28
Jan
10

Historia : Cerita-cerita Tempo Doeloe

‘Naar Boven’ ke Tanahabang, Jangan Lupa Membatik
Kamis, 28 Januari 2010 | 11:51 WIB

LORD George Macartney, sempat mampir ke Batavia di sekitar akhir abad 18, tepatnya di tahun 1793. Ia bahkan sempat menikmati pesta yang luar biasa mewah, anggur Madera (Madeira) – anggur beken asal Portugis – pun tak henti dituang bagi duta pertama Inggris untuk China itu. Pergelaran wayang China dan atraksi kembang api yang bagaikan letusan gunung api menambah meriah suasana. Dan pastinya, yang tak terlewatkan, dansa dansi sampai pagi.

Demikian sepenggal kisah Lord Macartney di Batavia, dalam rangka menuju China. Rangkaian kegiatan di Batavia ditulis Macartney dalam sebuah jurnal. Jurnal itu ditulis ulang oleh Junus Nur Arif dalam Kisah Jakarta Tempo Doeloe. Ketika kapal Lion, kapal yang ditumpangi Macartney mendekat ke daratan, pejabat Belanda pun sibuk menyambut. Pesta hingga subuh itu digelar di rumah kediaman seorang anggota dewan Belanda, Wiegerman. Kediaman Wiegerman berada di luar Kota Batavia, di kawasan yang disebut udik, bernama Tebanang, De Nabang, atau Tanahabang. Dari Batavia ke Tenabang, orang biasa menyebut, naar boven.

Dalam beberapa referensi tentang sejarah Tanahabang, nama Tanahabang mulai muncul di abad 17. Diduga, nama itu berasal dari tentara Mataram yang datang menyerbu VOC di Batavia tahun 1628.  Di dataran berbukit bertanah merah dan berawa itulah pangkalan tentara Mataram. Kawasan ini di masa itu juga masih menjadi kebun teh, melati, kacang, sirih, jahe. Kawasan ini juga dialiri Kali Krukut. Di masa itu yang namanya Tanahabang meliputi hingga kawasan Weltevreden, Molenvliet West sampai Rijswijk.

Sebuah foto dari tahun 1875, koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal en Volkenkunde/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Carribbean Studies)  atau Lembaga Studi Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda, menunjukkan gardu penjagaan yang berbentuk seperti kotak lengkap dengan dua nama di pojok kiri dan kanan atas yaitu Tanahabang dan Rijswijk. Di masa itu, rumah gardu memang dibangun pada jarak-jarak tertentu.

Referensi lain menyebutkan, nama Tanahabang resmi digunakan setelah Jawatan Kereta Api membangun stasiun kereta api di tahun 1890. Stasiun itu kemudian diberi nama Tanahabang, bukan Tenabang (dari De Nabang, nama sejenis pohon yang banyak tumbuh di daerah itu) seperti yang selalau disebutkan warga kala itu.

Kawasan luas itu memerlukan lalulintas penghubung, yaitu kanal. Satu nama yang tak bisa dilupakan dalam pembuatan kanal di Batavia adalah Kapitan China Phoa Bing Gam. Pada 1648 ia menggali terusan di Molenvliet sampai ke Kali Ciliwung di sisi timur, ke barat hingga ke ujung Kebon Sirih – kini got yang mengalir di sepanjang Jalan Tanah Abang Timur/Abdul Muis.

Tak hanya urusan kanal, Bing Ham juga mengupayakan perkebunan tebu dan pengolahan gula. Dari sinilah muncul pula pabrik arak. Dalam Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia, Bondan Kanumoyoso mencatat,  di Batavia ada dua perusahaan dagang milik Belanda yang memproduksi minuman beralkohol (arak), RF Van der Mark dengan pabrik minuman mengandung alkohol (Batavia Arak Maatschappij) dan Handels Vereeniging dengan pabrik Oost-Indie minuman beralkohol (Arak Fabriek Aparak).

Kisah tentang Tanahabang pastinya lumayan bertumpuk. Ada satu kisah tentang sebuah gedung yang semula dimiliki warga Prancis dan kemudian beberapa kali berpindah tangan. Tahun 1942, bangunan dengan halaman luas itu dibeli Dr Karel Christian Cruq dari tangan seorang konsul Turki. Di masa revolusi, rumah itu dijadikan markas Badan Keamanan Rakyat (BKR). Pada 1947, rumah itu dibeli seorang pengusaha bernama Lie Soin Phin yang kemudian dikontrakkan ke Departemen Sosial. Tahun 1952 Depsos justru membelinya dan bulan Oktober 1975 diserahkan ke Pemda DKI untuk dijadikan museum. Museum yang di bagian depannya masih saja dihiasi pedangang kaki lima, dan berada di kawasan kumuh di Jalan Petamburan, itu tak lain adalah Museum Tekstil.

Di sini, pengunjung bisa melihat koleksi alat tenun nonmesin yang dibuat tahun 1927 dan gedogan (alat tenun tradisional) serta beragam koleksi kain batik, ikat, kain tradisional, lukisan tangan, dan prada. Selain itu tersimpan pula Bendera Kraton asal Cirebon buatan tahun 1776 yang merupakan panji kebesaran Kesultanan Cirebon dan kain adat asal Bali dari abad ke -19. Kain ini disebut juga Geringsing Wayang Kebo, merupakan kain tenun yang pembuatannya paling rumit karena menggunakan teknik ikat ganda. Teknik ini adalah teknik langka yang hanya ada di sedikit negara.

Sri Susuhunan Pakubuwono XII menyumbangkan kain motif batik bernama Tumurun Srinarendra (kelahiran raja). Dibuat oleh almarhum Hardjonegoro untuk dikenakan sendiri pada perayaan ulangtahun Sunan Solo. Tak ketinggalan koleksi baju perang Irian Jaya berbahan rotan dan serat alam. Teknik pembuatan dianyam. Baju ini digunakan sebagai busana suku di Papua untuk melindungi dada dari serangan benda tajam. Di museum ini pengunjung juga bisa belajar membatik.

Sabtu pagi 30 Januari 2010, Komunitas Sahabat Museum (Batmus) akan menggelar Plesiran Tempo Doeloe ke tempat ini. Dengan biaya Rp 75.000/orang, peserta bisa menjajal kemampuan membatik. Tak hanya itu, menurut Ketua Batmus, Ade Purnama, kegiatan itu juga akan diisi dengan pengetahuan tentang riwayat Tanahabang, kisah perjalanan batik nusantara, dan tentu saja menengok koleksi museum ini. Peserta juga bsia mencicipi makanan serta minuman khas Betawi seperti bir pletok dan jajanan khas lainnya. Menurut Ade, peserta yang ingin mendaftar bisa menghubunginya di email: adep@cbn.net.id.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Komedie Stamboel, Antara Opera, Wong Cilik, dan Kerusuhan
Ini merupakan contoh iklan pementasan Genoveva di Malang yang diambil dari buku Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa oleh Misbach Yusa Biran.
Rabu, 27 Januari 2010 | 16:58 WIB

KOMPAS.com — Ada satu hal yang jadi fokus perbincangan saya dan rekan, via pesan pendek, dua pekan belakangan, yaitu mencari tanggal yang tepat untuk menonton pementasan Teater Koma pada Februari mendatang. Hal lain adalah surat elektronik atau surel yang dikirim seorang rekan dari negeri seberang. Entah kenapa, karena surel yang sudah dikirim tahun lalu itu, tiba-tiba saya teringat lagi kala sedang membaca kisah Sie Jin Kwie (SJK). Kisah itulah yang akan dipentaskan Teater Koma pada 5-21 Februari. Saya buka lagi surel itu, “Saya baca sejarah kesenian panggung negerimu, menarik, ya. Komedie Stamboel masa kolonial.”

Ia, produser seni panggung di beberapa klub kecil di Eropa, seperti Amsterdam, Brussels, Athens, Helsinki, menyatakan bahwa buku itu membuatnya ingin mampir ke Indonesia, melihat sisa-sisa Komedie Stamboel. Hah, remah-remahnya pun sudah tak terlihat. Begitu pikir saya. Bahkan, buku yang ia baca tak dijual di Indonesia.

Dalam tulisan saya pada akhir pekan lalu, saya sedikit menyebut Prinsen Park di Manggabesar. Kini lokasi itu dikenal dengan nama Lokasari. Sebuah nama yang langsung menimbulkan kesan negatif. Padahal tak ada nama kawasan dan tempat yang boleh dihakimi sebagai tempat negatif. Itu kan berpulang ke masing-masing pribadi. Mau ikut dalam irama penghiburan ala Manggabesar silakan, ala Kemang silakan, ala ngumpet-ngumpet sok alim silakan. Asal tak perlu tunjuk hidung orang lain.

Kembali ke Komedie Stamboel dan kaitan dengan Prinsen Park, Manggabesar.  Komedie di sini tak lantas berarti komedi, kisah lucu. Komedie di sini artinya pertunjukan. Sebelum masuk ke komedie stamboel, baiklah kita mundur sedikit. Di akhir abad ke-19, tontonan panggung yang begitu digemari warga kelas bawah adalah tiruan opera yang disisipi adegan hiburan. Dalam beberapa babak, tontonan itu diisi lawak, lagu, tarian.

Komedie Stamboel pertama kali muncul di kota pelabuhan, Surabaya, pada 1891. Pelopornya adalah seorang Indo bernama August Mahieu. Si Indo berbekal kepiawaian bernyanyi, sedangkan urusan dana dipegang Yap Goan Thay, begitu Misbach Yusa Biran memulai kisah dalam Sejarah Film 1900 – 1930: Bikin Film di Jawa. Lantas dari mana nama stambul? Kisahnya begini, anggota kelompok Mahieu senang mengenakan topi warna merah, topi tradisional Turki, dengan semacam kucir di bagian atas. Orang di Hindia Belanda mengucapkan ibu kota Turki, Istanbul, sebagai Stambul, maka jadilah kelompok komedi Mahieu disebut Komedie Stamboel.

Mahieu mengambil pola pertunjukan Abdul Muluk di Semenanjung Malaka. Abdul Muluk sendiri meniru pertunjukan dari Iran. Maka dari itu, pementasan 1001 Malam pun jadi begitu beken. Selain 1001 Malam, kisah Hamlet, karya Multatuli De Bruide daar Booven pun ikut dipentaskan. Komedie Stamboel ini menaklukkan hati masyarakat seantero Hindia Belanda bahkan hingga ke tanah Singapura.
Rombongan pertunjukan panggung pun bertumbuhan. Tren pementasan Stamboel pun jadi patokan. Sebut saja Genoveva, Aladin dan Lampu Ajaib, dan karya-karya Shakespear seperti The Merchant of Venesia dan Hamlet.

Dalam buku yang dibaca rekan saya, seperti tersebut di atas, The Komedie Stamboel: The Popular Theater in Colonial Indonesia 1891-1903 yang ternyata karya seorang pria beristrikan perempuan Jawa, disebutkan bahwa tur rombongan Mahieu tak hanya ke Singapura, tetapi juga ke Aceh, Medan, Deli, Padang, dan daerah-daerah lain di Sumatera. Setelah pembatalan tur Sumatera karena kondisi cuaca, rombongan Stamboel kembali ke Batavia dan menyewa sebuah rumah sebagai penampungan para pemain.

Matthew Isaac Cohen, sang penulis, menyebutkan bahwa rumah itu ada di Gang Pinang di area bernama Pesayuran, dan mendapat izin untuk tampil selama dua bulan di Manggabesar. Dalam periode 30 Maret-24 Mei 1894, Komedie Stamboel menangguk untung besar, sebuah sukses mengantongi pemasukan bersih sebesar 10.000 gulden. Meskipun lagi-lagi kondisi cuaca yang buruk, hujan mendera membuat beberapa repertoar batal ditampilkan, tahun 1894 itu bagi Mahieu dan rombongan merupakan tahun sukses. Mereka juga mementaskan Badarel Dunia atau The World Star. Cohen tak lupa mencatat kejadian saat Komedie Stamboel manggung, khususnya di Manggabesar.

Demikian kira-kira Cohen menulis, “Khalayak ramai sungguh tersedot oleh Komedie Stamboel, alhasil kerumunan itu jadi sulit diatur. Warga Belanda  menggoda paksa seorang istri dari pria Tionghoa. Perkelahian pun pecah saat rombongan Mahieu memainkan Sahir Zaman. Polisi sampai harus turun tangan menggeret pria Tionghoa, memanggil andong, kereta pengangkut untuk membawa pria tadi pulang ke rumah.

Di ujung lain, seorang sinyo yang beken di antara pengendara andong/sado memulai perkelahian. Pekerja seks bersama bos mereka berkumpul di dekat tenda panggung. Sementara itu, serdadu mabuk nan sombong diikat di sado yang ada di luar teater. Itu sebagai lelucon, jelas saja penonton malah jadi khawatir.

Rupanya sejak abad lalu, kerusuhan seperti itu sudah ada. Kini bahkan dunia olahraga, khususnya sepakbola, tak pernah lepas dari kelakuan bonek yang hanya berani jika beramai-ramai, berani saat dipengaruhi pil atau minuman keras. Berani merusak, berani mati, tapi tidak berani bertanggung jawab. Sebuah masalah sosial yang perlu segera ditangani.

Pertunjukan panggung ini pada akhirnya melahirkan beberapa rombongan lain yang punya nama pada tahun 1920-an, termasuk Komedie Stamboel Dardanela, Miss Tjitjih, Tjahaja Timoer, hingga Srimulat setelah Indonesia merdeka.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Si Docang yang Nyaris Hilang
Selasa, 26 Januari 2010 | 17:37 WIB

KULINER di Kota Cirebon sangat kaya, tidak hanya empal gentong atau nasi jamblang. Ada satu makanan yang bisa dikatakan hampir “punah” ditelan kemajuan zaman dan perkembangan makanan siap saji. Masyarakat menyebutnya Docang.

Docang adalah makanan khas Cirebon, yang merupakan perpaduan lontong, daun singkong, tauge, dan krupuk putih yang diguyur dengan sayur dage atau tempe gembus yang dihancurkan. Kemudian dikombinasikan dengan parutan kelapa muda.Bila yang membuat kurang terampil, maka hanya akan menghasilkan rasa pahit.

Makanan ini mempunyai rasa khas yang gurih dan nikmat apabila disajikan dalam keadaan panas atau hangat. Sedangkan harga relatif terjangkau semua kalangan.

Biasanya docang disantap untuk mengisi perut di pagi hari. Pada umumnya masyarakat Cirebon dan sekitarnya membeli makanan tersebut sebelum berangkat kerja. Kalau kesiangan sedikit saja, bisa-bisa tidak kebagian. Rata-rata pedagang menjual Docang mulai pukul 06.00 -10.00. Menurut beberapa pedagang docang yang ditemui Warta Kota di Cirebon belum lama ini, kebanyakan mereka meneruskan usaha orangtua. Bisa dikatakan usaha turun temurun.

Seperti  yang dilakukan Mang Toha (73). Pria itu sudah berjualan di Gang Rotan I, Karang Getas, Cirebon sejak tahun 1972. Dia mengaku meneruskan usaha sang ayah yang sudah berjualan sejak 1950 di tempat yang sama. Tak mengherankan jika pelanggannya saat ini sudah tiga generasi.

Menurut Mang Toha, docang itu singkatan dari kacang dibodo (dibacem), atau yang dimaksud adalah tempe bungkil. Pembuatan kuah cukup sederhana, gabungan dari kaldu, tempe bungkil dan oncom, salam, serai, jahe, ketumbar, bawang merah dan bawang putih, serta garam.

Setiap hari Mang Toha harus mengayuh sepedanya sejauh 10 kilometer dari Karang Tengah, Plered menuju Karang Getas dengan membawa dua keranjang rotan. Satu keranjang berisi kuali besar kuah docang sedangkan satu keranjang lagi berisi sayuran, lontong dan bumbu-bumbu lain.

Sesampainya di tempat, semua disiapkan. Kuah dage ditambah bumbu merah, seperti cabai yang dihaluskan. Setelah itu barulah ditambahkan bumbu penyedap. Untuk menghindari basi maka kelapa setengah tua diparut di lokasi jualan.

Sejak dahulu tempat berjualan Mang Toha tidak berubah, sama persis dengan peninggalan sang ayah. Tepat di ujung Gang Rotan I. Bagi mereka yang ingin makan di tempat, disediakan meja dan kursi kayu panjang di selasar gang.

Ibrahim (68), salah satu pelanggan setia docang Mang Toha, mengaku sudah sejak generasi pertama menggemari docang. “Dari segi bahan tidak ada perubahan, hanya rasanya yang agak berbeda. Sekarang pakai vetsin di dalam kuahnya, kalu dulu tidak,” ujar Ibrahim yang ditemui usai sarapan docang.

Setiap hari, Mang Toha menggelar dagangan mulai pukul 07.30 sampai habis. Tidak tentu waktunya. Jika pembeli ramai, hanya dalam waktu dua jam dagangannya ludes. Seporsi docang Mang Toha dijual seharga Rp 5.000.

Sejarah
Di balik kelezatan makanan ini, rupanya ada sedikit sejarah pada zaman dahulu. Tepatnya pada zaman para wali. Ketika para wali ini menyebarkan agama Islam ke pelosok Jawa, muncullah Pangeran Rengganis yang mempunyai niat untuk membunuh para wali dengan docang. Dialah yang pertama kali membuat docang dan menghidangkannya ke tengah-tengah para wali yang sedang berkumpul di Masjid Sang Cipta Rasa, Keraton Kasepuhan Cirebon. Di kalangan masyarakat Cirebon terdapat tradisi menyantap docang setiap menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Di Kota Cirebon pedagang docang dapat ditemui di beberapa tempat, misalnya di alun-alun Keraton Kasepuhan, di Pasar Kanoman, di Jalan Fatahillah (kantor Telkom Plered), dan bagi pengunjung dari luar Kota Cirebon dapat dengan mudah menemukannya yaitu di Jalan Tentara Pelajar tak jauh dari Grage Mall. (Dian Anditya Mutiara)

Dari Prinsen Straat ke Prinsen Park
Sabtu, 23 Januari 2010 | 14:25 WIB

PERNAH dengar nama Prinsen Park? Kini namanya menjadi Lokasari, Mangga Besar, Jakarta Barat. Prinsen Park tak ada hubungan dengan Prinsen Straat. Itu juga jika Anda sekalian pernah dengar ada nama jalan tersebut. Prinsen Straat, Prince Street, kini menjadi Jalan Cengkeh, Jakarta Barat. Jalan Cengkeh berada di lingkaran utama kawasan Kota Tua Jakarta.

Dari Prinsen Straat, akan terlihat Amsterdam Poort (Amsterdam Gate) di kejauhan. Di tahun 1867, fotografer  Jacobus Anthonie Meesen mengabadikan Prinsen Straat dengan Gerbang Amsterdam di kejauhan. Ia mengambil gambar dari titik pertemuan Prinsen Straat, Pasar Pisang, dan Leeuwinnen Straat (kini Jalan Cengkeh, Jalan Kalibesar Timur 3, dan Jalan Kunir). Posisi Gerbang Amsterdam berhadap-hadapan dengan stadhuis atau balai kota yang kini menjadi Museum Sejarah Jakarta (MSJ).

Pendatang dari Eropa yang mengunjungi Batavia melalui laut sebelum 1885 –  ketika Tanjungpriok selesai dibangun – akan berlabuh di pelabuhan Sunda Kelapa dan melintas di sepanjang sisi selatan Prinsen Straat. Mereka akan terus melaju ke arah selatan menuju Weltevreden. Di tahun 1860-an jalan ini merupakan salah satu jalanan sibuk dengan kegiatan bisnis dan perdagangan, khususnya di siang hari. Di malam hari kawasan ini sepi karena para pekerja yang kebanyakan orang Eropa memilih tinggal di “kota atas”, Weltevreden.

Hingga abad 20, kawasan Prinsen Straat atau Jalan Cengkeh berisi berbagai kantor, gudang, dan bangunan bisnis milik bangsa Eropa.

Gerbang Amsterdam, demikian ditulis Scott Merrllees dalam Batavia in The Nineteenth Century Photograhps, merupakan satu-satunya peninggalan dari Kastil Batavia yang dihancurkan  Daendels pada sekitar 1808-1809. Gerbang itu merupakan pintu masuk Kastil Batavia sisi selatan dan terletak di sisi utara dari stadhuis. Amsterdam Poort pertama kali dibangun pada abad 17. Sampai abad 19, gerbang ini terus mengalami perubahan. Misalnya, di zaman Gubernur Jenderal GW Baron van Imhoff yang berkuasa pada 1743-1750, gerbang itu berganti gaya menjadi Rococo.

Di abad 18 itu juga, sayap gerbang berbentuk melengkung yang dihubungkan dengan bangunan yang membentuk bagian benteng. Ketika Daendels menghancurkan kastil, hanya gerbang ini yang selamat. Pada 1840-an gerbang itu dibangun kembali dengan patung Mars dan Minerva yang dipasang di sisi kiri dan kanan gerbang bagaikan sepasang penjaga.

Lain kisah dengan Prinsen Park yang adalah tempat hiburan beken pada masanya. Di lokasi yang kurang lebih seperti pasar mala mini, ada bioskop, restoran, tempat nonton komedi stamboel, dll.

Sayangnya kemudian Prinsen Park dilebur menjadi kawasan Lokasari yang meskipun ingin mencoba mirip dengan Prinsen Park, tetap saja yang muncul adalah kesan hiburan “remang-remang”. Kumpulan kuliner di sana bisa dibilang oke tapi tempat hiburannya, apalagi di malam hari, sudah tak lagi bisa menampung anak-anak atau orang dewasa yang ingin menonton kesenian. Kesenian dalam arti yang sebenarnya, tentu saja.

Bagaimanapun, tempat-tempat tadi layak jadi alternatif jalan-jalan murah di akhir pekan ini. Berharap saja udara sedikit bersahabat.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Menonton Opera di (GKJ) Schouwburg

KITLVKITLV

Bangunan yang sekarang menjadi Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) dan jembatan di atas Sungai Ciliwung tahun 1880.
Sabtu, 23 Januari 2010 | 13:06 WIB

DEKORASI teater ini sungguh luar biasa untuk pe-hobi teater. Kostumnya juga sesuai dengan iklim panas, sungguh sesuatu yang enak dipandang. Orkestra pun terlihat komplet. Para pemain terlihat piawai meski kadang membebaskan diri dari peran mereka, yang lain cukup memperlihatkan bahwa mereka hanyalah pencinta teater. Bagaimanapun, tak bisa dihindari, para pemain pria harus memerankan perempuan….”

Kira-kira demikian pendapat seorang dokter yang biasa bertugas di kapal, dr Strehler, yang pada 1828 berkunjung ke Batavia. Ia menyempatkan menghibur diri di Stadsschouwburg atau Komedie Gebouw atau kemudian menjadi Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).

Sebelum kedatangan Thomas Stamford Raffles, dalam hal ini tentara Inggris, Batavia tak memiliki gedung kesenian. Akhirnya, tentara yang bosan dan biasa dijejali penampilan teater di negaranya membangun sebuah teater sangat sederhana dari bambu. Itu terjadi pada tahun 1814 di area yang kemudian disebut Waterlooplein. Sayangnya, Inggris tak bertahan lama di Batavia, Hindia Belanda. Pada 1816, saat Belanda kembali, gedung ini tetap digunakan sebagai gedung teater dengan penampilan pertama pada 21 April 1817.

Pemerintah Belanda kemudian sadar, ada banyak penampil yang perlu dipentaskan. Tentu gedung teater dari bambu itu tak layak. Maka dari itu, pemerintah pun mendonasikan sebidang tanah di ujung jalan yang kemudian menjadi Post Weg (Jalan Pos) dan Komedie Buurt (Jalan Gedung Kesenian). Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan dana sebesar 9.000 gulden untuk membangun gedung kesenian yang lebih layak. Dana itu belum ditambah dari urunan warga sebesar 43.600 gulden.

Kontraktor Tionghoa dipilih untuk membangun gedung teater senilai 22.000 gulden. Interior gedung tersebut menyedot 36.000 gulden. Ada kekurangan 6.000 gulden yang tertutup melalui pinjaman, demikian ditulis Scott Merrillees dalam Batavia in Nineteenth Century Photographs.

Gedung teater (Schouwburg) Batavia yang baru siap digunakan pada Oktober 1821. Pada saat bersamaan, Batavia masih mengalami wabah kolera yang dimulai sekitar Mei. Namun, minat seni dan kesenian tak bisa menunggu, maka Othello karya Shakespeare pun tetap dimainkan pada 7 Desember 1821. Pertunjukan itu merupakan pentas pertama di Schouwburg.

Seperti kata dr Strehler, pemain pria terpaksa memainkan peran sebagai perempuan, itu memang terjadi karena bangsa Eropa di Hindia Belanda memang lebih banyak pria. Bahasa yang digunakan juga bahasa Eropa. Maka sungguh sulit mencari pemain lokal perempuan yang sanggup menggunakan bahasa tak hanya Belanda dan atau Inggris.

Kedatangan rombongan teater Perancis pada 1835 ke Batavia dengan aktris yang sesungguhnya membuat sukses pertama yang selalu dikenang. Minard, sang pemimpin teater Perancis, bahkan kembali lagi setahun kemudian. Kali ini ia menawarkan opera pada warga Batavia. Tentu saja opera itu sukses besar. Hal itu seperti memberi pertanda kuatnya pengaruh Perancis dalam kehidupan warga di Batavia sepanjang abad ke-19.

Meski demikian, gedung teater ini kemudian juga mengalami kesulitan pada 1848 dan terulang lagi pada 1892, ketika waktu itu tak ada pemasukan yang layak sehingga pemerintah mengambil alih manajemen Schouwburg. Pada 1911, Pemerintah Kota Batavia mengambil alih manajemen gedung teater tersebut.

Di abad ke-20, gedung teater itu mengalami banyak perubahan, termasuk pernah menjadi bioskop khusus untuk film China dan masa-masa terbengkalai saat dibiarkan rusak sampai akhirnya dipugar pada 1980-an. Fungsinya dikembalikan menjadi gedung teater, gedung kesenian pada 1986, kemudian dikenal dengan nama Gedung Kesenian.

Pada gedung yang pada hari Kamis (21/1/2010) dihebohkan terbakar, sudah tak ada lagi patung di bawah bidang lengkung antar-dinding. Untung saja, kecelakaan kemarin cepat tertangani. Meski korsleting dari blower AC bisa segera ditangani,  bisa saja gedung ini hangus atau rusak jika pengamanan gedung ini dilakukan ala kadarnya.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

About these ads

0 Responses to “Historia : Cerita-cerita Tempo Doeloe”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,251,453 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: