Archive for December, 2009



30
Dec
09

PEPORA : 2010 Rakyat Miskin Bertambah [LIPI]

Suara Pembaruan

ZOOM2009-12-30LIPI: 2010, Rakyat Miskin Bertambah
[JAKARTA] Penduduk miskin di Indonesia diprediksi akan bertambah menjadi 32,7 juta jiwa pada 2010, yang sebelumnya 32,5 juta jiwa pada tahun 2009. Kemiskinan tetap merangkak naik, walaupun perekonomian tumbuh 5,5- 5,9% pada tahun 2010.

Ekonom Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E LIPI), Agus Eko Nugroho mengatakan, peningkatan angka kemiskinan itu tidak bisa dihindari, karena adanya kenaikan inflasi sekitar 5,6%.

“Hal ini diperparah dengan mendominasinya industri telekomunikasi beberapa tahun terakhir, padahal industri itu hanya sedikit menyerap tenaga kerja. Untuk itu, pemerintah harus mendorong industri berbasis tenaga kerja, supaya angka kemiskinan menurun,” katanya usai diskusi Outlook Ekonomi Indonesia Tahun 2010 di Jakarta, Selasa (29/12).

Tetapi, pada tahun 2009 terjadi penurunan angka pengangguran sebesar 200.000 jiwa. Sayangnya, hal itu hanya mengurangi sebagian kecil dari total angkatan kerja yang termasuk dalam pengangguran terbuka sebesar 8,8 juta jiwa. Dengan demikian, tingkat setengah pengangguran meningkat dari 31,57 juta menjadi 32,04 juta.

Dari data yang di sampaikan, tingkat kemiskinan tahun ini sebenarnya menurun 2,5 juta jiwa, jika dibandingkan 2008 yang mencapai 35 juta jiwa, atau setara dengan 15,4% dari total angkatan kerja.

Sementara itu, data BPS menyatakan, jumlah penduduk miskin pada Maret 2009 tercatat sebesar 31,53 juta jiwa atau sekitar 14,15%. Jumlah ini turun 2,43 juta jiwa dibandingkan Maret 2008 yang mencapai 34,96 juta jiwa atau sekitar 15,42%.

Menurut Agus, agar tingkat pertumbuhan ekonomi 2010 dapat menjadi berkualitas, pemerintah harus berfokus pada penguatan permintaan di pasar domestik, terutama untuk produk-produk konsumsi.

Senada dengan itu, Peneliti P2E-LIPI, Latif Adam menjelaskan, peningkatan permintaan domestik ini penting terutama sejak 2010 Indonesia akan melaksanakan perjanjian perdagangan bebas (FTA) ASEAN-Tiongkok.

“Hasil kajian LIPI menunjukkan, 60-70% produk impor asal Tiongkok yang masuk pasar domestik, merupakan barang substitusi untuk produk nasional. Hal itu ditambah dengan persoalan harga produk mereka yang lebih unggul, bahkan dapat memproduksi sepatu dengan biaya US$ 2 per pasang,” ungkapnya.

Rendahnya biaya produksi yang dicapai produsen Tiongkok, selain karena besarnya dukungan pemerintah melalui beragam insentif, juga karena unggulnya produktivitas tenaga kerjanya dibanding Indonesia.

Tumbuh 5,9%

LIPI optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan bakal mencapai pesat hingga 5,9%. Perkiraan ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2010 yang hanya sekitar 5,5%.

“Pertumbuhan ekonomi ini didukung oleh konsumsi masyarakat yang masih meningkat 3-4%, menyusul adanya pemulihan ekonomi global. Di samping itu, investasi diperkirakan akan mencapai Rp 225,2 triliun, dengan perincian investasi jalur fasilitas mencapai Rp 280,86 triliun, investasi penanaman modal dalam negeri Rp 56,66 triliun, dan penanaman modal asing US$ 22,08 miliar,” jelas Agus.

Agus menegaskan, jika Indonesia mampu melihat momentum, kemungkinan ekonomi berpotensi tumbuh jauh di atas perkiraan pemerintah. Kondisi ekonomi Indonesia 2009 yang tetap positif menjadi modal besar meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sebagai catatan, kendati dilanda krisis, beberapa indikator makro ekonomi Indonesia tahun ini tidak terlalu mengecewakan.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, tingkat inflasi tahun depan ditargetkan sebesar 4,5%. Kenaikan inflasi itu sebagai hal yang wajar seiring perbaikan kondisi ekonomi global.”Ekonomi dunia akan tumbuh 3,1% tahun depan dibandingkan tahun ini yang mencapai minus 1,1%. Begitu juga dengan permintaan komoditas akan meningkat dan tentu meningkatnya harga, sehingga akan mempengaruhi laju inflasi,” ujarnya. [H-15]

30
Dec
09

Perbankan : Sri Mulyani Siap Adu Argumentasi Tangani Krisis

Rabu, 30/12/2009 19:15 WIB
Sri Mulyani Siap Beradu Argumen 24 Jam Soal Penanganan Krisis
Herdaru Purnomo – detikFinance


Foto: dok depkeu

Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku dirinya siap untuk beradu argumen terkait metode penanganan krisis akhir 2008 lalu.

“Saya sudah ditanya oleh auditor BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) soal metodolgi dan saya mau 24 Jam beradu soal metodologi tersebut, data, dan cara analisa. Karena pengalaman saya sebagai ekonom, dan memang saya bukan ekonom yang muncul tiba-tiba seperti sekarang,” ujar Sri Mulyani.

Ia menyampaikan hal itu dalam acara Temu Wicara Para Pelaku Pasar Dengan Menteri Keuangan di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (30/12/2009).

Menurutnya, persoalan krisis atau tekanan pada bulan November 2008 lalu dimana Banking Presure Indeks (BPI) naik dua kali lipat dibandingkan dengan krisis pada tahun 1997-1998 dan akan menyebabkan efek kepanikan kepada bank sekelas Bank Century jika ditutup.

Dalam kesempatan tersebut, Sri Mulyani juga menegaskan dirinya tidak melanggar sumpah jabatan sebagai Menteri Keuangan atau mempunyai sebuah kepentingan tersendiri dimana pada situasi krisis pada akhir tahun 2008 harus membailout Bank Century.

“Saya tidak melakukan (mem-bailout Bank Century) hal tersebut karena saya dianggap kenal dengan pemiliknya, saya tidak pernah ditraktir apapun dan saya tidak dijanjikan atau menjanjikan apapun. Dimana tertuang dalam sumpah jabatan saya,” ujar Sri Mulyani

Ia mengatakan bahwa sebagai Menteri Keuangan dirinya sering mengangkat sumpah pada bawahannya dan dirinya akan merasa sangat malu jika melanggar sumpah tersebut.

Sri Mulyani juga mengatakan bahwa tugasnya sebagai Menteri Keuangan dan sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mempunyai tugas untuk mencegah krisis dan mengelola krisis jika terjadi.

“Dan hal yang saya lakukan dengan menyelamatkan Bank Century sesuai dengan perhitungan mikro maupun makro dimana cost-nya lebih rendah dibandingkan dengan menutup bank tersebut,” tuturnya

(dru/qom)

Baca juga :

Kasus Bank Century
Rafat: SBY, Wapres & Menkeu Korban Robert
Wakil Presiden dan Menteri Keuangan diberikan versi laporan keuangan yang fiktif.
Rabu, 30 Desember 2009, 07:41 WIB
Heri Susanto
Robert Tantular Divonis 4 Tahun Penjara (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews – Dari seberang, buronan kasus PT Bank Century mengungkapkan bahwa Robert Tantular adalah aktor dibalik semua kasus yang melanda bank ini. Sedangkan, para pejabat pemerintah hanyalah korban dari ulah Robert.

Hal itu diungkapkan oleh Rafat Ali Rizvi dan Hesham al Warraq dalam wawancara khusus dengan VIVAnews melalui surat elektronik Selasa, 29 Desember 2009. Kedua buronan kasus Bank Century ini kini tengah berada di London, Inggris.

“Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan publik Indonesia, termasuk Hesham dan saya adalah korban dari tindakan kriminal Robert,” ujarnya.

Menurut dia, setiap orang yang tahu tentang Bank Century akan sangat paham bahwa bank ini dikendalikan oleh Robert dari lantai tiga Plaza Senayan I dimana dia berkantor. Dari kantor yang sama, Robert seringkali bersama dengan adiknya Anton Tantular dan iparnya Hartawan Aluwi atas perintah Robert melakukan penipuan di PT Antaboga.

“Wakil Presiden (saat itu Gubernur BI) dan Menteri Keuangan diberikan versi laporan keuangan yang fiktif dan dipalsukan pada 20 November 2008,” katanya.

Laporan keuangan itu dibuat oleh Robert dari lantai tiga Plaza Senayan I yang berperan langsung, baik melalui dalam dan luar bank.

Menurut dia, laporan keuangan palsu ini merupakan salah satu dasar keputusan bail-out Century yang telah diambil. Kebohongan Robert itu terlihat dari indikasi bahwa bail-out Century perlu dan merupakan opsi biaya rendah.

Dia menekankan siapapun kita jika melihat laporan keuangan itu mungkin akan
mengambil kesimpulan yang sama. Namun, kesimpulan akan lain jika laporan keuangan yang sesungguhnya ditunjukkan pada 20 November 2008.

“Mungkin keputusannya akan lain sehingga lebih murah biayanya ketimbang bail-out.”

Baca: Wawancara Selengkapnya

heri.susanto@vivanews.com

• VIVAnews

30
Dec
09

PEPORA : Kontroversi Gurita Cikeas

Politik
inilah.com , 30/12/2009 – 14:44
Inilah Bukti Hukum Aditjondro Pukul Ramadhan Pohan
(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta – Dalam foto ini terlihat jelas bahwa George Junus Aditjondro memukul Ramadhan Pohan hingga berdarah.

Peristiwa ini terjadi di sela-sela peluncuran buku Aditjondro di Doekoen Coffee, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (30/12). Sekitar pukul 13.00 WIB, Ramadhan Pohan keluar dari ‘Doekoen Coffee’.

“Gua dipukul sama George Aditjondro,” katanya singkat kepada INILAH.COM.

Ramadhan Pohan sendiri mengalami luka memar di atas hidung. Namun, pemimpin redaksi Jurnal Nasional, enggan untuk diwawancarai, dan segera meninggalkan ‘Doekoen Coffee’.

Terlihat, Ramadhan Pohan berjalan cukup kencang tanpa menghiraukan para wartawan, yang ingin mengambil gambarnya. Ia memberhentikan taksi, dan segera naik.[bar/ims]

BERITA TERKAIT
Pohan Ditonjok Aditjondro, Lapor Polisi
lokasi: Home / Berita / Nasional / [sumber: Jakartapress.com]

Rabu, 30/12/2009 | 14:26 WIB Pohan Ditonjok Aditjondro, Lapor Polisi

Jakarta – Launching (peluncuran) ‘Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century‘ diwarnai kericuhan. Politisi Partai Demokrat yang juga mantan pimpinan Jurnal Nasional (Jurnas), Ramadhan Pohan mengaku dipukul George Junus Aditjondro dengan bukunya.

“Lihat mata saya. Saya dipukul sama George!” kata anggota Fraksi Partai Demokrat (F-PD) DPR RI Ramadhan Pohan yang tiba-tiba keluar dari ruang diskusi di Doekoen Coffee di Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (30/12). Mata Ramadhan terlihat sedikit merah.

Usai dipukul George Junus Aditjondro, Ramadhan Pohan bergegas pergi meninggalkan launching ‘Membongkar Gurita Cikeas’. Orangnya SBY ini akan melaporkan kejadian itu ke Polda Metro Jaya. “Ya ke Polda,” jelas Ramadhan.

Ramadhan langsung menyetop taksi yang melintas. Dia pun pergi sambil menunjukkan matanya yang memerah. Dalam insiden itu, sebenarnya antara George dan Ramadhan terlibat perdebatan. Namun entah bagaimana, karena terpancing, George lantas memukulkan buku ‘Membongkar Gurita Cikeas‘ ke arah wajah Ramadhan. Setelah kejadian itu, mantan pimpinan koran Jurnal Nasional itu pun pergi meninggalkan lokasi.

Sambil berjalan mencari taksi, Ramadhan terus bercerita mengenai insiden itu. “Saya hanya menyampaikan pendapat, kalau perbedaan pendapat itu demokrasi. Jangan main pukul,” protesnya.

Pemukulan itu terjadi ketika Permadi sedang berbicara dalam acara diskusi peluncuran buku itu. Di sisi lain terdapat sofa yang diduduki oleh empat orang antara lain George, Boni Hargens dan Ramadhan. Ramadhan terlihat berbicara serius. Tampaknya nada keras Ramadhan membuat George geram sehingga dia memukul anggota DPR itu dengan bukunya.

Sejumlah panitia diskusi yang membahas buku itu sempat meminta Ramadhan agar kembali ke dalam ruangan untuk menyelesaikan insiden tersebut. Tapi dia menolak dan memilih pergi.

Debat antara Ramadhan dan George ini memang memanas terkait tulisan di buku ‘Membongkar Gurita Cikeas‘ yang menyebutkan bila koran Jurnas mendapat suntikan dana dari Sampoerna yang disimpan di Bank Century. Ramadhan pun dalam berbagai kesempatan membantah peristiwa itu. Ramadhan, sebelum diskusi buku, mengaku sengaja menghadiri acara itu meski tidak mendapat undangan. Ramadhan ingin memberi pelajaran pada George bila terus membuat pernyataan yang keliru.

Sementara itu, George Aditjondro membantah telah memukul Ramadhan Pohan. “Tangan saya tidak menyentuh, buku saya juga tidak. Ada saksi bahwa saya tidak memukul dia,” sangkal penulis buku Membongkar Gurita Cikeas ini.

Menurut George, dirinya hanya ingin Ramadhan berhenti berceloteh. “Saya memang ingin menghentikan halusinasi dia (Ramadhan). Karena dia bolak-balik bilang tentang sesuatu yang tidak sesuai konteks. Kita kan bicara tentang buku ini,” aku George.

Pohan Divisum Rumah Sakit
Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat (FPD) Ramadhan Pohan berang. Matanya memerah, karena dipukul oleh penulis buku ‘Membongkar Gurita Cikeas‘ George Junus Aditjondro. Dia pun melaporkan aksi anarkis George ke Polda. Usai melapor ke Polda, Ramadhan akan menjalani visum di RS Jakarta.

“Sekarang masih di Polda. Habis ini, saya akan ke RS Jakarta untuk menjalani visum,” kata Ramadhan Pohan, mantan Pemimpin Redaksi (pimred) Jurnal Nasional, Rabu (30/12). Ramadhan tidak bisa menerima tindakan George yang memukul dirinya dengan buku.

Menurut Ramadhan, dirinya memang tidak diundang ke acara launching buku George di Dukun Coffee, Jalan Raya Pasarminggu, Jakarta Selatan. Dia hadir ke acara itu, setelah mengetahui Staf Khusus Presiden SBY, Andi Arief, tidak hadir dalam acara itu, meski diundang.

Di acara launching tersebut, Ramadhan yang mengenakan baju batik warna biru itu diminta masuk dan diberi kesempatan bicara. “Saya diberi kesempatan bicara lima menit,” kata dia.

Saat itu, sambil berdiri dan menggunakan mikrofon, Ramadhan membantah isi buku George terkait Jurnal Nasional dan dirinya. Dalam buku itu, George memang menulis agak panjang terkait keberadaan Jurnal Nasional dan Ramadhan Pohan.

Namun, setelah itu, suasana peluncuran buku sempat memanas. “Banyak berteriak ‘pukul’ berkali-kali,” kata Ramadhan. Dan ketika Ramadhan selesai bicara dan duduk, dan saat Permadi mendapat giliran bicara, George yang memang tampak marah itu memukul Ramadhan dengan buku ‘Membongkar Gurita Cikeas‘.

Disuruh Masuk, Pro SBY Mangkir
Para pendukung SBY dari Koalisi Solidaritas Rakyat Indonesia yang mendemo peluncuran buku ‘Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century’ ditantang masuk ke tengah acara. Namun mereka akhirnya malah membubarkan diri. Dalam aksi di Doekoen Coffee, sekitar 25  remaja pendemo meneriakkan yel-yel dan berorasi dari luar tempat acara. “Usir George, dia antek asing!” teriak koordinator Koalisi Solidaritas Rakyat Indonesia, Abdul Fatah, dalam orasinya.

Mendengar orasi itu, para peserta acara menantang para demonstran yang masih remaja ini untuk masuk. Bahkan mereka melambai-lambaikan uang kertas pecahan Rp 50.000 sampai Rp 1.000 kepada para demonstran. “Ayo masuk saja kalau mau!” kata mereka.

Sedangkan para demonstran tetap berteriak, “Usir George! Usir George!”

Mendapat tantangan itu, para demonstran ini tidak masuk ke dalam acara. Mereka malah mulai membubarkan diri. “Jadi malah malu-maluin SBY!” pekik para peserta acara.

Seorang peserta aksi yang tidak mau disebut namanya mengatakan mereka datang dari Gunung Putri, Bogor. Mereka bahkan tidak tahu nama organisasi mereka yaitu Koalisi Solidaritas Rakyat Indonesia, saat berdemo hari ini. Massa bubar pukul 13.20 WIB dengan sebuah bus Miniarta Kampung Rambutan-Bogor.

Pendukung SBY Demo Peluncuran ‘Gurita Cikeas’
Puluhan orang dari Koalisi Solidaritas Rakyat Indonesia mendemo acara peluncuran buku ‘Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century’. Mereka meneriakkan kata ‘Hidup SBY’ dalam aksinya. Pendemo datang ke acara peluncuran buku di Doekoen Coffee, Jalan Pasar Minggu Raya, Jakarta, Rabu (30/12), pukul 12.30 WIB. Mereka berjalan kaki dari arah Pasar Minggu.

Dalam aksinya mereka menyanyikan lagu Padamu Negeri dan meneriakkan slogan ‘Hidup SBY’. Suara pendemo ini cukup mengganggu suasana launching buku. Para tamu di launching buku itu sempat mengalihkan pandangan matanya saat para pendemo beraksi. “Kita tidak rela bangsa ini dipecah oleh orang yang tidak jelas warga negaranya. Dia antek-antek asing!” ujar Abdul Fatah, koordinator aksi saat orasi.

Tamu di acara itu lalu membalas dengan melambaikan uang dari Rp 2.000 sampai Rp 100 ribu. Namun, pemdemo hanya membalasnya dengan kata-kata. “Itu uang dari antek asing. Itu orang rakyat Indonesia yang mudah dibeli oleh antek asing melambai-lambaikan uangnya,” kata Abdul. “60 Persen orang memilih SBY, kita harus menghargai suara mereka, jangan memecah belah,” imbuh Abdul. Dalam aksi itu juga diusung poster bertuliskan ‘Aku Mau Memisahkan Papua dari NKRI’, ‘Aku Provokator’, dan ‘Hidup SBY’. (*/dtc/jpc)

Aditjondro

Rabu, 30 Desember 2009 15:02 WIB | Peristiwa | Politik/Hankam |
Saya Sudah Baca Somasi ANTARA
Aditjondro: Saya Sudah Baca Somasi ANTARA
Penulis buku “Membongkar Gurita Cikeas”, George Junus Aditjondro memperlihatkan bukunya, di Yogyakarta, Senin (28/12). (ANTARA/Regina Safri)
Jakarta (ANTARA News) – Penulis buku “Membongkar Gurita Cikeas” George Junus Aditjondro mengatakan sudah membaca isi somasi yang dilayangkan Perum LKBN ANTARA kepada dirinya.

“Saya sudah membaca dan memahami isi somasi dari LKBN ANTARA, tadi malam,” kata George Junus Aditjondro pada peluncuran buku “Membongkar Gurita Cikeas” di Doekoen Cafe, Jakarta, Rabu.

Dikatakan George, somasi dari LKBN ANTARA isinya meminta dirinya untuk mengoreksi isi buku yang membahas soal LKBN ANTARA dan meminta maaf di media massa nasional

George mengatakan, dirinya tidak akan meminta maaf karena dia menulis buku tersebut berdasarkan penelitian dan masukan dari sumber-sumber.

Namun George juga mengatakan, ia sedang menyiapkan edisi revisi yang isinya menambahkan bantahan, keberatan, masukan baru, serta hal-hal yang belum sempat ditampilkan pada edisi perdana.

Menurut dia, pada edisi revisi tidak akan menghapus tulisan soal LKBN ANTARA tapi akan menambahkan bantahan dari Perum LKBN ANTARA.

Dikatakanya, buku “Membongkar Gurita Cikeas” yang diterbitkan Galang Press Yogyakarta cetakan pertama sudah didistribusikan dan sekarang sedang dilakukan cetakan kedua untuk dipasarkan keluar Pulau Jawa.

“Sambil memasarkan cetakan kedua, saya menyiapkan edisi revisi yang tebalnya sekitar 250 halaman,” katanya.

Menurut dia, dalam dunia percetakan adalah hal lumrah melakukan revisi dan cetak ulang.

Revisi dilakukan, katanya, untuk mengakomodir adanya bantahan dan keberatan serta menambahkan hal-hal yang belum sempat ditampilkan.

Peluncuran buku “Membongkar Gurita Cikeas” dihadiri ratusan orang yang memadati bangunan ruko seluas 4×10 yang menjadi lokasi Doekoen Cafe.(*)

COPYRIGHT © 2009

Buku Putih Harus Ungkap Sumber Dana Partai Demokrat

lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 29/12/2009 | 08:36 WIB Buku Putih Harus Ungkap Sumber Dana Partai Demokrat

Jakarta – Pihak Istana Presiden menyebutkan kemungkinan akan dibuat ‘buku putih’ alias buku tandingan untuk melawan buku karya George Junus Aditjondro. Langkah tersebut dianggap baik, asalkan dalam buku putih tersebut juga dijelaskan dari mana saja sumber dana Partai Demokrat dalam Pemilu Legislatif serta Pilpres 2009 lalu.

“Bagus membikin buku putih, di sana nanti harus dijelaskan sumber dana Partai Demokrat dari mana saja. Yayasan-yayasannya juga dijelaskan sumber dananya,” ujar pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit, Selasa (29/12).

Dalam buku putih tersebut, menurut Arbi, juga harus disebutkan secara gamblang bantahan-bantahan terhadap isi buku karangan George Aditjondro. Juga harus dijelaskan secara ilmiah agar bisa efektif untuk menandingi buku ‘Membongkar Gurita Cikeas’.

Arbi menganggap, penerbitan buku putih tersebut merupakan langkah terbaik daripada membawa kasus ini ke jalur hukum atau pun menarik buku dari peredaran. “Ini adalah langkah yang paling demokratis,” papar dosen Fisip UI.

Namun, langkah hukum bisa saja dilakukan jika memang terdapat perbedaan pandangan yang tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan. “Bisa saja masuk jalur hukum jika ada pendapat yang berbeda,” tandasnya.

Dalam  buku ‘Membongkar Gurita Cikeas’ disebutkan beberapa yayasan di sekitar SBY diduga dialiri dana untuk kepentingan Pemilu 2009 lalu. Yayasan tersebut yakni, Yayasan Puri Cikeas, Yayasan Mutu Manikam Nusantara, Majelis Dzikir SBY, dan Yayasan Kepedulian dan Kesetiakawanan.

Juru Bicara Kepresidenan Julian Adrian Pasha menyebutkan, kemungkinan buku yang diterbitkan oleh Galang Press Yogyakarta tersebut akan mendapat tandingan. Yayasan SBY akan membuat buku putih untuk melawan buku George Aditjondro itu. (*/dtc/din)

Suara Pembaruan

ZOOM2009-12-30Biarlah Rakyat Pintar Membaca “Borok”
Abdul Wahid
“Seorang musisi harus menciptakan musik, seorang seniman harus melukis, seorang penyair harus menulis, jika ia ingin merasa damai dengan dirinya sendiri. Apa yang seseorang bisa lakukan, harus ia lakukan.” (Abraham Maslow)

Sebagai penulis, peran George Aditjondro sudah ditunjukkan pada masyarakat. Seperti kata Maslow, Aditjondro sudah menciptakan, melukis, dan menulis buku. Dalam buku Gurita Cikeas, Aditjondro telah memainkan peran sebagai kreator atau “seniman” yang membuat masyarakat bisa membaca dengan pisau yang lebih tajam. Boleh jadi, apa yang ditulis Aditjondro belum tentu benar atau terdapat ulasan subjektivitas dan bias. Tetapi, apa yang diberikan dapat menciptakan atmosfer yang lebih menggairahkan dan menantang.

Idealnya, SBY tidak perlu tergesa-gesa “berbicara” hanya karena soal buku yang mengungkap suatu borok atau penyakit yang ditujukan (ditembakkan) kepadanya, apalagi di era globalisasi, informasi, dan demokratisasi, sekarang ini. Setiap elemen bangsa mempunyai hak untuk mencari tahu, mendapatkan informasi atau diberi informasi dengan jalan meneliti, membuat polling, meramu isu, atau memproduki “infotainment” di layar kaca (televisi) atau dalam buku.

Upaya elemen masyarakat, apalagi akademisi dan peneliti, memperoleh informasi, akan memberikan kepuasan psikologis. Mereka bisa menunjukkan kepada masyarakat kalau dalam setiap pribadi, komunitas, dan penyelenggaraan kehidupan kenegaraan, terdapat suatu realitas atau fenomena yang bisa diungkap secara ilmiah.

Karya dalam bentuk buku merupakan salah satu wujud prestasi, yang memang sepatutnya ditunjukkan oleh akademisi dan peneliti. Dengan buku itu, akademisi dan peneliti bisa menantang masyarakat untuk menjadi pembelajar yang cerdas, lebih berani menilai, dan menghakimi. Kecenderungan masyarakat yang sudah mulai tidak diam saat menyaksikan bentuk borok, seperti disparitas perlakuan antara orang kecil (miskin) yang bermasalah secara hukum dengan elite kekuasaan atau korporasi besar, dapat saja menjadi lebih “agresif” atau bermobilitas tinggi, manakala masyarakat semakin akrab dengan berbagai bentuk informasi melawan arus dan mencerahkan.

Masyarakat tak akan begitu saja menunjukkan sikap kritis atau “melawan” pada sang rezim, kalau kepada dirinya tidak diberikan kemerdekaan mengenal, mendialogkan, dan mengungkap berbagai bentuk penyakit yang bersemai subur menghegemoni anatomi kekuasaan. Masyarakat tak akan bisa membebaskan ketertinggalan, keterbelakangan, dan stagnasi yang menyelimuti dirinya, kalau dirinya tidak mempunyai “investasi” intelektualitas yang memadai.

Buku merupakan “investasi edukasi fundamental” yang sejatinya diberikan oleh peneliti atau akademisi kepada masyarakat, terlepas apakah buku tersebut masih patut dikoreksi atau diragukan validitasnya. Dengan investasi ini, masyarakat diajak belajar membaca, membangun dan mengembangkan kehidupannya menjadi lebih maju, progresif, berkeadilan, demokratis, dan berkeadaban dibandingkan dengan sebelumnya.

Penyakit kekuasaan yang sedang atau telah sekian lama menyerang republik ini tidak terhitung banyak dan ragamnya, khususnya model korupsi dan besaran kerugian. Para koruptor “unjuk kekuatan” dengan cara mencabik-cabik dunia peradilan, institusi dewan dan lembaga eksekutif, sehingga akselerasinya itu merangsang peneliti dan akademisi untuk mengungkapnya.

Seharusnya, SBY perlu berterima kasih kepada setiap peneliti dan akademisi. Pasalnya mereka masih punya keberanian menyampaikan kritik lewat ketajaman pena dan nalarnya. Bagaimana jadinya wajah rezim ini ke depan jika mengemas dirinya menjadi rezim yang eksklusif dan berpakem seperti rezim Orba, “king no wrongs”, yang membuat akademisi kehilangan hak ketajaman berpikir dan berkarya, padahal rezim ini lahir dari “darah” anak-anak reformis yang memperjuangkan keterbukaan.

Virginia Woolf mengingatkan, “Anda bisa saja mengunci pintu perpustakaan, bila Anda suka, tetapi sesungguhnya tidak ada pintu, kunci, atau gembok yang dapat membatasi atau mencegah kebebasan berpikir manusia”.

Ungkapan tersebut layak diapresiasi. Lembaga apa pun tidak akan mampu mencegah, apalagi mengamputasi “kemerdekaan” berpikir manusia. Manusia sudah dikaruniai Tuhan untuk bertanya, mencari tahu, mempertanyakan, mengevaluasi dan mengeksaminasi, serta menggugat suatu masalah yang dianggap masih belum jelas. Ketika ada sesuatu yang dianggap anomali, sensasional, dan mengisyaratkan penyakit di lingkaran kekuasaan (negara), maka logis kalau itu bisa menggiring akademisi dan peneliti bertanya-tanya untuk mendapatkan jawaban kebenaran.

Sayangnya, kebebasan berpikir masih belum sampai secara maksimal ke ranah empirik. Pertanyaan demi pertanyaan memang sudah ada di kepala setiap orang, namun belum diwujudkan menjadi suatu karya sistematis yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya dunia pendidikan. Pasalnya, tembok besar sang rezim masih seringkali menciptakan “horor” yang membuatnya (peneliti dan akademisi) tidak punya nyali tinggi untuk mengungkap apa yang menari-nari di kepalanya.

Ketakutan akademisi dan peneliti untuk melangkah lebih progresif dalam berkarya jelas merupakan kerugian besar bagi negara dan masyarakat. Pasalnya, negara, dunia pendidikan, dan masyarakat kehilangan modal pencerahan masa depan. Mereka akhirnya tidak bisa memberikan yang terbaik bagi masyarakat dan bangsa, tetapi hanya “memberikan” yang menyenangkan dan memuaskan egoisme segelintir elite kekuasaan.

Penulis adalah Dekan Fakultas Hukum dan Pengajar Program Pascasarjana Ilmu Hukum pada PPS Unisma Malang

Citizen Journalism
inilah.com , 30/12/2009 – 09:16
Kontroversi Buku Membongkar Gurita Cikeas
Kok Grasa-grusu George ???

Membaca dua Bab pertama buku Membongkar Gurita Cikeas, kesan pertama yang muncul adalah ketergesa-gesaan.

Fokus sebenarnya dari serial tulisan George Junus Aditjondro yang telah sering muncul di berbagai media adalah kelihaian dia untuk menelusuri Yayasan-yayasan yang ada di sekitar politik kekuasaan.

Dua bab yang diletakkan dimuka terlihat masih dalam bentuk sketsa analisis, penuh dengan hipotesa pemikiran penulis yang masih harus mencari data pembanding untuk memperkuat tulisannya.

Hal ini dapat dimaklumi karena buku ini sangat berkepentingan untuk mampu menarik perhatian masyarakat yang sedang tertuju perhatiannya pada membesarnya isu skandal Bank Century.

Selebihnya adalah proyek “idealis” George yang memang memiliki ketekunan yang lebih dari peneliti yang lain dalam persoalan mencermati keterkaitan antara bisnis dan kekuasaan di Indonesia.

Jika pembaca buku ini sering membaca tabloid tabloid maupun majalah-majalah yang mengibarkan semangat oposisi terhadap pemerintahan SBY tentu kumpulan tulisan George bukanlah tulisan yang baru muncul.

Rentetan tulisan George, kemunculan dia sebagai narasumber, hingga serial investigasi ala tabloid adalah hal-hal yang dirangkum kemudian dalam buku Membongkar Gurita Cikeas.

Kalau kemudian George merasa bahwa bukunya harus direvisi, tentu saja itu merupakan tanggung jawab George yang mempunya reputasi cukup bagus dalam menyajikan tulisan-tulisan yang penuh dengan data-data investigasi sekunder.

Buku ini jelas dicari karena iklan gratis dari reaksi Presiden SBY yang ternyata tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar terhadap kemunculan berbagai suara kritis yang mengiringi langkah awal kekuasaan keduanya.

Tulisan-tulisan penulis muda dalam majalah Pantau yang pernah terbit beberapa waktu lalu jelas-jelas lebih kokoh dalam cara pandang investigatif dibandingkan dua bab pertama tulisan George Junus dalam buku ini.

Rangkuman obrolan warung kopi mungkin lebih tepat untuk menggambarkan dua bab pertama buku ini.

Bedanya yang melakukan obrolan di warung kopi tersebut adalah orang-orang yang selama ini mempunyai kedekatan dengan lingkar-lingkar kekuasaan maupun kroni-kroni politik yang dalam pernah dekat dengan kekuasaan terdahulu tetapi pada saat ini tidak ikut serta dalam rombongan pesta kabinet SBY jilid dua.

Yul Amrozi (amrozi@gmx.net)

BERITA TERKAIT
30
Dec
09

PEPORA : Refleksi Tahun Baru 2010

Press Release : REFLEKSI TAHUN BARU 2010

Tanggal 23 Juli 2009, Front Daulat Rakyat Merdeka sudah TOLAK HASIL PILPRES, lalu sekarang saatnya bertahun baru 2010 bagi segenap pemangku kepentingan daulat rakyat untuk bersama-sama TOLAK PENEBAR PESONA AKHLAK YANG TERCELA 2009, seperti (1) Pendapat yang tergesa-gesa, (2) Berlebih-lebihan, (3) Sombong, (4) Tipuan, (5) Perbuatan yang tak sesuai dengan perkataan, (6) Bohong, (7) Buruk sangka, (8) Memata-matai, (9) Adu domba, (10) Pembohong, (11) Menyebar kabar bohong, (12) Pengecut, (13) Tamak, (14) Mubadzir, (15) Angkuh, (16) Takabur, (17) Khianat, (18) Berbuat buruk dengan terang-terangan, (19) Menipu, (20) Tipu Daya, (21) Pamer, (22) Lalai, dst yang terbukti mampu menggerus sistim Kepemimpinan bahkan kiprah Kenegarawanan. Sehingga pertandanya di akhir tahun 2009 ini muncul pendapat bahwa walaupun berkedudukan de jure adalah Superior namun de facto justru bertampilan Inferior, dan oleh karena itulah kontradiksi dan kontroversial tersebut saat-saat menyambut tahun baru 2010 ini perlu dilakukan paling tidak keberanian untuk bermawas diri dari yang bersangkutan (YBS) dan yang merasa terkait erat dengan YBS demi pemenuhan petuah vox populi vox dei.

Tiada gading yang tak retak, demikian pulalah manusia yang kodratinya memang jauh daripada kesempurnaan, yang seyogjanya terus menerus belajar mendalami jati diri bangsa dibawah ketundukan yang hakiki dalam Ketuhanan Yang Maha Esa (Sila-1 PANCASILA).

Jakarta Selatan, 30 Desember 2009

Pandji R Hadinoto / HP : 0817 983 4545

Majelis Benteng Pancasila / pancasila45@yahoo.com

30
Dec
09

PEPORA : KPK Melarang Pejabat Urusi Yayasan Swasta

KPK Melarang Pejabat Urusi Yayasan Swasta

lokasi: Home / Berita / Nasional / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 29/12/2009 | 19:09 WIB KPK Melarang Pejabat Urusi Yayasan Swasta

Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyoroti yayasan swasta yang diisi oleh para pejabat publik. Sebaiknya hal itu tidak dilakukan para pejabat karena akan menimbulkan penyalahgunaan wewenang. “Pejabat publik seharusnya jangan terlibat di yayasan swasta karena berpotensi menyalahgunakan wewenang sangat besar,” kata Wakil Ketua KPK bidang pencegahan M Jasin usai memberikan laporan akhir tahun di Gedung KPK, Selasa (29/12).

Menurut Jasin, KPK tidak memiliki kewenangan untuk menyelidiki yayasan-yayasan yang dimiliki swasta. Sehingga, aliran dana yang masuk dari pihak swasta tetap dibiarkan. “Kami hanya bisa mengimbau,” lanjutnya.

Sementara untuk yayasan yang berada di naungan pemerintah, KPK sudah lama berusaha untuk menertibkannya. Hanya yayasan yang memberikan profit saja bisa dipertahankan. “Kalau yang merugikan sebaiknya dibubarkan saja,” tegasnya.

Fenomena tentang yayasan yang diisi oleh pejebat negara ini diungkap oleh penulis George Junus Aditjondro dalam bukunya ‘Membongkar Gurita Cikeas’. Disebutkan oleh George, ada sejumlah yayasan yang terafiliasi dengan SBY dan perlu diaudit independen karena menerima dana dari sumber yang tidak jelas dan dihuni oleh para pejabat BUMN.

Sejumlah pejabat juga disebut aktif di yayasan-yayasan tersebut, antara lain Yayasan Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam, Yayasan Kepedulian Sosial Puri Cikeas, Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian (KdK), Yayasan Mutu Manikam Nusantara, Yayasan Batik Indonesia, dan Yayasan Sulam Indonesia. Yayasan-yayasan itu disebut George berafiliasi kepada SBY dan Ibu Ani Yuhoyono.

Sejumlah pejabat dan tokoh disebut-sebut dalam buku George aktif dalam yayasan itu. Antara lain Djoko Suyanto, Soetanto, Purnomo Yusgiantoro, Jero Wacik, MS Hidayat, dan Didi Widayadi. Sejumlah keluarga menteri dan pejabat juga disebut, seperti istri Ginandjar Kartasasmita, isteri Hassan Wirajuda, adik Marty Natalegawa, dan istri Jero Wacik. Sejumlah pimpinan BUMN dan bank juga disebut terlibat dalam yayasan seperti Dirut BNI Gatot Suwondo, Sofyan Basyir dan Anton Sukartono.

Namun, sejumlah nama yang disebut sudah membantah tulisan George. Mereka menegaskan yayasan-yayasan tersebut tak terkait dengan SBY dan Ny Ani Yudhoyono. Hingga saat ini, buku ini beredar di publik, karena tidak ada larangan dari Kejaksaan Agung. Namun, di toko buku besar, seperti Gramedia, buku ini tak ditemukan. (*/dtc/jpc)

29
Dec
09

Perbankan : Boediono yang Tidak Konsisten

Suara Pembaruan

ZOOM2009-12-29Boediono yang Tidak Konsisten
Tjipta Lesmana

Pemeriksaan Panitia Khusus (Pansus) Angket Bank Century terhadap mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono, pada 22 Desember 2009, sepertinya sudah diset begitu rupa, sehingga berlangsung adem-ayem, tertib, dan terkendali. Nyaris tidak ada satu pun pertanyaan tajam diajukan kepada Boediono. Hal ini berbeda sekali dengan situasi sehari sebelumnya, tatkala Pansus “menggedor habis” mantan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), yang juga mantan Deputi Senior Gubernur BI, Anwar Nasution.

Mari kita analisis beberapa pernyataan Boediono, yang patut diragukan kebenarannya, sekaligus membuktikan bahwa dia adalah pembesar negara yang sesungguhnya tidak konsisten dengan ucapannya. Pertama, Boediono menegaskan bail-out diberikan kepada Bank Century karena pemerintah belajar dari krisis moneter pada 1997 dan memuncak 1998. Menjawab pertanyaan seorang anggota Pansus, apakah itu berarti krisis ekonomi Indonesia pada 2008 -sebagai dampak dari krisis keuangan global- sama dengan krisis moneter 1997, Boediono menjawab tegas sekali: “Ya, persis!”

Namun, pada Minggu, 5 Oktober 2008, seusai menghadiri rapat koordinasi bidang perekonomian di Jakarta, Boediono selaku Gubernur BI, menandaskan, situasi krisis saat itu (sampai Oktober 2008) sangat berbeda dari krisis 1997. “Sumber krisis (2008) ada di luar. Kita hanya terkena imbasnya yang menurut penilaian saya, imbasnya sangat terbatas.” Ini pernyataan Boediono di hadapan puluhan wartawan. Tapi, di depan Pansus Angket Bank Century, Boediono mengatakan, kedua krisis ini persis sama.

Beberapa menit sebelumnya, masih dalam forum tanya-jawab seusai rapat koordinasi itu, Sri Mulyani Indrawati selaku Pelaksana Jabatan Menteri Koordinator Perekonomian mengimbau semua pihak supaya “tidak perlu panik menghadapi krisis. Dampak krisis baru akan terlihat dalam beberapa kuartal ke depan pada 2009 dan 2010. “Jadi, menurut Sri Mulyani, dampak krisis yang berasal dari Amerika itu belum dirasakan Indonesia sampai akhir 2008.

Kedua, di depan Pansus Boediono mengatakan, indikator lain dari dampak krisis 2008 adalah nilai tukar rupiah yang terus merosot dari Rp 9.000 pada awal 2008 menjadi Rp 13.000 pada November 2008. Lagi-lagi pemerintah takut kejadian 1997-1998 terulang. Ketika itu nilai rupiah “terjun bebas” hingga Rp 18.000 per dolar AS. Faktanya, pada 6 Oktober 2008, nilai tukar rupiah dibuka pada posisi Rp 9.550, merosot 1,8% dibandingkan pada posisi sebelum Lebaran, 26 September 2008, yaitu Rp 9.380. Demikian data resmi dari BI.

“Kami akan menjaga agar pasar tidak membuat rupiah bergerak ke level yang tidak realistis,” kata Boediono optimistis pada 18 November 2008. Keesokan harinya, rupiah masih bertahan di level Rp 12.100. Dan awal Desember 2008, rupiah malah mulai menguat kembali sampai ke level Rp 11.075 pada 17 Desember 2008.

Soal Rumor

Kenapa menurut penilaian BI, dampak Bank Century yang dikatakan gagal itu sistematik? Antara lain karena banyak rumor berseliweran terkait dengan kesehatan bank swasta, sehingga “kondisi masyarakat sangat eksplosif”. Faktanya, rumor yang terkait dengan perbankan nasional pada pengujung 2008 hanya satu, yaitu yang menerpa Bank Century. Pada pertenghan November, seorang pelaku pasar saham, lewat internet memberitahukan kepada masyarakat bahwa Century kalah kliring. Otoritas BI marah dan mencoba membantah serta melaporkannya kepada Polri. Ternyata, rumor itu memang benar.

Nah, omong kosong satu rumor bisa menciptakan efek psikologis yang eksplosif dan menimbulkan rush! Situasi ini amat kontras dengan situasi akhir 1997. Rush pada 1997 terutama karena nilai tukar rupiah yang “terjun bebas” sehingga masyarakat pemilik uang amai-ramai melepas rupiah dan menukarnya dengan dolar. Malah, banyak pemilik bank memborong dolar untuk kepentingan spekulatif. Ada pula rumor Liem Sioe Liong, pemilik Bank BCA, bank dengan aset nomor satu di Indonesia, menderita sakit keras di Singapura. Para nasabah BCA di mana-mana kemudian menyerbu BCA. Segera setelah BCA diserbu, bank-bank papan atas lain juga diserbu oleh nasabah yang panik.

Ketiga, di depan Pansus, Boediono mengatakan, perubahan kebijakan BI tentang ketentuan pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP), yaitu CAR yang semula 8% berubah menjadi cukup positif, bukan untuk menolong Bank Century, tapi berlaku umum. Bank mana pun yang memenuhi ketentuan baru itu bisa memanfaatkan FPJP Bank Indonesia. Aneh, hanya dalam hitungan jam setelah perubahan PBI (peraturan BI) itu, datang surat dari Direksi Bank Century yang minta FPJP. Suatu koinsidensi atau memang jelas-jelas PBI baru itu untuk mengangkat Bank Century dari peti mati?

Keempat, Maryono selaku Direktur Utama Bank Century, pada 27 November 2008 mengatakan, setelah LPS menyuntikkan dana, CAR bank yang dipimpinnya mencapai 8%. Hari yang sama, Kepala Eksekutif LPS, Firdaus Djaelani, mengatakan, pihaknya berencana menaikkan CAR Bank Century hingga ke level 10% dengan total dana talangan sebesar Rp 2 triliun. Tapi, kenapa dana bail-out Century terus bertambah hingga Rp 6,7 triliun? Boediono dengan enteng menjawab: penambahan dana bantuan itu sangat dinamis sesuai perkembangan kebutuhan Bank Century yang memang sangat dinamis ketika itu.

Penulis adalah pakar komunikasi politik

29
Dec
09

Presidensial : SBY terlihat inferior [Anies Baswedan]

SBY Inferior

detikcom

detikcom – 2 jam 17 menit lalu
Dua Bulan Terakhir di Tahun 2009, SBY Terlihat Inferior

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam dua bulan terakhir dinilai tidak menciptakan kepemimpinan yang membangun. Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan berpendapat, keluh-kesah, curhat, dan sikap memelas yang kerap diungkapkan SBY di depan publik dinilai tidak menguntungkan dalam membangun citra dirinya.

“Bicara krisis, bukan hanya SBY yang menghadapi. Tapi dihadapinya jangan dengan tampil memelas. Seseorang yang dalam posisi inferior, jika tampil memelas akan dikasihani. Tapi kalau orang dalam posisi superior, dan dia memelas, tidak akan dikasihani,” kata Anies.

Hal tersebut disampaikan dia saat menyampaikan Refleksi Akhir Tahun “Rekayasa Indonesia Baru” di Auditorium Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (29/12/2009).

Sikap lemah tersebut, menurut Anies, tidak mencerminkan sosok seorang pemimpin yang kuat. Dia berpendapat ujung-ujungnya adalah kehilangan kewibawaan di depan pendukungnya sendiri, seperti yang terlihat saat menghadapi kasus Bibit-Chandra.

“Kasus Bibit-Chandra sebenarnya soal leadership dan keberanian. Hadapi saja seharusnya kelompok penentang itu. Tapi, ketika pemimpin posisinya to please everyone, maka dia akan kehilangan kewibawaan dari kelompok pendukung dan tidak berani menghadapi penentang,” kata Anies.

Dalam 5 tahun pertama kepemimpinannya bersama Jusuf Kalla (JK) pada tahun 2004-2009, Anies melihat, SBY lebih menjalankan komunikasi antara dirinya dan rakyat. Sedangkan peran komunikasi dengan kekuatan politik diambil oleh JK.

“Sekarang, dikerjakan sendiri dan terbukti dalam dua bulan ini tidak dikelola dengan baik sehingga memunculkan riak-riak politik yang menguras energi,” tandasnya.




Blog Stats

  • 2,193,890 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 121 other followers