20
Jan
10

Historia : Kenangan Tempo Doeloe

Di Meester Cornelis, Cornelis Senen Bersua Daendels

Tropenmuseum

Foto sebuah sekolah militer di kawasan Meester Cornelis sekarang Jatinegara. Tidak ada keterangan di mana dan jadi apa bekas sekolah militer itu saat ini.
Rabu, 13 Januari 2010 | 15:32 WIB

CORNELIS Senen dan HW Daendels “berpapasan” di Meester Cornelis pada saat pembuatan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg). Itu terjadi sekitar awal abad 19, kira-kira 1808. Cornelis Senen tiba dari Banda ke Batavia sekitar tahun 1620-an dan sekitar 30 tahun kemudian ia diberi hak membuka hutan di tepi Sungai Ciliwung. Di kemudian hari nama kawasan itu menjadi Meester Cornelis dan kini Jatinegara. Di masa kolonial, daerah Meester Cornelis berjarak sekitar 15 km ke arah selatan dari Batavia.

Sang meester tentu tak pernah tahu jika di kemudian hari seorang bernama Daendels, yang diutus Napoleon – saat menguasai Belanda – menjadi gubernur jenderal di Hindia Belanda, akan menembus hutan di kawasan itu untuk memenuhi ambisi, membuat jalan sepanjang 1.000 km dari Anyer ke Panarukan. Sebuah jalan yang memudahkan pasukannya bergerak cepat, jalan demi memudahkan transportasi. Tapi bukan hanya jalan yang ia bikin tapi juga sekolah militer Meester Cornelis dan benteng Meester Cornelis.

Jalan Raya Pos menghubungkan kota-kota, antara lain Anyer, Serang, Tangerang, Jakarta, Bogor, Sukabumi terus hingga ke Pemalang, Kudus, Sidoarjo, sampai Panarukan. Meskipun sebenarnya, tak seluruh 1.000 km jalan itu dibangun Daendels karena sebagian jalan itu merupakan jalan desa yang sudah dibikin Sultan Agung untuk menyerang Batavia pada abad 17.

Ruas Anyer-Cilegon, ruas jalan pertama, dari Cilegon mengarah ke Banten Lama, Serang, Tangerang kemudian masuk Batavia, kini jalur yang dilalui Jalan Raya Pos menjadi Daan Mogot, Pangeran Tubagus Angke, Gajah Mada dan Hayam Wuruk sampai Harmoni. Dari Harmoni berlanjut ke Monas, Gambir, Lapangan Banteng. Selanjutnya melewati Senen, Matraman, Meester Cornelis/Jatinegara, lanjut ke Buitenzorg/Bogor.

Di dalam foto atau lukisan yang kebanyakan tersimpan rapi dalam arsip di Belanda, pada jalur Daendels itu selalu ditampilkan  pos-pos jaga atau Belanda menyebut gardoe. Memang setiap jarak 30-40 km akan ada gardu tempat di mana kuda pembawa kereta pos berganti dan beristirahat. Lama-kelamaan di kawasan gardu itu tumbuh menjadi sebuah desa. Sebuah foto dari tahun 1800-an terlihat hutan di kiri kanan jalan, terlihat pula hutan baru dibabat, dengan dua jalur trem dan sebuah gardu pos di salah satu ujungnya. Dalam keterangan foto disebutkan, foto itu diambil di Meester Cornelis dengan arah menuju Kota dan melewati Matraman.

Sayangnya, peninggalan budaya di kawasan seputar Meester Cornelis, kita sebut saja Jatineraga, juga peninggalan lain sepanjang Senen, Matraman, Salemba, hingga ke Kampung Melayu, juga di Cawang, Cipinang, Bekasi, intinya di kawasan yang dulu masuk Meester Cornelis, lebih banyak yang sudah terkubur tanpa jejak. Sulit sekali mencari data di mana benteng Meester Cornelis dulu berada, kecuali bahwa ia berada di dekat Sungai Ciliwung, lantas ke mana sekolah militer Meester Cornelis kini?

Tak banyak yang tersisa, dan itu pun dalam kondisi yang sudah tak berbentuk atau paling tidak kumuh, siap roboh. Untuk kawasan Jatinegara, masih ada beberapa gedung kuno yang sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya seperti gedung SMPN 14 jakarta, Stasiun Kereta Api Jatinegara, gedung eks Kodim 0505, Gereja Koinonia di seberang kompleks militer Urip Sumohardjo, dan Pasar Lama Jatinegara.

Jika belum punya rencana untuk Minggu 17 Januari 2010, Komunitas Historia Indonesia (KHI) mengajak warga ikut menyusur sejarah Jatinegara, melihat bagaimana Cornelis Senen “bersua” Daendels. Seperti biasa, wisata sejarah ini dimulai pagi hari dengan membayar Rp 75.000. Ketua KHI Asep Kambali mengatakan, calon peserta bisa mengghubungi kantor sekretariat KHI  di Pejompongan atau melalui telepon di 021 37002345 atau di 0813 81046351.

Naik Lori Berusia Dua Abad
Selasa, 19 Januari 2010 | 16:51 WIB

DI Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah, ada satu lokasi pelesiran yang masih mempertahankan peninggalan dari abad 19. Tasikmadoe, namanya. Kawasan Pabrik Gula Tasikmadoe, demikian lengkapnya, sebuah pabrik yang sudah ada sejak 1870. Pabrik gula ini didirikan oleh Mangkunegara IV dan semula diberi nama Pabrik Gula Sudokuro. Seperti pabrik-pabrik gula di seluruh Indonesia, yang punya sejarah panjang, mereka seperti memasuki masa senja kala karena berat bersaing dengan produk gula impor yang diproses dengan modern dan harga di pasaran juga lebih murah.

Baik Pabrik Gula Tasikmadoe dan pabrik gula lain yang masih beroperasi, sebisa mungkin pihak pabrik menghidupkan wisata pabrik gula lengkap dengan lori pembawa tebu. Di sini, wisata itu diberi nama Agrowisata Sondokoro yang memanfaatkan lingkungan pabrik gula menjadi daya tarik wisata.

Bangunan utama pabrik bertuliskan PG TASIKMADOE. Jika ingin melihat kesibukan pabrik ini maka periode Mei-Oktober adalah waktu yang tepat, yaitu pada saat musim giling atau musim panen tebu. Pabrik ini masih menggunakan  mesin produksi Machinefabriek Gebr Stork & Co 1926 . Pada masa musim giling, pabrik ini tak hanya menggiling tebu tapi juga memasak, mencampur, dan mengkristalkan cairan tebu menjadi gula.

Di lokasi agrowisata bernama Sondokoro  ini loko tebu, loko uap berbahan bakar bal (ampas tebu) dibikin di seputaran tahun 1913, semisal produk Orenstein & Koppel Arthur Koppel AG Berlin-Germany. Sementara lorinya, diproduksi sebuah pabrik lori di Kota Dortmund, Jerman, antara tahun 1820-1850. Tak hanya spoor teboe yang bisa jadi pilihan wisata di sini. Ada bermacam lainnya termasuk melihat proses pembuatan gula.

Karena naik lori yang usianya sudah ratusan tahun, maka jalannya pun pelan. Kecepatan loko penarik lori tidak akan lebih dari 10 km per jam. Ini juga membuat pengunjung puas melihat kondisi pabrik gula yang meskipun dibangun pada masa kompeni, tapi masih beroperasi hingga abad milenium ini.

“Sampai saat ini memang masih beroperasi. Cuma, karena persediaan tebu untuk diolah jadi gula tinggal sedikit, pabrik ini hanya mengolah tebu menjadi gula pada bulan Mei hingga Oktober setiap tahun. Jadi, lahan ini juga dimanfaatkan untuk wisata,” kata Sutardji, salah satu pengawas wisata lori.

Untuk naik lori tua ada dua pilihan. Pilihan pertama lori trayek keliling halaman pabrik dan lori yang keliling masuk ke dalam pabrik. Untuk trayek keliling pabrik Rp 4.000/orang, sedang yang masuk ke dalam pabrik Rp 6.000/orang. Selain melihat pabrik gula yang usianya sudah sepuh itu, kita juga bisa menyaksikan gerbong tua peninggalan KGPAA Mangkoenagoro IV buatan tahun 1853. Konon, gerbong tersebut digunakan Raja Surakarta untuk jalan-jalan melihat pabrik gula. Pada zaman itu terdapat jalur kereta khusus dari Surakarta (Solo) ke lokasi pabrik gula, yang hanya digunakan untuk raja.

Terapi ikan mujair
Usai menikmati pabrik gula dan lori, pengunjung bisa melanjutkan dengan terapi ikan mujair. Tentu masih di lokasi agrowisata ini. Lokasi terapi ikan mujair ini teduh karena rimbunan pohon jati dan pinus. Untuk sampai ke lokasi ini pengunjung bisa menggunakan angkutan umum maupun kendaraan pribadi. Jaraknya lebih kurang 30 km dari Kota Solo dan 15 KM dari Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Tarifnya sangat murah. Cukup dengan uang Rp 3.000/orang(ditambah Rp 3.000 untuk masuk kawasan wisata), sudah bisa menikmati terapi itu selama seharian dari mulai lokasi itu buka sekitar pukul 08.00 sampai pukul 17.00. Tapi ingat jangan keenakan tidur, karena jika lokasi ditutup maka kita akan terkunci di dalamnya.

Lokasi terapi ikan mujair itu dibangun dengan bentuk kolam beralur bak sungai kecil, dengan air yang mengalir. Di sepanjang pinggir kolam dibangun tempat untuk duduk dengan sedikit rumput hijau untuk memanjakan mata. Tapi, jangan sekali-sekali menghentakkan kaki yang sudah terendam air, karena ikan-ikan akan kabur ketakutan dan akan memakan waktu lagi untuk bikin mereka berkumpul.

Tempat terapi ikan mujair ini dibangun tahun 2006 atau setahun setelah kawasan Wisata Sondokoro didirikan di tahun 2005. Tempat ini ada dalam areal Pabrik Gula Tasikmadoe. Lokasi ini juga tidak lepas dari nuansa mistis karena terdapat dua makam kyai yang jadi lokasi petilasan, yaitu Kyai Sondo dan Kyai Koro. Luas wilayah Wisata Sondokoro dan wisata pabrik gula ini 22 hektar. (Celestinus Trias HP)

Caruban Nagari, Menengok Cirebon di Masa Silam

KITLVKITLV

Gunung Cermai dengan latar depan jalan utama yang menghubungkan Cirebon Kuningan, dilihat dari arah timur laut. Gambar diambil sekitar tahun 1920.
Selasa, 19 Januari 2010 | 16:30 WIB

PANORAMA Hindia Belanda yang bergunung-gunung, berbukit, ditambah hamparan sawah hijau menguning menjadi salah satu hal yang membuat warga Belanda terkagum-kagum. Lukisan alam itu banyak mengisi album keluarga Belanda yang pernah menjalani hidup di salah satu tempat di Nusantara ini.

Sebut saja WG Peekema asal Den Haag dan Nyonya Fisser-Schefer dari Hilversum. Nyonya Peekema menyimpan foto panorama Gunung Ciremai di tahun 1920. Dalam koleksi foto tua di KITLV  (Koninklijk Instituut voor Taal en Volkenkunde/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Carribbean studies) atau  Lembaga Studi Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda, hasil jepretan Peekema diberi nama De Tjermai met op de voorgrond de grote weg tussen Cheribon en Koeningan, gezien vanuit het noordoosten (Gunung Cermai dengan latar depan jalan utama yang menghubungkan Cirebon – Kuningan, dilihat dari arah timur laut). Gambar diambil sekitar tahun 1920.

Sementara Fisser-Schefer mengambil pemandangan Cirebon dengan Gunung Ciremai pada 1938. Fotonya lebih menggambarkan suasana kota Cirebon yang berhadapan dengan Gununng Ciremai.

Gunung Ceremai atau Ciremai masuk dalam tiga wilayah kabupaten di Jawa Barat, yaitu Cirebon, Kuningan, dan Majalengka.  Gunung api ini adalah gunung tertinggi di Jawa Barat dan memang bisa dinikmati siapapun yang melintas jalur pantura di sekitar Cirebon. Menurut Thomas Stamford Raffles dalam History of Java yang terbit pada 1817, gunung itu merupakan tempat Raden Tanduran melakukan upacara penebusan dosa. Raden Tanduran tak lain pendiri Kerajaan Majapahit pada 1221. Raffles menyebut Gunung Chermai sebagai sebuah gunung di Cheribon.

Dalam kisah tentang asal muasal Cirebon dikatakan, Cirebon berasal dari bahasa Sunda, Cai dan Rebon, air dan udang. Kisah lain menyebutkan, Cirebon berasal dari kata Sarumban kemudian berubah menjadi Caruban atau campuran karena Cirebon sebagai kota pelabuhan menjadi tempat bercampurnya suku Jawa, Sunda, Arab, Melayu, dan China. Caruban berubah lagi menjadi Carbon, Cerbon, dan Cirebon. Kota ini berdiri sekitar 1440-an.

Sementara itu Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels mengisahkan, Cirebon muncul dalam sejarah Indonesia sejak masuknya Islam yang dibawa pedagang pribumi. Di masa Hindu, peranan Cirebon kurang penting. Cirebon tak bisa lepas dari kisah Sunan Gunungjati alias Syeh Maulana. Pram mengingat tahun 1946  yang diharapkan tak terulang lagi di mana gaji sebagai letnan dua hanya diterima separuh dari yang ditetapkan pemerintah. Korupsi sudah mulai merajalela, begitu kata Pram.

Sejak tahun 1678, di bawah perlindungan Banten, Kasultanan Cirebon terbagi tiga, yaitu pertama Kesultanan Kasepuhan, dirajai Pangeran Martawijaya, dikenal dengan Sultan Sepuh I. Kedua Kesultanan Kanoman, dikepalai oleh Pangeran Kertawijaya atau beken sebagai Sultan Anom I dan ketiga Panembahan yang dikepalai Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Cirebon I.

Kota Cirebon tumbuh perlahan-lahan, demikian catatan Nina H Lubis dalam Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat,  pada tahun 1858, di Cirebon terdapat 5 toko eceran dua perusahaan dagang. Pada tahun 1865, tercatat ekspor gula sejumlah 200.000 pikulan (kuintal), dan pada tahun 1868 ada tiga perusahaan Batavia yang bergerak di bidang perdagangan gula membuka cabang di Cirebon. Pada tahun 1877 Cirebon sudah memiliki pabrik es. Pipa air minum yang menghubungkan sumur-sumur artesis dengan perumahan dibangun pada tahun 1877.

Bagi yang tertarik menengok peninggalan Cirebon dan Kuningan, Komunitas Historia Indonesia bekerja sama dengan Cirebon Heritage Society – Kendi Pertula, Pemerintah Kota Cirebon, Pemerintah Kabupaten Cirebon, dan Pemerintah Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat akan menggelar Caruban Nagari Heritage Trails: Menelusuri Sejarah, Menguak Jejak Warisan Budaya Caruban Nagari.

Cirebon dan kisah panjangnya tak lepas dari sejarah kota-kota di dekatnya, seperti Kuningan dan Indramayu. Bagaimana kini kondisi makam Sunan Gunungjati, Karesidenan Cirebon, balai kota Cirebon, panorama kota Cirebon dari menara Masjid At-taqwa, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Goa Sunyaragi petilasan para Sultan Cirebon, dan kemudian Kampung Budaya Cigugur di Kuningan? Itu bisa kita lihat langsung bersama rombongan, tentunya.

Menurut Asep Kambali, peserta antara lain akan dibawa ke gedung-gedung besejarah, makam keramat, kampung budaya, kawasan megalitikum, kota tua, bendungan dan kawasan pemandian keramat yang ada di kawasan Caruban Nagari , Cirebon, Indramayu, dan Kuningan. Antara lain, tempat-tempat yang sudah tertulis di atas. Acara ini digelar 30 dan 31 Januari 2010 dengan biaya Rp 550.000/orang. Yang tertarik, silakan SMS ke Rika di  0858.8563.7567.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Mengenal Perbankan Masa Lalu
Sabtu, 16 Januari 2010 | 16:10 WIB

KOMPAS.com — Beberapa nama bank dari masa Batavia boleh jadi sudah sering disebut-sebut. Nama-nama bank seperti De Javasche Bank (kini Museum Bank Indonesia); Nederlandsche Handles Maatschappij-NHM (kini Museum Bank Mandiri); Chartered Bank of  India, Australia, and China (eks Bank Bumi Daya);  Hongkong & Shanghai Banking Corporation – Kantor Pajak Tambora; dan Nederlandsche Indische Escompto Maatschappij – eks Bank Dagang Negara. Lantas bagaimana dengan De Post Paar Bank, De Algemene Volkscrediet Bank, atau Nationale Handle Bank?

De Post Paar Bank menjadi Bank Tabungan Pos tahun 1950 kemudian menjadi Bank Negara Indonesia (BNI) Unit V dan terakhir menjadi Bank Tabungan Negara (BTN) pada 1968. De Algemene Volkscrediet Bank tak lain adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Ekspor Impor (Bank Eksim) kemudian menjadi BNI Unit II untuk kemudian pada 1968 berdiri sendiri sendiri menjadi dua bank, BRI dan Bank Eksim. Nationale Handle Bank semula bernama Nederlandsche Indische Handels Bank (NIHB) kemudian menjadi BNI Unit IV dan pada 1968 menjadi Bank Bumi Daya (BBD) bersama dengan Chartered Bank of  India, Australia, dan China.

Dilihat dari sejarah perbankan di atas, lembaga perbankan yang kita kenal saat ini merupakan warisan sistem perbankan masa kolonial. Meski kini beberapa bank menjadi satu menggunakan nama yang lain, warisan itu tetap saja melekat.

Pada awalnya perbankan hanya berfungsi sebagai lembaga yang membantu pemerintah dalam penyaluran keuangan, terutama dalam sektor perdagangan. Selain mempunyai sistem kerja yang rapi, bangunan sebuah bank juga menentukan nasabah yang akan menitipkan uang dan atau barang berharga yang disimpan.

Bank tak hanya mempunyai gedung yang megah dan arsitektur yang indah, tetapi juga mempunyai sebuah ruang kluis (safe deposit) dengan dinding yang tebal, pintu berukuran sangat besar, kuat, dan kokoh dengan sistem kunci kombinasi. Bahkan, ruangan ini bersifat sangat rahasia sehingga tidak dicantumkan dalam denah bangunan. Jauh sebelum ada kluis, kasir bank merantai kotak uang pada kakinya pada saat tidur agar uang tak dicuri.

“Kalau ada pencuri masuk bank, sulit keluar karena bangunan bank masa lalu penuh ruang dan lorong. Bisa tersesat, apalagi orang yang baru pertama kali masuk. Jadi memang, Belanda sudah memerhatikan keamanan dan kenyamanan bangunan bank, itu semua supaya nasabah merasa aman,” tutur Kartum Setiawan, Ketua Komunitas Jelajah Budaya, dalam perbincangan di kawasan Kota Tua Jakarta beberapa waktu lalu.

Kini sisa bangunan perbankan masih bisa dilihat di kawasan bersejarah Kota Tua, baik yang masih aktif digunakan untuk kantor bank hasil nasionalisasi, maupun digunakan sebagai museum yang memamerkan rangkaian sejarah bank-bank pendahulunya.

Sekadar gambaran, gedung eks De Escompto Bank berarsitektur Indische terletak di pojok pertemuan Jalan Pintu Besar Utara dan Jalan Bank. Menempati lahan seluas 3.010 meter persegi, aset ini mlik Bank Mandiri. Bangunan cagar budaya ini awal mulanya merupakan Kantor Pusat De Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij di Batavia, yang dibeli tahun 1902.

Gedung kantor bank memiliki luas lantai seluruhnya 6.729 meter persegi. Gedung ini  menghadap ke Jalan Pintu Besar Utara terdiri atas dua lantai dibangun tahun 1904 dan mulai digunakan tahun 1905. Di dinding atas gedung ini terdapat ornamen lambang-lambang kota Hindia Belanda, seperti Surabaya, Batavia, dan Semarang, juga terdapat lambang kerajaan Belanda dan kota Amsterdam. Konstruksi utama bangunan ini beton bertulang dan menggunakan atap genteng tanah liat produksi Tan Liok Tiauw, Batavia dan Tijanting Plered SS Wall.

Sementara itu, di sudut Jalan Kalibesar Barat tak jauh dari De Javasche Bank (Museum Bank Indonesia), berdiri gagah gedung berkubah dari tahun 1920-an. Ini adalah gedung Chartered Bank, kini aset Bank Mandiri. Di bagian dalam gedung yang di zaman Belanda merupakan bank terkemuka ini terdapat lukisan patri menggambarkan orang sedang bekerja. Sebut saja orang menumbuk padi, pergi ke pasar, dan membawa getah karet. Kaca patri ini dibuat oleh J Sabel’s en Co yang pusatnya di Haarlem, Belanda. Di sini, kita juga bisa jumpai prasasti peletakan batu pertama yang di situ tertulis 27 Pebruari 1921.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Berkaca pada Cinta Siti Nurbaya
Sabtu, 16 Januari 2010 | 15:36 WIB

KOMPAS.com — Pernikahan terpaksa yang dialami Siti Nurbaya, tokoh utama dalam buku Siti Nurbaya karya Marah Rusli, sering kali menjadi olok-olok bagi perempuan yang dijodohkan orangtuanya saat ini. Namun, apakah benar Siti Nurbaya dijodohkan atau dipaksa orangtua untuk menikah dengan saudagar kaya yang berhati jahat?

Aku tahu Nur, bahwa engkau tidak suka kepada Datuk Maringgih,” kata ayahku pada malam itu kepadaku. “Pertama umurnya telah tua, kedua karena rupanya tak elok, ketiga karena tabiatnya yang keji” Selanjutnya sang ayah berkata, “Aku tahu hatimu pada Samsu dan hatinya kepadamu. Aku pun tiada lain, melainkan itulah yang aku cita-citakan dan kuharapkan siang dan malam, yakni akan melihat engkau duduk bersama-sama dengan Samsu kelak, karena ialah jodohmu yang sebanding dengan engkau…Nurbaya, sekali-kali aku tiada berniat, hendak memaksa engkau. Jika tak sudi engkau, sudahlah, tak mengapa. Biarlah harta yang masih ada ini hilang ataupun aku masuk penjara sekalipun, asal jangan bertambah-tambah pula duka citamu…”

Cuplikan di atas memperlihatkan penderitaan ayah Siti Nurbaya, Baginda Sulaiman, saat meminta kesediaan anaknya untuk membantu keluarga mereka keluar dari cengkraman jahat Datuk Maringgih. Sang ayah membujuk Nur untuk membantu mereka karena keinginannya untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi istri dan anaknya jauh lebih besar dari kesedihannya jika melihat keluarganya jatuh di lubang kemiskinan.

Dalam buku yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1922 itu, diceritakan bahwa pada awalnya Nur memang tidak bersedia diminta sang ayah untuk menikahi Datuk Maringgih demi menolong keluarga. Namun, akhirnya Nur bersedia menikah karena tidak tahan melihat sang ayah digiring oleh petugas Belanda. Hal itu bisa terlihat dari sebait cuplikan ini, “…Tatkala kulihat ayahku akan dibawa ke dalam penjara, sebagai seorang penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku dan hilanglah pikiranku dan dengan tiada kuketahui, keluarlah aku, lalu berteriak, “Jangan dipenjarakan ayahku! Biarlah aku menjadi istri Datuk Maringgih!”…

Dari cuplikan-cuplikan di atas, jelas sekali terlihat sebuah perbedaan besar antara dijodohkan, dipaksa, dan terpaksa. Di novel itu, Baginda Sulaiman memang meminta Siti Nurbaya untuk menikah agar bisa membantu dirinya lepas dari jeratan licik Datuk Maringgih, tetapi ia tidak ingin Nur hidup dalam penderitaan karena menikahi Datuk Maringgih. Keputusan akhir tetap diberikan kepada Nur.

Marah Rusli, sastrawan yang juga dokter hewan ini, pun menceritakan betapa beban yang harus ditanggung Siti Nurbaya sangat besar. Rasa cintanya pada kekasih hati, Syamsul Bahri, membuatnya sempat menolak keinginan sang ayah. Namun, meski Baginda Sulaiman menerima keputusan Nur, besarnya rasa cinta Nur kepada orangtua menyebabkan ia merubah keputusan, yaitu persis saat ia melihat sang ayah hendak dibawa ke penjara.

Di masa itu, perjodohan merupakan hal yang wajar. Marah Rusli membalut budaya masyarakat dengan konflik yang sangat menarik. Tak aneh jika kisah ini masih membekas di benak pembaca. Bahkan menjadi olok-olok bagi mereka yang menikah berdasarkan perjodohan. Novel Marah Rusli ini memang bertujuan membebaskan perempuan dari perkawinan yang tidak didasarkan oleh rasa cinta.

Keberadaan novel yang paling tenar di antara novel karya Balai Pustaka lainnya ini mau tidak mau membobol budaya perjodohan yang masih kuat di dalam masyarakat Indonesia. Persoalan yang dikemukakan Marah Rusli dalam karya-karyanya bukan lagi istana-sentris dan hal-hal bersifat fantasi belaka, melainkan gambaran realita masyarakat pada masa itu.

Novel berbalut kisah cinta dan pengorbanan seorang perempuan pada masa itu membuat cerita Siti Nurbaya menjadi kuat. Melalui buah tangannya, dokter hewan itu ingin menyampaikan gagasan tentang kekolotan di kalangan bangsawan yang merugikan, kearifan hidup pada zaman pembaharuan, corak perkawinan ideal, keburukan poligami, serta masalah hubungan laki-laki dan perempuan. Marah Rusli juga seolah-olah ingin menyampaikan reformasi sosial dan mencita-citakan perkawinan tanpa paksaan. (WIK)

Hebe, Menanti Ketegasan Pemerintah Pusat

KITLVIstimewa

Foto lama dari KITLV tahun 1925 ini memperlihatkan Borsumij, gudang perusahaan dagang Borneos Sumatra Maatschappij. Bagian atas gedung ini mirip dengan bagian atas Hebe.
Kamis, 14 Januari 2010 | 17:31 WIB
Demi pembangunan Bangka Trade Centre, pemerintah kota Pangkalpinang akan meruntuhkan bekas gedung bioskop dari tahun 1917 dan bernilai sejarah tinggi.

DEWI Kawula Muda (Goddess of Youth) Yunani  dipilih menjadi nama sebuah gedung bioskop di Pangkalpinang.  Di kalangan penggemar komik Marvel, nama Hebe juga mengingatkan komik tentang Hebe, istri Hercules, yang ciamik membuat bir ambrosia yang beken dalam mitologi Yunani itu. Entah kenapa nama bioskop tertua di Bangka Belitung itu diberi nama sesuai dengan nama putri Zeus dan Hera yang ternyata adalah jagoan meracik minuman buat para dewa dewi di Gunung Olympus. Hebe kemudian dikenal pula dengan nama Banteng, Bioskop Banteng, di zaman Soekarno.

Gedung  yang selama ini telantar itu ada di kawasan bernama Pasar Pembangunan. Keberadaan gedung itu kini sedang di ujung tanduk.  Alih-alih merevitalisasi  eks Bioskop Banteng,  Pemerintah Kota Pangkalpinang di  bawah Wali Kota Zulkarnain Karim memilih segera merobohkan bangunan tersebut pada 20 Januari nanti.  Itu dilakukan demi pembangunan Bangka Trade Centre (BTC).

Hebe, didirikan pada 1917 oleh seorang mayor China, Majoor titulair der Chineesen Oen Kheng Boe. Seperti gelar-gelar Majoor di masa kolonial, ia adalah pemimpin komunitas Tionghoa. Karena sejarah Pangkalpinang yang penuh dengan tambang timah dengan pekerja yang berasal dari China,  Siam, dan Melayu, maka peninggalan berupa bangunan di kota ini kebanyakan berarsitektur gabungan antara China, Eropa, dan Melayu meski paling kuat adalah pengaruh China dan Eropa. Termasuk  di dalamnya, Hebe. Karena ada Hebe alias Banteng, maka kawasan di sekitar itu semula disebut sebagai kawasan Hebe/Banteng.

Menurut Melly Suwandhani, salah satu keturunan Oen Kheng Boe, gedung itu dibangun setelah sekolah Tionghoa THHK (Zhung Hua Hui Guan) berdiri pada 1907. Pembangunan itu atas bantuan Jenderal China Li Xie-he yang, konon, tiba di Pulau Bangka dan membantu warga Tionghoa perantauan.  Diperkirakan, keberadaan gedung Hebe juga atas bantuan Li Xie-he yang memang gencar membantu perkembangan pendidikan dan budaya warga di Bangka.

“Sekolah THHK  umurnya 100 tahun lebih tapi sudah enggak ada.  Memang di satu kawasan itu ada sekolah, klenteng, pasar, lengkap. Tapi kalau Hebe jadi dirobohkan, apakah klenteng masih aka nada? Pasar kan akan berubah jadi BTC. Pokoknya mal besar dan modern, deh. Dan yang saya dengar, gedung Hebe itu jadi penghambat karena belum dirobohkan, jadi pembangunan BTC terhambat karena rencana itu sudah sejak 2007,” papar Melly sambil menambahkan, Hebe sempat jadi gudang Borsumij (Borneo Sumatra Handel Maatschappij) di masa malaise. Menurut data KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde),  pada tahun 1925 ada gudang Borsumij di Pangkalpinang dan pada foto itu terlihat tampak depan  bangunan yang arsitekturnya sangat mirip dengan Hebe. KITLV memberi judul  Opslagplaats van de Borneo Sumatra Handel Maatschappij (Borsumij) te Pangkalpinang (gudang Borsumij di Pangkalpinang).

Setelah melihat foto tersebut, Melly yakin bahwa itu adalah gedung yang dibangun buyutnya. Nama dan angka yang tertera pada dinding atas bagian depan, yang tertulis dalam karakter China, sama dengan bangunan yang kini akan dieksekusi.

Intinya, sejarah bangunan ini panjang, juga tentu saja menjadi identitas kota, kekayaan kota ini, sebagai obat anti lupa akan sejarah kota ini. Tapi Wali Kota Zulkarnain rupanya punya keputusan lain, ia mantap tetap akan membongkar bangunan ini, tak peduli alasannya.

Surat dari Jakarta
Dari Jakarta, Direktur Peninggalan Purbakala Dirjen Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Junus Satrio Atmodjo sudah mengirimkan surat permohonan pembatalan pembongkaran kepada tuan Wali Kota. Surat tertanggal 31 Desember 2009 itu antara lain berbunyi, Banteng punya nilai penting dalam sejarah budaya Pangkalpinang dan wajib dilestarikan sebagai warisan budaya sesuai UU No 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (BCB) dan Peraturan Bersama Menteri Budpar dan Menteri Dalam Negeri No 42 tahun 2009 dan Nomor 40 tahun 2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Kewajiban Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Melestarikan Kebudayaan.
Sebelumnya, November 2008 sudah ada surat dari Yoeseof Budi Ariyanto, kasubdit konservasi Dirjen Sejarah dan Purbakala Kementrian Budpar kepada gubernur Bangka Belitung bahwa situs itu sudah dalam proses menjadi BCB.

Sebagai tambahan, dalam jumpa pers akhir tahun pada 30 Desember 2009, Menteri Budpar Jero Wacik mengakui pihaknya lalai memperhatikan persoalan budaya termasuk persoalan BCB, oleh karena itu mulai tahun ini persoalan tesebut akan jadi sama penting dengan hal-hal terkait pariwisata.

Ngotot

Persda Network, Bangka Pos, kembali menyiarkan berita tentang Zulkarnain yang menegaskan, tetap akan membongkar pada 20 Januari nanti. Alasannya, hak guna bangunan bioskop sudah berakhir tahun 1980, bioskop atas nama NV Meby (kini PT Meby) sudah tak beroperasi, PT Meby sudah kehilangan haknya di atas tanah negara itu.

“Kenapa orang-orang ribut, lahan itu dikuasai pemda, kok,” tandas Zulkarnain seperti dikutip Bangka Pos. Pernyataan itu dilontarkan setelah batas waktu tim kajian teknis kelar melakukan penelitian terhadap Hebe pada 8 Januari 2010. Hasilnya, Hebe tak layak dipertahankan dan harus dirobohkan. Pasar kumuh, bangunan telantar, kawasan jorok jadi alasan Zulkarnain menyulap Hebe jadi bagian pusat belanja modern seluas dua hektar. Pusat belanja setinggi 10 lantai itu juga bekerjasama dengan Hotel Four Seasons Jakarta.

Jika tak ada tindakan tegas dari pusat, maka 20 Januari kita akan kembali melihat kuburan massal identitas kota, bagian sejarah kota Pangkalpinang termasuk Bioskop Garuda, Surya, dan pabrik es yang akan dihancurkan oleh Zulkarnain. Tentu saja ini akan jadi preseden buruk karena kota-kota lain bisa dipastikan akan mengikuti.

Ketika sang menteri sudah mengakui kelalaiannya dan ingin membayar itu semua dengan perhatian pada pusaka budaya, lantas bagaimana bisa kepala daerah di Pangkalpinang malah akan melabrak UU, peraturan, dengan kacamata kuda.

Biarpun tersisa satu dinding pun, itu layak dipertahankan sebagai tonggak, penanda, pengingat akan sejarah kota itu. Dalam UU No 5 tahun 1992 tentang BCB tertulis pemerintah bertanggungjawab memelihara dan mempertahankan pusaka budaya, dalam hal ini BCB. Jika ditelantarkan oleh pemiliknya, maka pemerintah tak lantas berhak merobohkan tapi sebaliknya, sesuai dengan kalimat pembuka UU itu, mempertahankan dan memelihara sebagai kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Oleh karena itu perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran jatidiri bangsa dan kepentingan nasional.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

About these ads

0 Responses to “Historia : Kenangan Tempo Doeloe”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,103,295 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 114 other followers

%d bloggers like this: