24
Sep
09

Ensiklopedia Islam (4)

Fitnah

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:04:00


Fitnah berasal dari bahasa Arab berarti kekacauan, bencana, syirik, cobaan, ujian dan siksaan. Dalam Alquran kata fitnah disebutkan pada 34 tempat dan digunakan untuk arti-arti yang berbeda-beda. Kitab-kitab hadis pada umumnya memuat bab tertentu tentang fitnah. Kitab Shahih al Bukhari misalnya memuat 78 hadis tentang fitnah. Fitnah dalam bahasa Indonesia difahami sebagai berita bohong atau desas-desus tentang seseorang, karena ada maksudmaksud yang tidak baik dari pembuat fitnah terhadap sasaran fitnah.

Diriwayatkan bahwa suatu kali sahabat Ibnu Umar ditanya tentang makna fitnah. Ia lalu mengutip ayat Alquran yang artinya, ‘’Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka.’’ (QS. 2:193), kemudian menjawab, ‘’Tahukah engkau apakah fitnah itu?’’ Ia menjawabnya sendiri seraya mengatakan, ‘’Nabi memerangi orang-orang kafir (agar mereka mau memeluk Islam dan tidak kembali kepada agama mereka itulah fitnah, bukannya perang yang engkau perjuangkan untuk mendapatkan kekuatan duniawi.’’ (Hadis riwayat Bukhari).

Perang saudara di antara sesama umat Islam juga dikenal sebagai fitnah, yaitu fitnah tuli, buta, dan bisu. ‘’Dan mereka mengira tidak ada akan terjadi suatu bencana (fitnah) pun, maka (karena itu) mereka menjadi buta dan tuli.’’ (QS Al Maidah [5]:71). Literatur sejarah mencatat peristiwa pembunuhan Usman RA, khalifah yang ketiga sepeninggal Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa al fitnah al kubra (fitnah besar) yang pertama dan peperangan antara Mu’awiyah dan Ali bin Abi Thalib R sebagai al fitnah al kubra yang kedua. Inilah gambaran fitnah buta dan tuli, karena mereka sama sama Islam tanpa melihat siapa sebenarnya yang benar.

Alquran menggambarkan fitnah adalah lebih kejam dan lebih besar daripada pembunuhan (QS Al-Baqarah [2]: 191,217). Fitnah di sini digambarkan sebagai usaha menimbulkan kekacauan seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta mereka, menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama. Juga berarti upayaupaya penganiyaan dan segala perbuatan yang dimaksud untuk menindas Islam dan kaum muslimin. dam

Al-Barzanji

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:03:00

Adalah sebutan lain dari kitab ilqd al-Jawahir (Kalung Permata), sebuah kayra tulis seni sastra yang memuat kehidupan Nabi Muhammad SAW. Karya sastra ini di baca dalam berbagai upacara keagamaan di dunia Islam, sebagai bagian yang menonjol dalam kehidupan agama tradisional. Dengan membacanya diharapkan dapat meningkatkan keimanan dan kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Dalam kitab ini, sejarah hidup Rasullullah SAW tergambar. Mulai dari silslah keluarganya, kehidupannya semasa anak-anak, remaja, dan pemuda hingga diangkat menjadi nabi dan rasul. Al-Barzanji juga mengisahkan sifat yang dimiliki Rasulullah dan perjuangannya dalam menyiarkan Islam dan menggambarkan kepribadiannya yang agung untuk dijadikan teladan umat manusia.

Kitab iqdl al-Jawahir ditulis oleh Syekh Jafair Al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim yang lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal di sana tahun 1766. Nama Al-barzanji dibangsakan kepada nama penulisnya, yang juga diambil dari tempat asal keturunannya yaitu didaerah Barzinj atau Kurdistan.

Nama Al-Barzanji menjadi populer tahun 1920-an ketika Syekh Mahmud al-Barzanji memimpin pemberontakan nasional Kurdi terhadap Inggris yang pada waktu itu menguasai Irak. Kitab Al-Barzanji ditulis dengan tujuan untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan meningkatkan ghirah umat. Dalam kitab itu riwayat Nabi SAW dilukiskan dengan bahasa yang indah dalam bentuk puisi dan prosa (nasr) dan kasidah yang sangat menarik.

Secara garis besar, paparan Al-Barzanji dapat diringkas sebagai berikut: (1) Sislilah Nabi adalah: Muhammad bin Abdullah bin Abdul muttalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qusay bin Kitab bin Murrah bin Fihr bin Malik bin Nadar bin Nizar bin Maiad bin Adnan. (2) Pada masa kecil banyak kelihatan luar biasa pada dirinya. (3) Berniaga ke Syam (Suraih) ikut pamannya ketika masih berusia 12 tahun. (4) Menikah dengan Khadijah pada usia 25 tahun. (5) Diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, dan mulai menyiarkan agama sejak saat itu hingga umur 62 tahun. Rasulullah meninggal di Madinah setelah dakwahnya dianggap telah sempurna oleh Allah SWT.

Kitab Al-Barzanji dalam bahasa aslinya (Arab) dibacakan dimana-mana dalam berbagai kesempatan, antara lain peringatan Maulid, Upacara pemberian nama, Khitanan, Pernikahan, dan berbagai syukuran. Dalam acara itu, Al-Barzanji dibawakan dalam berbagai macam lagu; rekby (dibaca perlahan), hejas (dibaca lebih keras dari rekby), ras (lebih tinggi dari nadanya dengan irama yang beraneka ragam), husein ( memebacanya dengan tekanan suara yang tenang), nakwan membaca dengan suara tinggi tapi nadanya sama dengan nada ras, dan masyry, yaitu dilagukan dengan suara yang lembut serta dibarengi dengan perasaan yang dalam. tri/Ensklopedia Islam

Yatim

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:02:00

Kata yatim dengan segala variannya, tersebut dalam Alquran sebanyak 23 kali. Sebagian ahli bahasa Arab memberikan definisi anak yatim adalah anak yang bapaknya sudah meninggal dunia. Sebagian ulama menambahkan batasan yakni yang masih belum sampai batas baligh. Batasan ini ditambahkan karena menurut mereka ada hadis yang berbunyi: ”…tidak ada anak yatim bagi anak yang telah sampai umur baligh.”

Sebagian ulama menjelaskan, anak yatim adalah anak kecil yang tidak lagi mempunyai bapak. Yang dimaksud tidak mempunyai bapak adalah tidak mempunyai bapak yang diketahui menurut aturan syara’, sebagaimana yang ditegaskan oleh Syaikh Ibrahim Al-Baijuri.

Soal di usia berapa seorang anak yang ditinggal mati oleh bapaknya tidak lagi menjadi yatim, memang masih kontroversial. Sebagian ulama mengacu pada usia tertentu. Ada yang berpendapat bila sudah berusia 10-12 tahun dan ada juga yang mengatakan bila sudah akil baligh. Namun tidak sedikit ulama yang berpendapat hal itu bisa bersifat relatif, tergantung tingkat kemandirian seorang anak yatim.

Artinya, meski sudah baligh, namun bila belum mampu mandiri, sementara ia tidak memiliki ayah yang dapat dijadikan tempat bersandar, maka ia tetap disebut yatim. Dan, meskipun belum baligh tapi sudah mandiri dan mapan di bidang ekonomi, sudah mumayyiz dan akil, maka ia bukan lagi anak yatim. Intinya, anak-anak yatim adalah anak-anak yang ditinggal mati oleh ayahnya, sehingga karena itu ia mendapatkan perhatian lebih di dalam Islam dan harus lebih dikasihani ketimbang anak-anak yang lain.

Dalam konteks Indonesia, kata yatim identik dengan anak yang bapaknya meninggal. Sedangkan bila bapak ibunya yang meninggal, maka dikatakan yatim piatu. Otomatis, perhatian dan santunan lebih dicurahkan kepada yatim piatu dari pada yang yatim saja. Bila dilakukan pendekatan secara ushul fikih, prioritas semacam ini dimasukkan ke dalam kategori fahmal khitab (pemahaman secara eksplisit dengan memakai sekala prioritas).

Artinya, secara filosofis bisa digambarkan, anak yang ditinggal mati kedua orang tuanya lebih diprioritaskan dari pada anak yang hanya ditinggal mati bapaknya saja. Sejatinya, dalam fikih klasik tidak ada skala prioritas seperti yang terjadi dalam konteks Indonesia ini. Yatim, yaitu anak yang ditinggal mati oleh ayahnya. Istilah yatim atau piatu atau yatim piatu dalam bahasa fikih tidak dikenal. dam/disarikan dari buku Bersanding dengan Nabi di Surga

Akhlak

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:01:00

Yaitu suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang daripadanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melalui melalui proses pemikiran, pertimbangan, atau penelitian. Jika keadaan tersebut melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji menurut pandangan akal dan syara, maka disebut akhlak yang baik. Sebaliknya, jika yang timbul adalah perbuatan yang tidak baik, maka disebut akhlak yang buruk.

Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata al-khuluq, atau al-khulq, yang secara etimologis berarti (1) tabiat, budi pekerti, (2) kebiasaan atau adat, (3) keperwiraan, kesatriaan, kejantanan, (4) agama, dan (5) kemarahan (al-gadab).

Karena akhlak merupakan suatu keadaan yang melekat di dalam jiwa, maka suatu perbuatan baru disebut akhlak kalau memenuhi beberapa syarat. (1) Perbuatan itu dilakukan secara berulang-ulang. Bila dilakukan sesekali saja, maka tidak dapat disebut akhlak. (2) Perbuatan itu timbul dengan mudah tanpa dipikirkan atau diteliti lebih dulu sehingga benar-benar telah menjadi suatu kebiasaan.

Akhlak menempati posisi yang sangat penting dalam Islam, sehingga setiap aspek dari ajaran agama ini selalu berorientasi pada pembentukan dan pembinaan akhlak yang mulia, yang disebut akhlaqul karimah. Hal ini antara lain tercantum dalam hadis Rasulullah SAW, “Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR Ahmad, Baihaki, dan Malik). Pada riwayat lain Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang paling sempurna akhlaknya adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR Tirmizi).

Akhlak Nabi SAW disebut dengan akhlak Islam, karena bersumber dari Alquran dan Alquran datang dari Allah SWT. Karenanya, akhlak Islam berbeda dengan akhlak ciptaan manusia (wad’iyah). Ciri-ciri akhlak Islam adalah, (1)kebaikannya bersifat mutlak (al-khairiyyah al-mutlaqah), (2) menyeluruh (as-salahiyyah al-‘ammah), yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya merupakan kebaikan untuk seluruh umat manusia di segala zaman dan semua tempat, (3) tetap, langgeng, dan mantap, (4) merupakan kewajiban yang harus dipatuhi (al-ilzam al-mustajab) yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak Islam merupakan hukum yang harus dilaksanakan sehingga ada sanksi hukum tertentu bagi orang yang tidak melaksanakannya, dan (5) pengawasan yang menyeluruh (ar-raqabah al-muhitah).

Karena akhlak Alquran bersumber dari Tuhan, maka pengaruhnya lebih kuat dari akhlak ciptaan manusia. Seseorang tidak akan berani melanggarnya, dan harus bertobat bagi yang melakukannya. Inilah mengapa disebut agama merupakan pengawas yang kuat. Pengawas lainnya adalah hati nurani yang hidup didasarkan pada agama dan akal sehat yang dibimbing oleh agama. dari ensiklopedi islam terbitan ihktiar baru van hoeve

Hijrah

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:59:00

Kata al-hijrahadalah lawan kata dari kata al-washol (sampai/tersambung). Ha-ja-ra-hu, yah-ju=ru-hu, hij-ran, dan hij-ra-nanyang artinya memutuskannya, mereka berdua yah-ta-ji-raniatau ya-ta-ha-ja-ra-niyaitu saling meninggalkan. Bentuk isim-nya adalah al-hijrah. Di dalam hadis disebutkan, ”Tidak halal seorang mukmin meninggalkan saudaranya (membiarkan dan tidak bertanya) lebih dari tiga hari.” (Hadis riwayat Muslim).Yang dimaksud dengan kalimat hijrahdalam hadis itu adalah kebalikan dari tersambung, yaitu apa yang terjadi antara dua orang muslim baik itu menodai atau mengurngi hak-hak pergaulan atau persahabatan yang tidak tercatat dalam tinjauan agama.

Fairuz Abadi berkata, ”Hijrah dari syirik adalah hijrah yang baik. Keluar dari satu wilayah menuju wilayah lain disebut juga hijrah. Dua hijrah adalah hijrah ke Habasyah dan hijrah ke Madinah. Orang yang melakukan dua hijrah adalah orang yang melakukan hijrah kedua tempat itu.” Para ulama mengemukakan makna hijrah secara syar’i dengan berbagai definisi. Hal itu disebabkan karena banyaknya makna yang terkandung dalam kata hijrah. Oleh karena itu, pandangan mereka terhadap hijrah pun berbeda-beda. Di antara mereka ada yang mendefinisikan hijrah secara global, tetapi ada juga yang membuat definisi secara detail.

Pendapat pertama, hijrah adalah perpindahan dari negeri kaum kafir atau kondisi peperangan (daarul kufri wal harbi) ke negeri muslim (daarul Islam). Ini merupakan pendapat Ibnul Arabi, Ibnu Hajar al-Asqalani dan Ibnu Taimiyah. Yang dimaksud dengan negeri kaum kafir menurut mereka adalah negeri yang dikuasai atau pemerintahannya dijalankan oleh orang-orang kafir dan hukum yang dilaksanakan hukum mereka. Pendapat kedua, hijrah berdasar makna syar’i adalah perpindahan dari negeri orang-orang zalim (daarudz dzulmi) ke negeri orang-orang adil (daarul adli) dengan maksud menyelamatkan agama. Daarul adlidapat diartikan suatu negeri yang dipimpin oleh orang-orang kafir akan tetapi ia memberi toleransi yang tinggi.

Pendapat ini banyak didukung oleh ulama khalafkarena mereka melihat fenomena dan mengalami situasi serta kondisi yang beragam. Mereka menegaskan, hijrah dan tuntutannya ditujukan bagi mereka yang betul-betul berada di bawah tekanan sistem non-Islam. n dam/disarikan dari buku ‘Hijrah dalam Padangan Al-Qurankarya Dr Ahzami Samiun Jazuli terbitan Gema Insani Jakarta

Tasawuf

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:55:00

Tasawuf menurut bahasa Arab, berarti memakai pakaian dari suf (bulu domba yang kasar). Orang yang memakainya dapat disebut sufi atau mutasawwif. Memakai pakaian dari bulu domba yang kasar itu merupakan praktek yang lumrah di kalangan orang-orang yang miskin atau mereka yang hidup dalam kesederhanaan di kawasan Arab dan sekitarnya pada masa lalu (jauh sebelum datangnya Islam dan juga pada masa setelah datangnya Islam).

Yang lain menyebut etimologi sufi berasal dari ashab al-suffa (sahabat beranda) atau ahl al-suffa (orang-orang beranda). Sebutan ini mengarah pada sekelompok muslim pada waktu Nabi Muhammad yang menghabiskan waktu mereka di beranda masjid Nabi, mendedikasikan waktunya untuk berdoa.

Banyak pendapat pro dan kontra mengenai asal-usul ajaran tasawuf, apakah ia berasal dari luar atau dari dalam agama Islam sendiri. Sebagian pendapat mengatakan bahwa paham tasawuf merupakam paham yang sudah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah. Dan orang-orang Islam baru di daerah Irak dan Iran (sekitar abad 8 Masehi) yang sebelumnya merupakan orang-orang yang memeluk agama non-Islam atau menganut paham-paham tertentu. Meski sudah masuk Islam, hidupnya tetap memelihara kesahajaan dan menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan keduniaan.

Seperti diketahui dalam sejarah, pada zahid besar dalam abad ke-8 Masehi (abad II Hijriyah) seperti Hasan al Basri, Abu Hasyim al-Kufi, Sufyan as-Sauri, Fudail bin Iyad, Rabi’ah al-‘Adawiyah, dan Ma’ruf al Karkhi dan lebih-lebih mereka yang hidup pada abad-abad berikutnya (seperti al-Bistami, al-Hallaj, Junaidi al-Baghdadi, al-Harawi, al-Ghazali, Ibnu Sab’in, Ibnu Arabi, Ibnu al Farid, Jalaluddin Rumi) telah mengolah dan mengembangkan sikap atau emosi agama dalam hati mereka dan kesungguhan yang luar biasa.

Mereka dengan tekanan yang bervariasi telah mengembangkan emosi takut pada Tuhan atau azab-Nya, sikap zuhud (sikap tidak tertarik) atau tak peduli dengan kesenangan duniawi), sikap wara (hanya mau mengambil yang halal, dan pantang mengambil yang diragukan kehalalannya apalagi yang haram), sikap qana’ah (merasa cukup dengan rezeki yang halal betapa pun sedikitnya), sikap sabar dalam menahan suka duka kehidupan di jalan Tuhan, emosi ridho pada Tuhan (senang pada-Nya dlam segala situasi), sikap ingat selalu kepada-Nya, sikap khusyuk dan bertekun dalam ibadat (salat, puasa, zikir), emosi cinta pada-Nya dan lain-lain, sedemikian rupa sehingga mereka betul-betul merasakan kehadiran Allah dalam hati mereka atau merasa sangat dekat dengan-Nya.

Menurut Dr Yusuf Al Qaradhawi, agama-agama di dunia ini banyak sekali yang menganut berbagai macam tasawuf, di antaranya ada sebagian orang India yang amat fakir. Mereka condong menyiksa diri sendiri demi membersihkan jiwa dan meningkatkan amal ibadatnya.

Dalam agama Kristen terdapat aliran tasawuf khususnya bagi para pendeta. Di Yunani muncul aliran Ruwagiyin. Di Persia ada aliran yang bernama Mani'; dan di negeri-negeri lainnya banyak aliran ekstrem di bidang rohaniah. Kemudian Islam datang dengan membawa perimbangan yang paling baik di antara kehidupan rohaniah dan jasmaniah serta penggunaan akal.

Maka, insan itu sebagaimana digambarkan oleh agama, yaitu terdiri dari tiga unsur: roh, akal dan jasad. Masing-masing dari tiga unsur itu diberi hak sesuai dengan kebutuhannya. Ketika Nabi SAW melihat salah satu sahabatnya berlebih-lebihan dalam salah satu sisi, sahabat itu segera ditegur. Sebagaimana yang terjadi pada Abdullah bin Amr bin Ash. Ia berpuasa terus menerus tidak pernah berbuka, sepanjang malam beribadat, tidak pernah tidur, serta meninggalkan istri dan kewajibannya. Lalu Nabi SAW menegurnya dengan sabdanya, “Wahai Abdullah, sesungguhnya bagi dirimu ada hak (untuk tidur), bagi istri dan keluargamu ada hak (untuk bergaul), dan bagi jasadmu ada hak. Maka, masing-masing ada haknya.”

AhlusSunnahwalJama’ah

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:54:00

Tidak ada perbedaan definisi antara ahlus sunnah dan salaf, yaitu orang-orang yang beramal dengan Kitab dan berpegang teguh kepada sunah. Salaf adalah ahlus sunnah yang dimaksud oleh Rasulullah SAW; berjalan di atas jalan mereka.

Sunah adalah lawan bid’ah, dan jamaah adalah lawan dari furqoh (perpecahan). Inilah yang dimaksud oleh turjumanul Quran Abdullah bin Abbas dalam menafsirkan sAlquran surat Ali Imran ayat 106. Menurut dia, wajah shlus sunnah wal jama’ah putih berseri, dan wajah ahli bid’ah dan perpecahan hitam muram.

Ahlus sunnah wal jama’ah adalah orang-orang yang menjalani sesuatu seperti yang dijalankan oleh Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya. Disebut ahlus sunnah karena mereka berafiliasi kepada sunah nabi SAW dan bersepakat untuk menerimanya secara lahir dan batin; dalam ucapan, perbuatan, maupun keyakinan.

Ahlus sunnah wal jama’ah mempunyai sejumlah nama lain. Di antaranya adalah ahlus sunnah, ahli jama’ah, jama’ah, salafush shalih, ahli hadis, ahli atsar, firqah najiyah (golongan yang selamat), tha’ifah manshurah (golongan yang mendapatkan pertolongan), dan ahli ittiba’.

Akidah Islam, akidah ahli sunnah wal jama’ah, memiliki sejumlah keistimewaan. Di antaranya: sumber pengambilannya murni; sesuai dengan futrah yang lurus dan akal yang sehat; jelas dan terang; bebas dari paradoks (pertentangan dan kerancuan; kokoh, stabil, dan kekal; umum, universal, dan berlaku untuk semua zaman, tempat, dan umat; memberikan ketenangan jiwa dan pikiran kepada para pemeluknya; mengangkat derajat para penganutnya; menjadi penyebab kemenangan dan kemapanan; tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang benar; mengakomodasi kebutuhan ruh, hati, dan tubuh; mengakui peran akal dan membatasi bidang garapnya; mengakui perasaan manusiawi dan mengarahkannya ke arah yang benar.

Ahlus sunnah wal jama’ah memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dengan golongan lain. Di antaranya adalah: mengikuti apa yang ada dan tidak membuat bid’ah; masuk ke dalam agama secara total; adil dan moderat; mengagungkan Alquran dan sunah; dan menghormati generasi Salafush Shalih.

Alhus sunnah wal jama’ah juga mengkompromikan antara nash-nash yang ada; mengembalikan nash mutasyabih (belum jelas) kepada nash muhkam (pasti); menggabungkan antara ilmu dan ibadah; antara takut, cinta, dan harapan; antara kekerasan dan kelunakan; serta antara akal (rasio) dan perasaan (emosi).

Termasuk dalam karakteristik ahlus sunnah wal jama’ah adalah amanah ilmiah, tidak suka berdebat dalam masalah agama yang sudah jelas duduk persoalannya, suka bermusyawarah; suka berinfak di jalan Allah; gemar berjihad, berdakwah, dan ber-amar ma’ruf nahi munkar. Mereka berakhlak baik, bercita-cita tinggi, stabil di kala suka dan duka, peduli terhadap umat, dan tidak berbeda pendapat mengenai prinsip-prinsip agama. Mereka juga dilarang untuk mengkafirkan satu sama lain, tidak melakukan bid’ah dan syirik, serta segan untuk berfatwa.
Ahli sunnah meyakini bahwa akidah dan kebenaran Islam akan senantiasa terjaga sepanjang zaman. Sesuai sabda Rasulullah SAW, Akan senantiasa ada satu golongan dari umatku yang tampit untuk membela al haq (kebenaran), tidak membahayakan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, hingga datang perintah dari Allah (Kiamat), dan mereka tetap demikian. (HR Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).  disarikan dari buku ringkasan keyakinan islam penerbit elba

Asnaf

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:53:00

Asnaf adalah delapan macam golongan yang berhak menerima pembagian zakat, seperti ditegaskan dalam surat at-Taubah (9) ayat 60. Pertama adalah fakir dan kedua adalah miskin. Tidak ada perbedaan antara istilah fakir dan miskin apabila dilihat dari segi kebutuhannya. Keduanya adalah orang-orang yang sedang membutuhkan bantuan karena mereka sendiri tidak mendapat kecukupan buat kehidupan mereka. Lawannya adalah orang kaya. Namun di antara para fukaha ada yang membedakan antara dua istilah itu, terutama pada kemampuan pada berusaha. Fakir adalah orang yang tidak punya harta dan kemampuan sama sekali untuk berusaha. Miskin ialah orang yang mempunyai kemampuan untuk berusaha, berbadan sehat dan tak ada cacad, namun hasil usahanya tidak mencukupi.

Ketiga, amil yaitu orang yang ditunjuk untuk mengurus atau mengumpulkan zakat, sedangkan ia tidak memperoleh gaji atau upah selain dari pembagian zakat itu. Keempat muallaf qulubuhum, yaitu orang-orang yang sedang dijinakkan atau dibujuk hatinya. Mereka dibujuk, ada kalanya karena mereka baru memeluk agama Islam sedang imannya belum teguh atau karena seseorang yang masuk Islam itu adalah seorang yang besar pengaruhnya di kalangannya, maka diharapkan dengan memberinya zakat, orang lain dari kalangannya akan turut memeluk Islam.

Kelima, ar-riqab yaitu hamba sahaya yang telah dijanjikan oleh tuannya dia boleh menebusi dirinya dengan sejumlah uang yang telah ditentukan. Keenam, al-gharimun yaitu orang-orang yang berhutang. Mereka berhutang adakalanya karena mendamaikan dua orang yang berselisih, atau ia berhutang karena kepentingan dirinya sendiri untuk kebutuhan pokoknya sehari-hari, padahal ia tidak sanggup membayarnya.

Ketujuh, fi sabilillah yaitu di jalan Allah. Ulama fikih menafsirkannya dengan balatentara yang ikut membantu peperangan dengan sukarela, tanpa gaji tertentu yang diharapkan dari markas tentara. Kedelapan adalah  ibnu sabil yaitu orang yang sedang dalam perjalanan melalui negeri orang yang sedang mengeluarkan zakat. Orang ini diberi zakat sekadar ongkos untuk sampai ke tempat tujuannya atau untuk sampai ke tempat hartanya dengan syarat ia benar-benar membutuhkan pertolongan dan perjalanannya itu bukan perjalanan maksiat. n dam/disarikan dari Ensiklopedi Islam Indonesia terbitan Djambatan. dam

Jenis-Jenis Puasa

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:52:00

Puasa adalah ibadah yang berarti menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan ibadah tersebut mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa Ramadhan adalah jenis puasa yang diwajibkan, sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 183-185. Jenis puasa lain yang diwajibkan adalah puasa kafarat (denda, tebusan) dan puasa nazar. Selain itu, ada juga puasa yang diharamkan, puasa makruh, dan puasa sunah.

Puasa haram. Puasa jenis ini mencakup puasa sebagai berikut; (1) Puasa sunah yang dilakukan seorang istri tanpa izin suaminya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Seorang istri yang hendak melakukan puasa sunah harus terlebih dulu diketahui dan mendapat izin dari suaminya. (2) Puasa yang dilakukan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. (3) Puasa pada hari tasyrik, yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijah. (4) Puasa yang dilakukan dalam keadaan haid atau nifas. (5) Menurut mazhab Syafi’i, puasa yang dilakukan pada pertengahan akhir bulan Syakban. (6) Puasa yang dilakukan oleh seseorang yang takut akan terjadi mudarat bagi dirinya apabila ia berpuasa.

Puasa sunah. Puasa jenis ini mencakup puasa sebagai berikut; (1) Puasa Daud, yaitu puasa yang dilakukan selang satu hari (sehari berpuasa sehari tidak, begitu seterusnya). Puasa ini, seperti dijelaskan dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, lebih utama dari puasa-puasa sunah lainnya. (2) Puasa selama tiga hari dalam setiap bulan Hijriyah, yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15. (3) Puasa pada hari Senin dan Kamis. (4) Puasa yang dilakukan selama enam hari pada bulan Syawal, baik secara berturut-turut atau tidak.

Barangsiapa yang berpuasa belama enam hari sesudah puasa Ramadhan, ia seakan-akan telah berpuasa wajib sepanjang tahun. (HR Muslim, dari Abu Ayyub RA). (5) Puasa hari Artafah, yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijah bagi orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji. Hal ini didasarkan pada hadis riwayat Muslim dari Abu Qatadah, Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun, setahun yang lampau dan setahun mendatang. Bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji, puasa pada hari itu tidak disunahkan, bahkan sebaliknya, disunahkan untuk tidak berpuasa. (6) Puasa pada hari ke delapan di bulan Dzulhijah (sebelum hari Arafah). Puasa ini disunahkan tidak saja bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji tetapi juga orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji. (7) Puasa Tasuu’aa, atau Asura, yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal 9 dan 10 Muharam. (8) Puasa pada al-asyur al-hurum, yaitu puasa yang dilakukan pada bulan-bulan Dzulkaidah, Dzulhijah, Muharam, dan Rajab. Keempat bulan ini merupakan bulan yang paling afdhal untul melaksanakan puasa sesudah bulan Ramadhan. (9) Puasa di bulan Syakban.
Puasa makruh. Ada tiga macam, yaitu: (1) Puasa yang dilakukan pada hari Jumat, kecuali telah berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. (2) Puasa wisaal, yaitu puasa yang dilakukan secara bersambung tanpa makan dan minum pada malam harinya. (3) Puasa dahri, yaitu puasa yang dilakukan terus-menerus.  disarikan dari ensiklopedi islam terbitan pt ichtiar baru van hoeve

Iktikaf

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:51:00

Iktikaf berasal dari bahasa Arab yang artinya tinggal di suatu tempat untuk melakukan sesuatu. Tinggal di dalam masjid yang dilakukan seseorang dengan niat.

Dasar hukum iktikaf adalah Alquran dan hadis. Dalam Alquran dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 125 yang artinya: ”…Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang i’tikaf, yang rukuk dan yang sujud.” Dan ayat 187 yang artinya: ”…kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu sedang kamu beri’tikaf dalam masjid…”

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar bin Khattab, Anas bin Malik, dan Aisyah binti Abu Bakar as-Siddiq dijelaskan sesungguhnya Nabi Muhammad SAW melakukan iktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sejak Nabi Muhammad SAW datang di Madinah sampai Nabi SAW wafat. Berdasarkan dalil-dalil tersebut, para ulama antara lain dari Mazhab Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hanbali sepakat tentang adanya iktikaf.

Iktikaf bertujuan membersihkan hati pada waktu-waktu tertentu karena Allah SWT, melepaskan diri dari kesibukan keduniaan dengan menyerahkan diri kepada Allah SWT dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengharap rahmat-Nya.

Iktikaf dapat dilangsungkan selama bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan. Para ulama berbeda pendapat tentang lama beri’tikaf. Ulama dari Mazhab Hanafi mengatakan i’tikaf itu sunah pada waktu-waktu tertentu yang mudah bagi pelakunya hanya sesaat, tanpa disyariatkan berpuasa. Menurut ulama dari Mazhab Maliki waktu iktikaf sekurang-kurangnya sehari semalam dan lebih baik lagi kalau tidak kurang dari sepuluh hari dengan syarat berpuasa, baik dalam bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Mereka berpendapat, tidak sah iktikaf seseorang yang tidak berpuasa karena suatu halangan atau tidak sanggup.

Ulama dari Mazhaf Syafi’i mensyaratkan i’tikaf harus tinggal dalam waktu tertentu yang lamanya sama dengan waktu tuma’ninah (berhenti sebentar) dalam rukuk atau sujud. Adapun menurut ulama dari Mazhab Hanbali, iktikaf sekurang-kurangnya berlangsung selama satu jam.
Syarat sah iktikaf: (1) Islam. (2) Berakal. (3) Di dalam masjid, tidak sah kalau di rumah. (4) Berniat. (5) Berpuasa. Menurut Mazhab Maliki, berpuasa merupakan syarat mutlak. Adapun bagi Mazhab Hanafi, berpuasa adalah syarat dalam iktikaf nazar. Hal ini didasarkan pada hadis riwayat Aisyah ra yang artinya: ”Tidak sah iktikaf kecuali dalam keadaan berpuasa.”  dam/ disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta

Syiar

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:50:00

Syi’ar mufrad, jamaknya adalah asy’irah atau sya’a-ir artinya adalah moto, lambang, tanda, merek, slogan, atau kain wol yang halus dan lembut yang dipakai di bawah selimut. Syiar menjadi simbol kemuliaan dan kebesaran Islam.

Syiar dengan arti slogan dipakai oleh orang-orang Arab dalam peperangan dan ketika bepergian. Arti slogan ini juga dipergunakan oleh Nabi SAW dalam beberapa hadis. Misalnya hadis yang diriwayatkan Imam at-Tirmizi yang artinya, ”Syiar (slogan) orang mukmin pada Sirathal Mustaqim adalah, ‘Ya Allah, selamatkan, selamatkan.’ dan dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud yang artinya: ”Syiar (slogan) kami (dalam peperangan) adalah ‘matikan, matikan’.

Dalam arti tanda pengenal, syiar disebut dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Abu Dawud yang artinya: ”Syiar (tanda) kaum Muhajirin adalah Abdullah dan syiar kaum Anshar adalah Abdurrahman.” Dalam arti pakaian yang langsung mengenai kulit badan di bawah selimut, syiar disebut dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari yang artinya: ”Orang-orang Anshar adalah syiar (kain halus penutup badan), sedangkan orang-orang lain adalah disar (selimut).”

Syiar dalam ibadah banyak berhubungan dengan manasik haji, yang berarti tanda-tanda atau tempat melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Dalam Alquran, kata syiar tidak disebutkan. Yang disebutkan adalah padanannya yaitu sya’irah dan jamaknya sya’a-ir. Kata sya’a-ir Allah dalam Alquran pada umumnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan syiar-syiar Allah. Ayat-ayat Alquran yang menyebutkan sya’a-ir Allah (syiar-syiar Allah) adalahsurat Al-Baqarah ayat 158, surat Al-Hajj ayat 32 dan 36 serta surat Al-Maidah ayat 2.

Abdullah Yusuf Ali (Bombay, India, 1289 H/1872 M-Lahore 1367 H/1948 M), seorang penerjemah Alquran ke dalam bahasa Inggris, dalam The Holy Quran menjelaskan bahwa sya’a-ir Allah merupakan simbol-simbol Allah SWT yang terdiri atas segala hal yang berhubungan dengan pelaksanaan ibadah haji, seperti: (1) tempat, yakni afa, Marwa, Ka’bah, Arfah dan sebagainya; (2) manasik dan ibadah wajib; (3) larangan-larangan, misalnya berburu dan (4) waktu dan musim pelaksanaan kewajiban haji.

Sedangkan dalam Alquran, syiar-syiar Allah SWT itu diartikan dengan (1) tanda-tanda atau tempat bertaat kepada Allah SWT dan (2) segala amalan yang dilakukan dalam rangka ibadah haji. Di kalangan umat Islam Indonesia, kata syiar juga sering dipakai dengan dihubungkan pada kata Islam, sehingga menjadi syiar Islam. Syiar Islam diartikan sebagai kemuliaan dan kebesaran.

Secara umum, syiar Islam merupakan tanda, simbol atau slogan Islam yang nampak dari ibadah yang dirayakan secara besar-besaran seperti shalat Idul Adha dan Idul Fitri di lapangan terbuka. Selain itu juga pada kegiatan ke-Islaman yang dilakukan masyarakat Islam seperti perayaan maulid Nabi Muhammad SAW dan perayaan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. dam/ disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve

Imsak

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:45:00

Imsak secara harfiah berarti menahan atau memelihara seperti dalam kata fa imsakun bi ma’ruf (Alquran surat al Baqarah ayat 229) yang artinya: ”Kemudian tahan atau peliharalah (dia) dengan cara yang baik.” Dalam percakapan sehari-hari, kata imsak lebih banyak dipergunakan untuk pengertian atau sebutan bagi waktu menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan ibadah puasa menjelang terbit fajar sadik (waktu subuh).

Menahan diri dari makan, minum dan lain-lain yang membatalkan puasa di saat-saat menjelang terbit fajar (waktu subuh), bukan merupakan hal yang mesti atau harus dilakukan melainkan hanya sekadar anjuran dan peringatan bagi orang-orang yang hendak berpuasa tentang akan segeranya tiba waktu subuh, di mana waktu pelaksanaan ibadah puasa harus dimulai.

Waktu imsak yang lama waktunya sekitar 10 menit itu, ditentukan sebagai usaha untuk melakukan ihtiyat (kehati-hatian) demi kesempurnaan pelaksanaan ibadah puasa itu sendiri khususnya puasa di bulan suci Ramadhan. Seperti diketahui, waktu pelaksanaan ibadah puasa (wajib atau sunah) dimulai sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. (Perhatikan ayat Alquran surat al-Baqarah 187) yang artinya: ”…dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam…”

Untuk menghindari kemungkinan puasa seseorang menjadi kurang sempurna atau bahkan menjadi batal karena masih makan dan minum sahur atau melakukan hal-hal lain yang membatalkan puasa setelah fajar menyingsing maka diadakanlah waktu imsah; pada waktu itu orang-orang yang tengah makan dan minum sahur sebaiknya segera menghentikan sahurnya karena waktu subuh sudah akan segera tiba (dekat).

Namun demikian, tidak berarti orang yang masih terus makan dan minum sahur di waktu imsak, puasanya menjadi batal, karena menahan diri dari makan dan minum serta melakukan lain-lain hal yang membatalkan puasa di waktu imsak, hanya merupakan ihtiyat (berhati-hati) bukan sesuatu yang diperintahkan oleh agama. dam/ disarikan dari buku Ensiklopedi Islam Indonesia terbitan Djambatan

Dakwah

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:44:00

Dakwah adalah setiap kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah swt sesuai dengan garis akidah, syariah dan akhlak Islamiyah. Secara kebahasaan, dakwah adalah kata dasar (masdar) dari kata kerja da’aa-yad’uu yang berarti panggilan, seruan atau ajakan.

Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata ‘imu’ dan kata ‘Islam’, sehingga menjadi ‘ilmu dakwah’ dan ‘dakwah Islam’ atau ad-da’watul Islamiyah. Yang dimaksud dengan ilmu dakwah adalah suatu ilmu yang berisi cara-cara dan tuntunan-tuntunan bagaimana seharusnya menarik perhatian orang lain untuk menganut, menyetujui dan atau melaksanakan suatu idiologi/agama, pendapat atau pekerjaan tertentu. Orang yang menyampaikan dakwah disebut dai (juru dakwah), sedangkan orang yang menjadi objek dakwah disebut mad’u.

Para ulama berlainan pendapat dalam menetapkan hukum menyampaikan dakwah Islam itu. Ada yang menetapkannya sebagai fardu kifayah (kewajiban kolektif) dan ada pula yang menetapkannya sebagai fardu a’in. Mereka sama-sama mendasarkan pendapat mereka pada surat Ali Imran ayat 04. Kata minkum dalam ayat ini ada yang menganggap mengandung pengertian tab’id (bagian), sehingga hukum dakwah menjadi fardu kifayah. Ada pula yang menganggap kata minkum dalam ayat tersebut sebagai za’idah (tambahan), sehingga hukumnya menjadi fardu a’in.

Tujuan utama dakwah adalah mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridhoi oleh Allah SWT, yakni dengan menyampaikan nilai-nilai yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan yang diridhai oleh Allah SWT sesuai dengan segi atau bidangnya masing-masing.

Setelah Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai rasul Allah SWT, Nabi SAW melakukan dakwah Islam baik secara lisan, tulisan maupun perbuatan. Nabi SAW memulai dakwahnya kepada istrinya, keluarganya dan teman-teman karibnya. Dakwah ini pada mulanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Situasi pada waktu itu belum memungkinkan penyampaian dakwah secara terang-terangan. Kemudian setelah pengikut Nabi SAW bertambah dan beberapa pemuka Kuraisy juga telah menganut agama Islam, barulah dakwah Islam disampaikan secara terang-terangan. Di antara pendukung awal dari dakwah yang disampaikan oleh Nabi SAW adalah Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar as-Siddiq dan Ali bin Abi Talib.

Dakwah Nabi SAW juga dilakukan dengan tulisan. Beliau pernah mengirim surat berisi seruan, ajakan atau panggilan untuk menganut agama Islam kepada raja-raja dan kepala-kepala pemerintahan dari negara-negara yang bertetangga dengan negara Arab. Di antara raja-raja yang mendapat surat atau risalah Nabi SAW itu adalah Kaisar Heraclius dari Bizantium, Mukaukis dari Mesir, Kisra dari Persia (Iran) dan Raja Najasyi dari Habasyah (Etiopia). Setelah Nabi SAW wafat, dakwah Islam dilanjutkan oleh para sahabat. Ruang gerak dakwah Islam pada masa sahabat dan masa-masa sesudahnya semakin luas dan beraneka ragam. dam/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta

Amal

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:43:00

Amal merupakan perwujudan dari sesuatu yang menjadi harapan jiwa, baik berupa ucapan, perbuatan anggota badan, ataupun perbuatan hati. Amal harus berdasarkan pada niat karena Allah SWT menilai amal dari niatnya. Ada tiga jenis amal, yaitu amal jariah, amal ibadah, dan amal saleh. Amal jariah berarti perbuatan yang berkelanjutan. Amal jariah bisa juga disebut wakaf, berasal dari kata waqafa yang berarti menghentikan, mengekang, atau menahan. Benda wakaf adalah benda yang disumbangkan untuk kepentingan umum atau agama. Amal jariah disebut wakaf karena benda yang diamaljariahkan ditujukan bagi kemaslahatan umum.

Pahala amal jariah tidak akan terputus walaupun pemberinya sudah meninggal, selama benda yang diamalkan tersebut masih memberikan manfaat bagi kepentingan umum. Hal ini sesuai sabda Rasulullah SAW, “Bila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya, kecuali tiga (hal): sedekah jariah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR Muslim).

Jariah berasal dari kata jara yang artinya mengalir tidak putus-putusnya. Maka amal jariah agar manfaatnya berlangsung abadi, harus dikelola dengan baik. pengelola amal jariah adalah badan wakaf.

Wakaf sebagai amal jariah ada dua macam, yaitu waqaf ahli dan waqaf khairi. Waqaf ahli adalah wakaf yang pada awalnya ditujukan untuk orang-orang tertentu, namun saat pemberi wakaf meninggal, benda wakaf dialihkan untuk kepentingan umum. Waqaf khairi adalah wakaf yang sejak awal sudah ditujukan untuk kepentingan umum, atau waqaf ahli yang penerima pertamanya sudah tidak ada.

Amal yang kedua, amal ibadah, berarti perbuatan pengabdian. Ibadah berasal dari kata abada yang berarti melayani, mengabdi, dan menyembah. Perintah untuk beribadah terdapat dalam Alquran surat Adz Dzaariyaat ayat 56 yang artinya, “Aku tidak jadikan jin dan manusia kecuali agar mereka mengabdi kepadaku.” Ibadah hanya ditujukan kepada Allah SWT sesuai firman Allah SWT dalam Alquran surat Az-Zumar ayat 11 yang artinya, “Katakanlah, bahwasanya aku diperintahkan menyembah Allah seraya mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.

Amal yang ketiga adalah amal saleh. amal saleh adalah semua perbuatan, lahir maupun batin, yang berakibat pada hal positif atau bermanfaat. Amal saleh bisa mencakup pengertian amal jariah dan amal ibadah.

Amal bisa diterima dan bisa pula tidak diterima oleh Allah SWT. Syarat diterimanya amal ibadah ada dua. Pertama, amal dilakukan dengan ikhlas tanpa pamrih. Kedua, untuk amal ibadah dalam arti khusus seperti shalat, zakat, ibadah, haji, puasa, dan sebagainya harus dilakukan sesuai dengan tuntunan Alquran dan hadis.

Ada beberapa perbuatan yang bisa merusak amal. Pertama adalah riya, yaitu beramal bukan ditujukan kepada Allah SWT, melainkan agar dilihat orang lain. Kedua tasmi, yaitu menceritakan amalnya kepada orang lain dengan tujuan yang sama dengan ria. Ketiga, beramal ibadah dalam arti khusus namun tidak sesuai dengan tuntutan Alquran dan hadis. Keempat, beramal dalam arti umum yang tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan. mg04/disarikan dari ensiklopedi Islam

Pesantren

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:42:00

Kata pesantren atau santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa kata ini berasal dari bahasa India, yaitu shastri yang berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama, atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan.
Di pesantren, para santri atau murid tinggal bersama kiai atau guru mereka dalam suatu kompleks tertentu sehingga tercipta ciri khas kehidupan pesantren seperti hubungan yang akrab antara kiai dan santri, santri taat kepada kiai, kehidupan yang mandiri dan sederhana, adanya semangat gotong royong dalam suasana yang penuh persaudaraan, dan hidup disiplin.
Ada yang mengatakan asal mula pesantren di Indonesia merupakan bagian dari tradisi Islam, dan ada yang menyebutkan bahwa pesantren di Indonesia awalnya diadakan oleh orang-orang Hindu.

Keberadaan pesantren di Indonesia pertama kali ditemukan pada karya-karya Jawa klasik seperti Serat Cabolek dan Serat Centhini yang berasal dari abad ke-16. dari sumber inilah diketahui bahwa pesantren mengajarkan berbagai kitab islam klasik dalam bidang fikih, teologi, dan tasawuf, serta menjadi pusat penyiaran agama islam. Berdasarkan data Departemen Agama tahun 1984-1985, jumlah pesantren di abad ke-16 sebanyak 613 buah.

Menurut laporan Pemerintah Hindia Belanda diketahui bahwa pada tahun 183 di Indonesia terdapat 1.863 lembaga pendidikan Islam tradisional.Van den Berg mengadakan penelitian di tahun 1885 dan hasilnya terdapat 14.929 lembaga pendidikan Islam dengan 300 di antaranya merupakan pesantren.
Pesantren terus berkembang baik dari segi jumlah, materi, maupun sistem. Di tahun 1910 beberapa pesantren seperti Pesantren Denanyar, Jombang, membuka pondok khusus untuk santri wanita.

Di tahun 1920-an pesantren-pesantren di Jawa Timur seperti Pesantren Tebuireng, dan Pesantren Singosari mulai mengajarkan pelajaran umum seperti bahasa Indonesia, Bahasa Belanda, berhitung, ilmu bumi, dan sejarah.
Pada masa penjajahan Belanda, pesantren berkembang dengan pesat. Pesantren ini ada yang memiliki kekhususan sehingga berbeda dengan pesantren lainnya. Ada yang khusus mengajarkan ilmu hadis dan fikih, ilmu bahasa Arab, ilmu tafsir, tasawuf, dan lain-lain.
Kemudian pesantren memasukkan sistem madrasah. Dalam sistem ini jenjang-jenjang pendudukan terbagi menjadi ibtidaiah, tsanawiyah, dan aliah. Sistem madrasah ini mendorong perkembangan pesantren sehingga jumlahnya meningkat pesat.Pada tahun 1958/1959 lahir Madrasah Wajib Belajar yang memiliki hak dan kewajiban seperti sekolah negeri.

Selanjutnya, di tahun 1965, berdasarkan rumusan Seminar Pondok Pesantren di Yogyakarta, disepakati perlunya memasukkan pelajaran keterampilan seperti pertanian, pertukangan, dan lain-lain di pondok pesantren.
Pada masa Orde Baru, pemerintah melakukan pembinaan terhadap pesantren melalui Proyek Pembangunan Lima Tahun (Pelita). Dana pembinaan pesantren diperoleh dari pemerintahan terkait, dari pemerintahan pusat hingga daerah.
Tahun 1975, muncul gagasan untuk mengembangkan pondok pesantren dengan model baru. Lahirlah Pondok Karya Pembangunan, Pondok Modern, Islamic Center, dan Pondok Pesantren Pembangunan. Akan tetapi pondok pesantren ini mengalami kesulitan dalam pembinaan karena tidak adanya kiai yang karismatik yang bisa memberi bimbingan dan teladan pada santrinya.

Kemudian banyak pesantren yang mendirikan sekolah umum dengan kurikulum sekolah umum yang ditetapkan oleh pemerintah. Bahkan, pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 03 tahun 1975, menetapkan mata pelajaran umum sekurang-kurangnya sebanyak 70 persen dari seluruh kurikulum madrasah. Banyak juga madrasah yang mendirikan perguruan tinggi seperti pesantren AS-Syafi’iyah dan pesantren at-Tahiriyah.   mg04/disarikan dari ensiklopedi islam

Insan Kamil

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:41:00

Artinya adalah manusia sempurna, berasal dari kata al-insan yang berarti manusia dan al-kamil yang berarti sempurna. Konsepsi filosofid ini pertama kali muncul dari gagasan tokoh sufi Ibnu Arabi. Oleh Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili (1365-1428), pengikutnya, gagasan ini dikembangkan menjadi bagian dari renungan mistis yang bercorak tasawuf filosofis.

Al-Jili merumuskan insan kamil ini dengan merujuk pada diri Nabi Muhammad SAW sebagai sebuah contoh manusia ideal. Jati diri Muhammad (al-haqiqah al-Muhammad) yang demikian tidak semata-mata dipahami dalam pengertian Muhammad SAW asebagai utusan Tuhan, tetapi juga sebagai nur (cahaya/roh) Ilahi yang menjadi pangkal dan poros kehidupan di jagad raya ini.

Nur Ilahi kemudian dikenal sebagai Nur Muhammad oleh kalangan sufi, disamping terdapat dalam diri Muhammad juga dipancarkan Allah SWT ke dalam diri Nabi Adam AS. Al-Jili dengan karya monumentalnya yang berjudul al-Insan al-Kamil fi Ma’rifah al-Awakir wa al-Awa’il (Manusia Sempurna dalam Konsep Pengetahuan tentang Misteri yang Pertama dan yang Terakhir) mengawali pembicaraannya dengan mengidentifikasikan insan kamil dengan dua pengertian. Pertama, insan kamil dalam pengertian konsep pengetahuan mengeneai manusia yang sempurna. Dalam pengertian demikian, insan kamil terkail dengan pandangan mengenai sesuatu yang dianggap mutlak, yaitu Tuhan. Yang Mutlak tersebut dianggap mempunyai sifat-sifat tertentu, yakni yang baik dan sempurna.

Sifat sempurna inilah yang patut ditiru oleh manusia. Seseorang yang makin memiripkan diri pada sifat sempurna dari Yang Mutlak tersebut, maka makin sempurnalah dirinya. Kedua, insan kamil terkait dengan jati diri yang mengidealkan kesatuan nama serta sifat-sifat Tuhan ke dalam hakikat atau esensi dirinya. Dalam pengertian ini, nama esensial dan sifat-sifat Ilahi tersebut pada dasarnya juga menjadi milik manusia sempurna oleh adanya hak fundamental, yaitu sebagai suatu keniscayaan yang inheren dalam esensi dirinya. Hal itu dinyatakan dalam ungkapan yang sering terdengar, yaitu Tuhan berfungsi sebagai cermin bagi manusia dan manusia menjadi cermin bagi Tuhan untuk melihat diri-Nya.

Bagi al-Jili, manusia dapat mencapai jati diri yang sempurna melalui latihan rohani dan mendakian mistik, bersamaan dengan turunnya Yang Mutlak ke dalam manusia melalui berbagai tingkat. Latihan rohani ini diawali dengan manusia bermeditasi tentang nama dan sifat-sifat Tuhan, dan mulai mengambil bagian dalam sifat-sifat Illahi serta mendapat kekuasaan yang luar biasa.

Pada tingkat ketiga, ia melintasi daerah nama serta sifat Tuhan, masuk ke dalam suasana hakikat mutlak, dan kemudian menjadi “manusia Tuhan” atau insan kamil. Matanya menjadi mata Tuhan, kata-katanya menjadi kata-kata Tuhan, dan hidupnya menjadi hidup Tuhan (nur Muhammad). Muhammad Iqbal tidak setuju dengan teori para sufi seperti pemikiran al-Jili ini. Menurut dia, hal ini membunuh individualitas dan melemahkan jiwa. Iqbal memang memandang dan mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai insan kamil, tetapi tanpa penafsiran secara mistik.

Insan kamil versi Iqbal tidak lain adalah sang mukmin, yang dalam dirinya terdapat kekuatan, wawasan, perbuatan, dan kebijaksanaan. Sifat-sifat luhur ini dalam wujudnya yang tertinggi tergambar dalam akhlak Nabi SAW. Insan kamil bagi Iqbal adalah sang mukmin yang merupakan makhluk moralis, yang dianugerahi kemampuan rohani dan agamawi. Untuk menumbuhkan kekuatan dalam dirinya, sang mukmin senantiasa meresapi dan menghayati akhlak Ilahi. Sang mukmin menjadi tuan terhjadap nasibnya sendiri dan secara tahap demi tahap mencapai kesempurnaan. Iqbal melihat, insan kamil dicapai melalui beberapa proses. Pertama, ketaatan pada hukum; kedua penguasaan diri sebagai bentuk tertinggi kesadaran diri tentang pribadi; dan ketiga kekhalifahan Ilahi. dari ensklopedi Islam terbitan ikhtiar baru van hoeve

Kias

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:40:00

Salah satu metode ijtihad yang banyak digunakan ulama usul fikih dalam menetapkan kesimpulan hukum Islam ketika hukum suatu kasus tidak ada dalam nash (Alquran dan hadis) disebut kias.

Mayoritas ulama berpendapat, kias dapat dijadikan dasar argumen penetapan hukum. Kendati demikian, frekuensi penggunaan kias dikalangan mujtahid berbeda-beda. Ulama Mazhab Hanafi misalnya, dikenal banyak menggunakan kias, sehingga mereka disebut ahlul qiyaas. Sebaliknya, ulama Maliki jarang menggunakan kias. Kias hanya diterapkan dalam bidang muamalah, tidak dalam masalah ibadah khusus. Pada perkembangan awal terbentuknya mazhab fikih, penggunaan kias bahkan bisa dijadikan ukuran apakah seorang mujtahid termasuk golongan rasionalis (ahlurra’yi) atau tradisionalis (ahlulhadist).

Kias berasal dari bahaasa Arab al-qiyaas yang berarti membandingkan atau menyamakan sesuatu dengan yang lain. Menurut ulama usul fikih, kias adalah memberi hukum terhadap kasus yang tidak ada ketentuannya dalam nash dengan hukum kasus yang ada ketentuan nash-nya, karena ilat (sebab) kedua kasus itu sama. Misalnya, khamar itu haram berdasarkan ayat Alquran karena memabukkan. Wiski bersifat memabukkan kalau diminum. Karena ilat-nya sama, memabukkan, maka wiski juga haram.

Berkaitan dengan arti tersebut, mereka sepakat menyatakan bahwa proses penetapan hukum melalui kias bukanlah menentukan hukum dari awal, tetapi hanya menyingkap hukum yang ada pada suatu kasus yang belum jelas hukumnya. Ada empat rukun kias, yaitu al asl (asal), kasus yang akan ditentukan hukumnya; al far’ (cabang), yaitu kasus yang akan ditentukan hukumnya; ilat, yaitu alasan atau sifat suatu ketetapan hukum yang menjadi ketentuan hukum bagi kasus lain; dan hukum al asl, yaitu status hukum kasus yang ada ketentuannya dalam nash.

Untuk dapat mengkiaskan atau menganalogikan hukum cabang kepada hukum asal, keduanya harus mempunyai ilat yang sama. Misalnya saja dalam kasus berjudi atau bermain lotre, keduanya mempunyai ilat yang sama yaitu mendapatkan harta orang lain secara tidak sah. Maka, haramnya bermain lotre dikiaskan pada berjudi (QS Al Maidah [5]: 90-91).

Ada beberapa cara untuk mengetahui ilat, yaitu melalui ijma’, yaitu kesepakatan ulama tentang ilat suatu kasus: al ima’ wattanbih, yaitu penyertaan sifat dengan hukum dan penyebutan dalam lafal; assibr wattaqsim, yaitu identifikasi dan pengujian beberapa sifat yang bisa dijadikan ilat; al ikhalat, yaitu munasabah atau penyesuaian; dan tanqih al manat, yaitu upaya dalam menentukan ilat dari berbagai sifat yang dijadikan ilatoleh Allah SWT dalam berbagai hukum.

Rasulullah SAW menggunakan metode kias ketika menjawab pertanyaan Umar bin Khattab. Saat itu, sang sahabat mendatangi Rasulullah seraya berkata, Pada hari ini saya telah melakukan kesalahan besar; saya mencium istri saya sedangkan saya dalam keadaan berpuasa. Lalu Rasulullah mengatakan kepada Umar, Bagaimana pendapatmu jika kamu berkumur-kumur dalam keadaan berpuasa, apakah puasamu batal? Umar menjawab, Tidak. Lalu Rasulullah SAW berkata,Kalau begitu, kenapa engkau sampai menyesal? (HR Ahmad bin Hanbal dan Abu Dawud dari Umar bin Khattab). tri/dari ensiklopedi Islam untuk pelajar, terbita

Suni-Syiah

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:39:00

Salah satu mazhab atau golongan di dalam Islam, mempunyai pengikut paling banyak dibanding dengan mazhab yang lain. Paham suni berdasar pada sunah (tradisi) Nabi Muhammad SAW, di samping Alquran.

Kelompok ini biasa juga Ahlussunah wal jama’ah. Ahlussunah berarti orang-orang yang menganut atau mengikuti sunah, dan wal jama’ah berarti mayoritas umat. Yang dimaksud mayoritas umat di kalangan suni ialah mayoritas sahabat Nabi SAW. Dengan demikian, istilah ahlussunah wal jama’ah mengandung arti orang-orang yang mengikuti sunah Nabi SAW dan mayoritas sahabat, baik di dalam syariat (hukum agama Islam) maupun akidah (kepercayaan).

Istilah ahlussunah wal jama’ah tidak dikenal di zaman Nabi SAW maupun di masa pemerintahan al-Khulafaa-ur Rasyidun (Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib); bahkan tidak dikenal di zaman pemerintahan Bani Umayyah (41-133 H/611-750 M). Istilah ini untuk kali pertama dipakai pada masa pemerintahan Khalifah Abu Ja’far al Manshur (137-59H/754-775M) dan Khalifah Harun ar Rasyid (170-194H/785-809M), keduanya dari Dinasti ‘Abbasiyah (750-1258). Istilah ahlussunah wal jama’ah semakin tampak ke permukaan pada jaman pemerintahan Khalifah al Ma’mun (198-218H/813-833M).

Pada zamaannya, al-Ma’mun menjadikan Muktazilah, aliran yang mendasarkan ajaran Islam pada Alquran dan akal, sebagai mazhab resmi negara, dan ia memaksa para pejabat dan tokoh-tokoh agama agar menjadikan paham ini terutama yang berkaitan dengan kemakhlukan Alquran. Muktazilah lebih banyak menggunakan akal dalam memahami masalah keagamaan dan tidak begitu berpegang teguh pada sunah.

Nabi SAW, namun mereka tetap tidak meninggalkan Alquran. Karena Muktazilah merupakan kelompok minoritas dan tidak kuat berpegang teguh pada sunah, maka kelompok yang menentangnya dikenal dengan nama ahlussunah wal jama’ah yaitu kelompok yang berpegang teguh pada sunah dan merupakan kelompok mayoritas.

Syiah adalah satu aliran dalam Islam yang meyakini Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad SAW. Dari segi bahasa, kata syiah berarti pengikut, kelompok atau golongan seperti yang terdapat dalam surat as-Shaffat ayat 83 yang artinya: ”Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).”

Paham syiah tersebar di negara-negara Iran, Irak, Afghanistan, Pakistan, India, Libanon, Arab Saudi, Bahrein, Kuwait, bekas negara Uni Sovyet, serta beberapa negara Amerika dan Eropa.

Para penulis sejarah Islam berbedap pendapat mengenai awal mula lahirnya Syiah. Sebagian menganggap Syiah lahir langsung setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW yaitu pada saat perebutan kekuasaan antara golongan Muhajirin dan Anshar di Balai Pertemuan Saqifah Bani Sa’idah. Pada saat itu muncul suara dari Bani Hasyim dan sejumlah kecil Muhajirin yang menuntut kekhalifahan bagi Ali bin Abi Thalib.

Sebagian yang lain menganggap Syiah lahir pada masa akhir kekhalifahan Usman bin Affan (memerintah dari tahun 644-656) atau pada masa awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Pada masa itu terjadi pemberontakan terhadap Khalifah Usman bin Affan yang berakhir dengan kematian Usman dan ada tuntutan umat agar Ali bin Abi Thalib bersedia dibaiat sebagai khalifah. dam/ disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta.

Istigfar

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:32:00


Istigfar merupakan permohonan ampunan dari manusia selaku hamba yang memiliki sifat ketergantungan kepada Allah, Zat yang telah menciptakan diri-Nya dan yang berkuasa menentukan bagaimana nasib dirinya sebagai makhluk Allah. Permohonan ampunan ini semata-mata ditujukan kepada Allah, tidak kepada yang lainnya. Permohonan ampunan itu kuga bersifat langsung kepada Allah tanpa melalui perantara, sehingga merupakan permohonan ampunan yang amat murni dari lubuh hatinya.

Allah SWT berfirman: ”Mereka takut kepada Tuhannya yang berkuasa atas (nasib baik buruknya) mereka dan melaksanakan yang diperintahkan (kepada mereka)”. (QS a-An-nahl [16]: 50). Realisasi istigfar diungkapkan dalam bentuk kalimat-kalimat istigfar seperti berikut ini Gufraanaka Rabbanaa wa ilaikal masiir (Ampunilah kami, ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah kami kembali) (QS Albaqarah [2]: 285).

Istigfar biasanya mempunyai kaitan dengan tobat atau pertobatan. Hal ini bisa disimak dari firman Allah, ”Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya” (QS Al-Maidah [5]: 74). Lalu apakah dengan demikian istigfar sama dengan bertobat? Dalam hal ini tobat mempunyai kedudukan yang lebih tinggi. Dalam bertobat, seseorang terikat untuk melaksanakan syarat-syarat pertobatan, bila ia melanggarnya maka tobatnya dengan sendirinya menjadi tertolak. Syarat-syarat itu antara lain: menyesali dosa-dosanya, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama pada masa mendatang, memperbanyak melakukan kebaikan, amal ibadah ataupun ketaatan, menjauhi perbuatan buruk dan beberapa yang lain lagi.

Salah satu dari sekian tuntutan bagi orang yang bertobat ialah mengucapkan istigfar. Artinya, istigfar merupakan bagian dari tobat atau pertobatan. Meski demikian, istigfar memiliki nilai yang tinggi diantara amalan-amalan ibadah, khususnya dalam kelompok ibadah dan zikir. Rasulullah SAW bersabda, ”Yang terbaik diantara kamu ialah orang yang sering tergoda, tetapi sering bertobat (sering kembali kepada Allah) dengan perasaan menyesal atas dosa yang diperbuatnya dengan jalan memperbanyak istigfar. ” Di sini jelas hubungannya tobat dengan istigfar merupakan cara untuk menuju pertobatan.

Dengan membiasakan istigfar, maka bukan hanya dosa-dosa masa lalu dan masa kini, tetapi dosa-dosa masa mendatang pun telah mendapat jaminan diampuni Allah bahkan beristigfar dapat mendatangkan kesempurnaan nikmat (karunia) Allah. Firman-Nya, ”Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu.” (QS Al-Fath [48]: 2).

Manfaat istigfar dalam kehidupan sehari-hari pertama, memperoleh kenikmatan hidup secara terus-menerus. Allah SWT berfirman, ”Dan hendaklah kamu beristigfar (meminta ampun) kepada Tuhanmu dan bertobatlah kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian) niscaya Dia (Allah) akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia (Allah) akan memberikan kepada tia-tiap orang yang mempunyai keutamaan (ketaatan/amal kebaikan) (QS Hud [11]: 3).

Kedua, dibebaskan dari perasaan tertekan atau kedukaan. Ketiga, Membukakan jalan keluar atas kesulitan. Rasulullah SAW bersabda, ”Dan Dia (Allah) akan memberikan (membukakan) jalan keluar bagi kesempitannya (kesulitannya).” Keempat, memudahkan datangnya rezeki. Nabi SAW bersabda, ”Barangsiapa yang merasa diperlambat (tersendat-sendat) rezekinya, hendaknya dia beristigfar kepada Allah.” (HR Baihaqi dan ar-Rabi’i).

Selain itu, manfaat lain dari mendawamkan istigfar antara lain, mendatangkan keselamatan, menimbulkan ketenteraman hati, mendatangkan ampunan dosa, menumbuhkan sifat-sifat keutamaan kepada seseorang, dan dicintai Allah. dam/dikutip dari buku Keutamaan Istigfar penerbit gema Insani Press

Tablig

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:31:00

Tablig Dari akar kata ballaga-yuballigu-tabligan yang artinya menyampaikan. Secara istilah berarti menyampaikan ajaran-ajaran Islam yang diterima dari Allah SWT kepada umat manusia untuk dijadikan pedoman dan dilaksanakan agar memperoleh kebahagiaan dunia akhirat. Isi pokok kegiatan tablig adalah amar ma’ruf nahi munkar (perintah untuk mengerjakan perbuatan yang baik dan larangan mengerjakan perbuatan yang keji) dan mengajak beriman kepada Allah SWT. Orang yang bertablig disebut mubalig atau mubaligah (untuk wanita). Kata lain yang lebih populer adalah dakwah dan pelakunya disebut dai. Dalam istilah sehari-hari , proses penyampaian ajaran (tablig) sering disebut dakwah dan dainya sering disebut mubalig/mubaligah.

Mula-mula kegiatan tablig dilakukan oleh Rasulullah SAW sendiri, kemudian oleh para sahabat termasuk as-Sabiqunal al-Awwalun (pemeluk Islam pertama), dan seterusnya menjadi kewajiban setiap muslim, sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki. Di kalangan pengikut Asy’ariyah, kata tablig sering digunakan sebagai salah satu sifat wajib bagi rasul (utusan) Allah SWT. Hal itu karena rasul menerima wahyu dari Allah SWT untuk disampaikan kepada umatnya.

Kata tablig dalam Alquran disebutkan dalam bentuk kata kerja fi’il sekurang-kurangnya sepuluh kali (QS Al Maaidah [5]: 67; QS Al Azhab [33]: 62,68; QS Al Ahqaf [46]: 23; QS Al Jin [72]: 28; QS Al A’raf [7]: 79, 92, dan QS Hud [11]: 57)

Dasar kegiatan tablig adalah perintah Allah SWT dalam Alquran surat Al-Maidah ayat 67 yang artinya: ”Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan ( apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” Dan surat Al-A’raf ayat 68 yang artinya: ”Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat terpercaya bagimu.”

Jika pada ayat di atas tugas tablig merupakan tugas Rasul, maka untuk seterusnya tablig menjadi tanggung jawab setiap muslim. Karena itu agama Islam sering diidentikkan sebagai agama tablig (dakwah). Ini sejalan dengan perintah Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, at-Tirmizi dan Ahmad dari Ibnu Amr, yang artinya: ”Sampaikan (tablig)-lah olehmu apa yang kalian peroleh dari aku meski hanya satu ayat, ceritakanlah dari Bani Israil tidak mengapa, dan barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja maka siapkanlah tempat duduknya dari api neraka.”

Ini dimaksudkan agar tablig, seorang mubalig atau mubaligah benar-benar menyampaikan ajaran yang datang dari Nabi SAW. Namun tablig hanyalah menyampaikan ajaran, tidak berarti memaksakan, karena pada akhirnya Allah SWT-lah yang memberikan petunjuk kepada hamba-Nya untuk beriman. Allah SWT berfirkan yang artinya: ”Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang dikendaki-Nya dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang meu menerima petunjuk.” (QS Al Qashash [28]: 56).

Metode tablig secara garis besar ditunjukkan dalam Alquran surat an-Nahl ayat 125 yang artinya: ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhamu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” dam/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta.

About these ads

0 Responses to “Ensiklopedia Islam (4)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,147,354 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 117 other followers

%d bloggers like this: