15
Mar
10

PEPORA : Petition of Pancasila to President Barrack Obama

Berikan Dukungan Anda melalui Petition Online sebagai berikut

http://www.petitiononline.com/cgi-bin/create_petition.cgi?petisi45

Petition of PANCASILA to President Barrack Obama

Most happiness for us, the nation of Indonesia, that one of the former citizen of Jakarta, Indonesia, has been elected successfully as the President of the United States of America, and would be most happiness for all the nations of the world if PANCASILA as the essentials of the civilization of Indonesia since the continent of Atlantis thousands years ago which then always becomes the torch for the tenet of the mother of civilization towards peacefull of the world living societies that specified by Believe in God, Humanity, Nationalism, Democracy, Social Justice, as stating by one of our greatest leader, President Soekarno in the 15th General Assembly of the United Nations on September 30th, 1960, titled as To Build The World Anew.

Those five principles of the State of Indonesia are recoqnized can be pressed as TRISILA or three principles, which is specified as Believe in God, Socio Nationalism and Socio Democracy, which is specified further as EKASILA or GOTONG ROYONG or Cooperationship, which is most dynamically than brotherhood and fraternally.

Indeed we understand that the situation and conditions of Cold War that time was driven by the political of imperialism and colonialism thru occupation based on the superiority of military power which is still being relevant and therefore requiring beware of today and future development, moreover in the post Cold War which is indentified much more sophisticated by the driving of political of newly occupation based on economic power.

It is our deep understanding that President Soekarno was stating that time that political of imperialism and colonialism were not relevant anymore to develop, considering the history of the rising independency and the sovereignty of the emerging forces of the third world of nation states since year 1945, are for the development of the world anew towards better worldwide balance of power, considering the increasing of revolution of demands and not the increasing of revolution of hopes.

Therefore, we deeply recommend to the President of the United States of America, as one of the world leader today to sustain PANCASILA towards opening keep away the road to the only disuse of arm in the heart of human being, to destroy distrust, hasty and greedy, towards truth and welfare of body and soul, and strengthening the resiliency of nation states all over the world.

Jakarta, February 13th, 2010

GARDA PANCASILA INDONESIA / GAPI

(The Indonesian Guard of PANCASILA),

(1) Pandji R Hadinoto, (2) Soenardi, (3) Yanti, (4) Yusweri, (5) Yasman Anas, (6) Yahman Romli, (7) Kartono Tohpati, (8) Ikhsan Sudaryanto, (9) Permadi.

AS Punya 4 Dosa Besar, Obama Ditolak Ormas
lokasi: Home / Berita / Nasional / [sumber: Jakartapress.com]

Senin, 15/03/2010 | 07:41 WIB AS Punya 4 Dosa Besar, Obama Ditolak Ormas

Jakarta – Kalangan organisasi kemasyarakatan (ormas)/LSM menolak rencana kedatangan Presiden Amerika Serika (AS) Barack Obama pada 22 Maret 2010. Petisi 28, HMI-MPO dan Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND) menyuarakan penolakan terhadap Obama dalam dialog danm konsolidasi di Doekoen Coffee, Pancoran, Jakarta, Minggu (14/03/2010).

Mereka sepakat dalam semua pemaparan melihat Amerika sebagai kapitalis yang mulai perjuangan bangsa Indonesia melakukan praktek imperalisme dan kolonialisme. Selain itu, Obama dituntut memutihkan semua utang Indonesia di Bank Dunia yang sahamnya dikuasai Amerika. “Kami menuntut kepada Obama untuk membebaskan Indonesia dari segala ikatan utang terhadap Bank Dunia,” ungkap Salahudin Daeng, wakil Petisi 28.

“Kami juga menuntut Nasionalisasi perusahaan-perusahaan Asing (Amerika) di Indonesia,” seru Ketua LMND, Lalu Hilman Afriandi. “Bila tuntutan ini dikabulkan Obama, kami siap menerimanya datang ke Indonesia dengan baik,” tambah Salahudin.

Kalangan ormas beralasan, penolakan kedatangan Obama ke Indonesia, setidaknya terdapat empat dosa besar. “Minimal ada empat, dosa imperalisme AS kepada Indonesia. Pertama, dosa penghancuran ideologi. Kedua, dosa sejarah. Ketiga, dosa ekonomi. Dan keempat, dosa kemanusiaan,” ungkap Salahudin Daeng, aktivis Institute Global Justice.

Dosa besar Obama yang dimaksud, menurut Salahudin, pertama adalah dalam waktu yang cukup lama, telah terjadi upaya pencucian otak yang dilakukan Amerika Serikat terhadap para elit ekonomi dan politik Indonesia. Akibatnya, saat ini yang terjadi pemerintah Indonesia jadi harus mau mengikuti ideologi kapitalisme dan neoliberal Amerika.

Kedua, dosa sejarah. Selama ini, sudah terbukti bahwa Amerika telah mendompleng penjajahan Belanda untuk menanamkan perusahaan-perusahaan mereka di Indonesia.

Dosa ketiga, proyek pinjaman oleh IMF dan World Bank yang tujuannya hanya untuk membuat Indonesia terus berutang kepada lembaga donor itu. Sehinga, ekonomi Indonesia menjadi porakporanda. ”Sebaliknya ekonomi mereka lebih mendominasi,” bebernya. (*/ira)

Suara Pembaruan

2010-03-15Krisis Janji Dua Presiden

Oleh : Christianto Wibisono

Prof Bill Liddle menulis dalam Kompas tentang dua presiden dalam krisis domestik yang sama-sama memerlukan terobosan satu foreign policy performance untuk memulihkan citra yang kedodoran. Presiden Obama kehilangan kharismanya karena janji kampanye untuk merombak sistem jaminan kesehatan (health care reform) macet, justru karena 38 anggota Kongres Demokrat tidak mendukung walaupun telah diadakan Summit sehari penuh untuk menjinakkan mereka.
Dalam politik luar negeri, Obama juga dianggap gagal dalam pendekatan dengan dunia Islam. Unsur garis keras Israel malah melecehkan kehadiran Wapres Joe Biden di Israel untuk mengumumkan pemukiman baru Israel di wilayah Palestina. Karena itu, juru bicara Gedung Putih menyatakan bahwa kunjungan Obama bukan suatu hura-hura nostalgia pribadi dan keluarga. Istri dan dua putri Obama batal ikut dalam kunjungan yang juga ditunda untuk mengikuti voting health care, Kamis 18 Maret.
Sebetulnya, siapa membutuhkan siapa. SBY butuh restu Obama untuk menghadapi politik domestik kegagalan koalisi, atau Obama butuh SBY untuk membuktikan bahwa setelah pidato di Kairo yang kurang gereget, maka dia akan pidato di Jakarta sebagai the largest Moslem democracy untuk membuktikan pendekatan ke dunia Muslim sukses.
Nuansa diplomatik seperti ini hanya bisa dirasakan oleh diplomat dan pengamat kawakan senior yang telah makan asam garam hubungan bilateral AS Indonesia. Pro dan kontra kunjungan Obama justru diramaikan oleh minoritas yang tidak menghendaki adanya koalisi AS-Indonesia dan suksesnya KTT Obama-SBY. Padahal, bila mainstream di kedua negara bisa berpikir jernih dan bijaksana, maka poros Jakarta-Washington ini adalah satu satunya jalan keluar dari kemelut Timur Tengah.
Setelah pengakuan Robert Gibbs bahwa pidato di Kairo kurang memperoleh respons, sehingga AS tetap harus mengirim tambahan pasukan ke Afghanistan yang tidak membedakan Obama dari Bush. Maka Obama memutuskan untuk berpidato di Jakarta, the largest Moslem democracy. Sebab, Cairo is not democratic Moslem capital, Kairo masih dikuasai rezim otoriter Mubarak yang mau membuat dinasti dengan putranya mirip dinasti ateis Kim ilsung Kim Jongil di Korea Utara. Jadi, Jakarta sebagai capital of the largest Moslem democracy oleh Obama mau dipakai sebagai platform untuk mendongkrak popularitasnya.
Kelihaian Jakarta, yang memerlukan koordinasi dan sinergi antara Merdeka Utara dan Senayan untuk bisa menghadapi Obama secara cerdas, cerdik, cermat, dan bermanfaat. Dalam setiap diplomasi yang nilainya strategic dan comprehensive maka ada quid pro quo yang mencerminkan mutual benefactory serta mutual dependency. Sejarah hubungan Indonesia-AS terus memperlihatkan “kenaifan” kita dalam diplomasi, sehingga kita mengobral dan mengorbankan dengan harga murah, suatu gejolak geopolitik yang tidak memberi manfaat optimal bagi bangsa kita, tetapi dinikmati secara “gratisan”, murah meriah justru oleh raksasa superpower seperti AS.
AS ini mirip Soeharto yang merasa sejak Perang Dunia II berhasil mengamankan dunia dari ancaman komunisme dan karena itu setelah sukses membiayai kebangkitan Eropa dan Jepang setelah perang Dunia II, merasa berhak menikmati posisi sebagai “polisi dunia” dengan pelbagai atribut dan fasilitasnya.
Perang Dingin yang timbul setelah Uni Soviet menolak Marshall Plan dan menjadi penentang AS, telah memberi rezeki pada mantan pecundang dan bekas musuh seperti Jerman dan Jepang. AS membantu kedua negara itu all out untuk membendung komunisme. Keduanya menikmati gelontoran dana itu untuk membangun kembali ekonomi kedua negara. Perang Korea juga member dampak positif berupa dana logistik yang mengalirkan dana ke Jepang. Kemudian, pada Perang Vietnam, giliran Korea menikmati dampak logistik Perang Korea.
Sementara Indonesia dengan “gratisan” malah langsung menjadi sekutu AS dengan membubarkan dan menghancurkan PKI, Partai Komunis ketiga terbesar sedunia. Sekarang, dalam perang teror yang secara fisik militer gagal dan memerlukan perang propaganda, perang opini publik dan terobosan perdamaian Israel-Palestina sebagai akar dan kunci penyelesaian agenda terorisme seluruh dunia, maka peranan sejarah yang positif pro aktif ini dibuka untuk Presiden Obama yang pernah tinggal di Indonesia dan Presiden Yudhoyono, menantu dari sang penghancur komunisme secara “gratis” tahun 1965.
Dalam perang teror ini, AS harus mengeluarkan dana triliunan dolar selain di front militer juga di front propaganda yang kedodoran dan mengalami keterpurukan citra yang akan dibangkitkan oleh Obama. Dalam perang melawan terorisme ini, jalan keluar paling tuntas adalah penyelesaian Israel-Palestina sehingga tidak ada alasan secuil pun lagi dari teroris untuk berjihad. Jika Israel dan Palestina sudah berdamai, maka tidak ada lagi dalih untuk melakukan teror di seluruh dunia. Ini adalah suatu target dan kinerja politik luar biasa.

Perdamaian Israel-Palestina
Kalau untuk perang militer Afghanistan, AS harus membayar ke Pakistan miliaran dolar. Untuk mendemokratisasikan Irak, AS perlu triliunan dolar dan juga untuk perang propaganda memerlukan miliaran dolar. Pidato Kairo gagal direspons karena memang tidak ada follow up perdamaian Israel-Palestina. Maka momentum Obama-SBY harus dijadikan kronos einmalig, satu peluang sejarah yang jarang dan tidak terulang dalam ratusan, bahkan ribuan tahun. Jika Obama-SBY bisa menyatakan, Bali siap sebagai tuan rumah Konferensi Perdamaian Israel-Palestina bulan Juni 2010, maka secara tangible bisa disetujui paket bernilai paling sedikit US$ 40 miliar. Seluruh utang Pemerintah RI kepada AS, yaitu US$ 20 miliar akan lunas, dan pada saat yang sama AS menghibahkan kembali seluruh pelunasan utang itu ditambah komitmen investasi dalam jumlah setara.
Itu dividen bagi tuan rumah perdamaian, sedangkan nilai perdamaian itu sendiri tentu jauh lebih besar dari sekadar US$ 40 miliar, karena setelah itu jika Timur Tengah damai tanpa konflik dan perang, maka Timur Tengah dengan energi minyak Arab dan kapabilitas teknologi Israel benar-benar akan menjadi tanah perjanjian untuk semua keturunan Abraham. Dunia tentu saja akan bersih dari terorisme yang tidak punya alasan lagi untuk membunuhi orang hanya karena sepupu keturunan Abraham cekcok dan berkelahi. Pendamainya adalah turunan pendiri Borobudur, Susilo Bambang Yudhoyono dan Barack Hussein Obama, yang memang tidak berdarah Indonesia, tapi mengalami hidup dalam “feng shui” Indonesia
Keduanya mampu menjadi jembatan terobosan Muslim-Kristen, kulit berwarna-kulit putih. Inilah agenda utopia yang saya ikuti denyutnya di Washington DC antara 23 Februari-2 Maret. Tapi, agenda utopia ini barangkali tidak akan pernah terwujud jika para birokrat dan diplomat AS dan RI tidak melakukan terobosan Sukarno-Kennedy , Soeharto-Clinton atau Mao Zedong-Nixon. Tidak mungkin terjadi bila pendekatan diplomasinya adalah rutin birokrat business as usual. KTT Obama-SBY barangkali hanya akan berakhir dengan perjanjian sekadarnya, bukan terobosan geopolitik apalagi mau mengalahkan pidato Kairo. Bill Liddle benar bahwa dua presiden dalam krisis, sulit memenuhi janji kampanye.

Penulis adalah Pendiri dan Ketua Global Nexus Institute (lembaga kajian dampak perubahan geopolitik bagi Indonesia)

HNW: Obama Terapkan Standar Ganda

lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]

Minggu, 14/03/2010 | 23:06 WIB HNW: Obama Terapkan Standar Ganda

Solo – Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nurwahid (HNW) berpendapat, sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama tidak berbeda dengan Presiden AS lainnya. Obama juga menerapkan tandar ganda dalam beberapa kebijakannya. HNW mencontohkan, persoalan nuklir di Israel, Obama tidak bersikap dan Obama belum menarik pasukannya di Irak. “Itu menunjukkan sikap mendua Obama,” kata HNW ketika berkunjung di salah satu rumah makan di Solo, Minggu (14/3).

Sebelumnya, Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq menyatakan, PKS mendukung kehadiran Presiden AS Barack Obama ke Indonesia. “Kehadirannya sebagai tamu negara. Kita welcome. Kita pun mendukung saling kesepahaman antara Indonesia dan AS, untuk menuju Indonesia yang lebih baik,” tandasnya di Bandarlampung, Minggu (14/3).

Berkaitan dengan rencana kunjungan Obama di Indonesia pada 21 Maret 2010 mendatang, HNW meminta pemerintah untuk memposisikan Obama seperti kepala-kepla Negara yang lain. “Jangan sampai terjadi lagi saat George W Bush datang ke Indonesia. Kendali keamananan dilakukan oleh AS. Sampai-sampai alat detector saja dari Amerika,” kata HNW yang kini menjadi anggota Komisi I DPR RI dari PKS.

NHW melihat kunjungan Obama ini sebagai bentuk memenuhi janji Obama bahwa Indonesia adalah mitra yang strategis. Hal kecil dipenuhi oleh Obama, apalagi untuk hal besar,” ujar mantan Ketua MPR ini.

Soal Terorisme

Sementara itu menyangkut aksi terorisme di Nangroe Aceh Darussalam, HNW mempertanyakan, mengapa baru sekarang teroris di Aceh diberantas, kok menjelang kedatangan Obama,?

Menurut HNW, pemerintah sebenarnya sudah mengetahui bahwa teroris berlatih di Aceh. “Fakta yang muncul bersamaan itu seolah-olah operasi yang dilakukan oleh aparat polisi sebagai operasi ‘pesanan’ dan pelaporan dengan pihak asing. Dan itu dinyatakan juga oleh Gubernur Aceh. Mengapa tidak dari dulu-dulu.” Ujar HNW.

Namun HNW berharap, analisa semacam itu tidak benar, tapi memang operasi yang murni dilakukan untuk menumpas terorisme. “Apapun yang terjadi teroris memang harus dihilangkan. Dalam pemberantasan terorisme, tak cukup hanya mengandalkan dengan operasi-operasi semacam itu. Operasi yang dilakukan itu hanya salah satu cara. Yang lebih penting adalah melawan ideologi yang radikal dengan satu pendekatan persuasif,” paparnya. (Py)

PKS Terima Obama, Amien Tolak Kedatangannya

lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]

Minggu, 14/03/2010 | 22:31 WIB

PKS Menerima Obama, Amien Tolak Kedatangannya
OLEH: ARIEF TURATNO

BANYAK orang bertanya-tanya tentang sikap controversial dari para politisi kita berkaitan dengan rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Husein Obama ke Indonesia. Misalnya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah partai yang selama ini dinilai konsisten memperjuangkan Islam dan tidak jarang demi membela hak-hak rakyat Palestina, partai tersebut berdemo terhadap Israel dan AS. Namun yang mengherankan dalam kunjungan Presiden Obama Maret ini, PKS menerima, sebaliknya mantan Ketua Umum DPP PAN, Amien Rais malah menolak. Pertanyaan dan persoalannya adalah ada apa dengan sikap-sikap yang membingungkan semacam itu?

Seperti diberitakan, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaq menyatakan, PKS mendukung kehadiran Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama ke Indonesia. “Kehadirannya sebagai tamu negara. Kita welcome. Kita pun mendukung saling kesepahaman antara Indonesia dan AS, untuk menuju Indonesia yang lebih baik,” tandasnya di kantor DPW PKS di Bandarlampung, Minggu (14/3).

Sebelumnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Samsuddin menyatakan pihaknya menyambut kedatangan Presiden Obama. Namun, tidak lama setelah pernyataan Din, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang juga mantan Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais menyatakan menolak kedatangan Obama. Ada beberapa alasan, mengapa Amien menolak Presiden AS berkulit hitam tersebut, antara lain karena sikap Obama terhadap dunia Islam tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya. Obama dinilai Amien tetap meneruskan kebijakan Presiden AS pendahulunya yang  banyak merugikan umat Islam dunia.

Pertanyaannya adalah apakah sikap Amien tersebut tulus, lahir batin menyuarakan kepentngan nuraninya ataukah tidak? Terus terang, kita susah  menjawabnya. Sebab ada beberapa hal yang kita patut pertanyakan dari sikap Amien tersebut, antara lain mengapa sikapnya itu tidak didukung oleh partai yang pernah didirikannya, yakni PAN? Sebab Ketua Umum DPP PAN Hatta Radjasa menyatakan menyambut baik kedatangan Obama. Juga mengapa sikap Amien  sepertinya tidak berbekas di PP Muhammadiyah, karena organisasi tersebut menyatakan menerima kedatangan orang nomor satu AS itu. Lantas politik apa yang sedang dimainkan Amien?

Sebagai politisi kawakan, Amien nampaknya paham betul sikap apa yang harus diambil berkaitan momentum kedatangan Obama. Dia tahu betul bahwa partai yang didirikannya tersebut dalam keadaan kritis, setelah PAN mengambil sikap mendukung Partai Demokrat dalam kasus bail out Bank Century. Karena sikap yang dianggap tidak pro rakyat itulah, maka banyak pengamat menilai PAN bakal hancur alias ditinggalkan konstituennya pada Pemilu 2014. Dan PAN pun dinilai Amien tidak mampu mengambil simpati public berkaitan dengan kedatangan Obama ke Jakarta. Karena itulah Amien bergerak “sendiri” menyatakan menolak kedatangan Presiden AS itu. Dengan asumsi, akan ada banyak simpatisan PAN yang melihat sikapnya tersebut, dan suatu ketika mau kembali kepada partai bilamana dibutuhkan.

Sementara PKS mesti mengambil keputusan yang cerdas berkaitan dengan kunjungan Obama. Hal itu harus mereka lakukan untuk menghilangkan kesan bahwa PKS identik dengan Taliban. Oleh karena itu PKS senang atau tidak, mau atau tidak, harus menyatakan menerima Obama. Karena itu kita pun tidak perlu heran, jika PKS menerima kunjungan Obama ke Indonesia. Sikap semacam itu dari tinjauan politik dapat dibenarkan. Meskipun barangkali cukup mengecewakan bagi publik yang menerima dan memahami politik secara hitam putih. (*)

HTI: Obama Kokohkan Kapitalis AS di Indonesia

lokasi: Home / Berita / Nasional / [sumber: Jakartapress.com]

Minggu, 14/03/2010 | 20:32 WIB HTI: Obama Kokohkan Kapitalis AS di Indonesia

Surabaya – Rencana kedatangan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama dinilai bukan sekedar ingin kunjungan biasa. Ada agenda penting yang perlu diwaspadai oleh seluruh komponen bangsa Indonesia. Salah satu agenda itu adalah kepentingan politik dan ekonomi untuk mengokohkan kapitalisme Amerika di Indonesia.

“Itu kunjungan yang punya kepentingan politik dan ekonomi yang diusung oleh Obama. Tidak mungkin seorang Presiden mengunjungi negara lain, jika tanpa kepentingan,” kata Ketua DPD Hizbur Tahrir Indonesia (HTI) Jawa Timur, Khoiri Sulaiman di sela-sela unjuk rasa massa HTI di Kantor Konjen Amerika Serikat Jl Dr Soetomo Surabaya, Minggu (14/3).

Menurutnya, kedatangan Obama ke Indonesia, jelas bukan untuk nostalgia, karena pernah tinggal Jakarta. Juga bukan melakukan kerja sama yang menguntungkan Indonesia. Obama datang ke Indonesia hanya untuk mengokohkan dominasi ekonomi dan politik AS di Indonesia.

Kepentingan tersebut didasari Indonesia merupakan negara yang kaya sumberdaya alam khususnya energi. “Setelah mengambil paksa negara muslim yang kaya dengan sumber energi, seperti Irak, Palestina dan Afghanistan, kini Amerika ingin mengeruk kekayaan Indonesia,” tuturnya.

Oleh karena itu, pihaknya menyerukan seluruh ormas, orpol, dan kaum muslimin secara serentak menolak kedatangan Obama. “Siapapun presidennya yang menyakit kaum muslimin di negara manapun, wajib ditolak. Tak terkecuali Obama,” tegasnya.

Demo penolakan rencana kedatangan Obama ke Indonesia ini kali kedua terjadi di Surabaya. Sebelumnya aksi serupa digelar mahasiswa yang tergabung dalam Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) Surabaya di depan Kantor Konjen AS.

Hanya bedanya, jumlah massa HTI yang demo jauh lebih besar, yakni lebih dari 1000 orang. Dalam aksinya, massa HTI yang berpakaian serba putih dan ikat kepala warna kuning itu membawa spanaduk besar bertuliskan “Obama The Real Terrorist, Tolak Obama-Presiden Negara Penjajah”.

Mereka juga menggelar teatrikal yang menggambarkan tentang kepentingan AS yang ditanamkan di Indonesia melalui perusahaan-perusahaan besarnya seperti Freeport dan Exxon Mobile. Adegan-adegan teatrikal yang ditontonkan mengundang tawa para wartawan dan fotografer.

“Demo ini akan terus kami lakukan sampai Obama batal berkunjung ke Indonesia. Bahkan, di Jatim ada seribu umat Islam yang menentang Obama ke Indonesia. Mereka tidak rela Indonesia dijadikan sapi perah Amerika,” kata Ismail Yusanto dalam orasinya.

Demo massa HTI ini sempat membuat macet arus lalu lintas di sepanjang Jl Raya Darmo. Ini karena polisi menutup Jl Dr Soetomo. Polisi sengaja menutup Jl Dr Soetomo, karena tidak ingin massa HTI merengsek mendekati kantor Konjen AS yang berada sekitar 25 meter dari mulut Jl Dr Soetomo. (Mb)

Keterangan foto: Ribuan Massa HTI demo menolak kedatangan Presiden AS Obama, karena punya agenda politik dan ekonomi untuk kepentingan kapitalisme AS di Indonesia.

AKSI PROTES
Hizbut Tahir Unjuk Rasa, Tolak Kedatangan Obama

Senin, 15 Maret 2010 | 03:26 WIB

Yogyakarta, kompas – Ribuan umat Muslim yang tergabung dalam Hizbut Tahir Indonesia, Minggu (14/3), berunjuk rasa di berbagai kota di Indonesia, menolak kedatangan Presiden AS Barack Obama.

Gelombang unjuk rasa tidak hanya terjadi di Jakarta, kota yang kemungkinan bakal disinggahi Presiden AS ini, tetapi juga di Makassar (Sulawesi Selatan), Banjarmasin (Kalimantan Selatan), kota-kota di Jawa Tengah seperti Tegal, Brebes, dan Pemalang, serta kota yang disebut bakal batal disinggahi, yakni Yogyakarta.

Sebagian besar dari mereka berunjuk rasa dengan berjalan kaki, bahkan ada yang membawa serta anak-anak.

”Ini hanya memberitahukan saja bahwa tidak semua orang Indonesia setuju Obama datang ke Indonesia,” ungkap Haniv Umar, pengunjuk rasa di Tegal yang juga Humas DPD II Hizbut Tahir Tegal.

Penolakan terhadap kedatangan Obama, kata Rasyid Supriyadi—pengunjuk rasa di Yogyakarta yang juga Ketua I DPD DIY—bukan karena pribadinya, tetapi karena statusnya sebagai Presiden Amerika Serikat, yang ia nilai sebagai presiden sebuah negara yang paling bertanggung jawab terhadap agresi militer di sejumlah negara yang berpenduduk Muslim, seperti Irak dan Afganistan.

Fakta bahwa Presiden AS ini pernah menghabiskan masa kecilnya selama beberapa tahun di Jakarta juga tak menyurutkan aksi protes kalangan Hizbut Tahir ini.

”Sebagai kepala negara, Obama mewakili segala kebijakan AS. Kami hanya berharap pemerintah (RI) mendengarkan aspirasi HTI ini,” ungkap Hasanuddin Rasyid, pengunjuk rasa di Makassar yang juga Humas HTI Sulsel.

Fakta bahwa riwayat hidup Obama yang nenek moyangnya beragama Islam pun, menurut HTI, tidak bisa dijadikan dasar untuk ”mengistimewakan yang bersangkutan”, ungkap HTI Kalimantan Selatan.

Selain berorasi dan menggelar poster, para pengunjuk rasa di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ini juga memasang spanduk warna putih guna pengumpulan tanda tangan sebagai dukungan terhadap aksi penolakan terhadap Obama.

”Sebagai Presiden AS, tangan Obama ibarat ikut berlumur darah,” ujar pengunjuk rasa Banjarmasin, Abdul Wahab, yang juga Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Selain mengelilingi Masjid Raya Sabilal Muhtadin di Banjarmasin, para pengunjuk rasa juga melakukan long march berkonvoi di pelosok kota. Namun, seperti juga di tempat lain, tak ada aksi perusakan pada unjuk rasa di Kalsel ini. (yop/wer/nta/riz/wie)

AP PHOTO/TARA TODRAS-WHITEHILL
Seorang demonstran Palestina memegang poster protes terhadap pembangunan pagar serta permukiman baru Yahudi di desa Beit Jalla, Tepi Barat, dekat Betlehem, Minggu (14/3). Keputusan Israel untuk membangun 1.600 permukiman baru Yahudi di Jerusalem Timur memancing amarah banyak pihak.

Obama Merasa Ditikam Israel
Israel Dikritik Tajam AS, Rusia, Uni Eropa, dan PBB

Senin, 15 Maret 2010 | 04:42 WIB

Kairo, Kompas – Rencana Israel membangun 1.600 unit rumah baru di Jerusalem Timur benar-benar membuat banyak pihak naik pitam. Menlu AS Hillary Clinton, Jumat, bahkan bersitegang melalui telepon dengan PM Israel Benjamin Netanyahu selama 43 menit mengenai soal ini.

Kemarahan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS itu memaksa Netanyahu hari Sabtu (13/3) menginstruksikan melakukan penyidikan atas keputusan Mendagri Israel mengumumkan rencana pembangunan 1.600 unit rumah baru di Jerusalem Timur, saat kunjungan Wapres AS Joe Biden pekan lalu.

Rencana kontroversial Israel itu juga mengundang kritik keras dari Rusia, PBB, dan Uni Eropa.

Hillary dalam percakapan telepon itu menegaskan, rencana pembangunan permukiman baru di Jerusalem Timur merupakan pesan sangat negatif menyangkut hubungan bilateral AS-Israel.

Apalagi, rencana itu diumumkan justru saat keberadaan Wakil Presiden AS Joe Biden di Israel. Menurut Hillary, itu merupakan pelecehan terhadap AS.

Netanyahu langsung menimpali Clinton dengan mengatakan dirinya juga terkejut dengan pengumuman itu dan meminta maaf atas kekeliruan pemilihan waktu pengumuman tersebut.

Jawaban Netanyahu itu tidak melunakkan sikap Clinton. Menlu AS itu malah menyatakan, Saya tidak bisa memahami bagaimana semua itu bisa terjadi di saat AS menyatakan komitmennya untuk menjaga keamanan Israel. Dengan nada tinggi, Hillary Clinton menegaskan, Presiden Barack Obama merasa terluka dengan perilaku Israel itu karena pemerintah Netanyahu telah meletakkan kerikil bagi dimulainya lagi perundingan Israel-Palestina.

Meski Netanyahu sudah berupaya menenangkan Clinton dengan menyatakan bahwa kepentingan AS merupakan prioritas perhatian Israel, tapi Menlu AS itu menegaskan, Kami ingin perbuatan, bukan sekadar ucapan.

Harian Israel Maariv mengutip pejabat AS mengungkapkan, Presiden Obama merasa ditikam Netanyahu dari belakang dan menganggap tindakan Israel itu sangat berbahaya.

Kementerian Luar Negeri AS telah memanggil Dubes Israel untuk AS Michael Oren, Sabtu lalu, untuk konsultasi soal isu pembangunan permukiman itu.

Pertemuan kuartet perdamaian (AS, Rusia, Uni Eropa, dan PBB) hari Sabtu di Saariselka, Finlandia, juga menyatakan mendukung sikap Menlu AS Hillary Clinton yang mengutuk keputusan kontroversial Israel itu.

Kuartet perdamaian menegaskan, tindakan sepihak apa pun dari salah satu pihak tak akan diakui masyarakat internasional dan hendaknya tidak memengaruhi hasil perundingan kelak.

Palestina menyambut baik sikap Menlu AS dan pernyataan kuartet perdamaian. Juru runding senior PLO, Saeb Erekat, mengatakan, Otoritas Palestina menginginkan sikap Clinton dan kuartet perdamaian diterjemahkan ke dalam keputusan yang memaksa Israel membatalkan niatnya membangun 1.600 unit rumah baru di Jerusalem Timur.

Erekat mengungkapkan, Presiden Mahmoud Abbas telah meminta secara resmi kepada AS agar melakukan sesuatu yang memaksa Israel membatalkan rencananya itu.

Menurut dia, Palestina kini menunggu jawaban AS atas permintaan Abbas itu yang akan disampaikan oleh utusan khusus AS, George Mitchell, dalam lawatannya ke Timur Tengah beberapa hari mendatang.

Sebelumnya, Kamis pekan lalu, Erekat menegaskan, Palestina tidak akan memulai berunding secara tidak langsung tanpa Israel membatalkan rencana membangun 1.600 unit rumah baru di Jerusalem Timur.

Menurut Erekat, permintaan maaf Netanyahu kepada Wapres AS Joe Biden tidak bisa diterima karena hanya bicara keliru soal waktu, bukan substansi. (mth)

Obama Batal Datang Gara-gara Strategi Politik yang Keliru?

lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 16/03/2010 | 12:22 WIB Obama Batal Datang Gara-gara Strategi Politik yang Keliru?
OLEH: ARIEF TURATNO

SEBAGAIMANA diberitakan sebelumnya oleh berbagai macam media, baik cetak maupun elektronik, Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Husein Obama akan melakukan kunjungan nostalgia ke Jakarta pada 21 Maret 2010. Waktu itu, Obama kabarnya akan menengok SD Negeri 1 Menteng, Jakarta Pusat sembari menengok rumah yang dulu pernah ditinggali ibu dan ayah tirinya, Soetoro. Selain ke Jakarta Obama juga direncanakan akan berkunjung ke Yogyakarta, sekalian menengok Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.

Rencana itu kemudian berubah, Obama tidak jadi berkunjung ke Yogyakarta, dan tidak akan menengok Borobudur. Sebagai gantinya Obama akan singgah ke Bali. Maka persiapan penyambutan Obama di Yogyakarta dan Borobudur Magelang pun diubah menjadi persiapan di Bali. Belakangan jadwal kunjungan pun berubah, tidak jadi tanggal 21 Maret 2010, tetapi mundur sehari menjadi 22 Maret 2010. Maka sebagai tuan rumah, pihak pemerintah Indonesia pun mengikuti perubahan jadwal itu dengan persiapan ulang.

Terakhir Washington memberitahu Jakarta, bahwa Obama batal datang tanggal 22 Maret, tetapi mundur lagi menjadi 23 Maret 2010. Tidak hanya itu, Obama pun kabarnya mengubah jadwal kunjungannya, antara lain tidak jadi berkunjung ke SD Negeri 1 Menteng dan rumah kediamannya dulu. Bahkan kunjungan ke Jakarta pun masih belum pasti, karena Obama akan lebih focus kunjungan ke Bali. Tidak hanya itu, Obama pun kabarnya akan mempersingkat waktu kunjungnya ke Indonesia. Bahkan semula dia akan didampingi keluarga, kali ini Obama memutuskan ke Indonesia sendirian.

Pertanyaan dan persoalannya adalah mengapa semua jadwal dan rencana kunjungan berubah sedemikian rupa? Dari tinjauan inteljen, perubahan jadwal, waktu dan rencana-rencana semacam itu bukanlah sesuatu yang aneh. Untuk menjaga keamanan Obama, memang perubahan-perubahan jadwal semacam itu harus dilakukan. Apalagi, dalam pandangan inteljen AS, Indonesia bukanlah Negara aman. Stigma semacam itu semakin menguat, ketika Densus 88 berhasil menembak mati Dulmatin, dan beberapa orang yang diduga teroris. Kasus penggrebekan tersangka teroris di Pamulang, Tangerang, dan Kabupaten Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) adalah indikasi kuat tentang bahayanya Indonesia tersebut.

Maka sangat wajar, jika para penasehat keamanan Obama akan memperingatkan agar Presiden AS itu hati-hati saat berkunjung ke Indonesia. Barangkali karena alasan inilah yang menyebabkan Obama membatalkan semua rencana kunjungannya, termasuk tidak dibawanya keluarga Presiden ke Indoensia.  Bahkan bukan mustahil para penasehat keamanan Obama akan meminta Presiden AS itu membatalkan sama sekali kunjungannya ke Indonesia. Pertanyaannya adalah siapakah yang salah dalam hal ini?

Tindakan keamanan yang diambil pemerintah dengan mengerahkan Densus 88 sebenarnya sudah cukup baik. Namun, sayangnya dalam pelaksanaan di lapangan, ternyata tidak sebagaimana diharapkan. Strategi menembak langsung para teroris yang diharapkan dapat membuat efek jera bagi kawanan Dulmatin Cs, malah membuat pihak keamanan dan intelen AS panic dan ketakutan. Apalagi media dengan sangat gencar memberitakan, bahwa banyak para tersangka teroris yang berhasil lolos saat terjadi penyergapan.

Apalagi pihak Polri pun kemudian mereleas 7 (tujuh) tersangka teroris yang buron. Tindakan Polri ini mungkin dianggap benar, tetapi bagi pihak keamanan AS, jelas iui mengerikan. Karena itu daripada menanggung resiko, maka mereka memilih untuk menunda, mengcaukan jadwal kunjungan, bahkan jika perlu membatalkan sama sekali kedatangan Obama ke Indonesia. Inilah yang kita nilai untuk kesekian kalinya pemerintah melakukan strategi politik yang keliru. Tujuannya untuk memberikan rasa aman, yang terjadi malah membuat tamu kita ketakutan. (*)

Obama dan “Statecraft”

Kompas, Rabu, 17 Maret 2010 | 02:39 WIB

Oleh Makmur Keliat

Dalam banyak hal Indonesia ”berutang” sangat besar kepada Amerika Seri- kat, baik dalam bentuk ”pengetahuan akademik” maupun dalam ”wujud material ekonomi”. Berbagai ”utang” itu mulai muncul secara fenomenal sekitar tiga dasawarsa setelah Indonesia memperoleh kemerdekaannya.

Sebagian besar elite strategis pembuat kebijakan ekonomi Indonesia sejak awal tahun 1970-an tidak lagi berasal dari Eropa, tetapi merupakan produk lembaga pendidikan tinggi AS.

Kalau kita meminjam definisi John Williamson dalam The Political Economy of Policy Reform (1994), para ekonom itu disebutnya sebagai technopol. Pada masa lalu mereka merupakan bagian dari lingkaran dalam rezim Orde Baru. Jalur komunikasi para ekonom ini dengan Soe- harto ketika itu sangat khas.

Menurut Boediono, yang kini menjabat Wakil Presiden, salah satu rahasia kesuksesan ekonomi Orde Baru sebelum krisis 1998 adalah karena tidak terganggunya jalur komunikasi antara presiden dan para ekonom tersebut. Apakah proteksi presiden terhadap technopol ini masih terus berlangsung dalam masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, tentu saja masih merupakan perdebatan yang menarik. Yang pasti sisa-sisa fenomena technopol ini masih terasa kuat sampai sekarang.

Murid politik yang baik

Dalam investasi, Indonesia ”berutang” sangat besar kepada AS, terutama di sektor pertambangan. Kita juga menemukan kehadiran AS dalam industri jasa perbankan dan manufaktur. Indonesia juga ”berutang” kepada AS dalam bantuan pinjaman keuangan serta proyek pembangunan lewat IMF, Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia.

Indonesia juga ”berutang” untuk pengadaan alutsista (alat utama sistem persenjataan) dari AS guna memenuhi kebutuhan TNI, termasuk program pelatihan bagi tentara melalui program pendidikan dan pelatihan internasional (IMET) dan juga berbagai pelatihan bagi polisi untuk menghadapi ancaman teroris.

Indonesia juga sangat ”berutang” kepada AS dalam perdagangan luar negeri. Di samping China dan Jepang, pasar AS merupakan pasar ekspor ketiga terbesar bagi Indonesia. Keamanan sumber devisa negeri ini sedikit banyak ditentukan oleh daya serap pasar dalam negeri AS.

Indonesia juga ”berutang” kepada AS dalam menciptakan format politik demokrasinya. Dalam 10 tahun terakhir, demokrasi prosedural Indonesia sudah menyerupai AS. Presiden sudah dipilih secara langsung, demikian juga kepala daerahnya dan anggota perwakilan rakyat, baik di tingkat nasional maupun daerah.

Kebebasan pers Indonesia juga merebak sangat luar biasa, mirip seperti yang dapat ditemukan di AS. Bahkan, sebagian ilmuwan politik Indonesia juga telah mendapat inspirasi dan meniru profesi sejawat mereka di AS, terlihat misalnya melalui maraknya kehadiran lembaga survei yang acap kali juga berfungsi sebagai konsultan politik. Sebagian dari mereka sesungguhnya merupakan ”murid” yang baik bagi ajaran politik yang telah tumbuh di AS.

Bukan seni panggung

”Wajah” Indonesia saat ini pasti akan berbeda seandainya tidak terdapat berbagai bentuk ”utang” terhadap AS itu. Kunjungan Presiden Obama ke Indonesia sangat penting. Tidak hanya karena Oba- ma pernah tinggal di Indonesia. Yang lebih penting, kunjungan itu juga disertai dengan rencana untuk meluncurkan secara formal Kemitraan Komprehensif Indone- sia-AS dengan tagline ”Kemitraan Abad Ke-21 untuk Dunia Abad Ke-21” (21st Century Partnership for a 21st Century World). Kemitraan ini tidak hanya sekadar kemitraan antara Indonesia dengan China, Jepang, dan Korea Selatan.

Bagi sebagian orang, umumnya yang berada di lingkaran pembuat kebijakan dan sebagian juga di kalangan komunitas pemikir strategis, fenomena berbagai bentuk ”utang” ini dipandang sebagai sesuatu yang baik dan positif. Bagi kelompok ini, justru akan menjadi tidak baik jika Indonesia semakin jauh dari AS. Mereka juga cemas jika Indonesia kini memiliki hubungan ekonomi yang semakin dekat dengan China.

Karena itu, kelompok ini berpandangan hubungan bilateral dengan AS menjadi sangat penting dan perlu diikat melalui komitmen kemitraan strategis untuk melestarikan ”utang-utang” itu. Kelompok ini juga sangat berharap bahwa kekuatan AS akan sangat membantu Indonesia untuk mengatasi proyek infrastruktur yang dalam 10 tahun terakhir mengalami stagnasi. Menurut laporan Oxford Economic Country Briefing, Indonesia (2010), ataupun oleh Business Monitor, Indonesia Infrastructure Report (2010), tanpa ketersediaan pendanaan pinjaman, semua proyeksi tentang pembangunan infrastruktur yang telah dicanangkan, baik energi, jalan, jembatan, maupun pelabuhan, mungkin tidak dapat diwujudkan dan hanya akan menjadi angan-angan di atas kertas dan proses deindustrialisasi tidak akan dapat dihindarkan.

Namun, terdapat kelompok lainnya yang menyatakan bahwa seluruh ”utang” ini merefleksikan interdependensi yang sangat asimetris—jika bukan ketergantungan yang semakin besar—Indonesia terhadap AS. Bagi kelompok ini, negeri yang ”berutang” terlalu besar dengan sendirinya diproyeksikan tidak akan lagi memiliki ruang yang cukup besar untuk melakukan pilihan kebijakan secara bebas.

Karena itu, secara konseptual, tantangannya adalah bagaimana membuat kunjungan Obama itu bukan sekadar rutinitas ”seni tata panggung” (stagecraft), suatu istilah yang dikemukakan sendiri oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa dalam pidatonya di CSIS-Jakarta (2009). Jauh lebih penting daripada itu adalah bagaimana membuat kunjungan Obama memiliki bobot sebagai ”seni bina negara” (statecraft).

Ini berarti rancangan kegiatan apa pun yang nantinya dihasilkan di bawah payung kemitraan strategis haruslah disertai dengan argumen-argumen yang tajam dan reasonable bahwa tujuan kemitraan adalah untuk membuat Indonesia menjadi suatu aktor negara yang kuat dan sekaligus untuk melestarikan tradisi dan identitas politik luar negeri dan diplomasinya yang independen. Tanpa itu, kunjungan Obama hanya sekadar ”seni tata panggung” dan bagian dari rutinitas diplomatik biasa.

MAKMUR KELIAT Pengajar Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI

Arti Kunjungan Presiden Obama ke RI

Kompas, Rabu, 17 Maret 2010 | 02:52 WIB

Oleh Jusuf Wanandi

Kedatangan Presiden Obama ke Indonesia telah tertunda dari rencana semula karena keinginan keluarganya untuk ikut serta mengunjungi tempat di mana dia pernah bertempat tinggal dan bersekolah selama empat tahun. Karena itu pula pada November 2008 yang lalu di Singapura untuk KTT APEC, di sela-sela KTT dengan ASEAN, dia sengaja bertemu dengan Presiden SBY tersendiri untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan mitra strategis yang dihargai.

Jelas dari kunjungannya dan Menlu-nya, Hillary Clinton, ke Asia Timur, AS ingin menunjukkan betapa pentingnya kawasan Asia Timur bagi AS dan bahwa AS berkeinginan untuk kembali aktif di kawasan penting ini setelah tertinggal selama pemerintahan Presiden Bush yang terlalu mementingkan perang melawan terorisme.

Secara khusus, AS berkeinginan untuk aktif lagi di kawasan Asia Tenggara dan meningkatkan hubungannya dengan ASEAN. Untuk itu, AS aktif dalam usaha membangun Sungai Mekong bersama dengan negara-negara ASEAN yang tersangkut, mengirim seorang Duta Besar Khusus untuk ASEAN, mengadakan KTT dengan ASEAN (dengan dihadiri oleh Myanmar), mengubah sikapnya untuk mengasingkan Myanmar, bersedia mengambil bagian dalam lembaga-lembaga regional, seperti EAS, dan berjanji akan lebih aktif dalam APEC.

Pertanyaan besar

Bagaimana semua ini akan dilakukan selama perang di Irak dan Afganistan masih berlangsung di bawah pimpinan AS, masih menjadi pertanyaan besar. Sebab, bagaimanapun perhatian tetap harus diberikan pada perang dan karena itu pula keuangan yang diperlukan untuk kegiatan lain menjadi terbatas. Sementara itu, hambatan besar yang harus dihadapi Presiden Obama adalah tantangan dalam negeri sendiri, di mana masalah-masalah krisis keuangan dan ekonomi belum sepenuhnya dapat diatasi. Adapun usaha-usahanya, seperti dalam bidang pelayanan kesehatan yang begitu diperlukan oleh 50 juta rakyat Amerika Serikat, masih terhambat di Kongres AS.

Karena itu, bantuan yang dapat diharapkan dari AS masih terbatas, terutama hanya dari sektor swastanya meskipun mereka masih mengalami kesulitan untuk dapat melakukan investasi. Padahal, mereka mengakui bahwa kehadiran ekonominya di kawasan Asia Timur-lah yang akan merupakan jaminan kehadiran permanen AS di kawasan.

Kehadiran strategisnya memang masih merupakan andalan kehadiran AS di Asia Timur karena kehadiran tersebut menjamin kestabilan dan perdamaian kawasan. Hal ini diterima oleh hampir setiap negara di kawasan.

Jadi, kerja sama yang perlu kita tempa dengan AS sebaiknya juga memperhitungkan keterbatasan AS di satu pihak dan kebutuhan kita untuk mempertahankan kehadiran strategisnya itu di Asia Timur di lain pihak.

Di antara kedua batas ini banyak yang bisa kita lakukan bersama, dan karena itu pula perjanjian yang mau ditandatangani kedua presiden dinamakan Kemitraan Komprehensif yang meliputi sejumlah bidang kerja sama, yang bersama-sama merupakan suatu anyaman yang mempererat hubungan dan kerja sama untuk masa mendatang. Perjanjian itu akan bersifat lebih seimbang karena kita pun akan melaksanakan apa yang dapat kita lakukan untuk Amerika Serikat, dan tidak hanya sepihak menerima dari mereka seperti yang terjadi sampai kini. Kita ingin membangun kerja sama seimbang itu setapak demi setapak, yang akan terus meningkat hingga menjadi suatu anyaman yang kuat dan berarti bagi kedua belah pihak.

Perhatian utama

Kerja sama di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan akan menjadi perhatian utama. Dan, bidang ini jelas sangat strategis bagi Indonesia untuk dapat membangun masa depannya sebagai negara berkembang yang besar. Kerja sama politik melalui dialog yang berkala dan di sejumlah bidang harus dilakukan, minimal di tingkat wakil menteri kedua belah pihak. Kerja sama ekonomi, terutama untuk bidang antarswasta, tetapi didukung oleh pemerintahan, termasuk dan terutama di bidang infrastruktur, energi, dan sumber-sumber alam yang lain, harus dilakukan tanpa keragu-raguan di pihak Indonesia karena alasan-alasan nasionalisme sempit.

Malahan kerja sama ini harus dilihat mempunyai arti strategis bagi hubungan Indonesia-Amerika Serikat. Kerja sama dalam bidang perdagangan harus terus dibangun dengan memerhatikan pentingnya prinsip-prinsip keterbukaan yang adil bagi kedua pihak, artinya menguntungkankedua belah pihak. Dan harus dicegah bahwa satu pihak saja yang dirugikan. Kerja sama di bidang militer perlu ditekankan pada peran sentral TNI di bidang pertahanan terhadap ancaman dari luar, termasuk di bidang pelatihan dan pendidikan mereka.

Semoga kunjungan Presiden Obama, yang bisa dianggap paling dekat secara pribadi dengan bangsa Indonesia, dapat meletakkan hubungan yang seerat-eratnya untuk masa depan hubungan Indonesia-Amerika Serikat.

Presiden Obama, selamat datang kembali ke Indonesia!

Jusuf Wanandi Wakil Ketua Dewan Penyantun Yayasan CSIS

Terimalah Kunjungan Obama
Ada Faktor Membanggakan

Rabu, 17 Maret 2010 | 03:14 WIB

SURABAYA, KOMPAS – Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin kecewa dengan Presiden AS Barrack Obama. Namun, ia mengajak seluruh penduduk Indonesia menyambut kedatangan Obama.

Din mengatakan, sudah delapan bulan Obama berpidato tentang perspektif baru hubungan Amerika dengan dunia Islam di Mesir. Namun, sampai saat ini belum ada realisasi dari pidato tersebut. ”Saya sebenarnya kecewa dengan fakta itu,” ujarnya di Surabaya, Selasa (16/3).

Dalam pidato di Universitas Al Azhar, Kairo, pada 4 Juni 2009, Obama menyatakan, dunia Barat harus menyadari Islam sebagai agama yang toleran. Di masa kecilnya di Indonesia, Obama melihat langsung bukti toleransi pemeluk Islam pada umat agama lain. Ia juga mengajak harus belajar dari Indonesia soal hubungan antarumat beragama.

Pidato itu dinilai Din sebagai perspektif baru. Belum pernah satu presiden AS yang menyatakan dengan tegas tentang hal tersebut dalam sebuah forum terbuka. Karena itu, menurut Din, kedatangan Obama harus diapresiasi dan dimanfaatkan untuk membangun dialog antara dunia Islam dan Obama.

Tentang penolakan sebagian pihak, menurut dia, hal itu wajar. Setiap orang punya hak menyalurkan aspirasi politik masing-masing. ”Tetapi, sewajarnya kita menyambut Presiden AS yang punya niat membangun dialog dengan dunia Islam dan kerja sama dengan Indonesia,” ujarnya.

PBNU menyambut

Di Jakarta, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama juga mengingatkan umat Muslim di Indonesia untuk tidak menolak kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Pesan itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi di Jakarta, Selasa (16/3). Menurut dia, tidak ada aturan Islam untuk menolak tamu. Islam justru mengajarkan umat memuliakan tamu. ”Rasulullah saja menjalin hubungan diplomatik dengan umat agama lain, termasuk Yahudi,” katanya.

Ketua Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Effendy Choirie secara terpisah juga mengemukakan pendapat senada. ”Nabi bahkan memuliakan tamu yang datang, baik dari kaum Nasrani (Kristen) maupun Yahudi,” ujar anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa itu. (NTA/BUR/har/day/ABK/RAZ)

PELUNCURAN BUKU
Obama Contoh Kekuatan Mimpi

Rabu, 17 Maret 2010 | 03:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS – Menjadi presiden ternyata merupakan cita-cita Barack Obama sedari kecil. Hal itu terungkap ketika teman dekat ”Barry” Barack Obama kecil, Slamet, bercerita pada peluncuran buku jenis novel Obama Anak Menteng (Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta), Senin (15/3) di SD Negeri 01 Menteng, Jakarta.

Cerita pertemanan Slamet dengan Barry merupakan salah satu hal menarik yang dapat dibaca dalam novel setebal 206 halaman tersebut. Penulis Damien Dematra mengolah novel ini dari cerita sejumlah teman dekat Barry. Selain Slamet, juga ada Yuniadi, Turdi, Sonny, Agus, Bahrun, Amir, dan Carut.

Menurut Damien Dematra, Obama Anak Menteng adalah sebuah proyek yang mulai dikerjakan pada awal November 2009. Pada awalnya, novel ini tidak berkaitan dengan rencana kedatangan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama, tetapi memang diproyeksikan untuk terbit pada Maret 2010 dan difilmkan pada Juni 2010 sesuai dengan rencana kedatangan Presiden Obama ke Indonesia, yang akhirnya dipercepat 23 Maret.

”Novel Obama Anak Menteng bercerita tentang masa kecil Presiden Barack Obama ketika tinggal di Menteng Dalam dan bersekolah di SD Negeri 01, Jalan Besuki Nomor 4,” ungkapnya.

Bagi Damien, novel ini ia buat untuk memotivasi anak-anak, para pelajar. Presiden Obama adalah contoh dari keberhasilan mimpi. Kekuatan sebuah mimpi, the power of dreams. Nothing is impossible to dreams. Segala sesuatu mungkin apabila kita ingin bermimpi. Gantungkan cita-cita setinggi langit.

Alasan lain mengapa Damien menulis Obama ialah karena Presiden Obama merupakan sebuah bukti hidup dari keberhasilan pluralisme. (NAL)

About these ads

4 Responses to “PEPORA : Petition of Pancasila to President Barrack Obama”


  1. 1 teddy syamsuri hs.
    March 17, 2010 at 1:50 am

    Kita selaku aktivis Angkatan ’66 eksponen KAPPI yang sejatinya diawali dengan memperjuangkan pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, yang kemudian dituangkan pada butir pertama tiga tuntutan rakyat (Tritura) 10 Januari 1966, yaitu “Bubarkan PKI” karena ideologi PKI bertentangan dengan Pancasila, adalah bukti bahwa mendukung petisi dari PEPORA bukan tanpa alasan. Semoga saja petisi dimaksud dapat diterima oleh Obama dan dijadikan pertimbangan negerinya yang mengumbar jargon demokrasi tapi menginvasi setiap negeri yang berdaulat.

  2. 2 bob novandy
    March 21, 2010 at 2:25 am

    Karena Pancasila bukan hanya Ideologi bangsa Indonesia, juga merupakan Panca Politika melebihi dari Trias Politika dari Montesque, Eksekutif,Legislatif,Yudikatif ada di Sila ke 3,4,5. Sedangkan sila Pertama dan ke Dua merupakan hubungan vertikal(hubungan kepada sang Pencipta) dan Horizontal( hubungan kepada sesama manusia/ hak azazi manusia). Dengan demikian Pancasila juga dapat sebagai pemersatu Dunia.
    Dengan adanya Pancasila Indonesia dapat menjembatani konflik Obama dan Osama.

  3. 3 iwan asrame
    March 25, 2010 at 10:57 am

    mletke brajah lagu waktu ne ndkman arak coy

  4. 4 808080
    January 22, 2013 at 2:13 pm

    hehehehehehehehehehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,183,544 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 120 other followers

%d bloggers like this: