23
Oct
09

Ekspedisi Walisongo

Ekspedisi Walisongo : Bermula Dari Janji

Lazimnya sebuah perjalanan mestilah dimulai dengan merencanakan tujuan. Begitupun dengan perjalanan kami ke makam para walisongo (melintasi Jalur Utara Jawa, menyambangi wilayah minoritas muslim di Bali, dan melintasi Jalur Selatan Jawa). Namun kami berdelapan tak memiliki tujuan utama kecuali menepati janji yang telah lama tertunda.

Sejak sepuluh tahun yang lalu kami ingin melakukan perjalanan ini, namun kesempatan itu selalu kalah oleh berbagai hambatan. Sudah dua kali kami berangkat menepati nadzar ini, namun kedua perjalanan itu terpenggal setengah jalan. Ini adalah kesempatan ketiga bagi kami, dan kami menyepakati sebagai kesempatan terakhir untuk menepati janji. Kami memulai dengan menyebut asma Allah, meresapi energi Al-Fatihah, menyertakan shalawat atas nabi Muhammad SAW, beristighfar, menyerahkan diri sepenuhnya dan memohon keselamatan hanya pada Allah SWT.

Jejak bukan sekedar perjalanan menapaki jejak perjuangan walisongo. Bukan pula plesiran menyinggahi berbagai lokasi yang memiliki obyek wisata kuliner. Bukan perburuan cinderamata di lokasi yang kami singgahi. Perjalanan ini – kami harapkan -memberikan spiritual insight, dalam menapaki hari-hari kami selanjutnya.

Ketika pendaran langit senja bergerak perlahan menggelapkan hari. Setelah menyelesaikan shalat maghrib, kami menenangkan bathin untuk memulai perjalanan ini. Kami berangkat dari Kampus 1 Pondok Pesantren Daarul Uluum di Bantarkemang, Bogor. Bergerak tujuh kilometer menuju Kampus 2 di desa Nagrak, Sukaraja.

Merapat bersama menyatukan hati. Mengingatkan kembali bahwa perjalanan ini adalah upaya menepati janji, memenuhi nadzar agar titian hari esok menjadi lancar.

Di teras rumah kyai, kami menyepakati berbagai hal yang mesti dipatuhi oleh kedelapan peserta. Kyai Haji Abdul Rozak mendampingi Kyai Nasrudin sebagai wakilnya. Ialah yang nanti akan memimpin doa di makam para wali. Apapun yang beliau putuskan, enak atau tidak, pahit atau manis, setuju atau tidak, harus dipatuhi oleh semua peserta. Kami berencana dan Tuhanpun berencana.

Benar sekali kalimat terakhir pada paragraf di atas. Begitu kami siap berangkat, rencana Tuhanpun mulai tampak, di luar rencana kami. Seorang teman datang dan memaksakan diri ikut dalam rombongan kami. Sebagian besar peserta menolaknya dengan menjelaskan bahwa perjalanan kami bukan 2-3 hari, tapi bisa melampaui 5 hari. Tapi orang tua pensiunan polisi berpangkat Kopral itu tetap merayu sang Kyai. Kami tak bisa menolak lagi ketika kyai mengizinkan Kopral tua itu ikut dalam tim ini. Kami semua menerima kesertaannya dengan keyakinan bahwa inilah rencana Tuhan dan “Kopral Menthok” ini – demikian sapaan akrabnya – akan bermanfaat bagi kelancaran perjalanan kami.

Bismillahirrahmaanirrahiim, langkah kanan! (MT)

laporan selanjutnya : Warisan Tradisi Spiritual

Makam Mu’allim Kyai Haji Elon Syuja’i |Bantarkemang, Bogor

Kami memulai perjalanan ini dengan ziarah ke makam KH. “Mu’allim” Elon Syuja’i. Beliau adalah tokoh ulama kharismatik di Bogor, yang merintis dan membangun cikal bakal pondok pesantren Daarul Uluum yang amat mempengaruhi hidup kami. Pergulatan hidupnya sejak zaman pra kemerdekaan RI merupakan inspirasi bagi kami. Dialah guru, ayah, kakek, dan pejuang yang mewariskan pesantren yang sederhana pada kami.

Mengapa kami harus mengawali perjalanan Jejak Walisongo ini dengan seolah-olah memohon izin dari penghulu kami ini?

KH. Elon Syudja'iKH. Elon Syudja’i

Mamak Elon,- begitu kami memanggilnya -mewariskan tradisi spiritual ziarah Walisongo kepada kami. Walisongo adalah inspirasi baginya dalam memperjuangkan dakwah Islam di Nusantara. Gerakan dakwah Walisongo mengandung banyak aspek kehidupan untuk dihikmahi. Mulai dari strategi politik, ekonomi, seni budaya, ritual, spiritual, bahkan kaderisasi dan regenerasi. Walisongo di mata Mamak Elon bukanlah tokoh legenda mistis, yang runyam dengan dongeng dan keajaiban. Walisongo – yang digagas oleh Sunan Ampel – adalah pelanjut estafeta dakwah para nabi yang mesti diwarisi spiritnya.

Spirit Walisongo membentuk pribadi Mu’allim Elon. Tahun 1912 Beliau dilahirkan dan hidup dalam lingkungan masyarakat yang terbiasa hidup dalam kegelapan. Bantarkemang, kampung tempatnya dilahirkan adalah wilayah hitam yang terkenal dengan kriminalitas, ilmu hitam, alkohol, judi, dan prostitusi. Sendi-sendi kehidupan dikuasai oleh para jawara. Tokoh jawara yang paling ditakuti karena kharisma dan ilmu hitamnya adalah Empu Uning, yang adalah kakek Mu’allim Elon Syujai.

Ternyata sejarah kampung Bantarkemang menggariskan pertentangan antara kakek dan cucu. Pertentangan antara dunia hitam dengan dunia putih, atmosfir jawara dengan atmosfir santri. Hingga akhirnya Bantarkemang berubah menjadi salah satu pusat pendidikan Islam di Bogor.

Kecenderungan religius membimbing Mamak Elon menapak jalan keulamaan hingga akhir hayatnya. Beliau mengeyam pendidikan keagamaannya pertama kali dari Ajengan Baihaqi, seorang ulama di Leuwinanggung, Bogor. Selesai berguru dari sang Ajengan, beliau melanjutkan belajar di Pondok Pesantren Kadukaweng, Banten selama 4 tahun. Masa mudanya diisi dengan menuntut ilmu. Selesai di Banten, ia masuk ke Sekolah Rakyat. Oleh karenanya, selain memiliki pengetahuan keagamaan, khususnya khazanah kitab-kitab salafi, Elon Syuja’i pun memiliki kemampuan membaca dan menulis latin. Sedikit kemampuan berbahasa Belanda pun ia peroleh di sekolah ini.

Setelah menamatkan pendidikan formal tingkat Sekolah Rakyat, Elon Syuja’i memperdalam lagi pengetahuan agamanya di Pondok Pesantren Gunung Puyuh, Sukabumi, yang dipimpin oleh Ajengan Sanusi. Beberapa tahun kemudian, beliau berangkat lagi untuk berguru ke Ajengan Sathibi di Gentur, Sukabumi. Melihat potensi besar yang dimiliki serta semangat belajarnya yang tinggi, Ajengan Sathibi kemudian mendorong Elon Syuja’i untuk memperdalam ilmunya ke pesantren-pesantren di wilayah Garut dan Tasikmalaya.

Di kedua kota inilah kemudian Elon Syuja’i bersahabat dengan ulama-ulama besar Jawa Barat, yang di kemudian hari menjadi tokoh-tokoh ulama dan politik, seperti KH Khoir Afandi (Pemimpin Pondok Pesantren Miftahul Huda, Tasikmalaya), KH Gunung Puyuh (Sukabumi), KH Nur Ali (Pemimpin Pondok Pesantren At-Taqwa, Bekasi), KH Soleh Iskandar (Bogor), Kyai Profesor Abdullah M. Nuh, dan lainnya.

Pada periode ini, Elon Syuja’i mulai bersentuhan dengan spirit ideologis, ide-ide pergerakan, pemberdayaan, dan pembaharuan masyarakat.Persentuhannya dengan Masyumi, ternyata memberi warna tersendiri dalam perjalanan hidup Mamak Elon. Masyumi adalah organisasi politik Islam yang dinilai radikal oleh pemerintah saat itu, baik pemerintah Orde Lama di bawah Soekarno, maupun pemerintah Orde Baru di bawah Soeharto.

Secara politik, Masyumi dinilai sebagai lawan pemerintah. Catatan keterlibatannya dalam organisasi politik ini menyebabkan dirinya turut diposisikan sebagai ancaman terhadap pemerintahan. Elon Syuja’i dinilai sebagai ulama yang turut mendukung ide penggantian asas negara dari Pancasila menjadi Islam. Penilaian-penilaian semacam itu sempat menyebabkan dirinya dipenjara selama 2 tahun di penghujung kekuasaan Soekarno tanpa menjalani proses pengadilan.

Sikap rezim Soeharto yang ternyata lebih represif terhadap kelompok muslim radikal, mengharuskan Elon Syuja’i mengambil pendekatan baru dalam mengelola hubungannya dengan pemerintah. Hal itu harus dilakukan agar komunitas pesantren yang dipimpinnya tidak berbenturan dengan kepentingan penguasa. Terlebih lagi saat Soeharto menggulirkan kebijakan asas tunggal. Melalui kebijakan itu, seluruh organisasi, apapun juga, diwajibkan untuk menjadikan Pancasila sebagai asasnya.

Sejak digulirkannya kebijakan asas tunggal tersebut, Elon Syuja’i, mulai menerapkan strategi politik yang disebutnya “nyumput di nu caang”, yang berarti “sembunyi di tempat yang terang. Filosofi politik itu seperti yang dilakukan oleh Sunan Ampel dengan Gerakan Walisongonya.

Strategi politik yang diterapkannya ini terbukti bisa menciptakan hubungan yang sangat baik antara Elon Syuja’i dengan pemerintah, baik di tingkat kota, propinsi, bahkan sampai di tingkat pusat. Para pejabat pemerintah Orde Baru silih berganti datang berkunjung, bertukarpikiran, dan meminta nasihat-nasihatnya. Gambaran bagaimana kedekatan KH Elon Syuja’i dengan para pejabat Orde Baru dapat dilihat pada saat dengan mudahnya ia mengundang Adam Malik, Wakil Presiden RI, untuk hadir di pesantrennya dan meresmikan masjid yang baru selesai dibangun.

Satu hal yang patut dicatat adalah bahwa KH Elon Syuja’i tidak pernah bersikap aji mumpung dengan memanfaatkan kedekatannya dengan para penguasa untuk meminta-minta aneka macam bantuan. KH. Elon Syuja’i tidak pernah menolak jika memang pemerintah ingin membatu pesantrennya selama tidak ada syarat apapun. Namun, ia tidak pernah memanfaatkan hal itu untuk mengeruk dana. Iapun mengeluarkan kebijakan kepada anak cucunya agar pesantren ini tidak mengaitkan diri dengan kepentingan partai politik. Pesantren harus menerima dan memudahkan hak belajar setiap orang.

Lebih dari pada itu, KH Elon Syuja’i tetaplah seorang ulama yang hidupnya sangat sederhana. Begitu sederhananya, sampai-sampai, seluruh lokal bangunan pesantren penuh diisi dan ditinggali oleh para santri. Beliau hanya menyisakan sepetak kamar seluas 4×3 meter persegi sebagai tempat tinggalnya. Siapapun bisa datang bertemu dengannya kapanpun dan jam berapapun juga, tanpa harus membuat berjanji lebih dahulu.

KH Elon Syuja’i dipanggil Allah SWT pada tanggal 5 April 1990 di tengah-tengah santrinya dan dimakamkan di pemakaman umum Bantarkemang, Bogor. Jenazahnya diusung dan dioper dari tangan ke tangan oleh ribuan warga, mulai dari masjid, tempat jasad beliau dishalatkan, sampai ke pemakaman. Ribuan warga berbaris rapih secara berhadap-hadapan sepanjang 1 kilometer menanti operan jenazah.

Beliau meninggalkan kami dengan mewariskan tanggung jawab sejarah, melanjutkan perjuangan pesantren yang merupakan hayatnya, bagian kehidupannya. Kini pesantren itu menjadi hayat kami. Dan sebagaimana yang pernah beliau lakukan dulu, kamipun melakukan ziarah ke makam Walisongo. Memohon kepada Allah agar mendapatkan wasilah dari orang-orang pilihan Tuhan. Mengambil hikmah dari perjuangan para wali dalam mendidik dan membangun masyarakatnya. (MT & PS)

laporan selanjutnya : Menembus Malam Jalan Impian

di makam mamak elondi makam mamak elon

ki-ka : Ust. Iqbal, Ozzy Maesyar, Om Somad, KH. Abd. Rozak, Ust. Faruq, H. Rahmani, Kyai Nasrudin, MT (saya), Kopral Hanafi (Jongkok), minus Achey (karena memotret)

Ekspedisi Walisongo : Menembus Malam Jalan Impian

Jalan Tol Jagorawi | Bogor – Jakarta

Meninggalkan makam Mamak Elon, menyisakan perenungan di benakku. Kini yang menguasai pikiranku adalah sebuah kepastian dimulainya sebuah perjalanan yang telah lama kunantikan. Tak kuingkari, ada rasa bahagia bahwa perjalanan menelusuri jejak walisongo telah dimulai. Namun kekhawatiran tetap menyelinap. Apakah kami akan menyelesaikan perjalanan ini dengan tetap menyatu sebagai sebuah tim?

Teringat kisah penuturan temanku tentang pengalaman mereka yang telah dua kali gagal melanjutkan perjalanan seperti ini. Saat itu ada satu-dua orang yang memiliki tujuan lain di tengah jalan. Mereka memecah tim jadi bercerai tujuan. Jadilah tim itu pecah, dan rencana perjalanan itu dibatalkan. Aku tak ingin tragedi itu terulang pada perjalanan kali ini.

Aku meyakinkan diri bahwa perjalanan ini akan lancar dan selamat. Hatiku mengutus doa kepada Tuhan, “Ya Allah, aku mewakili teman-teman, menyerahkan keselamatan kami dan tujuan perjalanan ini sepenuhnya pada-Mu. Aku berserahdiri pada kuasa dan kasih sayang-Mu. Kutitipkan mereka yang kutinggalkan, dalam kuasa dan keselamatan-Mu!

Pada doaku itu, aku meyakinkan diri akan keutuhan tim. Aku tak mau membayangkan kegagalan. Kufokuskan pikiran dan hatiku pada keutuhan tim ini untuk menyelesaikan track by track. Hingga kusadari ternyata Phanter tahun 1995 yang kutumpangi sudah menyusuri Tol Jagorawi yang sepi.

Ini adalah jalan tol yang sempat kuimpikan untuk melintasinya ketika masih kecil. Dulu, sekitar tahun 1983, teman-teman SD-ku selalu terlihat bangga saat menceritakan melewati Jalan Tol Jagorawi menuju Kebun Raya Bogor. Saat itu, bagi kami anak Jakarta, melintasi jalan Tol pertama di Indonesia – yang dibangun sejak 1973 dan diresmikan pada Maret 1978 – mengesankan kemewahan. Hanya teman-teman yang kuanggap orang kaya, sanggup melintasi “Jalan Berbayar” yang konon pinggir jalannya ditandai dengan garis marka berwarna kuning. Seumur itu aku belum pernah melihat garis di jalan selain berwarna putih. Naif sekali impianku kala itu : Ingin membuktikan kalau di Jalan Tol ada garis berwarna kuning yang tak putus sepanjang jalan!

Akhirnya impian itu terwujud saat kelas 6 SD. Kelasku mengadakan study tour ke Kebun Raya Bogor dan Museum Zoologi. Itulah saatnya aku melintasi Jalan Tol Jagorawi. Teman-temanku yang sudah pernah melintasinya, menceritakan dengan bangga tentang rupa jalan impianku itu. Jalan yang ketika dibangun tidak terpikir akan menjadi jalan tol, kecuali setelah Ir. Sutami (Menteri Pekerjaan Umum tahun 1978) mengusulkan kepada Presiden Suharto, agar ruas jalan baru itu dijadikan Jalan Tol, agar biaya perawatan jalan itu tak membebani anggaran pemerintah.

Kuperhatikan temanku – Pengelana Semesta – amat menikmati driving. Memang hobinya. Ia melajukan mobil tua ini seperti terbang menembus pekat dini hari. Pada kecepatan 120 KM/Jam ia melaju, kurasakan kini lebih cepat dari hari-hari biasa aku traveling dengannya, dan tak sampai 30 menit ruas Tol Jagorawi sudah kami lewati. Kutinggalkan jalan tol yang ketika kulintasi selalu mengingatkanku dengan keluguanku saat bocah. Ya, saat melintasi jalan tol dengan Charter Bus dulu, aku sengaja memilih tempat duduk dipinggir kanan dekat jendela. Tujuanku hanya satu: sepanjang melintasi jalan impian itu, mataku terpana pada garis kuning yang tak putus-putus hingga loket tol Bogor. “Ternyata temanku benar, soal garis kuning itu!” Benak bocah naif.

laporan selanjutnya : makam suci berhala religi

Ekspedisi Walisongo : Makam Suci Berhala Religi

Makam Sunan Gunung Jati | Cirebon, Jawa Barat

Adzan Shubuh menggema. Inilah tujuan pertama kami dalam ekspedisi menelusuri jejak walisongo. Kuikuti teman-teman yang berjalan ke arah masjid, melewati gang sempit di tengah perumahan yang cukup padat. Suasananya masih sepi, tidak ada orang lain yang lewat kecuali rombongan kami.

Gerbang Masjid Sunan Gunung Jati terlihat dari arah lurusan gang yang kami lalui. Aku memasuki gerbang itu, meletakkan sepatu di anak tangga pertama.

Aku tak langsung berwudhu, tapi berjalan mengelilingi pelataran masjid yang luas dan memanjang. Lantainya bersih. Terlihat beberapa tubuh lelaki tertidur lelap di pojokan selasar masjid. Tembok masjid menjelaskan usianya yang menua. Hiasan keramik khas China menjadi pemanis ketika mata memandangnya. Beragam artefak keramik itu menempel di setiap titik-titik simetris tembok masjid. Kebanyakan berupa seperti piring. Indah sekali.

Aku berjalan ke arah tempat wudhu. Tidak tercium bau yang mengganggu seperti layaknya masjid-masjid yang kusinggahi di beberapa kampung. Aku mulai berwudhu dan menikmati sejuknya air yang menyegarkan kembali kulitku. Rasa lelah perjalanan 4 jam dari Bogor, sirna. Mataku yang sempat terserang kantuk sebelum memasuki masjid, berubah. Seolah baru bangun dari istirahat panjang. Segar.

Kumasuki area dalam masjid. Banyak orang yang duduk bersila. Masing-masing hanyut pada doa dan zikirnya. Beberapa orang lainnya masih melaksanakan shalat shubuh ataupun shalat sunnah. Begitupun dengan teman-temanku, mereka memilih tempat shalat yang sesuai dengan pilihan hatinya. Mereka berpencar. Aku memilih tempat paling belakang. Lokasi terakhir setelah mataku menerawang memperhatikan seisi masjid yang luas namun mengesankan kesederhanaan. Kulakukan shalat Shubuh setelah sebelumnya melakukan shalat Tahiyyatul Masjid.

Selesai berzikir, aku berdoa untuk Sunan Gunung Jati. Entah kenapa aku masih enggan beranjak menyusul beberapa teman yang sudah tak tampak di dalam masjid ini. Masih kurasakan aura spiritual yang mendamaikan hati. Terbayang di benakku suasana masa lalu, saat masjid ini masih digunakan oleh Sunan Gunung Jati.

Pikiranku melesat ke masa lalu. Saat “Kota Udang” tempat bertemunya budaya Jawa dan Sunda masih berdiri sebuah Kerajaan Islam Cirebon. Teringat kembali saat lalu, aku memasuki Keraton Kasepuhan Cirebon. Di keraton itulah Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati memimpin Kerajaan Islam Cirebon.

Mengapa Syarif Hidayatullah bisa menjadi raja di Cirebon? Ini tak lepas dari peran paman dan ibunnya sendiri. Pada tahun 1479 Tahta kerajaan Cirebon diserahkan oleh Pangeran Walangsungsang yang bergelar Raja Cakrabuana kepada Syarif Hidayatullah. Raja Cakrabuana adalah paman Syarif Hidayatullah. Kakak dari ibunda Syarif Hidayatullah, Nyi Lara Santang. Kakak beradik itu sejak muda sudah mempelajari Islam dari guru mereka Syech Dzatul Kahfi. Oleh sang guru yang berjuluk Syek Nurul Jati atau Ki Gede Jati, mereka berdua diperintahkan untuk menunaikan Ibadah Haji di Mekkah.

Selesai menunaikan haji, Pangeran Walangsungsang menikahkan adiknya dengan Syarif Abdullah, seorang pembesar kota Mesir dari Klan Al-Ayyubi. Dari pernikahan itulah, Syarif Hidayatullah lahir di Mekkah.

Pada masa kepemimpinan Syarif Hidayatullah, Kerajaan Islam Pakungwati di Cirebon mengalami puncak kemajuan. Kejayaan ini tak lepas dari dukungan Kerajaan Demak dan Walisongo, dimana Syarif Hidayatullah termasuk di dalamnya dengan julukan Sunan Gunung Jati. Pada saatnya, Sunan Gunung Jati lebih terkonsentrasi untuk melakukan safar, perjalanan dakwah ke wilayah Jawa Barat hingga berdirinya Kesultanan Banten.

Mengapa seorang Syarif Hidayatullah mau datang ke tanah Jawa hanya untuk menyebarkan Islam? Tuntutan apakah yang ada pada dirinya, dan apa yang menjadi motifnya? Ini pertanyaan yang muncul di benakku. Saat ini aku belum bisa mencari jawabannya. Dan ini adalah “oleh-oleh” yang harus kubagikan kepada teman-temanku nanti, sebagai bahan diskusi. Inipun harus menjadi catatan akhir ekspedisi ini.

Aku beranjak dari dudukku, mencari teman-teman yang sudah tak kelihatan di dalam masjid ini. Kuturuni tangga kecil menuju gerbang luar masjid. Kulihat mereka sedang beristirahat di pelataran sambil bercengkrama. Aku bergabung dalam obrolan ringan. Semua peserta sepakat untuk sarapan pagi di warung nasi yang berada tepat di depan tembok masjid ini.

Segera setelah sarapan, Beberapa teman mengajak melanjutkan perjalanan menuju makam. Semua peserta berjalan menelusuri lorong sempit menuju jalan raya, tempat dimana kami memarkir kendaraan. Kamipun menyebrangi jalan raya menuju sebuah kompleks pemakaman, dengan sebuah gerbang bertuliskan KRAMAT GUNUNG JATI.

Kumasuki gerbang itu, menyusul teman-teman yang lebih dulu melangkahkan kaki. Kurasakan suasana berbeda dibanding suasana yang kurasakan di masjid tadi. Kuperhatikan pepohonan besar, anak tangga yang mengarahkan kami ke lokasi makam utama, kotak-kotak amal jariah dan penunggunya. Aku berdiri cukup lama sebelum memasuki lebih dalam. Kurasakan lesatan tak kasat mata. Kuperhatikan beberapa singgasana bertengger di pohon-pohon besar itu. Kurasakan sapaku tak terdengar oleh mereka yang dimakamkan di sini. Sudah berapa lama penindasan atas arwah ini terjadi? Terbersit keraguan, apakah ini makam Sunan Gunung Jati?

Seorang petugas penunggu kotak amal memaksaku mengisi kotak yang ia jaga. Kuperhatikan ia menghitung jumlah kami bersembilan, mulai dari teman-temanku yang sudah berada di atas anak tangga, sampai pada diriku sendiri yang paling terakhir. Kuberikan padanya 20 lembar uang kertas seribuan, seraya menyusul teman-teman. Baru selangkah aku meninggalkan kotak amal itu, kudengar umpatan dari sang penunggu, “huh, seribu!” hm… suara itu makin meragukan langkah menuju kompleks ini.

Sampai di makam utama, aku memperhatikan teman-teman yang sudah duduk di depan makam. Dua orang petugas memanggilku agar mengisi buku tamu dan menepuk-nepuk kotak amal di hadapannya. Kuserahkan selembar limapuluhribuan padanya. Sejujurnya, aku merasa terusik dengan cara mereka meminta uang. Meraka tak bicara, hanya menepuk-nepuk kotak dalam kuasanya dan matanya menatapku tajam seolah mengancam. Tapi biarlah itu kurasakan sendiri. Aku tak mau merusak suasana hati teman-temanku yang sudah memulai ziarah.

Mataku terpaku pada sebuah dupa di depan makam. Kualihkan tatapanku pada Kyai Nasrudin, yang sejak awal kuperhatikan seperti enggan memasuki kompleks ini. Begitupun ketika KH. Abdul Rozak memimpin doa, sang Kyai muda itu malah duduk bersandar pada tiang, melipatkaki dan meletakkan lengan kanannya pada dengkulnya. Persis orang yang sedang nongkrong di warung kopi. “Ada yang tidak beres!” pikirku.

Kuikuti panduan KH. Abdul Rozak untuk membaca Al-Fatihah. Hanya segitu konsentrasiku. Saat teman-teman kelihatan khusyu’ berdoa, aku menyudahi doa namun tetap duduk sambil memotret suasana. Tepat ketika aku ingin memotret KH. Abdul Rozak yang memimpin doa, beliau melengos ke belakang dan mengucap tanya, “Ini makam siapa ya?”. Makin jelas sudah kegelisahanku. Ingin rasanya aku tertawa. Tapi kutahan. Kuperhatikan kekhusyukan teman-temankupun lenyap seketika. Wajah-wajah serius mereka berubah penuh tanya. Seorang petugas menjelaskan, bahwa ini adalah makam Syech Dzatul Kahfi atau Ki Gede Jati, gurunya Sunan Gunung Jati. Seorang temanku berseloroh, “Saya mau ke makam Sunan Gunung Jati, bukan gurunya!”

Keraguanku membuncah. Petugasnya saja tak mengenal siapa sebenarnya Syech Dzatul Kahfi. Yang kutahu dari beberapa babad dan catatan para sejarawan. Orang yang dimakamkan di sini bukanlah guru Sunan Gunung Jati melainkan guru dari Ibunda Sunan Gunung Jati dan Pamannya yang bernama Walangsungsang yang ketika menjadi Raja Islam Cirebon bergelar Raja Cakrabuana.

Seorang Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, datang ke tanah Jawa ini sudah dengan ilmu yang cukup memadai untuk melakukan Dakwah Islam. Beliau adalah murid dari Syech Tajuddin Al-Kubri di Mekkah dan Berguru selama 2 tahun kepada Syech Ibn Atho’illah yang menulis buku Al-Hikam. Selesai mendalami tarekat Sadziliyyah dari Syech Ibn Atho’illah, barulah Syarif Hidayatullah melaksanakan tuntutan safar bagi para sufi, yaitu menapaki perjalanan panjang yang membentuk sejarah hidupnya.

Perjalanan dakwah ia mulai dengan mengunjungi beberapa negeri hingga singgah selama 3 bulan di Gujarat, India. Di Gujarat ia menerima banyak murid, salah satunya adalah Dipati Keling. Perjalanan ia lanjutkan bersama Dipati Keling dan para pengikutnya ke Samudra Pasai dan menetap selama 2 tahun bersama saudaranya, Syech Maulana Ishaq yang lebih dulu berdakwah di Nusantara.

Dari Pasai, ia melanjutkan perjalanan menuju Cirebon, untuk mengunjungi Ibunya, Nyi Lara Santang. Namun sebelumnya ia berlabuh di Banten, bergabung dengan Syech Ali Rahmatullah yang lebih populer dikenal dengan nama Sunan Ampel, Master Mind Walisongo, yang baru memulai dakwah di wilayah pelabuhan tersebut.

Hingga keluar makam, para petugas itu masih mengikuti kami. Ia mendekati salah seorang temanku dan meminta uang lagi. Kulihat Iqbal memberikan limapuluh ribu rupiah kepadanya. Aku mengajak Iqbal untuk mendekati sebuah lokasi yang sebelumnya ia bilang sebagai tempat para walisongo berdiskusi. Petilasan tersebut dipagari. Ingin kuberdiri lama di sisi petilasan itu. Namun konsentrasiku terganggu oleh petugas yang sama, yang mengikuti kami dan meminta uang dari orang yang sama pula, Iqbal. Kusimpulkan, orang tersebut hanya meminta, tapi tak melihat siapa yang dipinta. Pertama ia memintaku, kuberikan padanya dengan jumlah yang sama dengan yang diberikan Iqbal, lalu ia minta kembali, Iqbalpun memberikan. Kini ia meminta lagi kepada Iqbal. Aku memberikan isyarat agar meninggalkan lokasi ini. Iqbalpun menjauh menyusul teman-teman yang sudah hampir sampai di gerbang luar. Sedangkan aku, sempat singgah sesaat melihat sebuah gua di bawah petilasan walisongo.

Gua tersebut, konon dipercaya sebagai tempat persembunyian walisongo. Sebuah kisah yang sulit kupercaya. Satu saja alasanku. Sebelum Sunan Gunung Jati memimpin Kerajaan Islam Pakungwati di Cirebon ini, rakyat Cirebonpun kebanyakan beragama Islam, berkat dakwah Syech Dzatul Kahfi dan muridnya, Pangeran Walangsungsang, sang raja Cirebon. Tak ada kondisi yang memaksa bagi Walisongo untuk bersembunyi di gua ini, di sebuah negeri yang terbuka terhadap dakwah Islam.

Kutinggalkan gua dan menyusul Iqbal yang sedang berbincang dengan Kyai Nasrudin di pinggir jalan raya, di depan gerbang Kompleks Pemakaman ini. Iqbal masih ingin mendatangi makam Sunan Gunung Jati yang sebenarnya. Kyai Nasrudin menjelaskan bahwa lokasi makam Sunan Gunung Jati adalah di depan Masjid tempat kami shalat Shubuh. Tepatnya berada di lokasi yang berundak hingga sembilan ketinggian di Gunung Sembung. Namun Kyai Nasrudin menyarankan agar rombongan tak perlu ke sana. Ia sudah mewakilinya tadi. Sedangkan bagiku, di masjid saja sudah cukup.

Inilah perhentian pertama kami dalam perjalanan menapaki jejak para wali. Di kota pertama inilah ketulusan kami diuji. Sempat kurasakan emosi yang nyaris meluruhkan semangatku untuk melanjutkan perjalanan ini. Kesan pertama yang sempat menciptakan keraguanku terhadap perjalanan kami. Apakah perjalanan ini akan memberikan pencerahan spiritual bagiku dan teman-temanku?

Aku kembali berdiri sejenak di depan plang bertuliskan Masjid Sunan Gunung Jati. Kudapatkan keyakinanku kembali untuk melanjutkan perjalanan menuju Demak. Kupikir, pengalaman pada perhentian awal adalah ujian terhadap kesungguhanku dalam melanjutkan misi ini. Kuperhatikan teman-temanku yang juga merasakan keanehan yang sama. Namun semangat mereka lebih kuat ketimbang memikirkan suasana yang mereka dapatkan di kompleks orang suci Syech Ki Gede Jati, yang bagiku sudah berubah menjadi sarang makhluk ghaib yang melayani para pengunjung untuk mencari keramat dan mencari rezeki. Memang pedih menyaksikan makam orang suci telah berubah menjadi berhala religi.

laporan selanjutnya : energi baru di masjid wali

Ekspedisi Walisongo : Energi Baru di Masjid Wali

Masjid Agung Demak | Demak, Jawa Tengah

Impianku shalat di Masjid ini tertanam sejak 02 April 1994. Memang sangat lama, 15 tahun lebih beberapa hari. Pemicunya adalah sebuah buku yang ditulis oleh Agus Sunyoto, berjudul “Sunan Ampel”. Buku tersebut memberikan pencerahan kepadaku, yang masih meragukan kebenaran bacaanku sebelumnya, Babad Tanah Jawi dan Babad Cirebon. Kedua buku terakhir begitu kental dengan keajaiban dan mistik.

Menurut Babad yang kubaca, Masjid Demak dibangun oleh Walisongo hanya dalam waktu satu malam. Berdasarkan tulisan candrasengkala “Lawang Trus Gunaning Janmi“, masjid tersebut didirikan pada tahun 1477. Versi lain, berdasarkan gambar seekor Bulus di mihrab masjid, melambangkan tahun 1479. Entah mana yang benar, aku belum mendapatkan kepastian. Namun yang paling menyisakan ragu adalah masa pembangunan yang hanya semalam. Bagiku, amat tidak masuk akal. Setakwa apapun, walisongo bagiku adalah para manusia biasa, bukan pesulap apalagi penyihir. Kisah walisongo, bukanlah dongeng Sangkuriang yang sanggup membangun istana hanya semalam.

Aku memandangi masjid impianku dari alun-alun. Sengaja kupuaskan memandangnya sebelum memasuki tubuh dan jiwa masjid itu. Perlahan kuberjalan, menuju serambi masjid. Kuperhatikan teman-temanku yang melepas lelah, berbaring terlentang pada lantainya yang dingin. Aku tergoda untuk mengikuti mereka. Kutelentangkan badanku, kurentangkan tanganku, kurasakan dinginnya lantai menyerah panas dari kulit tubuhku. Semilir angin menambah sejuk. Menguapkan rasa gerah di siang hari yang terik ini.

Sambil berbaring, kuperhatikan atap dan delapan tiang penyangga serambi masjid ini. Delapan tiang yang disebut Soko Majapahit itu dibangun atas perintah Dipati Unus atau Pangeran Sabrang-Lor. Beliau adalah anak Raden Fatah dan menjadi Sultan Demak Kedua pada 1518-1521. Mengingat tokoh yang membangunnya, serambi yang luas ini bisa jadi dibangun pada fase pengembangan, bukan fase awal pembangunan masjid.

Perjalanan nonstop tanpa tidur sejak sehari yang lalu amat melelahkan. Tapi sejak berwudhu di Masjid Sunan Gunung Jati, Shubuh tadi, membuat mataku tak lagi mengantuk. Tapi tak kupungkiri, pegalnya pinggang sempat menyerangku. Dan pegal dan nyeri yang menyiksa itupun kini lenyap setelah cukup lama berbaring di serambi Masjid Agung Demak ini.

Cukup bagiku rebahan sebentar. Akupun bangkit menuju ruang wudhu untuk membersihkan debu-debu perjalanan demi menghadap Tuhan di dalam masjid impian. Kini aku berdiri tepat di depan pintu masuk Masjid Agung Demak. Aku kembali mengucap syukur Alhamdulillah. Tanpa Kuasa Tuhan, tak mungkin impianku terwujud pada hari ini, shalat di Masjid yang dibangun oleh para perintis Walisongo ini. Bergetar hatiku saat mengingat betapa ketetapan Allah tak berbatas waktu. 15 Tahun memendam keinginan ini, terbayar tuntas berkat ajakan teman-temanku.

Langkahku tertuju pada empat buah soko guru yang menurut beberapa Babad dibangun oleh Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga. Entah bagaimana proses pembangunan yang realistis, karena aku masih menyangsikan jika keempat tokoh itu membangun soko guru tersebut pada satu waktu. Jika salah satunya membangun pada masa renovasi, bagiku cukup rasional. Sebab, yang kutahu, Sunan Kalijaga baru diajak bergabung dalam jajaran Walisongo oleh Sunan Bonang, setelah ayahnya, Sunan Ampel wafat, 2 tahun setelah pembangunan Masjid yang digagas oleh Raden Fatah .

Masjid ini memang murni gagasan antara generasi tua dan muda, yakni Sunan Ampel dan muridnya Raden Fatah, yang masih keturunan Sri Kertawijaya, Raja Majapahit. Gagasan tersebut menjadi rencana Bhayangkare Ishlah, nama resmi yang disebut oleh Sunan Ampel sebelum populernya sebutan Walisongo.

Latar belakang pembangunan Masjid Demak yang utama adalah sebagai pusat koordinasi dakwah Bhayangkare Ishlah. Begitupun dengan posisi geografis Ampel Denta yang dekat dengan ibukota Majapahit. Karena itu, Sikap Hijrah para wali merupakan strategi yang tepat. Selain sebagai pusat pendidikan Islam, latar belakang politis juga menjadi pertimbangan. Penyerbuan Majapahit terhadap Giri Kedhaton, yang dipimpin oleh Sunan Giri yang juga keturunan Bhre Wirabumi, meskipun mengalami kegagalan, sudah menjadi sinyal untuk segera memindahkan pusat dakwah.

Selain itu, pada 1477 kondisi politik Majapahit sedang dilanda ancaman kudeta. Dyah Ranawijaya Girindrawardhana semakin hari semakin menebarkan ancaman kepada Raja Majapahit yang berkuasa, Kertabhumi. Kewaskitaan Sunan Ampel benar-benar terbukti. Setahun setelah Masjid Demak dibangun, Majapahit benar-benar jatuh ke tangan Dyah Ranawijaya Girindrawardhana, walaupun Sang Raja Kertabhumi menyelamatkan diri ke Demak, dimana anak angkatnya, Raden Fatah langsung ditahbiskan oleh Sunan Ampel sebagai Raja Kerajaan Demak.

Aku mulai shalat dzuhur menghadap tiang (soko guru) yang tertulis nama Sunan Bonang. Entah mengapa hatiku tertarik untuk shalat di depan tiang Sunan Bonang. Padahal di sebelahnya berdiri kukuh tiang lainnya yang bertuliskan nama Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga, yang tentunya ketiga nama tersebut lebih populer ketimbang Sunan Bonang. Aku belum memahami kekuatan hatiku sendiri.

Kurasakan suasana hening, tenang, sunyi, menyelimuti shalatku. Selesai shalat Dzuhur, kujama’ dengan shalat Ashar. Aku berdiri dan berjalan ke depan mimbar masjid. Kurasakan energi positif menyelusup ke nadiku. Kubayangkan saat para wali mengorganisasikan perjuangan mereka di dalam masjid ini. kubayangkan sosok Sunan Ampel berdiri memberikan tausiyah dari mimbar itu.

Kulanjutkan shalatku hingga selesai dan tetap duduk bersimpuh di depan mimbar. Kulantunkan Al-fatihah, zikrullah, dan shalawat atas nabi dan para wali. Kembali kuingat keagungan Tuhan, yang mengizinkanku shalat di Masjid yang lama kuimpikan. Kurasakan energi zikir dan aura para wali terserap dalam jiwaku. Menjadi energi baru untuk melanjutkan ziarah ini ke makam para wali.

laporan selanjutnya : kekuasaan dan kesalehan

Ekspedisi Walisongo : Wali dengan Citarasa Lokal

Makam Sunan Kalijaga | Kadilangu, Jawa Tengah

Kami berdiskusi di parkiran Masjid Agung Demak. Ada yang duduk di kursi mobil dengan jendela terbuka. Ada juga yang berdiri. Pembahasan utama adalah melanjutkan perjalanan ke Makam Sunan Kalijaga. Menurut beberapa pengunjung, ada ketentuan tak tertulis bahwa perjalanan menuju makam Sunan Kalijaga tak boleh ditempuh dengan mobil. Seolah ada keharusan bahwa pengunjung harus menggunakan jasa becak ataupun ojeg yang tersedia dekat area parkir ini.

Sebagian besar anggota tim enggan mengikuti aturan tuturan tersebut. Aku dan alux pun awalnya berniat jalan kaki berdua menuju makam Sunan Kalijaga, tapi mengingat keberadaan Kyai Nasrudin sebagai pimpinan ziarah, kami membatalkan rencana tersebut. Diskusi kamipun mencapai mufakat: menuju makam Sunan Kalijaga dengan Terios dan Phanter. Kami yakin, aturan “tutur tinular” itu tak mesti dipatuhi. Lagipula perjalanan kami masih panjang. Kami masih harus mencapai titik-titik makam para wali di beberapa kota.

Kami meninggalkan Masjid Agung Demak. Menyusuri alun-alun Demak hingga menemukan Jl. Sunan Kalijaga. Tak lebih dari 15 menit berjalan santai, kami belok ke kiri, memasuki jalur Makam Sunan Kalijaga. Benar dugaanku, bahwa anggapan yang mengharuskan peziarah tidak boleh mengendarai mobil, tidak benar juga nyatanya. Di sana sudah tersedia tempat parkir untuk peziarah yang menggunakan mobil. Tapi memang hanya cukup untuk mobil keluarga saja. Tak ada tempat yang layak untuk parkiran bus. Masuk akal jika di Masjid Demak ada saran untuk menggunakan jasa becak ataupun ojeg, namun sepertinya ketentuan itu hanya berlaku bagi rombongan ziarah yang menggunakan bus.

Kutelusuri gang sempit menuju makam Sunan Kalijaga. Di sebelah kiri jalan adalah tembok kompleks makam Sunan kalijaga yang sepertinya digabung juga dengan makam masyarakat sekitar. Di sisi kanan gang ini, berderet rumah masyarakat yang sekaligus berfungsi sebagai warung cinderamata dan toilet umum.

Sampai di gerbang makam Sang Wali. Aku melepaskan sendal jepit yang kubeli di Alas Roban. Begitulah aturannya, peziarah harus melepaskan alas kaki agar area makam yang jalurnya berlantai keramik ini tetap terjaga kebersihannya.

Kyai Nasrudin memintaku mendaftarkan kedatangan kami kepada petugas penerima tamu. Memang itulah salah satu tugasku sebagai juru bicara, yang disepakati oleh semua anggota Tim Ekspedisi. Kutuliskan nama rombongan kami pada buku tamu dan memberikan sekedar biaya sukarela untuk perawatan makam. Kuperhatikan, Kyai Nasrudin merunduk di depan sebuah standing banner berwarna dasar merah berpadu latar luar berwarna hitam. Teman-temanku mengikutinya, membaca pesan yang tertulis pada banner tersebut. Aku mengikuti pula. Isinya adalah wejangan Sunan Kalijaga.

Ajaran Hidup Kanjeng Sunan Kalijaga itu berisi 6 rahasia hidup :

1. “Marsudi Ajining Sarira” yang bermakna hargailah dirimu dan kemudian menghargai orang lain.
2. “Manembah” yang bermakna menyembah Allah SWT dengan mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
3. “Mangabdi” yaitu me ngabdi kepada kedua orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan.
4. “Maguru” yang berarti mencari ilmu.
5. “Martapa” yaitu laku prihatin, hidup sederhana dan tidak berlebihan.
6. “Makarya” artinya bekerja sebagai syarat dan bekal hidup di dunia.

Itulah enam petuah Sunan Kalijaga yang dapat menjadi “Spiritual Mercandhise” bagi para peziarah. Dengan mempraktikan keenam wejangan ini, insya Allah hidup kita akan menjadi lebih damai, tepo seliro, toleran, demi mencapai sukses secara pribadi maupun sosial.

Kami beranjak menuju area lebih dalam dari kompleks makam ini, menuju makam utama, Sunan Kalijaga. Menapaki jalur beralas keramik yang terjaga kebersihannya. Kurasakan, betapa pengelola makam ini benar-benar bekerja membersihkan kompleks makam. Dari gerbang pertama hingga menelusuri selasar dan mencapai gerbang makam Sunan Kalijaga, tak kutemukan daun-daun kering yang bertebaran padahal banyak sekali pohon besar dan tua di area makam ini. Kuserap makna dari situasi ini. lingkungan yang bersih, akan memberikan energi positif, memberikan kedamaian di hati yang membutuhkan pembersihan.

Aku duduk di belakang Kyai Nasrudin, bersebelahan dengan Alux di hadapan makam Sunan Kalijaga. Kuikuti panduan doa-doa ziarah yang dipimpin sang Kyai. Kuyakini, ketika hamba Allah berkumpul menyebut kesucian-Nya, melantunkan doa-doa, mengirimkan spiritual-gift, Allah mengirimkan para malaikat untuk menjadi saksi dan mengalunkan tembang pujian dan harapan sebagai berkah pagi para hamba.

Aku terkesan pada figur Sunan Kalijaga. Ia adalah anak seorang Adipati Tuban, Wilatikta. Ia berdarah nigrat. Namun jalan hidupnya lebih banyak didedikasikan untuk kesejahteraan rakyat. Ia tinggalkan kehidupan mewah keluarga istana dan menjadi begal, merampas harta orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin. Ia tak mencari popularitas dari aktifitasnya. Ia memberikan hasil rampokannya tanpa diketahui oleh rakyat kecil yang menerimanya. Itulah Lokajaya, sebelum berganti jiwa menjadi Sunan Kalijaga, sebelum menjadi seorang pesuluk yang mengarahkannya pada derajat wali.

Kisah yang mengalir menuju muara pemikiran masyarakat Jawa tentang proses perubahan jati diri Lokajaya penuh dengan simbolisasi. Dikisahkan, saat itu ia merampok orang tua yang sedang berjalan di hutan Jatiwangi. Terpikat oleh tongkat berkepala emas yang digenggam orang tua berjubah putih itu. Namun Lokajaya tak sanggup membawa tongkat tersebut. Ia malah jatuh tersungkur. Saat itulah, tongkat sakti itu kembali ke tangan orang tua berjubah putih, yang dikenal sebagai Sunan Bonang, anak dari Sunan Ampel. Sejak itulah Lokajaya berubah, dari berburu menjadi berguru. Ia menyerahkan diri sepenuhnya dalam bimbingan sang wali, Sunan Bonang.

Aku menyerap kisah tersebut hanya sebagai simbolisasi saja. Bisa jadi kenyataannya tak sedramatis itu. Tradisi sastrawan penulis Babad memang seperti itu, banyak mendeskripsikan kisah dengan simbolisasi. Kesan yang diserap akhirnya malah menjadi lakon tentang keajaiban dan kesaktian. Menjadi legenda, bahkan menjadi dongeng pengantar tidur anak-anak muslim Jawa.

Bisa jadi pertemuan antara Lokajaya dan Makhdum Ibrahim yang bergelar Sunan Bonang tidak seperti yang dikisahkan. Tongkat berkepala emas merupakan simbol dari pandangan hidup sang wali. Tongkat emas adalah pegangan hidup yang paling tinggi derajatnya, yaitu Islam. Untuk dapat menjadikan Islam sebagai pegangan, sebagai prinsip hidup, Lokajaya mesti memiliki kekuatan jiwa. Membersihkan diri dari tujuan yang melulu material dan pencapaian yang tidak menghalalkan segala cara. Bertahun-tahun ia menjalani hidup sebagai “murid kal mayit” Sunan Bonang. Penempaan hidup dalam bimbingan tasawuf, melahirkan jati diri baru Lokajaya menjadi Raden Sahid, yang lebih populer dikenal dengan gelar Sunan Kalijaga.

Sebagaimana tradisi sufi. Ketika sampai pada derajat wali, Sunan Kalijaga juga menjalankan kewajiban safar, melakukan perjalanan dakwah mengembangkan Islam. Di setiap daerah yang dijejakinya, Sunan Kalijaga mendapatkan tempat di hati masyarakat barunya. Ia memiliki pendekatan yang mudah diterima oleh masyarakat yang amat kental budaya Jawa (Hindu-Budha).

Sunan Kalijaga selalu menampilkan sosok sang budayawan. Banyak karya budaya yang ia modifikasi dengan unsur-unsur Islam. Kebiasaan baru yang ia modifikasi, akhirnya menjadi budaya masyarakat yang berurat berakar. Ia memadukan dakwah dengan seni budaya yang mengakar di masyarakat. Misalnya lewat wayang, gamelan, tembang, ukir, dan batik, yang sangat populer pada masa itu. Babad dan serat mencatat Sunan Kalijaga sebagai penggubah beberapa tembang, di antaranya Dandanggula Semarangan, sebuah paduan melodi Arab dan Jawa.

Tembang lainnya adalah memopulerkan Ilir-Ilir, karya gurunya, Sunan Bonang. Lariknya punya tafsir yang sarat dengan dakwah. Misalnya tak ijo royo-royo dak sengguh penganten anyar. Ungkapan ijo royo-royo bermakna hijau, lambang Islam. Sedangkan Islam, sebagai agama baru, diinsyafi sebagai penganten anyar, alias pengantin baru.

Peninggalan Sunan Kalijaga lainnya adalah gamelan, yang diberi nama Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu. Gamelan itu kini disimpan di Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, seiring dengan berpindahnya kekuasan Islam ke Mataram. Pasangan gamelan itu kini dikenal sebagai gamelan Sekaten yang diserap dari Syahadatain.

Karya Sunan Kalijaga yang juga menonjol adalah wayang kulit. Ahli sejarah mencatat, wayang yang digemari masyarakat sebelum kehadiran Sunan Kalijaga adalah wayang beber. Wayang jenis ini sebatas kertas yang bergambar kisah pewayangan. Sunan Kalijaga diyakini sebagai penggubah wayang kulit.

Tiap tokoh wayang dibuat gambarnya dan disungging di atas kulit lembu. Bentuknya berkembang dan disempurnakan pada era kejayaan Kerajaan Demak, 1480-an. Cerita dari mulut ke mulut menyebut, Kalijaga juga piawai mendalang. Di wilayah Pajajaran, Sunan Kalijaga lebih dikenal sebagai Ki Dalang Sida Brangti.

Bila sedang mendalang di kawasan Tegal, Sunan Kalijaga bersalin nama menjadi Ki Dalang Bengkok. Ketika mendalang itulah Sunan Kalijaga menyisipkan dakwahnya. Lakon yang dimainkan tak lagi bersumber dari kisah Ramayana dan Mahabarata. Sunan Kalijaga mengangkat kisah-kisah carangan.

Beberapa di antara yang terkenal adalah lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada, dan Petruk Dadi Ratu. Dewa Ruci ditafsirkan sebagai kisah Nabi Khidir. Sedangkan Jimat Kalimasada tak lain perlambang dari dua kalimat syahadat. Bahkan kebiasan kenduri pun jadi sarana syiarnya.

Sunan Kalijaga mengganti puja-puji dalam sesaji itu dengan doa dan bacaan dari kitab suci Al-Quran. Di awal syiarnya, Kalijaga selalu berkeliling ke pelosok desa. Menurut catatan Prof. Husein Jayadiningrat, Kalijaga berdakwah hingga ke Palembang, Sumatera Selatan, setelah dibaiat sebagai murid Sunan Bonang.

Bisa kubilang, Sunan Kalijaga adalah sosok wali dengan citarasa lokal. Ia benar-benar asli keturunan ningrat Jawa, tidak seperti wali lainnya yang kebanyakan pendatang dari negeri luar Jawa. Ia mampu mengeksplorasi budaya lokal, menyibak kearifan lokal, menyuntikkan nilai-nilai Islam, hingga menjadi model budaya baru di tanah Jawa.

Biasanya para wali rutin melakukan perjalanan ke Baitullah di Mekkah. Pernah ia ingin menyusul sang guru, Sunan Bonang yang sedang beribadah haji ke Baitullah. Namun ketika perjalanannya baru sampai Pasai, Syech Maulana Maghribi – guru Sunan Bonang ketika mendalami tarekat Qadiriyah dan Maulawiyah – memintanya agar kembali ke Tanah Jawa, melanjutkan misinya yang belum selesai.

Perjalanan dakwah Sunan Kalijaga memang belum usai. Usia cita-citanya lebih tua ketimbang usia dirinya. Kini tradisi yang ia ciptakan menjadi ritual yang terkesan sinkretis, yang bila dipandang dari mahzab fiqh lain dianggap sebagai bid’ah. Namun jika kita mau menyerap makna filosofis, tak perlu ada vonis tentang kemurnian nilai-nilai Islam di dalamnya. Bagaimanapun, Islam adalah agama yang akomodatif terhadap kearifan lokal suatu bangsa.

Kuikuti langkah teman-teman meninggalkan makam Sunan Kalijaga. Aroma bunga kemboja yang memenuhi kompleks makam memberikan kesegaran bagi tubuh yang lelah karena perjalanan panjang. Sejak kemarin siang hingga sore ini, lebih dari 24 jam, mata kami belum terpejam.

laporan selanjutnya : ulama-panglima titisan ayah

Ekspedisi Walisongo : Ulama-Panglima Titisan Ayah

Makam Sunan Kudus | Kudus, Jawa Tengah

Aku tak langsung menyebrang memasuki kompleks Masjid Menara Kudus. Aku hanya berdiri menikmati keindahan menara setinggi 18 meter, yang dibangun dengan tumpukan batu bata berwarna merah. Desain arsitekturnya kentara sekali bercorak Hindu-Majapahit. Inilah menara masjid yang paling unik di seluruh dunia. Tak ada satu masjidpun di dunia yang memiliki menara mirip dengan Menara Masjid ini.

Sementara itu langit kota Kudus makin temaram, sebentar lagi waktu Maghrib tiba. Aku melangkah memasuki gerbang masjid di sebelah menara, yang sejak awal membuat mataku terpana.

Satu dua orang masyarakat sekitar datang ke masjid. Makin senja, makin banyak jamaah tiba. Orang tua yang sudah berwudhu dari rumah, langsung duduk bersila di shaff terdepan. Para remaja menunggu waktu adzan. Bercengkrama tanpa bising suara. Sekelompok anak-anak duduk membentuk lingkaran, melantunkan Shalawat Nabi menjelang adzan.

Aku menuju tempat wudhu.Terkesan melihat keran klasik dan indah yang menakjubkan mataku. Sebuah tempat wudhu kuno dari susunan bata merah, dengan lubang pancuran berbentuk kepala arca berjumlah delapan buah. Jumlah ini konon dikaitkan dengan falsafah Budha, yaitu Asta Sanghika Marga (delapan jalan utama) yang terdiri dari pengetahuan, keputusan, perbuatan, cara hidup, daya, usaha, meditasi, dan komplementasi yang benar.

Lubang pancuran kuno yang berbentuk kepala arca seperti ini terdapat pada tempat wudhu. Bentuk arca seringkali dikaitkan dengan kepala sapi karena hewan tersebut dulunya diagungkan orang Hindu di Kudus. Bahkan hingga sekarang meski mereka telah menjadi Muslim, masih memiliki tradisi menolak penyembelihan sapi.

Kuputar keran itu. Air dingin mengucur deras. Kubasuh tanganku, hingga sempurna wudhuku. Sejuk dan segar kembali kurasakan. Entah energi apa yang terserap ke dalam tubuhku. Hingga detik ini, sejak kemarin sore memulai perjalanan, menghabisi malam di jalan tanpa terpejam, menelusuri pagi hingga terik matahari, dari Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Alas Roban, Kendal, Semarang, singgah di Demak dan Kadilangu. Senja ini kami sudah ada di Masjid Menara Kudus. Belum kurasakan lelah yang membuatku menyerah. Apalagi dengan siraman air wudhu ini.

Segera kupanggil teman-temanku, “Wudhu! Airnya segar! Kerannya bagus!”. Merekapun segera menghampiriku. Merendam kaki yang kering di kolam kecil sebelum sampai ke area wudhu. Mereka menikmati kolam kecil itu, sedangkan aku menaiki anak tangga masjid, menuju pintu.

Terdengar suara adzan yang iramanya amat berbeda dengan adzan yang biasa kudengarkan di kotaku, berbeda dengan adzan yang biasa ditayangkan di televisi maupun radio. Amat berbeda! Yang kurasakan, sang mu’adzin mengumandangkan adzan tidak dengan suara yang dilantangkan. Adzan yang dikumandangkan dari atas Menara terdengar datar namun mendayu-dayu. Menarik hati yang mendengarkan panggilannya. Irama adzan terdengar dekat, membuat jiwaku hanyut terpikat.

Selesai shalat Maghrib berjamaah, aku mencari tempat untuk melanjutkan jama’ shalat Isya’. Aku berdiri, memperhatikan sekeliling ruangan di belakangku. Hatiku terpaut pada sebuah bangunan tua. Kuhampiri, keperhatikan, kebahagiaan membuncah.

Sebuah pintu gerbang yang asli dari Masjid Tua ini baru kusadari keberadaannya. Akupun melanjutkan shalat Isya’ tepat di depan gerbang tua yang masih dipertahankan berdiri tegak di dalam masjid yang sudah digubah menjadi lebih luas dan lebih indah.

Selesai shalat, aku masih enggan beranjak. Kuperhatikan gerbang masjid lama yang dibentuk dari tumpukan batu yang sama persis seperti Menara Masjid di depan sana. Inilah gerbang Masjid Al-Aqsa itu. Nama Al-Aqsa diberikan oleh Syech Ja’far Shadiq yang bergelar Sunan Kudus karena terinspirasi dari sebuah batu yang dihadiahkan oleh seorang Syech di Makkah, saat sang Sunan menunaikan Haji dan mengajar untuk beberapa waktu di Makkah Al-Mukaramah. Batu tersebut berasal dari Baitul Maqdis di Yerusalem. Untuk mengenangnya, Masjid itupun diberinama Masjid Al-Aqsa yang akhirnya menjadi Kudus. Mulai saat itulah nama Kudus mengubah nama dusun yang sebelumnya bernama Tajug.

Masjid ini didirikan pada 956 Hijriah (1549 Masehi). Dalam inskripsi terdapat kalimat berbahasa Arab yang artinya, “… Telah mendirikan masjid Aqsa ini di negeri Quds…” Sangat jelas bahwa Ja’far Shodiq – yang juga merupakan ahlul bait Nabi keturunan ke-14 dari Husain bin Ali bin Abi Thalib menantu Rasulullah Muhammad SAW. – menamakan masjid itu dengan sebutan al-Aqsa, setara dengan Masjidil Aqsa di Yerusalem. Walau tak terucap, pujian terungkap dari hatiku. Untuk Sang Sunan perencana arsitektur masjid ini.

Ketika sedang asyik menikmati keindahan pintu gerbang tua, teman-temanku memanggil agar bersama-sama berziarah ke makam Sunan Kudus yang berada di depan masjid.

Aku mengikuti mereka ke sebelah Selatan masjid. Memasuki gapura kompleks makam yang juga bercorak arsitektur Hindu-Jawa. Kucatat nama rombongan kami di buku tamu. Kurasakan sikap santun dan ramah para petugas penunggu makam. Amat bertolak belakang dengan petugas yang pernah kutemui di Cirebon pagi tadi. Mereka bahkan tak meminta uang sepeserpun, malah langsung mengarahkan jalan menuju makam sang Sunan.

Jalur ke makam Sunan masih melewati gapura yang indah menawan. Lampu penerang di beberapa titik taman dan selasar memudahkan perjalanan kami. Binar-binar cahaya lampu sepanjang jalan, menghilangkan kesan angker yang biasanya terbentuk karena kegelapan. Kulihat ratusan peziarah duduk bersimpuh di sekeliling makam sang Sunan. Mereka membaca doa tanpa menyuarakan kebisingan. Beberapa remaja kuperhatikan sedang menghafal al-qur’an. Menurut penjelasan Kyai Nasrudin, mereka adalah para santri di Masjid Menara Kudus ini.

Kami mendapatkan tempat di Barat Daya dari makam sang Sunan. Kyai Abdul Rozak mendampingi Kyai Nasrudin memimpin ritual ziarah. Yang lain duduk di lantai kosong yang masih tersisa. Mengikuti arahan doa hingga selesai.

Kami beranjak demi memberikan kesempatan bagi tamu lainnya yang belum mendapatkan tempat untuk berziarah. Sebelum meninggalkan, aku berjalan mengelilingi makam. Memperhatikan kekhusyu’an para peziarah di setiap sisi makam. Doa-doa terus mengalir dari jiwa mereka, bergantian tak putus-putusnya bagi sang Sunan yang tenang di alam sana.

Sunan Kudus adalah pelanjut perjuangan dakwah Islam ayahnya, Raden Usman Haji yang bergelar Pangeran Ngudung. Bersama dengan Sunan Ampel, sang ayah adalah generasi pertama walisongo. Ialah yang melakukan dakwah pertama kali di Kerajaan Matahun tepatnya di daerah Ngudung, ketika masih dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Saat itu nama walisongo belum terucap. Gerakan ulama gelombang pertama dan kedua masih menggunakan nama Bhayangkare Ishlah. Nama Walisongo baru dikenal pada gelombang ketiga, saat akan dibangunnya Kesultanan dan Masjid Demak.

Syech Usman Haji yang setelah berdirinya Kesultanan Demak bergelar Sunan Ngudung adalah panglima perang. Bahkan sejak awal gerakan dakwah yang dipimpin oleh Sunan Ampel, beliau menerima amanat melatih para santri dengan keterampilan pencak silat. Hidupnya berakhir di medan perang, ketika Kesultanan Demak yang dipimpin oleh generasi ketiga, Sultan Trenggono memerintahkannya memimpin penyerangan terhadap Majapahit. Saat peperangan itulah – sekitar tahun 1524 Masehi – Sunan Ngudung syahid oleh tusukan Adipati Terung. Kesultanan Demak memberikan gelar Anumerta “Penghulu Rahmatullah” atas jasanya.

Kedudukan Sunan Ngudung sebagai panglima perang dan imam masjid Demak digantikan oleh anaknya sendiri, Ja’far Shadiq yang kelak bergelar Sunan Kudus. Pada peperangan selanjutnya – tahun 1527 Masehi – Sultan Trengono memerintahkan Ja’far Shadiq memimpin penyerbuan terhadap ibukota Majapahit. Pada tahun inilah, ibukota Majapahit berhasil direbut oleh balatentara Demak, yang dipimpin Ja’far Shadiq. Darah ulama-panglima sang ayah terwariskan pada diri sang anaknya.

Setelah jabatannya sebagai Imam Masjid Demak tergantikan oleh Sunan Kalijaga atas penunjukkan Sunan Gunung Jati dan Restu Sultan Trenggono, Ja’far Shadiq meninggalkan Demak. Ia berkonsentrasi menggarap pesantren di dusun Tajug yang kelak diubah namanya menjadi Kudus. Sejak itulah ia meninggalkan keahliannya sebagai panglima perang, menanggalkan kehidupan priyayi, menjadi pesuluk dan bertani, sekaligus membina masyarakat Hindu di wilayahnya dengan ajaran Islam.

laporan selanjutnya : menafsirkan sebuah ketinggian

Ekspedisi Walisongo : Menafsirkan Sebuah Ketinggian

Makam Sunan Muria | Desa Colo, Jepara, Jawa Tengah

Menelusuri perjalanan ± 20 KM dari makam Sunan Kudus, kami tiba di desa Colo. Jam 9 malam di malam kedua ini kami memarkirkan dua kendaraan yang tak kenal lelah, lalu berjalan kaki menuju makam Sunan Muria. Aku salut terhadap stamina teman-teman yang tak pula menampakkan kelelahannya. Padahal sudah dua malam ini mereka belum merebahkan badan dan tidur sebenar-benarnya tidur. Mungkin nadzar yang telah terucap, tekad yang membara, memberikan energi ekstra.

Sebelum memasuki kompleks makam Sunan Muria, aku dibuat ternganga melihat gerbang dengan tangga beranak-pinak. Menurut informasi masyarakat setempat, panjang anak tangga hingga mencapai ketinggian makam Sunan Muria adalah 1 Kilometer. Jika membayangkan jalan yang lurus, jarak 1 KM terkesan enteng. Tapi pijakan yang harus kami lalui berkelok-kelok dan makin meninggi. Apakah aku akan sampai sementara pergelangan kaki kananku terkilir ketika turun dari kendaraan?

Aku terus melangkah mengekor teman-teman yang lebih dulu di atas sana. Aku benar-benar mengekor karena dari sepuluh anggota tim, akulah yang berada pada deretan terbelakang. Namun baru berjalan sekitar 20 meter, aku mendapatkan teman seperjalanan. Ialah PS sang driver. Rupanya ia juga tak kuat mengikuti langkah teman-teman yang lebih cepat. Kamipun menapaki satu per satu anak tangga berdua saja. Melangkahi 5-10 anak tangga, lalu istirahat sekitar 1 sampai 3 menit. Kemudian kami mendaki anak tangga berikutnya, yang telah kami lupakan sudah berapa hitungan, ketika sejak awal ternyata kami sama-sama menghitung dari anak tangga pertama. Ketika nyeri kakiku semakin terasa, kamipun duduk bersama, berbagi cerita dan berbagi kesan. Begitu seterusnya hingga mencapai puncak yang harapkan, sebuah bangunan megah yang bersatu dengan masjid. Itulah makam Sunan Muria.

Aku dan PS kehilangan jejak teman-teman. Mereka sudah lebih dahulu sampai dan telah menyebar menuju tempat yang mereka sukai. Kami masuki lorong masjid ini. Panjang sekali hingga bertemu dengan sekelompok petugas penunggu makam. Mereka menjelaskan arah dan mengarahkan hingga kami sampai di depan sebuah makam.

Makam Sunan Muria berbentuk sebuah bangunan berkonstruksi kayu berukir, beratap sirap model joglo. Pada sisi makam kuperhatikan sekat dinding dengan ukiran seperti bunga. Aku teringat tentang kisah Sunan Muria yang kurang suka dengan karya ukiran berwujud hewan ataupun manusia. Ia lebih menyukai corak bunga dan tumbuhan.

Di depan makam aku duduk bersimpuh di antara PS dan seorang tua yang sejak awal kuperhatikan hanyut dalam doa dan wirid. Bahkan sempat kudengar isak tangis dari orang tua yang duduk bersila di sebelah kananku. Baru kusadari bahwa orang tua itu adalah salah satu anggota tim ekspedisi. Kami memanggilnya Kopral Hanafi. Haru hatiku melihatnya masih hanyut dalam lantunan doa, ketika aku dan PS beranjak meninggalkan makam.

Kami telusuri lorong panjang yang merupakan arah keluar meninggalkan makam Sunan Muria. Namun bayangan tentang sang Sunan masih lekat dalam pikiranku. Inilah satu-satunya wali yang sejarahnya menyimpan misteri bagiku.

Ada sekelompok sejarawan yang menganggap Sunan Muria adalah anak Sunan Kalijaga. Buah dari pernikahan Sunan Kalijaga dengan Dewi Sarah binti Maulana Ishaq. Namun ada pula yang lebih setuju bahwa ia adalah anak dari Sunan Ngudung, ayahanda Sunan Kudus. Bahkan ada pula yang menyebut bahwa Sunan Muria keturunan Tionghoa, dengan sang ayah seorang Kapitan Tionghoa bernama Gan Sie Cang. Namun dari beragam versi tentang silsilah Sunan Muria, semua sepakat bahwa nama aslinya adalah Raden Umar Said.

Hingga aku selesai menelusuri lorong dan sampai di luar gedung, pikiranku tentang beragam versi sejarah sang wali masih mengawang-awang. Entah mana yang mendekati kebenaran.

Terlepas dari perbedaan versi silsilah sang wali, aku yakin tentang sosok Sunan Muria yang memiliki strategi dakwah mirip dengan Sunan Kalijaga dan pendekatan masyarakat seperti yang dilakukan Sunan Bonang, Guru Sunan Kalijaga.

Sunan Muria dikenal dengan kemahirannya mengaransemen musik tradisional Jawa. Ia mencipta karya macapat, sinom, dan kinanti. Bahkan sampai sekarang karyanya itu masih lestari. Lewat tembang spiritual itulah ia mengajak masyarakat mengamalkan ajaran Islam.

Seperti Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang, Raden Umar Said lebih cenderung berdakwah kepada rakyat jelata. Ia meninggalkan pusat kota Kerajaan Demak dan menyebrang pantai selat menuju Gunung Muria. Menurut sumber literer para sejarawan, pada abad XV Pegunungan Muria terpisah dari pulau Jawa oleh sebuah selat. Aku membayangkan sebuah suasana yang jauh dari pusat pemerintahan, jauh dari hiruk pikuk kesibukan kota, dan jauh dari konflik politik.

Sunan Muria membina masyarakatnya tanpa membentuk sebuah dinasti kekuasaan. Ia hanya membentuk sebuah padepokan sebagai pusat pembinaan masyarakat menuju akhlaq Islam. Ia tak mau terlibat dan melibatkan ummat dalam persengketaan antara dominasi Demak dan binar kharisma Kudus.

Aku berdiri di bibir perbukitan. Memandang pijaran lampu kota jauh di bawah sana. Berlatar gelapnya langit malam. Aku merenung dari sebuah ketinggian Gunung Muria. Merenungkan ragam penafsiran atas ketinggian kharisma Sunan Muria.

laporan selanjutnya : wali dengan pusara melati

Ekspedisi Walisongo : Wali dengan Pusara Melati

Makam Sunan Bonang | Desa Bonang, Lasem, Rembang

Perjalanan menuju Makam Sunan Bonang adalah yang paling kunantikan. Keinginan itu terpicu saat aku lebih cenderung shalat di depan satu dari empat tiang (soko guru) Masjid Demak. Saat itu aku shalat di depan soko guru bertuliskan nama Sunan Bonang. Padahal sebelumnya aku ingin sekali shalat di depan soko guru bertuliskan nama Sunan Ampel. Perubahan kecenderungan hatiku berpindah posisi shalat, membuat aku ingin cepat sampai menuju makam Sunan Bonang.

Dari parkiran desa Colo, pegunungan Muria, beberapa anggota tim ekspedisi menjelaskan bahwa tujuan kami berikutnya adalah kota Tuban, kota tempat Sunan Bonang dimakamkan. Kamipun melesat memburu waktu. Menurut perkiraan teman-teman yang sudah tiga kali berziarah ke makam Sunan Bonang, kami akan tiba di Tuban sekitar pukul 2 dini hari.

Aku menavigatori Fauzi yang menyetir Phanter tua. Sementara teman-teman yang duduk di jok tengah dan belakang, tertidur karena kelelahan. Sementara di depan kami, Om Somad melesatkan Teriosnya dengan kecepatan di atas 100 KM/Jam.

Ketika kami melintasi pesisir pantai Lasem, Rembang, Fauzy memberitahuku, “Barusan saya lihat ada plang di sebelah kanan bertuliskan Makam Sunan Bonang?!” Pernyataan Fauzy mendesakku untuk menelpon Om Somad yang sepertinya tak membaca plang tersebut. Namun tiga kali panggilan, tak juga diangkat olehnya. Aku dan Fauzy jadi bertanya-tanya, apa benar plang yang telah kami lewati tadi adalah makam Sunan Bonang? Padahal menurut informasi, lokasi makam Sunan Bonang yang kami tuju adalah di kota Tuban, bukan di Rembang.

Tak berapa lama Om Somad menelponku. Ia haus dan minta air minum yang masih tersedia di mobil kami. Aku memintanya berhenti dimana saja agar ia bisa mendapatkan minuman. Walau sebenarnya aku ingin mempertanyakan padanya tentang plang yang dilihat Fauzy.

Di sebuah SPBU kami memarkirkan kendaraan. Aku langsung menuju mobil Om Somad, memberikan sebotol air putih dan langsung bertanya, “Tadi ada plang Makam Sunan Bonang, kenapa dilewati, Om?”

Om Somad menjelaskan, iapun melihat plang yang kami maksud, tapi karena ia sudah 3 kali berziarah ke makam Sunan Bonang di Tuban, maka ia memutuskan untuk lanjut menuju Tuban.

Aku dan Fauzy bertanya kepada Kyai Nasrudin. Sebagai pimpinan ziarah, ialah yang mesti memutuskan apakah kami harus melanjutkan perjalanan ke Tuban atau kembali ke Rembang. Sang pimpinan memutuskan untuk kembali ke Rembang, tempat dimana hanya Fauzy dan Om Somadlah yang melihat plang Makam Sunan Bonang, karena selain kami bertiga, yang lain tertidur lelah selama perjalanan.

Kami tiba di sebuah area parkir yang amat luas di pinggir pantai. Aku melihat sebuah plang besar berbentuk setengah lingkaran bertuliskan “Pasujudan Sunan Bonang, Makam Ratu Cempo”. Kutuju sebuah bangunan tanpa penerangan yang layak. Kulihat ada seorang petugas penunggu makam yang duduk di sana. “Makam Sunan Bonang dimana, pak? Koq yang ada hanya makam Ratu Cempo?” tanyaku.

Petugas itu menuding ke arah kanan. Ada sebuah plang kecil tanpa penerangan bertuliskan “Ke Arah Makam Sunan Bonang”. Tanpa penerangan! Aku baru menyadari kalau lokasi makam Sunan Bonang berbeda arah dengan makam Ratu Cempo. Kuajak teman-teman mengikuti arah yang ditunjuki plang tersebut.

Tidak semua peserta mengikuti. Hanya aku, Kyai Nasrudin, Achey, Kopral Hanafi, dan Kyai Haji Abdul Rozak. Baru kira-kira melangkah 50 meter memasuki gelapnya rimbunan pohon dan semak belukar, kami dihadapkan pada beberapa batu nisan. Sama sekali tak ada lampu yang menerangi jalan setapak yang kami lalui. Kyai Nasrudin menyapaku, “Makam Sunan Bonang yang pernah beberapa kali saya ziarahi, tidak seperti ini!”

Kyai Nasrudin menceritakan tentang makam Sunan Bonang yang amat megah, terang benderang dengan lampu pelengkap makam, dan tidak jauh dengan sebuah pesantren yang juga megah dan ramai. Sangat jauh berbeda dengan apa yang kami lintasi di sini, sebuah lokasi yang gelap, semak belukar yang rimbun, pepohonan besar yang menambah pekatnya malam, dan suasana sepi, hening, dan deretan batu nisan pemakaman penduduk yang menambah kesan menyeramkan.

Aku bilang pada Kyai Nasrudin, “kita lanjutkan saja. Makam Sunan Bonang masih 200 meter lagi!” Kamipun tetap melangkah menyusuri jalan setapak dalam liputan tengah malam yang gelap, hingga sampai di sebuah persimpangan.

Pada pesimpangan itu ada tulisan yang menjelaskan dua arah. Lurus ke gelapnya hutan menuju sebuah nama yang asing. Belok ke kanan menuju makam Sunan Bonang. Kami duduk bersama di persimpangan itu dan kembali melanjutkan perjalanan ketika PS dan Fauzy telah bergabung.

Kami tiba di depan sebuah tembok batu merah tanpa plesteran semen yang terkesan tua. Aku berdiri di depan pintu gerbang berbentuk gapura. Sepasang daun pintunya terbuat dari kayu, dengan ukiran kaligrafi membentuk lingkaran. Kembali Kyai Nasrudin menyatakan bahwa apa yang ia lihat saat ini amat berbeda 180 derajat dengan yang pernah ia datangi.

Sebelum memasuki komplek makam yang terkesan seperti sebuah padepokan tua, kami berwudhu di sebuah sumur persegi. Di atas sumur itu ada tulisan, “Sumur peninggalan Sunan Bonang”. Walaupun lokasi ini dekat dengan pantai, namun kurasakan airnya tidak asin. Justru airnya segar ketika aku berkumur-kumur dan menyempurnakan wudhu.

Kami masuki gerbang kusam kompleks makam yang amat sepi. Berbeda dengan situasi makam lainnya yang sudah kami datangi sebelumnya. Kami terus melangkah menuju gerbang kedua dan terdiam di depan pintu ketiga yang tertutup. Melihat isyarat Kyai Nasrudin, aku membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam area. Ada sosok lelaki bertudung putih yang mengejutkanku. Andai lelaki itu tak menjawab salam Kyai Nasrudin, mungkin aku mengira lelaki itu bukan manusia.

Lelaki penunggu makam itu menanyakan maksud kedatangan kami. Ia meminta kami menunggu sebentar sampai tiba seorang juru kunci makam Sunan Bonang. Pintu menuju makam masih terkunci. Heningnya malam merasukkan kedamaian saat duduk menunggu di depan pintu.

Mungkin hanya lima menit, seorang lelaki berperawakan kurus menyalami kami dengan keramahan. Batik yang dikenakannya mengesankan kebersahajaan. Ia menyapa kami dengan tata bicara yang santun. Setelah membukakan pintu makam, ia membimbing kami masuk dan menjelaskan tentang sosok Sunan Bonang yang hidup dalam kesederhanaan.

pusara sunan bonang hanyalah pohon melati

Kami duduk bersimpuh menghadap makam sang Sunan. Tak ada pusara dari batu. Tak ada cungkup dan kelambu layaknya makam Sunan lainnya. Hanyalah sebuah pohon melati di tengah hijau pekat rerumputan. Itulah pusara Sunan Bonang. Kami duduk bersimpuh di depan pusara sederhana. Melantunkan doa dan wirid bagi ruh sang Wali yang memeluk para tamunya dengan cinta dan kasih sayang.

Makhdum Ibrahim adalah putra Sunan Ampel dari istri yang bernama Nyai Ageng Manila. Diperkirakan lahir tahun 1456 dan meninggal 1525. Sejak kecil ia dibimbing langsung oleh ayahnya, berbarengan dengan saudara sepupunya, Raden Ainul Yaqin (Raden Paku) anak dari Maulana Ishaq.

Sekitar tahun 1473 Sunan Bonang dan Raden Paku mendapatkan amanat dari Sunan Ampel untuk menemui ayah kandung Raden Paku, yaitu Syech Maulana Ishaq di Pasai. Di Pasai itulah mereka mendalami tariqat Naqsyabandiyah dan Maulawiyah lalu melanjutkan haji dan mengaji ke Mekkah.

Setahun kemudian, Sunan Ampel mengubah gerakan dakwah Bhayangkare Ishlah menjadi Walisongo. Inilah pertamakali Sunan Bonang mulai dilibatkan langsung oleh ayahnya sebagai bagian dari walisongo. Pada usia 18 tahun inilah ia sudah mengemban tugas dakwah di Daha, wilayah kekuasaan Girindrawardhana, yang melakukan kudeta kepada Majapahit (Kertabhumi) pada 1478.

Namun sebelum terjadinya kemelut politik Majapahit -Kudeta oleh Girindrawardhana -, Sunan Ampel menarik Sunan Bonang dari Daha untuk berkonsentrasi ke Tuban. Di Tuban Sunan Bonang membangun pesantren. Diperkirakan pada saat itulah ia mendidik seorang begal Lokajaya menjadi sosok murid yang kelak dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Ketika ayahnya wafat pada 1481, Sunan Bonang diminta untuk kembali ke ranah politik sebagai imam walisongo, sekaligus sebagai imam masjid Demak. Saat itulah Sunan Bonang mengikutsertakan Sunan Kalijaga, muridnya sebagai bagian dari walisongo.

Saat memimpin walisongo, bersama Sunan Kalijaga, Sunan Bonang sempat merenovasi masjid demak menjadi lebih luas dan megah. Karena masjid merupakan pusat koordinasi gerakan dakwah, maka harus diprioritaskan perawatannya ketimbang merawat istana sultan/raja.

Sunan Bonang adalah sosok wali yang lebih memilih terlibat langsung dalam pembinaan masyarakat. Karena alasan itulah, akhirnya ia melepaskan jabatan sebagai imam masjid Demak dan melakukan safar (perjalanan seorang suluk untuk berdakwah) ke beberapa daerah, lalu kembali menetap di sebuah desa yang ia bangun sendiri. Desa tersebut kelak dikenal sebagai desa Bonang, di Lasem, Rembang, tempat ia membangun masyarakat dengan pesantren, tempat ia membangun perekonomian masyarakat dengan memproduksi Terasi, dan tempat ia terakhir dimakamkan.

Sunan Bonang banyak menghasilkan karya seni baik dalam bentuk tembang, lirik, komposisi musik, bahkan seni kriya. Selain itu ia merupakan sosok wali yang memiliki tradisi literasi yang baik. Banyak karya tulis yang dibuatnya, Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Regok, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Ing Aewuh, Suluk Pipiringan, Suluk Jebeng dan lain-lain.

Satu-satunya karangan prosanya yang dijumpai ialah Wejangan Seh Bari. Risalah tasawufnya yang ditulis dalam bentuk dialog antara guru tasawuf dan muridnya ini telah ditranskripsi, mula-mula oleh Schrieke dalam buku Het Boek van Bonang (1913) disertai pembahasan dan terjemahan dalam bahasa Belanda, kemudian disunting lagi oleh Drewes dan disertai terjemahan dalam bahasa Inggris yakni The Admonition of Seh Bari (1969).

Sedangkan Suluk Wujil ditranskripsi Purbatjaraka dengan pembahasan ringkas dalam tulisannya “Soeloek Woedjil: De Geheime leer van Soenan Bonang” (majalah Djawa no. 3-5, 1938). Melalui karya-karyanya itu kita dapat memetik beberapa ajarannya yang penting dan relevan. Purbatjaraka menyebutnya sebagai ajaran rahasia untuk orang-orang tertentu saja. Rahasia artinya tidak begitu saja bisa dipahami, seperti dapat diperiksa dari kutipan-kutipan berikut:

“Tak ada orang tahu di mana Mekkah yang hakiki berada, sekalipun mereka melakukan perjalanan sejak muda hingga tua renta. Mereka tak akan sampai ke tujuan. Kecuali apabila seseorang mempunyai bekal ilmu yang cukup, ia akan dapat sampai di Mekkah dan malahan sesudah itu akan menjadi wali.”

“Apabila seseorang sembahyang di sana, maka hanya ada ruangan untuk satu orang saja. Jika ada dua atau tiga orang yang bersembahyang, maka ruangan itu juga akan cukup untuk dua tiga orang itu saja. Namun jika terdapat 10.000 orang bersembahyang di sana, maka Ka’bah dapat menampung mereka semua. Bahkan seandainya seluruh dunia akan dimasukkan ke sana, maka seluruh dunia akan tertampung juga.”

Sunan Bonang bukan sekedar ahli dalam memimpin organisasi. Bukan hanya pandai bicara, beliau juga terlibat langsung dalam membina masyarakat dengan pengajian, pendidikan, suluk, seni, bahkan memberdayakan ekonomi masyarakat dengan membudidayakan udang sebagai bahan produksi terasi khas desa Bonang.

Dari sikap keberagamaan, Sunan Bonang adalah sosok yang akomodatif. Ia bisa menerima beragam perbedaan paham. Banyak orang yang kurang menyukai cara dakwah dan ajaran Sunan Kalijaga dan Syech Siti Jenar. Tapi Sunan Bonang bisa memahami perbedaan tersebut bahkan menjadi guru bagi keduanya. Keluasan ilmu dan kedewasaan sikapnya menumbuhkan kebijaksanaan yang mencipta kebajikan.

Tak cukup ruang untuk mengurai sosok Sunan Bonang pada catatan ekspedisi ini. Masih banyak karyanya yang perlu dieksplorasi lebih dalam. Aku merasakan makam Sunan Bonang bagai magnet yang menyerapku. Merekatkanku pada jejak dakwah yang pernah ia lakukan. Menginspirasiku tentang kesederhanaan. Mendamaikan pikiran dengan semerbak melati yang menjadi pusara sang wali.

laporan selanjutnya : darah ningrat jiwa rakyat

Ekspedisi Walisongo : Tidak Semua Wali Ditorehkan

Makam Syech Ali Murtadha | Gresik, Jawa Timur

Sebuah plang berwarna dasar hijau dan warna teks putih menjadi perhatian kami. “Makam Raden Santri, Kakak dari Sunan Ampel”. Plang tersebut berdiri di sisi jalan, di atas trotoar. Tepat di depan plang tersebut, ada sebuah gapura sederhana.

Tujuan utama kami ke Gresik adalah ziarah ke makam Sunan Giri dan Syech Maulana Malik Ibrahim. Kami sudah mengelilingi sebagian pusat kota Gresik, tetapi kami tersesat dari jalur menuju makam Sunan Giri. Dalam pencarian menuju jalan yang benar, kami dua kali melintasi makam Raden Santri. Aku keluar mobil, berjalan sendiri, ketika untuk kedua kalinya, di luar rencana, kami melewati makam sang Wali.

Makam Raden Santri alias Syech Ali Murtadho terletak di Jalan yang menyebut namanya, Jl. Raden Santri. Jaraknya amat dekat, kira-kira 100 meter dari alun-alun kota Gresik.

Aku melangkah sendiri menuju makam. Tak ada satupun orang yang bisa kutanya. Tak ada pengunjung, tak ada penjaga, tak ada juru kunci, tak ada pengemis, tak ada pedagang, tak ada siapapun kecuali aku sendiri, yang berdiri terpaku memandangi makam. Kuucapkan salam kepada ruh yang jasadnya tertanam pada makam. Kubaca Al-Fatihah dan perlahan meninggalkannya.

Sejak awal kedatangannya di Nusantara pada 1443 Masehi, Raden Santri langsung tergabung dalam gerakan Bhayangkare Ishlah (cikal bakal walisongo) yang dipimpin oleh adiknya sendiri, Raden Ali Rahmatullah berjuluk Sunan Ampel. Raden Santri menerima tanggung jawab untuk melanjutkan dakwah yang sudah dimulai oleh Maulana Malik Ibrahim di Gresik yang wafat pada 1419 Masehi.

Sulit sekali mencari literatur tentang geliat dakwah Raden Santri. Hampir semua babad maupun analisis sejarah, hanya menautkan namanya pada hubungannya dengan Raden Ali Rahmatullah dan Maulana Malik Ibrahim. Bahkan pemerintah Gresik sendiri tak memiliki catatan khusus tentang beliau. Pada website pemerintah Gresik, hanya makam Raden Santri saja yang tak dilengkapi link, dari banyaknya makam wali di kota tersebut.

Aku menyadari bahwa tak semua pelaku sejarah tercatat dalam sejarah. Dan aku yakin bukan hanya Raden Santri, bahkan banyak mereka yang terlibat dalam sejarah tetapi tak tertuliskan geliat perjuangannya. Ini merupakan fakta bahwa penulisan sejarah tak akan pernah lepas dari penafian dan pengkhususan para tokoh.

laporan selanjutnya : the last caliph

Ekspedisi Walisongo : The Last Caliph

Makam Sunan Giri | Gresik, Jawa Timur

Kujejaki tangga menuju makam Syech Ainul Yaqin, yang lebih dikenal sebagai Sunan Giri. Tinggal beberapa anak tangga kugenapi. Aku berhenti dan menoleh ke belakang. dari bawah sana aku menanjaki anak tangga menuju ketinggian bukit Sidomukti. Kusaksikan fakta – yang menjadi latar belakang orang Belanda dan orang Hitu, Ternate pada masanya menyebut Sunan Giri (Prapen) sebagai Raja Bukit. Kuberalih tatapan.

Aku sampai pada sebuah ketinggian. Kuperhatikan keluasan area kompleks makam. Kutatapi satu demi satu lokal demi lokal. Kubayangkan sebuah kompleks besar yang tertata. Seperti sebuah kompleks istana. Masih berdiri kokoh Masjid beratap tumpang, yang menjadi tungku perapian spiritual Sunan Giri dalam menjalani sejarahnya. Masjid inilah yang pertama kali dibangun oleh Syech Ainul Yaqin saat membuka lahan di bukit Sidomukti ini.

Runtuhan arkeologis di sekitar kompleks membawaku pada imajinasi tentang geliat kehidupan di bukit ini, saat menjadi pusat spiritual dan politik. Para punggawa yang berbaris di teras kedhaton. Terbayang pula kelompok jubah putih sedang duduk bersama menyanyikan dzikir cinta pada Tuhannya. Mereka adalah orang-orang yang telah menunaikan Haji.

Amat beragam kehidupan di sini pada masanya. Sekelompok pedagang hidup bersama di kompleks kedhaton ini. Para lelaki tak berbaju. Kulit tubuh mengilat karena peluh. Menempa besi merah membara. Mengubahnya jadi sebentuk senjata. Di sisi lain, sebuah kebun subur dengan beberapa orang yang sedang menuai hasil kebun dan menggotong keranjang rempah-rempah. Sementara sekelompok pekerja menimbuni gerobaknya dengan hasil bumi dan kriya. Mereka membawanya menuju pelabuhan, pusat ekonomi strategis pada masanya.

Kusadari, aku memasuki wilayah kedhaton yang megah karena sosok pemimpinnya. Sosok wali yang menjadi panutan raja-raja. Lahirnya kerajaan Demak, Pajang, dan Mataram, tak lepas dari advise Sunan Giri yang menguasai hikmah dan ilmu administrasi pemerintahan. Raja-raja dari Makasar, Hitu, dan Ternate bahkan baru merasa sah kerajaannya jika sudah mendapatkan restu dari Sunan Giri. Kharisma sang Wali menyebar hingga ke wilayah timur nusantara. Madura, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan beberapa wilayah di ujung timur.

Siapa sangka jika sang Wali yang oleh kakeknya, Raja Blambangan – Prabu Menak Sembuyu – adalah seorang bocah yang dibuang dan dipisahkan dari ayah dan ibunya. Saat itu sang ayah telah kembali ke Pasai meninggalkan Blambangan karena menyelamatkan diri dari ancaman pembunuhan mertua yang tidak mendukung dakwah Islam. Bocah kecil yang diberi nama lahir Raden Paku itu diselamatkan oleh awak kapal dagang dari Gresik, milik Nyai Ageng Pinatih (versi babad dilegendakan, sang bayi dihanyutkan dalam peti ke samudra, wallahu a’lam). Oleh sang sang saudagar Gresik, bocah malang itu dititipkan di padepokan Sunan Ampel. Dalam asuhan Sunan Ampel, bocah buangan itu dididik menjadi orang besar, baik dalam ilmu agama maupun pemerintahan.

Raden Paku baru bertemu dengan ayahnya, Syech Maulana Ishaq (dalam kisah lain disebut juga Syech Wali Lanang) setelah Sunan Ampel memintanya berguru pada ayahnya sendiri di Pasai. Dalam perjalanan ke Pasai ia ditemani sepupunya, anak sulung Sunan Ampel, Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) yang sejak kecil menjalin persahabatan dengannya. Dari Pasai, mereka berdua melanjutkan perjalanan kemuridannya ke Mekkah.

Pulang dari Mekkah, Syech Ainul Yaqin melaksanakan amanat ayahnya untuk membangun padepokan di sebuah bukit di Gresik. Di bukit desa Sidomukti itulah ia mulai menjadi guru bangsa. Gelar Sunan Giri (yang berarti bukit dalam bahasa Jawa) kian melekat padanya. Banyak santri dari berbagai penjuru bumi yang berguru padanya. Bukan hanya dari tanah Jawa, Madura, Minangkabau, Bawean, Kangean, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Haruku, Ternate, dan Maluku. Bahkan banyak muridnya yang berasal dari China, Mesir, Arab, dan Eropa.

Empat pokok rahasia kehidupan yang sering diamanatkan kepada murid-muridnya adalah :

1. Tuhan itu bersemayam dalam hati manusia yang suci, karena itu Tuhan disebut pula sebagai hati yang suci.
2. Mengetahui zat Tuhan berarti mengenal diri sendiri. Barang siapa yang belum mengenal dirinya sendiri, berarti belum mengenal Tuhan.
3. Keadaan dunia ini bukanlah keabadian. Karena itu jangan mengagungkan kekayaan dan derajat. Sebab bila sewaktu-waktu terjadi perubahan keadaan, kita tidak akan menderita dalam aib yang memalukan.
4. Realitas adalah dinamika, pasti mengalami perubahan. Oleh karena itu, jangan merendahkan dan meremehkan sesama.

Itulah “the Giri’s Secret of life” yang berulang-ulang ia pesankan kepada murid-muridnya.

Kharisma Giri bukan hanya dalam urusan agama, tapi juga dalam bidang ketataprajaan, pemerintahan, dan perekonomian. Pada masanya, Giri menjadi kiblat ruhani, sosial, ekonomi dan politik. Namun kebesaran itu tidak tercipta pada satu periode, melainkan empat periode. Peletakan dasar sistem pemerintahan ulama dibangun oleh Sunan Giri pertama, yaitu Raden Paku atau Maulana Ainul Yaqin. Setelah wafat, kharisma Giri melekat pada Sunan Dalem, anak Raden Paku. Generasi ketiga meski hanya sebentar dipimpin oleh sang cucu, yang bergelar Sunan Seda ing Margi. Sunan Giri ketiga ini gugur tahun 1548 ketika ikut Sultan Trenggana dari Demak menyerbu kerajaan anti Demak di Panarukan. Puncak kharisma trah Sunan Giri ada pada Sunan Giri Prapen, kakak dari Sunan Seda ing Margi.

Pada kepemimpinan Sunan Giri Prapen inilah kharisma Giri makin kuat di tanah Jawa bahkan melintas ke wilayah luar Jawa. Keemasan era Giri Prapen terwujud karena sang cucu benar-benar memahami dan menjadikan ajaran kakeknya – Raden Paku – sebagai panutan. Ialah yang merawat makam kakeknya. Kharisma sang kakek benar-benar mewujud pada dirinya.

Meskipun menguasai perdagangan antar pulau dan pengaruh politik yang besar bagi raja-raja di berbagai wilayah, tak menjadikan Sunan Giri Prapen sebagai pemimpin yang lupa akan kesalehan. Ia tidak menjadikan agama sebagai jubah, sebagaimana layaknya raja-raja Jawa pada masa Mataram. Ia menjadikan agama sebagai jiwa, sehingga seberapa besarpun kekuasaannya, selalu memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi masyarakatnya. Agama sebagai Jiwa tak membuatnya angkuh sehingga ia tidak melakukan penaklukan layaknya raja-raja di Jawa. Justru karena kesalehannya itulah – meski tanpa penaklukan politik – kharisma dan restu Sunan Giri menjadi penting bagi raja-raja di berbagai lintas pulau hingga ke Timur Nusantara.

Mengamalkan amanat sang kakek – the Giri’s Secret of Life – membentuk Sunan Giri Prapen sebagai “khalifah” yang sesungguhnya. Pada kharisma sang Khalifah Terakhir inilah, Demak yang semakin agresif dan Kudus yang membangun citranya sendiri, menjadikan Giri sebagai daya hidup, sandaran, perlindungan, dan pendamai dari kecamuk konflik yang digelutinya. Pada sosok Giri Prapen jua, kesultanan Pajang mendapatkan keabsahan kekuasaannya. Bahkan pada sosok ulama Giri dan keanggunan Kedhaton Giri, penguasa Mataram terinspirasi untuk memindahkan kharisma Giri ke Mataram. Namun sejarah menjawab rencana. Selama agama sekedar dijadikan jubah kekuasaan, tak akan pernah terwujud kharisma pemerintahan. Yang ada hanyalah nafsu amarah, ekspansi kekuasaan duniawi. Tak puas dengan kuasa dunia, Dinasti Mataram bermimpi menjadi penguasa ruhani layaknya Sunan Giri. Tapi mimpi itu tak pernah nyata, tatkala agama menjadi jubah belaka.

Tak ada lagi khalifah Islam di Nusantara pasca Giri. Ialah khalifah terakhir pada faktanya. The Last Caliph. Di bukit ini ia membangun jiwa bangsa, di bukit ini ia dimakamkan, di bukit ini, beberapa peziarah mengharapkan titisan kharismanya.

Laporan Selanjutnya : Maulana Guru Segala Kasta

Ekspedisi Walisongo : Maulana, Guru Segala Kasta

Makam Syech Maulana Malik Ibrahim | Gresik, Jawa Timur

Matahari mencapai puncak ketinggian. Panasnya menyengat kulitku. Dahaga yang kurasakan mencipta angan segelas es kelapa muda. Di sisi jalan Malik Ibrahim, Desa Gapura Wetan, Gresik berjejer gerobak para pedagang. Tapi tak satupun yang menjual minuman segar. Aku berprasangka, mungkin belum saatnya meneguk minuman. Karena itu aku menyusul teman-teman yang sudah memasuki Pintu Gerbang Makam Maulana Malik Ibrahim.

Teman-teman langsung menuju makam utama. Sedangkan aku harus menjalankan tugas, mengisi buku tamu di kantor pengelola makam. Selepas itu, aku langsung merapat bersama mereka yang sudah siap membaca untaian doa ziarah.

Kuperhatikan ketiga makam yang berjejer dalam satu lindungan pagar bercat hijau. Di sebelah Barat adalah makam wali yang menjadi salah satu tujuan kami, Maulana Malik Ibrahim. Di sebelahnya, mengarah ke Timur adalah makam sang istri, bernama Siti Fatimah dan makam sang putra, Maulana Moqfaroh. Pada bingkai nisan Maulana Malik Ibrahim, terdapat pahatan ayat suci Al-Qur’an. Diawali dengan surat al-Baqarah ayat 225 yang lebih popular disebut ayat kursi, lalu surat Ali Imran ayat 185, Al-Rahman ayat 26-27, dan diakhiri dengan surat At-Taubah ayat 21-22. Menurut beberapa literatur yang kubaca, nisan tersebut diduga berasal dari Cambay, Gujarat dan diduga pula persembahan Sultan dari Samudra Pasai sebagai tanda hormat atas keagungan sang Maulana.

Pada makam tokoh walisongo yang wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 822 Hijriah (1419 Masehi), terdapat pula sebuah teks bertuliskan :

“Ini adalah makam almarhum seorang yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Maha Luhur, guru para pangeran, dan sebagai tongkat sekalian para sultan dan Wasir, siraman bagi kaum fakir dan miskin. Yang berbahagia dan syahir penguasa dan urusan agama : Malik Ibrahim yang terkenal dengan kebaikannya. Semoga Allah melimpahkan rahmad dan ridho-Nya dan semoga menempatkannya di surga.”

Selesai berziarah, kami berpencar. Sebagian berkeliling kompleks makam, sedangkan aku dan PS menuju makam lainnya, Maulana Magribi dan Maulana Ishaq. Kami duduk berhadapan di tengah antara kedua makam. PS memimpin doa ziarah sedangkan aku mengikutinya. Suasana kompleks makam yang hening, jauh dari hingar bingar kota, menciptakan renungan : Siapakah sebenarnya sosok Maulana Malik Ibrahim? Apakah ia benar-benar seorang wali pemula? Apakah ia ayah dari Syeh Ali Rahmatullah yang bergelar Sunan Ampel? Lalu siapa yang dimakamkan di sebelah Timur dari sisi makamnya yang disebut sebagai putra sang Maulana Malik Ibrahim bernama Moqfaroh? Inilah renungan yang tercipta dan tak membuat ekspedisi ini berakhir di tepi makam.

Tak kutemukan kepastian kapan beliau menginjakkan kaki di tanah Jawa. Ada yang menyebut tahun 1392, ada pula 1401, dan 1404 Masehi. Menurut anggapan banyak orang, Maulana Malik Ibrahim adalah wali pemula. Ialah generasi pertama walisongo. Padahal yang kuteliti dari beberapa literatur, istilah walisongo baru muncul pada masa Sunan Ampel, setelah sebelumnya mendirikan Bhayangkare Ishlah, beberapa tahun sebelum berdirinya Kesultanan Demak. Bahkan ada juga anggapan walisongo hanyalah istilah yang dikarya para pujangga Mataram.

Terlepas apakah Syech Maulana Malik Ibrahim adalah bagian dari walisongo atau bukan, yang jelas kehadirannya menjadi bukti sejarah bahwa Islam telah berkembang di Nusantara sebelum era Walisongo itu berperan. Seno Gumira Ajidarma pernah menulis tentang hal ini di Majalah Intisari tahun 2006. “Makam Islam di Tralaya” merupakan bukti bahwa pada masa Majapahit dipimpin oleh Hayam Wuruk, sudah terdapat penganut muslim di kalangan kerajaan. Makam di kompleks Majapahit tersebut tertulis tahun kematian dari 1376, 1380, 1418, 1407, 1427, 1467, 1475, 1467, dan 1469. Dan pada beberapa nisan tertulis huruf arab yang diperkirakan sebagai kalimat syahadat.

Bagiku tak cukup penting memposisikan Maulana Malik Ibrahim sebagai bagian dari walisongo atau bukan, bagian dari pemula para wali atau bukan. Cukuplah Maulana Malik Ibrahim sebagai seorang pelaku suluk (sufi) yang menjadi guru bagi berbagai kalangan. Mulai dari kalangan rakyat jelata yang fakir dan miskin, hingga kalangan para petinggi kerajaan. Ia telah berperan pada masanya. Ia menjalankan kehidupannya dengan kehormatan yang didapatkannya dari segala lapisan masyarakat karena ilmunya. Ia adalah sosok guru bagi segala kasta, yang saat itu masih menjadi strata kehidupan di tanah Jawa.

makam syech ibrahim asy-syamarkand di desa Gisik, Tuban. (ayah sunan ampel)makam syech ibrahim asy-syamarkand di desa Gisik, Tuban, Jawa Timur. (ayah sunan ampel)

Perenunganku belum selesai. Perjalanan kami berlanjut menuju makam Sunan Ampel di Surabaya. Kembali aku teringat tentang anggapan bahwa Maulana Malik Ibrahim adalah ayah Sunan Ampel. Jika memang beliau sang ayah, lalu bagaimana dengan makam Syech Ibrahim Asy-Syamarkand yang dimakamkan di Gisik, Tuban? Pada makam tersebut ditulis bahwa beliau adalah ayah Sunan Ampel.

Jika merunut pada kisah tradisional, kedatangan Sunan Ampel ke tanah Jawa adalah bersama ayahnya Ibrahim Asy-Syamarkand (dijawakan menjadi Asmoroqondi), kakaknya (Syech Ali Murtadho), dan sahabatnya (Abu Hurairah). Rombongan itu singgah di Tuban hingga sang ayah wafat dan dimakamkan di tempat tersebut. Hingga kini banyak peziarah yang mendatangi makam ayah Sunan Ampel itu.

Kisah tersebut diperkirakan terjadi pada tahun 1443 M saat bibi Sunan Ampel (Putri Darawati) menjadi permaisuri Sri Kertawijaya, raja Majapahit. Jika sejarah kedatangan Sunan Ampel itu benar terjadi pada 1443 (sementara menurut versi lain 1446) berarti Maulana Malik Ibrahim yang dimakamkan di Gresik sudah 24 tahun sebelumnya wafat. Berdasarkan penelusuran tahun inilah aku menyimpulkan bahwa sang Maulana Malik Ibrahim adalah bukan Ayah dari Sunan Ampel sebagaimana tertera dalam berbagai literatur dan bahkan menjadi referensi di Wikipedia. Wallahu a’lam.

Rupanya kita memang mesti melakukan kembali penelusuran sejarah yang rumit. Tak cukup jika kita hanya mengacu pada peninggalan karya babad yang umumnya bercampur antara fakta dan legenda. Perlu tinjauan arkeologis, epigrafis, dan mungkin intuitif.

Laporan Selanjutnya : Sunan Ampel Pelopor Walisongo

About these ads

0 Responses to “Ekspedisi Walisongo”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,102,342 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 114 other followers

%d bloggers like this: