19
Sep
09

Dialog Jumat : Silaturahim Tatap Muka Lebih Utama

REPUBLIKA, Jumat, 18 September 2009 pukul 01:59:00

Silaturahim

LAPORAN UTAMA

Dengan saling memaafkan, diharapkan seusai Ramadhan umat terbebas dari aneka dosa.

Di Indonesia, Hari Raya Idul Fitri yang biasa disebut Lebaran, senantiasa diisi dengan saling mengunjungi (silaturahim) dan memaafkan (halal bi halal). Bahkan, beberapa hari menjelang lebaran, sebagian kaum Muslimin rela berkendara jauh kembali ke kampung halamannya untuk tujuan tadi.

Silaturahim dan halal bi halal sudah menjadi realitas sosial budaya dan keagamaan saat tiba hari raya. Meski sebenarnya agama Islam mengajarkan agar setiap saat umat mengerjakan amalan itu, namun keduanya justru dirasakan semakin tinggi nilainya pada hari Lebaran.

Ketua MUI Pusat, KH Ma’ruf Amin menjelaskan, pada Idul Fitri terdapat dua keberkahan yang dilimpahkan Allah SWT kepada umat, yakni dibukanya pintu maaf seluas-luasnya oleh Allah dan diampuninya segala dosa-dosa.

Dalam konteks pengampunan dosa ini, terangkum dua hal sekaligus yakni yang terkait  hablum min Allah dan hablum min annas. Nah, pada hubungan secara vertikal dengan Allah, umat menggapainya dengan doa yang dibacakan selama Ramadhan.

Allahumma innaka afuwwun karim tuhibbul ‘afwa fa’fu’anna ya karim, yang artinya, ”Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah Pemaaf Yang Mulia, dan Engkau menyukai permintaaan maaf, maka maafkanlah (dosa-dosa) kami, Yang Maha Mulia.”

Sementara untuk yang horizontal (sesama manusia), sarananya adalah forum silaturahim dan saling memaafkan tadi. ”Sehingga usai Ramadhan, kita terbebas dari aneka dosa,” ujar Kiai Ma’ruf.

Biasanya, silaturrahim ini diimplementasikan dalam bentuk, pertama, berkunjung ke rumah tetangga sekitar. Kedua, berkumpulnya sejumlah orang untuk acara halal bi halal, dan ketiga, mudik untuk bertemu dan silaturahim dengan orangtua dan sanak keluarga.

”Ketiga hal itu sangat afdhal dilakukan saat Idul Fitri, agar manusia kembali kepada fitrah atau kesucian,” kata Kiai Ma’ruf.

Adapun dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk pulang ke kampung halaman, sambung Kiai Ma’ruf, silaturahim masih dapat dilakukan dengan teknologi komunikasi yang berkembang saat ini. ”Menelepon dan mengirim pesan pendek (SMS) dibolehkan. Sebab, yang terpenting adalah esensinya, yaitu saling memaafkan,”jelasnya.

Akan tetapi, meski teknologi informasi mampu menjadi jembatan silaturahim, namun tidaklah lengkap jika silaturahim hanya menggunakan alat komunikasi tersebut.

Sekjen Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Dr M Idris Abdul Shomad berpendapat, silaturahim dengan tatap muka tetap lebih afdhal. ”Sebab, tidak semua kabar yang kita ketahui melalui teknologi informasi itu adalah jelas adanya,” ujarnya.

Lebih utama
Menurutnya, lebaran adalah momentum umat Islam untuk meningkatkan tali silaturahim di antara sanak keluarga dan kerabat. Seperti halnya meningkatkan membaca Alquran saat bulan Ramadhan, begitu juga Idul Fitri dianjurkan untuk mempererat silaturahim.

”Kewajiban kita adalah meminta maaf kepada sesama manusia,” ujar Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Sebaliknya, jika orang yang taat beribadah tidak meminta maaf dengan kezaliman yang telah diperbuatnya, maka pahala ibadahnya akan terkikis dengan kezalimannya. ”Jadi, meminta maaf itu lebih utama,” kata Idris.

Pernyataan itu dikuatkan oleh Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama, KH Nuril Huda yang mengatakan, bahwa meminta maaf merupakan sarana untuk menghapus dosa yang diperbuatnya kepada orang yang bersangkutan.

”Lain halnya jika berdosa kepada Allah, umat dapat melakukan istighfar dan bertaubat serta berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya,” tegasnya.

Karena itulah, Kiai Nuril memandang, tradisi lebaran dengan silaturahim adalah hal yang baik. ”Itu adalah hal yang mulia,” paparnya kepada Republika.

Hanya saja dia mengingatkan, bahwa bersilaturahim dan saling memaafkan sebenarnya tidak mesti dilakukan di waktu Lebaran saja. ”Jika kita punya salah, sebaiknya secepat mungkin kita meminta maaf atas dosa yang telah diperbuat,” demikian Kiai Nuril. c81

REPUBLIKA, Jumat, 18 September 2009 pukul 01:49:00

Zakat dan Sedekah

ZAKAT DAN SEDEKAH SARANA PENSUCIAN DIRI

DIRASAH

Kedermawanan adalah bagian dari ketakwaan seseorang.

Umat Islam menanti kedatangan Idul Fitri. Sebab, di hari yang fitrah itu, manusia bagaikan lahir kembali kepada kesucian. Selain itu, kedatangan Idul Fitri dinanti karena di hari raya tersebut terdapat semua kebaikan.

Namun sebelum sampai kepada kemuliaan fitri, umat diperintahkan menunaikan satu amalan yang sangat penting, yakni zakat fitrah. Ini zakat kepala, artinya wajib ditunaikan oleh masing-masing umat sebelum fajar 1 Syawal.

Sekali lagi, papar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof DR Hj Khuzaimah T Yanggo, inti dari perintah zakat fitrah adalah agar umat meningkatkan kepedulian, terutama kepada kaum dhuafa.

Dikatakan, zakat fitrah adalah sebagai pembersihan dosa orang-orang yang berpuasa karena berbuat sia-sia. Bahkan, zakat fitrah juga merupakan penentu diterimanya atau ditangguhkannya pahala puasa seseorang.

Hal ini mengingat karena hikmah dari puasa adalah agar tumbuh rasa solidaritas. ”Puasa mengajarkan pada kita rasa lapar dan dahaga yan diderita oleh para dhuafa,” ungkap guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Karena itu, dia berharap jika seluruh umat Islam sudah memenuhi anjuran dengan membayar zakat dan sedekah kepada fakir miskin, niscaya para dhuafa di Indonesia akan terkikis.

”Memang, kemiskinan tidak akan habis sama sekali, namun kita berusaha untuk mengentaskannya sedikit demi sedikit,” kata Khuzaimah menandaskan.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Masykuri Abdillah, juga menekankan bahwa hikmah puasa bagi yang menjalankannya adalah agar dia merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang tidak mampu.

”Puasa mengajarkan kita peduli terhadap sesama manusia yang berada di sekitar kita,” kata Masykuri Abdillah kepada Republika.

Kepedulian terhadap sesama adalah dengan berderma memberikan sebagian hartanya. Namun berderma tidak harus menjadi orang yang mampu terlebih dahulu. Sebab di saat sempit dan lapang pun, umat dianjurkan untuk berderma.

Selain itu, menurut Masykuri, kedermawanan merupakan bagian dari ketakwaan seseorang. Tidak bisa dikatakan takwa seseorang sebelum orang itu menafkahkan sebagian hartanya yang diberikan Allah SWT kepadanya.

Pembersih harta
Perintah untuk berderma sesungguhnya bukan hanya untuk orang kaya, namun juga untuk orang yang tidak mampu, dengan kadarnya masing-masing. Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu menambahkan, ini berbeda dengan zakat fitrah yang adalah kewajiban bagi umat Islam yang mampu untuk disalurkan kepada para dhuafa.

Sementara sedekah atau infak dianjurkan untuk seluruh umat Islam. ”Bagi yang tidak mampu, Rp. 1000 atau 10 ribu tidak masalah, yang penting niatnya ikhlas,” ungkapnya.

Adapun dari pendapat Ustadz Asep Saefullah MA, salah seorang ustadz Majelis Zikir Az-Zikraa pimpinan Ustadz Muhammad Arifin Ilham, ciri orang yang beriman adalah bersaudara, karena itu di akhir Ramadhan, dianjurkan membayar zakat fitrah untuk mensucikan diri.

Dengan zakat, diharapkan orang-orang yang miskin bisa ikut merayakan hari raya dengan senang. ”Apalagi saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, bencana alam. Artinya hikmahnya cukup besar.”

Zakat, dalam pandangannya, bermuatan dua dimensi. Pertama, sebagai bukti hamba Allah yang beriman. Kedua, sebagai tanda syukur atas nikmat Allah dan selesainya melaksanakan ibadah puasa.

Sementara dai asal Papua, Ustadz Fadzlan Gharamatan menyebutkan, zakat, infak, shadaqah adalah sarana pembersih harta dari segala macam keharaman. Maka itu, zakat harus ditunaian setiap umat dalam rangka ibadah dan mengamalkan rukun iman dan rukun Islam. c81/dam

REPUBLIKA, Jumat, 18 September 2009 pukul 01:44:00

Manusia Fitri

Prof DR Din Syamsuddin : Ramadhan Lahirkan Manusia Fitri

WAWANCARA

Bulan suci Ramadhan yang telah dijalani umat Muslim setidaknya memberikan keberkahan tak terhingga. Ramadhan, pada hakekatnya merupakan sarana pelatihan, baik itu tazkiyatun nafs, penyucian diri maupun taqwiyatun nafs, penguatan diri.

Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin, mereka yang berhasil melalui pelatihan itu, akan menjadi manusia-manusia fitrah pada Hari Raya Iedul Fitri nanti.

”Fitrah berarti suci, selain juga bermakna kekuatan. Maka, orang yang Idul Fitri, berarti orang yang terlahir dengan kekuatan baru,” papar Din Syamsuddin kepada Damanhuri Zuhri dari Republika Rabu (16/9).

Dijelaskan, selama bulan suci Ramadhan umat telah berhasil melatih diri, menempa diri dengan hablum minallah (berhubungan dengan Allah), taqarrub ilallah. Berikut ini wawancara lengkapnya dengan Prof Dr Din Syamsuddin:

Umat akan kembali ke fitrahnya di hari raya nanti. Apa sebenarnya makna istilah tersebut?
Kata fitrah paling tidak mengandung dua arti. Pertama, kesucian karena ada hadis yang menyatakan kullu mauludin yuuladu ‘alal fitrah dan sering diartikan sebagai setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan suci, fitrah, kesucian. Dan itu tidak salah karena memang diharapkan pada Idul Fitri itu orang beriman yang telah menunaikan pelatihan Ramadhan ‘terlahir’ lagi dalam keadaan suci bersih, terjauh dari dosa karena telah berhasil juga mengikis dan melebur dosanya dengan peribadatan selama Ramadhan.
Fitrah juga mengandung arti kekuatan. Allahu fathirusamawati wal ardi, Allah yang telah menciptakan tetapi sekaligus memberikan kekuatan pada alam semesta. Maka kata fitrah itu adalah kekuatan. Di sini maknanya yakni orang yang Idul Fitri adalah mereka yang terlahir dengan kekuatan-kekuatan baru. Karena selama bulan suci Ramadhan telah berhasil melatih diri, menempa diri dengan hablum minallah (berhubungan dengan Allah), taqarrub ilallah.

Silaturahim dapat menjadi sarana untuk mencapai tujuan itu?
Memang sangat mungkin kita mencapai kesucian kedua makna ini karena ibadah di bulan Ramadhan pada hakekatnya adalah pelatihan terbaik, baik itu tazkiyatun nafs, penyucian diri maupun taqwiyatun nafs, penguatan diri. Jadi, tak sekadar self purification tapi juga self revitalization, purifikasi dan revitalisasi.
Ada satu ungkapan yang dianjurkan untuk disampaikan dalam kaitan dengan Idul Fitri selain taqabalallahu minna waminkum, semoga Allah menerima semua amal ibadah kita dalam bulan suci Ramadhan. Ungkapan itu yakni minal ‘aidin wal faidzin, yang mengandung arti semoga kita menjadi orang-orang yang bergembira dan kembali serta memperoleh kebahagiaan. Kembali dalam pengertian ini adalah kembali ke fitrah tadi.

Apa hikmah Ramadhan bagi kita sebagai bangsa?
Bagi bangsa Indonesia, kedua makna Idul Fitri dan dua agenda Ramadhan tadi hendaknya menjadi fitrah sebagai kesucian dan fitrah sebagai kekuatan maupun agenda tazkiyatun nafs dan taqwiyatun nafs yang sangat relevan. Dalam kondiri bangsa yang dalam proses penguatan diri terutama menghadapi berbagai krisis, baik krisis ekonomi dan krisis moral, maka bangsa Indonesia membutuhkan hati-hati yang suci.
Kalau bangsa ini masih diselimuti oleh hal sebaliknya, itulah yang akan mendorong konflik, mendorong berbagai macam kemunkaran termasuk juga mendorong datang ujian dan cobaan berupa bencana demi bencana. Maka perlu ujian jiwa kita sebagai bangsa.
Selama ini sudah terlalu sering Indonesia Berzikir, Indonesia Menangis, Indonesia Berdoa, namun perlu ditambah lagi dalam bentuk penyucian diri, penyucian jiwa karena mayoritas bangsa ini adalah umat Islam. Tapi, selain itu perlu pula penguatan karakter bangsa atau taqwiyatun nafs yang bermuara kepada penguatan karakter bangsa. Karena dengan karakter yang kuat, maka bangsa ini akan mampu bangkit dari keterpurukan.

Bagaimana idealnya mewujudkan kesucian jiwa secara bangsa?
Tentu saja ini perlu dilakukan oleh semua pihak, semua lapisan, baik rakyat maupun pemimpin. Perlu diawali dengan keteladanan dari meraka yang diberi amanat sebagai pemimpin formal maupun informal. Termasuk oleh penyelenggara negara untuk bersungguh-sungguh menyisihkan hasil karena tantangan yang kita hadapi sangatlah berat dan besar.
Pada bulan Ramadhan yang masih terkait dengan proses demokrasi yang kita jalani, alhamdulillah kita sudah menyelesaikan tahapan pemilu legislatif serta pemilu presiden. Maka muara dari tazkiyatun nafs dan taqwiyatun nafs yakni tumbuhnya kebersamaan. Kemarin selama pemilu umat Islam atau bangsa terkotak-kotak dalam kelompok kepentingan yang berbeda. Inilah saatnya untuk kita melakukan rekonsiliasi.

Jumat, 18 September 2009 pukul 01:37:00

Zakat Fitrah

ZAKAT FITRAH, ANTARA BAHAN MAKANAN DAN UANG

FATWA

Kondisi masyarakat dan kaum dhuafa telah banyak berubah.

Membayarkan zakat fitrah dengan uang masih menjadi perdebatan di kalangan ulama Arab Saudi. Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi Syekh Abdul Aziz bin Abdullah As-Shekh menyatakan, zakat fitrah harus berupa makanan pokok daerah setempat.

Menurutnya, zakat fitrah tidak boleh dibayarkan dalam bentuk uang tunai karena ini bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW. ”Zakat fitrah itu hanya berupa makanan yang merupakan kebutuhan nyata bagi fakir miskin,” katanya di harian Al-Madinah seperti dikutip dari situs NU Online, Rabu (9/9).

Sebaliknya, ulama lain, Syekh Qais Al-Mubarak, yang juga anggota Komisi Fatwa Arab Saudi, membolehkan zakat dengan uang tunai. Menurutnya, saat ini telah terjadi perubahan kebutuhan.

Zakat fitrah dengan uang dibenarkan oleh Imam Abu Hanafi dengan pertimbangan bahwa kondisi masyarakat serta kebutuhan masyarakat miskin telah berubah banyak.

Ditambahkan, menurut aturan Imam Hanafi, zakat fitrah itu senilai 25 Riyal atau setara dengan Rp 75.000 yang disetarakan dengan nilai 3,6 kilogram beras atau makanan lainnya.

Saat ini, pembayaran uang tunai untuk zakat fitrah merupakan praktek yang lazim dilakukan, pun di Indonesia. Petugas amil zakat biasanya membebaskan umat dalam memilih apakah ingin berzakat dengan bahan makanan atau uang.

Akan tetapi, nyatanya masih ada beda pandangan di kalangan ulama terkait pembayaran dengan uang ini, seperti contoh di atas. Masalahnya terletak pada tidak adanya tuntunan Nabi SAW yang secara khusus menjelaskan tentang aturan membayar dengan uang.

Hadis yang selama ini diketahui tentang zakat fitrah, hanya menetapkan makanan tertentu, yakni kurma kering, sya’ir, kurma basah dan susu kering yang tidak dibuang buihnya. Sebagian riwayat juga menetapkan gandum dan sebagian biji-bijian.

Para ulama lantas bersepakat, jenis makanan yang dimaksud dalam hadis itu sebenarnya mencakup aspek lebih luas lagi, yakni berupa makanan pokok yang ada di suatu wilayah atau negara.

”Tujuan dari zakat fitrah adalah memenuhi kebutuhan orang-orang miskin pada hari raya Idul Fitri dan untuk menghibur mereka dengan sesuatu yang menjadi makanan pokok penduduk negeri tersebut,” urai Saleh al Fauzan dalam buku Fikih Sehari-hari.

Lantas bagaimana hukumnya membayar zakat fitrah dengan uang tunai sebagai pengganti bahan makanan pokok? Para ulama yang berkeberatan telah menegaskan alasannya bahwa hal itu tidak memiliki dasar aturan sesuai tuntunan Nabi.

Hanya saja, menurut Ibn Munzir, kebolehan mengeluarkan harga ini sebenarnya sudah ditunjukkan sejak dahulu. Ketika itu, para sahabat membolehkan mengeluarkan setengah sha‘ gandum karena dianggap memiliki nilai sama dengan satu sha‘ kurma.

Menanggapi hal tersebut, cendekiawan Muslim kontemporer, Syech Yusuf al Qardhawi mengatakan, pemberian dengan harga ini sebenarnya lebih mudah di zaman sekarang, terutama di lingkungan negara industri. ”Di mana orang-orang tidaklah bermuamalah kecuali dengan uang,” tegasnya.

Lebih jauh, Syech al Qardhawi berpandangan, terkait dua cara pembayaran ini, apakah dengan bahan makanan atau uang, sebaiknya dilihat dari tingkat keutamaannya. Dalam artian, mana yang lebih bermanfaat bagi para fakir miskin.

Bila makanan lebih bermanfaat bagi mereka, maka menyerahkan zakat berupa makanan jauh lebih penting. Namun jika dengan uang dianggap lebih banyak manfaatnya, berzakat dengan uang menjadi lebih utama.

Dalam keputusannya, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah juga membolehkan menunaikan zakat fitrah dengan uang. Disebutkan bahwa kadar zakat fitrah yang harus dikeluarkan yakni minimal satu sha’ (2,5 kg) dari bahan makanan pokok, atau uang seharga makanan tersebut. yus/berbagai sumber

REPUBLIKA, Jumat, 18 September 2009 pukul 01:32:00

Lebaran Milik Siapa

ISLAM DI IBU KOTA

Rakhmad Zailani Kiki
Staf Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC

Akhirnya, pertahanan moral ustadz muda itu runtuh juga. Ia yang menjalani hidup wara’ (pantang menyerah), qana’ah (menerima apa adanya) dan muru’ah (selalu menjaga kehormatan), untuk lebaran kali ini, harus menyingkirkan sementara tiga sifat tadi yang selama ini menjadi bagian dari identitas dirinya.

Ia terpaksa menghinakan diri menjadi as-Sail (peminta-minta) kepada sejawatnya dan orang-orang yang selama ini dekat dengannya walau dengan kalimat ‘minjam’, tapi ia sangat berharap diberikan sebagai sedekah bukan sebagai pinjaman.

Honor ceramah selama bulan Ramadhan dan bisnis herbalnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan untuk pulang kampung dan selama lebaran di kampungnya, di Kuningan, Jawa Barat bersama keluarga besarnya, serta untuk menyiasati lonjakan harga yang terjadi setiap lebaran.

Kisah ustadz ini adalah kisah nyata, yang penulis sendiri menjadi salah satu sejawatnya. Ustadz ini adalah anggota kelompok masyarakat, yang dijamin dengan profesi dan statusnya, tidak akan berbuat kriminal walau dalam keadaan sesulit apapun.

Namun lebaran, telah memaksa sebagian mereka untuk lebih-lebih kreatif lagi dengan menempuh cara apapun, seperti menggenapi hadis Rasulullah SAW,”Kefakiran mendekatkan orang pada kekufuran”.

Sebagaimana dilaporkan oleh Polda Metro Jaya, tingkat kriminalitas selalu meningkat khususnya menjelang lebaran. Berita tentang perampokan, pencurian, dan penodongan menjadi sering terdengar, membuat warga harus selalu was-was dan meningkatkan kewaspadaannya.

Namun yang merasakan kesulitan mengatasi kebutuhan hidup di Ramadhan dan lebaran tahun ini, di Jakarta, bukan hanya kaum miskin saja, tetapi juga mereka yang hampir miskin dan berpenghasilan cukup yang jumlahnya jutaan orang, apalagi yang ingin berlebaran di kampung halaman.

Jika mencari akar kesalahannya, maka komersialisasi dan gaya hidup konsumtif yang hedonis di bulan Ramadhan adalah akarnya. Komersialisasi dan gaya hidup konsumtif yang puncaknya tejadi pada menjelang dan saat lebaran, yang dibiarkan terus, tanpa adanya peringatan dari pihak-pihak terkait.

Aktifitas dan gaya hidup seperti ini kemudian dimanfaatkan dengan sangat baik oleh para pedagang dan pengusaha. Indikasinya adalah ramai dan padatnya jumlah pengunjung di pusat-pusat perbelanjaan, dan berkurangnya jamaah shalat Tarawih  secara drastis di masjid dan musholla.

Mereka yang istiqomah dan menyikapi lebaran sesuai dengan yang disunahkan oleh Rasulullah SAW, menjadi kelompok minoritas yang aktivitas dan syiar ibadahnya tenggelam dengan arus komersialisasi ini yang tentu saja juga memanfaatkan siaran televisi dan media massa lainnya. Lalu, lebaran sebenarnya milik siapa?

Sudah saatnya, ulama dan pemimpin Islam menjelang Ramadhan dan lebaran tidak melulu disibukan dengan persoalan itsbat. Saatnya MUI, lembaga-lembaga keagamaan, dan pemimpin Islam mengeluarkan fatwa, peringatan, atau tindakan lainnya, utamanya dalam persoalan komersialisasi Ramadhan.

Jika hasil tindakan yang diambil tidak dirasakan pada Lebaran tahun ini, mungkin untuk lebaran tahun depan, agar lebaran bisa menjadi hari raya yang benar-benar bisa dirayakan dan menjadi milik semua lapisan masyarakat.

Amiin. Akhirulkalam, Jakarta Islamic Centre mengucapkan selamat Iedul Fitri 1430 H, taqabalalluh minnaa wa minkum, shiyaamanaa wa shiyaamakum, semoga kita semua menjadi orang-orang yang bertakwa.

REPUBLIKA, Jumat, 18 September 2009 pukul 01:30:00

Anak Cinta Alquran

MENJADIKAN ANAK CINTA ALQURAN

REHAL

Rasulullah SAW menegaskan dalam salah satu hadisnya, ”Sebaik-baik manusia di antara kalian  adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR Ahmad)

Berkait dengan hadis Rasulullah SAW di atas, salah satu hal yang sangat penting dilakukan oleh setiap orangtua dan pendidik adalah mengajar anak-anak agar mencintai Alquran. Dalam buku ini, Dr Sa’ad Riyadh berbagi pengalaman bertahun-tahun dalam mengajarkan Alquran. Mulai dari hal yang dibangun di diri terlebih dahulu, sampai dengan trik-trik berinteraksi  agar rasa cinta anak terhadap Alquran tumbuh.

Pengalamannya telah melahirkan metode-metode dalam mengajarkan Alquran yang akan sangat bermanfaat bagi setiap orangtua dalam mendidik anak-anaknya agar mencintai Alquran. ”Pengajaran Alquran merupakan fondasi utama  dalam Islam yang harus ditanamkan dalam diri anak-anak agar mereka tumbuh  sesuai dengan fitrah dan hati mereka  bersinar cerah tanpa dikeruhkan  dengan gelapnya dosa dan maksiat.” (hlm 14)

Membaca buku ini, para orangtua dan pendidik dapat menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut ini, yakni: apa sarana utama yang harus dipenuhi dalam mengajar anak untuk menghapal Alquran; langkah apa saja yang harus ditempuh agar anak-anak mencintai Alquran; hambatan apa saja yang menghalangi anak-anak untuk belajar Alquran, dan bagaimana cara mengatasinya; dan bagaimana menguji cinta anak kepada Alquran.

Penulis menegaskan bahwa para orangtua perlu belajar tentang metode pendidikan, etika dialog, dan metode penyampaian. ”Terapkan tiga hal ini untuk berinteraksi  dengan anak-anak, terlebih dalam proses  pengajaran Alquran kepada mereka,” demikian tegas Dr Sa’ad Riyadh. ika

Judul buku: Anakku, Cintailah Alquran
Penulis: Dr Sa’ad Riyadh
Penerbit: Gema Insani
Cetakan: I, 2009
Tebal: 128 hlm


Bekal 40 Hadis

Para pecinta ilmu-ilmu keislaman pasti mengenal nama Imam Nawawi, seorang  ulama besar, penghapal Alquran, dan ahli hadis, dan juga penulis kitab-kitab monumental yang hingga saat ini menjadi rujukan kaum Muslimin di berbagai belahan dunia.

Salah satu karya beliau yang sangat terkenal adalah Arba’in yang merupakan kumpulan 40 hadis pilihan. Buku ini berisi hadis-hadis  yang menjelaskan  tentang beberapa persoalan penting dalam Islam, seperti ibadah, akidah, dan akhlak. Seperti ditegaskan sendiri oleh Imam Nawawi, ”Tiap-tiap hadis dalam kumpulan ini  merupakan asas yang penting dari asas-asas agama.”

Di kalangan santri, kitab yang dikenal dengan sebutan Arba’in An-Nawawi ini menjadi konsumsi sehari-hari. Mereka menghapal, mempelajari makna, dan mengamalkannya semampu mungkin.

Buku istimewa tersebut menjadi bertambah istimewa setelah di-syarah (dikomentari) oleh Syaikh Utsaimin, seorang ulama besar asal Arab Saudi. Dengan keluasan ilmunya, dia membedah esensi hadis demi hadis yang terkumpul dalam kitab Arba’in tersebut. Baik arti atau maksud hadis maupun faedah hadis tersebut bagi kaum Muslimin. Penjelasan tersebut dilengkapi dengan dalil-dalil dari Alquran maupun hadis, sehingga membuat buku ini makin berisi.

Siapa pun yang ingin menjadi Muslim yang beriman sempurna, berakhlak mulia terhadap sesama, dan hidup dalam dekapan ridha-Nya, perlu membaca dan menyimak buku ini. Banyak sekali pelajaran yang penting, menarik bahkan tak terduga bertebaran dalam buku yang sampulnya berwarna abu-abu ini. ika

Judul buku: Syarah Hadis 40
Penulis: Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin
Penerbit: Embun Publishing
Cetakan: I, 2008
Tebal: 294 hlm

REPUBLIKA, Jumat, 18 September 2009 pukul 01:27:00

Memuliakan Tamu

MEMULIAKAN TAMU DAN TETANGGA

KOMUNITAS

Manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk sosial. Tiap-tiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan, sehingga mereka memiliki saling ketergantungan. Oleh karena itu, manusia harus saling memupuk kebersamaan. ”Ramadhan harus memunculkan kesadaran untuk membina kebersamaan dengan orang lain,” kata Presiden Direktur QLM Center, Dr Kana Sutrisna pada acara buka puasa bersama karyawan dan anak yatim yang diadakan oleh PT Tugu Krena Pratama di Jakarta, Rabu (9/9).

Ramadhan, kata motivator dan trainer itu, mendidik kaum Muslimin agar peduli terhadap orang lain, terutama mereka yang tidak berpunya. Ramadhan juga mendidik kaum Muslimin agar bersatu. ”Kebersamaan dan persatuan melahirkan kekuatan,” ujarnya pada acara yang juga dihadiri oleh Presiden Direktur Tugu Kresna Pratama, Yasril Yazid.

Kana menegaskan, agama Islam datang untuk meningkatkan kualitas dalam kehidupan umat manusia.  ”Kualitas dibentuk oleh kebersamaan,” ujarnya.

Ia lalu mengutip hadis Nabi SAW yang mengingatkan pentingnya seorang Muslim memuliakan tamu dan tetangganya. ”Kata Nabi, siapa orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia memuliakan tamunya. Siapa orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat hendaklah ia memuliakan tetangganya. Artinya kita disuruh peduli terhadap orang lain, kita disuruh mengembangkan semangat kebersamaan,” tutur penulis buku The Balance Way itu. ika

REPUBLIKA, Jumat, 18 September 2009 pukul 01:05:00

Wewangian Muslimah

MENELISIK HUKUM WEWANGIAN BAGI MUSLIMAH

FIQIH MUSLIMAH

Diharamkan memakai wewangian yang menyengat, kecuali jika berhias untuk suaminya.

Salah satu tema bahasan fiqh yang menjadi perhatian ahli hukum Islam adalah pemakaian wewangian oleh kaum perempuan. Tema ini telah banyak dikupas oleh ulama, dan memantik perbedaan pendapat apakah hukumnya mubah, makruh, atau haram.

Tidak syak lagi bahwa Islam, melalui sunnah dan tradisi Nabi SAW, menganjurkan umatnya menjaga kebersihan, baik kebersihan diri maupun lingkungannya. Salah satu cara menjaga kebersihan diri, sebagaimana ditekankan Rasulullah, adalah menjaga aroma tubuh tetap wangi. Hal ini untuk memastikan, seorang Muslim identik dengan kesegaran dan kewangian.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis dari Anas bin Malik yang berkata, ”Aku tidak pernah mencium wewangian atau minyak wangi yang berbau lebih harum daripada keharuman Rasulullah SAW.”

Selain hadis di atas, masih banyak lagi riwayat yang menggambarkan kebersihan pakaian dan badan Nabi SAW, serta aroma wangi dari beliau. Dalam buku Hidup Saleh dengan Nilai-nilai Spiritual Islam karya Dr Muhammad Ali al-Hasyimi, disebutkan bahwa ketika Rasulullah berjabat tangan dengan seseorang, aroma sedap dari beliau akan tetap menempel pada tangan orang itu selama beberapa hari. Dan jika beliau meletakkan tangan pada kepala seorang anak, anak tersebut akan menonjol daripada yang lain akibat bau wangi beliau.

Hadis dari Jabir, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari juga menegaskan kecintaan Nabi terhadap wewangian. Dikatakan, Rasulullah tidak pernah melewati suatu tempat kecuali seseorang yang mengikuti beliau akan mengetahui bahwa Nabi ada di sana, dari aroma wangi yang melekat pada beliau.

Hadis-hadis di atas secara tersurat mengajarkan umat Muslim hendaknya menggunakan wewangian yang aromanya dapat dirasa oleh orang lain. Pertanyaannya adalah, apakah hadis tersebut juga berlaku bagi kaum perempuan? Bolehkah seorang Muslimah memakai wewangian yang aromanya menyengat, hingga dapat tercium oleh laki-laki yang bukan muhrimnya?

Ada yang berpendapat bahwa status hukum pemakaian wewangian oleh kaum Muslimah tergantung pada kekuatan aroma minyaknya, tempat memakainya, dan niatnya. Mengenai kekuatan aroma minyak, terdapat hadis dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya minyak wangi untuk laki-laki ialah yang kuat aromanya dan kalem warnanya, sedangkan minyak untuk perempuan ialah yang mencolok warnanya dan kalem aromanya.” (HR An-Nasa’i dan At-Tirmidzi). At-Tirmidzi mengatakan hadis ini adalah hadis hasan.

Di dalam masjid
Di dalam memaknai hadis di atas, penulis buku Fiqh al-Mar’ah al-Muslimah, Ibrahim Muhammad al-Jamal dengan tegas mengatakan, haram hukumnya bagi seorang Muslimah memakai wewangian yang menyengat, kecuali jika ia berhias untuk suaminya.

Pendapatnya itu diperkuat dengan pernyataan Asy-Syaukani, ”Bahwa wanita yang berjalan melewati majlis-majlis sedang dia memakai minyak wangi yang baunya menyengat hidung, wanita itu disebut ‘pezina’.”

Pendapat serupa diajukan oleh Abul Halim Abu Syuqqah. Ia menuliskan dalam bukunya Kebebasan Wanita, bahwa apabila seorang perempuan melewati suatu kaum dengan niat agar mereka mencium aroma minyak wanginya, perempuan itu sama dengan menyebarkan fitnah.

Adapun pemakaian minyak wangi yang menyengat di dalam masjid, menurut Abul Halim, secara jelas dilarang oleh Rasulullah SAW. Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ”Janganlah kamu melarang hamba-hamba perempuan Allah menghadiri masjid-masjid Allah. Tetapi hendaklah mereka keluar tanpa memakai wewangian.”

Hal itu disebabkan dekatnya jarak antara jamaah laki-laki dan perempuan di dalam masjid. Menurut Abul Halim, aroma wangi seringkali muncul dari jamaah perempuan, sehingga dikhawatirkan menyebabkan fitnah karenanya.

Abul Halim kemudian menyimpulkan, ada etika yang mesti diperhatikan oleh kaum Muslimah ketika menggunakan wewangian. Pertama, tidak menggunakan wewangian yang aromanya kuat. Kedua, tidak diniatkan untuk memikat perhatian laki-laki. Dan ketiga, tidak memakainya ketika pergi ke masjid. rid

About these ads

0 Responses to “Dialog Jumat : Silaturahim Tatap Muka Lebih Utama”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,245,580 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: