10
Oct
09

Dialog Jumat : Wakaf dan Sakinah, dll

REPUBLIKA, Jumat, 09 Oktober 2009 pukul 01:58:00

Prof KH Tholhah Hasan

Kesadaran Umat Masih Rendah

Wawancara

Sejatinya, wakaf uang bukanlah hal yang baru. Sejak lama para ulama telah memperbincangkannya. Bagi Muslim di Tanah Air, wakaf uang terbilang sesuatu yang masih baru. Masih banyak umat Islam yang belum mengetahuinya. Padahal, potensinya begitu luar biasa.

”Potensinya sangat tinggi,” ungkap Ketua Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI), Prof KH Tholhah Hasan kepada wartawan Republika, Damanhuri Zuhri.  Berikut petikan wawancaranya;

Apa sesungguhnya wakaf uang itu?
Sebetulnya, para ulama terdahulu sudah membahas dan memperbincangkan masalah wakaf uang. Imam Az-Zuhri, misalnya,  sudah membahas dan memperbolehkan wakaf uang.  Sejumlah mazhab besar seperti, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali juga sudah membahas boleh tidaknya wakaf uang.

Ada semacam perbedaan pendapat. Pada dasarnya wakaf uang di kalangan Mazhab Hanafi, lebih longgar. Meskipun Imam Abu Hanifah sendiri tidak membolehkan wakaf uang. Tapi murid pertamanya, terutama Imam Muhammad bin Hasan As-Syaibani membolehkan wakaf uang apabila memang sudah menjadi tradisi di dalam sebuah masyarakat. Mazhab Maliki dan Hambali juga lebih longgar, yang paling ketat Mazhab Syafi’i.

Mengapa terdapat perbedaan pendapat mengenai wakaf uang tersebut?
Persoalannya, mungkin tidak wakaf uang itu bisa dikembangkan atau bisa digunakan sesuai dengan fungsi wakaf itu,  tanpa harus kehilangan barangnya itu sendiri. Sebab sistem moneter pada waktu itu, kalau uang dibayarkan berarti barangnya hilang. Nah, sistem moneter yang demikian itu sekarang tentu saja sudah berubah. Uang bisa ditukar menjadi  sukuk , saham. Jadi, nilai uang masih bisa dikembalikan setiap waktu.

Artinya nilai uangnya masih tetap ada?
Ya, masih tetapi ada. Jadi, bisa dikembalikan menjadi uang itu lagi. Perbedaan-perbedaan ini menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama-ulama fikih. Sehingga,  ada yang membolehkan dan ada yang melarang.

Belakangan ada kemajuan wakaf uang boleh dikembangkan melalui investasi.  Perkembangan fikih itu biasanya terjadi apabila alasan yang lama sudah dapat digantikan dengan alasan yang baru, sehingga alasan yang lama itu sudah tidak relevan lagi. Jadi harus diperbaharui.

Bagaimana sejarah wakaf uang di dunia Islam?
Ketika Salahudin al-Ayyubi menguasai Mesir ternyata sudah dikenal wakaf uang. Dana wakaf uang itu digunakan untuk membiayai pembangunan negara, membangun masjid, membangun sekolah, membangun rumah sakit, tempat-tempat penginapan, dan sebagainya.Padahal Daulah Ayyubiyah yang berkembang dan berkuasa di Mesir ini mazhabnya adalah mazhab Syafi’i.

Sebelumnya juga, Nurudin Az-Zangki yang berkuasa di Syiria menggunakan wakaf uang.  Pada masa Kesultanan Usmaniyah,  wakaf uang berkembang pesat. Jumlahnya  sangat besar sekali. Potensinya digunakan untuk mendirikan rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah dan lainnya.

Sejak kapan istilah wakaf uang di Indonesia diperkenalkan?
Sebagian besar Muslim di Indonesia itu bermazhab Syafi’i. Sehingga, wakaf uang kurang populer. Pada 1997, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Menteri Agama dan Wakaf. Pada saat itu, agenda wakaf di negara-negara Islam ditinjau ulang. Konferensi itu melahirkan Rekomendasi Jakarta yang berisi pembaharuan masalah wakaf.

Negara-negara lain sudah mengembangkan hasil keputusan Jakarta itu. Justru Indonesia yang agak terlambat. MUI  pun sudah menetapkan fatwa yang membolehkan wakaf uang. Fatwa itu diperkuat dengan lahirnya Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Kemudian berdasarkan Keputusan Presiden dibentuklah  Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Bagaimana perkembangan dan posisi BWI saat ini?
BWI ini masih embrional

Apa yang telah dilakukan BWI?
Kita berkonsolidasi melakukan kerja sama dan membuka jaringan agar supaya wakaf bisa terus dikembangkan. Potensinya cukup besar, sekarang manajemen yang dikembangkan wakaf uang ini kepada siapa saja. Orang boleh wakaf uang dalam jumlah berapa saja. Penyerahan wakaf itu tidak kepada BWI tapi kepada bank syariah. Bank syariah yang mempunyai wewenang untuk menerima wakaf uang itu sementara ini baru lima yaitu Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, Bank Muamalat dan Mega Syariah serta Bank DKI Syariah.

Lima bank ini yang sekarang mempunyai satu tugas untuk menerima wakaf-wakaf uang dan mereka ini mendapatkan Surat Keputusa dari Menang setelah ada rekomendasi dari Bank Indonesia melalui BWI. Jadi, orang yang ingin wakaf berapa saja bisa menyampaikan melalui kelima bank itu.

Tapi mereka baru mendapatkan sertifikat wakaf apabila jumlahnya sudah mencapai minimal Rp 1 juta. Jadi, boleh saja mewakafkan uang  Rp 100 ribu dan itu tercatat terus dalam bentuk satu catatan-catatan setoran dari wakif kepada bank. Setelah mencapai Rp 1 juta bank nantinya mengeluarkan sertifikat wakif. Jadi BWI tidak pegang uang ini.

Apa tugas BWI?
BWI tidak mengatur uang hasil wakaf. Nanti dikelola  nazir . Jika  nazir mau menggulirkan program dibahas dulu bersama bank dam BWI. Kira-kira dana  wakaf uang itu mau digunakan untuk usaha apa? Kita akan menilainya,  visible atau tidak? Sebab   nazir bertanggung jawab dan harus menjaga jangan sampai berkurang.

Apa bedanya  wakaf uang dengan zakat?
Kalau zakat begitu diterima badan amil zakat langsung bisa diberikan kepada mustahik,  tetapi kalau wakaf sifatnya semacam investasi. Wakafnya sendiri tidak boleh diserahkan kepada siapapun. Yang diberikan kepada  mustahik adalah hasil dari investasi.

Apa kendala wakaf uang di Indonesia?
Masalahnya kesadaran umat yang masih rendah. Padahal, kita melihat orang-orang di Indonesia setiap tahun berebut kursi untuk naik haji, bahkan sampai menunggu sekian tahun. Padahal wakaf uang juga sangat tinggi nilai pahalanya. Jadi, dibutuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap orang lain.

REPUBLIKA, Jumat, 09 Oktober 2009 pukul 01:51:00

Wakaf

Secara bahasa wakaf berasal dari kata waqf yang berarti menahan, mengekang, menghentikan. Sehingga, wakaf dapat didefinisikan: menghentikan perpindahan hak milik atas suatu harta yang bermanfaat dan tahan lama dengan cara menyerahkan harta itu kepada pengelola, baik perorangan, keluarga maupun lembaga, untuk digunakan bagi kepentingan umum di jalan Allah SWT.

Wakaf hukumnya sunah, berpahala bagi yang melakukannya dan tak berdosa bagi yang tak melakukannya. Ibadah wakaf didasari oleh Alquran surat Ali Imran ayat 92,” Kalian sekali-kali tidak sampai pada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkah kan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” Menurut catatan Sejarah Peradaban Islam, pertama kali ibadah wakaf dicontohkan oleh Umar bin Khattab. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki sebidang tanah di Khaibar, yang aku belum pernah memiliki tanah sebaik itu.

Apa Nasihat engkau kepadaku?” Rasulullah SAW menjawab, “Jika engkau mau, wakafkanlah tanah yang ada di Khaibar (sekitar kota Madinah) itu dengan pengertian tak boleh dijual, dihibahkan atau diwariskan. Umar bin Khattab kemudian menyedehkahkan hasil tanah itu kepada fakir miskin, ke ra bat serta digunakan pula untuk memerdekakan budak, kepentingan di ja lan Allah SWT, orang terlantar dan tamu. Dalam hadis Muttafaq ‘Alaih (sahih menurut Bukhari dan Muslim) disebutkan, “Tak ada dosa bagi orang yang mengurusnya ( nazir atau pengelola wakaf) memakan sebagian harta itu secara patut atau memberi makan keluarganya, asal tidak untuk mencari kekayaan.”

Wakaf merupakan ibadah sunah yang istimewa. Sebab, pahala wakaf tidak akan terputus sepanjang manfaat harta yang diwakafkan itu masih dapat diambil, meski orang yang mewakafkannya telah meninggal dunia. Oleh karena itu, wakaf tergolong kepada ke dalam kelompok amal jariah (yang mengalir). Rasulullah SAW bersabda, “Setiap amal perbuatan manusia akan terputus (pahalanya), kecuali tiga macam amal; pertama, sedekah jariah, kedua anak shaleh yang mendoakan orangtuanya dan ketiga, ilmu pengetahuan yang dimanfaatkan.”

Ada lima rukun wakaf. Pertama, waqif (orang yang berwakaf). Syarat seorang waqif, pemilik sah dari harta yang diwakafkan, dewasa, tidak boleh memiliki utang, jika seluruh harta yang akan diwakafkan hanya cukup untuk membayar utang. Kedua, mauquf(harta yang diwakafkan) tahan lama dan bermanfaat. Bisa berbentuk tanah, bangunan serta uang.

Ketiga, mauquf ‘alaih (tujuan wa kaf), yakni untuk kepentingan umum se bagai upaya mencari keridhaan Allah SWT. Keempat, sifat wakaf. Yakni, kata-kata atau pernyataan yang diucapkan orang berwakaf, harus jelas dan lebih baik tertulis serta ada saksi yang di ang gap patut dalam akad wa kaf. Keli ma, penerima yang akan me nge lola har ta wakaf itu, baik perorang an maupun lembaga pengelola wakaf yang disebut nazir, mengucapkan kabul (menerima). Jika tak ada nazir, maka peneriman ikrar wakaf dila kukan oleh hakim. disarikan dari Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

REPUBLIKA, Jumat, 09 Oktober 2009 pukul 01:46:00

Mari Berwakaf Uang

Dulu wakaf uang diperdebatkan, kini tidak lagi.

Wakaf bukanlah istilah baru bagi umat Islam di Tanah Air. Sejak dulu, umat Islam yang kaya biasa mewakafkan tanah dan bangunan yang mereka miliki untuk digunakan di jalan Allah. Mungkinkah setiap Muslim bisa berwakaf tanpa harus menunggu menjadi kaya?

Jawabannya, bisa. Sejak 2002, para ulama di Indonesia mulai mengenalkan wakaf uang yang memungkinkan setiap Muslim bisa mewakafkan uang mereka. Lalu sejak kapan wakaf uang mulai diterapkan di dunia Islam? Sejatinya, wakaf uang memang belum dikenal di zaman Rasulullah. Wakaf uang (cash waqf) baru dipraktikkan sejak awal abad kedua hijriyah.

Imam Az-Zuhri (wafat 124 H) merupakan salah seorang ulama terkemuka dan peletak dasar tadwin al-hadits memfatwakan, dianjurkan wakaf dinar dan dirham untuk pembangunan sarana dakwah, sosial, dan pendidikan umat Islam.

Ketua Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI), Prof KH Tholhah Hasan, mengungkapkan, dalam sejarah perwakafan di negara-negara Islam, pada zaman kepemimpinan Salahudin Al-Ayyubi, di Mesir sudah berkembang wakaf uang. Hasilnya, digunakan untuk membiayai pembangunan negara serta membangun masjid, sekolah, rumah sakit serta tempat-tempat penginapan.

’’Sebelumnya juga, Nurudin Az-Zangki yang berkuasa di Suriah juga menggunakan wakaf uang untuk memberdayakan umat,’’ ungkap Kiai Tholhah. Wakaf uang semakin popular pada era kekuasaan Kekhalifahan Turki Usmani. Pada zaman itu, wakaf uang telah menjadi bagaian dari kehidupan umat Islam.

Bersumber dari dana wakaf uang itulah, pemeritah Turki Usmani mendirikan rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah dan lain sebagainya. ‘’Di Indonesia, wakaf uang memang kurang popular, karena sebagian besar umat Islam Indonesia bermazhab Syafi’i,’’ tuturnya.

Pada April 2002, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan fatwa yang membolehkan wakaf uang. Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin, mengatakan, wakaf uang adalah sesuatu yang memiliki nilai yang diwakafkan untuk kepentingan masyarakat. ”Dulu, wakaf uang diperdebatkan tapi kini tidak lagi. Yang penting, ‘ain-nya (benda)-nya tidak berkurang dan nilainya tetap, bisa dipertahankan,” ungkapnya.

Menurut tokoh Nahdlatul Ulama ini, uang yang diwakafkan, terlepas kepemilikannya dari pemiliknya. Artinya, uang itu sudah menjadi milik Allah SWT dan masyarakat. Sehingga, ahli warisnya tidak berhak lagi untuk menguasai uang tersebut.

Lantas siapa saja yang bisa mewakafkan uang? Menurut dia, siapa saja bisa mewakafkan uangnya. Dengan catatan uang tersebut adalah miliknya sendiri, bukan milik orang lain. ”Uang yang diwakafkan haruslah uang yang didapat dari cara yang halal. Jangan hasil mencuri atau korupsi,” ujarnya menegaskan.

Kiai Ma’ruf menambahkan tak ada batas minimal atau maksimal besaran wakaf uang. Yang terpenting, papar Kiai Ma’ruf, uang itu miliknya sendiri dan didapat dengan cara yang halal. Wakaf uang di Indonesia juga telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 41 tahun 2004 tentang Wakaf.

Guna mengatur masalah wakaf, Indonesia juga telah memiliki Badan Wakaf Indonesia (BWI). Lemaga independen ini dibentuk untuk memajukan dan mengembangkan perwakafan nasional. BWI telah mengatur tata cara mewakafkan uang, dengan bekerja sama dengan lima bank syariah sebagai penerima wakaf uang (PWU).

Kelima bank syariah itu antara lain; Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, Bank Muamalat, Bank DKI Syariah serta Bank Mega Syariah. Menurut Kiai Ma’ruf, selain bisa membayarkan wakaf uang kepada lembaga yang dikelola BWI, umat Islam pun bisa mewakafkan uangnya kepada lembaga-lembaga yang siap dan mampu mengelola wakaf.

”Tidak ada masalah seseorang mewakafkan uangnya kepada lembaga pendidikan, asal wakaf uang tersebut dapat dikelola dengan baik dan nilainya tidak berkurang. Lebih menarik jika setelah penyerahan wakaf uang, kepada wakif diserahkan sertifikat sebagai tanda bukti wakaf uang,” ungkapnya.

Dirjen Bimas Islam Departemen Agama, Prof Nasaruddin Umar, mengakui wakaf uang relatif baru dalam dunia Islam. ”Memang ini (wakaf uang) relatif baru di dunia perbendaharaan fikih Indonesia, karena mayoritas mazhab yang berlaku di Indonesia adalah Syafi’I,’’ ujar Rektor PTIQ itu menegaskan.

Dalam Mazhab Syafi’I, kata dia, tidak ditemukan qaul (pendapat) yang memberikan pembenaran terhadap wakaf uang. Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menambahkan, satu-satunya qaul yang bisa ditemukan dalam kitab fikih ialah qaul Abu Hanifah yang menganggap wakaf uang itu dimungkinkan.

”Organisasi Konferensi Islam (OKI) beberapa waktu lalu di Saudi Arabia sepakat memberikan legitimasi wakaf uang. Ternyata, kesepakatan ini disambut negara-negara Islam sangat positif,” jelasnya. Wakaf uang, menurutnya, memungkinkan setiap Muslim untuk berwakaf.

”Potensi wakaf uang di Indonesia sangat besar bisa melebihi dari potensi zakat yang nilainya mencapai Rp 19,3 triliun. Karena seseorang bisa mewakafkan uangnya, tanah maupun kebun atau sawahnya,” imbuh Prof Nasaruddin.

Untuk itu, sudah saatnya semua pihak bekerja sama membangun kesadaran umat Islam untuk gemar berwakaf baik dalam bentuk uang, tanah maupun benda lainnya. Karena, wakaf itu sifatnya permanen, tidak seperti zakat yang harus habis dibagikan kepada para mustahiknya.

”Wakaf justru harus tetap pokoknya dan bahkan kalau bisa bertambah. Yang dapat dimanfaatkan adalah hasil dari pengelolaan wakaf,” paparnya. Indonesia bisa meniru negara Islam yang telah berhasil mengelola dana wakaf sehingga memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat.

Prof Nasaruddin dan Kiai ma’ruf mengajak para pegawai negeri, pegawai swasta dan pekerja yang memiliki pendapatan di atas rata-rata, untuk mewakafkan uangnya. Jika dikelola dengan professional dan transparan, dana wakaf uang itu akan mampu memartabatkan umat yang masih terjerat dalam kubangan kemiskinan dan ketertinggalan. damanhuri zuhri

Fatwa Wakaf Uang

* Wakaf Uang adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai.
* Termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga.
* Wakaf uang hukumnya jawaz (boleh)
* Wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara syar’i
* Nilai pokok Wakaf Uang harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan, dan atau diwariskan.

REPUBLIKA, Jumat, 09 Oktober 2009 pukul 01:06:00

Wakaf Uang

Potensinya Sungguh Luar Biasa
Potensi wakaf uang bisa mencapai Rp 20 triliun per tahun.

Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, sesungguhnya Indonesia berpotensi menjadi salah satu kekuatan ekonomi umat di dunia. Sayangnya, potensi yang demikian besar ini, belum tergarap secara maksimal. Salah satu kekuatan umat Islam di Tanah Air itu adalah wakaf.

Kebanyakan umat Islam di Tanah Air memahami potensi wakaf hanya sekedar tanah dan bangunan alias harta tak bergerak. Padahal, wakaf harta yang bergerak, justru potensinya jauh lebih besar dan akan makin besar bila diberdayakan dengan baik. Potensi kekuatan ekonomi umat yang belum dimaksimalkan itu adalah wakaf uang.

Wakaf uang bisa diibaratkan sebagai raksasa yang tertidur. Bila kekuatan raksasa itu dibangunkan, boleh jadi wakaf uang akan menjadi salah satu andalan umat Islam. Apalagi, setiap umat Islam bisa berwakaf uang,, tanpa harus menunggu kaya.

Hanya dengan uang Rp 10 ribu sekalipun, umat Islam bisa menjadi seseorang wakif. Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), Mustafa Edwin Nasution, mengungkapkan, potensi wakaf uang di Indonesia sangat besar, bisa mencapai Rp 20 triliun per tahunnya.

Wakil ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) itu mencontohkan, jika 10 juta umat Muslim di Indonesia mewakafkan uangnya mulai dari Rp 1.000 sampai Rp. 100 ribu per bulan, minimal dana wakaf uang yang akan terkumpul selama setahun bisa mencapai Rp 2,5 triliun.

Bahkan, tutur dia, jika sekitar 20 juta umat Islam di Tanah Air mewakafkan hartanya sekitar Rp 1 juta per tahun, potensi wakaf uang bisa mencapai Rp 20 triliun. Menurut Mustafa, potensi wakaf uang itu akan bisa dicapai jika semua elemen baik pemerintah maupun lembaga swasta bergandeng tangan mengkampanyekan gerakan wakaf uang. “Semua elemen harus mendukung gerakan ini,” seru Mustafa.

Direktur Tabung Wakaf Indonesia (TWI), Zaim Saidi, mengungkapkan, potensi wakaf di Indonesia dapat mencapai sepertiga kekayaan umat Muslim. Potensi itu, menurut dia, diukur dari anjuran Rasulullah untuk berwakaf sebesar sepertiga harta yang dimiliki. “Jadi potensinya memang sangat luar biasa,” tutur Zaim.

Menurut Zaim, dalam masyarakat Muslim dikenal tiga jenis wakaf. Jenis yang pertama adalah yang dilakukan oleh seseorang untuk kepentingan umum (wakaf khaeri) atau yang dilakukan oleh seseorang lainnya demi sanak dan kerabatnya (wakaf ahli), dan ketiga, sebagaimana yang dilakukan oleh Bani Najjar yang membangun masjid secara bergotong-royong oleh banyak orang untuk kepentingan lebih banyak orang lagi (wakaf syuyu’i).

“Wakaf Syuyu’i inilah yang kemudian diartikan sebagai wakaf uang,” ungkapnya. Wakaf uang memiliki kelebihan tersendiri. Menurut Mustafa, setiap umat Islam bisa berwakaf uang, tanpa harus menunggu menjadi orang kaya yang memiliki lahan dan bangunan.

Setiap Muslim yang mewakafkan uangnya sebesar Rp 1 juta, sudah bisa mengantongi Sertifikat Wakaf Uang. Selain itu, umat Islam yang tinggal di kota manapun dapat dengan mudah mewakafkan uangnya melalui lembaga keuangan syariah (LKS) atau bank syariah penerima wakaf uang.

Saat ini, ada lima bank syariah yang telah ditunjuk Menteri Agama sebagai penerima wakaf uang, yakni Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, Bank Muamalat, Bank DKI Syariah dan Bank Mega Syariah. Program ini disebut BWI sebagai penghimpunan pola umum general cash waqf.

Dana wakaf yang dikumpulkan melalui kantor-kantor layanan bank syariah tersebut, kemudian akan dikumpulkan dalam satu rekening investasi sebagai bentuk pool of fund. Dana itu, untuk selanjutnya akan diinvestasikan dalam proyek harta wakaf yang sesuai dengan kriteria investasi.

Selain itu, BWI juga menerapakan penghimpunan pola khusus (special cash waqf. Pola ini dilakukan secara khusus, yakni terkait pada proyek investasi yang akan dilaksanakan BWI atau terkait pada aspek peruntukan harta wakaf. Misalnya, proyek pemberdayaan ekonomi masyarakat atau masalah sosial di sebuah tempat.

Kelebihan wakaf uang, papar Mustafa, dana yang diwakafkan tak berkurang sepeser pun jumlahnya. Justru, dana itu akan berkembang melalui investasi yang dijamin aman. Tentunya, kata dia, dengan pengelolaan secara amanah, yakni bertanggung jawab, profesional dan transparan.

Nantinya, sekitar 90 persen keuntungan dari investasi yang sesuai dengan syariah itu akan digunakan untuk memberdayakan umat (mauquf ‘alaih). Keuntungan hasil investasi wakaf uang itu bisa digunanakan untuk membiayai sector pendidikan, kesehatan, pembinaan sosial, pengembangan ekonomi umat dan dakwah Islamiyah.

Yang tak kalah penting, wakaf uang bisa menjadi salah satu investasi akhirat bagi umat Islam. Dengan manfaat yang berlipat, wakaf uang akan menjadi pahala yang terus mengalir kepada wakif, meskipun sudah meninggal dunia. Akankah pilar ekonomi umat itu dibangkitkan atau tetap tertidur seperti sekarang? Semua tergantung kepada umat.  heri ruslan/c81

REPUBLIKA, Jumat, 09 Oktober 2009 pukul 01:05:00

WakafUangGayaHidup

Ketika Wakaf  Uang Menjadi Gaya Hidup

Warga Qatar sudah menganggap wakaf uang itu sebagai gaya hidup dan budaya.

Indonesia dikenal sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di seantero jagad. Namun, dalam banyak hal, umat Islam Indonesia kerap kali jauh tertinggal dibanding negara-negara Muslim lainnya. Salah satunya, Indonesia tertinggal dalam pengelolaan wakaf. Padahal, potensi wakaf di negeri ini sungguh luar biasa.

”Kita agak terlambat dalam mengembangkan potensi wakafnya,” ungkap Ketua Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI), Prof KH Tholhah Hasan.  Negara-negara lain telah mengembangkan wakaf uang sejak lama. Tak hanya itu, di beberapa negara Islam, wakaf uang telah menjadi bagian dari gaya hidup.

Umat Islam di negeri ini tampaknya memang harus belajar dari negara lain yang telah sukses mengembangkan wakaf uang.  Di Mesir, misalnya, Universitas Al-Azhar mampu menjalankan aktivitasnya secara mandiri dengan menggunakan dana wakaf. Universitas itumengelola gudang atau perusahaan di Terusan Suez.

Selaku nazir, atau pengelola wakaf,  Universitas Al-Azhar  hanya mengambil hasil dari investasi wakaf uang untuk keperluan pendidikan. Pengelolaan wakaf uang yang sangat  profesional yang dikembangkan Universitas Al-Azhar ahkan sanggup menalangi operasional pemerintah negeri piramida itu.

Dikabarkan pemerintah Mesir sempat meminjam dana wakaf Al-Azhar untuk operasionalnya. Al-Azhar juga sanggup mendatangkan para mahasiswa Muslim dari berbagai penjuru dunia dengan beasiswa yang dihasilkan dari pengelolaan wakaf. Selain Al-Azhar, Universitas Zaituniyyah di Tunis, serta Madaris Imam Lisesi di Turki mampu bertahan berkat pengelolaan wakaf tunai yang profesional.

Negara Muslim lainnya yang telah mengembangkan pengelolaan wakaf secara profesional adalah Qatar dan Kuwait. Di kedua negara itu, dana wakaf tunai sudah berbentuk bangunan perkantoran.  Areal tersebut disewakan dan hasilnya digunakan untuk kegiatan umat Islam.

”Bahkan warga Qatar sudah menganggap wakaf uang itu sebagai gaya hidup dan budaya,” ujar Wakil Ketua BWI, Mustafa Edwin Nasution. Di Qatar, tutur dia, sudah tersedia mesin anjungan tunai mandiri (ATM) khusus untuk berwakaf uang. Gerakan wakaf uang itu didukung sepenuhnya oleh pemerintah.
“Jadi, ATM di sana bukan hanya untuk mengambil uang saja. Namun ada juga ATM khusus wakaf uang,” papar Mustafa.

Sementara itu, seperti halnya di Qatar, orang-orang di Kuwait juga melakukan hal yang sama yaitu memberikan wakaf uang kepada lembaga wakaf yang ada di negara tersebut. “Bahkan, hasil wakaf uang dari Kuwait bisa dirasakan di Indonesia, yaitu banyaknya pembangunan masjid di berbagai wialayah di Indonesia merupakan bantuan dari wakaf uang negara Kuwait,” kata Mustafa menandaskan.

Bahkan, di Kuwait pengelolaan wakaf telah ditangani sebuah kementerian. Kementerian Wakaf Kuwait pun melakukan penertiban semua manajemen wakaf yang ada di negera itu. Pada 1993, kementrian wakaf di negeri petro dolar itu membentuk semacam persekutuan wakaf untuk menanggung semua beban wakaf, baik itu wakaf lama maupun mendorong terbentuknya wakaf baru.

Kuwait kerap kali memberikan bantuan dana untuk pembangunan masjid di Indonesia. Semua dananya berasal dari keuntungan pengelolaan wakaf uang. Kuwait Public Waqf Foundation (al-Amanah al-Aamah li al-Awqaf) menempatkan perwakafan sebagai instrumen ekonomi dan jaminan sosial.

Penerima wakaf dari masyarakat dilakukan dengan cara yang mudah, di antaranya melalui Mobil Banking, Short Massege Service (SMS) dan kios wakaf, lalu dikelola secara profesional melalui beberapa sektor pengembangan ekonomi.

Pengelolaan wakaf  yang profesional juga terjadi di negara jiran, Singapura. Sejatinya, Singapura bukanlah negeri berpenduduk mayoritas  Muslim minoritas. Namun, umat Islam di negara itu berhasil membangun harta wakaf secara inovatif.  WARESS Investment Pte Ltd,  telah berhasil mengurus dan membangun harta wakaf secara profesional, di antaranya, membangun apartement 12 tingkat dan berhasil membangun proyek perumahan mewah yang diberi nama The Chancery Residence.

Selain itu, di Singapura, badan wakafnya telah membangun  business centerBusiness center itu kemudian disewakan untuk para pengusaha di negara tersebut. Keuntungan dari penyewaan itu masuk ke kas wakaf untuk dikelola lagi. Jika ada niat dan kemauan, umat Islam di Indonesia pun sesungguhnya bisa melakukan hal yang sama, bahkan lebih hebat lagi. N heri ruslan

REPUBLIKA, Jumat, 09 Oktober 2009 pukul 01:48:00

Keluarga Sakinah

Membina Keluarga Sakinah
Hendaklah rumah kita dihiasi dengn bacaan Alquran setiap hari.

Pasca-Idul Fitri 1 Syawal 1430 H, Majelis Taklim Al-Muwahhidin, Kampung Pemagarsari, Parung, Bogor, Jawa Barat, kembali menggelar pengajian pekanan. Pengajian saban Ahad pagi yang biasa bertempat di majelis taklim yang beralamat di Jl Setia Damai I RT 01/I Kampung Pemagarsari itu, kali ini bertempat di kediaman salah seorang anggota pengajian, Hj Lilis Kusmiati-HM Rasyid Yakub MH, Sabtu (3/10) pagi.

Keluarga ini sengaja mengundang jamaah MT Almuwahhidin untuk pembacaan Yasinan, Barzanjidan doa bersama sebelum acara siramandan seserahanatas pernikahan putri sulung mereka, Sina Dewi dengan Ridwan Fachryzal Taufik, yang berlangsung Ahad (4/10).

Dalam kesempatan itu Imam Besar Masjid Riyadlush Shalihin Parung Bogor, H Muhammad Sadeli Umar memberikan tausiyah kepada calon pengantin baru maupun seluruh jamaah majelis taklim. Ia menegaskan, setan tidak henti-hentinya menggoda umat manusia, dengan berbagai cara. “Rasul mengatakan, ‘Apabila seorang hamba melaksanakan nikah, maka setan ter kejut.’

Kenapa? ‘Karena mereka tidak bisa menggoda anak Adam,” tuturnya. Muhammad Sadeli mengingatkan, akad nikah merupakan sesuatu yang sakral. “Rasul menegaskan, akad nikah harus kita pelihara dengan baik, harus kita lestarikan,” tandas mantan Kepala KUA di wilayah Kabupaten Bogor itu.

Muhammad Sadeli memaparkan, untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah(tenteram), mawaddah(penuh kasih) dan rahmah(sayang), harus memenuhi beberapa persyaratan. Pertama, rumah tangga itu didukung oleh ekonomi yang mapan. “Artinya, ketika menikah, seorang laki-laki harus sudah punya mata pencaharian yang tetap atau sudah mempunyai bekal hidup,” ujarnya.
Kedua, yang paling penting adalah kaya dengan nilai-nilai keagamaan. Nabi Muhammad SAW mengatakan, wanita dinikahi karena empat hal: kecantikannya, keturunannya, hartanya, dan agamanya. “Kalau keempat hal tersebut terpenuhi, maka laki-laki yang menjadi suaminya harus betul-betul bersyukur kepada Allah. Kalaupun tidak terpenuhi semuanya, maka pilihlah yang baik agamanya,” paparnya.

Salah satu hal yang penting di dalam rumah tangga Muslim adalah alunan ayat-ayat Alquran. “Hendaklah rumah kita dihiasi dengn bacaan Alquran setiap hari. Rumah yang para penghuninya istiqamahmembaca Alquran, niscaya akan dihiasi ketentraman,” kata Muhammad Sadeli. dam

REPUBLIKA, Jumat, 09 Oktober 2009 pukul 01:39:00

Keluarga Sakinah

Keluarga Sakinah, Keluarga Idaman

DIRASAH

JUMAT, 9 OKTOBER 2009 DIRASAH Keluarga sakinah akan tercapai jika hubungan antara suami-isteri didasarkan pada saling membutuhkan, laiknya pakaian dan yang memakainya Setiap orang yang membina rumah tangga pasti mengidamkan kebahagiaan hidup. Alquran menunjukkan bahwa tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk meraih ketentraman (sakinah) dalam ikatan cinta dan kasih sayang yang timbal-balik antara seorang suami dengan isteri.

Membangun keluarga yang sakinah bukanlah persoalan yang mudah, namun bisa diwujudkan pasangan suami-isteri. Tingginya angka perceraian di Tanah Air membuktikan betapa banyak mereka yang berumah tangga, namun gagal mencapai keluarga yang sakinah, keluarga impian.

Pakar Tafsir Alquran, M Quraish Shihab dalam bukunya yang sangat populer bertajuk Wawasan Alquran menyatakan, sakinah berakar dari kata sakanayang berarti diam atau tenangnya sesuatu setelah bergolak. Istilah sakinah, seakar dengan sakanu yakni tempat tinggal.

“Jadi, sakinah digunakan untuk merujuk pada tempat berlabuhnya setiap anggota keluarga dalam suasana yang nyaman dan tenang, sehingga pernikahan pun menjadi lahan subur untuk tumbuhnya cinta kasih ( mawaddah wa rahmah) di antara anggota keluarga.

Dalam surat ar-Rum ayat 21 Allah SWT berfirman, “Dan di antara tandatanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

Guru Besar Psikologi Islam, Achmad Mubarok dalam bukunya Psikologi Keluarga mengungkapkan, nama sa kinah diambil dari litaskunu illaiha yang artinya bahwa Allah menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tenteram terhadap yang lain.

“Jadi keluarga sakinah adalah kon disi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga dan yang ideal biasa nya jarang terjadi, oleh karena itu ia tidak terjadi mendadak, tapi perlu ditopang pilar-pilar yang kokoh serta memerlukan perjuangan serta butuh waktu serta pengorbanan,” papar Prof Mubarok.

Menurutnya, keluarga sakinah me rupakan subsistem dari sistem sosial menurut Alquran, bukan bangunan yang berdiri di atas lahan kosong. Bagaimana caranya agar sebuah ikatan pernikahan menjelma menjadi sebuah keluarga yang sakinah? Pertama, apabila keluarga itu dihiasi dengan mawaddah dan rahmah.

“Mawaddah adalah jenis cinta yang membara yang menggebu-gebu dan “nggemesi,” sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan siap melindungi kepada yang dicintai. Mawaddah saja kurang menjamin kelangsungan rumah tangga, sebaliknya, rahmah , lama kelamaan menumbuhkan mawaddah,” papar guru besar UIN Jakarta itu.

Kedua, keluarga sakinah akan tercapai apabila hubungan antara sua miisteri didasarkan pada saling mem butuhkan, laiknya pakaian dan yang mema kainya. “… Mereka adalah pakaian ba gimu, dan kamu adalah pa kaian bagi mereka.” (QS: Albaqa rah:187).

Menurut Prof Mubarok, hu bungan suamiisteri perlu meniru fung si pa kaian sebagai, penutup aurat, melindungi dari panas dan di ngin serta perhiasan. “Isteri harus tampil membanggak an suami dan suami juga harus tam pil membanggakan isterinya,” im buh Prof Mubarok. Ketiga, suamiis teri dalam bergaul harus mem perha ti kan hal-hal yang secara sosial diang gap patut ( ma’ruf), tak asal benar dan hak.

Menurut hadis nabi, ada lima pilar keluarga sakinah, yakni; memiliki kecenderungan kepada agama, yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda, sederhana dalam berbelanja, santun dalam ber gaul, serta selalu introspeksi. Prof Zaitunah Subhan dalam bu kunya bertajuk Menggagas Fiqh Pemberdayaan Perempuan mengungkapkan, keluarga sakinah sesungguhnya bukanlah “model malaikat” dalam arti tidak mungkin bagi manusia untuk me wujudkannya.

Ada beberapa hal pen ting yang harus diperhatikan un tuk menciptakan keluarga yang sakinah.
Pertama, perhatikan pendidikan dan perolehan pengetahuan, baik formal, informal dan nonformal. Kedua, ciptakan keluarga dengan penuh saling pengertian di antara anggota keluarga. Ketiga tumbuhkan suasana ke adilan, kesetaraan dan kemitrasejajaran. Keempat jauhkan dari sikap mau menang sendiri. Kelima, jauhkan dari sikap menyerah sebelum berusaha. Keenam, kembangkan potensi perempuan baik posisinya sebagai anak, remaja, ibu si anak maupun isteri.

Sementara itu, Pembina Yayasan Mahasina Pondok Gede, Badriyah Fayumi, menekankan beberapa prinsip dasar keluarga sakinah. Pertama, sua mi dan isteri saling memahami keku rangan pasangan. “Kedua, membangun mahligai keluarga harus di dasari oleh nawaitu(niat) karena Allah SWT,” papar aktivis wanita Mus limah itu. Kedua hal itulah, se mestinya menjadi pegangan. heri ruslan/yusuf assidiq

REPUBLIKA, Jumat, 09 Oktober 2009 pukul 01:32:00

Al-Khansa

Ibu Para Syuhada
Mujahidah

Pada masa Jahiliyah tersebutlah seorang penyair wanita ulung bernama al-Khansa. Syair-syairnya begitu memikat. Simaklah syiar ratapan terbaik yang pernah diciptakannya , sesaat setelah kematian saudaranya yang bernama  Shakr:

“Air mataku terus bercucuran dan tak pernah mau membeku
ketahuilah… mataku menangis
karena kepergian Sakhr, sang dermawan
ketahuilah… mataku menangis
karena kepergian sang gagah berani
ketahuilah… mataku menangis
karena kepergian pemuda yang agung”

Al-Khansa bernama Tamadhar binti Amru bin al-Haris bin asy-Syarid. Cahaya Islam yang ditebarkan Rasulullah di Jazirah Arab telah mengetuk pintu kesadarannya. Bersama beberapa orang dari kaumnya, sang penyair menghadap Rasulullah SAW. Ia menyatakan keislamannya dan bertekad membangun aqidah tauhid.

Sang penyair pun menjadi seorang Muslimah yang baik. Ia pun menjadi salah seorang Muslimah teladan sekaligus  figur yang cemerlang dalam keberanian dan kemuliaan diri. Al-Khansa menjadi teladan mulia bagi para ibu Muslimah.

Suatu ketika Rasulullah SAW memintanya bersyair. Pemimpin terbaik sepanjang zaman itu mengagumi bait-bait syair al-Khansa’. Ketika al-Khansa sedang bersyair, Rasulullah SAW berkata, “Aduhai, wahai Khansa, hariku terasa indah dengan syairmu.”

Suatu ketika Adi bin Hatim dan saudarinya, Safanah binti Hatim datang ke Madinah dan menghadap Rasulullah SAW, mereka berkata, “Ya Rasuluilah, dalam golongan kami ada orang yang paling pandai dalam bersyair dan orang yang paling pemurah hati, serta  orang yang paling pandai berkuda.”

Rasulullah SAW bersabda, “Siapakah mereka itu. Sebutkanlah namanya.” Adi menjawab, “Adapun yang paling pandai bersyair adalah Umru’ul Qais bin Hujr, dan orang yang paling pemurah hati adalah Hatim Ath-Tha’i, ayahku. Dan yang paling pandai berkuda adalah Amru bin Ma’dikariba.”

Rasulullah SAW berkata, “Apa yang telah engkau katakan itu salah, wahai Adi. Orang yang paling pandai bersyair adalah Al-Khansa binti Amru, dan orang yang paling murah hati adalah Muhammad Rasulullah SAW, dan orang yang paling pandai berkuda adalah Ali bin Abi Thalib.”

Al-Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Aziz As Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak lelaki. Dan melalui pembinaan dan pendidikan di bawah naungannya, keempat anak lelakinya ini telah menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang terkenal. Al-Khansa sendiri terkenal sebagai ibu dari para syuhada.

Ia adalah seorang ibu yang tegar. Al-Khansa telah berhasil mendidik keempat anaknya. Kelak keempat anak lelakinya gugur syahid di medan Qadisiyah. Sebelum peperangan dimulai, terjadilah perdebatan yang sengit di rumah al-Khansa.

Keempat anaknya itu ingin turut berperang melawan tentara Persia. Mereka saling berdebat menentukan siapa yang harus tinggal di rumah mendampingi sang bunda. Perdebatan itu akhirnya sampai di telinga al-Khansa.

Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab RA, al-Khansa akhirnya berangkat bersama keempat putranya untuk menyertai pasukan tersebut.

Di medan peperangan, sesaat dua para pasukan siap berperang, al-Khansa mengumpulkan keempat putranya. Ia  memberikan petuah, bimbingan serta mengobarkan semangat jihad fi sabilillah dan buah hatinya tetap istiqamah berperang di jalan Allah dan mengharapkan syahid.

Dengan penuh ketegaran al-Khansa bertutur,” “Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah masuk Islam dengan ketaatan dan tanpa paksaan, kalian telah berhijrah dengan sukarela dan Demi Allah, tiada Illah selain Dia.”  Ia lalu melepas anak-anaknya dengan penuh haru dan ikhlas.

Hingga akhirnya, berita syahidnya empat bersaudara itu sampai di telinganya. Kesabaran dan keikhlasan tak membuatnya sedih ketika mendengar kabar itu. “Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya”.

Umar bin Khattab paham betul keutamaan al-Khansa dan putra-putranya. Khalifah Umar senantiasa memberikan bantuan yang menjati jatah keempat anaknya kepada al-Khansa, hingga ibu para syuhada itu wafat. Al-Khansa meninggal dunia pada masa permulaan kekhalifahan Utsman bin Affan RA, pada tahun ke-24 Hijriyah. c81

REPUBLIKA, Jumat, 09 Oktober 2009 pukul 01:30:00

Ibu dan Hak Pengasuhan Anak

Fiqih Muslimah

Hakim bisa mengabaikan pilihan anak demi masa depannya.

Tak ada satu pasangan  pun yang mengharapkan pernikahan mereka berakhir dengan perceraian. Namun, biduk rumah tangga, kerap kali berakhir dengan perceraian  sesuatu yang halal, tetapi paling dibenci Allah SWT.  Meski begitu, angka perceraian di Tanah Air  justru  menempati urutan pertama di kawasan Asia, mencapai 200 ribu kasus per tahunnya.

Perceraian kerap kali membawa konsekuensi yang sangat berat, yakni masalah anak-anak. Siapa yang berhak mengasuk anak,  ayah ataukah ibunya? Terkai masalah ini, Islam mengenal istilah hadlanah . Menurut Imam al-San’ani’  hadlanah berarti memelihara seorang anak yang belum (atau tidak) bisa mandiri, mendidik dan memeliharanya untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang bisa merusak dan mendatangkan mudharat.

Para ulama bersepakat, hak mengasuh anak yang belum akhil balig harus diutamakan kepada ibunya. Ini mengingat kaum wanita dianggap lebih memiliki jiwa keibuan, dibandingkan kaum lelaki. Ketentuan ini memiliki dasar hukum yang kuat yakni hadis Nabi SAW.

”Seorang perempuan berkata kepada Rasulullah, ”Wahai Rasulullah, anakku ini, aku yang mengandungnya, air susuku yang diminumnya, dam di bilikku tempat berkumpulmya bersamaku, ayahnya telah menceraikanku dan ingin memisahkannya dariku.”  Maka Rasulullah bersabda, ”Kamulah yang lebih berhak memeliharanya selama kamu tidak menikah.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim mensahihkannya)

Zaitunah Subhan dalam bukunya bertajuk  Menggagas Fikih Perempuan , memaknai hadis ini sebagai ketentuan hukum dalam memberikan pengasuhan anak kepada ibu. Hadis ini juga menjadi dasar ketetapan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 105 menyangkut hak pemeliharaan anak.

Meski begitu, seorang ayah juga tak lepas dari kewajiban untuk menanggung biaya pemeliharaannya. Tanggung jawab ayah tidak lantas hilang hanya karena terjadinya perceraian.  Zaitunah menggarisbawahi kelanjutan  hadis Rasulullah yang menekankan kalimat ”selama kamu tidak menikah.”

Sehingga, tutur Zaitunah, seandainya si ibu menikah kembali, hak pengasuhan bisa tak berlaku lagi.  Pemeliharaan anak pun dapat beralih kepada ayah. ”Alasannya, bila ibu menikah lagi, besar kemungkinan perhatiannya akan beralih kepada suaminya yang baru, sehingga pengasuhan yang diberikan jadi kurang maksimal,” ungakpnya.

Ibrahim Muhammad al-Jamal berpendapat, hak asuh ayah sebenarnya tidak tertutup sama sekali. Ada kalanya, ayah justru lebih arif dan lebih tahu akan kebutuhan sang anak. Jadi hal itu bisa diatur, sekalipun anak tetap berada di sisi ibunya dan tetap dalam pemeliharaannya.

Hanya saja, menurut al-Jamal, pengasuhan terhadap anak yang masih kecil, sebaiknya tetap diprioritaskan kepada ibu. ”Pada hakikatnya, wanita manapun  sama dalam cintanya kepada anak, perhatian terhadap keselamatannya serta pembelaannya terhadap bahaya yang mengancam anak,” papar  al-Jamal dalam bukunya berjudul  Fikih Wanita .

Berbeda halnya apabila sang anak sudah  mumayyiz (sudah berusia 12 tahun). Penentuan pengasuhan diserahkan kepada pilihan anak sendiri, apakah ingin bersama ayah atau ibunya.
Meski begitu, sebagian ulama berpandangan agar hakim sepatutnya tak begitu saja menyerahkan pilihan kepada anak.

Hakim pengadilan agama diminta untuk melakukan penelitian lebih dulu mana yang lebih bisa membawa maslahat bagi anak tersebut.  Jika hasil penelitian menunjukkan ibu lebih dapat dipercaya dalam memelihara anak, maka sebaiknya pengasuhan diberikan kepada ibu, atau sebaliknya.

”Dan hakim bisa mengabaikan pilihan anak demi kepentingannya di masa depan,” ungkap Imam Asy-Syaukani. Sejatinya, Islam  mengatur pemeliharaan anak sedemikian rupa, karena menginginkan yang terbaik. Anak yang terlahir ke dunia sebagai titipan Allah SWT, harus dipelihara dengan sungguh-sungguh, baik oleh orangtua maupun kerabatnya.

Sementara bagi anak yang yatim piatu dan tidak pula memiliki kerabat, pemeliharaannya menjadi tanggungan negara. Menurut al-Jamal, pemerintah akan menunjuk siapapun yang cakap untuk memeliharanya. Sesungguhnya anak adalah titipan dan amanah dari Sang Khalik yang harus dijaga dan dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Sebuah perceraian tak boleh merugikan anak-anak, yang akan menjadi penerus di masa depan. n yus/berbagai sumber

Syarat-syarat Mengasuh Anak

1. Baligh dan berakal
2. Mampu mendidik
3. Terpercaya dan berbudi luhur
4. Islam. Orang non-Muslim tidak bisa diserahi memelihara anak.
5. Tidak bersuami. Wanita yang sudah menikah lagi, maka gugurlah haknya untuk memelihara anak dari suaminya yang lama. sumber: buku  Fiqih Wanita .

REPUBLIKA, Jumat, 09 Oktober 2009 pukul 01:28:00

Hewan Bertaring

Mengonsumsi Hewan Bertaring, Bolehkah ?

Halalan Thayiban


Sebaiknya tak mengonsumsi makanan yang kotor  agar terhindar dari pengaruh buruknya.

Anda adalah apa yang Anda makan, begitu kata pepatah. Sejatinya, makanan yang dikonsumsi memiliki pengaruh besar terhadap akal dan tingkah laku seseorang, sehingga menjadi sarana penting  dalam pembentukan kepribadian. Karena itulah, Islam mengajarkan agar umatnya mengonsumsi makanan yang halal dan baik.

Dalam surat  al-Baqarah ayat 172, Allah SWT berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah  kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu  menyembah.”

Pada surat  al-Maidah ayat 3, Allah SWT berfirman,”Telah diharamkan atas kamu bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih bukan karena Allah, yang (mati) karena dicekik, yang (mati) karena dipukul, yang (mati) karena jatuh dari atas, yang (mati) karena ditanduk, yang (mati) karena dimakan oleh binatang buas kecuali yang dapat kamu sembelih dan yang disembelih untuk berhala.”

Lalu bagaimana hukumnya mengonsumsi binatang bertaring? Saleh al-Fauzan dan bukunya bertajuk  Fikih Sehari-hari, menyatakan binatang liar yang bertaring tak boleh dikonsumsi, karena haram. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW secara tegas menyatakan keharaman jenis binatang ini dalam sebuah hadis sahih.

Imam Ibnu Abdil Barr dalam  At-Tamhid dan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam  I’lamul  Muwaqqi’in kemudian merinci ketentuan tersebut.  Menurut kedua ulama, binatang haram yang dimaksudkan Rasulullah termasuk dalam istilah  dziinaab . Ini adalah binatang yang memiliki taring atau kuku tajam untuk melawanmanusia.  Termasuk di dalamnya serigala, singa, macan tutul, harimau, beruang, kera dan sejenisnya.

”Semua itu haram dimakan,”  papar kedua ulama.  Imam Ibnu Abdil Barr menambahkan beberapa jenis hewan yang termasuk pada kriteria ini, yakni gajah dan anjing. Ulama ini bahkan tidak sekadar melarang untuk mengonsumsi, melainkan juga menganjurkan agar tidak memperjualbelikan daging hewan itu sebab tidak ada manfaatnya.

Siba’ , adalah istilah lain untuk binatang yang menangkap binatang lain untuk dimakan dengan bengis. Cendekiawan Muslim Syekh Dr Yusuf al-Qardhawi lantas menggolongkannya dalam  khabaits , yakni semua yang dianggap kotor, menjijikkan dan berbahaya oleh perasaan manusia secara umum, kendati beberapa prinsip mungkin berpendapat lain.

Dengan begitu, apapun yang berkaitan dengan binatang ini hukumnya haram, tidak terkecuali hewan yang diterkam  binatang buas dan telah dimakan sebagian dagingnya. Menurut Syekh al-Qaradhawi,  tidak boleh dikonsumsi meski darahnya mengalir dan bagian lehernya yang terkena.

Adalah orang-orang Jahiliyah yang suka memakan sisa hewan piaraan yang sudah dimangsa hewan buas. Maka itu, Allah SWT segera melarang umat Islam untuk melakukan hal serupa.  Selain itu, diharamkan pula semua jenis unggas yang memiliki cakar sesuai sabda Rasulullah  Di antaranya termasuk unggas yang memakan makanan kotor dan menjijikkan seperti bangkai dan isi perut binatang. ”Burung yang berkuku ( dzi mikhlabin minath-thairi ) ialah yang kukunya bisa melukai, semisal burung elang, burung nasar, burung gagak, rajawali, dan sejenisnya,” papar Syekh al-Qardhawi.

Namun tidak bisa dipungkiri, saat ini di sebagian masyarakat masih menyimpan kepercayaan bahwa daging hewan buas mengandung khasiat bagi kesehatan. Jadilah, beberapa jenis hewan buas dan bertaring justru menjadi konsumsi favorit. Anggapan itu tentu masih bisa diperdebatkan kebenarannya.

Sebaliknya, berdasarkan penelitian medis, hewan-hewan ini memiliki penyakit yang sifatnya  zoonosis (yang dapat menular kepada manusia), yakni rabies. Menilik alasan tersebut, Islam pun melarang umat untuk mengonsumsi hewan buas dan bertaring tadi. Dan sebagai  tindak lanjutnya, papar Saleh al-Fauzan, Allah telah menghalalkan segala yang baik sebagai sarana menolong hamba-hamba-Nya dalam menaati-Nya. yusuf assidiq

REPUBLIKA, Jumat, 09 Oktober 2009 pukul 01:26:00

Studi Al-Fatih Kaaffah Nusantara
Berempat di Villa Mandala Pasir Kuda, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) menggelar Study Motivation Training (SMT) selama empat hari, Ahad-Rabu (27-30/9) yang diikuti 160 peserta. Kegiatan yang sudah berlangsung sejak AFKN ber diri itu mengusung tema ‘Kita Tingkatkan Kualitas Belajar Menuju Nuu Waar, Cerdas, Disiplin, Rapih, Teliti dan Bermartabat’.

Para peserta yang seluruhnya dari Pa -pua dan kebanyakan muallaf itu ber asal di wilayah Bintuni, Babo, Fak-fak, Serui, Biak, Wandamen, Merauke, Sorong Sela -tan, Sorong Kota, Raja Empat, Kaimana, Kali Tani, Wariyagar, Jayapura dan Wa -mena serta manokwari. Dengan penuh semangat yang dibangkitkan oleh Ketua AFKN, Ustadz Fadzlan Garamatan, para peserta trainingmengikuti dengan penuh antusias.

Acara yang padat sejak pukul 03.00 dini hari sampai pukul 22.00 WIB itu diisi dengan berbagai kegiatan ibadah seperti; Qiyamullail, zikir, muhasabah, tadarus Alquran, subuh berjamaah dan ceramah setelah Subuh. Setiap kegiatan diikuti dengan penuh semangat walaupun mereka berada di kawasan perbukitan yang udaranya cukup dingin.

Materi yang diberikan berkisar tentang kecerdasan membangun otak kiri dan otak kanan. Selain itu materi akidah dan tauhid tentang penguatan keimanan. Ketiga, materi-materi lain berupa pengenalan alam sekitar, bagaimana tampil menjadi anak cerdas. Para pemateri dan instruktur berasal dari berbagai Perguruan Tinggi di Jakarta. Di antaranya dari Universitas Indonesia (UI), Ibnu Khaldun Bogor, Indonesia Esa Unggul Jakarta dan dari IPB, yang telah memiliki ilmu pengetahuan dan pengalaman mendalam di berbagai bidang yang dikuasainya.

Muhammad Syahrun Tatuta (17 tahun) salah seorang peserta mengungkapkan rasa syukurnya karena sudah dua kali mengikuti SMT. ” Alhamdulillah di sini selain banyak mendapat ilmu juga menambah motivasi belajar. Ini semua untuk bekal di kemudian hari berdakwah di desa kami di Irian,” ungkap santri yang telah menerima beasiswa dari BRI untuk melanjutkan pendidikan program S-1 di Madinah dan Mesir tahun depan.
Ustadz Fadzlan Garamatan, Ketua AFKN mengungkapkan, SMT ini dilakukan pertama pada saat penerimaan siswa atau Mahasiswa santri baru yang masuk ke Jakarta. Kedua, dilakukan setelah masa liburan bulan puasa. Yang dilakukan kepada santri dari Irian yang baru datang ke Jakarta sebelum dilepas ke pesantren maka dibuka lebih awal pada SMT tentang metode belajar dengan alam baru, me tode menyesuaikan diri dengan wilayahwilayah baru. Maka dilakukan di tahap ini.

Sedangkan yang dilakukan sesudah Ramadhan adalah inventarisasi, evaluasi setelah pesantren Kampung Halaman Ramadhan (KHR) dilakukan sebagai pe nambahan motivasi dan semangat me nuntut ilmu pengetahuan dari anak-anak santri selama satu bulan di KHR sebelum dia kembali ke pondok digembleng kembali.

“Alhamdulillah dari tahun ke tahun kualitas anak-anak binaan AFKN semakin meningkat kemampuannya. Termasuk di hari ketiga ini Ustadz Hari Moekti datang untuk memberikan tausiah. Selain itu juga ada Syamsul Arifin Nababan dan ustadz yang lainnya.Diharapkan dengan kehadiran para ustadz dan tokoh Islam, semakin membuat anak-anak Papua yang muallaf ini lebih bersemangat untuk belajar dan menjadi yang terbaik do the best. Ini akan menghilangkan perasaan anakanak Papua bahwa dia bukan keriting, dia bukan hitam, saya hidup dengan saudarasaudara saya sebangsa.”

Ustadz Fadzlan mengungkapkan dam pak dari kegiatan SMT sangat luar biasa sehingga anak-anak bisa tenang belajar sampai ke Pondok. “Di sini kita genjot qiyamullail, shalat dluha, baca Alquran termasuk lomba ceramah dan lomba pidato dari masing-masing pe santren dan perguruan tinggi. Kegiatan ini sejak AFKN berdiri,” jelasnya menambahkan.  dam

REPUBLIKA, Jumat, 09 Oktober 2009 pukul 01:22:00

Keutamaan Mendamaikan Perselisihan

Tuntunan

Umat berkewajiban mengedepankan rekonsiliasi.

Setiap Muslim bersaudara. Seorang Mumin dengan Mumin yang lain, bagaikan suatu   bangunan yang satu mengukuhkan yang lainnya.  Ajaran Nabi Muhammad SAW seperti tertera dalam sebuah hadis muttafaq ‘alaih itu mengingatkan pentingnya persatuan dan persaudaraan di antara umat Islam.

Dalam kehidupan sehari-hari, ajaran Rasulullah SAW itu kerap terlupakan. Perselisihan dan sengketa antara sesama umat Islam masih kerap terjadi. Tingkatannya mulai dari yang ringan dan bisa diselesaikan dengan mudah, hingga yang berpotensi menimbulkan kekerasan atau balas dendam.

Padahal,  Rasulullah SAW  begitu menekankan pentingnya aspek persaudaraan dalam masyarakat Muslim. Nabi Muhammad SAW selalu menghendaki agar  kehidupan umatnya  dipenuhi dengan harmoni, kesucian dan saling memahami.

”Rasulullah SAW  tak pernah bosan menganjurkan umatnya baik melalui ucapan maupun perbuatan untuk menjadi baik, ramah serta toleran,” jelas Dr Muhammad Ali al-Hasyimi, dalam bukunya bertajuk <I>It’s My Life, Hidup Saleh dengan Nilai Spiritual Islam.<I>

Menurut al-Hasyimi, tuntunan itu merupakan bagian dari usaha Rasulullah untuk memerhatikan kesejahteraan dan melindungi Muslim dari bahaya.  Rasulullah SAW menganjurkan agar umatnya segera mendamaikan saudaranya yang berselisih. Karena itulah. mendamaikan perselisihan merupakan salah satu perintah utama agama Islam.

Di tengah kesibukan dakwahnya, Nabi SAW senantiasa berupaya mendamaikan kelompok-kelompok yang bertikai. Dengan tindakan itu, Nabi ingin menegaskan bahwa Muslim berkewajiban mengedepankan rekonsiliasi. Alkisah, pernah suatu ketika, Rasulullah mendengar ada beberapa orang di antara Banu Amr ibnu Auf yang berselisih.

Segera saja Nabi SAW pergi bersama beberapa sahabat pergi untuk mencari solusi yang terbaik. Mendamaikan orang atau kelompok yang berselisih sangat dianjurkan. Alquran – pedoman hidup Manusia – menjelaskan keutamaan yang akan diperoleh oleh orang-orang yang mengedepankan rekonsiliasi untuk mengakhiri perselisihan.

Dalam surat <I>al-Hujurat<I> ayat 10 Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Sejatinya, saling bertikai hanya akan melemahkan umat. Dari kekhawatiran itulah, Imam al- Ghazali lantas memosisikan upaya mendamaikan selisih ke dalam salah satu dari 22 perkara hak seorang Muslim terhadap Muslim lainnya.

”Di mana ada peluang, damaikanlah perselisihan paham di antara kaum Muslimin,” ujar Imam Ghazali menegaskan.  Lalu bagaimana caranya? Seperti dijelaskan Rasulullah SAW, pada tahap awal dapat dilakukan dengan mengucapkan banyak hal, salah satunya, dengan memberikan harapan kepada kelompok yang bertikai dan melembutkan hati mereka.

Dr Muhammad Ali al-Hasyimi memaknai perkataan-perkataan itu bukan termasuk jenis kebohongan yang haram. Dan orang yang mengucapkannya pun tidak dianggap sebagai pembohong dan seorang pendusta.

Syeikh Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily mengungkapkan beberapa hal yang perlu dilakukan seorang Muslim dalam usaha meredam serta mendamaikan sengketa antarumat Islam. Menurut dia, jika perselisihan terjadi pada lingkup ilmiah, perlu bagi seorang Muslim mempelajari dalil-dalilnya dan mengetahui pendapat ulama terhadap masalah ini.  Sehingga, bisa mengambil sikap yang jelas dan tegas.

Selain itu, tidaklah dianjurkan untuk melakukan tindakan atau berkata yang bisa memperkeruh persoalan. ”Jadi, dia perlu memahami masalahnya dulu serta meneliti setiap perbuatan dan perkataannya,” papar Syeikh Ibrahim.  Hanya saja, kata dia, akan lebih baik jika sedari awal perselisihan dapat dihindari. Kunci utama untuk menghidari perselisihan,  ungkap Nabi SAW,  adalah dengan tidak berdusta, tidak membuat gurauan yang keterlaluan, serta jangan berjanji yang kemudian diingkari.

Gurauan yang menyakitkan dapat menimbulkan kebencian dan hilangnya rasa hormat. Mengingkari janji hanya akan menghancurkan orang. Dan, seorang Muslim sejati tak akan melakukan semua itu. Rasulullah SAW  tak suka dengan umat Islam yang saling berselisih.”…Janganlah kalian berselisih, karena sesungguhnya orang sebelum kalian telah berselisih, hingga mereka binasa,” sabda Rasulullah dalam sebuah hadis Sahih Bukhari.  yusuf asiddiq

REPUBLIKA, Jumat, 09 Oktober 2009 pukul 01:19:00

Kehidupan Keseharian Seorang Muslim
Rehal

Seorang Muslim yang saleh selalu berusaha menjaga seluruh waktunya dan mengisinya dengan segala kebaikan. Ia selalu mencari format waktu yang paling pas untuk mengatur waktunya agar sarat  manfaat, tanpa harus mengenyampingkan nilai-nilai ibadah yang mesti diprioritaskan.

Berbicara mengenai pentingnya menjaga waktu dan mengisinya dengan kebaikan, maka contoh terbaik adalah Rasulullah SAW dan para sahabat Beliau. Mereka telah menyuguhkan konsep dan praktik yang paripurna dalam mengatur waktu.

Rasulullah menegaskan bahwa seluruh kehidupan keseharian seorang Muslim itu baik adanya. “Barangsiapa yang bersungguh-sungguh mencari kebaikan, niscaya ia akan diberikan dan barangsiapa yang menjauh dari keburukan, niscaya ia dijauhkan.” (HR Khatib, dari Abu Hurairah).

Buku ini menyajikan  berbagai amalan harian Rasulullah SAW dan para sahabat, dari pagi hingga petang dan dari petang hingga pagi lagi. Pendek kata, buku ini adalah referensi lengkap  yang memaparkan perjalanan hidup  seorang Muslim selama 24 jam  penuh yang sarat dengan  amal ibadah. Penulis memulai  bukunya dengan bab mengawali hari, disusul shalat malam dan doa. Lalu, bab menanti adzan Shubuh, bepergian ke masjid, dan zikir.

Setelah itu, bab di atas meja makan, bab sebelum keluar untuk bekerja, ketika hendak bekerja, dan ibadah seorang Muslim di luar rumah. Kemudian, bab dari Zhuhur sampai Maghrib, ketika adzan Maghrib dikumandangkan, ketika adzan Isya telah dikumandangkan, dan shalat Tahajud dan shalat Witir. Buku yang layak menjadi referensi setiap Muslim ini ditutup dengan bab mengenai permasalahan fiqih yang berkaitan dengan shalat sunnah.  ika

Judul buku: Ensiklopedi Amalan Muslim
Penulis: Syaikh Muhammad Thoriq Muhammad Shalih
Penerbit: Pustaka As-Sunnah
Cetakan: II, 2009
Tebal: 464 hlm

Tinta Emas Peradaban Islam

Salah satu peninggalan peradaban Islam yang gemilang adalah pemikiran. Peradaban Islam telah memberikan sumbangan  besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pemikiran di dunia.
Buku ini memuat kisah hidup dan sumbangsih yang diberikan oleh 12 tokoh yang telah menggoreskan Islam dengan tinta emas. Mereka adalah  Ibnu Sina, Jabir bin Hayyan, al-Kindi, Ibnu Khaldun, Abu Raihan al-Biruni, Muhammad Jarir at-Thabari, Abu Bakar ar-Razi, al-Hasan bin Haitsam, Ibnu Nafis, Sarif al-Idrisi, al-Farabi, dan Muhammad bin Musa al-Khawarizmi.

Mereka, para tokoh yang mengubah dunia itu hidupnya berkah karena mewariskan  manfaat yang membuat kehidupan umat manusia menjadi lebih baik, dalam berbagai sisi kehidupan, baik kedokteran, sosial, sains, astronomi dan lain-lain.

Yang unik dari para cendekiawan Muslim adalah mereka tidak hanya ahli di bidang  yang mereka tekuni saja. Mereka menguasai berbagai disiplin ilmu. Mereka adalah para ulama sekaligus ilmuwan.  Contohnya Ibnu Sina. Selama hidupnya, ia telah menghaislkan sekitar 130 karya, yang terdiri dari buku, makalah, dan beberapa bait syair. Kesemuanya berbicara tentang berbagai  bidang ilmu pengetahuan, baik kedokteran, filsafat, ilmu logika, matematika, astronomi, biologi, sastra, dan lain-lain.

Kemampuan dan pengetahuan Ibnu Sina dalam bidang filsafat, logika dan psikologi tidak kalah dengan kemampuannya dalam ilmu kedokteran. (hlm 28).Buku ini sangat penting dibaca oleh setiap Muslim, agar kita menyadari, menghargai, bangga dan terinspirasi dengan kekayaan dan kecemerlangan para intelektual Muslim yang tak henti berpikir dan menghasilkan karya yang bisa mengubah dunia.  ika

Judul buku: 12 Tokoh Pengubah Dunia
Penulis: Khalid Haddad
Penerbit: Gema Insani
Cetakan: I, 2009
Tebal: 252 hlm

REPUBLIKA, Jumat, 09 Oktober 2009 pukul 01:16:00

Keteladanan Wanita-wanita Terbaik
Rehal

Ke manakah para wanita Muslimah harus mencari teladan untuk menjadi seorang istri yang baik? Ke manakah lagi kalau bukan kepada para istri Rasulullah SAW atau biasa dipanggil <I>Ummul Mukminin . Mereka adalah wanita-wanita terbaik yang layak dan memang seharusnya dijadikan teladan oleh setiap Muslimah. Baik dalam menjalankan perannya sebagai seorang istri, seorang ibu, seorang pejuang dien Allah yang mulia, maupun sebagai anggota masyarakat.

Dalam buku ini ditegaskan, para istri Rasulullah SAW merupakan figur panutan dan menginspirasi siapa pun yang merindukan sosok Muslimah teladan. Mereka tidak hanya sekadar seorang istri dan ibu yang hanya bisa tinggal di rumah saja dan mengurus ‘urusan dalam negeri’ rumah tangga. Mereka pun terjun ke lapangan demi menegakkan syiar Islam.

“Sejarah telah mencatat  bagaimana peran Ummul Mukminin, termasuk para sahabiyah, dalam dakwah Islam. Mereka berjuang bersama-sama Rasulullah SAW dan para sahabatnya melakukan aktivitas dan perjuangan politik tanpa meninggalkan tugas utama mereka sebagai ibu dan pengelola rumah tangga ( ummu wa rabbatul bait ).” (hlm 12).

Para istri Rasulullah SAW itu, seperti diuraikan secara gamblang dalam buku ini, masing-masing mempunyai keistimewaan yang membuat mereka layak memanggul gelar sebagai  Ummul Mukminin (ibu orang-orang beriman). Khadijah ra merupakan sosok yang mandiri, penuh percaya diri, dermawan, seorang yang lurus, dan sahabat tercinta bagi Rasulullah. Ia rela mengorbankan harta benda, bahkan jiwa raganya untuk dakwah Islam.

Saudah binti Zam’ah ra  yang dinikahi oleh Rasulullah tiga tahun setelah Khadijah ra wafat  adalah seorang wanita yang  qanaah , penuh keikhlasan dan menjadi ibu terbaik bagi keempat anak Rasulullah sepeninggal Khadijah ra.

Aisyah ra  adalah sosok wanita supercerdas, kritikus andal, sejarawan, mengetahui soal-soal pengobatan dan memiliki keteguhan hati. Ia meriwayatkan 2.210 hadis dan menjadi salah seorang dari tujuh orang Mukmin yang paling banyak meriwayatkan hadis.

Hafshah binti Umar ra adalah sosok istri yang kritis, suka memberi nasihat, “penjaga” dan penghapal Alquran. Zainab binti Khuzaimah ra adalah sosok wanita yang sangat penyayang dan melindungi orang-orang miskin dan lemah. Hinduan binti Abu Umayyah ra merupakan sosok pribadi yang ikhlas dan bijak. Zainab binti Jahsyi ra dikenal sebagai istri yang sangat rajin bersedekah. Juwairiyah binti Al Harits ra adalah wanita yang cerdas dan mampu menjaga kemuliaannya. Shafiyyah binti Huyyay ra merupakan sosok wanita yang memiliki sifat jujur dan pemaaf. Ramlah binti Abi Sufyan ra merupakan seorang wanita yang sabar dan tabah.

Adapun Maimunah binti Al Harits ra merupakan  seorang wanita yang serius dan bersungguh-sungguh, rajin menjalin silaturahim, dan seorang organisator. Mariyah binti Syam’un Al Qibthiyah ra adalah seorang wanita yang memiliki sifat lurus dan lembut. Raihanah binti Zaid ra adalah seorang wanita yang menjaga kehormatannya.

“Para Ummul Mukminin  secara  cerdas menempatkan  diri sebagai istri  Nabi, sekaligus memberikan keteladanan  bagi para Mukminah untuk menjadi wanita paling bahagia di dunia dan akhirat, wanita Mukminah yang dicintai suaminya, sekaligus dicintai Allah dan Rasul-Nya. Para Ummul Mukminin telah menempatkan dirinya sebagai belahan jiwa Nabi Muhammad SAW.” (hlm 281)
Buku ini ditutup dengan bab terakhir mengenai potret kemesraan Rasulullah SAW dengan istri-istri Beliau. Misalnya, tidur bersama dalam satu selimut, mandi bersama, membelai istri, mencium istri, tiduran di pangkuan istri, memanggil istri dengan panggilan mesra, dan membereskan tetesan darah haid istri.

Saat memberikan pengantar buku ini, Ummu Ghaida Muthamainnah (Teh Ninih) menuturkan, melalui buku ini kita dapat menafakuri, betapa besar perjuangan para istri Rasul dalam membantu mengemban amanah dakwah Rasul menegakkan kalimatullah, “Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah”. “Membaca dan merenungi isi buku ini membuat kita terharu dengan perjuangan dan pengorbanan istri-istri Rasul,” tandas Teh Ninih.

Buku ini sangat perlu dibaca oleh setiap Muslimah, baik yang belum menikah, terlebih-lebih yang sudah menikah. Dengan membaca buku ini mereka akan dapat memetik keteladanan wanita-wanita terbaik di sekitar Rasulullah sebagai inspirasi untuk menjadi istri yang salehah sekaligus menjadi wanita yang bahagia di dunia dan akhirat. n irwan kelana

Judul buku: Belahan Jiwa Muhammad Saw
Penulis: Nurul ‘Aina
Penerbit: Arkan Publishing
Cetakan: I, 2008
Tebal: xii+308 hlm

About these ads

0 Responses to “Dialog Jumat : Wakaf dan Sakinah, dll”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,000,346 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers

%d bloggers like this: