Archive for January, 2010

30
Jan
10

Dakwah : Kendali Hawa Nafsu dan Sikapi Musibah

Pengendalian Hawa Nafsu
Republika, Jumat, 23 Oktober 2009, 10:58 WIB

Cinta kita kepada Allah SWT dan keyakinan bahwa kehidupan di dunia ini suatu saat akan berakhir dan di akhirat nanti masing-masing kita harus mempertanggungjawabkan setiap detik perjalanan hidup di dunia, memiliki andil yang sangat besar dalam mengendalikan kecenderungan hawa nafsu.

Suatu saat terjadi dialog antara Rasulullah SAW dengan Hudzaifah Ra. Rasulullah Saw bertanya kepada Hudzaifah. Ya Hudzaifah, bagaimana keadaanmu saat ini? Jawab Hudzaifah: “Saat ini saya sudah benar-benar beriman, ya Rasulullah”. Rasul kemudian mengatakan, “Setiap kebenaran itu ada hakikatnya, maka apa hakikat keimananmu, wahai Hudzaifah?” Jawab Hudzaifah: Ada “dua”, ya Rasulullah. Pertama, saya sudah hilangkan unsur dunia dari kehidupan saya, sehingga bagi saya debu dan mas itu sama saja. Dalam pengertian, saya akan cari kenikmatan dunia, lantas andaikata saya dapatkan maka saya akan menikmatinya dan bersyukur kepada Allah SWT.  Tapi, kalau suatu saat kenikmatan dunia itu hilang dari tangan saya, maka saya tinggal bersabar sebab dunia bukanlah tujuan. Bila ia datang maka Alhamdulillah, dan bila ia pergi maka, Innalillaahi wa inna ilaihi raji’un. Yang kedua, Hudzaifah mengatakan, “setiap saya ingin melakukan sesuatu, saya bayangkan seakan-akan surga dan neraka itu ada di depan saya. Lantas saya bayangkan bagaimana ahli surga itu me-nikmati kenikmatan surga, dan sebaliknya bagaimana pula ahli neraka itu merasakan azab neraka jahanam. Sehingga terdoronglah saya untuk melakukan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang-Nya”.

Mendengar jawaban Hudzaifah ini, Rasul langsung saja memeluk Hudzaifah dan menepuk punggungnya sambil berkata,  “pegang erat-erat prinsip keimananmu itu, ya  Hudzaifah, kamu pasti akan selamat dunia akhirat”. Bila kita cermati dialog tersebut, paling tidak, ada “dua” hikmah yang bisa kita petik. Pertama, iman kepada Allah, dengan mencintai Allah itu di atas cinta kepada selain Allah. Dan yang kedua, selalu membayangkan akibat dari setiap perbuatan yang dilakukan di dunia bagi kehidupan yang abadi di akhirat nanti.

Di dalam beberapa ayat, Allah SWT menjelaskan tentang sifat-sifat orang-orang yang muttaqin, mereka di antaranya adalah yang meyakini akan adanya kehidupan akhirat. Orang yang beriman akan adanya kehidupan akhirat, akan membuat dia mampu mengendalikan kecenderungan hawa nafsunya. Sebaliknya, orang-orang yang tidak meyakini akan adanya kehidupan akhirat, “Mereka tidak pernah takut dengan hisab Kami, dan mereka telah mendustai ayat-ayat Allah dengan dusta yang nyata.” (An Naba’, 78 : 27-28)

Di dalam Alquran, Allah SWT mengisahkan dialog sesama Muslim di akhirat yakni antara Muslim yang ahli surga dengan Muslim berdosa yang masuk dalam neraka jahanam. Muslim yang langsung masuk surga bertanya kepada Muslim berdosa yang masuk ke dalam neraka. “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka ? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan hingga datang kepada kami kematian.” (Al Muddatstsir, 74 : 42-46)

Menurut Alquran, kebanyakan orang-orang yang kufur adalah mereka yang akhir hidupnya penuh dengan kemaksiatan. Ini terjadi karena mereka tidak mengimani bahwa kehidupan mereka akan berakhir di alam akhirat dan mereka harus mempertanggungjawabkan seluruh aspek kehidupan mereka selama di dunia. Demikian pula, Allah SWT mengisahkan kesombongan Fir’aun dan orang-orang yang menyembahnya, “Sombonglah Fir’aun itu dengan seluruh pengikutnya di muka bumi tentu dengan alasan yang tidak benar. Dan mereka mengira, bahwa mereka tidak akan pernah kembali kepada Kami.” (Al Qashash, 28 : 39)

Kesombongan Fir’aun berakhir saat sakaratul maut. Saat dia menyadari bahwa dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Ketika rombongan malaikat yang bengis-bengis itu mendatanginya saat dia sedang berada di tengah laut, yang dikisahkan para malaikat itu langsung memukul wajah dan punggung mereka. Allah SWT berfirman: “..Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (Al An’aam, 6 : 93)

Pada saat sakaratul maut itu, Fir’aun menyatakan: “Sekarang saya benar-benar beriman dengan Tuhannya Nabi Musa dan Harun”. Namun saat sakaratul maut pintu taubat sudah ditutup. Karena sudah tidak ada lagi ujian keimanan, sebab yang ghaib termasuk alam dan makhluk ghaib sudah terlihat nyata. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (Qaaf, 50 : 22)

Orang yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari pembalasan/akhirat, yang diharapkan dapat mengendalikan kecenderungan hawa nafsunya untuk hanya mencintai yang dicintai Allah dan membenci yang dibenci Allah, yang hanya mencintai sesuatu di dunia jika yang dicintainya itu dicintai Allah SWT.

Dalam sebuah hadis dikisahkan, suatu ketika pada siang hari, Sayidana Umar ra. berkunjung ke rumah Rasulullah SAW di mana saat itu Rasul sedang tidut beristirahat, dengan dada telanjang. Ketika beliau bangun tampaklah pada punggungnya garis-garis merah karena kasarnya alas tidur beliau yang dibuat dari pelepah kurma. Melihat pemandangan ini, Sayidina Umar menangis. Beliau yang terkenal keras saat itu luluh hatinya ketika melihat Rasulullah dalam kondisi seperti itu. Rasul bertanya: “Apa yang membuat kamu menangis wahai Sayidina Umar ? “Umar berkata:” saya malu ya Rasulullah, engkau adalah pemimpin kami, engkau adalah Rasul Allah, manusia pilihan, manusia yang dimuliakan-Nya. Engkau adalah pemimpin ummat, namun engkau tidur di atas alas yang kasar seperti ini, sementara kami yang engkau pimpin tidur di atas alas yang empuk. Saya malu ya Rasusulullah, selayaknya engkau mengambil alas tidur yang lebih dari ini”. Rasul menjawab: “Apa urusan saya dengan dunia ini? Tidak ada! Urusan diri saya dengan dunia ini kecuali seperti orang yang sedang mengembara dalam musim panas menempuh sebuah perjalanan yang cukup panjang, lalu sekejap mencoba bernaung di bawah sebuah pohon yang rindang untuk sekejap melepas lelah. Setelah itu dia pun kemudian pergi meninggalkan tempat peristirahatannya”. Kata Rasul: haruskah saya korbankan kehidupan yang abadi hanya untuk bernaung sejenak menikmati itu? (HR. Ahmad, Ibnu Habban, Baihaqi)

Selain kisah di atas, ada kisah lain yang layak kita renungkan di mana suatu ketika Khalifah Umar kedatangan putranya, Abdullah, yang meminta dibelikan baju baru. Secara spontan saja Sayidina Umar langsung marah sambil mengatakan: “Apakah karena kamu seorang anak Amirul Mu’minin lantas kamu ingin bajumu selalu lebih baik dari anak-anak yang lain ? Jawab Abdullah: Tidak! Saya khawatir malah kondisi saya ini akan menjadi fitnah, menjadi bahan cemoohan orang lain di mana anak Amirul mu’minin pakaiannya tidak pernah ganti-ganti, sebab dia hanya memiliki dua baju, di mana bila yang satu dipakai maka yang satu dicuci dan seterusnya. Sayidina Umar berkata: “Baiklah Nak, saya ingin belikan kamu baju baru hanya saja ayah saat ini tidak punya uang. Untuk itu kamu saya utus menemui “Khoolin Baitul Maal’ (bendahara negara), sampaikan kepada beliau salam dari ayah dan katakan pula bahwa ayah bermaksud mengambil gajinya bulan depan untuk membelikan kamu baju baru. Abdullah langsung menemui bendaharawan negara dengan mengatakan: “Ada salam dari ayah. Dan, ayah minta supaya gaji bulan depan bisa diserahkan saat ini untuk membelikan saya baju baru”. Bendaharawan tersebut mengatakan: “Nak, sampaikan kembali salamku kepada ayahmu, dan katakan bahwa aku tidak bersedia mengeluarkan uang itu”. Tanyakan kepada ayahmu, apakah ayahmu yakin sampai bulan depan beliau masih menjabat Amirul Mu’minin, sehingga berani mengambil uang gajinya bulan depan sekarang ? Andaikata dia yakin sampai bulan depan dia masih Amirul Mu’inin, yakinkah sampai besok dia masih hidup, bagaimana kalau besok ia meninggal dunia padahal gajinya bulan depan sudah dikeluarkan. Mendengar jawaban bendahara negara yang demikian itu, pulanglah Abudullah segera menemui ayahnya sambil menyampaikan pesan dari bendaharawan tersebut.

Mendengar penuturan anaknya, Umar langsung menggandeng tangan anaknya sambil mengatakan, antarkan saya menemui bendaharawan tadi. Begitu sampai di hadapan bendaharawan tersebut, Sayidina Umar langsung memeluknya, sambil mengatakan, terima kasih, saudara telah mengingatkan saya terhadap satu keputusan yang nyaris saja salah. Demikianlah kisah Sayidina Umar dan masih banyak lagi kisah lain dari perjalanan hidup para sahabat yang patut kita teladani untuk menghadapi dinamika kehidupan yang terus berkembang mengikuti perputaran zaman.

Allah SWT telah mengingatkan tentang bahayanya manusia-manusia yang menjadikan dunia ini sebagai tujuan hidupnya, “Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya.” (An Naazi’aat, 79 : 39) “Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nyadan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” (An Najm, 53 : 29-30)

Akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat yang sedemikian mulianya bisa terwujud tiada lain karena adanya benteng keimanan yang sangat kuat dan kokoh. Semoga kita bisa meneladani apa yang menjadi perilaku Rasul dan para sahabatnya. Amin!

Wallahu a’lam bish-shawab

Menyikapi Musibah
Republika, Kamis, 15 Oktober 2009, 12:34 WIB

“Disadari atau tidak, ternyata tidak sedikit orang yang hancur luluh keimanannya hanya karena ketidakmampuannya menghadapi musibah dalam hidup. Salah satu penyebabnya karena salah dalam memahami makna musibah dan salah pula dalam menyikapinya. Kesalahan seseorang dalam memaknai dan menyikapi musibah akibatnya bisa sangat fatal terhadap keimanannya.”

Bagi seorang mu’min tentu meyakini bahwa, segala sesuatu hanya akan terjadi di dunia ini karena, “Kun Fayakun” Allah, sehingga segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini terutama yang tidak kita inginkan harusnya menjadi bahan “muhasabah” (introspeksi) atau “tazkirah” (peringatan) apa yang sebenarnya sedang Allah rencanakan untuk kita.

Berbicara masalah musibah, sebenarnya musibah adalah sesuatu yang mutlak akan dialami oleh manusia dalam menjalani kehidupannya, baik seseorang itu yang kafir maupun mu’min. Jika musibah menimpa orang yang kafir, pasti itu adalah azab. Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia), sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. As Sajdah, 32 : 21).

Namun, jika menimpa orang yang mu’min, pasti itu adalah bentuk kasih-sayang Allah SWT. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw pernah menyatakan, “Jika Allah sudah mencintai suatu kaum maka Allah SWT akan memberikan bala, ujian atau cobaan”. Ini semakin mempertegas kepada kita bahwa musibah bagi orang-orang yang mu’min itu sebagai bentuk kasih-sayang.

Paling tidak, ada “tiga” kemungkinan yang mendasari terjadinya musibah yang menurut Al Qur’an sebagai bentuk kasih-sayang Allah SWT kepada orang-orang mu’min. Pertama, sebagai ujian keimanan bagi orang mu’min. Kasih-sayang Allah kepada hamba-Nya yang mu’min di antaranya ditunjukkan-Nya dengan menurunkan musibah dengan memberikan peluang kepada hamba-hamba-Nya yang mu’min untuk mengikuti ujian dalam proses peningkatan keimanannya. Allah SWT berfirman: “Adakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja oleh Allah untuk menyatakan, “aamannaa” (kami telah beriman) padahal Kami belum lagi memberikan ujian kepada mereka. Sungguh telah Kami uji umat sebelum mereka, dengan ujian itu jelaslah oleh Kami siapa yang benar pengakuan keimanannya itu dan siapa pula yang dusta” (Al Ankabuut, 29 : 2-3).

Hakikatnya ujian itu sendiri sebenarnya adalah sesuatu hal yang sangat positif, yang tidak positif adalah jika seseorang yang telah diberi peluang untuk mengikuti ujian lalu ia tidak memanfaatkan peluang tersebut secara optimal sehingga tidak lulus. Betapa ruginya seseorang jika tidak diberi kesempatan untuk mengikuti ujian. Sebaliknya, alangkah beruntung dan bahagianya seseorang yang telah diberi peluang mengikuti ujian dan berhasil lulus dalam ujiannya.

Disadari atau tidak, selama ini kita mungkin telah banyak melakukan kekeliruan dalam memaknai dan menyikapi musibah yang terjadi. Kadang pandangan kita selama ini dalam memaknai dan menyikapi musibah terlalu cenderung pada nilai duniawi. Kemudian kita menganggap ujian itu sebagai bentuk musibah yang sebenarnya sesuatu yang tidak diharapkan. Sehingga ukuran keshalehan seseorang pun kadang dilihat dari kurangnya musibah dalam hidupnya. Ini pandangan yang keliru terhadap makna musibah yang sebenarnya.

Kedua, boleh jadi musibah sebagai bentuk kasih-sayang Allah SWT kepada orang-orang mu’min “bukan” sebagai ujian keimanan, tetapi justru karena Allah SWT sedang memilihkan hal yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya. Namun, karena ketidakmampuan untuk bisa memahami hikmah di balik dari suatu peristiwa, lantas kita akhirnya menganggap peristiwa yang terjadi itu sebagai musibah.

Karena ketidakmungkinan manusia “memastikan” apa yang akan terjadi (QS. Lukman : 34) maka acapkali kita tidak bisa memahami hikmah di balik peristiwa yang sedang terjadi. Terkadang kita baru bisa merasakan hikmahnya setelah sekian lama mengalaminya. Pada saat peristiwa boleh jadi kita menganggapnya sebagai musibah, tapi setelah berlalu beberapa waktu mungkin seminggu, sebulan bahkan mungkin setelah beberapa tahun, barulah kita menyatakan rasa syukur setelah menyadari hikmahnya.

Sebagai contoh, seseorang sudah berniat bahkan telah melakukan berbagai macam persiapan untuk menghadiri suatu acara penting yang tempatnya jauh dari domisilinya di antaranya dengan memesan tiket pesawat. Pada saat pemberangkatan, atas takdir-Nya ternyata ia terlambat hanya beberapa menit. Ungkapan perasaan yang muncul saat itu mungkin ungkapan dalam bentuk cacian, makian atau dan lain sebagainya. Setelah beberapa saat kemudian melalui berita yang bersangkutan  mendengar bahwa pesawat yang semula akan ditumpanginya jatuh. Barulah saat itu dia sadar dan bersyukur karena tertinggal pesawat.

Karena ketidakmampuan membaca hikmah dari suatu peristiwa, maka sering terjadi orang yang semestinya bersyukur malah mencaci-maki, yang semestinya tertawa malah menangis. Sebaliknya, dia tertawa pada saat seharusnya dia menangis. Semua ini terjadi oleh sebab ketidakmampuan manusia memastikan apa yang akan terjadi, Allah SWT berfirman: “Tidak ada satu jiwa pun yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi besok”(Luqman, 31 : 34).

Di lain sisi Allah SWT juga mengingatkan, “Boleh jadi kamu sangat tidak menyukai peristiwa yang menimpa diri kamu, padahal itu sangat baik sekali bagimu. Boleh jadi sesuatu itu yang sangat kamu sukai, padahal sesuatu itu yang sangat tidak baik bagi kamu. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui, kalian tidak tahu apa-apa” (Al Baqarah, 2 : 216). Oleh karena ketidakmampuan kita dalam memahami hikmah dari satu peristiwa yang menimpa kehidupan kita, maka kita menganggap sesuatu itu tidak baik padahal ia sangat baik. Sebaliknya, kita menganggap sesuatu itu tidak baik, padahal ia sangat baik bagi kita. Jadi, sangat mungkin sekali bahwa musibah yang menimpa diri kita saat ini sebenarnya bentuk kasih-sayang-Nya, karena Allah sedang memilihkan sesuatu yang terbaik bagi kita dunia dan akhirat.

Ketiga, bisa juga musibah yang menimpa kehidupan seorang mu’min “bukan” sebagai ujian keimanan dan “bukan” pula pilihan Allah yang terbaik, tetapi semata-mata azab dari Allah SWT bagi seorang mu’min masih dalam konteks kasih-sayang-Nya. Karena menurut Allah SWT hamba-Nya yang mu’min itu sudah mulai jauh meninggalkan syari’at-Nya di mana yang bersangkutan baru akan sadar jika diturunkan azab sebagai peringatan kepadanya agar ia segera kembali hidup di jalan yang diridhai-Nya.

Kalau musibah itu merupakan ujian keimanan, maka kita harus bersyukur. Lebih bersyukur lagi kalau musibah itu adalah pilihan Allah yang terbaik, berarti Allah sedang sangat sayang kepada kita, sedang membimbing dan menunjukkan apa yang terbaik bagi kita. Bahkan, kalau pun musibah itu sebagai azab, tetap saja kita harus bersyukur kepada-Nya karena Allah masih mau mengingatkan agar segera bertaubat dan memperbaiki diri sebelum ajal menjemput kita.

Sebelum tulisan ini saya akhiri, saya mengajak sidang pembaca untuk merenung sejenak terhadap sebuah kisah yang layak kita jadikan “ibrah” (pelajaran) bagi kita, di mana betapa luar biasanya buah keimanan dapat mengecilkan arti musibah duniawi. Dikisahkan salah seorang tabi’in bernama Urwah bin Zabir, yang Allah takdirkan salah satu kakinya dari lutut ke bawah sakit hingga membusuk. Tak lama kemudian didatangkan 4 orang Tabib sebagai upaya penyembuhan. Ternyata hasil diagnosa 4 Tabib menyimpulkan bahwa tidak ada cara lain kecuali harus diamputasi kaki yang membusuk tersebut. Jika tidak, maka dikhawatirkan penyakitnya akan menjalar ke seluruh tubuh.

Ketika berita ini disampaikan kepada Urwah, dengan tenang dia mengatakan, kalau memang itu adalah keputusan para Tabib, kenapa tidak segera dilakukan ? Sebelum pelaksanaan operasi, disodorkanlah oleh Tabib minuman kepada Urwah sambil mengatakan, silakan anda minum terlebih dahulu. Ketika Urwah mau meminumnya terciumlah aroma lain, maka dia bertanya, minuman apa ini ? “Arak”, kata Tabib. Maksudnya apa, tanya Urwah. Jawab Tabib: “supaya anda mabuk agar mengurangi sedikit rasa sakit karena sebentar lagi kaki anda akan kami gergaji mulai dari kulit, daging hingga tulang. Dan, tentu saja akan terjadi pendarahan yang luar biasa. Supaya darah tidak terus mengalir, maka sudah kami siapkan “kuali” dengan minyak goreng yang sudah mendidih. Setelah kaki anda dipotong agar jangan terus mengeluarkan darah maka kaki anda itu akan kami masukkan ke dalam kuali agar cepat kering.

Jawab Urwah, “Sungguh sulit diterima akal sehat jika ada seorang mu’min yang beriman kepada Allah lantas dia meminum sesuatu untuk menghilangkan akalnya. Sehingga dia sudah tidak ingat lagi siapa Tuhannya? Betapa saya meragukan keimanan seseorang yang sampai mau meminum khamr sehingga dia tidak sadar bahwa Allah itu ada, bagaimana bisa diyakini keimanan seperti itu. Saya tidak ingin sedikit pun termasuk orang seperti itu, untuk itu buanglah jauh-jauh khamr dari depan mukaku”.

“Lantas apa yang mesti kami lakukan?”, kata Tabib. Urwah berkata: “setelah saya memberi isyarat dengan tangan saya, silakan laksanakan tugas kalian, gergaji kaki saya dan masukkan ke dalam kuali”. Lalu Urwah pun asyik  khusyu’ berzikir sampai kemudian dia angkat tangannya sambil terus berzikir memejamkan mata pertanda dia sudah siap untuk digergaji kakinya. Maka digergajilah kaki Urwah dan langsung dimasukkan dalam kuali. Konon, dia sempat pingsan. Setelah siuman, sambil tetap berbaring di tempat tidur, dia meminta kepada orang di sekelilingnya agar potongan kakinya tersebut setelah dimandikan dan dikafani dan sebelum dikuburkan dapat dihadirkan kepadanya.

Dibawakanlah potongan kakinya dan sambil berbaring dia angkat potongan kaki itu sambil mengatakan, Ya Allah, Alhamdulillah, selama ini Engkau telah karuniakan saya dua kaki, kelak kaki ini akan menjadi saksi di akhirat nanti. Ya Allah, Demi Allah, saya tidak pernah membawa dia melangkah ke jalan yang tidak Engkau ridhai. Kini, Engkau ambil yang hakikatnya adalah milik-Mu Ya Allah, innalillaahi wa inna ilaihi rajiuun, mudah-mudahan saya masih bisa memanfaatkan kaki yang tersisa ini. Lantas potongan kaki pun diberikan sambil ia meminta dikuburkan.

Nyaris tidak ada kesedihan, tapi tiba-tiba Urwah menangis. Orang yang menyaksikan sejak awal itu berkomentar: “kami semula begitu merasa bangga dengan ketegaran anda, lalu kenapa engkau kini menangis, wahai Urwah ?” Beliau menjawab: “Demi Allah, hanya Allah yang Mahatahu, saya bukan menangis karena hilangnya satu kaki saya, yang hakikatnya milik Allah, tapi yang membuat saya menangis hanyalah kekhawatiran, apakah dengan kaki yang hanya tinggal satu ini saya masih bisa beribadah dengan sempurna kepada Allah ?

Allahu Akbar! Luar biasa keimanan Urwah, dunia menjadi kecil di mata orang mukmin seperti Urwah ini. Siang hari dia menjalani operasi amputasi, malamnya salah satu dari tujuh orang anaknya meninggal dunia. Ketika berita duka ini disampaikan, beliau berkata, saya belum bisa bangkit dari tempat tidur ini, karenanya tolong urus jenazahnya, mandikan, kafani dan shalatkan. Sebelum dikuburkan ijinkan saya memegang sejenak jenazah anak saya. Ketika jenazah putranya disodorkan kepadanya, ia pun memegang jenazah anaknya sambil mengusap kepalanya dan bardoa, “Ya Allah, Alhamdulillah, Engkau telah karuniai saya tujuh anak. Mudah-mudahan sebagai ayah mereka sudah saya laksanakan kewajiban mendidik mereka di jalan yang Engkau ridhai. Ya Allah, sekarang Engkau ambil salah seorang di antara mereka, milik-Mu Ya Allah, bukan milikku. Innalillaahi wa inna ilaihi rajiuun, mudah-mudahan Engkau masih memberikan manfaat untuk 6 anak yang masih tersisa. Allahu Akbar, bagi orang mukmin hanya Allah yang “Akbar” dunia dan segala isinya “kecil” di mata seorang yang mencintai Allah di atas cinta kepada selain Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawab

30
Jan
10

Pertahanan : Rusia Luncurkan Pesawat Tempur Baru

Rusia Luncurkan Pesawat Tempur Baru
Republika, Sabtu, 30 Januari 2010, 08:34 WIB
AP

Jet generasi ke lima, yang diproduksi perusahaan Sukhoi.

MOSKOW–Sebuah pesawat tempur Rusia yang baru diproduksi di tengah-tengah kerahasian paling tinggi sebagai bagian satu rencana untuk memordernisasi angkatan bersenjata, Jumat (29/1) melakukan penerbangan perdananya yang berhasil, kata para pejabat.

Pesawat Jet generasi ke lima Sukhoi T-50, yang diproduksi perusahaan Sukhoi dan dikenal sebagai PAK FA , melakukan penerbangan hanya 45 menit di pangkalan perusahaan itu Komsomolsk-on-Amur, wilayah Timur Jauh.

“Penerbangan itu berhasil dan berlangsung 47 menit . Semua pekerjaan yang dihadapi dalam penerbangan pertama itu berhasil dilaksanakan,” kata juru bicara Sukhoi, Olga Kayukova kepada kantor berita Interfax.

Televisi pemerintah menayangkan gambar pesawat itu mendarat dalam apa yang disebutnya adalah citra pertama pesawat itu.

Interfax mengatakan, jet baru itu memiliki kemampuan melakukan penerbangan jauh di atas kecepatan suara serta dapat menyerang secara serentak target-target yang berbeda.

Rusia kini memulai satu program besar untuk melengkapi kembali militer terutama angkatan udara yang masih menggunakan banyak peralatan era Sovyet dan sering mengalami kecelakaan.

Pesawat tempur baru itu, yang dibangun sejak tahun 1990-an menurut rencana akan memasuki jajaran angkatan bersenjata tahun 2015, kata kantor-kantor berita Rusia.
Redaksi – Reporter

Red: ririn
Sumber Berita: antara
30
Jan
10

Hikmah : Moral Islam, Taqarub, Kedamaian

Moral Islam
Republika, Jumat, 29 Januari 2010, 10:30 WIB
WORDPRESS

Oleh Prof Dr H Fauzul Iman MA

Al-Ghazali menyebut moral Islam sebagai tingkah laku seseorang yang muncul secara otomatis berdasarkan kepatuhan dan kepasrahan pada pesan (ketentuan) Allah Yang Mahauniversal. Seorang Muslim yang bersikap demikian akan mengarahkan pandangan hidupnya pada spektrum yang luas, tidak berpandangan sempit ataupun eksklusif. Ia dapat menerima realitas sosial yang beragam dan memupuk pergaulan dengan berbagai kalangan tanpa membatasi diri dengan sekat agama, kultur, dan fanatisme kelompok.

Inilah yang dimaksud dengan firman Allah SWT, ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat [49]: 13).

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa moral Islam adalah takwa itu sendiri. Artinya dengan kekuatan takwanya, seorang Muslim mampu menanamkan moral Islam di tengah-tengah perbedaan sosial dan budaya masyarakat secara toleran, demokratis, terbuka, dan tanpa mengklaim dirinya paling benar.

Ulama Sufi membagi moral ke dalam tiga jenis, yaitu moral agama, moral undang-undang, dan moral lingkungan sosial. Dari ketiga jenis moral tersebut, yang paling dominan adalah moral agama dan menjadi sumber acuan bagi kedua moral yang lainnya. Itulah sebabnya, ajaran Islam selalu menekankan kepada semua umatnya agar senantiasa berpegang teguh pada moral Islam.

Sayangnya, fakta yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang yang tunduk pada selain moral agama. Dari kalangan penguasa, pengusaha, dan politisi, misalnya, masih banyak yang tunduk pada tatanan sistem politik yang hegemonik demi keuntungan pribadi, ketimbang membela rakyat dan masyarakat lemah dari ketertindasan.

Kasus lainnya, ada seorang agamawan yang dahulunya menjadi panutan masyarakat, pribadinya baik, tutur katanya lembut, sikapnya sopan, dan tidak pernah lupa mengenakan simbol-simbol keagamaan, kini justru berubah. Ia tenggelam dalam dunia kekerasan dan dunia kemewahan setelah menceburkan diri dalam lingkungan pergaulan yang hedonis.

Sebagai bangsa yang religius, sepatutnya kita memperkuat moral Islam yang bersifat universal dengan tetap melestarikan moral sosial dan lingkungan yang substansinya sejalan dengan moral Islam. Dengan cara demikian, kita berharap semua bentuk perilaku yang menodai akhlak dan nilai-nilai luhur agama dan bangsa dapat dieliminir. Semoga!
Redaksi – Reporter

Red: taqi
Taqarub kepada Allah dan Manusia
Republika, Kamis, 28 Januari 2010, 11:14 WIB
WORDPRESS

Mendekatkan diri kepada sesama adalah media mendekatkan diri kepada Allah.

Oleh Anang Rikza Masyhadi

Rasulullah SAW bersabda: Pada Hari Kiamat nanti Allah SWT akan menegur kita, ”Wahai anak cucu Adam, Aku sakit, mengapa engkau tak menjenguk-Ku?” Hamba bertanya, ”Wahai Tuhanku, bagaimana aku menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah pun menjawabnya, ”Kamu tahu bahwa hamba-Ku si fulan sedang sakit dan kamu tidak membesuknya.”

Dialog itu pun berlanjut. ”Wahai anak cucu Adam, Aku meminta makan kepadamu, mengapa engkau tidak memberi-Ku makan?” Hamba bertanya, ”Wahai Tuhanku, bagaimana aku akan memberi-Mu makan, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah menjawab lagi, ”Kamu tahu bahwa hamba-Ku si fulan sedang kelaparan dan kamu tidak memberinya makan.”

”Wahai anak cucu Adam, Aku meminta minum kepadamu, mengapa engkau tidak memberi-Ku minum?” Hamba bertanya lagi, ”Wahai Tuhanku, bagaimana aku akan memberi-Mu minum, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah menjawab, ”Kamu tahu bahwa hamba-Ku si fulan sedang kehausan dan kamu tidak memberinya minum.” (HR Muslim)

Hadis ini sungguh mengesankan. Allah SWT mengajarkan pentingnya menjaga hablum minannas , hubungan horizontal antarmanusia. Islam menekankan keseimbangan, termasuk dalam ibadah yang selalu mengandung dua dimensi, yaitu vertikal (hablum minallah dan horizontal ( ablum minannas .

Mari kita perhatikan perintah shalat dalam Alquran. Perintah shalat hampir selalu dirangkai dengan perintah berzakat. ”Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk (QS Al-Baqarah [2]: 43). Kata ‘ amanu ‘ (beriman) juga selalu diikuti dengan perintah beramal shaleh, ‘ amilus sholihat ‘. Vertikal dan horizontal.

Surat Al-Ma’un (107: 1-3), lebih keras lagi. ”Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Yaitu, orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” Di sini, Allah SWT mengaitkan agama dengan aktivitas sosial.

Artinya, orang mukmin yang tidak peduli pada anak yatim dan fakir miskin, maka dia itu pengkhianat. Kategori orang mukmin sejati itu bukan saja terletak pada ketekunannya dalam ibadah, tetapi juga hubungan baiknya dengan manusia, bahkan dengan alam semesta; kita dilarang melakukan perusakan di bumi.

Jadi, Islam menolak pendekatan diri kepada Allah dengan cara menjauhkan diri dari kehidupan. Oleh karena itu, esoterisme itu tidak sepenuhnya didukung oleh Islam, demikian pula eksoterisme. Justru, sebagaimana hadis di awal, mendekatkan diri kepada sesama adalah media mendekatkan diri kepada Allah. Mari kita seimbangkan.
Redaksi – Reporter

Red: taqi
Mari Sebarkan Kedamaian
Republika, Rabu, 27 Januari 2010, 10:31 WIB
FLICKR.COM

Oleh Andri Rosadi MA

Negara kita pernah dilanda konflik bernuansa agama yang berakibat jatuhnya korban jiwa, hancurnya sejumlah rumah ibadah, serta rusaknya infrastruktur dan tatanan sosial budaya. Dalam beberapa minggu terakhir, suasana yang hampir sama juga terjadi di negara tetangga kita yang menyebabkan rusaknya beberapa gereja.

Untungnya, tidak ada korban jiwa. Ada satu persamaan mendasar antara kita dan tetangga, yaitu sama-sama mayoritas Muslim. Karena itu, kasus-kasus yang melibatkan kaum Muslim di kedua negara seyogianya kita renungkan bersama untuk dijadikan pelajaran.

Sebagai umat mayoritas, ada kewajiban moral kaum Muslim untuk melindungi umat lainnya. Jika terjadi kesalahpahaman, kaum Muslim hendaknya menghindari cara-cara yang anarkis. Karena, hal itu bertentangan dengan semangat Islam yang menekankan kedamaian. Menjadikan agama sebagai landasan untuk melakukan perusakan terhadap rumah ibadah agama lain sama saja dengan mengingkari inti sari ajaran Islam yang sangat menekankan keharmonisan.

Berkaitan dengan kasus-kasus di atas, ada dua pelajaran penting yang perlu kita renungkan. Pelajaran pertama terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Saat itu, Umar mengirim pasukan untuk merebut Yerusalem dari tangan pasukan Romawi. Setelah melalui peperangan yang sengit, pasukan Islam akhirnya berhasil merebut Yerusalem.

Namun, patriark tertinggi yang memegang kunci tembok Yerusalem menolak menyerahkan kunci, kecuali langsung kepada Umar. Untuk kepentingan ini, Umar pun datang ke Yerusalem. Di tanah yang baru direbut itu, belum ada masjid, yang ada hanya gereja-gereja. Ketika Umar hendak melaksanakan shalat, ia dipersilakan oleh sang pendeta agar shalat di dalam gereja saja, namun Umar menolaknya.

Ia lebih memilih shalat di atas tanah berpasir. Mengapa? Ternyata, ia takut kalau gereja tersebut suatu ketika diambil alih oleh penerusnya hanya karena Umar pernah shalat di situ. Suatu pikiran yang sangat jauh ke depan, yang didasarkan pada penghormatan yang tinggi pada eksistensi penganut agama lain di wilayahnya.

Dalam kasus lain, Rasulullah selalu berpesan kepada pasukannya sebelum berangkat ke medan perang agar tidak membunuh perempuan, orang tua, anak-anak, dan tidak merusak rumah ibadah penganut agama lain.

Dalam kondisi perang saja, Rasulullah masih sangat menghormati semua rumah ibadah. Mengapa kita yang dalam kondisi damai saat ini justru merusaknya? Mari, kita renungkan kembali perilaku dan ajaran Rasulullah kita yang agung. Islam sebagai rahmat bagi semesta alam hanya bisa terwujud jika perilaku umatnya mengedepankan kedamaian dan keharmonisan, bukan sebaliknya.
Redaksi – Reporter

Red: taqi
30
Jan
10

PEPORA : Matahari Tidur, Bumi Membeku vs Lapangan Kerja

Cuaca
Matahari Tidur, Bumi Membeku

Kompas, Sabtu, 30 Januari 2010 | 03:31 WIB

YUNI IKAWATI

Cuaca dingin ekstrem melanda kawasan lintang tinggi bumi. Fenomena ini, antara lain, disebabkan oleh matahari yang tidur berkepanjangan. Dampaknya menjadi terasa berat karena semakin diperparah oleh adanya pemanasan bumi dan perubahan iklim global.

Sejak Desember lalu, suhu ekstrem terus melanda kawasan Lintang Utara, yaitu mulai dari benua Amerika, Eropa, hingga Asia. Di Eropa, suhu dingin bulan lalu pernah mencapai minus 16 derajat celsius di Rusia dan minus 22 derajat celsius di Jerman. Bagi Inggris, ini suhu ekstrem terdingin dalam 30 tahun terakhir. Jalur transportasi ke Perancis lumpuh.

Amerika Serikat pun mengalami hal yang sama. Serbuan cuaca ekstrem ini berdampak pada kegagalan panen di Florida dan menyebabkan dua orang meninggal di New York.

Kejadian luar biasa yang berskala global ini diyakini para pengamat meteorologi dan astronomi berkaitan dengan kondisi melemahnya aktivitas matahari yang ditandai menurunnya kejadian bintik matahari atau sunspot .

Bintik hitam yang tampak di permukaan matahari melalui teropong bila dilihat dari sisi samping menyerupai tonggak yang muncul dari permukaan matahari. Tonggak itu terjadi akibat berpusarnya massa magnet di perut matahari hingga menembus permukaan.

Akibat munculnya bintik hitam berdiameter sekitar 32.000 kilometer atau 2,5 kali diameter rata-rata bumi, suhu gas di fotosfer dan khromosfer naik sekitar 800 derajat celsius dari normalnya. Hal ini dapat mengakibatkan badai matahari dan ledakan cahaya yang disebut flare.

Namun, yang terjadi beberapa tahun terakhir ini adalah matahari non-aktif. Menurunnya aktivitas matahari itu berdasarkan pantauan Clara Yono Yatini, Kepala Bidang Matahari dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), mulai terlihat sejak tahun 2000.

Para pakar astrofisika matahari di dunia menyebutkan, tahun 2008 sebagai tahun dengan hari tanpa bintik matahari yang tergolong terendah dalam 50 tahun terakhir. Mereka memperkirakan beberapa tahun sesudah 2008 akan menjadi tahun-tahun yang dingin, kata Mezak Ratag, pakar astrofisika yang tengah merintis pendirian Earth and Space Science Institute di Manado, Sulawesi Utara.

Pengukuran kuat medan magnet bintik matahari dalam 20 tahun terakhir di Observatorium Kitt Peak Arizona menunjukkan penurunan. Dari medan magnet maksimum rata-rata 3.000 gauss pada awal 1990-an turun menjadi sekitar 2.000 gauss saat ini.

Penurunan sangat signifikan ini merupakan bukti bahwa hingga beberapa waktu ke depan matahari masih akan pada keadaan malas, kata Mezak. Ia memperkirakan kalau aktivitas maksimumnya terjadi pada sekitar tahun 2013, tingkatnya tidak akan setinggi maksimum dalam beberapa siklus terakhir.

Matahari dan iklim

Saat matahari redup berkepanjangan, musim dingin ekstrem berpotensi terjadi. Karena matahari sumber energi bagi lingkungan tata surya adalah penggerak mesin iklim di bumi.

Sejak 1865, data di Lapan menunjukkan kecenderungan curah hujan berkurang saat matahari tenang. Demikian pula musim dingin parah sejak akhir 2009 terjadi saat matahari amat tenang ( deep minimum ) mirip kejadian 1995 -1996, urai Thomas Djamaluddin, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan.

Bukti keterkaitan dengan perilaku matahari ini ditunjukkan oleh fenomena kebalikannya, yaitu musim dingin minim salju, saat matahari aktif pada tahun 1989. Musim dingin sangat panjang terjadi saat minimum Maunder tahun 1645-1716 dan minimum Dalton awal 1980-an.

Kondisi serupa terjadi pada 1910-1914. Itu banyak dikaitkan dengan dinginnya laut pada musibah tenggelamnya Titanic pada April 1912. Normalnya, waktu itu sudah musim semi.

Sementara itu, Mezak berpendapat, pola aktivitas matahari minimum saat ini mirip dengan kejadian tahun 1880, 1890, 1900, dan 1910. Jadi, siklus matahari tidak hanya menunjukkan siklus sebelas tahun. Ada siklus lebih panjang dengan periode sekitar 100 tahunsiklus Gleisberg. Dalam catatan meteorologis, saat terjadi siklus itu banyak cuaca ekstrem dingin, tetapi tidak seekstrem Minimum Maunder.

Cuaca dan GRK

Efek aktivitas matahari minimum lebih banyak memengaruhi daerah lintang tinggi. Aktivitas matahari sejak sekitar tahun 2007 hingga kini memperbesar peluang terjadinya gradien suhu yang besar antara lintang tinggi dan lintang rendah. Akibatnya, kecepatan komponen angin arah utara-selatan (meridional) tinggi.

Prof CP Chang, yang mengetuai Panel Eksekutif Monsun Badan Meteorologi Dunia (WMO), berkesimpulan, aktivitas monsoon lintas-ekuator yang dipicu gradien suhu yang besar di arah utara-selatan akhir-akhir ini meningkat secara signifikan dibanding dengan statistik 50 tahun terakhir.

Hal ini memperkuat dugaan, aktivitas matahari minimum yang panjang berkaitan erat dengan cuaca ekstrem dingin. Di Indonesia, kejadian angin berkecepatan tinggi lintas ekuator menjadi penyebab utama munculnya gelombang-gelombang tinggi dari Laut China Selatan ke perairan Laut Jawa.

Adanya gas rumah kaca di atmosfer, lanjut Thomas, juga meningkatkan suhu udara yang menyebabkan perubahan iklim. Efek gabungannya cenderung tingkatkan kerawanan bencana terkait iklim, kata Thomas.

Teori pemanasan global mengatakan, atmosfer yang memanas membuat partikel-partikel udara menjadi semakin energetik dan berpotensi menghasilkan cuaca ekstrem.

Timur Makin Bangkit, Barat Mulai Gusar

Kompas, Sabtu, 30 Januari 2010 | 04:11 WIB

DAVOS, Jumat – Krisis global sudah mempercepat per alihan kekuasaan ekonomi dari Barat ke Timur, yang membuat Barat gusar. Demikian diungkapkan para panelis di Forum Davos, Jumat (29/1). Pergeseran kekuasaan itu juga membawa dampak-dampak politis.

Hirotaka Takeuchi dari Hitotsubashi University, Jepang, mengatakan, krisis merupakan hal yang jelas-jelas meningkatkan kecenderungan itu.

Mereka (para pengamat) sungguh-sungguh tepat. Kuncinya kini adalah Asia, ujarnya sebagai reaksi dari jajak pendapat BBC Inggris yang menemukan bahwa 60 persen responden yang disurvei mengatakan krisis ini telah menaikkan pamor Timur.

Volume perdagangan Jepang ke China sudah mencapai 48,5 persen dari total perdagangan Jepang dengan dunia. Itulah kenyataannya dan itulah masa depan kita, ujar Takeuchi.

Lapangan kerja

Kenneth Roth, Direktur Eksekutif Human Rights Watch, mengatakan, Menurut saya, kesulitan ekonomi yang kita alami telah mempercepat kebangkitan wilayah Timur, khususnya China.

Roht mengatakan, pergeseran kekuasaan juga menimbulkan kekhawatiran. Saya khawatir mengenai konsekuensi politisnya. Apakah China akan menjadi model dari pembangunan ekonomi dan liberalisasi politik? tuturnya.

Pergeseran itu juga mempunyai dampak pada pasar tenaga kerja global. Lapangan kerja ada di Timur, tidak berada di Barat, di tempat tantangan itu berada, ujar Gerard Lyons, ekonom senior di Standard Chartered Bank. Kenyataannya adalah banyak orang di Barat yang merasa kesulitan untuk menghadapi era dan fakta bahwa ada pergeseran kekuatan itu, katanya.(AFP/joe)

KOLOM POLITIK-EKONOMI
(me-Mandiri-kan) Anak Bangsa

Kompas, Sabtu, 30 Januari 2010 | 02:39 WIB

Oleh Andi Suruji

Pernyataan Agus Martowardojo itu disambut gempita sekitar 4.000 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi se-Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi di Jakarta Convention Center, pekan lalu, dalam acara pemberian penghargaan wirausaha muda mandiri.

Ketika para finalis tingkat nasional dipanggil untuk naik ke pentas, Uung Nastiya (62) yang duduk di samping saya tak kuasa menahan air mata keharuan menyaksikan anak keduanya naik pentas dan mendapat tepukan meriah dari 4.000 mahasiswa lainnya.

”Dia bisnis somai di Yogya. Dia memulai bisnisnya dengan modal dua juta rupiah. Kini dia sudah memiliki 11 outlet,” ujar Uung dengan nada bergetar penuh kebanggaan sekaligus kebahagiaan sambil mengusap air matanya.

Bangsa ini memang tidak ”mencari” pencari kerja sebab pencari kerja sudah terlampau banyak. Penganggur berjuta-juta jumlahnya. Belum lagi semua angkatan kerja sempat terserap, datang lagi angkatan kerja baru, termasuk yang berpendidikan tinggi. Kalau penganggur yang berpendidikan tinggi semakin banyak, tentu bisa berdampak sistemik serta dapat menimbulkan ekses sosial yang negatif.

Karena itulah negara ini lebih membutuhkan orang-orang yang berani membuka dan menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri. Tentu lebih mulia lagi apabila seseorang mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.

Siapa pencipta dan pemberi kerja itu? Mereka adalah para wirausaha, entrepreneur. Menurut David McCelland, untuk menjadi negara yang makmur, suatu negara harus memiliki minimum 2 persen wirausaha dari total penduduknya. Amerika Serikat, misalnya, konon pada tahun 2007 sudah memiliki 11,5 persen wirausaha, Singapura pada tahun 2005 sudah mencapai 7,2 persen, sedangkan Indonesia baru memiliki 0,18 persen wirausaha dari total penduduknya.

Saya salah satu dari belasan dewan juri dalam final kompetisi wirausaha muda mandiri yang diselenggarakan Bank Mandiri. Kompetisi di Jakarta ini merupakan ajang tingkat nasional. Mereka adalah wirausaha muda mandiri dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia. Ada juga sarjana dan pascasarjana. Sebelumnya, mereka mengikuti seleksi di wilayahnya masing-masing.

Mencengangkan, tak menyangka bahwa ada mahasiswa yang sudah menjalankan bisnisnya dengan omzet ratusan juta rupiah, bahkan ada yang miliaran rupiah. Lebih mencengangkan lagi, klien mereka tersebar secara global mulai dari Eropa sampai Afrika. Tanpa banyak terekspos, mereka sudah berani menceburkan diri dalam kompetisi global, yang justru ditakuti banyak orang.

Mereka mengelola bisnis di daerah dengan bermodal cekak, pas-pasan, bertindak lokal berpikir global. Mereka tidak berteriak-teriak minta fasilitas negara, tetapi diam-diam menciptakan uang dan lapangan kerja bagi orang lain.

Inilah salah satu program tanggung jawab sosial (CSR) Bank Mandiri yang dimulai sejak tahun 2007. Tahun lalu saja, jumlah peserta workshop wirausaha mandiri yang diselenggarakan di sembilan kota melibatkan 6.117 peserta dari 125 perguruan tinggi. Beasiswa setahun pun disediakan bagi 1.680 mahasiswa yang sudah berani berwirausaha. Adapun penghargaan Wirausaha Mandiri dimaksudkan sebagai penghargaan kepada generasi muda yang telah berwirausaha, sukses, dan beretika. Program penghargaan tahun lalu itu diikuti sebanyak 1.706 peserta dari 200 perguruan tinggi di 27 provinsi.

Tak hanya itu, enam perguruan tinggi bekerja sama dengan para pelaku usaha menyusun kurikulum kewirausahaan yang akan diterapkan sebagai mata kuliah di perguruan tinggi. Tak kalah pentingnya adalah pembinaan dan pendampingan berwirausaha kepada wirausaha mandiri, yakni pemenang dan finalis Wirausaha Mandiri.

Andaikan semuanya itu bisa menetas menjadi wirausaha mandiri, betapa signifikan dampaknya untuk mengatasi persoalan ketenagakerjaan. Tidaklah berlebihan apabila program pilihan jajaran manajemen Bank Mandiri itu dinilai sebagai upaya visioner. Wakil Presiden Boediono pun mengakui program CSR Bank Mandiri ini tepat sasaran karena lebih bersifat fundamental ketimbang sekadar bagi-bagi bahan kebutuhan pokok.

Seorang juri mengatakan merinding ketika ada mahasiswa memaparkan etika bisnis yang dipegangnya, seperti ini: clean business or never (berbisnis dengan bersih atau tidak sama sekali).

Tentu ini membesarkan hati manakala kita melihat fakta di tengah masyarakat bahwa kian banyak pengusaha yang mengabaikan etika berbisnis, misalnya dengan menjiplak ciptaan orang lain, membajak produk orang lain, menyelundup, menyuap untuk mendapatkan bisnis, dan mengemplang pajak. Ternyata masih banyak mutiara bertebaran di kampus-kampus di seluruh pelosok Nusantara.

Bahwa mereka—anak-anak bangsa yang telah mendapat pelatihan, pembinaan, dan fasilitas lainnya itu—kelak tidak menjadi nasabah Bank Mandiri, setidaknya Bank Mandiri telah memberikan sesuatu yang fundamental bagi generasi muda bangsa ini. Bank Mandiri telah mencoba menempa baja dan menggosok mutiara-mutiara Nusantara. Satu langkah kecil, tetapi signifikan untuk memandirikan anak-anak bangsa.

30
Jan
10

PEPORA : Intisari Kepemimpinan vs Penghancuran Terpimpin

Kuasa, Kisruh, Jernih

Kompas, Sabtu, 30 Januari 2010 | 03:27 WIB

Gede Prama

Bila menoleh ke tahun 2009, mungkin layak menyebutnya dengan tahun kekisruhan. Negeri ini kisruh oleh kisah cicak-buaya, cerita korupsi Bank Century.

Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun lalu ditandai perobekan piagam PBB oleh Presiden Libya Moammar Khadafi, diikuti teriakan protes keras Perdana Menteri (PM) Inggris Gordon Brown sambil berdiri. PM Italia Silvio Berlusconi dilempar patung sehingga mukanya berdarah. Mantan Presiden Amerika Serikat George Walker Bush pernah dilempar sepatu. Merenung di atas sejarah seperti ini, kekuasaan seperti tidak habis-habisnya menghasilkan kekisruhan.

Meminjam penghitungan perputaran waktu di beberapa tradisi, putaran waktu kali ini adalah putaran waktu yang gelap. Oleh karena itu, terjadi kekacauan kosmik di mana-mana. Tempat-tempat di mana dahulunya turun kesejukan berupa wahyu dan nabi (India, Pakistan, dan Timur Tengah) sekarang menjadi tempat membara oleh perang. Lembah Swat di Pakistan adalah salah satu tempat langka yang menyimpan kisah langka, di situ sekitar seratus ribu manusia pernah mengalami pencerahan secara bersamaan. Sekarang, Lembah Swat berdarah-darah oleh tembakan senjata.

Dengan demikian, jangankan kekuasaan yang dari dulunya sudah kotor, berdarah, dan menakutkan, tempat-tempat di mana cahaya penerang itu pernah turun pun menakutkan. Memang, kadang lahir wajah kekuasaan yang membawa kelembutan. Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, Mohammad Hatta, dan Dalai Lama hanya sebagian contoh. Namun, sebagian kekuasaan tergelincir ke dalam kegilaan seperti Ferdinand Marcos dan Hitler, sehingga memberi pilihan kepada setiap pemimpin yang sedang berkuasa, akankah dibikin mulya atau dibikin gila oleh kekuasaan?

Sunyi yang mengabdi

Kendati lahir di tempat dan waktu berbeda, ada yang sama di antara pemimpin yang dibikin mulya oleh kekuasaan, yakni batinnya Brahmana, badannya Ksatria. Setelah melewati kesalehan asketik yang keras, puncak perjalanan seorang Brahmana tercapai ketika batin seseorang telah mencapai apa yang disebut tetua di Jawa sebagai suwung. Tidak ada keakuan, ketakutan, keinginan, apa lagi kerakusan yang tersisa. Semuanya lenyap ditelan suwung . Seperti ruang yang memberi tempat bertumbuh pada apa saja dan siapa saja. Kendati terlihat tidak ada apa-apa, tetapi ruang melimpahkan kasih sayang secara tidak terbatas.

Karena ada ruang, maka cahaya matahari bisa melaksanakan tugasnya, pohon bertumbuh, manusia menjadi lebih dewasa. Begitulah batin yang suwung . Ia kerap disebut mengetahui yang satu kemudian membebaskan semuanya. Karena ketidakterbatasan kasih sayangnya itulah yang menyebabkan mereka dikenang jauh lebih lama dari umur badannya.

Namun, dalam badan ksatria (setelah melewati disiplin ketentaraan yang ketat), kaki selalu melangkah tegap tanpa tersisa sedikit pun ketakutan, tangan selalu siap menembak tanpa sedikit pun keraguan. Tak ada tempat bagi keragu-raguan. Keragu-raguan hanya cermin batin belum suwung . Diterangi batin yang suwung, kemudian pemimpin bisa memutuskan apa saja yang harus diputuskan tanpa beban.

Ksatria yang bertindak cepat tanpa dibimbing oleh batin yang suwung , serupa dengan tentara yang menembak kesetanan ke segala arah. Pemimpin Brahmana yang suwung tanpa disertai oleh kesigapan dan kecepatan bertindak hanya akan menjadi tukang doa yang salah alamat. Karena bukan untuk itu dia lahir. Pemimpin dilahirkan untuk bertindak, biar segala macam bentuk kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dan keterbelakangan segera bisa dikurangi.

Intisari kepemimpinan

Makanya, seorang ayah pernah berpesan kepada putranya: memandanglah seperti langit, bertindaklah seperti bumi. Dalam pandangan langit (baca: suwung ), semuanya dipayungi dan dilindungi tanpa mengenal pengotak-ngotakan. Namun, dalam bertindak, laksanakan hukum bumi secara ketat: bila menanam ketela dapatnya ketela, menanam kelapa buahnya kelapa. Siapa yang korupsi akan dicaci, ia yang mengabdi akan dihormati. Itu sebabnya tetua menyaring intisari kepemimpinan dalam kalimat sederhana: batin yang sunyi, badan yang mengabdi.

Pesan ini yang dibadankan secara mendalam oleh pemimpin seperti Mohammad Hatta, Nelson Mandela, dan HH Dalai Lama. Tatkala berselisih paham dengan atasannya, tanpa beban Pak Hatta kembali ke profesinya yang semula sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada. Menyisakan pesan jelas sekali, keegoan dan keakuan pemimpin mesti kalah dibandingkan ketertiban dan kesejahteraan rakyat.

Ketika rezim kulit putih jatuh, Nelson Mandela yang dipenjara lebih dari seperempat abad plus nyaris mati berkali-kali, lebih memilih memaafkan dibandingkan mengumbar dendam. Pelajarannya terang sekali, kekuasaan bukan sarana untuk mengumbar dendam dan keserakahan. Namun, hanya kendaraan untuk meninggalkan pulau keterbelakangan.

HH Dalai Lama lahir dan bertumbuh di lahan penuh kesedihan dan penderitaan. Umur belasan tahun, negaranya diambil orang. Mengungsi di tempat amat sederhana di India Utara lebih dari setengah abad. Rakyatnya menjadi minoritas di negeri sendiri. Ketika melafalkan doa ini, beliau sering menangis di depan umum: semasih ada ruang, semasih ada makhluk, izinkan saya terus-menerus lahir ke tempat ini, biar ada yang membimbing para makhluk keluar dari kegelapan kemarahan, keserakahan, dan kebingungan.

Cahaya pengertiannya terang sekali, kesedihan dan penderitaan bukanlah api untuk mengobarkan amarah ke mana-mana. Ia hanya sapu pembersih yang membuat hati manusia semakin jernih dari hari ke hari. Andaikan suatu hari nanti peradaban bisa melahirkan pemimpin dengan batin yang sunyi dan badan yang mengabdi mungkin di situ baru kekuasaan bisa menjadi sahabatnya kejernihan.

Gede Prama Penulis Buku Simfoni di Dalam Diri: Mengolah Kemarahan Menjadi Keteduhan

Penghancuran Terpimpin

Kompas, Sabtu, 30 Januari 2010 | 03:38 WIB

Chalid Muhammad

Pengerukan perut Ibu Pertiwi oleh industri tambang terus berlangsung sistematis di negeri ini. Kalimantan adalah fenomena puncak gunung es. Berita Kompas tentang penambangan batu bara beberapa hari terakhir menegaskan betapa industri tambang berdaya rusak luar biasa dan tak terkendali.

Kehancuran ekologis, penggurunan, serta peminggiran dan pemiskinan penduduk lokal adalah karakter merusak yang melekat pada perilaku industri tambang, yang populer disebut daya rusak tambang. Industri tambang boleh dibilang anak emas kebijakan pengurusan negara dari rezim ke rezim, tergolong sebagai sektor industri vital dan strategis.

Aparatus keamanan pun bergeser menjadi aparatus kekerasan. Sering berujung pada pelanggaran hak asasi manusia dalam tugasnya mengamankan industri ini. Itu sebabnya, pelaku tambang amat percaya diri mengeruk bahan tambang secara tak bertanggung jawab, meninggalkan bom waktu penderitaan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

Praktik tak bertanggung jawab itu tak saja di Indonesia. Oxfam Amerika dalam laporan riset, Extractive Industries and the Poor (2001), meyebutkan bahwa negara-negara yang bergantung kepada sektor tambang umumnya berstandar hidup rendah, bertingkat kemiskinan tinggi, skala korupsinya masif, tingkat anak balita gizi buruk tinggi, rendah layanan dana kesehatan, rentan gegar ekonomi, dan kerap dilanda perang sipil. Kebenaran kesimpulan studi itu beberapa terlihat jelas di Indonesia.

Legalisasi penghancuran

Pilihan sadar pemerintah bergantung kepada industri tambang diawali dengan kelahiran Undang-Undang Penanaman Modal Asing Nomor 1 Tahun 1967, disusul penerbitan Kontrak Karya PT Freeport, serta UU Pertambangan No 11/1967. Sejak itu, ribuan izin pertambangan kontrak karya, kontrak karya batu bara, dan kuasa pertambangan (KP) dikeluarkan pemerintah. Semangat obral bahan tambang begitu kental mewarnai kebijakan saat itu. Ironisnya, semangat serupa masih kental mewarnai kebijakan pemerintah saat ini.

Pemerintah atas nama pendapatan negara dan pendapatan asli daerah (PAD) menjadi sangat agresif mengeluarkan izin tambang. Pendapat dan keberatan rakyat atau pertimbangan rasional lain kerap diabaikan. Dalam lima tahun terakhir, jumlah KP bertambah dan kegiatan pertambangan ilegal menjamur. Tak terkendali.

Rekor tertinggi pengeluaran izin tambang dipegang Provinsi Kalimantan Timur. Total KP batu bara yang diterbitkan di Kalimantan sebanyak 2.225 izin ( Kompas, 25/1).

Jika Kalimantan menjadikan batu bara sebagai komoditas buruan penambang, Sulawesi memilih emas dan nikel sebagai target utamanya. Walhi mencatat, lebih dari 429 KP dikeluarkan pemerintah kabupaten di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Penambang di Nusa Tenggara Timur memburu mangan, emas, dan bijih besi.

Di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat penambangan mangan mengancam daerah tangkapan air, yang sejak Orde Baru dikelola lewat dana utang dari Jepang senilai 167 juta dollar Amerika Serikat (AS) untuk Manggarai Water Investment Project. Kini, sebagian daerah tangkapan air itu dirusak tambang mangan, yang sumbangannya kepada PAD tak lebih dari Rp 300 juta per tahun. Sungguh pilihan yang tak masuk akal.

Keberanian Presiden

Hampir semua kabupaten mengeluarkan izin tambang. Pulau kecil seperti Gag, Lembata, serta Karimun tengah dan akan dikeruk. Pemerintah pusat mengubah pula banyak kebijakan agar perusahaan asing dapat terus menambang. Penambangan ilegal pun terus meningkat. Di sisi lain, sebagian besar produksi tambang Indonesia ditujukan bagi kebutuhan negara lain. Hampir seluruh produksi batu bara Kalimantan dikirim ke luar pulau. Tiap tahun, Kalimantan mengirim 99 juta ton batu bara ke Jepang dan Korea, 11 juta ton (Eropa), 600.000 ton (Afrika), 400.000 ton (Selandia Baru), serta 800.000 ton (AS dan Amerika Selatan).

Melalui pendekatan kebijakan pembangunan berkarakter merusak, Indonesia berlari menyongsong kebangkrutannya. Daya rusak tambang meningkat seiring dengan pertambahan izin yang dikeluarkan. Indonesia juga terancam menghadapi kelangkaan batu bara dan bahan tambang lain karena eksploitasi berlebihan. UU Mineral dan Batu Bara No 4/2009 secara sadar tak mengatur langkah antisipatif terhadap krisis tak terhindarkan.

Belajar dari kebobrokan tata-kelola kekayaan alam Kalimantan, Presiden mestinya segera mengambil langkah tegas mencegah meluasnya kerusakan Kalimantan dan pulau lain. Ia harus segera menyatakan moratorium penerbitan perizinan tambang serta mengevaluasi dan melakukan legal audit terhadap semua izin yang telah terbit.

Pada saat yang sama, ambang toleransi tambang sesuai kebutuhan riil dalam negeri harus dihitung. Presiden sebaiknya tegas mencabut izin tambang yang sangat mengancam, dan mewajibkan pelaku industri tambang memulihkan sosial-ekologis wilayah-wilayah keruk. Tanpa langkah itu, tepatlah disebut saat ini negara tengah memimpin perusakan Ibu Pertiwi melalui kebijakan dan rezim perizinan pertambangan.

Chalid Muhammad Ketua Institut Hijau Indonesia dan Direktur Walhi (2005-2008)

Terganggu Isu Negatif
Pemerintah Perlu Segera Cari Solusi Terkait Kasus Bank Century

Sabtu, 30 Januari 2010 | 02:33 WIB

Jakarta, Kompas – Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia berharap pemerintah segera mencari solusi terhadap persoalan terkait Bank Century agar tak berlarut-larut dan menjadi tidak efektif bagi dunia usaha dan ekonomi.

Keprihatinan BPP Hipmi itu disampaikan kepada Wakil Presiden Boediono pada pertemuan di Istana Wapres, Jakarta, Jumat (29/1). Ketua BPP Hipmi Erwin Aksa prihatin atas isu negatif dalam pelaksanaan program 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono yang dapat mengganggu kesinambungan pembangunan ekonomi.

Saat ditanya isu negatif yang memengaruhi kinerja pemerintah itu, Erwin tidak eksplisit menyebutkannya. ”Sudah tahulah. Isu itu tentu tidak produktif dan mengganggu efektivitas pemerintah. Misalnya, jika ada pejabat yang dipanggil Panitia Khusus (Pansus) DPR tentang Hak Angket Bank Century. Mereka berjam-jam di DPR. Belum lagi persiapannya untuk datang ke DPR. Akibatnya, konsentrasi pemerintah terpecah,” ujarnya.

Menurut Erwin, dengan situasi yang memprihatinkan itu, pemerintah membutuhkan kepemimpinan yang kuat untuk menjalankan pemerintahan. ”Jadi pemimpin yang efektif dan dapat mengarahkan serta juga memimpin bangsa ini pada saat situasi ini. Itulah harapan kami agar pemerintahan Presiden Yudhoyono dan Wapres Boediono bisa bekerja dengan baik,” katanya.

Menurut Erwin, Wapres menjelaskan, pemerintah telah melakukan langkah yang seoptimal mungkin dapat mendukung pemerintahan yang baik dan efektif. Namun, ia tak menyebutkan secara rinci langkah tersebut.

Menurut Ketua I Hipmi (Bidang Organisasi) Kamarussamad, dari 33 kementerian dan badan, terdapat 4 kementerian dan 1 badan yang dinilai baik kinerjanya. Ukuran yang dibuat Hipmi didasarkan pada pelaksanaan program dari Nasional Summit. Kelimanya adalah Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Koordinasi Penanaman Modal, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

”Ada pula kementerian yang belum sungguh-sungguh mencapai target dalam 100 hari,” ujarnya.

Tak terganggu

Di Bandung, Jawa Barat, Jumat, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan, unjuk rasa di berbagai daerah yang mengkritisi 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II tidak mengganggu pemerintahan. Sejumlah menteri menanggapi unjuk rasa itu sebagai bagian demokrasi.

Menurut Purnomo, unjuk rasa yang terjadi Kamis lalu juga tidak berdampak negatif terhadap pertahanan dan keamanan. Berdasarkan laporan dari berbagai daerah, unjuk rasa tak sampai menimbulkan kekacauan.

”Sah-sah saja masyarakat melakukan itu. Namanya juga demokrasi,” katanya. (har/jon)

DEMOKRASI
Politisi Diminta Tak Terjebak Politik Partisan

Sabtu, 30 Januari 2010 | 02:47 WIB

Jakarta, Kompas – Praktik berdemokrasi di Indonesia perlu diarahkan pada substansi ketimbang terus berkutat pada hal-hal yang sifatnya prosedural. Politisi diharapkan tidak terjebak dalam praktik politik yang partisan, tetapi harus lebih mengedepankan kepentingan bangsa. Hal itu penting untuk menyongsong modernisasi politik yang ideal demi perwujudan visi kebangsaan pada masa depan.

Demikian terungkap dalam diskusi ”Innovative Leaders’ Forum 7: Modernisator Politik” di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Jumat (29/1). Hadir sebagai pembicara, Arif Budimanta (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), Anas Urbaningrum (Partai Demokrat), Basuki Tjahaja Purnama (Partai Golkar), Mustafa Kamal (Partai Keadilan Sejahtera), dan Dino Patti Djalal (pendiri Modernisator).

Arif Budimanta menyebutkan, praktik berdemokrasi di Indonesia masih meninggalkan banyak pertanyaan bagi rakyat. ”Setelah demokrasi, lalu apa?” katanya. Menurut Arif, sejumlah hal menjadi catatan khusus dalam praktik berdemokrasi di Indonesia. ”Banyak simtom (gejala), seperti sentimen etnis, sentimen agama, money politics, dan imagologi. Citra menjadi satu ukuran dan rating sama dengan statistik untuk kemenangan,” katanya.

Sementara Dino mencatat, setidaknya ada lima hal yang patut diperhatikan untuk mewujudkan praktik politik dan demokrasi jangka panjang yang ideal.

Pertama adalah dengan merasionalisasi aspirasi politik.

Kedua adalah dikembalikannya idealisme sebagai nilai utama dalam berpolitik ketimbang melulu berpusat pada upaya-upaya mengejar dan mempertahankan kekuasaan.

Ketiga adalah lebih diperhatikannya kepentingan kebangsaan yang menganut politik bipartisan ketimbang politik partisan.

Keempat adalah kinerja parlemen yang mesti lebih diperbaiki dalam fungsi legislasi yang berkaitan dengan kemampuan menghasilkan undang-undang dengan kuantitas dan kualitas yang lebih baik.

Kelima adalah soal preferensi politik yang lebih berdasarkan penilaian soal kinerja dan platform ketimbang pertimbangan etnis.

Menurut Anas Urbaningrum, saat ini praktik berdemokrasi di parlemen sudah relatif lebih baik. ”Makin akuntabel secara politik. Kita bisa lihat dua tahunan (akan lebih baik),” kata Anas. (INK)

Pakar CenturyGate

detikcom

detikcom – Sabtu, 30 Januari
Pakar : Pemerintahan SBY Hanya Sibuk Padamkan Centurygate

100 Hari pemerintahan SBY-Boediono hanya disibukkan untuk memadamkan bola api liar Centurygate. Akibatnya, pemerintahan SBY tidak cukup menunjukkan arah dan strategi baru dalam menjalankan agenda-agenda ekonomi sesuai amanat konstitusi.

Hal itu diungkapkan Direktur Eksekutif Mubyarto Institute Dr. Fahmi Radhi, MBA dalam “Evaluasi Mubyarto Institute terhadap Program 100 KIB II”, di kantor Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PSEK) UGM, Bulaksumur, Sabtu (30/1/2010).

“Semua sibuk mulai dari presiden, wapres, Plt Gubernur Bank Indonesia, Menkeu hingga menteri-menteri dari parpol berusaha kuat untuk memadamkan bola api liar agar tidak mengarah pemakzulan,” kata Fahmi.

Akibatnya lanjut Fahmi, pemerintahan itu seakan sudah tak punya lagi energi yang tersisa untuk menjalankan program-programnya terutama ekonomi kerakyatan. Sebaliknya pemerintahan SBY-Boediono justru dinilai tetap berusaha mengukuhkan sistem ekonomi neo-liberal yang telah dijalankan selama ini.

Menurut dia, klaim-klaim dari para menteri mengenai pencapaian program 100 hari sudah hampir 100 persen itu juga diragukan validitasnya. Selain itu itu tidak ada parameter terukur secara pasti yang dijadikan pijakan bagi publik untuk menakar keberhasilan program 100 hari itu.

Dia mengatakan angka-angka dan klaim-klaim yang disampaikan para menteri itu menunjukkan anomali atau keganjilan dan banyak bertolak belakang dengan realitas.

“Ini seperti fatamorgana untuk kepentingan pencitraan semata yang cenderung mengarah pada kebohongan publik sehingga ini menjadi pemicu mahasiswa dan jaringan LSM berdemontrasi besar-besaran kemarin,” ungkap staf pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) itu.

Fahmi mengatakan dalam 100 hari pemerintahan SBY-Boediono belum terlihat gebrakan nyata dan program hari yang dapat dijadikan pijakan bagi peningkatan kesejahterraan rakyat untuk lima tahun ke depan. Program 100 hari yang dicanangkan hanya semakin memperkokoh sistem ekonomi neo liberal yang akan diterapkan secara istiqomah selama lima tahun mendatang.

“Tidak ada tanda-tanda bahwa pemerintahan SBY-Boediono akan melakukan perubahan orientasi arah dan strategi pembangunan yang lebih berpihak kepada rakayat,” ungkap dia.

Meski tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan kesejahteraan rakyat katanya, pemerintahan SBY-Boediono malahan justru menunjukkan ketidakpekaannya terhadap kondisi rakyat yang masih menghadapi kesulitan hidup dan kemiskinan.

“Ketidakpekaan tersebut dipertontonkan dengan rencana pemeritah untuk menaikkan gaji dan pembelian mobil dinas seharga Rp 1,3 miliar bagi pejabat negara, serta rencana pembelian pesawat kepresidenan,” pungkas dia.

29
Jan
10

Ekologi : Hidupkan Aksi Bambu

EKOLOGI
Hidupkan “Aksi Bambu”

Jumat, 29 Januari 2010 | 03:31 WIB

Jakarta, Kompas – Kerusakan hutan akibat eksploitasi kayu dengan penebangan pohon yang masif disertai seretnya reboisasi mengakibatkan kelangkaan produk kayu. Untuk menyubstitusi kayu, Sarwono Kusumaatmadja menghidupkan kembali ”Rencana Aksi Bambu Nasional” sebagai kebijakan yang pernah dikeluarkannya pada akhir tahun 1997 sewaktu ia menjadi Menteri Negara Lingkungan Hidup.

”Karena situasi politik pada waktu itu, kebijakan ini tidak dapat berjalan hingga sekarang. Karena sekarang saya tidak ada pekerjaan, saya akan menghidupkan kembali Rencana Aksi Bambu Nasional ini,” kata Sarwono, Rabu (27/1), seusai menemui Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta di ruang kerjanya di Jakarta.

Gusti Muhammad Hatta sendiri menyambut baik gagasan Sarwono itu. Gagasan itu diharapkan memberikan kontribusi nyata di tengah isu kerusakan lingkungan saat ini.

Rencana Aksi Bambu Nasional tersebut tertuang dalam dokumen Strategi Nasional dan Rancang Tindak Pelestarian Bambu dan Pemanfaatannya secara Berkelanjutan di Indonesia”. Asisten Deputi Menteri Lingkungan Hidup Urusan Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan Wiwiek Wikoyah mengakui, dokumen itu memang tidak sempat direalisasikan.

Sarwono, di dalam dokumen itu, menyatakan, bambu adalah sumber daya alam yang dapat diperbarui. Bambu mempunyai banyak keunggulan dari segi sosial, ekonomi, dan budaya.

Keunggulan bambu adalah cepat tumbuh. Hal ini berarti mempercepat penghasilan. Tetapi, fungsi ekologis bambu jauh lebih penting untuk saat ini, misalnya mengurangi polusi air dan mencegah erosi lahan miring.

”Penebangan bambu yang tumbuh alami sudah sampai pada tingkatan membahayakan kelestarian bambu,” kata Sarwono.

Di dalam dokumen itu juga dinyatakan, saking banyaknya jenis bambu yang ada di Indonesia, jadi sulit diketahui pasti berapa jenis bambu di Indonesia. Setelah ada kegiatan ”Bamboo Germpalsm” (1990-1993), pencatatan bambu yang semula 65 jenis telah bertambah menjadi 125 jenis.

Diperkirakan, ada 67 jenis bambu endemik Indonesia. Diperkirakan pula ada 56 jenis bambu berpotensi ekonomi.

Sarwono waktu itu juga mengeluarkan strategi konservasi bambu berupa pembuatan Taman Pelestarian Bambu untuk setiap provinsi. Ini seperti milik Perum Perhutani Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bogor seluas 10 hektar dengan tanaman bambu diperkirakan jumlahnya 3.000 batang terdiri dari sekitar 60 jenis. (NAW)

29
Jan
10

PusKesMas : Model Dokter Keluarga

PT ASKES
Model Dokter Keluarga Dikembangkan

Jumat, 29 Januari 2010 | 03:36 WIB

Jakarta, Kompas – Dokter keluarga dapat berperan mengedukasi masyarakat untuk meningkatkan dan mengawasi kesehatannya. Sistem tersebut juga mengurangi biaya kesehatan. Melihat peluang tersebut, PT Askes mulai mengembangkan sistem dokter keluarga bagi anggotanya yang saat ini sekitar 16,2 juta pegawai negeri sipil.

Direktur Operasional PT Askes Umbu M Marisi mengatakan, Kamis (28/1), PT Askes tengah mengadakan uji coba penerapan sistem dokter keluarga di Jawa Timur.

Di Jawa Timur, jumlah total dokter keluarga 215 orang dan 78 di antaranya terlibat dalam proyek percontohan PT Askes untuk melayani 187.792 peserta.

Dia mengatakan, dokter keluarga merupakan dokter umum yang menerapkan pelayanan menyeluruh bagi pasiennya. Satu orang dokter keluarga menangani sekitar 2.000 peserta. Mereka merupakan dokter umum yang dilatih menjadi dokter keluarga dan kompeten. ”Dalam program itu juga terdapat kegiatan kunjungan dokter,” ujarnya.

Dia mengatakan, dokter keluarga belum populer di tengah masyarakat. Selama ini, masyarakat berpandangan jika sakit sebaiknya langsung mendatangi dokter spesialis atau ke rumah sakit yang biayanya kadang lebih besar. Padahal, sebagian kasus yang dialami bisa diselesaikan oleh dokter umum.

”Sebagai contoh, sekitar 30 persen pasien Askes langsung ke rumah sakit atau spesialis untuk mendapat resep yang sifatnya lanjutan. Nantinya hal seperti itu bisa dialihkan ke dokter keluarga yang bisa sekaligus mengedukasi dan melakukan pemantauan kesehatan pasien secara berkelanjutan. Sistem itu akan mengubah cara orang berobat,” ujarnya.

Dia mengatakan, dalam uji coba di Jawa Timur telah ada hasilnya sehingga program itu akan dilanjutkan pada 2010. Namun, hasilnya belum cukup memuaskan sehingga akan terus ditingkatkan. ”Kami berupaya agar pemahaman tentang fungsi dan peran dokter keluarga makin baik di kalangan dokter ataupun peserta Askes,” ujarnya.

Untuk itu, PT Askes akan mengadakan pertemuan-pertemuan dengan para calon dokter keluarga.

Perusahaan itu juga akan bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia dan Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia guna meningkatkan kemampuan dokter umum menjadi dokter keluarga.

Syarat menjadi dokter keluarga, seperti tempat praktik dan kemampuan dokter, juga akan dievaluasi terus. (INE)




Blog Stats

  • 2,181,357 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 119 other followers