16
Oct
09

Nasionalisme : Pertanian Skala Kecil

Pertanian Skala Kecil

KOMPAS, Jumat, 16 Oktober 2009 | 02:51 WIB

Oleh Khudori

Meski tanda-tanda pemulihan ekonomi mulai terasa, krisis keuangan dan pangan belum beranjak jauh.

Pemulihan itu lebih didorong stimulus pemerintah, bukan kekuatan alamiah (sektor swasta). Akibatnya, defisit pemerintah membengkak dan inflasi terdorong naik. Peluang krisis mengikuti siklus ”krisis-pulih-krisis” masih terbuka.

Terancam lapar

Dibanding Juni 2008, harga- harga pangan telah menurun. Namun, harga pangan saat ini masih 63 persen lebih tinggi dari tahun 2005 (IMF, 2009). Karena krisis kembar itu, warga miskin yang 60-80 persen penghasilannya terkuras untuk pangan bagai kaum paria. Triliunan dollar AS digelontorkan untuk memulihkan ekonomi, tetapi siapakah yang menolong warga miskin?

Inilah alasan FAO mengangkat tema Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober 2009, Achieving Food Security in Times of Crisis. Menurut FAO (2009), akibat tambahan 105 juta warga baru yang kelaparan, jumlah warga kekurangan pangan membengkak menjadi 1,02 miliar atau satu dari enam orang terancam lapar.

FAO menolong mereka dengan dua hal. Pertama, melindungi kelompok paling rentan dengan aneka program jaminan sosial (bantuan pangan, uang, benih/pupuk). Kedua, mendorong investasi pertanian (memperluas/memperbaiki infrastruktur pedesaan, memperkuat pengetahuan warga dalam konservasi sumber daya, memperluas pasar, meningkatkan produktivitas).

Tidak ada yang baru dari saran FAO. Masalahnya, bagi negara berkembang tak mudah mewujudkan dua saran itu. Investasi misalnya. Menurut hitungan FAO, pertanian negara-negara berkembang membutuhkan suntikan 30 miliar dollar AS per tahun untuk membantu petani. Ini hanya 8,2 persen dari subsidi yang digelontorkan negara maju untuk pertanian tahun 2007.

Sejak 1990-an, mengikuti saran Bank Dunia dan IMF, negara- negara berkembang menyunat investasi pertanian, mempromosikan produk-produk ekspor unggulan. Pertanian negara berkembang berubah radikal: dari terdiversifikasi dalam skala kecil- lokal menjadi model ekspor-industrial-monokultur yang digerakkan korporasi global. Petani pun merana.

Kajian International Assessment of Agricultural Knowledge, Science and Technology for Development (IAASTD, 2008) menyimpulkan, model pertanian ekspor-industrial-monokultur bukan resep ajaib mengatasi kemiskinan dan kelaparan. Model itu menghancurkan lingkungan (air dan tanah), mengerosi keanekaragaman hayati dan kearifan lokal (pola tanam, waktu tanam, olah tanah, dan pengendalian hama), dan mengekspose warga pada kerentanan tak terperi. Krisis pangan terjadi akibat tali temali suplai dan stok pangan menyusut, gagal panen, kenaikan harga BBM, perubahan iklim, permintaan biji-bijian China dan India kian besar, konversi pangan ke biofuel, dan spekulasi.

Pertanian skala kecil

Namun, menurut IAASTD, akar terdalam krisis pangan karena pemerintah lupa mengurus sektor pertanian skala kecil, aturan perdagangan yang tak adil, dan dumping negara maju.

Untuk mengikis kemiskinan, kelaparan, dan degradasi lingkungan, IAASTD menyarankan agar memperkuat pertanian skala kecil, meningkatkan investasi pertanian agroekologis, mengadopsi kerangka kerja perdagangan yang adil, menolak transgenik, memberi perhatian pada kearifan lokal, memberi peluang sama (pada warga) agar berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, membalik akses dan kontrol sumber daya (air, tanah, dan modal) dari korporasi ke komunitas lokal, dan memperkuat organisasi tani.

Ini pertama kali tim penilai independen mengakui peran pertanian skala kecil, termasuk hak warga menentukan sendiri sistem (produksi, konsumsi, dan distribusi) pertanian-pangan mereka. Semua itu adalah inti konsep kedaulatan pangan.

IAASTD merupakan panel bentukan FAO yang menghimpun 400-an ahli dari beragam ilmu dan negara. Kajian IAASTD yang mengakui pentingnya pertanian skala kecil, kearifan lokal, dan agroekologis merupakan cetak biru yang bersifat diametral dengan model dominan pertanian saat ini: ekspor, industrial, dan monokultur. Perubahan radikal yang diusung IAASTD itu ditentang status quo: Syngenta (korporasi penguasa benih dan agrokimia) keluar saat hari terakhir; dan AS, Australia, serta Kanada menolak meneken laporan akhir. Saat dirilis 15 April 2008, laporan 606 halaman itu diadopsi 58 negara. Mengapa IAASTD memberi perhatian khusus pada pertanian skala kecil?

Pertama, hingga kini, 75 persen warga miskin adalah petani kecil. Porsi petani kecil di Asia mencapai 87 persen. Di Indonesia, porsi petani kecil 55 persen. Menggenjot investasi pertanian skala kecil tidak hanya memberi pangan dunia, tetapi juga menyelesaikan kemiskinan dan kelaparan.

Kedua, hasil riset-riset ekstensif menunjukkan pertanian keluarga/kecil jauh lebih produktif dari pertanian industrial karena mengonsumsi sedikit BBM, terutama jika pangan diperdagangkan di tingkat lokal/regional (Rosset, 1999).

Ketiga, terbukti pertanian skala kecil dan terdiversifikasi bisa beradaptasi dan pejal, sekaligus model keberlanjutan yang ramah kearifan lokal dan keragaman hayati. Keempat, pertanian skala kecil ramah terhadap perubahan iklim (Altieri, 2008).

Siapkah kita mengakui dan memberi komitmen kebijakan kepada mereka?

Khudori Penulis Buku Ironi Negeri Beras

About these ads

0 Responses to “Nasionalisme : Pertanian Skala Kecil”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,263,016 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 125 other followers

%d bloggers like this: