa.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Lika-liku Jalur KA Batavia-Bandoeng
Jumat, 23 April 2010 | 09:49 WIB

KOMPAS.com — Penelusuran tentang perkembangan dan kematian jalur kereta api Jakarta-Bandung bisa dilihat pula dalam buku Het Indische Spoor in Oorlogstijd bikinan Jan de Bruin. Dalam buku itu terpampang peta-peta yang menunjukkan perkembangan jalur kereta api di Jawa dan Madura. Tahun 1888, tampak jalur kereta api dari Batavia-Tjitjalengka. Di situ tampak pula jalur di ujung utara Jakarta, yaitu Tanjungpriok dan juga jalur Batavia-Bekasi.

Sebelas tahun kemudian, jalur kereta api itu sudah bertambah lagi, yaitu Batavia-Tangerang, Batavia-Rangkasbitoeng, Batavia-Krawang, di antara Buitenzorg (Bogor) dan Padalarang (sebelum masuk Bandung), ada penambahan Tjandjoer. Jalur yang semula berhenti di Tjitjalengka berlanjut ke Tjibatoe hingga Garoet bahkan akhirnya menghubungkan Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Tahun 1888, jalur Batavia berhenti di Tjitjalengka, sedangkan di Jawa Tengah, bermula dari Samarang (Semarang), berhenti hingga Tjilatjap.

Peta tersebut juga menunjukkan batas-batas jalur kereta api berdasarkan periode perusahaan kereta api yang membangun. Di jalur kereta api Batavia-Buitenzorg tertulis NIS alias Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. Perusahaan kereta api swasta ini mulai membangun jalur Batavia-Buitenzorg pada 15 Oktober 1869. Perusahaan ini pula yang pertama kali membangun jalur kereta api di Semarang.

Sekadar catatan, pembangunan jalur kereta api memang tidak dimulai dari Batavia, tetapi dari Jawa Tengah, yang justru bukan pusat pemerintahan Hindia Belanda. Alasannya adalah, jalur kereta api diperlukan untuk mengangkut hasil bumi, seperti kayu, tembakau, kopi, dan gula.

Alasan lain adalah karena ada usul agar pembangunan jalur rel Batavia-Buitenzorg dilakukan oleh pemerintah, bukan swasta. Namun karena keuangan negara belum kuat, usul itu ditolak. Dalam buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia jilid I disebutkan, Gubernur Jenderal Rochussen yang mengusulkan agar pemerintah membangun jalur tersebut.

Usul itu disampaikan kepada Pemerintah Kerajaan Belanda pada 1846. Rochussen mempertimbangkan bahwa jalur Batavia-Buitenzorg juga merupakan jalur pengangkut hasil kopi dan teh selain juga sebagai pusat pemerintahan kolonial.

Dari hasil penelitian tim Kerajaan Belanda, jalur Batavia-Buitenzorg terbilang rawan, khususnya rawan terhadap perlawanan dari para tuan tanah. Akhirnya jalur itu terealisasi pada 1869 dan memerlukan waktu selama empat tahun untuk menyelesaikan jalur sepanjang 58.506 m (sekitar 58 km).

Namun, jalur tersebut juga kemudian menjadi batu loncatan untuk melanjutkan jalur kereta api hingga ke tanah Parahyangan karena di kawasan itu lebih memerlukan alat pengangkut hasil bumi berupa kina, kopi, dan teh.

Kembali ke NIS atau NISM yang kemudian menyerah pada masalah keuangan, dan pembangunan diambil alih oleh Staatsspoorwegen (SS) atau Perusahaan Kereta Api Negara, jalur Buitenzorg ke Parahyangan dibangun oleh SS. Pembangunan prasarana kereta api berupa jembatan dan terowongan di jalur ini sudah menggunakan teknologi maju pada masa itu. Alam Parahyangan yang berupa pegunungan dan lembah nan curam itulah yang memaksa Belanda menerapkan teknologi canggih.

Jaringan rel kereta api milik SS di Pulau Jawa dibagi dua lijn atau jalur barat dan timur. Lijn barat membentang dari Bogor-Yogyakarta. Jalur barat milik SS ditandai dengan pembukaan jalur Buitenzorg-Tjitjoeroeg pada 1881. Secara total, lintas Buitenzorg-Bandoeng-Tjitjalengka dibuka SS pada 10 September 1884, sementara lintas Tjitjalengka-Garoet pada 1886, dan Tjitjalengka-Tjilatjap pada 1894.

Pada tahun 1900, SS juga membeli lintas Batavia-Krawang sepanjang 63 km yang selesai dibangun pada 1898 oleh perusahaan swasta bernama Bataviasche Ooster-Spoorweg Maatschappiji (BOS).

Pada akhir 1900, Pemerintah Kolonial Belanda memutuskan, jalur rel Krawang menuju Tjikampek ke Padalarang di lintasan Buitenzorg-Bandoeng-Djokdja bisa dibangun. Jalur rel sepanjang hampir 100 km itu setengahnya harus menembus pegunungan karena melintas di kawasan Parahyangan. Jalur itu kelar pada 1906.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Menjelajah Buitenzorg, tak Hanya Kebun Raya

KITLV

Beginilah pemandangan yang bisa dilihat dari Hotel Bellevue di Buitenzorg. Panorama Gunung Salak dan Sungai Cisadane ini diambil di sekitar tahun 1901.
Kamis, 22 April 2010 | 15:25 WIB

KOMPAS.com — Buitenzorg (Bogor), kota yang diunggulkan sebagai kota pelesir, setidaknya sejak awal abad 19.  Kota itu selalu dibisikkan oleh warga, khususnya Belanda, kepada para pelancong yang tiba di Batavia. Di awal abad 19, di beberapa wilayah Batavia memang terlihat kumuh. Belum lagi udara panas dan, tak ketinggalan, nyamuk. Kondisi tersebut jauh berbeda dengan kondisi Buitenzorg, tetangga Batavia, yang lebih pas menjadi kota wisata. Selain Nederlandsche Plantetuin te Buitenzorg alias Kebun Raya Bogor, Paleis Buitenzorg (Istana Bogor), panorama Gunung Salak juga jadi andalan.

Keindahan Gunung Salak dan Sungai Cisadane bahkan bisa dinikmati langsung dari kamar sebuah hotel beken bernama Hotel Bellevue. Sementara hotel mewah lainnya, Hotel Binnenhof, tak kalah top karena hotel ini menampung tamu elit Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Hotel yang dibangun pada 1856 itu kini menjadi Hotel Salak The Heritage.

Kisah pelancong yang mengunjungi Buitenzorg di abad 19 dipaparkan dalam Buitenzorg, Kota Terindah di Jawa: Catatan Perjalanan dari Tahun 1860-1930) yang ditulis Ahmad Baehaqie. Buku kecil itu merupakan upaya Kampung Bogor, sebuah komunitas warga pecinta Bogor yang ingin agar sejarah kota itu tak tergerus zaman.

“Sore hari sekitar pukul 16.30 adalah waktu terbaik melakukan perjalanan ke Buitenzorg dari Stasiun Weltevreden (kini Stasiun Gambir) yang riuh oleh calon penumpang dan pengantar. Pelancong asing kebanyakan memilih duduk di kelas utama,” demikian pelancong anonim itu membuat catatan harian yang kemudian dikutip Baehaqie. Selanjutnya, catatan itu menggambarkan pelayanan dan fasilitas kereta Batavia – Buitenzorg tersebut.

Perjalanan Batavia – Buitenzorg semakin mudah sejak jalur kereta api yang menghubungkan kedua kota itu resmi digunakan. Sebelumnya, alat transportasi menuju dan dari ke dua kota tersebut hanya bisa menggunakan kuda.

Di luar jendela ditutupi dengan kayu tebal untuk menahan sengatan sinar matahari, lapisan kulit tebal menutupi kursi berukuran besar, dindingnya berwarna putih dan biru diselingi lukisan Mauve dan Mesdag. Mejanya sungguh nyaman, dengan rak di atas kepala dan kamar ganti berfunitur indah. Kelas dua memiliki layanan hampir mirip dengan kelas satu, namun lebih banyak penumpang. Kelas tiga berupa sebuah gerbong panjang tanpa penyekat dan berbangku tanpa sandaran, sessak ditempati oleh penduduk lokal,” begitu tulis si pelancong yang kagum dengan sistem keamanan kereta tersebut karena semua barang bawaan penumpang terjaga dengan baik.

Menurutnya, keadaan kamar kecil kereta tersebut lebih baik dibandingkan kereta api cepat di Inggris. Tentu saja itu semua gambaran di abad lampau.

Selain suasana di dalam, sang pelancong juga menggambarkan pemandangan yang bisa dinikmati sepanjang perjalanan. “Melalui jendela kereta api, tampak persawahan, perkebunan tebu, pisang, dan jagung. Sekali-sekali saat kereta api sedikit berkelok, kita bisa melihat pegunungan di kejauhan. Mengagumkan,” tutur si pelancong sambil menambahkan, kereta api hanya berhenti sekali dan tiba di Buitenzorg dalam waktu satu jam 20 menit. Dan penumpang pun disambut hujan di Kota Hujan, Buitenzorg.

Di kota ini, sang pelancong pun menjelajah kota, sejak dari pasar di dekat stasiun, hingga hotel-hotel ternama, Istana Bogor, dan pastinya Kebun Raya Bogor.

Untuk melihat bagaimana kondisi kereta api Jakarta – Bogor kini, sekaligus juga menyambangi lokasi dan gedung bersejarah di Kota Bogor seperti yang pernah didatangi si pelancong, Komunitas Jelajah Budaya (KJB) menggelar Jelajah Kota Toea: Batavia – Buitenzorg pada Minggu 25 April 2010.
“Buitenzorg itu artinya ‘tanpa kecemasan’, akhirnya kampung itu menjadi kota. Gubernur Jenderal van Imhoff  jatuh cinta pada kawasan ini dan mengembangkannya menjadi area pertanian dan peristirahatan. Sampai akhirnya dibangun lembaga penelitian s’Lands Plantentuin te Buitenzorg atau Kebun Raya Bogor. Kita mau mencoba melihat kembali perjalanan Jakarta – Bogor di masa silam, naik kereta api. Kemudian mengelilingi Kota Angkot itu,” kata Kartum Setiawan, ketua KJB.

Rute yang akan dilewati antara lain Stasiun Bogor, Taman Topi, Katedral Bogor, Hotel Salak, sisi luar Istana Bogor, dan tentu saja Kebun Raya Bogor. “Kita bikin tiga tititk keberangkatan, ada dari Museum Bank Mandiri, Stasiun Gondangdia, dan Stasiun UI. Biayanya Rp 80.000/orang. Calon peserta bisa hubungi nomor HP 0817 9940 173  atau  021 99 700 131. Bisa juga via email ke: kartum_boy@yahoo.com,” ujarnya.

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Vlugge Vier, Parahijangan, dan KA Parahyangan
Panorama di jalur Jakarta-Bandung yang bisa dinikmati dari atas kereta api.
Kamis, 22 April 2010 | 10:45 WIB

KOMPAS.com  – Beberapa waktu lalu, Pusat Pelestarian Benda dan Aset Bersejarah PT Kereta Api (Persero) mengajak beberapa pihak terkait wisata, termasuk wartawan, untuk melihat betapa berharganya jalur Jakarta-Bandung dan betapa kaya akan sejarah. Divisi tersebut memang memperkenalkan jenis wisata baru,  Heritage Railway Trip. Tapi tidak menggunakan KA Parahyangan, melainkan KA Argo Gede dengan tarif Rp 100.000/orang PP.

Jika selama puluhan tahun penumpang kereta Jakarta-Bandung tak sadar bahwa jalur tersebut adalah jalur bersejarah, maka melalui wisata sejarah kereta api itu, PT KA ingin menyadarkan warga pada nilai sejarah jalur tersebut. Meskipun, tentunya, warga yang ingin ber-wisata murah meriah menggunakan KA Parahyangan hanya punya kesempatan hingga sebelum 27 April ini.

Pertengahan abad 19, Bandung masih berupa desa terpencil di pedalaman Tatar Sunda Parahyangan. Padahal kawasan itu adalah penghasil kina dan teh. Transportasi menuju kawasan Bandung yang berkelok-kelok, begitu sulit ditempuh.

Namun dengan dimulainya pembangunan jalur kereta api di Semarang pada 10 Agustus 1867, maka jalur kereta api Batavia-Parahyangan pun ikut dibangun, yaitu pada 16 Mei 1884. Khususnya untuk mengangkut barang, demikian dikisahkan Widoyoko, salah satu anggota Indonesian Railway Preservation Society (IRPS).

Sepuluh tahun kemudian, dibangun pula jalur kereta api Jakarta-Surabaya melalui Bandung.  Jalur Jakarta-Bandung menjadi favorit warga Belanda karena pemandangan alam dan hawa yang sejuk. Dari sekadar kota persinggahan, Bandung jadi kota tujuan wisata bahkan tempat tinggal.

Karena menjadi jalur favorit warga Belanda, kereta api yang mengangkut para noni, tuan, mevrouw, dan meneer, pun menggunakan loko uap C28 yang pada saat itu menjadi lokomotif tercepat dengan kecekapatan 90 km/jam.

Pemerintah kolonial mengoperasikan KA Vlugge Vier, yang adalah kereta ekspres Jakarta-Bandung dan sungguh elit di zaman itu. Vlugge Vier sekelas dengan Eendasche Express. Jika Vlugge Vier kemudian menjadi Parahijangan dan kemudian KA Parahyangan, maka Eendashce Express menjadi KA Bima. Nama Parahijangan berubah menjadi KA Parahyangan di awal 1970-an.

Kereta api ini kemudian melanjutkan perjalanan di masa kolonial, melintas sepanjang 151 km. Jalur ini melintasi beberapa pemandangan menarik dan bersejarah. Sebut saja Terowongan Sasaksaat sepanjang 950 m. Terowongan yang dibangun di awal abad 20 ini menembus Bukit Cidepong dan ribuan orang harus tewas dalam kerja rodi tersebut.

Selain itu ada pula jembatan yang dilalui kereta tersebut. Jembatan di lintas Purwakarta hingga Padalarang itu adalah Ciganea, Cisomang, dan Cikubang dengan Sungai Cikubang. Jembatan sepanjang 300 m dengan empat pilar baja seberat sekitar 110 ton menghiasi Jembatan Cikubang.

Demikian pula Jembatan Ciganea dan Cisomang yang panjangnya 220-an meter dan menjulang di ketinggian 72 m. Pastinya sebuah pemandangan cantik sekaligus bersejarah, bahwa di abad 19 Belanda, dengan keringat bangsa ini, sudah mampu membangun jembatan di perbukitan, menghubungkan jurang di antara perbukitan Parahyangan.

Tahun 1995, PT KA meluncurkan KA Argo Gede jurusan Jakarta-Bandung. Kereta ini sebagai kereta eksekutif andalan PT KA. Maka KA Parahyangan pun mulai kembang kempis. Sepuluh tahun kemudian Tol Cipularang beroperasi. Setelah lima tahun tol itu beroperasi akhirnya perjalanan “Vlugge Vier”pun harus berhenti total pada 27 April mendatang.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Satu Lagi Layanan KA Harus Mati
Rabu, 21 April 2010 | 14:12 WIB

KOMPAS.com Selamat jalan “Parahyangan”, demikian kalimat itu meluncur dari mulut banyak orang. Tentu orang ini begitu terikat dengan “Parahyangan”. Parahyangan di sini maksudnya bukan Tatar Sunda Parahyangan, melainkan Kereta Api Parahyangan jurusan Jakarta-Bandung PP. Dalam waktu kurang dari dua pekan lagi, jalur Jakarta-Bandung yang sudah lebih dari 40 tahun lalu dilayani KA Parahyangan akan ditutup total.

Sejak Tol Cipularang dibuka sekitar lima tahun lalu, KA Parahyangan makin tenggelam. Meski harga tiket bisnis sudah didiskon hingga Rp 20.000, lebih banyak gerbong kosong yang harus jadi tanggungan PT Kereta Api (Persero) yang merugi hingga Rp 36 miliar per tahun. Maka dari itu, PT KA pun tetap melihat jalur ini tak lagi menguntungkan sehingga perlu ditutup.

Tol Cipularang dan menjamurnya travel Jakarta-Bandung PP yang makin menjemput calon pelanggan, dengan waktu tempuh yang makin pendek, menjadi idola baru komuter Jakarta-Bandung dan Bandung-Jakarta. “Padahal dari sisi harga, lebih mahal dibandingkan kereta,” ujar Ketua Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Aditya Dwi Laksana, menjawab Warta Kota, beberapa waktu lalu.

Aditya tentu menyayangkan keputusan PT KA yang langsung menghentikan pengoperasian kereta legendaris tersebut. “(KA) Parahyangan itu punya historis sendiri. Kereta itu mengalami masa jaya pada akhir 1980-an dan awal tahun 1990-an, sampai ada Tol Cipularang. Setelah itu, yang saya lihat, sudah ada berbagai langkah yang diambil pihak direksi, sampai mendiskon harga tiket bisnis secara besar-besaran. Namun, tetap saja, hal itu tidak mencapai okupansi yang diperlukan untuk menutup biaya operasi. Harusnya paling tidak 80 persen okupansi, tetapi ini hanya 50 persen. Jadi, direksi menetapkan untuk menutup jalur itu, diganti KA Argo Gede,” paparnya.

Tentu saja penggemar KA Parahyangan tetap ada. Maka dari itu, sebaiknya PT KA tidak menutup secara total, tapi bertahap, misalnya dengan mengurangi frekuensi. Jika awalnya lima kali sehari, misalnya, maka kini menjadi hanya tiga kali. Bisa pula dengan hanya mengoperasikannya pada akhir pekan (Jumat, Sabtu, dan Minggu) serta Senin ketika jumlah orang ke Bandung dan Jakarta biasanya meningkat.

Terkait keberadaan Tol Cipularang, menurut Aditya, sebenarnya yang terkena dampak tak hanya KA Parahyangan, tapi juga bus antarkota Jakarta-Bandung. Pembangunan jalan tol seperti Cipularang, menghubungkan kota, pada akhirnya juga akan menambah kisah jalur kereta api yang mati.

“Ini akan memperlihatkan bahwa transportasi yang di negara maju makin berkembang, di Indonesia makin banyak yang mati. Moda itu kalah oleh moda lain karena pembangunan jalur dan jalan yang tidak mempertimbangkan jalur transportasi kereta api yang sudah ada sejak zaman Belanda,” tutur Aditya.

Demikianlah jika pemerintah tak punya political will dalam upaya mengembangkan moda transportasi ramah lingkungan, massal, dan terjangkau kantong masyarakat.

Padahal tak lama berselang, PT KA, dalam hal ini divisi Pelestarian Benda dan Aset Bersejarah, baru saja memperkenalkan pada khalayak tentang wisata sejarah sepanjang jalur Jakarta-Bandung menggunakan KA Parahyangan. “Memang, wisata itu bisa diganti oleh KA Argo Gede, tapi secara finansial kan tidak tergantikan. Harga tiket Parahyangan dan Argo Gede kan berbeda jauh,” tambah Aditya.

Harapan pengguna kereta api tentu saja bahwa jalur kereta api dan kereta api-nya bisa bertambah maju dan berkembang, bukannya malah makin banyak kisah memilukan, yaitu jalur mati dan stasiun mati. Tengok saja, sudah berapa banyak jalur dan stasiun mati karena PT KA merugi gara-gara masyarakat tergila-gila pada moda lain, kendaraan umum, yang bisa menaikkan dan menurunkan penumpang seenaknya? Di beberapa daerah, moda itu bahkan jadi biang kemacetan.

Pada tahun 1980-an, kereta api di Pulau Jawa mulai ditinggalkan penumpang dengan masuknya colt, begitu penumpang menyebut. Padahal maksudnya angkutan umum atau angkutan kota (angkot). Hanya, pada tahun 1980-an, entah siapa yang memasok mobil bermerek Colt ke pelosok Jawa, mengubah pola masyarakat dalam bertransportasi dan itu tak hanya terjadi di Pulau Jawa. Maka dari itu, satu demi satu, layanan kereta api pun dihentikan, jalur pun jadi dead railway, dan demikian pula stasiun. Di otak warga desa, colt adalah angkutan modern yang lebih enak.

Padahal, di negara maju mana pun di dunia ini, transportasi modern itu adalah kereta api; bukan colt, bukan angkot, bukan metromini, bukan kopaja, bukan bus yang semuanya sudah tak laik jalan karena menyebarkan asap gelap. Tindakan ini sangat tidak Go Green dan juga bikin jalanan di desa makin padat dengan akibat udara jadi makin kotor.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Nasi Lengko, Pecel ala Cirebon
Jumat, 16 April 2010 | 07:59 WIB

KOMPAS.com — Cirebon tidak hanya punya hidangan khas nasi jamblang. Saat berkunjung atau sekadar melintas kota di pesisir utara Jawa itu, cicipilah nasi lengko. Meski sama-sama berbahan dasar nasi, penyajian dan lauk lengko berbeda dengan jambalng.

Memang agak sulit menemukan penjual nasi lengko. Salah satunya di Jalan Pagongan, Cirebon. Warung milik H Barno itu sudah 13 tahun berdiri. Meski hanya warung, daya tampungnya mencapai 100 pengunjung.

Nasi lengko sebenarnya mirip dengan nasi pecel. Isinya berupa nasi yang di atasnya diberi irisan kecil timun, taoge, daun bawang, irisan tempe, dan tahu. Kemudian disiram dengan bumbu kacang yang lumayan pedas beserta taburan bawang goreng dan irisan daun kucai.

Rasanya kurang lengkap bila menikmati nasi lengko ini tanpa sate kambing. Untuk itulah di warung ini pun menyediakan sate kambing yang begitu empuk dan tanpa bau prengus kambing. Rahasia daging yang begitu empuk tersebut adalah karena yang dipilih adalah kambing muda berusia satu tahun. Dalam sehari warung ini membutuhkan sekitar 30-40 kg daging kambing.

Kelezatan nasi lengko sebenarnya ditentukan oleh rasa pedas sambalnya. Namun bagi yang tidak suka pedas, jangan khawatir. Tuang kecap di atas sambal sesuai selera. Rasa kecap manis bercampur sambal dijamin lezat di lidah. Lebih afdol lagi bila disantap bersama kerupuk.

Barno menuturkan, sewaktu kakak iparnya berjualan dulu, malah sempat nasi lengko ini dilengkapi juga dengan cabai bubuk dan nasinya juga dibungkus dengan daun jati. Namun ternyata untuk saat ini konsumen kurang menyukai rasa dari cabai bubuk tersebut.

Lantas apa sebenarnya rahasia nasi lengko. “Semuanya dikerjakan secara tradisional,” jelas Barno. Untuk menanak nasi, ia menggunakan kayu bakar. Untuk menggoreng tahu atau tempe digunakan anglo (kompor tradisional) yang menggunakan arang.

Sistem memasak secara tradisional ini, diakui Barno, cukup merepotkan tapi hal itu dilakukan demi mempertahankan rasa. Selain itu, tempenya didatangkan dari Wanasaba, Kabupaten Cirebon, yang khusus membuat tempe untuk nasi lengko yang berbentuk kotak-kotak kubus kecil sepanjang 4 cm.

Satu porsi nasi lengko harganya Rp 7.000, sedangkan sate kambing muda Rp 20.000 per sepuluh tusuk. Uniknya lagi, warug nasi ini juga menyediakan es duren, mirip dengan es puter, rasanya lembut ditambah lagi dengan buah durennya yang masih utuh.

Warisan orangtua
Dalam menjalankan usaha, Barno (55), dibantu istrinya Hj Yayah Rukiyah (52). Layaknya usaha profesional, mereka tinggal mengendalikan manajemen. Sang pemilik warung ini lebih suka bekerja di belakang layar. “Sudah ada pegawai yang ngurusi. Kami lebih suka memotong daging begini saja,” tutur Barno saat menunggui istrinya memotong-motong daging kambing.

Yayah mengisahkan, usaha nasi lengko itu diwarisi dari ayah mertuanya, H Sardi. Sejak tahun 1968, Sardi sudah jualan nasi lengko. Dulu, ia berjualan keliling di kawasan Pagongan. “Setelah beliau sudah tua dan tak kuat berkeliling lagi, kami meneruskan usaha ini,” tutur ibu lima anak ini.

Awalnya memang hanya ikut-ikutan membantu kakak iparnya yang menjual nasi lengko. Setelah memiliki modal, Barno mendirikan warung nasi lengko sendiri. Kini sehari ia harus menyediakan 40 kg beras untuk melayani para pelanggannya atau sekitar 400 porsi.

Bedanya, Barno tidak keliling memikul dagangan. Ia memilih menggelar dagangannya di emperan toko di Pagongan. Ternyata, berjualan secara menetap banyak untungnya. Pelanggannya tak susah mencari. Peminat pun semakin banyak. “Apalagi, saat itu belum ada orang yang jual nasi lengko di sini,” jelas Yayah.

Oleh karena pembelinya semakin banyak, Yayah dan Barno tergerak ingin memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumennya. Tahun 1987, mereka menyewa kios yang ditempati sampai sekarang. “Agar orang mudah mencari, sengaja kios dicat dengan warna kuning menyala. Tapi kami tetap mempertahankan gerobak sebagai wadah dagangan,” ujar Yayah.

Dikatakan Yayah, kini ayah mertuanya sudah tiada. Terkadang, ibu mertuanya yang tinggal di Desa Megu, Plered, ikut membantu. “Bila mendapat pesanan orang yang punya hajat pesta, ibu mertua ikut menyiapkan dagangan,” ucapnya.

Dengan membuka warung khusus nasi lengko, Yayah dan Barno sudah ikut memasyarakatkan hidangan khas Kota Udang itu. Mereka pun berharap nasi lengko semakin dikenal masyarakat luas. Itu sebabnya, mereka tak keberatan bila karyawannya menyatakan ingin keluar dan membuka usaha yang sama. “Enggak apa-apa. Rezeki orang berbeda-beda,” komentar Yayah.

Warung nasi lengko Pak Barno buka sejak pukul 06.00 hingga pukul 20.00. Sehari-hari pembelinya tak pernah berhenti. “Paling ramai Minggu pagi. Biasanya orang habis olahraga lalu mencari sarapan ke mari,” katanya.

Nasi Lengko H Barno
Jalan Pagongan No. 15 B
Cirebon
Telepon (0231) 210064
Buka: 06.00-20.00

26
Apr
10

Kejahatan Pajak : Ikan Busuk Selalu Dari Kepalanya

Rizal: Ikan Busuk Selalu dari Kepalanya

lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]

Minggu, 25/04/2010 | 22:00 WIB Rizal: Ikan Busuk Selalu dari Kepalanya

Jakarta – Kasus tunggakan pajak oleh Direktur Utama PT Ramayana Lestari Sentosa, Paulus Tumewu hingga triliunan rupiah dimaknai oleh mantan Menteri Koordinator Perekonomian Rizal Ramli sebagai kegagalan kepemimpinan Menteri Keuangan Sri Mulyani. “Kalau ikan busuk, tidak mungkin dari ekor, tapi dari kepalanya. Kalau mau diambil tindakan ya dari kepalanya,” ungkap Rizal Ramli dalam dialog interaktif bersama Metro TV pada Minggu (25/4) sore.

Kasus tersebut menurut Rizal adalah sebagai kasus luar biasa sehingga dibutuhkan juga tindakan yang cukup drastis. Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah gagal dalam hal memberikan contoh untuk bawahannya.  “Istilahnya Menteri Keuangan bertindak seenaknya. Kalau untuk kawan atau orang yang dikenalnya diberikan fasilitas khusus. Sudah masuk ke kasus hukum, malah dilepaskan. Ini akan dilihat bawahan-bawahannya. Kalau bos saja seperti itu, kenapa kita tidak?” papar Rizal.

Rizal menyatakan hingga kini masih banyak celah untuk melakukan permainan pajak sehingga wajib pajak memperoleh nilai pajak yang lebih rendah dari seharusnya.  “Lubang untuk main, banyak lah. Punya kewajiban triliunan namun bisa diselesaikan dama miliaran saja. Paulus yang jumlahnya (tunggakan dan dendanya) besar kok bisa jadi kecil dan dinyatakan bebas? Ini harus dipertanyakan oleh DPR,” ungkapnya.

Rizal menolak bila dikatakan Menkeu boleh melakukan intervensi terhadap kasus perpajakan. Undang-Undang Pajak tahun 2007 yang memungkinkan Menkeu melakukan intervensi belum berlaku saat kasus Paulus terjadi.  “Begitu sudah P21 ke Kejagung, tidak boleh lagi diintervensi atau ditarik. Memang ada UU Pajak tahun 2007. Namun efektifnya baru 2008, sedangkan kasus Paulus pada 2006,” paparnya.

Diperbolehkannya Menkeu melakukan intervensi dalam UU tersebut menurut Rizal juga sebagai bukti bahwa celah permainan pajak memang dibuka oleh pemerintah terkait. Oleh karenanya, Rizal memaknai jajaran Kementerian Keuangan bukannya melakukan reformasi birokrasi seperti yang dikampanyekan selama ini.

“Selama lima tahun terakhir, bukan reformasi, tapi kontaminasi. Banyak pegawai Kemenkeu yang tidak brengsek, tapi karena yang brengsek tetap ada, jadi tertular ke yang lain. Ini harus didetok (detoksifikasi) oleh Bapak Presiden. Orang-orang brengseknya harus dibersihkan untuk memunculkan etika kerja yang baru,” tambah Rizal.

Namun terkait kasus Paulus Tumewu, Direktur Penyuluhan dan Humas Ditjen Pajak Iqbal Alamsyah menyatakan Menteri Keuangan meminta dihentikannya penyidikan kasus itu karena mengetahui bahwa Paulus telah menyelesaikan kewajibannya. “Menkeu meminta bebas karena mengetahui Paulus telah membayar tunggakan beserta dendanya,” ungkap Iqbal seperti dilansir MediaIndonesia. (*/MIOL)

Sri Mulyani dan ‘The Big Fish’ Mafia Pajak

lokasi: Home / Berita / Analisa / [sumber: Jakartapress.com]

Jumat, 23/04/2010 | 10:32 WIB Sri Mulyani dan 'The Big Fish' Mafia Pajak

Sri Mulyani dan The Big Fish Mafia Pajak

SOSOK Menteri Keuangan Sri Mulyani selalu menjadi sosok kontroversial. Setelah diduga terlibat skandal Bank Century, kini ia diduga terlibat dalam kasus pajak Paulus Tumewu. Paulus Tumewu tersangkut kasus penggelapan pajak pada 2006 lalu. Berkas kasus ini sudah masuk ke kejaksaan dan penyidikan sudah sampai pada tahap P-21. Adik Ipar Eddy Tanzil (terpidana korupsi yang lari ke luar negeri) ini diwajibkan membayar pajak Rp 7,994 miliar sekaligus denda empat kali lipatnya. Namun di tengah penyidikan terdapat surat dari pejabat sekertariat jendral kementrian keuangan kepada Jaksa Agung agar menghentikan penyidikan kasus ini.

Asosiasi Pembayar Pajak Indonesia (APPI) dalam forum Panitia Kerja (Panja) Perpajakan di Komisi III DPR beberapa waktu lalu mengungkit terbitnya Surat ketetatapan penghentian penuntutan oleh Kejaksaan Agung. SKPP itu dinilai melanggar hukum karena kasus itu sudah berstatus P-21 (berkas dinyatakan lengkap) sehingga harus berlanjut ke proses hukum. Mereka pun mempertanyakan intervensi kementrian keuangan yang akhirnya menghentikkan penuntutan tersebut.

Sekjen APPI Sasmito Hadinagoro menyatakan bahwa seharusnya bila kasus sudah P21 maka tidak bisa dihentikan lagi. “Kasus itu sudah berstatus P-21 (berkas dinyatakan lengkap) sehingga harus berlanjut ke proses hukum. Tetapi mengapa kementerian Keuangan mengirimkan surat yang akhirnya menghentikan proses tersebut. Ada apa,” tegasnya.

Pengamat perpajakan Ronny Bako melihat kemungkinan ada peran makelar kasus dalam kasus pajak Paulus Tumewu. Namun untuk itu harus dibuktikan dengan melihat rekening masing-masing pengawas baik di Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen) Pajak maupun di Departemen Keuangan selama periode 2006-2007. “Untuk melihat ada tidaknya indikasi markus tinggal mengecek di PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan), karena lembaga itu sudah berdiri sejak 2002,” ujar pengamat perpajakan dari Universitas Pelita Harapan (UPH) itu.

Sekali lagi, kasus Paulus Tumewo ini menambah rapor merah Menteri Keuangan Sri Mulyani. Selain kasus Paulus Tumewu ini, Sri Mulyani sebelumnya juga dianggap tidak berhasil dalam mereformasi kementrian keuangan dengan munculnya skandal Gayus Tambunan. Banyak pengamat menilai reformasi birokrasi yang dielu-elukan oleh Sri Mulyani hanyalah isapan jempol semata. Ekonom Rizal Ramli misalnya melihat bahwa reformasi birokrasi yang dilakukan Sri Mulyani nol besar.

Pengungkapan kasus skandal Paulus Tumewu ini oleh Asosiasi Pembayar Pajak Indonesia dimaksudkan sebagai upaya untuk menemukan the bigh fish mafia pajak. Menurutnya, di balik kasus Gayus Tambunan terdapat kasus yang lebih besar, salah satunya adalah kasus Paulus Tumewo yang diduga melibatkan Sri Mulyani. Lalu siapakah the big fish mafia pajak ini?

The big fish mafia pajak ini masih belum terungkap. Sri Mulyani, sebagai pemimpin dalam kementrian Keuangan, semestinya mampu membongkar berbagai skandal di perpajakan. Pengungkapan mafia pajak saat ini datang dari pihak ketiga; Susno Duadji dan juga Asosiasi Pembayar Pajak Indonesia. Mana peran Sri Mulyani dalam mengungkap the big fish mafia pajak? Apa memang, seperti yang banyak dinilai oleh berbagai ekonom, kerja Sri Mulyani nol besar? (Boy M)

Tersangka Penggelapan Pajak di Surabaya ‘Bernyanyi’

lokasi: Home / Berita / Nasional / [sumber: Jakartapress.com]

Jumat, 23/04/2010 | 22:30 WIB Tersangka Penggelapan Pajak di Surabaya 'Bernyanyi'

Surabaya – Tersangka kasus penggelapan pajak di Dinas Pajak Surabaya, Siswanto mulai ‘bernyanyi’. Kepada kuasa hukumnya, M Soleh, mantan bagian cleaning service di Kanwil Dirjen Pajak Jatim I Surabaya itu membeberkan keterlibatan sejumlah lembaga dan instansi di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

“Dari 150 perusahaan yang ditangani Siswanto, ada lima lembaga dan instansi di lingkungan Pemkot Surabaya yang ikut menjadi “korban” dalam penggelapan pajak. Polisi musti menelurusi, jika ingin mengungkap kasus ini,” kata Sholeh di Surabaya, Jumat (23/4).

Secara rinci, Sholeh menyebut lima instansi dan lembaga itu adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surabaya, Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Surabaya, Dinas Tata Kota Surabaya dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Kota Surabaya.

Kelima lembaga dan instansi ini, diduga bukan hanya sebagai korban. Tetapi bisa dimungkinkan ikut terlibat dalam permainan pajak tersebut. Sebab, berdasar pengakuan Siswanto, ada pihak lain yang menyuruhnya dalam memanipulasi pembayaran pajak.

“Jadi, ada orang lain yang menyuruh klien saya untuk berbuat seperti itu. Klien saya kebagian tugas mengerjakan di bagian validasi. Sementara dua orang lainnya M Soni dan Mochamad Mutarozikin di bagian mengamankan berkas,” ungkapnya.

Menanggapi ‘nyanyian’ Siswanto tersebut, anggota KPU Surabaya bidang Hukum, Humas dan Data Informasi, Eko Sasmito mengaku terkejut jika lembaganya dituding ikut menikmati hasil penggelapan pajak di Dinas Pajak Surabaya. Sebab, seluruh anggaran KPU Surabaya berasal dari APBD Kota Surabaya.

“Terus terang saya belum tahu. Setahu saya, semua anggaran yang dipakai KPU Surabaya sudah dilakukan audit BPK. Semua anggaran yang dibutuhkan KPU ditangani sekretariat di KPN,” tuturnya sembari menolak memberikan keterangan terkait masalah tersebut. (Mb)

SBY Biarkan Praktik Korupsi Pajak Merajalela?

lokasi: Home / Berita / Nasional / [sumber: Jakartapress.com]

Rabu, 21/04/2010 | 14:32 WIB SBY Biarkan Praktik Korupsi Pajak Merajalela?

Jakarta – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai telah melakukan pembiaran dengan banyaknya terjadi kasus korupsi pajak di Indonesia belakangan ini. “Seolah-olah terjadi pembiaran oleh SBY. Padahal SBY mengetahui,” kata anggota Komisi III Syarifuddin Sudding di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (21/4).

Politisi dari Hanura ini menambahkan, SBY juga terkesan tidak mampu dan tidak berani untuk memberantas korupsi. “Bila tak mampu mengelola negara ini, secara sadar diri, SBY lebih baik mundur saja supaya bangsa ini tidak dicap sebagai bangsa mafia,” katanya.

Dicontohkannya, sebenarnya SBY mengetahui adanya kasus pajak senilai Rp31,5 miliar yang melibatkan adik ipar Eddy Tansil, Paulus Tumewu, selaku Dirut PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. “Tapi sekali lagi, SBY seolah-olah tidak tahu,” ungkap Sudding.

Terkait dengan kasus Paulus, Syarifuddin menyayangkan  Menteri Keuangan yang melakukan intervensi terhadap Kejaksaan. “Jadi kongkalikong yang terjadi adalah antara Menteri Keuangan, Sri Mulyani, Dirjen Pajak dan Paulus Tumewu. SBY seharusnya memberikan sanksi tapi tidak dilakukan,” tandasnya.

Sementara itu, jaksa kasus Gayus Tambunan, Cirus Sinaga, disebut-sebut memiliki rumah di Medan seharga miliaran rupiah. Kejaksaan Agung (Kejagung) siap menindaklanjuti informasi itu. “Kita belum menerima laporan itu. Tetapi ini kita anggap sebagai informasi yang perlu kita tindaklanjuti kepada Jamwas atas laporan itu,” kata Wakil Jaksa Agung Darmono, Rabu (22/4/2010).

Jaksa Poltak Manulang dan Jaksa Cirus Sinaga dicopot setelah dinyatakan melanggar disiplin dalam penanganan kasus penggelapan pajak yang melibatkan pegawai pajak golongan IIIA Gayus. Saat perkara tersebut bergulir tahun 2009 silam, Poltak adalah Direktur Pra Penuntutan sementara Cirus ketua tim jaksa peneliti berkas. (*/primaironline)

Marsillam & Sri Mulyani Terlibat Kasus Mafia Pajak?

lokasi: Home / Berita / Nasional / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 20/04/2010 | 21:02 WIB Marsillam & Sri Mulyani Terlibat Kasus Mafia Pajak?

Jakarta – Kasus mafia pajak mencuat lagi. Asosiasi Pembayar Pajak Indonesia (APPI) menyatakan bahwa melalui Marsillam Simanjuntak, Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah memberikan disposisi kepada Kejaksaan Agung untuk menghentikan sebuah kasus pajak Paulus Tumewu secara ‘damai’. Ada kepentingan apa?

“Menteri Keuangan memberikan disposisi melalui penasihat Menkeu bidang reformasi pajak Marsillam Simanjuntak. Dilanjutkan ke Kejaksaan Agung saat dipimpin Abdur Rahman Saleh saat itu agar diselesaikan secara damai,” ungkap Sekjen APPI, Sasmito di hadapan Komisi III DPR, Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/4).

Menurut Sasmito, kasus tersebut adalah kasus macetnya pajak yang bermula dari kekurangan bayar untuk PPH 2004 atas nama Paulus Tumewu, adik ipar Edi Tanzil, pemilik Ramayana Group. Ia melanjutkan, penyidikan kasus tersebut sudah P21. Ketentuan menyatakan yang bersangkutan harus didenda 4 kali dari Rp7,994 miliar. Namun ternyata Paulus Tumewu tidak membayar 4 kali, melainkan hanya Rp7,994 miliar. Dan semua selesai.

Penasehat APPI Ichsanudin Noorsy menjelaskan bahwa Paulus Tumewu mempunyai omset penjualan diduga yang kena pajak sebesar Rp1,5 triliun. Sehingga beban pajaknya sekitar Rp399 miliar. Namun entah kenapa hanya Rp7,994 miliar yang menjadi beban pajaknya.

“Yang menarik, Kejaksaan menyatakan sudah dibayar Rp7,999 miliar dan dibayar 4 kali. Artinya tidak cocok dengan omset pajak. Mana Surat Ketetapan Pajak (SKP) yang menyatakan dia cukup membayar Rp7,999 miliar. Itu kata kuncinya,” imbuhnya.

Ichsanudin melanjutkan, setelah terjadi pembayaran dari Paulus Tumewu, terjadi lah surat menyurat permintaan penghentian kasus tersebut oleh Paulus sendiri. Menurut Ichsan, pada 19 Oktober 2006 terdapat surat dari Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh kepada Menteri Keuangan. Isinya menanggapi surat Menkeu SR-173/MK./03/06 tertanggal 1/ Oktober 2006 terkait penghentian penyidikan wajib pajak atas nama Paulus Tumewu.

Surat tersebut menyatakan Jaksa Agung setuju menghentikan penyidikan kasus pajak Paulus Tumewu atas perintah Menteri Keuangan. Jaksa Agung, saat itu memberikan beberapa syarat, apabila penyelesaian sanksi administrasi berupa denda sebesar empat kali jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar telah dilunasi oleh wajib pajak bersangkutan, hendaknya dilaporkan ke kejaksaan untuk proses berikutnya.

Artinya, lanjut Ichsanudin, sampai 19 Oktober 2006, Jaksa Agung tidak mau menghentikan penyidikan. Keluar lah kemudian pada 31 Oktober 2006 surat yang disampaikan ke JB Kristiadi atas nama Menteri Keuangan yang menyatakan Paulus telah melunasi seluruh kewajibannya.

“Dasar Kejaksaan menghentikan kasus Paulus adalah atas permintaan Menkeu setelah berbagai pembahasan oleh biro hukum di Perpajakan,” ungkap dia sembari berharap, DPR mau melakukan investigasi kasus Paulus Tumewu. Dan harus mengejar betul berapa pajak yang bisa dikenakan ke adik ipar Edi Tansil ini.

Sementara menurut Anggota Komisi III DPR Ahmad Yani (F-PPP), dewan ingin melihat SKP-nya, agar menjadi jelas. Untuk itu, Komisi mengaku akan memanggil pihak-pihak terkait kasus pajak Paulus Tumewu. Antara lain Kejaksaan, Penyidik Benato Priyatno, Mantan Dirjen Pajak Hadi Purnomo dan Darmin Nasution, Menkeu Sri Mulyani dan Marsilam Simanjuntak. “Semua yang dianalisi kita panggil. Kita akan rumuskan dalam waktu dekat ini,” paparnya.

Terlibat Mafia Pajak?

Panja PPNS (Perpajakan) Komisi III DPR mengundang Asosiasi Pembayar Pajak Indonesia (APPI) untuk dimintai keterangan seputar mafia pajak, Selasa (20/4/2010). Dalam kesempatan ini mengemuka, kasus kakap mafia pajak kembali meruak dan makin jelas duduk perkaranya. Komisi III DPR mengurai benang kusut mafia pajak yang melibatkan kasus Paulus Tumewu, bos Ramayana dan adik ipar Edi Tanzil yang melakukan penggelapan pajak. Dalam skandal mafia pajak itu, disebut nama Sri Mulyani dan Marsillam Simanjuntak.

“Dalam kasus itu, potensi kerugian Negara di atas Rp 300 milyar, tersangka sudah ditahan dan kasus sudah P-21, namun karena keterlibatan para elite, maka Kejagung mengeluarkan  SP3,’’ kata Ahmad Yani, anggota Fraksi PPP DPR.

’’Dalam kaitan mafia pajak Paulus Tumewu itu, kami ingin Komisi III betul-betul mengusut ‘big fish‘ ini,  siapa dibalik mafia pajak,” beber Sekjen Asosiasi Pembayar Pajak Indonesia (APPI) Sasmito Hadinagoro, Selasa (20/4).

Ahmad Yani dan Sasmito bersama  ekonom Ichsanurdin Noorsyi dan kalangan DPR lainnya menguraikan kasus Paulus Tumewu, yang melakukan penggelapan pajak, dengan potensi kerugian negara di atasRp  300 milyar, dimana Paulus sebagai  tersangka sudah ditahan dan kasus sudah P-21.

‘’Tadi sudah diuraikan APPI  bahwa skandal itu  dihentikan pemeriksaan hukumnya oleh Sri Mulyani dan Marsillam Simanjuntak, lalu Kejagung mengeluarkan SP3,” ungkap Sasmito mewakili APPI.

Kasus itu sebenarnya sudah dilaporkan ke KPK  tahun 2007, tapi tidak digubris. Lantas, siapa markusnya di sini? Ahmad Yani menyebut nama-nama yang diuraikan APPI seperti Marsillam dan Sri Mulyani diduga kuat terlibat di dalamnya.

Terkait big fish itu,  Sasmito menyatakan sengaja mengungkapkan yang asosiasinya ketahui sesuai arahan Presiden RI. “Sehubungan perintah Bapak SBY juga kepada satgas mafia hukum, agar satgas bisa mengungkap atau menangkap big fish atau ikan besarnya, kami  pun  mengungkapnya. Juga terkait kongkalikong di bidang perpajakan ini yang melibatkan Marsillam dan Sri Mulyani,” paparnya.

’’Ada satu dokumen kasus yang patut diperiksa KPK dan penegak hukum lainnya untuk diklarifikasi,” imbuhnya.

Menurut Sasmito, tindakannya membongkar kasus tersebut karena penerimaan pajak menopang lebih dari 60 persen ABPN Indonesia. “Di APBN 2010 pun lebih dari Rp600 triliun diharapkan masuk dari pajak,” ujarnya.

Sasmito meminta Komisi III DPR benar-benar menuntaskan mafia pajak. Sebab kalau tidak segera dibereskan, rakyat yang akan rugi. “Supaya dilakukan kongkrit agar pembayar pajak yang sudah membayar dengan baik supaya masuk kas negara. Karena lebih dari 60 persen belanja negara dari pajak,” papar Sasmito. (boy)

Kasus ‘Gayus’ Juga Terjadi di Asuransi & Pasar Modal

lokasi: Home / Berita / Ekonomi / [sumber: Jakartapress.com]

Rabu, 21/04/2010 | 15:37 WIB Kasus 'Gayus' Juga Terjadi di Asuransi & Pasar Modal

Jakarta – Tindak penyimpangan (fraud) serta gagal bayar di industri pasar modal dan asuransi semakin tinggi. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) mengungkapkan kasus ‘Gayus’ juga terjadi di pasar modal dan sektor swasta.

“Kasus Gayus tidak hanya terjadi di Pemerintahan atau Pajak saja, namun terjadi juga di pasar modal dan perusahaan swasta. Untuk itu kita lagi memikirkan untuk merumuskan peraturan tentang investasi,” ujar Ketua Bapepam LK Fuad Rahmany dalam Roundtable Summit Strategic Direction Of Indonesian Insurance Industry Towards 2015 di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Rabu (21/4/2010).

Semakin tingginya fraud (penyimpangan) serta gagal bayar di industri pasar modal dan asuransi membuat regulator pasar modal ini gerah. Bapepam-LK tengah menggodok peraturan baru mengenai investasi yakni mengenai penempatan dana kelolaan khusus untuk industri asuransi. Dalam aturan tersebut akan diatur secara ketat penempatan dana investasi di sebuah perusahaan asuransi. “Teknisnya nanti akan dibicarakan lebih lanjut,” tuturnya.

Ia mengharapkan, perusahaan asuransi harus mempunyai integritas dan profesionalitas yang tinggi. Perusahaan harus hati-hati dalam menaruh dana kelolaanya, serta lanjut Fuad jangan ditempatkan pada hal-hal yang terlalu berisiko dan jangan sampai menimbulkan conflict of interest.

Menurutnya, belakangan banyak terjadi conflict of interest di perusahaan-perusahaan yang bergerak di pasar modal termasuk asuransi. “Yang terjadi belakangan ini lebih banyak perusahaan asuransi ataupun perusahaan yang bergerak di pasar modal menempatkan dananya di perusahaan yang masih terafiliasi seperti di perusahaan keluarganya sendiri,” katanya.

Fuad juga meminta kepada perusahaan-perusahaan asuransi untuk memberikan ketegasan kepada agen-agan dalam menjual produk mereka. “Jangan yang penting laku saja, dan jangan juga jual ke nasabah yang tidak mengerti,” katanya.

Agen-agen penjual, lanjut Fuad, jangan ragu-ragu untuk memberitahukan risiko-risiko yang mungkin diterima oleh para nasabahnya. “Jangan sampai adalagi nasabah yang berbondong-bondong datang ke kantor saya untuk mengadu karena perusahaan gagal bayar. Padahal kita sudah peringatkan, high risk high return jadi nasabah harus mengetahui itu,” paparnya.

Lebih lanjut Fuad mengatakan, tidak ada aturan Bapepam-LK yang bisa melarang produk yang berisiko tinggi, untuk itu nasabah sendiri yang harus paham. (*/dtc/red)

Bawa Makanan Sendiri, Susno Takut Diracun?

lokasi: Home / Berita / Tokoh / [sumber: Jakartapress.com]

Jumat, 23/04/2010 | 11:51 WIB Bawa Makanan Sendiri, Susno Takut Diracun?

MANTAN Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji diperiksa Mabes Polri selama tiga hari berturut-turut. Selama menjalani pemeriksaan, Susno selalu membawa makanan sendiri.

Mengapa Susno tidak pernah mau makan dari makanan yang telah disediakan penyidik? Usut punya usut, bukan karena Susno takut diracun. Istrinya, terus mempersiapkan segala kebutuhan Susno, termasuk makanan, sebelum pemeriksaan.

“Bapak selalu bawa makan dan minum sendiri sesuai kesukaan, tidak ada suudzon. Biasa Ibu siapkan makanan setiap pagi sebelum berangkat. Kemarin aja dibawakan roti dan jus,” ujar kuasa hukum Susno, Efran Helmi Juni di kediaman Susno di Puri Cinere, Depok, Jumat (23/7/2010).

Menurut Efran, Susno sangat suka dengan masakan-masakan tradisional. Itulah alasan mengapa Istrinya selalu mempersiapkan makanan spesial untuk Susno.

Efran melanjutkan, saat ini Susno masih sangat lelah setelah menjalani pemeriksaan maraton oleh tim independen Polri. “Beliau luar biasa lelah, dari Selasa sampai malam Jumat diperiksa maraton sebagai saksi dalam perkara Gayus dan kawan-kawan,” tambahnya.

Saat ini, lanjut Efran, Susno tengah berisitirahat. Meski kelelahan, Susno siap jika nantinya akan dipanggil lagi sebagai saksi. “Pemeriksaan berikutnya belum bisa kita pastikan. Namun Beliau sangat siap, dengan senang hati beri keterangan,” jelasnya.

Pantauan detikcom di lokasi, rumah Susno tampak ramai ditunggui kerabatnya. Selain itu sebuah baliho ukuran 5×10 meter berisi dukungan terhadap Susno dari berbagai ormas digantung di depan rumah. Susno sendiri berada di dalam rumah dan direncanakan akan keluar rumah saat salat Jumat nanti. Beberapa wartawan juga masih menunggu di rumah Susno.

Sebelum ini, Susno Duadji juga pernah menolak meminum minuman yang disuguhkan di Propam Mabes Polri. “Tadi dia kontak, beliau tidak mau minuman di dalam (Propam),” ujar pengacara Susno, Efran Helmi Juni yang ditemui wartawan di Propam Mabes Polri, Senin (12/4/2010). “Apa takut diracun?” timpal wartawan. Menjawab pertanyaan, saat itu Efran tidak menjawab.

Karena itu, pengacaranya pun hendak menemui Susno untuk memberi minum. Namun sayangnya, permintaan pengacara untuk bertemu ditolak oleh petugas propam yang berjaga di luar. “Kita hanya ingin dia minum,” ucap Efran.

Perwira Reformis
Beberapa waktu lalu, Susno Duadji menyatakan apabila dirinya menjadi Kapolri, berani menjamin dalam waktu enam bulan Polri akan bersih. Caranya, cukup jebloskan jenderal nakal ke penjara. Menurutnya, kalau Kapolri berubah, otomatis jajaran di bawahnya akan ikut berubah.

“Kalau saya dipercaya jadi Kapolri itu amanah, kerjakan dengan baik dan harus membawa kemaslahatan pada umat. Tidak berhasil enam bulan saya mundur. Perubahan signifikan bisa, yang diubah satu orang saja, Kapolrinya,” kata Susno saat kuliah umum dan diskusi buku ‘Bukan Testimoni Susno’ di Politeknik Negeri Sriwijaya, Palembang, Jumat (19/3/2010) .

Ia juga menjelaskan, indikasi markus kasus pajak di Polri kian kuat setelah Mabes Polri menggelar jumpa pers. Pembukaan blokir uang Rp 25 miliar, menurutnya, dilakukan saat Bareskrim demisioner kepemimpinan pada 26 November 2009. Sementara SK Pencopotan Susno tertanggal 24 dan serah terima jabatan tanggal 30 pada Komjen Ito Sumardi. “Si Raja (Brigjen Raja Erizman) tidak lapor saya, tidak lapor Pak Ito. Jelas dia menelikung. Tangkap Raja, borgol dan masukkan ke sel malam ini juga,” kata Susno.

Sebenarnya, saat menjadi Kapolda Jabar yang lalu, Irjen Pol Drs Susno Duadji SH, MSc, dikenal sebagai perwira reformis. Kisahnya, di satu kesempatan, Kapolda Susno saat itu mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai tingkat polres hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke Mapolda Jabar sejak pagi karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai pukul 16.00 WIB.

Dalam rapat itu, Kapolda Susno hanya berbicara tidak lebih dari 10 menit. Meski dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya “galak” dan “menyentak”. Saking “galaknya”, anggota Satlantas harus ditanya dua kali tentang kesiapan mereka menjalani perintah tersebut.

Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di lapangan (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan lainnya). “Tidak perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya. Dari gaji sudah cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi pengusaha. Ingat, kita ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah ingin dilayani,” tutur pria kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu.

Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari pangkat AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan bersama. Isi kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya. Lantas, Susno pun memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah, menyiapkan, dan membersihkan diri dari pungli. “Kalau minggu depan masih ada yang nakal, saatnya main copot-copotan jabatan,” kata suami dari Ny. Herawati itu.

Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir ke pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh Susno tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK adalah sebuah lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menggiring para koruptor ke jeruji besi.

Susno Duadji lahir di Pagar Alam, Sumatra Selatan 1 Juli 1954. Anak ke-2 dari depalan bersaudara ini lulus akpol tahun 1977. Ketika menjabat sebagai Kapolda Jabar, Susno dikenal berdedikasi tinggi dalam memberantas pungli dan koprupsi. Berikut riwayat karir Susno Duadji sebelum menjabat sebagai Kabareskrim Polri.

PAMA POLRES WONOGIRI (1978)PAMA POLRES WONOGIRI (1978)
KABAG SERSE POLWIL BANYUMAS (1988)
WAKA POLRES PEMALANG (1989)
WAKA POLRESTA YOGYAKARTA (1990)
KAPOLRES MALUKU UTARA (1995)
KAPOLRES MADIUN (1997)
KAPOLRESTA MALANG (1998)
WAKAPOLWILTABES SURABAYA (1999)
WAKASUBDIT GAKTIP DIT SABHARA POLRI(2001)
KABID KORDILUM BABINKUM (2001)
KABID BID RAPKUM DIV BINKUM POLRI (2002)
PATI (DALAM RANGKA TUGAS LUAR) FORMASI MABES POLRI WAKIL KEPALA PPATK) (2004)
KAPOLDA JABAR (2008)

(*/dtc/red)

25
Apr
10

Bencana Alam : Letusan Eyjafjallajokull vs Tambora (1 vs 10.000)

Letusan Eyjafjallajokull Vs Tambora, 1:10.000
Abu letusan Tambora, selain mematikan, mengubah cuaca dunia, bahkan mengubah sejarah.
Sabtu, 24 April 2010, 09:38 WIB
Elin Yunita Kristanti
Abu Islandia (AP Photo/Jon Gustafsson)

VIVAnews – Letusan Gunung Eyjafjallajokull di Islandia menyemburkan abu vulkanik yang memusingkan, karena mengacaukan lalu lintas udara Eropa.

Ribuan penumpang tertahan di bandara, perekonomian terganggu, barang-barang komoditas pertanian membusuk karena tak bisa dikirim.

Namun, menurut laman Wall Street Journal, Sabtu 24 April 2010 dampak letusan Gunung Eyjafjallajökull tak sebanding dengan letusan Gunung Tambora di Sumbawa Indonesia.

Pada 5 April 1815 sore, gunung berapi Tambora mulai bergemuruh dan ‘batuk -batuk’. Kondisi ini terjadi dalam beberapa hari.

Beberapa hari kemudian, pada 11 dan 12 April letusan Gunung Tambora mencapai klimaksnya. Gunung besar itu meletus, getarannya mengguncangkan bumi hingga jarak ratusan mil.

Selama lebih dari 10 hari kemudian, Tambora mengeluarkan 24 kubik mil (1 mil = 1,6 kilometer) lava dan bebatuan gunung. Saking dahsyatnya, di puncak Tambora tercipta kawah selebar tiga mil dan dalamnya hampir 1 mil.

Lelehan lava panas, batu yang berterbangan, dan gas mematikan yang keluar dari perut Tambora saat itu menewaskan puluhan ribuan orang.

Jutaan ton abu dan debu memenuhi udara, mengubah siang hari menjadi gelap gulita. Debu tebal menyelimuti wilayah kaki gunung dan bahkan Bali.

Debu menutup semua vegetasi di Pulau Bali dan menyelimuti lautan. Sekitar 117.000 orang di wilayah yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda tewas. Banyak dari mereka terkena imbas letusan,  jadi korban kelaparan dan penyakit.

Itu baru permulaan.

Letusan gunung di Islandia sama sekali bukan bandingan untuk Tambora. Badan Geologi Amerika Serikat atau US Geological Survey bahkan menobatkan letusan Tambora sebagai “yang terkuat sepanjang sejarah”.

Letusan Tambora bahkan lebih dahsyat dari Krakatau. Menurut data Volcanic Explosivity Index (VEI), indeks letusan gunung yang mirip skala Richter untuk mengukur kekuatan gempa.

Perhitungan VEI ada pada skala 1 hingga 8, setiap satu angka adalah 10 lebih besar dari sebelumnya. Tambora ada di level tujuh, Krakatau enam. Ini berarti Tambora lebih kuat 10 kali lebih besar dari letusan Krakatau.

Bagaimana letusan gunung Islandia? Leel VEI-nya hanya dua atau tiga. Ataiu 10.000 kali lebih lemah dari Tambora.

Letusan Eyjafjallajökull ‘saja’ bisa mempengaruhi atmoser dan membuat dunia penerbangan kalang kabut.

Tak terbayang jika Tambora meletus di era ini. Seperti meriam raksasa, tambora menyemburkan abu, debu, dan setidaknya 400 juta ton gas sulfur ke udara, hingga 27 mil tegak lurus ke strastofer, jauh di atas awan cuaca.

Ini mengakibatkan ledakan di lapisan troposfer — lapisan terdekat dari permukaan Bumi, di mana awan, angin, dan hujan, serta 75 persen dari berat atmosfer berada.

Semburan Tambora juga menyobek lapisan tipis ozon yang melindungi Bumi dari radiasi sinar matahari.

Karena daya tarik grafitasi yang ringan di angkasa, abu dan debu Tambora melayang dan menyebar mengelilingi dunia. Debu Tambora menetap di lapisan troposfer selama beberapa tahun dan turun melalui angin dan hujan kembali ke Bumi.

Letusan Tambora berakibat luar biasa. Gagal panen di China, Eropa, dan Irlandia. Hujan tanpa henti dselama delapan minggu memicu epidemi tifus yang menewaskan 65.000 orang di Inggris dan Eropa. Kelaparan melumpuhkan di Inggris.

Kegelapan menyelimuti Bumi, menginspirasi novel-novel misteri legendaris misalnya, ‘Darkness’ atau ‘Kegelapan’ karya Lord Byron, ‘The Vampir’ atau ‘Vampir’ karya Dr John Palidori dan novel ‘Frankenstein’ karya Mary Shelley.

Tambora juga jadi salah satu pemicu kerusuhan di Perancis yang warganya kekuarangan makanan. Juga mengubah sejarah saat Napoleon kalah akibat musim dingin berkepanjangan dan kelaparan pada 1815 di Waterloo. (jno)

• VIVAnews

25
Apr
10

Hikmah : Cinta Kasih, Pemimpin Beriman, Kasih Sayang, Resep Nikmat

Siapa Pemilik Cinta Kasih

Republika, Sabtu, 24 April 2010, 16:31 WIB

Siapa Pemilik Cinta Kasih

ilustrasi

Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar

Kata ummah berasal dari bahasa Hebrew dari akar kata  alef dan  mim, berarti cinta kasih. Ibu, bahasa arabnya ummun karena pemilik cinta kasih yang tulus.

Dari akar kata yang sama membentuk:  Amam (di depan),  imam (imam shalat/pemimpin),  ma’mum (makmum/rakyat yang dipimpin), imamah (konsep yang mengatur antara pemimpin dan rakyat), dan ummah ialah komunitas yang diikat oleh suatu aturan dan tali cinta kasih sebagai sesama hamba Tuhan dengan pemimpin yang disegani, rakyat yang santun tapi kritis, tetapi pemimpin itu tidak otoriter karena rakyat laki-laki atau perempuan diberi kewenangan untuk menegur.

Jika dalam shalat imam melakukan kekeliruan, makmun laki-laki menegur dengan membaca  subhanallah dan untuk perempuan menegur dengan menepuk anggota badan sehingga kedengaran oleh sang imam. Analoginya, jika menjadi pemimpin, rakyat berhak memberikan peringatan dan teguran pada sang pemimpin agar menjadi benar. Jika demikian, arti  ummah, maka tidak otomatis setiap komunitas Muslim disebut  ummah.

Alquran menyebut sejumlah konsep komunitas. Antara lain,  sya’bun (komunitas yang dihimpun oleh hubungan genetik sebagai suatu marga);  qabilah (komunitas oleh ikatan primordialisme hubungan genetik, kedaerahan, dan persamaan tradisi);  qaum, komunitas kepentingan sosial dan ekonomi dengan visi dan misi yang sama;  khizbun, komunitas yang dipersatukan oleh persamaan sejarah dan kepentingan politik (ideologi).

Ummah lebih dari sekadar sya’bun, qabilah, qaum, atau  khizbun. Yang paling menonjol dari  ummah ialah ikatan spiritual keagamaan sebagai sesama hamba Tuhan dan umat Nabi Muhammad SAW. Ummah melintasi batas-batas geografis, menembus lapis budaya, dan menerobos sekat-sekat politik dan ideologi. Ummah bentuk final dari segala bentuk komunitas.

Tujuan atau misi utama Nabi Muhammad SAW adalah menghijrahkan umat manusia dari masyarakat  sya’bun, qabilah, qaum, dan khizbun menjadi masyarakat ummah. Dalam masyarakat qabilah atau sya’b, promosi karier hanya bergulir di kalangan laki-laki. Perempuan jangan bermimpi untuk menjadi pemimpin. Dan istilah pemimpin perempuan saja tidak ada dalam kamus bahasa Arab. Kata  imamah digunakan dalam arti kepemimpinan, dan kata  khalifah, digunakan untuk pemimpin laki-laki.

Dalam masyarakat  qabilah dan  sya’b diwarnai dengan struktur dan stratifikasi sosial yang berlapis-lapis. Kalangan masyarakat bawah, apalagi budak, tidak boleh bermimpi menjadi raja atau pemimpin. Karena raja atau pemimpin sudah monopoli kalangan bangsawan. Sedangkan dalam konsep  ummah, siapa pun dan dari kelas manapun sama-sama berhak untuk menjadi imam atau pemimpin, asal memenuhi beberapa syarat yang diajukan masyarakat. Apakah komunitas Islam di Indonesia sudah layak disebut ummah?

Red: irf

Sembiln Langkah Menjadi Pemimpin Orang Beriman

Republika, Jumat, 23 April 2010, 08:11 WIB

Sembilan Langkah Menjadi Pemimpin Orang Beriman

ilustrasi

Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Menjadi pemimpin bukan semata-mata kemenangan karena terpilih, tapi lebih dari itu, sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Banyak hal yang harus diejawantah sebagai pemimpin orang beriman.

Pertama, teladan dalam ketakwaan dan paham kitabullah dan sunah (QS 65: 2). Sangat sulit disebut pemimpin jika tidak ada keteladanan dalam pencarian ridha Allah. Abu Bakar ash-Shiddiq menyeru ketika dilantik jadi khalifah, ”Jika kepemimpinanku benar menurut Alquran dan  as-sunnah , maka ikuti aku. Tapi jika salah, tinggalkan aku.”

Kedua, wara’ (berhati-hati dengan hukum Allah) dan istikamah. Tidak ada niat melabrak hukum Allah, bahkan konsisten dengan keimanan dan istikamah di jalan-Nya. (QS 41: 30-33).

Ketiga, sehat, kuat, cerdas, dan visioner. Seorang pemimpin harus punya visi dalam membangun dan menyejahterakan rakyat (QS 59: 18). Karena itu, daya tunjang kesehatan, fisik yang kuat dan kemampuan mengeksplorasi kecerdasan menjadi hal mutlak bagi seorang pemimpin. (QS 2: 247).

Keempat, ahli ibadah, zikir, tadabbur Quran, berjamaah di masjid, puasa sunah, dan ahli tahajjud. Memimpin butuh efektivitas dan kearifan. Hal ini akan didapatkan jika pemimpin itu ahli ibadah, gemar berzikir, suka membaca Alquran, kaki dibawa ke masjid, berlapar-lapar dengan puasa sunah, serta mau menyingkap selimut di waktu malam untuk bertahajud menghadap Allah. (QS 17: 79).

Kelima, tsiqah (bisa dipercaya), adil, jujur, amanah, tepat janji, tegas, dan berani. ”Sesungguhnya Allah memerintahkanmu memberikan amanah kepada yang berhak menerimanya. Jika hendak menetapkan hukum di antara manusia, berilah hukuman dengan adil ….” (QS 4: 58).

Keenam, rendah hati, merakyat, tulus mencintai rakyatnya, serta dekat dengan anak yatim piatu dan fakir miskin (QS 4: 10). ”Hendaklah rendahkan hatimu kepada orang-orang yang beriman yang mengikutimu ….” (QS 26: 215).

Ketujuh, jabatan menjadi  washilah dakwah (QS 41: 34). Kedudukannya sebagai pemimpin bukan sebagai kehormatan, tetapi untuk kepentingan dakwah, yaitu mengajak umat dan rakyat makin dekat dengan Allah.

Kedelapan, sangat mendengar nasihat ulama, siap dikritik, terus belajar, dan tidak mudah tersinggung apalagi marah (QS 11: 88).

Terakhir, selalu berdoa untuk rakyatnya disertai tawakkal yang kuat. Indah sekali jika ada pemimpin, di siang hari ia berjibaku melayani rakyat, sedangkan malamnya ia tahajjud lalu mengangkat tangan dan berserah diri kepada-Nya. ”Maka jika kamu telah bertekad mengerjakan sesuatu (setelah berusaha) maka serahkan kepada Allah ….” (QS 3: 159). Wa Allahu a’lam.

Red: irf

Menajamkan Naluri Kasih Sayang

Republika, Rabu, 21 April 2010, 07:26 WIB

Menajamkan Naluri Kasih Sayang

ilustrasi

Oleh KH Didin Hafidhuddin

Peristiwa bentrokan berdarah yang terjadi antara sebagian masyarakat dengan anggota Satpol PP di Koja Tanjung Priok Rabu (14/4) lalu merupakan sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan. Betapa tidak, setiap kelompok yang terlibat berlomba-lomba mencederai lawannya, tanpa sedikit pun terlihat rasa malu dan belas kasihan. Sebaliknya, justru tampak amarah dan kebencian yang sangat mendalam. Padahal, rakyat negeri ini merupakan masyarakat religius dan mayoritas beragama Islam.

Inti ajaran Islam adalah menebarkan kedamaian dan kasih sayang. Rasulullah SAW menyatakan, salah satu kunci untuk masuk ke dalam surga adalah menebarkan salam (kedamaian dan keselamatan). Dari Ibn Thabari dari Ibn Umar, Rasul SAW bersabda, ”Seutama-utamanya keimanan dan keislaman seseorang adalah apabila Muslim yang lain terselamatkan dari caci-maki lisannya dan kekerasan serta kekasaran tangannya.”

Rasulullah SAW juga menyatakan, kalau kita ingin meraih kasih sayang Allah SWT dan para malaikat-Nya, maka tebarkan kasih sayang dan kecintaan kepada seluruh umat manusia dan makhluk lainnya yang ada di muka bumi ini (irhamu man fil ardi, yarhamkum man fissamaa`).

Dari keterangan tersebut di atas, dapatlah diketahui bahwa tidak ada iman, Islam, dan agama tanpa menebarkan kasih sayang, cinta dan kedamaian kepada sesama. Karena itu, upaya untuk menajamkan naluri kasih sayang dan kecintaan ini harus dilakukan terus-menerus.  Pertama, komunikasi, dialog, dan musyawarah harus menjadi acuan utama dalam memecahkan berbagai macam persoalan, sehingga tidak terjadi miskomunikasi antarberbagai pihak yang sedang memiliki masalah.

Rasul SAW menyatakan, ”Tidak akan merugi orang suka istikharah (meminta yang terbaik kepada Allah SWT) dan tidak akan pernah bersedih orang yang mengedepankan musyawarah.”  Kedua, Penyelesaian dilakukan secara adil  (islah) atas dasar hukum dan undang-undang yang berlaku yang disertai dengan petunjuk dari Alquran dan sunah Rasul SAW (lihat QS Al-Hujurat: 8-9).

Ketiga, jauhkan sikap arogansi kekuasaan dan fanatisme kelompok yang melahirkan kekerasan tanpa dilandasi pemikiran-pemikiran yang jernih dan rasional.  Keempat, semua pihak yang bersengketa harus mengedepankan kejujuran dan keadilan dalam menyelesaikan berbagai macam masalah.

Di samping itu, bimbingan dan suri teladan dari para pejabat, para tokoh, dan pemimpin umat menjadi suatu keharusan, sekaligus suatu keniscayaan. Mudah-mudahan tragedi kemanusiaan seperti di Koja, Tanjung Priok, tidak akan berulang kembali dalam sejarah kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia yang religius.  Wa Allahu a’lam.

Red: irf

Resep Mudah Melipatkan Nikmat

Republika, Selasa, 20 April 2010, 11:05 WIB

Resep Mudah Melipatkan Nikmat

ilustrasi

Oleh: Mukhyar Imran Lc

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (QS Ibrahim [14]: 7).

Sudah seharusnya kita sebagai hamba bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Mulai dalam kandungan ibu sampai menjadi manusia yang bisa berpikir hingga kembali pada-Nya adalah nikmat Allah yang tidak terhingga. Mulai dari kesenangan hidup, rezeki, dan kasih sayangnya yang tak pernah putus.

Akankah kita mengingkari, menentang, melanggar, dan tidak mau mengabdikan diri kepada-Nya? Dari ayat di atas, kita dapat menarik hikmah bahwa bersyukur adalah sebuah jalan untuk mencari keridhaan-Nya. Sebaliknya, bila manusia mengingkari nikmat-Nya, bersiaplah menerima azab yang sangat pedih.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus senantiasa bersyukur atas segala nikmat dan anugerah yang diberikan Allah. Kita mesti bersyukur saat memperoleh kesenangan dan bersabar saat tertimpa musibah.

Rasulullah SAW bersabda, “Perkara orang Mukmin itu mengagumkan. Sesungguhnya, semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang Mukmin. Bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.” (HR Muslim No 5318).

Sesungguhnya, nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita sangat banyak jumlahnya dan tak terhingga. Semua yang diberikan itu, sekiranya  suatu saat Allah menagihnya, kita tidak akan sanggup untuk membayarnya. Sebab, nikmat itu diberikannya setiap saat dan tak pernah berhenti, mulai dari bangun tidur hingga kita tertidur lagi. Alangkah pengasih dan penyayangnya Allah kepada kita, umat manusia.

Allah SWT berfirman, “Dan, Dia telah memberikanmu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan, jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS Ibrahim [14]: 34).

Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk bersyukur kepada manusia. Karena, syukur kepada manusia merupakan salah satu bentuk tanda syukur kepada Allah SWT.

“Siapa yang tidak pandai bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, berarti ia belum bersyukur kepada Allah.” Abu Isa berkata, “Ini adalah hadis hasan sahih.” (HR Tirmidzi No 1877). Dengan memperbanyak syukur, manusia akan menyadari segala kelemahan dan kekurangannya di hadapan Allah. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur.

Red: irf

20
Apr
10

PEPORA : Megalit Shalat di Pagaralam

Megalit Pagaralam

Antara

Antara – Senin, 19 April

Megalit Seperti Orang Shalat Ditemukan di Pagaralam

Pagaralam, Sumsel (ANTARA) – Batu megalit berupa seorang laki-laki seperti sedang shalat, ditemukan di areal persawahan Dusun Selibar, Kelurahan Selibar, Kecamatan Pagaralam Utara, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, Minggu.

“Batu megalit yang berukuran tinggi sekitar 30 cm, dengan lebar 40 cm, dengan lokasi ditemukan berjarak 1 km dari Dusun Selibar dan berada di tengah sawah dengan kondisi sebagian sudah tertimbun tanah,” kata Wimsi, warga setempat.

Ia mengatakan, patung batu itu berbentuk seorang laki-laki duduk seperti sedang melakukan shalat dengan mengarah posisi mukanya ke puncak Gunung Dempo dan matahari terbenam.

Tapi saat ditemukan, kondisi permukaan batu sudah banyak tertimbun tanah, dan hanya sebagian kecil saja masih terlihat.

Meskipun hanya beberapa cm saja muncul ke permukaan tanah, tapi guratan wajah dan bagian kepala masih dapat terlihat dengan jelas.

“Kami mengetahui jika batu ini merupakan peninggalan nenek moyang, kebetulan waktu itu ada seseorang bermimpi menceritakan ada kekuatan pada batu tersebut. Namun baru berencana akan mengambilnya, seseorang tersebut sudah jatuh sakit hingga hampir meninggal dunia. Setelah kejadian itulah, warga Dusun Selibar termasuk pemilik sawah tidak berani mengganggu batu tersebut,” kata dia pula.

Ia mengatakan, warga sekitar tempat ini mengatakan batu manusia sedang shalat selain terlihat seperti orang sedang duduk tahiyat, kebetulan arahnya juga ke kiblat.

Ditambah lagi kejadian orang yang mau memindahkannya langsung sakit, sehingga membatalkan niat tersebut.

“Diperkirakan batu megalit itu sudah berumur ribuan tahun, dengan tinggi sekitar tiga kali jengkal tangan kita dan kondisinya memang masih utuh walaupun akibat alam hingga tertimbun sendiri apalagi di tengah sawah,” kata dia lagi.

Menurut Wimsi, pada saat melakukan pembersihan ternyata di lokasi tersebut ditemukan batu mirip nisan besar yang setelah diamati lebih teliti terdapat ukiran berbentuk manusia. Hanya saja kepalanya kurang terlihat dengan jelas, termasuk badannya karena semuanya sudah tertimbun lumpur saat pemilik sawah ini membajaknya.

Ketua Tim Balai Arkeologi Palembang, Sumsel, Kristantina Indriastuti, didampingi petugas kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi dengan wilayah kerja Jambi, Sumsel, Bengkulu dan Babel, Akhmad Rivai, mengatakan sebetulnya walaupun warga setempat mengatakan mirip orang sedang shalat, batu itu merupakan arca menhir yang sudah berumur sekitar 2.000 tahun Sebelum Masehi (SM).

“Kami sudah melihat mulai dari bentuk dan kondisinya memang arca menhir, jadi bukan patung orang shalat seperti yang dikatakan warga setempat. Apalagi pada waktu itu kehidupannya masih belum mengenal agama seperti sekarang, sehingga tidak mungkin menggambarkan seseorang sedang shalat, kemudian di sekitar lokasi juga terdapat tetralith dan tempat persembahan,” kata dia pula.

17
Apr
10

PEPORA : Rumah Aspirasi Politik Pejoang 45

Rumah Aspirasi Politik Pejoang 45

Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) melalui Kongres ke-3 pada tanggal 10-14 April 2010 selain menghasilkan Bang Yos (LetJen Purn TNI DR Hc Sutiyoso, SH) sebagai Ketua Umum terpilih untuk masa bakti 2010-2015, juga telah menghasilkan beberapa rekomendasi seperti pembekalan landasan kejoangan tentang  9 (Sembilan) butir  Pusaka Kepemimpinan Peradaban Indonesia yaitu (1) Sang Saka Merah Putih, (2) Bhinneka Tunggal Ika, (3) Sumpah Pemuda 1928, (4) Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, (5) Pancasila 1945, (6) Proklamasi Indonesia Merdeka 1945, (7) Undang Undang Dasar 1945, (8) Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Wawasan Nusantara 1957, (9) Jiwa Semangat & Nilai-nilai 45.

Butir-9 tersebut diatas mengisyaratkan tentang keberadaan, kepedulian dan tekad senantiasa mengemban pelestarian dan pembudayaan kejoangan Indonesia Merdeka 1945 sekaligus perkuatan bagi kejoangan Indonesia Digdaya 2045.

Oleh karena itulah tiada berlebihan bahwa PKPI adalah sesungguhnya rumah yang tepat bagi aspirasi politik para pejoang 45, terutama ketika bersikap Kerakyatan dan Kebangsaan dengan mengedepankan Politik Benteng Pancasila sebagai Jatidiri Bangsa dan Mercusuar Dunia melalui upaya-upaya Reformasi Pro Pancasila di semua dimensi kehidupan Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta demi turut serta menggapai Indonesia Bermartabat 2030 dan Indonesia Digdaya 2045.

Lebih daripada itu, dukungan dari seluruh rakyat Indonesia bagi para pejoang 45 tersebut diatas adalah penting adanya guna secara bersama-sama dalam suasana batin kemanunggalan Padamu Negeri dapat selalu berkemampuan mengemban, memelihara dan membangun masyarakat, bangsa dan Negara sebagaimana cita politik yang diamanatkan oleh Pembukaan Undang Undang Dasar 1945.

Malang, 17 April 2010

Pandji R Hadinoto, ex Ketua Komisi C Kongres PKPI 2010

14
Apr
10

Politik : Problematik Partai Tengah

Problematik Partai ” Tengah”

Kompas, Rabu, 14 April 2010 | 05:04 WIB

Sunny Tanuwidjaja

Dalam era pragmatisme politik di Indonesia seperti saat ini, memosisikan diri sebagai partai dengan ideologi yang jelas dapat menjadi bumerang.

Kebanyakan partai cenderung berlomba-lomba menjadi partai ”tengah”, catch-all party, suatu posisi yang sangat nyaman sebab mempermudah partai menjangkau pemilih dari berbagai kelompok masyarakat dan juga segmen pemilih yang pragmatis.

Menjadi partai tengah memberikan keluwesan bagi partai meloncat dari satu posisi kebijakan ke posisi lain. Kemunculan partai tengah yang dominan dalam arena pemilu juga dianggap mampu meminimalkan konflik sebab mengurangi ekstremisme dan polarisasi di masyarakat.

Namun, ada beberapa hal yang perlu jadi perhatian. Menjamurnya partai tengah menyimpan banyak potensi yang dapat melemahkan sistem kepartaian dan demokrasi secara keseluruhan. Dominasi partai tengah secara tak langsung melemahkan eksistensi oposisi dan mendorong apatisme politik publik.

Partai tengah

Menjamurnya partai tengah telah dan masih sedang terjadi di sejumlah negara yang demokrasinya sudah berumur, mapan, dan dewasa. Kirchheimer (1966) adalah salah satu ilmuwan politik yang pertama menangkap gejala menjamurnya partai tengah di Eropa Barat dan Amerika.

Kirchheimer melihat dorongan menjadi partai tengah disebabkan oleh perubahan struktur masyarakat yang terjadi pasca-Perang Dunia II. Saat itu muncul segmen mayoritas di kelas menengah; arus sekularisasi pun menguat. Partai politik yang sebelumnya berdiri mewakili kelas tertentu atau agama tertentu pada akhirnya harus memosisikan diri sebagai partai yang bisa mengakomodasi aspirasi pemilih dari lintas kelas ataupun lintas agama untuk sukses meraup suara dalam pemilu. Dalam konteks ini, partai memiliki insentif yang kuat untuk melunakkan atau mengaburkan posisinya agar dapat menjangkau pemilih yang tak lagi memiliki ikatan politik yang kuat dengan kelompok kelas atau kelompok agama tertentu.

Partai tengah memiliki lima ciri utama (Kirchheimer): minimnya kejelasan dan beban ideologi, menguatnya elite partai vis-a-vis anggota partai, menurunnya jumlah dan peran keanggotaan partai, kian bervariasinya pemilih suatu partai dari aspek kelas ataupun agama, dan semakin banyaknya kepentingan eksklusif yang berusaha diwakilkan oleh partai demi kepentingan finansial ataupun elektoral yang berujung pada kontradiksi kebijakan dan kontradiksi program.

Implikasi dari semakin banyak dan dominannya partai tengah ini tak lain adalah mengecilnya jarak ideologis dan diferensiasi kebijakan dan program yang ditawarkan partai. Dengan semakin tak berbedanya partai yang ada, jumlah pemilih yang mengambang semakin banyak, identifikasi dan loyalitas terhadap satu partai menjadi berkurang sebab siapa pun yang terpilih dan muncul menjadi pemenang pemilu tidak memiliki perbedaan yang signifikan terhadap pemilih. Lebih jauh lagi, secara logis hal ini dapat mendorong tingkat partisipasi pemilih yang lebih rendah dalam pemilu.

Dalam konteks ini pula, oposisi menjadi pudar. Landasan menjadi oposisi menghilang mengingat tak ada perbedaan mendasar dalam ideologi, kebijakan, dan program partai. Yang muncul justru oposisi berbasis kepentingan politik semata. Sementara itu, pemilih kesulitan melakukan diferensiasi antarpartai dari aspek rasional, seperti ideologi, kebijakan, dan program. Akhirnya mereka cenderung melihat faktor ketokohan dan primordial di dalam menentukan pilihan partainya.

Partai di Indonesia

Gejala partai tengah pada tingkatan tertentu juga sedang terjadi di Indonesia. Pemilu pertama pasca-Orde Baru ditandai persaingan dua macam partai: partai nasionalis dan partai agamis, yang kebanyakan adalah partai Islam. Dalam dua pemilu selanjutnya pada tahun 2004 dan 2009, partai-partai berebut mengisi spektrum tengah.

Strategi memosisikan diri sebagai partai tengah menjadi laku karena elite politik melihat masyarakat Indonesia kebanyakan tak lagi ada pada posisi ekstrem ideologis mana pun. Terlepas dari tepat atau tidak, persepsi ini mendorong partai bergeser ke tengah dalam spektrum ideologis.

PKS yang semula lantang mendengungkan penegakan syariat Islam mengubah wacananya menjadi partai antikorupsi pada Pemilu 2004. Partai Demokrat yang muncul dalam pemilu 2004 memosisikan diri sebagai partai nasionalis-religius. Begitu pula PDI-P dan Golkar yang tak mau lagi memosisikan diri sebagai partai yang murni nasionalis-sekuler dan memosisikan diri sebagai partai nasionalis-religius. Strategi ini berlanjut di Pemilu 2009. Dapat dikatakan, delapan dari sembilan partai (kecuali) yang memiliki kursi di DPR adalah partai tengah. Bahkan, ke depan strategi ini masih tetap akan dipertahankan oleh partai-partai karena lebih menjanjikan bisa meraup suara yang banyak dalam pemilu.

Munculnya partai tengah ini pada akhirnya menyebabkan semakin dekatnya jarak ideologis partai dan semakin minimnya diferensiasi kebijakan dan program antarpartai. Meski tak bisa dielakkan bahwa partai-partai masih memiliki perbedaan, pandangan bahwa semua partai di Indonesia kurang lebih sama adalah pandangan yang wajar dan dapat diterima secara umum. Maka, tak aneh jika politik pencitraan individu atau tokoh menjadi faktor penting kalau bukan terpenting di dalam meraih kemenangan elektoral.

Gejala oposisi di Indonesia juga menunjukkan pola yang hampir mirip. Artinya, meski oposisi di Indonesia masih eksis, kita dapat melihat secara jelas bahwa karena tiadanya diferensiasi ideologis, kebijakan, dan program yang signifikan antarpartai, keputusan oposisi dan koalisi diambil berdasarkan kepentingan politik semata.

Tak ada alasan yang jelas selain kepentingan yang mengukuhkan posisi partai terhadap pemerintah. Terakhir, apatisme politik di Indonesia juga kian meningkat, seperti tergambarkan dari makin menurunnya tingkat partisipasi dari pemilu ke pemilu dan dalam berbagai pilkada.

Bergesernya partai-partai untuk mengisi spektrum sentris sering dianggap sebagai suatu hal yang positif karena dapat meminimalkan polarisasi yang berpotensi konflik di masyarakat. Namun, polarisasi dan konflik di masyarakat yang dapat disebabkan oleh diferensiasi ideologi partai yang terlalu besar seharusnya tak perlu terlalu dikhawatirkan, terutama jika kita sudah beranggapan bahwa masyarakat kita cukup dewasa dan mapan dalam berdemokrasi.

Justru untuk membangun demokrasi yang sehat di mana rakyat punya pilihan yang bukan sekadar tawaran figur, citra, atau loyalitas tradisional semu, diferensiasi ideologis, kebijakan, dan program antarpartai harus didorong. Partai harus berani memosisikan diri secara jelas dan tak malu-malu dalam spektrum ideologis, kebijakan, dan program serta tak melulu mengambil posisi tengah yang relatif aman.

Sunny Tanuwidjaja Peneliti Departemen Politik dan Hubungan Internasional CSIS

14
Apr
10

Historia : Betawi Kuno, Keraton Kasepuhan, Bansus

Betawi Kuno ala Warung Besan

Dian Anditya Mutiara‘)Dian Anditya Mutiara‘)

Inilah sayur besan yang sudah langka itu. Kini makanan ini tersedia di Warung Besan, Jakarta Timur.
Jumat, 9 April 2010 | 15:29 WIB

KOMPAS.com – Seiring menjamurnya makanan siap saji di kota-kota besar seperti Jakarta, masakan tradisional khas daerah yang notabene masakan tuan rumah tidak serta merta tersingkir. Tak sedikit rumah makan atau warung yang mengusung konsep tradisional tetap diminati pengunjung. Apalagi masakan tradisional tak hanya berfungsi sebagai pengisi perut, melainkan juga simbol budaya.

Bagi masyarakat Betawi, masakan khas daerah tak hanya sebagai pelengkap menu makanan di dapur. Lebih dari itu, masakan betawi  berperan penting dan mengemban simbol tertentu dalam prosesi adat.

Sayur besan, misalnya, disajikan saat acara besanan dan melambangkan penghargaan tertinggi kepada orangtua mempelai. Sayang, menu tersebut mulai langka. Jarang ada warung yang menyediakan menu masakan betawi kuno seperti itu. Kalaupun ada, boleh jadi harganya cukup mahal.

Disebut sayur besan karena sayur ini merupakan menu istimewa atau menu wajib yang disajikan sewaktu orang Betawi melakukan pernikahan alias besanan. Sayur besan ini adalah masakan berkuah santan dengan isi terubuk, kentang, soun, pete dan ebi. Terubuk atau telur tebu merupakan tanaman musiman yang sudah langka.

Tekstur sayur Besan sangat lembut, harum dan renyah. Sayuran ini sangat digemari warga Betawi. Bahkan orang Betawi menjadikan sayur besan sebagai menu makanan saat acara besanan, lantaran rasanya yang lezat dan nikmat. Tapi karena keterbatasan bahan untuk membuatnya, saat ini sayur besan seolah menjadi masakan khas Betawi yang langka.

Namun tidak demikian di Warung Besan. Menu masakan khas Betawi kuno dapat dijumpai di sini, seperti halnya sayur gabus pucung, sayur besan hingga sayur babanci.

Warung yang berlokasi di Jalan Raya Kalimalang No 37, Pondokkelapa, Jakarta Timur, ini siap memanjakan tamu yang ingin mencicipi nikmatnya menu masakan khas Betawi, salah satunya sayur gabus pucung. Menu masakan gabus pucung di Warung Besan asli diolah dari resep bumbu warisan nenek moyang.

Sanawi, pemilik Warung Besan, mengatakan bahwa menu masakan yang ada di Warung Besan merupakan makanan khas daerah Betawi dan Sunda.  “Masakan Sunda dan Betawi lebih khas pada rasa yang manis atau pedas. Kita lebih menajamkan rasa pada setiap masakan. Ini yang tidak ditemui di warung makan khas daerah tertentu di Jakarta,” ujar Sanawi dengan nada bangga.

Rahasia gabus pucung

Sanawi membuka sedikit rahasianya dalam mengolah gabung pucung di warungnya. Membuat sayur pucung gabus memang sedikit ribet karena banyak bumbu yang digunakan. Rempah yang digunakan antara lain, bawang merah, bawang putih, kemiri, cabe merah, jahe, kunyit, dan daun salam. Bumbu-bumbu tersebut kemudian diulek dan ditumis sampai harum kemudian dimasukkan ke dalam air hingga menjadi kuah pucung.

Untuk membuat sayur agar tampak lebih hitam dan pekat, terlebih dulu biji kluwek atau pucung dihancurkan dan diambil isinya. Kemudian biji kluwek tersebut dicampur dengan bumbu masak yang sebelumnya telah ditumis. Kemudian dimasukkan ke dalam air dan direbus sampai mendidih dan menjadi kuah pucung.

Sementara itu potongan ikan gabus yang telah digoreng, dimasukkan ke dalam kuah pucung. Campuran ikan gabus bersama kuah pucung lalu dipanaskan hingga mendidih.  “Untuk mempertahankan keharumannya, biasanya diberikan daun salam utuh ke sayuran yang sedang direbus,” beber Sanawi.

Rasa pucung gabus memang terbilang unik. Perpaduan bumbu dapur membuat rasa masakan ini begitu kuat. Rasa yang gurih, sedikit asin dan pedas, menjadi ciri khas sayur ini sehingga sulit dilupakan oleh siapa pun yang memakannya. Aroma wangi yang keluar dari kuah pucung pun terasa menggugah kita untuk segera menyantapnya.

Gabus pucung akan lebih nikmat jika dimakan bersama lalapan seperti pete, mentimun, kacang panjang dan daun kangkung. Bagi penggemar pedas, sayur pucung gabus juga tak kalah mantapnya jika dihidangkan dengan sambal terasi atau sambal goreng.

Selain menu andalan berupa sayur besan, sayur gabus pucung, di warung ini juga tersedia menu andalan lain seperti, iga bakar super, babat goreng dan gurame terbang. Sebagai compliment, lalapan dan sambal selalu tersedia gratis. Sementara itu, sambal oncom, sambal mangga, sambal nanas adalah adalah sambal favorit pengunjung. Semua jenis masakan di Warung Makan Besan itu bisa dinikmati pengunjung hanya dengan cukup merogoh kocek antara Rp 25.000 – Rp 50.000 per porsi.

Bahan sayur babanci langka

Selain pucung gabus, lanjut Sanawi, masakan Betawi kuno yang sekarang sudah mulai hilang semacam sayur babanci, juga hadir di warung ini. “Kita tahu sayur babanci merupakan sayur kuno khas Betawi yang mulai sulit ditemui lantaran bumbunya yang mulai hilang di pasaran. Tapi kita akan menghadirkan sayur legenda itu di sini,” ungkapnya.

Kelangkaan sayur babanci ini disebabkan bahan-bahan untuk membuat sayur itu sudah sulit ditemukan di Jakarta, seperti temu mangga, kedaung, bangle, adas, dan lempuyang. Sementara untuk kelapa muda, daging kepala sapi, dan santan kelapa, masih bisa ditemukan dengan mudah. Lantaran sulitnya mencari sebagian bahan-bahan tersebut, kini warga Betawi hanya menyajikan sayur itu pada hari-hari besar keagamaan sebagai menu keluarga, seperti buka puasa, Hari Raya Idul Fitri, dan Hari Raya Idul Adha.

Menurut Sanawi, sayur babanci ini mirip gulai, tapi wujudnya sayur. Sebab, meski bersantan kental, namun tetap ada cita rasa berkuah segar seperti sayur. Lantaran ketidakjelasan masuk kategori sayur atau gulai, sayur ini disebut sayur banci, dan pada akhirnya disebut sayur babanci. “Nama babanci diambil dari kata kebanci-bancian. Karena memang tidak jelas rasa dan fisiknya masuk kelompok sayur apa gulai,” tutur Sanawi.

Untuk membuat sayur ini memang butuh keahlian khusus agar penyajiannya betul-betul sempurna. Selain harus memberikan ramuan bumbu yang pas, juga membutuhkan kesabaran dalam pembuatannya. Mulai dari meracik bumbu, memotong-motong daging kepala sapi, mengerok isi kelapa muda, hingga merebus daging kepala sapi itu sendiri.

“Untuk merebus daging kepala sapi saja butuh waktu sekitar empat jam. Soalnya, kalau cuma sebentar dagingnya tidak bisa empuk. Terus untuk mencampurkan isi kelapa muda harus pas, jangan sampai rasa kenyalnya ilang. Belum yang lain-lainnya, jadi butuh kesabaran,” jelasnya.

Warung Besan
Jalan Kalimalang No. 37
Pondok Kelapa
Jakarta Timur

Persahabatan di Keraton Kasepuhan

Dian Anditya Mutiara‘);Dian Anditya Mutiara‘);”Dian Anditya Mutiara‘)

Inilah kereta Singa Barong yang ada di Keraton Kasepuhan. Kereta itu melambangkan persahabatan Cirebon dengan India, China, dan Mesir.
Senin, 12 April 2010 | 17:16 WIB

KOMPAS.com – Salah satu situs bersejarah yang layak dikunjungi di Cirebon adalah dua istana bersaudara, yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Berdasarkan catatan sejarah, ketika Sunan Gunung Jati masih hidup, Cirebon hanya memiliki satu keraton. Namun, setelah ia wafat, keraton berhasil dipecah menjadi dua oleh Belanda.

Memasuki kawasan Keraton Kasepuhan, pengunjung akan disambut sebuah gerbang yang terbuat dari bata merah bertingkat. Bagian depan keraton ini biasanya dinamakan dengan Siti Inggil atau tanah tinggi, yang menghadap langsung ke arah lapangan tempat dulunya pasukan keraton berkumpul setelah melewati Siti Inggil yang berbentuk gerbang dan pagar panjang.

Di Siti Inggil ini ada lima bangunan tanpa dinding beratap sirap, yaitu Mande Pandawa Lima, yang bertiang lima dan melambangkan Rukun Islam, untuk duduk pegawai raja. Kemudian ada Mande Jajar dengan tiang tengah yang berukir sebanyak enam melambangkan Rukun Iman. Seluruhnya ada 20 tiang yang menggambarkan sifat ketuhanan. Digunakan untuk tempat duduk raja saat melihat alun-alun dan bila sedang mengadili terdakwa,

Bangunan lain adalah Mande Semar Tinandu yang bertiang dua, melambangkan Kalimat Syahadat. Berfungsi sebagai tempat duduk penasehat raja. Selanjutnya ada Mande Karesmen yang berfungsi untuk membunyikan Gamelan Sekaton pada tanggal 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah, terakhir adalah Mande Pengiring untuk tempat duduk prajurit pengiring raja dan tempat hakim menyidang terdakwa.

Kejayaan

Tanda-tanda  kejayaan keraton di zamannya bisa dilihat dari banyaknya keramik China dari Dinasti Ming yang ditempelkan pada dinding, mulai gerbang paling depan hingga bagian dalam keraton. “Keramik China melambangkan hubungan Keraton Cirebon dengan China dulunya sangat baik. Bahkan, salah satu istri Sunan Gunung Jati adalah putri China,” kata pemandu di Keraton Kasepuhan, Sugiman.

Ia menjelaskan, Keraton Kasepuhan dibangun 1529 sebagai perluasan dari keraton tertua di Cirebon, Pakungwati. Keraton itu dibangun oleh Pangeran Cakrabuana yang juga pendiri Cirebon pada 1445. Kejayaan keraton ini juga terlihat dari keberadaan sebuah bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang ada dalam kompleks Keraton Kasepuhan. Masjid itu dibangun 1549.

Teknologi

Di sebelah timur Taman Bunderan Dewan Daru berdiri bangunan untuk tempat penyimpanan kereta pusaka yang dinamai Kereta Singa Barong. Kereta ini dibuat pada tahun 1549 atas prakarsa Panembahan Pakungwati I.

Bentuknya, mengambil pola mahluk prabangsa. Kereta ini merupakan perwujudan dari tiga binatang menjadi satu, yaitu belalai gajah melambangkan persahabatan dengan India yang beragama Hindu;  kepala naga melambangkan persahabatan dengan China yang beragama Budha; sedangkan sayap dan badan mengambil dari buroq melambangkan persahabatan dengan Mesir  yang beragama Islam. “Dari ketiga kebudayaan itu digambarkan dengan Tri Sula yang berarti tajamnya alam pikiran manusia,” ujar Sugiman.

Kereta ini dahulunya digunakan untuk upacara kirab keliling Kota Cirebon setiap tanggap 1 Syura dengan ditarik oleh empat ekor kerbau bule. Tapi sejak 1942, kereta ini tidak dipergunakan lagi dan hanya dikeluarkan tiap 1 Syawal untuk dimandikan. “Kereta kencana Singa Barong ini telah memiliki teknologi yang menarik, seperti jari-jari roda dibuat melengkung ke dalam agar air dan kotoran tidak masuk ke dalam kereta,” jelasnya.
Warta Kota Dian Anditya M

Bansus, ‘Penghangat’ Kota Bogor

DA Mutiara DA Mutiara

Inilah bansus dari Kota Bogor, bandrek dan susu, itu bsia dihidangkan panas maupun dingin.
Selasa, 13 April 2010 | 09:56 WIB

KOMPAS.com – Dinginnya malam di Kota Bogor membuat perut minta diisi dengan minuman dan makanan yang hangat. Di tengah dingin malam, segelas bandrek susu hangat ditambah dengan bubur ayam cocok untuk mengganjal perut yang mulai keroncongan.

Selain Tugu Kujang dan angkotnya yang banyak, nama Air Mancur cukup tersohor di Kota Bogor. Sama halnya dengan Jalan Pajajaran dan Taman Kencana. Air Mancur yang terletak di Jalan Sudirman punya tempat yang menarik yang bisa dikunjungi khususnya tempat yang menjajakan aneka macam makanan.

Bisa dikatakan kawasan Air Mancur ini mirip dengan Bundaran HI di Jakarta. Yang membedakan, selain ukuran, Bundaran Air Mancur Bogor merupakan taman yang setiap hari digunakan ribuan warga Bogor, bahkan juga orang dari Jakarta untuk bersantai dari sore hingga larut malam. Umumnya kaum muda.

Suasana di Bundaran Air Mancur Bogor sangat hidup dan semarak karena tempat yang menjajakan makanan di lokasi tersebut buka hingga dini hari. Jumat malam dan Sabtu tempat tersebut menjadi lautan manusia dari berbagai kalangan. Ada kelompok motor, kelompok mobil, pencinta musik dan lainnya. Mereka berbaur melewatkan malam panjang.

Satu minuman yang paling khas di kawasan Air Mancur adalah bandrek susu (bansus). Bisa dikatakan belum pas dan puas jika ke tempat itu tanpa meneguk minuman penghangat yang dikenal sebagai bansus Air Mancur itu.

Bisa dibilang, bandrek masih satu keluarga dengan bajigur. Hal yang membedakan adalah bahan dasarnya. Bandrek berupa campuran minuman yang terbuat dari sari jahe dan rempah-rempah sehingga beraroma pedas dan hangat. Biasanya disajikan selagi panas. Penambahan susu pada bandrek menjadikan rasa pedas bandrek sedikit berkurang, diganti dengan gurihnya susu. Namun ada juga yang lebih suka ditambah es batu sehingga jadilah bansus dingin.

Sebagai pelengkap bansus, jajanan tenda di Air Mancur juga menyediakan aneka jenis panganan khas Bogor yang menggoda selera seperti lupis, ketan kukus, buras, dan aneka macam gorengan yang dilengkapi dengan sambal kacang. Aneka kue ini dijual dengan harga Rp 700 sedangkan untuk lupis dibanderol Rp 1.000.

Berhubung bentuknya warung tenda, dengan tempat duduk seadanya,  maka kalau pengunjung sedang ramai, mereka harus rela antre untuk mendapat giliran. Harus siap untuk duduk berdesak-desakan pula.

Suhemi (70), salah satu penjual aneka gorengan dan bansus, sudah berjualan di kawasan tersebut sejak 1967. Menurutnya, sejak dahulu almarhum Mang Ukar – suaminya –  berjualan di lokasi yang sama dengan berbagai gorengan, rokok, kopi, teh, bandrek.

“Dulu Bapak malah dagangnya dipikul dan keliling, dan terakhir dia mangkal di Air Mancur. Saya yang biasa menyiapkan kue-kuenya,” ujar nenek dari 10 cucu ini.

Sekarang, perempuan yang kerap disapa mamih bandrek ini hanya sesekali datang ke warung yang diteruskan oleh ketiga anaknya. Selain menu biasa, sekarang warung ini juga menambah menu sate kikil yang biasa disantap dengan buras. Untuk yang memasak seluruh makanan dilakukan keluarganya secara bergotong royong.

“Yang penting kita harus tekun dalam menjalankan usaha seperti ini. Meski hasilnya juga enggak seberapa. Alhamdulillah bisa menghidupi keluarga,” katanya sambil tersenyum.

Bubur ayam juga ada

Selain bansus, ada juga pedagang yang melengkapi warung dengan berjualan bubur ayam. Tidak sedikit warga Bogor , bahkan dari luar Bogor, yang  ‘kecanduan’ bubur ayam Abah Ujang. Seporsi bubur ayam hanya Rp 7.000. Dilengkapi pula dengan aneka sate, mulai dari sate ati ampela, usus, jantung, telur puyuh hingga kikil yang dijual seharga Rp 1.500 per tusuk.

Abah Ujang mengaku sudah berjualan di kawasan tersebut pada tahun 1978. Namun awalnya hanya berjualan jamu dan bansus saja. Kemudian baru pada tahun 1998 menambahkan dengan bubur ayam.

“Waktu itu pas krisis ekonomi, jadi jualan jamu saja tidak cukup. Akhirnya terpikirkan untuk membuat bubur ayam, lumayanlah untuk menambah penghasilan,” ujarnya.

Dibantu sang istri, setiap hari Ujang memasak lima liter beras untuk dijadikan bubur ayam. Tetapi pada akhir pekan bisa masak hingga 14 liter beras. Sedangkan sate jeroan ayam dan kikil dipersiapkan sejak pagi hari, karena untuk mendapatkan rasa yang empuk harus direbus dahulu kurang lebih satu jam.

Menurutnya, yang paling lama mengolah sate usus karena harus terlebih dahulu dibersihkan kotorannya.  “Untuk usus ini prosesnya memakan waktu 1,5 jam,” Ujang menjelaskan.

Sedangkan untuk bandrek, Abah Ujang mengaku meracik sendiri bubuknya. Bandrek ala Abah Ujang ini terdiri dari campuran jahe, kayu manis, gula merah, gula putih dan susu kental manis. Segelas bansus panas dijual seharga Rp 3.500, sedangkan bansus dingin Rp 4.000.

Rata-rata pedagang bansus itu mulai menggelar dagangan pukul 16.00 hingga pukul 04.00. Kehadiran mereka sangat menolong bagi mereka yang sedang bertugas di malam hari atau buat mereka yang doyan melek hingga dini hari dan mencari sesuatu untuk menghangatkan badan.

Martabak legit

Kawasan Air Mancur Bogor tak hanya menyediakan bansus dan  bubur ayam. Tak jauh dari kedua warung tenda tersebut di atas,  sekitar 40 langkah dari tenda Bubur Ayam Abah Ujang atau sekitar 15 meter dari tenda bansus, pengunjung bisa menikmati Martabak Air Mancur. Tidak seperti dua warung tenda tadi, warung martabak ini permanen. Pengunjung tidak perlu berdesak-desakan duduk di kursi kayu atau antre berdiri. Banyak tempat tersedia. Baik di luar maupun di dalam ruangan yang ber-AC.

Dengan nyaman pengunjung bisa memilih dari 12 rasa martabak. Martabak Air Mancur ini memang cukup terkenal, apalagi rasa keju, coklat dan kacang yang tebal dan legit. Banyak yang memborong untuk dibawa jadi oleh-oleh. Harga mulai Rp 25.000.

Warta Kota Dian Anditya M




Blog Stats

  • 2,006,517 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers