23
Sep
09

Ensiklopedia Islam (3)

Muharram

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:30:00

Artinya adalah mulia. Bulan setelah Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah sinamakan Muharram kerana memang bulan tersebut mulia, penamaan tersebut sebagai penguat dari kemuliaan bulan itu. Allah Taala berfirman dalam surat At Taubah ayat 36, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah ketetepan agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu…”

Selain karena kemuliaannya, sejarah Islam juga mencatat, banyak peristiwa penting yang terjadi pada bulan ini. Pada 1 Muharam, Khalifah Umar Al-Khattab mula membuat penetapan tahun Hijriyah.

Selain itu, pada 10 Muharam atau lazim disebut hari ‘Asyura’, banyak terjadi peristiwa penting yang mencerminkan kegemilangan bagi perjuangan yang gigih dan juga ketabahan dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. Pada 10 Muharam:

* Nabi Adam bertaubat kepada Allah.
* Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit.
* Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama enam bulan.
* Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud.
* Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa.
* Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara.
* Penglihatan Nabi Yaakub yang kabur dipulihkan Allah.
* Nabi Ayub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritanya.
* Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam.
* Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentera Firaun.
* Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah.
* Nabi Sulaiman dikurniakan Allah kerajaan yang besar.
* Hari pertama Allah menciptakan alam.* Hari Pertama Allah menurunkan rahmat.
* Hari pertama Allah menurunkan hujan.
* Allah menjadikan ‘Arasy.
* Allah menjadikan Luh Mahfuz.
* Allah menjadikan alam.
* Allah menjadikan Malaikat Jibril.
* Nabi Isa diangkat ke langit.

Di antara keutamaan hari `Asyuuraa itu, ada disebutkan di dalam sebuah hadis yang maksudnya: “Dari Ibnu `Uyainah dari Abdullah bin Abu Yazid dari Ibnu Abbas Radhiallahu `anhuma dia telah berkata. “Aku tidak pernah melihat Nabi Sallallahu `alaihi Wasallam mempunyai maksud untuk mengerjakan puasa pada suatu hari yang Baginda Sallallahu `alaihi wasallam lebih mengutamakannnya daripada hari-hari yang lain, kecuali hari `Asyuuraa dan berpuasa dalam bulan ini yakni bulan Ramadhan.” (Hadis riwayat Bukhari)

Banyak kaum Muslimin melakukan kegiatan positif di hari itu. Misalnya menyantuni anak yatim, sehingga tanggal ini sering pula disebut Hari Lebaran anak yatim. Namun jangan terjebak melakukan amalan bid`ah pada Hari `Asyuuraa, seperti mandi dengan niat mandi ‘Asyuuraa, mencelak mata, atau shalat Asyuuraa. Memang ada hadis yang menyuruh bercelak mata pada hari itu, namun menurut Al-Hakim hadis itu adalah hadis munkar, sedangkan Ibnu Hajar berpendapat hadis itu maudhuu.

Mudah-mudahan dengan berpuasa ‘Asyuuraa dan mengamalkan atau melakukan apa yang disunatkan pada hari itu serta mengambil iktibar peristiwa-peristiwa yang berlaku akan menambah keimanan dan takwa. Sehingga, amal ibadah kita di tahun baru ini akan meningkat. tri/ dari berbagai sumber

Tabi’in

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:30:00


Secara kebahasaan, tabiin merupakan bentuk jamak dari tabi’ artinya yang mengikuti. Orang-orang atau orang-orang Islam yang pernah berjumpa dengan sahabat Nabi Muhammad SAW dan meninggal dalam  keadaan iman.

Menurut Al-Khatib al Baghdadi (sejarawan dari Baghdad yang hidup pada abad ke-4 hijriyah), seorang muslim dapat dikatakan sebagai tabiin jika pernah bersahabat Nabi SAW, jadi bukan sekedar pernah berjumpa saja. Para ulama ahli hadis membagi generasi tabiin ini dalam beberapa tingkatan (tabaqat) berdasarkan kualitas sahabat yang pernah dijumpainya. Ibnu Sa’ad, misalnya, mengelompokkan tabiin dalam 4 tabaqat, sedangkan Al-Hakim mengelompokannya dalam 15 tabaqat. pengelompokkan tabaqat tabiin sangat relatif dan lebih sulit serta berbeda pengelompokkan tabaqat sahabat yang didasarkan atas keikut sertaannya pada peristiwa peristiwa penting yang dialami Rasulullah SAW.

Untuk tabaqat pertama, para ulama sepakat memberi batasan bahwa mereka adalah tabi’in yang pernah berjumpa dan bersahabat dengan sepuluh sahabat yang dijanjikan Rasulullah SAW akan masuk surga. Mereka itu adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Sa’id bin Abi Waqqas, Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail,  Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Mereka yang dipandang sebagai tabi’in tabaqat pertama di antaranya Abu Usman an-Nahdi, Qais bin Abbad, Abu Husain bin Munzir, Abu Wa’il dan Abu Raja’ at-Taridi. Tabi’in yang diketahui paling dulu meninggal adalah Abu Zaid Ma’mar bin Zaid (wafat tahun 30 Hijriyah).

Tabaqat Tabi-in yang paling akhir, menurut pandangan al-Hakim, ialah tabi’in yang sempat berjumpa atau melihat sahabat paling akhir dan menyaksikan wafatnya sahabat tersebut (man laqiya akhiras shahabata mautan (siapa yang melihat/menyaksikan paling akhir wafatnya seorang sahabat). Mereka yang termasuk tabi’in tabaqat terakhir ialah tabi’in yang berjumpa dengan Abu Tufail Amir bin Wa’ilah di Mekah yang berjumpa dengan as-Saib di Madinah yang berjumpa dengan Abu Umamah di Syam (Suriah) yang berjumpa dengan Ubaidilah bin Abi Aufa di Kufah yang berjumpa dengan Anas bin Malik di Basra dan berjumpa dengan Abdullah az-Zubaidi di Mesir. Tabi’in yang paling akhir wafatnya ialah Khalaf bin Khalifah (wafat tahun 181 Hijriyah), karena ia sempat berjumpa dengan Abu Tufail di Mekah. Dengan demikian, periode tabi’in berakhir tahun 181 Hijriyah bersamaan dengan masa pemerintahan Harun ar-Rasyid (170-194 Hijriyah) dari Bani Abbas.

Di antara tabi’in yang mempunyai peran besar dalam pengembangan ilmu agama Islam ialah Sa’id bin Musayyab, Nafi’ Maula bin Amr, Muhammad bin Sirin, Ibnu Syihab az-Zuhri, Sa’id bin Zubair al-Asadi al-Kufi dan Nu’man bin Sabit. Sa’id bin Musayyab lahir pada tahun 15 Hijriyah, tahun kedua pada pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab dan wafat pada tahun 94 Hijriyah. Ayah dan kakeknya adalah sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia terkenal karena kewarakan, kezuhudan dan keluasan ilmu pengetahuan di bidang hadis dan fikih.

Nafi’ Maula bin Amr (wafat 117 Hijriyah) pada mulanya adalah hamba Ibnu Umar yang mengabdi kepada majikannya selama tiga tahun sebelum dimerdekakan. Imam Malik bin Anas adalah sahabat dekat Nafi’. Imam Malik berkata, ”Jika aku menerima hadis dari Nafi’ dari Ibnu Umar, aku tidak perlu mendengarnya lagi dari orang lain.” Dengan demikian, Imam Malik yakin betul dengan setiap hadis yang diriwayatkan Nafi’. Ia juga dikenal sebagai rawi (periwayat) hadis dan ulama fikih Madinah.

Muhammad bin Sirin adalah anak seorang maula (hamba yang kemudian) dimerdekakan) Anas bin Malik. Ia lahir dua tahun sebelum berakhirnya pemerintahan Usman bin Affan (32 Hijriyah) dan wafat pada tahun 110 Hijiyah. Ia termasuk ulama fikih di Madinah di samping rawi hadis yang dipercaya. dam/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta. tri/dam

Ihtikar

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:26:00

Ihtikar berasal dari kata hakara yang arti az-zulm (aniaya) dan isa’ al-mu’asyarah (merusak pergaulan). Secara istilah berarti menyimpan barang dagangan untuk menunggu lonjakan harga.

Menurut Imam Asy-Syaukani (wafat 1834) ahli hadis dan usul fikih, ihtikar adalah penimbunan barang dagangan dari peredarannya. Imam al-Ghazali mengartikan sebagai penjual makanan yang menyimpan barang dagangannya dan menjualnya setelah harganya melonjak. Adapun menurut ulama mazhab Maliki, ihtikar adalah menyimpan barang oleh produsen, baik berupa makanan, pakaian, dan segala barang yang dapat merusak pasar.

Semua pendapat tersebut secara esensi mempunyai pengertian yang sama, yaitu menyimpan barang yang dibutuhkan masyarakat dan memasarkannya setelah harga melonjak, namun dari jenis barang yang disimpan atau ditimbun terjadi perbedaan. Imam asy Syaukani dan mazhab Maliki tak merinci barang apa saja yang disimpan tersebut. Berbeda dengan pendapat keduanya, Imam al-Ghazali mengkhususkan ihtikar kepada jenis makanan.

Dengan menganalisis berbagai pengertian tentang ihtikar yang dikemukakan oleh para ulama dan memperhatikan situasi perekonomian pada umumnya, Fathi ad-Duraini seorang Guru Besar bidang fikih dan usul fikih di Fakultas Syariah Universitas Damascus, memberikan suatu pengertian. Menurutnya, ihtikar adalah tindakan menyimpan harta, manfaat atau jasa serta enggan untuk menjual dan memberikan harta dan jasanya kepada orang lain, sehingga harga pasar melonjak secara drastis karena persediaan terbatas atau stok hilang sama sekali dari pasar, sementara kebutuhan masyarakat negara atau hewan amat mendesak untuk mendapatkan barang, manfaat atau jasa tersebut.

Berdasarkan analisis yang mereka lakukan, para ahli fikih menghukumkan ihtikar sebagai perbuatan terlarang dalam agama. Dasar hukum pelarangan ini adalah kandungan Alquran yang menyatakan bahwa setiap perbuatan aniaya, termasuk di dalamnya kegiatan ihtikar, diharamkan oleh agama (QS Al Baqarah [2]: 279; Al Maidah [5]: 2 dan 6; dan Al Hajj [22]: 78).

Di samping itu banyak hadis Rasulullah SAW tidak membenarkan perbuatan ihtikar, misalnya, ”Siapa yang merusak harga pasar, sehingga harga tersebut melonjak tajam, maka Allah akan menempatkannya di dalam api neraka pada hari kiamat.” (HR at-Tabrani dari Ma’qil bin Yasar).

Kemudian sabda Rasulullah yang lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah, ”Siapa yang melakukan penimbunan barang dengan tujuan merusak harga pasar, sehingga harga naik secara tajam, maka ia telah berbuat salah.”

Dalam riwayat Ibnu Umar dari Rasulullah SAW juga mengatakan, ”Para pedagang yang menimbun barang makanan (kebutuhan pokok manusia) selama 40 hari, maka ia terlepas dari (hubungan dengan) Allah, dan Allah pun melepaskan (hubungan denga)-nya.”

Berdasarkan Alquran dan hadis di atas, para ulama sepakat bahwa ihtikar tergolong ke dalam perbuatan yang dilarang atau haram. meskipun demikian, terdapat sedikit perbedaan pendapat diantara mereka tentang cara menempatkan hukum tersebut, sesuai dengan sistem  pemahaman hukum yang mereka miliki.

Menurut jumhur ulama yang terdiri dari ulama mazhab Maliki, Syafi’i, Hanbali, Zaidiyah dan Imam al-Kasani (ahli fikih mazhab Hanafi), ihtikar hukumnya haram. Alasan yang mereka kemukakan adalah ayat-ayat dan hadis-hadis di atas. Ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa hadis di atas mengandung pengertian yang dalam. Orang yang melakukan kesalahan al-khata’ dengan sengaja berarti telah mengingkari ajaran syara’ (hukum Islam) dan syariat. Kalangan mazhab Hanbali juga mengatakan bahwa ihtikar adalah perbuatan yang diharamkan syara’, karena mambawa mudharat yang besar terhadap masyarakat dan negara.

Apabila penimbunan suatu barang tekah terjadi di pasar, maka pemerintah berhak memaksa pedagang untuk menjualnya dengan harga normal pada saat itu. Bahkan menurut ulama fikih, para pedagang menjual barang tersebut dengan harga modal sebagai hukumannya, karena mereka tidak berhak mengambil untung. Disamping bertindak tegas, pemeritah sejak semula seharusnya dapat mengantisipasi agar tidak terjadi ihtikar dalam setiap komoditi, manfaat atau jasa yang sangat dibutuhkan masyarakat. dam/ disarikan dari buku ensiklopedia islam

Mina

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:11:00

Kawasan yang panjangnya sekitar 3,2 km, terletak di daerah berbukit-bukit antara kota Makkah dan Muzdalifah. Dewasa ini Mina merupakan kota kecil yang hampir bersambung dengan kota suci Makkah. Kota ini tepatnya terletak di sebelah timur Makkah, pada jalan menuju Arafah. Menurut Wahbah al Zuhaili, ahli fikih dan usul fikih Mesir, Mina merupakan tempat yang terletak antara jurang atau Wadi Muhassin dan Jumrah Aqabah. Wilayahnya terletak dalam lembah sempit yang memanjang dari barat ke timur dan di sekitarnya terdapat batu-batu cadas yang terjal. Di sebelah utara terdapat Bukit Sabir.

Di Mina terdapat tiga jumrah berbentuk tugu yang wajib dilempar oleh setiap orang yang  melakukan ibadah haji. Ketiga jumrah tersebut adalah Jumrah Ula (pertama) yang disebut juga Jumrah Sugra (kecil), Jumrah Wusta (tengah) dan Jumrah Aqabah (akhir) yang disebut juga Jumrah Kubra (besar). Jumrah Aqabah adalah padang luas yang merupakan perbatasan Mina dengan Muzdalifah.Jumrah Ula berdekatan dengan masjid Khaif. Masjid Khaif merupakan masjid Nabi Ibrahim AS, berjarak kurang lebih 1,6 km dari Makkah. Masjid ini dibangun oleh Sultan Saladin (Salahuddin Yusuf al Ayyubi) dengan dasar kunstruksi dari Sultan Qain Bay dari Dinasti Mamluk. Masjid ini hanya memiliki pilar di bagian barat. Pada zaman sekarang, masjid tersebut diperbaiki dan diperluas.

Yang menarik dari Mina ini adalah keramaiannya yang sangat mencolok pada saat-saat bulan haji (Dzulhijjah), terutama pada malam menjelang tanggal 10 Dzulhijjah. Pada malam itu setiap orang yang melakukan ibadah haji bermalam di Mina untuk persiapan melontar Jumrah Aqabah. Selain tempat menginap dan melempar Jumrah, Mina juga dijadikan tempat untuk malakukan ibadah kurban, mengikuti syariat Nabi Ibrahim AS ketika menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Pada zaman Nabi Muhammad SAW tempat pelaksanaan kurban tidak hanya di Mina, tetapi boleh dilakukan di tempat lain.

Dari sekian manasik haji yang dilakukan para jamaah di Tanah Suci mulai dari thawaf, sa’i, wukuf dan melempar jumrah, bisa dikatakan ibadah melempar jumrah di Mina merupakan rangkaian ibadah yang paling mencemaskan. Pasalnya, di tempat yang luasnya tak lebih dari 3,2 km ini, sekitar tiga juta jamaah harus berdesak-desakkan untuk melempar jumrah. Selain padatnya jamaah yang akan melontar jumrah, kondisi fisik jamaah pun sering menjadi salah satu penyebab timbulnya musibah di Mina seperti yang terjadi Rabu 12 Januari 2005 yang menewaskan lebih dari 200 jamaah haji. Maklum, setelah melakukan ibadah wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah, para jamaah dengan mengendarai bus menuju Muzdalifah untuk mengambil batu dan kemudian melanjutkan ke Mina untuk bermalam sambil melempar jumrah.

Peristiwa yang terjadi tahun lalu, hampir mirip dengan kejadian beberapa tahun sebelumnya yakni tahun 1994 di tempat melempar jumrah dan tahun 1991 di Terowongan Muaishim yang menewaskan banyak jamaah karena terinjak-injak dan kehabisan nafas. Salah satu penyebabnya, karena para jamaah ingin menggapai afdhaliyah yakni waktu yang utama untuk melempar jumrah seperti yang dilakukan Rasulullah SAW yaitu setelah tergelincirnya matahari.

Dalam ibadah haji itu ada syarat, rukun dan wajib. Melempar jumrah itu wajib haji yang harus dilakukan oleh jamaah tapi masih bisa diwakilkan. Kalau pun ditinggalkan, maka hajinya tetap sah tetapi harus membayar dam (denda). Sedangkan ibadah wukuf di Arafah merupakan salah satu rukun haji yang harus dilakukan oleh semua jamaah haji termasuk mereka yang sakit. Jadi ibadah wukuf sama sekali tidak bisa diganti.

Sangat disayangkan, hingga kini masih banyaknya jamaah haji yang mengutamakan soal afdhaliyah (keutamaan waktu untuk melempar jumrah) dan kurang memperhatikan kondisi fisiknya. Yang perlu difahami oleh setiap jamaah haji, afdhaliyah itu memang yang ideal tapi harus memperhatikan kondisi fisik. Kalau fisik kita sudah tidak memungkinkan, setelah lelah melakukan wukuf di padang Arafah, berjalan menuju Muzdalifah dan mabit di Mina, tidak ada salahnya kita melupakan afdhaliyah. Untuk para jamaah, jangan memaksakan diri. dam

Jabal Abu Qubais

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:09:00

Jabal Abu Qubais atau Jabal Qubais adalah gunung atau bukit yang terletak di sebelah timur Mekah yang letaknya dekat Masjidil Haram. Kini, di atas bukit ini berdiri dengan megah sebuah bangunan layaknya hotel berbintang lima yang merupakan Wisma Negara, tempat para tamu dan kepada negara bermalam untuk melaksanakan ibadah di Masjidil Haram.

Jabal Abu Qubais disebut dalam Sirah an Nabawiyah (buku pertama tentang sejarah Nabi Muhammad SAW) sebagai tempat yang biasa diziarahi orang-orang di masa Jahiliyah. Di masa Islam, Jabal Qubais ini hanya disebut dalam hubungannya dengan penduduk Mekah termasuk Abu Quhafah (ayah Abu Bakar Ash-shiddiq) yang naik ke bukit ini dan tempat-tempat ketinggian lainnya untuk menyaksikan pasukan Islam yang memasuki Mekah pada hari penaklukan Mekah (Fathu Makkah).

Sedangkan dalam al-Munjid (penolong, sebuah kamus bahasa Arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pula) karya Louis Ma’luf, disebutkan bahwa Jabal Abu Qubais pernah;dijadikan tempat pelontaran manjaniq (alat pelontar batu dalam peperangan) oleh Hasin bin Numayr untuk ditembakkan ke pasukan Abdullah bin Zubair yang bertahan di Ka’bah. Tembakan dengan manjaniq ini menyebabkan terbakarnya tirai atau kiswah Ka’bah yang berwarna hitam.

Cerita-cerita yang disebutkan dalam Sirah an Nabawiyah dan Hayat Muhammad (Kehidupan Nabi Muhammad SAW0 oleh Dr Haekal mengenai Jabal Abu Qubais pada umumnya dihubungkan dengan riwayat Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi rasul. Disebutkan pula, nama bukit itu diambil dari nama seorang penduduk dari Bani Jurhum yaitu Qubais bin Syalikh yang tewas di atas bukit tersebut.

Dalam hubunganya dengan Nabi Muhammad SAW, disebutkan bahwa ia pernah dibawa kakeknya Abdul Muthallib ke puncak Jabal Qubais untuk berdoa meminta hujan. Nabi Muhammad SAW waktu itu masih kecil dan Mekah dilanda kemarau berkepanjangan. Seorang wanita, Raqiqah binti Abi Saifi bin Hasyim, dalam tidurnya bermimpi mendengar suara yang mengatakan dari kaum Quraisy akan muncul seorang nabi.

Suara dalam mimpi itu juga memberinya petunjuk bagaimana cara meminta hujan agar dikabulkan  Tuhan, yaitu penduduk harus meminta pimpinan mereka, Abdul Muthallib agar membawa cucunya dan beberapa orang penduduk untuk berdoa bersama-sama. Terlebih dulu mereka harus bersuci, mencium hajar Aswad (batu hitam pada Ka’bah) dan berthawaf (mengelilingi Ka’bah) sebanyak tujuh kali.

Mimpi ini diceritakan Raqiqah kepada penduduk Mekah dan mereka melaksanakan petunjuk mimpi itu. Dengan dipimpin Abdul Muthallib, mereka membersihkan diri, mencium hajar Aswad, berthawaf, kemudian semuanya mendaki Jabal Abu Qubais. Abdul Muthallib sambil menggendong cucunya, Muhammad, berdoa meminta hujan dengan diaminkan oleh segenap yang hadir di puncak bukit itu. Tak lama, setelah itu hujan pun turun dengan amat derasnya.

Jabal Abu Qubais juga muncul dalam mimpi Atiqah binti Abdul Muthallib (bibi Nabi Muhammad SAW) di Mekah tiga hari sebelum Perang Badr. Ia bermimpi melihat seorang penunnggang unta datang ke Mekah, kemudian masuk ke dalam Masjidil Haram dengan diikuti orang banyak dan naik ke atas Ka’bah serta berteriak memperingatkan penduduk akan datangnya bencana tiga hari mendatang.

Dari sana, ia turun dan kemudian naik ke Jabal Abu Qubais. Di puncak bukit ini ia kembali memperingatkan orang banyak akan datangnya musibah. Setelah itu, ia mengambil batu besar dan melemparkannya. Setelah sampai ke bawah Jabal Abu Qubais, batu itu terpecah-pecah menjadi pecahan kecil yang bergerak memasuki semua rumah di Makkah.

Sewaktu Nabi Muhammad SAW melaksanakan umrah qada setahun setelah Perjanjian Hudaibiyah penduduk Mekah banyak yang menyingkir dan naik ke Jabal Abu Qubais dan tempat-tempat ketinggian lainnya untuk menyaksikan Nabi Muhammad SAW dan sekitar dua ribu pengikutnya melaksanakan umrah. dam

Anani

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:08:00

Anani berasal dari bahasa Arab ananiyahyang berarti kesan, penonjolan diri, pengakuan atau menghubungkan semua masalah (kebaikan) kepada satu pribadi. Sikap mementingkan diri sendiri.

Pengertian tentang anani lebih lanjut dikemukakan para ahli sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing. At-Tahanawi (1310-1349 H), ahli filsafat dan seorang muhadis dalam kitabnya, Al-Kasysyaf (Pembuka Tabir) mengatakan bahwa anani adalah suatu pernyataan mengenai hakikat segala sesuatu yang dihubungkan dengan diri seseorang, seperti pada pernyataan, ”Inilah diriku, jiwaku dan kekuasaanku.”

Menurutnya, ungkapan ini termasuk ke dalam syirik yang tersembunyi. Dalam kitabnya At-Tuhfah al Mursalah (Ajaran yang Diwahyukan), at-Tahanawi mengatakan bahwa anani adalah suatu pernyataan yang mengungkapkan keadaan hakikat dan batin bukan dalam arti sesungguhnya. Makna ucapan laa ilaaha (tidak ada Tuhan) sesungguhnya untuk menghilangkan sifat anani.

Di dalam ilmu jiwa, anani dikenal dengan istilah egoistis yaitu mementingkan diri sendiri. Dengan jiwa seperti ini, ia berusaha memelihara kelangsungan hidupnya dan pertumbuhan dirinya dengan kecendrungan mengingkari keberadaan orang lain.

Selanjutnya dalam ilmu akhlak sebagaimana dijelaskan oleh Jamil Shaliba, seorang ahli filsafat, anani diartikan sebagai sikap yang terlalu mencintai diri sendiri sehingga menghilangkan kecintaan kepada yang lainnya. Kepentingan pribadi lebih utama dari yang lain. Orang seperti ini berpendirian bahwa dunia ini ada hanya karena peranan yang dimainkannya, dan jika ia tidak ada maka tidak ada yang lainnya. Ia melihat kemasalahatan orang lain dari segi kemaslahatan yang ada pada dirinya.

Anani termasuk salah satu sikap budi pekerti yang buruk. Menurut al-Ghazali, anani itu terjadi antara lain karena kecantikan, kekayaan, kedudukan yang tinggi, kepandaian dan jasa yang pernah diberikannya. Orang yang terkena sikap ini sebenarnya karena ia kurang menyadari bahwa segala sesuatu yang dimilikinya itu berasal dari Tuhan. Mereka juga kurang menyadari bahwa semua yang dimilikinya itu bersifat sementara dan kelak akan sirna.

Al-Ghazali lebih lanjut mengatakan bahwa kecantikan atau ketampanan akan segera sirna segalan dengan pertambahan usia. Demikian pula dengan kedudukan yang dipegangnya juga akan berakhir dengan datangnya batas waktu yang ditentukan. Ia lebih lanjut menambakan bahwa sikap anani itu pada hakikatnya sebagai bukti dari kurangnya wawasan dan kesadaran seseorang terhadap sesuatu yang dimilikinya. Kekurangan tersebut kemudian ditutup-tutupinya dengan cara bersikap egoistis. tri/dam /disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta

Qadha’

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:07:00

Qadha’ artinya mengganti. Meng-qadha’ hutang puasa Ramadhan tidak harus langsung setelah Ramadhan, boleh ditunda sampai Ramadhan tahun berikutnya. Berdasarkan riwayat yang dibawakan dari Aisyah RA, katanya, ”Saya pernah punya hutang puasa Ramadhan, tapi saya baru bisa menggantikannya pada bulan Sya’ban tahun berikutnya.” (HR Asy-Syaikhan).

Meskipun begitu, tetaplah berlaku kaidah yang mengatakan, ”Kebaikan yang paling utama, ialah yang paling segera dilaksanakan.” Dalam Alquran dikatakan, ”Bersegeralah kamu kepada ampunan Rab-mu.” (QS Ali Imran [3]: 133). Di ayat lain, ”Merekalah orang-orang yang bersegera melakukan kebiakan dan merekalah orang-orang yang terdahulu sampai.” (QS Al Mukminun [23]: 61).

Menurut ijma’ para ulama, siapa yang meninggal dunia dengan hutang shalat, maka walinya tidak wajib menggantinya, begitu pula yang lainnya. Namun tidak demikian dengan ibadah puasa. Berdasarkan Alquran meng-qadha’ puasa bisa ditunaikan pada kesempatan lain: ”Maka berpuasalah pada hari-hari lain.” (QS Al Baqarah [2]: 185). Menurut Ibnu Abbas, boleh dipisah-pisah dan pendapat Abu Hurairah, boleh dikerjakan dengan hitungan ganjil kalau mau.

Bagi orang yang tidak sanggup berpuasa, tidak digantikan oleh seseorang puasanya pada waktu ia hidup, tapi sebagai gantinya cukup memberikan  makan kepada seorang miskin tiap-tiap hari ia tidak mengerjakan puasanya itu.

Akan tetapi siapa yang meninggal dunia dengan menigngalkan hutang puasa maka diganti oleh walinya, berdasarkan sabda Rasulullah SAW, ”Barang siapa yang meninggalkan hutang puasa, maka dibayar puasanya itu oleh walinya.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Abu Daud).

Dibawakan oleh Ibnu Abbas RA dari Rasulullah SAW katanya, ”Ada seorang yang menanyakan: ‘Ya Rasulullah, Ibu saya meninggal dunia dengan meninggalkan hutang puasa sebulan, apakah saya akan menggantinya? Maka jawabnya, ‘Ya. Hutang kepada Allah lebih tepat untuk ditunaikan.” (HR Asy-Syaikhan, Ahmad, dan lain-lain).

Menurut Ibnu Abbas, ”Apabila seseorang sakit di bulan Ramadhan, kemudian ia meninggal dunia dengan hutang puasa, maka diganti dengan memberi makan, bukan dengan meng-qadha’- nya. Akan tetapi kalau ia punya hutang puasa nadzar, maka walinya harus meng-qadha’-nya. (HR Abu Daud dengan Sanad Shahih).

Ibnu Abbas juga meriwayatkan sebuah hadis yang menyatakan bahwa wali si mayit meng-qadha’ puasa nadzarnya; ”Bahwa Sa’ad bin Ubbadah RA bertanya kepada Nabi SAW, ‘Bagaimana dengan ibu saya yang meninggal dunia dengan berhutang puasa nadzar? ” Nabi SAW menjawab, “Qadha’ dia.” (HR Asy-Syaikhan dan lain-lain).

Siapa yang meninggal dunia dengan hutang puasa nadzar, maka dapat di-qadha’ oleh orang banyak secara bersama-sama sebanyak hari yang dihutang. Al-Hasan menjelaskan: ”Kalau pembayaran fidyah makanan , kalau walinya mengumpulkan orang miskin sebanyak hari yang dihutang dan mereka dikenyangkan semua, juga boleh, begitulah yang dilakukan Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu. ” n dam/ disarikan dari buku berpuasa seperti rasulullah, salim al hilali dan ali hasan ali abdulhamied, penerbit gema insani press.

Ramadhan

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:06:00

Ramadhan berasal dari kata ramadla-yarmudlu-ramadlan artinya  panas membakar. Panas membakar ini bisa berasal dari sinar matahari. Orang Arab dahulu ketika memindahkan nama-nama bulan dari bahasa lama ke bahasa Arab, mereka namakan bulan-bulan itu menurut masa yang dilaluinya. Kebetulan bulan Ramadhan masa itu melalui masa panas akibat sengatan terik matahari apalagi bagi pejalan kaki di atas padang pasir pada masa itu.

Ramadhan bermakna panas membakar juga didasarkan karena perut orang-orang yang berpuasa tengah terbakar pada bulan itu akibat menahan makan minuman seharian. Panas membakar bulan Ramadlan bisa juga berarti karena bulan Ramadhan memberikan energi untuk membakar dosa-dosa yang dilakukan manusia.

Genteng yang asalnya dari tanah liat yang diinjak-injak kaki manusia, tidak ada harganya. Namun
setelah tanah berubah menjadi genteng, ia diletakkan di bagian rumah yang paling atas, jauh di atas kepala,
memberikan perlindungan penghuni rumah dari kepanasan dan kehujanan. Nilainya begitu genting. Apa yang
membuat derajat atap rumah ini terangkat? Genteng telah melalui sebuah proses penggemblengan dan
pemanasan diri.  Begitulah fungsi Ramadhan: menggembleng diri.

Bulan Ramadhan yang senantiasa hadir setiap tahun pada dasarnya adalah madrasah atau wahana untuk penggemblengan dan pemanasan diri agar manusia menjadi baik di antara khalayak  manusia (hubungan horizontal) dan baik pula dengan Sang Khalik, Allah SWT.

Dikatakan penyebab manusia keluar dari fitrah yang menyebabkannya berlumuran dosa adalah menuruti hawa
nafsu. Oleh karena itu, pada bulan Ramadhan yang mulia ini manusia dibakar, ditempa serta digemleng dengan
berbagai aktivitas kebajikan agar hawa nafsu tertundukkan dan lumuran dosa itu hilang.

Dalam kaitan ini Rasulullah SAW bersabda: ”Bila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan gembong-gembong setan dibelenggu.” (HR Bukhari Muslim).

Hadis ini bisa diartikan secara hakiki bahwa bila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka,
pintu-pintu neraka ditutup dan gembong-gembong setan dibelenggu, sehingga benar-benar keberadaan bulan yang suci tersebut nyaman untuk beramal kebaikan sebanyak-banyaknya tanpa rintangan berarti. Namun, yang nyata adalah hadis ini merupakan bahasa kiasan.

Pada bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka karena jalanmenuju kebaikan dibuka lebar-lebar dengan sangat mudah, lengkap dengan nilai yang berlipat ganda. Pada bulan Ramadhan, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu karena jalan menuju keburukan seakan-akan tertutup, buntu, karena
manusia sama berlomba-lomba beramal kebaikan.

Pada bulan yang sangat istimewa ini, terdapat sekian banyak wahana yang bisa dimanfaatkan dalam rangka penggemlengan dan pemanasan diri itu. Dari yang wajib seperti puasa dan zakat fitrah hingga yang sunaah
seperti i’tikaf, tadarus, tarawih, sedekah, dan sebagainya. Dari yang berbentuk fisik seperti memberi makanan berbuka kepada fakir miskin hingga yang psikis seperti sabar, tawakal,  amanah, jujur dan sebagainya. dam/disarikan dari buku ‘Puasa Menuju Sehat Fisik dan  Psikis’ karya Ahmad Syarifuddin terbitan Gema Insani Press (GIP).

Muktazilah

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:03:00

Muktazilah adalah salah satu aliran dalam teologi Islam yang dikenal bersifat rasional dan liberal. Ciri utama yang membedakan aliran ini dari aliran teologi Islam lainnya adalah pandangan-pandangan teologisnya yang lebih banyak ditunjang oleh dalil-dalil ‘aqliah (akal) dan lebih bersifat filosofis, sehingga sering disebut aliran rasionalis Islam. Muktazilah didirikan oleh Wasil bin Atha’ pada tahun 100 H/718 M.

Munculnya aliran Muktazilah sebagai reaksi atas pertentangan antara aliran Khawarij dan aliran Murjiah mengenai soal orang mukmin yang berdosa besar. Menurut orang Khawarij, orang mukmin yang berdosa besar tidak dapat dikatakan mukmin lagi, melainkan sudah menjadi kafir. Sementara itu, kaum Murjiah tetap menganggap orang mukmin yang berdosa besar itu sebagai mukmin, bukan kafir.

Menghadapi kedua pendapat yang kontroversial ini, Wasil bin Atha’ yang ketika itu menjadi murid Hasan Al Basri, seorang ulama terkenal di Basra, mendahalui gurunya mengeluarkan pendapat bahwa orang mukmin yang berdosa besar menempati posisi antara mukmin dan kafir. Tegasnya orang itu bukan mukmin dan bukan pula kafir, tetapi di antara keduanya. Oleh karena di akhirat nanti tidak ada tempat di antara surga dan neraka, maka orang itu dimasukkan ke dalam neraka, tetapi
siksaan yang diperolehnya lebih ringan dari siksaan orang kafir. Demikianlah pendapat Wasil bin Atha’ yang kemudian menjadi salah satu doktrin Muktazilah yakni al manzilah bain al-manzilatain (posisi di antara dua posisi).

Setelah mengeluarkan pendapatnya ini, Wasil bin Atha’ pun akhirnya meninggalkan perguruan Hasan al Basri dan lalu membentuk kelompok sendiri. Kelompok itulah yang menjadi cikal bakal aliran Muktazilah. Setelah Wasil bin Atha’ memisahkan diri, sang guru yakni Hasan al Basri berkata: ”I’tazala ‘anna Wasil (Wasil telah menjauh dari diri kita).”

Menurut Syahristani, dari kata i’tazala ‘anna itulah lahirnya istilah Muktazilah. Ada lagi yang berpendapat, Muktazilah memang berarti memisahkan diri, tetapi tidak selalu berarti memisahkan diri secara fisik. Muktazilah dapat berarti memisahkan diri dari pendapat-pendapat yang berkembang sebelumnya, karena memang pendapat Muktazilah berbeda dengan pendapat sebelumnya.

Selain nama Muktazilah, pengikut aliran ini juga sering disebut kelompok Ahl al-Tauhid (golongan pembela tauhid), kelompok Ahl al-Adl (pendukung faham keadilan Tuhan), dan kelompok Qodariyah. Pihak lawan mereka menjuluki kelompok ini sebagai golongan free will dan free act, karena mereka menganut prinsip bebas berkehendak dan berbuat.

Ketika pertama kali muncul, aliran Muktazilah tidak mendapat simpati umat Islam, terutama di kalangan masyarakat awam karena mereka sulit memahami ajaran-ajaran Muktazilah yang bersifat rasional dan filosofis. Alasan lain mengapa aliran ini kurang mendapatkan dukungan umat Islam pada saat itu, karena aliran ini dianggap tidak teguh dan istiqomah pada sunnah Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Aliran Muktazilah baru mendapatkan tempat, terutama di kalangan intelektual pada pemerintahan Khalifah al Ma’mun, penguasa Abbasiyah (198-218 H/813-833 M). Kedudukan Muktazilah semakin kokoh setelah Khalifah al Ma’mun menyatakannya sebagai mazhab resmi negara. Hal ini disebabkan karena Khalifah al Ma’mun sejak kecil dididik dalam tradisi Yunani yang gemar akan filsafat dan ilmu pengetahuan.
Dan, pada masa kejayaan itulah karena mendapat dukungan dari penguasa, kelompok ini memaksakan alirannya yang dikenal dalam sejarah dengan peristiwa Mihnah (Pengujian atas paham bahwa Alquran itu makhluk Allah, jadi tidak qadim. Jika Alquran dikatakan qadim, maka akan timbul kesimpulan bahwa ada yang
qadim selain Allah dan ini musyrik hukumnya). dam/ disarikan dari buku Ensiklopedi Islam

Mukallaf

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 13:02:00

Mukallaf sebutan bagi seseorang yang perbutannya telah terkait dengan syariat.  Maksudnya, seorang mukallaf oleh Allah SWT dianggap sebagai orang yang telah dapat dibebani hukum dan tanggung jawab atas perbuatannya. Perbuatan seorang mukallaf telah mempunyai nilai dan risiko, sesuai dengan bentuk pekerjaan yang ia lakukan, apakah ia mengerjakan perintah Allah SWT sehingga ia diberi imbalan pahala dan tanggungannya lepas, atau ia melakukan sesuatu yang dilarang dan ia mendapat risiko dosa dan tanggunggannya belum lepas.

Dasar taklif (pembebanan hukum, red) ini adalah akan dan pemahaman. Dengan demikian maka orang yang belum atau tidak berakal tidak dapat dibebani hukum. Demikian juga orang yang belum atau tidak memahami taklif tersebut belum dan tidak dapat dikenakan taklif.Seseorang telah dikatakan mukallaf apabila telah terpenuhi dua syarat berikut. Pertama, orang tersebut telah mampu memahami  dalil taklif yang ada dalam Alquran atau sunah Nabi SAW baik secara mandiri atau melalui orang lain.

Hal ini disebabkan seseorang yang dibebani hukum tidak mungkin melaksanakan hukum yang dibebankan kepadanya jika ia sendiri tidak memahami apa yang harus dilakukannya dan apa yang mesti ditinggalkannya. Untuk bisa memahami taklif tersebut ia harus memiliki akal dan telah mampu mempergunakannya, karena ada orang yang punya akal tetapi belum mampu mempergunakannya, seperti anak kecil yang belum sempurna pertumbuhan akalnya.
Demikian juga halnya dengan orang-orang yang hilang kesadarannya, seperti orang yang sedang mabuk atau orang yang sedang tidur. Mereka tidak dapat dibebani hukum karena memang kesadaran akal mereka di waktu itu tidak ada. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda, ”Tidak dibebani hukum (seseorang)
dalam tiga hal; yaitu orang yang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia mimpi dan orang gila sampai ia sembuh (berakal).” (HR Bukhari, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibu Majah, dan Daruqutni).

Kedua, orang tersebut telah cakap untuk bertindak menurut hukum atau cakap untuk melaksanakan apa-apa yang dibebankan syariat kepadanya, yang dalam istilah usul fikih disebut ahliyyah (kecakapan bertindak). Ahliyyah itu sendiri para ahli usul fikih dibagi dalam dua macam, yaitu ahliyyah
al wujub dan ahliyyah al-ada’.Ahliyyah al wujub adalah kecakapan seseorang untuk menerima hak-hak yang diberikan orang lain kepadanya dan ia juga wajib menunaikan kewajiban terhadap orang lain. Kecakapan ini merupakan suatu kekhususan bagi manusia semenjak dalam rahim ibunya dan merupakan fitrah manusia.

Para ulama usul membedakan ahliyyah al wujub dalam dua macam. Pertama,
ahliyyah al wujub yang naqis (kurang), yakni keahlian yang baru cakap untuk memiliki hak tanpa ada beban atau kewajiban atau kebalikannya, ada kewajiban tanpa hak. Kedua, ahliyyah al wujub yang tammah (sempurna), yaitu ahliyyah al wujub yang di dalamnya terdapat penerimaan hak dan sekaligus juga beban kewajiban. ahliyyah al ada’ adalah kecakapan seseorang untuk bertindak hukum sehingga  segala perkataan dan perbuatanya
harus dipertanggungjawabkan sendiri. Kecakapan ini juga terbagi atas ahliyyah al ada’ yang tammah dan ahliyyah al ada’ yang naqis.

Ahliyyah al ada’ yang tammah ialah ahliyyah al ada’ yang dilakukan oleh mukalaf sedangkan ahliyyah al ada’ yang naqis adalah bagi orang-orang yang masih belum dalam keadaan mumayis (mampu membedakan), yang perbuatan atau tindakannya belum dapat dimintai tanggung jawab penuh secara hukum.
Dengan demikian, mukalaf yang dapat dibebani hukum dan dimintai pertanggug jawaban perbuatan dan perkataan adalah orang-orang yang telah mempunyai akal serta telah memiliki ahliyyah al ada’ kamilah (telah cakap bertindak hukum secara sempurna). dam

Khatib

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 11:23:00Dalam pengertian umum, khatib merupakan sebutan untuk orang-orang yang berpidato. Dalam pengertian
khusus adalah sebutan untuk orang yang khutbah pada saat shalat Jumat dan shalat Id. Kata khatibselain dipakai jabatan, dipakai pula sebagai gelar seseorang.

Pada masa pra-Islam, khatib mempunyai kedudukan tingggi di kalangan masyarakat Arab. Pada masa itu
banyak khatib yang mampu menciptakan prosa bersajak (an-nasr al-masju’) secara alami, sehingga kehadiran khatib di kalangan mereka sama dengan penyair yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat.

Khatib merupakan penyambung lidah sukunya dalam masalah kemasyarakatan. Sebagai delegasi suku, khatib bertugas mengupayakan perdamaian antar suku yang saling berselisih. Ia memberi penerangan masalah keagamaan kepada masyarakat.  Khatib juga bertugas membangkitkan semangat perang melawan suku-suku lain jika upaya perdamaian gagal.

Khatib umumnya berasal dari kalangan orang-orang yang berpengaruh atau cedikiawan yang menguasai sejarah bangsa Arab. Mereka berpidato di tempat-tempat parayaan atau pertemuan. Kemampuan berpidato berkaitan erat dengan kepemimpinan. Seorang khatib tidak akan memperoleh wibawa jika tidak dapat berpidato dengan baik dan benar dan harus mampu menyentuh hati pendengarnya.

Tradisi masyarakat Arab pra-Islam mengharuskan khatib berpidato di atas gundukan tanah atau di atas kendaraan tunggangan. Cara ini dilakukan agar suara khatib menembus jauh dan raut muka serta gerak anggota badannya terlihat oleh pendengar. Khatib biasanya memegang tongkat, tombak atau busur yang sewaktu-waktu diacungkan.  Khatib berpidato menggunakan kalimat-kalimat dan ungkapan-ungkapan singkat, padat, disertai penguasaan intonasi kata-kata yang stabil.

Kelak uslub (gaya bahasa) seperti ini menjadi ciri umum berpidato. Tidak jarang khatib mewarnai pidatonya dengan syair dan sajak-sajak. Di antara tokoh khatib masa pra-Islam adalah Qus bin Sa’idah al-Iyadi dan Aksam bin Saifi at-Tamimi. Pidato kedua khatib ini penuh dengan hikmah. Qus bin Sa’idah adalah seorang khatib Arab yang beragama tauhid dan beriman kepada hari kebangkitan. Dia adalah seorang khatib yang mengajak orang untuk meninggalkan praktek menyembah berhala dan menunjukkan jalan yang benar, yaitu mengabdi kepada Sang Pencipta. Dia juga khatib pertama yang memperkenalkan penggunaan kata amma ba’du (dan selanjutnya).

Sedangkan Aksam bin Saifi at-Tamimi adalah seorang khatib yang banyak mengetahui silsilah Arab dan banyak mencipta amsal (kata-kata hikmah). Ia adalah seorang khatib yang memiliki pola pikir lurus dengan hujah-hujah yang kuat. Oleh karena itu Nu’man menunjukkan sebagai pimpinan delegasi ke Kisra untuk membeberkan keutamaan dan kebaikan orang-orang Arab.

Pada masa Islam, upaya untuk meyakinkan kebenaran risalah dan menyebarkan nilai-nilai keislaman telah menciptakan iklim yang mendukung bagi munculnya khatib-khatib yang berkualitas dan memiliki wawasan yang luas untuk menyampaikan dua pusaka yang diwarisi Rasulullah SAW yaitu Alquran dan Sunnah.

Mazalim

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 10:27:00

Lembaga peradilan yang menangani masalah kelaliman penguasa beserta keluarganya terhadap rakyat.

Dalam kajian fikih, mazalim merupakan salah satu bentuk lembaga peradilan selain peradilan umum dan peradilan hisbah (peradilan khusus yang menangani pelanggaran terhadap prinsip amar ma’ruf nahi munkar). Menurut Abu al Hasan Ali bin Muhammad Habib al-Mawardi, ahli fikih dan politik, mazalim adalah lembaga peradilan yang secara khusus menangani kelaliman para penguasa beserta keluarganya terhadap hak-hak rakyat. Pengadilan ini bertujuan agar hak-hak rakyat dapat dikembalikan serta dapat menyelesaikan persengketaan antara penguasa dan warga negara. Yang dimaksud dengan penguasa adalah seluruh jajaran pemerintahan mulai dari pejabat tertinggi hingga pejabat terendah.

Dalam kasus-kasus mazalim, peradilan dapat bertindak tanpa harus menunggu adanya suatu gugatan dari yang diirugikan. Artinya, apabila kadi (hakim) peradilan mazalim ini mengetahui adanya kasus mazalim, ia harus secara langsung menyelesaikan kasus tersebut. Dengan demikian, peradilan mazalim memiliki kekuasaan untuk hal-hal sebagai berikut. 1) Memeriksa dengan teliti sikap dan tingkah laku para pejabat beserta keluarganya, mencegah terjadinya pelanggaran yang mungkin mereka lakukan, dan mencegah kecenderungan mereka untuk bertindak tidak jujur. 2) Memeriksa kecurangan para pegawai yang bertanggung jawab atas pungutan dana untuk negara. 3) Memeriksa para pejabat yang bertnggung jawab atas keuangan negara. 4) Memeriksa secara cermat penanganan dan penyaluran harta wakaf dan kepentingan umum lainnya. 5) Mengembalikan hak-hak rakyat yang diambil aparat negara.

Peradilan ini secara khusus juga menangani perkara yang diadukan sebagai berikut. 1) Gaji para buruh atau pekerja yang dibatalkan atau ditangguhkan sepihak. 2) Harta yang diambil secara paksa oleh penguasa, termasuk harta yang disita negara. 3) Pembayaran gaji aparat negara. 4) Persengketaan terhadap masalah harta wakaf. 5) Keputusan hakim yang sulit dilaksanakan sehubungan dengan lemahnya posisi peradilan. 6) Kasus-kasus yang tidak dapat diselesaikan oleh pengadilan hisbah, sehingga mengakibatkan terabaikannya kemaslahatan umum. 7) Pelaksanaan ibadah-ibadah pokok, seperti shalat berjamaah, shalat Jumat, shalat Ied dan pelaksanaan haji. 8) Penanganan kasus-kasus mazalim, penetapan hukuman dan pelaksanaan keputusan tersebut.

Penyelesaian kasus-kasus mazalim telah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW. Kasus yang sangat terkenal adalah kelaliman yang dilakukan oleh Zubair bin Awwam (salah seorang keluarga Nabi SAW) terhadap seorang Ansar. Dalam kasus ini disebutkan bahwa Zubair tidak mau mengalirkan air ke ladang orang Ansar yang menjadi tetangganya, sehingga tanaman orang tersebut menjadi kering. Lalu orang Ansar tersebut mengadu kepada Rasulullah SAW. Ketika itu Rasul berkata,”Ambillah air itu sepuasmu, Zubair, kemudian alirkan ke tetanggamu.” Orang Ansar itu berkata,”Ya Rasulullah, mentang-mentang ia anak pamanmu.” Wajah Rasulullah memerah karena marah, kemudian berkata sekali lagi,”Ambillah air itu sepuasmu, Zubair, kemudian alirkan ke tetanggamu” (HR.Bukhari dari Urwah bin Zubair). Dalam hadis ini terlihat bahwa meskipun Zubair bin Awwam adalah anggota keluarga Rasulullah, secara tegas Rasulullah memutuskan bahwa air harus tetap dibagi kepada tetangganya. Tidak ada keistimewaan bagi anggota keluarga Nabi SAW jika hal itu memudaratkan orang lain. dari buku ensiklopedi islam

Al Hiwalah

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 10:26:00

Kata hiwalah diambil dari kata tahwil yang berarti intiqal (perpindahan). Yang dimaksud di sini adalah memindahkan hutang dari tanggungan muhil menjadi tanggungan muhal ‘alaih. Muhil adalah sebagai yang berhutang, muhal adalah sebagai orang yang menghutangkan, dan muhal ‘alaih adalah orang yang melakukan pembayaran hutang.

Hiwalah dilaksanakan sebagai tindakan yang tidak membutuhkan ijab dan kabul dan menjadi sah dengan sikap yang menunjukkan hal tersebut. Seperti, ”Aku hiwalah-kan kamu.” atau ”Aku ikutkan kamu dengan hutangku padamu kepada si Fulan.”

Islam membenarkan hiwalah dan membolehkannya karena ia diperlukan. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Menunda pembayaran bagi orang yang mampu adalah kezaliman. Dan jika salah seorang kamu di-hiwalah-kan (diikutkan) kepada orang yang kaya yang mampu, maka turutlah.”

Pada hadis ini, Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang yang menghutangkan, jika orang yang berhutang meng-hiwalah-kan kepada orang yang kaya dan berkemampuan, hendaklah ia menerima hiwalah tersebut dan hendaklah ia mengikuti (menagih) kepada orang yang di-hiwalah-kan (muhal ‘alaih), dengan demikian haknya dapat terpenuhi (dibayar).

Untuk sahnya hiwalah disyaratkan hal-hal berikut: pertama, relanya pihak muhil dan muhal tanpa muhal ‘alaih berdasarkan dalil kepada hadis di atas. Rasulullah SAW telah menyebutkan kedua belah pihak, karenanya muhil yang berhutang berkewajiban membayar hutang dari arah mana saja yang sesuai dengan keinginannya. Dan karena muhal mempunyai hak yang ada pada tanggungan muhil, maka tidak mungkin terjadi perpindahan tanpa kerelaannya.

Kedua, samanya kedua hak, baik jenis maupun kadarnya, penyelesaian, tempo waktu, serta mutu baik dan buruk. Maka tidak sah hiwalah apabila hutang berbentuk emas dan di-hiwalah-kan agar ia mengambil perak sebagai penggantinya. Demikian pula jika sekiranya hutang itu sekarang dan di-hiwalah-kan untuk dibayar kemudian (ditangguhkan) atau sebaliknya. Dan tidak sah pula hiwalah yang mutu baik dan buruknya berbeda atau salah satunya lebih banyak.

Ketiga, stabilnya hutang. Jika peng-hiwalah-an itu kepada pegawai yang gajinya belum lagi dibayar, maka hiwalah tidak sah. Keempat, kedua hak tersebut diketahui dengan jelas. Apabila hiwalah berjalan sah, dengan sendirinya tanggungan muhil menjadi gugur. Andaikata muhal ‘alaih mengalami kebangkrutan atau meninggal dunia, muhal tidak boleh lagi kembali kepada muhil. Demikianlah menurut pendapat jumhur (kebanyakan) ulama.  dam/disarikan dari buku fikih sunnah

Istihadhah

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 10:25:00

Istihadhah adalah darah yang keluar bukan pada masa-masa haid atau nifas. Dalam kitab Mu’tabar disebutkan, darah istihadhah adalah darah yang keluar dengan tidak mengikuti ketentuan istikamah, artinya tidak keluar pada usia haid yaitu sembilan tahun, tidak kurang dari masa paling sedikitnya haid, dan tidak melampaui batas maksimal keluarnya haid.

Darah semacam ini bisa saja datang pada wanita yang belum berusia sembilan tahun, atau bagi wanita yang biasa mengalami haid kurang dari sehari semalam (sebab haid yang sebenarnya paling sedikit adalah sehari semalam). Ada kalanya darah ini keluar sesudah masa haid. Wanita yang mengalami pendarahan semacam ini disebut sebagai mustahadhah. Sebaliknya wanita yang mengalami hal semacam ini segera memeriksakan diri ke dokter.

Dalam hal ibadah, mustahadhah dihukumi seperti wanita-wanita biasa, artinya tidak boleh meninggalkan shalat, puasa, dan ibadah-ibadah lain. Bahkan mustahadhah ini boleh di-wathi (digauli — red) meskipun darahnya tetap saja keluar.

Istihadhah merupakan suatu hadats (hal yang mewajibkan bersuci)  yang langgeng (terus-menerus), sama halnya dengan orang yang tidak dapat menahan air kencing (salisil-baul). Apabila sedang di tengah-tengah shalat, lalu terasa ada darah keluar, maka wudunya tidak batal, oleh karena itu shalatnya wajib diteruskan.

Wudu wanita mustahadhah tidak boleh dipakai untuk menjalankan shalat fardlu dua kali ke atas. Setiap akan menjalankan shalat fardlu harus wudu dan begitulah seterusnya setiap akan melaksanakan shalat.

Hal demikian ini harus dilakukan sesudah masuknya waktu shalat, apabila wudu tersebut dilakukan sebelum masuknya waktu shalat, maka tidak sah. Setelah selesai wudu, ia harus cepat-cepat melakukan shalat dan bolehlah diundur jika ternyata pengunduran tersebut karena berangkat ke masjid atau karena menunggu jamaah. n disarikan dari Kunci Ibadah dan Tuntutan Shalat Lengkap/dam

Al Ijarah

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 10:25:00

Al ijarah berasal dari kata al-ajru yang berarti al ‘iwadhu (ganti). Oleh karena itu, al-tsawab (pahala) dinamai al ajru (upah). Menurut pengertian syara’, al ijarah ialah suatu jenis akad untuk mengambil manfaat dengan jalan penggantian.

Karena itu, menyewakan pohon untuk dimanfaatkan buahnya, tidaklah sah, karena pohon bukan sebagai manfaat. Begitu juga dengan menyewakan dua jenis mata uang (emas dan perak), makanan untuk dimakan, barang yang dapat ditakar dan ditimbang. Karena jenis barang-barang ini tidak dapat dimanfaatkan kecuali dengan menggunakan barang itu sendiri. Akad ijarah menghendaki manfaat bukan barangnya itu sendiri.

Manfaat, terkadang berbentuk manfaat barang seperti rumah untuk ditempati, mobil untuk dikendarai atau terkadang dalam bentuk karya seperti karya seorang insinyur pekerja bangunan, tukang tenun, tukang pewarna, penjahit, dan tukang binatu. Terkadang manfaat itu berbentuk sebagai kerja pribadi seseorang yang mencurahkan tenaga seperti khadam (pembantu). Pemilik yang menyewakan manfaat disebut mu’ajjir sedang orang yang menyewa yang mengambil manfaat disebut musta’jir. Sesuatu yang diakadkan untuk diambil manfaatnya disebut ma’jur (sewaan) dan jasa yang diberikan sebagai imbalan manfaat disebut ajran atau ujrah (upah).

Landasan hukum dari al ijarah adalah firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 233: ”Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” Sedang hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah berbunyi: ”Berikanlah olehmu upah orang sewaan sebelum keringatnya kering.”

Hikmah disyariatkannya al ijarah karena manusia membutuhkannya. Mereka butuh rumah sebagai sarana tempat tinggal, mereka butuh kendaraan mobil sebagai alat transportasi. Begitu juga mereka butuh binatang yang bisa dijadikan alat kendaraan dan angkutan. Mereka membutuhkan berbagai alat berat yang dapat digunakan untuk bercocok tanam.

Al ijarah menjadi sah dengan adanya ijab kabul lafal sewa atau kuli dan yang berhubungan dengannya serta lafal (ungkapan) apa saja yang dapat menunjukkan hal tersebut. Untuk kedua belah pihak yang melakukan akad disyaratkan berkemampuan yakni keduanya harus berakal dan dapat membedakan. Jika salah seorang yang berakad itu dalam kondisi gila atau anak kecil yang belum dapat membedakan, maka akad menjadi tidak sah. Mazhab Imam Syafi’i dan Hambali menambahkan satu syarat lagi yakni baligh. Menurut mereka, akad anak kecil sekalipun sudah dapat membedakan, dinyatakan tidak sah.  disarikan dari buku fikih sunnah karya sayyid sabiq/dam

Quru’

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 10:23:00

Quru’ mengandung dua pengertian yang saling berlawanan yaitu masa haid wanita dan masa sucinya. Adanya perbedaan dalam pengertian quru’ menimbulkan adanya perbedaan dalam penentuan lamanya masa idah wanita yang dicerai suaminya. Ini karena masa idah berkait langsung dengan kata quru’ sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 228: ”…wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’…”

Yang dimaksud dengan kata quru’ pada ayat itu adalah masa idah mesti benar-benar tiga kali masa haid. Bila telah melewati tiga kali masa suci, maka hampir dipastikan masa idah itu berakhir. Penghitungan tiga kali quru’ dimulai dengan menghitung masa suci setelah haid pertama sebagai masa suci kedua, dan masa suci berikutnya sebagai masa suci ketiga.

Jika quru’ diartikan dengan masa haid maka bilangan tiga quru’ dapat dilalui dengan penuh dan sempurna dan secara otomatis yang tiga kali masa suci terdapat di dalamnya. Cara penghitungannya adalah apabila talak dilakukan pada saat wanita sedang suci, maka quru’ pertama dihitung setelah suci dari haid pertama, begitu selanjutnya sampai quru’ ketiga.

Yang menjadi dasar quru’ diartikan sebagai haid adalah sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abu Daud dan Nasa’i: ”Tinggalkanlah shalat-shalatmu pada hari quru’.” Juga hadits riwayat Imam Nasa’i yang Rasulullah SAW sampaikan kepada Fathimah binti Hubaisy, ”Perhatikanlah jika quru’-mu datang, maka janganlah engkau shalat, dan jika quru’-mu telah berlalu maka bersucilah dan laksanakanlah shalat antara satu quru’ dan quru’ yang lain.”

Kedua hadis di atas memberikan isyarat bahwa quru’ diartikan sebagai haid karena pada masa haid itulah wanita dilarang melakukan shalat. Sedang hadis yang menerangkan quru’ berarti suci adalah hadis Rasulullah SAW riwayat Abu Daud, ”Talak budak adalah dua talak dan idahnya adalah dua kali haid.” Berdasarkan hadis tersebut maka masa idah budak wanita dihitung berdasarkan masa haid. Karena itu pula, mestinya idah wanita merdeka juga dihitung berdasarkan masa haid.

Karenanya perlu diperhatikan bahwa menjatuhkan talak mestinya dilakukan pada saat wanita sedang suci. Ini merupakan isyarat petunjuk riwayat Imam Malik dari Aisyah Ummul Mukminin yang menyampaikan pesan-pesannya, ”Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan quru’? Quru’ itu adalah al-ath-har (masa-masa suci).”  disarikan dari 150 masalah nikah dan keluarga/

Sedekah

By Republika Newsroom
Rabu, 15 Oktober 2008 pukul 16:47:00

Suatu pemberian yang diberikan oleh seorang Muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu; suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap rida Allah SWT dan pahala semata.

Sedekah dalam pengertian di atas oleh para fukaha (ahli fikih) disebut sadaqah at-tatawwu’ (sedekah secara spontan dan sukarela). Sebenarnya ada pula arti sedekah yang lain. Menurut mereka, istilah sedekah juga dapat searti dengan kata zakat, yang berarti suatu harta wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim pada waktu tertentu dan dalam jumlah tertentu yang telah ditetapkan oleh syariat (hukum Islam). Karena itu para fukaha sering menyebut istilah zakat fitrah dengan sadaqah al-fitr.

Adapun sedekah dalam pengertian bukan zakat sangat dianjurkan dalam Islam dan sangat baik dilakukan tiap saat. Di dalam Alquran banyak sekali ayat yang menganjurkan kaum muslimin untuk senantiasa memberikan sedekah. Di antara ayat yang dimaksud adalah yang artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberikan kepadanya pahala yang besar.” (QS An-Nisaa [4]:14).

Demikian pula di dalam sunah. Hadis yang menganjurkan sedekah tidak sedikit jumlahnya. Di dalam salah satu hadis, Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang memberi makan dan menjawab salam” (HR Ahmad bin Hanbal atau Imam Hanbali). Para fukaha sepakat bahwa hukum sedekah pada dasarnya adalah sunah, berpahala bila dilakukan dan tidak berdosa bila ditinggalkan. Di samping sunah, ada kalanya pula hukum sedekah itu menjadi haram, yaitu dalam kasus seseorang yang bersedekah mengetahui pasti bahwa orang yang menerima sedekah akan menggunakan harta sedekah itu untuk kemaksiatan.

Terakhir, ada kalanya pula hukum sedekah itu berubah menjadi wajib, yaitu ketika seseorang bertemu dengan orang lain yang sedang kelaparan hingga dapat mengancam keselamatan jiwanya, sementara dia (orang pertama) mempunyai makanan lebih dari apa yang ia perlukan saat itu. Hukum sedekah juga menjadi wajib jika seseorang bernazar hendak bersedekah kepada seseorang atau lembaga.

Sedekah dalam arti sadaqah at-tatawwu’ berbeda dengan zakat. Sedekah lebih utama jika diberikan secara diam-diam dibandingkan diberikan secara terang-terangan, dalam arti diberitahukan atau diberitakan kepada umum. Hal ini sejalan dengan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW dari sahabat Abu Hurairah. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa salah satu kelompok hamba Allah SWT yang mendapat naungan dari-Nya di hari kiamat kelak adalah seseorang yang memberi sedekah dengan tangan kanannya lalu ia sembunyikan seakan-akan tangan kirinya tidak tahu apa yang telah diberikan oleh tangan kanannya tersebut. disarikan dari ensiklopedi islam/yus

Khatam

By Republika Newsroom
Rabu, 15 Oktober 2008 pukul 10:35:00

Khatam arti harfiahnya adalah cincin meterai. Kata ini mempunyai pengertian bermacam-macam yang inti kandungan pengertiannya berkaitan erat dengan keabsahan surat-surat. Khatam dalam arti cincin meterai adalah salah satu  atribut raja yang merupakan tanda kebesaran dan kemegahan. Raja membubuhkan khatam itu pada surat-surat.

Khatam juga berarti akhir. Maksudnya, tulisan yang telah diberi khatam itu benar dan sah atau penulisan surat sudah benar dan lengkap dengan diberinya khatam.

Khatam juga berarti wazir (setingkat perdana menteri). Hal ini dapat dilihat dari ucapan Harun Al Rasyid ketika hendak mengangkat Ja’far bin Yahya menjadi wazir menggantikan Al-Fadal. ”Wahai ayahku, aku bermaksud memindahkan khatam dari tangan kananku ke tangan kiriku.” Dikiaskannya, wazir dengan khatam disebabkan pekerjaan memberi khatam adalah salah satu tugas wazir.

Penggunaan khatam pernah dilakukan pada masa Nabi Muhammad SAW. Diceritakan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW hendak mengirim surat ajakan masuk Islam kepada penguasa-penguasa lain. Kepada Nabi SAW dikatakan bahwa raja-raja non-Arab (‘ajam) hanya mau menerima surat-surat yang diberi khatam.

Maka, Nabi Muhammad SAW membuat cincin stempel dari bahan perak berukirkan ‘Muhammad Rasulullah’. Penggunaan cincin khatam ini  diteruskan pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan.

Ketika ada di tangah Usman, khatam itu jatuh ke dalam sumur. Segera Usman membuat khatam baru yang menyerupainya.

Setiap orang yang memangku jabatan khalifah memiliki khatam. Pada khatam tidak diukirkan nama-nama khalifah, akan tetapi diukirkan kata-kata hikmah atau slogan. Padah khatam Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali bin Abi Thalib, misalnya, masing-masing diukirkan kata-kata Ni’mah Al Qadir Allahu (Yang Maha Kuasa Yang paling baik adalah Allah), Kafaa bil mauti wa’idzhan yaa Umaru (Cukuplah kematian menjadi peringatan bagimu), Latasbiranna au latandamanna (Engkau bersabar atau menyesal), dan al Mulku lillahi (Kekuasaan hanya bagi Allah).

Khalifah pertama yang memperkenalkan khatam pada surat-surat ialah Mu’awiyah bin Abu Sofyan. Ia juga memperkenalkan pendirian diwan (dewan) yang tugasnya mengurus surat lamaran kerja, menyiarkannya, menyetempel, membungkus dengan kain, membalut dengan lilin, dan kemudian memberikan cap di atasnya. Diwan ini disebut Diwan Al Khatim (Lembaga khatam).

Tujuan didirikannya diwan ini adalah untuk menghindarkan pemalsuan, seperti kasus pemalsuan yang dilakukan Umar bin Zubair yang terjadi pada masa Mu’awiyah. Ia mengirim surat kepada Ziyad bin Abihi, seorang pejabat Kufah. Dalam suratnya dikatakan agar Ziyad memberikan uang sebanyak seratus ribu dirham.

Umar bin Zubair ditugaskan membawa surat yang tidak diberi khatam itu mengubah angka tersebut menjadi 200 ribu dirham sebelum ia menyerahkan surat itu kepada Ziyad. Kemudian Ziyad memberikan uang sebanyak 200 ribu dirham kepada Umar. Ketika Ziyad menghadap Mu’awiyah dan memberikan laporan, Mu’awiyah tidak mengakui jumlah 200 ribu itu. Akhirnya terungkaplah kasus pemalsuan itu.

Umar bin Zubair diperintahkan untuk mengembalikan uang 100 ribu dirham. Sejak itu Mu’awiyah mendirikan Diwan Al Khatim (Lembaga Khatam).  Ziyad bin Abihi seperti dituturkan oleh Al-Baladari, sejarawan Arab terkemuka,  adalah orang Arab pertama yang menerapkan Diwan Al Khatim di wilayah Irak, mengikuti orang-orang Persia (Iran).

Syahadah

By Republika Newsroom
Rabu, 15 Oktober 2008 pukul 10:34:00

Syahadah itu diambil dari kata musyaahadah yang artinya melihat dengan mata kepala, karena syahid (orang yang menyaksikan) itu memberitahukan tentang apa yang disaksikan dan dilihatnya. Maknanya ialah pemberitahuan seseorang tentang apa yang dia ketahui dengan lafal; aku menyaksikan atau aku telah menyaksikan (asyhadu atau syahidtu).

Kesaksian syahadah berasal dari kata i’laam (pemberitahuan). Firman Allah SWT, ”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia.” (QS Ali Imraan: 18).

Di sini arti dari kata syahida adalah ‘alima (mengetahui). Syahid adalah orang yang membawa kesaksian dan menyampaikannya, sebab dia menyaksikan apa yang tidak diketahui orang lain.

Tidak halal bagi seseorang untuk bersaksi kecuali bila dia mengetahui. Pengetahuan itu diperoleh melalui penglihatan atau pendengaran atau ketenaran dalam kasus yang pada umumnya sulit untuk diketahui kecuali melaluinya.

Kesaksian itu hukumnya fardhu ‘ain bagi orang yang memikulnya bila dia dipanggil untuk itu dan dikhawatirkan kebenaran akan hilang; bahkan wajib apabila dikhawatirkan lenyapnya kebenaran meskipun dia tidak dipanggil untuk itu. Firman Allah SWT, ”Janganlah kamu sembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya maka dia adalah orang yang berdosa hatinya.” (QS Al-Baqarah [2]: 283). Dalam ayat lain, ”Dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah.” (QS Ath-Thalaq [63]: 2). Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Tolonglah saudaramu baik yang berbuat zhalim ataupun yang dizhalimi.”

Penunaian kesaksian adalah termasuk menolongnya. Dari Zaid bin Khalid bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Maukah aku beritahukan kepada saksi yang paling baik? ‘Yaitu yang menyampaikan kesaksiannya sebelum dia diminta untuk itu.”

Kesaksian itu hanya wajib ditunaikan apabila saksi mampu menunaikannya tanpa adanya bahaya yang menimpanya baik badannya, kehormatannya, hartanya, ataupun keluarganya.

Syarat-syarat menjadi saksi adalah pertama, beragama Islam. Kedua, adil. Sifat keadilan ini merupakan tambahan bagi sifat Islam dan harus dipenuhi oleh para saksiyaitu kebaikan mereka harus mengalahkan keburukannya serta tidak dikenal kebiasaan berdusta dari mereka. Firman Allah Ta’ala: ”Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil diantara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah.” (QS Ath-Thalaq [65]: 2).

Ketiga dan empat, baligh dan berakal. Apabila keadilan merupakan syarat diterimanya kesaksian, maka baligh dan berakal adalah syarat di dalam keadilan.

Ikraah

By Republika Newsroom
Rabu, 15 Oktober 2008 pukul 10:34:00

Ikraah (paksaan) menurut bahasa berarti membawa manusia kepada urusan yang tidak diinginkannya secara wajar atau syara’. Orang yang dipaksa dinamakan mukrah.

Menurut syariat, ikraah adalah membawa orang lain kepada apa yang tidak disenanginya dengan ancaman hendak dibunuh, dianiaya, dipenjara, dirusak hartanya, disiksa, atau dilukai. Tidak ada perbedaan apakah paksaan itu dari hakim, pencuri, ataupun dari yang lainnya.

Ibnu Mas’ud berkata, ”Bilamana ada seorang penguasa memaksaku untuk berbicara dengan ancaman cambukkan baik sekali atau dua kali, maka aku akan berbicara demi untuk menghindarkan cambukan agar jangan menimpa diriku.”

Ikraah itu terbagi menjadi dua macam. Pertama, ikraah untuk berbicara, dan  kedua, ikraah untuk berbuat. Ikraah (paksaan) untuk berbicara tidak mewajibkan sesuatu bagi orang yang dipaksa, sebab dia tidak lagi mukalaf. Maka apabila dia mengucapkan kata-kata yang mengandung kekafiran, dia dimaafkan menurut syariat. Bila dia menuduh orang lain, dia  tidak dikenakan had.

Apabila dia ikrar, ikrarnya tidak bisa dipegangi. Bila dia dipaksa mengadakan akad nikah, hibah, atau jual beli, akadnya ini tidak berlaku. Bila dia bersumpah atau bernadzar, maka sumpah atau nadzarnya ini tidak menuntut sesuatu. Bila dia menceraikan isterinya atau merujuknya, maka tidak terjadi perceraian dan rujuknya pun tidak sah.

Yang menjadi dasar dalam hal ini adalah Firman Allah dalam surat An-Nahl [16] ayat 106 yang artinya, ”Barangsiapa kafir terhadap Allah sesudah dia beriman, dia mendapat kemurkaan Allah, kecuali orang-orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (maka dia tidak berdosa); akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.”

Sedangkan paksaan untuk berbuat ini terbagi menjadi dua bagian. Pertama, yang diperbolehkan oleh keadaan (darurat). Misalnya, paksaan untuk meminum khamar, memakan bangkai, memakan daging babi, memakan harta orang lain, atau apa yang diharamkan Allah. Dalam keadaan yang demikian, maka diperbolehkan melakukan hal itu semuanya.

Bahkan diantara para ulama ada yang memandang wajib melakukannya bila tidak ada keselamatan kecuali dengan melakukannya. Hal ini tidak berbahaya bagi seseorang, dan tidak melalaikan hak Allah. Begitu pula orang yang dipaksa berbuka puasa Ramadhan, atau shalat bukan menghadap kiblat, sujud kepada berhala atau salib, maka dia diperbolehkan, dengan meniatkan sujud kepada Allah Yang Mahaagung.

Kedua, paksaan yang tidak diperbolehkan oleh keadaan (tidak darurat). Misalnya, paksaan untuk membunuh, melukai, menganiaya, berzina, dan merusakkan harta. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW: ”Sesungguhnya Allah mengampuni umatku dari dosa yang dilakukan karena kesalahan, kelupaan, dan apa yang dipaksakan kepada mereka.”

disarikan dari fikih sunnah karya sayyid sabiq jilid 14, penerbit pt al-ma’arif bandung

Kelima, berbicara. Apabila dia bisu dan tidak sanggup berbicara, maka kesaksiannya tidak diterima, sekalipun dia dapat mengungkapkan dengan isyarat dan isyaratnya itu dapat difahami. Kecuali, bila dia menuliskan kesaksiannya itu dengan tulisan. Demikianlah pendapat Abu Hanifah, Ahmad, dan pendapat yang sah dari madzhab Asy Syafi’i.

Keenam, hafal dan cermat. Tidak diterima kesaksian orang yang buruk hafalannya, banyak lupa, dan salah karena dia kehilangan kepercayaan pada pembicaraannya. Ketujuh, bersih dari tuduhan. Tidak diterima kesaksian orang yang dituduh karena percintaan dan permusuhan. dam/disarikan dari buku fikih snnah karya sayyid sabiq terbitan pt al ma’arif bandung

About these ads

0 Responses to “Ensiklopedia Islam (3)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,301,289 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 129 other followers

%d bloggers like this: