21
Sep
09

Ensiklopedia Islam (1)

Syafaat

By Republika Newsroom
Kamis, 18 September 2008 pukul 15:33:00

Secara harfiah, syafaat berarti pertolongan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain yang mengharapkan pertolongannya; usaha dalam memberikan suatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan suatu mudharat bagi orang lain.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya,”Barangsiapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) daripadanya. Dan barangsiapa yang memberi syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) daripadanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS An Nisaa [4]:85)

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’aru dikatakan jika Nabi Muhammad SAW kedatangan seseorang yang berhajat (berkepentingan), beliau berkata kepada para sahabat,”Berilah syafaat (pertolongan) supaya kamu mendapat pahala dan Allah akan memutuskan melalui lidah nabi-Nya apa yang Dia kehendaki.”

Istilah syafaat terkenal di kalangan ahli kalam. Dalam kalam, syafaat berarti pertolongan yang diberikan Nabi SAW kepada umatnya di hari kiamat untuk mendapatkan keringanan atau kebebasan dari hukuman Allah SWT. Syafaat itu hanya akan berhasil apabila Allah SWT memberikannya akan mengizinkannya.

Allah SWT berfirman yang artinya,”…siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS Al-Baqarah [2]:255)

“Pada hari itu (hari kiamat) tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah Yang Maha Pemurah telah memberikan memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.” (QS Thaha [20]:109) dan, “Katakanlah, hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya..”(QS Az-Zumar [39]:44)

Riadat

By Republika Newsroom
Rabu, 17 September 2008 pukul 15:31:00

Dalam tasawuf, riadat berarti latihan kerohanian dengan menjalankan ibadah dan menundukkan keinginan nafsu syahwat.

Menurut kalangan penempuh jalan tasawuf, riadat dalam arti tersebut pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika ber-khalwat di Gua Hira dengan melatih diri, mengasah jiwa, berzikir, merenung, memperhatikan kejadian alam dan susunannya, serta memperhatikan segala keadaan masyarakat yang penuh kejahilan dan kerusakan dalam berbagai aspek kehidupan. Keadaan masyarakat tersebut menimbulkan keprihatinan Nabi SAW yang mendalam. Kemudian datanglah wahyu yang dibawa oleh Jibril.

Setelah menjadi rasul, beliau tetap menjalankan riadat, melawan hawa nafsu (mujahadat) dan tekun beribadat seperti melakukan shalat tahajud sampai jauh malam sehingga kakiknya membengkak. Ketika ditanyakan Aisyah, istrinya, mengapa beliau beribadat sekuat itu, Nabi SAW menjawab bahwa ia ingin mejadi hamba Allah SAW yang bersyukur, bukan karena ingin diampuni dosa-dosanya (HR Ahmad bin Hanbal).

Riadat dalam tasawuf ada dua macam, yaitu riadat badan dan riadat rohani. Riadat badan dilakukan oleh seorang sufi atau pengamal tarekat dengan jalan mengurangi makan, mengurangi minum, mengurangi tidur dan mengurangi berkata-kata. Riadat rohani biasanya melalui ibadah, seperti senantiasa dalam keadaan berwudlu, rajin melakukan shalat (baik fardu maupun sunnah) dan rajin mengamalkan zikir dan aneka ragam wirid.

Adapun riadat yang dilakukan para sufi berbeda-beda sesuai dengan tarekat yang dianutnya. Riadat dilakukan para sufi untuk dapat dekat dan berma’rifat kepada Allah SWT. Hal ini dilakukan secara bertahap sesuai dengan kekuatan bathin masing-masing. Seseorang yang akan melakukan riadat diharuskan untuk terlebih dahulu mempersiapkan kesucian lahiriah melalui iman, Islam dan ihsan.

Ia harus pula memahami dengan sebaik-baiknya apa yang dimaksud dengan rukun iman, pengetahuan mengenai sifat-sifat Tuhan yang wajib dan jaiz, yang mustahil dan yang mungkin, serta pengetahuan tentang nubuat dan yang berhubungan dengan nabi-nabi, seperti sifat-sifatnya, mukjizat dan syafaatnya. Selain itu, juga pengetahuan mengenai malaikat, kitab suci, hari kiamat, dan qada serta qadar.

Ia juga harus mengamalkan ajaran Islam yang wajib, seperti shalat lima waktu dan puasa Ramadhan, dan berupaya memahami hikmah-hikmah dari ibadah itu. Ia melakukan segala sesuatu dengan ikhlas kepada Allah SWT.

Akidah

By Republika Newsroom
Selasa, 16 September 2008 pukul 15:30:00

Merupakan unsur yang paling esensial dan utama dalam Islam. Meliputi segala hal yang bertalian dengan keimanan dan keyakinan seorang Muslim. Dalam Alquran, akidah biasanya diistilahkan dengan iman.

Kata aqidah berakar dari kata ‘aqada-ya’qidu, yang berarti menyimpulkan atau mengikatkan tali dan mengadakan perjanjian. Dari kata ini muncul bentuk lain seperti i’taqada-ya’taqidu dan i’tiqad yang berati mempercayai, meyakini, dan keyakinan. Kata akidah menurut Jamil Shaliba, seorang ahli bahasa arab di Suriah dalam bukunya al-Mu’jam al-Falsafi (Ensiklopedi Filsafat), sepadan dengan kata dogma dalam bahasa Inggris dan latin.

Ajaran Islam dibagi atas tiga aspek pokok yaitu akidah, syariat, dan akhlak. Aspek akidah merupakan aspek yang fundamental dalam Islam dan berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan dengan keyakinan dan kepercayaan terhadap hal-hal gaib. Akidah berkaitan pula dengan pekerjaan hati.

Aspek syariat adalah aspek yang berkaitan dengan amal ibadah yang berkenaan dengan pelaksanaan hukum beripa perintah dan larangan Allah SWT. Sedangkan akhlak berkait erat dengan persoalan etika, moral dan pergaulan hidup. Jadi akidah merupakan fondasi, syariat merupakan cabang (bangunan) dan ahlak merupakan atapnya.

Menurut Mahmud Syaltut, seorang ulama besar Mesir, akidah dan syariat berhubungan erat dan saling menunjang. Akidah itu dasar, di atasnya dibangun syariat, sedangkan syariat merupakan jejak langkah yangmesti mengikuti dan melayani akidah. Oleh karenanya, syariat tidak akan ada tanpa akidah. Akidah menjadi langkah pertama dan paling awal yang harus dilalui seorang muslim.

Dalam alquran akidah diistilahkan dengan iman dan syariat diistilahkan dengan amal saleh. Keduanya selalu disebut beringingan, umpamanya dalam QS An Nahl [16]:97, QS Al Kahfi [18]:107-108, dan QS Al Ashr [103]:1-3. Ayat-ayat tersebut membuktikan bahwa Islam bukan semata akidah atau semata syariat, namun satu kesatuan ajaran yang meliputi keduanya.

Akidah adalah aspek yang harus dimiliki terlebih dahulu sebelum yang lain-lain. Akidah itu harus bulat dan penuh, tidak ada keraguan dan kesamaran di dalamnya. Akidah yang benar adalah akidah yang sesuai dengan ketetapan keterangan-keterangan yang jelas dan tegas dalam Alquran serta hadis. Pada periode Mekkah, penanaman akidah itulah yang pertama sekali dilakukan Rasulullah SAW.

Pernyataan yang sangat mendasar untuk akidah yang benar ialah dua kalimah syahadat yang juga disebut kalimat tauhid. Seseorang akan diakui sebagai seorang muslim dan memiliki akidah yang benar apabila telah menyatakan dua kalimat syahadat.

Dakwah

By Republika Newsroom
Senin, 15 September 2008 pukul 15:27:00

Istilah dakwah berasal dari bahasa Arab: da’a, yad’u, da’wah. Artinya mengajak, menyeru, memanggil, menganjurkan. Dakwah yang dimaksudkan di sini adalah mengajak, menyeru, memanggil, atau menganjurkan manusia untuk tetap berada di jalan yang diridhlai Allah SWT.

Perlu dicamkan, sebelum berdakwah kepada orang lain, seorang Muslim atau seorang pendakwah (da’i/da’iyat) harus mampu mendakwahi dirinya sendiri. Ia harus terlebih dahulu menghiasi dirinya dengan iman, Islam dan ihsan yang menyatu dalam pikir, sikap, dan perlikunya sehari-hari.

“Serulah kepada jalan Rabmu dengan cara hikmah, mauizah hasanah (peringatan yang baik) dan debatlah mereka dengan cara yang baik.” (QS An-Nahl [16]: 125).

Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW merupakan rahmatan lil alamin. Meskipun Islam diturunkan pertama kali di bumi Arab, seluruh umat manusia di muka bumi ini berhak untuk merasakan rahmat dien Islam. Bagi orang-orang yang memahami Islam dengan baik juga dituntut untuk mendakwahkannya kepada orang lain, baik itu Muslim maupun non-Muslim.

Tidak kita pungkiri bahwa Islam sampai kepada kita melalui dakwah para dai. Dalam salah satu firman-Nya, Allah menegaskan bahwa dakwah merupakan salah satu syarat agar umat Islam meraih keberuntungan. Allah berfirman, “Hendaklah di antara kalian ada sebagian umat yang mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imron [3]: 104).

Dakwah adalah salah satu bentuk ibadah untuk mengajak umat agar kembali kepada ajaran Allah. Allah menyatakan bahwa dakwah adalah merupakan sebaik-baik perkataan, karenanya dakwah mempunyai arti yang sangat penting dalam penyebaran Islam. Tentunya para pengusung dakwah ini juga termasuk dalam sebaik-baik manusia.

Namun, dakwah yang seharusnya mendatangkan perbaikan dan kekuatan Islam pada gilirannya sering tidak mencapai sasaran. Banyak terjadi penyelewengan dalam proses dakwah. Materi yang membingungkan dan tidak terarah, unsur <I>subhat<I> yang kadang masih melekat dalam dakwah, atau sifat dai yang tidak bisa diteladani merupakan masalah yang harus segera diperbaiki. Sehingga, pada akhirnya dakwah yang benar ini bisa mendatangkan kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin.

Allah berfirman, “Serulah kepada jalan Rabmu dengan cara hikmah, mau’idzah hasanah (peringatan yang baik), dan debatlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl [16]: 125).

Dalam ayat yang lain Allah berfirman, “Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab kecuali dengan cara yang lebih baik, kecuali orang yang zalim di antara mereka.” (Al-Ankabut [29]: 46).

Kedua ayat ini menerangkan bahwa metode dakwah yang baik dan benar berdasarkan kondisi orang yang akan didakwahi adalah dengan hikmah; dengan mau’idzah hasanah (peringatan yang baik); dengan jidal bil ahsan (debat atau diskusi dengan cara yang baik); dengan menggunakan kekuatan.

Bagi umat yang bersedia menerima kebenaran, tidak menolak dan membangkang, maka metode yang harus digunakan adalah menyampaikan kepadanya kebenaran, sehingga ia mengetahui dan mengamalkannya. Bagi orang yang mau menerima kebenaran namun tearkadang lalai dan bermalas-malasan dalam melaksanakannya, maka metode yang sesuai adalah dengan mau’idzah hasanah.

Adapun bagi orang yang menentang dan membangkang, maka harus didebat dengan cara yang baik. Sedang bagi golongan yang keempat, yaitu orang yang menentang sembari berbuat zalim, maka tidak ada cara yang lebih tepat selain menggunakan kekuatan. Inilah arti hikmah yang benar, yaitu menempatkan sesuatu pada posisinya yang layak. (Al-Hikmah fi Dakwah Ilallah, halaman 515–516).

Silaturahim

By Republika Newsroom
Minggu, 14 September 2008 pukul 15:25:00

Rahim secara bahasa berarti rahmah yakni lembut dan kasih sayang. Tarahamal qaumu artinya saling berkasih sayang.

Imam Al-Azhary berkata yang dimaksud dengan firman Allah: “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Al-Anbiya': 107).

Tarahhama ‘alaihi berarti mendoakan seseorang agar mendapatkan rahmat, istarhama berarti memohonkan rahmat. Rajulun rahumun (orang laki-laki yang penyayang) dan imra’atun rahumun (perempuan yang penyayang).

Seseorang dikatakan dekat dengan kerabatnya apabila dia telah memiliki kasih sayang dan kebaikan sehingga menjadi baik dan sayang. Abu Ishaq berkata: “Dikatakan paling dekat rahim-nya yaitu orang yang paling dekat kasih sayangnya dan paling dekat hubungan kerabatnya.”

Ar-ruhmu dan ar-ruhumu secara bahasa adalah kasihan dan simpati. Allah menyebut hujan dengan nama rahmat. Ibnu Sayyidih berkata bahwa yang dimaksud dengan ar-rahim dan ar-rihimu adalah rumah tempat tumbuhnya anak, dan jamaknya arhaam. Al-Jauhary berkata ar-rahim berarti kerabat.

Allah SWT berfirman: “Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim.” (An-Nisa': 1)

Keluarga adalah pondasi utama terbangunnya sebuah lingkungan masyarakat. Dan perekat pertama hubungan antar manusia adalah perekat hubungan yang bernilai rububiyah yang merupakan perekat hubungan paling dasar. Allah memuji hubungan manusia karena ikatan kekerabatan.

Maka bertakwalah kepada Allah yang kamu saling berjanji dan berikrar dengan keagungan nama-Nya, kamu saling meminta satu sama lain dengan kebesaran nama-Nya dan kamu saling bersumpah satu sama lain dengan nama-Nya. Tumbuh-kanlah nilai takwa di antara kalian agar hubungan kerabat tetap bersambung dan langgeng.

Jadikanlah kerinduan dan keteduhan hidup di bawah naungan dan kemesraan silaturrahim, Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (An-Nisa': 1)

Allah SWT memerintahkan agar kita menyambung hubungan baik dengan orang fakir, dengan tetangga dan hubungan baik dengan kerabat dan sanak famili. Apabila manusia memutuskan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dihubungkan, maka ikatan sosial masyarakat akan hancur, kerusakan menyebar di setiap tempat, kekacauan terjadi di mana-mana dan gejala sifat egoisme akan timbul dalam kehidupan sosial.

Setiap individu masyarakat pun bakal menjalani hidup tanpa petunjuk, seorang tetangga tidak tahu hak bertetangga, seorang faqir merasakan penderitaan dan kelaparan sendirian dan hubungan kerabat berantakan, sehingga kehidupan manusia berubah menjadi kehidupan hewani serba tidak berharga.

Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang senang diluaskan rizkinya dan ditunda umurnya, maka hendaklah bersilaturrahim”.

Langkah-langkah menuju ke tempat tinggal kerabat adalah keberkahan dan derajat manusia akan tinggi di sisi Allah bila seseorang melangkahkan kaki untuk bersilaturrahim. “Malaikat rahmah selalu mengiringi dan merupakan ibadah kepada Allah pada saat engkau bersilaturrahim serta engkau akan mendapatkan pahala dan pengampunan dari Allah.”

Hikmah

By Republika Newsroom
Sabtu, 13 September 2008 pukul 15:24:00

Secara harfiah, hikmah berarti ucapa yang sesuai dengan kebenaran, falsafat, perkara yang benar dan lurus, keadilan, pengetahuan serta lapang dada. Para ahli memberikan berbagai pengertian tentang hikmah sesuai disiplin ilmu mereka masing-masing. Secara umum hikmah merupakan pengetahuan yang paling tinggi nilainya, yaitu pengetahuan yang menghubungkan manusia pada pemahaman tentang dunia akherat.

Kata hikmah digunakan di dalam Alquran, hadist dan syair Arab. Di dalam alquran, kata ini terdapat pada 20 tempat. Secara bersamaan, istilah ini sering dinyatakan sebagai suatu pemberian (QS.2:129,231; QS.3:81; QS.4:54,113 dan QS.38:20). Hikmah merupakan anugerah yang besar (QS.2:269) dan juga dihubungkan dengan kemurnian (QS.2:129).

Hikmah biasanya pula doartikan sebagai kebijaksanaan yang berkaitan erat dengan pengertian filsafat. Pada mulanya hikmah berarti kemahiran dan keterampilan dalam seni bekerja, seperti berdagang dan menjadi nelayan. Kemudian artinya berkembang menjadi kemahiran dalam syair-syair dan dihubungkan dengan orang yang berpikiran benar serta bertindak dengan baik di dalam urusan hidup. Selanjutnya istilah ini diartikan sebagai pengetahuan yang paling tinggi yaitu yang menghubungkan manusia pada pemahaman tentang dunia hakekat.

Menurut pendapat Pythagoras, seorang filsuf Yunani, hikmah kebijaksanaan dalam arti terakhir ini merupakan perkara yang sulit dicapai oleh manusia dan hanya dimiliki oleh Tuhan. Oleh sebab itu, manusia cukup dipandang mulia apabila dia mencintai dan bersungguh-sungguh dalam mencari hikmah.

Dengan demikian, kalau pun ia memilikinya, maka hal itu merupakan anugerah dari Tuhan yang menjadikannya mampu melakukan penilaian yang benar terhadap apa yang tepat bagi segala sesuatu. Dalam kaitan ini hikmah berhubungan dengan kata haqq (hak) yang berarti penilian yang benar atau hukm (hukum) yang sesuai dengan hakekat atau situasi yang sebenarnya.

Sehubungan pengertian di atas, terdapat ayat Alquran yang artinya:”Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak..(QS.2:269). Menurut Muhammad Abduh, yang diberikan oleh Allah adalah alatnya yaitu akal yang sempurna dan taufik agar seseorang dapat mempergunakan alat itu untuk menghasilkan ilmu yang benar. Hikmah seperti ini, kata Muhammad Rasyid Rida, merupakan alat untuk memahami Alquran.

Para sufi juga menggunakan kata hikmah dalam arti kebijaksanaan. Bagi mereka, hikmah dapat menyucikan jiwa dari kotoran tabiat yang zalim. Apabila telah mengetahui hikmah, jiwa akan senantiasa rindu kepada alam roh tanpa adanya kecenderungan pada syahwat jasmani yang mematikan jiwa yang hidup dan lulus dari pengaruh serta belenggu syahwat yang mengikat orang-orang yang tidak mengetahui hikmah.

Kata hikmah pun digunakan oleh para fukaha (ahli fikih) untuk menyatakan manfaat suatu perbuatan dan rahasia-rahasia hukum perbuatan itu. Seperti himmah shalat dan hikmah puasa. Di samping itu, hikmah digunakan pula untuk menyatakan ilah (alasan) yang ditetapkan oleh akal yang sesuai dengan hukum.  yus/dikutip dari Ensiklopedi Islam

Ilham

By Republika Newsroom
Jumat, 12 September 2008 pukul 15:23:00

Secara harfiah, ilham berarti menelan, meneguk, mengajarkan, mewahyukan. Sesuatu yang disampaikan oleh Allah SWT ke dalam jiwa seseorang yang membangkitkannya untuk mengerjakan atau meninggalkan sesuatu. Menurut tafsir az-Zarkasyi dalam kitab al-Burhan fi ‘Ulum al-Quran, ilham adalah memberi pelajaran atau mengajar.

Dalam Alquran, ilham hanya disebut satu kali, yaitu dalam surat asy Syams ayat 8 yang artinya: Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

Menurut ahli tafsir Imam at Tabari, terdapat dua penafsiran tentang ilham. Pertama, Allah SWT menjelaskan sesuatu pada nafs (jiwa) yang pantas untuk dikerjakan atau ditinggalkan, baik berupa kebaikan atau keburukan.

Kedua, Allah SWT menjadikan dalam jiwa ada kefasikan dan ketakwaan. Mana saja yang dominan di antara kedua itu akan berpengaruh terhadap perilaku manusia.

Sedang Muhammad Abduh mendefinisikan ilham sebagai Perasaan halus yang mana jiwa merasa yakin dan terdorong pada apa yang dicarinya, tanpa merasa atau mengetahui dari mana datangnya.”

Allah SWT dikenali melalui dua jalan. Pertama, Allah SWT memberi ilham kepada sebagian manusia untuk mengetahui-Nya. Kedua, Allah SWT memberikan wahyu kepada para nabi untuk menyampaikan jaran-Nya kepada manusia secara keseluruhan.

Persamaan ilham dengan wahyu, keduanya sama-sama merupakan media penerimaan ilmu pengetahuan atau pengetahuan yang didapat secara cepat dan rahasia dalam jiwa tanpa dipelajari lebih dulu. Perbedaannya, ilham dapat berisi ilmu pengetahuan, perasaan halus, insting, atau berupa tabiat yang diberikan kepada semua manusia atau hewan. Sedang wahyu diberikan khusus kepada nabi yang datangnya dari Allah SWT melalui malaikat dan ada kewajiban untuk menyampaikan kepada seluruh manusia. Pendapat lain menyebutkan, ilham merupakan emanasi dari Allah SWT namun tidak diketahui bagaimana dan mengapa ilham diturunkan.

Adapun perbedaan ilham dengan ilmu adalah ilmu merupakan sesuatu yang dipelajari, bersandar pada pemikiran dan penyelidikan, serta memerlukan usaha yang terus-menerus. Sedangkan ilham adalah sesuatu yang diperoleh tanpa melalui proses pemikiran dan penyelidikan serta tidak memerlukan usaha untuk mempelajarinya. Bagi sufi, ilham mempunyai arti penting dalam kaitannya dengan tujuan mereka mencapai makrifat kepada Allah SWT.

Sekularisme

By Republika Newsroom
Kamis, 11 September 2008 pukul 15:22:00


Sekularisme adalah aliran atau sistem doktrin dan praktik yang menolak segala bentuk yang diimani dan diagungkan oleh agama; atau pandangan bahwa masalah keagamaan (ukhrawi/surgawi) harus terpisah sama sekali dari masalah kenegaraan (urusan duniawi). Secara etimologis istilah “sekuler” berasal dari bahasa Latin, saeculum, yang bermakna ganda, yakni “ruang” dan “waktu”. Istilah “ruang” menunjuk pada pengertian “dunia” atau “duniawi”, sedangkan “waktu” pada pengertian “sekarang” atau “kini”. Kata “sekuler” berkembang menjadi sebuah istilah yang diartikan sebagai bersifat duniawi atau kebendaan, bukan bersifat keagamaan atau kerohanian. Bahasa Arab untuk “sekuler” adalah ‘ilmaniyyah, suatu kata yang berakar dari kata ‘ilm yang berarti “ilmu pengetahuan” atau “sains”.

Dari kata “sekuler” muncul istilah “sekularisasi” yang antara lain mengandung arti “proses melepaskan diri dari ikatan keagamaan.” Sekularisasi dapat juga diartikan sebagai pemisahan antara urusan kenegaraan dan urusan keagamaan, atau pemisahan antara urusan duniawi dan ukhrawi (akhirat).

Dari kata “sekuler” juga muncul istilah “sekularisme”, yang diperkenalkan pertama kali oleh filsuf George Jacob Holyoake pada tahun 1846. Menurutnya, sekularisme adalah suatu sistem etik yang didasarkan pada prinsip moral alamiah, terlepas dari agama wahyu atau supernaturalisme. Definisi lain dari sekularisme dikemukakan oleh A Hornby (ahli bahasa berkebangsaan Amerika). Menurutnya, sekularisme adalah suat pandangan bahwa pengaruh lembaga keagamaan harus dikurangi sejauh mungkin dan bahwa moral dan pendidikan harus dipisahkan dari agama.

Akar historis dari konsep sekularisme tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kristen di dunia Barat. Di Barat pada abad modern telah terjadi proses pemisahan antara hal-hal yang menyangkut masalah agama dan nonagama (bidang sekuler) yang diawali dengan ketidakserasian antara hasil penemuan sains atau ilmu pengetahuan di satu pihak dan dogma Kristen di pihak lain.

Di dunia Islam, istilah “sekuler” pertama kali dipopulerkan oleh Zia Gokalp (1875-1924), sosiolog terkemuka dan politikus nasionalis Turki. Dalam rangka pemisahan antara kekuasaan spiritual khalifah dan kekuasaan duniawi sultan di Turki Usmani (Kerajaan Ottoman) pada masa itu. Ia mengemukakan perlunya pemisahan antara <I>diyanet<I> (masalah ibadah serta keyakinan) dan muamalah (hubungan sosial manusia).

Pengertian sekularisme dalam pandangan ulama dan ilmuwan Islam sangat beragam. Sayid Qutub (filsuf Muslim dari Mesir, 1906-1966) mendefinisikannya sebagai pembangunan struktur kehidupan tanpa dasar agama. Karena itu, sekularisme bertentangan dengan Islam, bahkan merupakan musuh Islam yang paling berbahaya.

Pandangan Qutub didukung oleh Altaf Gauhar (filsuf Muslim kontemporer dari Mesir) yang menyatakan bahwa sekularisme dan Islam tidak mempunyai tempat berpijak yang sama. Esensi Islam berantitesis terhadap sekularisme.

Pandangan lain tentang sekularisme dikemukakan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang menunjuk pada suatu ideologi atau paham yang menidakkeramatkan (desakralisasi) alam dan politik. Ia menjelaskan bahwa Islam tidaklah sama dengan Kristen. Karena itu, sekularisasi yang terjadi pada masyarakat Kristen Barat tidaklah sama dengan apa yang terjadi pada masyarakat Muslim. Akan tetapi, Naquib  mengingatkan bahwa kita harus melihat sekularisasi tidak hanya terbatas pada dunia Barat. Pengalaman mereka atas hal itu dan sikap mereka terhadapnya sangat berguna untuk dipelajari kaum Muslim di seluruh dunia.

Tentang pandangan Islam terhadap sekularisme, Naquib al-Attas dengan tegas menytakan bahwa pada dasarnya Islam menolak segala bentuk sekularisme. Bahkan, Islam secara total menolak penerapan apa pun mengenai konsep-konsep sekuler, sekularisasi, maupun sekularisme, karena semuanya itu bukanlah milik Islam dan berlawanan dengannya dalam segala hal. Naquib mengemukakan alasannya bahwa Islam adalah agama yang lengkap, sempurna, dan sesuai dengan kondisi manusia sejak awal. Karena itu, agama Islam tidak membutuhkan “perkembangan” atau “perubahan” lebih lanjut.

Hal senada dikemukakan almarhum Prof Dr H Mohammad Rasjidi. Rasjidi beranggapan bahwa sekularisme dan sekularisasi membawa pengaruh merugikan bagi Islam dan umatnya. Karena itu, keduanya harus dihilangkan. Baginya, pemikiran baru itu memang dapat menimbulkan dampak positif, seperti membebaskan umat dari kebodohan. Akan tetapi, istilah ini sama sekai tidak mempunyai akar dalam Islam dan hanya tumbuhan dan berlaku di Barat.

Sementara Dr Nurcholish Madjid dengan jelas membedakan antara makna sekularisme dan sekularisasi. Pembedaan antara keduanya dapat dianalogikan dengan pembedaan antara rasionalisasi dan rasionalisme. Ia menganjurkan setiap orang Islam bersikap rasional, tetapi bersamaan dengan itu melarang orang Islam menjadi rasionalis sebab rasionalis berarti mendukung rasionalisme, sedangkan yang disebutkan terakhir ini bertentangan dengan Islam. Rasionalisme mengingkari keberadaan wahyu sebagai media untuk mengetahui kebenaran. Dengan kata lain, rasionalisasi mempunyai arti terbuka karena merupakan suatu proses, sedangkan rasionalisme mempunyai arti tertutup karena merupakan suatu paham atau ideologi. Demikian pula halnya dengan sekularisme dan sekularisasi.

Menurutnya, sekularisasi adalah suatu proses penduniawian yang dalam pengertian ini peletakan peranan utama pada ilmu pengtahuan. Karena itu, sekularisasi adalah pengakuan wewenang ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam membina kehidupan duniawi, dan ilmu pengetahuan itu sendiri terus berproses dan berkembang menuju kesempurnaannya.

Umat Islam hendaknya memberikan perhatian yang wajar kepada aspek duniawi kehidupan ini. Meskipun demikian, sekularisasi bukanlah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme, yang merupakan suatu ideologi yang bersifat tertutup, melainkan justru dimaksudkan sebagai Islamisasi atau pentauhidan.

Batil

By Republika Newsroom
Rabu, 10 September 2008 pukul 14:42:00

Menurut bahasa kata batil atau batal berarti tidak terpakai, tidak berfaedah, rusak dan sia-sia. Secara istilah, batil berarti terlepas atau gugurnya suatu perbuatan dari ketentuan syarak serta tidak adanya pengaruh perbuatan tersebut dalam memenuhi tuntutan syariat. Dalam Alquran pemakaian kata batil sering dihadapkan dengan “yang benar” (al-haqq), seperti firman Allah SWT yang berbunyi: “Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang batil …” (QS. Al-Baqarah:42).

Ada 26 ayat yang memakai kata batil dengan berbagai kedudukan dan fungsinya dalam kalimat tersebut dan pemakaiannya terbagi dalam tiga hal. Pertama, yang menunjukkan bahwa perbuatan tersebut tidak sesuai dengan akidah yang dikehendaki Alquran (QS.

al-Baqarah: 42). Kedua, yang diartikan sebagai sesuatu yang sia-sia, seperti firman Allah SWT yang berbunyi: “…dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia…” (QS. Ali ‘Imran: 191). Pemakaian yang sama juga terdapat dalam QS. Sad: 27.

Ketiga, yang dihubungkan dengan amal perbuatan manusia yang dituntut oleh agama, seperti yang berbunyi: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil…” (QS. al-Baqarah:188). Dalam hal ini terlihat bahwa kata batil berhubungan dengan hukum perbuatan manusia.

Dalam buku Tarikh at-Tasyri’ (Sejarah Tasyrik) karya Khudari Bek, disebutkan bahwa kata batil atau batal dipakai untuk dua pengertian. Pertama, tidak adanya pengaruh amal perbuatan yang tampak bagi orang yang mengerjakannya di dalam kehidupan dunianya.

Contoh, jika dikatakan bahwa ibadah seseorang itu tidak sah atau batal, bukan berarti ibadah yang dikerjakannya tersebut menggugurkan kewajiban ibadahnya. Karena itu, dia harus mengulang kembali ibadahnya secara benar. Tidak sahnya ibadah yang ia kerjakan tersebut bisa terjadi karena ibadah yang dilakukannya itu tidak sesuai dengan tuntutan agama.

Seperti, meninggalkan salah satu syarat atau rukun ibadah tertentu yang telah ditentukan agama. Apabila syarat atau rukun yang ditinggalkan itu menyangkut hakikat ibadah itu sendiri, maka ibadahnya dikatakan batil atau tidak sah.

Tetapi, jika yang ditinggalkan itu menyangkut sifat yang berada di luar ibadah, seperti mengerjakan shalat dengan sejadah yang dicuri, maka ibadah shalatnya tetap sah. Menurut jumhur ulama (golongan terbanyak), shalat yang dikerjakan tersebut memenuhi rukun dan syarat yang dituntut agama. Namun, ulama lain menganggap shalat yang dikerjakan dengan sajadah hasil curian itu hukumnya tidak sah atau batil karena menyalahi tuntunan agama.

Kedua, tidak adanya pengaruh yang timbul dari perbuatan tersebut bagi diri orang yang mengerjakannya untuk kehidupan di akhirat. Artinya, dia tidak mendapat pahala di akhirat.

Menurut jumhur ulama tidak ada perbedaan antara batil dan fasid (rusak) bagi perbuatan mukalaf, baik yang menyangkut bidang ibadah maupun muamalah. Dengan kata lain, batil identik dengan fasid, dan sebaliknya.

Misa lnya, dalam bidang ibadah pengertian shalat itu batil sama dengan salat itu fasid atau perkawinan yang batil sama dengan perkawinan yang fasid (dalam arti tidak dapat memberikan kewenangan bagi suami untuk menggauli istrinya).

Demikian juga halnya dalam bidang muamalah. Jika jual beli itu dikatakan batil atau fasid, maka artinya perpindahan hak milik dari penjual kepada pembeli tidak sah. Bagi jumhur ulama, setiap perbuatan mukalaf, baik yang menyangkut ibadah, maupun muamalah, hanya mempunyai dua nilai, yaitu sah jika memenuhi rukun dan syaratnya, serta batil atau fasid jika tidak memenuhi rukun dan syarat (selama perbuatan itu tidak diulang kembali, maka kewajiban memenuhi pekerjaan tersebut dianggap belum terbayar). Dengan demikian tidak ada nilai lain antara sah dan batil.

Mahabah (Cinta)

By Republika Newsroom
Selasa, 09 September 2008 pukul 17:43:00

Akhlak Islam  mengajarkan cinta (mahabbah) sebagai norma dasar yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT, seperti, ditegaskan dalam Alquran surah Ali ‘Imran ayat 31. Karena dengan sifat cinta yang asasi (al-hubb al-kamil) maka manusia akan masuk dalam perasaan rindu yang mendalam, yang pusatnya tiada lain adalah ingin dekat dengan Allah SWT sebagai sumber rahmat.

Akhirnya, ketinggian derajat kecintaan seseorang kepada Allah SWT sebagai sumber rahmat. Akhirnya, ketinggian derajat kecintaan seseorang kepada Allah SWT di dunia ini akan menghasilkan keluhuran derajat kebahagiaannya di akhirat nanti. Dengan demikian, cinta adalah kondisi jiwa yang terus berusaha memburu kenikmatan dan kebahagiaan sejati atas dasar ketentuan akal dan agama.

Cinta dalam akhlak Islam bukanlah perasaan yang ditimbulkan oleh sikap mencari keuntungan yang berlebihan atau hedonistis. Karena itu, cinta yang harus ditumbuhkan harus bertolak pada komitmen cinta kepada Allah SWT. Untuk tujuan ini, akhlak Islam menawarkan prinsip cinta yang sempurna. Pertama, cinta hendaknya ditujukan kepada diri sendiri.

Demi eksistensi dan kebahagiaan diri, manusia akan mencintai harta, istri, dan sanak keluarga. Kedua, cinta hendaknya dilandasi dengan sikap dermawan sehingga memungkinkannya untuk membagi cinta dengan sesama. Ketiga, cinta hendaknya diberikan kepada orang yang mencintai dirinya tanpa pamrih. Keempat, cinta harus dialamatkan pada sesuatu yang memang indah, bukan imitasi keindahan. Dan kelima, cinta harus diwujudkan dalam hubungan, kedekatan, dan keakraban yang tulus.

Tajdid

By Republika Newsroom
Senin, 08 September 2008 pukul 15:00:00

Tajdid secara hariah berarti pembaruan, pelakunya disebut mujadid. Tajdid berarti pembaruan dalam hidup keagamaan, baik pemikiran ataupun gerakan, sebagai tanggapan atas tantangan-tantangan internal maupun eksternal yang menyangkut keyakinan dan urusan sosial umat.

Sejak permulaan sejarahnya, Islam telah mempunyai tradisi pembaruan. Orang-orang Islam segera memberikan jawaban terhadap apa yang dipandang menyimpang dari akidah. Hal ini disebabkan tajdid mendapat pembenaran dan pengesahan dari Alquran (QS 7:170 dan QS 11:117) dan Hadis Nabi Saw yang artinya: “Sesungguhnya Allah akan mengutus kepada umat ini (umat Islam) pada permulaan setiap abad orang yang akan memperbaharui (memperbaiki) urusan agamanya” (HR Abu Dawud).

Walaupun demikian, istilah ini baru terdengar nyaring stelah timbul pemikiran dan gerakan dalam Islam sebagai hasil dari kontak yang terjadi antara Islam yang dianggap mundur dan Barat yang dianggap maju.

Gerakan pembaruan dalam Islam memang terdapat di Periode Modern. Namun, sebelum masa itu keinginan untuk mengadakan perubahan juga telah timbul. Di Arab Saudi, keinginan itu dicetuskan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792), dikenal dengan nama Wahabi. Latar belakang munculnya adalah faktor internal, yaitu paham tauhid kaum awam waktu itu dirusak oleh kebiasaan-kebiasaan syirik dan bid’ah. Gerakan ini berhasil berkat bantuan kepala suku bernama Muhamamd bin Sa’ud (W. 1965) yang kemudian mendirikan kerajaan di bawah pimpinan keturunannya, dan Gerakan Wahabi dijadikan mazhab resmi kerajaan itu. Ibnu Abdul Wahhab juga berpendapat bahwa pintu ijtihad tetap terbuka boleh dilakukan dengan jalan kembali pada Alquran dan sunnah Nabi.

Gerakan Wahabi disusul oleh serentetan gerakan di Afrika. Gerakan yang bercorak sufistik itu akhirnya berhasil mendirikan negara-negara Islam. Di antara para pemimpinnya yang terkenal ialah Usman dan Fonjo (1754-1817) di Nigeria, Muhammad Ali bin as-Sanusi (1787-1859) di Libya, dan Muhammad Ahmad bin Abdullah (1843-1885) di Sudan yang gerakannya disebut Mahdiyyah.

Di India, pembaruan terutama dilakukan oleh Syekh Ahmad Sirhindi (1564-1624) dan Syah Waliullah (1702-1762). Mereka melihat bahwa akidah umat Islam India telah dirusak oleh sinkretisme. Karena itu, mereka mengeluarkan seruan untuk kembali pada Alquran dan sunah dalam segala lapangan kehidupan. Selanjutnya Syah Waliullah berpendapat bahwa untuk memperbaiki masyarakat Muslim India mesti diadakan perombakan terhadap kekuasaan Moghul. Sumbangan utamanya bagi pemikiran modernis adalah kritiknya terhadap taklid (meniru, ikut) dan dibukanya kembali pintu ijtihad. Gerakan-gerakan pramodern telah mewariskan bagi Islam modern suatu interpretasi ideologis terhadap Islam dan metode-metode gerakan serta organisasi. Kalau gerakan pramodern terutama dimotivasi oleh faktor internal, maka gerakan modern dimotivasi oleh faktor internal dan eksternal, baik oleh kelemahan internal, maupun oleh ancaman politis dan religiokultural kolonialisme.

Tanggapan para tokoh pembaruan di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terhadap dampak Barat bagi masyarakat Muslim terwujud dalam usaha sungguh-sungguh untuk menginterpretasi Islam dalam menghadapi perubahan kehidupan. Mereka menekankan sikap dinamis, luwes, dan dapat menyesuaikan diri, yang menjadi ciri kemajuan Islam di Zaman Klasik (650-1250), terutama kemajuan di bidang hukum, pendidikan dan sains. Mereka juga menekankan pembaruan internal melalui proses reinterpretasi (ijtihad) dan adaptasi secara selektif (Islamisasi) terhadap ide-ide dan teknologi Barat. Sebab, pembaruan dalam Islam merupakan suatu proses kritik diri ke dalam dan perjuangan untuk menetapkan Islam kembali guna menunjukkan relevansinya dengan situasi-situasi baru yang dihadapi oleh masyarakat Islam.

Gerakan-gerakan pembaruan Islam yang mucul, tema dan aktivitasnya diilustrasikan dalam beberapa figur utama. Misalnya, Jamaluddin al-Afgani (1838-1897) di Timur Tengah, dengan gerakan Pan Islamisme serta para pengikutnya seperti Muhammad Abduh (1849-1905) dengan gerakan Salafiyah dan Muhammad Rasjid Rida (1865-1935). Sayyid Ahmad Khan (1817-1898) dan Muhammad Iqbal di Asia Selatan. Di antara tokoh pembaruan generasi berikutnya adalah Hasan al-Banna (1906-1949) dari Mesir dengan gerakan Ikhwanul Muslimin dan Maulana Abu A’la al-Maududi (1903-1979) dari India dengan gerakan Jamiat al-Islam. Di Indonesia, gerakan pembaruan melahirkan organiasi pembaharu seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis), dan lain-lain.

Khianat

By Republika Newsroom
Minggu, 07 September 2008 pukul 17:32:00

Secara bahasa, khianat bermakna curang, culas, tidak jujur. Menurut istilah, khianat adalah sikap mental atau perilaku tidak jujur, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya. Ahli bahasa Ragib Al-Isfahani berpendapat, khianat punya pengertian yang hampir sama dengankata nifak (munafik). Bedanya, khianat punya konotasi curang terhadap janji dan amanat, sedang nifak berkonotasi pada ajaran agama secara umum.

Khianat terhadap diri sendiri adalah sikap mentaati atau perilaku tidak jujur terhadap diri sendiri dengan melanggar aturan agama yang telah ditenukan. Pengertian khianat terhadap orang lain adalah sikap mental atau atau perbuatan curang yang dilakukan terhadap orang atau kelompok lain. Akibatnya, seseorang bisa kehilangan kepercayaan. Khianat terhadap Allah, menurut Ibnu Abbas RA, ialah meninggalkan  apa yang disyariatkan oleh Allah dan rasulullah SAW.

Khianat tidak hanya dikutuk sebagai dosa dalam hukum agama, tetapi juga mengandung bahaya bagi masyarakat dan pribadi pendukung si pengkhianat. bahaya khianat di antaranya: (1) Menghancurkan sendi-sendi masyarakat, (2) menimbulkan permusuhan antara penghianat dan orang yang dikhianati. (3) menimbulkan sikap saling curiga. Akibatnya, hubungan antarindividu menjadi retak dan terjadi kekacauan di masyarakat.

Bahaya khianat dapat dilihat pada kasus Abdullah bin Ubayy. Menjelang Perang Uhud, dia melakukan pengkhianatan dengan keluar dari barisan Islam sambil menghasut yang lain agar keluar dan kembali ke Madinah. Pasukan Muslim kala itu berkurang sampai 300 orang, dan kemenangan perang yang sudah di depan mata akhirnya batal diraih. Sementara bagi pribadi pengkhianat, khianat menimbulkan hilangnya kepercayaan masyarakat, penderitaan batin dan hancurnya kehidupan ekonomi yang bersangkutan karena dia terisolir.n

Dosa

By Republika Newsroom
Sabtu, 06 September 2008 pukul 16:58:00

Dosa adalah lawan dari pahala. Dosa terjadi karena adanya pelanggaran terhadap ajaran agama. Kecuali Al-Maksum Rasulullah SAW, boleh dikatakan tak ada manusia yang luput dari perbuatan dosa, betapa pun kecilnya. Para ulama membagi dosa dalam dua jenis, dosa kecil dan dosa besar. Dosa kecil adalah dosa yang sering tidak disadari oleh pelakunya. Misalnya, menyinggung perasaan orang dan berlaku tidak sopan.

Dosa besar adalah dosa yang dengan tegas dilarang oleh ajaran agama. Misalnya membunuh secara tidak hak, lari dari medan jihad, durhaka kepada orang tua, makan harta anak yatim, berbuat aniaya, melakukan sihir, minum khamar, berjudi, berzina, dan menuduh orang berzina tanpa alasan. Di antara sekian banyak dosa, yang terbesar adalah dosa syirik alias menyekutukan Allah SWT. Dosa ini tidak terampunkan. Syirik banyak bentuknya. Mulai dari paling jelas menyembah selain Allah sampai yang teringan adalah riya. Yakni berbuat bukan karena Allah, melainkan karena manusia atau makhluk. Islam tidak mengenal dosa turunan atau penebusan dosa.

Setiap manusia berdosa karena perbuatannya sendiri. Dia tidak dibebani dosa yang dilakukan oleh orang lain, sekalipun itu anak atau orang tua kandungnya. Yang ada adalah pengampunan dosa kerana proses taubat. Yakni bersungguh-sungguh minta ampun kepada Allah dan berjanji tidak akan mengulangi segala perbuatan yang menyebabkan doa berdosa. Dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya, Allah berjanji akan mengampuni dosa setiap hambanya yang bertaubat.

Tetapi, untuk dosa-dosa yang terkait dengan perbuatan atau tindakan terhadap sesama manusia, Allah memberi syarat pengampunan itu diberikan hanya ketika yang di antara yang bersangkutan ada proses saling maaf-memaafkan.

Garizah

By Republika Newsroom
Jumat, 05 September 2008 pukul 16:54:00

Garizah dalam bahasa Indonesia sepadan dengan naluri atau insting. Garizah merupakan bagian dari fitrah yang dimiliki manusia. Garizah, kata ahli pendidikan Muzayyin Arifin, adalah kemampuan berbuat atau bertingkah laku tanpa melalui proses belajar dan merupakan pembawaan sejak lahir. Jamil Shaliba, ahli filsafat, mengartikan garizah sebagai kemampuan yang bersifat dasar yang diberikan kepada manusia agar timbul semangat pada dirinya untuk bekerja dan memelihara lingkungan hidupnya. Termasuk ke dalamnya adalah daya untuk mencegah segala sesuatu yang dapat merusak dan menagncam keselamatan jiwa seseorang. Daya ini berbeda-beda kualitasnya pada setiap orang.

Garizah atau garaiz (jamak) terbagi atas dua tingkatan. Pertama garizah awaliyyah atau naluri primer. Yakni kemampuan pokok yang bersifat dasar yang mendorong timbulnya semangat hidup sesuai pertumbuhan alam. Kedua garizah tsanawiyyah atau naluri sekunder. Yaitu kemampuan yang tumbuh karena melakukan pekerjaan yang dikehendaki yang selanjutnya berhubungan dengan perasaan.

Muzayyin Arifin membagi garizah dalam 12 macam. yaitu perasaan takut, menolak sesuatu yang kotor atau menjijikkan, ingin mengetahui sesuatu yang menakjubkan, membela diri jika diserang, merendahkan diri karena perasaan mengabdi, menonjolkan diri karena harga diri atau manja, kasih sayang, berkumpul, menutupi kekurangan, membangun sesuatu untuk kemajuan, menarik perhatian atau ingin diperhatikan orang. Sementara itu, Ahmad Amin, pakar etika dan penulis buku Al-Akhlaq, membagi garizah dalam tiga kelompok. Pertama naluri menjaga diri pribadi. Ini terdapat pada semua makhluk. Kedua, naluri menjaga jenis. Ketiga, naluri takut.n

Gasab

By Republika Newsroom
Kamis, 04 September 2008 pukul 16:51:00

Secara harfiah, gasab adalah mengambil sesuatu secara paksa dengan terang-terangan. Ini termasuk satu pelanggaran terhadap hak milik orang lain dan diharamkan oleh ajaran Islam. Secara istilah, ada beberapa variasi makna yang dirumuskan para ulama.

Mazhab Hanafi, misalnya, mendefinisikan gasab sebagai mengambil harta orang lain yang halal tanpa izin sehingga barang itu berpindah tangan dari pemiliknya ke pihak lain. Ulama mazhab Maliki merumuskan sebagai mengambil harta orang lain secara paksa dan sengaja, tetapi tidak dalam arti merampok. Sementara ulama mazhab Syafi’i dan Hambali memaknai gasab sebagai penguasaan terhadap harta orang lain secara sewenang-wenang atau secara paksa tanpa hak.

Dari batasan yang dikemukakan para ulama tampak jelas bahwa gasab tersebut tidak sama dengan pencurian. Pasalnya, pencurian dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui orang. Sedang gasab dilakukan secara terang-terangan dan sewenang-wenang. Gasab juga berbeda dengan perampokan. Biasanya, perampokan dilakukan dengan paksa dan ancaman bersenjata.

Perbuatan gasab termasuk haram berdasarkan firman Allah SWT dalam Alquran surat An Nisa ayat 29 dan Al Baqarah ayat 188. Kedua ayat melarang seseorang memakan atau memanfaatkan harta orang lain tanpa izin. Selain itu, Rasulullah SAW bersabda: ”Darah dan harta seseorang haram bagi orang lain.” (HR Bukhari Muslim); ”Harta seorang Muslim haram digunakan oleh Muslim lainnya tanpa kerelaan hati pemiliknya”(HR Daruqutni); dan ”Orang yang mengambil harta orang lain berkewajiban untuk mengembalikan kepada pemiliknya” (HR Bukhari Muslim dan Ahmad).

Terhadap pelaku gasab, Islam memberlakukan tiga macam hukuman. Pertama, dia berdosa jika ia mengetahui bahwa barang yang diambilnya milik orang lain. Kedua, jika barang tersebutmasih utuh wajib dikembalikan. Ketiga, jika barang telah hilang/rusak karena dimanfaatkan, dia dikenakan denda.

Berapa besarnya denda? Dalam hal ini ada beberapa pendapat ualama.Ulama mazhab hanafi dan Maliki berpendapat denda dikenakan sesuai dengan jenis barang yang diambil. Bila tidak ada yang sama, dikenakan denda sesuai harga tertinggi. Menurut ulama mzhab Syafi’i, denda dikenakan sesuai harga tertinggi pada periode sejak pengambilan sampai penentuan denda. sementara ulama mzhab Hambali berpendapat denda sesuai harga patokan ketika benda itu tidak ada lagi di pasaran.n

MUBAHALAH

By Republika Newsroom
Rabu, 03 September 2008 pukul 16:43:00

Secara istilah, mubahalah adalah salah satu cara yang dilakukan dua kelompok berbeda pendapat untuk mempertahankan keyakinannya tentang satu masalah yang tidak memungkinkan adanya saksi, seperti peristiwa masa silam, atau kalaupun saksi dikemukakan, pihak yang bertentangan pendapat tak akan menerima karena tak sepaham.

Bentuk yang mirip dengan mubahalah adalah lian yakni apabila seorang suami menyaksikan atau menduga kuat bahwa istrinya telah berselingkuh dengan orang lain tapi ia tak dapat mengajukan empat saksi. Antara suami dan istri itu dilakukan lian. Dasar hukum mubahalah adalah firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 61.

Dari ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa untuk melakukan mubahalah adalah perang tanding melalui doa dengan membawa anak dan keluarga masing-masing dengan tujuan memohon pertolongan Allah SWT agar orang yang berdusta dikutuk Tuhan dalam kehidupannya termasuk keluarganya di dunia dan akhirat. Dalam salah satu hadis diceritakan Nabi Muhammad SAW didatangi Aqib dan Sayyid, dua orang pemuka agama Nasrani Najran. Karena kaum Majusi itu tak juga menerima argumen yang disampaikan Nabi, Allah menurunkan ayat mubahalah.

Dalam kasus ini, Nabi membawa Ali, Fatimah, Hasan dan Husein sebagai keluarganya. Kaum Nasrani Najran meminta waktu beberapa hari. Setelah tiba masa yang ditentukan, Abul Masih, pemuka masyarakat Najran mengingatkan saudaranya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah benar seorang rasul. ”Jika kalian melakukan mubahalah melawannya, maka tamatlah kaummu.”

Lantaran nasihat tersebut, kaum Najran tak jadi menantang mubahalah. Ayat ini dijadikan dasar bagi pengikut syiah yang menyatakan Rasul sangat mencintai keluarganya sehingga bersedia membawa mereka ke mubahalah. Dan keluarga yang sangat dicintai itu adalah Ali, Fatimah, Hasan dan Husein yang karenanya mendapat posisi istimewa melebihi sahabat lain. Alasan ini ditentang kaum Sunni karena meski mengakui banyak hadis tentang keistimewaan Ali, kedudukan sepupu Nabi Muhammad itu sama dengan sahabat lain. ensiklopedi hukum islam indonesia

Akhlak

By Republika Newsroom
Rabu, 03 September 2008 pukul 13:55:00

Yaitu suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang daripadanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melalui melalui proses pemikiran, pertimbangan, atau penelitian. Jika keadaan tersebut melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji menurut pandangan akal dan syara, maka disebut akhlak yang baik. Sebaliknya, jika yang timbul adalah perbuatan yang tidak baik, maka disebut akhlak yang buruk.

Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata al-khuluq, atau al-khulq, yang secara etimologis berarti (1) tabiat, budi pekerti, (2) kebiasaan atau adat, (3) keperwiraan, kesatriaan, kejantanan, (4) agama, dan (5) kemarahan (al-gadab).

Karena akhlak merupakan suatu keadaan yang melekat di dalam jiwa, maka suatu perbuatan baru disebut akhlak kalau memenuhi beberapa syarat. (1) Perbuatan itu dilakukan secara berulang-ulang. Bila dilakukan sesekali saja, maka tidak dapat disebut akhlak. (2) Perbuatan itu timbul dengan mudah tanpa dipikirkan atau diteliti lebih dulu sehingga benar-benar telah menjadi suatu kebiasaan.

Akhlak menempati posisi yang sangat penting dalam Islam, sehingga setiap aspek dari ajaran agama ini selalu berorientasi pada pembentukan dan pembinaan akhlak yang mulia, yang disebut akhlaqul karimah. Hal ini antara lain tercantum dalam hadis Rasulullah SAW, “Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR Ahmad, Baihaki, dan Malik). Pada riwayat lain Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang paling sempurna akhlaknya adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR Tirmizi).

Akhlak Nabi SAW disebut dengan akhlak Islam, karena bersumber dari Alquran dan Alquran datang dari Allah SWT. Karenanya, akhlak Islam berbeda dengan akhlak ciptaan manusia (wad’iyah). Ciri-ciri akhlak Islam adalah, (1)kebaikannya bersifat mutlak (al-khairiyyah al-mutlaqah), (2) menyeluruh (as-salahiyyah al-‘ammah), yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya merupakan kebaikan untuk seluruh umat manusia di segala zaman dan semua tempat, (3) tetap, langgeng, dan mantap, (4) merupakan kewajiban yang harus dipatuhi (al-ilzam al-mustajab) yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak Islam merupakan hukum yang harus dilaksanakan sehingga ada sanksi hukum tertentu bagi orang yang tidak melaksanakannya, dan (5) pengawasan yang menyeluruh (ar-raqabah al-muhitah).

Karena akhlak Alquran bersumber dari Tuhan, maka pengaruhnya lebih kuat dari akhlak ciptaan manusia. Seseorang tidak akan berani melanggarnya, dan harus bertobat bagi yang melakukannya. Inilah mengapa disebut agama merupakan pengawas yang kuat. Pengawas lainnya adalah hati nurani yang hidup didasarkan pada agama dan akal sehat yang dibimbing oleh agama. N dari ensiklopedi islam terbitan ihktiar baru van hoeve

Khamar

By Republika Newsroom
Selasa, 02 September 2008 pukul 13:46:00

Khamar berasal dari bahasa Arab artinya menutupi. Jenis minuman yang memabukkan (menutupi kesehatan akal). Sebagian ulama seperti Imam Hanafi memberikan pengertian  khamar  sebagai nama (sebutan) untuk jenis minuman yang dibuat dari perasan anggur sesudah dimasak sampai mendidih serta mengeluarkan buih dan kemudian menjadi bersih kembali. Sari dari buih itulah yang mengandung unsur yang memabukkan. Ada pula yang memberi pengertian khamar dengan lebih menonjolkan unsur yang memabukkannya. Artinya, segala jenis minuman yang memabukkan disebut khamar .

Islam memandang  khamar  sebagai salah satu faktor utama timbulnya gejala kejahatan, seperti menghalangi seseorang untuk berzikir kepada Allah SWT, menghalangi seseorang melakukan shalat yang merupakan tiang agama, menghalangi hati dari sinar hikmah dan merupakan perbuatan setan. Oleh karena itu,  khamar  baik secara esensi maupun penggunaannya, diharamkan secara  qath’i  (yakin) dalam Alquran maupun sunah Nabi SAW. Tetapi karena pada awal Islam khamar telah menjadi kebiasaan atau bagian hidup masyarakat Arab, maka pelarangannya dilakukan secara bertahap.

Perama, Umar bin Khattab, Mu’adz bin Jabal dan sekelompok sahabat bertanya kepada Nabi SAW tentang khamar. Kemudian turunlah wahyu yang dinyatakan dalam Alquran pada surat Al-Baqarah ayat 219 yang artinya, ”Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya…” Pada ayat ini belum ada larangan karena kandungan ayat tersebut hanya berupa informasi yang menyebutkan dosa  khamar  lebih besar dari pada manfaatnya.

Kedua, tertera dalam surat al Maidah ayat 90 yang artinya, ”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum)  khamar , berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” Dalam ayat ini, manusia dituntut untuk meninggalkan minum  khamar , karena hal ini termasuk perbuatan keji atau perbuatan setan.

Ketiga, ketika ada seorang mabuk akibat meminum  khamar  yang mengerjakan shalat dan membaca surat Al Kafirun secara berulang-ulang tetapi tidak benar, maka turun wahyu yang tercantum dalam surat An-Nisa ayat 43 yang artinya, ”Hai orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…”

Khamar  yang memabukkan itu disebut induk kejahatan karena orang yang mabuk akan hilang kendali kesadarannya. Oleh karena itu, meminum  khamar  termasuk salah satu dosa besar. Hal ini disebutkan dalam hadis riwayat Tabrani dari Abullah bin Umar yang artinya, ” Khamar  adalah ibu kejahatan dan terbesar dosa-dosa besar dan barangsiapa meminum  khamar , maka akan meninggalkan salat dan terjatuh (menggauli) ibu dan bibinya.” Nabi SAW juga menggambarkan orang yang meminum  khamar  ibarat orang yang menyembah berhala, artinya telah hilang Islamnya. (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Karena besar dosa akibat minum  khamar , maka yang mendapat laknat atau hukuman bukan saja orang yang meminum khamar, tapi juga pihak yang terlibat dengan khamar, seperti orang yang menghidangkan, menjual, memasok, membuat, mengusahakan dan yang menikmati hasil penjualan khamar.

Adapun hikmah mengapa diharamkan minum khamar, antara lain untuk menjaga kebutuhan primer yang bersifat  daruri  yaitu, agama, akal, harta, kehormatan dan keluarga. Karena jika seseorang telah kecanduan minum khamar, maka kelima hal di atas berantakan. n dam/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta

Hisab

By Republika Newsroom
Senin, 01 September 2008 pukul 13:36:00

Hisab berasal dari bahasa Arab artinya perhitungan. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam, hisab adalah salah satu cabang ilmu pasti yang mempelajari angka dalam bentuk penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan perakaran. Hisab dalam istilah Yunani disebut aritmatika. Lafal hisab tercantum dalam Alquran yang mengandung arti perhitungan (QS 14: 41), tanggung jawab (QS 6: 52), batas (QS 39: 10) dan salah satu nama hari kiamat (QS 40: 27).

Hisab dalam konotasi ilmu aritmatika masuk ke Tanah Arab pada abad pertengahan sedangkan dari India, hisab masuk ke wilayah tersebut sekitar tahun 700.

Muhammad bin Musa al-Khawarizmi secara mendasar mengembangkan hisab dalam bentuk angka-angka seperti terdapat dalam hisab India. Ia dengan tekun mengumpulkan dan menyusun daftar astronomi yang tertua, yang kemudian hari termasyhur dengan nama daftar algoritmus atau daftar logaritma. Ia pun dengan sungguh-sungguh telah mengembangkan aljabar dalam beberapa karya tulisnya. Karyanya yang terakhir adalah Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah (Perhitungan Integral dan Persamaan), yang ditulis dalam bahasa Arab dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Gerard dari Cremona (Italia) dalam abad ke-12. Buku inilah yang memperkenalkan aljabar ke dunia Barat, yang mereka sebut algebra.

Di samping itu, al-Khawarizmi juga memperkenalkan angka Arab ke dunia Barat, sehingga bangsa Barat mengenal aritmatika dalam bentuk angka. Di antara ahli aritmatika Barat yang banyak mendapat pengaruh dari al-Khawarizmi adalah Leonardo Fibonacci (wafat 1245) dan Jacob. Sedangkan di dunia Islam usaha al-Khawarizmi ini dikembangkan oleh Umar Kayam, ahli matematika dan penyair Persia (Iran).

Selain al-Khawarizmi, ahli hisab Arab yang banyak berkiprah mengembangkan hisab dalam bentuk angka adalah Ali bin Ahmad an-Nawawi (980-1040). Karya tulisnya yang termasyhur ialah al-Muqni’ fi Hisab al-Hindi (Kecermatan dalam Ilmu Hisab Arab) yang membahas pembagian dan pehitungan luas bujur sangkar serta isi kubus dengan mempergunakan sistem angka yang berasal dari hisab India. Teori hisab ini kemudian diterapkan oleh para ahli astronomi (ilmu falak) dalam penghitungan astronomis. Daftar logaritma yang semula dikumpulkan dan disusun oleh al-Khawarizmi ternyata sangat menentukan dalam perkiraan astronomis.

Para ulama juga menaruh perhatin pada teori hisab. Mereka menerapkan hisab dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadlan dan waktu shalat. Di antara ulama yang tertarik untuk menentukan awal atau akhir bulan Ramadlan dengan hisab itu adalah Ibnu Bana, Ibnu Suraih, al-Qaffal, Kadi Abu Taib, Mutraf, Ibnu Qutaibah, Ibnu Muqatil al-Razi, Ibnu Daqiq al-Id, dan as-Subki. Sementara itu, ulama abad ke-20 yang cenderung mempergunakan hisab dalam menentukan awal dan akhir Ramadlan ialah Muhammad Rasyid Rida dan Tantawi Jauhari.

Menurut Ibnu Bana, Ibnu Suraih dan al-Qaffal, hisab boleh digunakan dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadlan jika pada akhir bulan Sya’ban atau bulan Ramadlan bulan tidak dapat dilihat dengan mata karena tertutup oleh awan. Sedangkan as-Subki berpendapat hisab digunakan hanya untuk menentukan awal bulan Ramadlan ketika bulan tidak kelihatan, tetapi tidak boleh dipergunakan untuk menentukan akhir bulan Ramadlan. Adapun Ibnu al-Daqiq al-Id mewajibkan puasa dengan hasil hisab. Menurutnya, jika bulan tertutup awan, wajiblah bagi ahli hisab menentukan awal atau akhir puasa Ramadlan dengan hisab. Puasa yang dilakukan atas dasar hisab adalah sah. Pendapat ini disetujui oleh Muhammad Rasyid Rida dan Tantawi Jauhari. n dam/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta.

About these ads

1 Response to “Ensiklopedia Islam (1)”


  1. 1 dina
    June 14, 2010 at 6:48 pm

    trims kami ucapkan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,249,867 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: