04
Oct
09

Wisata Kota : Tanjung Pinang, Bintan, Riau

KOMPAS/MARIA HARTININGSIH
Panorama di Lagoi, suatu siang. Ombak menepi pada pantai yang sepi…

Tanjung Pinang, “Itik Buruk Rupa”

KOMPAS, Minggu, 4 Oktober 2009 | 03:05 WIB

Maria Hartiningsih

Petang itu separuh kota gelap. Listrik mati. Kota Tanjung Pinang, Bintan, Kepulauan Riau, terasa muram. Kota dengan panorama memesona itu seperti ”the ugly duckling”, si itik buruk rupa, ketika berhadapan dengan negara tetangga serumpun, Singapura yang bermandi dollar dan Malaysia yang berlimpah ringgit.

Kondisi byarpet itu berlangsung lima-enam jam sehari. Tanda-tandanya sebenarnya sudah terbaca sejak tahun 2001. ”Air susah, kadang sampai seminggu,” ujar Moi (56), pekerja di toko produk hasil laut di Pelantar Dua.

Kondisi infrastruktur Tanjung Pinang memang memprihatinkan, kata Wali Kota Tanjung Pinang Suryatati A Manan. ”Bagaimana investor mau masuk?”

Kekurangan listrik menggambarkan kondisi sosial-ekonomi yang lebih luas. Meski pertumbuhannya mencapai 7,07 persen tahun 2008, dan berada di kisaran enam sampai tujuh-koma sejak tahun 2004, kondisi riilnya memberi gambaran berbeda.

”Yang belanja sikik nian. Turis tak datang, uang tak dapat,” ujar Moi. ”Dulu slip kapal enam kali sehari. Sekarang cuma satu-dua kali. Sabtu-Minggu baru empat kali.”

Penghasilan tukang becak, tukang angkut, penjual makanan, dan pedagang hasil laut menguap lebih dari 50 persen. Menurut Moi, dulu kota itu seperti tak tidur. Pedagang dari Singapura dan Malaysia mengalir. ”Sekarang mereka bilang, di sini tak bisa untuk hepi-hepi lagi. Buat apa datang hanya untuk beli teri bilis?”

Jurang melebar

Sampai tahun 2004, Kota Tanjung Pinang adalah tujuan utama wisatawan mancanegara (wisman) Singapura dan Malaysia. ”Jumlahnya lebih dari 90 persen,” ujar Abdul Kadir Ibrahim, nama lengkap Akib, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tanjung Pinang.

Bulan madu Tanjung Pinang dengan wisman Singapura tidak abadi. Jurang ekonomi yang melebar dan nilai tukar rupiah yang terus melemah membuat kota itu makin termarjinalkan dalam Segitiga Pertumbuhan Indonesia- Malaysia-Singapura (IMT-GT), proyek kerja sama yang ditandatangani tahun 1990 dan diformalisasi tahun 1994.

Teori balon yang diyakini Habibie cuma pepesan kosong. Perkembangan dramatis di Batam tak banyak berdampak bagi Bintan. Tanjung Pinang semakin tak mampu mengontrol derap dan arah pembangunan sosial-ekonominya. Aksesnya kepada pembangunan yang lebih berkelanjutan semakin sempit, juga pada bentuk-bentuk pembangunan yang secara moral bisa diterima.

Sebaliknya, daya tariknya kian kuat bagi bisnis gelap; judi, penyelundupan, perdagangan perempuan, dan wisata seks. ”Dengan 200 dollar Singapura, semua bisa dinikmati. Kota ini seperti berpesta tiap akhir pekan,” ungkap Akib.

Bisa dipahami kalau Suryatati geram. Ketika judi dan pelacuran diberangus, disusul krisis moneter global yang mengimbas Singapura, ia meluncurkan slogan ”Kota Gurindam, Negeri Pantun”, menggelorakan budaya Melayu dan menawarkan produk- produk wisata budaya.

Namun, kantong pemerintah kota tak cukup untuk melindungi dan merawat kawasan cagar budaya, seperti situs Istana Kota Rebah, yang sudah dijual ahli warisnya, dan situs Kesultanan Kerajaan Riau-Lingga di Kota Piring yang kini berisi 100 rumah tanpa izin bangunan. Padahal semua itu merupakan modal budaya. ”Dananya setahun cuma seperlima dari yang dibutuhkan,” kata Akib.

Industri wisata Tanjung Pinang terus terpuruk. Jumlah wisman turun hampir 40 persen, dari 197.537 tahun 2002 menjadi 114.615 tahun 2008. Rumor istri simpanan wisman Singapura meruyak, meski kata Akib tak mudah dibuktikan.

Batas dalam

Upaya menggapai kembali masa keemasan, Tanjung Pinang memilih pendekatan kapitalistik, dengan menyediakan apa pun yang dibutuhkan tuan-tuan investor melalui Zona Perdagangan Bebas (FTZ) Batam-Bintan-Karimun (BBK). Pemerintah Kota Tanjung Pinang, menurut Suryatati, menyediakan 2.600 hektar lahan di Dompak dan di daerah lain yang segera ditetapkan. Pelabuhannya dibangun tahun 2010.

Abidin Hasibuan, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepulauan Riau, menjamin, kalau syarat-syarat FTZ diterapkan dengan benar, artinya birokrasinya tidak rumit lagi, kawasan itu akan menjadi pusat penyediaan lapangan kerja.

Jakarta kembali menggandeng Singapura sebagai ”mentor” pembangunan FTZ-BBK. Menurut pengamat ekonomi, Barun Roy dalam Business Standard (2/10) India, ”Bantuan” Singapura untuk mengembangkan zona ekonomi khusus di BBK itu memperkuat dominasinya di kawasan itu, setelah proyek wisata terpadu IMT-GT di Lagoi, Tanjunguban, Bintan Utara. Mereka mendapat kontrak sewa-pakai 80 tahun.

Kawasan 23.000 hektar itu baru dimanfaatkan 10 persennya, dengan tujuh resor dan tiga lapangan golf berstandar internasional. Pantainya berpasir putih kemilau. Bentang daratnya seperti di Singapura: rapi, teratur, dengan hutan terpelihara, sekaligus steril. Mata uang yang berlaku, dollar.

Ketika menapak gerbangnya, terasa seperti melewati perbatasan menuju negara lain di wilayah Indonesia. Kawasan itu lantas seperti anak dengan dua ibu, setelah ditelantarkan begitu lama oleh ”ibu biologisnya”.

Dalam cerita The Ugly Duckling (1843), penderitaan yang bertubi-tubi justru menjadi katarsis si itik buruk rupa untuk bermetamorfosis menjadi angsa teranggun dan tercantik. Apakah itu Tanjung Pinang? Atau dia tetap jadi si itik buruk rupa?

 

KOMPAS/MARIA HARTININGSIH
Dompak Lama, suatu siang.

perubahan
Terperangkap Mitos

KOMPAS, Minggu, 4 Oktober 2009 | 03:04 WIB

Tanjung Pinang bukanlah kota tanpa masa lalu. Kota seluas 293,5 kilometer persegi yang ditetapkan menjadi kota otonom tanggal 17 Oktober 2001 itu adalah kota pelabuhan penting pada masa kejayaan Kerajaan Riau-Lingga.

Kota itu berada di kepulauan yang wilayahnya bak ”segantang lada”, 3.214 pulau besar dan kecil membentang mulai dari Laut China Selatan hingga Selat Bangka, menghubungkan Laut Atlantik dengan Laut Pasifik, juga Laut China Selatan dengan Samudra Hindia, di silang Selat Malaka.

Posisi strategis di perbatasan itu membuka pintu yang lebar bagi persilangan budaya, selain menjadi bemper untuk urusan apa saja dengan negara tetangga, termasuk menampung ribuan tenaga kerja Indonesia yang diusir dari Malaysia.

Kepulauan Riau bergabung dengan Indonesia pada tahun 1950, tetapi warga Tanjung Pinang tetap merasa lebih dekat dengan Malaysia dan Singapura. ”Karena lebih mudah menangkap siaran TV sana dibanding Jakarta,” kenang Hatori (50). ”Pergi ke Singapura buat tengok kerabat seperti pergi ke rumah tetangga,” sambung pegawai negeri sipil suatu instansi di Jakarta itu.

Sebelum konfrontasi, pasokan makanan datang dari Singapura, ditukar hasil laut dan hasil bumi. Transaksinya dengan dollar sehingga dikenal sebagai zaman dollar.

”Kapalnya tak besar, bisa dua-tiga hari pulang pergi,” ujar Akib, ”Kalau menunggu kapal dari Jakarta atau Semarang, bisa satu bulan baru datang.”

Terlena

Sampai awal tahun 1980-an, Hatori masih menikmati baju dan celana jeans bermerek dengan harga murah. Sesekali ia menjualnya kepada teman-teman kuliahnya di Jakarta. ”Juga buah-buahan impor, muraaah banget,” kata Hatori yang mendapat tambahan uang saku dengan cara itu.

Sayangnya, kemakmuran itu lalu menjadi mitos. ”Mereka pikir kondisi seperti itu sudah seharusnya,” ujarnya.

Ia memberi contoh, pada zaman itu, bibinya memiliki hotel bagus di Tanjung Pinang, tetapi tak ada usaha meningkatkannya. ”Kalau dulu hotel itu jadi tempat menginap para pedagang, sekarang sopir truk.”

Sementara kaum pendatang relatif mampu membangun masa depan. Seperti Pak Saban, penjual ketoprak di akau Potong Lembu, yang tiba dari Klaten, Jawa Tengah, tahun 1970. ”Anak saya enam, semua sekolah di Jawa,” katanya dalam bahasa Melayu beraksen Jawa.

Warga asli, seperti Mahdan (57), nelayan di Dompak lama, hanya menonton. Ia tak tahu apa yang tengah terjadi, kecuali air laut langsung berlumpur setelah satu jam hujan, tangkapan ikan yang berkurang 30 persen, dan keramba ikan yang rusak.

Tak jauh dari rumahnya, pemandangan lain menjelaskan: hutan bakau yang gundul, senyawa merah debu dari bukit-bukit pertambangan bauksit dengan air comberan yang menggenang di mana-mana. Begitulah. (MH)

KOMPAS/MARIA HARTININGSIH
Tanjung Pinang dari ketinggian.

Tertatih, Keberatan Beban

KOMPAS, Minggu, 4 Oktober 2009 | 03:04 WIB

Khairullah (46) dikenal punya hidung tajam. Dia tahu di rumah mana tersimpan naskah kuno. Katanya, ia seperti dipanggil ke rumah-rumah tempat penyimpanan ”harta karun”; bisa gulungan naskah kuno, bisa Al Quran tulisan tangan, bisa barang-barang lain.

”Baru saja saya dapat piring-piring dari zaman Dinasti Tang dan Ming, tetapi habis diborong orang,” katanya, suatu siang, di rumahnya yang menjorok ke laut di ujung Pulau Penyengat, Kepulauan Riau.

Ketika ditanya siapa, ia terkekeh, ”Pokoknya yang punya uang-lah.”

Rumah Syahrul, begitu ia disapa, belum selesai dibangun. Temboknya separuh jadi. Sekitar 10 meter dari situ tertambat perahu pompong.

”Semua dari hasil kerja begini. Kalau tidak, mana bisa makan? Mana bisa sekolahin empat anak?”

Di rumah itu masih tersimpan 37 naskah, antara lain, 8 jilid Kitab Pengetahuan Bahasa yang ditulis tahun 1859 oleh Raja Ali Haji, cendekiawan Melayu dari Kerajaan Riau di Pulau Penyengat, pencipta Gurindam 12. Syahrul mengeluarkan beberapa naskah berbentuk gulungan dalam aksara Arab-Melayu tulisan tangan dan naskah yang, katanya, berisi mantra-mantra.

”Di Dabo ada yang punya Kitab Sejarah Riau,” lanjut Syahrul. ”Kitab itu penuh rahasia sehingga tak bisa diamanatkan kepada sembarang orang.”

Meski pendidikan formalnya terbatas, Syahrul cukup cerdas. Ia membaca, mengobrol dengan para sesepuh, dan mencatat. Itulah bekalnya melakukan perburuan.

”Banyak naskah Melayu lama tersebar di Penyengat dan pulau-pulau sekitar sini, Bengkalis, Dabo, Natuna, Anambas, Pulau Tujuh, tetapi paling banyak di Daik, Lingga. Itu pusat Kerajaan Riau-Lingga selama seabad,” ungkap Syahrul.

Kalau daerah perburuannya dekat, ia menggunakan perahunya. Kalau jauh, seperti ke Daik, ia menyeberang dulu ke Tanjung Pinang, lalu naik feri ke Dabo, disambung kapal menuju Pelabuhan Tanjung Buton, dilanjutkan dengan ojek ke tujuan. Perjalanan pergi-pulang bisa makan waktu seharian.

Selama 20 tahun ia mengaku sudah melepas sedikitnya 100 naskah kuno ke Malaysia. ”Orang Malaysia tak cerewet, berapa diminta ia bayar,” lanjut Syahrul.

Katanya, naskah termahal adalah Surat Maskawin Engku Putri Raja Hamidah, sosok istimewa dalam sejarah Melayu, pemilik Pulau Penyengat Indera Sakti, pusat pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga, sekaligus pemegang kendali pemerintahan.

”Harganya Rp 15 juta, lima tahun lalu,” sambung Syahrul, “Yang pegang orang di pulau dekat sini. Belum ada yang ambil.”

Terus berlangsung

Syahrul adalah satu dari sedikit pemburu barang-barang kuno di wilayah Kepulauan Riau. ”Harga satu naskah antara Rp 10 juta sampai Rp 15 juta,” katanya. Ia tak melepasnya kalau harga tak cocok.

Sementara itu, dana penyelamatan naskah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tanjung Pinang Abdul Kadir Ibrahim, hanya sekitar Rp 90 juta setahun. Oleh karena itu, pihaknya hanya mampu membeli dengan harga paling tinggi Rp 5 juta.

Jadi, meskipun Syahrul ”sudah dibina” agar tak menjual lagi naskah-naskah kuno ke Malaysia dan Singapura—digertak dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Cagar Budaya—Akib, nama gaul Abdul Kadir, tak bisa berbuat lebih jauh.

”Banyak keluarga menyimpan naskah kuno, tetapi tak tahu kegunaannya,” ujar Lurah Pulau Penyengat Raja Hamidah (23).

Tak hanya naskah kuno yang pindah tangan dan pindah tempat ke museum-museum di Malaysia dan Singapura, kajian serius tentang Melayu juga sangat kurang. Padahal Pulau Penyengat pernah menjadi pusat kajian Melayu sekitar abad ke-19.

Pekan Budaya Melayu setiap tahun tampaknya tak cukup untuk menguatkan kepemilikan sejarah Melayu di Nusantara. Malaysia membentuk Atma Institute tahun 1993, untuk memperkuat Lembaga Bahasa, Kebudayaan, dan Kesusasteraan Melayu yang bernaung di Universiti Kebangsaan Malaysia sejak tahun 1972. Singapura punya Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) dan berniat membangun Malay Heritage Centre.

Pertarungan

Selain klaim-klaim Malaysia untuk berbagai produk kebudayaan milik Indonesia, saat ini juga berlangsung pertarungan yang sangat subtil antara Malaysia dan Indonesia, menyangkut lokasi pusat Melayu.

Ahli sejarah Melayu, Aswandi Syahri, dari Museum Sultan Sulaiman Badulalamsyah menunjuk organisasi Dunia Melayu Dunia Islam yang diketuai Menteri Besar Malaka bukan sekadar organisasi, tetapi untuk menunjukkan bahwa Malaka adalah pusat Melayu. Dalam organisasi itu, para gubernur dari Sumatera dan Kalimantan—wilayah Malaka pada masa lalu—menjadi anggotanya.

”Belajar sejarah adalah belajar fase-fase tahun. Memang pada suatu masa Malaka pernah menguasai wilayah Riau, tetapi kemudian Riau menguasai Malaka,” tegas Aswandi. “Kalau dirunut lagi ke belakang, ke abad ke-11, laksamana utama armada laut Malaka juga berasal dari Bintan.”

Persoalannya, Malaysia punya perspektif sejarah yang kuat dan menggunakannya untuk mengembangkan sektor pariwisatanya. Malaka adalah andalan yang didukung oleh strategi pariwisata nasional.

Tanjung Pinang? Ah, dia seperti orang tua yang berjalan tertatih, keberatan beban…. (MARIA HARTININGSIH)

About these ads

1 Response to “Wisata Kota : Tanjung Pinang, Bintan, Riau”


  1. June 21, 2011 at 10:15 pm

    tanjung pinang.merupakan wadah mencari rezeki sebagian orang di indonesia.alhamdulillah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,242,981 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: