04
Oct
09

Bencana Alam : Dampak Gempa Padang 7,6 SR

42 Jam Berusaha Tidak Tertidur, Sari Akhirnya Selamat

Sabtu, 3 Oktober 2009 | 06:45 WIB

KOMPAS.com- Sejak awal Ratna Kurnia Sari (18) sudah bertekad untuk hidup. Meski dia sangat sadar bahwa kematian sudah sangat dekat dengan dirinya. Namun Sari bertekad menyenangkan kedua orangtuanya, karena itu itu dia tidak mau mati.

“Bahkan saya tidak pernah tidur. Saya takut kalau saya tertidur saya akan mati. Karena saya saat itu sudah merasa ada yang akan membawa. Makanya saya berusaha untuk terus terjaga,” ujar Sari yang ditemui di Ruang Perawatan 1B Rumah Sakit Tentara Reksodiwiryo, Jalan Proklamasi, Jumat (2/10).

Sari bisa dibilang mendapatkan keajaiban. Dia menjadi satu korban selamat dari reruntuhan bangunan Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Prayoga di Jalan Veteran, Padang. Selain dia, dosennya bernama Suci Revika Wulan Sari (25) juga selamat. Namun Sari berhasil dikeluarkan lebih dulu dari balik reruntuhan.

Sari berhasil dievakuasi petugas penyelamat sekitar pukul 11.30 WIB. Bersama Suci dan empat rekan satu kuliahnya, Sari terjebak di bawah tangga menuju ke lantai tiga Kampus STBA Prayoga. Sebelumnya, Sari yang tercatat sebagai mahasiswa Semester 3 Jurusan Sastra Inggris, sedang mengikuti perkuliahan Listening 3, di ruang kelas yang berada di Lantai III.

Ketika gempa mengguncang, satu kelas yang berisi 25 orang mahasiswa plus Suci yang menjadi dosen, langsung berhamburan menuju tangga turun. Sari sendiri bersama Suci dan empat rekannya, merupakan kelompok yang terakhir turun. Setibanya di lantai dua, tiba-tiba tangga beton yang barusan mereka lewati ambruk menimpa mereka.

“Waktu itu semuanya panik. Saya juga panik dan ingin cepat turun. Tapi karena semua berebut ingin duluan, kami akhirnya jadi kelompok yang terakhir turun,” ujarnya menceritakan kembali situasi yang dialami saat gempa berlangsung.

Reruntuhan tangga beton itu langsung membuat mereka luka berat. Listrikpun tiba-tiba mati, sehingga ruangan menjadi gelap gulita. “Waktu itu saya tidak tahu apa teman-teman saya masih hidup atau tidak, karena gelap. Hanya saya bisa mendengar suara Ibu Suci merintih kesakitan ada di dekat saya,” ujarnya.

Beton-beton itu menghimpit keras, karena mendapat tekanan berat dari lantai empat yang juga ikut runtuh. Sari sendiri merasakan kakinya terhimpit benda berat di bagian lutut ke bawah, sehingga tidak bisa digerakkan. Sedangkan di bagian pahanya, dia merasakan ada satu tubuh temannya yang terbaring tak bergerak.

“Saat itu saya tidak merasakan sakit. Yang ada hanya cemas dan rasa takut mati. Saat itu pula saya langsung bertekad tidak boleh mati. Saya harus hidup,” tuturnya.

Sari berada di balik reruntuhan selama lebih kurang 42 jam. Selama itu pula, dia menguatkan diri untuk tetap hidup meski tidak ada makan dan minum. Sari mengaku tidak pernah putus harpaan. Dia yakin akan ada tim penyelamat yang datang mengevakuasi mereka. Inilah yang membuatnya cukup berbesar hati dan yakin tidak akan mati.

“Rabu tengah malam itu saya mulai yakin kalau teman-teman saya yang lain meninggal, karena mereka tidak lagi ada yang bersuara, bahkan tidak lagi ada yang bergerak. Termasuk sosok yang terbaring di atas paha saya, tidak bergerak lagi dan terasa dingin. Hanya Ibu Suci yang kadang-kadang masih saya dengar ada gerakannya sedikit-sedikit. Berarti Ibu Suci masih hidup,” katanya.

Meski tidak ada makan dan minum, namun harapan Sari untuk hidup menjadi makin besar, ketika dia mendengar suara ketukan-ketukan pada reruntuhan bangunan yang menimpa mereka. Sari sadar bahwa ketukan itu berasal dari tim penyelamat yang berusaha menggali reruntuhan. Karena itu pula, dia berusaha untuk tetap menjaga matanya agar tidak tertidur.

“Sebenarnya saat itu saya ingin sekali tidur. Rasanya akan sangat nyaman kalau tertidur. Tapi saya tahu saya akan mati kalau sampai tertidur. Makanya saya juga selalu mengingatkan Ibu Suci agar tidak tertidur. Saya selalu bilang ‘Bu, jangan tidur’ atau dia saya panggil-panggil terus dalam jangka waktu tertentu supaya jangan sampai tertidur. Saya ingin selamat, dan saya juga tidak ingin Ibu Suci yang saya tahu masih hidup akhirnya mati seperti teman-teman saya,” tuturnya.

Sari mengaku tidak pernah kehilangan semangat untuk tetap bertahan hidup, karena dia sadar tim penyelamat akan bekerja ekstra keras untuk mengeluarkan mereka dari balik reruntuhan. Dan harapan itu akhirnya menjadi kenyataan, ketika Jumat (2/10) pagi, sebuah lubang menganga di bagian atasnya yang dibuat tim penyelamat. Meski belum bisa dikeluarkan dari balik reruntuhan karena beton yang menghimpitnya sangat berat dan besar, namun sudah ada anggota TNI yang mengevakuasi yang bisa berkomunikasi dengannya melalui lubang tersebut.

“Waktu saya melihat cahaya masuk tanda ada lubang yang terbuka, saya langsung coba teriak minta tolong walau sudah tidak kuat lagi untuk berteriak. Tapi ternyata suara saya terdengar, karena saya kemudian mendengar ada orang yang berteriak ‘ada yang masih hidup’ di atas lubang,” kenangnya.

Ketika lubang diperbesar, akhirnya tim penyelamat bisa berkomunikasi dengannya, walau belum bisa dikeluarkan dari balik himpitan semen beton. Seorang petugas penyelamat langsung menanyakan namanya. Setelah menyebutkan nama, Sari pun langsung minta air minum dan roti.

“Saya lapar dan haus sekali. Makanya begitu ada yang menemukan saya, langsung saja minta air sama roti,” ujar Sari dengan wajah ceria, sambil terbaring di ranjang rumah sakit.

Setelah mengetahui indentitasnya, tim evakuasi langsung mengumumkan kepada warga yang berkerumun, dan meminta keluarganya datang ke lubang untuk berkomunikasi dengan Sari. Saat itu, orangtua laki-laki Sari langsung maju dan mendekati lubang. Saat itu, Sari kembali mengajukan permintaan roti dan air minum.

“Saat itu rasanya saya benar-benar dapat mukjizat karena ternyata Sari masih hidup di balik reruntuhan itu. Saya langsung minta keluarga yang lain mencarikan roti dan air minum. Karena Sari minta saya untuk tidak jauh-jauh darinya,” ujar ayah Sari, Sofyan Virgo (62) yang ditemui saat menemani anaknya di RST Reksowidiryo Padang, Jumat (2/10) sore kemarin.

Sofyan yang tinggal di Jalan Kampung Nias III Nomor 4 C ini mengaku, sebenarnya saat itu dia sudah tidak berharap banyak anaknya itu akan selamat, mengingat reruntuhan bangunan yang kehancurannya begitu parah. “Saya sebenarnya sudah pasrah dan tidak berharap banyak. Lihat saja, bangunan empat lantai jadi satu, dan anak saya ada di dalamnya. Makanya ini benar-benar mukjizat,” tuturnya dengan wajah berbinar bahagia.

Sementara Kiki (54), tante Sari yang juga ikut menemani di rumah sakit, menyebut Sari merupakan anak yang kuat dan selalu ceria. “Lihat saja, walau baru saja berhasil dievakuasi, ternyata dia masih tetap ceria, masih tetap cerewet dan banyak cerita,” ujarnya tersenyum.

Bahkan Sari tetap ceria, ketika dokter yang merawatnya menyarankan untuk mengamputasi kaki kanannya yang cedera berat akibat terhimpit beton dalam waktu cukup lama. Kaki kananya di bagian betis terlihat sedikit menciut, dan belum bisa digerakkan.

Menurut Sofyan menirukan penuturan dokter yang merawat, darah di kaki Sari sudah membeku karena terlalu lama terhimpit, sehingga bisa mengakibatkan kondisi yang lebih buruk. Namun dokter juga mengatakan, opsi amputasi bisa dihindari jika keluarganya bisa mendapatkan obat pengencer darah, sehingga darah beku yang ada di kakinya bisa mencair dan darah kembali mengalir normal.

“Tidak mungkin dia diamputasi, apalagi dia anak perempuan. Bahkan kata dokter, bisa saja kedua kakinya yang diamputasi karena kondisi kedua kakinya tidak jauh berbeda. Makanya sekarang kami sedang berusaha mencari obat pengencer darah itu,” ujar Sofyan.

Sari memang bisa dibilang sangat beruntung. Karena sampai sekitar pukul 18.00 WIB kemarin, Suci, dosennya yang sama-sama terkubur di balik reruntuhan baru bisa dikeluarkan dari balik reruntuhan sekitar pukul 17.00 WIB. Sama dengan Sari, Suci juga dilarikan ke RS Tentara Padang.

Tiga Hari Terhimpit Runtuhan, Seorang Pria Ditemukan Hidup

Petugas medis dan anggota TNI berusaha memberikan bantuan oksigen kepada salah seorang korban yang masih hidup tertimpa reruntuhan bangunan bertingkat lima di Jalan Belakang Tanksi, Padang, Sumatera Barat, Kamis (1/10).

Artikel Terkait:

Minggu, 4 Oktober 2009 | 07:46 WIB

PADANG, KOMPAS.com – Takdir, jodoh, rejeki, memang sudah ada yang mengatur. Setelah tiga hari terhimpit reruntuhan Hotel Ambacang, seorang pria mampu bertahan hidup hingga Sabtu (3/10) sore. Padahal, banyak pihak yang memperkirakan bahwa sekitar seratusan tamu dan karyawan yang masih tertimbun di antara reruntuhan telah tewas akibat kekurangan oksigen dan kehabisan energi.

Belum jelas bagaimana pria tersebut mampu bertahan hidup dalam posisi terhimpit reruntuhan. Keberadaan pria ini awalnya terendus oleh sejumlah anggota tim evakuasi gabungan antara Indonesia, Swiss, dan Uni Emirat Arab. “Salah seorang dari anggota tim evakuasi mendengar ada yang berteriak minta tolong dan menangis,” ujar koordinator tim evakuasi di Hotel Ambacang, AKBP Pratomo IR, Sabtu (3/10) kepada Kompas.com.

Mengingat kondisi lapangan yang cukup gaduh dan posisi korban yang dikelilingi tembok beton, berteriak sehingga terdengar tim evakuasi tentu membutuhkan energi yang tidak sedikit. Tim evakuasi pun langsung berusaha menerobos masuk ke dalam hotel dan membuat jalan masuk. Setelah jalan masuk dibuat, beberapa orang dokter langsung masuk guna memberikan pengobatan.  

HIN

Hanya saja, petugas penyelamat berusaha menguatkan hatinya, dengan terus mengajaknya berkomunikasi. Bahkan anggota TNI sengaja membawa radio komunikasi (HT) ke balik reruntuhan, agar Suci bisa berkomunikasi dengan orangtua dan suaminya yang selalu setia menunggu di luar. Tim penyelamat sendiri memang memprioritaskan mengeluarkan Suci yang masih hidup, agar bisa segera mendapatkan perawatan medis. (Tribun Pekanbaru/nanang/hengki)

Biarlah Timbunan Tanah Ini Jadi Kuburan Mereka

Warga yang selamat hanya pasrah di atas lahan bekas lokasi rumah mereka yang tertimbun longsoran tanah di Gunung Tigo, Patamuan, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (3/10). Ratusan orang diperkirakan tertimbun di kawasan ini.

Artikel Terkait:

Minggu, 4 Oktober 2009 | 07:42 WIB

“Jika memang jenazah istri dan anak-anak saya tak mungkin ditemukan lagi … biarlah reruntuhan tanah ini menjadi kuburan mereka. Biarlah Allah yang mengatur di mana tempat yang pantas untuk mereka,” ujar Azuardi lirih.

Bibirnya bergetar. Matanya berkaca-kaca melihat hampir tak satu pun rumah yang tersisa di tempat ia tinggal, Korong Lubuk Laweh, Nagari Tandikat, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman. Semua rumah di Lubuk Laweh tertimbun tanah.

Lubuk Laweh dan dua korong atau dusun lain yang berdekatan, Pulau Air dan Cumanak, kini tak berbekas. Rumah dan penghuninya tak lagi tampak karena tertimbun tanah sedalam 6-10 meter.

Ketiga korong ini telah menjadi kuburan massal bagi sedikitnya 242 orang. Lubuk Laweh menjadi kuburan massal terbanyak karena diperkirakan ada 130 orang yang masih tertimbun, sementara di Cumanak ada 69 orang tertimbun. Jumlah mereka yang tertimbun longsoran di Pulau Air lebih sedikit dibanding kedua korong lainnya, yakni 43 orang. Di beberapa titik tercium bau menyengat hidung, terutama jika masih ditemukan bagian tubuh manusia tertimbun tanah.

Novaldi (29), warga Lubuk Laweh yang menjadi saksi mata terjadinya gempa dan longsor di dusunnya, menuturkan, pasti banyak mayat yang tertimbun di bawah longsoran tanah. ”Di sini,” ujarnya sembari menunjuk batang pohon kelapa yang melintang dengan pokok durian, ”Tadinya adalah kedai, tempat warga biasa ngopi dan berkumpul menonton televisi setiap sore. Sekarang tak ada lagi yang tersisa dari kedai ini. Semua telah tertimbun tanah.”

Tak jauh dari bekas tapak kedai yang ditunjuk, Novaldi menunjuk batang kelapa sepanjang sekitar 10 meter yang melintang di atas tanah. ”Di sini saya sempat menyelamatkan tetangga saya, Eri. Seluruh tubuh Eri tertimbun tanah. Hanya kepalanya yang tampak, tetapi terjepit batang kelapa. Saya tak kuat mengangkat batang kelapa yang menjepit kepalanya. Terpaksa, Eri saya tinggalkan,” ujarnya.

Keesokan harinya Eri bisa dievakuasi tim relawan, tetapi meninggal dunia di RSU Padang Pariaman. Novaldi sendiri kehilangan ibu kandung, Lela (40), dua adik kandung, Yuli (25) dan Inel (22), serta keponakan Novaldi yang juga anak Yuli, Arul serta Ilham. ”Rasanya tak mungkin lagi saya menemukan jasad mereka.”

Sejauh ingatan Novaldi dan Azuardi, Lubuk Laweh, Pulau Air, dan Cumanak sebelum gempa adalah tempat yang baik jika kita ingin melihat panorama pedesaan lengkap dengan lanskap sawah dan perbukitannya. Ketiga korong ini berada di lembah Gunung Tigo.

Antara Korong Cumanak dan Lubuk Laweh dan Pulau Air, terpisah oleh sungai atau Batang Mangua. Lubuk Laweh dan Pulau Air terhampar di bawah sebuah tebing yang penuh dengan berbagai jenis pohon, mulai dari kelapa hingga durian. Cumanak berada persis di kaki bukit, lazim dinamai Gunung Tigo.

Dari Padang, jarak tempuh menuju Lubuk Laweh, Pulau Air, dan Cumanak sebenarnya bisa ditempuh paling lama dua jam. Jalan menuju ketiga korong ini juga relatif mudah karena sudah dilapisi aspal hotmix.

Terdapat sedikitnya 40 rumah di Korong Lubuk Laweh dan 50 rumah di Cumanak. Di Pulau Air jauh lebih sedikit, yakni sembilan rumah dan satu bangunan SD inpres. Gempa bumi 7,6 skala Richter yang mengguncang Sumbar, Rabu lalu, mengakibatkan Gunung Tigo dan tebing di atas Lubuk Laweh dan Pulau Air melongsorkan ribuan kubik tanah, mengubur semua rumah di ketiga korong.

Di saat seluruh perhatian dan upaya pertolongan terhadap gempa Sumbar tercurah ke Padang, Azuardi dan warga ketiga korong yang selamat hanya merasa getir. Hingga hari ketiga setelah gempa, evakuasi tak kunjung dilakukan.

”Saudara-saudara yang telah datang dari rantau sudah sepakat, jika sampai Sabtu sore, abang, kakak ipar dan keponakan kami tak juga ditemukan, kami akan menggelar shalat jenazah secara sir (tanpa mayat) di tapak bekas rumah kami,” ujar Agus Salim, warga Korong Pulau Air.

Tak bisa cepat

Evakuasi korban gempa di pedalaman Kabupaten Padang Pariaman ini tak bisa secepat yang dilakukan terhadap korban gempa di Padang. Sehari setelah gempa, relawan yang datang ke lembah ini malam harinya hanya 10 orang dari tim Search and Rescue (SAR) Pekanbaru. ”Tak ada yang membawa peralatan apalagi alat berat untuk menemukan korban. SAR dari Pekanbaru hanya membawa kantong mayat,” ujar Azuardi.

Baru hari Jumat datang bantuan dari Brimob Polda Sumsel serta tim SAR Kabupaten Padang Panjang. Malam harinya datang satu ekskavator dari Batalyon Zeni Tempur 2/Prada Sakti Payakumbuh. Ekskavator baru bisa bekerja Sabtu pagi.

Praktis sejak gempa terjadi, evakuasi baru dilakukan Sabtu, dengan alat berat dan relawan cukup banyak. Padahal, yang tertimbun sekitar 242 orang.

Ini belum termasuk mereka yang tertimbun di tiga korong yang berada pada sisi Gunung Tigo lainnya, yakni Korong Gunung, Padang Alai, dan Kayu Angek. Ketiga korong ini masuk dalam Kanagarian Padang Alai, Kecamatan V Koto Timur. Laporan sementara jumlah yang tertimbun akibat longsoran Gunung Tigo di Korong Gunung, Padang Alai, dan Kayu Angek sebanyak 56 orang.

”Tak mungkin lagi kami bisa mengevakuasi korban yang tertimbun. Mereka paling tidak tertimbun di kedalaman hingga enam meter di bawah permukaan tanah,” kata Topan, Ketua PMI Padang Panjang Barat yang ikut mengoordinasi evakuasi.

Tim relawan memang masih bisa mengevakuasi beberapa jenazah. Termasuk yang hanyut terbawa Sungai Mangua. Peralatan cangkul dan sekop tak memungkinkan relawan mencari lebih banyak jenazah. Akhirnya, tim relawan hanya mengandalkan pencarian dengan mencari sumber bau. Begitu tercium bau sangat menyengat, tanah pun dicangkul, semak dibabat.

Operator ekskavator dari Yonzipur 2/PS, Prajurit Satu S Poernomo, mengaku butuh waktu dua hari untuk membuat jalan agar alat berat bisa sampai ke bekas tapak rumah warga yang tertimbun tanah.

Menurut Yulinar, jumlah warga Cumanak yang tertimbun jauh lebih banyak dari catatan Satkorlak Kabupaten Padang Pariaman. ”Ada 89 orang tertimbun dan baru ditemukan 10 orang. Yang selamat dari Cumanak 70 orang, termasuk kami.” (Khaerudin dan Agus Susanto) 

Demi Bantu Korban Gempa, Suriadi Tinggalkan Anak Istri

Petugas melakukan evakuasi korban gempa di Hotel Ambacang, Padang, Sumatera Barat, Sabtu (3/10). Diperkirakan ratusan korban masih terkubur di reruntuhan bangunan hotel ini. Gempa bumi berskala 7,6 skala richter yang mengguncang Padang mengakibatkan sedikitnya 500 orang meninggal dan ribuan bangunan hancur.

Artikel Terkait:

Minggu, 4 Oktober 2009 | 08:22 WIB

PADANG, KOMPAS.com – Bagi perwira seksi Satuan Brimob Polda Sumbar AKP Suriadi (48), pekerjaannya sebagai pengayom masyarakat adalah amanah. Maka, begitu ditugaskan membantu mengevakuasi para korban gempa Sumatra Barat, khususnya yang berada di Hotel Ambacang, Padang, Suriadi mengaku tidak keberatan.

Sejak Rabu (30/9) lalu, Suriadi tak henti-hentinya merayapi celah-celah reruntuhan Hotel Ambacang guna mengevakuasi korban gempa, baik yang meninggal maupun yang diduga selamat. “Kita memang harus menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai keberadaan sanak-keluarganya yang tertimbun reruntuhan. Ini untuk menghapus kekhawatiran mereka,” ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (4/10) pagi di sekitar Hotel Ambacang.

Suriadi dan anak buahnya termasuk petugas yang pertama kalinya tiba di Hotel Ambacang yang luluh lantak Rabu silam. “Begitu sampai, saya dan teman-teman langsung memanjat tembok hotel dan masuk ke dalam. Alhamdulilah, kami dapat menyelamatkan beberapa korban bertahan,” kenangnya. Korban pertama yang berhasil diselamatkan Suriadi dan teman-temannya adalah seorang ibu yang lututnya terhimpit bebatuan yang menimpanya. Mereka juga turut menyelamatkan pramugari yang tertindih rangka bangunan. Demi menyingkirkan rangkaian besi yang menindihnya, Suriadi terpaksa menggunakan gergaji besi.

Tinggalkan Anak Istri

Ketika gempa terjadi, Suriadi terpaksa meninggalkan istri dan anak tunggalnya. Beberapa menit setelah gempa, Suriadi memang sempat berkomunikasi dengan istrinya. Namun setelah itu jaringan telekomunikasi langsung lumpuh. Mengeluhkah mereka? “Alhamdulilah tidak. Mereka mengerti bahwa ini adalah risiko pekerjaan saya,” ujar Suriadi yang telah 29 tahun mengabdi sebagai pengayom masyarakat itu.

Menangani korban gempa bukanlah pengalamannya yang pertama. Ketika tsunami memorakmorandakan Aceh pada 2004, Suriadi, yang saat itu menjabat sebagai wakil komandan kompi di Polres Aceh Besar, turut membantu mengevakuasi korban sejak hari pertama.

Ketika para ahli gempa memperkirakan, gempa di Sumatra Barat bukanlah yang terakhir, Suriadi hanya berharap, masyarakat semakin mengerti cara menyelamatkan diri ketika gempa melanda …

 


HIN

Sumber : Kompas Cetak

 
KOMPAS/YURNALDI
Belasan ribu warga korban gempa di Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (3/10), yang rumahnya rusak berat berharap bantuan tenda plastik, sekadar tempat berlindung dari hujan dan panas.

Adakah yang Bisa Bantu?

Minggu, 4 Oktober 2009 | 03:35 WIB

”Nak, adakah yang bisa bantu Amak…?” Pertanyaan perempuan itu seperti menagih kepedulian. Matanya memerah, seperti kurang tidur. Peluh di mukanya, tak hendak ia seka. Tangannya penuh debu setelah sejak pagi hingga siang sendirian memberesi rumahnya yang rata dengan tanah akibat gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat dan provinsi lain di Sumatera.

Segelas air putih dan sepinggan nasi tanpa lauk, kecuali sambal lado, menemaninya istirahat sejenak di bawah rerimbunan pohon manggis, Sabtu (3/10) siang. ”Hujan bakal turun, langit mendung. Entah ke mana Amak harus berteduh,” kata perempuan paruh baya bernama Syamsimar (50) itu.

Syamsimar yang tinggal bersama anak yang masih duduk di sekolah dasar memimpikan bisa istirahat di dalam tenda dan makan secukupnya. Selebihnya, ia berharap bantuan tenaga relawan atau TNI untuk membereskan reruntuhan.

”Syukur-syukur relawan membantu mendirikan pondok sementara untuk sekadar tempat berteduh dengan memanfaatkan material yang masih bisa digunakan. Relawan seharusnya dikerahkan untuk merobohkan dan membereskan puing-puing bangunan. Kalau dibiarkan bisa mengancam keselamatan jiwa kalau ada gempa susulan,” kata Syamsimar.

Maatar, Ketua RT 04 RW 01, Kelurahan Sungai Sapiah, Kecamatan Kuranji, Padang, menyebutkan, tidak hanya Syamsimar yang memimpikan bantuan tenda, bahan makanan, dan bantuan relawan atau tenaga TNI untuk merobohkan bangunan yang rusak parah. Banyak warga, yang karena janda, dan atau suaminya merantau, perlu bantuan relawan.

”Kebutuhan mendesak korban gempa perlu segera diadakan, terutama tenda dan bahan makanan,” kata Maatar.

Di RT 04 terdapat 67 keluarga (sekitar 300 jiwa) korban gempa. Rumah milik warga yang umumnya bekerja sebagai buruh tani itu rusak berat, tak bisa ditempati lagi.

Bantuan tersendat

Maatar mengemukakan, bantuan yang telah ia terima untuk korban sebanyak itu baru enam tenda plastik, satu kardus mi instan, 10 kaleng ikan sarden, dan 10 botol saus cabe/tomat.

Menurut Maatar, korban gempa sangat mengharapkan bantuan tenda. Satu keluarga satu tenda. Laporan sudah diberikan, tetapi baik lurah maupun camat tak pernah melihat langsung kondisi warga.

Di RW 05 Sungai Sapiah, bantuan yang sampai ke tangan korban gempa juga masih minim. ”Ada 367 jiwa korban gempa, tetapi bantuan pertama yang kami terima hanya dua karung kecil beras dan dua kardus mi instan. Bantuan pertama baru kami terima hari ini,” kata Ketua RW 05 Sudirman KS, Sabtu.

Menurut dia, warga sangat mengharapkan bantuan tenda dan bahan makanan yang mencukupi. ”Di Posko Induk Kota Padang, bantuan banyak datang, tetapi entah kenapa warga kami belum mendapatkan, kecuali dua kardus mi dan dua karung kecil beras,” kata Sudirman KS.

Di Kelurahan Kurao Pagang, Kecamatan Nanggalo, ratusan warga yang rumahnya rata dengan tanah juga mengeluhkan bantuan yang belum sampai.

Belum ada

Penanggung jawab penerimaan bantuan di Posko Induk Kota Padang, Cory Saidan, menyebutkan, bantuan tenda belum diterima. ”Kami akan usahakan meminta ke Posko Bencana Sumatera Barat,” katanya.

Menurut Cory, keluhan warga yang mengatakan belum menerima bantuan biasa terjadi. Bantuan yang datang jumlahnya terbatas. Namun, ada pula warga yang menerima bantuan dari penyumbang yang memberikan langsung di lapangan.

Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi mengemukakan, korban gempa lebih suka membuat tenda darurat di halaman rumahnya. ”Pengungsi tidak terkonsentrasi di suatu tempat pengungsian. Kebutuhan tenda yang diharapkan masyarakat akan diusahakan.”

Hingga Sabtu petang, bantuan tenda di Posko Bencana Sumatera Barat minim. ”Bantuan tenda tidak banyak,” kata petugas di bagian pendataan penerimaan bantuan di posko itu. (yurnaldi)

 

 

Di Balik Gempa Bumi Padang

Minggu, 4 Oktober 2009 | 03:35 WIB

Di sana piring dan gelas, di situ nasi dan lauk. Silakan ambil sendiri,” ucap Tuminah (29) ramah kepada sekelompok orang yang masuk tenda putih alias dapur umum di rumah dinas Gubernur Sumatera Barat.

Sepanjang Jumat (2/10), rumah dinas dipenuhi banyak orang. Di tengah minimnya rumah makan yang buka, dapur umum menjadi penyelamat bagi sebagian orang.

Sehari sebelumnya, Kamis (1/10), perkara makan bahkan lebih parah. Para pendatang yang hendak makan malam harus berputar-putar di seantero Kota Padang mencari warung yang buka. Sekelompok wartawan dari Jakarta, misalnya, setelah menyelesaikan pekerjaan mereka mengirimkan berita, pada Kamis menjelang tengah malam berputar-putar ke seluruh penjuru kota untuk mencari warung makan. Setelah dua jam, tidak tampak juga warung yang buka.

Mereka akhirnya menyerah dan bersedia diajak makan di rumah sopir mobil sewaan yang membawa mereka berkeliling sejak siang. Hari Jumat, kondisi serupa masih terjadi. Restoran yang buka di Padang dapat dihitung dengan jari. Satu restoran lumayan besar di Jalan Khatib Sulaiman, misalnya, dipadati pengunjung yang rela antre lama untuk mendapatkan makanan.

Di depan Pasar Ramayana, satu-satunya rumah makan yang buka adalah warung Mie Aceh yang menyediakan mi goreng khas Aceh dan martabak telur. Di depan Kampus Universitas Andalas di kawasan Air Manis, warung pecel lele Jawa Timur juga dipenuhi pengunjung. Pada Jumat siang, lele yang disediakan warung itu ludes.

Azis Chaniago, seorang pemilik rumah makan di Padang, belum membuka warung karena masih berkabung. Dua anggota keluarganya meninggal dunia akibat gempa. Azis baru akan membuka warungnya Senin (5/10) mendatang.

Dapur umum

Minimnya warung makan/restoran yang buka membuat banyak orang menyerbu dapur umum. Menu dapur umum, yakni nasi, mi rebus, dan ikan kaleng adalah penyelamat. Ketiga jenis makanan itu, ditambah air hangat, dikerjakan oleh Tuminah bersama sejumlah rekan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Sumatera Barat.

”Sejak dapur umum berdiri pukul 15.00, hingga malam kami memasak tidak ada hentinya. Selesai masak nasi, masak mi rebus, lalu ikan, dan air. Pokoknya kerja terus,” ucap Tuminah.

Selain Tuminah yang kebagian tugas memasak, ada pula sederet anggota Tagana. Piring-piring kotor segera dicuci agar kembali bersih dan dapat digunakan.

Kerja di dapur umum bukanlah pekerjaan pertama Tuminah pascagempa. Pada Rabu (30/9) malam, rumah kontrakannya yang rusak tidak membuat Tuminah berdiam diri. Dia keluar dan segera bergabung dengan kawan-kawannya untuk menolong korban luka.

Setelah tidur hanya dua jam, pada Kamis pagi buta, Tuminah kembali bekerja. Terlebih lagi setelah tenda dapur umum selesai dibangun pada siang hari dan peralatan memasak tiba.

Untuk kebutuhan massal, panci untuk memasak juga berukuran jumbo, yakni berdiameter 60 sentimeter. Memasak dengan panci sebesar itu dilakukan dengan memakai alat pengaduk yang besar pula. Bisa dibayangkan juga kekuatan yang dibutuhkan untuk mengaduk nasi dari beras seberat 15 kilogram untuk sekali masak.

Tuminah senang dengan tugasnya. Baginya, bisa menolong orang lain merupakan sesuatu yang menyenangkan kendati badan harus berlelah-lelah.

Di balik kemudi alat berat jenis loader Komatsu, Kamis siang, Haji Simas tampak lelah. Namun, ia tak sedikit pun berhasrat pulang ke rumah lebih awal. Telah menjadi tekadnya untuk membantu evakuasi korban di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Prayoga, Padang.

Sehari sebelumnya, Jumat, Haji Simas baru tiba di rumah pukul 23.00 setelah menggerakkan alat berat itu sejak pukul 07.00. Kerja kemanusiaan itu di luar batas pekerjaan normal.

”Saya petugas bongkar muat batu bara. Orang lain membutuhkan bantuan,” kata Haji Simas, operator alat berat milik pengusaha swasta.

Saat kami bercakap-cakap selama 15 menit, Sabtu sekitar pukul 14.00, tiga jenazah dievakuasi dalam kantong warna kuning. Bau anyir tercium kuat, menembus masker yang dikenakan Haji Simas. Dia memejamkan mata, berdoa.

Tak hanya relawan yang mampu mengakselerasikan pembangunan kembali Padang dan Sumatera Barat. Ada manusia-manusia biasa, seperti sopir truk tangki premium, Amri, yang tanpa disadarinya telah berjasa besar. Amri terus mendistribusikan premium ke stasiun pengisian bahan bakar untuk umum agar dapat digunakan banyak orang.

Kediaman Amri, yang tak jauh dari Pelabuhan Teluk Bayur di Indo Villa, Pampangan, Padang, juga rusak. Namun, panggilan pekerjaan melupakan sejenak musibah yang juga dialaminya. ”Saya ikut senang jika antrean sepeda motor dan orang tak lagi menumpuk di pom bensin. Waktu mereka tak cuma habis buat antre,” katanya. (ART/RYO/sah)

 

Pariwisata Sumatera Barat Terpukul

Minggu, 4 Oktober 2009 | 03:32 WIB

Padang, Kompas – Gempa berkekuatan 7,6 skala Richter yang meluluhlantakkan sebagian Sumatera Barat telah memukul industri pariwisata di provinsi itu. Untuk memulihkannya tidak cukup rekonstruksi fisik bangunan sarana wisata, tetapi juga pemulihan citra pariwisata Sumatera Barat.

Direktur Jenderal Pemasaran Wisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwandar mengatakan hal itu, Sabtu (3/10) di Padang. ”Jauh lebih penting dari rekonstruksi bangunan hotel dan restoran adalah rehabilitasi image pariwisata Sumatera Barat.”

Sapta menjelaskan, pada masa tanggap darurat, pelaku industri wisata mengutamakan penyelamatan jiwa korban bencana, termasuk para karyawan hotel. Baru pada tahap rehabilitasi, pengelola hotel mulai membersihkan puing-puing hotel.

Pada tahap rehabilitasi, lanjut Sapta, hotel dengan kerusakan ringan dianjurkan untuk langsung beroperasi dan mulai menerima tamu. Langkah ini juga bagian dari pembentukan citra pariwisata yang positif.

Rehabilitasi citra pariwisata sangat penting untuk meyakinkan wisatawan agar tidak takut gempa yang merupakan gejala alam. ”Dalam jangka panjang, upaya memulihkan kembali citra pariwisata Sumatera Barat akan dilakukan di antaranya dengan secepatnya mengoperasikan hotel yang rusak ringan, mendorong kegiatan pemerintahan digelar di Padang, serta mempromosikan daerah tujuan wisata lain di Sumatera Barat selain Padang dan Pariaman,” tambah Sapta.

Upaya lain yang tak kalah penting ialah menganjurkan pengelola hotel untuk membangun dengan konstruksi bangunan tahan gempa ketika membangun kembali hotel.

Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Sumbar Maulana Yusran, 11 hotel di Padang rusak berat dan tidak bisa lagi digunakan. Hotel itu di antaranya Hotel Ambacang, Mariani, Dipo, Rocky, dan Hayam Wuruk.

Yusran berharap, pada tahapan rekonstruksi nanti perbankan memberikan skema pinjaman yang mudah dan bunga yang ringan kepada pengelola hotel yang terkena dampak gempa. Pemerintah diharapkan pula memberikan keringanan pajak kepada pengelola hotel. Dengan demikian, pengelola bisa cepat membangun kembali hotelnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumbar James Hellyward menambahkan, saat ini porsi terbesar pendapatan asli daerah industri jasa di daerahnya berasal dari jasa pariwisata. (adh)

Kompas/Danu Kusworo
Kendaraan berjalan pelan dan bergantian memasuki tikungan Panorama Satu, Jalan Setinjau Laut, Padang, yang longsor dan mengalami retakan panjang pada separo badan jalan, Sabtu (3/10). Saat ini jalur tersebut merupakan satu-satunya akses melalui darat menuju Padang dari daerah lain dan terancam longsor yang lebih parah akibat beban kendaraan yang berlebihan.

Trauma Bencana yang Tidak Boleh Diabaikan

Minggu, 4 Oktober 2009 | 03:32 WIB

Ma, tadi ada gempa, ya…?” Fanny masih ingat betul bagaimana Nawang Wulan bertanya di pelukannya. Seraya menahan isak dan berusaha menyembunyikan kegalauan hati, Nawang bertutur kepada sang ibu, ”Ma, tadi ada gempa, ya?”

Pertanyaan itu bukan untuk memastikan, tetapi lebih menunjukkan ketakutan yang menghantui setelah gempa. Saat gempa, Nawang sedang mandi. Tanpa dibilas, sang ayah langsung melilitkan handuk dan membopong Nawang keluar dari rumah.

Dinding rumah keluarga itu yang terletak di Kompleks Rajawali, Tunggul Hitam, Padang, retak. Secara fisik tidak ada luka, tetapi dari situlah trauma melanda.

Tidak hanya itu, Fanny juga mengamati betapa gempa telah membuat anak-anak hidup dalam kosakata tentang gempa. Saat bermain, mereka membuat permainan yang berkisah tentang gempa.

”Anak-anak menyusun payung-payung yang terbuka sehingga membentuk tumpukan. Nawang lalu bersembunyi di balik tumpukan payung itu sembari meminta temannya menggoyangkan tumpukan payung seolah adalah gempa,” ucap Fanny yang juga bekerja di salah satu lembaga swadaya masyarakat di bidang pencegahan dan penanggulangan bencana.

Tindakan anak-anak ini dianggap Fanny sebagai sisa trauma pascagempa. Apalagi, mereka baru pertama kali merasakan gempa besar, 7,6 skala Richter, seperti yang terjadi pada Rabu (30/9).

Serupa dengan Nawang, Oyong (37) juga masih membawa trauma setelah bencana hebat tersebut. Di rumah yang terletak di kawasan Air Tawar, Padang, dia menyaksikan tutup sumur yang terbuat dari beton terangkat karena semburan air dari dalam sungai sesaat setelah gempa.

”Semburan air itu mengagetkan saya. Air yang menyembur bercampur lumpur sehingga tampak kecoklatan. Saya khawatir saja betapa tekanan air begitu besar sehingga ketakutan akan tsunami semakin kuat,” kata Oyong.

Istri dan mertuanya yang sakit saat gempa terjadi juga ada di dalam rumah. Satu hal yang melintas dalam pikirannya adalah kemungkinan tsunami. Segera, istri dan mertuanya dibawa ke lantai dua rumah tetangga. ”Saya minta mereka tenang di sana karena saya masih harus menyelamatkan yang lain,” ucap Oyong.

Oyong kembali ke rumah. Ternyata pamannya masih terjebak di dalam rumah. Pamannya juga luka kakinya sehingga harus dibopong keluar rumah dan ditempatkan di tangga menuju lantai dua rumah tetangga.

Beberapa jam

Beberapa jam setelah gempa berlalu, baru Oyong tenang dan bisa memaksa istri dan keluarga istrinya itu untuk mengungsi ke rumah orangtua Oyong di Siteba, Padang.

Rentetan peristiwa ini membuat Oyong trauma jika mengingat gempa. Apalagi, sampai empat hari setelah gempa, masih ada sanak saudara di Pariaman yang belum memberikan kabar. ”Saya masih mau mencari mereka,” ujarnya.

Trauma juga masih melingkupi Farida (38). Rumah-bengkel yang terletak di Siteba hancur. ”Bangunan runtuh dari belakang sampai ke depan. Cepat sekali kejadiannya,” kata Farida.

Tidak hanya bangunan yang roboh yang menyisakan ketakutan pada Farida. Ketika rumah roboh, Puput, mahasiswi yang menyewa kamar di lantai tiga rumahnya itu, terimpit reruntuhan tembok rumah. Jaraknya tidak sampai 1 meter dari pintu keluar.

”Cepat-cepat kami usahakan reruntuhan bangunan diangkat dan Puput bisa diselamatkan. Setelah itu, dia dilarikan ke rumah sakit. Sampai sekarang, Puput masih dirawat,” ucap Farida menahan isak.

Saat gempat, tinggal satu sepeda motor yang tersisa dan sudah selesai diservis. Kalau masih banyak orang, tentu korban akan lebih banyak.

Barangkali tidak banyak pihak yang tahu kalau sejumlah bangunan di Siteba hancur total. Itu sebabnya hingga Sabtu siang kemarin, bantuan logistik atau tenaga apa pun belum singgah ke kawasan itu. Jika bantuan untuk masa darurat saja terlupakan, barangkali trauma yang dialami para korban gempa semakin terabaikan.

Trauma ini merupakan peninggalan pascagempa yang perlu dipikirkan pemulihannya seusai tanggap darurat mendatang. Bila tidak, trauma ini mungkin terbawa dan mengganggu para korban gempa ini. (agnes rita s)

KOMPAS/YURNALDI
Setelah terkurung di dalam reruntuhan Hotel Ambacang selama 18 jam, Frisca Yuliana (22), Kamis (1/10), dievakuasi dalam keadaan selamat meski mengalami luka serius. Kaki Frisca yang patah, Jumat malam dioperasi.

Bantuan Medis Berdatangan
Korban Menderita Patah Tulang Terbanyak

Sabtu, 3 Oktober 2009 | 03:33 WIB

Surabaya, Kompas – Bantuan tenaga medis dan obat dari berbagai kalangan di dalam negeri, Jumat (2/10), terus mengalir. Sebagian bantuan yang saat ini mendesak dibutuhkan oleh para korban gempa di Sumatera Barat telah tiba di lokasi bencana.

Bantuan antara lain datang dari Rumah Sakit Umum Dr Soetomo dan Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur; serta Pemprov Kalimantan Selatan; Pemprov Kalimantan Barat; Pemprov Lampung; Pemprov Sumatera Selatan; dan Kepolisian Daerah Sumatera Selatan.

Sabtu ini, RSU Dr Soetomo dan Universitas Airlangga mengirimkan 30 tenaga medis untuk melakukan evakuasi korban gempa di Sumatera Barat (Sumbar). Tim terdiri atas dokter ahli bedah tulang dan bedah umum, perawat, serta psikolog. ”Tim kami akan berangkat ke Sumatera Barat dengan perbekalan lengkap,” ujar Direktur RSU Dr Soetomo Slamet Riyadi Yuwono, Jumat, di Surabaya.

Kepala Bidang Umum dan Humas Pemprov Sumatera Selatan Agustiar Effendy mengatakan, tim medis dari Sumsel telah mendirikan posko di sekitar Universitas Andalas. Tambahan tim medis dari RS Muhammad Hoesin dan RS Muhammadiyah Palembang telah berangkat. Demikian pula tim medis dari Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur dan Musi Banyuasin. Kepolisian Daerah (Polda) Sumsel juga mengirimkan bantuan personel Brimob dan tenaga medis.

Sementara itu, Pemprov Lampung akan mengirimkan dua tim untuk membantu korban gempa bumi di Sumatera Barat. Demikian pula Pemprov Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat telah siap mengirimkan tenaga dokter, perawat, dan paramedis guna membantu penanganan korban gempa di Sumbar dan Jambi.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin saat berkunjung ke Surabaya mengatakan, Muhammadiyah telah mengirimkan tiga tim medis dari tiga RS Muhammadiyah di Jakarta, Palembang, dan Jateng.

Dari Lapangan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, tiga ton beras, selimut, dan kursi roda diberangkatkan dengan pesawat Hercules C-130 H, Sabtu. Komandan Wing Lanud Abdulrachman Saleh Kol Pnb Ismet Ismaya Saleh menjelaskan, pihaknya bersiap diri begitu berita gempa terdengar dari Padang.

Patah tulang

Korban gempa bumi di Padang banyak menderita patah tulang atau fraktur. Untuk menangani kondisi korban tersebut, keberadaan dokter spesialis bedah ortopedi dan bedah umum penting dalam masa tanggap darurat ini.

”Berdasarkan permintaan, tenaga medis yang dibutuhkan khususnya spesialis bedah ortopedi untuk korban yang patah tulang. Selain itu, dibutuhkan banyak perban dan pen (logam untuk membantu proses penyambungan tulang),” ujar Kepala Bidang Pemantauan dan Informasi Pusat Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan (Depkes) Yusrizal.

Berdasarkan pendataan Depkes, total tenaga kesehatan yang sudah ada 226 orang. Sebanyak 12 orang di antaranya spesialis bedah ortopedi dan 17 dokter bedah umum. Selebihnya 37 dokter umum, 3 tenaga untuk menilai situasi, 2 spesialis bedah saraf, 8 spesialis anestesi, 1 dokter kandungan, 3 dokter anak, 3 dokter penyakit dalam, 3 spesialis mata, 1 spesialis jiwa, 47 perawat, 18 perawat mahir, 1 penata anestesi, 1 bidan, dan 5 asisten apoteker.

”Masa tanggap darurat cukup panjang, yakni dua bulan, sehingga harus diantisipasi tenaga penggantinya,” ujar Yusrizal. Pelayanan kesehatan darurat bagi korban tidak dipungut bayaran.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Depkes Lily S Sulistyowati menyebutkan, Depkes telah mengirim

dana operasional Rp 200 juta, 1,5 ton obat-obatan, 200 kantong mayat, dan 5 ton makanan pendamping ASI.

(abk/ody/aci/bee/tif/sir/ nik/ bro/why/wad/ine)

PENANGANAN GEMPA
Korban Gempa Memerlukan Bantuan Segera

Sabtu, 3 Oktober 2009 | 03:32 WIB

Pariaman, Kompas – Ratusan korban gempa Sumatera Barat, terutama di Kabupaten Pariaman, hingga Jumat (2/10), belum mendapatkan bantuan. Warga sangat membutuhkan pakaian, selimut, dan tenda agar dapat berteduh pada siang hari dan tidur pada malam hari.

Selain itu, warga meminta pemerintah daerah menyediakan peralatan berat untuk menyingkirkan reruntuhan rumah. ”Petugas dari kantor desa sudah datang tadi pagi untuk mencatat warga yang rumahnya mengalami kerusakan. Namun, petugas itu baru sebatas mencatat saja dan belum ada bantuan apa pun,” ujar Zaini, warga Desa Toboh Gadang, Pariaman, yang ditemui di salah satu posko bantuan desa itu, Jumat.

Menurut Zaini, sampai dengan Kamis malam, seluruh warga yang menjadi korban gempa di lingkungan rumahnya memilih tinggal di masjid desa. Masjid diisi sedikitnya oleh 50 warga yang kehilangan rumah. Pada hari pertama, warga memilih tidur dalam tenda di lapangan terbuka di halaman rumah.

”Tadi malam, kami berkumpul di masjid karena air tersedia dan ada generator untuk penerangan,” ujar Zaini.

Sumarni (67), warga Desa Sei Deras Pilubang, Pariaman, ketika ditemui sedang berupaya mencari pakaian yang masih dapat dipakai dari reruntuhan rumahnya. Tiga anak perempuannya tampak sedang membersihkan sejumlah pakaian di atas tikar di halaman. Rumah janda beranak tujuh itu nyaris roboh total, kecuali bangunan dapur yang terpisah dari bangunan induk.

”Kami butuh pakaian karena saat gempa kemarin, kami tidak ingat apa-apa lagi kecuali menyelamatkan diri. Saya berlari sampai sejauh dua kilometer karena takut akan terjadi tsunami,” ujar Sumarni.

Pengelolaan bantuan korban gempa memang tampak belum terkoordinasi dengan baik. Sejumlah posko gempa di Pariaman didirikan ala kadarnya tanpa koordinasi dengan aparat desa. Masing-masing posko berdiri sendiri dan berupaya mencari bantuan dari para pengendara yang lewat.

”Posko dibuat hanya kebijakan pemuda-pemuda di desa ini. Kalau ada bantuan yang diterima, mereka segera menyalurkannya kepada tetangga yang membutuhkan. Namun, sampai hari ini, jumlah sumbangan hanya mampu untuk membeli mi instan,” kata Zakaria di posko Desa Sintuk. (sah)

 

KOMPAS/DANU KUSWORO
Seorang anak membawa seng yang akan digunakan untuk membangun tempat tinggal sementara di Desa Lolo Panjang, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, Jumat (2/10). Sehari setelah gempa berskala 7,0 skala Richter, ribuan pengungsi masih bertahan di tenda-tenda yang tersebar di daerah itu.

GEMPA JAMBI
Penanganan Korban Belum Maksimal

Sabtu, 3 Oktober 2009 | 03:30 WIB

Sungai Penuh, Kompas – Penanganan terhadap ribuan korban gempa di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, hingga Jumat (2/10) belum maksimal. Padahal, jarak dari pusat pemerintahan di Sungai Penuh ke daerah terparah di Kecamatan Gunung Raya sekitar 30 kilometer dan dapat ditempuh paling lama satu jam.

Sekretaris Desa Lolo Gedang, Kecamatan Gunung Raya, Yalmi (39), mengatakan, bantuan yang diterima dari pemerintah daerah tidak banyak. ”Bantuan dari pemerintah yang kami terima baru satu tenda dari Departemen Sosial. Bantuan dari beberapa donatur berupa makanan sudah ada langsung diserahkan kepada korban,” ujarnya.

Sebanyak 334 keluarga di Lolo Gedang menjadi korban gempa, dua orang di antaranya terluka. Selain itu, tercatat 52 rumah hancur, 49 rumah rusak berat, dan 40 rumah rusak ringan.

Yalmi mengatakan, bantuan yang paling dibutuhkan korban saat ini adalah tenda untuk bernaung, selimut, obat-obatan, dan makanan anak. ”Setelah diguncang gempa dan rumahnya rusak, warga tinggal di pinggir jalan desa menggunakan tenda milik pribadi seadanya. Kebanyakan tenda mereka sudah berlubang sehingga bocor kalau hujan terjadi,” ucap Yalmi.

Seorang korban gempa, Armawati (28), rumahnya hancur sehingga terpaksa tidur di tempat penggergajian kayu. Namun, tenda di tempat itu bolong-bolong. ”Kalau hujan pasti bocor. Kami jadi susah tidur,” katanya.

Dapur umum

Kepala Seksi Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Wilayah Kerinci Yunaidi menambahkan, 20 polisi hutan dikerahkan untuk membantu korban gempa. Bersama dengan Taruna Tanggap Bencana Kabupaten Kerinci, polisi hutan dari TNKS berencana membuat dapur umum.

Gempa di Kabupaten Kerinci terjadi Kamis pukul 08.52. Pusat gempa berkekuatan 7 skala Richter itu berada di darat, yakni 46 kilometer tenggara Sungai Penuh, dengan kedalaman 10 kilometer.

Berdasarkan data Posko Bencana Kabupaten Kerinci, gempa itu dirasakan di 26 desa yang ada di lima kecamatan, yakni Kecamatan Gunung Raya, Keliling Danau, Danau Kerinci, Batang Merangin, dan Siulak. Gempa mengakibatkan 1.385 rumah rusak dengan 63 rumah di antaranya rusak total dan 474 rumah rusak berat. Dua orang tewas akibat gempa tersebut dan 29 orang lainnya terluka.

Bantuan yang telah diterima Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kerinci antara lain 7,5 ton beras, 200 lembar sarung, 300 selimut, 20 velbed, 10 tenda peleton, dan 200 tenda biru.

Anggota Bagian Logistik Tim Penanganan Bencana Kabupaten Kerinci, Effendi, mengungkapkan, posko bantuan hanya berfungsi menerima bantuan dari donatur. Urusan distribusi logistik ditangani dinas sosial.

Terkendala longsor

Sementara itu, 87 rumah di Desa Renah Kemumu, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, tidak dapat lagi ditempati karena rusak berat pascagempa pada Kamis pagi. Sekitar 30 warga yang mengalami luka berat dan ringan kesulitan mencapai rumah sakit terdekat karena akses jalan terputus akibat longsor.

Wakil Bupati Merangin Hasan Basri Harun mengatakan, jalan yang terputus tidak memungkinkan mengangkut korban hingga ke rumah sakit terdekat. Jalan terputus akibat longsoran tebing di tiga titik menuju desa.

Pemkab Merangin telah mendatangkan petugas medis dari Bangko. Petugas berjalan kaki untuk mencapai desa itu dan memberikan pengobatan di tempat kepada para korban. ”Petugas berjalan kaki untuk mencapai korban,” ujar Hasan saat mengunjungi korban gempa di Desa Renah Kemumu, Jumat siang.

Hasan melanjutkan, sejumlah alat berat mulai didatangkan pada Jumat pagi. Namun, dibutuhkan waktu untuk upaya perbaikan, mengingat ada satu titik yang panjang longsoran lebih dari 30 meter dengan kondisi jalan merekah. ”Mudah-mudahan jalan bisa segera dilalui agar bantuan lainnya bagi para korban bisa cepat sampai,” lanjutnya.

Di Renah Kemumu, kegiatan belajar mengajar diliburkan untuk sementara waktu. (adh/ita)

PASCAGEMPA
18 Jam Bertahan Hidup di Reruntuhan

Sabtu, 3 Oktober 2009 | 03:29 WIB

Auih bana, Ika, Pak…. Indak tahan dek Ika lai…. (Haus benar, Ika, Pak…. Tidak tahan lagi oleh Ika…),” jeritan perempuan muda itu sungguh memilukan. Kedua mata dan telinga kirinya memar. Mukanya sembab, kedua kakinya patah. Hanya tangan kanan yang bisa digerakkan dan menggapai- gapai tangan bapaknya, Sias (51).

Jumat (2/10) siang itu, udara panas membuat pasien bermandi keringat. Bisa dibayangkan, kondisi pasien yang tengah dirawat di bawah tenda.

Perempuan muda yang merintih pilu itu bukan pasien biasa. Perempuan yang diketahui bernama lengkap Frisca Juliana (22) yang dipanggil Ika itu adalah korban gempa tertimbun reruntuhan di Hotel Ambacang, yang dievakuasi dalam keadaan hidup. Dia terimpit reruntuhan beton lebih kurang selama 18 jam.

”Pak, agiahlah aia Ika, Pak…. (Pak, berilah air minum, Ika, Pak…),” kembali Frisca merintih.

”Sabarlah Ika. Puasa karena harus operasi nanti malam,” kata Sias, menenangkan.

Sias menyebutkan, Ika terjebak dan terkena musibah gempa karena saat kejadian gempa yang berkekuatan 7,6 skala Richter itu, ia sedang rapat di Hotel Ambacang. Ika diketahui tertimpa reruntuhan bangunan hotel ketika ada berita di televisi semua tamu hotel itu terjebak reruntuhan.

”Informasi awal, semua tamu hotel itu diduga tewas. Saya kehilangan harapan dan menunggu saja hasil evakuasi. Kamis siang diketahui, ada korban yang ditemukan selamat. Saya lihat seperti anak saya,” kata Sias.

Menurut Sias, menemukan Ika sangat sulit. Semula dicari ke RS Ganting setelah ditemukan, tetapi tak bersua. Sekitar pukul 19.00 WIB, warga asal Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, itu mendapat informasi, Ika dirawat di RS Dr M Djamil, Padang.

Ika belum dapat mengungkapkan bagaimana ia bisa bertahan sekitar 18 jam di dalam reruntuhan. Hanya rintihan kehausan yang selalu membuat bibirnya bergetar. Kecapaian dalam situasi udara yang panas di bawah tenda rumah sakit lapangan membuat Ika akhirnya tertidur. Sias terus mengipas- ngipaskan karton ke arah wajah anaknya.

Tidak hanya Ika, Sigon (11), korban gempa lain yang sedang dirawat di RS yang sama, juga terus merintih kesakitan dan kepanasan. Sigon tertimpa runtuhan di pasar swalayan Ramayana. Kepala bagian kanan terluka. Kaki kirinya pun patah.

”Sigon segera dievakuasi setelah gempa terjadi. Syukur selamat walau mengalami luka serius dan patah tulang,” kata Murni, kakaknya.

Murni berharap, tempat perawatan di tenda lapangan diberi kipas angin. ”Panas begini, gerah bukan main. Kalau dikasih kipas angin satu per tenda membantu pasien,” katanya.

Darurat

Direktur Utama RS Dr M Djamil Suchyar Iskandar, yang dihubungi terpisah, mengatakan, standar rumah sakit lapangan memang seperti itu karena dalam kondisi tanggap darurat. ”Jangan bandingkan seperti ruangan yang pendingin. Kalau ada bantuan tenda ber-AC, kami terima,” ujarnya.

Gempa bumi, ungkap Suchyar, membuat hampir semua ruangan tak bisa difungsikan. Ruangan untuk rawat jalan rusak 100 persen. Ruangan rawat inap yang rusak 60 persen.

Selain itu, instalasi air bersih rusak total. Alat-alat medis, termasuk peralatan untuk operasi, yang bisa difungsikan hanya sekitar 40 persen, sedangkan fisik ruangan operasi yang bisa difungsikan sekitar 60 persen.

”Karena kondisi bangunan RS Dr M Djamil seperti itu, didirikan tenda RS lapangan sebanyak 12 tenda evakuasi dengan kapasitas 300 pasien. Sebanyak 200 pasien di antaranya, korban gempa, dan 60 orang sudah menjalani operasi,” ujar Suchyar.

Menurut Suchyar, kondisi tanggap darurat yang mendesak untuk bidang kesehatan adalah air bersih dan keperluan mandi, cuci, kakus. Selain itu, obat- obatan, beras dan lauk-pauk, lampu, telepon, dan solar untuk genset. Pada masa tanggap darurat selama dua bulan, diharapkan kebutuhan mendesak itu datang secepatnya.

Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi menekankan, air bersih sangat dibutuhkan. ”Karena bak-bak penampungan pecah, bantuan yang sangat diharapkan Pemerintah Provinsi Sumbar adalah mobil tangki air minum. Mobil MCK juga sangat dibutuhkan,” katanya.

(YURNALDI)

PASCAGEMPA
Masyarakat Galang Bantuan untuk Korban Gempa

Sabtu, 3 Oktober 2009 | 03:28 WIB

Purwakarta, Kompas – Penggalangan bantuan oleh masyarakat untuk korban gempa Sumatera Barat terus berlanjut di beberapa daerah, Jumat (2/10). Ikatan Keluarga Minang dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, misalnya mengumpulkan bantuan dari pengguna jalan, pegawai negeri sipil dan swasta di sejumlah instansi, serta pedagang pasar.

Lukman Hakim, koordinator penggalangan bantuan Ikatan Keluarga Minang (Ikami) Purwakarta, menyebutkan, penggalangan akan terus dilakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan. Semua bantuan yang terkumpul akan disalurkan secara swadaya oleh Ikami Purwakarta kepada korban gempa.

”Ada sebagian pengurus dan anggota Ikami yang berangkat ke Padang, Padang Pariaman, dan beberapa lokasi di pesisir selatan Sumatera Barat mulai Kamis,” kata Lukman.

Risa Kota Putra, Ketua Presidium Ikami Purwakarta, menambahkan, selain dari anggota yang berjumlah sekitar 10.000 keluarga, bantuan juga datang dari pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Purwakarta, perusahaan swasta, serta perguruan tinggi di Purwakarta. Seluruh penerimaan dan penyaluran disampaikan tertulis dan diumumkan secara periodik di Sekretariat Ikami Purwakarta di Jalan Taman Makam Pahlawan.

Masyarakat asal Minangkabau yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Minang Sakato (IKMS) di Flores, Nusa Tenggara Timur, juga menggalang bantuan untuk keluarga korban gempa di Sumbar mulai Jumat.

Pemerintah Kabupaten Ende pun kemarin menyalurkan bantuan uang tunai Rp 25 juta melalui IKMS. Bantuan diserahkan Bupati Ende Don Bosco M Wangge didampingi Wakil Bupati Achmad Mochdar.

”Kami ingin meringankan beban mereka yang tertimpa musibah di Sumatera Barat,” kata koordinator penggalangan bantuan, Anas Chan, di Ende.

Penggalangan bantuan itu diambil dari anggota IKMS di daratan Flores, mulai dari Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Flores Timur.

Ketua IKMS Kabupaten Ende A Djamal Humris mengatakan, bantuan ini akan difokuskan lebih ke Kota Pariaman. ”Karena anggota IKMS, seperti di Kabupaten Ende, 90 persen di antaranya berasal dari Pariaman,” ujarnya.

Bantuan juga datang dari PT BMW Indonesia. Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Presiden Direktur PT BMW Indonesia Ramesh Divyanathan kepada Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia Iyang D Sukandar, di Jakarta, Jumat. Bantuan senilai Rp 300 juta akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan korban gempa yang mendesak saat ini, seperti obat-obatan, makanan, selimut, dan tenda.

Chevron IndoAsia Business Unit menyalurkan bantuan darurat kemanusiaan kepada korban gempa bumi di Sumbar. Keterangan pers Chevron menyebutkan, Jumat kemarin, Chevron menyediakan pesawat perusahaan untuk mengangkut 50 dokter dan paramedis serta obat-obatan dari PMI pusat. Di dalamnya termasuk tim khusus tanggap darurat gempa Chevron untuk mengatur koordinasi bantuan logistik perusahaan di lapangan.

Perusahaan itu juga mengalokasikan dana sedikitnya Rp 375 juta yang akan digunakan untuk upaya darurat kemanusiaan. Chevron pun mengimbau agar seluruh karyawan memberi sumbangan uang tunai, yang jumlahnya akan digandakan perusahaan. (mkn/sem/mul)

Dukacita Dunia untuk Indonesia
Bantuan dari Beberapa Negara Telah Dikirim

Sabtu, 3 Oktober 2009 | 03:27 WIB

Jakarta, Kompas – Para pemimpin negara di dunia mengirimkan ucapan belasungkawa bagi korban gempa bumi di Sumatera Barat. Negara-negara tersebut juga menyatakan telah mengirimkan bantuan dana ataupun tim ahli untuk menolong korban.

Dalam siaran pers yang dirilis Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Jumat (2/10), Presiden Barack Obama menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Indonesia. ”Kami sangat berduka atas penderitaan dan kehilangan yang disebabkan oleh gempa di Sumatera Barat. Pemerintahan saya telah berkomunikasi dengan Pemerintah Indonesia untuk menekankan bahwa Amerika Serikat selalu siap menolong Indonesia dalam masa sulit ini,” kata Obama.

Ucapan belasungkawa juga datang dari Menteri Luar Negeri Kanada Lawrence Cannon. ”Kanada sangat prihatin atas rakyat Indonesia yang terkena gempa di Sumatera dan juga dampaknya terhadap kehidupan dan mata pencarian mereka,” ujarnya.

Presiden China Hu Jintao melalui surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan hal serupa. ”Saya terguncang mengetahui gempa kuat telah terjadi di Sumatera Barat dan menyebabkan hilangnnya nyawa dan harta benda. Atas nama pemerintah dan rakyat China, saya menyampaikan rasa dukacita kepada para keluarga korban,” kata Hu.

Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, Presiden Rusia Dmitry Medvedev, Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso, Pemerintah Uni Emirat Arab, Pemerintah Qatar, dan Kepala Misi Uni Eropa di Jakarta juga mengirimkan ucapan belasungkawa kepada Presiden Yudhoyono.

Pemerintah Jepang, atas petunjuk langsung dari perdana menteri yang baru, Yukio Hatoyama, memutuskan untuk mengirim tim bantuan darurat, juga bantuan berupa matras untuk tidur, selimut, tenda, dan genset.

AS menyalurkan bantuan sebesar 300.000 dollar AS untuk mendukung proses penanggulangan bencana dan menyiapkan dana 3 juta dollar AS untuk bantuan lain. AS mengirimkan Tim Respons Bantuan Bencana (DART) untuk bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia.

Jerman menyediakan 3 juta dollar AS bagi korban gempa. Selain itu, 40 tenaga ahli penanganan bencana akan segera dikirim ke Sumatera Barat.

Inggris mengirimkan tim bantuan yang terdiri dari ahli penyelamat untuk membantu upaya penyelamatan korban. Selain itu, satu tim respons darurat dikirim ke Indonesia untuk menaksir kerugian bencana.

Uni Eropa menyediakan dana 3 juta euro guna membantu kebutuhan awal dan upaya pemulihan bagi korban gempa.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Sipil dan Keadaan Darurat Rusia, atas perintah Presiden Medvedev, mengirimkan dua pesawat kargo IL-76 untuk mengangkut bantuan ke Padang pada 30 September. (fro)

BANTUAN BENCANA
Yang Sudah Terkumpul di Rantau Segeralah Dikirim

Sabtu, 3 Oktober 2009 | 03:25 WIB

Apa yang sudah terkumpul di rantau segeralah dikirim ke sini. Kalau bisa, tak perlu uang tunai. Yang kami butuhkan sekarang ini bahan makanan dan tenda darurat,” ujar Buyung Razali sembari menatap kosong rumahnya yang rusak.

Buyung tak sendirian. Hampir seluruh warga Desa Cubuda Air Utara, tempat Buyung tinggal, rumahnya luluh lantak diguncang gempa bumi berkekuatan 7,6 skala Richter, Rabu (30/9) pukul 17.16.

Warga Desa Cubuda Air Utara, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, Sumatera Barat, yakin para perantau sudah bergerak mengorganisasi bantuan untuk kampung halaman mereka yang hancur akibat gempa.

”Kawan-kawan di rantau sudah menelepon. Mereka menanyakan kondisi keluarga. Kami pun meminta mereka agar bisa secepatnya mengirim bantuan ke kampung halaman,” ujar Amrizal, warga Desa Cubuda Air Utara yang merantau ke Muara Bungo, Jambi. Amrizal masih bertahan di kampungnya karena merayakan Lebaran bersama keluarga besar. Niatnya, dia kembali ke Muaro Bungo pekan ini. tetapi terkendala musibah.

Ketika pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat belum menyalurkan bantuan logistik kepada korban gempa hingga pedalaman Pariaman, perantau berhasil menggapai mereka. ”Ini kami dapat sedikit bahan makanan dari kerabat dan teman-teman yang merantau di Pekanbaru,” kata Amrizal sambil menunjukkan sejumlah bantuan yang mereka terima.

Hingga hari kedua pascagempa, Desa Cubuda Air Utara dan Cubuda Air Tengah, yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Padang Pariaman, belum tersentuh bantuan dari pemerintah. Sementara kerusakan di kedua desa itu tergolong parah. Rumah-rumah di sepanjang jalan Desa Cubuda Air Tengah ambruk. Hampir tak ada bangunan di kedua desa tersebut yang utuh terkena gempa. Kalaupun ada yang masih berdiri, dindingnya retak-retak.

Tenda darurat ataupun bahan makanan yang dibutuhkan warga sangat minim. Malam hari, tak sedikit warga yang terpaksa tidur beratapkan langit. Padahal, dua hari terakhir hujan terus mengguyur. ”Mau bagaimana lagi, kami tak berani tidur di rumah. Takut rumah roboh tiba-tiba meski tak ada gempa,” ujar Buyung.

Jengkel

Korban gempa di Pariaman berharap banyak terhadap saudara mereka di perantauan sebab pemerintah dinilai lebih fokus membantu korban gempa di Kota Padang.

Kondisi yang demikian membuat para perantau dari Pariaman jengkel. ”Mereka marah karena pusat gempa katanya di Pariaman, kerusakan yang parah juga di Pariaman, tetapi kok di televisi bantuan-bantuan para perantau justru hanya mengalir ke Padang,” tutur warga Desa Manggung, Pariaman Utara, Okli Hersi, kemarin.

Menurut salah seorang sesepuh desa, Marzani, ikatan para perantau asal Pariaman dengan kampung halamannya cukup kuat. Karena itu, Marzani yakin, perantau asal Pariaman tak bakal berdiam diri. ”Persatuan Keluarga Perantau Daerah Pariaman sangat eksis di perantauan. Kami punya harapan besar, mereka tak berdiam diri melihat kampung halamannya hancur karena gempa,” ujarnya.

Orang Pariaman, lanjut Marzani, merantau ke hampir seluruh wilayah Indonesia. Diaspora perantauan Pariaman tak sebatas sebagai pemilik rumah makan, yang memang terkenal sebagai keahlian, tetapi juga ada yang berjualan emas. Daerah-daerah utama tujuan mereka adalah Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Medan, dan Jambi.

Meski berharap banyak dari kerabat atau tetangga yang merantau, tingkat kerusakan bangunan yang sangat parah membuat korban gempa di Pariaman sebenarnya lebih berharap pada pemerintah. ”Tak mungkinlah kami mengharapkan bantuan membangun kembali rumah-rumah kami yang hancur total dari kerabat-kerabat di rantau,” papar Marzani.

Janji BPBN

Wali Kota Pariaman Mukhlis Rahman mengakui masih sangat terbatasnya bantuan yang disalurkan kepada korban gempa. ”Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) sebenarnya menjanjikan akan memberikan 500 tenda gulung, 10 tenda komando, 1.000 selimut, 1.000 tikar, dan 10 genset. Tapi, kami baru mendapat tikar. Bantuan berupa makanan baru didrop terbatas,” katanya, kemarin.

Selain Padang, Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman merupakan daerah yang terkena dampak gempa parah. Data Satkorlak Penanggulangan Bencana di Posko Kantor Wali Kota Pariaman mencatat, hingga kemarin sudah 207 orang meninggal dunia di Kabupaten Padang Pariaman dan 29 orang di Kota Pariaman. Jumlah rumah warga yang rusak di Kabupaten Padang Pariaman sementara ini tercatat 13.750 unit, sedangkan di Kota Pariaman 10.581 unit.

(KHAERUDIN)

 

 

 

 

 

About these ads

6 Responses to “Bencana Alam : Dampak Gempa Padang 7,6 SR”


  1. 1 Funki alamsjah
    October 9, 2009 at 5:43 pm

    We Are the World

    There comes a time
    When we head a certain call
    When the world must come together as one
    There are people dying
    And it’s time to lend a hand to life
    The greatest gift of all

    We can’t go on
    Pretneding day by day
    That someone, somewhere will soon make a change
    We are all a part of
    God’s great big family
    And the truth, you know love is all we need

    [Chorus]
    We are the world
    We are the children
    We are the ones who make a brighter day
    So let’s start giving
    There’s a choice we’re making
    We’re saving our own lives
    It’s true we’ll make a better day
    Just you and me

    Send them your heart
    So they’ll know that someone cares
    And their lives will be stronger and free
    As God has shown us by turning stone to bread
    So we all must lend a helping hand

    [Chorus]
    We are the world
    We are the children
    We are the ones who make a brighter day
    So let’s start giving
    There’s a choice we’re making
    We’re saving our own lives
    It’s true we’ll make a better day
    Just you and me

    When you’re down and out
    There seems no hope at all
    But if you just believe
    There’s no way we can fall
    Well, well, well, well, let us realize
    That a change will only come
    When we stand together as one

    [Chorus]
    We are the world
    We are the children
    We are the ones who make a brighter day
    So let’s start giving
    There’s a choice we’re making
    We’re saving our own lives
    It’s true we’ll make a better day
    Just you and me

    Saya turut berduka cita sedalam2 nya atas bencana yg melanda Padang sum-bar, ini lagu saya persembahkan untuk semua korban2 padang, semoga keluarga yg ditinggalkan dapat lebih tabah lagi mengalami coba2 an ini,GBU all

  2. October 12, 2009 at 12:47 pm

    percayalah dibalik semua yang terjadi pasti ada hikmah yang tersembunyi…Allah tidak memberi cobaan diluar batas kemampuan manusia…

  3. October 12, 2009 at 12:48 pm

    saya turut berduka cita…

  4. 4 umi
    October 17, 2009 at 6:53 am

    saya juga berduka cita agar keluarga disana selalu sabar

  5. February 2, 2012 at 5:29 am

    smoga di balik smua itu ada hikmahnya…………smua orang pasti kn sadar bahwa dunia ini bkan mlik manusia,manusia cuma sesuatu untuk melengkapi dunia…….

  6. February 2, 2012 at 5:30 am

    smoga di balik smua itu ada hikmahnya…………smua orang pasti kn sadar bahwa dunia ini bkan mlik manusia,manusia cuma sesuatu untuk melengkapi dunia…………..berabarlah & sadarlah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,245,753 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: