28
Oct
09

Nasionalisme : NeoPatriotisme [Sumpah Pemuda 2009]

Neopatriotisme

KOMPAS, Rabu, 28 Oktober 2009 | 04:31 WIB

William Chang

Di tengah badai sosial yang tak menentu, patriotisme hitam acap kali muncul dengan wajah anarki, xenofobia, penyisiran terhadap orang asing, dan teriakan ”ganyang-ganyangan”. Bagaimanakah merancang sebuah neopatriotisme pada sebuah bangsa?

Ternyata, kepicikan dan keangkuhan primordial cenderung melahirkan patriotisme hitam. ”Benar atau salah, tetap patriaku.” Mental antikritik dalam paham ini membentuk watak defensif. Bahkan, kritik konstruktif pun dianggap cambuk, bukan langkah perbaikan. Ulah A Hitler termasuk wujud patriotisme hitam.

Penolakan kritik-kritik konstruktif termasuk salah satu ciri khas patriotisme hitam yang menganggap diri superior dan serba berkecukupan. Harga diri terlampau tinggi. Sikap saling tergantung dan kerja sama antarbangsa tak dirasa penting.

Patriotisme lebih mengandalkan desakan emosional dan sentimental dalam memecahkan isu-isu kebangsaan. Rasionalitas berbangsa diungkap melalui aneka seruan dan aksi-aksi sesaat yang biasanya merebut simpati massa. Pemaknaan patriotisme masih sebatas dimensi fisis. Kedangkalan paham patriotisme bisa mengerdilkan sosialitas sebuah bangsa.

Patriotisme sebagai kebajikan

Proses degradasi makna patriotisme terjadi pada abad ke-19 dan ke-20. Langgam sastra kalangan peminat karya McGuffey (abad ke-19) menelaah patriotisme sebagai kebajikan yang bisa dicapai melalui jerih payah manusia. Kebajikan pada hakikatnya ada di tengah dan tidak jatuh pada salah ekstremisme. Kesetiaan kepada Tanah Air tecermin dari gaya hidup dan pengambilan keputusan penting di Tanah Air.

Setelah Perang Dunia II, terutama sejak 1960-an, patriotisme cenderung ke arah kejahatan (vice) imoral. Perbedaan ideologi, filsafat hidup, dan cara pandang menghambat keserasian kerja sama antarbangsa. Sikap saling curiga, cemburu, dan pengotak- ngotakan mewarnai hidup berbangsa. Konflik dan pergesekan sosial meretakkan hubungan individual dan sosial. Perbenturan sosial kerap memicu kekacauan sosial.

Sebagai kebajikan, patriotisme merupakan salah satu wujud kecintaan dan kesetiaan pada bangsa tertentu. Peduli dan tanggung jawab atas keadaan dan kemajuan Tanah Air termasuk dimensi konstitutif patriotisme. Keunikan, kekuatan, dan prestasi Tanah Air tetap dipelihara. Moralitas dan kearifan lokal sebuah bangsa dijunjung sehingga kepribadian bangsa itu disegani dunia (A MacIntyre, Is Patriotism a Virtue?, 2003, 286-300).

Kebaruan dalam (neo)patriotisme

Umumnya diskursus tentang neopatriotisme terpaut konteks lokalitas, nasionalitas, dan internasionalitas yang memuat kerumitan sosial, ekonomi, politik, geografi sebuah bangsa. Rentetan ideologi (konstruktif maupun destruktif) merembes ke seluruh Tanah Air. Orientasi berbangsa mulai membias.

Dampak primordialisme dan sektarianisme seputar masalah etnis, budaya, dan agama menjadi agenda khusus neopatriotisme. Doktrin asing yang subversif bisa secara sistematis dan strategis memadamkan roh persaudaraan, kerukunan, dan kesatuan bangsa. Komitmen seorang patriot selalu diuji. Tak tersangkalkan pentingnya EWS untuk mendeteksi setiap gerakan sosial supaya cita-cita dasar bangsa kita tidak disingkirkan.

Kebaruan patriotisme ini tak hanya sebatas kesatuan Tanah Air, bangsa, dan bahasa (bandingkan Sumpah Pemuda, 28/10/1928), tetapi mencakup komitmen integral pada idealisme, ideologi, visi, dan semangat bangsa sejak kemerdekaan. Kebaruan patriotisme ini berupa sebuah kelanjutan konsensus dan komitmen nasional yang memasuki dimensi kerohanian bangsa.

Persaudaraan bangsa tidak lagi semata- mata ditentukan dimensi primordialitas (garis keturunan darah atau bahasa daerah), tetapi oleh kesetiaan pada semangat perjuangan dan cita-cita pembentukan negara kita seperti yang diilhami Sumpah Pemuda.

Dalam cahaya Sumpah Pemuda, semestinya kita meninjau ulang tanggung jawab utama negara yang menjamin kesejahteraan rakyat sesuai asas keadilan, melindungi dan menyelamatkan semua anak bangsa. Kepekaan sosial para pemegang kuasa tampak dalam kesetiakawanan sosial dengan segenap lapisan masyarakat. Tanah-air dan isi perut patria (hutan, tambang, kelautan) tidak lagi diperjualbelikan sesuka hati atau dieksploitasi tanpa mengingat hak generasi mendatang. Peningkatan profesionalitas putra/putri bangsa dalam semua sektor hidup sosial, termasuk cita-cita utama neoapatriotisme. Bagaimanakah patria kita sanggup tampil sebagai negara hukum yang sejahtera, kuat, bersih, berwibawa, dan tidak dibodohi ideologi-ideologi asing yang menyesatkan dan menghancurkan?

(Ke)Indonesia(an) yang raya amat dipengaruhi sumpah nenek moyang tahun 1928 dan mengubah paradigma putra-putri bangsa dalam proses lebih mencintai dan setia kepada Tanah Air dalam sepak terjang harian. Mengapa masih banyak rakyat yang cenderung belanja, berobat, dan ”selamatkan” duit di luar negeri? Bukankah negara telah dibanjiri mal, supermarket, rumah sakit, dan bank-bank? Bagaimana Susilo Bambang YudhoyonoBoediono (staf menteri, segenap penegak hukum, dan aparat pemerintah di Jakarta dan daerah) sanggup membangkitkan dan meningkatkan rasa kepercayaan rakyat dan dunia atas kekuatan RI?

William Chang Ketua Program Pascasarjana STT Pastor Bonus

Sumpah (untuk) Pemuda

KOMPAS, Rabu, 28 Oktober 2009 | 04:31 WIB

Fadly Rahman

Delapan puluh satu tahun silam, tepatnya pada 28 Oktober, para pemuda Indonesia bersumpah untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu: Indonesia.

Mereka adalah para pemuda yang gelisah akan nasib Tanah Air-nya. Kegelisahan mereka itulah rahim yang melahirkan bayi Indonesia.

Politik etis

Sebelum ikrar—yang kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda itu—dicetuskan, tindak tanduk para pemuda awal abad ke-20 begitu menegangkan Pemerintah Hindia Belanda. Aktivitas politik para pemuda menghadapi pengawasan ketat melalui Politieke Inlichtingen Dienst (PID, semacam dinas intelijen politik Hindia Belanda). Tulisan bernapas politik hingga rapat perkumpulan pribumi mendapat sensor.

Pemerintah Hindia Belanda harus menelan ludahnya sendiri. Pasalnya, salah satu poin kebijakan politik etis pemerintah adalah mengembangkan pendidikan di tanah jajahan. Hal ini berdampak buruk bagi keamanan dan ketertiban Hindia. Para pemuda yang mengenyam pendidikan Barat, yang sebelumnya diharapkan menjadi tenaga terdidik untuk ditempatkan di kantor-kantor pemerintah, justru kian menyadari kebangsaannya dan menuntut kemerdekaan. Mereka sadar, menjadi abdi pemerintah berarti kian meneguhkan eksistensi politik kolonial.

Selain itu, embrio kebangsaan yang semula muncul dari organisasi bersifat kedaerahan, seperti Boedi Oetomo (1908) serta sederet perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Minahasa, dan Jong Batak, terkikis keinginan untuk bersatu. Mereka sadar, para agen kolonial memecah belah pribumi dengan menanamkan identitas etnik. Tujuannya, agar tidak terjadi persatuan di tanah koloni. Kesadaran pemuda ini, sebagaimana disebut filsuf Ernest Renant, merupakan hasrat hidup bersama.

Rajin membaca

Hasrat para pemuda itu dilandasi pendidikan sebagai senjata untuk menekuk kolonialisme Belanda. Ungkapan ”pengetahuan adalah kekuatan” yang disuarakan Francis Bacon nyata dinikmati para pemuda semisal Soekarno, Moh Hatta, Sutan Sjahrir, dan Moh Yamin. Penguasaan mereka terhadap bahasa asing membuat mereka rajin membaca karya-karya besar.

Sjahrir yang membaca Immanuel Kant, Karl Marx, John Stuart Mill, hingga Ortega Y Gasset membawanya pada benang merah, ”Timur makin memerlukan ilmu pengetahuan dan rasionalisme Barat, Timur tidak lagi memerlukan mistisisme dan kepasrahan yang membuatnya menderita”.

Di tangan pemuda, bekal pengetahuan dan rasionalisme Barat yang mereka pelajari itu benar-benar menjadi bumerang bagi kolonialisme Belanda di Indonesia, seperti terjadi di tanah jajahan lain (misal Gandhi di India, Jose Rizal di Filipina, dan Sun Yat Sen di China).

Tidak ada dan tidak perlu ada kekuatan fisik dan senjata. Para pemuda menyadari, aneka gerakan sosial tidak terorganisasi yang banyak terjadi pada masa-masa sebelumnya, akhirnya tumpas di tangan militer kolonial. ”Senjata” pemuda pada masanya adalah pemikiran yang lahir dari ujung-ujung pena.

Seperti diucap ”bunga akhir abad ke-19”, Kartini, melalui kumpulan surat yang dibukukan Door Duisternis tot Licht, ”banyak, segalanya dapat diambil dari diri kita, tetapi bukan pena saya. Pena tetap milik saya dan saya akan berlatih dengan rajin menggunakan senjata itu; Saya dapat menyeret dengan pena saya, jika mencelupnya dalam darah jantung saya.” Ketajaman pikiran yang dimiliki Kartini terus merambat hingga awal abad ke- 20, saat kepekaan dan kemelékan para pemuda/pemudi terhadap isu-isu politik kolonial di dalam dan luar negeri kian terasah.

Suatu saat, Hatta muda menulis esai, Hindania! Esai itu bertutur tentang seorang janda kaya bernama Hindania. Ia menyesal menikah dengan Wollandia. Suami barunya itu mengeruk habis harta Hindania. Alegori dalam esai Hatta itu membuat pemerintah gelisah dan tak mengira seorang pribumi muda mampu menulis sarkasme seperti itu.

Tak cukup dengan pena. Para pemuda mengorganisasi diri melalui berbagai perkumpulan politik, hal yang mengingatkan pada apa yang diteriakkan seorang orator terhadap Jurgis dalam penutup novel Upton Sinclair, The Jungle: ”Organize! Organize! Organize!” Hanya dengan konsolidasi politik yang terorganisasi, jalan menggapai persatuan terwujud. Bisa dibayangkan saat senjata pena anak muda Indonesia kian tajam oleh pertemuan antarpemikiran rekan sebaya.

Melalui organisasi, mereka yang semula membuka album Indonesia. Bermula saat perkumpulan Indische Vereniging (1908) dibangun para mahasiswa Indonesia di Belanda, anak-anak muda kian intens terlibat persoalan politik.

Wilayah Hindia yang pernah disebut oleh George Samuel Windsor Earl dengan Indu-nesian (1850), Indonesians oleh James Richardson Logan (1863), dan Adolf Bastian dengan Indonesien (1884), mulai dikukuhkan secara politik oleh para pemuda pada awal abad ke-20, mengganti kata Indische yang dirasa berkonotasi labelisasi buatan kolonial dengan nama: Indonesia. Maka, nama Indische Vereniging berubah menjadi Perhimpunan Indonesia (1922); disusul organisasi lain seperti Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (1926), Partai Nasional Indonesia (1928), dan Indonesia Muda (1930).

Mereka adalah para pemuda yang tercerabut dari masa-masa yang—semestinya—mengalami keingarbingaran hedonisme lazimnya jiwa-jiwa muda. Sungguh mereka ”tidak normal”. Saat anak-anak muda berdansa-dansi di societeit, mereka berjibaku dengan buku dan pena, memikirkan sebuah bangsa yang dicita-citakan, kelak. Semestinya, pemuda yang hidup masa kini, iri dengan jiwa-jiwa muda seperti itu seraya membayangkan: andai kita hidup sezaman dengan mereka.

Delapan puluh satu tahun silam, para pemuda bersumpah untuk bangsanya. Kini, bagaimana rupa kegelisahan kita memikirkan bangsa ini; atau giliran kita bersumpah untuk menjaga sumpah para pemuda itu, mereka yang telah mewariskan sebuah bangsa bernama: Indonesia.

Fadly Rahman Pengajar di Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran

Egoisme Kedaerahan

By Republika Newsroom
Rabu, 28 Oktober 2009 pukul 08:49:00
Sumpah Pemuda Momentum Tinggalkan Egoisme Kedaerahan

MEDAN–Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tahun oleh bangsa ini diharapkan mampu menjadi momentum untuk meninggalkan egois kedaerahan terutama bagai generasi muda. “Wawasan kedaerahan itu perlu untuk tetap melestarikan khasanah budaya bangsa, namun jangan sampai muncul egoisme kedaerahan yang pada akhirnya akan memecah bangsa ini,” kata sejarahwan Universitas Negeri Medan (Unimed) Dr. Phill Ichwan Azhari di Medan, Rabu (28/10).

Ia mengatakan, melalui peringatan Sumpah Pemuda ini para siswa harus dimotivasi untuk lebih mencintai dan menjiwai semangat perjuangan, persatuan, dan kebersamaan yang terkandung dalam Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober merupakan bekal utama bagi bangsa Indonesia untuk mencetak generasi muda yang plural dan berjiwa nasionalisme demi tetap menjaga keutuhan NKRI.

Pemuda Indonesia, khususnya kalangan pelajar harus mampu mengambil peran signifikan dalam merespons sejumlah persoalan yang tengah dihadapi bangsa. Untuk itu, pemuda haruslah memiliki akhlak mulia, sehat, cerdas, terampil berprestasi, dan berdaya saing serta berkomitmen untuk memajukan bangsa, dan negaranya. “Penting untuk diingat, karena hal tersebut merupakan manifestasi dari hakekat, semangat, dan jiwa Sumpah Pemuda, terutama untuk terus menjaga keutuhan NKRI,” katanya.

Menurut dia, upaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap semangat dan jiwa Sumpah Pemuda, sangat penting dilakukan sejak dini. Karena saat ini kecintaan generasi muda terhadap Sumpah Pemuda dinilai semakin memudar. Hal ini ditandai dengan semakin maraknya kekerasan di kalangan remaja, tawuran yang kian kerap terjadi, hilangnya rasa hormat kepada orang lebih tua yang diakui sebagai buah reformasi yang harus terus dikawal, agar tidak kebablasan. “Dialog-dialog antar pemuda juga harus sering digelar dengan harapan dari dialog tersebut akan semakin tumbuh subur dan berkembang pemahaman dan kecintaan generasi muda terhadap Sumpah Pemuda,” katanya. ant/taq

SUMPAH PEMUDA
Parpol Harus Berubah demi Kaum Muda

Rabu, 28 Oktober 2009 | 02:59 WIB

Jakarta, Kompas – Sejumlah aktivis organisasi kemahasiswaan menilai dunia politik kurang menjanjikan bagi kalangan muda sehingga minat mereka rendah terhadap politik. Namun, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng optimistis minat kalangan muda terhadap politik akan tumbuh seiring dengan konsolidasi partai politik yang kini tengah berbenah diri.

”Butuh waktu sampai partai politik sendiri berbenah, menampilkan orang-orang yang unggul, yang bisa memberikan partisipasi dalam kepemimpinan dalam pemerintahan,” ujar Andi Mallarangeng saat ditemui di Jakarta, Selasa (27/10).

Politik, dunia hitam

Meski demikian, optimisme itu dibayang-bayangi oleh berbagai pendapat penuh kritik dan pandangan agak pesimistis. Ketua Program Studi Doktor Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Hamdi Muluk, misalnya, mengatakan, khusus di Indonesia, rendahnya minat generasi muda terhadap persoalan politik merupakan akibat tak adanya kepercayaan bahwa politik Indonesia sudah benar, bisa dipercaya, dan terbebas dari politik uang. Perilaku politisi juga dianggap masih jauh dari standar moral yang berlaku. Karena itu, politik masih dianggap sebagai dunia hitam.

Munculnya anggapan negatif tentang politik itu dinilai Hamdi sebagai kesalahan partai politik yang gagal dalam melakukan kaderisasi. Jika seseorang ingin berkiprah dalam politik, tidak ada jaminan bahwa karier mereka akan berjalan sesuai mekanisme yang ada. Sistem jenjang karier di partai politik tidak pernah jelas karena partai sering kali mengambil kader-kader di luar partai yang memiliki uang atau popularitas tinggi untuk menduduki jabatan politik di lembaga legislatif.

Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Arip Mustopha di Jakarta, kemarin, juga mengatakan, minat mahasiswa untuk berorganisasi, baik dalam organisasi kemahasiswaan di dalam maupun di luar kampus, cenderung menurun. Kondisi itu membuat mereka kesulitan mencari kader-kader baru. Akibatnya, jumlah kader baru HMI setiap tahun turun 10 persen sampai 20 persen.

Arip mengatakan, berorganisasi diidentikkan dengan berpolitik, sedangkan politik dicitrakan dengan kekuasaan, arogansi, korupsi, hingga kepentingan kelompok. Kondisi itulah yang membuat mahasiswa enggan berorganisasi.

Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Rendra Falentino menambahkan, mahasiswa sebenarnya masih memiliki perhatian terhadap peristiwa politik dan persoalan kebangsaan. Namun, akibat tekanan pendidikan dan pengaruh globalisasi yang menyebarkan budaya konsumtif, mereka tidak terlalu tertarik dengan dunia politik.

Baik Arip maupun Rendra menyatakan, penurunan jumlah kader itu umumnya terjadi di kampus-kampus perguruan tinggi negeri. Kondisi sebaliknya justru terjadi di perguruan tinggi swasta yang justru mengalami peningkatan jumlah peminat organisasi kemahasiswaan ekstrakampus tersebut.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat yang juga Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golongan Karya, Hajriyanto Y Thohari, mempertajam kesalahan partai politik yang membuat kaum muda menyingkir dari dunia politik. Ia mengatakan, perekrutan pengurus partai juga sangat politis. Perekrutan pengurus didasarkan atas dukungan yang pernah diberikan kepada pimpinan partai saat pencalonan, bukan atas pertimbangan kualitas.

Menurut Hajriyanto, pimpinan partai saat ini umumnya adalah pimpinan organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan sekitar 20 tahun lalu. Namun, dialektika antara pimpinan partai dan organisasi yang dahulu membesarkannya sering kali terputus. Ia menekankan, mahasiswa dan pemuda menilai partai tidak bisa memberikan harapan akan nasib mereka ke depan. Sebaliknya, partai hanya mendekati kelompok mahasiswa dan pemuda secara insidental, yaitu saat dibutuhkan saja yang biasanya dilakukan menjelang pemilu.

Hajriyanto mengakui hampir semua partai politik tidak memiliki visi kepemudaan. Pimpinan partai saat ini juga tidak mampu mengartikulasikan pandangan politik mereka, baik melalui tulisan maupun literal. Hal itu membuat para mahasiswa dan pemuda tidak bisa menilai manfaat menjadi anggota partai.

”Jika kondisi ini terus terjadi, masa depan demokrasi Indonesia adalah demokrasi tanpa partai politik. Demokrasi Indonesia akan dikuasai oleh institusi-institusi di luar partai politik. Hal ini tentu akan janggal karena partai politik adalah salah satu pilar demokrasi,” ujarnya.

Achmadudin Rajab, mahasiswa semester IX Fakultas Hukum Universitas Indonesia, tidak melihat partai politik sebagai sumber kesalahan kurangnya minat kaum muda terhadap dunia politik. Menurut dia, fokus pada bidang studi membuat waktu kaum muda kampus abai terhadap dunia politik.

Rajab mengatakan, mahasiswa yang memiliki kesibukan lain di luar studi, baik untuk berorganisasi maupun bekerja, umumnya mengalami keterlambatan penyelesaian studi. Hal ini terjadi karena mereka harus membagi waktu, perhatian, dan tanggung jawab antara studi yang mereka tempuh dan kegiatan di luar studi.

Ancaman demokrasi

Peneliti Lembaga Survei Indonesia, Burhanudin Muhtadi, mengatakan, fenomena semakin banyaknya pemuda yang apolitis itu terjadi bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.

Semakin turunnya minat pemuda terhadap masalah politik, kata Burhanudin, merupakan lampu merah untuk demokrasi di Indonesia. Pemuda dibutuhkan untuk kaderisasi partai politik. Tanpa pemuda, partai politik akan dikuasai oleh kelompok tua. Akibatnya, kebijakan hanya ditentukan oleh elite partai politik sehingga cenderung oligarkis. Pemerintahan oligarki yang dijalankan oleh sekelompok orang tertentu akan mengancam demokrasi. (MZW/NTA/DAY)

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Sejumlah veteran pejuang kemerdekaan menyanyikan lagu Indonesia Raya saat berziarah ke makam pahlawan nasional WR Soepratman di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (27/10). Ziarah dilakukan untuk mengenang WR Soepratman sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya yang pertama kali dikumandangkan pada Kongres Pemuda Indonesia, 28 Oktober 1928, yang kini diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

SUMPAH PEMUDA
Berharap kepada Generasi Pembaru

Rabu, 28 Oktober 2009 | 02:58 WIB

Bagaimana memaknai gerakan Sumpah Pemuda 1928 merupakan tema yang berulang setiap tahun. Namun, setiap kali pula terasa relevan. Sejarah negeri ini memperlihatkan bahwa komitmen ”satu tumpah darah, satu bangsa, satu bahasa” harus terus-menerus dirawat dan dimaknai.

Setidaknya, kita tetap disadarkan bahwa baru satu dasawarsa lalu bangsa ini diguncang konflik antaretnis, antaragama, yang merebak dari ujung barat ke timur Nusantara. Tragedi itu membukakan mata, betapa fondasi persatuan kita masih bisa digoyang, masih bisa diprovokasi.

Oleh karena itu, mari berkaca kembali kepada gerakan 1928. Kaum muda saat itu mampu berpikir melampaui zamannya, sekaligus mampu mengatasi tantangan riil pada masanya, yaitu sekat-sekat etnis dan bahasa.

Kita pun kini berharap banyak kepada kaum muda karena merekalah manusia masa depan. Seperti kutipan kata-kata bijak Khalil Gibran: ”Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tetapi bukan jiwa mereka. Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah bisa kau kunjungi meski dalam mimpi.”

Mengamati hasil jajak pendapat Kompas (26/10) tentang kaum muda Indonesia, terungkap temuan menarik. Saat ini telah muncul satu generasi muda di masyarakat perkotaan Indonesia yang sangat melek dengan perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi.

Mereka juga optimistis menghadapi masa depan dan memberikan atribusi terhadap generasi mereka sebagai ”sukses, mandiri, dan produktif”.

Hasil polling itu di satu sisi membangkitkan harapan. Pada era globalisasi saat batas negara tersamarkan, generasi muda Indonesia sudah merasa menjadi

”warga dunia” yang memiliki idiom khas, di antaranya melek teknologi. Mereka juga siap untuk berkompetisi di tataran internasional.

Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran, seperti juga yang tecermin dalam hasil polling tersebut, kaum muda ini apolitis. Mereka tidak berminat menjadi anggota partai politik ataupun DPR.

Apakah sikap apolitis itu berbanding lurus dengan apatisme terhadap permasalahan bangsa? Semoga tidak. Karena bila sekadar tidak mau menjadi anggota partai politik atau DPR, mungkin kesalahan bukan pada kaum muda. Baik partai politik maupun DPR ikut berkontribusi dalam memunculkan citra yang negatif.

Terkait itu, Kompas mulai hari ini menurunkan 28 tokoh muda yang disepakati telah memberikan inspirasi di bidang politik, hukum, dan HAM.

Mereka berasal dari kalangan partai politik, akademisi, maupun lembaga swadaya masyarakat dan berusia maksimal 50 tahun pada 2014. Semoga pemikiran yang mereka tawarkan dapat memberikan inspirasi yang membawa manfaat lebih luas bagi masyarakat. (MYR)

7 Resolusi Sumpah Pemuda 2008 = Pondasi Rumah NKRI

Dialog Lintas Generasi 80 Tahun Soempah Pemoeda 2008 bertempat di Auditorium LPMJ (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Jakarta), Pulogadung telah memberikan bekal bagi capaian Indonesia Digdaya 2045 tentang keberadaan 7 strategi kebijakan dasar sebagai sumber kehancuran bangsa Indonesia meliputi (1) Memperlemah Negara Kesatuan Republik Indonesia, (2) Menghapus Ideologi Pancasila, (3) Menempatkan Uang sebagai Dewa, (4) Menghapus Rasa Cinta Tanah Air, (5) Menciptakan Sistem Multi Partai, (6) Menumbuhkan Sekulerisme, (7) Membentuk Tata Dunia Baru [Tahun 2015 Indonesia Pecah, ISBN 978-979-15527-1-4].

Mencermati ungkapan tahun 2015 sebagai sasaran akhir konspirator, maka itu berarti selang 7 tahun setelah tahun 2008 ini., atau ketika 70 Tahun Indonesia Merdeka.

Sehingga menjadi tepat sekali ungkapan bahwa 7 Resolusi Sumpah Pemuda 2008 (7RSP2008) adalah bentuk benteng strategik terhadap skenario global itu.

Ke-7 RSP2008 itu adalah (1) Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, (2) Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, (3) Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa persatuan, bahasa Indonesia, (4) Kami putra dan putri Indonesia mengaku berideologi yang satu, Pancasila, (5) Kami putra dan putri Indonesia mengaku berkonstitusi yang satu, Undang-Undang Dasar 1945; (6) Kami putra dan putri Indonesia mengaku bernegara yang satu, Negara Kesatuan Republik Indonesia, (7) Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbendera persatuan bangsa, Bendera Merah Putih.

Artinya, 7 RSP2008 itu dapat diberlakukan sebagai perkuatan Pondasi Rumah NKRI dan sekaligus bekal bagi Presiden ke-7 NKRI, agar supaya tidak mudah digoyah oleh kekuatan2 “soft war” pihak konspirator.

Adapun penangkal taktis operasional lainnya adalah dengan pemberdayaan Strategi Ketahanan Bangsa (StraHanSa) dalam keseharian kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yakni (1) Keagamaan Tidak Rawan, (2) Ideologi Tidak Retak, (3) Sosial Politik Tidak Resah, (4) Sosial Ekonomi Tidak Ganas, (5) Sosial Budaya Tidak Pudar, (6) HanKamNas Tidak Lengah, (7) Ekologi (Lingkungan) Tidak Gersang, terutama dalam mewaspadai 7 Penyebab 2015 Indonesia Pecah yaitu (1) Siklus Tujuh Abad, 70 Tahun, (2) Kehilangan Figur Pemersatu, (3) Pertengkaran Sesama Anak Bangsa, (4) Konspirasi Global, (5) Nusantara bukan Indonesia, (6) Jayakarta bukan Jakarta, (7) Kalah PilPres 2014 bikin Negara Baru [ISBN 978-9797-15527-1-4].

Akhirulkata, keberdayaan rakyat Indonesia bersatu adalah kekuatan penangkal yang handal bagi NKRI menghadapi ragam ancaman, gangguan, hambatan, tantangan.

Jakarta, 27 Oktober 2008

Dr Ir Pandji R. Hadinoto, MH / eMail : nasionalis45@yahoo.com

Rabu, 28/10/2009 18:08 WIB
Mengembalikan Semangat Sumpah Pemuda
Napak “Tilas Gerakan 1928″

Taufiq Suryo Nugroho – suaraPembaca


Jakarta – Dahulu seorang Soekarno pernah mengatakan “berilah aku sepuluh orang pemuda” maka aku akan merubah dunia”. Pemimpin besar yang lain pun pernah mengatakan “setiap aku menemui masalah yang kucari adalah pemuda”. Itulah kata-kata Umar bin Khattab.

Pemuda memang selalu menjadi penggerak sebuah perubahan. Untuk memenangkan sebuah pemikiran baru, memenangkan sebuah perubahan, memang diperlukan keyakinan yang kuat akan pemikiran itu. Keikhlasan, siap berkorban untuk membelanya, dan beramal untuk mewujudkannya. Dan keempat ciri itu adalah karakteristik yang dipunyai oleh pemuda. Bukan yang lainnya.

Sejarah negeri ini pun telah membuktikannya. Pemuda selalu menjadi titik tolak sebuah perubahan bagi bangsa. Negeri ini telah melahirkan generasi-generasi yang telah menuntaskan peran sejarahnya.

Ada generasi 1928 yang mempelopori persatuan nasional dalam simbol tanah air, kebangsaan, dan bahasa persatuan melalui sumpah pemuda yang melegenda. Ada generasi 1945 yang memproklamasikan dan mempelopori kemerdekaan negeri ini. Generasi 1966 yang menyelamatkan negeri ini dari ideologi Komunis yang menghancurkan. Terakhir generasi 1998 yang mengakhiri era yang penuh kebusukan selama 32 tahun lebih.

Oleh karena itu lebih daripada hanya menjadikan peristiwa-peristiwa sejarah itu sebagai simbol-simbol atau coretan-coretan yang menghiasi buku pelajaran sejarah kita, yang lebih penting adalah mengambil semangat perubahan dan anti-stagnansi dari para pendahulu kita itu. Walaupun zaman tak lagi sama tantangan yang dihadapi berbeda, potensi yang dipunyai berbeda, tetapi semangat untuk bergerak itu harus tetap ada.

Jiwa yang menolak untuk tetap diam melihat sesuatu yang salah harus terus terjaga. Jiwa yang terus menginginkan perubahan menuju ke arah yang lebih baik harus terus dipelihara.

Hal pertama yang harus dilakukan untuk mengembalikan semangat itu adalah dengan merevitalisasi semangat kepemudaan. Menggali makna-makna gerakan pemuda, dan menyesuaikan tantangan kekinian dan kedisinian. Nah, “Gerakan 1928″ dengan sumpah pemudanya mempunyai karakteristik yang khas.

Pada saat itu Indonesia masih diselimuti awan penjajahan. Masih dikungkung oleh sekat-sekat pulau dan suku. Namun, “Gerakan 1928″ mampu melawan itu semua, dan melahirkan sumpah yang fenomenal, Sumpah Pemuda. Sumpah yang membulatkan tekad untuk mempersatukan Indonesia yang berbeda-beda menjadi satu bangsa yang berdaulat. Dari sinilah cikal bakal persatuan Indonesia dan semangat untuk memerdekakan diri dari cengkraman penjajah.

Karakteristik yang menarik lainnya adalah bahwa gerakan ini diprakarsai oleh kaum intelektual muda. Belanda yang saat itu menjalankan politik etis dan mengirimkan beberapa putra pribumi untuk belajar ke negeri mereka harus menelan kenyataan pahit. Kaum pribumi yang tadinya diharapkan dapat menjadi alat bantu legitimasi Belanda atas Indonesia malah berbalik menjadi penyemangat bangsanya untuk memerdekakan diri dari Belanda. Mereka menjadi inti gerakan melawan penjajah Belanda saat itu dan mencoba untuk mempersatukan Indonesia melawan penjajah.

Selain itu “Gerakan 1928″ berhasil mengeliminasi perbedaan-perbedaan yang ada dan mampu menyamakan tujuan dan visinya. Saat itu pada saat teknologi informasi masih sangat sederhana dan komunikasi yang dibangun tidak dapat sesering saat ini “Gerakan 1928″ mampu menyatukan diri di antara perbedaan-perbedaan yang ada.

Mereka mampu menyatukan wadah gerakan kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Cilebe dalam wadah yang jauh lebih besar dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI). Perhimpunan inilah yang akhirnya memprakarasi Kongres Pemuda Kedua yang melahirkan Sumpah Pemuda.

“Gerakan 1928″ juga berhasil dalam membuat “karya nyata” bagi Bangsa Indonesia saat itu. Pada saat itu ketika awan penjajahan masih menyelimuti Nusantara dan rakyat Indonesia disekat oleh batas-batas kedaerahan, ide, dan  semangat untuk menyatukan Indonesia benar-benar suatu karya yang sangat fenomenal. Saat itu untuk pertama kalinya diperkenalkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan ketika itu pula untuk pertama kalinya diperdengarkan lagu “INDONESIA” karangan Wage Rudolf Supratman.

“Gerakan 1928″ kemudian juga mencontohkan bahwa untuk membangun Indonesia ini yang diperlukan bukanlah seorang pemimpin impian ataupun presiden idaman. Yang diperlukan oleh Indonesia saat ini adalah suatu tim impian yang terdiri dari orang-orang yang mempuyai visi yang jelas untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik dan bermartabat.

Seperti ketika itu, para Anggota Panitia Kongres Pemuda Kedua itu terdiri dari pemuda Indonesia dari berbagai kalangan yang menyadari penting membentuk satu kekuatan dalam satu tim. Di antara para pemuda itu terdapat nama, Soegondo Djojopoespito dari PPPI (ketua), Djoko Marsaid dari Jong Java (wakil ketua), Muhammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond (Sekretaris), Amir Sjarifudin dari Jong Sumatranen Bond (bendahara), Djohan Mu Tjai dari Jong Islamieten Bond.

Kontjosoengkoeno dari PI, Senduk dari Jong Celebes, J Lemeina dari Jong Ambon, dan Rohyani dari Pemoeda Kaum Betawi. Panitia didukung tokoh-tokoh senior seperti Mr Sartono, Mr Muh Nazif, AIZ Mononutu, serta Mr Soenario. Hadir pula  sebagai undangan sekitar 750 orang di mana terdapat nama-nama yang kemudian terkenal seperti Kartakusumah (PNI Bandung), Abdulrachman (BO Jakarta), Karto Soewirjo (PB Sarekat Islam), Muh Roem, Soewirjo, Sumanang, Masdani, Anwari, Tamzil, AK Gani, Kasman Singodimedjo, Saerun (wartawan Keng Po), WR Supratman.

Dari nama-nama yang hadir jelas bahwa Kongres Pemuda Kedua di mana diikrarkan Sumpah Pemuda bukan pekerjaan dalam sedikit waktu saja, dan terang juga bukan hasil usaha dari beberapa gelintir orang saja.

Marilah kita semua, para pemuda Indonesia, yang menginginkan agar negeri ini dapat tersenyum, menggelorakan semangat pemuda sekali lagi, kini tibalah masa kita untuk dapat mengambil peran sejarah itu. Kata kunci yang “Generasi 1928″ wariskan untuk perjuangan kita ke depan adalah jangan pernah terkekang oleh keterbatasan. Teruslah belajar, bersatulah, dan berkaryalah sekecil apa pun itu.

Semoga dengan semangat kita yang terus dipelihara, dengan tekad yang selalu digelorakan, dengan niat yang ikhlas, dan dengan amal yang nyata, Indonesia mampu menatap masa depannya dengan seyuman bahkan tawa kebahagiaan.

Taufiq Suryo Nugroho
15007031

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil ITB Angkatan 2007.

(msh/msh)

Baca juga :

Suara Pembaruan

2009-10-28Sumpah Pemuda Alami Pendangkalan Makna
[JAKARTA] Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Taufik Abdullah menilai, Sumpah Pemuda mulai mengalami pendangkalan makna. Salah satu penyebabnya adalah sebagian besar masyarakat mulai kehilangan semangat kekuatan dalam keberagaman.

“Para pemimpin bangsa ini seharusnya menyadari bahwa sumpah pemuda merupakan momen simbolik paling penting dalam perjalanan bangsa selain proklamasi kemerdekaan. Saat itu, semangat persatuan begitu kuat. Semangat para pemuda dari berbagai daerah, suku, dan agama ingin bersatu. Mereka ingin merdeka,” katanya, kepada SP, di Jakarta, Rabu (28/10).

Taufik melanjutkan, kemerdekaan merupakan proses imajinatif yang sangat kreatif dari pemuda bangsa. “Itu diwujudkan dalam bingkai keberagaman untuk meraih cita-cita luhur bangsa ini. Makanya, cita-cita itu ditegaskan kembali dalam pembukaan UUD 1945,” katanya.

Lawan Ideologi Pemecah

Senada dengan itu, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Azis Syamsuddin sebelumnya, Selasa (27/10) mengatakan, semangat Sumpah Pemuda harus terus dipelihara dan ditingkatkan untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dan negara. Kalau dulu, semangat Sumpah Pemuda dikobarkan untuk melawan penjajah, sekarang semangat tersebut harus terus digelorakan untuk melawan kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, dan ideologi-ideologi yang bisa memecah persatuan bangsa dan negara.

Dia menilai, mulai mengendurnya semangat Sumpah Pemuda belakangan ini disebabkan makin minimnya pendidikan kebangsaan yang diajarkan di sekolah. Dunia pendidikan sekarang terutama pendidikan dasar dan menengah kata Azis, sudah makin meninggalkan ajaran pendidikan budi pekerti serta pendidikan nasionalisme dan patriotisme. Bahkan, lanjutnya, banyak sekolah sudah tidak melaksanakan upacara bendera pada hari Senin dan hari-hari besar nasional. Akibatnya, banyak anak-anak sekarang saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya tidak dengan sikap yang baik dan banyak dari mereka juga tidak tahu apa isi dari Pancasila yang menjadi dasar negara. “Ini problem serius yang harus segera dicari solusinya. Pemerintah harus segera mengkaji ulang kurikulum pendidikan yang sudah tidak lagi memberi porsi penting lagi tentang kebangsaan dan rasa cinta kepada Tanah Air,” tandas anggota Komisi III DPR ini.

Sementara itu, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Mennegpora) Andi Alfian Mallarangeng menegaskan, semangat Sumpah Pemuda yang dibangun oleh pemuda-pemuda pada 1928 atau 81 tahun silam sekarang ini harus ditanamkan melalui kegiatan kepanduan atau pramuka. Hal itu disampaikan Andi seusai memberikan penghargaan kepada sepuluh pemuda berprestasi di kantor Kemennegpora, Jakarta, Selasa (27/10).

Andi menegaskan, dalam kegiatan kepanduan orang dididik untuk bertoleransi, bersikap sosial, mandiri, disiplin, egaliter, religi, dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa.

Ketua DPD KNPI Papua Rivai Darus kepada SP, Rabu (28/10) mengimbau agar pemuda di Papua tidak berpikir primordial, tetapi harus berjiwa nasionalis. Namun, juga memikirkan masa depan agar Papua bisa setara dengan daerah-daerah lain di Indonesia.

Senada dengan itu, fungsionaris DPD KNPI Provinsi Papua Agripa Wally menambahkan, secara objektif perlu kita akui bahwa fenomena adanya jiwa nasionalisme Pemuda Indonesia menjadi pudar terlihat dari pergeseran nilai budaya bangsa Indonesia. Karena itu, semangat Sumpah Pemuda harus terus ditumbuhkan. [W-12/M-17/W-6/155/154]

Suara Pembaruan

ZOOM2009-10-28Mitologi Politik Kaum Muda
Em Lukman Hakim
Tak terasa hampir seabad Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 berlalu. Kala itu, kaum muda dari seluruh pelosok Indonesia mengikrarkan tiga sumpah: bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, ”Indonesia”. Itulah karya monumental kaum muda, bahkan diyakini sebagai cikal-bakal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Setelah sekian lama terpendam, kekuatan kaum muda muncul kembali. Terpilihnya Barack Husein Obama sebagai presiden kulit warna pertama di Amerika Serikat, menandai kesanggupan kaum muda untuk menghadirkan tatanan kebangsaan yang diharapkan. Di Indonesia, beberapa nama pemuda turut muncul menjelang pemilihan presiden yang lalu. Pada masa pemilihan legislatif, partai politik saling berlomba untuk memiliki calon legislatif (caleg) termuda. Fakta menyiratkan situasi di mana “demam” kaum muda dalam wajah baru politik Indonesia telah dimulai. Selamat datang di dunia politik kaum muda Indonesia!

Sekalipun Partai Demokrat (Amerika), kala itu, menampilkan sosok muda seperti Barack Obama dan Partai Republik mengimbanginya dengan sosok serupa, Sarah McPalin, sosok “muda” tidak mandek sekadar simbol yang bisa dijual tanpa isi. Pada berbagai pemberitaan, Obama harus bekerja keras menampilkan ide-ide segar untuk mengimbangi lawan politiknya, John Sydney McCain. Ketika krisis menghampiri AS, kedua calon presiden itu terlibat adu argumen dalam beberapa kesempatan. Di situlah terlihat sosok Obama yang brilian dan tangguh.

Namun, lagi-lagi, debat terbuka tersebut bukan tentang Obama yang mewakili kaum muda dan McCain yang mewakili golongan tua. Debat itu adalah tentang ide baru yang akan menentukan masa depan rakyat AS selanjutnya. Ide segar yang brilian menggumam lancar dari bibir Obama. Tidak saja pendukung Partai Demokrat yang bangga, loyalis Partai Republik terang-terangan mengalihkan dukungan pada Obama.

Berbeda dengan proses dan rasionalitas politik AS, Indonesia masih berkutat soal tua-muda. Nyaris tidak ada ide segar yang ditawarkan, baik oleh mereka yang diklaim golongan tua maupun mereka yang merasa dirinya muda. Perdebatan politik yang ditayangkan di berbagai media elektronik hanya menawarkan jargon dan jualan tampang. Yang lebih tragis, kalangan muda Indonesia terjebak dalam euforia sejarah kaum muda. Benar bahwa Sumpah Pemuda, sesuai namanya, digagas oleh Soegondo (Jong Jawa) M Yamin (Jong-Sumatranen Bond), Amir Sjarifuddin (Jong-Batak), Djohan M Tjai (Jong-Islamieten Bond), Katjasoengkono (Pemoeda Indonesia), Senduk (Jong-Celebes), J. Leimena (Jong-Ambon), dan Rohjani (Pemoeda Betawi) yang semua masih tergolong sangat muda.

Benar bahwa para pendiri bangsa ini tergolong muda ketika membentang simpul tali revolusi kemerdekaan. Benar bahwa banyak pemimpin dunia yang menyejarah ketika usianya belum genap tiga puluh tahun. Tapi, semua itu belum cukup untuk menghiasi baju kebesaran politik yang bisa dikenakan kaum muda untuk bisa meyakinkan rakyat Indonesia.

Kini, dengan segala kerendahan hati, harus saya katakan, perdebatan tua-muda berdasar usia harus diakhiri, bila negeri ini masih mendambakan setetes perubahan. Bila tidak, kaum muda Indonesia hanya akan menjadi pemimpin kelas opini, yang hanya sanggup menyesaki pemberitaan dan kolom iklan media, atau paling banter dipampang dalam baliho-baliho ukuran besar di pinggir jalan.

Ide Segar

Untuk mengubah mitos menjadi makna, para pemuda Indonesia perlu bekerja ekstrakeras untuk kemudian menampilkan gagasan-gagasan segar. Seperti Obama, yang memulai kariernya di tempat kumuh di jantung kota AS, memberikan advokasi kepada kaum miskin kota, sebelum akhirnya mengantarkannya menjadi senator dan calon presiden.

Melalui ide-ide segar dalam beberapa buku yang belakangan terungkap menjadi pedoman wajib pendiri bangsa ini pada masa revolusi, Tan Malaka-Sutan Sjahrir pernah diberi wasiat oleh Soekarno-Hatta untuk menjadi pengganti mereka. Bahkan, dalam beberapa pidatonya, Bung Karno berkali-kali menyatakan, berikan aku satu pemuda akan kuguncang Indonesia, dan berikan aku sepuluh pemuda akan kuguncang dunia. Tentu, pemuda-pemuda yang dimaksud Bung Karno adalah pemuda sekaliber Tan Malaka dan Sutan Sjahrir.

Di sinilah peran orang tua, lebih tepatnya generasi yang pernah muda, dibutuhkan. Yakni, bagaimana mereka memiliki kesanggupan untuk menemani kaum muda memasuki dimensi hidup yang lebih kompleks. Bila mereka tidak memiliki kesanggupan, setidaknya jangan mencibir.

Dewan penasihat atau sejenisnya dalam jajaran struktur kepartaian di Indonesia merupakan tempat yang cukup strategis bagi golongan yang pernah muda untuk menjadi pembimbing setia bagi kaum muda menapaki karier politik yang lebih tinggi.

Membimbing bukan menghalangi, mengarahkan dengan tidak menganggap kaum muda sebagai pesaing. Dengan be- gitu, konflik kepartaian tidak akan men- jadi pemandangan keseharian yang memalukan.

Inilah cara baru mengharmonisasikan konflik tua-muda yang kian menghangat. Melalui kerja keras untuk menghadirkan ide segar dan tindakan cepat, kaum muda, tanpa diurut berdasarkan silsilah keluarga, diberi ruang untuk membuktikan jati dirinya sebagai pemuda sesungguhnya.

Penulis adalah mahasiswa Program S-3 Ilmu Sosial Unair

 

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Penari memeriahkan pawai Gelora Sumpah Pemuda 2009 di Alun-alun Utara Yogyakarta, Rabu (28/10). Pawai dengan sekitar 3.000 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan perwakilan berbagai elemen masyarakat itu mengajak kaum muda agar giat meningkatkan prestasi berlandaskan semangat Sumpah Pemuda.

About these ads

3 Responses to “Nasionalisme : NeoPatriotisme [Sumpah Pemuda 2009]”


  1. November 1, 2009 at 9:15 am

    SUMPAH PEMUDA….

    jangan tanyakan naskah sumpah pemuda kepada pemuda dan pemudi masa kini…
    karna bisa dipastikan mereka tidak hafal…
    apakah ketidak hafalan mereka terhadapnaskah sumpah pemuda membuat mereka tidak menghargai serta menghormati sumpah pemuda???
    salah besar…
    karna sumpah pemuda tidak hanya untuk menghafal naskahnya saja..
    tetapi bagaimana kita berperan membangun pemuda-pemudi negeri kita ini untuk maju dan mandiri…

    pemuda sekarang hidup dijaman serta era yang berbeda dengan ja,an dahulu…
    pemuda-pemudi sekarang sangat berperan membangun bangsa ini…
    dengan berbagai cara mereka membangun negeri ini…

    jangan anggap remeh pemuda-pemudi jaman sekarang…
    ajangan hanya melihat dari keterpurukan serta kerendahan moral para pemuda-pemudi sekarang…
    majulah para pemuda serta pemudi negeriku…
    bangun negara kita agar lebih mandiri dan maju.
    Iklan

  2. 2 Paijo
    November 13, 2009 at 9:50 am

    Menurut aku pemuda dinegeri manapun didunia ini pasti deh cinta tanah airnya. Sudah kodrat Illahi pemuda sebagai generasi baru tumbuh pasti deh penuh energi yang perlu penyaluran. Bung Karno bilang beri aku 10 pemuda maka akan kurubah dunia ini…. Sekarang kita lagi hadapi masalah korupsi….Gimana lah kita rumuskan sumpah Pemudanya untuk ganyang korupsi itu…..Kalau ada yang bisa merumuskan menyalurkan kelebihan energi itu kearah sasaran laknat korupsi itu…. pasti deh korupsi itu akan lari terbirit birit….lawan pemudaaaa…..

  3. January 7, 2010 at 1:27 am

    setuju sama komentar diatas saya :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 1,998,054 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers

%d bloggers like this: