19
Oct
09

Seni Lukis : Tradisi, Wayang Kaca Nagasepaha

TRADISI
Seni Lukis Wayang Kaca Nagasepaha Belum Punah

Senin, 19 Oktober 2009 | 03:44 WIB

Gianyar, Kompas – Seni lukis wayang kaca yang berkembang di Desa Nagasepaha, Kabupaten Buleleng, ternyata belum punah. Lukisan di atas kaca yang muncul sekitar tahun 1927 itu masih memiliki generasi dalam satu keturunan dari pelukisnya, Jro Dalang Diah (100).

Bahkan, lima tahun terakhir lukisan ini kembali bangkit dan dikoleksi para kolektor intelektual dari beberapa daerah, termasuk Jakarta. Padahal, pada masa kejayaannya, kolektornya justru dari kalangan petani kopi dan jeruk yang kaya.

Kurator dan dosen Seni Rupa Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Buleleng, Hardiman, mengatakan, karya lukis di atas kaca ini kembali memasuki masa kebangkitannya setelah bergelut dengan seni modern.

”Bahkan, tema-tema lukisan kaca berkembang dari pewayangan ke gambar modern, seperti perkembangan politik atau pergolakan pemuda,” katanya pada pembukaan Pameran Seni Lukis Kaca Nagasepaha di Bentara Budaya Bali, Sabtu (17/10) malam.

Bakat alam

Ia menambahkan, Jro Dalang Diah yang menjadi pelukis pertama Pulau Dewata ini telah menurunkan bakat alamnya kepada anak-anak dan cucunya. Mereka, antara lain, adalah I Nyoman Subrata, Ketut Suamba, Kadek Nurining, dan Ketut Santosa. Ada pula Made Sukrawa, Ketut Sumadrawan, Kadek Suardi, Ketut Sekar, Wayan Arnawa, Gede Kenak Aryadi, serta Kadek Wijana.

Hal senada diungkapkan Pande Wayan Suteja Neka, kolektor dan pemilik Neka Art Museum. Ia menambahkan, gaya Nagasepaha memiliki kekhasan sendiri di antara gaya seni lainnya di Bali, seperti Kamasan, Ubud, dan Batuan.

Direktur Eksekutif Bentara Budaya Bali Efix Mulyadi mendukung upaya untuk turut melestarikan serta mengembangkan budaya dan seni seperti lukisan kaca asli Bali ini. Menurut dia, lukisan ini memiliki proses pengerjaan yang unik dan menjadi bermakna karena kelangkaannya.

Dalam pembukaan tersebut, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Ganesa Dr I Made Sutama menyumbangkan sebuah sketsa gambar wayang di atas kertas bungkus semen sebelum menjadi lukisan wayang kepada Bentara Budaya Bali. I Made Sutama juga mengatakan, sketsa-sketsa tersebut menjadi koleksi langka asli guratan Jro Dalang Diah dan saat ini hanya tinggal beberapa lembar saja.

Selain itu, hadir pula dalam pembukaan pameran tersebut sejumlah pelukis dan kolektor, termasuk kolektor seni dari Jakarta, Adrian Pala dan Tossin Himawan. Pameran menggelar 52 lukisan kaca dan berlangsung hingga 27 Oktober mendatang. (ANS/AYS)

About these ads

0 Responses to “Seni Lukis : Tradisi, Wayang Kaca Nagasepaha”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,098,709 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 113 other followers

%d bloggers like this: