13
Jan
10

Wisata Kota : Kuliner Malam Jakarta

Menyusur Jalur Justinus Vinck Hingga ke Rawa Belong

Warung Nasi Kapau di Jalan Kramat Raya, tak jauh dari bioskop legendaris Rex atau Grand, Jakarta Pusat.
Senin, 11 Januari 2010 | 10:34 WIB

SEKITAR tujuh tahun lalu, bersama rekan satu liputan, saya merancang sebuah wisata yang sepanjang pengetahuan kami, belum pernah dilakukan. Rencananya, rancangan itu kami coba dulu sambil kemudian dikembangkan dalam sebuah tulisan, sebuah liputan yang menarik pastinya. Setidaknya untuk memberi nafas segar pada urusan wisata Jakarta, khususnya wisata kuliner, belanja, sekaligus juga sejarah. Tapi wisata yang ini, bukan wisata biasa karena dimulai menjelang tengah malam.

Untuk empat tahun belakangan, barangkali wisata malam dan dini hari sudah tak asing. Beberapa komunitas sudah melakukan. Seringkali kawasan Kota Tua dan museum serta bangunan sekitar jadi sasaran wisata tipe ini. Kembali ke rancangan wisata dini hari, upaya kami ternyata tak berhasil tuntas. Penyebabnya mungkin karena terlalu optimis, dan agak di luar kebiasaan karena wisata ini dimulai menjelang tengah malam, menjelajah beberapa tempat di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat.

Tulisan ini muncul setelah saya membaca rencana Joko Ramadhan, Wali Kota Jakarta Barat, menjadikan Rawa Belong sebagai kawasan wisata. Langsung saja saya terlonjak, teringat tujuh tahun silam. Apa pasal? Ya, karena Rawa Belong masuk dalam jalur rancangan wisata dini hari tadi. Rasanya, saya bersemangat lagi. Rancangan wisata “Kelompok Sabang” – demikian kami sebut – bisa digelar segera setelah musim penghujan lewat.

Kelompok Sabang, terdiri atas sekitar enam wartawan, yang sering kongkow di kawasan tersebut sambil diskusi masalah perkotaan, salah satu perkara yang kala itu kami diskusikan adalah pasar tradisional. Bagaimana bisa, Pemprov DKI tak memanfaatkan pasar tradisional yang punya sejarah cukup panjang jadi atraksi wisata. Kondisi pasar tradisional begitu buruknya kala, becek, bau, pokoknya tak menarik sama sekali. Padahal Jakarta gencar menjeritkan wisata belanja, belanja apa? Di mana? Mal? Sungguh enggak kreatif.

Alhasil dari perbincangan, muncul rancangan perjalanan yang dimulai dari Pasar Senen. Intinya, ngublek Pasar Senen yang jadi gudang penganan kecil, pasar kue subuh. Sekitar jam 23.00 keriuhan dimulai di sana. Pilah-pilih kue, melototin pedagang dan kue mereka, atau sekadar mengabadikan kesibukan pedagang dan pembeli. Namanya juga rancangan percobaan. Iseng-iseng sambil mencari ide liputan. Tidak kepikiran bahwa di seputaran sini saja, kala itu, penuh dengan lokasi yang bisa jadi atraksi wisata.

Tak jauh dari sini, ada sederetan Nasi Kapau di Jalan Kramat Raya;  tak jauh dari bioskop legendaris Rex, kemudian Grand, kemudian Kramat; di seberang deretan nasi kapau ada es krim Baltic dari tahun 1930-an. Ke arah Gunung Sahari ada Wayang Orang Bharata. Belum lagi kisah masa lampau kawasan tersebut, bagaimana Pasar Senen dibikin oleh Justinus Vinck – Vinck passer – di tahun 1760-an, kisah perjalanan si bioskop, es krim Baltic, Wayang Orang Bharata, dan kisah-kisah menarik lainnya yang bisa menambah asik perjalanan.

Selepas bikin perut bengkak karena kudapan subuh yang murah, sederhana, tapi nikmat itu, rombongan bergerak ke arah Kwitang. Kawasan ini dulu, menurut catatan sejarah, dikuasai tuan tanah bernama Kwik Tang Kiam. Orang Betawi zaman dulu menyebut daerah itu sebagai kampung si Kwi Tang maka jadilah nama kawasan itu Kwitang hingga kini. Terus ke arah barat, mengikuti jalur Vinck, ke arah Jalan Prapatan dan Kampung Lima (Jalan Wahid Hasyim). Di sini bisa tengok sedikit Monas, Gambir, Sabang, Sarinah, terus ke Tanah Abang di mana Vinck membeli lahan luas dan kemudian menjadi Pasar Tanah Abang di tahun 1730-an.
Dari Tanah Abang meluncur terus ke arah Slipi, Palmerah yang pernah tenar dengan batik, terus hingga ke Rawa Belong.

Nah, sekali lagi, karena tujuh tahun silam, kami hanya iseng-iseng belaka, maka hanya menyasar lokasi yang berkilau, yang bersinar terang, entah karena lampu listrik atau lampu petromaks. Apalagi kalau bukan tempat makan. Rawa Belong siap melayani perut-perut dan mata yang lapar. Berbagai warung khas Betawi bertebaran di sini, ya sate kambing, sop kaki, soto kaki, soto betawi, atau nasi uduk. Plus, tentu saja toko bunga Rawa Belong. Bukan untuk beli, sekadar mengamati kesibukan, menyegarkan mata dengan menatap bebungaan segar, sambil ngobrol ngalor ngidul.

Kini, tentu rancangan jalan-jalan menyusur jalur Vinck hingga ke Rawa Belong itu bisa dimodifikasi sendiri baik dari segi lokasi dan waktu. Jalan-jalan ini tak perlu biaya besar dan tak perlu pemandu, cukup baca website http://www.wisatakotatoea.com ini dari hari ke hari, selanjutnya ajak teman atau saudara dan rasakan sendiri sensasinya.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

About these ads

4 Responses to “Wisata Kota : Kuliner Malam Jakarta”


  1. January 13, 2010 at 2:54 pm

    yang aku tahu sie,kalo dijakarta kita makan-makannya di menteng, lum pernah deh ditempat lain. tapi setelah baca blog ini, akujadi punya referensi tx ya.
    my last post: Cokelat Hangat Membuatku Bernafsu

  2. March 11, 2010 at 10:08 am

    wah thans ya referensinya..okeh n patut dicoba ini..^^

  3. March 31, 2010 at 9:21 pm

    Thanks infonya, kebetulan saya termasuk kalong…melek n cari makan klw malam hari :D

  4. 4 Debbi Permata Sari
    January 21, 2011 at 2:26 pm

    ehmmmmmmmmmmmmmmmmmm ,.. yummy thanks yawwwwwwwwwwwwwwwwww,…
    skrg jd bnyk pilihan ntuk kuliner d jakarta ,..khusus na malam hari ,..
    hehehehehee,..^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,102,405 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 114 other followers

%d bloggers like this: